Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM

KOEFISIEN MUAI PANJANG

Muhammad Khairurrijal

14/366860/PA/16259

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM


UNIVERSITAS GADJAH MADA
MEI 2015
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari-hari kita dapat melihat banyak sekali hal-hal yangterjadi
berkaitan dengan pemuaian dan pengerutan suatu benda. Misalnya pada suatuhari yang
panas, kawat-kawat listrik atau kawat telepon yang bergantung padatiangnya akan
mengendur. Tetapi yang terjadi akan sebaliknya jika cuaca dingin.
Rel kereta api dibangun dengan memberikan sedikit ruang pemisah
diantarasambungan-sambungan antar relnya sehingga rel tersebut tidak akan
melengkungketika cuaca panas. Pesawat supersonik Concorde akan bertambah panas
selamamelakukan penerbangan karena adanya gesekan dengan udara, pesawat tersebut
akan bertambah panjang 25 cm. Sementara itu, kaca yang dipasang pada jendela dibuat lebih
longgar untuk mengantisipasi pemuaian kaca pada saat cuaca panas. Serta masih banyak lagi
contoh lainnya yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
Oleh karena itu, percobaan kali inimengenai Koefisien MuaiPanjangdilakukan untuk
dapat memberikan suatu pengetahuan lebih mengenai hal tersebut,mengetahui koefisien muai
panjang dari suatu logam dan dapat menerapkanaplikasinya dalam kehidupan sehari-hari

B. Tujuan
Praktikum ini bertujuan untuk:
-Menetukan koefisien muai panjang dari suatu logam

BAB II
DASAR TEORI
Muai PanjangPemuaian panjang adalah bertambahnya ukuran panjang suatu benda
karena menerima kalor. Pada pemuaian panjang nilai lebar dan tebal sangat kecil
dibandingkandengan nilai panjang benda tersebut, sehingga lebar dan tebal dianggap tidak
ada.Contoh pemuaian panjang yaitu pada kabel jarinagn listrik, pada pagi hari kabel
tampak kencang dan pada siang hari akan tampak kendor. Fenomena tersebut karena kabel
mengalami pemuaian panjang akibat terkena sinar matahari (panas).
L = Lo . . t...................................................................................................................(1)
Lt = Lo (1 + t)..................................................................................................................(2)
Pada pemuaian panjang pada suatu benda padat dapat dilukiskan oleh persamaan:
Lt= Lo (1 + t)
Maka pada saat suhu t panjangnya:
Lt = Lo (1 + t)................................................................................................................(3)
Dari kedua persamaan di atas diperoleh:
'
= . ............................................................................................................(4)
Lo(t ' t)
Keterangan :
= Koefisien muai panjang logam ( /oC)
Lt = Panjang batang logam pada suhu t (m)
Lo = Panjang batang mula-mula sebelum dipanaskan(m)
L = Pertambahan panjang logam (m)
t = t2 t1 = selisih suhu akhir dan suhu awal (oC)
Jadi dapat dihitung bila pertambahan panjangnya pada pemanasan dari t menjadi t
dan L nya diukur. Dalam percobaan, batang logam dipanasi dari suhu kamar sampai suhu
air mendidih (titik didih). Karena panjangnya pada suhu kamar ternyata tidak banyak
bedanyadengan panjangnya pada suhu 0 0C maka L dapat diganti dengan Lt, jadi:
' '
= = ..............................................................................................(5)
Lo(t t) Lt (t ' t)
'

Karena pertambahan panjang kecil sekali maka dilakukan pengukuran yang teliti
dengan tuas dan pembacaan cermin seperti pada gambar 3.1. Jika lengan tuas = d dan pada
suhu t cermin terputar sebesar sudut , maka:
Lt - Lt = d tan ................................................................................................................(6)
Jika kedudukan teropong sama dengan titik tengah cemin, maka:
'
Y K K
tan 2 = = .....................................................................................................(7)
X X
dimanaK dan K adalah garis skala yang berimpit dengan benang salib teropong pada
suhu t dan t, X adalah jarak dari cermin sampai batang berskala. Karena sangat kecil
makatan 2 = 2 tan, sehingga diperoleh:
d (K ' K )
= .........................................................................................................(8)
2 X Lt (t ' t )
Berikut beberapa koefisien muai panjang pada masing zat padat:
BAB III
METODE EKSPERIMEN

A. Alat dan Bahan


1. Alat muai panjang
2.Teropong
3. Batang berskala
4. Pita Pengukur
5. Termometer
6. Bejana uap
7. 1 batang logam tembaga

B. Skema Percobaan

Gambar 3.1 Skema Percobaan koefisien muai panjang


C. Tata Laksana Percobaan

1. Alat dan bahan disusun sesuai dengan skema percobaaan.


2. Bejana uap dinyalakan.
3. Ditunggu sampai termometer bagian bawah (Tb) menunjuk angka 900.
4. Pada saat suhu Tb sama dengan 900 , dicatat suhu yang terbaca oleh termometer bagian
atas (Ta).
5. Panjang yang ditunjuk oleh batang berskala dicatat, untuk lebih mudah
pengamatandilakukan dengan teropong. Angka yang berada di bagian tengah itulah
yangdicatat, dinyatakan sebagai K.
6. Bejana uap dimatikan, setiap penurunan suhu 50C pada Ta, suhu yang terbaca pada Tb
juga dicatat dan perubahan panjang yang ditunjuk pada batang berskala juga dicatat,
dinyatakan sebagai K, hingga didapat delapan atau Sembilan data.
7. Ditunggu sampai suhu kamar, diamati angka yang ditunjuk pada batang berskala dan
dinyatakan sebagai K.
8. Data yang diperoleh dimasukkan ke dalam tabel pengamatan.

D. Analisa Data
k' k-k
no ta tb t' (C) t'-t (C)
(mm) (mm)

d (K ' K )
=
2 X L0 (t ' t)

2 X L 0 (t ' t )
KK '=
d

2 X L0 '
KK '= (t t)
d

K-K = sumbu y
t-t = sumbu x
2 X L0
= gradien m
d

2 X L0 md
m= =
d 2 X L0

=
md
2 xLo
m+
m
2 xLo
d + 2
md
2 x Lo
x+
md
2 x Lo 2
Lo

Rumus Regresi Linier:


N
( x i y i ) x i y i

m=
m=Sy
N

x

x i2 y i x i
( i y i)

C=

C=Sy



xi2

Dengan dan Sy sebagai berikut ,


xi



x i2
=N
yi


xi yi


2

x i2
2
y i
1
Sy 2=
N 2

BAB IV
HASIL DAN PEMNBAHASAN
A.1. Hasil Percobaan 1 (Logam Alumunium)
A.1.1. Data
k' k-k
no ta tb t' (C) t'-t (C)
(mm) (mm)
1 80 92 86 130 30,5 19
2 75 89,5 82,25 134 26,75 18
3 70 87 78,5 136 23 16
4 65 83,5 74,25 141 18,75 14
5 60 80 70 144 14,5 11
6 55 76 65,5 146 10 6
7 50 71 60,5 148 5 4
8 45 66 55,5 149 0 0
Tabel 4.1. Percobaan 1 (Logam Alumunium)
A.1.2. Grafik

A.2. Hasil Percobaan 2 (Logam Besi)


A.2.1. Data
k' k'-k
no ta tb t' (C) (mm) t'-t (C) (mm)
1 90 94 92 13 30,25 12
2 85 93,5 89,25 15 27,5 10
3 80 92 86 16 24,25 8
4 75 90,5 82,75 18 21 7
5 70 88 79 19 17,25 6
6 65 85 75 20 13,25 5
7 60 82 71 21 9,25 3
8 55 78 66,5 23 4,75 2
9 50 73,5 61,75 25 0 0
Tabel 4.2. Percobaan 2 (Logam Besi)
A.2.2. Grafik
B. Pembahasan
Dalam Praktikum Koefisien Muai Panjang ini praktikan berupaya untuk mengetahui
koefisien muai panjang logam alumunium dan besi. Kita tahu bahwasannya bertambahnya
ukuran panjang suatu benda disebabkakan karena pengaruh perubahan suhu atau
bertambahnya ukuran suatu benda karena menerimakalor. Praktikum Pemuaian Panjang kali
ini bertujuan untuk menjelaskan pengaruh perubahan temperatur terhadap bahan
terutama logam serta mengukur besarnya koefisien pemuaian panjang material.
Semula batang tembaga dipanaskan dengan bantuan bejana uap hingga mencapai suhu
900C. Termometer yang digunakan untuk mengukur ada dua buah, yang dijadikansebagai
patokan adalah termometer bagian atas (Ta). Pada saat yang sama Tb jugadihitung, skala
yang teramati dengan teropong juga dicatat. Setelah itu setiap penurunan suhu 500C
juga dilakukan hal yang sama. Sebagai patokan, pada saat suhu kamar juga dihitung. Suatu
benda akan berubah ukurannya jika suhunya juga berubah. Dan hal initerbukti dalam
percobaan yang telah dilakukan, dimana logam tembaga
mengalami perubahan panjang jika terjadi kenaikan suhu. Dari percobaan inilah kita dapat
menentukan koefisien muai panjang, yaitu pertambahan panjang relatif untuk tiap derajat
kenaikan suhu dari logam tembaga tersebut.
Dari data yang diperoleh diplot ke dalam grafik dengan T rata-rata sebagai sumbu x dan
K-K sebagai sumbu y. Grafik yang diperoleh mempunyai gradien positif (grafik miring ke
kanan), hal ini berarti besar pertambahan suhu sebanding dengan pertambahan panjang dari
logam tembaga.
Dari hasil perhitungan diperoleh besar koefisien muai panjang alumunium,
= ( 16,43 0,09 ) . 10-6 /0C. Apabila dibandingkan dengan referensi maka diperoleh
hasilyang sedikit menyimpang. Koefisien muai panjang alumunium menurut referensi
sebesar 2,4 x 10-5/0C. kemudian hasil perhitungan untuk koefisien muai panjang besi,
= ( 9,35 0,05 ) . 10-6 /0C. Koefisien muai panjang besi menurut referensi sebesar
1,2 x 10-5/0C. Penyimpangan tersebut dimungkinkan terjadi karena kurang ketelitian praktikan
dalam mengambil dan mengolah data. Kondisi alat yang kurang baik juga dimungkinkan
mempengaruhi adanya penyimpangan tersebut.

BAB V
KESIMPULAN
Dari praktikum ini didapat hasil keofisien dari masing-masing logam yaitu:
1. Logam Alumunium: = ( 16,43 0,09 ) . 10-6 /0C
2. Logam Besi : = ( 9,35 0,05 ) . 10-6 /0C

BAB IV
DAFTAR PUSTAKA
Staf Laboratorium Fisika Dasar.2013. Panduan Praktikum Fisika Dasar II. Yogyakarta:
Laboratorium Fisika Dasar FMIPA UGM
Hasan, Wida Nur, dkk. 2013. Jurnal Praktikum Fisika Dasar koefisien muai panjang.
Yogyakarta. FMIPA UGM

BAB VII
PENGESAHAN

Asisten Lab, Yogyakarta, 08 Juni 2015


Praktikan
Alvi Oktavia M Khairurrijal

Lampiran:
1. Perhitungan Percobaan 1 (logam Alumunium)
8193111308
m= =0,648827
6380,75
Sy 2=
1
82 [
1310
8319016
6380,75 ]
=1,038719183
Sy =1,01917
m=1,01917
8
6380,75
Dengan dan Sy sebagai berikut ,
=82861,62516512,15=6380,75

0,6533
= =1,6429105 16,43106
21280510

=
md
2 xLo
m+
m
2 xLo
d + 2
md
2 x Lo
x+
md
2 x Lo 2
Lo = 0.09x10-6

= ( 16,43 0,09 ) . 10-6 /0C

1. Perhitungan Percobaan 2 (logam Besi)


911867817,5
m= =0,367236
7778,375
Sy 2=
1
92 [
431
3334338,675
7778,375 ]
=0.333176458
Sy =0,57721
m=0,57721
9
7778,375
= 0,019634

Dengan dan Sy sebagai berikut ,


=93281,62521756,25=7778,375
0, 3733
= =9,35202106 9,35106
21280510

=
md
2 xLo
m+
m
2 xLo
d + 2
md
2 x Lo
x+
md
2 x Lo 2
Lo = 0.05x10-6

= ( 9,35 0,05 ) . 10-6 /0C