Anda di halaman 1dari 29

ASSETS

MAKALAH

disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Teori dan Seminar Akuntansi

Dosen Ampu : Drs. H.Yayat Supriatna, M.M.


R.Dian Hardiana, S.Pd., M.Si

Disusun oleh :
Adinda Candra M (1406010)
Ine Yunikawati (1406932)
Karina Puspa Dewi (1401595)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AKUNTANSI


FAKULTAS PENDIDIKAN EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2017
KATA PENGANTAR

Puji Syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT atas berkat rahmat dan
hidayahnya penulis dapat menyelesaikan tugas makalah ini mengenai Assets
Terselesaikannya proposal ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak yang
telah mendorong dan membimbing penulis baik ide-ide, tenaga maupun pemikiran.
Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya
kepada Drs. H. Yayat Supriyatna, M.M. dan Rd. Dian Herdiana Utama, M.Si. selaku
dosen ampu dan pembimbing dalam menyusun makalah ini.
Semoga bimbingan dan bantuan yang telah diberikan ini mendapat pahala yang
berlipat ganda, Aamin Penulis menyadari akan kekurangan dalam penyusunan makalah
ini, karena penulis masih dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu penulis berharap
kritik serta saran dari berbagai pihak untuk menjadikan makalah ini lebih baik lagi

Bandung, Maret 2017

Penulis

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .............................................................................................................. ii


DAFTAR ISI............................................................................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN ......................................................................................................... 1
A. Latar Belakang .............................................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ......................................................................................................... 2
C. Tujuan Makalah ............................................................................................................ 2
D. Manfaat Makalah .......................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN .......................................................................................................... 3
A. Definisi Asset ................................................................................................................ 3
B. Karakteristik Asset ........................................................................................................ 3
1. Memiliki manfaat ekonomi dimasa mendatang ........................................................ 3
2. Dikuasai oleh Suatu Unit Usaha (Entitas) ................................................................. 4
3. Hasil dari peristiwa masa lalu ................................................................................... 5
C. Pengakuan Aktiva ......................................................................................................... 7
D. Pengukuran Aset ......................................................................................................... 11
E. Metode Pengukuran Aset ............................................................................................ 12
1. Aktiva Berwujud ..................................................................................................... 14
2. Aktiva tidak berwujud............................................................................................. 17
3. Intrumen Keuangan ................................................................................................. 18
F. Tantangan bagi Penyusun Standar .............................................................................. 20
G. Masalah bagi Auditor .................................................................................................. 21
BAB III PENUTUP ................................................................................................................ 24
A. Kesimpulan ................................................................................................................. 24
B. Saran ........................................................................................................................... 25
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................................. iv

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Aset merupakan elemen neraca yang akan membentuk informasi semantik
berupa posisi keuangan bila dihubungkan dengan elemen yang lain yaitu
kewajiban dan ekuitas. Aset merepresentasikan potensi jasa fisis dan nonfisis
yang memampukan badan usaha untuk menyediakan barang dan jasa.
Terdapat beberapa sumber dari definisi aset, diantaranya adalah menurut
FASB. FASB mendefinisi aset dalam rerangka konseptualnya (SFAC No. 6, prg.
25) sebagai manfaat ekonomik masa datang yang cukup pasti yang diperoleh atau
dikuasai/dikendalikan oleh suatu entitas sebagai akibat transaksi atau kejadian
masa lalu. Hampir sama dengan itu IASC juga mendefinisi aset sebagai suatu
sumber daya yang dikendalikan oleh perusahaan sebagai hasil kejadian masa lalu
yang mana manfaat ekonomis masa depan diharapakan didapatkan oleh perusahaan
Untuk dapat disebut sebagai aset, suatu objek harus memiliki manfaat
ekonomik di masa datang yang cukup pasti. Manfaat ekonomik ini ditunjukkan
oleh potensi jasa atau utilitas yang melekat padanya sebagai yaitu suatu daya atau
kapasitas langka yang dapat dimanfaatkan kesatuan usaha dalam upayanya untuk
mendapatkan pendapatan melalui kegiatan ekonomik. Disamping manfaat
ekonomik, suatu objek bisa dikatakan sebagai aset, objek tersebut tidak harus
dimiliki oleh entitas tetapi cukup dikuasai oleh entitas. Artinya, untuk memiliki aset
harus terdapat proses yang disebut dengan transfer kepemilikan. Krtieria lain yang
merupakan penyempurnaan dalam pendefinisian objek sebagai aset adalah aset
merupakan akibat transaksi atau kejadian masa lalu.
Dalam makalah ini pun kami juga menyelidiki pengakuan dan pengukuran dan
mempertimbangkan implikasi dari berbagai pendekatan untuk pengukuran aset.
Mengingat pentingnya pengukuran aset, kami menyajikan masalah pengukuran
aktiva lancar dari perspektif pembuat standar dan auditor

1
2

B. Rumusan Masalah
Dalam makalah ini kami mengambil rumusan masalah sebagai berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan Asset?
2. Apa saja karakteristik Asset ?
3. Bagaimana cara mengakui Aset ?
4. Sistem Pengukuran apa yang digunakan dalam mengukur Aset?
5. Apa saja tantangan bagi penyusun standar ?
6. Apa saja masalah yang dihadapi para auditor dalam sistem pengukuran ?
C. Tujuan Makalah
1. Untuk mengetahui definisi Asset
2. Untuk mengetahui karakteristik Asset
3. Untuk mengetahui bagaimana cara mengakui Asset
4. Untuk mengetahui Sistem pengukuran apa yang digunakan dalam mengukur
Asset
5. Untuk mengetahui hambatan bagi penyusun dalam membuat standar
6. Untuk mengetahui masalah yang dihadapi para auditor dalam sistem
pengukurun
D. Manfaat Makalah
Adapun manfaat dalam penulisan makalah ini yaitu sebagai berikut:
1. Bagi Peneliti
Dapat memahami definisi Asset, cara pengakuan dan pengukuran asset,
hambatan dalam pembuatan standar dan masalah yang dihadapi auditor
dalam sistem pengukuran
2. Bagi Pembaca atau masyarakat umum
Dapat dijadikan referensi / pengetahuan mengenai Asset
BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Asset
IASB (AASB) Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan
Keuangan (para 49) mendefinisikan aset sebagai berikut An asset is a resource
controlled by the entity as a result of past events and from which economic benefits
are expected to flow to the entity Artinya : Aset merupakan sumberdaya yang
dikendalikan oleh suatu badan sebagai hasil dari transaksi yang lalu dan diharapkan
memberikan manfaat ekonomis dimasa yang akan datang yang mengalir pada
entitas. Dalam chapter ini membahas definisi aset dalam kaitannya dengan tiga
karakteristik penting:
1. Memiliki Manfaat Ekonomi Dimasa Mendatang
2. Dikuasai Oleh Suatu Unit Usaha
3. Hasil dari Peristiwa masa lalu
Serta adapun Kerakteristik Pendukung antara lain melibatkan kos, berwujud,
tertukarkan, terpisahkan dan berkekuatan hukum.
B. Karakteristik Asset
1. Memiliki manfaat ekonomi dimasa mendatang
Sesuatu dikatakan sebagai aktiva apabila memiliki manfaat atau potensi jasa
yang cukup pasti dimasa mendatang.Artinya sesuatu tersebut memiliki kemampuan
baik secara individu maupun bersama-sama dengan aktiva lain untuk menghasilkan
aliran kas masuk dimasa mendatang, baik secara langsung maupun tidak langsung.
SFAC No 6 menyebutkan bahwa manfaat ekonomi merupakan esensi sebenarnya
dari aktiva. Artinya aktiva harus memiliki kemampuan bagi suatu entitas untuk
ditukar dengan sesuatu yang lain yang memiliki nilai, atau digunakan untuk
menghasilkan sesuatu yang bernilai atau digunakan untuk melunasi hutang.Jadi
manfaat ekonomi masa mendatang yang melekat pada aktiva merupakan potensi

3
4

dari aktiva tersebut untuk memberikan sumbangan, baik langsung maupun tidak
langsung, arus kas dan setara kas kepada perusahaan.
FASB menyatakan bahwa asset adalah sumber ekonomik karena potensi jasa
atau utilitas yang melekat di dalamnya yaitu suatu daya atau kapasitas langka yang
dapat dimanfaatkan kesatuan usaha dalam upayanya untuk mendatangkan
pendapatan melalui kegiatan ekonomik yaitu konsumsi, produksi, dan pertukaran.
Peirson memberikan contoh dari konsep ini, yaitu sebagai berikut: kendaraan
bermotor yang dimiliki oleh suatu entitas disebut aset bukan karena itu adalah benda
fisik, tetapi karena dapat memberikan entitas dengan jasa di masa depan dalam
bentuk transportasi. Jasa atau manfaat mungkin timbul dari penggunaan atau dari
penjualan objek. Contoh lainnya: mesin merupakan aset karena memberikan
layanan masa depan dari penggunaan. Persediaan merupakan aset karena dapat
menghasilkan manfaat ekonomi masa depan dari penjualan. Sehingga dinyatakan
bahwa aset adalah sesuatu yang ada sekarang dan memiliki kemampuan
memberikan jasa atau manfaat saat ini atau di masa depan.

2. Dikuasai oleh Suatu Unit Usaha (Entitas)


Untuk dapat disebut sebagai aset, suatu objek atau pos tidak harus dimiliki oleh
entitas tetapi cukup dikuasai atau dikendalikan oleh entitas. Perlu diperhatikan
bahwa pemilikan bukan merupakan kriteria utama untuk mengakui suatu aktiva.
Pemilikan umumnya dibuktikan dengan dokumen-dokumen yang sah menurut
hukum terhadap suatu barang. Bila pemilikan menjadi kriteria aset, akan banyak
pos yang tidak masuk sebagai aset sehingga tidak dapat dilaporkan dalam neraca.
Dengan kata lain, pemilikan sebagai kriteria akan menyebabkan banyak pos
dilaporkan diluar neraca. Akuntansi lebih memusatkan pada substansi ekonomi
suatu transaksi yang mempengaruhi posisi keuangan/ hasil usaha suatu
perusahaan. Pemilikan hanya merupakan karakteristik pendukung untuk mengakui
aktiva karena ada hak yuridis yang pasti untuk menguasainya. Bentuk fisik bukan
faktor penentu dari aktiva.
5

Penguasaan dan pengendalian terhadap suatu aktiva dapat diperoleh suatu


unit usaha melalui pembelian, pemberian, penemuan, perjanjian, produksi,
penjualan, dan pertukaran
Misalnya, sebuah perusahaan transportasi membeli truk untuk $ 300.000,
membayar $ 150.000 sekarang dan setuju untuk membayar saldo angsuran selama
3 tahun ke depan. Apakah truk adalah aset perusahaan? Terlepas dari kenyataan
bahwa perusahaan tidak memiliki dokumen hukum yang disebut 'title' sampai telah
sepenuhnya dibayar untuk truk, ia memiliki hak hukum untuk menggunakan truk.
Oleh karena itu, dalam akuntansi, kita katakan truk merupakan aset perusahaan..
Perusahaan memiliki hak untuk mendapatkan pelayanan dari truk dan memiliki
pengendalian atas truk.

3. Hasil dari peristiwa masa lalu


Suatu unit usaha dapat mengakui suatu aktiva apabila telah terjadi transaksi atau
peristiwa lain yang menyebabkan suatu entitas memiliki hak atau pengendalian
terhadap manfaat dari aktiva tersebut.
Kriteria ini sebenarnya menyempurnakan kriteria penguasaan dan sekaligus
sebagai kriteria atau tes pertama (first-test) pengakuan objek sebagai aset tetapi tidak
cukup untuk mengakui secara resmi dalam sistem pembukuan. Aset harus timbul
akibat transaksi atau kejadian masa lalu adalah kriteria untuk memenuhi definisi
tetapi bukan kriteria untuk pengakuan. Jadi, manfaat ekonomik dan penguasaan hak
atas manfaat saja tidak cukup untuk memasukkan suatu objek ke dalam aset
kesatuan usaha untuk dilaporkan via statemen keuangan (neraca). Kriteria
pengakuan yang lain harus dipenuhi (keterandalan, keberpautan, dan keterukuran).
FASB memasukkan transaksi atau kejadian sebagai kriteria aset karena
transaksi atau kejadian tersebut dapat menimbulkan (menambah) atau meniadakan
(mengurangi) aset. Aset atau nilainya dapat dipengaruhi oleh kejadian atau keadaan
yang sebagian atau seluruhnya di luar kemampuan kesatuan usaha atau
manajemennya untuk mengendalikan misalnya kenaikan harga, perubahan tingkat
6

bunga, pertumbuhan alamiah (akresi), penyusutan (shrinkage), pencurian, huru-


hara, kecelakaan, dan bencana alam. Berbagai transaksi, kejadian, atau keadaan
pada akhirnya akan memicu pengakuan atau penghapusan manfaat ekonomik suatu
objek (aset).

Karakteristik Pendukung
Selain ketiga karakteristik di atas, FASB menyebutkan beberapa karakteristik
pendukung yaitu melibatkan kos, berwujud, tertukarkan, terpisahkan, dan
berkekuatan hukum. Karakteristik pendukung tersebut lebih menguatkan atau
meyakinkan adanya aset tetapi tiadanya karakteristik pendukung tidak
menghalangi suatu objek untuk memenuhi syarat sebagai aset.

Melibatkan Kos
Pemrolehan aset pada umumnya melibatkan kos (pengluaran sumber ekonomik
misalnya kas) sebagai penghargaan sepakatan. Bila kos terjadi karena
pemrolehan suatu objek terjadi akibat pertukaran atau pembelian, objek
tersebut lebih kuat untuk masuk sebagai aset. Akan tetapi, tiadanya kos tidak
membatalkan suatu objek sebagai aset. Jadi, meskipun suatu kesatuan usaha
umumnya mengeluarkan atau mengorbankan sumber ekonomik (menjadi kos),
kos yang terjadi tersebut tidak dengan sendirinya membentuk aset. Esensi aset
lebih terletak pada manfaat ekonomik masa datang daripada terjadinya kos.
Walaupun demikian, terjadinya kos merupakan hal penting untuk mengaplikasi
definisi kos karena dua hal yaitu : (1) sebagai bukti pemrolehan suatu aset dan
(2) sebagai pengukur atribut aset yang cukup objektif.
Berwujud
Bila suatu sumber ekonomik secara fisis dapat diamati, itu akan menguatkan
untuk disebut sebagai aset. Akan tetapi, keterwujudan bukan kriteria untuk
mendefinisi aset.
7

Tertukarkan
Untuk memenuhi syarat sebagai aset, suatu sumber ekonomik harus dapat
ditukarkan dengan sumber ekonomik lainnya. Syarat ini diajukan dengan alasan
bahwa manfaat ekonomik akan menjadi cukup pasti dan terukur kalau suatu
sumber ekonomik mempunyai daya atau nilai tukar.
Terpisahkan
Syarat ini diajukan berkaitan dengan ketertukaran. Untuk dapat ditukarkan
suatu sumber ekonomik harus dapat dipisahkan dengan sumber ekonomik lain
atau berdiri sendiri. Syarat ini diajukan oleh Chambers dengan alasan bahwa
posisi keuangan harus ditentukan dengan pengukuran nilai berbagai aset dan
kewajiban secara individual. Kalau syarat ini dimasukkan sebagai kriteria aset,
goodwill tidak akan memenuhi syarat untuk disebut dan diakui sebagai aset.
Berkekuatan Hukum
Penguasaan atau hak atas aset tidak harus didukung secara yuridis formal.
Klaim seperti piutang usaha tidak harus didukung oleh dokumen yang
mempunyai daya paksa secara hukum untuk memenuhi definisi aset. Meskipun
demikian, hak paksa yang melekat pada hak-hak hukum bukan merupakan
syarat mutlak untuk mengakui adanya aset kalau suatu entitas dapat
memperoleh dan menguasai manfaat dengan cara lain.

C. Pengakuan Aktiva
Pengakuan merupakan pencatatan suatu jumlah rupiah ke dalam struktur
akuntansi (sistem pembukuan) sehingga jumlah tersebut pada akhirnya akan
mempengaruhi posisi keuangan dan hasil usaha perusahaan. FASB (1984) dalam
Statement Of Financial Accounting Concepts No. 5 menyatakan pengakuan suatu
pos didasarkan pada empat kriteria sebagai berikut :
Definisi (Definition)
8

Suatu Pos akan masuk dalam struktur akuntansi apabila memiliki defini elemen
laporan keuangan
Keterukuran (Measurebility)
Suatu Pos harus memiliki makna tertentu yang relevan dan dapat diukur
jumlahnya dengan reabilitas yang tinggi.
Relevansi (Relevance)
Informasi yang terdapat (terkandung) dalam pos tersebut memiliki kemampuan
untuk membuat suatu perbedaan dalam keputusan yang diambil pemaki laporan
keuangan.
Reliabilitas (Reability)
Informasi yang dihasilkan harus sesuai dengan keadaan yang digambarkan atau
direpresentasikan, dapat diuji kebenarannya (Verifiable) dan netral.

Mengakui aset dalam neraca juga melibatkan kondisi yang bisa disebut
'aturan pengakuan'. Aturan-aturan ini telah dirumuskan karena akuntan memerlukan
bukti untuk mendukung catatan mereka dalam lingkungan ketidakpastian. Akuntan
ingin memastikan bahwa aset tertentu ada dan bahwa masuknya Aset dalam neraca
memberikan informasi yang berguna yang relevan dan dapat diandalkan dalam
praktek akuntansi.
Beberapa aturan secara informal diwujudkan dalam bentuk konvensi atau hal
lain yang secara formal dirancang oleh badan yang berwenang. Contoh aturan
menurut konvensi adalah piutang dagang dicatat bila penjualan kredit dilakukan dan
peralatan dicatat saat pembelian. Contoh aturan yang didasarkan pada keputusan
badan berwenang adalah capital lease.Dalam SFAS No.13 accounting for lease
disebutkan bahwa kapitalisasi lease (sewa guna usaha) hanya dilakukan bila salah
satu/lebih kriteria ini dipenuhi:
a) Adanya transfer hak milik kepada pembeli (lessee)
9

b) Kontrak menyebutkan adanya hak boleh pilih untuk membeli dengan syarat
yang menguntungkan pembeli
c) Jangka waktu leasing 75% atau lebih dari sisa taksiran umur ekonomi pada
saat kontrak ditandatangani
d) Nilai sekarang dari pembayaran sewa minimum sama dengan 90% dari nilai
pasar yang wajar dari aktiva yang disewa terhitung sejak kontrak dimulai
e) Asset yang disewakan yaitu yang bersifat khusus yang hanya dapat
digunakan oleh penyewa tanpa memodifikasi.

Praktik menunjukkan bahwa banyak aturan yang digunakan untuk


mengidentifikasikan aset tertentu yang dapat diuraikan menjadi beberapa kriteria.
Oleh karena itu, perlu dibuat perbedaan antara aturan atau ketentuan pengakuan
dengan kriteria pengakuan. Aturan pengakuan menunjukkan aturan khusus yang
digunakan untuk mengidentifikasi asset tertentu. Sedangkan kriteria pengakuan
merupakan pedoman umum yang digunakan untuk memformulasikan aturan
pengakuan. Tujuan akuntansi adalah memberikan dasar bagi kriteria pengakuan, yaitu
menyediakan informasi yang relevan dan reliable. Kam (1992) memberikan beberapa
kriteria untuk mengakui suatu asset. Kriteria tersebut tidak dimaksudkan untuk
melengkapi kriteria yang telah ada dan juga tidak bersifat mutually exclusive. Adapun
Kriteria yang diajukan oleh Kam adalah sebagai berikut:
a. Didasarkan Pada Hukum
Pengakuan terhadap asset tergantung pada konsep legal dari asset yang
bersangkutan. Pencatatan terhadap piutang dagang pada saat penjualan dan
pembelian asset menunjukkan hak legal untuk menggunakan manfaat yang ada
pada asset. Kriteria ini berhubungan dengan informasi akuntansi yang relevan
dan reliable. Meskipun hukum hak kepemilikan ataupun yang mengendalikan
manfaat dari menggunakan properti sebagai kriteria pengakuan, tetapi kriteria
pengakuan utama adalah substansi ekonomi dalam bentuk hukum. Keberadaan
10

hak hukum merupakan suatu indikator, tetapi tidak termasuk kriteria untuk
pengakuan aset.

b. Makna atau Substansi Ekonomi Suatu Transaksi


Apabila suatu transaksi ditinjau dari makna ekonominya telah terjadi, maka
suatu pos dapat segera dicatat dan dilaporkan dalam laporan keuangan. Kriteria
ini dimaksudkan untuk menentukan makna ekonomi dari suatu transaksi yang
berhubungan dengan pelaporan informasi yang relevan dengan tetap
mempertahankan faktor materialitas.
Ada aspek yang berbeda dengan substansi ekonomi dan kriteria materialitas,
oleh karena itu sulit untuk menggeneralisasinya. Namun, banyak aturan
didasarkan pada mereka. Kadang-kadang kriteria substansi ekonomi diterapkan
atas dasar hukum. contradicti Salah satu contoh adalah sepenuhnya pelaksana
Aturan ini adalah bahwa tidak ada substansi ekonomi untuk pertukaran janji
sampai ada kinerja dengan setidaknya satu sewa Keuangan terutama pada
apakah ada pengalihan manfaat kepemilikan aset. adalah, aset sewaan diakui
oleh lessee ketika penyewa telah mengakuisisi, secara substansi, hak dan
kewajiban kepemilikan dan memiliki kontrol atas aset sewaan. Meskipun kedua
keuangan dan operasi sewa melibatkan manfaat masa depan kemungkinan,
substansi manfaat, menurut aturan, berbeda. sewa pembiayaan menyampaikan
dalam-zat kepemilikan (hak gaya dan kewajiban sedangkan sewa operasi dalam
sifat menyewa jangka pendek, dan tidak memiliki hak dan kewajiban yang
melekat.
c. Penggunaan prinsip konservatif
Prinsip konservatif mensyaratkan perlunya mengantisipasi kerugian dari
pada keuntungan. Dengan demikian, biaya, rugi/utang dapat diakui atau dicatat
lebih awal meskipun masih dalam tahap kemungkinan akan terjadi. Sebaliknya,
asset, pendapatan atau untung hanya dicatat apabila benar-benar telah
terealisasi atau terjadi. Misalnya, perusahaan sedang dituntut dipengadilan.
11

Pada kondisi demikian, apabila ada kemungkinan perusahaan mengalami rugi


maka hutang harus segera dicatat.
Selain dalam pengakuan asset, Penggunaan konservatisme yang merupakan
prinsip kehati-hatian adalah upaya dalam mengantisipasi kerugian, tapi tidak
keuntungan. Ini digunakan dalam kondisi ketidakpastian, sehingga aset atau
pendapatan tidak terlalu tinggi dan kewajiban atau beban tidak terlalu rendah.
Contoh dari konservatisme berkaitan dengan akuntansi untuk proyek-proyek
konstruksi jangka panjang. Dalam menggunakan metode kontrak selesai, jika
dalam proses membangun sebuah proyek jangka panjang kerugian akan
diantisipasi dan tercatat bahkan sebelum proyek selesai tetapi jika keuntungan
yang diharapkan, tidak ada keuntungan dicatat sampai selesainya proyek.

D. Pengukuran Aset
Salah satu kriteria yang harus terpenuhi oleh akuntan yaitu mengetahui
bagaimana cara mengukur suatu asset.
Seperti dibahas dalam Bab 5 dan 6,beberapa pendekatan pengukuran ada yang di
adopsi.Apakah secara teoritis pendekatan ini merupakan suatu pengukuran
terbaik?
Pengukuran biaya perolehan diharapkan untuk bersikap objektif dan
memberikan informasi yang dapat dipercaya dan dapat diverifikasi. Di sisi lain,
pengukuran nilai wajar menyediakan informasi yang relevan. Kerangka IASB
menguraikan karakteristik kualitatif informasi keuangan dan dengan demikian
memberikan bimbingan tentang atribut isi dari informasi keuangan. Namun, apa
yang belum diselesaikan adalah pendekatan pengukuran mana yang harus
digunakan untuk mencapai karakteristik kualitatif yang diinginkan.
Praktik pengukuran hadir untuk setiap variasi asset dan mencerminkan
insentif manajer dan praktek akuntansi dimasa lalu. Ini adalah di luar lingkup dari
bab ini untuk mendukung satu pendekatan pengukuran atas another.However, kita
dapat menyelidiki beberapa masalah yang berkaitan dengan pilihan metode
12

pengukuran dengan mempertimbangkan pengukuran aset berwujud, tidak berwujud


dan keuangan. Pilihan berhubungan baik dengan pengukuran akuisisi dan
pengukuran secara periode.selanjutnya diukur, informasi tentang nilai aset dapat
dimasukkan dalam laporan keuangan (yaitu, nilai aset diakui) atau dapat
dimasukkan sebagai pengungkapan catatan. Dalam kasus terakhir, aset pengukuran
dapat diungkapkan dalam catatan rekening, tetapi tidak diakui dalam laporan
keuangan.

E. Metode Pengukuran Aset :


1. Exchange output value (exit value)
Metode ini mendasarkan pengukuran pada nilai keluaran artinya atas
jumlah kas (rupiah) atau penghargaan lainnya (non kas) yang diterima suatu
unit usaha apabila suatu aktiva atau potensi jasa yang keluar dari perusahaan
karena penjualan atau suatu pertukaran
Beberapa nilai keluaran tersebut adalah :
a. Discounted future cash receipt or service potentials (penerimaan kas atau
potensi jasa masa depan yang didiskontokan)
metode ini dapat digunakan apabila harapan tentang kepastian
penerimaan kas atau setaranya cukup tinggi dan tenggang waktu sampai
penerimaan cukup panjang tetapi saat atau tanggal penerimaannya pasti.
Pos yang dapat menggunakan metode ini adalah investasi dalam
obligasi, deposito berjangka, piutang wesel.

b. Current output price (COP) Harga keluaran sekarang


- Dapat digunakan apabila harga jual pada saat pelaporan
mencerminkan harga di masa yang akan datang bila pos yang
bersangkutan keluar dari perusahaan.
- Metode ini dapat digunakan untuk surat berharga dan beberapa jenis
persediaan.
13

- Menurut metode ini persediaan harus diukur dengan harga jualnya


sebagai ukuran harga keluaran bukan biaya perolehannya
c. Current cash equivalent (CCE) setara kas masa berjalan
- konsep ini merupakan konsep pengukuran tunggal untuk semua
kativa yang menunjukkan harga yang dapat direalisasikan sekarang
(present realization price).
- Konsep ini menunjukkan jumlah kas atau daya beli umum yang dapat
diperoleh dengan menjual aktiva menurut kondisi perusahaan yang
wajar (dalam arti harga pasar barang sejenis dalam kondisi normal)
d. Liquidation value (LV)
Adalah dasar pengukuran yang serupa dengan COP atau CCE
yaitu penilaian dengan menggunakan harga keluaran, yang berbeda
adalah dalam hal kondisi pasarnya, yaitu menggunakan harga penjualan
dalam keadaan likuidasi.
- Metode nilai likuidasi mengasumsikan bahwa suatu penjualan yang
dipaksakan sehingga harganya diturunkan atau harga keluaran lebih
rendah umumnya harga pasar dalam kondisi normal.
- Penerapan nilai likuidasi biasanya menyebabkan diturunkannya
penilaian aktiva serta diakuinya kerugian.
- Metode ini hanya bias diterapkan dalam kondisi :
- aktiva yang bersangkutan telah kehilangan kegunaan yang
lazim atau usang atau telah kehilangan pasar dalam kondisi
normal
- nilai likuidasi diterapkan bila ada maksud menghentikan
perusahaan dalam waktu dekat, sehingga tidak mampu menjual
dalam pasar yang normal
2. Exchange Input Value
Metode pengukuran ini mengdasarkan pengukuran pada ukuran
masukan, yang menunjukkan jumlah kas atau nilai imbalan lainnya yang
14

dibayarkan ketika aktiva atau manfaat yang diperoleh perusahaan dalam suatu
pertukaran.
a. Historical cost
Historical cost diukur dengan pembayaran yang dilakukan di masa lalu
atau yang harus dilakukan di masa yang akan datang untuk memperoleh
barang atau jasa atau pembayaran yang harus dilakukan untuk memperoleh
atau memproduksi suatu barang termasuk didalamnya semua jasa yang
diperlukan untuk mendapatkan aktiva sampai dalam kondisi siap
digunakan.
b. Current Input Cost (Biaya masa berjalan)
Merupakan harga pertukaran yang harus dikeluarkan saat ini untuk
memperoleh aktiva yang sama dan pertukarannya.
Harga ini merupakan harga yang diperoleh dari pasar tempat perusahaan
membeli barang atau jasa (pasar input) bukan tempat menjual (pasar
output).
c. Discounted future input cost (biaya masukan masa depan yang
didiskontokan)
Merupakan nilai sekarang pengorbanan ekonomik di masa yang akan
datang seandainya potensi aktiva tersebut tidak diperoleh di masa sekarang.
Misal : fasilitas fisik dari sewa beli
d. Standard Cost (biaya standar)
Yaitu dengan dasar berapa biaya yang seharusnya menurut asumsi
tertentu, berdasarkan biaya standar yang diterapkan dalam keadaan
produksi pada tingkat efisiensi dan kapasitas tertentu

1. Aktiva Berwujud
Sebagaimana dijelaskan dalam Bab 5, pendekatan tradisional telah
mengukur aset sebesar harga perolehan. Biaya historis telah tertanam secara kuat di
15

AS sebagai Prosedur Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) meskipun posisinya


SEC. Zeff menggambarkan komitmen SEC untuk biaya historis sebagai paparan
kapitalisasi perusahaan yang dipertanyakan dalam praktek revaluasi sebelum
runtuhnya pasar saham AS 1929. Dia berpendapat bahwa:
Dari pendiriannya, SEC menolak setiap penyimpangan dari akuntansi biaya
historis dalam tubuh laporan keuangan.
SEC memegang posisi ini sampai tahun 1978, ketika mengusulkan bahwa
minyak dan gas cadangan secara berkala dinilai kembali, dengan perubahan nilai
dibawa ke pendapatan.Standar IASB dibangun pada asumsi bahwa pendekatan
pengukuran utama dalam akuntansi adalah biaya model (atau biaya dimodifikasi).
Misalnya, IAS 16 dan IAS 40 membutuhkan properti, pabrik dan peralatan, dan
properti investasi (masing-masing) untuk diukur pada awalnya sebesar biaya
perolehan, termasuk biaya transaksi (IAS 16, paragraf 15: IAS 40, paragraf 20).
Biaya model mencerminkan pendekatan konservatif untuk pengukuran aset.
Beberapa GAAP nasional mendukung penggunaan biaya historis, misalnya, GAAP
nasional di Perancis dan Jerman, dan arahan Uni Eropa sebelum tahun 2005.
Pengukuran setelah pengakuan berdasarkan biaya historis berarti bahwa pengukuran
aset sebesar biaya perolehan dikurangi akumulasi penyusutan dan penurunan biaya.
Pendukung biaya model berpendapat bahwa biaya perolehan memberikan bukti
obyektif dan dapat diverifikasi dari biaya aset penerapan penyusutan dan penurunan
nilai memastikan bahwa nilai saat ini tercermin dalam neraca. Konsisten dengan
pendekatan konservatif untuk pengukuran, kerugian nilai aset diakui dalam laporan
keuangan tetapi tidak dengan keuntugan.
Namun, standar IASB memungkinkan pengukuran asset berwujud
berikutnya. Pilihan yang termasuk dalam tatanan IAS 16 aktiva tetap dan IAS 40
Properti investasi mencerminkan praktik GAAP yang diadopsi ke dalam IASC /
IASB standar. Standar ini memungkinkan, tetapi tidak memerlukan, penggunaan
model pengukuran nilai saat ini. Sehubungan dengan IAS 16, manajer dapat
memilih untuk menggunakan model revaluasi untuk pengukuran berikutnya (ayat
16

31). Pengukuran dapat didasarkan pada nilai pasar yang disediakan oleh penilai
profesional yang memenuhi syarat (ayat 32) atau dapat diperkirakan oleh entitas
didasarkan pada pendapatan atau pendekatan biaya pengganti terdepresiasi (ayat
33). Revaluasi harus tetap up to date pada setiap tanggal neraca (ayat 34). Demikian
pula, dalam kaitannya dengan IAS 40 manajer dapat memilih model biaya atau
model nilai wajar untuk pengukuran setelah pengakuan.
Mengapa memilih mempersiapkan salah satu model pengukuran yang lain? Hal ini
dapat dikatakan bahwa aset direvaluasi menyediakan informasi yang relevan bagi
pengguna laporan keuangan.
Revaluasi dapat memberikan informasi lebih lanjut saat ini tentang nilai dari
biaya historis. Namun, argumen ini kurang persuasif jika aset tersebut baru dibeli
atau tidak tunduk pada harga pasar yang berfluktuasi.
Manajer mungkin menilai kembali tanah pada saat kenaikan harga, untuk
memastikan bahwa aset tidak sesuai pada neraca. Sebuah nilai saat ini pada neraca
mungkin relevan untuk pengambilan keputusan, mungkin menguntungkan bagi
perhitungan rasio keuangan atau dapat mencegah perusahaan mengambil melebihi
target.
Salah satu argumen terhadap penggunaan model pengukuran saat ini adalah
bahwa pengukuran tidak dapat diandalkan dan subyektif. Dengan diandalkan, lawan
merujuk pada kasus-kasus di mana nilai wajar dapat diperkirakan daripada diamati,
misalnya, apabila memiliki nilai wajar dari opsi saham ditentukan menggunakan
model, bukan harga pasar. Pengukuran subyektif adalah ketika melibatkan masukan
penilaian yang diperoleh oleh manajemen.
Manajer mungkin mementingkan diri sendiri dalam memilih masukan untuk
model penilaian. Zeff mencatat bahwa pengalaman panjang SEC mengamati
perilaku perusahaan menimbulkan pandangan bahwa:
Perusahaan tidak bisa dipercaya untuk menggunakan kebijaksanaan mereka
untuk membuat penilaian,pemikiran yang seimbang dan adil tentang perlakuan
akuntansi ketika diberikan fleksibilitas untuk melakukannya.
17

Namun demikian, meskipun kebijaksanaan manajer 'dalam pengukuran aset,


Barth dan Clinch melaporkan bahwa revaluasi aset adalah nilai yang relevan. Hasil
ini menyarankan investor memanfaatkan informasi manajer tentang nilai aset.
Dalam nada yang sama, Horton melaporkan bahwa non GAAP ukuran nilai aset dan
kewajiban dari perusahaan asuransi jiwa Inggris relevan dengan pelaku pasar. Studi
ini menunjukkan bahwa langkah-langkah 'Nilai Wajar' aset berpotensi memberikan
informasi yang berguna untuk pembuatan keputusan keuangan. Mereka
menyediakan dukungan untuk standar setter yang ingin memperkenalkan
pengukuran nilai wajar dalam standar akuntansi.
Keuntungan pada pengukuran aset, disebabkan dari penggunaan model
revaluasi (IAS 16para 31) secara tradisional dimasukkan langsung dalam ekuitas.
Aset meningkat (asset debit) sehingga meningkatkan aset pada neraca dan entri
kredit ke selisih penilaian kembali aset dalam ekuitas (kredit aset cadangan
revaluasi). Dengan demikian, peningkatan nilai aset yang ditampilkan tanpa
memberikan dampak pada laba rugi. Gagasan Surplus pendapatan bersih
(pendapatan harus mencakup semua item pendapatan, keuntungan biaya, dan macet)
dilanggar dan peningkatan aset yang belum direalisasi, sementara diinformasikan
kepada pengguna laporan keuangan, tidak mempengaruhi pendapatan, sehingga
angka pendapatan konservatif disajikan . Perlakuan terhadap keuntungan yang
belum direalisasi dan kerugian yang timbul dari suatu model pengukuran nilai saat
ini adalah salah satu isu paling kontroversial dalam akuntansi saat ini, seperti yang
dibahas lebih lanjut kemudian dalam cahpter ini.

2. Aktiva tidak berwujud


Hal-hal yang dilakukan untuk mengukur aset tidak berwujud.
a. As for tangible assets, accounting standards require that we measure intangible
assets initially at cost of acquisition (IAS 38, para. 24) dalam hal ini,
pengukuran menggunakan biaya pada saat akuisisi.
18

b. The use of a current value model for intangible assets is rare. 1AS 38 (para. 75)
permits the revaluation mode. Dalam hal ini, dimungkinkan ada penilaian
kembali aset tidak berwujud.
c. IAS 16, requires that fair value be determined with reference to an active
market. Adanya persyaratan dalam mengukur nilai wajar pada pasar yang aktif.
Standar akuntansi mengharuskan kita mengukur aset tidak berwujud awalnya
menggunakan biaya perolehan (IAS 38, para. 24). Penggunaan model nilai saat
ini untuk aset tidak berwujud jarang. 1AS 38 (ayat. 75) memungkinkan model
revaluasi tetapi, tidak seperti IAS 16, mensyaratkan bahwa nilai wajar
ditentukan dengan mengacu pada pasar aktif. Karena sebagian besar aset tidak
berwujud dengan sifatnya tidak memiliki pasar aktif, biaya (dikurangi
akumulasi amortisasi dan penurunan) adalah metode pengukuran luas
digunakan (para. 81). Selain itu, IAS 38 melarang pengakuan aset tidak
berwujud yang dihasilkan secara internal (para. 48, 63). Meskipun pengeluaran
dapat menimbulkan manfaat masa depan, itu dihapuskan atas dasar bahwa itu
tidak menghasilkan aset yang dapat diidentifikasi secara terpisah (para. 49, 64).
Salah satu cara aset tidak berwujud yang dihasilkan secara internal dapat
muncul di neraca adalah melalui kapitalisasi biaya pengembangan, seperti yang
dijelaskan sebelumnya. Penilaian aset tidak berwujud adalah kontroversial,
yang melibatkan seperti halnya estimasi subjektif dari nilai wajar aset.

3. Intrumen Keuangan
Historical cost principles are inappropriate to measure some financial
instruments. For example, consider derivatives, which have no cost.
Kita tahu bahwa model pengukuran yang dominan digunakan adalah biaya
historis. Namun beberapa berpendapat bahwa prinsip-prinsip biaya historis tidak
pantas untuk mengukur beberapa instrumen keuangan. Misalnya, pertimbangkan
derivatif, yang tidak memiliki biaya. Seiring waktu, nilai mereka dapat berubah,
tetapi di bawah biaya historis, biaya perubahan nilai tidak akan dicatat dalam
19

laporan keuangan. Sedangkan haruskah perubahan nilai derivatif dimasukkan


dalam neraca, untuk mencerminkan nilainya pada entitas perusahaan? Haruskah
keuntungan atau kerugian dari derivatif masukkan dalam laba/rugi perusahaan?
Bagaimana investor cukup menilai risiko jika derivatif dan kontrak keuangan
lainnya tidak diakui?
Sehingga dibukunya Godfrey dan kawan-kawan mengatakan The FASB and
IASB have concluded that derivatives should be measured at fair value rather
than cos. defined fair value as 'the amount at which the instrument could be
exchanged in a current transaction between willing parties, other than in a
forced or liquidation sale FASB dan IASB telah menyimpulkan bahwa derivatif
harus diukur pada nilai wajar dari pada biaya historis. Nilai wajar adalah nilai
pertukaran aset yang diperoleh dari kedua pihak yang melakukan transaksi tanpa
adanya batasan apapun. Penyusun standar berpendapat bahwa dengan
pengukuran aset keuangan pada nilai pasar, pengguna informasi disediakan
dengan informasi yang relevan tentang nilai mereka. Sejak 1980-an FASB telah
diperlukan pengukuran nilai wajar (baik secara langsung dalam laporan
keuangan atau pengungkapan catatan) dalam standar seperti PSAK No. 107, 115,
119, 123, 125, 133, 140, 142, 143 dan 144. PSAK 107, yang diterbitkan pada
tahun 1991, didefinisikan nilai wajar sebagai jumlah di mana instrumen tersebut
dapat dipertukarkan dalam transaksi saat ini antara pihak bersedia, selain dalam
penjualan paksa atau likuidasi. Standar ini lebih lanjut dijelaskan bagaimana nilai
wajar dapat ditentukan. The IASB telah berkomitmen untuk penggunaan
pengukuran nilai wajar untuk instrumen keuangan dalam rangka memberikan
informasi yang relevan bagi pengguna laporan keuangan. Penyusun standar
berpendapat bahwa keuntungan dan kerugian di instrumen keuangan harus diakui
yang timbul dalam rangka melaporkan risiko terkait, untuk membuat laporan
keuangan yang lebih transparan dan untuk menghindari kompleksitas perlakuan
akuntansi yang ada (seperti akuntansi lindung nilai). " Di sisi lain, beberapa
pembuat laporan keuangan menentang aspek pernyataan IASB, mengklaim
20

bahwa pengukuran nilai wajar tidak akan relevan, dapat diandalkan, dipahami
dan sebanding dalam pelaporan. Instrumen keuangan mencerminkan
kompleksitas mereka. Sebuah model pengukuran tunggal belum disahkan oleh
pembuat standar di IAS 39. Bahkan, sejumlah metode pengukuran yang
digunakan. Semua instrumen keuangan dikelompokkan ke dalam empat jenis,
masing-masing dengan metode pengukuran diperlukan. Pada pengakuan awal,
semua instrumen keuangan yang diukur pada biaya perolehan (yang pada tahap
ini, setara dengan nilai wajar). Dalam pengakuan selanjutnya, suatu entitas dapat
memilih untuk menghargai semua atau instrumen keuangan pada nilai wajar,
dengan perubahan nilai wajar diakui dalam pendapatan melalui laporan laba rugi.

F. Tantangan bagi Penyusun Standar


Ada dua hal yang menjadi tantangan dalam menyusun standar, salah satunya
adalah Model Pengukuran yang seperti apa yang ingin digunakan ?
Which Measurement Model?
The FASB and IASB intend to address the issue of measurement in Phase C of
the conceptual framework project. Issues to be considered include potential
measurement bases: past entry or exit prices, modified past amount, current entry,
exit or equilibrium price, value in use or future entry or exit price
Masalah yang dimaksudkan pertimbangan dasar pengukuran apakah
menggunakan harga jual masa lalu, modifikasi dari kejadian masa lalu, harga
sekarang atau harga keseimbangan pasar, nilai guna masa depan atau harga jual
masa depan? Mereka akan mengevaluasi dasar-dasar pengukuran tersebut melalui
metode pemberian peringkat yang diurutkan tentang sejauh mana pengukuran
dapat memberikan karateristik kualitatif informasi keuangan. Komentator
mengklaim bahwa standar IASB memperkenalkan tentang meluasnya penggunaan
pengukuran nilai wajar, IFRS telah memperkenalkan pengukuran nilai wajar untuk
derivatif pada setiap tanggal neraca dan beberapa aset keuangan lainnya dan
kewajiban (di bawah IAS 39) serta sebagai persyaratan untuk mengukur
21

pembayaran berbasis saham kepada karyawan sebesar nilai wajar (di bawah INS
2)
Sehingga dikatakan support by the IASB and FASB for greater use of fair
value measurement, for example for all financial instruments. Dukungan oleh
IASB dan FASB untuk penggunaan yang lebih besar dari pengukuran nilai wajar,
misalnya untuk semua instrumen keuangan. Tantangan kedua bagi Penyusun
Standar adalah Bagaimana menghitung Nilai Wajar.
How to Calculate Fair Value Measurement ?
Tadi sudah dijelaskan bahwa IASB memperkenalkan penggunaan
pengukuran nilai wajar, meskipun Cairns tidak mengakuinya. IFRS juga
memperkenalkan pengukuran nilai wajar untuk derivative dan beberapa aset dan
liabilitas keuangan.
The FASB's SFAS 157 Fair Value Measuremenrs (effective 2007)
provides examples of valuation techniques to be used to estimate fair value.
Sekarang FASB ini PSAK 157 Pengukuran Nilai Wajar (efektif 2007)
memberikan contoh teknik penilaian yang akan digunakan untuk memperkirakan
nilai wajar.
a. The market approach. Menggunakan harga dan informasi dari transaksi yang
sesungguhnya untuk aset dan liabilitas yang sejenis dan diperbandingkan.
b. Income approach. Konversi dari diskonto uang yang diterima dimasa yang akan
dating.
c. Cost approach. Sejumlah uang yang digunakan untuk memperoleh kapasitas yang
sama (current replacement cost).

G. Masalah bagi Auditor


Mengaudit Nilai Wajar menciptakan kesulitan bagi para auditor karena hal
ini menjadi persyaratan dari model evaluasi dan digunakan oleh ahli dalam hal
evaluasi. Mengaudit nilai wajar aset di identifikasi oleh CEO Perusahaan audit
dunia yaitu Grant Thornton sebagai salah satu dari 10 topik terbaik untuk
22

penelitian. Meskipun sebagai profesi, auditor telah membahas isu-isu yang


berkaitan dengan penurunan nilai, sampai saat ini, tidak ada lingkup yang luas
untuk audit nilai wajar dengan tidak adanya pasar yang siap diminta dari para
auditor. Menilai kewajaran nilai wajar dalam kondisi seperti itu membutuhkan
ahli evaluasi yang banyak. Sintesis penelitian sampai saat ini, Martin, Rich dan
Wilks berpendapat bahwa lebih banyak aset (dan kewajiban) diukur pada nilai
wajar,
auditors need to understand more about valuation models and the
management processes that determine the inputs to those models, even when
specialist valuers are used.
Artinya auditor perlu memahami lebih lanjut tentang model penilaian dan
proses manajemen yang menentukan input untuk model pengukuran, bahkan
ketika penilai spesialis digunakan.
Untuk mengembangkan pendekatan audit yang efektif, Godfrey dan
kawan-kawan mengatakan the auditor needs to understand and control the
process of determining the fair value, and perform judgment whether the method
of measurement used is sufficient for its clients resulting in a fair value
measurement is reasonable. auditor perlu memahami proses perusahaan klien
dan pengendalian yang relevan untuk menentukan nilai wajar, dan membuat opini
apakah metode pengukuran perusahaan klien dan asumsi yang digunakan sudah
tepat dan telah memberikan dasar yang memadai pengukuran nilai wajar.
Martin et al. juga menunjukkan bahwa auditor perlu menghargai
manajemen potensi bias dan kesalahan mungkin dalam menerapkan model
penilaian, mengidentifikasi input pasar, dan membuat asumsi yang diperlukan.
Jika manajer memiliki insentif untuk melebih-lebihkan aset, maka auditor harus
menyadari komponen penting dari model penilaian yang akan membuat ini lebih
mudah bagi manajer dalam mencapainya. Menggunakan nilai wajar aset bisa
tampil lebih menarik untuk manajemen (mengurangi resiko auditor) selama
periode kenaikan nilai. Dalam kasus turunnya pasar saham dan obligasi pada akhir
23

2008 dan awal 2009 mendorong beberapa investor dan manajer menyalahkan
aturan akuntansi nilai wajar untuk melebih-lebihkan kerugian bagi perusahaan-
perusahaan keuangan. Reilly melaporkan klaim oleh beberapa manajer itu karena
kerugian pada investasi dalam saham dan obligasi yang 'belum direalisasi',
menuliskan aset tersebut adalah 'melebih-lebihkan' gejolak pasar.
24

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Menurut IASB (AASB) Aset merupakan sumberdaya yang dikendalikan oleh suatu
badan sebagai hasil dari transaksi yang lalu dan diharapkan memberikan manfaat
ekonomis dimasa yang akan datang yang mengalir pada entitas. Karakteristik asset:
1. Memiliki Manfaat Ekonomi Dimasa Mendatang
2. Dikuasai Oleh Suatu Unit Usaha
3. Hasil dari Peristiwa masa lalu
Adapun karakteristik pendukung asset antara lain melibatkan kos,
Berwujud,Tertukarkan, Terpisahkan, Berkekuatan hukum.
Pengakuan merupakan pencatatan suatu jumlah rupiah ke dalam struktur
akuntansi (sistem pembukuan) sehingga jumlah tersebut pada akhirnya akan
mempengar\uhi posisi keuangan dan hasil usaha perusahaan.
Kriteria pengakuan Asset:
d. Didasarkan Pada Hukum
e. Makna atau Substansi Ekonomi Suatu Transaksi
f. Penggunaan prinsip konservatif
Praktik pengukuran hadir untuk setiap variasi asset dan mencerminkan insentif
manajer dan praktek akuntansi dimasa lalu.. Metode Pengukuran Aset :
1. Exchange output value (exit value)
3. Exchange Input Value
Ada dua hal yang menjadi tantangan dalam menyusun standar, salah satunya adalah
Model Pengukuran yang seperti apa yang ingin digunakan ?
Which Measurement Model? Dan How to Calculate Fair Value Measurement ?
Mengaudit Nilai Wajar menciptakan kesulitan bagi para auditor karena hal ini
menjadi persyaratan dari model evaluasi dan digunakan oleh ahli dalam hal evaluasi.
Mengaudit nilai wajar aset di identifikasi oleh CEO Perusahaan audit dunia yaitu
25

Grant Thornton sebagai salah satu dari 10 topik terbaik untuk penelitian. Meskipun
sebagai profesi, auditor telah membahas isu-isu yang berkaitan dengan penurunan
nilai, sampai saat ini, tidak ada lingkup yang luas untuk audit nilai wajar dengan
tidak adanya pasar yang siap diminta dari para auditor. Menilai kewajaran nilai
wajar dalam kondisi seperti itu membutuhkan ahli evaluasi yang banyak.

B. Saran

Makalah ini memberikan penjelasan mengenai pengertian asset, pengakuan


asset, pengukuran asset, tantangan dalam pembuatan standar, dan masalah bagi
auditor.Untuk itu penyusun menyarankan untuk mencari referensi-referensi lainnya
agar kita mampu mengetahui teori-teori akuntansi tentang asset dan
mengaplikasikannya sesuai dengan teori yang ada.
iv

DAFTAR PUSTAKA

Godfrey, et all. (2010). Accounting Theory 7th edition. Australia: John Wiley & Sons
Australia. Ltd
No name. Konsep Aktiva. [Online]. Tersedia di eaa503.weblog.esaunggul.ac.id. Diakses
pada 14 Maret 2017
Puput,dkk. (2016). Asset Accounting Theory. Makalah Universitas Hasanudin,
Makasar
Suwardjono. 2010. Teori Akuntansi Perekayasaan Pelaporan Keuangan.
Yogyakarta:BPFE Yogyakarta