Anda di halaman 1dari 14

PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN PRAKTIK BERBASIS KOMPETENSI

BERORIENTASI PRODUKSI

R. Mursid
FT Universitas Negeri Medan
email: mursid.tp@gmail.com

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model pembelajaran praktik berbasis kom-
petensi berorientasi produksi yang layak digunakan dalam pembelajaran praktik dan efektif dapat me-
ningkatkan hasil belajar mahasiswa pada mata kuliah teknologi permesinan. Hasil penelitian dan pe-
ngembangan menunjukkan bahwa (1) model pembelajaran dapat meningkatkan kompetensi mahasis-
wa yang berorientasi produksi; (2) model pembelajaran tersebut efektif dapat meningkatkan hasil bela-
jar pada pembelajaran praktik; (3) model pembelajaran tersebut dapat menciptakan iklim belajar yang
memposisikan mahasiswa sebagai centre learning dengan segala aktivitas yang dilakukannya, me-
motivasi belajar mahasiswa melalui ide-ide yang konstruktif, mendorong dan membangkitkan kebe-
ranian belajar dan bekerja yang didasari komitmen yang tinggi dan berdisiplin, meningkatkan kece-
patan belajar, motivasi belajar, semangat belajar, kerja sama kelompok, kreatifitas, dan inovasi.

Kata Kunci: model pembelajaran praktik, berbasis kompetensi, orientasi produksi

DEVELOPMENT OF PRACTICE LEARNING MODEL COMPETENCY-BASED


ORIENTED PRODUCTION

Abstract:This research aims to develop practice learning model competency-based production orien-
ted which is fit for use in teaching practice and effective can improve student learning outcomes on
subjects machining technology. Results of research and development show that (1) the instructional
can improve student competency-oriented production; (2) the instructional model can effectively im-
prove learning outcomes in practice learning; (3) the learning modelcan be; create a learning climate
which is positioning as a student learning center with all the activities done, motivate students to learn
through constructive ideas, facilitate and encourage the willness to learn and work which is based on a
strong commitment and disciplined, increase the speed of learning, motivation to learn, enthusiasm for
learning, teamwork, creativity, and innovation.

Keywords: models of practice learning, competency-based, orientation of production

PENDAHULUAN tegi, metode, dan media pembelajaran yang men-


Pembelajaran di perguruan tinggi selain dukung. Pada abad pengetahuan saat ini, para-
menuntut kemampuan akademik (hard skill), digma belajar berorientasi pada proyek, masa-
mahasiswa juga dituntut untuk dapat meningkat- lah, penyelidikan (inquiry), penemuan dan pen-
kan kemampuan personal (soft skills) sehingga ciptaan (Wilson, 1996:34). Hal ini berarti mem-
mahasiswa siap memasuki dunia kerja yang se- berikan kesempatan kepada mahasiswa untuk
sungguhnya setelah menyelesaikan studi. Pen- mengarungi seluruh ranah pembelajaran (kogni-
didikan bidang keteknikan, seperti pendidikan tif, afektif, dan psikomotor), serta mengembang-
teknik mesin, hendaknya selain memberikan kan seluruh kecerdasannya (emosional, spiri-
teori-teori yang cukup, juga perlu memberikan tual, sosial, dan sebagainya).
praktik dan contoh-contoh pemecahan proyek- Pembelajaran praktik belum secara serius
proyek nyata dengan memanfaatkan model, stra- dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip yang

27
28

sahih untuk memberikan peluang mahasiswa titif. Hal ini dapat dilakukan dengan pembaha-
belajar cerdas, kritis, kreatif, inovatif, dan me- ruan metode pembelajaran yang lebih fleksibel,
mecahkan masalah. Pembelajaran praktik yang dengan menempatkan mahasiswa sebagai sub-
diupayakan dosen pendidikan teknik mesin be- jek (student-centered learning = SCL), diban-
lum menunjukkan sebagai suatu proses pengem- dingkan sebagai objek pendidikan. Konsep pen-
bangan kreativitas mahasiswa. Hasil pengamat- didikan juga perlu didesain untuk menumbuh-
an awal menunjukkan adanya kecenderungan do- kan semangat kewirausahaan dan peningkatan
sen dalam memilih dan menggunakan metode soft skills serta success skills sehingga lulusan
pembelajaran praktik yang bersifat spekulatif, perguruan tinggi mempunyai karakter percaya
yang berakibat kegiatan pembelajaran praktik diri yang tinggi, memiliki kearifan terhadap
kurang menarik, membosankan, tidak menan- nilai-nilai sosial dan kultural bangsa, kemandi-
tang, produk yang dihasilkan tidak maksimal, rian serta leadership yang kuat (HELTS, 2004:
dan kecenderungan gagal, tidak layak jual, sulit 22).
mencapai target, tidak berorientasi produksi. perguruan tinggi mengacu pada standar-
LPTK-PTK (Lembaga Pendidikan Tena- disasi proses pembelajaran yang diharapkan ada
ga Kependidikan Pendidikan Teknologi Kejuru- pembaharuan pembelajaran yang inovatif. Oleh
an) mempunyai tanggung jawab dalam meng- karena itu, penelitian ini berupaya mengem-
hasilkan guru yang berkualitas. Pada tatanan lo- bangkan model pembelajaran untuk mengem-
kal dengan penerapan otonomi daerah, LPTK- bangkan kreativitas mahasiswa, terutama aspek
PTK mempunyai peluang untuk menata pe- berfikir kreatif, inovatif, dan produktif, yang
ngembangan tenaga guru lebih berkualitas se- diharapkan mampu meningkatkan kualitas pem-
suai dengan tuntutan kebutuhan daerah. Orien- belajaran dan pendidikan, sekaligus mampu me-
tasi baru pendidikan itu berkehendak menjadi- ningkatkan kompetensi praktik mahasiswa di
kan lembaga pendidikan sebagai kecakapan hi- bidang pendidikan teknik mesin.
dup, dengan pendidikan yang bertujuan menca- Proses pembelajaran LPTK-PTK (2003:
pai kompetensi, melalui proses pembelajaran 2) diarahkan kepada: (1) kegiatan pembelajaran
yang autentik dan kontekstual yang dapat meng- perlu memperhatikan perbedaan kemampuan in-
hasilkan produk bernilai dan bermakna bagi ma- dividu dan dapat mengembangkan bakat dan po-
hasiswa. Selain itu, juga pemberian layanan pen- tensi mahasiswa dalam bidang keahlian secara
didikan berbasis luas melalui berbagai jalur dan optimal (competency based learning); (2) ke-
jenjang pendidikan yang fleksibel multi-entry- giatan pembelajaran ditekankan pada pemberian
multi-exit. pengalaman nyata dalam kehidupan sehari-hari
Permasalahan utama dalam pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dunia kerja dan terkait
di perguruan tinggi adalah bagaimana perenca- dengan penerapan konsep, kaidah, dan prinsip
naan dan kesiapan dosen untuk mengelola pem- disiplin ilmu yang dipelajari; (3) pembelajaran
belajaran agar tercapai kompetensi yang diingin- perlu diarahkan untuk mendorong mahasiswa
kan dalam diri mahasiswa. Secara konseptual, dapat mengkomunikasikan kreasi temuannya ke-
barangkali pengembangan strategi pembelajar- pada masyarakat luas sehingga dapat mengem-
an dapat diakui sebagai salah satu sarana bagi bangkan empati dengan menyelaraskan penge-
lembaga pendidikan untuk memberikan dan tahuan yang dimiliki dengan tindakannya; dan
memperluas wawasan pembelajar tentang pe- (4) pembelajaran diarahkan untuk menciptakan
ngetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar iklim kompetisi sehingga dapat menghasilkan
lainnya dengan harapan dapat direfleksikan da- karya-karya yang inovatif dan produktif.
lam kebiasaan berpikir dan bertindak. Pembelajaran berbasis kompetensi mem-
Peningkatan kualitas dan proses pembe- punyai implikasi yang luas dengan mengguna-
lajaran diperguruan tinggi perlu secara kreatif kan pendekatan competency based yang didasar-
mengembangkan konsep-konsep pendidikan kan pada dua filosofi dasar. Pertama, gagasan
baru yang lebih komprehensif sekaligus kompe- human competence merupakan kemampuan

Cakrawala Pendidikan, Februari 2013, Th. XXXII, No. 1


29

yang benar-benar terlihat. Pengetahuan, sikap, untuk membantu pebelajar sedemikian hingga
dan keterampilan merupakan hal yang tidak ber- tujuan pembelajaran tercapai. Model pembela-
harga jika tidak ditunjukkan dengan adanya ha- jaran menurut Joice & Weil (1996:20) adalah
sil. Kedua, di dalam mastery learning disebut- suatu perencanaan atau pola yang dapat diguna-
kan bahwa hampir semua orang dapat mempe- kan untuk kurikulum (materi pembelajaran yang
lajari semua hal dengan baik apabila mendapat- panjang), mendesain materi pembelajaran, dan
kan pembelajaran yang berkualitas serta waktu untuk mengantarkan pembelajaran di dalam
yang mencukupi. Kurikulum berbasis kompe- maupun di luar kelas.
tensi mencakup beberapa kompetensi yang ha- Model-model pembelajaran menurut tak-
rus dimiliki oleh mahasiswa calon guru antara sonomi Gustafson & Branch (2003:112) dibagi
lain: (1) kompetensi kognitif yang meliputi pe- menjadi empat kategori, yaitu model yang ber-
ngetahuan dan pemahaman khusus; (2) kompe- orientasi pada kelas, produk, sistem, dan orga-
tensi afektif yang meliputi hal-hal yang berke- nisasi. Menurutnya, model pembuatan produk
naan dengan nilai-nilai, sikap, interes, dan apre- mempunyai tiga karakteristik utama, yaitu: (1)
siasi; (3) kompetensi kinerja sampai pada ke- adanya asumsi bahwa produk pembelajaran di-
mampuan mendemontrasikan perilaku atau ke- perlukan; (2) diperlukan uji coba dan revisi ber-
terampilan; (4) kompetensi hasil berupa kemam- ulang kali hingga mantap; dan (3) adanya asum-
puan untuk menghasilkan perubahan dalam ben- si bahwa produk itu harus dapat digunakan oleh
tuk lain; dan (5) kemampuan berapresiasi (Uni- berbagai pengelola pembelajaran. Berkaitan de-
med, 2004:4). ngan model pembuatan produk, seperti modul
Nordhaug (1998:8-19), bahwa kompeten- dan/atau bahan ajar pembelajaran, model pem-
si terdiri atas pengetahuan tentang metode, pro- belajaran yang dijadikan landasan pengembang-
ses, dan teknik yang dirancang untuk melaksa- an adalah Model Dick & Carey dan model lain
nakan tugas tertentu dan kemampuan meng- yang dianggap relevan. Dapat dilihat bahwa
gunakan alat-alat dan perlengkapannya. Artinya, saat ini dibutuhkan suatu model pembelajaran
kompetensi dalam pengertian spesifik dan tek- yang mampu lebih memberdayakan mahasiswa
nis mencakup pengetahuan prinsip kerja dan dalam mencapai kompetensi yang diinginkan.
prosedur kerja, serta kemampuan mengoperasi- Komponen utama teori pembelajaran me-
kan alat untuk melaksanakan tugas atau peker- nurut Reigeluth (1983:22), yang diperlukan da-
jaan tertentu. Bowden & Masters (1993:39) se- lam pengembangan model pembelajaran, yaitu:
cara tegas mengatakan bahwa kompetensi harus metode, kondisi, dan hasil. Metode pembelajar-
didefinisikan sebagai suatu yang betul-betul da- an adalah berbagai macam cara untuk mencapai
pat dilakukan seseorang, bukan suatu yang telah berbagai macam hasil dalam berbagai macam
diperoleh dari pembelajaran yang belum tentu kondisi. Kondisi pembelajaran merupakan fak-
dapat dilakukan. Hal ini berarti kompetensi me- tor yang mempengaruhi dampak metode, oleh
nunjuk pada kemampuan unjuk kerja seseorang. karena itu penting untuk menentukan metode.
Preston & Walker (1993:127) memberikan defi- Hasil pembelajaran merupakan berbagai akibat
nisi kompetensi dengan pendekatan holistik se- yang dapat dipakai untuk mengukur kegunaan
bagai kombinasi pengetahuan, keterampilan dan berbagai macam metode dalam berbagai kon-
sikap yang memungkinkan seseorang dapat me- disi. Strategi pembelajaran (instructional strate-
lakukan tugasnya. gy) adalah suatu perencanaan untuk membantu
Joyce & Weil (1996:46) menjelaskan bah- pembelajar melalui berbagai usaha untuk men-
wa model pembelajaran adalah suatu perenca- capai setiap tujuannya.
naan yang digunakan sebagai pedoman dalam Selanjutnya, Seels & Richey (1994:31)
merencanakan pembelajaran di kelas atau pem- mengatakan bahwa strategi pembelajaran ada-
belajaran dalam tutorial dan untuk menentukan lah spesifikasi untuk memilih dan mengurutkan
perangkat-perangkat pembelajaran serta meng- proses dan kegiatan-kegiatan dalam suatu pela-
arahkan kita dalam mendesain pembelajaran jaran. Dick & Carey (2005:190-198) menyata-

Pengembangan Model Pengembangan Praktik Berbasis Kompetensi Berorientasi Produksi


30

kan bahwa strategi pembelajaran menjelaskan desain pembelajaran adalah untuk meningkat-
komponen umum dari satu set materi dan pro- kan kinerja mahasiswa dan efisiensi dan efekti-
sedur pembelajaran yang akan digunakan de- vitas belajar (Rothwell dan Kazanas, 2004:3-5).
ngan bahan lain untuk menghasilkan hasil be- Sebagai bagian dari teknologi pembelajaran sis-
lajar tertentu dari pihak pebelajar. Strategi pem- tem yang diciptakan oleh manusia untuk se-
belajaran mempunyai lima komponen, yakni: suatu tujuan tertentu, yang pada intinya adalah
(1) kegiatan pra instruksional; (2) penyajian in- untuk mempermudah manusia dalam mempe-
formasi; (3) partisipasi mahasiswa; (4) tes; dan ringan usahanya, meningkan hasilnya, serta
(5) tindak lanjut. menghemat tenaga serta sumber daya yang ada
Kegiatan pembelajaran menurut Dick & (Miarso, 2007:4). Dengan demikian, dapat disi-
Carey (2005:189) yaitu; (1) memberikan moti- kapi bahwa pemanfaatan teknologi pembelajar-
vasi atau menarik perhatian; (2) menjelaskan tu- an adalah untuk mempermudah upaya pening-
juan pembelajaran kepada mahasiswa; (3) meng- katan sumber daya manusia organisasi dalam
ingatkan kompetensi prasyarat; (4) memberi meningkatkan kinerja.
stimulus (masalah, topik, konsep); (5) memberi Aktivitas pengembangan pembelajaran
petunjuk belajar (cara mempelajari); (6) menim- praktik merupakan suatu pengembangan model.
bulkan penampilan mahasiswa; (7) memberi um- Model pembelajaran adalah rangkaian kompo-
pan balik; (8) menilai penampilan; dan (9) pe- nen-komponen strategi pembelajaran yang ter-
nyimpulkan. Semua aspek tersebut digunakan integrasi, antara lain komponen: (1) pentahapan
dalam pelaksanaan startegi pembelajaran prak- dan urutan ide isi materi; (2) penggunaan ikh-
tik yang dikembangkan dalam pengembangan tisar dan ringkasan; (3) penggunaan contoh; (4)
model pembelajaran. Hal yang sama dikemuka- penggunaan praktik; (5) dan penggunaan stra-
kan oleh Arends (2004:97-100) bahwa dalam pe- tegi yang berbeda-beda untuk memotivasi sis-
rencanaan pembelajaran yang baik harus dapat wa. Suatu model pembelajaran memperlihatkan
melibatkan kegiatan pengalokasian penggunaan seluruh aspek pembelajaran yang berbeda-beda
waktu, memilih metode pembelajaran yang te- dalam rangka meraih hasil belajar terbaik me-
pat guna, menciptakan minat mahasiswa, dan lalui antisipasi kondisi belajar tertentu yang di-
membangun lingkungan belajar yang produktif. deskripsikan secara detail (Reigeluth, 1983:21).
Bahkan, dalam perencanaan yang saksama di- Menurut Prosser (1950:223), pendidikan keju-
butuhkan untuk banyak aspek kehidupan mo- ruan akan efektif jika dosennya telah mempu-
dern. Namun, perencanaan pembelajaran juga da- nyai pengalaman yang sukses dalam penerapan
pat memiliki konsekuensi yang tidak diingin- keterampilan dan pengetahuan pada operasi pro-
kan, yakni menyebabkan dosen tidak sensitif ses kerja yang akan dilakukan. Hal ini menun-
terhadap kebutuhan dan ide-ide mahasiswa. jukkan bahwa bekal pengalaman bagi dosen sa-
Pengintegrasian teknologi untuk pengem- ngat penting dalam mentransfer pengetahuan
bangan program pembelajaran sejalan dengan dan keterampilan kepada mahasiswa yang akan
pendapat Jones dan Davis (via Khosrow 2011: langsung terjun ke dunia kerja.
102), alasan mengintegrasikan teknologi ke Pada penelitian dan pengembangan ini,
dalam proses pendidikan karena ada kebutuhan yang dilakukan adalah: (1) mengembangkan mo-
untuk merencanakan pembelajaran yang akan del pembelajaran praktik berbasis kompetensi
memotivasi mahasiswa untuk belajar. Desain berorientasi produksi (berupaya untuk mencapai
pembelajarannya adalah (1) profesi yang pen- efisiensi produksi yang tinggi, biaya yang ren-
ting; (2) berfokus pada membangun dan mem- dah dan distribusi secara masal dengan kualitas
pertahankan kinerja manusia yang efisien dan produk yang bermutu/baik serta layak jual); dan
efektif; (3) dipandu oleh model kinerja; (4) di- (2) mengetahui efektifitas model pembelajaran.
lakukan secara sistematis; (5) berdasarkan teori Hasil penelitian pengembangan ini diharapkan
sistem terbuka; dan (6) berorientasi untuk men- dapat dimanfaatkan untuk mengatasi permasa-
cari dan menerapkan solusi yang efektif. Tujuan lahan pembelajaran praktik mahasiswa. Kompe-

Cakrawala Pendidikan, Februari 2013, Th. XXXII, No. 1


31

tensi dalam penelitian pengembangan ini men- tuhan disertasi dapat dikurangi beberapa lang-
cakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. kah (step) dari siklus R&D sesuai dengan ke-
butuhan, dengan mempertimbangkan secara ma-
METODE tang waktu yang dibutuhkan untuk melakukan
Penelitian ini merupakan penelitian pe- proses pengembangan.
ngembangan yang berupaya membuat suatu pro- Pengumpulan data dilakukan melalui
duk baru dalam model pembelajaran. Penelitian studi pendahuluan, pengembangan, uji coba,
ini berorientasi pada definisi yang dikemukakan dan uji validasi. Dalam setiap tahap penelitian,
Seels & Richey (Richey & Nelson, 1996), yakni dipilih teknik pengumpulan data tertentu sesuai
penelitian pengembangan merupkan studi yang dengan tujuan masing-masing. Pada studi
sistematis tentang perancangan, pengembangan pendahuluan, dipilih teknik kuesioner/angket,
pengevaluasian, program pengajaran, proses dan observasi, dan dokumentasi, di samping kajian
produk yang harus memenuhi kriterian konsis- literatur (literature review). Pengumpulan data
tensi internal dan keefektifan. Penelitian pe- dilakukan melalui: angket/kuesioner, observasi
ngembangan ini dilakukan pada program studi dan wawancara. Uji coba model merupakan
Pendidikan Teknik Mesin bidang keahlian Tek- bagian yang sangat penting dalam penelitian
nik Mesin Produksi di Fakultas Teknik Univer- dan pengembangan, yang dilakukan setelah
sitas Negeri Medan program S-1 pada mahasis- rancangan pengembangan model pembelajaran
wa yang mengambil mata kuliah Teknologi Pe- selesai. Uji coba model bertujuan untuk
mesinan. Lokasi dan subjek penelitian ditetap- mengetahui apakah model yang dikembangkan
kan secara purposive, dengan mempertimbang- layak digunakan atau tidak. Uji coba model
kan tahap-tahap penelitian serta tujuan khusus juga melihat sejauh mana produk yang dibuat
penelitian yang meliputi beberapa tahapan, di- dapat mencapai sasaran dan tujuan. Model yang
mana di dalamnya suatu produk dikembangkan, baik memenuhi dua kriteria, yaitu kriteria
diujicobakan, dan direvisi sesuai hasil tes la- pembelajaran (instructional criteria) dan
pangan. kriteria penampilan (pesentation criteria). Uji
Urutan dalam penelitian dan pengemba- coba dilakukan tiga kali, yaitu (1) uji ahli; (2)
ngan secara lengkap dalam Borg & Gall (1983: uji terbatas dilakukan terhadap kelompok kecil
775) yang dilakukan meliputi 10 langkah, yak- sebagai pengguna model; (3) uji lapangan (field
ni: (1) research and information collection; (2) testing). Dengan uji coba kualitas model yang
planning; (3) develop preliminary form of pro- dikembangkan betul-betul teruji secara empiris.
duct; (4) preliminary field testing; (5) main pro- Uji coba terbatas dan utama. Pada uji coba ter-
duct revision; (6) main field testing; (7) opera- batas adalah observasi dan kuesioner. Kuesioner
tional product revision; (8) operational field diberikan kepada dosen dengan tujuan untuk me-
testing; (9) final product revision; dan (10) dis- ngetahui apakah ada kendala dalam penerapan
semination. Pada proses pengembangan dilaku- desain model pembelajaran. Pada uji validasi,
kan dengan mengadopsi langkah-langkah Borg teknik pengumpulan data yang digunakan ada-
& Gall yang disesuaikan dengan kebutuhan pe- lah penilaian dampak penerapan model yang di-
ngembangan produk. Pilihan terhadap model ini kembangkan terhadap peningkatan kompetensi
karena diaggap sangat akomodatif terhadap pe- mahasiswa melalui perbandingan hasil peng-
ngembangan pembelajaran, namun mengingat ukuran dalam penerapan model secara mandiri
langkahnya yang begitu pajang menyebabkan oleh kelompok kontrol dan eksperimen.
tidak memungkinkan untuk dilakukan secara Instrumen penilaian kompetensi yang di-
penuh. Dengan demikian, pelaksanaan peneliti- kembangkan meliputi dua jenis, yaitu tes objek-
an dilakukan hanya dengan mengadopsi step tif dan tes tindakan. Dalam penyusunan atau pe-
yang ada. Hal ini dapat dilakukan sesuai dengan ngembangan dua jenis tes ini, penulis bekerja-
ungkapan Gall, Gall, & Borg (2003: 572) yang sama dengan kelompok dosen yang mengampu
mengatakan bahwa pengembangan untuk kebu- secara langsung di kelas pada mata kuliah

Pengembangan Model Pengembangan Praktik Berbasis Kompetensi Berorientasi Produksi


32

Teknologi Pemesinan. Ukuran validitas dan re- HASIL DAN PEMBAHASAN


liabilitas kedua tes tersebut didasarkan kepada Hasil
validitas isi (content validity) dan pertimbangan Berdasarkan hasil penelitian pendahulu-
ahli (experts judgement), salah satunya melalui an, analisis kebutuhan, kajian teoretik, validasi
pertimbangan dosen pengampu bidang keahli- isi dan ahli desain model serta modul pembe-
an. Penilaian kompetensi didasarkan pada hasil lajaran, uji coba terbatas dengan revisi model,
yang diperoleh pada aspek kognitif, afektif, dan uji coba utama dengan revisi, eksperimen pada
psikomotorik dengan kategori: (1) nilai 90 s.d uji coba utama/luas, yang telah dilakukan, diha-
100 sangat kompeten: (2) nilai 80 s.d 89 kom- silkan produk model pembelajaran dan strategi
peten; (3) nilai 70 s.d 79 cukup kompeten; (4) pembelajaran serta modul pembelajaran yang
nilai 55 s.d 69 belum kompeten; dan (5) nilai 0 dapat membantu dan memudahkan mahasiswa
s.d 54 tidak kompeten. belajar pada bidang pendidikan teknologi per-
Teknik analisis data ini menggunakan ana- mesinan. Hasil uji coba dengan revisi dan uji
lisis deskriptif kuantitatif. Semua data yang ter- efektifitas produk dapat dijabarkan seperti beri-
kumpul dianalisis dengan teknik statistik des- kut.
kriptif yang secara kuantitatif dipisahkan menu-
rut kategori untuk mempertajam penilaian da- Uji Coba Terbatas dengan Revisi
lam menarik kesimpulan. Analisis data dalam Uji coba terbatas dengan revisi dilakukan
penelitian pengembangan ini dijelaskan dalam pada 15 orang mahasiswa, bertujuan untuk me-
tiga tahap, yaitu studi pendahuluan, pengemba- ngetahui tingkat keterterapan model, serta ken-
ngan, dan validasi. Tahap pertama, studi penda- dala-kendala yang dijumpai dalam penerapan
huluan, temuan atau fakta-fakta tentang pelak- model. Dengan melakukan penilaian terhadap
sanaan pembelajaran yang dilaksanakan saat ini kelima aspek uji coba yang dirumuskan dalam
dideskripsikan dalam bentuk sajian data (mean, setiap tahap uji coba, selanjutnya desain model
median, modus), kemudian dianalisis (diinter- pembelajaran dilakukan perbaikan dan penyem-
pretasikan) secara kualitatif. purnaan. Hasil uji coba terbatas dilakukan peni-
Analisis data yang digunakan dalam ta- laian terhadap lima aspek seperti tersebut di atas,
hap penelitian pengembangan menggunakan des- yaitu; (1) kualitas pembelajaran 72,35%; (2) pe-
kriptif kualitatif. Tahap pengembangan dilaku- laksanaan pembelajaran 74,65%; (3) metode
kan dengan beberapa pendekatan analisis, yaitu: pembelajaran 76,43%; (4) penilaian mahasiswa
(1) pelaksanaan dan hasil pengembangan desain terhadap desain model pembelajaran 73,45%; dan
model, dideskripsikan dalam bentuk sajian data, (5) evaluasi hasil belajar mahasiswa 75,65%.
kemudian dianalisis secara kualitatif; (2) pada Hasil revisi ditunjukkan pada kesiapan
uji coba terbatas, hasil uji coba penerapan desain yang dimiliki dosen dalam penggunaan model
model dianalisis dengan pendekatan kuantitaif; pembelajaran ini harus benar-benar dapat mem-
(3) pada uji coba lebih luas, di samping meng- berikan pembelajaran dalam bentuk teori mau-
gunakan pendekatan analisis deskriptif kualitatif, pun praktik dengan baik karena tugas yang di-
juga digunakan analisis statistik (kuantitatif) de- hasilkan oleh mahasiswa berupa produk harus
ngan formula statistik uji-t (t-test) untuk meng- berorientasi produksi. Dengan demikian, semua
ukur hasil penerapan desain model. Tahap vali- aspek tugas harus dapat diukur dan dinilai ting-
dasi, keberartian dan efektivitas hasil penerapan kat keberhasilannya. Secara keseluruhan, hasil
model dianalisis menggunakan pendekatan kuan- kerja mahasiswa dalam uji coba terbatas sudah
titatif (quasi exsperimental) dengan memban- mengalami peningkatan yang berarti, namun un-
dingkan hasil pada kelompok (subjek peneliti- tuk selanjutnya terhadap pembuatan benda kerja
an) eksperimen dan kelompok kontrol pada kon- dengan beberapa job yang harus dikerjakan ma-
disi sebelum dengan sesudah penerapan. hasiswa sudah dapat menunjukkan peningkat-
kan kompetensi, baik dari ranah afektif, kognitif
maupun psikomotoriknya. Hasil uji coba ter-

Cakrawala Pendidikan, Februari 2013, Th. XXXII, No. 1


33

batas tersebut digunakan sebagai bahan pertim- kakas terciptanya situasi belajar yang aman, nya-
bangan untuk melakukan perbaikan (revisi) ter- man, dan menyenangkan; dan (6) modul pem-
hadap desain model pembelajaran yang dikem- belajaran proses produksi teknik pemesinan dan
bangkan dan untuk selanjutnya dari hasil revisi- lembar kerja dalam bentuk job sheet, instruc-
an pembelajaran digunakan sebagai perbaikan tional sheet, operational sheet dan evaluation
model pembelajaran untuk dilakukan uji coba sheet. Oleh karena itu, kualitas model pembe-
utama. lajaran secara operasional dapat diartikan seba-
gai intensitas keterkaitan sistemik dan sinergis
Uji Coba Utama dengan Revisi dosen, mahasiswa, kurikulum dan bahan pem-
Uji coba utama dengan revisi dilakukan belajaran, media pembelajaran, fasilitas praktik
pada 20 orang mahasiswa selama empat kali uji yang mendukung, dan sistem pembelajaran da-
coba dengan dua jenis benda kerja. Penentuan lam menghasilkan proses dan hasil belajar yang
uji coba lebih utama didasarkan pada adanya ke- optimal sesuai dengan tuntutan pendidikan dan
mungkinan kecenderungan perubahan dari se- kebutuhan dudi.
tiap langkah secara signifikan yang mengarah
pada keberhasilan dalam mengimplementasikan Uji Efektivitas Produk
model pembelajaran. Selain itu, juga kendala- Uji efektivitas produk berupa model pem-
kendala yang dijumpai dalam penerapan model belajaran yang bertujuan untuk mengetahui ke-
pada skala yang lebih banyak, menilai keterte- fektifan model pembelajaran yang diterapkan.
rapan desain model, serta dalam rangka pe- Hal tersebut dilakkan dengan cara melihat pe-
nyempurnaan desain model melalui penerapan ningkatan hasil belajar mahasiswa yang meng-
ke beberapa subjek uji coba yang memiliki be- gunakan model pembelajaran yang dikembang-
berapa karakteristik yang bervariasi sesuai tuju- kan dan model konvensional. Uji persyaratan
an pengembangan sehingga ditemukan bentuk analisis data penelitian dilakukan sebelum uji
model pembelajaran yang cocok. Hasil uji coba efektivitas model. Persyaratan yang dilakukan
lebih luas dilakukan penilaian terhadap lima as- adalah dengan pengujian statistik melalui uji
pek seperti tersebut di atas, yaitu; (1) kualitas normalitas data dan diteruskan uji homogenitas.
pembelajaran 83,65%; (2) pelaksanaan pembela- Hasil uji normalitas dan homogenitas sebaran
jaran 84,45%; (3) metode pembelajaran 80,56%; data normal dan homogen pada taraf kepercaya-
(4) penilaian mahasiswa terhadap desain model an 5%. Kompetensi mahasiswa kelompok eks-
pembelajaran 82,78%; dan (5) evaluasi hasil be- perimen dan kontrol pada evaluasi kognitive
lajar mahasiswa 85,76%. skill proses produksi pemesinan diukur berda-
Hasil revisi ditunjukkan pada: (1) dosen sarkan skor rata-rata hasil tes kognitif tertulis,
mampu melaksanakan proses belajar mahasiswa yang menggambarkan pengetahuan dan pema-
dengan menggunakan strategi dan metode pem- haman teknis mahasiswa terhadap materi sesuai
belajaran sesuai dengan tujuan kompetensi; (2) kompetensi yang dipelajari dari tujuan pembe-
bahan pembelajaran praktik tersedia dan mam- lajaran yang dicapai. Pelaksanaan tes ini dilaku-
pu menyediakan aneka stimuli dan fasilitas pem- kan satu kali, dengan asumsi bahwa hasil skor
belajaran; (3) suasana belajar mendukung tercip- yang diperoleh benar-benar merupakan cermin
tanya kegiatan pembelajaran yang menarik, me- kemampuan mahasiswa, bukan dipengaruhi oleh
nantang, menyenangkan, dan berorientasi pro- pengalaman mengerjakan tes kognitif yang ber-
duksi bermakna bagi pembentukan kemandirian ulang-ulang. Skor rata-rata hasil tes kognitif ma-
belajar mahasiswa; (4) media pembelajaran di- hasiswa kelompok eksperimen dan kontrol di-
gunakan oleh dosen untuk meningkatkan inten- asumsikan tidak berbeda secara signifikan.
sitas belajar mahasiswa dalam peningkatan kom- Data hasil belajar aspek kognitif bidang
petensi; (5) proses pembelajaran praktik dengan teknologi pemesinan dapat dilihat pada Tabel 1.
menggunakan peralatan dan mesin-mesin per-

Pengembangan Model Pengembangan Praktik Berbasis Kompetensi Berorientasi Produksi


34

Tabel 1. Deskripsi Kognitif Bidang Teknologi Pemesinan


Kelompok N Rata-rata Standar Deviasi dk t hitung t tabel Keterangan
Eksperimen 20 82,45 5,65 38
12,45 2,086 Signifikan
Kontrol 20 76,56 5,78 38
Sumber: Data Primer yang diolah

Tabel 2. Deskripsi Praktek Mahasiswa Bidang Teknologi Pemesinan


Kelompok N Rata-rata Standar Deviasi dk t hitung t tabel Keterangan
Eksperimen 20 83,65 3,56 38
21,67 2,086 Signifikan
Kontrol 20 78,34 3,87 38
Sumber: Data Primer yang diolah

MODEL PEMBELAJARAN PRAKTIK BERBASIS KOMPETENSI BERORIENTASI PRODUKSI

PERENCANAAN PELAKSANAAN EVALUASI

Merumuskan tujuan Penggunaan Strategi, Metode, dan Media Pembelajaran dalam Pelaksanaan evaluasi
pembelajaran Pembelajaran Praktik Berbasis Kompetensi Berorientasi Produksi proses dan produk
berdasarkan SK/KD Pada Teknologi Pemesinan dalam pembelajaran
praktik berbasis
kompetensi
Menganalisis kendala Mempersiapkan sumber belajar
dan karakteristik
bidang studi Melaksanakan tes
Orientasi dan persiapan pembelajaran formatif
Menyusun Silabus,
RPP, dan Kontrak Keautentikan produk yang akan dikerjakan Melaksanakan tes
kuliah sumatif
Menjelaskan tugas dan penanganan gambar kerja
Menganalisis Tugas
karakteristik mhs. S
Pengelolaan mahasiswa dalam praktik
C Produk
Merancang alat evaluasi
Memperagakan proses pengerjaan
L memberi peunjukkan pengerjaan Laporan

Merancang kebutuhan Membuat dengan memodifikasi, menginovasi dan Portofolio


waktu dan sumber belajar mengkreasi produk yang dikembangkan

Uji Kompetensi
Mengembangkan strategi Mengerjakan/membuat tugas/produk sesuai SOP
pembelajaran
Tes Standart
Mengkalkulasi biaya produksi dan
Mengembangkan metode pembuatan laporan hasil pekerjaan
pembelajaran

Hasil dan Seleksi produk


Mengembangkan media
pembelajaran

REVISI

Gambar 1. Model Pembelajaran Praktik Berbasis Kompetensi


Berorientasi Produksi

Cakrawala Pendidikan, Februari 2013, Th. XXXII, No. 1


35

Hasil pengujian statistik cognitive skill ningkatkan kemampuan aspek kognitif, afektif,
pada Tabel 1 menunjukkan bahwa rata-rata nilai maupun psikomotorik. Secara operasional pem-
mahasiswa kelompok eksperimen lebih tinggi belajaran prespektif memerlukan suatu pende-
daripada mahasiswa kelompok kontrol. Di sam- katan dalam penerapannya. Pendekatan tersebut
ping itu, pada kelompok eksperimen tingkat di samping desain model yang dikembangkan,
kompetensi kognitif lebih merata dan homogen juga berfungsi untuk mengelaborasi aspek-aspek
bila dibandingkan dengan kelompok kontrol. pada komponen pembelajaran, dan komponen-
Berdasarkan hasil perhitungan statistik dengan komponen metode dan strategi pembelajaran.
uji-t, terdapat ada perbedaan yang signifikan an- Pelaksanaan pembelajaran praktik pada
tara kompetensi cognitive skill mahasiswa pada uji coba utama terhadap kemampuan mahasis-
kelompok eksperimen dengan kelompok kon- wa dapat meningkat. Hal ini juga ditunjukkan
trol. pada kemandirian dapat terbentuk sehingga tu-
Data hasil belajar aspek kognitif bidang gas dosen adalah mengarahkan, memotivasi,
teknologi pemesinan dapat dilihat pada Tabel 2. memperlancar, dan mengevaluasi proses belajar
Hasil pengujian statistik pada Tabel 2 menun- mandiri mahasiswa melalui serangkaian kegiat-
jukkan bahwa kompetensi penilaian proses pro- an pembeajaran sehingga hal-hal yang bersifat
duksi teknik pemesinan dalam pembuatan ben- konseptual akan menjadi ajang konfirmasi pe-
da kerja kelompok eksperimen lebih tinggi dari- mahaman mahasiswa terhadap materi dan tugas
pada mahasiswa kelompok kontrol. Di samping yang harus dikerjakan selama praktik berlang-
itu, pada kelompok eksperimen tingkat kompe- sung maupun di luar jam belajar. Dalam model
tensi penilaian proses produksi teknik pemesin- pembelajaran, mahasiswa dituntut untuk menger-
an dalam pembuatan benda kerja lebih merata jakan sendiri tugas yang diberikan dengan pe-
dan homogen bila dibandingkan dengan kelom- tunjuk seperlunya yang diberikan oleh dosen, di
pok kontrol. Berdasarkan hasil perhitungan sta- samping juga sudah ada modul pembelajaran
tistik dengan uji-t, terdapat perbedaan yang sig- maupun lembar kerja. Dosen akan banyak me-
nifikan antara kompetensi dalam pembuatan nyampaikan kearifan (wisdom) daripada seke-
benda kerjapada kelompok eksperimen dengan dar masalah teknis sehingga temu kelas mem-
kelompok kontrol. punyai nilai tambah yang tinggi dan bermakna.
Untuk mencapai itu semua, dosen dituntut me-
Pembahasan miliki kemampuan profesional dalam mengajar,
Berdasarkan hasil validasi ahli bidang stu- memiliki keterampilan teknik yang baik dan pe-
di, desain pembelajaran dan hasil uji coba per- ngembangan kompetensi yang terus dilakukan.
orangan, uji coba kelompok kecil dan uji coba Dosen harus selalu berupaya meningkatkan wa-
lapangan terhadap model pembelajaran yang di- wasan dan kinerja dalam rangka membantu ma-
kembangkan menunjukkan bahwa model pem- hasiswa untuk memperoleh hasil belajar yang
belajaran mampu memberikan nilai tambah, dan optimal.
efektif dalam peningkatan kompetensi mahasis- Hasil uji efektivitas produk yang dikem-
wa. Proses pembelajaran tersebut bertumpu pada bangkan terhadap kompetensi mahasiswa secara
penguasaan dan pemahaman materi dan praktik keseluruhan menunjukkan bahwa kelompok eks-
berkaitan dengan kompetensi yang diharapkan. perimen dengan menggunakan model pembela-
Begitu juga hasil uji coba kelompok kecil dan jaran lebih tinggi rata-rata nilainya daripada
lapangan menujukkan bahwa upaya pembelajar- mahasiswa dari kelompok kontrol (pembelajar-
an mahasiswa agar dapat ditingkatkan, dikem- an praktik konvensional). Hal ini menunjukkan
bangkan, sesuai dengan tujuan kompetesi yang bahwa penerapan dan pelaksanaan model pem-
diharapkan perlu adanya metode atau startegi belajaran dapat meningkatkan kompetensi ma-
pembelajaran yang dapat memudahkan maha- hasiswa, baik pada aspek afektif, kognitif, mau-
siswa belajar. Di samping itu juga dapat me- pun psikomotoriknya.

Pengembangan Model Pengembangan Praktik Berbasis Kompetensi Berorientasi Produksi


36

Hasil analisis terhadap model pembela- melalui pengembangan model pembelajaran pada
jaran yang dikembangkan melalui uji coba ter- tahapan pelaksanaan validasi dan uji coba dan
batas dan uji coba utama pada semua aspek revisi seperti berikut. Pertama, adanya sumber
yang dinilai menunjukkan hal-hal seperti beri- belajar, baik berupa buku ajar dan teks, modul,
kut. Pertama, kemudahan dipahami dan dime- rujukan, hand-out, lembar kerja (work sheet)
ngerti dalam pelaksanaan pembelajaran dengan meliputi: instructional sheet, operational sheet,
menggunakan model pembelajaran yang dikem- job sheet, dan evaluation sheet, bahan kuliah
bangkan bagi mahasiswa. Kedua, menyenang- yang berasal dari hasil penelitian pengembang-
kan, membuat bersemangat bekerja dan belajar, an pembelajaran untuk mahasiswa. Kedua, me-
berkeinginan untuk berkembang, menjadi akrab, motivasi mahasiswa dengan memberi perhatian,
dan dapat melakukan kerjasama dengan baik memberi masukkan, memberi balikan, dan
bagi mahasiswa. Ketiga, dapat meningkatkan da- memberi penguatan belajar. Memberi materi
lam belajar dan bekerja, dan meningkatkan kom- yang relevan dengan tingkat kemampuan ma-
petensi mahasiswa. Artinya, model pembelajar- hasiswa. Memberi semangat dan kepercayaan
an yang dikembangkan cocok dan tepat karena pada mahasiswa bahwa ia dapat mencapai kom-
sudah dapat mengapresiasi kebutuhan akan pe- petensi yang diharapkan. Memberi kepuasan pada
ningkatan kompetensinya sehingga dapat mem- mahasiswa terhadap pembelajaran yang kita ja-
beri kemudahan dalam pembelajaran praktik. lankan. Ketiga, menunjukkan metode yang da-
Pelaksanaan pembelajaran dengan mengguna- pat membantu mahasiswa menelusuri dan me-
kan model pembelajaran yang dikembangkan nemukan penyelesaian masalah. Keempat, mem-
ini berdasarkan uji coba yang dilakukan dengan berikan umpan balik sebagai bentuk monitoring
beberapa tahapan yang dilaksanakan dan mem- dan mengkoreksi hasil kinerja mahasiswa agar
berikan kontribusi yang positif terhadap upaya mencapai sasaran yang optimal sesuai kemam-
peningkatan kompetensi mahasiswa. Upaya un- puannya.
tuk mencapai hasil yang optimal dalam pembe- Pelaksanaan pembelajaran dengan model
lajaran perlu kreativitas dosen dan mahasiswa pembelajaran dari beberapa tahapan uji coba
sehingga memiliki perbedaan dengan pembela- dengan revisi menunjukan bahwa dosen harus
jaran lainnya. mampu melakukan hal-hal seperti berikut. Per-
Hal yang perlu ditekankan pada mahasis- tama, menciptakan iklim belajar dan pembela-
wa dalam pengembangan model pembelajaran jaran yang memposisikan mahasiswa sebagai
yang diperoleh berdasarkan uji coba dan revisi centre learning (subjek pembelajaran) dengan
produk adalah: (1) keterlibatan mahasiswa se- segala aktivitas yang dilakukannya. Kedua, me-
cara intelektual dan emosional dalam pembela- ngembangkan materi pembelajaran yang berwa-
jaran; (2) mahasiswa didorong untuk menemu- wasan produksi, yang bisa memotivasi belajar
kan dan mengkonstruksi sendiri konsep yang se- mahasiswa melalui ide-ide yang konstruktif pada
dang dikaji melalui berbagai cara seperti obser- diri dosen maupun mahasiswa. Ketiga, mendo-
vasi, diskusi, percobaan, peniruan, pemahaman rong dan membangkitkan keberanian belajar
dalam membaca gambar kerja; (3) mahasiswa di- dan bekerja yang didasarikomitmen yang tinggi
beri kesempatan untuk bertanggung jawab me- dan berdisiplin. Dosen selalu dapat membim-
nyelesaikan tugas; dan (4) mahasiswa harus be- bing, mendorong, mengarahkan, memperbaiki,
kerja keras, berdedikasi tinggi, dan antusias. De- mengelola, mengorganisasikan pembelajaran
ngan cara tersebut, pembelajaran dengan model dari seluruh rangkaian proses pembelajaran se-
pembelajaran mampu memotivasi mahasiswa hingga tercipta hubungan yang komunikatif dan
dalam melaksanakan berbagai kegiatan sehing- harmonis yang bertujuan meningkatkan kompe-
ga dapat menyelesaikan tugas-tugas secara krea- tensi mahasiswa secara lebih baik. Keempat, do-
tif. sen mengemas materi pembelajaran yang sesuai
Langkah-langkah yang ditempuh dalam dengan pengetahuan dan pengalaman mahasis-
upaya meningkatkan kompetensi mahasiswa wa serta masyarakat dudi. Hal ini sesuai dengan

Cakrawala Pendidikan, Februari 2013, Th. XXXII, No. 1


37

Pola Pengembangan Kurikulum Berbasis Kom- pengetahuan dan keterampilannya meningkat.


petensi (2003:2) dengan orientasi baru pendi- Partisipasi mahasiswa dalam proses pembela-
dikan menjadikan lembaga pendidikan sebagai jaran dengan menggunakan model pembelajar-
lembaga pendidikan kecakapan hidup, dengan an sangat dibutuhkan untuk melatih diri dan me-
pendidikan yang bertujuan mencapai kompeten- libatkan diri dalam kegiatan pembelajaran agar
si (selanjutnya disebut pembelajaran berbasis kompetensinya meningkat. Nordhaug (1998:8-
kompetensi), dengan proses pembelajaran yang 19) menyatakan bahwa kompetensi terdiri atas
otentik dan kontekstual yang dapat menghasil- pengetahuan tentang metode, proses, dan teknik
kan produk bernilai dan bermakna bagi maha- yang dirancang untuk melaksanakan tugas ter-
siswa, dan pemberian layanan pendidikan berba- tentu dan kemampuan menggunakan alat-alat
sis luas melalui berbagai jalur dan jenjang pen- dan perlengkapannya. Ini artinya kompetensi
didikan yang fleksibel multi-entry-multi-exit. dalam pengertian spesifik dan teknis mencakup
Berdasarkan uji coba dan revisi terhadap pengetahuan prinsip kerja dan prosedur kerja,
materi pembelajaran yang sesuai dengan penge- serta kemampuan mengoperasikan alat untuk me-
tahuan dan pengalaman akan mudah dipahami laksanakan tugas atau pekerjaan tertentu. Me-
dengan baik melalui praktik langsung, sehingga nurut Sukmadinana (2004:151) bahwa pengua-
orientasi pembelajaran tidak saja pada pema- saan berbagai kompetensi tersebut, menjadi tar-
haman dan penguasaan materi, tetapi juga pada get atau sasaran yang harus dicapai dalam pem-
penggunaan dan praktik kerja langsung. Hal ini belajaran. Oleh karena itu, pembelajaran berba-
juga sejalan dengan hasil penelitian yang dila- sis kompetensi bertujuan untuk mengembang-
kukan oleh Widanarko (2007:2) yang menyata- kan kompetensi mahasiswa melalui strategi pem-
kan bahwa model pembelajaran untuk meme- belajaran. Utamanya adalah mengidentifikasi tu-
nuhi kompetensi dunia kerja ini harus menun- juan-tujuan yang dapat diukur, menemukan ren-
jukkan: (1) kemampuan berkomunikasi diting- cana pembelajaran yang sesuai, dan menilai
katkan melalui pemberian tugas individu dan dengan tes kriteria, seberapa jauh mahasiswa
kelompok sejak awal perkuliahan; dan (2) ke- mencapai kompetensi tertentu.
mampuan merencanakan dan merancang reka- Kebutuhan akan penguasaan pengetahuan
yasa di bidang permesinan ditingkatkan melalui dan keterampilan praktik pada diri mahasiswa
pemberian rancangan pembelajaran, modul pem- sangat diperlukan untuk mengetahui arah dan
belajaran, materi tugas individu dan tugas ke- manfaat perkembangan pendidikan kejuruan ke
lompok. depan dengan model pembelajaran yang dikem-
Pengembangan model pembelajaran ber- bangkan. Didasari dengan taksonomi Gustafson
basis kompetensi, beberapa hal yang perlu di- (1981:78) yang membagi model-model pembe-
cermati berdasarkan revisi validasi ahli dan uji lajaran menjadi empat kategori, yaitu model
coba menunjukkan hal-hal seperti berikut. Per- yang berorientasi pada: (1) kelas, (2) produk,
tama, proses pembelajaran praktik berlangsung, (3) sistem, dan (4) organisasi. Menurutnya, mo-
perencanaan pembelajaran harus sudah menjadi del pembuatan produk mempunyai tiga karak-
pegangan secara konsisten. Kedua, menetapkan teristik utama (1) adanya asumsi bahwa produk
keberhasilan belajar mahasiswa tidak saja dili- pembelajaran diperlukan; (2) diperlukan uji coba
hat dari hasil kerja atau hasil tugas/praktik, me- dan revisi berulang kali hingga mantap; dan (3)
lainkan harus dinilai dari proses secara keselu- adanya asumsi bahwa produk itu harus dapat
ruhan sehingga aspek yang dinilai dapat terja- digunakan oleh berbagai pengelola pembelajar-
ring semuanya meliputi afektif, kognitif, mau- an. Hal ini didukung terhadap hasil penelitian
pun psikomotorik. Ketiga, proses pembelajaran, Bruri (2005:296-297) dengan menggunakan mo-
dosen harus mengoptimalkan penggunaan sum- del pembelajaran praktik yang cocok dengan
ber belajar yang ada, seperti media pembelajar- menunjukkan peningkatan keterampilan tidak
an interaktif, menarik dan dapat meningkatkan lepas dari keterampilan sejenis yang dibutuhkan
daya kreatif dan imajinatif mahasiswa agar dudi, untuk itu lembaga pendidikan tinggi dapat

Pengembangan Model Pengembangan Praktik Berbasis Kompetensi Berorientasi Produksi


38

mengembangkan pembelajaran praktik dalam belajaran teknologi pemesinan secara bertahap


pembuatan benda kerja yang mengarah pada dari hasil uji coba terbatas maupun uji coba
produk sesuai kebutuhan dudi atau berorientasi utama. Keempat, secara keseluruhan terhadap
produk. Di samping itu, pembelajaran mesin per- produk yang dihasilkan oleh mahasiswa selama
kakas yang sarat dengan peralatan presisi seba- proses pembelajaran dengan menggunakan mo-
liknya mempertimbangkan proses pembelajaran del yang dikembangkan menunjukkan kualitas
dengan pemilihan strategi yang sesuai dan di- yang lebih baik. Baik dalam waktu pengerjaan,
lakukan pengelompokkan kelas sesuai dengan sesuai SOP yang benar, metode, ketepatan, kua-
tingkat bakat mekanik mahasiswa. litas produk yang dihasilkan. Kelima pening-
katan kualitas pembelajaran selama mengguna-
PENUTUP kan model pembelajaran yang dikembangkan
Berdasarkan data dan pembahasan dari serta kesesuaian dengan materi yang diberikan
hasil penelitian dan pengembangan ini, dapat yang berorientasi produksi selalu berkembang
disimpulkan sebagai berikut. dan disesuaikan dengan kebutuhan masyakarat
Model pembelajaran praktik berbasis kom- terhadap produk yang dikembangkan.
petensi berorientasi produksi yang dikembang-
kan layak digunakan dalam pembelajaran prak- UCAPAN TERIMA KASIH
tik yang ditunjukkan melalui: (1) validasi ahli Penulis menyampaikan terima kasih ke-
materi, ahli desain pembelajaran, ahli desain pada DP2M Dikti Kementerian Pendidikan dan
grafis, secara keseluruhan menyatakan layak Kebudayaan RI, dengan selesainya Hibah Ber-
dan penerapan model pembelajaran dapat mem- saing Tahap III yang dibiayai melalui dana
beri kemudahan belajar mahasiswa pada pem- DIPA Unimed T.A. 2010 s.d 2012 Nomor:
belajaran praktik; dan (2) uji coba perorangan, 0649/023-04.2.01/02/2012 Tanggal 09 Desem-
uji coba terbatas, dan uji coba utama dengan ber 2011, sebagai penunjang pelaksanaan pene-
berbagai persyaratan pengembangan yang dila- litian ini. Kepada Pimpinan Universitas Negeri
kukan terhadap pelaksanaan uji coba menunjuk- Medan, terima kasih telah memberi kesempatan
kan bahwa model pembelajaran yang dikem- kepada kami untuk melakukan karya ini. Pe-
bangkan pada keterterapan model pembelajar- nulis juga menyampaikan ucapan terima kasih
an, strategi pembelajaran, metode pembelajaran yang sebesar-besarnya kepada Pengelola Jurnal
dan bahan ajar yang dikembangkan dapat di te- Ilmiah Cakrawala Pendidikan Universitas Ne-
rima dan mampu memberikan peningkatan kom- geri Yogyakarta yang telah menerbitkan hasil
petensi mahasiswa pada aspek afektif, kognitif, penelitian ini.
dan psikomotorik sehingga layak untuk diguna-
kan dalam pembelajaran praktik. DAFTAR PUSTAKA
Efektivitas model pembelajaran dalam pe- Arends, Richard J. 2004. Learning to Teach.
nelitian dan pengembangan ini menunjukkan se- Boston, New York: McGraw-Hill Com-
bagai berikut. Pertama, hasil belajar mahasiswa panies, Inc.
dengan menggunakan model pembelajaran ini
lebih efektif dibandingkan tanpa menggunakan Borg, R, W, & Gall, M, D. 1983. Educational
model pembelajaran (konvensional) terhadap Research an Introduction. Fourth Edi-
peningkatan kompetensi mahasiswa pada aspek tion.New York : Longman
afektif, kognitif, dan psikomotorik. Kedua, hasil
belajar mahasiswa pada kelompok eksperimen Bowden, J. & Masters, G. 1993. Implications
dengan menggunakan model pembelajaran rata- for Higher Education of A Competency
rata nilai lebih tinggi daripada hasil belajar pada Based Approach to Education and Lear-
kelompok mahasiswa pada pembelajaran kon- ning. Canbera: AGPS. Prentice-Hall, Inc.
vensional. Ketiga, dapat meningkatkan kompe-
tensi mahasiswa di bidang praktik pada pem-

Cakrawala Pendidikan, Februari 2013, Th. XXXII, No. 1


39

Bruri, M. Triyono. 2005. Pengaruh Strategi Nordhaug, O. 1998. Competence Specificities in


Pembelajaran dan Bakat Mekanik terha- Organization. International Studies of
dap Keterampilan Mesin Perkakas CNC. Management and Organization, 1998, 28
Jurnal Teknologi Pendidikan. Vol. 7. No. (1).
3 Desember, 2005.
Preston, B. & Walker, J. 1993. Competency Stan-
Depdiknas. 2003. Pola Pengembangan Kuriku- dards in the Professions and Higher Edu-
lum Berbasis Kompetensi, Program Studi cation: a Holistic Approach. Canberra:
pada LPTK-PTK Jenjang S-1. Jakarta: Australian College of Education.
Dirjendikti Dep. Pemb. PTK dan Ketena-
gaan PT. Prosser, C, A., & Quigley, T, H. 1950. Vocatio-
nal Education: in a Democracy. Chicago,
Dick, Walter, Carey, Lou &. Carey, James O. U.S.A.: American Technical Society.
2005. The Systemactic Design of Instruc-
tion. Boston: Pearson. Reigeluth, Charles M. (ed). 1983. Instructional
Design, Theories and Models: An Over-
Gall, M.D, Gall, J.P. & Borg W.R. 2003. Edu- view of Their Current Status. New Jer-
cational Research an Introduction, Se- sey: Lawrence Erlbaum Associates Pu-
venth Edition. New York: Allyn and Ba- blishers.
con Publisher.
Richey, Rita & Nelson. 1996. Developmental
Gustafson, Kent L.1981. Survey of Instrucional Research. In Jonassen (Ed). Hand Book
Development Models. Syracuse, New of Research for Educational Communica-
York: Eric IR Document. tional and Technology. New York: Mc
Millan Publishing Company.
Gustafson, Kent L. & Branch, Robert M. 2003.
Survey of Instrucyional Development Mo- Rothwell, William J. & H.C. Kazanas. 2004.
dels. Syracuse, New York: Eric IR Docu- Mastering The Instructional Design Pro-
ment. cess. Third Edition. San Francisco: Pfeif-
fer.
HELTS 2003-2010. 2004. Strategi Jangka Pan-
jang Pendidikan Tinggi, Mewujudkan Per- Seels, Barbara B. & Richey, Rita C. 1994. Tek-
guruan Tinggi Berkualitas. Jakarta: Dep- nologi Pembelajaran Definisi dan Kawas-
diknas RI Dirjen Pend. Tinggi. annya, Terjemahan Dewi, Rapheal, Yu-
sufhadi Miarso. Jakarta: Unit Percetakan
Joyce, Bruce & Weil, Marsha. 1996. Model of UNJ.
Teaching. Boston: Allyn and Bacon Pu-
blisher. Sukmadinata, Nana Syaodih. 2004. Kurikulum
dan Pembelajaran Kompetensi. Bandung:
Khosrow, M. 2011. Instructional Design: Con- Kesuma Karya.
cept, Methodologies, Tools, and Applica-
tions .New York, Hershey: Information Unimed. 2004. Pedoman Pengembangan Stan-
Science Reference. dar Mutu Lulusan dan Kurikulum Ber-
basis Kompetensi. Medan: Universitas Ne-
Miarso, Yusufhadi. 2007. Kontribusi Tekno- geri Medan.
logi Pendidikan dalam Pembangunan Pen-
didikan. Makalah. Disampaikan dalam Widanarko, Sulistyoeweni. 2007. Model Pem-
Seminar Internasional & Temu Ilmiah belajaran Bidang Ilmu Teknik Mesin da-
FIP/JIP se-Indonesia. Manado. lam Upaya Meningkatkan Efektifitas dan

Pengembangan Model Pengembangan Praktik Berbasis Kompetensi Berorientasi Produksi


40

Efisiensi Pendidikan Tinggi: Suatu Mo- Wilson,G. Brent. 1996. Constructivist Learning
del Pembelajaran untuk Memenuhi Kom- Environment Educational Technology.
petensi Dunia Kerja yang Perlu Diting- New Jersey: Publications Englewood
katkan Pada Perguruan Tinggi di Bidang Cliffs.
Ilmu Teknik Mesin. http://www.digilib.-
ui.ac.id/opac/themes/libri2/detail.jsp?id=
76094. (Diunduh 16 Maret 2012).

Cakrawala Pendidikan, Februari 2013, Th. XXXII, No. 1