Anda di halaman 1dari 16

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Kemajuan teknologi yang semakin pesat membuat akses informasi yang beredar
seolah tak terbendung. Masyarakat semakin cerdas dalam menentukan pilihan, yang salah
satunya adalah pilihan dalam urusan kesehatan. Dengan akses informasi yang tak terbatas
inilah, masyarakat semakin diperdalam pengetahuannya dalam bidang kesehatan, terutama
mengenai hak hak yang wajib mereka dapat dan bahkan mengenai penyakit yang mereka
derita.

Seorang dokter yang baik tentu harus memperhatikan hal tersebut, agar bisa
mengimbangi pasien yang datang untuk berobat padanya.

Penerapan kaidah bioetik merupakan sebuah keharusan bagi seorang dokter yang
berkecimpung didalam dunia medis, karena kaidah bioetik adalah sebuah panduan dasar dan
standar, tentang bagaimana seorang dokter harus bersikap atau bertindak terhadap suatu
persoalan atau kasus yang dihadapi oleh pasiennya.

Kaidah bioetik harus dipegang tegush oleh seorang dokter dalam proses pengobatan
pasien, sampai pada tahap pasien tersebut tidak mempunyai ikatan lagi dengan dokter yang
bersangkutan.

Pada kasus kali ini, penulis akan membahas tentang kasus yang dialami oleh dokter
Bagus, seorang dokter yang mendedikasikan diri pada pelayanan pada orang kecil di daerah
terpencil.

1.2 Rumusan Masalah

Rumusan masalah yang digunakan dalam makalah ini adalah Totalitas seorang
dokter dalam pelayanannya.

Penulis memilih rumusan masalah ini karena rumusan ini sudah mencakup banyak aspek
yang menjadi masalah atau kendala dalam pelayanan sang dokter di tempat tugasnya,
sehingga mudah untuk dijabarkan atau dijelaskan.
1.3 Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan makalah ilmiah ini adalah agar mahasiswa Fakultas Kedokteran
UKRIDA dapat memahami dengan sungguh dan mampu menerapkan kaidah bioetik seperti
Beneficence, Non - Malficence, Autonomy dan Justice apabila sudah terjun kedunia kerja
yang sesungguhnya.

PEMBAHASAN

2.1 Defenisi bioetik

Sepanjang perjalanan sejarah dunia Kedokteran, banyak defenisi dan paham mengenai
bioetika yang dilontarkan oleh para ahli etika dari berbagai belahan dunia. Pendapat pendapat
ini dibuat untuk merumuskan suatu pemahaman bersama tentang apa itu bioetika.

Bioetika berasal dari kata bios yang berati kehidupan dan ethos yang berarti norma-
norma atau nilai-nilai moral. Bioetika merupakan studi interdisipliner tentang masalah yang
ditimbulkan oleh perkembangan di bidang biologi dan ilmu kedokteran baik skala mikro
maupun makro, masa kini dan masa mendatang. Bioetika mencakup isu-isu sosial, agama,
ekonomi, dan hukum bahkan politik. Bioetika selain membicarakan bidang medis, seperti
abortus, euthanasia, transplantasi organ, teknologi reproduksi butan, dan rekayasa genetik,
membahas pula masalah kesehatan, faktor budaya yang berperan dalam lingkup kesehatan
masyarakat, hak pasien, moralitas penyembuhan tradisional, lingkungan kerja, demografi,
dan sebagainya. Bioetika memberi perhatian yang besar pula terhadap penelitian kesehatan
pada manusia dan hewan percobaan.

Menurut F. Abel, Bioetika adalah studi interdisipliner tentang masalah-masalah yang


ditimbulkan oleh perkembangan biologi dan kedokteran, tidak hanya memperhatikan
masalah-masalah yang terjadi pada masa sekarang, tetapi juga memperhitungkan timbulnya
masalah pada masa yang akan datang.

2.2 Pembahasan Masalah


Kaidah kaidah bioetik merupakah sebuah hukum mutlak bagi seorang dokter. Seorang

dokter wajib mengamalkan prinsip prinsip yang ada dalam kaidah tersebut, tetapi pada

beberapa kasus, karena kondisi berbeda, satu prinsip menjadi lebih penting dan sah untuk

digunakan dengan mengorbankan prinsip yang lain. Kondisi seperti ini disebut Prima Facie.

Konsil Kedokteran Indonesia, dengan mengadopsi prinsip etika kedokteran barat,

menetapkan bahwa, praktik kedokteran Indonesia mengacu kepada kepada 4 kaidah dasar

moral yang sering juga disebut kaidah dasar etika kedokteran atau bioetika, yaitu:

Beneficence

Non - Maleficence

Justice

Autonomi

2.2.1 Beneficence

Dalam arti bahwa seorang dokter berbuat baik, menghormati martabat manusia,

dokter tersebut harus berusaha maksimal agar pasiennya tetap dalam kondisi sehat. Perlakuan

terbaik kepada pasien merupakan poin utama dalam kaidah ini. Kaidah beneficence

menegaskan peran dokter untuk menyediakan kemudahan dan kesenangan kepada pasien

mengambil langkah positif untuk memaksimalisasi akibat baik daripada hal yang buruk.

Prinsip prinsip yang terkandung didalam kaidah ini adalah;

Mengutamakan Alturisme

Menjamin nilai pokok harkat dan martabat manusia

Memandang pasien atau keluarga bukanlah suatu tindakan tidak hanya

menguntungkan seorang dokter


Tidak ada pembatasan goal based

Mengusahakan agar kebaikan atau manfaatnya lebih banyak dibandingkan dengan

suatu keburukannya

Paternalisme bertanggung jawab/kasih sayang

Menjamin kehidupan baik-minimal manusia

Memaksimalisasi hak-hak pasien secara keseluruhan

Menerapkan Golden Rule Principle, yaitu melakukan hal yang baik seperti yang

orang lain inginkan

Memberi suatu resep berkhasiat namun murah

Mengembangkan profesi secara terus menerus

Minimalisasi akibat buruk

Kaidah Benefince dalam kasus dokter Bagus

1. Dokter Bagus telah lama bertugas di suatu desa terpencil yang sangat jauh dari kota.

Sehari-harinya ia bertugas di sebuah puskesmas yang hanya ditemani oleh seorang mantri,

hal ini merupakan pekerjaan yang cukup melelahkan karena setiap harinya banyak warga

desa yang datang berobat karena puskesmas tersebut merupakan satu-satunya sarana

kesehatan yang ada. Dokter Bagus bertugas dari pagi hari sampai sore hari tetapi tidak

menutup kemungkinan ia harus mengobati pasien dimalam hari bila ada warga desa yang

membutuhkan pertolongannya. (Paragraf 1).

Disini dokter bagus menunjukan bahwa ia melayani pasien tanpa mengenal batas

waktu, walaupun sebenarnya ia merasakan kelelahan, tetapi hal tersebut tidak meruntuhkan
niatnnya untuk menolong pasien dokter bagus juga rela berkorban demi orang lain.

Dalam kasus ini, dokter bagus telah menjalankan prinsip altruisme dalam kaidah

Beneficence.

2. Setelah memeriksakan anak tersebut, dokter Bagus menyarankan agar anak tersebut

dirawat dirumah sakit yang berada dikota.(Paragraf 2).

Dapat kita lihat bahwa dokter bagus juga telah melakukan suatu tindakan yang

berhubungan dengan Kaidah Beneficence yaitu mengusahakan agar kebaikan atau manfaat

lebih banyak dibandingkan dengan keburukannya, dan meminimalisasi akibat buruk.

3. Dokter Bagus memberikan beberapa macam obat dan vitamin serta nasehat agar

istirahat yang cukup. (Paragraf 2).

Disini dokter Bagus memberi perhatian penuh kepada pasien, dalam mengusahakan

agar kebaikan serta manfaatnya lebih besar dibandingkan dengan kerugian yang akan

diterima pasien.

4. Pak mantri tolong bikinkan puyer untuk anak ibu ini dan setelah itu tolong jelaskan

cara membuat air oralit pada ibu ini kata dokter Bagus kepada pak mantri. (Paragraf 3)

Dapat dilihat jika dokter Bagus juga menjalankan prinsip Benefince yang ke 15 yaitu,

memberikan obat berkhasiat namun murah kepada pasiennya.

5. Pak, yang hanya dapat saya lakukan adalah memberi obat obatan penunjang agar

anak bapak tidak terlalu menderita kata dokter Bagus sambil menyerahkan obat kepada

orang tua pasien. (Paragraf 4).

Dokter bagus memberikan obat penunjang untuk meminimalisasi akibat buruk agar

pasien tidek terlalu menderita.

6. Sambil bersimbah peluh, dokter Bagus akhirnya menyelesaikan tindakan amputasi

telapak tangan pemuda yang mengalami kecelakaan tersebut. (Paragraf 5). Disini
dokter Bagus menunjukkan sisi paternalisme penuh kasih sayang dan bertanggung jawab

sebagai seorang dokter dalam menangani pasiennya.

7. Demikianlah kegiatan sehari-hari dokter Bagus dan tanpa terasa sudah 25 tahun

dokter Bagus mengabdi di desa tersebut dan kini usianya sudah memasuki 55 tahun, namun

belum ada sedikitpun dibenaknya dokter Bagus untuk mencari pendamping hidupnya, yang

ada hanya bagaimana mengobati pasien-pasiennya (Paragraf 7).

Disini dokter Bagus menunjukkan sisi altruisme, ia menolong dan rela berkorban

demi kepentingan orang lain, dan tidak mementingkan dirinya sendiri.

2.2.2 Non Malficence

Non-malficence adalah suatu prinsip yang mana seorang dokter tidak melakukan

perbuatan yang memperburuk pasien dan memilih pengobatan yang paling kecil resikonya

bagi pasien yang dirawat atau diobati olehnya. Pernyataan kuno Fist, do no harm, tetap

berlaku dan harus diikuti. Non-malficence mempunyai ciri-ciri:

Menolong pasien emergensi

Mengobati pasien yang luka

Tidak membunuh pasien

Tidak memandang pasien sebagai objek

Tidak menghina/mencaci maki/memanfaatkan pasien

Melindungi pasien dari serangan


Manfaat pasien lebih banyak daripada kerugian dokter

Tidak membahayakan pasien karena kelalaian

Menghindari misrepresentasi

Memberikan semangat hidup

Tidak melakukan white collar crime

Kaidah Non - Maleficence dalam kasus dr. Bagus:

1. Ketika yang lain sibuk membaringkan pemuda yang tidak sadarkan diri tersebut, salah

satu orang mengatakan bahwa pemuda tersebut telapak tangan sebelah kanannya masuk

kedalam mesin penggilingan padi dan setelah 15 menit kemudian telapak tangan pemuda

tersebut baru dapat dikeluarkan dari mesin penggilingan padi. Pada pemeriksaan, dokter

Bagus mendapatkan telapak tangan pemuda tersebut hancur. Dokter Bagus bertanya kepada

orang-orang yang mengantar pemuda tadi apakah diantara mereka ada keluarga dari pemuda

tersebut. Dari serombongan orang tadi keluar seorang perempuan, ia mengatakan bahwa ia

adalah istri dari pemuda tersebut. Dokter Bagus menjelaskan keadaan telapak tangan kanan

suaminya dan tindakan yang harus dilakukan adalah amputasi. (Paragraf 5).

Disini dokter Bagus menunjukkan usahanya yaitu melakukan amputasi dalam hal

untuk meminimalisasi akibat buruk yang akan merugikan pasien, seperti kehilangan nyawa

akibat pendarahan.

2.2.3 Autonomi

Dalam kaidah ini, seorang dokter wajib menghormati martabat dan hak manusia. Setiap

individu harus diperlakukan sebagai manusia yang mempunyai hak menentukan nasib
sendiri. Dalam hal ini pasien diberi hak untuk berfikir secara logis dan membuat keputusan

sendiri. Autonomi bermaksud menghendaki, menyetujui, membenarkan, membela, dan

membiarkan pasien demi dirinya sendiri. Kaidah Autonomi mempunyai prinsip prinsip

sebagai berikut:

Menghargai hak menentukan nasib sendiri

Tidak mengintervensi pasien dalam membuat keputusan

Berterus terang menghargai privasi

Menjaga rahasia pasien

Menghargai rasionalitas pasien

Melaksanakan Informed Consent

Membiarkan pasien dewasa dan kompeten mengambil keputusan sendiri

Tidak mengintervensi atau menghalangi autonomi pasien

Mencegah pihak lain mengintervensi pasien dalam membuat keputusan, termasuk

keluarga pasien sendiri

Sabar menunggu keputusan yang akan diambil pasien pada kasus non emergensi

Tidak berbohong kepada pasien meskipun demi kebaikann pasien

Mejaga hubungan atau kontrak

Kaidah Autonomi dalam kasus dr. Bagus :


1. Namun ibu tersebut menolak karena tidak mempunyai uang untuk berobat.

Baiklah kalau begitu saya akan memberi ibu obat dan oralit untuk anak ibu, nanti ibu

berikan obat tersebut sesuai dengan aturan dan usahakan anak ibu minum oralit sesering

mungkin, nanti sore setelah selesai tugas saya akan mampir kerumah ibu untuk melihat

kondisi keadaan anak ibu, kata dokter Bagus. (Paragraf 3).

Disini dokter Bagus menunjukkan bahwa setiap keputusan itu berada di tangan

pasien, dan dokter bagus tidak mengintervensi keputusan dari ibu tersebut. Dia juga tetap

menjaga hubungan atau kontrak dengan pasien, dengan berjanji akan mengunjungi anak dari

ibu tersebut

2. Dokter Bagus menjelaskan keadaan telapak tangan kanan suaminya dan

tindakan yang harus dilakukan adalah amputasi. (Paragraf 5).

Disini dokter bagus berterus terang dan tidak berbohong demi kebaikan pasien itu

sendiri.

3. Melihat kondisi pasien yang baik dan stabil, akhirnya pasien diperbolehkan

pulang dengan diberi beberapa macam obat dan anjuran agar besok datang kembali untuk

kontrol. (Paragraf 5).

Dapat dilihat bahwa dokter Bagus sepenuhnya memberikan keputusan kepada pasien,

apakah dia mau dirawat atau tidak, dan dokter Bagus pun tetap menjaga hubungannya dengan

pasien melalui kontrol rutin yang dilakukannya.

4. Setelah menerima penjelasan tentang kemungkinan penyakit yang dideritanya,

pasien pulang dengan membawa surat rujukan tersebut. (Paragraf 6)


Dapat kita lihat juga dalam paragraph ini, bahwa dokter Bagus selalu menerapkan

prinsip prinsip yang ada didalam kaidah Autonomi. Dalam kasus ini, dokter Bagus

menerapkan prinsip ke 3, yaitu berterus terang kepada pasiennya.

2.2.4 Justice

Keadilan atau Justice adalah suatu prinsip dimana seorang dokter wajib memberikan

perlakuan sama rata serta adil untuk kebahagiaan dan kenyamanan pasien tersebut. Perbedaan

tingkat ekonomi, pandangan politik, agama, kebangsaan, perbedaan kedudukan sosial,

kebangsaan, dan kewarganegaraan tidak boleh mengubah sikap dan pelayanan dokter

terhadap pasiennya. Justice mempunyai ciri-ciri :

Memberlakukan segala sesuatu secara universal

Mengambil porsi terakhir dari proses membagi yang telah ia lakukan

Memberikan kesempatan yang sama terhadap pribadi dalam posisi yang sama

Menghargai hak sehat pasien

Menghargai hak hukum pasien

Menghargai hak orang lain

Menjaga kelompok rentan

Tidak membedakan pelayanan terhadap pasien atas dasar SARA, status social, dan

sebagainya

Tidak melakukan penyalahgunaan

Memberikan kontribusi yang relatif sama dengan kebutuhan pasien


Meminta partisipasi pasien sesuai dengan kemampuannya

Kewajiban mendistribusikan keuntungan dan kerugian secara adil

Mengembalikan hak kepada pemiliknya pada saat yang tepat dan kompeten

Tidak memberi beban berat secara tidak merata tanpa alasan sah atau tepat

Menghormati hak populasi yang sama sama rentan penyakit atau gangguan kesehatan

Bijak dalam makroalokasi

Kaidah Justice dalam kasus dr. Bagus :

1. Pada suatu pagi hari, ketika ia datang ke puskesmas sudah ada 4 orang pasien yang

sedang mengantri. Dokter bagus memeriksa pasien sesuai nomor urut pendaftaran, hal ini

dilakukannya agar pemeriksaan pasien berjalan tertib teratur. (Paragraf 2).

Disini dokter Bagus menunjukkan keadilannya dalam menangani pasien, ia

memeriksa pasiennya secara teratur menurut nomor urut agar pemeriksaan berjalan dengan

tertib, lancar dan tidak membeda-bedakan pasien.

2. Pak mantri tolong bikinkan puyer untuk anak ibu ini dan setelah itu tolong jelaskan

cara membuat air oralit pada ibu ini kata dokter Bagus kepada pak mantri. (Paragraf 3)

Dari percakapan dokter bagus diatas, dapat dilihat jika dokter Bagus menjalankan

prinsip Justice yang ke sepuluh, yaitu memberikan kontribusi yang relatif sama dengan

kebutuhan pasien

3. Dokter Bagus meminta kesediaan pasien keempat untuk menunggu diluar karena ia

akan terlebih dahulu memberi pertolongan pada pemuda tersebut. (Paragraf 5).
Di sini dokter bagus menjalankan prinsip Justice yang ketiga, yaitu memberi

kesempatan yang sama terhadap pribadi dalam posisi yang sama.

PENUTUP

3. Kesimpulan

Dari hasil pembahasan mengenai kasus dokter Bagus, dapat ditarik kesimpulan bahwa dokter

Bagus melaksanakan segala tugas praktek kedokterannya berdasarkan prinsip-prinsip yang

ada di dalam kaidah bioetika kedokteran, yaitu beneficence, non maleficence, justice dan

autonomi.

Sesuai prinsip beneficence dokter Bagus memberikan usaha yang terbaik untuk kesembuhan

pasien. Ia mengutamakan kepentingan pasien. Kemudian sesuai prinsip non maleficence,

dokter bagus mengutamakan keselamatan pasien, terutama pada saat pasien dalam keadaan

darurat. Yang ketiga sesuai prinsip justice, dokter Bagus mengutamakan keadilan baik untuk

pasien itu sendiri maupun keluarga pasien. Dan yang terakhir menurut prinsip autonomi,

dokter Bagus mengutamakan hak-hak pasien dalam mengambil keputusan tentang

penanganan terhadap penyakit yang pasien alami dan menghormati hak pasien dalam

menentukan nasibnya sendiri.


Prinsip-prinsip dalam bioetik tersebut dapat diterapkan dalam menghadapi pasien, sehingga

terciptanya situasi yang, baik bagi hubungan pasien dan dokter dalam pelayanan kesehatan

demi kesembuhan pasien.

DAFTAR PUSTAKA
1. 1. Hanafiah, J., Amri amir. 2009. Etika Kedokteran dan Hukum\Kesehatan (4th ed). Jakarta:
EGC.
2. 2. Hartono, Budiman., Salim Darminto. 2011. Modul Blok 1 Who Am I? Bioetika,
Humaiora dan Profesoinalisme dalam Profesi Dokter. Jakarta: UKRIDA.

KEBIJAKAN HUKUM PIDANA DI


BIDANG TEKNOLOGI REPRODUKSI
(KLONING)
UNING , PRATIMARATRI (2008) KEBIJAKAN HUKUM PIDANA DI BIDANG
TEKNOLOGI REPRODUKSI (KLONING). PhD thesis, Diponegoro University.

Full text not available from this repository.

Official URL: http://www.pdih.undip.ac.id

Abstract
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kloning menimbulkan kontroversi, terutama
yang bersangkutan dengan kloning manusia. Isu yang mengedepan dan menjadi perdebatan
pada forum internasional adalah apakah larangan terhadap kloning manusia bersifat mutlak
atau terbatas pada kloning reproduktif manusia. Kloning manusia diidentifikasi menimbulkan
beberapa masalah, baik masalah etika dan moral, masalah ilmiah, serta masalah sosial.
Permasalahan dalam penelitian ini adalah: (1) Perlukah hukum pidana digunakan untuk
membatasi penggunaan teknologi kloning? (2) Bagaimana formulasi tindak pidana tentang
kloning manusia? Penelitian ini ditujukan untuk: (1) mencari landasan untuk menetapkan
kebijakan hukum pidana di bidang kloning manusia; (2) merumuskan formulasi tindak
pidana kloning reproduktif manusia dalam perundang-undangan pidana Indonesia. Penelitian
ini merupakan penelitian hukum normatif, dengan menggunakan pendekatan yuridis
normatif. Bahan penelitian meliputi, bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder. Bahan
hukum diperoleh dengan studi dokumen. Wawancara dilakukan untuk melengkapi data
sekunder. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis
yang bersifat kualitatif. Kesimpulan ditarik secara deduktif. Simpulan yang dapat ditarik
adalah: (1) Kloning reproduksi manusia merupakan suatu permasalahan sosial yang perlu
ditanggulangi oleh hukum pidana. Analisis terhadap perkembangan teknologi cloning
(SCNT), perspektif nilai (agama, bioetika dan biomedis, HAM), serta kecenderungan
internasional menunjukkan bahwa: (a) Teknologi kloning (SCNT) diidentifikasi bertentangan
dengan tujuan pembangunan nasional; (b) dari perspektif agama, bioetika dan biomedis, serta
hak asasi manusia, kloning reproduksi manusia tidak dapat diterima; (c) Analisis dari aspek
untung dan rugi kerugian potensial lebih banyak dibandingkan manfaat potensial yang
didapat; (d) Kriminalisasi terhadap kloning reproduksi manusia tidak secara signifikan
menambah beban aparat penegak hukum; (e) Masyarakat internasional sepakat menolak
kloning reproduksi manusia dan terhadap kloning terapeutik tidak ada keseragaman pendapat.
(2) Formulasi tindak pidana kloning manusia dalam perundang-undangan pidana Indonesia
terbatas pada kloning reproduksi manusia (reproductive cloning of human beings).
Kriminalisasi kloning reproduksi manusia terutama untuk melindungi kepentingan hukum
klon, donor dan sumber sel somatic, wanita sebagai donor ovum maupun surrogate mother.
Kata kunci: kebijakan hukum pidana, kloning reproduktif manusi

Bioetika
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Bioetika merupakan istilah yang relatif baru dan terbentuk dari dua kata Yunani (bios = hidup
dan ethos = adat istiadat atau moral), yang secara harfiah berarti etika hidup. Bioetika dapat
dilukiskan sebagai ilmu pengetahuan untuk mempertahankan hidup dan terpusat pada
penggunaan ilmu-ilmu biologis untuk memperbaiki mutu hidup. Dalam arti yang lebih luas,
bioetika adalah penerapan etika dalam ilmu-ilmu biologis, obat, pemeliharaan kesehatan dan
bidang-bidang terkait.

Sebagai sebuah etika rasional, bioetika bertitik tolak dari analisis tentang data-data ilmiah,
biologis, dan medis. Keabsahan campur tangan manusia dikaji. Nilai transendental manusia
disoroti dalam kaitan dengan sang pencipta sebagai pemegang nilai mutlak. Terkadang, istilah
bioetika juga digunakan untuk mengganti istilah etika medis, yang mencakup masalah etis
tentang ilmu-ilmu biologis seperti penyelidikan tentang hewan, serta usaha-usaha manipulasi
spesies-spesies bentukan genetik non manusiawi. Acap kali, penggunaan istilah bioetika dan
etika medis saling dipertukarkan.

Dalam kajian ini, biologi, bioteknologi, ekologi, pertanian, kedokteran, politik, hukum, dan
filsafat dimanfaatkan sebagai bahan baku perdebatan. Termasuk dalam pertanyaan-
pertanyaan tersebut misalnya adalah definisi kematian, eutanasia dan hak untuk mati, pinjam-
meminjam rahim, pemanfaatan gen organisme asing dalam tanaman pangan atau tanaman
ekonomis lain, pemanfaatan benih dan tanaman obat dari masyarakat asli oleh organisasi
multinasional, pembajakan biologis (biopiracy), dan penggunaan senjata biologi.

Sejarah Terminologi

Istilah bioetika pertama kali diperkenalkan pada tahun 1927 oleh Fritz Jahr, yang "diharapkan
banyak menyumbang berbagai argumentasi dan diskusi dalam penelitian biologi kontemporer
yang melibatkan hewan" dalam suatu artikel tentang "keniscayaan bioetika." Saat itu ia
mengisyaratkan penggunaan bagi isu-isu ilmiah hewan dan tumbuhan. Pada tahun 1970, ahli
biokimia Amerika Van Rensselaer Potter juga menggunakan istilah tersebut dengan makna
yang lebih luas, yang mencakup solidaritas terhadap biosfer, sehingga menghasilkan etika
global, suatu disiplin yang mewakili hubungan antara biologi, kedokteran, ekologi, dan nilai-
nilai kemanusiaan dalam rangka mencapai kelangsungan hidup baik manusia dan spesies
hewan lainnya.

Teknologi kedokteran berkaitan langsung dengan hidup matinya manusia, sedangkan


kehidupan dan kematian manusia adalah suatu hal yang mempunyai kedudukan tinggi dalam
nilai-nilai moral di mana pun. Sehingga, setiap perlakuan terhadapnya akan menimbulkan
pertanyaan-pertanyaan dari segi moral. Inilah dasar perkembangan bioetika dan ini pula
alasannya mengapa kemajuan teknologi kedokteran selalu berhadapan dengan bioetika.
Bioetika merupakan cabang ilmu biologi dan ilmu kedokteran yang menyangkut masalah di
bidang kehidupan, tidak hanya memperhatikan masalah-masalah yang terjadi pada masa
sekarang, tetapi juga memperhitungkan kemungkinan timbulnya pada masa yang akan
datang.

Walaupun mungkin masih merupakan suatu istilah yang baru bagi kebanyakan orang,
bioetika kini telah menjadi semacam gerakan baru yang melanda seluruh dunia. Kehadiran
dan urgensinya tidak bisa dilepaskan dari perkembangan ilmu pengetahun, khususnya biologi
dan ilmu kedokteran yang menimbulkan masalah-masalah etis yang luar biasa.

Bioetika merupakan suatu disiplin keilmuan yang baru, yang merupakan kombinasi antara
pengetahuan hayati (biologi) dengan pengetahuan sistem nilai manusia. Definisi ini sekaligus
memberikan pula tujuan bioetika, yaitu membangun jembatan antara ilmu pengetahuan dan
humaniora (kemanusiaan), membantu kemanusiaan untuk tetap selamat dan lestari, serta
menyempurnakan dunia beradab.

Bioetika merupakan studi interdisipliner tentang masalah yang ditimbulkan oleh


perkembangan di bidang biologi dan ilmu kedokteran baik skala mikro maupun makro, masa
kini dan masa mendatang. Bioetika mencakup isu-isu sosial, agama, ekonomi, dan hukum
bahkan politik. Bioetika selain membicarakan bidang medis, seperti abortus, euthanasia,
transplantasi organ, teknologi reproduksi butan, dan rekayasa genetik, membahas pula
masalah kesehatan, faktor budaya yang berperan dalam lingkup kesehatan masyarakat, hak
pasien, moralitas penyembuhan tradisional, lingkungan kerja, demografi, dan sebagainya.
Bioetika memberi perhatian yang besar pula terhadap penelitian kesehatan pada manusia dan
hewan percobaan.

Teori Bioetika
Banyak pakar yang merumuskan teori bioetika, seperti Beauchamp dan Childress:

1. Hormat terhadap otonomi


2. Berbuat yang baik dan menguntungkan

3. Tidak berbuat kejahatan

4. Keadilan

Tiga etika dalam bioetika


1. Etika sebagai nilai-nilai dan asa-asas moral yang dipakai seseorang atau suatu keloompok
sebagai pegangan bagi tingkah lakunya.
2. Etika sebagai kumpulan asas dan nilai yang berkenaan dengan moralitas (apa yang dianggap
baik atau buruk). Misalnya: Kode Etik Kedokteran, Kode Etik Rumah Sakit.

3. Etika sebagai ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dari sudut norma dan nilai-nilai
moral.

Fransese Abel merumuskan definisi tentang bioetika yang diterjemahkan Bertens sebagai
berikut: Bioetika adalah studi interdisipliner tentang problem-problem yang ditimbulkan oleh
perkembanagn di bidang biologi dan ilmu kedokteran baik pada skala mikro maupun pada
skala makro, lagipula tentang dampaknya atas masyarakat luas serta sistem nilainya kini dan
masa mendatang.
Bidang cakupan bioetika telah mencapai berbagai penelitian pada manusia, mulai dari
perdebatan tentang batas-batas kehidupan, misalnya aborsi, eutanasia, pembedahan dengan
alokasi sumber daya perawatan kesehatan terbatas (misalnya donasi organ) benar-benar dapat
menolak perawatan medis untuk alasan agama atau budaya. Ahli bioetika sering berselisih
paham di antara mereka sendiri atas batas yang tepat dari disiplin mereka, serta
memperdebatkan apakah evaluasi etis atas fakta-fakta biologi dan kedokteran yang tersedia
harus mempertimbangkan semua pertanyaan yang melibatkan, atau hanya sebagian dari
pertanyaan-pertanyaan ini. Beberapa ahli bioetika cenderung mempersempit evaluasi etis
hanya untuk moralitas perawatan medis atau inovasi teknologi, dan waktu pengobatan
manusia. Yang lainnya akan memperluas lingkup evaluasi etis untuk memasukkan moralitas
semua tindakan yang mungkin bisa membantu atau membahayakan organisme yang mampu
merasa takut. Di bidang pemanfaatan sumber daya hayati, berkembang pula produk teknologi
organisme termodifikasi genetik organisme transgenik yang dalam penggunaannya
memerlukan pengkajian dan peraturan/regulasi yang hati-hati karena adanya isu keamanan
hayati dan keamanan pangan yang melekat padanya. Dengan demikian, dibentuk komite
bioetika Indonesia.