Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM HIGIENE PANGAN

PEMERIKSAAN MASTITIS SUSU

OLEH :

INDAH SULISTYANI (1309012016)

YOHANES PAKA LAKA (1309012030)

EKA YULIANA (1309012032)

ANDREAS U. J SIPUL (1309012038)

YOHANES N. KOLI (1309011040)

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN

UNIVERSITAS NUSA CENDANA

KUPANG

2016
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Susu merupakan bahan pangan yang mengandung nilai gizi tinggi yang
dibutuhkan oleh manusia. Kebutuhan manusia akan susu semakin meningkat, seiring
dengan kesadaran manusia untuk mendapat gizi yang baik. Seluruh kandungan dalam
susu dapat diserap dan dimanfaatkan oleh tubuh manusia. Susu segar merupakan cairan
yang berasal dari ambing sehat dan bersih, yang diperoleh dengan cara pemerahan yang
benar, kandungan alaminya tidak dikurangi atau ditambah sesuatu apapun kecuali
pendinginan (SNI 3141.1:2011 tentang Susu Segar).
Susu yang umum dikonsumsi manusia adalah susu sapi karena mudah ditemukan
dalam berbagai produk susu olahan dengan harga yang relative terjangkau. Beberapa
ternak lain yang susunya dapat dimanfaatkan untuk konsumsi manusia contohnya susu
kerbau dan susu kambing yang memiliki kandungan gizi yang tidak kalah penting
dibandingkan susu sapi. Sebagian besar konsumen mengonsumsi susu kambing dengan
alasan kesehatan dan untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Banyak orang mengonsumsi
susu kambing karena alergi terhadap susu sapi sehingga potensi untuk pengembangan
usaha susu kambing menjadi lebih baik. Kendala dalam usaha peningkatan dan
pengembangan produksi susu adalah kejadian penyakit mastitis subklinis. Penyakit ini
mengakibatkan turunnya produksi dan kualitas susu.
Mastitis tetap menjadi masalah utama dalam tata laksana usaha peternakan sapi
perah karena dapat menurunkan produksi susu dalam jumlah besar (Kramer, 1990).
Pengobatan secara tuntas sulit dilaksanakan dan memerlukan biaya besar. Tindakan
pencegahan dapat dilakukan dengan menggunakan teknik deteksi mastitis dini, terutama
untuk penyakit mastitis subklinis, yaitu mastitis yang tidak disertai gejala klinik pada
ambing dan perubahan fisik susu yang dihasilkannya (Sudarwanto, 1982; Hirst et al.,
1984).
Mastitis subklinis hanya dapat dideteksi melalui pemeriksaan mikrobiologi dan
penghitungan jumlah sel radang terhadap contoh susu. Penyakit ini sangat merugikan
peternak karena produksi susu menurun dan seringkali berkembang menjadi mastitis
klinik atau kronis yang berakibat penyingkiran sapi lebih awal. Melakukan deteksi dini
dengan pereaksi terhadap contoh susu dapat memperkecil resiko tersebut. Uji mastitis
subklinis di lapang yang ada sampai saat ini, seperti Calijbrnia Mastitis Test (CMT),
masih jarang dilakukan karena harga pereaksinya cukup mahal dan sulit diperoleh di
pasaran. Pada raktikum ini uji mastitis yang digunakan adalah IPB- I, Whiteside Test
(WST), dan metode Breed.

1.2 Tujuan
1. Praktikum ini bertujuan untuk mendeteksi mastitis subklinis
2. Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan antara uji mastitis IPB-1
Whiteside Test dan metode Breed untuk diagnosa mastitis subklinis pada susu
kambing dan air susu ibu

BAB II

MATERI DAN METODE


2.1 Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum ini ini dilakukan dengan mengambil sampel susu kambing di Kandang
Fakultas Kedoteran Hewan dan pada praktikum ini juga menggunakan Air Susu Ibu.
Praktikum ini dilaksanakan di Laboratorium Fakultas Kedokteran Hewan Undana pada
tanggal 1 Desember 2016
2.2 Alat dan bahan
2.2.1 Alat
Peralatan yang digunakan dalam praktikum antara lain tabung sampel susu, pipet,
mikropipet, kertas cetakan Breed seluas 1 x 1 cm2 , gelas objek, ose siku, mikroskop,
paddle, pemanas Bunsen, rak tabung sampel, dan kertas tisu
2.2.2 Bahan
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah sampel susu kambing dan susu
ASI, alkohol 96%, eter akohol, larutan methylen blue, pereaksi IPB-1, asam borat
1%, NaOH dan minyak emersi.
2.3 Pemeriksaan sampel susu
2.3.1 Metode breed
Metode Breed Metode Breed yang digunakan mengacu pada Lukman et al.
(2012). Gelas objek dibersihkan dan diletakkan di atas kertas cetakan atau pola bujur
sangkar seluas 1 x 1 cm2. Susu yang akan diperiksa dihomogenkan terlebih dahulu,
kemudian susu dipipet menggunakan mikropipet dan diteteskan tepat di atas kotak 1
cm2 . Sampel susu disebar membentuk kotak seluas 1 cm 2 menggunakan ose berujung
siku. Gelas objek dikering udarakan selama 510 menit selanjutnya difiksasi dengan
nyala api Bunsen.
Pewarnaan Breed dilakukan setelah sampel susu pada gelas objek kering. Gelas
objek direndam dalam larutan eter alkohol selama 2 menit, lalu gelas objek diwarnai
dengan cara dimasukkan ke dalam larutan methylen blue selama 12 menit. Gelas
objek dimasukkan ke dalam larutan alkohol 96% selama 1 menit untuk
menghilangkan sisa zat warna yang melekat. Setelah proses pewarnaan selesai gelas
objek. Perhitungan jumlah sel somatis dilakukan setelah preparat kering dengan
menggunakan mikroskop (objektif 100 x) yang sebelumnya diteteskan minyak
emersi. Jumlah sel somatis dihitung dengan menggunakan 10 lapang pandang,
kemudian sel somatis dijumlahkan dan dibagi dengan jumlah lapang pandang untuk
mengetahui rataan jumlah sel somatis. Setelah mengetahui rataan jumlah sel somatis
dilakukan perhitungan dengan menggunakan rumus:

2.3.2 Jumlah
Metode IPBsel
1 somatis = faktor mikroskop (400 000) x rataan jumlah sel somatis
Metode uji mastitis IPB-1 yang digunakan mengacu pada Lukman et al. (2012).
Sebanyak 5 ml sampel susu dimasukkan ke dalam paddle, kemudian ditambahkan 2
ml pereaksi IPB-1. Campuran sampel susu dan pereaksi IPB-1 dihomogenkan secara
horisontal selama 15-30 detik. Hasil dibaca berdasarkan reaksi yang terjadi, yaitu
terbentuknya lendir atau perubahan kekentalan dengan nilai negatif (-) apabila tetap
homogen dan positif (+, ++, +++) apabila terbentuk lendir atau kental.
2.3.3 Metode Whiteside Test
Satu tetes NaOH 1,O N diteteskan di atas gelas objek, lalu ditambahkan lima tetes
contoh susu. Pencampuran keduanya dibantu dengan menggunakan sebatang lidi.
Hasil dibaca berdasarkan perubahan terdapat benang-benang halus yang terjadi
dengan hasil diberi tanda - dan +.

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil

Uji Mastitis ASI KAMBING


Whiteside Test

Negative (-) mastitis Positif (+) mastitis ditemukan


benang-benang halus
Breed

Jumlah sel somatic 2.997.955,49 Jumlah sel somatis 1.906.896.2 sel/


sel/ml (3 x 106) positif mastitis ml (1,9 x 106) positif mastitis
IPB-1

Negative mastitis
Positif (+++) mastitis terbentuknya
gelatin

3.2 PEMBAHASAN

3.2.1 Whiteside test

Mastitis merupakan peradangan jaringan interna ambing. Radang ambing


(mastitis) pada sapi perah merupakan radang yang bisa bersifat akut, subakut maupun
kronis, yang ditandai oleh kenaikan sel di dalam air susu, perubahan fisik maupun
susunan air susu dan disertai atau tanpa disertai patologis pada kelenjar mammae.
Mastitis subklinis merupakan mastitis yang tidak menampakkan perubahan secara fisik
pada ambing dan susu, tetapi dapat diketahui berdasarkan terjadinya penurunan
produksi susu dan ditemukannya kuman patogen serta terjadinya perubahan komponen
susu.
Terdapat kurang lebih 10 kuman penyebab kejadian mastitis, namun yang
paling umum disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus (S. aureus) dan
Streptococcus agalactiae (Str. Agalactiae. Infeksi bakteri ini dapat menyebabkan
kerugian dalam jangka waktu cukup lama. Disamping faktor faktor mikroorganisme
yang meliputi berbagai jenis, jumlah dan virulensinya, faktor ternak dan
lingkungannya juga menentukan mudah tidaknya terjadi radang ambing dalam suatu
peternakan. Faktor predisposisi radang ambing dilihat dari segi ternak, meliputi :
bentuk ambing, misalnya ambing yang sangat menggantung, atau ambing dengan
lubang puting terlalu lebar (Subronto, 2003). Faktor lingkungan dan manajement
kandang serta pakan pun mempengaruhi kejadian mastitis subklinis ini. Penularan
mastitis dari seekor sapi ke sapi lain dan dari kuarter terinfeksi ke kuarter normal bisa
melalui tangan pemerah, kain pembersih, mesin pemerah dan lalat.
Tindakan pencegahan merupakan pilihan terbaik untuk mencegah terkena
penyakit ini, pemeriksaan dapat dilakukan setiap bulan selama masa laktasi normal
(bulan ke 3-6). Terjadinya peningkatan jumlah sel somatik (JSS) menjadi parameter
utama dalam penetapan diagnosa. Penghitungan jumlah sel somatis dapat dilakukan
secara langsung dan tidak langsung. Pemeriksaan secara langsung dapat dilakukan
melalui metode breed,coulter counter, fossomatik, TAS. Pemeriksaan tidak langsung
antara lain melalui metode California mastitis test (CMT), Aulendorfer Mastitis Probe
(AMP), IPB mastitis test dan Whiteside test (WST).
Whiteside test merupakan pengujian dengan menggunakan larutan NaOH yang
dicampurkan dengan sampel susu. Indikator yang dilihat berdasarkan ada tidaknya
pembentukan endapan atau benang-benang halus. Pada praktikum yang dilakukan
pada dua jenis sampel susu yakni pada ASI dan susu kambing kacang ditemukan hasil
sebagai berikut. Pada ASI selama pengujian tidak ditemukan endapan atau benang
putih sehingga ASI dinyatakan negatif (-) mastitis, sedangkan pada pengujian pada
Susu kambing kacang ditemukan benang-benang halus. Maka dari itu pengujian
dengan menggunakan NaOH (white side test) diperoleh hasil positif (+) pada susu
kambing, dengan ditandai terbentuknya benang-benang putih halus pada gelas obyek,
sehingga dapat diartikan bahwa susu yang diamati berasal dari kambing yang terkena
mastitis.
3.2.2 Uji Breed
Kurangnya perhatian mengenai kesehatan hewan dan manajemen pemberian
pakan mengakibatkan seringnya kejadian mastitis, khususnya mastitis subklinis. Data
di lapangan menunjukkan bahwa kejadian mastitis subklinis sangat tinggi (80%)
dibanding mastitis klinis. Mastitis subklinis tidak menunjukkan gejala-gejala
pembengkakan pada ambing. rasa sakit ataupun panas. tetapi bila dilakukan
pemeriksaan laboratoris pada susu terlihat adanya gejala infeksi yang ditandai dengan
peningkatan jumlah sel somatik maupun jumlah bakteri di dalam susu (Sudono. 1 999:
Schalm et al., 1971).
Kejadian mastitis dapat didiagnosa dengan menghitung jumlah sel somatis yang
terdapat dalam susu. Sel somatis merupakan kumpulan sel yang terdiri dari sel
limfosit, neutrofil, monosit, makrofag, reruntuhan sel epitel, sel plasma, dan colostrum
corpuscle. Sel somatis normal berada di dalam susu segar dalam jumlah tertentu.
Peningkatan jumlah sel somatis dapat menandakan terjadinya infeksi pada ambing.
Jumlah sel somatis yang tinggi mengakibatkan turunnya kualitas susu akibat aktifitas
enzimatis, yaitu protease dan lipase.
Sel somatik dalam susu (sekresi sd epitel dan leukosit) dalam susu dapat dijadikan
indikator adanya mastitis (Scaim. 1965: Weiss et al.. 1990). Jumlah sel somatik lebih
dan 300 ribu per ml susu menunjukkan kemungkinan terjadinya mastitis subklinis.
Masalah utama bagi produsen susu kambing adalah kesulitan dalam mengikuti standar
kebersihan, terutama dalam hal mastitis dan jumlah sel somatik (JSS).
Untuk mengetahui jumlah sel somatik maka dapat dilakukan dengan metode
Breed. Perhitungan JSS dengan metode Breed dilakukan melalui pengambilan 0,01 ml
sampel susu (menggunakan pipet Breed), disebarluaskan di atas bidang 1 cm2 (di atas
gelas objek bebas lemak). Preparat ditunggu kering, lalu difiksasi di atas nyala api.
Lemak susu dilarutkan melalui perendaman gelas objek dalam eter alkohol selama dua
menit dan digoyang-goyangkan. Preparat selanjutnya diwarnai dengan methylene blue
selama 1-2 menit. Preparat kemudian dibilas dengan air dan dimasukkan ke dalam
alkohol 96% untuk penghilangan sisa zat warna.

Berdasarkan hasil praktikum didapatkan bahwa hasil perhitungan jumlah sel


somatik adalah Metode breed

Jumlah sel dalam 10 kali pengulangan

Susuibu (305), maka


kambing (194), maka 19,4

Spesifikasi mikroskop:
r = 0,18 mm
Luas areal pandang mikroskop

Luas areal pandang dalam volume 0,01 ml cairan susu

Faktor Mikroskopis (FM)

Maka rata-rata sel/ml

Air susuibu Susukambing


= sel/areal x FM = sel/areal x FM

= 30,5x = 19,4x

= 30,5x = 19,4x

= =

= 2.997.955,49 sel/ml = 1,906,896,2 sel/ml

= sel/ml = sel/ml
Berdasarkan hasil diatas menunjukkan bahwa Air Susu Ibu menunjukkan hasil
jumlah sel somatis yang sangat tinggi yaitu lebih dari ketentuan atau syarat yang telah
ditentukan, hasil yang serupa juga didapatkan pada jumlah sel somatis pada susu
kambing melebihi batas hal ini didukung oleh pendapat Milk Codex (Sudono, 1985)
yaitu jumlah bakteri yang terdapat dalam susu untuk dikonsumsi sebaiknya kurang
daripada 1 juta sel/ml susu. Perrin et al. (1997) yang mengelompokkan status
kesehatan ambing kambing berdasarkan JSS ke dalam 3 kelompok yaitu JSS kurang
dari 750.000/ml diduga sebagai kelenjar ambing tidak terinfeksi, JSS 750.000/ml dan
kecil dari 1.750.000 diduga sebagai kelenjar ambing terinfeksi oleh patogen minor
(Staphylococcus spp. selain Staphylococcus aureus), dan JSS lebih dari 1.750.000/ml
diduga sebagai kelenjar ambing terinfeksi oleh patogen mayor (Staphylococcus
aureus). Jumlah bakteri dalam susu merupakan salah satu tolok ukur kualitas susu
yang terkait dengan kesehatan ambing..
Peningkatan jumlah sel somatis pada susu di tunjukkan terjadinya kejadian
mastitis. Kejadian mastitis pada ibu menyusui dapat disebabkan oleh non infeksius
ataupun infeksius. Mastitis non infeksius adalah mastitis yang disebabkan oleh adalah
gangguan apabila ASI menetap di bagian tertentu payudara, karena saluran tersumbat
atau karena payudara bengkak, maka ini disebut stasis ASI. Bila ASI tidak juga
dikeluarkan, akan terjadi peradangan jaringan payudara yang disebut mastitis non
infeksi sehingga akan terdapat banyak sel somatik dalam susu, sedangkan mastitis
infeksius adalah mastitis yang terjadi akibat infeksi dari bakteri melalui puting susu.
Mastitis dapat menurunkan produksi ASI dan berpotensi meningkatkan transmisi
vertikal pada beberapa penyakit. Adapun faktor predisposisi yang menyebabkan
mastitis diantaranya adalah umur, paritas, serangan sebelumnya, melahirkan, gizi,
faktor kekebalan dalam ASI, stress dan kelelahan, pekerjaan di luar rumah serta
trauma (Inch dan Xylander, 2012).
Selain itu Syarat SCC yang ditetapkan International Dairy Federation (Schalm et
al., 1971) yang menyatakan bahwa SCC susu yang layak untuk dikonsumsi tidak
boleh melebihi 500.000 sel/ml dan menurut IDF (1999) jumlah sel somatis kurang dari
400.000 sel/ml maka susu diperoleh bukan dari hewan yang menderita mastitis
subklinis.
Pada saat dilakukan pengujian IPB-1 akan menunjukkan hasil positif dengan
terbentuknya gelatin dengan tanda +3 yang menandakan bahwa terjadi mastitis
subklinis pada ambing kambing hasil ini sesuai dengan pendapat (Lukman et al. 2012)
makin kental massa yang terbentuk, maka makin tinggi tingkat reaksinya, dan berarti
semakin tinggi jumlah sel somatisnya.

Tabel 1.

BAB IV
PENUTUP

4.1 KESIMPULAN
Berdasarkan hasil praktikum pada susu kambing metode IPB 1 menunjukkan
hasil +3 dengan ciri-ciri terbentuknya gelatin dan metode Whitesite test yang
menunjukkan hasil positif dengan terbentuknya benang-benang putih halus yang
menandakan bahwa terjadi mastitis subklinis. Sedangkan pada uji breed hasil
perhitungan jumlah sel somatic pada susu kambing adalah 1.906.896.2 sel/ ml (1,94 x
106) yang menunjukkan bahwa susu kambing menunjukkan gejala mastitis dan
didukung dengan syarat SCC yang ditetapkan International Dairy Federation..

Pada ASI dengan metode breed, Whitesite test, dan IPB-1 tidak menunjukan
tanda mastitis. Pada uji brees menggunakan sampel ASI hasil yang didapatkan untuk
jumlah sel somatik (ASI) adalah 305.000 per ml (3,05 x 10 5). Hasil ini menunjukkan
bahwa susu ASI tersebut masih dapat dikonsumsi oleh anak karena batas aman dari
susu yang dapat dikonsumsi menurut International Dairy Federation (Schalm et al.,
1971).

DAFTAR PUSTAKA

Abrianto. 2010. Deteksi Mastitis pada Sapi Perah. www.duniasapi.com. Terhubung


berkala :http://www.duniasapi/1192-mastitis-radang-ambing-sapi-perah.html. [10
November 2010].
Foley CR, Bath LD, Dickinson NF, Tucker AH. 1972. Dairy Cattle: Principles, Practices,
Problems, Profits. Philadelphia (US): Lea and Febiger.
[IDF] International Dairy Federation. 1999. Suggested interpretation of mastitis
terminology. Bull Int Dairy Fed. 33: 3-36.
Inch & Xylander. (2012). Mastitis Penyebab dan Penatalaksanaan. Jakarta : Widya Medika.
Liamalah Asri. 2010. Pemanfaatan Bakteriosin pada Penanganan Mastitis Sub Klinis dan
Pengaruhnya Terhadap Kualitas Susu Berdasarkan jumlah Bakteri. Surabaya:
Universitas Airlangga. Lukman DW, Sudarwanto M, Sanjaya AW, Purnawarman
T, Latif H, Soejoedono RR. 2009. Pengaruh mastitis terhadap kualitas susu. Di
dalam: Pisestyani H, editor. Higiene Pangan. FKH IPB. Bogor (ID): Kesmavet
FKH IPB.
Lukman DW, Sudarwanto M, Sanjaya AW, Purnawarman T, Latif H, Soejoedono RR. 2012.
Pemeriksaan Mastitis Subklinis. Di dalam: Pisestyani H, editor. Higiene Pangan
Asal Hewan. FKH IPB. Bogor (ID): Kesmavet FKH IPB.
Perrin GG, Mallereau MP, Lenfant D. Baudry C. 1997. Relationships between California
mastitis test (CMT) and somatic cell counts in dairy goats. Small Ruminant
Research 26: 167-170.
Subronto. 2003. Ilmu Penyakit Ternak I. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.
Hal 309-332.
Sudono.A. 1999. Ilmu Produksi Tenak Perah. Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor.
Bogor.
Scaim. OW. 1965. Veterinary Hematology 2 Edition. Lea and Febiger. Philadelphia.
Weiss. WP.. J.S. Hogan. K.I. Smith and K.H. Hoblet. 1990a. Relationships among selenium.
Vitamin E and mammary gland health in comercial dairy herd. J. Dairy Sci. 73:
381-390.
Weiss. WP.. D.A. Todhunter, J.S. Hogan and K.L. Smith. 1 990b. Effect of duration of
supplementation of selenium and vitamin E on periparturient dairy cows. 3. Dairy
Sci. 73: 31873 194.
LAMPIRAN

Alat alat yang digunakan untuk pengujian Pengambilan NaOH pada whitesite test
mastitis
Penetesan NaOH pada objek glass Sampel susu diteteskan pada objek
glass

Larutan NaOH dan susu di homogenkan Pengambilan sampel 5 ml untuk uji


menggunakan tusuk lidi IPB-1

5 ml susu dituangkan pada paddle Pengambilan 2ml IPB-1


Pada susu ASI negative mastitis Pada susu kambing positif 3 mastitis

Pengambilan susu menggunakan mikropipet Diteteskan pada objek glass

Preparat dikeringkan Preparat yang sudah diberi metilen blue


Kemudian difiksasi diatas bunsen Pengamatan dibawah mikroskop
perbesaran 100X