Anda di halaman 1dari 17

SERTIFIKAT KESEHATAN PELAUT

source by BKKP

Untuk Pelaut atau calon pelaut yang ingin mengurus buku pelaut online, harap sebelumnya
menyiapkan kondisi physic yang prima sebelum melakukan pemeriksaan kesehatan di klinik /
RS yang sudah memiliki approval dengan BKKP pusat ( Balai Kesehatan Kerja
Pelayaran ). Dengan begitu akan menghemat waktu dan biaya dalam memperoleh Sertifikat
Kesehatan (Medical Certificate for Seafarers)

Persiapan yang perlu dilakukan antara lain;

1. Pola makan yang sehat / seimbang, terutama mengurangi makanan berlemak, alkohol, dll.

2. Istirahat (tidur) tidak terlalu larut malam.

3. Periksakan secara dini, Telinga, Mata, dan tensi darah, mulut dan gigi.

Setelah persiapan sedemikian rupa barulah melakukan medical check up di klinik / RS yang
ada dalam daftar approval BKKP-Jakarta.

Bila hasil pemeriksaan physic dinyatakan sehat, mintalah surat keterangan sehat dari klinik
tersebut.

Sambil menunggu terbitnya sertifikat, anda dapat melakukan Training BST, atau Training
lainnya yang dibutuhkan. Dan pastikan Sertifikat Kesehatan sudah ada pada saat melakukan
pengurusan buku pelaut online.

Pada saat tiba waktunya untuk berangkat, carilah Manning agent (Perusahaan Keagenan
Awak kapal) yang memiliki license siuppak dari Direktorat Perhubungan laut, untuk
menguruskan sign-on (sijil Bk.Pelaut) secara online, setelah data yang dibutuhkan dilakukan
up load, Buku pelaut dan PKL (Perjanjian Kerja laut), untuk mendapat pengesahan oleh Kasi
kepelautan pada kantor KSOP setempat, dan LG (Letter Guarantee) dari Manning agent bagi
pelaut yang join ke kapal melalui pelabuhan di luar negeri, atau mengurus visa transit bila
dibutuhkan.

Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas I Makassar merupakan unit vertikal dari


Kementerian Kesehatan yang berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada
Dirjen PP dan PL dimana wilayah kerjanya meliputi pelabuhan laut dan bandara di wilayah
Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Berdasarkan Permenkes No. 2348/Menkes/Per/XI/2011
tentang Struktur organisasi dan tata kerja KKP revisi dari Permenkes No.
356/Menkes/Per/IV/2008 yang dijelaskan bahwa salah satu tugas dan wewenang KKP adalah
melaksanakan upaya kesehatan kerja termasuk di dalamnya adalah pemeriksaan kesehatan
Nakhoda/Pilot dan Anak buah kapal/Awak Pesawat udara serta penjamah makanan.
Ditunjuknya KKP Kelas I Makassar sebagai salah satu Institusi penyelenggara
pengujian kesehatan terhadap Tenaga Fungsional Pelayaran diperkuat dengan surat keputusan
Direktur Jenderal Perhubungan Laut Nomor : UM.48/5/11/2005 tentang pengakuan terhadap
Rumah Sakit/Institusi Kesehatan sebagai Penguji Kesehatan Tenaga Fungsional Pelayaran
melalui Balai Kesehatan Kerja Pelayaran (BKKP) Jakarta.

Pemeriksaan kesehatan bagi Tenaga Pelaut dan Tenaga Penunjang Keselamatan


Pelayaran yang dilaksanakan oleh KKP Kelas I Makassar, salah satunya adalah pemeriksaan
General Medical Check-Up yang dikenal dengan istilah MCU.

Adapun persyaratan pemeriksaan MCU adalah sebagai berikut :

1. Persyaratan Administrasi, Pelaut/Calon Pelaut diharuskan melampirkan berkas dengan


menunjukkan asli, sbb:
a. Foto copy identitas diri yang masih berlaku, contoh: Passport/KTP/SIM dan atau Buku
Pelaut.

b. Foto copy Sertifikat Basic Safety Training (BST).

c. Pas foto berwarna sesuai jurusan (Jurusan Nautika/Deck berwarna biru, Jurusan
Teknika/Engine berwarna merah) dengan ukuran 3x4 sebanyak 2 lembar dan ukuran 4x6
sebanyak 2 lembar. Pas foto harus jelas, tidak menggunakan kacamata dan tidak di-scan.

d. Menyertakan file pas foto (soft copy) dalam format .jpeg untuk keperluan entry data
Sistem Informasi Kesehatan Pelaut Indonesia (SISKESPI) Ditjen Perhubungan Laut
Kementerian Perhubungan yang berbasis online.

2. 2. Persyaratan Pemeriksaan
Sebelum pemeriksaan MCU, Pelaut/Calon diharuskan :
a. Pada malam hari sebelum pemeriksaan agar beristirahat yang cukup.
b. Puasa selama 6-8 jam mulai dari jam 23.00 malam, hanya diperbolehkan minum air putih
selama puasa, tujuannya agar dapat diperoleh hasil pemeriksaan yang akurat.
c. Selama puasa tidak diperbolehkan merokok.
d. Jika mengkonsumsi obat-obat tertentu atas anjuran dokter, agar melaporkan ke Petugas
Laboratorium saat diambil sampel darah dan urine.

Hanya Pelaut yang memenuhi persyaratan tersebut diatas yang akan dilakukan pemeriksaan
MCU yang terdiri dari :

1. Pemeriksaan Fisik
2. Pemeriksaan Audiometri
3. Pemeriksaan MATA
4. Pemeriksaan Rekam Jantung (EKG)
5. Pemeriksaan Radiologis/Rontgen Foto
6. Pemeriksaan Gigi dan Mulut
7. Pemeriksaan Laboratorium Klinik (Darah dan urine)
8. Pemeriksaan Psikologi (Bagi yang pertama kali MCU)
9. Pemeriksaan Spirometri (Bagi Penyelam)
Semua hasil pemeriksaan dimasukkan kedalam kedalam aplikasi Sistem Informasi
Kesehatan Pelaut Indonesia (SISKESPI) dan direkam ke dalam data base Pelaut berdasarkan
nomor sertifikat BST, hasil pemeriksaan dapat dilihat langsung melalui website Balai
Kesehatan Kerja Pelayaran (BKKP) Jakarta dengan alamat http:\\bkkp.dephub.go.id. Setelah
data pemeriksaan kesehatan disetujui/Approved oleh BKKP, maka sertifikat kesehatan yang
juga lebih dikenal dengan sertifikat logo Garuda dapat diterbitkan dan dinyatan FIT TO
WORK ON BOARD.

Masa berlaku sertifikat kesehatan adalah dua tahun, namun bagi Pelaut/Calon Pelaut yang
berusia ? 18 tahun masa berlaku sertifikat kesehatan hanya selama satu tahun. Selain
sertifikat berlogo Garuda, KKP juga melayani pemeriksaan kesehatan dan penerbitan
sertifikat MCU dari Negara Asing, seperti : MPA Singapore, Panama, Belieze, Immarbe dan
sertifikat MLC dengan standar sesuai dengan peraturan Amandemen Manila 2010.
Untuk keterangan selengkapnya silakan menghubungi Seksi Pencegahan dan Pelayanan
Kesehatan Bidang UKLW KKP Kelas I Makassar, dengan Contact Person :
1. Hj. Jumuriah, SKM., M.Kes Hp. 081354688225
2. Akbar Hapi, S.Farm Hp/WA : 081342976845
3. Wahyudi Hidayat, S.Kep.,Ns. Hp/WA : 085340084243
Sampaikan pula saran dan kritikan Anda tentang Pelayanan Pemeriksaan Kesehatan Pelaut
melalui email : gahyankes_kkpmakassar@yahoo.com

Pertanyaan Kesehatan Maritim


Apakah pemeriksaan kesehatan diperlukan untuk bekerja sebagai pelaut atau lepas-pantai?

Konvensi ILO mengenai pemeriksaan kesehatan (Pelaut) nomor 73/1946 artikel 3.1. dan
konvensi ILO mengenai pemeriksaan kesehatan (Nelayan) No. 113/1959 artikel 2,
mengharuskan siapa pun untuk lulus penilaian kelayakan kesehatan sebelum memasuki karir
sebagai pelaut atau nelayan, atau sebelum kembali kerja ke laut. Tidak ada pengecualian
untuk jenis pekerjaan, umur dan lama tinggal. Keharusan layak kesehatan kemudian dimuat
ke dalam MLC 2006 Regulasi 1.2 Paragraf 1: Pelaut tidak boleh kerja di kapal kecuali
mereka dinyatakan medically fit untuk mengerjakan tugas-tugasnya.

Berbagai otoritas pembuat kebijakan minyak & gas seperti OGUK (UKOOA), NOGEPA,
CAPP dan Norwegian Directorate of Health, juga mengharuskan hal yang sama untuk awak
lepas-pantai.

Mengapa?

Karena, kapal atau anjungan lepas-pantai adalah tempat kerja yang unik.
Jauh dari rumah untuk waktu yang lama, terpisah dari keluarga dan kawan, pada beberapa
kasus, dari mereka yang latar belakang budayanya sama.
Sifat pekerjaan di laut atau lepas-pantai yang berbahaya, yang menuntut tingkat kesehatan
dan kebugaran yang tinggi.
Tuntutan pekerjaan dimana mereka harus berperan pada keadaan darurat yang
membutuhkan kerja keras pada cuaca tidak bersahabat (terpapar asap, gas, cuaca panas
atau dingin).
Struktur fisik kapal atau anjungan lepas-pantai dengan sejumlah tangga menanjak, tangga
tegak, tangga dari tali, lubang berpintu yang sempit, lorong naik-turun kesemuanya
membutuhkan stamina fisik yang baik dan kegesitan. Pintu keluar pada keadaan darurat
mengharuskan pemanjatan tangga tegak melalui lubang keluar yang sempit.
Bergerak rutin pada lantai yang basah, licin, kasar dan tidak stabil.
Kerja jaga dengan jadwal tak teratur untuk waktu yang lama.
Kondisi cuaca ekstrim.
Jumlah kru yang terbatas sehingga seorang kru yang sakit akan menambah beban kerja
pada kru yang sehat.
Kebutuhan untuk bergabung atau meninggalkan kapal atau anjungan lepas-pantai melalui
udara dimana mereka harus bebas dari segala kondisi yang mungkin timbul pada perjalanan
udara.
Beroperasi jauh dari pantai atau di tempat tak terjangkau yang menyulitkan penggantian
kru yang cidera atau sakit.
Keterbatasan fasilitas kesehatan di kapal atau anjungan lepas-pantai.
Jauh dari fasilitas kesehatan di darat.

Apa saja jenis pemeriksaan kesehatan pelaut / pekerja lepas-pantai?

Ada tiga jenis:


Pemeriksaan Kesehatan Pra-laut
Pemeriksaan Kesehatan Berkala
Pemeriksaan Kesehatan Pasca Sakit-Cidera

Apa perbedaan antara Pemeriksaan Kesehatan Pra-laut dan Pemeriksaan Kesehatan Berkala?

Pemeriksaan kesehatan pra-laut untuk mencegah seseorang yang tidak sehat berkarir
sebagai pelaut / pekerja lepas-pantai. Faktor-faktor penting pada pemeriksaan kesehatan
pra-laut adalah PENYAKIT MENULAR, KETAJAMAN PENGLIHATAN DAN
PENDENGARAN, dan KEMAMPUAN FISIK. Untuk Pemeriksaan Kesehatan Berkala, pada
dasarnya, apa-apa yang dinilai sama seperti pemeriksaan kesehatan pra-laut tetapi dengan
beberapa modifikasi. Disamping penyakit menular, penglihatan, pendengaran dan
kemampuan fisik, faktor tambahan yang harus dipertimbangkan adalah USIA dan RIWAYAT
PEKERJAAN mengenai cidera paparan fisika dan kimia

Berapa sering pemeriksaan kesehatan?

Konvensi ILO mengenai pemeriksaan kesehatan remaja (Laut) No. 16/1921 artikel 2 dan 3,
dan konvensi ILO mengenai pemeriksaan kesehatan (Pelaut) No. 73/1946 artikel 5.1., serta
konvensi ILO mengenai pemeriksaan kesehatan (Nelayan) No. 113/1959 artikel 4.1.
menetapkan bahwa sertifikat kesehatan harus diperbaharui maksimal setiap 2 tahun; untuk
pelaut usia kurang dari 18 tahun dan nelayan usia kurang dari 21 tahun adalah setiap tahun.
Ketetapan masa berlakunya sertifikat kesehatan tersebut kemudian dimuat ke dalam
konvensi internasional mengenai baku pelatihan, sertifikasi dan pengawasan navigasi 1978
(STCW Convention 1978, Regulation I/9) dan konvensi pekerja maritim 2006 (MLC 2006,
Standard A1.2, paragraph 7).
Berbagai otoritas pembuat kebijakan minyak & gas seperti OGUK (UKOOA), NOGEPA,
CAPP dan Norwegian Directorate of Health, juga menetapkan masa berlakunya sertifikat
kesehatan adalah maksimal 2 tahun.

Bila serifikat kesehatan habis masa berlakunya ketika kapal di laut, sertifikat tetap berlaku
sampai akhir perjalanan dimana penggantian sertifikat bisa didapat, atau sampai 3 bulan
setelah habis masa berlakunya mana yang lebih dulu. Perpanjangan sertifikat tanpa
pemeriksaan ulang tidak dibolehkan.

Apa maksud dan tujuan pemeriksaan kesehatan setelah sakit-cidera?

Pelaut / pekerja lepas-pantai harus diperiksa ulang kesehatannya sebelum dibolehkan


kembali bekerja apabila: (1) Sakit atau cidera untuk 30 hari. (2) Diturunkan atau
dievakuasi dari tempat kerja karena alasan kesehatan, atau (3) Diminta oleh majikan /
pemilik kapal / master untuk mendapat sertifikat kesehatan baru karena sakit, cidera atau
alasan masuk akal lainnya dimana pelaut / pekerja lepas-pantai diduga tidak memenuhi
syarat kesehatan minimum untuk kembali bekerja.

Apa hasil penilaian kesehatan berdasarkan acuan medis penglihatan pendengaran?

FIT untuk bekerja di laut atau lepas-pantai tanpa pembatasan


FIT untuk bekerja di laut atau lepas-pantai dengan pembatasan
UNFIT SEMENTARA untuk bekerja di laut atau lepas-pantai
UNFIT SELAMANYA untuk bekerja di laut atau lepas-pantai

Apabila saya mempunyai kondisi medis yang dapat dikendalikan dengan pengobatan jangka
panjang, akankah saya fit untuk bekerja?

Ya, dokter anda akan memberikan surat mengenai kondisi medis anda yang merinci nama
obat dan dosisnya, dan konfirmasi bahwa obat dimaksud aman digunakan saat bekerja di
laut / lepas-pantai dan tidak mempengaruhi kemampuan mengerjakan tugas. Disamping itu,
anda harus mematuhi nasihat dokter dan mengatur jumlah obat yang cukup untuk masa
kontrak ditambah satu bulan, dan harus melapor ke ship-master / petugas medis di kapal
mengenai kondisi medis anda saat naik ke kapal. Tetapi segala penyakit menetap atau
berlanjut tanpa kemungkinan sembuh dapat menjadi penyebab unfit.

Pemeriksaan Kesehatan untuk Crew Kapal Pesiar

Jika Anda sudah dinyatakan lolos interview dengan agen dan User, dan
Anda sudah mendapatkan score yang bagus dalam Marlins Test, maka
langkah selanjutnya adalah Tes Kesehatan atau Medical Check Up. Tulisan
ini memuat gambaran secara umum tentang Pemeriksaan kesehatan
untuk crew member maupun calon crew member yang akan berkarir di
bidang kapal pesiar internasional.

Setelah Anda melalui semua proses recruitment dan dinyatakan lolos


sebagai calon crewmember, Perusahaan kapal pesiar atau agensi yang
mewakilinya akan menginstruksikan kepada Anda untuk melakukan
pemeriksaan medis secara lengkap atau lebih dikenal dengan Medical
Check-Up. Pemeriksaan kesehatan ini adalah salah satu cara yang paling
efektif bagi perusahaan kapal pesiar untuk melindungi kesehatan dan
keselamatan crew member yang bersangkutan maupun crew member lain
dan penumpang di atas kapal mereka. Penyakit menular dapat ditularkan
kepada orang lain saat bekerja dan pelaut yang tidak memenuhi
persyaratan kesehatan mungkin tidak mampu melakukan pekerjaannya
atau membantu penumpang dalam situasi darurat.

Beberapa penyakit mungkin juga dianggap akan mengganggu aktivitas


kerja anda di kapal pesiar atau bahkan hal-hal diluar pekerjaan.
Contohnya jika anda mempunyai masalah dengan Sinus anda, mungkin
anda tidak bisa melakukan perjalanan dengan pesawat terbang. Padahal
pekerjaan ini menuntut anda untuk banyak bepergian dengan pesawat
terbang. Atau jika anda mempunyai masalah alergi dengan tingkat
kelembaban yang rendah di negara subtropis, dipastikan kehidupan anda
akan terganggu karena pekerjaan ini menuntut anda untuk selalu siap
ditempatkan di seluruh dunia. Begitu juga jika anda mengidap hepatitis
tipe tertentu, secara fisik mungkin anda sehat, namun penyakit itu dapat
menular dengan cepat ke crew member lain, lalu berbagai jenis penyakit
yang diakibatkan oleh virus hepatitis akan bermunculan dikemudian hari,
menyerang siapa saja di atas kapal.

Perlu diingat bahwa selama anda bekerja di kapal pesiar, anda akan
dilindungi asuransi. Pemeriksaan kesehatan ini juga sebagai syarat bagi
perusahaan kapal pesiar untuk mengajukan nama anda sebagai klien
kepada perusahaan asuransi yang bekerja sama dengan perusahaan
kapal pesiar tempat anda akan bekerja. Syarat dan standar kesehatan
anda harus disesuaikan dengan persyaratan dari perusahaan asuransi
tersebut. Besar kemungkinan, jika syarat kesehatan yang diajukan pihak
asuransi tidak dapat anda penuhi, maka anda tidak dapat bekerja di
perusahaan tersebut. Itulah mengapa standar kesehatan masing-masing
perusahaan berbeda satu sama lain karena mereka juga bekerja sama
dengan perusahaan asuransi yang berbeda-beda.

Latar Belakang
Perlunya pemeriksaan medis untuk bekerja di laut dimulai pada tahun
1946. Konvensi Pemeriksaan Kesehatan untuk pelaut mulai diperkenalkan
pada konferensi Organisasi Buruh Internasional (ILO) yang digelar pada
tahun 1946. Konferensi ini membicarakan usulan mengenai perlunya
pemeriksaan medis bagi pelaut yang masih dilaksanakan sampai hari ini,
dan diterapkan terhadap semua jenis kapal yang mengangkut penumpang
maupun barang dengan berbagai perbedaan terhadap standard dan
syarat kesehatan yang diperlukan.
Pemeriksaan kesehatan ini dilakukan untuk memastikan bahwa crew
member akan mampu melaksanakan pekerjaan sesuai dengan tugas dan
tanggung jawabnya. Pemeriksaan kesehatan ini juga mempertimbangkan
keadaan dan resiko pekerjaan yang akan dihadapi crew member melalui
sistem penilaian yang ketat terhadap standar kesehatan yang layak untuk
bekerja dan bertugas di laut, di semua belahan dunia.

Surat Keterangan Kesehatan

Secara umum, hasil tes kesehatan yang


dikeluarkan dalam bentuk surat keterangan medis membuktikan bahwa
yang bersangkutan mampu secara fisik melakukan pekerjaan di kapal
pesiar serta tidak menjadi risiko bagi orang lain. Setiap crew member
tidak boleh menderita penyakit yang akan menjadi parah dengan bekerja
di laut atau kemungkinan besar akan membahayakan kesehatan orang
lain diatas kapal. Sertifikat / surat keterangan ini harus dikeluarkan oleh
dokter yang berwenang, atau klinik yang ditunjuk sesuai dengan
persyaratan dari Otoritas Maritim dari negara di mana anda tinggal.

Biasanya, Perusahaan kapal pesiar memberikan kebebasan kepada agensi


yang mewakilinya untuk menentukan dokter atau laboratorium klinik
dalam pelaksanaan pemeriksaan kesehatan terhadap crew member
(pelaut) sesuai dengan persyaratan yang telah ditetapkan. Perusahaan
Kapal pesiar kemudian akan memberikan persetujuan terhadap dokter
atau laboratorium klinik yang ditunjuk oleh agensi yang mewakilinya
melalui prosedur pemeriksaan standar sesuai yang disyaratkan. Setiap
perusahaan kapal pesiar mempunyai standar pemeriksaan yang berbeda
dan mempunyai medical form sendiri untuk dilengkapi dan disetujui oleh
dokter yang ditunjuk, sesuai dengan hasil pemeriksaan kesehatan yang
dilakukan untuk para pelaut atau calon pelaut.

Dokter atau Klinik untuk pelaksanaan Pemeriksaan Kesehatan

Biasanya perusahaan kapal pesiar atau agensi akan memberitahu anda


kemana harus melakukan Pemeriksaan Kesehatan (Medical Check Up).
Agensi juga akan memberikan formulir pemeriksaan kesehatan (medical
form) yang harus diisi oleh dokter atau laboratorium klinik tempat anda
melakukan medical check up. Kemungkinan besar dokter atau
laboratorium klinik tersebut berlokasi di kota yang sama dengan kantor
agensi yang mewakili perusahaan kapal pesiar tersebut. Jangan
mengharap bahwa anda akan bisa melakukan pemeriksaan kesehatan
seperti ini di tempat selain yang telah ditunjuk oleh agensi. Hasil dari
pemeriksaan klinis terhadap kesehatan anda akan langsung dikirim ke
kantor agensi. Jika anda dinyatakan sehat untuk bekerja di laut (Fit To
Work), agensi akan menginformasikannya kepada perusahaan kapal
pesiar sehingga mereka dapat menerbitkan Guarantee Letter untuk
keperluan pembuatan visa.

Jenis Pemeriksaan Kesehatan Untuk Pelaut

Pemeriksaan kesehatan untuk pelaut


dibagi menjadi dua kategori yang berbeda. Pertama andalah Pre-
employment Exam atau pemeriksaan kesehatan bagi calon pelaut
sebelum mulai bekerja dilaut, dan kedua adalah pemeriksaan kesehatan
periodic yang harus dilakukan oleh para pelaut setiap dua tahun sekali.
Meskipun demikian, pelaksanaan pemeriksaan kesehatan dan item yang
diperiksa atau di uji tidak ada perbedaan. Dua-duanya harus melalui
serangkaian tes yang sama persis.

Perbedaan yang utama adalah bahwa Pre-employment Exam bagi para


calon pelaut dimaksudkan untuk mendeteksi suatu kondisi atau penyakit
tertentu sebelum memulai karier sebagai pelaut. Sedangkan pemeriksaan
medis periodic memungkinkan perusahaan untuk mengawasi kondisi
kesehatan pekerjanya; apakah yang bersangkutan tetap dalam kondisi
baik selama bekerja dilaut dan menyatakan bahwa yang bersangkutan
masih dalam keadaan yang sehat untuk melaksanakan tugas-tugas
selanjutnya.

Sebelum Pemeriksaan Kesehatan

Pastikan anda minum cukup air sehingga anda dapat menyediakan


air seni saat diminta. Perlu diingat bahwa kandungan alkohol dapat
terdeteksi pada tes kesehatan ini, pastikan anda tidak minum
alkohol setidaknya dua hari sebelum tes kesehatan.
Bawa juga contoh tinja yang ditempatkan dalam wadah tertutup,
diambil pagi hari sebelum berangkat ke tempat pemeriksaan.

Puasa setidaknya 12 jam sebelum tes kesehatan untuk


mengakomodasi tes gula darah.

Perbanyak makanan yang mengandung serat seperti sayur-mayur


atau buah-buahan setidaknya seminggu sebelum pemeriksaan
kesehatan.

Lakukan olah raga fisik ringan setiap hari setidaknya dua minggu
sebelum tes kesehatan. Olahraga akan meningkatkan kandungan
oksigen dalam darah anda sehingga daya tahan tubuhpun akan
meningkat.

Isi dan lengkapilah kuesioner pada formulir tes kesehatan sebelum


tes kesehatan dimulai. Ingat, beberapa kolom hanya dokter dan
petugas laboratorium yang mengisi. Cermati formulirnya sebelum
mulai mengisi.

Bawalah kartu identitas seperti KTP atau Paspor.

Bawa serta jika anda berkaca mata atau memakai lensa kontak.
Anda akan di tes dengan memakai kacamata dan tidak memakai
kacamata.

Bawa serta catatan imunisasi atau vaksinasi yang telah anda


terima. Pelaut harus menjalani vaksinasi sesuai dengan persyaratan
dari World Health Organization (WHO)

Selama Pemeriksaan Kesehatan

Persyaratan kesehatan yang harus anda penuhi tergantung pada


perusahaan kapal pesiar dan posisi yang akan anda geluti. Tetapi secara
umum beberapa hal dibawah ini harus anda lakukan.
Anda akan diminta untuk menyediakan contoh urin dan tinja untuk
beberapa tes.
Anda harus menjalani tes pendengaran.

Pemeriksaan gigi juga akan dilakukan terhadap anda.

Penglihatan anda juga akan di periksa, termasuk kemampuan


membedakan warna.

Anda juga harus menjalani foto rontgen untuk memastikan paru-


paru anda sehat dan baik.

Pemeriksaan darah untuk berbagai pemeriksaan dilakukan dengan


mengambil darah dari lengan anda.

Konsultasi dengan dokter di akhir sesi pemeriksaan akan


mendiskusikan masalah pola makan, gejala yang sering anda
rasakan, olahraga, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, dan hal-
hal lain yang berhubungan dengan masalah kesehatan anda secara
umum.

Jika terdapat masalah kesehatan, dokter yang bersangkutan akan


memberikan resep untuk obat tertentu, atau bahkan menyarankan
anda untuk menjalani perawatan hingga masalah tersebut dapat
teratasi. Tentu saja hal ini berpengaruh terhadap waktu
keberangkatan anda ke negara tujuan kerja.

Jenis Pertanyaan pada kuesioner kesehatan.

Karena banyak sekali kondisi medis yang dapat mempengaruhi pekerjaan


anda sebagai pelaut, anda harus menjawab banyak pertanyaan mengenai
riwayat kesehatan anda. Pertanyaan-pertanyaan tersebut terdapat pada
formulir tes kesehatan yang harus anda lengkapi dan mungkin juga
pertanyaan verbal dari dokter yang memeriksa anda.

Anda diwajibkan untuk menjawabnya


dengan jujur karena akan berpengaruh terhadap masa depan kesehatan
anda nantinya jika anda sudah bekerja. Kejujuran anda akan
menunjukkan masalah kesehatan yang kemungkinan besar akan anda
hadapi di atas kapal selama anda bekerja.

Secara umum, dokter akan menilai kondisi kesehatan anda yang


berhubungan dengan pekerjaan yang akan anda jalani di atas kapal.

Berikut adalah beberapa pertanyaan yang mungkin akan ditanyakan:

Anda diharapkan untuk mengenal dan menjawab pertanyaan-


pertanyaan mengenai infeksi saluran pencernaan dan memahami
resikonya.
Anda mungkin akan mendapat pertanyaan mengenai masalah sinus
dan organ pendengaran . Jika anda sering mengalaminya, mungkin
anda tidak akan bisa bepergian dengan pesawat terbang dan akan
mengganggu rutinitas kerja anda karena rasa sakitnya.

Anda juga akan menghadapi pertanyaan tentang STD (sexual


Transmitted Desease) atau penyakit seksual dan jenis-jenis infeksi
yang pernah atau sedang anda alami. Keberangkatan anda akan
ditunda jika anda masih mengidap penyakit itu hingga anda
dinyatakan benar-benar telah sembuh.

Anda akan mendapatkan pertanyaan tentang penyakit diabetes.


Meskipun untuk beberapa posisi diperbolehkan bagi penderita
diabetes (non-insulin user), namun anda tetap akan diminta untuk
menunjukkan bukti stabilisasi gula darah anda sebelum anda
dinyatakan Fit To Work.

Berat badan anda juga akan di evaluasi jika anda terlihat terlalu
gemuk. Jika Body Mass Index (BMI) anda melebihi 30, anda akan
dinyatakan Unfit To Work atau tidak memenuhi syarat kesehatan
untuk bekerja.

Anda juga akan mendapatkan pertanyaan apakah anda pernah atau


sedang mengidap epilepsy. Untuk bisa dinyatakan Fit To Work,
anda harus membuktikan bahwa anda tidak mengalami serangan
epilepsy selama setidaknya 10 tahun (tanpa memakai obat anti
epilepsy pada periode yang sama).

Anda akan ditanya mengenai penyakit infeksi kulit, alergi makanan,


infeksi tenggorokan, diare yang berulang, dan mimisan (hidung
berdarah). Pertanyaan ini sangat penting bagi anda jika hendak
bekerja di bidang food service atau food product.

Anda akan ditanya apakah anda sedang menjalani pengobatan


tertentu. Beberapa pengobatan akan menimbulkan efek samping
yang dapat berakibat buruk dalam kondisi tertentu.
Kebutuhan akan ketahanan fisik

Setiap crew member / pelaut harus bisa beradaptasi dengan gerakan dan
guncangan kapal dalam cuaca buruk. Ketahanan fisik seorang pelaut
menjadi kunci atas keberhasilan beradaptasi dengan hal-hal ini. Crew
member / pelaut tidak boleh memiliki keterbatasan fisik yang dapat
mengganggu mobilitas, gerakan, kecepatan, atau hal-hal lain yang
berhubungan dengan fungsi dan tugasnya di kapal pesiar. Pemeriksaan
fisik secara menyeluruh memastikan seorang pelaut atau calon pelaut
memiliki ketahanan fisik seperti yang disyaratkan.

Biaya Tes Kesehatan

Biaya tes kesehatan dan pemeriksaan lain yang berhubungan dengan


persyaratan kesehatan berbeda-beda pada setiap institusi. Biaya ini
tergantung pada banyaknya item yang harus di tes atau diperiksa.
Besaran biaya ini juga tergantung pada kebijakan agensi dalam
menentukan institusi kesehatan yang ditunjuk. Institusi besar dengan
pelayanan kelas satu pasti memerlukan biaya yang lebih banyak daripada
institusi kecil dengan pelayanan yang biasa.
Beberapa perusahaan kapal pesiar bahkan melakukan reimbursement
(pengembalian) terhadap biaya tes kesehatan yang dikeluarkan calon
crew member-nya setelah mereka tiba di kapal untuk mulai bekerja. Tapi
secara umum, gambaran biaya tes kesehatan saat ini berkisar antara Rp.
1.2 juta sampai Rp. 2.5 juta.

Hasil tes Kesehatan.

Meskipun salinan sertifikat medis anda


akan disimpan oleh institusi kesehatan di mana Anda diperiksa, namun
hasil pemeriksaan yang asli akan dikirimkan ke agensi untuk segera
diinformasikan ke perusahaan yang mempekerjakan anda. Salinan hasil
tes kesehatan tersebut akan diberikan untuk anda agar anda memahami
apa yang harus anda lakukan selanjutnya terhadap kesehatan anda (jika
ada catatan khusus dari dokter).
Hasil Tes kesehatan yang asli baru akan diberikan kepada anda setelah
anda benar-benar siap untuk berangkat ke negara tujuan. Begitu anda
tiba dikapal, hasil tes kesehatan yang asli akan diminta sebelum anda
disodori konrak kerja untuk ditandatangani.

Bagaimana jika dinyatakan Gagal / Unfit?

Semua pelaut ataupun calon pelaut yang dinyatakan gagal atau unfit
pada tes kesehatan seperti ini mempunyai hak untuk mengajukan
penjadwalan ulang untuk keberangkatannya. Tentu saja setelah melalui
tes kesehatan ulang dengan hasil yang baik. Artinya, yang bersangkutan
harus menjalani serangkaian perawatan dan pengobatanterlebih dahulu
hingga dinyatakan sembuh dan tidak mempunyai masalah kesehatan
lagi.

AMANDEMEN STCW 2010: APA YANG PERLU ANDA KETAHUI


Telah secara luas diketahui bahwa IMO mengadakan Konferensi Diplomatik di Manila, Filipina,
pertengahan tahun 2010 untuk membahas amandemen STCW. Banyak orang yang tidak mengetahui
pada tingkat apa revisinya dan realitas implementasinya di balik hal tersebut. Untuk meluruskan hal-
hal tersebut mari kita lihat apa yang telah terjadi langkah demi langkah.
Amandemen STCW Manila.
Pada 25 Juni 2010, Organisasi Maritim Internasional (IMO) serta stakeholder utama lainnya dalam
dunia industry pelayaran dan pengawakan global secara resmi meratifikasi apa yang disebut sebagai
Amandemen Manila terhadap Konvensi Standar Pelatihan untuk Sertifikasi dan Tugas Jaga bagi
Pelaut (STCW) dan Aturan terkait. Amandemen tersebut bertujuan untuk membuat STCW selalu
mengikuti perkembangan jaman sejak pembuatan dan penerapan awalnya pada tahun 1978, dan
amandemen selanjutnya pada tahun 1995.
Mulai Berlakunya.
Amandemen Konvensi STCW akan diterapkan melalui prosedur penerimaan dengan pemahaman
yang telah disepakati yang mengisyaratkan bahwa perubahan tersebut sudah harus diterima paling
lambat 1 Juli 2011 KECUALI bila lebih dari 50% dari para pihak terkait STCW menolak perubahan yang
demikian. Sebagai hasilnya, Amandemen STCW ditetapkan mulai berlaku pada tanggal 1 Januari
2012.
Tujuan Amandemen STCW.
Hal-hal berikut menguraikan perbaikan-perbaikan kunci yang diwujudkan melalui Amandemen baru,
yaitu:
1. Sertifikat Kompetensi & Endorsement-nya hanya boleh dikeluarkan oleh Pemerintah sehingga
mengurangi kemungkinan pemalsuan sertifikat kompetensi.
2. Pelaut yang telah menjalani pemeriksaan kesehatan sesuai Standar medis umum untuk pelaut dari
satu negara dapat berlaku di kapal yang berasal dari negara lain tanpa menjalani pemeriksaan medis
ulang.
3. Persyaratan revalidasi sertifikat dirasionalisasi untuk kepentingan pelaut.
4. Pengenalan metodologi pelatihan modern seperti pembelajaran jarak jauh dan pembelajaran
berbasis web.
5. Jam istirahat bagi pelaut dikapal diselaraskan dengan persyaratan Maritime Labor Convention
ILO/MLC (Konvensi Buruh Maritim ILO) 2006, dengan maksud untuk mengurangi kelelahan.
6. Memperkenalkan persyaratan-persyaratan tambahan untuk menghindari alkohol dan
penyalahgunaan zat terlarang. terus diperbarui mengikuti perkembangan teknologi modern dan
kebutuhan riil dilapangan.
8. Pelatihan penyegaran dibahas dengan layak dalam konvensi.
7. Kompetensi dan kurikulum baru harus
Beberapa hal pokok terkait amandemen STCW 2010, adalah sebagai berikut :
Bab I Ketentuan Umum.
Peraturan I / 2: Hanya Pemerintah yang dapat mengeluarkan Certificate of Competency (COC) dan
menyediakan database elektronik untuk verifikasi keaslian sertifikat.
Peraturan I / 3: Persyaratan Near Coastal Voyage dibuat lebih jelas, termasuk principal yang
mengatur pelayaran dan melakukan kegiatan usaha dengan Pihak yang terkait (negara bendera dan
negara pantai).
Peraturan I / 4: Penilaian/pemeriksaan Port State Control (PSC) terhadap pelaut yang melaksanakan
tugas jaga dan standar keamanan Harus memenuhi Standar keamanan dalam daftar.
Peraturan I / 6: Pedoman e-learning (pembelajaran elektronik)
Peraturan I / 9: standar Medis diperbaharui sejalan dengan Persyaratan ILO MLC.
Peraturan I/11: Persyaratan revalidasi dibuat lebih rasional dan termasuk persyaratan revalidasi
atas endorsement sertifikat kapal tanker.
Peraturan I/14 : Perusahaan bertanggung jawab terhadap pelatihan penyegaran pelaut di kapal
mereka
STCW Bab II, Level Dukungan
Bab Dua adalah bagian Departemen Dek. Perubahan utama dalam Bab II adalah penambahan Pelaut
Trampil (Able Seafarers/AB) Deck Rating. Ini terpisah dari Rating yang melaksanakan tugas jaga
Navigasi (Rating Forming Part of a Navigational Watch / RFPNW).
Berdasarkan persyaratan untuk bekerja dikapal, penting bagi pelaut untuk mendapatkan kualifikasi
RFPNW sebisa mungkin pada awal sekali dari karir mereka. Pelaut tidak secara otomatis mendapat
kualifikasi AB sampai kualifikasi RFPNW telah dipenuhi dan lisensi tersebut harus mendapatkan
sertifikat pengukuhan (endorsement) AB. Ini akan membutuhkan pelatihan dan pengujian serta akan
menjadi pasal baru yang disebut A-II / 5.
STCW Bab II, Level Operasional dan Manajemen.
Untuk Electronic Chart Display and Information System / ECDIS (Peta dan Sistim Informasi Elektronik),
perlu pelatihan bagi semua Perwira Dek untuk semua kapal yang dilengkapi dengan ECDIS. Pelatihan
ECDIS dilaksanakan sama seperti pelatihan ARPA ataupun GMDSS, dimana ada pembatasan dalam
STCW yaitu seseorang tidak boleh bekerja di kapal dengan perlengkapan tersebut jika ia tidak
memiliki sertifikat ECDIS.
Pada 2012 hampir semua kapal dengan bobot mati lebih dari 200 ton akan diatur di bawah hukum
yang terpisah untuk memiliki peralatan ECDIS. Secara otomatis, setiap Perwira Dek dikapal berbobot
lebih dari 200 ton akan membutuhkan pelatihan ECDIS. Akan ada dua tingkat ECDIS, yakni
operasional dan manajemen dengan tanggung jawab yang berbeda dari masing-masingnya.
Manajemen SDM yang bertugas di anjungan kapal, Pelatihan Tim Kerja dan Kepemimpinan akan
diwajibkan baik di tingkat operasional maupun manajemen.
STCW Bab III, Mesin
Perubahan utama dalam Bab III adalah penambahan Pelaut Trampil bagian Mesin (Engine Rating). Ini
terpisah dari rating yang melaksanakan tugas jaga mesin.
Banyak negara hanya memiliki level rating yang melaksanakan tugas jaga (Rating Forming Part of a
Enginee Watch / RFPEW), dan untuk pelaut trampil pemula dibagian mesin disyaratkan memiliki
sertifikat RFPEW sesuai ketentuan STCW. Ini akan membutuhkan pelatihan dan pengujian dan akan
menjadi pasal baru yang disebut A-III/5.
Pasal A-III/1 akan diformat ulang dan diatur kembali. Anda tidak lagi perlu melakukan pelatihan
selama 30 bulan di kamar mesin yang disetujui. Kata-katanya sekarang akan lebih disinkronkan
dengan departemen dek dan berbunyi tiga tahun masa kerja di laut dengan satu tahun gabungan
keterampilan bengkel dan enam bulan jaga mesin (engine room watchstanding).
Perwira Teknik Elektro (Electro Technical Officer/ETO) dan Bawahan Teknik Elektro (Electro Technical
Rating/ETR) akan ditambahkan.
Manajemen SDM di Kamar Mesin, Pelatihan Tim Kerja dan pelatihan Kepemimpinan akan diwajibkan
baik di tingkat operasional maupun manajemen.
STCW Bab V, Tanker dan Kapal Tanker:
Sekarang akan ada tiga kategori Awak kapal Tanker pada kapal tanker, yaitu:
Awak kapal tanker Minyak.
Awak kapal tanker Kimia.
Awak kapal tanker Gas Cair.
Selain itu, setiap kategori Awak kapal tanker akan dipisahkan atas dua tingkat, yaitu :
Dasar (saat ini disebut asisten).
Lanjutan (saat ini disebut Penanggung Jawab (PIC).
Yang akan menjadi perubahan besar adalah pemisahan bahan kimia dari minyak dan masing-masing
memerlukan prasyarat tersendiri untuk diawaki pada setiap jenis kapal dan pelatihan khusus untuk
masing-masingnya. Selain itu, akan ada Kursus Pemadaman Api di Kapal Tanker, meskipun beberapa
pihak memperbolehkan Program Pemadaman Api Dasar untuk menutupi persyaratan ini.
Kapal Penumpang Akan ada konsolidasi aturan untuk kapal penumpang.
Offshore Supply Vessels (OSV)/Kapal Supply Offshore, Dynamis Positioning (DP) Vessels/Kapal dengan
Kendali Posisi Dinamis dan kapal yang beroperasi di Perairan yang Tertutupi Es: Akan ada pasal baru
yang memuat panduan terkait lisensi khusus atau persyaratan pelatihan untuk OSV, DPV dan kapal
yang beroperasi di Perairan yang Tertutupi Es.
STCW Bab VI, Isu Lingkungan Laut:
Amandemen akan mencakup penambahan isu kesadaran lingkungan laut dalam Kursus Keselamatan
Pribadi & Tanggung Jawab Sosial (Personal Safety & Social Responsibilities/PSSR) yang dilaksanakan
sebagai bagian dari Pelatihan Keselamatan Dasar (Basic Safety Training/BST) serta tingkat operational
yang memperhatikan kelestarian lingkungan laut pada setiap tingkatan sertifikasi sesuai STCW Code
A-II / 1 dan A-III / 1.
Pelatihan Keselamatan Dasar (BST) :
Cakupan PSSR akan ditambahkan beberapa subyek sebagai berikut :
Komunikasi.
Pengendalian Kelelahan.
Tim Kerja.
Subyek tambahan ini akan membuat modul PSSR lebih panjang tapi harus kurang dari satu hari
panjangnya. Tetap saja, ini akan memperpanjang program Pelatihan Keselamatan Dasar dari yang
biasanya lima hari menjadi setidaknya 5,5 hari.
Pelatihan Penyegaran untuk Keselamatan :
Salah satu elemen kunci dari amandemen STCW 2010 tampaknya adalah penghapusan celah yang
berkaitan dengan pelatihan penyegaran. Kode (Aturan) STCW, yang kabur di area ini menyebabkan
banyak negara memilih untuk menafsirkan persyaratan dalam waktu lima tahun secara longgar.
Telah diputuskan bahwa program tertentu yang dapat mempengaruhi keselamatan dan
kelangsungan hidup awak kapal dan penumpang mewajibkan latihan penyegaran pengendalian
keadaan darurat / keselamatan dilaksanakan secara berkala.
Latihan penyegaran keselamatan dapat dilaksanakan dalam bentuk e-learning (pembelajaran secara
elektronis), latihan di atas kapal atau pelatihan di darat.
Kursus keselamatan akan memerlukan pelatihan penyegaran setiap lima tahun dan program
pelatihannya dapat diperpendek dari panjang durasi pelatihan aslinya. Latihan penyegaran dengan
metode yang disetujui (di kelas atau kapal belum ditentukan) adalah:
Proficiency in Survival Craft and Rescue Boats (SCRB).
Advanced Firefighting (AFF).
Basic Safety Training (BST).
Fast Rescue Boat.
Medical Training.
Pelatihan Keamanan.
Amandemen akan mencakup tiga tingkat pelatihan keamanan
Tingkat Satu Kesadaran Keamanan (Semua anggota kru)
Tingkat Dua Petugas Keamanan
Tingkat Tiga Ship Security Officer (Perwira Keamanan Kapal) ISPS Code
Pelatihan Anti Pembajakan juga akan ditambahkan pada setiap level/tingkat.
STCW Bab VIII: Tugas Jaga.
Bagian Aturan STCW ini akan diselaraskan dengan ILO MLC. ILO MLC telah ditandatangani pada tahun
2006 dan dibuat sebagai aturan baru yang mengatur hak para pelaut sehingga akan ada standar
minimum global tentang bagaimana pelaut diperlakukan.
Harmonisasi dengan IMO MLC
Ketika IMO (International Maritime Organization) melakukan pengawasan atas sertifikasi
berdasarkan Konvensi STCW, ILO melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan Konvensi MLC.
Ketika ILO mengadopsi Seafarers Bill of Rights (Hak-Hak Dasar Pelaut) bagi para pelaut di dunia,
semua pihak pemerintah, pelaut dan pemilik kapal memuji standar kerja baru ini sebagai
perkembangan penting bagi sektor industri dunia yang paling terglobalisasi.
IMO telah mengambil langkah penting untuk membangun perlindungan di bidang keselamatan,
sertifikasi dan polusi, tetapi sektor ini dibanjiri dengan berbagai standar ketenagakerjaan
internasional dari sejak lebih dari delapan dekade terakhir. ILO MLC 2006 memodernisasi standar-
standar ini untuk:
1. Konsolidasi dan memperbarui lebih dari 60 Konvensi ILO dan Rekomendasi-rekomendasinya yang
telah pernah dibuat sebelumnya.
2. Menetapkan persyaratan minimum bagi pelaut untuk bekerja pada sebuah kapal.
3. Menangani kondisi kerja, akomodasi, fasilitas rekreasi, makanan dan katering, perlindungan
kesehatan, perawatan medis, perlindungan kesejahteraan dan jaminan sosial.
4. Mempromosikan kepatuhan bagi operator dan pemilik kapal dengan memberikan fleksibilitas yang
cukup pada pemerintah untuk menerapkan persyaratan dalam cara yang terbaik disesuaikan dengan
undang-undang nasional masing-masing negara.
5. Memperkuat mekanisme penegakan/pelaksanaan pada semua tingkatan, termasuk ketentuan
untuk prosedur keluhan yang tersedia bagi pelaut, pengawasan yang dilakukan oleh para pemilik
kapal dan nakhoda terhadap kondisi kapal-kapal mereka, yurisdiksi negara bendera dan kontrol atas
kapal mereka, dan inspeksi negara pelabuhan pada kapal asing.
Kesimpulan
STCW ada untuk diberlakukan. Isu yang paling menarik tentang amandemen baru adalah bahwa
SCTW amandemen 2010 akan diimplementasikan lebih jauh dari MLC ILO. Amandemen baru
menggabungkan periode fase 5 tahun untuk pelaut yang sudah ada sekarang dan pada saat yang
sama mewajibkan adanya semua perubahan nyata seperti Jam Kerja & Istirahat untuk diterapkan
pada 1 Januari 2012.
Jadi marilah kita persiapkan diri untuk perubahan ini dan terus mengikuti perkembangannya.

Organisasiburuhinternasional(ILO)telahmenerbitkanPedomanPemeriksaanKesehatan
Pelaut(GuidelinesonthemedicalexaminationofSeafarers).Pedomaniniakanmembantu
parapraktisimedis,pemilikkapal,perwakilanpelaut,pelautdanorangoranglainyang
relevandenganpelaksanaanpemeriksaankebugaranmedisbagipelautdancalon
pelaut.Pedomaninidimaksudkanuntukmenyediakanaturanbagiadministrasimaritim
dengansuatuperangkatproseduryangdiakuisecarainternasional,yaitukriteriauntuk
digunakanolehpejabatyangberwenangbaiksecaralangsungmaupunsebagaidasaruntuk
membingkaistandarpemeriksaanmedisnasionalyangakankompatibeldenganpersyaratan
internasional.

Pedomanyangvaliddankonsistenharusmembantupraktisimedis,pemilikkapal,perwakilan
pelaut,pelautdanorangoranglainyangrelevandenganpelaksanaanpemeriksaankebugaran
medisbagipelautdancalonpelaut.Tujuannyaadalahuntukmembantupemerintah
menetapkankriteriayangakanmengarahpadakeputusanyangadiltentangsiapayangdapat
denganamandanefektifmelakukantugasrutindandaruratmerekadilaut,inikompatibilitas
terkaitdengankemampuanyangberhubungandengankesehatanmasingmasing.