Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

1.1Latar belakang
Filariasis (penyakit kaki gajah) adalah penyakit menular menahun
yangdisebabkan oleh cacing filaria dan ditularkan oleh nyamuk Mansonia,
Anopheles, Culex, Armigeres. Cacing tersebut hidup di saluran dan kelenjar getah
bening dengan manifestasi klinik akut berupa demam berulang, peradangan
saluran kelenjar getah bening. Pada stadium lanjut dapatmenimbulkan cacat
menetap berupa pembesaran kaki, lengan, payudara dan alat kelamin (Chin,
2006).
Tiga spesies cacing filaria penyebab filariasis limfatik adalah Wuchereria
bancrofti, Brugia malayi dan Brugia timori(Depkes RI, 2010).Sekarang ini, lebih
dari 1,4 milyar orang di 73 negara beresiko terinfeksi cacing filaria. Kira-kira 65%
yang terinfeksi berada di wilayah Asia Tenggara, 30%di wilayah Afrika, dan
sisanya berada di daerah tropis. Filariasis limfatik menyebabkan lebih dari 25 juta
laki-laki dengan gangguan genital dan lebih dari 15 juta orang dengan limfoedema
(WHO, 2013).Filariasis di Indonesia pertama kali dilaporkan oleh Haga dan Van
Eecke pada tahun 1889 di Jakarta yaitu ditemukan penderita filariasis skrotum.
Pada saat itu pula Jakarta diketahui endemik filariasis limfatik yang disebabkan
oleh B. Malayi( Depkes RI, 2005).
Penyakit ini merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang
serius di Indonesia. Hampir seluruh wilayah Indonesia adalah daerah endemis
filariasis, terutama wilayah Indonesia Timur yang memiliki prevalensi lebih
tinggi. Hasil laporan kasus klinis kronis filariasis dari kabupaten/kota yang
ditindaklanjuti dengan survey endemisitas filariasis, sampai dengan tahun 2009
terdapat 337 kabupaten/kota endemis dan 135 kabupaten/kota non endemis. Dari
tahun 2003 hingga 2008 terdapat peningkatan yang sangat tinggi. Pada tahun 2003
jumlah kasus yang dilaporkan sebanyak 6720 kasus dan pada tahun 2008
meningkat menjadi 11.699 kasus. Diperkirakan sampai tahun 2009 penduduk
berisiko tertular filariasis lebih dari 125 juta orang yang tersebar di 337
kabupaten/kota endemis filariasis dengan 11.914 kasus kronis yang dilaporkan
dan diestimasikan prevalensi mikrofilaria 19%, kurang lebih penyakit ini akan
mengenai 40 juta penduduk (Depkes RI, 2010).

1
Penyakit ini memberikan dampak sosial budaya yang cukup besar, dampak
ekonomi serta mentalsecara psikologis, sehingga tidak dapat bekerjasecara
optimal dan hidupnya selalu tergantung padaorang lain (WHO, 2005). Provinsi
Sumatera Barat merupakan salah satu daerah endemis filariasis di Indonesia.
Berdasarkan laporan tahunan filariasis provinsi Sumatera Barat tahun 2013, di
Sumatera Barat jumlah kasus filariasis sebanyak 238 orang yang tersebar di 19
Kabupaten/ Kota (Dinkes Sumbar,2013).Kabupaten Padang Pariaman bukan salah
satu 5 kabupaten daerah endemis filariasis namun merupakan kabupaten yang
banyak ditemukan kasus baru filariasidi Sumatera Barat. Berdasarkan laporan
diketahui bahwa jumlah kasus filariasis yang ditemukan meningkat dari tahun ke
tahun. Pada tahun 2010 ditemukan 4 kasus dan tahun 2011, 2012 dan 2013
meningkat menjadi 5, 24, 29 kasus (Dinkes Sumbar, 2013).Penularan filariasis
terjadi apabila ada lima unsur utama yaitu sumber penular (manusia dan hewan
sebagai reservoir), parasit(cacing), vektor (nyamuk),host(manusia yang rentan),
lingkungan (fisik, biologik, ekonomi dan sosial budaya)(Depkes RI, 2005).
Banyak faktor risiko yang mampu memicu timbulnya kejadian filariasis.
Beberapa diantaranya adalah jenis kelamin, usia, pekerjaan, faktor lingkungan,
perilaku. Pada umumnya kelompok umur dewasa muda dan laki-laki lebih banyak
yang terkena infeksi karena laki-laki lebih besar kesempatan untuk terpapar
dengan infeksi(exposure)daripada perempuan(Sutanto, 2009). Penelitian yang
dilakukan oleh Kadarusman di Jambi dan Njenga, S.M. et al. di Kenya ditemui
bahwa laki-laki lebih berisiko dibandingkan perempuan dalam penyakit ini. Hal
ini kemungkinan terkait dengan aktifitas yang dilakukan. Banyak laki-laki yang
memiliki aktifitas di luar rumah pada malam hari, misal ronda. Selain itu, sebagai
pencari nafkah utama bagi keluarga, laki-laki memiliki mobilitas yang lebih tinggi
dibandingkan perempuan. Kemungkinan kontak dengan vektor akan menjadi lebih
besar juga dibandingkan perempuan(Kadarusman, 2003 ;Njenga SM,
2000).Rumah, tempat perindukannya pada air kotor sekitar rumah dan
filariasisbancrofti pedesaan vektornya nyamuk Aedes, Anopheles dan Mansoni. B.
Malayi dan B. timorihanya terdapat di pedesaan, karena vektornya tidak dapat
berkembang biak di perkotaan. B. timoribiasanya terdapat didaerah persawahan
sesuai dengan tempat perindukan vektornya An. barbirostris, B. malayiyang
terdapat pada manusia dan hewan biasanya terdapat dipinggir pantai atau aliran
sungai, dengan rawa-rawa. Menurut hasil penelitian SarungudiDistrik Windesi
Kabupaten Kepulauan Yapen Provinsi Papua bahwa kondisi lingkungan fisik dan

2
kimia mendukung perkembangan nyamuk vektor filariasis serta keberadaan
keberadaan genangan air yang mengandung jentik nyamuk meningkatkan risiko
penularan filariasis sebesar 6,00 kali. (Natadisastra, 2009;Sarungu Y, 2012;
Sutanto, 2009; Zainul, 2004)Faktor risiko selanjutnya adalah kebiasaan keluar
rumah pada malam haridan kebiasaan tidak menggunakan kelambu saat
tidur.Selain itu, pengetahuan mengenai filariasis yang akanmeningkatkan
kesadaran individu serta terjadinya resistensi vektor filariasis terhadap insektisida
masuk ke dalam faktor risiko yang harus diperhatikan (Dinkes Padang Pariaman,
2012; Juriastuti P, 2010).

Menurut hasil penelitian Nasrin(2008) di Kabupaten Bangka Barat tentang


faktor-faktor lingkungan dan perilaku yang berhubungan dengan kejadian
filariasis ditemukan hubungan yang bermakna antara jenis pekerjaan, tingkat
penghasilan dan pengetahuan terhadap kejadian filariasis(Nasrin, 2008). Penelitian
Rosmadeli (2008) menyimpulkan terdapat hubungan perilaku pencegahan
penyakit dengan kejadian filariasis. Hal ini berarti orang yang tidak melakukan
tindakan pencegahan penyakit lebih besar peluangnya untuk terkena penyakit
filariasis (Rosmadeli, 2008).

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan penyakit filariasis?

2. Bagaimana etiologi penyakit filariasis?

3. Bagaimana epidemiologi penyakit filariasis?

4. Bagaimana cara penularan penyakit filariasis?

5. Bagaimana gejala dan tanda penyakit filariasis?

6. Bagaimana diagnosis penyakit filariasis?

7. Bagaimana patofisiologis penyakit filariasis?

8. Bagaimana patofisiologis penyakit filariasis?

9. Bagaimana penetapan endemisitas penyakit filariasis?

10. Bagaimana cara pengobatan penyakit filariasis?

3
1.3 Tujuan Penulisan

Tujuan Umum :

Untuk mengetahui penyakit filariasis secara detail.

Tujuan Khusus :

1. Untuk mengetahui apa itu penyakit filariasis.

2 Untuk mengetahui etiologi penyakit filariasis

3. Untuk mengetahui epidemiologi penyakit filariasi

4 Untuk mengetahui cara penularan penyakit filariasis

5. Untuk mengetahui gejala dan tanda penyakit filariasis

6. Untuk mengetahui diagnosis penyakit filariasis

7. Untuk mengetahui patofisiologis penyakit filariasis

8. Untuk mengetahui patofisiologis penyakit filariasis

9.Untuk mengetahui penetapan endemisitas penyakit filariasis

10. Untuk mengetahui cara pengobatan penyakit filariasis

4
BAB II

PEMBAHASAN

2.1Pengertian Filariasis

Filariasis adalah penyakit tropis menular yang disebabkan oleh cacing


filaria yangditularkan oleh nyamuk. Spesies cacing yang menyebabkan filariasis
limfatik yaitu Wuchereria bancrofti, Brugia malayi, dan Brugia timori. Penyakit
ini berdampak secara sosial dan ekonomi. Umumnya gejala kronis penyakit ini
muncul pada orang dewasa, baik pria dan wanita, dan efek kerusakan pada sistem
limfatik, lengan, kaki atau alat kelamin, yang menimbulkan rasa sakit, penurunan
produktifitas dan pengucilan sosial (WHO, 2013). Jenis agen daerah perkotaan di
Provinsi Banten dan Jawa yaitu Wuchereria bancrofti(Kemenkes RI, 2011).

Filariasis adalah penyakit menular di lingkungan tropis yang disebabkan


oleh cacing filaria yang ditularkan oleh nyamuk filariasis (WHO, 2013). Penyakit
filariasis tergolong jarang, sebab untuk menimbulkan gejala klinisnya diperlukan
multi gigitan nyamuk terinfeksi filaria dalam kurun waktu yang lama (Kemenkes
RI, 2010). Dapat dikatakan bahwa penyakit filariasis merupakan penyakit yang
terabaikan. Hal ini terbukti bahwa sebelum menderita filariasis, seseorang telah
mengalami banyak gigitan nyamuk selama berberapa bulan atau tahun sampai
timbul kejadian filariasis (Center for Health Research and Development, 2008).

Filariasis (Penyakit Kaki Gajah) adalah penyakit menular pada saluran dan
kelenjar kemih yang disebabkan oleh cacing filaria yang ditularkan oleh nyamuk.
Penyakit ini bersifat manahun (kronis) dan bila tidak mendapatkan pengobatan
dapat menimbulkan cacat menetap berupa pembesaran kaki, lengan, dan alat
kelamin baik pada perempuan maupun laki-laki. Akibatnya penderita tidak dapat
bekerja secara optimal bahkan hidupnya tergantung kepada orang lain sehingga
menjadi beban keluarga, masyarakat dan negara (Ditjen PP & PL Depkes RI,
2009:1).

Penyakit ini bersifat menahun dan bila tidak mendapatkan pengobatan


akan menimbulkan cacat menetap berupa pembesaran kaki (elephantiasis),
pembesaran lengan, payudara, dan alat kelamin pada wanita maupun laki-
laki.Penyakit ini menyebabkan produktifitas penderitanya penurun dan

5
mengakibatkan kerugian yang tidak sedikit akibat kehilangan jam kerja yang
disebabkan penyakit tersebut (Akhsin Zulkoni, 2011:55).

2.2 Etiologi

Filariasis disebabkan oleh infeksi cacing filaria yang hidup di saluran


dankelenjar getah bening. Anak cacing yang disebut mikrofilaria, hidup dalam
darah.Mikrofilaria ditemukan dalam darah tepi pada malam hari.
Filariasis di Indonesia disebabkan oleh tiga spesies cacing filaria yaitu:
1. Wuchereria bancrofti
2. Brugia malayi
3. Brugia timori (Gandahusada,1998).

2.3 Cara Penularan


Penularan filariasis dapat terjadi bila ada tiga unsur, yaitu
1. Sumber penularan, yakni manusia atau hospes reservoir yang mengandung
mikrofilaria dalam darahnya.
2. Vektor, yakni nyamuk yang dapat menularkan filariasis.
3. Manusia yang rentan terhadap filariasis.
Seseorang dapat tertular filariasis, apabila orang tersebut mendapat gigitan
nyamuk infektif, yaitu nyamuk yang mengandung larva infektif (larva stadium 3
= L3). Pada saat nyamuk infektif menggiggit manusia, maka larva L3 akan
keluar dari probosis dan tinggal di kulit sekitar lubang tusukan nyamuk. Pada
saat nyamuk menarik probosisnya, larva L3 akan masuk melalui luka bekas
gigitan nyamuk dan bergerak menuju ke sistem limfe. Berbeda dengan penularan
pada malaria dan demam berdarah, seseorang dapat terinfeksi filariasis, apabila
orang tersebut mendapat gigitan nyamuk infektif ribuan kali, sedangkan pada
penularan malaria dan demam berdarah seseorang akan sakit dengan sekali
gigitan nyamuk yang infektif .
Di samping sulit terjadinya penularan dari nyamuk ke manusia,sebenarnya
kemampuan nyamuk untuk mendapatkan mikrofilaria saat menghisap darah yang
mengandung mikrofilaria juga sangat terbatas, nyamuk yang menghisap
mikrofilaria terlalu banyak dapat mengalami kematian, tetapi jika mikrofilaria
yang terhisap terlalu sedikit dapat memperkecil jumlah mikrofilaria stadium larva
L3 yang akan ditularkan. Kepadatan vektor, suhu dan kelembaban sangat
berpengaruh terhadap penularan filariasis. Suhu dan kelembaban berpengaruh

6
terhadap umur nyamuk, sehingga mikrofilaria yang telah ada dalam tubuh nyamuk
tidak cukup waktunya untuk tumbuh menjadi larva infektif L3 (masa inkubasi
ekstrinsik dari parasit). Masa inkubasi ekstrinsik untuk W. bancrofti antara 10-14
hari, sedangkan B. malaVyi dan B. timori antara 8-10 hari. Periodisitas
mikrofilaria dan perilaku menggigit nyamuk berpengaruh terhadap risiko
penularan. Mikrofilaria yang bersifat periodik nokturna (mikrofilaria hanya
terdapat di dalam darah tepi pada waktu malam) memiliki vektor yang aktif
mencari darah pada waktu malam, sehingga penularan juga terjadi pada malam
hari.
Di daerah dengan mikrofilaria sub periodik nokturna dan non periodik,
penularan terjadi siang dan malam hari. Khusus untuk B. malayi tipe sub periodik
dan non periodik nyamuk Mansonia menggigit manusia atau kucing, kera yang
mengandung mikrofilaria dalam darah tepi, maka mikrofilaria masuk kedalam
lambung nyamuk menjadi larva infektif Di samping faktor-faktor tersebut,
mobilitas penduduk dari daerah endemis filariasis ke daerah lain atau sebaliknya,
berpotensi menjadi media terjadinya penyebaran filariasis antar daerah (DepKes
RI, 2008)

Skema Rantai Penularan Filariasis (Depkes RI, 2009)

7
2.4 Epidemiologi

Filariasis merupakan salah satu penyakit tertua yang paling


melemahkan yang dikenal di dunia. Penyakit filariasis lymfatik
merupakan penyebab kecacatan menetap dan berjangka lama terbesar kedua
di dunia setelah kecacatan mental. Di Indonesia, mereka yang terinfeksi
filariasis bisa terbaring di tempat tidur selama lebih dari lima mingggu
per tahun, karena gejala klinis akut dari filariasis yang mewakili 11%
dari mas a usia produktif. Untuk keluarga miskin, total kerugian ekonomi
akibat ketidakmampuan karena filariasis adalah 67% dari dari total
pengeluaran rumah tangga perbulan.DataWHO, diperkirakan 120 juta orang di
83 negara di dunia terinfeksi penyakit filariasis dan lebih dari 1,5 milyar
penduduk dunia (sekitar 20% populasi dunia) berisiko terinfeksi penyakitini,
Dari keseluruhan penderita, terdapat dua puluh lima juta penderita laki -
laki yang mengalami penyakit genital (umumnya menderita
hydrcocele) dan hampir lima belas juta orang, kebanyakan wan ita,
menderita lymphoedema atau elephantiasis pada kakinya. Sekitar 90%
infeksi disebabkan oleh Wucheria Bancrofti, dan sebagian besar sisanya
disebabkan Brugia Malayi. Vektor utama Wucheria Bancrofti adalah nyamuk
Culex, Anopheles, dim Aedes. Nyamuk dari spesies Mansonia adalah
vektor utama untuk parasit Brugarian, namun di beberapa area, nyamuk
Anopheles juga dapat menjadi vektor penularan filariasis. Parasit
Brugarian banyak terdapat di daerah Asia bagian selatan dan timur
terutama India, Malaysia, Indonesia, Filipina, dan China.Hampir seluruh
wilayah Indonesia adalah daerah endemis filariasis, terutama
wilayah Indonesia Timur yang memiliki prevalensi lebih tinggi. Sejak
tahun 2000 hingga 2009 di laporkan kasus kronis filariasis sebanyak 11.914
kasus yang tersebar di 401 kabupatenl kota. Hasil laporan kasus klinis kronis
filariasis dari kabupaten/. kota yang ditindaklanjuti dengan survey endemisitas
filariasis, sampai dengan tahun 2009 terdapat 337 kabupaten/ kota endemis dan
135 kabupatenl kota non endemis. Penyakit ini diperkirakan seperlima
penduduk duniaatau 1,1milyar penduduk beresiko terinfeksi, terutama didaerah
tropis dan beberapa daerah subtropis,Penyakit inidapat menyebabkan kecacatan,
stigma sosial, hambatan psikososisal, dan penurunan produktivitas kerja
penderita, keluarga dan masyarakat sehingga menimbulkan kerugian ekonomi
yang besar. Dengan demikian penderita menjadi bebankeluarga dannegara. Sejak

8
tahun 2000 hingga 2009 dilaporkan kasus kronis filariasis sebanyak 11.914 kasus
yang tersebar Di 401kabupaten/kota. Penyakit ini terutama ditemukan di daerah
khatulistiwa dan merupakan masalah di daerahdataranrendah.Tetapi kadang-
kadang juga ditemukan didaerah bukityangtidakterlalu tinggi. DiIndonesia
filariasis tersebar luas,daerah endemis terdapat terdapat di banyak pulau di
seluruh nusantara, sepertidiSumatera dansekitamya, Jawa, Kalimantan,
Sulawesi, NTT, Maluku, dan Irian Jaya. (Kemenkes RI, 2010).

2.5 Gejala Klinis

Gejala klinis filariasis terdiri dari gejala klinis akut dan kronis. Pada
kronisnya gejala klinis filariasis yang disebabkan oleh infeksi W.Barofti, B.malayi
dan B.Timori adalah sama, tetapi gejala klinis akut tampak lebih jelas dan lebih
berat pada infeksi oleh B.malayi, B.timori. Infeksi W.bancrofti dapat
menyebabkan kelainan pada saluran kemih dan alat kelamin, tetapi infeksi oleh
B.malayi, B,timori tidak menimbulkan kelainan pada saluran kemih dan alat
kelamin.Gejala klinis sangat bervariasi, mulai dari yang asimtomatis
sampai yang berat. Hal ini tergantung pada daerah geografi, spesies
parasit, respons imun penderita dan intensitas infeksi. Gejala biasanya
tampak setelah 3 bulan infeksi, tapi umumnya masa tunasnya antara 8-12
bulan. Pada fase akut terjadi gejala radang saluran getah bening, sedang pada
fase kronis terjadi obstruksi. Fase akut ditandaidengan demam atau
serangkaian serangan demam selama beberapa minggu. Demam biasanya tidak
terlalu tinggi meskipun kadang - kadang tinggi sampai 40,6C, disertai
menggigil dan berkeringat, nyeri kepala, mual, muntah,dan nyeri otot. Jika yang
terkena saluran getah bening abdominal yang terkena terjadi gejala "acute
abdomen" (Narudin dan suharto, 2007)

2.5.1 Gejala Klinis Akut

Gejala klinis akut berupa limfadenitis, limfangitis, adenolimfangitis yang


disertai demam, sakit kepala, rasa lemah dan timbulnya abses. Abses dapat pecah
dan kemudian mengalami penyembuhan dengan meninggalkan parut, terutama di
daerah lipat paha dan ketiak. Parut lebih sering terjadi pada infeksi B.malayi,
B.timori dibandingkan karena infeksi W.bancrofti, demikian juga dengan
timbulnya limfangitis dan limfadenitis tetapi sebaliknya pada infeksi W.bancrofti
sering terjadi peradangan buah pelir (orkitis), peradangan epididimus

9
(epididimitis) dan peradangan funikulus spermatikus (funikulitis). (Dinkes Sumut,
2010)

2.5.2 Gejala Klinis Kronik

Gejala kliniskronis terdiri dari limfedama, lympscrotum, kiluria, hidrokel

1. Limfedema
PadainfeksiW.bancroftiterjadipembengkakanseluruhkaki,
seluruhlengan, skrotum, penis, vulva vagina dan payudara, sedangkan pada
infeksi Brugia terjadi pembengkakankaki dibawahlutut,lengandibawahsiku
dimanasikudan lututmasih normal.
2. Lymph scrotum
Adalah pelebaran saluran limfe superfisial pada kulit scrotum, kadang-
kadang pada kulit penis, sehingga saluran limfe tersebut mudah pecah dan
cairan limfe mengalir keluar dan membasahi pakaian. Ditemukan juga lepuh
(vesicles) besar dankecil pada kulit, yang dapat pecah dan membasahi pakaian.
Ini mempunyai resiko tinggi terjadinya infeksi ulang oleh bakteri dan jamur,
serangan akut berulang dan dapat berkembang menjadi limfeda skrotum.
Ukuran skrotum kadang-kadang normal kadang-kadang sangat besar
3. Kiluria
Adalahkebocoranatau pecahnyasaluranlimfedanpembuluhdarahdi ginjal
(pelvisrenal)oleh cacingfilariadewasaspesies W.bacroftisehingga
cairanlimfedan darah masuk ke dalamsaluran kemih. Gejala yangtimbul adalah
sebagai berikut:
Air kencing seperti susu karena air kencing banyak mengandung lemak,
dan kadang-kadang di sertai (haematuria)
Sukar kencing
Kelelahantubuh
Kehilanganberatbadan
4. Hydrocele
Adalahpelebarankantungbuahzakarkarena tertumpuknyacairan limfedi
dalamtunica vaginalis testis. Hydrocele dapat terjadi pada satu atau dua
kantung buah zakar dengan gambaran klinis dan epidemiologissebagai berikut:
Ukuranskrotumkadang-kadangnormaltetapikadang-kadangsangat
besar sekali,sehingga penis tertarik dan tersembunyi.
Kulit pada skrotumnormal, lunak dan halus

10
Kadang-kadangakumulasicairanlimfedisertaidengankomplikasi yaitu
komplikasi denganChyle (Chylocele), darah (Haematocele) atau
nanah (Pyocele). Uji transiluminasi dapat di gunakan untuk
membedakan hidrokel dengan komplikasi dan hidrokel tanpa
komplikasi. Uji transiluminasi ini dapat di kerjakan oleh dokter
puskesmas yang telah dilatih.
HydrocelebanyakditemukandidaerahendemisW.bancroftidandi
gunakan sebagai indikator adanya infeksi W,bancrofti. (DinKes
Sumut, 2010).

2.6 Patofisiologi

Agent
Filariasis disebabkan oleh cacing filarial pada manusia, yaitu (1)
W.bancrofti; (2) B.malayi; (3) B.timori', (4) Loa loa\ (5) Onchocerca volvulus', (6)
Acanthocheilonema perstants; (7) Mansonella azzardi. Yang terpenting ada tiga
spesies, yaitu W.bancrofti,B.malayi,dan B timori.
Cacing ini habitatnya dalam sistern peredarah darah, limpha, otot,jaringan
ikat atau rongga serosa. Cacing dewasa mempakan cacing yang langsing seperti
benang berwarna putih kekuningan, panjangnya 2 - 70 cm, cacing betma
panjangnya lebih kurang dua kali cacing jantan. Biasanya tidak mempunyai bibir
yang jelas, mulutnya sederhana, rongga mulut tidak nyata. Esofagus berbentuk
seperti tabung, tanpa bulbus esofagus, biasanya bagian anterior berotot sedangkan
bagian posterior berkelenjar.
Filaria membutuhkan insekta sebagai vektor. Nyamuk culex adalah vektor
dari penyakit filariasis W. bancrofti dan B.malayi. Jumlah spesies Anopheles,
Aedes, Culex, dan Mansonia cukup banyak, tetapi kebanyakan dari spesies
tersebut tidak penting sebagai vektor alami.
2.7 Patogenesis
Perkembangan klinis filariasis dipengaruhi oleh faktor kerentanan individu
terhadap parasit, seringnya mendapat gigitan nyamuk, banyaknya larva infektif
yang masuk ke dalam tubuh adanya infeksi sekunder oleh bakteri atau jamur.
Secara umum perkembangan klinis filariasis dapat dibagi menjadi fase dini dan
fase lanjut. Pada fase dini timbul gejala klinis akut karena infeksi cacing dewasa
bersama-sama dengan infeksi oleh bakteri dan jamur. Pada fase lanjut terjadi

11
kerusakan saluran dan kerusakan kelenjer, kerusakan katup saluran limfe,
termasuk kerusakan saluran limfe kecil yang terdapat dikulit.
Pada dasarnya perkembangan klinis filariasis tersebut disebabkan karena
cacing dilaria dewasa yang tinggal dalam saluran limfe bukan penyumbatan
(obstruksi), sehingga terjadi gangguan fungsi sistem limfatik :
1. Penimbunan cairan limfe.
2. Terganggunya pengangkutan bakteri dari kulit atau jaringan melalui
saluran limfe ke kelenjer limfe.
3. Kelenjer limfe tidak dapat menyerang bakteri yang masuk dalam kulit.
4. Infeksi bakteri benilang akan menyebabkan serangan akut bemlang
(recurrentacuteattack).
5. Kerusakan sistem limfatik, termasuk kerusakan saluran limfe kecil yang
ada di kulit, menyebabkan menurunnya kemampuan untuk mengalirkan
cairan limfe dari kulit danj aringan ke kelenjer limfe sehingga dapat terjadi
limfedema.
6. Pada penderita limfedema, serangan akut berulang oleh bakteri atau jamur
akan menyebabkan penebalan dan pengerasan kulit, hiperpigmentasi,
hiperkeratosis dan peningkatan pembentukkan jaringan ikat (fibrose tissue
formation) sehingga terjadi penigkatan stadium limfedema, dimana
pembengkakkan yang semula terjadi hilang timbul akan menjadi
pembengkakkan menetap.
Siklus penularan Filariasis
1. Tahap perkembangan dalam tubuuh nyamuk (vektor)
a. Saat nyamuk (vektor) menghisap darah penderita (mikrofilaremia)
beberapa mikrofilaria ikut terhisap bersama darah dan masuk dalam
lambung nyamuk.
b. Beberapa saat setelah berada dalam lambung nyamuk, mikrofilaria
melepas selubung, kemudian menerobos dinding lambung menuju ke
rongga badan dan selanjutnya ke jaringan otot thoraks.
c. Di dalam jaringan otot thoraks, larva stadium I (L1) berkembang
menjadi bentuk larva stadium II (L2) dan selanjutnya berkembang
menjadi larva stadium III (L3) yang infektif.
d. Waktu untuk perkembangan dari L1 menjadi L3 (masa inkubasi
ekstrinsik) untuk W. bancrofti antara 10-14 hari, B. malayi dan B.
timori 7-10 hari.

12
e. L3 bergerak menuju proboscis (alat tusuk) nyamuk dan akan
dipindahkan ke manusia pada saat nyamuk menggigit.
f. Mikrofilariasis di dalam tubuh nyamuk hanya mengalami perubahan
bentuk dan tidak berkembangbiak (Cyclicodevelopmental) sehngga
diperlukan gigitan berulang kali untuk terjadinya infeksi.
2. Tahap perkembangan dalam tubuh manusia dan hewn perantara (hospes
reservoir)
a. Di dalam tubh manusia L3 akan menuju sistem limfe dan selanjutnya
tumbuh menjadi cacing dewasa jantan atau betina.
b. Melalui kopulasi, cacing betina menghasilkan mikrofilaria yang
beredar dalam darah. Secara periodik seekor cacing betina akan
mengeluarkan sekitar 50.000 larva setiap hari.
c. Perkembangan L3 mnjadi cacing dewasa dan menghasilkan
mikrofilaria untuk W. Bancrofti selama 9 bulan dan untuk B. malayi
dan B. timori selama 3 bulan.
d. Perkembangan seperti ini terjadi juga dalam tubuh hewan reservoir
(lutung dan kucing).
2.8 Penegakan Diagnostik (Assessment)
Diagnosis pasti ditegakkan dengan ditemukannya rnikrofilaria dalam darah
tepi, kiluria, eksudat, varises limfe, dan cairan limfe dan cairan hidrokel, atau
ditemukannya cacing dewasa pada biopsi kelenjer limfe atau pada penyinaran
didapatkan cacing yang sedang mengadakan kalsifikasi. Sebagai diagnosis
pembantu, pemeriksaan darah menunjukkan adanya eosinofili antara 5 - 15%.
Selain itu juga melalui tes intradermal dan tes fiksasi komplemen dapat rnembantu
rnenegakkan diagnosis.
2.8.1. Diagnosis Klinis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang identifikasi mikrofilaria. Di daerah endemis, bila
ditemukan adanya limfedema di daerah ekstremitas disertai dengan kelainan
genital laki-laki pada penderita dengan usia lebih dari 15 tahun, bila tidak ada
sebab lain seperti trauma atau gagal jantung kongestif kemungkinan filariasis
sangat tinggi.

13
A. Gejala Klinis
Gejala inflamasi kemungkinan juga disebabkan oleh cairan yang
dikeluarkan oleh larva pada waktu pergantian kulitnya, dan mungkin pula oleh zat
mukoid yang dikeluarkan cacing betina pada waktu mengeluarkan larvanya.
Cacing dewasa yang mati dapat menimbulkan kalsifikasi, fibrosis dan obliterasi
total saluran limfe. Jalannya penyakit filariasis dapat dibagi dalam beberapa tahap:
1) Masa inkubasi biologis
Berlangsung dari masuknya larva stadium 3 ke dalam tubuh, sampai
terdapat mikrofilaria untuk pertama kali dalam darah. Bagi penduduk yang
berdiam di daerah endemik sejak kecil, masa inkubasi ini berlangsung kurang
lebih satu tahun dan biasanya tidak disertai dengan gejala klinis.
2) Masa paten tanpa gejala
Berlangsung mulai dari terdapatnya mikrofilaria di dalam darah sejak kecil
di daerah endemik, masa ini kadang-kadang dapat berlangsung seumur hidup
tanpa penderita ini sadar bahwa di dalam darahnya mengandung parasit filaria.
3) Stadium akut
Penderita mengeluh demam, terdapat pembesaran kelenjar limfe yang
terasa nyeri dan panas. Gejala berupa demam, limfangitis dan limfadenitis.
4) Stadium menahun
Stadium akut lambat laun beralih ke stadium menahun dengan gejala
hidrokel, kiluria, limfedema dan elefantiasis.

Filariasis dapat menimbulkan gangguan saluran napas yang disebut


sebagai Tropical Pulmonary Eosinophilia (TPE), pada keadaan ini terjadi
hiperesponsif reaksi imunologi terhadap antigen filaria. Gejala yang timbul adalah
hipereosinofilia (20-90%), kadang-kadang disertai batuk dngan sesak napas,
pembesaran kelenjar limfe dan tidak ditemukan microfilaria dalam darah.
Perjalanan penyakit filariasis terutama dipengaruhi oleh faktor toleransi.
Di daerah endemik, banyak penderita yang mengandung mikrofilaria di dalam
darahnya merasa tidak sakit. Hal sebaliknya terjadi pada pendatang yang dianggap
tidak mempunyai kekebalan, banyak yang jatuh sakit setelah beberapa minggu
berada di daerah endemik dengan gejala filariasis.

14
B. Pemeriksaan Laboratorium
1. Deteksi parasit : menemukan mikrofilaria dalam darah, cairan hidrokel atau
cairan kiluria, asites, dan cairan pleura. Diagnosis dapat dibuktikan dengan
menemukan mikrofilaria dalam darah tepi dengan cara pembuatan sediaan
darah tipis dan tebal yang dipulas dengan giemsa. Parasitemia yang rendah,
dapat dilakukan teknik konsentrasi metode Knott, teknik provokasi, atau
membran filtrasi.
a. Teknik konsentrasi metode Knott : darah vena sebanyak 1
ml ditambah 10 ml formalin 2% untuk hemolisis dan
sedimen diperiksa secara langsung (direct smear) atau
diwarnai dengan giemsa.
b. Teknik provokasi : dilakukan untuk menginduksi
mikrofilaria ke darah tepi menggunakan DEC dosis tunggal.
Sampel darah diambil 15 menit -1 jam setelah pengobatan,
dengan menggunakan DEC 100 mg yang diminum secara
oral, biasanya dapat menimbulkan microfilaria dalam darah
tepi.
c. Teknik membrane filtrasi : darah vena diambil pada malam
hari dan disaring melalui filter membran berpori silindris
polikarbonat, memudahkan deteksi mikrofilaria dan
menghitung beratnya infeksi. Biasanya diamati pada tahap
awal penyakit sebelum manifestasi klinis berkembang.
Setelah limfedema, mikrofilaria umumnya sudah tidak ada
dalam darah perifer.

2.8.2 Diagnosis Banding


1. Infeksi bakteri, tromboflebitis atau trauma dapat mengacaukan
adenolimfadenitis filariasis akut
2. Tuberkulosis, lepra, sarkoidosis dan penyakit sistemik granulomatous
lainnya.

2.8.3 Komplikasi
Pembesaran organ (kaki, tangan, skrotum atau bagian tubuh lainnya)
akibat obstruksi saluran limfe.

15
2.9 Penetapan Endemisitas
Microfilaria rate (Mf rate) adalah indikator yang digunakan untuk
menentukan endemisitas suatu daerah yang diperoleh melalui survei darah jari
pada suatu populasi.Survei darah jari adalah identifikasi mikrofilaria dalam darah
tepi pada suatu populasi, yang bertujuan untuk menentukan endemisitas daerah
tersebut dan intensitas infeksinya.Bila pada pemeriksaan darah tepi terdapat
mikrofilaria dalam darah seseorang, maka seseorang tersebut dinyatakan
mikrofilaria positif.Mf rate bisa dihitung dengan cara membagi jumlah penduduk
yang sediaan daranya positif mikrofilaria dengan jumlah sediaan darah yang
diperiksa dikali seratus persen.

Mf Rate =Jumlah sediaan darah (+) mikrofilaria/Jumlah sediaan darah diperiksa x


100%
Bila Mf Rate > 1% disalah satu atau lebih lokasi survei maka
kabupaten/kota tersebut ditetapkan sebagai daerah endemis filariasis dan harus
melaksanakan pengobatan massal. Bila Mf Rate < 1% pada semua lokasi survei,
maka kabupaten/kota tersebut ditetapkan sebagai daerah endemis rendah dan
melaksanakan pengobatan selektif, yaitu pengobatan hanya diberikan pada setiap
orang yang positif mikrofilaria beserta anggota keluarga serumah (Depkes RI,
2009b).
2.10 Nyamuk Sebagai Vektor Filariasis
2.10.1 Siklus Hidup Nyamuk
Dalam siklus hidup nyamuk terdapat 4 stadia dengan 3 stadia berkembang
di dalam air dari satu stadia hidup dialam bebas (Nurmaini, 2003):
1. Nyamuk Dewasa
Nyamuk jantan dan betina dewasa perbandingan 1 : 1, nyamuk jantan
keluar terlebih dahulu dari kepompong, baru disusul nyarnuk betina, dan nyamuk
jantan tersebut akan tetap tinggal di dekat sarang, sampai nyamuk betina keluar
dari kepompong, setelah jenis betina keluar, maka nyamuk jantan akan langsung
mengawini betina sebelum mencari darah. Selama hidupnya nyamuk betina hanya
sekali kawin. Dalam perkembangan telur tergantung kepada beberapa faktor
antara lain temperatur dan kelembaban serta species dari nyamuk ( Nurmaini,
2003). Kettle dalam Boesri (2012) menyatakan bahwa perkembangan telur
nyamuk Mansonia uniformis sampai dewasa (imago) pada lingkungan

16
temperature 26-30C memerlukan waktu antara 25 sampai 40 hari, sama pada
nyamuk Mansonia Africana.

2. Telur Nyamuk
Nyamuk biasanya meletakkan telur di tempat yang berair, pada tempat
yang keberadanya kering telur akan rusak dan mati. Kebiasaan meletakkan telur
dari nyamuk berbeda -beda tergantung dari jenisnya :
Nyamuk Mansonia meletakkan telurnya menempel pada tumbuhan-
tumbuhan air, dan diletakkan secara bergerombol berbentuk karangan
bunga (Nurmaini, 2003).
Telur nyamuk Mansonia uniformis biasanya diletakkan dalam bentuk
kelompok pada permukaan bawah daun tumbuhan inangnya yang hidup
di daerah rawa-rawa yang banyak tumbuhan air (Boesri, 2012).
Nyamuk Anopheles akan meletakkan telurnya dipermukaan air satu
persatu atau rombolan tetapi saling lepas, telur anopeles mempunyai alat
pengapung (Nurmaini, 2003).
Nyamuk Culex akan meletakkan telur diatas permukaan air secara
bergerombolan dan bersatu berbentuk rakit sehingga mampu untuk
mengapung (Nurmaini, 2003).
Nyamuk Aedes meletakkan telur dan menempel pada yang terapung
diatas air atau menempel pada permukaan benda yang merupakan tempat
air pada batas permukaan air dan tempatnya. Stadium telur ini memakan
waktu 1 -2 hari (Nurmaini, 2003).

3. Jentik nyamuk
Pada perkembangan stadium jentik adalah pertumbuhan dan melengkapi
bulu-bulunya, stadium jentik mermerlukan waktu 1 minggu.Pertumbuhan jentik
dipengaruhi faktor temperatur, nutrien, ada tidaknya binatang predator (Nurmaini,
2003). Horsfall dalam Boesri (2012) bahwa larva Mansonia uniformis dapat hidup
terbenam dalam suatu massa ikatan sebagai sampah di sekitar sistem perakaran
tumbuhan air, akan memakan segala macam partikel organik yang ada
disekitarnya, akan tetapi larva ini pula dapat menjadi mangsa binatang
kecil/protozoa lainnya yang menjadi musuhnya.

17
4. Kepompong
Merupakan stadium terakhir dari nyamuk yang berada di dalam air, pada
stadium ini memerlukan makanan dan terjadi pembentukan sayap hingga dapat
terbang, stadium kepompong memakan waktu lebih kurang 1 -2 hari (Nurmaini,
2003).

Gambar 2.2 Nyamuk Mansonia spp

2.10.2 Tempat Berkembangbiak (Breeding Places)


Dalam perkembangbiakan nyamuk selalu memerlukan tiga macam tempat
yaitu tempat berkembangbiak (breeding places), tempat untuk mendapatkan
umpan/darah (feeding places) dan tempat untuk beristirahat (resting places).
Nyamuk mempunyai tipe breeding places yang berlainan seperti Mansonia
senang berkembang biak di kolam-kolam, rawa-rawa danau yang banyak tanaman
airnya (Nurmaini, 2003). Tempat berkembangbiak nyamuk Mansonia uniformis
digolongkan dalam tiga tipe dasar yaitu : (1) daerah rawa-rawa terbuka yang
manatumbuhan yang dominan adalah Isachene globosa dan Panicum

18
amplixicaule. Daerah tipe ini sangat disenangi dan tempat berkembangbiak
nyamuk Mansonia uniformis dan Mansonia crassipes, (2) daerah yang merupakan
batas hutan dan merupakan tempat/rawa dengan hutan terbuka. Daerah ini
disenangi oleh nyamuk Mansonia annulata, (3) daerah hutan yang berawa dengan
segala macam keanekaragaman tumbuhan yang dapat memberi kemungkinan
tempat berkembangbiak jenis nyamuk seperti Mansonia dives, Mansonia bonneae,
dan Mansonia nigrossignata. Kolam atau sawah terbuka yang banyak ditumbuhi
tanaman air karena kurang digarap, dapatmenjadi tempat berkembangbiak nyamuk
Mansonia, apalagi jika kolam tersebut mempunyai kedalaman 15-100 cm
(Wharton dalam Boesri, 2012).Culex dapatberkembang di sembarangan tempat
air, sedangkan Aedes hanya dapat berkembangbiak diair yang cukup bersih dan
tidak beralaskan tanah langsung.

2.10.3 Kebiasaan Menggigit


Waktu keaktifan mencari darah dari masing -masing nyamuk berbeda
beda, nyamuk Mansonia uniformis tempat beristirahat pada umumnya di luar
rumah dan aktif pada malam hari (Wharton dalam Boesri, 2012). Aktifitas
Mansonia uniformismenggigit di luar rumah dimulai pada pukul 18.00 sampai
pukul 19.00, kemudian menurun pada pukul 19.00 sampai pukul 20.00. Pada
pukul 20.00 sampai pukul 21.00intensitas menggigitnya kembali meningkat dan
dengan kepadatan yang sama pada pukul 21,00 sampai pukul 22.00 (Ambarita dan
Hotnida, 2004). Nyamuk yang aktif padamalam hari menggigit adalah Anopheles
dan Culex , sedangkan nyamuk yang aktif pada siang hari menggigit yaitu Aedes.

2.10.4 Kebiasaan Beistirahat (Resting Places)


Biasanya setelah nyamuk betina menggigit orang/hewan, nyamuk tersebut
akan beristirahat selama 2 -3 hari, misalnya pada bagian dalam rumah sedangkan
diluar rumah seperti gua, lubang lembab, tempat yang berwarna gelap dan lain
lain merupakan tempat yang disenangi nyamuk untuk berisitirahat (Nurmaini,
2003). Penelitian dan pengamatan perilaku dan kebiasaan istirahat nyamuk
Mansonia menurut Krafsur dalam Boesri (2012) di Gambela
(Ethiopia)mendapatkan kepadatan populasi Mansonia uniformis dan Mansonia
africanus yang istirahat dalam rumah sangat rendah dan bersifatantropofilik.
Smith dalam Boesri (2012) dengan penelitian di Afrika menemukan Mansonia
uniformis dan Mansonia africanus selalumengisap darah dan istirahat di luar

19
rumah. Siklus gonotropik dari kedua nyamuk ini adalah 3,3 - 4,1 hari untuk
Mansonia uniformis dan 3,4 3,8hari untuk Mansonia indiana. Wharton dalam
Boesri (2012) juga telahmenemukan banyak nyamuk Mansonia uniformis di
celah-celah batu dibawah rumput-rumputan.

20
2.11Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)
A. Penatalaksanaan
Terapi Non Farmakologi
Perawatan terhadap penderita filariasis dapat dilakukan dengan cara sebagai
berikut :
a. Istirahat di ternpat, pindah ke daerah yang dingin akan mengurangi derajat
serangan akut.
b. Antibiotik dapat diberikan untuk infeksi sekunder dan asbes.
c. Pengikatan di daerah pembendungan akan mengurangi edema.

Terapi Farmakologi
Terapi filariasis bertujuan untuk mencegah atau memperbaiki perjalanan
penyakit, antara lain dengan :
1. Memelihara kebersihan kulit.
2. Fisioterapi kadang diperlukan pada penderita limfedema kronis.
3. Obat antifilaria adalah Diethyl carbamazine citrate (DEC) dan Ivermektin
(obat ini bermanfaat apabila diberikan pada fase akut yaitu ketika pasien
mengalami limfangitis).
4. DEC dapat membunuh mikrofilaria dan cacing dewasa. Ivermektin
merupakan antimikrofilaria yang kuat, tetapi tidak memiliki efek
makrofilarisida.
5. Dosis DEC 6 mg/kgBB, 3 dosis/hari setelah makan, selama 12 hari, pada
Tropical Pulmonary Eosinophylia (TPE) pengobatan diberikan selama tiga
minggu.
6. Efek samping bisa terjadi sebagai reaksi terhadap DEC atau reaksi
terhadap cacing dewasa yang mati. Reaksi tubuh terhadap protein yang
dilepaskan pada saat cacing dewasa mati dapat terjadi beberapa jam
setelah pengobatan, didapat 2 bentuk yang mungkin terjadi yaitu reaksi
sistemik dan reaksi lokal :
a. Reaksi sistemik berupa demam, sakit kepala, nyeri badan, pusing,
anoreksia, malaise, dan muntah-muntah. Reaksi sistemik cenderung
berhubungan dengan intensitas infeksi.

21
b. Reaksi lokal berbentuk limfadenitis, abses, dan transien limfedema. Reaksi
lokal terjadi lebih lambat namun berlangsung lebih lama dari reaksi
sistemik.
c. Efek samping DEC lebih berat pada penderita onchorcerciasis, sehingga
obat tersebut tidak diberikan dalam program pengobatan masal di daerah
endemis filariasis dengan ko-endemis Onchorcercia valvulus.
d. Ivermektin diberikan dosis tunggal 150 ug/kgBB efektif terhadap
penurunan derajat mikrofilaria W.bancrofti, namun pada filariasis oleh
Brugia spp. penurunan tersebut bersifat gradual. Efek samping ivermektin
sama dengan DEC, kontraindikasi ivermektin yaitu wanita hamil dan anak
kurang dari 5 tahun. Karena tidak memiliki efek terhadap cacing dewasa,
ivermektin harus diberikan setiap 6 bulan atau 12 bulan untuk menjaga
agar derajat mikrofilaremia tetap rendah.
e. Pemberian antibiotik dan/atau antijamur akan mengurangi serangan
berulang, sehingga mencegah terjadinya limfedema kronis.
f. Antihistamin dan kortikosteroid diperlukan untuk mengatasi efek samping
pengobatan. Analgetik dapat diberikan bila diperlukan.
g. Pengobatan operatif, kadang-kadang hidrokel kronik memerlukan tindakan
operatif, demikian pula pada chyluria yang tidak membaik dengan terapi
konservatif.

B. Pencegahan
Pencegahan filariasis dapat dilakukan dengan cara yaitu :
1. Memberikan penyuluhan kepada masyarakat di daerah endemis mengenai
cara penularan dan cara pengendalian vektor (nyamuk).
2. Mengidentifikasikan vektor dengan mendeteksi adanya larva infektif dalam
nyamuk dengan menggunakan umpan manusia; mengidentifikasi waktu dan
ternpat menggigit nyamuk serta tempat perkembangbiakannya.
3. Pengendalian vektor jangka panjang yang rnungkin memerlukan perubahan
konstruksi rumah dan termasuk pemasangan kawat kasa serta pengendalian
lingkungan untuk memusnahkan tempat perindukan nyamuk.
4. Lakukan pengobatan misalnya dengan menggunakan diethyl carbamazine
citrate.

22
Upaya pencegahan filariasis oleh masyarakat dengan :
1.Menghindari diri dari gigitan nyamuk vektor
Menggunakan kelambu sewaktu tidur
Menutup ventilasi rumah dengan kawat kasa nyamuk bakar
Menoles kulit dengan obat anti nyamuk
2.Memberantas nyamuk
Membersihkan tanaman air pada rawa-rawa yang merupakan tempat
perindukan nyamuk
Menimbun, mengeringkan atau mengalirkan genangan air senbagai
tempat perindukan nyamuk
Membersihkan semak-semak di sekitar rumah

5. Konseling dan Edukasi


Memberikan informasi kepada pasien dan keluarganya mengenai penyakit
filariasis terutama dampak akibat penyakit dan cara penularannya. Pasien dan
keluarga juga harus memahami pencegahan dan pengendalian penyakit menular
ini melalui :
a. Pemberantasan nyamuk dewasa
b. Pemberantasan jentik nyamuk
c. Mencegah gigitan nyamuk

6. Rencana Tindak Lanjut


Setelah pengobatan, dilakukan kontrol ulang terhadap gejala dan mikrofilaria,
bila masih terdapat gejala dan mikrofilaria pada pemeriksaan darahnya,
pengobatan dapat diulang 6 bulan kemudian.
7. Kriteria rujukan
Pasien dirujuk bila dibutuhkan pengobatan operatif atau bila gejala tidak
membaik dengan pengobatan konservatif.

23
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Filariasis adalah penyakit tropis menular yang disebabkan oleh cacing


filaria yang ditularkan oleh nyamuk.
Spesies cacing yang menyebabkan filariasis limfatik yaitu Wuchereria
bancrofti, Brugia malayi, dan Brugia timori
Penularan filariasis dapat terjadi bila ada tiga unsur, yaitu: Sumber
penularan, yakni manusia atau hospes reservoir yang mengandung
mikrofilaria dalam darahnya. Vektor, yakni nyamuk yang dapat
menularkan filariasis.Manusia yang rentan terhadap filariasis.
Gejala klinis akut berupa limfadenitis, limfangitis, adenolimfangitis yang
disertai demam, sakit kepala, rasa lemah dan timbulnya abses.
Gejala kliniskronis terdiri dari limfedama, lympscrotum, kiluria, hidrokel
Terapi farmakologi dapat menggunakan : DEC

3.2 Saran

Dari makalah ini kami mengharapkan agar para pembaca bisa


membacanya, memahaminya dan membuat makalah ini menjadi referensi untuk
belajar mengetahui lebih jelas apa dan bagaimana penyakit filariasis. Demi
sempurnanya makalah ini kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun
dari para pembaca agar makalah ini bisa menjadi lebih baik untuk selanjutnya.

24
DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2014, Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 94 Tahun 2014 Tentang


Penanggulangan Filariasis, Menteri Kesehatan RI, Jakarta

Anonim.2014.Panduan praktik klinis bagi dokter. Pelayanan kesehatan primer


edisi revisi. Jakarta
Chin J. Manual pemberantasan penyakit menular Edisi-ke17. Jakarta:
CVInfomedika; 2006

Departemen Kesehatan (2005) Pedoman penatalaksanaan kasus klinis fialariasis,


Direktorat Jenderal PP & PL, Jakarta.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2008, Farmakope Herbal


Indonesia,113-115, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.

Dinas Kesehatan Kabupaten Padang Pariaman. Laporan tahunan P2. Padang


Pariaman:Dinas Kesehatan Kabupaten Padang Pariaman; 2013.

Gandahusada, S., Ilahude, H.D. & Pribadi, W., 1998, Parasitologi Kedokteran,
Edisi Ketiga, 221-235, Balai Penerbit FKUI, Jakarta.

Kementerian Kesehatan RI. (2010), Rencana Nasional Program Akselerasi


EliminasiFilariasis di Indonesia, Direktorat P2B2, Direktur Jenderal PP
& PL,Jakarta.

Masrizal. 2013. Jurnal Kesehatan Masyarakat, Vol. 7, No.1: Penyakit Filariasis.


Padang: Universitas Andalas.

25
26