Anda di halaman 1dari 6

Hasmana Soewandita : Studi Muka Air Tanah Gambut dan Implikasinya JAI Vol.4, No.

2, 2008

STUDI MUKA AIR TANAH GAMBUT DAN IMPLIKASINYA TERHADAP


DEGRADASI LAHAN PADA BEBERAPA KUBAH GAMBUT
DI KABUPATEN SIAK

Oleh : Hasmana Soewandita


Pusat Teknologi Sumberdaya Lahan Wilayah dan Mitigasi Bencana BPPT

Abstract

Overdrainaged phenomena on peat land after reclamated for agriculture area is indicated
water management/water table control failure. Water table depth of peat land on virgin
forest that has been reclamated is low (0.15 m) and this condition on Zamrud peat dome.
Water table dept on old reclamated peat land has better condition than peat land after
new reclamated as plantation area. Peatland degradation showed overdrainage
phenomena has potential happened on land clearing and canal construction activity.
This condition have effected to water table dept about 1 m. Overdrainaged impact on
peatland has caused fire of peatland. For example this condition occured in Siak Kecil
peat dome and Kandis peat dome.

Keywords : peat dome, water table

I. PENDAHULUAN yang sangat efisien dan dapat mengatur aliran


permukaan dan air tanah.
1.1. Latar Belakang
Dirubahnya sistem hidrologi alam
Sumberdaya alam gambut Kabupaten dengan dibuatnya berbagai saluran drainase,
Siak menempati areal seluas 556.706 Ha. fungsi gambut sebagai reservoir dan pengatur air
Kekayaan alam ini menempati areal lebih dari 60 akan berkurang bahkan dapat hilang sama sekali
% luas wilayah Kabupaten Siak. Mengingat bila gambut menjadi semakin tipis 3). Untuk
pentingnya ekosistem ini dalam menjaga gambut tipis pemanfaatan lahan untuk kawasan
keseimbangan lingkungan disekitarnya, maka budidaya berdasarkan arahan pemanfaatan,
diperlukan pengelolaan yang bijaksana. Gambut kendalanya relatif lebih rendah dibandingkan
disatu sisi dapat dimanfaatkan untuk kepentingan dengan gambut tebal. Potensi degradasi lahan
ekonomi, namun disisi lain gambut mempunyai gambut untuk kawasan budidaya terjadi pada
fungsi ekologis. lahan gambut tebal.

Perkembangan menunjukkan bahwa Gambut tebal biasanya berada ke arah


saat ini gambut di Kabupaten Siak telah tengah kubah gambut. Kubah gambut tidak
dimanfaatkan untuk kepentingan ekonomi, yaitu direkomendasikan untuk kawasan budidaya,
areal perkebunan dan hutan tanaman industri namun lebih diarahkan untuk kawasan
(HTI). Luas perkebunan saat ini lebih kurang konservasi karena mempunyai fungsi hidrorologis
58.190 Ha, sedangkan HTI lebih kurang 89.321 di kawasan sekitarnya 3), 7). Indikasi degradasi
Ha. Meskipun sacara faktual, gambut merupakan lahan gambut, di samping parameter kimia-fisik,
ekosistem yang fragile, kecenderungan makin juga kemampuan menahan air yang ditunjukkan
meningkatnya pemanfaatan lahan gambut untuk dengan muka air tanah gambut.
perkebunan menunjukkan gambut adalah
prospektif potensi ekonomi. Penurunan muka air tanah gambut juga
bisa menyebabkan pemampatan permukaan
Di balik ekspansi lahan untuk tanah gambut dengan diindikasikan proses
pemanfaatan lahan perkebunan dan HTI, secara aerobik pada lapisan di atas muka air 2).
ancaman degradasi lingkungan juga terjadi.
Reklamasi lahan gambut yang tidak terencana 1.2. Tujuan
dan terkelola dengan baik, berdampak pada over
drainage yang rentan terhadap bencana Tujuan dari studi ini adalah meneliti
kebakaran. Tanah gambut juga mempunyai sifat tingkat muka air tanah gambut pada beberapa
yang tidak dimiliki tanah lain dalam kubah gambut Siak dengan karakteristik
kemampuannya menahan air yang sangat tinggi, penggunaan lahan yang berbeda-beda. Dengan
yaitu antara 450 3000 % berat kering tanah informasi tersebut dapat diketahui tingkat
untuk gambut Hemist Fibrist 6). Karena itu degradasi gambut (daya menyimpan air) pada
gambut merupakan tempat penampungan air berbagai kondisi penggunaan lahan.

103
Hasmana Soewandita : Studi Muka Air Tanah Gambut dan Implikasinya JAI Vol.4, No.2, 2008

2. METODOLOGI Zamrud (132.003 ha), Kandis (50.263 ha) dan


Bukit Batu (28.056 Ha). Gambaran lokasi kubah
2.1. Lokasi Studi gambut di Kabupaten Siak seperti disajikan pada
peta Lampiran 1 (Peta Sebaran Kubah Gambut).
Lokasi studi muka air tanah gambut pada
berbagai kubah gambut dilakukan di wilayah 3.2. Penggunaan Lahan
Kabupaten Siak. Sedangkan waktu studi
dilakukan pada saat musim kemarau, yaitu bulan Meskipun berdasarkan peraturan
November Tahun 2008. pemerintah Keppres 32 Tahun 1990, kawasan
kubah gambut yang berkedalaman lebih dari 3 m
2.2. Metodologi peruntukannya adalah dijadikan kawasan
lindung. Pada kenyataannya kubah gambut di
a. Metoda Pengumpulan Data Kabupaten Siak telah berubah (sebagian) untuk
kawasan budidaya. Pemanfaatan kubah gambut
Data muka air tanah didapat dengan untuk kawasan budidaya dipergunakan untuk
cara mengukur kedalaman muka air tanah perkebunan rakyat, perkebunan swasta dan
(dengan mistar) setelah dilakukan pemboran hutan tanaman industri (HTI).
dengan hand auger. Pemboran gambut dilakukan
pada beberapa titik pada tiap kubah (dome) Hasil pengecekan di lapangan,
gambut. penggunaaan lahan kubah gambut di Kabupaten
Siak seperti disajikan pada Tabel 1.
b. Metoda Analisis Data
Tabel 1. Kondisi Penggunaan Lahan di Kawasan
Analisis data kedalaman muka air tanah Kubah Gambut di Kabupaten Siak
gambut yang telah dikumpulkan dilakukan secara
kuantitatif diskriptif. Analisis data kedalaman Kawasan
juga dikaitkan dengan kondisi land use atau No. Penggunaan Lahan
Gambut
penutupan lahan dan degradasi lahan.
Perkebunan sawit
2.3. Bahan dan Peralatan 1. Kandis Hutan rawa sekunder
Lahan terbuka
Bahan yang digunakan untuk studi ini
Hutan tanaman industri
adalah peta sistem lahan RePPProt (Regional Sungai
Physical Planning Programme for 2. Hutan rawa sekunder
Mandau
Transmigration) tahun 1990, skala 1:250.000. Lahan terbuka
Sedangkan peralatan yang digunakan untuk Hutan rawa sekunder
kegiatan ini adalah bor gambut (hand auger)
Enjelkamp, mistar dan GPS. 3. Buatan Perkebunan sawit
Lahan terbuka
3. HASIL DAN PEMBAHASAN Hutan rawa sekunder
4. Merempan Perkebunan sawit
3.1. Identifikasi Kubah Gambut di Kabupaten
Siak Lahan terbuka
Kawasan
Berdasarkan hasil deliniasi peta sistem 5. Bukit Batu konservasi/Hutan rawa
lahan skala 1 : 250.000, kubah gambut di primer
Kabupaten Siak diidentifikasi berdasarkan sistem
lahan yang berkarakteristik geologis dan fisik Kawasan
gambut. Satuan sistem lahan GBT berada pada konservasi/Hutan rawa
cekungan-cekungan dengan ketebalan lebih dari primer
6. Siak Kecil Hutan tanaman industri
2 m dan merupakan satu kesatuan hidrologis
tersendiri. Sistem lahan GBT mempunyai ciri Perkebunan sawit
berada pada suatu cekungan dan membentuk Lahan terbuka
kubah ditengahnya. Hasil deliniasi menunjukkan
kubah gambut di Kabupaten Siak teridentifikasi Kawasan konservasi
atau dibedakan menjadi tujuh kubah gambut. /Hutan rawa primer
7. Zamrud Hutan tanaman industri
Ketujuh kubah gambut tersebut adalah Perkebunan sawit
Siak Kecil (51.259 ha), Merempan (7.160 ha),
Lahan terbuka
Buatan (5.065 ha), Sungai Mandau (18.518 ha),

104
Hasmana Soewandita : Studi Muka Air Tanah Gambut dan Implikasinya JAI Vol.4, No.2, 2008

3.3. Kedalaman Muka Air Tanah Gambut Hasil pemboran kubah gambut, menunjukkan
ketebalan gambut pada kubah ini bervariasi
a. Kubah Gambut Siak Kecil. antara 1 m hingga 8,7 m. Sedangkan kedalaman
muka air tanahnya bervariasi antara 0,27 m
Kubah gambut Siak Kecil menempati hingga 0,8 m. Kondisi penutupan lahan pada
areal seluas 51.259 ha. Berdasarkan hasil kubah ini secara umum merupakan HTI,
pemboran pada Kubah Gambut Siak Kecil sehingga secara umum dinamika muka air pada
sebanyak 7 titik plot, kedalaman muka air tanah kawasan gambut ini sangat tinggi meskipun satu
gambutnya bervariasi dari 0,4 hingga 1 m. jenis penggunaan lahan.
Sedangkan kedalaman gambutnya bervariasi
antara 4,4 m hingga 8,6 m. Muka air tanah yang e. Kubah Gambut Zamrud
rendah ditunjukkan pada tanah-tanah gambut
yang sudah dibuka seperti untuk perkebunan, Kubah gambut zamrud merupakan
sedangkan pada tanah gambut yang mempunyai kawasan gambut yang paling luas sekitar
penutupan lahan berupa hutan (sekunder) muka (132.003. ha). Hasil pemboran yang dilakukan
air tanahnya masih tinggi. pada 13 titik menunjukkan tinggi muka air tanah
gambut antara 0,15 m hingga 0,8 m. Tinggi muka
b. Kubah Gambut Merempan. air tersebut tersebar pada kedalaman atau
ketebalan kubah gambut dari 3,3 m hingga yang
Mengingat Kubah gambut Merempan terdalam 17 m.
relatif kecil, yaitu sekitar 7,160 Ha, maka hanya
dilakukan pemboran sebanyak 4 titik. Ketebalan Pada kubah gambut yang kawasannya
gambut di kubah Merempan sekitar 4,7 m sampai merupakan hutan alam (suaka margasatwa)
4,8 m. Sedangkan ketinggian muka air tanahnya Zamrud, kondisi muka air gambutnya paling
0,15 m hingga 0,76 m. Pada kawasan rendah sekitar 0,15 m. Keadaan ini terdapat pada
perkebunan dimana gambut sudah mengalami kubah gambut yang berkedalaman 17 m.
reklamasi, kedalaman muka air tanah tergolong Sedangkan kondisi muka air tanah paling tinggi
dalam, sedangkan pada kawasan hutan 0,8 m terdapat pada kubah gambut yang
kedalaman muka air tanahnya masih tinggi. berpenutupan lahan semak belukar, artinya
kondisi muka air tanah yang paling dalam atau
c. Kubah Gambut Buatan besar terdapat pada kawasan gambut yang
terlantar atau terdegradasi. Pada kawasan
Kubah gambut Buatan mempunyai perkebunan baik perkebunan rakyat atau milik
luasan sekitar 5.065 Ha. Pemboran dilakukan perusahaan kedalaman muka air tanah gambut
pada tiga titik lokasi. Hasil pemboran sekitar 0,5 m.
menunjukkan kedalaman muka air tanah pada
kubah gambut buatan yaitu antara 0,1 m hingga f. Kubah Gambut Kandis
0,3 m. Kedalaman gambut kubah gambut buatan
mempunyai kedalaman 1 m hingga 2,9 m. Pemboran gambut yang dilakukan pada
7 titik lokasi di kawasan kubah gambut Kandis
Apabila dilihat dari kondisi penggunaan menunjukkan kedalaman muka air tanah
lahannya, pada gambut yang mempunyai bervariasi dari 0,45 m hingga 0,9 m. Kedalaman
kedalaman/ketebalan lebih dangkal mempunyai muka air tanah gambut ini terdapat pada gambut
kedalaman muka air tanah yang lebih rendah yang berkedalaman atau berketabalan antara
dibandingkan pada gambut tebal, meskipun 2,25 hingga 5,4 m. Kedalaman muka air di kubah
kondisi penutupan lahannya berupa hutan. Hal ini gambut Kandis tersebut berada pada kawasan
karena pada gambut yang relatif tipis tentunya lahan gambut dengan penggunaan lahan
kemampuan untuk menahan air akan lebih kecil perkebunan.
dibandingkan pada gambut dalam.
Pada kawasan gambut yang baru dibuka
Pada kasus ini gambut dengan ketebalan kedalaman muka air tanah gambutnya lebih
1 m, kedalaman muka air tanahnya 0,1 m, besar dibandingkan dengan kawasan
sedangkan pada gambut tebal 2,3 m kedalaman perkebunan yang telah lama dibuka. Gambaran
muka air tanahnya lebih besar yaitu 0,2 m. muka air tanah gambut pada seluruh kubah
(dome) gambut di Kabupaten Siak disajikan pada
d. Kubah Gambut Sungai Mandau Lampiran 1 (gambar muka air kubah gambut).

Pemboran kubah gambut sungai Mandau 3.4. Implikasi Pengelolaan Muka Air Tanah
dilakukan di 8 titik. Kubah Sungai Mandau Gambut Terhadap Degradasi Lahan
mempunyai luasan gambut sekitar 18.518 Ha. Gambut

105
Hasmana Soewandita : Studi Muka Air Tanah Gambut dan Implikasinya JAI Vol.4, No.2, 2008

Degradasi lahan gambut biasanya kerentanan terhadap bahaya kebakaran lahan


dimulai dari adanya kegiatan pembukaan lahan gambut.
gambut, seperti untuk areal pertanian,
perkebunan dan kehutanan. Untuk kegiatan ini Berdasarkan hasil pemeriksaan di
diawali dengan reklamasi lahan, yaitu dengan lapangan, kedalaman muka air tanah yang relatif
membuat kanal-kanal atau saluran untuk tinggi terjadi pada lahan-lahan yang baru dibuka.
mengalirkan air di kawasan gambut tersebut. Kanal-kanal yang dibangun nyata mengeluarkan
Pengelolaan tata air yang baik adalah kunci dari air dari kubah gambut, sehingga nampak terukur
suksesnya kegiatan pertanian/perkebunan dan kedalaman muka air tanah gambut pada
kehutanan. Akan tetapi karena faktor ekonomi kawasan ini lebih dalam dibandingkan dengan
yang dikejar atau diutamakan lebih dulu, kawasan yang belum dibuka.
sementara pemahaman akan sains tentang
watak gambut kurang dikuasai sehingga banyak
kawasan-kawasan lahan gambut untuk kegiatan
budidaya gagal.

Kegagalan ini diawali dengan


manajemen tata air yang kurang baik, seperti
pengaturan muka air tanah gambut yang terlalu
dalam yang menyebabkan overdrainaged.
Kondisi overdrainaged bisa berakibat fatal, yaitu
sifat gambut menjadi kering tak balik, subsidance
dan rawan kebakaran. Seperti yang dikemukakan
oleh Setiadi, 1999, kebakaran gambut tidak akan
terjadi pada gambut yang masih berhutan (hutan
alami), kebakaran gambut terjadi pada kawasan
gambut yang sudah terbuka.
Gambar 1. Saluran Reklamasi Pada Kubah
Lebih lanjut disebutkan pula, kehilangan
air sebagai akibat drainase dan pengembangan 4. Kesimpulan
lahan gambut, di samping dapat mengarah pada
dampak buruk seperti terjadinya kebakaran juga Muka air tanah gambut pada lahan yang
berdampak terhadap produktivitas yang rendah, telah direklamasi dengan kondisi penutupan
karena kemasaman yang tinggi, khususnya pada lahannya merupakan hutan alami menunjukkan
kawasan gambut dengan lapisan pirit di muka air tanah masih tergolong tinggi (dekat
bawahnya 5). dengan permukaan), yaitu berkisar 0,15 m,
sedangkan pada lahan yang telah lama
Subsidance sebagai indikator degradasi direklamasi kondisi muka air tanahnya relativ
lahan gambut juga ada hubungannya dengan masih lebih baik dibandingkan dengan lahan
muka air tanah gambut. Hubungan laju gambut yang baru dibuka untuk perkebunan.
penurunan subsidance tiap tahun terhadap
muka air tanah gambut adalah 0, kali kedalaman Kondisi muka air tanah pada kubah
muka air tanah gambut 9). gambut berimplikasi terhadap kualitas lahan.
Muka air tanah yang masih tinggi ancaman
Seperti ditunjukkan pada pembahasan terhadap kerusakan lingkungan relatif lebih kecil.
sebelumnya, kawasan gambut yang berada Degradasi lahan seperti fenomena overdrainage
pada kubah gambut mempunyai kapasitas berpeluang terjadi pada awal pembukaan lahan
menyimpan air yang jauh lebih besar dan mempunyai potensi ancaman kebakaran
dibandingkan di luar kubah. Hal ini dikarenakan lahan lebih tinggi karena muka air tanah gambut
gambut terletak pada cekungan dan membentuk tergolong dalam bisa mencapai 1 m dan hal ini
kubah hingga mencapai ketebalan belasan terjadi di kubah Siak Kecil dan Kandis.
meter. Sesuai dengan sifat dan watak gambut,
gambut mempunyai kapasitas menyimpan air DAFTAR PUSTAKA
hingga 1000% 3). Sehingga secara alami gambut
merupakan kawasan penyimpan air yang baik. 1. Brady, Nyle C. The Nature and Properties
Fenomena degradasi lahan gambut, seperti of Soil. 10th edition, Mac Millan Publishing
adanya kebakaran lahan gambut adalah kondisi Co. New York, 1997.
muka air tanah gambut yang relatif dalam,
sehingga terjadi tingkat kelembaban permukaan 2. Moore, T.A and J.C. Shearer. 1997.
tanah yang relatif tinggi dan hal ini memicu Evidence for Aerobic Degradation of

106
Hasmana Soewandita : Studi Muka Air Tanah Gambut dan Implikasinya JAI Vol.4, No.2, 2008

Palangkaraya Peat and Implications for its 6. Soil Survey Staff. 1999. Soil Taxonomy.
Sustainability. In : J.O. Riely and S.E. Page. United States Department of Agricultural
Biodiversity and Sustainability of Tropical Natural Resources Conservation Service.
Peatland. Samara Publishing Limited.
7. Subagyo et al. 1996. Prospek Lahan
Cardigan, UK. Pp. 157-167.
Gambut Untuk Pertanian. Makalah
3. Radjagukguk, B. 1997. Peat Soils of disampaikan pada Dies Natalis IPB ke-XXXIII
Indonesia : Location, Clasification and 26 September 1996. Bogor.
Problems for Sustainability. In : J.O. Riely
8. Subagyo. 2003. Tipologi Lahan Rawa dan
and S.E. Page. Biodiversity and
Pengelolaannya. Bogor. Makalah
Sustainability of Tropical Peatland. Samara
disampaikan pada Program HRD. BPPT
Publishing Limited. Cardigan, UK. Pp. 45-
HSF. Jakarta.
54.
9. Wosten, J.H.M, et al. 2002. Chalanges in
4. Setiadi, B. 1999. Masalah dan Prospek
Land and Water Management for Peatland
Pemanafaatan Gambut. BPPT-HSF,
Development in Serawak. In Jack Rieley
Jakarta.
and Susan Page. Jakarta Symposium
5. Silvius, M. J., Simons, H.W., and Verheugt, Proceeding on Peatland for People Natural
W.J.M. 1984. Soils, Vegetation, Fauna and Resources Function and Sustainable
Nature Conservation of the Berbak Game Management. BPPT and Indonesian Peat
Reserve, Sumatra, Indonesia. RIN, Arnhem, Association.
The Netherlands.

107
Hasmana Soewandita : Studi Muka Air Tanah Gambut dan Implikasinya JAI Vol.4, No.2, 2008

Lampiran 1.

Gambar 1. Sebaran Kubah Gambut di Kabupaten Siak

KEDALAMAN MUKA AIR TANAH GAMBUT

0
SK SK SK SK SK SK SK MR MR ZM ZM ZM ZM ZM ZM ZM ZM ZM ZM ZM ZM ZM ZM BT BT BT ZM MR MR SM SM SM SM SM SM SM KD KD KD KD KD KD

-0.2
Kedalaman (m)

-0.4

-0.6

-0.8

-1

SIAK KECIL MR ZAMRUD BUATAN SUNGAI MANDAU KANDIS


-1.2

TITIK KUBAH

Gambar 2. Kedalam Muka Air Tanah Gambut di Tujuh Kubah Gambut di Kabupaten Siak

108