Anda di halaman 1dari 31

1

TAFSIR TEMATIK

KELEBIHAN DAN KEKURANGAN

MAKALAH
Disampaikan untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Studi Quran
Pada Program Studi Hukum Islam ( HI )
Pasca Sarjana S2

RAHMIATY ISMAIL, S.Ag


NIM. 162011025

Dosen Pemandu: DR. SOFYAN A.P. KAU, M.Ag

PASCA SARJANA S2
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
(IAIN) SULTAN AMAI
GORONTALO
2016
2

TAFSIR TEMATIK

KELEBIHAN DAN KEKURANGAN

I. PENDAHULUAN

Al-Quran adalah wahyu yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad melalui
malaikat Jibril, untuk disampaikan kepada umat Islam, dan al-Quran adalah sebagai pedoman
aturan kehidupan bagi umat Islam yang bersifat historis dan normatif.
Ayat-ayat al-Quran yang bersifat historis dan normatif tidak semua dapat dipahami
secara tekstual saja, karena banyak dari ayat-ayat al-Quran yang masih mempunyai makna yang
luas (abstrak) dan perlu untuk ditafsirkan lebih dalam, agar dapat diambil sebuah hukum ataupun
hikamah yang dapat dipahami dan diamalkan oleh seluruh Manusia secara umum dan umat Islam
secara khusus.
Al-Quran juga sebagai aturan yang menjadi penentu dasar sikap hidup manusia, dan
membutuhkan penjelasan-penjelasan yang lebih mendetail, karena pada zaman sekarang banyak
permasalahan-permasalahan yang komplek, dan tentunya tidak sama dengan permasalahan-
permasalahan yang ada pada zaman nabi Muhammad SAW.
Tafsir al-Quran yang dianggap mampu menjadi solusi dari kondisi di atas mengalami
perkembangan yang luar biasa. Ahli tafsir dengan berbekalkan keilmuannya mengembangkan
metode tafsir al-Quran secara berkesinambungan untuk melengkapi kekurangan atau
mengantisipasi penyelewengan ataupun menganalisa lebih mendalam tafsir yang sudah ada
(tentunya tanpa mengesampingkan asbab al-nuzul, nasikh wa mansukh, qiraat, muhkamat
mutashabihat, am wa khash, makkiyat madaniyat, dan lain-lain).
Tipologi tafsir berkembang terus dari waktu ke waktu sesuai dengan tuntutan dan kontek
zaman, dimulai dari tafsir bi al-matsur atau tafsir riwayat berkembang ke arah tafsir bi al-rayi.
Tafsir bi al-matsur menggunakan nash dalam menafsirkan Al-Quran, sementara tafsir bi al-
rayi lebih mengandalkan ijtihad dengan akal. Sedangkan berdasarkan metode terbagi
menjadi: tafsir tahlili, tafsir maudhui, tafsir ijmali dan tafsir muqaran.
Tafsir maudhui atau tematik adalah tafsir berperan sangat penting khususnya pada
zaman sekarang, karena tafsir maudhui dirasa sangat sesuai dengan kebutuhan manusia dan
mampu menjawab permasalahan yang ada.Tafsir maudhui atau tematik ada berdasar surah al-
3

Quran ada berdasar subjek atau topik. Dengan adanya pemaparan di atas, penulis menganggap
tafsir tematik adalah topik yang menarik untuk dibahas, maka dari itu penulis menjadikan
tafsir maudhui sebagai topik pembahasan dalam makalah ini.

II. PEMBAHASAN
A. Pengertian Tafsir Maudhui
Tafsir Al-Maudhui ialah tafsir yang membahas tentang masalah-masalah Al-Quran al-
Karim yang (memiliki) kesatuan makna atau tujuan dengan cara menghimpun ayat-ayatnya yang
bisa juga disebut dengan metode tauhidi (kasatuan) untuk kemudian melakukan penalaran
(analisis) terhadap isi kandungannya menurut cara-cara tertentu dan berdasarkan syarat-syarat
tertentu untuk menjelaskan makna-maknanya dan mengeluarkan unsur-unsur serta
menghubungkannya antara yang satu dengan yang lain dengan korelasi yang bersifat
komfrehensif.1
Metode maudhui dapat dikelompokkan kepada dua macam; berdasarkan surat al-Quran
dan berdasarkan tema pembicaraan al-Quran. Tafsir yang menempuh metode maudhui cara
pertama yang berangkat dari anggapan bahwa setiap surat al-Quran memiliki satu kesatuan yang
utuh. Tafsir al-Quran yang menempuh metode maudhui cara kedua dimaksudkan untuk
memudahkan pemahaman terhadap satu- persatu masalah yang disinggung oleh al-Quran dalam
berbagai ayat-ayatnya.2
Metode ini adalah metode tafsir yang menafsirkan Al-Quran dengan cara tematik dengan
membahas ayat-ayat Al-Quran yang sesuai dengan tema dan judul yang telah ditetapkan.
Dengan kata lain, penafsir yang menggunakan metode ini akan meneliti ayat-ayat al-Quran dan
melakukan analisis berdasar ilmu yang benar, yang digunakan oleh pembahas untuk menjelaskan
pokok permasalahan sehingga ia dapat memahami permasalahan tersebut dengan mudah dan
betul-betul menguasainya, sehingga memungkinkan untuk memahami maksud yang terdalam
dan dapat menolak segala krtik.3

1 Muhammad Amin Suma, Ulumul Quran, (Jakarta: Rajawali Pers, 2013), hlm. 391
2 Muhammad Zaini, Ulumul Quran Suatu Pengantar, (Banda Aceh, Yayasan PeNA, 2014), hlm. 126

3 Hamka Hasan, Tafsir Gender: Studi Perbadingan antara Tokoh Indonesia dan Mesir, (Jakarta: Badan
Litbang & Diklat Departemen Agama RI, 2009), hlm. 111
4

Metode ini adalah suatu metode yang mengarahkan pandangan kepada satu tema tertentu,
lalu mencari pandangan al-Quran tentang tema tersebut dengan jalan menghimpun semua ayat
yang membicarakannya, menganalisis, dan memahaminya ayat demi ayat, lalu menghimpunnya
dalam benak ayat yang bersifat masih umum dikaitkan dengan yang khusus, yang muthlak
digandengkan denga yang muqayyad, dan lain-lain, sambil memperkaya uraian dengan hadits-
hadits yang berkaitan untuk kemudian disimpulkan dalam satu tulisan pandangan menyeluruh
dan tuntas menyangkut tema yang dibahas itu.4
Tafsir tematik bertujuan menyelesaikan permasalahan yang diangkat secara tuntas
sehingga diproleh suatu kesimpulan yang dapat dijadikan pegangan; baik bagi mufassir sendiri,
maupun bagi pembaca dan pendengar bahkan oleh umat secara keseluruhan. Karena tujuannya
untuk dapat menyelesaikan permasalahan yang sedang dialami oleh umat itu, maka diabad
modern ini para ulama lebih gandrung menggunakan metode tematik dari pada metode-metode
yang lain.5
Metode maudhui (tematik) dalam format dan prosedur belum lama lahir. Orang yang
pertama kali memperkenalkan metode ini adalah Al-Jalil Ahmad As-Said Al-Kumi, ketua
jurusan Tafsir di Universitas Al-Azhar. Langkah-langkahnya kemudian diikuti oleh teman-
temannya dan mahasiswa-mahasiswanya.6
Dua langkah pokok dalam proses penafsiran yang dikemukakan oleh Farmawi dalam
penafsiran secara maudhui.
1. Mengumpulkan ayat-ayat yang berkenaan dengan suatu maudhu tertentu dengan
memperhatikan masa dan sebab turunnya.
2. Mempelajari ayat-ayat tersebut secara cermat dengan memperhatikan nisbat
(korelasi) satu dengan yang lainnya dalam peranannya untuk menunjuk pada permasalahan yang
dibicarakan.

B. langkah-langkah Menggunakan Metode Maudhui

4 M. Quraish Shihab, Kaidah Tafsir: Syarat, Ketentuan, dan Aturan yang Patut Anda Ketahui dalam Memahami
Ayat-ayat Al-Quran, (Tangerang: Lentera Hati, 2013), hlm. 385
5 Nashruddin Baidan, Wawasan Baru Ilmu Tafsir, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), hlm. 383

6 Rosihan Anwar, Ilmu Tafsir, (Bandung: Pustaka Setia, 2005), hlm. 161
5

M. Quraisy Syihab dalam tulisannya Tafsir Al-Quran Masa Kini mengemukakan 8


langkah yang harus ditempuh:
1. Menetapkan masalah atau judul;
2. Menghimpun atau menetapkan ayat-ayat yang menyangkut masalah tersebut;
3. Menyusun ayat-ayat tadi sesuai dengan masa turunnya dengan memisahkan priode
Mekkah dan Madinah;
4. Memahami korelasi ayat tersebut dalam surat masing-masing;
5. Melengkapi pembahasan dengan hadits-hadits yang menyangkut masalah tersebut;
6. Menyusun pembahasan salah satu kerangka yang sempurna;
7. Studi tentang ayat-ayat tersebut secara keseluruhan dengan jalan menghimpun ayat-
ayat yang mempunyai pengertian yang sama atau mengkompromikan amm dan khas (umum dan
khusus) muthlaq dan muqayyad (yang bersyarat dan tanpa bersyarat) atau yang kelihatannya
bertentangan, sehingga semuanya bertemu dalam suatu muara tanpa perbedaan atau pemaksaan
dalam pemberian arti;
8. Menyusun kesimpulan-kesimpulan yang menggambarkan jawaban Al-Quran
terhadap masalah yang dibahas tersebut.7

Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh seorang penafsir yang menggunakan metode
ini ialah;
1. Untuk sampai pada kesimpulan yang lebih mendekati kebenaran, hendaklah
menyadari bahwa tidak bermaksud menafsirkan Al-Quran dalam pengertian biasa; tugas
utamanya ialah mencari dan menemukan hubungan antara ayat-ayat untuk mendapatkan
kesimpulan sesuai dengan dilalah ayat tersebut.
2. Penafsir harus menyadari bahwa ia hanya memiliki satu tujuan, dimana ia tidak
boleh menyimpang dari tujuan tersebut. Semua aspek dari permasalah itu haris dibahas dan
semua rahasianya harus digali. Jika tidak demikian, ia tidak akan merasakan kedalaman
(balaghah) Al-Quran, yaitu keindahan dan hubungan yang harmonis diantara susunan ayat-ayat
dan bagian-bagian dari Al-Quran.
3. Memahami bahwa Al-Quran dalam menetapkan hukumnya secara berangsur-
angsur. Dengan memperhatikan sebab diturunkannya ayat disamping persyaratan lain, maka

7 Rachmat Syafei, Pengantar Ilmu Tafsir, (Bandung: Pustaka Setia, 2006), hlm. 295
6

seorang penafsir akan terhindar dari kekeliruan, dibandingkan jika ia hanya melihat lafazhnya
saja.
4. Penafsir hendaknya mengikuti aturan-aturan (qaidah) dan langkah-langkah yang
sesuai dengan petunjuk metode ini, agar perumusan permasalahan nantinya tidak kabur.8

C. Contoh Tafsir Maudhui


Contoh metode maudhui (tematik) adalah seperti penyelesaian kasus riba yang dilakukan
ole Ali al-Shabuni dalam Tafsir Ayat Ahkam yang secara hierarki menentukan urutan ayat.
Pertama QS. ar-Ruum ayat 39 yang menjelaskan tentang kebencian Allah kepada riba walaupun
belum diharamkan.
Artinya:dan sesuatu Riba (tambahan) yang kamu berikan agar Dia bertambah pada harta
manusia, Maka Riba itu tidak menambah pada sisi Allah. (QS. ar-Ruum: 39)

Kedua QS. al-Baqarah ayat 278 yang menjelaskan keharaman riba secara mutlak.
Artinya: 278. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan
sisa Riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.
Dalam Pembahasan Riayat Al-yatim fi Al-Quran Al-Karim Al-Farmawi mengambil
beberapa langkah-langkah metodologi sebagai berikut:
1. mengumpulkan ayat-ayat yang berhubungan dengan anak yatim sekaligus
mengelompokkan ayat-ayat tersebut kedalam makkiyat dan madaniyat. Makiyat sebanyak 5 ayat
dan Madaniyat 17 ayat (termasuk al-Maun);
2. bertitik tolak dari ayat-ayat yang terkumpul itu, Al-Farmawi menetapkan sub-
subbahasan. Pembahasan tentang pemeliharaan anak yatim berdasarkan ayat-ayat Makiyyat
dipisahkan menjadi dua bagian, yaitu:
1) pemeliharaan diri/fisik anak yatim, membahas 4 ayat dan
2) masalah harta anak yatim
Adapun pembahasan anak yatim berdasarkan ayat-ayat Madaniyat, terbagi kedalam tiga
subbahasan, yaitu:
1) pentingnya pembinaan akhlak dan pendidikan anak yatim menurut Al-Quran,
membahas 4 ayat;

8 Ibid, hlm. 296


7

2) pemeliharaan harta anak yatim, 9 ayat;


3) perintah berinfak kepada anak yatim, 4 ayat.
3. pada tahap pembahasan, Al-Farmawi mempertimbangkan masa turunnya surat dan
urutan ayat-ayat jika kebetulan terdapat beberapa ayat dalam satu surat yang sedang dibahas.9
Munasabah (korelasi) antara ayat dengan ayat disajikan dalam suatu kaitan yang rasional,
historis, dan semangat pedagogis. Hal tersebut menyebabkan uraian terasa hidup dan
mengesankan. Misalnya sewaktu mengikuti penyajian yang cukup menarik tentang hubungan
tiga ayat makkiyah yaitu ayat ke-6 surat Ad-Dhuha, yaitu:
Artinya: Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu?
Suatu pernyataan kepada Nabi yang cukup menggugah bila dihubungkan dengan latar
belakang dirinya:
Artinya: Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu Berlaku sewenang-wenang.
(QS. Ad-Dhuha: 9)
Suatu sikap yang dituntut untuk menghormati atau menyayangi anak yatim.

Memberikan penjelasan mengenai Firman Allah swt. dalam QS. an-Nisa ayat 5:
Yang Artinya: dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna
akalnya, hartaY (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok
kehidupan. berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada
mereka kata-kata yang baik.

Al-Farmawi menerangkan bahwa pemakaian kata Fi ha bukan minha pada ayat itu
menunjukkan bahwa pemeliharaan yatim hendaklah membiayai kehidupan anak yatim
asuhannya yang bukan diambil dari harta asal, tetapi dari hasil harta asal anak yatim yang
diamanahkan kepadanya. 10

D. Keistimewaan Tafsir Madhui

9 Muhaimin, Kawasan dan Wawasan Studi Islam, (Jakarta: Kencana, 2005), hlm. 116-117

10 Rachmat Syafei, Pengantar Ilmu Tafsir,....hlm. 299


8

1. Dengan tafsir madhui, hidayah Al-Quran dapat digali secara lebih mudah dan
hasilnya ialah permasalahan hidup prakstis dapat dipecahkan dengan baik. Oleh karena itu, tafsir
memberikan jawaban secara langsung terhadap sementara dugaan bahwa Al-Quran hanya berisi
teori-teori spekulatif tanpa menyentuh kehidupan nyata, baik kehidupan pribadi maupun
kehidupan masyarakat.
2. Dapat menumbuhkan kembali rasa bangga umat Islam, setelah sebagian mereka
sempat terpengarauh oleh aturan-aturan produk manusia, bahkan kini merasa bahwa Al-Quran
dapat menjawab tantangan hidup yang senantiasa berubah.
3. Merupakan jalan terpendek dan termudah untuk memproleh hidayah Al-Quran
dibanding tafsir tahlili, sebab tafsir tahlili tidak menghimpun ayat-ayat yang letaknya terpencar-
pencar didalam Al-Quran dalam satu maudhui.
4. Menafsirkan Al-Quran dengan Al-Quran sebagaimana diutamakan oleh tafsir
maudhui adalah cara terbaik yang telah disepakati.
5. Kemungkinan yang lebih terbuka ntuk mengetahui satu permasalahan secara lebih
sempurna dan mendalam.11

E. Tokoh Tafsir Maudhui

1. Abbas Mahmud Al-Aqqad : Al-Marah fi Al-Quran


2. Abu Al-Ala Al-Maududi : Ar-Riba fi Al-Quran
3. Muhammad Abu Zahrah : Al-Aqidat min Al-Quran
4. Muhammad Al-Samahi : Al-Ulubiyat wa Ar-risalah fi Al-Quran
5. Dr. Ibrahim Muhnan : Al-Insan fi Al-Quran Al-Karim Muqawwamat Al-
Insaniyyat fi Al-Quran.
6. Dr. Ahmad Kamal Mahdi : Ayat Al-Qasam fi Al-Quran Al-Karim.
7. Syaikh Mahmud Syaltut : Al-Washaya Al-Asyr
8. Abd. Al-Hay Farmawi : Washaya Surat Al-Isra.12

F. Kelebihan dan Kelemahan

11 Ibid, hlm. 302


12 ibid, hlm. 302
9

Metode tafsir Maudhui mempunyai beberapa kelebihan. Yang terpenting ialah bahwa
metode ini penafsirannya bersifat luas, mendalam, tuntas sekaligus dinamis. Adapun
kelemahannya antara lain sama dengan tafsir al-muqarran, yakni tidak dapat menafsirkan ayat-
ayat Al-Quran secara keseluruhan seperti yang dapat dilakukan dengan metode tahlili dan
ijmali. 13. Beberapa keistimewaannya yang lain yaitu:

a. Menafsirkan ayat dengan ayat atau dengan hadits Nabi.


b. Kesimpulan yang dihasilkan mudah dipahami. Hal ini disebabkan karena ia
membawa pembaca kepada petunjuk al-Quran tanpa mengemukakan berbagai pembahasan
terperinci dalam satu disiplin ilmu. Dengan metode ini juga dapat dibuktikan bahwa persoalan
yang disentuh al-Quran bukan bersifat teoritis semata-mata dan atau tidak dapat diterapkan
dalam kehidupan masyarakat. Dengan begitu ia dapat membawa kita kepada pendapat al-Quran
tentang berbagai problem hidup disertai dengan jawaban-jawabannya.
c. Metode ini memungkinkan seseorang untuk menolak anggapan adanya ayat-ayat
yang bertentangan dalam al-Quran. Ia sekaligus dapat dijadikan bukti bahwa ayat-ayat al-
Quran sejalan dengan perkembangan ilm pengetahuan dan masyarakat.14
G. Perkembagan Metode Tematik (Maudhui)
Metode ini sudah lahir sejak Nabi Muhammad saw., dimana beliau sering kali
menafsirkan ayat dengan ayat yang lain, seperti ketika menjelaskan arti Zhulum dalam QS. al-
Anam ayat 82:
Yang Artinya: orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka
dengan kezaliman (syirik), mereka Itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah
orang-orang yang mendapat petunjuk.
Nabi menjelaskan bahwa zhulum yang dimaksud adalah syirik sambil membaca firman
Allah dalam QS. Lukman ayat 13.

13 Muhammad Amin Suma, Ulumul Quran,........hlm. 394

14 Quraish Shihab, Membumikan Al-Quran: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, (Bandung:
Mizan, 1994), hlm. 117
10

Yang rtinya: dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia
memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah,
Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".
Benih penafsiran ayat dengan ayat ini tumbuh subur dan berkembang sehingga lahir
kitab-kitab tafsir yang secara khusus mengarah kepada tafsir ayat dengan ayat. Tafsir Ath-
Thabary (839-923 M) dinilai sebagai kitab tafsir pertama dalam bidang ini, lalu lahir lagi kitab-
kitab tafsir yang tidak lagi secara khusus bercorak penafsiran ayat dengan ayat, tetapi lebih fokus
pada penafsiran ayat-ayat bertema hukum, seperti misalnya Tafsir Ahkam Al-Quran karya Abu
Bakar Ahmad bin Ali Ar-Razy al-Jashshas (305-370 H), Tafsir al-Jami Li Ahkam al-Quran
karya Abdullah Muhammad bin Ahmad al-Anshary al-Qurthuby (w. 671 H), dan lain-lain. 15

H. Bentuk Terbaru Metode Maudhui


Setelah Syekh Ahmad Sayyid al-Kumy mencetuskan metode tafsir ini, bermunculanlah
beberapa kitab tafsir yang menggunakan metode ini, antara lain, Al-Futuhat Ar-Rahbaniyah fi
At-Tafsir Al-Maudhui li al-Ayat al-Quraniyah, karya Syekh al-Husaini Abu Farhah, dan lahir
juga buku-buku yang menjelaskan metode itu, antara lain, Al-Bidayah fi at-Tafsir al-Maudhui
karya Abdul Hayyi Al-Farmawi. 16

III. PENUTUP

Tafsir maudhui sebagai metode terbaru ternyata lebih ampuh mengantarkan kita untuk
mendapatkan resep yang diperlukan bagi masalah-masalah praktis dan hidup ditengah-tengah
masyarakat. Dengan demikian, hasil tafsir jenis ini, memberikan kemungkinan kepada kita untuk
menjawab tantangan kehidupan yang selalu berubah dan berkembang.
Tafsir tematik bertujuan menyelesaikan permasalahan yang diangkat secara tuntas
sehingga diproleh suatu kesimpulan yang dapat dijadikan pegangan; baik bagi mufassir sendiri,
maupun bagi pembaca dan pendengar bahkan oleh umat secara keseluruhan. Karena tujuannya
untuk dapat menyelesaikan permasalahan yang sedang dialami oleh umat itulah, maka diabad

15 Quraish Shihab, Kaidah Tafsir: Syarat, Ketentuan, dan Aturan yang Patut Anda Ketahui dalam
Memahami Ayat-ayat Al-Quran,.....hlm. 387
16 Ibid, 389
11

modern ini para ulama lebih gandrung menggunakan metode tematik dari pada metode-metode
yang lain.
12

DAFTAR PUSTAKA

Anwar, Rosihan. Ilmu Tafsir, (Bandung: Pustaka Setia, 2005).


Baidan, Nashruddin. Wawasan Baru Ilmu Tafsir, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005).
Hasan, Hamka. Tafsir Gender: Studi Perbadingan antara Tokoh Indonesia dan Mesir,
(Jakarta: Badan Litbang & Diklat Departemen Agama RI, 2009).
Muhaimin, Kawasan dan Wawasan Studi Islam, (Jakarta: Kencana, 2005).
Shihab, M. Quraish. Kaidah Tafsir: Syarat, Ketentuan, dan Aturan yang Patut Anda
Ketahui dalam Memahami Ayat-ayat Al-Quran, (Tangerang: Lentera Hati, 2013).
-----------Membumikan Al-Quran: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan
Masyarakat, (Bandung: Mizan, 1994).
Suma, Muhammad Amin. Ulumul Quran, (Jakarta: Rajawali Pers, 2013).
Syafei, Rachmat. Pengantar Ilmu Tafsir, (Bandung: Pustaka Setia, 2006).
Zaini, Muhammad. Ulumul Quran Suatu Pengantar, (Banda Aceh, Yayasan PeNA,
2014).
13

[1] Muhammad Amin Suma, Ulumul Quran, (Jakarta: Rajawali Pers, 2013), hlm. 391
[2] Muhammad Zaini, Ulumul Quran Suatu Pengantar, (Banda Aceh, Yayasan PeNA,
2014), hlm. 126
[3] Hamka Hasan, Tafsir Gender: Studi Perbadingan antara Tokoh Indonesia dan Mesir,
(Jakarta: Badan Litbang & Diklat Departemen Agama RI, 2009), hlm. 111
[4] M. Quraish Shihab, Kaidah Tafsir: Syarat, Ketentuan, dan Aturan yang Patut Anda
Ketahui dalam Memahami Ayat-ayat Al-Quran, (Tangerang: Lentera Hati, 2013), hlm. 385
[5] Nashruddin Baidan, Wawasan Baru Ilmu Tafsir, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005),
hlm. 383
[6] Rosihan Anwar, Ilmu Tafsir, (Bandung: Pustaka Setia, 2005), hlm. 161
[7] Rachmat Syafei, Pengantar Ilmu Tafsir, (Bandung: Pustaka Setia, 2006), hlm. 295
[8] Ibid, hlm. 296
[9] Muhaimin, Kawasan dan Wawasan Studi Islam, (Jakarta: Kencana, 2005), hlm. 116-
117
[10] Rachmat Syafei, Pengantar Ilmu Tafsir,....hlm. 299
[11] Ibid, hlm. 302
4. ibid, hlm. 302
[13] Muhammad Amin Suma, Ulumul Quran,........hlm. 394
[14] Quraish Shihab, Membumikan Al-Quran: Fungsi dan Peran Wahyu dalam
Kehidupan Masyarakat, (Bandung: Mizan, 1994), hlm. 117
[15] Quraish Shihab, Kaidah Tafsir: Syarat, Ketentuan, dan Aturan yang Patut Anda
Ketahui dalam Memahami Ayat-ayat Al-Quran,.....hlm. 387
[16] Ibid, 389
14
15

POLIGAMI VS MONOGAMI

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Bangsa-bangsa dan agama-agama sebelum Islam memperbolehkan kawin dengan

jumlah perempuan yang sangat banyak, puluhan hingga ratusan, tanpa syariat atau batasan

tertentu. Setelah kedatangan Islam, ditentukan batas dan syarat-syarat poligami itu.

Batasannya, Islam mengizinkan batas maksimal empat orang istri. Ghailan Ats-Tsaqafi ketika

masuk Islam, ia beristri sepuluh orang. Nabi saw pun berkata kepadanya, pilihlah empat

diantaranya dan tinggalkan sisanya (Syafii, Ahmad, Turmudzi, Ibnu Majah, Ibnu Abi

Syaibah, Daruquthni, dan Baihaqi).

Demikian pula orang yang masuk Islam dengan membawa Isteri delapan atau lima

orang, Rasulullah saw melarang mempertahankan kecuali empat orang diantaranya.

Sedangkan perkawinan Rasulullah saw dengan sembilan isteri, ini adalah kekecualian dari

Allah swt berikan kepada beliau untuk kebutuhan dakwah di masa hidupnya.

Islam membolehkan seorang suami memiliki isteri lebih dari satu (berpoligami) tetapi

tidak mewajibkannya. Oleh karena itu islam tidak dengan mudah membolehkan poligami.
Ada beberapa syarat, ketentuan yang harus dipenuhi seorang suami bila hendak melakukan

poligami, diantaranya adalah sang suami harus memberikan tempat tinggal yang layak dan

memisahkan tempat tinggal itu dari isteri pertama, memberi nafkah yang adil antara isteri-

isteri, tidur secara adil diantara mereka dan memperlakukan mereka dengan adil pula.

Dibawah ini akan kami jelaskan tentang pengertian poligami, dasar hukum, alasan-alasan

seseorang berpoligami, syarat berpoligami dan dampak negatif yang mungkin timbul dari

berpoligami.
16

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana Pengertian dan Dasar hukum Poligami?

2. Bagaimana Alasan Monogami Dan Poligami?

3. Bagaimana Syarat Yang Harus Dipenuhi Seseorang Yang Berpoligami?

4. Bagaimana Akibat Negatif Dari Berpoligami ?

C. Tujuan Masalah

1. Untuk Mengetahui Poligami dan Dasar Hukumnya.

2. Untuk Mengetahui Alasan Monogami Dan Poligami.

3. Untuk Mengetahui Syarat Yang Harus Dipenuhi Seseorang Yang Berpoligami.

4. Untuk Mengetahui Akibat Negatif Dari Berpoligami.

II. PEMBAHASAN

A. Pengertian Dan Dasar Hukum Poligami

Kata Monogamy dapat dipasangkan dengan poligami sebagai antonim, Monogamy

adalah perkawinan dengan istri tunggal yang artinya seorang laki-laki menikah dengan

seorang perempuan saja, sedangkan kata poligami yaitu perkawinan dengan dua orang

perempuan atau lebih dalam waktu yang sama.

Istilah poligami berasal dari bahasa Inggris poligamy dan disebut taaddu

duzzaujaati dalam hukum Islam, yang berarti beristeri lebih dari seorang wanita.17

Poligami berarti ikatan perkawinan yang salah satu pihak (suami) mengawini

beberapa lebih dari satu istri dalam waktu yang bersamaan, bukan saat ijab qabul melainkan

dalam menjalani hidup berkeluarga, sedangkan monogamy berarti perkawinan yang hanya

membolehkan suami mempunyai satu istri pada jangka waktu tertentu.

17 Haji Mahyuddin, Masailul Fiqh, Jakarta: Kalam Mulia, 2003, hlm. 59


17

Adapun dasar hukum poligami;

1. Hukum Menurut Al-Quran dan hadits

Sepakat ulama madzhab menetapkan bahwa laki-laki yang sanggup berlaku adil

dalam kehidupan rumah tangga, dibolehkan melakukan poligami sampai empat isteri,

a. al-Quran surat an-Nisa ayat: 3

artinya Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak)

perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita

(lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak

akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang

kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat

aniaya.18

b. Hadits Nabi SAW

18 Haji Mahyuddin, Masailul Fiqh, (Jakarta: Kalam Mulia, 2003), h. 62


18

Bahwasanya Rasulullah saw berkata kepada Ghailan bin Salamah ketika ia masuk

Islam yang padanya ada 10 isteri, milikilah 4 isterimu dan ceraikanlah yang

lainnya (HR. An Nasaay).19

Demikian pula orang yang masuk Islam dengan membawa Isteri delapan atau

lima orang, Rasulullah saw melarang mempertahankan kecuali empat orang

diantaranya.20

Sedangkan perkawinan Rasulullah s.a.w. dengan sembilan isteri, ini adalah

pengecualian dari Allah swt berikan kepada beliau untuk kebutuhan dakwah di masa

hidupnya.21

Jelaslah bahwa perkawinan Nabi Muhammad SAW dengan sembilan isterinya itu

tidaklah terdorong oleh motif memuaskan nafsu seks dan kenikmatan seks. Sebab kalau

motifnya demikian, tentunya Nabi mengawini gadis-gadisnya dari kalangan bangsawan dan

dari berbagai suku pada masa Nabi SAW masih berusia muda. Tetapi kenyataannya adalah

Nabi pada usia 25 tahun kawin dengan Khadijah seorang janda umur 40 tahun dan

pasangan suami isteri ini selama lebih kurang 25 tahun berumah tangga benar-benar

sejahtera dan bahagia dan mendapatkan keturunan, dua anak laki-laki, tetapi meninggal

masih kecil dan empat anak perempuan.22

2. Undang-Undang Perkawinan No 1 tahun 1974 (UU P)

Apakah memang poligami ini boleh, pantas atau tidak mungkin dilakukan. Terkait

dengan hal ini, kita lihat pasal 3 UU P: (1) Pada asasnya seorang pria hanya boleh

memiliki seorang isteri. Seorang wanita hanya boleh memiliki seorang suami. (2)

19 Haji Mahyuddin, Masailul Fiqh, h. 63

20 Yusuf Qardhawi, Halal dan Haram dalam Islam, (Surakarta: Era Intermedia, 2000), h. 273

21 Yusuf Qardhawi, Halal dan Haram dalam Islam, h. 273

22 Setiawan Budi Utomo, Fiqh Aktual, (Jakarta: Gema Insani Press, 2003), h. 269
19

Pengadilan, dapat memberi izin kepada seorang suami untuk beristeri lebih dari seorang

apabila dikendaki oleh pihak-pihak yang bersangkutan. Dengan demikian pada dasarnya

kita menjunjung tinggi keagungan cinta suami istri yang pada saat melangsungkan

pernikahan pertama kali berasal dari satu suami satu istri. Karena memang tidak

dimungkinkan pernikahan pertamakali diadakan antara satu suami dengan beberapa istri.

Namun demikian hukum di Indonesia memungkinkan untuk memperistri wanita idaman

lain bagi suami dan sangat dilarang keras bagi si istri untuk mempersuami pria idaman lain

alias poliandri.

Lebih lanjut pasal 4 berbunyi: (1) Dalam hal seorang suami akan beristri lebih dari

seorang, sebagaimana tersebut dalam pasal 3 ayat (2) Undang-undang ini, maka ia wajib

mengajukan permohonan ke Pengadilan di daerah tempat tinggalnya. (2) Pengadilan

dimaksud dalam ayat (1) pasal ini hanya memberi izin kepada suami yang akan beristri

lebih dari seorang apabila: a. istri tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai isteri; b.

istri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan; c. istri tidak dapat

melahirkan keturunan.

B. Alasan-alasan Monogami dan Poligami

Setiap pilihan, baik monogami ataupun poligami, memiliki implikasi positif di

samping membawa konsekuensi resiko yang negatif. Karena umat manusia secara fitrah

mempunyai potensi positif dan negatif dari arah kedua kecenderungan tersebut. Adanya watak

cemburu kaum wanita, iri hati, dan suka mengeluh yang mudah timbul dengan dalam

kehidupan keluarga poligamis. Dengan demikian, poligami secara empiris memang bisa
20

menjadi sumber konflik antara isteri-isteri serta anak-anak dari isteri-siterinya, maupun

konflik antara isteri dan isteri serta anak-anaknya masing-masing.23

Dibawah ini akan dikemukakan beberapa alasan mengappa seseorang melakukan

monogami dan alasan mengapa seseorang pria melakukan poligami, diantaranya adalah :

1. Alasan Monogami

a. Tidak sanggup berlaku adil

Adil merupakan hala yang sangat sulit untuk di wujudkan bagi seorang manusia, adil

secara fisik tidak seperti adil dalam hal nonfisik. Mengelolah dan memanej yang abstrak

dan absolute lebih susah daripada yang nonabsolut, non abstrak.

b. Tidak sanggup menafkahi

Surat An Nisa ayat 34 menegaskan bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi kaum

perempuan. Dalam hadits disebutkan pula bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi

keluarganya. Dan salah satu kewajibannya adalah memberikan nafkah.

Dan kalian wajib memberi nafkah kepada mereka (para istri) dan memberi pakaian

secara maruf (HR. Muslim)

Maka bagi laki-laki yang dengan satu istri saja tidak sanggup menafkahi dengan baik,

sebaiknya ia tidak melakukan poligami.

c. Tidak sanggup membahagiakan

Kebahagiaan adalah hal yang dirindukan oleh siapa saja. Termasuk oleh orang yang

menikah. Seorang perempuan mengharapkan bisa berbahagia dalam pernikahannya.

Demikian pula seorang laki-laki.

23 Setiawan Budi Utomo, Fiqh Aktual, (Jakarta: Gema Insani Press, 2003), h. 268
21

d. Tidak sanggup mengelola kecemburuan

Wanita adalah makhluk pencemburu. Kecemburuan antar-istri dalam berumah tangga

bahkan terjadi dalam kehidupan Nabi. Misalnya dalam kisah Nabi Ibrahim, antara Hajar

dan Sarah. Bahkan, dalam kehidupan Rasulullah. Bagaimana sampai menjatuhkan

nampang, dan sebagainya.

e. Tidak sanggup mengatur waktu

Jika seorang laki-laki khawatir tidak sanggup mengatur waktu dengan bertambahnya

istri, sebaiknya ia monogami saja. Menikah dengan lebih dari satu istri artinya menambah

kewajiban. Menambah jumlah orang yang harus dipenuhi hak-haknya, bukan hanya

masalah materi tetapi juga perhatian dan kasih sayang yang seluruhnya membutuhkan

waktu. Termasuk kepada anak-anaknya dari seluruh istri.

2. Alasan Poligami

a. Untuk memberi kesempatan bagi laki-laki untuk memperoleh keturunan dari isteri kedua,

jika isterinya yang pertama mandul.

b. Untuk menyelamatkan kaum wanita dari krisis akhlak.24 Melacur, untuk menjadi umpan

dan permainan kaum laki-laki yang rusak. Muncullah pergaulan bebas yang mengakibatkan
banyaknya anak-anak haram, anak-anak temuan yang kehilangan hak-hak secara materi

dan moral, sehingga menjadi beban sosial bagi masyarakat.

c. Untuk memberi kesempatan bagi perempuan yang terlantar, agar mendapatkan suami yang

berfungsi untuk melindunginya, memberinya nafkah hidup serta melayani kebutuhan

biologisnya.

d. Untuk menghindarkan laki-laki dari perbuatan zina, jika isterinya tidak bisa di kumpuli

karena terkena suatu ppenyakit yang berkepanjangan.

24 Setiawan Budi Utomo, Fiqh Aktual, Fiqh Aktual, h. 268


22

Dari beberapa alasan poligami yang telah dikemukakan diatas, memberikan

keterangan bahwa poligami yang dibolehkan dalam islam harus berlandaskan atau

beralasan serta bertujuan untuk melindungi laki-laki dan perempuan, bukan hanya

memberi peluang laki-laki yang tukang kawin tanpa mau bertanggung jawab.25

D. Syarat Yang Harus Dipenuhi Seseorang Yang Berpoligami

Syarat yang dituntut Islam dari seorang muslim yang akan melakukan poligami adalah

keyakinan dirinya bahwa ia bisa berlaku adil diantara dua isteri atau isteri-isterinya dalam hal

makanan, minuman, tempat tinggal, dan nafkah serta kebutuhan biologis. Barang siapa kurang

yakin akan kemampuannya memenuhi hak-hak tersebut dengan seadil-adilnya, haramlah baginya

menikah dengan lebih dari satu perempuan. Allah swt berfirman,

Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim

(bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu

senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil,

25 Mahyuddin, Haji, Masailul Fiqh, Jakarta: Kalam Mulia, 2003, hlm. 61


23

maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu

adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. (An-Nisa : 3)

Beliau saw. Juga bersabda,

Barangsiapa mempunyai dua isteri, sementara ia lebih condong kepada salah satu

diantara keduanya, maka pada hari kiamat nanti akan datang dengan menyeret salah satu

belahan tubuhnya yang terjatuh atau miring. (HR. Ahlus Sunan, Ibnu Hibban, dan

Hakim). 26

Miring yang diperingatkan dalam hadits ini adalah ketidakadilan dalam hak-haknya,

bukan sekedar kecenderungan hati, karena yang disebut terakhir ini termasuk hal yang susah

dipenuhi, bahkan dimaklumi dan dimaafkan Allah swt, Allah swt berfirman,

Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri- istri (mu), walaupun

kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung

(kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika

kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya

Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (An-Nisa : 129)27

Karena itulah, Rasulullah saw dahulu membagi-bagi secara adil dan berkata: Ya Allah,

inilah pembagianku sebatas apa yang bisa aku miliki. Karena itu, janganlah Kau siksa aku dalam

hal yang Engkau miliki dan tidak aku miliki. (HR. Ashabus Sunan). 28

26 Qardhawi, Yusuf, Halal dan Haram dalam Islam, (Surakarta: Era Intermedia, 2000), h. 274

27 Qardhawi, Yusuf, Halal dan Haram dalam Islam, h. 274

28 Qardhawi, Yusuf, Halal dan Haram dalam Islam, h. 275


24

Rasulullah hendak berpergian, beliau saw mengundi mereka (kesembilan isteri beliau).

Barangsiapa diantara mereka namanya muncul, dialah yang berhak ikut bersamanya. Beliau

lakukan itu tidak lain kecuali untuk menghindari penyesalan dan demi kelegaan hati semua pihak

dari kesembilan isteri beliau Rasulullah saw.29

Syarat-syarat poligami antara lain :

a) Kemampuan melakukan poligami

b) Berlaku adil terhadap para isteri dalam hal pembagian giliran dan nafkah. Seorang

lelaki yang menikah menanggung berbagai kewajiban terhadap isteri dan anaknya

termasuk nafkah. Seorang lelaki yang melakukan poligami memikul tambahan

kewajiban nafkah dengan sebab bertambah isterinya.

E. Dua Anjuran yang berlawanan

1. Anjuran monogami

Berdasarkan dua ungkapan dalam ayat al-Quran surat an-Nisa ayat 3 bahwa

secara explisit bermakna anjuran monogami ungkapan tersebut yaitu;

Pertama; ungkapan

Jika kamu takut tidak bias berbuat adil maka

nikahilah satu orang perempuan saja. 30

Kedua, Ungkapan

dalam penafsiran ulama klasik, ungkapan ini berate bahwa perkawinan

monogamy akan lebih dekat untuk tidak berbuat zalim.31

29 Qardhawi, Yusuf, Halal dan Haram dalam Islam, h. 275

30 Faqihuddin abdul Kodir, Memilih Monogami; Pembacaan atas al-Quran dan Hadits Nabi,
(Yogyakarta; Pustaka Pesantren, 2005). h. 96.
25

2. Anjuran berpoligami

Salah dari teks hadis yang diriwayatkan oleh Imam bukhari yang berbunyi

, :

; Dari Talhah al-Yami, dari Said bin Jubair , berkata Ibnu abbas bertanya kepadaku;

kamu sudah kawin..? aku menjawab belum, Ibnu Abbas berkata: nikahlah karena

sebaik-baik orang dari umat ini adalah yang paling banyak isterinya.32

F. Potret Poligami Sahabat Nabi

a. Abu bakar r.a. Memiliki 4 orang isteri, dua diantaranya ia nikahi pada masa jahiliah (pra-

islam) dan dua lainnya pada masa Islam:

1. Qatilah binAbdul Uzza, di nikahi pada masa jahiliah.

2. Ruman binti Amir ( Ibunda sayyidah Aisyah Ummul mukminin r.a.) di nikahi pada

masa jahiliah.

3. Asma binti Umais, dinikahi pada masa Islam

4. Habibah binti Kharijah bin Zaid ( pada waktu Abu bakar meninggal ia dalam keadaan

hamil) dinikahi pada masa Islam.33


b. Umar bin Khaththab r.a. menikahi Sembilan orang isteri;

1. Zainab binti Madhuun bin habib;

31 Faqihuddin abdul Kodir, Memilih Monogami; Pembacaan atas al-Quran dan Hadits Nabi,
(Yogyakarta; Pustaka Pesantren, 2005). h. 96

32 Faqihuddin abdul Kodir, Memilih Monogami; Pembacaan atas al-Quran dan Hadits Nabi,
(Yogyakarta; Pustaka Pesantren, 2005). h.168., lihat juga;b ukunya ibnu hajar al-asqalani, fath al-bari, juz X, h.143.

33 Khalil Abdul Karim, Penerjemah; kamran Asad, Syariah; Sejarah Perkelahian Pemaknaan,
(Yogykarta; LKIS, 2003), h.36
26

2. Ummu Kultsum binti Ali bin Abi Thalib

3. Ummu Kultsum binti Jarwal bin Malik (Islam memisahkan keduanya lantaran beda

agama dan kepercayaan)

4. Jamilah binti Tsabit bin Abu al-Aflah;

5. Seorang Sariyyah (budak wanita) bernama Lahiyyah (melahirkanseorang anak yang

ia beri nama Abu al-Mujbir);

6. Seorang budak wanita (melahirkan seorang anak bernama Abdurrahman Junior)

7. Ummu Hakim binti al-Haris bin Hisyam;

8. Seorang budak wanita bernama Fakihah (melahirkan anak perempuan bernama

Zainab)

9. Aikah binti Zaid bin Amru bin Nafil.34

c. Utsman Bin Affan r.a. menikahi tujuh orang isteri;

1. Ruqayyah binti Muhammad s.a.w.

2. Ummu Kultsum binti Muhammad s.a.w.

Dari sinilah ia mendapat julukan Dsunnurain ( pemilik dua cahaya). Bahkan ada yang

mengatakantidak ada seorangpun dalam sejarah yang menikahi dua puteri nabi selain

Utsman).

3. Fathimah binti Ghazwan


4. Ummu amru binti Jundud

5. Fathimah binti al-Walid bin abd asy-Syams

6. Ummul Banin Uyainah bin Hishan

7. Ramlah binti Syaibah bin Rabiah

8. Nailah binti al-Farafishah bin al-Ahwash

9. Seorang Budak perempuan (melahirkan seorang puteri bernama Ummu banin)

34 Khalil Abdul Karim, Penerjemah; kamran Asad, Syariah; Sejarah Perkelahian Pemaknaan, h. 37
27

Saat Utsman r.a. terbunuh ia memiliki isteri Ramlah, Nailah, Ummu Banin, dan

seorang budak perempuan (fakhitah), hanya saja p[ada saat dikepung, ia sempat

menceraikan Ummu Banin.35

d. Ali bin Abi Thalib, Karramallahu Wajhah menikahi Sembilan orang perempuan;

1. Fathimah binti Muhammad s.a.w. (Ia adalah Sayyidatul Alamin-junjjungan

perempuan semesta alam)

2. Ummul Banin binti Hizam

3. Khulah binti Ja,far bin Qais

4. Laila binti Masud bin Khalid

5. Asma binti Umais

6. Ash-shahba Ummu Habib binti Rabiah

7. Amamah binti Abu al-Ash (Ia adalah ibunda dari Zainab binti Muhammad s.aw.

8. Ummu saad binti Urwah bin Masud ats-Tsaqafi

9. Muhayyah binti Imriil Qais bin Uday36

Baal (suami) dan mabul (Isteri), istilah orang Arab, untuk mengelak dari

pembatasan maksimum empat orang isteri, karena itu banyak juga sejarawan

membeberkan kondisi para isteri bahwa mereka pernah menikah dengan tiga, empat atau

lima suami, sebagai contoh;


a. Atikah Binti Zaid bin Amr bin Nufail (Sepupu umar bin Khaththab r.a.) pernah

menikah dengan lima orang suami;

1. Abdullah Bin Abu Bakar

2. Umar bin khaththab

3. Thalhah bin Ubaidillah ( termasuk salah seorang sahabat yang dijamin masuk

surga)

4. Muhammad bin Abu bakar

35 Khalil Abdul Karim, Penerjemah; kamran Asad, Syariah; Sejarah Perkelahian Pemaknaan, h. 38.
36 Khalil Abdul Karim, Penerjemah; kamran Asad, Syariah; Sejarah Perkelahian Pemaknaan, h. 38.
28

5. Amru bin al-Ash37

b. Ummu Kultsum binti Uqbah bin Abu Muith, pernah dinikahi oleh empat orang

suami;

1. Zaid bin Haritsah

2. Az-Zubair bin al-Awwam (termasuk salah seorang swhabat yang di jamin masuk

surga)

3. Abdurrahman bin Auf (juga termasuk salah seorang swhabat yang di jamin masuk

surga)

4. Amru bin al-Ash

c. Aisyah binti Thalhah bin Ubaidillah, dinikahi tiga orang suami;

1. Abdurrahman bin Abu Bakar

2. Mushab bin az-Zubair

3. Umar bin Ubaidillah

d. Ummu kultsum binti Ali bin Abi Thalib, dinikahi oleh tiga orang suami

1. Umar bin Khaththab r.a.

2. Aun bin Jafar ath-Thayya bin Abu Thalib

3. Muhammad bin Abu Thalib (saudara kandung Ali bin Abi Thalib)38

e. Ummu Ishaq binti Thalhah bin Ubaidillah, dinikahi oleh tiga orang suami:
1. Al-hasan bin ali bin abi thalib;

2. Al-husein bin ali bin abi thalib;

3. Muhammad bin ubaidillah bin abdurrahman bin abu bakar ash-shiddiq.39

f. Asmabinti umais, dinikahi oleh tiga orang suami:

1. Jafar bin thayyar bin abi thalib;

2. Abu bakar ash-shiddiq;

3. Ali bin abi thalib.40

37 Khalil Abdul Karim, Penerjemah; kamran Asad, Syariah; Sejarah Perkelahian Pemaknaan, h. 39.
38 Khalil Abdul Karim, Penerjemah; kamran Asad, Syariah; Sejarah Perkelahian Pemaknaan, h. 39.
39 Khalil Abdul Karim, Penerjemah; kamran Asad, Syariah; Sejarah Perkelahian Pemaknaan, h. 39.
29

G. Akibat Negatif Dari Berpoligami

Agama Islam, sebagai salah satu agama yang mengizinkan praktek poligami,

memberikan ketentuan-ketentuan yang harus dipenuhi bagi seorang pria apabila mau melakukan

poligami.

Di antara hikmah syariat Islam yang rahmatan lilalamin adalah ia tidak menetapkan

prinsip monogami ataupun poligami sebagai salah satu asas perkawinan dalam islam yang

berorientasi kepada pembinaan kehidupan rumah tangga yang harmonis, sejahtera dan bahagia

dalam bingkai sakinah, mawaddah dan rahmah. Bila kita yakini bahwa pernikahan merupakan

manivestasi ibadah, maka nilai ibadah sangat ditentukan oleh niat dan caranya. Bila niatnya

benar dan caranya ihsan maka akan bernilai ibadah, demikian sebaliknya akan bernilai maksiat.

Nilai ibadah bukan sekadar pada kuantitasnya, namun juga kualitasnya dan pernikahan yang

diridhoi dan mendatangkan kebahagiaan lahir dan batin tidak dapat ditentukan dengan kuantitas

(satu atau lebih dari satu), melainkan oleh kualitas rumah tangga dan prosesnya yang meliputi

niat yang benar dan caranya yang ihsan (baik). 41

Beberapa dampak negatif yang timbul akibat berpoligami, antara lain:

a) Dampak Psikologis

Perasaan menyalahkan diri isteri karena merasa tindakan suami berpoligami adalah akibat

dari ketidakmampuan dirinya memenuhi kebutuhan biologis suami.

b) Dampak Ekonomi Rumah Tangga

Ketergantungan secara ekonomi kepada suami. Walaupun ada beberapa suami memang

dapat berlaku adil terhadap istri-istrinya, tetapi dalam prakteknya lebih sering ditemukan

bahwa suami lebih mementingkan istri muda dan menelantarkan istri dan anak-anaknya

40 Khalil Abdul Karim, Penerjemah; kamran Asad, Syariah; Sejarah Perkelahian Pemaknaan, h. 39.
41 Utomo, Setiawan Budi, Fiqh Aktual, (Jakarta: Gema Insani Press, 2003), h. 267
30

terdahulu. Akibatnya istri yang tidak memiliki pekerjaan akan sangat kesulitan menutupi

kebutuhan sehari-hari.

c) Dampak Hukum

Seringnya terjadi nikah di bawah tangan (pernikahan yang tidak dicatatkan pada Kantor

Catatan Sipil atau Kantor Urusan Agama), sehingga pernikahan dianggap tidak sah oleh

negara, walaupun pernikahan tersebut sah menurut agama. Pihak perempuan akan dirugikan

karena konsekuensinya suatu pernikahan dianggap tidak ada, seperti hak waris dan

sebagainya.

d) Dampak Kesehatan

Kebiasaan berganti-ganti pasangan menyebabkan suami atau istri menjadi rentan

terhadap penyakit menular seksual (PMS), bahkan rentan terjangkit virus HIV/AIDS.

e) Kekerasan Terhadap Perempuan

Baik kekerasan fisik, ekonomi, seksual maupun psikologis. Hal ini umum terjadi pada

rumah tangga poligami, walaupun begitu kekerasan juga terjadi pada rumah tangga yang

monogami.

III. PENUTUP

Kesimpulan

Poligami dan Monogami pada dasar satu kesatuan yang utuh, dan tidak bertentangan,

realitas yang akan membuktikan keduanya. Karena keduanya adalah sama-sama penting .
31

DAFTAR PUSTAKA

Faqihuddin abdul Kodir, Memilih Monogami; Pembacaan atas al-Quran dan Hadits Nabi,

(Yogyakarta; Pustaka Pesantren, 2005).

Khalil Abdul Karim, Penerjemah; kamran Asad, Syariah; Sejarah Perkelahian Pemaknaan,

(Yogykarta; LKIS, 2003).

Mahyuddin, Haji, Masailul Fiqh, (Jakarta: Kalam Mulia, 2003).

Qardhawi, Yusuf, Halal dan Haram dalam Islam, (Surakarta: Era Intermedia, 2000).

Rochayah Machali, Editor, Wacana Poligami di Indonesia kumpulan tulisan, (Bandung: Mizan,

2005).

Utomo, Setiawan Budi, Fiqh Aktual, (Jakarta: Gema Insani Press, 2003).