Anda di halaman 1dari 36

BAB IV

KONSEP PERANCANGAN

4.1 Konsep Dasar Perancangan


Bangunan yang direncanakan berupa hotel wisata, yang bertujuan
memfasilitasi kegiatan-kegiatan wisata bagi para pelaku kegiatan
termasuk para pengunjung/tamu hotel, yang memang secara khusus
datang untuk bermalam, istirahat, relaksasi, rekreasi dan menikmati objek
wisata yang ada di kota Palembang.
Sebagai penguat fungsi hotel yaitu sebagai fasilitas akomodasi
wisata, maka keluarlah ide membentuk suasana hotel yang santai, tenang
relaksasi dan rekreasi dengan mengadopsikan unsur tradisional dan
modern dengan memperhatikan potensi sungai dan bangunan bersejarah
disekitarnya. Lebih detailnya, suasana yang ingin diciptakan ditinjau dari
kawasan, ekterior dan interior, yaitu:
4.1.1 Kawasan
Penataan kawasan yang menampilkan kesan alami yang dapat
menimbulkan perasaan nyaman dan tenang dengan cara:
1. Menata kawasan dengan pepohonan yang rindang, dan sejuk
dengan memanfaatkan potesi sungai Musi dan sungai Sekanak.
Adapun jenis dan fungsi pepohonan yang akan digunakan pada
kawasan yaitu:
Sebagai pengarah ke bangunan

Gambar 4.1 Pohon sebagai pengarah


Sumber: Konsep,2005
Pembentuk ruang luar

Gambar 4.2 Pohon sebagai pembentuk ruang luar


Sumber: Konsep,2005

Menimbulkan kesan alami pada bangunan

Gambar 4.3 Pohon sebagai pencipta kesan alami pada bangunan


Sumber: Konsep,2005

2. Penerapan suasana santai, rileks yang diwujudkan dengan


penciptaan kondisi lingkungan yang tenang di dalam site didukung
dengan potensi sungai sebagai arah pandang dan bangunan-
bangunan bersejarah disekitarnya sebagai objek wisata yang
potensial.
Pembuatan restoran terapung untuk mengoptimalkan potensi
sungai Musi.

Gambar 4.4 Restoran terapung


Sumber: Konsep,2005
Pembuatan dermaga yang dapat difungsikan sebagai arena
jogging.

Gambar 4.5 dermaga sebagai area jogging


Sumber: Konsep,2005

3. Penataan letak bangunan yang baik agar potensi bangunan yang


bersejarah disekitar tapak masih dapat dinikmati dari lingkungan
sekitar.
Perletakkan bangunan menjorok kedalam site sepanjang
100M dari jalan Merdeka untuk menciptakan ruang luar yang
terbuka pada tapak sekaligus dimaksudkan agar bangunan
menara air tidak tertutupi oleh keberadaan bangunan hotel.

Gambar 4.6 letak bangunan menjorok ke dalam site


Sumber:konsep,2005
Bangunan berjarak 10 M dari tepian sungai agar dapat
dimanfaatkan sebagai area rekreasi.

Gambar 4.7 ruang luar tepian sungai Musi sebagai area rekreasi
Sumber:konsep,2005
4.1.2 Eksterior bangunan
Penataan eksterior bangunan berdasarkan gaya arsitektur yang
akan diterapkan pada bangunan serta merupakan
tanggapan/penyelesaian permasalahan yang timbul dari hasil analisa,
meliputi:
1. Penerapan gaya arsitektur melayu postmodern pada tampilan dan
bentuk bangunan untuk menciptakan kesan modern tanpa
meninggalkan unsur tradisional yang alami pada bangunan, dapat
dilihat pada:
Bangunan mengimplementasikan bentuk panggung, pada
lantai dasar yang didominasi dengan kaca agar unsur
modern masih dapat terlihat.

Gambar 4.8 Pengimplementasian bentuk panggung


Sumber:konsep,2005

Bangunan mengadopsi bentukan atap miring sebagai


implementasi bentuk limasan, terbuat dari cor beton dan kaca
agar berkesan modern.

Gambar 4.9 pengadopsian bentuk atap miring


Sumber:konsep,2005
Penerapan bentuk modern pada bangunan dapat dilihat pada
pemilihan material yang didominasi oleh kaca dan batu alam
dan bentuk bukaan yang sederhana dan minimalis.

Gambar 4.10 Tanpilan fasade bangunan.


Sumber:konsep,2005
2. Tanggapan/penyelesaian dari permasalahan yang timbul dari hasil
analisa, meliputi:
Penyelesaian dari masalah sinar matahari, dengan
pembuatan sirip-sirip dan kanopi pada dinding luar bangunan
untuk menciptakan bayangan agar panas matahari tidak
masuk secara langsung kedalam ruangan.

Gambar 4.11 Pembuatan sirip dan kanopi pada dinding luar bangunan
Sumber:konsep,2005
Tanggapan dari analisa angin dengan menciptakan bukaan-
bukaan agar unsur angin dapat masuk kedalam bangunan
secara optimal.

Gambar 4.12 Pemanfaatan unsur angin kedalam bangunan


Sumber:konsep,2005
4.1.3 Interior
Penataan interior bangunan yang memanfaatkan elemen
lingkungan seperti keberadaan sungai:
1. Pengimplementasian unsur air kedalam bangunan untuk
menciptakan suasana alami.
Penempatan kolam renang menghadap kesungai yang
dibatasi oleh kaca dibagian atas bangunan yang berkonsep
menerus terhadap unsur air.

Gambar 4.13 Penataan kolam renang terbuka menghadap ke sungai


Sumber:konsep,2005
Pembuatan kolam dalam ruangan menciptakan suasana
segar dan alami kedalam bangunan.

Gambar 4.14 Pembuatan kolam dalam bangunan


Sumber:konsep,2005
Penempatan fungsi rekreasi sepeti billiard center menghadap
ke sungai untuk mengoptimalkan potensi sungai.

Gambar 4.15 Pemanfaatan unsur angin kedalam bangunan


Sumber:konsep,2005
2. Pemanfaatan material alam pada interior bangunan
Penggunaan elemen batu pada ruang-ruang publik

Gambar 4.16 Pemanfaatan elemen bebatuan kedalam bangunan


Sumber:konsep,2005

Penggunaan elemen kayu pada interior bangunan seperti


pada dinding dan lanti kamar tidur.

Gambar 4.17 Pemanfaatan elemen kayu kedalam ruangan


Sumber:konsep,2005

4.2 Konsep Perancangan Tapak


4.2.1 Konsep Pencapaian Tapak
Secara umum pencapaian ke tapak dapat dilakukan melalui dua
jalur, yaitu: dari arah darat dan dari arah sungai.
1. Pencapaian dari arah darat.
Berdasarkan analisa pencapain yang dilakukan pada bab IV
pencapaian utama atau main entrance yang memungkinkan kedalam
tapak yaitu melalui jalan Sekawan yang diletakkan pada jarak 80 M dari
persimpangan jalan Merdeka, hal ini dimaksudkan untuk menghindari
kemacetan yang ditimbulkan oleh kendaraan yang keluar-masuk kedalam
site. Pada jalan Depaten baru side entrance berada 30M dari
persimpangan jalan Sekawan. Kebeadaan enterance ini ditandai dengan
adanya pintu gerbang dengan gaya arsitektur melayu postmodern yang
menyesuaikan dengan gaya arsitektur pada bangunan hotel dan
fasilitasnya. Lebar pintu gerbang ini yaitu 12M melayani dua jalur sirkulasi.
Entrance untuk servis dipisahkan dari enterance pengunjung untuk
menghindari sirkulasi silang antara kegiatan service dan pengunjung.
Pintu gerbang pengunjung ini memiliki lebar 10 M.

Gambar 4.18 Gerbang main entrance


Sumber: Konsep,2005

2. Pencapaian dari arah sungai


Enterance dari arah sungai diletakkan pada dua sisi yaitu pada
tepian sungai Musi dan tepi sungai Sekanak, entrance ini ditandai dengan
keberadaan dermaga-dermaga sebagi tempat berlabuh kapal-kapal wisata
dan kapal ketek. Dermaga kapal
wisata
Side entrance,
jarak 30 M dr Jl Dermaga kapal
sekawan, lebar ketek
12M, kendaraan
pribadi Gerbang keluar. Lebar
10M, letak 30M dr
simpang Jl Depaten
baru
Main enterance,
jarak 80 M, lebar Enterance servis,
12M, kendaraan lebar 10M,
pribadi kendaraan service

Gambar 4.19 Konsep Pencapaian


Sumber: Konsep,2005
4.2.2 Konsep View dan Orientasi
Untuk mengoptimalkan potensi sungai Musi sebagai arah pandang
terbaik pada site, maka perletakan unit-unit kamar tidur ditempatkan pada
site yang membentang menghadap kesungai, dengan bukaan-bukaan
yang maksimal.

Gambar 4.20 Konsep bukaan pada kamar tidur


Sumber: Konsep, 2005

Fasilitas penunjang seperti restoran, fasilitas rekreasi dan olah raga


yang membutuhkan arah pandang yang baik diletakkan pada lokasi
terdekat dengan sungai dan diberi bukaan semaksimal mungkin agar
potensi sungai dapat dinikmati baik dari dalam maupun dari luar
bangunan.

Gambar 4.21 Konsep View Pada Fasilitas Restoran


Sumber: Konsep,2005

4.2.3 Konsep Sirkulasi Tapak


Konsep sirkulasi tapak dibagi menjadi sirkulasi diluar dan didalam
tapak, secara detail dibahas:
A. Sirkulasi di luar tapak
Sirkulasi diluar tapak berupa sirkulasi darat dan sungai. Sirkulasi
darat mempengaruhi perletakan halte kendaraan umum diluar site,
sedangkan sirkulasi sungai berupa penyediaan dermaga bagi kapal besar
dan kapal ketek.
Halte kendaraan umum diletakkan di tepi jalan yang dilalui
angkutan umum yaitu jalan Merdeka dan jalan Depaten baru. Dermaga
diletakkan pada dua titik yaitu ditepi sungai sekanak dan sungai Musi.
Dermaga kapal
wisata

Halte angkutan
kota yg melalui
jln Depaten baru Dermaga
kapal ketek

Halte angkot dan


bus yg melalui jln
Merdeka

Gambar 4.22 Perletakkan Halte dan Dermaga


Sumber: Konsep,2005

Konsep bentuk yang digunakan pada dermaga dan halte angkutan


umum menggunakan gaya arsitektur melayu postmodern untuk
menciptakan kesinambungan antara bangunan dengan fasilitas-fasilitas
penunjangnya.

Gambar 4.23 Dermaga kapal wisata dan kapal ketek


Sumber: Konsep,2005
Gambar 4.24 Halte kendaraan umum
Sumber: Konsep,2005
B. Sirkulasi didalam tapak
1. Sirkulasi manusia
Konsep sirkulasi manusia didasarkan pada penataan gubahan-
gubahan massa pada tapak yang memperhatikan kenyamanan dan
keamanan pengguna, diwujudkan pada:
Penataan jalur pedestrian disepanjang tepian singai Musi dan
Sekanak.

Gambar 4.25 Jalur pedestrian disepanjang sungai


Sumber: Konsep,2005

Penataan jalur sirkulasi dengan suasana yang nyaman dapat


dicapai melalui penataan elemen vegetasi disepanjang jalur
sirkulasi.

Gambar 4.26 konsep penataan vegetasi


Sumber: Konsep,2005
Penyediaan ruang-ruang terbuka sebagai pencipta suasana
ruang luar bangunan.

Gambar 4.27 Konsep penataan ruang terbuka


Sumber: Konsep,2005

Sebagai penghubung antar tapak yang terdiri atas dua bagian


maka digunakan jalur penghubung yang berada diatas jalur sirkulasi.
Selain berfungsi sebagai jalur sirkulasi penghubung ini juga berfungsi
sebagai arena duduk karena memiliki arah pandang baik yaitu
menghadap ke sungai, BKB dan ke jembatan Ampera.

Gambar 4.28 Jalur penghubung di atas jalan


Sumber: Konsep,2005

2. Sirkulasi Kendaraan
Sirkulasi kendaraan diarahkan menuju zona parkir yang dipisahkan
antara parkir pengunjung dengan karyawan dan service. Pola jalur
sirkulasi yaitu dari jalan utama kendaraan masuk melalui enterance dan
diarahkan menuju dua arah yaitu ke area parkir dan ke area drop off. Pintu
keluar kendaraan diletakkan terpisah dengan pintu masuk untuk
menghindari sirkulasi silang kendaraan.
Secara keseluruhan konsep sirkulasi dalam tapak yaitu:
Pintu masuk dan
keluar kendaraan

Pintu masuk dan


keluar kendaraan
Pintu keluar
servis
kendaraan

Pintu masuk utama


Sirkulasi dan sirkulasi
pejalan kaki kendaraan

Gambar 4.29 Konsep Sirkulasi


Sumber: Konsep,2005

4.2.4 Konsep Klimatologi Tapak


Berdasarkan analisa sirkulasi yang telah dilakukan pada bab III
maka konsep klimatologi yang dipakai yaitu:
Arah pandang untuk unit-unit kamar hotel menghadap ke
singai Musi selain menghindari panas matahari, juga
mengoptimalkan potensi view dan angin.
Pada daerah yang memperoleh sinar matahari sore secara
langsung, diberi elemen proteksi berupa pemasangan sirip-
sirip pada dinding luar bangunan serta penanaman vegetasi
yang bertajuk bulat dan lebar yang sekaligus berfungsi
sebagai proteksi angin dari arah sungai
Pada bangunan menggunakan bukaan-bukaan yang
maksimal kearah sungai untuk memasukkan sinar matahari
kedalam ruang kamar agar dapat mengurangi kelembaban
dalam ruangan.
Pembuatan kanopi dan dinding masif yang berfungsi
menciptakan bayangan uantuk mengurangi panas langsung
dari matahari.
Gambar 4.30 Penataan Vegetasi sebagai proteksi
Sumber: konsep,2005

Gambar 4.31 Pemasangan elemen proteksi pada dinding


Sumber: konsep,2005

4.2.5 Konsep Kebisingan Tapak


Daerah dengan tingkat kebisingan tinggi yaitu yang pada daerah
yang paling dekat dengan jalan Merdeka dan jalan Depaten baru, untuk
mengurangi tingkat kebisingan pada daerah ini yaitu dengan penataan
vegetasi yang dapat mengisolir kebisingan.

Gambar 4.32 Penatan vegetasi


Sumber: Konsep,2005
Untuk daerah yang memiliki tingkat kebisingan terendah yaitu pada
daerah tepian sungai Musi dan Sekanak, dimanfaatkan untuk kegiatan
penginapan yaitu unit-unit kamar hotel.
4.2.6 Konsep Pendaerahan Tapak
A. Gubahan Massa
Berdasarkan analisa kelebihan dan kekurangan pola massa
tunggal dan pola massa majemuk diatas, maka ditentukan gubahan
massa yang akan digunakan pada bangunan hotel ini yaitu pola massa
majemuk mengingat bentukan tapak yang persegi panjang dan dipisahkan
oleh jalan dengan luasan yang memadai.
Adapun massa-massa yang direncanakan yaitu terdiri dari empat
gubahan massa, yaitu:
Bangunan penerima
Bangunan hotel
Fasilitas rekreasi
Servis

B. Pola Perletakkan Massa Bangunan


Perletakan massa bangunan ini ditentukan berdasarkan beberapa
pertimbangan yang telah dijelaskan sebelumnya, yaitu:
Bangunan Hotel diletakkan pada tapak yang berada di tepian
sungai Musi, yang memiliki privasi tinggi, view baik, dan
tingkat kebisingan rendah sehingga dapat memenuhi
kenyamanan pengunjung.
Fasilitas penunjang yang berupa fasilitas publik seperti
restoran, lobby, ruang serbaguna dll diletakkan pada dua sisi
tapak yang terdekat dengan jalan Merdeka dengan
pertimbangan kemudahan aksesibilitas.
Fasilitas rekreasi seperti jogging track, restoran terapung,dll
diletakan pada daerah yang dekat dengan fasilitas
penginapan karena fasilitas-fasilitas ini bersifat semi privat
dan merupakan bagian dari pelayanan hotel.
Bangunan servis berada dekat dengan fasilitas utama
bangunan yaitu hotel, untuk mempermudah pelayanan.
SEMI PRIVAT SEMI PUBLIK

PRIVAT
SERVIS

PUBLIK

Gambar 4.33 Konsep Zoning Tapak


Sumber: Konsep,2005

4.3 Konsep Tipe dan Jumlah Kamar Hotel


4.3.1 Tipe Hotel
Berdasarkan analisa kelayakan yang telah dilakukan diatas (BAB
III) maka dapat disimpulkan dikota palembang ini layak didirikan hotel
dengan tipe bintang 5 yang memiliki fasilitas lengkap memenuhi standar
dari Keputusan Menteri Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi seperti yang
telah dijelaskan pada bab III.

4.3.2 Jumlah Kamar


Jumlah kamar hotel yang akan disediakan didapat berdasarkan
pertimbangan analisa kebutuhan kamar, yang secara terperinci dijelaskan:
Kamar hotel: 181 kamar
Berdasarkan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, penentuan junmlah
kamar hotel bintang 5 terdiri atas :
Strandar Single room = 20% x 180 =36 kamar.
Standar Double room =65% x 180 = 117 kamar.
Family room = 10% x 180 = 18 Kamar
Suite room = 5% x 180 = 9 kamar.
Penthouse = 1 unit

4.4 Konsep Bangunan


4.4.1 Konsep Program Kegiatan dan Ruang
Beradasarkan hasil analisa yang telah dilakukan pada bab III
diatas, maka telah ditentukan ruang-ruang yang akan disediakan pada
bangunan hotel wisata bintang 5 (lihat bab III).

A. Konsep Kenyamanan Ruang


Konsep kenyamanan yang ingin dicapai pada tiap ruang berbeda
sesuai dengan fungsi dan sifat ruang, antara lain dapat dilihat pada ruang-
ruang yang menonjol pada bangunan hotel:

No Ruang Suasana Penciptaan suasana


1. Kamar tidur o Tenang o Ruang kedap suara
o Nyaman o Pencahayaan dan sirkulasi udara
memadai
o Santai o Penyediaan fasilitas peristirahatan
dengan kualitas yang baik
o Akrab o Luasan ruang dan tinggi ruang yang
manusiawi
2. Restoran o Santai o Penataan interior yang dapat
menciptakan santai
o Akrab o Penataan interior yang memberikan
kesan hangat
3. Fasilitas rekreasi o Santai o Penataan interior yang dapat
menciptakan suasana santai

B. Sirkulasi Dalam Bangunan


Sirkulasi dalam bangunan berdasarkan penggunaannya terbagi
menjadi 3, yaitu:
1. Sirkulasi Manusia
Konsep jalur sirkulasi tamu hotel, yaitu:
Koridor kamar memiliki lebar 2,0 M, tinggi plafon 2,6 M.
Koridor ditata dengan penerangan yang cukup yang
dilengkapi dengan hiasan-hiasan dinding berupa tenunan
songket Palembang dan lukisan-lukisan.

Gambar 4.34 Koridor kamar hotel


Sumber: Konsep,2005

2. Sirkulasi service
Jalur sirkulasi service memiliki lebar 2,5 M agar lebih leluasa
dilalui kereta dorong (standar lebar kereta dorong 80 Cm).
Sirkulasi service berada pada tempat yang tidak dilalui
umum/pengunjung.

Gambar 4.35 Koridor sirkulasi service


Sumber: Konsep,2005

3. Sirkulasi Barang
Jalur sirkulasi barang lebih lebar dari pada sirkulasi manusia
yaitu 3,0 M.
Sirkulasi barang menghubungkan area bongkar muat (loading
dock) dan area penyimpanan.
C. Konsep Penataan Parkir
Penataan parkir dibedakan menjadi 4 zona yaitu:
Parkir pengunjung/tamu hotel dan fasilitas umum
Parkir service dan karyawan

D. Penataan Pola Parkir


Luas area tapak yang dibutuhkan untuk parkir yaitu: 1350 M 2 agar
luasan parkir dapat diminimalis maka penataan pola parkir harus
menggunakan pola yang dapat mamuat banyak mobil pada jarak
panjang tertenti, berdasarkan analisa terhadap pola parkir maka
pola parkir yang akan digunakan pada bangunan yaitu pola parkir
dengan sudut 900 dengan pertimbangan
Pada jarak tertentu dapat menampung lebih banyak
kendaraan.
Dapat dicapai dari dua arah.

Parkir
pengunjung

Parkir
Karyawan

Parkir tamu
hotel

Gambar 4.36 Perletakan parkir


Sumber: Konsep,2005
4.4.2 konsep Tampilan Bentuk Arsitektur
A. Gaya Arsitektur.
Gaya arsitektur yang akan digunakan pada bangunan yaitu gaya
arsitektur melayu postmodern yang merupakan penggabungan antara
gaya arsitektur modern dengan arsitektur tradisional palembang, secara
detail diterapkan pada:
1. Gaya arsitektur Tradisional
Berdasarkan analisa mengenai arsitektur tradisional yang telah
dijelaskan diatas, maka gaya tradisional ini diterapkan pada:
Bentuk bangunan berupa panggung.

Implementasi dari
bentuk panggung

Gambar 4.37 Bentuk panggung


Sumber: konsep,2005

Bentukan atap merupakan implementasi dari bentuk atap


limas yang telah diolah kembali.

Gambar 4.38 Pengolahan bentukan atap limasan


Sumber: Konsep,2005

Menggunakan ornamen khas Palembang pada kolom,


plafon, dan bagian-bagian interior.
Gambar 4.39 Ornamen kolom dan plafon ruangan
Sumber: Konsep,2005

2. Gaya Arsitektur Postmodern


Penggunaan arsitektur postmodern yang merupakan
pengembangan dari arsitektur modern diimplementasikan pada:
Penggunaan material dari kaca yang mendominasi
bangunan.

Gambar 4.40 penggunaan elemen kaca pada bangunan


Sumber: Konsep, 2005
Bentuk dasar massa yang menggunakan bentuk-bentuk
sederhana seperti balok.

Gambar 4.41 Bentuk dasar massa bangunan


Sumber: Konsep,2005
Bentuk jendela dan ventilasi yang sederhana dan
merupakan hasil pengolahan bentuk-bentuk geometri.

Gambar 4.42 Bentuk jendela dan ventilasi


Sumber: Konsep,2005

B. Konsep Bentukan Massa Bangunan


Pada bangunan hotel ini bentuk yang akan diimplementasikan pada
bangunan yaitu bentuk dasar berupa balok yang mengalami pengolahan
dengan menggunakan komposisi :
1. Bentuk beraturan, sesuai dengan fungsi yanng berupa kamar-
kamar tidur hotel yang memegang prinsip pengulangan.

Gambar 4.43 Bentuk beraturan pada hotel


Sumber: Konsep,2005

2. Perubahan bentuk, untuk mengurangi kesan membosankan karena


prinsip dasar bangunan hotel berupa pengulangan. Perubahan
bentuk berupa manipulasi dimensi dengan penambahan bentuk,
penambahan bentuk ini menggunakan sistem Interlocking
relationship.
Gambar 4.44 Penambahan bentuk pada hotel
Sumber: Konsep,2005
3. Pemotongan bentuk dengan dimensi-dimensi yang jelas tanpa
menghilangkan bentuk dasar bangunan tersebut.

Gambar 4.45 Pemotongan bentuk pada hotel


Sumber: Konsep,2005
4. Secara keseluruhan bentuk bangunan memanjang/linier
menyesuaikan denga bentukan tapak.

Gambar 4.46 Bentuk bangunan memanjang


Sumber: Konsep,2005
C. Implementasi Gaya Arsitektur Bangunan di Sekitar Kawasan.
Untuk menciptakan benang merah antara bangunan hotel dengan
bangunan lain yang berada disekitar kawasan BKB maka konsep bentuk
dan penampilan bangunan hotel mengimplementasi bangunan
disekitarnya, antara lain:
1. Kolom bangunan berbentuk balok, merupakan pengadopsian dari
bentuk geometri pada bangunan menara air.

Gambar 4.47 Pengadopsian bentuk bangunan menara air


Sumber: Konsep,2005

2. Bangunan berbentuk panggung dan atap limas, mengadopsi


bentuk bangunan museum sultan Mahmud Badarrudin II.

Gambar 4.48 Pengadopsian bentuk museum SMB II


Sumber: Konsep,2005

D. Skyline Kawasan
Berdasarkan analisa terhadap skyline atau garis ketinggian
bangunan disekitar kawasan Benteng Kuto Besak, dapat dilihat ketinggian
bangunan disekitar kawasan cenderung rata hanya satu bangunan yang
terlihat menonjol yaitu bangunan menara air, sehingga bangunan ini
dijadikan landmark bagi kawasan. Oleh karena terdapat peraturan tidak
tertulis yang menyatakan bahwa diperbolehkan mendirikan bangunan
disekitar kawasan dengan syarat tidak menutupi pandangan ke arah
landmark kawasan yaitu bangunan Menara air.
Dari alasan tersebut maka didapat konsep bahwa bangunan hotel
diharapkan dapat menjadi latar dari menara air. Secara detail bangunan
hotel akan terlihat seperti membingkai bangunan menara air dengan
penataan bentuk solid void pada bangunan. Sehingga bangunan masih
dapat dilihat dari arah sungai.

Gambar 4.49 Bangunan hotel membingkai bangunan Menara air.


Sumber: Konsep,2005

E. Kawasan Water Front


Pengaplikasian arsitektur tepi air pada bangunan hotel
menggunakan sistem yang berbeda-beda pada tiap fungsinya, antara lain:
1. Sistem involmen of water.
Sistem ini diaplikasikan dengan membawa elemen permukaan air
kedalam ruang arsitektur, menghasilkan kenyamanan visual dan
karakter ruang yang intim. Secara detail digunakan pada:
Pada ruang-ruang publik dengan memasukkan unsur air
sungai yang menjorok kedalam bangunan.
Gambar 4.50 Pemasukkan unsur air kedalam bangunan
Sumber: Konsep,2005
Penggunaan elemen kaca sebagai pelapis lantai agar
permukaan air yang terdapat pada bagian bawah bangunan
dapat dinikmati dari dalam ruangan.

Gambar 4.51 Penggunaan elemen kaca sebagai pelapis lantai


Sumber: Konsep,2005

2. Sistem spanning the water


Hubungan ini diaplikasikan dengan menciptakan ruang arsitektur
membentang diatas badan air dimana permukaan air yang rata
menawarkan suatu kontras terhadap bentuk arsitektur. Secara
detail digunakan pada:
Lantai dasar bangunan hotel berada menjorok ke arah
sungai musi untuk memasukkan unsur air kedalam
bangunan.
Gambar 4.52 lantai dasar bangunan
Sumber: Konsep,2005
3. sistem Afloat the water
Karya arsitektur yang terapung diatas permukaan air memberikan
kesan alami, menjaga suatu pola terhadap kondisi air yang
mengelilinginya. Penerapan desain pada:
Digunakan pada bangunan dermaga yang berada di tepi
sungai Musi dan Sekanak.

Gambar 4.53 Dermaga sungai musi dan Sekanak


Sumber: Konsep,2005

Fasilitas tematik restoran yang mengutamakan penciptaan


suasana tepian Sungai.

Gambar 4.54 Restoran terapung


Sumber: Konsep,2005
E. Konfigurasi Bangunan Hotel
Konsep konfigurasi yang akan digunakan pada bangunan hotel ini
yaitu sistem konfigurasi Slab yang merupakan sistem konfigurasi
bangunan dengan bentuk memanjang. Keuntungan sistem konfigurasi
slab:
1. Mengoptimalkan pandangan unit-unit kamar hotel ke arah sungai
Musi.
2. Pengaruh bentukan tapak yang memanjang.

Gambar 4.55 Konfigurasi bangunan hotel


Sumber: Konsep,2005

F. Konsep Ruang/Kamar Tidur Hotel


Konsep kamar tidur terdiri dari penentuan jenis kamar tidur,
pengaturan letak dan posisi kamar tidur serta perletakan kamar mandi
didalam kamar.
1. Jenis kamar tidur yang akan disediakan yaitu:
Standar singel room
Standar double room
Family room (Connecting room)
Suite room
Penthouse
2. Pengaturan posisi kamar tidur terhadap koridor sebagai jalur
sirkulasi horizontal yaitu menggunakan sistem double loaded
koridor dimana satu jalur sirkulasi melayani dua sisi kamar.
Gambar 4.56 Sistem double loaded koridor
Sumber: Konsep,2005
3. Perletakan posisi kamar mandi pada kamar tidur yaitu pada sisi
dinding terdekat dengan pintu masuk.

Gambar 5.57 Perletakan kamar mandi


Sumber: Konsep,2005

4.4.3 Konsep Struktur Bangunan


A. Konsep Struktur Bangunan
1. Struktur atas
Berdasarkan analisa terhadap sistem struktur yang biasanya
digunakan pada bangunan yaitu struktur rangka yang terdiri dari rangkaian
rangka balok dan kolom. Adapun besar dari balok dan kolom bangunan
ditentukan berdasarkan perhitungan 1/10 atau 1/12 dari bentang rangka.
2. Struktur bawah
Struktur yang digunakan pada bangunan ini yaitu pondasi tiang
pancang dengan pertimbangan:
Dapat digunakan pada berbagai kondisi tanah
Pemasangan relatif mudah
Gambar 5.58 Pondasi tiang pancang
Sumber: Konsep,2005

B. Modul
Modul bangunan ditentukan berdasarkan pertimbangan antara lain:
kebutuhan ruang gerak dan aktifitas kegiatan, kapasitas kebutuhan ruang,
sistem dan kekuatan struktu yang digunakan, dimensi parkir yang optimal
serta ukuran-ukuran bahan bangunan, berdasarkan pertimbangan
tersebut ditentukan modul struktur bangunan:
1. Modul horizontal merupakan kelipatan 0,6 M , jarak antar kolom
bangunan yaitu 8 M.
2. Modul vertikal merupakan kelipatan 0,3 M, ketinggian perlantai 4,2 M

C. Bahan Bangunan
1. Bahan finishing lantai
Pada lobby dan front office digunakan marmer dan granit
dengan dimesi 90x90 cm, serta dikombinasi batu alam (slate
stone) pipih.
Ruang tidur menggunakan material parket dan dilapisi
sebagian oleh karpet. Kamar mandi menggunakan keramik
berpola, dengan dimensi 30x30 cm.
Koridor menggunakan keramik, serta sebagian parket.
Dapur menggunakan bahan yang tidak licin dan dilengkapi
dengan material untuk menjaga agar ruangan selalu dalam
keadaan kering.
2. Bahan finishing dinding
Untuk kamar tidur, kantor dan ruang lain yang bersifat umum
digunakan bahan bata.
Untuk rungan-ruangan yang digunakan untuk acara
pertemuan atau jamuan, digunkan penambahan pemasangan
dinding panel dan dinding kisi kayu jati yang berfungsi
menyerap suara sebesar 75% dengan pemasangan rangka
panel dan dilengkatkan dengan baut.
Untuk dapur dan toilet, digunakan bahan keramik karena
mudah dibersihkan dan tahan terhadap asam.
Untuk ruangan bagi alat-alat teknik yang menimbulkan
kebisingan (generator), digunakan dinding beton 2 lapis tebal
dinding 20 cm.
3. Bahan finishing plafon
Pada foyer, lounge dan top restaurant tidak menggunakan
plafon karena ingin menampilkan suasana lokal yang alami
dengan cara mengekspose struktur pada atap.
Semua ruangan menggunakan bahan plafon dan gypsum
mengingat karakterisiknya memiliki nilai akustik cukup baik,
mudah dibentuk, tahan terhadap api dan nilai estetisnya
tinggi.
4. Bahan finsihing atap
Atap struktur rangka menggunakan bahan baja.
Atap model tropis menggunakan bahan sirap.

4.4.4 Konsep Untilitas dan Kelengkapan bangunan


A. Air Conditioning (AC)
Penghawaan buatan dalam bangunan menggunakan AC dengan
sistem sentral. Pemasangan secara detail, yaitu:
1. Pada kawasan perhotelan sistem pelayanan AC dibagi menjadi dua
titik yaitu pada tapak bangunan hotel dan pada tapak bangunan
fungsi penunjang.
2. Ruang mesin AC diletakkan pada lantai dasar untuk mempermudah
perbaikkan dan pada ruangan dilengkapi dengan loading dock.
3. Pada bangunan hotel penataan AC dipasang secara linier, ducting
diletakkan pada koridor dibawah plafon kemudian bercabang ke
masing-masing ruangan kamar.

Gambar 5.59 Perletakkan ducting pada koridor


Sumber: Konsep,2005
4. Pada ruang-ruang publik ducting berada di bawah plafon gipsum
dengan titik penghawaan berjarak 4 M.
5. Ruang AHU pada bangunan hotel diletakan pada kedua sisi di
sudut bangunan.

B. Listrik
Daya utama pada kawasan perhotelan ini yaitu dari PLN dengan
daya listrik cadangan dari generator, dengan pemasangan secara detail
untuk listrk dari PLN:
1. Panel kontrol utama listrik diletakkan pada bangunan terpisah untuk
mengindari terjadinya perambatan jika terjadi konsleting listrik.
2. Sistem jaringan listrik dibuat melalui jalur bawah tanah agar fasade
lingkungan menjadi bersih.
3. Pada setiap bangunan terdapat panel control tersendiri yang
mengatur sistem jaringan listrik pada bangunan tersebut.

Pemasangan listrik dari generator dengan sisitem:


1. Ruang generator berada pada bangunan tersendiri, selain berfungsi
sebagai pengamanan, juga untuk menghindari kebisingan dan
getaran yang disebabkan oleh mesin.
2. Sistem jaringan menuju kebangunan melalui sistem bawah tanah.
3. Ruang generator memiliki ventilasi udara yang baik dan dilengkapi
dengan loading dock.

C. Air Bersih
Menurut peraturan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata,
kapasitas minimal untuk hotel bintang 5 adalah 750 liter/ kamar/ hari,
berarti kapasitas air hotel wisata ini setiap harinya adalah 750 liter x181
kamar = 135.750 liter.
Sumber air utama dari PDAM, sedangkan untuk sumber air
cadangan yaitu dari air sungai Musi yang diolah dengan water tratmen
terlebih dahulu sebelum dimasukkan ke bak penampungan.
Konsep pengaturan sistem jaringan air yaitu:
1. Menggunakan sistem upper tank, tangki air pada bagian atas
bangunan dibuat dengan menggunakan beton kedap air.
2. Tangki air pada bangunan hotel diletakkan pada dua titik yaitu sudut
kanan dan kiri bangunan.untuk menghindari beban terpusat.

D.Air Kotor
Air kotor berupa limbah padat dibuang kedalam septik tank
kemudian diangkut dengan menggunakan mobil tinja. Septik tank
diletakkan dekat bangunan utilitas.
Air kotor berasal dari saluran pembuangan disterilkan dengan water
treatment yang kemudian dibuang keriol kota atau dimanfaatkan kembali
untuk menyiram tanaman.

E. Konsep Penanggulangan Kebakaran


Penanggulangan kebakaran secara aktif dapat dilakukan dengan
beberapa cara yaitu:
1. Pemakaian bahan-bahan bangunan yang tahan api seperti dinding
beton, plafon gypsum, penyekat dinding yang diplester dan pintu
yang tahan terhadap api.
2. Melokalisasi ruang-ruang yang dapat menimbulkan kebakaran seperti
gudang bahan bakar, dapur ruang generator, dll,
Sedangkan penanggulangan secara pasif dapat dilakukan dengan:
1. Memasang alat pendeteksi kebakaran, seperti heat detector, smoke
detector dan alarm kebakaran.
2. Menggunakan sprinkler pada plafon dengan jarak tertentu pada
kamar dan koridor hotel.
3. Menyediakan tabung pemadam kebakaran dengan jarak tertentu
terutama pada daerah publik dan koridor.
4. Pemasangan stand pipe dan hoss system dalam hydran box pada
bangunan setiap jarak 15-30 meter.
5. Pemasangan pilar hydran diluar bangunan dengan jarak maksimal
30M.

F. Konsep Penangkal Petir


Berdasarkan analisa terhadap jenis penangkal petir tersebut maka
ditentukan bangunan akan menggunakan sistem Sangkar Faraday,
adapun perletakan tiang-tiang penagkal petir ini yaitu pada bagian atas
kolom bangunan dengan bentuk yang disamarkan sehingga tidak terlalu
mengganggu fasade bangunan.
4.5. Konsep Luasan Tapak dan Bangunan
4.5.1 Konsep Luasan Tapak
A. Luasan tapak kotor
Tapak terbagi menjadi dua sisi adapun luasan tapak secara
keseluruhan yaitu:
Tapak 1 (Tepi sungai Musi) = 1,48 Ha
Tapak 2 ( Tepi jalan Merdeka) = 1,595 Ha
Luas tapak keseluruhan = 3,75 Ha

B. Sempadan bangunan
Garis sempadan pada tapak meliputi sempadan jalan dan
sempadan sungai, yaitu:

1. Tapak 1
Jl. Depaten Baru : 9 M
Sungai Musi : 16M
Sungai Sekanak : 9M
Kawasan BKB : 7M
2. Tapak 2
Jl. Depaten Baru : 9 M
Jl. Merdeka : 11M
Sungai Sekanak : 9M
Jl. Sekawan : 7M

C. Koefisien Dasar Bangunan (KDB)


1. Tapak 1 : 60% x 1,48 Ha = 8880 M2
2. Tapak 2 : 60% x 1, 595 Ha = 9570 M2
Luasan tapak yang dapat ditutup bangunan yaitu: 18.450 M 2
4.5.2 Konsep Luasan Bangunan
Luasan bangunan perlantai :
Lantai dasar = 6.727,595 M2
Lantai 1 = 3.225,7 M2
Lantai 2 = 3.165,5 M2
Lantai 3 = 3.165,5 M2
Lantai 4 = 5.237,6 M2
Lantai 5 = 5.237,6 M2
Luas total = 26.759,495 M2 = 2,675 Ha