Anda di halaman 1dari 14

HAKIKAT SISTEM PENGENDALIAN MANAJEMEN

Nama Kelompok :

1. I Debi Sintia Dewi ( A1C115043 )


2. Meri Anjani ( A1C115066 )
3. Niki Lestari ( A1C115078 )

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS MATARAM

2017
SKEMA HAKIKAT SISTEM PENGENDALIAN MANAJEMEN

alat kontrol assessor

Effector
detector

Seseuatu yang
sedang diawasi

1. Empat elemen Sistem Pengendalian


Suatu organisasi harus dikendalikan yaitu harus ada perangkat perangkap pada
tempatnya untuk memastikan bahwa tujuan strategisnya dapat tercapai. Setiap
sistem pengendalian sedikitnya memiliki empat elemen:
a. Pelacak (detector) atau sensor-sebuah perangkat yang mengukur apa yang
sesungguhnya terjadi dalam proses yang sedang dikendalikan.
b. Penaksir (assessor) uatu perangkat yang menentukan signifikansi dari peristiwa
aktual dengan membandingkannya dengan beberapa standar atau ekspektasi dari
apa yang seharusnya terjadi.
c. Effector-suatu perangkat (yang sering disebut "feedback") yang mengubah
perilaku jika assessor mengindikasikan kebutuhan yang perlu dipenuhi.
d. Jaringan komunikasi-perangkat yang meneruskan informasi antara detector dan
assessor dan antara assessor dan effector.
HAKIKAT SISTEM PENGENDALIAN MANAJEMEN

2. Pengertian Sistem Pengendalian Manajemen


Menurut Suadi, Sistem pengendalian manajemen adalah sebuah sistem
yang terdiri dari beberapa sub sistem yang saling berkaitan, yaitu: pemrograman,
penganggaran, akuntansi, pelaporan, dan pertanggungjawaban untuk membantu
manajemen mempengaruhi orang lain dalam sebuah perusahaan, agar mau
mencapai tujuan perusahaan melalui strategi tertentu secara efektif dan efisien.
Menurut Anthony dan Reece, sistem pengendalian manajemen adalah sistem
pengendalian manajemen memiliki fungsi pengendalian terhadap aktivitas-
aktivitas dalam suatu organisasi yang diupayakan agar sesuai dengan strategi
badan usaha untuk mencapai tujuannya.
3. Jenis Pengendalian Manajemen
Sistem pengendalian manajemen dapat dibagi dalam 5 (lima) jenis:
1. Pengendalian pencegahan (preventive controls) suatu kesalahan.
Pengendalian ini dirancang untuk mencegah hasil yang tidak diinginkan
sebelum kejadian itu terjadi. Pengendalian pencegahan berjalan efektif
apabila fungsi atau personel melaksanakan perannya.
2. Pengendalian deteksi (detective controls) Sesuai dengan namanya
pengendalian deteksi dimaksudkan untuk mendeteksi suatu kesalahan
yang telah terjadi. Rekonsiliasi bank atas pencocokan saldo pada buku
bank dengan saldo kas buku organisasi merupakan kunci pengendalian
deteksi atas saldo kas. Pengendalian deteksi biasanya lebih mahal daripada
pengendalian pencegahan, namun tetap dibutuhkan karena pengendalian
deteksi dapat mengukur efektivitas pengendalian pencegahan, beberapa
kesalahan tidak dapat secara efektif dikendalikan melalui sistem
pengendalian pencegahan sehingga harus ditangani dengan pengendalian
deteksi ketika kesalahan tersebut terjadi. Pengendalian deteksi meliputi
review dan pembandingan seperti: catatan kinerja dengan pengecekan
independen atas kinerja, rekonsilasi bank, konfirmasi saldo bank, kas
opname, penghitungan fisik persediaan, konfirmasi piutang/utang dan
sebagainya.
3. Pengendalian koreksi (corrective controls) Pengendalian koreksi
melakukan koreksi masalah-masalah yang teridentifikasi oleh
pengendalian deteksi. Tujuannya adalah agar supaya kesalahan yang telah
terjadi tidak terulang kembali. Masalah atau kesalahan dapat dideteksi oleh
manajemen sendiri atau oleh auditor. Apabila masalah atau kesalahan
terdeteksi oleh auditor, maka wujud pengendalian koreksinya adalah
dalam bentuk pelaksanaan tindak lanjut dari rekomendasi auditor.
4. Pengendalian pengarahan (directive controls) Pengendalian pengarahan
adalah pengendalian yang dilakukan pada saat kegiatan sedang
berlangsung dengan tujuan agar kegiatan dilaksanakan sesuai dengan
kebijakan atau ketentuan yang berlaku.
5. Pengendalian kompensatif (compensating controls)
Pengendalian kompensatif dimaksudkan untuk memperkuat pengendalian
karena terabaikannya suatu aktivitas pengendalian. Pengawasan langsung
pemilik usaha terhadap kegiatan pegawainya pada usaha kecil karena
ketidak-adanya pemisahan fungsi merupakan contoh pengendalian
kompensatif.
4. Tujuan Perancangan Sistem Pengendalian Manejemen
a. Diperolehnya keterandalan dan integritas informasi
Di era globalisasi ini, sistem informasi menjadi begitu penting bagi
organisasi dalam rangka mensikapi perubahan yang serba cepat atas
perubahan kondisi dan lingkungan yang ada dan meningkatnya
kecanggihan sarana teknologi informasi.
b. Kepatuhan pada kebijakan, rencana, prosedur, peraturan dan ketentuan
yang berlaku. Kepatuhan pada kebijakan, rencana, prosedur, peraturan dan
ketentuan yang berlaku dapat dicapai melalui sistem pengendalian
manajemen. Kegagalan ketaatan pada kebijakan dan ketentuan yang
berlaku dapat membahayakan usaha koordinasi yang dirancang dalam
suatu sistem pengendalian.
c. Melindungi aset organisasi
Pada umumnya pengendalian dirancang dan diimplementasikan untuk
melindungi aset organisasi
d. Pencapaian kegiatan yang ekonomis dan efisien
Realita bahwa sumber daya bersifat terbatas mendorong organisasi
menerapkan prinsip ekonomis dan efisiensi. Prinsip yang diterapkan bagi
manajemen organisasi adalah memperoleh keluaran atau hasil yang
maksimal dengan pengeluaran tertentu atau mencapai hasil tertentu dengan
biaya yang minimal. Standar operasi seharusnya memberikan kriteria
pengukuran untuk menilai tingkat keekonomisan dan efisiensi. Dalam
dunia bisnis, kriteria penilaian kehematan dan efisiensi tercermin dalam
laporan keuangannya. Namun demikian, bagi organisasi nirlaba, termasuk
organisasi pemerintah, kriteria penilaian dituangkan dalam bentuk
indikator keberhasilan kinerja.
5. Keterbatasan Sistem Pengendalian Manajemen
Beberapa keterbatasan yang dapat diidentifikasikan antara lain:
a. Kurang matangnya suatu pertimbangan
Efektivitas pengendalian seringkali dibatasi oleh adanya keterbatasan
manusia dalam pengambilan keputusan. Suatu keputusan diambil oleh
manajemen umumnya didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan yang
ada pada saat itu, antara lain informasi yang tersedia, keterbatasan waktu,
dan beberapa variabel lain baik internal maupun eksternal (lingkungan).
b. Kegagalan menterjemahkan perintah
Pengendalian telah didisain dengan sebaik-baiknya, namun kegagalan
dapat terjadi yang disebabkan adanya pegawai (staf) yang salah
menterjemahkan perintah dari pimpinan. Kesalahan dalam
menterjemahkan suatu perintah dapat disebabkan dari ketidaktahuan atau
kecerobohan pegawai yang bersangkutan. Terjadinya kegagalan dapat
lebih diperparah apabila kegagalan menterjemahkan perintah dilakukan
oleh seorang pimpinan.
c. Pengabaian manajemen
Suatu pengendalian manajemen dapat berjalan efektif apabila semua pihak
atau unsur dalam organisasi mulai dari tingkat tertinggi hingga terendah
melaksanakan tugas dan fungsinya sesuai dengan kewenangan dan
tanggung jawabnya. Meskipun suatu organisasi memiliki pengendalian
manajemen yang memadai sekalipun, pengendalian tersebut tidak akan
dapat mencapai tujuannya jika staf atau bahkan seorang pimpinan
mengabaikan pengendalian. Istilah pengabaian manajemen ditujukan
pada tindakan manajemen yang mengabaikan pengendalian dengan tujuan
untuk kepentingan pribadi atau untuk meningkatkan penyajian kondisi
laporan kegiatan dan kinerja organisasi yang bersangkutan.

d. Adanya Kolusi
Kolusi adalah salah satu ancaman dari pengendalian yang efektif.
Pemisahan fungsi telah dilakukan namun jika manusianya melakukan
suatu persekongkolan untuk kepentingan pribadi atau kepentingan tertentu
selain organisasi, maka pengendalian yang sebaik apapun tidak akan
dapat mendeteksi atau mencegah terjadinya suatu tindakan yang
merugikan organisasi.
JURNAL
Jurnal Asing

The Concept of Manajemen Control System and Its Relation to


Performance Measurement

Abstrak

Artikel ini berfokus pada dua pertanyaan penelitian: apa yang dimaksud dengan
Management Kontrol System (MCS) dan apakah ada perbedaan antara MCS
istilah dan istilah yang sama digunakan Performance Measurement. Jawaban atas
pertanyaan penelitian yang diuraikan diartikel paling berpengaruh berdasarkan
nomor kutipan dan textbooNs topYranNing diidentifikasi oleh survei yang
dilakukan oleh Strau dan Zecher (2013). Perbandingan konseptualisasi dominan
MCS mengungkapkan bahwa MCS dianggap sebagai satu set kontrol yang
manajer miliki mereka untuk mengarahkan organisasi ke arah tujuan yang telah
ditentukan.

Kata kunci: Manajemen Sistem Pengendalian; Pengukuran Kinerja; Akuntansi


manajemen

Jurnal Bahasa Indonesia


Analisis Penerapan Sistem Pengendalian Manajemen pada Koperasi
simpan Pinjam ( AYAMEN MANDIRI) Kombi
Abstrak:

Sistem pengendalian manajemen merupakan sistem yang digunakan untuk


mempengaruhi para anggotanya agar mengimplementasikan strategi-strategi
secara efisien dan efektif dalam rangka mencapai tujuan-tujuan organisasi. Tujuan
dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana penerapan sistem
pengendalian manajemen pada Koperasi Simpan Pinjam Ayamen Mandiri Kombi.
Metode analisis data yang digunakan adalah deskriptif. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa struktur pengendalian manajemen dan proses pengendalian
manajemen pada KSP Ayamen Mandiri Kombi telah efektif. Hal ini dibuktikan
dengan penerapan
struktur pengendalian yang dibagi atas struktur organisasi, pendelegasian
wewenang dan tanggung jawab, serta pusat pertanggungjawaban yang telah
mencakup seluruh fungsi dalam struktur organisasi. Serta proses pengendalian
yang dijalankan mulai dari perumusan strategi, penyusunan anggaran,
pelaksanaan dan pengukuran,
serta evaluasi kerja yang menunjukkan adanya peningkatan. Berdasarkan hasil
penelitian, peneliti dapat memberikan saran agar KSP Ayamen Mandiri perlu
menerapkan manajer divisi agar dapat memisahkan tugas dan tanggung jawab
antara pengurus dan manajer. Penambahan sumber daya akan meningkatkan
kinerja untuk
kemajuan usaha KSP Ayamen Mandiri Kombi. Evaluasi kerja juga perlu
dilakukan perbandingan antara realisasi dengan apa yang telah dianggarkan agar
hasil menjadi lebih efektif.

Kata Kunci: sistem pengendalian manajemen, struktur pengendalian


management, proses pengendalian managemen
CONTOH KASUS

Haengbok Bancorp merupakan salah satu bank nasional berskala kecil dari
Korea. Haengbok Bancorp membuka cabang luar negerinya di New York untuk
memberikan dukungan yang lebih baik pada nasabahnya di korea, juga
menghasilkan bisnis tambahan dari Amerika Serikat dengan kepemilikan Korea,
dan berusaha terus mengikuti trend bisnis perbankan di skala internasional secara
cepat.
Sebagian besar nasabahnya adalah pengusaha kecil menengah yang
memiliki beberapa operasi internasional. Cabang di New York ini merupakan
operasi bisnis grosir dimana tujuannya adalah untuk meminjamkan dolar Amerika
Serikat kepada perusahaan Korea atau Amerika Serikat.
Cabang ini dipimpin oleh Kim Hyun, yaitu seorang manajer akun
Haengbok berpengalaman dari Korea. Kim merekrut lima manajer akun
berpengalaman dengan catatan sukses di industri perbankan untuk membantunya
mengelola bank ini. Kim sangat sadar bahwa lima manajer ini memiliki latar
belakang yang berbeda dan memiliki keahlian di industri tertentu, dan Kim
mempercayakan mereka untuk melakukan identifikasi calon nasabah dan
membagi pekerjaan berdasarkan lokasi geografis yang mungkin tidak dkuasai
oleh manajer. Kim berpikir bahwa manajer akun dapat melakukan analisis
pinjaman dengan cara mereka masing-masing selama menghasilkan kesepakatan
pinjaman yang baik.
Untuk keperluan pengawasan dan insentif, Kim menetapkan setiap manajer akun
sebagai pusat laba mini. Pusat laba mereka akan dikreditkan dengan bunga atas
pinjaman yang diinisiasii dan mereka dibebankan oleh biaya yang terjadi. Selain
gaji pokok(masih di bawah rata-rata pasar) manajer akun akan mendapatkan
insentif bonus 10% dari laba total yang dihasilkan dalam pusat laba mini mereka
setiap tahun. Manajer akun tidak dihukum atas kerugian total yang mungkin
terjadi, namun kerugian berkepanjangan tidak akan ditoleransi. Bonus ini
kemudian akan dibayarkan tunai setiap akhir tahun fiskal.
PERMASALAHAN
Ada sebuah permasalahan yang muncul selama operasi Haengbok Bancorp di
New York. Jae yang merupakan salah seorang manajer akun menyerahkan
permohonan pinjaman sebesar $11 juta selama 7 tahun dari Far East Trading
Corporation (FETC). Berdasarkan penilaian Jae, FETC adalah perusahaan yang
memiliki prospek baik di sektor bisnisnya dengan manajemen yang mumpuni.
Dari penilaian tersebut Jae yakin kesepakatan pinjaman dana sebesar $11 juta
dengan FETC adalah hal yang sangat baik dan menguntungkan perusahaan.
Komite kredit cabang yang menerima permohonan peminjaman tersebut langsung
menyetujui permohonan tersebut karena mereka percaya pada kemampuan
analisis Jae yang baik.
Oleh karena besar pinjaman melebihi $5 juta, maka aplikasi tersebut tidak
hanya disetujui oleh komite kredit cabang namun juga harus mendapat
persetujuan dari komite kredit korporasi di Seoul. Dengan rapat yang dilakukan
melalui telepon, tidak disangka bahwa komite kredit korporasi menolak
permohonan pinjaman tersebut karena mendengar bahwa FETC terlibat dalam
beberapa perselisihan transfer pricing dengan otoritas pajak.

Prosedur Persetujuan Pinjaman


Ada beberapa prosedur umum yang harus dilakukan dalam rangka persetujuan
pinjaman yang diajukan oleh calon peminjam, diantaranya:
< $1 juta, disetujui oleh Mr. Kim
> $1 juta, disetujui oleh Komite Kredit cabang
> $5 juta, disetujui oleh Komite Kredit perusahaan Haengbok Bancorp yang
berbasis di Seoul
Selain prosedur umum tersebut, setiap permohonan pinjaman akan dilakukan
penilaian melalui akun manajer sebelum disetujui oleh pihak yang berwenang.
Kelebihan dari prosedur tersebut adalah adanya persetujuan ganda untuk
mengurangi resiko pinjaman dan dapat mengakumulasi informasi tentang tren
perbankan dunia.
Solusi atas Masalah FETC
Melakukan review pengajuan pinjaman melalui komite kredit cabang
berdasarkan panduan dan syarat yang sesuai untuk memastikan kecukupan
informasi sebagai dasar analisis yang baik
Menciptakan sebuah sistem penilaian ulang untuk pinjaman yang ditolak.
Informasi yang menjadi dasar penolakan komite kredit perusahaan mungkin saja
kurang terpercaya dan membuat keputusan penolakan menjadi kurang tepat.
Komunikasi yang efektif perlu dibangun antara komite kredit perusahaan dan
komite kredit cabang. Untuk pinjaman di atas $5 juta harus mempertemukan
seluruh pemangku kepentingan seperti Komite kredit pusat, komite kredit cabang,
dan manajer akuntansi

Saran terhadap Sistem Pengendalian


Kontrol yang didesain oleh Haengbok Bancorp belum sempurna. Meskipun
demikian, manajemen menganggap bahwa kontrol yang ada sudah cukup baik
untuk kondisi saat ini. Namun, pada kenyataannya sistem kontrol yang telah
dibangun masih menimbulkan masalah dan terdapat kekurangan sehingga
menghambat tercapainya tujuan dari organisasi. Berdasarkan masalah dan
kekurangan yang timbul dari sistem kontrol yang belum sempurna, kami
memberikan beberapa saran yang dapat dijadikan pertimbangan Haengbok
Bancorp untuk memperbaiki sistem kontrol yang dimilikinya :
a. Action Control
1) Permohonan pinjaman
Menyusun standar aplikasi pinjaman
Sistem yang digunakan Haengbok Bancorp di Korea dan New York berbeda,
sebaiknya Haengbok Bancorp menetapkan standar yang sama antara kedua
cabang sehingga dapat diperoleh aplikasi pinjaman dengan kualitas dan prosedur
yang sama. Mengingat terdapat batasan mengenai otorisasi atas pinjaman dengan
nominal di bawah $1juta, di atas $1 juta, dan di atas $5 juta. Dengan demikian
Haengbok Bancorp dapat mengukur aplikasi pinjaman dengan standar yang sama.
Instruksi pada komposisi analisis resiko dan dokumen pendukung
Manajer akun yang direkrut merupakan Manajer akun yang berpengalaman dan
sukses di Amerika. Namun, mereka memiliki background pengalaman yang
bervariasi dan spesifik. Untuk menyeragamkan hasil analisis atas nasabah dari
tiap Manajer akun sebaiknya Haengbok Bancorp menetapkan komposisi analisis
resiko dan dokumen pendukung yang dibutuhkan. Dengan demikian, kesepakatan
pinjaman yang dihasilkan Manajer akun selain hasilnya baik juga memenuhi
kriteria yang ditetapkan oleh HAENGBOK Bancorp terkait kemampuan nasabah
mengembalikan pinjaman beserta bunganya.
b. Result Control
1) Pemberian Remunerasi
Gaji pokok yang diberikan masih di bawah rata-rata pasar. Mengingat Manajer
akun yang direkrut merupakan Manajer akun berpengalaman. Jika mereka
memperoleh penghasilan di bawah standar tempat bekerjanya dulu, akan
menciptakan demotivasi dan keinginan untuk pindah ke perusahaan perbankan
lain dengan penghasilan yang lebih tinggi. Untuk memotivasi dan
mempertahankan Manajer akun yang dimilikinya seharusnya Haengbok Bancorp
meningkatkan standar gaji pokok dari Manajer akun. Dengan demikian,
penghasilan yang diberikan sekompetitif dengan bank yang sudah mumpuni.
2) Pemberian bonus
Untuk meningkatkan kesejahteraan dan mengapresiasi prestasi kinerja dari
tersebut diberikan dalam bentuk uang tunai pada akhir tahun fiskal. Sebaiknya
bonus tidak diberikan seluruhnya dalam bentuk uang tunai. Sebagian bonus yang
diberikan dapat diubah menjadi saham. Dengan kepemilikan saham, Manajer
akun akan merasa ikut memiliki perusahaan. Mereka akan berusaha meningkatkan
nilai perusahaan dengan meningkatkan laba melalui mini profit center. Selain
target jangka pendek yang mereka kejar untuk mendapat bonus, mereka juga akan
memperhatikan target jangka panjang perusahaan agar mereka juga memperoleh
dividen atas saham yang mereka miliki.
3) Tidak ada penalti atas kerugian
Manajer akun tidak dibebankan atas kerugian total yang di alami perusahaan.
Namun, jika perusahaan rugi, maka mereka juga tidak mendapatkan bonus. Hal
tersebut sudah merupakan penalti bagi mereka. Tidak tercapainya target laba
disebabkan persaingan yang ketat di antara bank-bank Korea yang ada di Amerika
Serikat. Promo-promo yang diberikan bank lain yang lebih dulu mumpuni,
membuat Haengbok Bancorp kehilangan nasabah potensial yang menjadi sumber
pendapatan Haengbok Bancorp.
c. Culture Control
1) Menetapkan tujuan lima tahunan untuk seluruh cabang
Sebagai bank yang baru berkembang Haengbok Bancorp sebaiknya menetapkan
target lima tahunan yang ingin dicapai. Sehingga visi perusahaan ke depan dapat
diketahui oleh seluruh pegawai. Misalnya menguasai pangsa pasar tertentu pada
sektor bank. Jika tujuan organisasi telah diketahui dan disampaikan kepada setiap
karyawan akan meningkatkan rasa memiliki perusahaan sehingga mereka
berusaha maksimal dalam mewujudkannya.
KESIMPULAN

Sistem pengendalian manajemen adalah sebuah sistem yang terdiri dari beberapa
sub sistem yang saling berkaitan, yaitu: pemrograman, penganggaran, akuntansi,
pelaporan, dan pertanggungjawaban untuk membantu manajemen mempengaruhi
orang lain dalam sebuah perusahaan, agar mau mencapai tujuan perusahaan
melalui strategi tertentu secara efektif dan efisien. Adapun jenis-jenis yang
terdapat dalam sistem pengendalian manajemen yakni, pengendalian pencegahan,
pengendalian deteksi, pengendalian koreksi, pengendalian pengarahan,
pengendalian konfensatif. sistem pengendalian manajemen juga mempunyai
berbagai macam fungsi seperti : diperolehnya keterandalan dan integritas
informasi, kepatuhan pada kebijakan, rencana, prosedur, peraturan dan ketentuan
yang berlaku, melindungi aset organisasi dan Pencapaian kegiatan yang ekonomis
dan efisien.