Anda di halaman 1dari 11

TUGAS BIOMATERIAL

IDENTIFIKASI SIFAT MEKANIK DAN PROSEDUR PENGUJIAN

Disusun oleh

AL SWENDO MUSBAR 1407110184

PROGRAM SARJANA TEKNIK KIMIA

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS RIAU

PEKANBARU

2016
1. Cari definisi, sifat-sifat mekanik dan prosedur pengujianya ?
Penyelesaian :

1. Theoretical Density
Teori fungsional densitas/kerapatan (density functional theory) merupakan teori untuk
mempelajari perilaku-perilaku keadaan dasar sistem-sistem electron (electronic systems) melalui
prinsip variasi. TFD dimungkinkan untuk mempelajari berbagai perilaku suatu sistem melalui
besaran densitas (kerapatan) yang hanya bergantung pada titik dalam ruang. Dalam hal ini, energi
total sistem merupakan fungsional dari kepadatan. Teori ini merupakan salah satu gagasan eksak
tentang masalah banyak partikel. Walaupun secara formal eksak, namun fungsional tersebut secara
umum tidak diketahui (unknown). Oleh karena itu, tetap diperlukan suatu penghampiran pada
bagian tertentu dalam fungsional energi. Teknik pendekatan ini dapat bekerja dengan baik untuk
berbagai macam sistem elektronik. Pendekatan ini
dilakukan karena melalui metode ini dalam mempelajari karakteristik struktur atom dipandang
lebih mudah dan lebih praktis untuk mendapatkan hasil. Dalam perkembangannya, untuk
mengetahui perilaku dan keadaan struktur atom dapat juga dipelajari lewat TFD. TFD pada
awalnya dikembangkan untuk sistemsistem kuantum. Pada tahun 1964, teori ini pertama kali
digagas dan dibuktikan eksistensinya oleh Hohenberg dan Kohn, yang dikenal sebagai teorem
HohenbergKohn (HK).

Theoretical Density

This is the density of a material calculated from the atomic weight and crystal structur
2. Hardness
Kekerasan (Hardness) adalah salah satu sifat mekanik (Mechanical properties) dari suatu
material. Kekerasan suatu material harus diketahui khususnya untuk material yang dalam
penggunaanya akan mangalami pergesekan (frictional force), dalam hal ini bidang keilmuan
yang berperan penting mempelajarinya adalah Ilmu Bahan Teknik (Metallurgy Engineering).
Dan juga sebagai kemampuan suatu bahan untuk tahan terhadap penggoresan, pengikisan
(abrasi), identasi atau penetrasi. Sifat ini berkaitan dengan sifat tahan aus (wear resistance).
Kekerasan juga mempunya korelasi dengan kekuatan. kekerasan didefinisikan sebagai
kemampuan suatu material untuk menahan beban identasi atau penetrasi (penekanan). Didunia
teknik, umumnya pengujian kekerasan menggunakan 4 macam metode pengujian kekerasan,
yakni :

1. Brinnel (HB / BHN)

2. Rockwell (HR / RHN)

3. Vikers (HV / VHN)

4. Micro Hardness (Namun jarang sekali dipakai-red)

Pemilihan masing-masing skala (metode pengujian) tergantung pada :

a. Permukaan material

b. Jenis dan dimensi material

c. Jenis data yang diinginkan

d. Ketersedian alat uji

1. Brinnel
Pengujian kekerasan dengan metode Brinnel bertujuan untuk menentukan kekerasan suatu
material dalam bentuk daya tahan material terhadap bola baja (identor) yang ditekankan pada
permukaan material uji tersebut (speciment). Idealnya, pengujian Brinnel diperuntukan bagi
material yang memiliki kekerasan Brinnel sampai 400 HB, jika lebih dati nilai tersebut maka
disarankan menggunakan metode pengujian Rockwell ataupun Vickers. Angka Kekerasan
Brinnel (HB) didefinisikan sebagai hasil bagi (Koefisien) dari beban uji (F) dalam Newton
yang dikalikan dengan angka faktor 0,102 dan luas permukaan bekas luka tekan (injakan) bola
baja (A) dalam milimeter persegi. Identor (Bola baja) biasanya telah dikeraskan dan diplating
ataupun terbuat dari bahan Karbida Tungsten. Jika diameter Identor 10 mm maka beban yang
digunakan (pada mesin uji) adalah 3000 N sedang jika diameter Identornya 5 mm maka beban
yang digunakan (pada mesin uji) adalah 750 N. Dalam Praktiknya, pengujian Brinnel biasa
dinyatakan dalam (contoh ) : HB 5 / 750 / 15 hal ini berarti bahwa kekerasan Brinell hasil
pengujian dengan bola baja (Identor) berdiameter 5 mm, beban Uji adalah sebesar 750 N per
0,102 dan lama pengujian 15 detik. Mengenai lama pengujian itu tergantung pada material
yang akan diuji. Untuk semua jenis baja lama pengujian adalah 15 detik sedang untuk material
bukan besi lama pengujian adalah 30 detik.

2. Vickers
Pengujian kekerasan dengan metode Vickers bertujuan menentukan kekerasan suatu
material dalam bentuk daya tahan material terhadap intan berbentuk piramida dengan sudut
puncak 136 Derajat yang ditekankan pada permukaan material uji tersebut. Angka kekerasan
Vickers (HV) didefinisikan sebagai hasil bagi (koefisien) dari beban uji (F) dalam Newton
yang dikalikan dengan angka faktor 0,102 dan luas permukaan bekas luka tekan (injakan) bola
baja (A) dalam milimeter persegi. Secara matematis dan setelah disederhanakan, HV sama
dengan 1,854 dikalikan beban uji (F) dibagi dengan diagonal intan yang dikuadratkan. Beban
uji (F) yang biasa dipakai adalah 5 N per 0,102; 10 N per 0,102; 30 N per 0,102N dan 50 per
0,102 N. Dalam Praktiknya, pengujian Vickers biasa dinyatakan dalam (contoh ) : HV 30 hal
ini berarti bahwa kekerasan Vickers hasil pengujian dengan beban uji (F) sebesar 30 N per
0,102 dan lama pembebanan 15 detik. Contoh lain misalnya HV 30 / 30 hal ini berarti bahwa
kekerasan Vickers hasil pengujian dengan beban uji (F) sebesar 30 N per 0,102 dan lama
pembebanan 30 detik.

3. Rockwell
Skala yang umum dipakai dalam pengujian Rockwell adalah :
a. HRa (Untuk material yang sangat keras)

b. HRb (Untuk material yang lunak). Identor berupa bola baja dengan diameter 1/16 Inchi
dan beban uji 100 Kgf.

c. HRc (Untuk material dengan kekerasan sedang). Identor berupa Kerucut intan dengan
sudut puncak 120 derjat dan beban uji sebesar 150 kgf.

Pengujian kekerasan dengan metode Rockwell bertujuan menentukan kekerasan suatu


material dalam bentuk daya tahan material terhadap benda uji (speciment) yang berupa bola
baja ataupun kerucut intan yang ditekankan pada permukaan material uji tersebut Berdasarkan
pada persyaratan tersebut maka ketiga metoda tersebut pengujian kekerasan yang dibakukan
pemakaiannya adalah :
Pengujian kekerasan dengan cara penekanan (Indentation Test)
Pengujian kekerasan dengan cara goresan (Scratch Test)
Pengujian kekerasan dengan cara Dinamik (Dynamic Test)
Proses pengujian terhadap kekerasan logam harus dilakukan sesuai dengan metoda serta
prosedur pengujian yang telah ditentetukan sehingga hasil pengujian dapat diterima digunakan
sebagai acuan dalam pemilihan bahan teknik sebagai bahan baku produk, atau menjadi
petunjuk perubahan sifat bahan (kekerasan) sebalum atau setelah proses perlakuan panas
dilakukan.
a. Pengujian kekerasan dengan cara Penekanan (Indentation Test)
Pengujian kekerasan dengan cara penekanan (Indentation Test) ialah pengujian kekerasan
terhadap bahan (logam), dimana dalam menentukan kekerasannya dilakukan dengan
menganalisis indentasi atau bekas penekanan pada benda uji (Test piece) sebagai reaksi
dari pembebanan tekan. Proses ini dilakukan antara lain dengan sistem Brinell, Rockwell
dan sistem Vickers.
b. Pengujian dengan cara Goresan (Scratch Test)
Pengujian dengan cara goresan (scratch test) ialah pengujian kekerasan terhadap bahan
(logam), dimana dalam penentuan kekerasannya dilakukan dengan mencari
kesebandingan dari bahan yang dijadikan standar pengujian.
c. Pengujian dengan cara dinamik (Dynamic Test)
Pengujian dengan cara dinamik (Dynamic Test) ialah pengujian kekerasan dengan
mengukur tinggi pantulan dari bola baja atau intan (hammer) yang dijatuhkan dari
ketinggian tertentu.

3. Tensile Strength
Kekuatan tarik (tensile strength, ultimate tensile strength) adalah tegangan maksimum
yang bisa ditahan oleh sebuah bahan ketika diregangkan atau ditarik, sebelum bahan tersebut
patah. Kekuatan tarik adalah kebalikan dari kekuatan tekan, dan nilainya bisa berbeda.
Pengujian Tarik merupakan proses pengujian yang biasa dilakukan karena pengujian tarik
dapat menunjukkan prilaku bahan selama proses pembebanan
Beberapa bahan dapat patah begitu saja tanpa mengalami deformasi, yang berarti benda
tersebut bersifat rapuh atau getas (brittle). Bahan lainnya akan meregang dan mengalami
deformasi sebelum patah, yang disebut dengan benda elastis (ductile). Kekuatan tarik
umumnya dapat dicari dengan melakukan uji tarik dan mencatat perubahan regangan dan
tegangan. Titik tertinggi dari kurva tegangan-regangan disebut dengan kekuatan tarik
maksimum (ultimate tensile strength). Nilainya tidak bergantung pada ukuran bahan,
melainkan karena faktor jenis bahan. Faktor lainnya yang dapat mempengaruhi seperti
keberadaan zat pengotor dalam bahan, temperatur dan kelembaban lingkungan pengujian, dan
penyiapan spesimen.
Dimensi dari kekuatan tarik adalah gaya per satuan luas. Dalam satuan SI, digunakan
pascal (Pa) dan kelipatannya (seperti MPa, megapascal). Pascal ekuivalen dengan Newton
per meter persegi (N/m). Satuan imperial diantaranya pound-gaya per inci persegi (lbf/in
atau psi), atau kilo-pound per inci persegi (ksi, kpsi).
Kekuatan tarik umumnya digunakan dalam mendesain bagian dari suatu struktur yang
bersifat ductile dan brittle yang bersifat tidak statis, dalam arti selalu menerima gaya dalam
jumlah besar, meski benda tersebut tidak bergerak. Kekuatan tarik juga digunakan dalam
mengetahui jenis bahan yang belum diketahui, misal dalam forensik dan paleontologi.
Kekerasan bahan memiliki hubungan dengan kekuatan tarik. Pengujian kekerasan bahan
salah satunya adalah metode Rockwell yang bersifat non-destruktif, yang dapat digunakan
ketika uji kekuatan tarik tidak dapat dilakukan karena bersifat destruktif.

4. Bend Strength
Uji lengkung ( bending test ) merupakan salah satu bentuk pengujian untuk menentukan
mutu suatu material secara visual. Selain itu uji bending digunakan untuk mengukur kekuatan
material akibat pembebanan dan kekenyalan hasil sambungan las baik di weld metal maupun
HAZ. Dalam pemberian beban dan penentuan dimensi mandrel ada beberapa factor yang
harus diperhatikan, yaitu :
1. Kekuatan tarik ( Tensile Strength )
2. Komposisi kimia dan struktur mikro terutama kandungan Mn dan C.
3. Tegangan luluh ( yield ).
Berdasarkan posisi pengambilan spesimen, uji bending dibedakan menjadi 2 yaitu
transversal bending dan longitudinal bending.

1. Transversal Bending.
Pada transversal bending ini, pengambilan spesimen tegak lurus dengan arah pengelasan.
Berdasarkan arah pembebanan dan lokasi pengamatan, pengujian transversal bending dibagi
menjadi tiga :

a. Face Bend ( Bending pada permukaan las )


Dikatakan face bend jika bending dilakukan sehingga permukaan las mengalami tegangan
tarik dan dasar las mengalami tegangan tekan ( gambar 1 ). Pengamatan dilakukan pada
permukaan las yang mengalami tegangan tarik. Apakah timbul retak atau tidak. Jika timbul
retak dimanakah letaknya, apakah di weld metal, HAZ atau di fussion line (garis perbatasan
WM dan HAZ ).

b. Root Bend ( Bending pada akar las )


Dikatakan roote bend jika bending dilakukan sehingga akar las mengalami tegangan tarik
dan dasar las mengalami tegangan tekan. Pengamatan dilakukan pada akar las yang mengalami
tegangan tarik, apakah timbul retak atau tidak. Jika timbul retak dimanakah letaknya, apakah
di weld metal. HAZ atau di fusion line (garis perbatasan WM dan HAZ)

c. Side Bend ( Bending pada sisi las ).


Dikatakan side bend jika bending dilakukan pada sisi las. Pengujian ini dilakukan jika
ketebalan material yang di las lebih besar dari 3/8 inchi. Pengamatan dilakukan pada sisi las
tersebut, apakah timbul retak atau tidak. Jika timbul retak dimanakah letaknya,apakah di Weld
metal, HAZ atau di fusion line (garis perbatasan WM dan HAZ)

2. Longitudinal Bending
Pada longitudinal bending ini, pengambilan spesimen searah dengan arah pengelasan
berdasarkan arah pembebanan dan lokasi pengamatan, pengujian longitudinal bending dibagi
menjadi dua :

Face Bend (Bending pada permukaan las)


Dikatakan face bend jika bending dilakukan sehingga permukaan las mengalami tegangan
tarik dan dasar las mengalami tegangan tekan. Pengamatan dilakukan pada permukaan las yang
mengalami tegangan tarik, apakah timbul retak atau tidak. Jika timbul retak dimanakah
letaknya, apakah di Weld metal, HAZ atau di fusion line (garis perbatasan WM dan HAZ).

Root Bend (Bending pada akar las)


Dikatakan root bend jika bending dilakukan sehingga akar las mengalami tegangan tarik
dan dasar las mengalami tegangan tekan. Pengamatan dilakukan pada akar las yang mengalami
tegangan tarik, apakah timbul retak atau tidak. Jika timbul retak dimanakah letaknya, apakah
di Weld metal, HAZ atau di fusion line (garis perbatasan WM dan HAZ).

3. Kriteria kelulusan uji bending


Untuk dapat lulus dari uji bending maka hasil pengujian harus memenuhi kriteria sebagai
berikut:
1. Keretakan maksimal 3 mm diukur dari segala arah pada permukaan yang telah di Bending.
2. Retak pada pojok permukaan yang telah di Bending tidak diperhitungkan. Kecuali yang
disebabkan oleh slag inclusin , lack of fusion , atau cacat lainnya.
3. Pada pengelasan Overlay cladding tidak boleh terdapat retak terbuka minimal 1.6mm
dihitung dari segala arah. Pada interface tidak boleh terdapat retak terbuka melebihi 3.2mm.

5. Compressive Strength
Compressive strength suatu meterial adalah kemampuan material itu untuk mempertahan
keutuhannya di bawah tekanan. Artinya berapa besar tekanan yang dapat diterima oleh
material itu sebelum ia hancur sehinga tidak dapat digunakan lagi sebagaimana yang
diperuntukkannya. Tekanan maksimum yang dapat diterima oleh suatu material sebelum
kehancurannya disebut compressive strength dari material tersebut.
Kebanyakan material , terutama yang bersifat rapuh, seperti concrete, kaca, ceramic, dan
lainnya, akan hancur bila dibebani dengan tekanan mencapai limit compressive strength, tetapi
ada juga yang hanya berubah bentuk secara permanen, yaitu tidak kembali ke bentuk asalnya
terutama material-material yang bersifat kenyal seperti logam dan plastik. Jadi, untuk material
yang rapuh, compressive strengthnya dapat didefinisikan sebagai suatu nilai tekanan dimana
pada tekanan tersebut material yang besangkutan akan hancur sepernuhnya. Sedangkan untuk
material yang kenyal , compressive strength didefinisikan sebagi suatu nilai tekanan di mana
pada tekanan tersebut, nilai strain yang diizin telah tercapai.
Ada berbagai unit compressive stength yang biasa digunakan, tetapi yang paling sering
kita jumpai adalah psi, kgf/cm2, Pa . Kita dapat saling mengconversikan unit yang satu denga
unit yang lainnya seperti berikut ini
1 psi=0.0703 kgf/cm2= 6894.7573 Pa.
1 kgf/cm2=14.22psi=98,076 Pa
Berdasarkan referensi ini kita dapat mengubah unit psi ke unit kgf/cm2 atau ke Pa dengan
mudah.
Contoh: 25kpsi = 25,000 psi= 25,000 x 0.0703 kgf/cm2=1,757.50 kgf/cm2
25 kpsi= 25,000 psi=25,000 x 6894.7573 Pa=172.37 MPa (Mega Pascal)
Pengukuran kekuatan tekan (compressive strength)
Menyiapkan bahan sesuai keperluan.Lalu memasang perangkat alat untuk uji tarik. Pilih
load cell yang sesuai dengan kekuatan bahan uji A, B, atau C. Metakkan sampel/ bahan uji
pada tempatnya. Menyalakan power supply dan diset up. Mengatur jarak maksimum,
kecepatan pembebanan, range beban/gaya. Menurunkan load cell perlahan-lahan dengan
menekan tombol start (down) hingga menyentuh bahan uji hingga bahan uji patah dan terakhir
mencatat besar gaya dan perubahan panjang.
6. Fracture Toughness
Fracture toughness merupakan kemampuan material untuk menahan beban atau deformasi
yang terjadi akibat retak dengan memperhatikan faktor cacat material, geometri material,
kondisi pembebanan, dan tentunya property material yang digunakan. Pengertian yang lebih
mudah fracture toughness bisa disebut sebagai ketanguhan retak suatu material untuk
mengevaluasi kemampuan komponen yang mengandung cacat untuk melawan fracture
(pecah/patah).
Besarnya nilai fracture toughness dipengaruhi oleh ketebalan suatu material, semakin tebal
suatu material maka nilai fracture toughness akan semakin besar akan tetapi jika tebal
material melebihi batas kritis maka akan menyebabkan nilai fracture toughness cenderung
konstan. Ketebalan suatu material dipengaruhi oleh kondisi pembebanan, jika beban yang
diberikan merupakan plane strain (regangan/tarikan) maka akan membutuhkan nilai
ketebalan yang lebih besar sedangkan jika beban yang diberikan merupakan plane stress
(tekanan) maka membutuhkan nilai ketebalan yang relatif lebih kecil
Ketangguhan (toughness), menyatakan kemampuan bahan untuk menyerap sejumlah
energi tanpa mengakibatkan terjadinya kerusakan. Juga dapat dikatakan sebagai ukuran
banyaknya energi yang diperlukan untuk mematahkan suatu benda kerja, pada suatu kondisi
tertentu. Sifat ini dipengaruhi oleh banyak faktor, sehingga sifat ini sulit diukur.

7. Youngs Modulus
Modulus Young, juga dikenal sebagai modulus elastis adalah suatu ukuran bagaimana
suatu materi atau struktur akan rusak dan berubah bentuk jika ditempatkan di bawah stress.
Modulus Young adalah ukuran kekakuan suatu bahan isotropik elastis dan merupakan angka
yang digunakan untuk mengkarakterisasi bahan. Modulus Young didefinisikan sebagai rasio
dari tegangan sepanjang sumbu atas dengan regangan sepanjang poros sumbu tersebut di mana
hukum Hooke berlaku. Untuk memampatkan material, seperti baja. Mengukur tekanan
biasanya dihitung dalam satuan pascal (Pa). Hal ini paling sering digunakan oleh fisikawan
untuk menentukan besar tegangan dari pengukuran seberapa material, dalam menanggapi stress
seperti terjepit atau diregangkan.
Elastisitas adalah kemampuan suatu material untuk kembali ke keadaan atau dimensi
aslinya setelah beban, atau stres, dihilangkan. Regangan elastis adalah reversibel, yang berarti
regangan akan hilang setelah tegangan tersebut dihilangkan dan material akan kembali ke
keadaan semula. Bahan yang terkena tingkat stres yang intens dapat rusak ke titik di mana stres
merubah bahan tersebut tidak akan kembali ke ukuran aslinya. Hal ini disebut sebagai
deformasi plastis atau regangan plastis.

Modulus Young, E, dapat dihitung dengan membagi tegangan tarik oleh regangan tarik
dalam batas elastisitas linier pada bagian dari kurva tegangan-regangan:
Kemampuan materi untuk menolak atau meneruskan tegangan adalah penting, dan sifat
ini sering digunakan untuk menentukan apakah bahan tertentu cocok untuk tujuan tertentu.
Sifat ini sering ditentukan di laboratorium, menggunakan teknik eksperimental yang dikenal
sebagai uji tarik, yang biasanya dilakukan pada sampel bahan dengan bentuk dan dimensi
tertentu. Modulus Young dikenal untuk berbagai bahan struktural, termasuk logam, kayu, kaca,
karet, keramik, beton, dan plastik.
Modulus Young menggambarkan hubungan antara tegangan dan perubahan bentuk bahan.
Stres atau tegangan didefinisikan sebagai gaya yang diterapkan tiap satuan luas, dengan satuan
yang khas pound per square inch (psi) atau Newton per meter persegi juga dikenal sebagai
pascal (Pa). Regangan adalah suatu ukuran jumlah yang material berubah bentuk ketika
tegangan diterapkan dan dihitung dengan mengukur jumlah deformasi di bawah kondisi stres,
dibandingkan dengan dimensi aslinya. Modulus Young didasarkan pada elastisitas Hukum
Hooke dan dapat dihitung dengan membagi tegangan dengan regangan.
Modulus elastisitas adalah angka yang digunakan untuk mengukur obyek atau ketahanan
bahan untuk mengalami deformasi elastis ketika gaya diterapkan pada benda itu. Modulus
elastisitas suatu benda didefinisikan sebagai kemiringan dari kurva tegangan-regangan di
wilayah deformasi elastis: Bahan kaku akan memiliki modulus elastisitas yang lebih tinggi.
Modulus elastis dirumuskan dengan:

di mana tegangan adalah gaya menyebabkan deformasi dibagi dengan daerah dimana gaya
diterapkan dan regangan adalah rasio perubahan beberapa parameter panjang yang disebabkan
oleh deformasi ke nilai asli dari parameter panjang. Jika stres diukur dalam pascal , kemudian
karena regangan adalah besaran tak berdimensi, maka Satuan untuk akan pascal juga.
Menentukan bagaimana stres dan regangan yang akan diukur, termasuk arah, memungkinkan
untuk berbagai jenis modulus elastisitas untuk didefinisikan. Tiga yang utama adalah:
Modulus Young ( E ) menjelaskan elastisitas tarik atau kecenderungan suatu benda untuk
berubah bentuk sepanjang sumbu ketika stress berlawanan diaplikasikan sepanjang sumbu
itu; itu didefinisikan sebagai rasio tegangan tarik terhadap regangan tarik. Hal ini sering
disebut hanya sebagai modulus elastisitas saja.
Modulus geser atau modulus kekakuan( G atau \mu\, ) menjelaskan kecenderungan sebuah
objek untuk bergeser (deformasi bentuk pada volume konstan) ketika diberi kekuatan yang
berlawanan; didefinisikan sebagai tegangan geser terhadap regangan geser. Modulus geser
modulus adalah turunan dari viskositas.
bulk modulus ( K ) menjelaskan elastisitas volumetrik, atau kecenderungan suatu benda
untuk berubah bentuk ke segala arah ketika diberi tegangan seragam ke segala arah;
didefinisikan sebagai tegangan volumetrik terhadap regangan volumetrik, dan merupakan
kebalikan dari kompresibilitas. Modulus bulk merupakan perpanjangan dari modulus
Young pada tiga dimensi.
Tiga modulus elastisitas lain adalah modulus axial, parameter pertama Lame, dan modulus
gelombang P. Bahan material homogen dan isotropik (sama di semua arah) memiliki sifat
keelastisitasan yang dijelaskan oleh dua modulus elastisitas, dan satu dapat memilih yang lain.