Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Masa Lansia sering dimaknai sebagai masa kemunduran, terutama pada


keberfungsian fungsi-fungsi fisik dan psikologis. Selain itu penyebab kemunduran
fisik ini merupakan suatu perubahan pada sel-sel tubuh bukan karena penyakit
khusus tetapi karena proses menua. Kemunduran dapat juga mempunyai penyebab
psikologis. Sikap tidak senang terhadap diri sendiri, orang lain, pekerjaan dan
penghidupan pada umumnya dapat menuju kepada keadaan uzur, karena terjadi
perubahan pada lapisan otak, akibatnya, orang menurun secara fisik dan mental dan
mungkin akan segera mati.

Masa lansia bisa jadi juga disertai dengan berbagai penyakit yang menyerang
dan menggerogoti kehidupan lansia sekalipun tidak semua lansia adalah
berpenyakit, tapi kebanyakan lansia rentan terhadap penyakit-penyakit tertentu
akibat kondisi organ-organ tubuh yang telah Aus atau mengalami kemunduran juga
fungsi imun (kekebalan tubuh) yang juga menurun. Masalah-masalah lain seperti
kemundurun dari aspek sosial ekonomi. Secara ekonomi, lansia merupakan masa
pensiun, produktivitas menurun, otomatis penghasilan juga berkurang bahkan bisa
jadi nihil. Yang menyebabkan lansia menjadi tergantung atau menggantungkan diri
pada orang lain seperti anak atau keluarga yang lain.

Kemunduran dari segi sosial ditandai dengan kehilangan jabatan atau posisi
tertentu dalam sebuah organisasi atau masyarakat, yang telah menempatkan dirinya
sebagi individu dengan status terhormat, dihargai, memiliki pengaruh, dan
didengarkan pendapatnya. Sekalipun mengalami kemunduran pada beberapa aspek
kehidupannya, bukan berarti lansia tidak bisa menikmati kehidupannya. Lansia pasti
memiliki potensi yang bisa dimanfaatkan untuk mengisi hari-harinya dengan hal-hal
yang bermanfaat dan menghibur.

1
Banyak lansia yang masih potensial serta memiliki energi dan semangat untuk
berprestasi. Beberapa tokoh mencapai puncak prestasi dalam karirnya justru ketika
dia lansia, baik tokoh politisi, ilmuan, dosen, pengusaha, ulama, seniman dll.

Segala potensi yang dimiliki oleh lansia bisa dijaga, dipelihara, dirawat dan
dipertahankan bahkan diaktualisasikan untuk mencapai kualitas hidup lansia yang
optimal.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa definisi Lansia ?

2. Bagaimana perkembangan Lansia ?

3. Apa perubahan yang terjadi pada masa Lansia ?

4. Apa saja gangguan penyakit dan psikologi pada masa Lansia ?

1.3 Tujuan

1. Mengetahui definisi Lansia

2. Mengetahui perkembangan di Masa Lansia

3. Mengetahui perubahan yang terjadi pada masa Lansia

4. Mengetahui apa saja gangguan penyakit dan psikologi pada masa Lansia

BAB II

2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Lansia

Lanjut usia merupakan istilah tahap akhir dari proses penuaan. Menurut
Bernice Neugarten (1968) James C. Chalhoun (1995) masa tua adalah suatu masa
dimana orang dapat merasa puas dengan keberhasilannya. Badan kesehatan dunia
(WHO) menetapkan 65 tahun sebagai usia yang menunjukkan proses penuaan
yang berlangsung secara nyata dan seseorang telah disebut lanjut usia. Lansia
banyak menghadapi berbagai masalah kesehatan yang perlu penanganan segera
dan terintegrasi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menggolongkan lanjut usia
menjadi 4 yaitu : usia pertengahan (middle age) 45 -59 tahun, Lanjut usia
(elderly) 60 -74 tahun, lanjut usia tua (old) 75 90 tahun dan usia sangat tua
(very old) diatas 90 tahun. Sedangkan menurut Prayitno dalam Aryo (2002)
mengatakan bahwa setiap orang yang berhubungan dengan lanjut usia adalah
orang yang berusia 56 tahun ke atas, tidak mempunyai penghasilan dan tidak
berdaya mencari nafkah untuk keperluan pokok bagi kehidupannya sehari-hari.
Saparinah (1983) berpendapat bahwa pada usia 55 sampai 65 tahun merupakan
kelompok umur yang mencapai tahap penisium, pada tahap ini akan mengalami
berbagai penurunan daya tahan tubuh atau kesehatan dan berbagai tekanan
psikologis. Dengan demikian akan timbul perubahan-perubahan dalam hidupnya.
Dari berbagai penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa lanjut usia
merupakan periode di mana seorang individu telah mencapai kemasakan dalam
proses kehidupan, serta telah menunjukan kemunduran fungsi organ tubuh sejalan
dengan waktu, tahapan ini dapat mulai dari usia 55 tahun sampai meninggal.
Tetapi bagi orang lain, periode ini adalah permulaan kemunduran. Usia tua
dipandang sebagai masa kemunduran, masa kelemahan manusiawi dan sosial
sangat tersebar luas dewasa ini. Pandangan ini tidak memperhitungkan bahwa
kelompok lanjut usia bukanlah kelompok orang yang homogeny. Usia tua dialami
dengan cara yang berbeda-beda.

3
Penggolongan lansia menurut Depkes dikutip dari Azis (1994) menjadi tiga kelompok
yakni :
a) Kelompok lansia dini (55 64 tahun), merupakan kelompok yang baru memasuki
lansia.
b) Kelompok lansia (65 tahun ke atas).
c) Kelompok lansia resiko tinggi, yaitu lansia yang berusia lebih dari 70 tahun.
Dari berbagai penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa, lanjut usia merupakan
periode di mana seorang individu telah mencapai kemasakan dalam proses kehidupan,
serta telah menunjukan kemunduran fungsi organ tubuh sejalan dengan waktu, tahapan
ini dapat mulai dari usia 55 tahun sampai meninggal.

A. Karakteristik Dewasa Akhir :

1) Adanya periode penurunan atau kemunduran. Yang disebabkan oleh faktor fisik dan
psikologis.
2) Perbedaan individu dalam efek penuaan. Ada yang menganggap periode ini sebagai
waktunya untuk bersantai dan ada pula yang mengaggapnya sebagai hukuman.
3) Ada stereotip-stereotip mengenai usia lanjut. Yang menggambarkan masa tua
tidaklah menyenangkan.
4) Sikap sosial terhadap usia lanjut. Kebanyakan masyarakat menganggap orang
berusia lanjut tidak begitu dibutuhkan karena energinya sudah melemah. Tetapi,
ada juga masyarakat yang masih menghormati orang yang berusia lanjut terutama
yang dianggap berjasa bagi masyarakat sekitar.
5) Mempunyai status kelompok minoritas. Adanya sikap sosial yang negatif tentang usia
lanjut
6) Adanya perubahan peran. Karena tidak dapat bersaing lagi dengan kelompok yang
lebih muda.
7) Penyesuaian diri yang buruk. Timbul karena adanya konsep diri yang negatif yang
disebabkan oleh sikap sosial yang negatif.
8) Ada keinginan untuk menjadi muda kembali. Mencari segala cara untuk
memperlambat penuaan.

4
B. Tugas Perkembangan Dewasa Akhir :
1) Menyesuaikan diri terhadap perubahan fisik. Misalnya adanya perubahan
penampilan pada wajah wanita, menggunakan kosmetik untuk menutupi tanda-
tanda penuaan pada wajahnya. Pada bagian tubuh, khususnya pada kerangka
tubuh, mengerasnya tulang sehingga tulang menjadi mengapur dan mudah retak
atau patah.
2) Menyesuaikan diri dengan masa pensiun dan berkurangnya penghasilan keluarga.
3) Menyesuaikan diri dengan kematian pasangan hidup.
4) Menjalin hubungan dengan orang-orang disekitarnya.
5) Membentuk pengaturan kehidupan fisik yang memuaskan.
6) Menyesuaikan diri dengan peran sosial secara luwes dan harmonis.

2.2 Perkembangan Lansia


Usia lanjut merupakan usia yang mendekati akhir siklus kehidupan manusia
di dunia. Usia tahap ini dimulai dari 60 tahunan sampai akhir kehidupan. Usia
lanjut merupakan istilah tahap akhir dari proses penuaan. Semua orang akan
mengalami proses menjadi tua, dan masa tua merupakan masa hidup manusia
yang terakhir, dimana pada masa ini seseorang mengalami kemunduran fisik,
mental dan sosial sedikit demi sedikit sehingga tidak dapat melakukan tugasnya
sehari-hari lagi. Tahap usia lanjut adalah tahap di mana terjadi penuaan dan
penurunan, yang penururnanya lebih jelas dan lebih dapat diperhatikan dari pada
tahap usia baya. Penuaan merupakan perubahan kumulatif pada makhluk hidup,
termasuk tubuh, jaringan dan sel, yang mengalami penurunan kapasitas
fungsional. Pada manusia , penuaan dihubungkan dengan perubahan degenerative
pada kulit, tulang jantung, pembuluh darah, paru-paru, saraf dan jaringan tubuh
lainya. Dengan kemampuan regeneratife yang terbatas, mereka lebih rentan
terhadap berbagai penyakit, sindroma dan kesakitan dibandingkan dengan orang
dewasa lain. Untuk menjelaskan penurunan pada tahap ini, teradapat berbagai
perbedaan teori, namun para pada umumnya sepakat bahwa proses ini lebih
banyak ditemukan oleh faktor gen. Penelitian telah menemukan bahwa tingkat

5
sel, umur sel manusia ditentukan oleh DNA yang disebut telomere, yang
beralokasi pada ujung kromosom. Ketentuan dan kematian sel terpicu ketika
telomere berkurang ukuranya pada ujung kritis tertentu.

2.3 Perubahan yang Terjadi Pada Lansia

Pada lansia terjadi banyak perubahan dalam dirinya, hal ini bisa disebut
perkembangan atau perubahan yang terjadi pada lansia, diantaranya yaitu :
A. Perkembangan Jasmani
Penuaan terbagi atas penuaan primer ( primary aging) dan penuaan
sekunder (secondary aging). Pada penuaan primer tubuh mulai melemah
dan mengalami penurunan alamiah. Sedangkan pada proses penuaan
sekunder, terjadi proses penuaan karena faktor-faktor eksteren, seperti
lingkungan ataupun perilaku. Berbagai paparan lingkungan dapat dapat
mempengaruhi proses penuaan, misalnya cahaya ultraviolet serta gas
karbindioksida yang dapat menimbulkan katarak, ataupun suara yang
sangat keras seperti pada stasiun kereta api sehingga dapat menimbulkan
berkurangnya kepekaan pendengaran.
Selain hal yang telah disebutkan di atas perilaku yang kurang sehat
juga dapat mempengaruhi cepatnya proses penuaan, seperti merokok yang
dapat mengurangi fungsi organ pernapasan. Penuaan membuat sesorang
mengalami perubahan postur tubuh. Kepadatan tulang dapat berkurang,
tulang belakang dapat memadat sehingga membuat tulang punggung
menjadi telihat pendaek atau melengkung. Perubahan ini dapat
mengakibatkan kerapuhan tulang sehingga terjadi osteoporosis, dan
masalah ini merupakan hal yang sering dihadapi oleh para lansia. Penuaan
yang terlihat pada kulit di seluruh tubuh lansia, kulit menjadi semakin
menebal dan kendur atau semakin banyak keriput yang terjadi. Rambut
yang menjadi putih juga merupakan salah satu cirri-ciri yang menandai
proses penuaan. Kulit yang menua menjadi menebal, lebih terlihat pucat
dan kurang bersinar. Perubahan-perubahan yang terjadi dalam lapisan

6
konektif ini dapat mengurangi kekuatan dan elasitas kulit, sehingga para
lansia ini menjadi lebih rentan untuk terjadinya pendarahan di bawah kulit
yang mengakibatkan kulit mejadi tampak biru dan memar. Pada penuaan
kelenjar ini mengakibatkan kelenjar kulit mengasilkan minyak yang lebih
sedikit sehingga menyebabkan kulit kehilangan kelembabanya dan
mejadikan kulit kering dan gatal-gatal. Dengan berkurangnya lapisan
lemak ini resiko yang dihadapi oleh lansia menjadi lebih rentan untuk
mengalami cedera kulit.
Penuaan juga mengubah sistem saraf. Masa sel saraf berkurang yang
menyebabkan atropy pada otak spinal cord. Jumlah sel berkurang, dan
masing-masing sel memiliki lebih sedikit cabang. Perubahan ini dapat
memperlambat kecepatan transmisi pesan menuju otak. Setelah saraf
membawa pesan, dibutuhkan waktu singkat untuk beristirahat sehingga
tiidak dimungkinkan lagi mentrasmisikan pesan yang lain. Selain itu juga
terdapat penumpukan produksi buangan dari sel saraf yang mengalami
atropy pada lapisan otak yang menyebabkan lapisan plak atau noda.
Orang lanjut usia juga memiliki berbagai resio pada sitem saraf, mislanya
berbagai jenis infeksi yang diderita oleh seorang lansia juga dapat
mempengaruhi proses berfikir ataupun perilaku.
Penyebab lain yang menyebabkan kesulitan sesaat dalam proses
berfikir dan perilaku adalah gangguan regulasi glukosa dan metabolisme
lansia yang mengidap diabetes. Fluktuasi tingkat glukosa dapat
menebabkan gangguan berfikr. Perubahan signifikan dalam ingatan,
berfikir atau perilakuan dapat mempengaruhi gaya hidup seorang lansia.
Ketika terjadi degenerasi saraf, alat-alat indra dapat terpengaruh. Refleks
dapat berkurang atau hilang. Alat-alat indra persebtual juga mengalami
penuaan sejalan dengan perjalanan usia. Alat-alat indra menjadi kuranng
tajam, dan orang dapat mengalami kesulitan dalam membedakan sesuatu
yang lebih detail, misalnya ketika seorang lansia di suruh untuk membaca
koran maka orang ini akan mengalami kesulitan untuk membacanya,
sehingga dibutuhkan alat bantu untuk membaca berupa kacamata.

7
Perubahan alat sensorik memiliki dampak yang besar pada gaya hidup
sesorang.
Seseorang dapat mengalami masalah dengan komunikasi, aktifitas,
atau bahkan interaksi sosial. Pendengaran dan pengelihatan merupakan
indra yang paling banyak mengalami perubahan, sejalan dengan proses
penuaan indra pendengaran mulai memburuk. Gendang telinga menebal
sehingga tulang dalam telinga dan stuktur yang lainya menjadi
terpengaruh. Ketajaman pendengaran dapat berkurang karena terjadi
perubhan saraf audiotorik. Kerusakan indara pendengaran ini juga dapat
terjadi karena perubahan pada lilin telinga yang biasa terjadi seiring
bertambahnya usia. Struktur mata juga berubah karena penuaan. Mata
memproduksi lebih sedikit air mata, sehingga dapat membuat mata
menjadi kering. Kornea menjadi kurang sensitive. Pada usia 60 tahun,
pupil mata berkurang sepertiga dari ukuran ketika berusia 20 tahun. Pupil
dapat bereaksi lebih lambat terhadap perubahan cahaya gelap ataupun
terang. Lensa mata menjadi kuning, kurang fleksibel, dan apabila
memandang menjadi kabur dan kurang jelas. Bantalan lemak pendukung
berkurang, dan mata tenggelam ke kantung belakang. Otot mata
menjadikan mata kurang dapat berputar secara sempurna, cairan di dalam
mata juga dapat berubah.
Masalah yang paling yang paling umum dialami oleh lansia adalah
kesulitan untuk mengatur titik focus mata pada jarak tertentu sehingga
pandangan menjadi kurang jelas. Perubahan fisik pada lansia lebih banyak
ditekankan pada alat indera dan sistem saraf mereka. Sistem pendengaran,
penglihatan sangat nyata sekali perubahan penurunan keberfungsian alat
indera tersebut. Sedangkan pada sistem sarafnya adalah mulai
menurunnya pemberian respon dari stimulus yang diberikan oleh
lingkungan. Pada lansia juga mengalami perubahan keberfungsian organ-
organ dan alat reproduksi baik pria ataupun wanita. Dari perubahan-
perubahan fisik yang nyata dapat dilihat membuat lansia merasa minder

8
atau kurang percaya diri jika harus berinteraksi dengan lingkungannya
(J.W.Santrock, 2002 :198).
Dari penjelasan di atas dapat di tarik kesimpulan berkenaan dengan ciri-
ciri fisik lansia yaitu sebagi berikut
1. Postur tubuh lansia mulai berubah bengkok (bungkuk),
2. Kondisi kulit mulai kering dan keriput,

3. Daya ingat mulai menurun,

4. Kondisi mata yang mulai rabun,

5. Pendengaran yang berkurang.

B. Perkembangan Intelektual
Menurut david Wechsler dalam Desmita (2008) kemunduran kemampuan
mental merupakan bagian dari proses penuaan organisme sacara umum,
hampir sebagian besar penelitian menunjukan bahwa setelah mencapai
puncak pada usia antara 45-55 tahun, kebanyakan kemampuan seseorang
secara terus menerus mengalami penurunan, hal ini juga berlaku pada seorang
lansia. Ketika lansia memperlihatkan kemunduran intelektualiatas yang mulai
menurun, kemunduran tersebut juga cenderung mempengaruhi keterbatasan
memori tertentu. Misalnya seseorang yang memasuki masa pensiun, yang
tidak menghadapi tantangan-tantangan penyesuaian intelektual sehubungan
dengan masalah pekerjaan, dan di mungkinkan lebih sedikit menggunakan
memori atau bahkan kurang termotivasi untuk mengingat beberpa hal, jelas
akan mengalami kemunduran memorinya.
Menurut Ratner et.al dalam desmita (20080 penggunaan bermacam-
macam strategi penghafalan bagi orang tua , tidak hanya memungkinkan
dapat mencegah kemunduran intelektualitas, melinkan dapat menigkatkan
kekuatan memori pada lansia tersebut. Kemerosotan intelektual lansia ini
pada umumnya merupakan sesuatau yang tidak dapat dihindarkan,
disebabkan berbagai faktor, seperti penyakit, kecemasan atau depresi. Tatapi

9
kemampuan intelektual lansia tersebut pada dasarnya dapat dipertahankan.
Salah satu faktor untuk dapat mempertahankan kondisi tersebut salah satunya
adalah dengan menyediakan lingkungan yang dapat merangsang ataupun
melatih ketrampilan intelektual mereka, serta dapat mengantisipasi terjadinya
kepikunan.

C. Perkembangan Emosional
Memasuki masa tua, sebagian besar lanjut usia kurang siap menghadapi
dan menyikapi masa tua tersebut, sehingga menyebabkan para lanjut usia
kurang dapat menyesuaikan diri dan memecahkan masalah yang dihadapi
(Widyastuti, 2000). Munculnya rasa tersisih, tidak dibutuhkan lagi, ketidak
ikhlasan menerima kenyataan baru seperti penyakit yang tidak kunjung
sembuh, kematian pasangan, merupakan sebagian kecil dari keseluruhan
perasaan yang tidak enak yang harus dihadapi lanjut usia. Hal hal tersebut
di atas yang dapat menjadi penyebab lanjut usia kesulitan dalam melakukan
penyesuaian diri. Bahkan sering ditemui lanjut usia dengan penyesuaian diri
yang buruk.
Sejalan dengan bertambahnya usia, terjadinya gangguan fungsional,
keadaan depresi dan ketakuatan akan mengakibatkan lanjut usia semakin sulit
melakukan penyelesaian suatu masalah. Sehingga lanjut usia yang masa
lalunya sulit dalam menyesuaikan diri cenderung menjadi semakin sulit
penyesuaian diri pada masa-masa selanjutnya. Yang dimaksud dengan
penyesuaian diri pada lanjut usia adalah kemampuan orang yang berusia
lanjut untuk menghadapi tekanan akibat perubahan perubahan fisik, maupun
sosial psikologis yang dialaminya dan kemampuan untuk mencapai
keselarasan antara tuntutan dari dalam diri dengan tuntutan dari lingkungan,
yang disertai dengan kemampuan mengembangkan mekanisme psikologis
yang tepat sehingga dapat memenuhi kebutuhan kebutuhan dirinya tanpa
menimbulkan masalah baru. Pada orang orang dewasa lanjut atau lanjut
usia, yang menjalani masa pensiun dikatakan memiliki penyesuaian diri
paling baik merupakan lanjut usia yang sehat, memiliki pendapatan yang

10
layak, aktif, berpendidikan baik, memiliki relasi sosial yang luas termasuk
diantaranya teman teman dan keluarga, dan biasanya merasa puas dengan
kehidupannya sebelum pensiun (Palmore, dkk, 1985).
Orang orang dewasa lanjut dengan penghasilan tidak layak dan
kesehatan yang buruk, dan harus menyesuaikan diri dengan stres lainnya yang
terjadi seiring dengan pensiun, seperti kematian pasangannya, memiliki lebih
banyak kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan fase pensiun (Stull &
Hatch, 1984). Penyesuaian diri lanjut usia pada kondisi psikologisnya
berkaitan dengan dimensi emosionalnya dapat dikatakan bahwa lanjut usia
dengan keterampilan emosi yang berkembang baik berarti kemungkinan besar
ia akan bahagia dan berhasil dalam kehidupan, menguasai kebiasaan pikiran
yang mendorong produktivitas mereka. Orang yang tidak dapat menghimpun
kendali tertentu atas kehidupan emosinya akan mengalami pertarungan batin
yang merampas kemampuan mereka untuk berkonsentrasi ataupun untuk
memiliki pikiran yang jernih.
Ohman & Soares (1998) melakukan penelitian yang menghasilkan
kesimpulan bahwa sistem emosi mempercepat sistem kognitif untuk
mengantisipasi hal buruk yang mungkin akan terjadi. Dorongan yang relevan
dengan rasa takut menimbulkan reaksi bahwa hal buruk akan terjadi. Terlihat
bahwa rasa takut mempersiapkan individu untuk antisipasi datangnya hal
tidak menyenangkan yang mungkin akan terjadi. Secara otomatis individu
akan bersiap menghadapi hal-hal buruk yang mungkin terjadi bila muncul
rasa takut. Ketika individu memasuki fase lanjut usia, gejala umum yang
nampak yang dialami oleh orang lansia adalah perasaan takut menjadi tua.
Ketakutan tersebut bersumber dari penurunan kemampuan yang ada
dalam dirinya. Kemunduran mental terkait dengan penurunan fisik sehingga
mempengaruhi kemampuan memori, inteligensi, dan sikap kurang senang
terhadap diri sendiri. Ditinjau dari aspek yang lain respon-respon emosional
mereka lebih spesifik, kurang bervariasi, dan kurang mengena pada suatu
peristiwa daripada orang-orang muda. Bukan hal yang aneh apabila orang-
orang yang berusia lanjut memperlihatkan tanda-tanda kemunduran dalam

11
berperilaku emosional; seperti sifat-sifat yang negatif, mudah marah, serta
sifat-sifat buruk yang biasa terdapat pada anak-anak. Orang yang berusia
lanjut kurang memiliki kemampuan untuk mengekspresikan kehangatan dan
persaan secara spontan terhadap orang lain. Mereka menjadi kikir dalam
kasih sayang. Mereka takut mengekspresikan perasaan yang positif kepada
orang lain karena melalui pengalaman-pengalaman masa lalu membuktikan
bahwa perasaan positif yang dilontarkan jarang memperoleh respon yang
memadai dari orang-orang yang diberi perasaan yang positif itu. Akibatnya
mereka sering merasa bahwa usaha yang dilakukan itu akan sia-sia. Semakin
orang berusia lanjut menutup diri, semakin pasif pula perilaku emosional
mereka.

D. Perkembangan Spiritual
Sebuah penelitian menyatakan bahwa lansia yang lebih dekat dengan
agama menunjukkan tingkatan yang tinggi dalam hal kepuasan hidup, harga
diri dan optimisme. Kebutuhan spiritual (keagamaan) sangat berperan
memberikan ketenangan batiniah, khususnya bagi para Lansia. Rasulullah
bersabda semua penyakit ada obatnya kecuali penyakit tua. Sehingga
religiusitas atau penghayatan keagamaan besar pengaruhnya terhadap taraf
kesehatan fisik maupun kesehatan mental, hal ini ditunjukan dengan
penelitian yang dilakukan oleh Hawari (1997), bahwa :
1) Lanjut usia yang nonreligius angka kematiannya dua kali lebih besar
daripada orang yang religius.
2) Lanjut usia yang religius penyembuhan penyakitnya lebih cepat
dibandingkan yang non religius.
3) Lanjut usia yang religius lebih kebal dan tenang menghadapi operasi
atau masalah hidup lainnya.
4) Lanjut usia yang religius lebih kuat dan tabah menghadapi stres daripada
yang nonreligius, sehingga gangguan mental emosional jauh lebih kecil.
5) Lanjut usia yang religius tabah dan tenang menghadapi saat-saat terakhir
(kematian) daripada yang nonreligius.

12
E. Perubahan Sosial
Umumnya lansia banyak yang melepaskan partisipasi sosial mereka,
walaupun pelepasan itu dilakukan secara terpaksa. Orang lanjut usia yang
memutuskan hubungan dengan dunia sosialnya akan mengalami kepuasan.
Pernyataan tadi merupakan disaggrement theory. Aktivitas sosial yang banyak
pada lansia juga mempengaruhi baik buruknya kondisi fisik dan sosial lansia.
(J.W.Santrock, 2002, h.239).

F. Perubahan Kehidupan Keluarga


Sebagian besar hubungan lansia dengan anak jauh kurang memuaskan
yang disebabkan oleh berbagai macam hal. Penyebabnya antara lain :
kurangnya rasa memiliki kewajiban terhadap orang tua, jauhnya jarak tempat
tinggal antara anak dan orang tua. Lansia tidak akan merasa terasing jika
antara lansia dengan anak memiliki hubungan yang memuaskan sampai lansia
tersebut berusia 50 sampai 55 tahun. Orang tua usia lanjut yang
perkawinannya bahagia dan tertarik pada dirinya sendiri maka secara
emosional lansia tersebut kurang tergantung pada anaknya dan sebaliknya.
Umumnya ketergantungan lansia pada anak dalam hal keuangan. Karena
lansia sudah tidak memiliki kemampuan untuk dapat memenuhi kebutuhan
hidupnya. Anak-anaknya pun tidak semua dapat menerima permintaan atau
tanggung jawab yang harus mereka penuhi.

G. Hubungan Sosio-Emosional Lansia


Masa penuaan yang terjadi pada setiap orang memiliki berbagai macam
penyambutan. Ada individu yang memang sudah mempersiapkan segalanya
bagi hidupnya di masa tua, namun ada juga individu yang merasa terbebani
atau merasa cemas ketika mereka beranjak tua. Takut ditinggalkan oleh
keluarga, takut merasa tersisihkan dan takut akan rasa kesepian yang akan
datang. Keberadaan lingkungan keluarga dan sosial yang menerima lansia
juga akan memberikan kontribusi positif bagi perkembangan sosio-emosional

13
lansia, namun begitu pula sebaliknya jika lingkungan keluarga dan sosial
menolaknya atau tidak memberikan ruang hidup atau ruang interaksi bagi
mereka maka tentunya memberikan dampak negatif bagi kelangsungan hidup
lansia.

2.4 Perkembangan Fisik Pada Masa Lanjut Usia


Perkembangan masa dewasa akhir atau usia lanjut, membawa penurunan
fisik yang lebih besar dibandingkan dengan periode periode usia sebelumnya.
Rentetan perubahan perubahan dalam penurunan fisik yang terkait dengan
penuaan, dengan penekanan pentingnya perkembangan perkembangan baru
dalam penelitian proses penuaan yang mencatat bahwa kekuatan tubuh perlahan
lahan menurun dan hilangnya fungsi tubuh kadangkala dapat diperbaiki.
Hal inilah yang biasanya terjadi pada usia dewasa lanjut dan berikut adalah
beberapa penurunan dan hilangnya fungsi tubuh dalam hal fisiologis masa
perkembangan masa dewasa akhir atau usia lanjut:
A. Otak dan sistem syaraf
Saat individu beranjak tua maka akan kehilangan sejumlah neuron, unit unit
sel dasar dari sistem syaraf. Beberapa peneliti memperkirakan kehilangan itu
mungkin sampai 50% selama tahun tahun dewasa. Walaupun penelitian lain
percaya bahwa kehilangan itu lebih sedikit dan bahwa penyelidikan yang tepat
terhadap penyelidikan hilangnya neuron belum dibuat di dalam otak.
Barangkali penyelidikan yang lebih masuk akal adalah bahwa 5 sampai 10
persen dari neuron kita akan berhenti tumbuh sampai kita mencapai usia 70
tahun. Setelah itu, hilangnya neuron akan lebih cepat.
Aspek yang signifikan dari proses penuaan mungkin adalah bahwa neuron
neuron itu tidak mengganti dirinya sendiri. Meskipun demikian otak dapat cepat
sembuh dan memperbaiki kemampuannya, hanya kehilangan sebagian kecil dari
kemampuannya untuk bisa berfungsi di masa dewasa akhir.
Terjadi perubahan anatomis sel neuron (sel otak) yang tidak sama di berbagai
bagian otak. Berturut-turut dari yang paling banyak; bagian otak yang memantau

14
memori adalah daerah pelipis, bagian otak yang memantau kemampuan eksekusi
daerah otak depan dan bagian otak yang memantau perasaan tubuh tidak berubah.
Puncak perkembangan otak pada usia 18-24 tahun, kemudian merosot perlahan.
Secara fisik, otak tidak bertambah berat, jumlah sel neuron tetap, malah
berkurang 100 ribu sel per hari, pada umur 70 tahun berat otak turun 150-200
gram, terjadi kemunduran berbagai fungsi diantaranya memori, angka,
kreativitas, kosa kata. Mark Rosenweig menjelaskan bila otak selalu distimulasi
tidak peduli pada usia berapa akan terjadi pertumbuhan ranting sel akan
menambah jumlah jaringan antar sel. Pertumbuhan jaringan antar sel lebih cepat
di banding kematian sel. Kematian sel neuron/hari. Manusia yang pandai atau
diberi stimulus semasa hidupnya, mempunyai otak serebral yaitu pusat
kemampuan intelektual yang lebih tebal.

2.5 Berbagai Gangguan Penyakit Pada Lansia


A. Parkinson
Penyakit Parkinson (bahasa Inggris: paralysis agitans, Parkinson disease)
adalah penyakit degeneratif syaraf yang pertama ditemukan pada tahun 1817 (An
Essay on the Shaking Palsy) oleh Dr. James Parkinson. Parkinson adalah gangguan
pergerakan akibat kerusakan sel otak sehingga menjejaskan penghasilan bahan
biokimia dopamin yang bertanggungjawab dalam proses koordinasi pergerakan
anggota badan, dengan gejala berupa adanya tremor pada saat beristirahat,
kesulitan untuk memulai pergerakan dan kekakuan otot. Parkinson menyerang
sekitar 1 di antara 250 orang yang berusia di atas 40 tahun dan sekitar 1 dari 100
orang yang berusia di atas 65 tahun. Penyebab terjadinya penyakit Parkinson
adalah kurangnya jumlah neurotransmitter dopamin di dalam susunan saraf.
Pada penyakit Parkinson, sel-sel saraf pada ganglia basalis mengalami
kemunduran sehingga pembentukan dopamin berkurang dan hubungan dengan sel
saraf dan otot lainnya juga lebih sedikit. Penyebab dari kemunduran sel saraf dan
berkurangnya dopamin terkadang tidak diketahui. Penyakit ini cenderung
diturunkan, walau terkadang faktor genetik tidak memegang peran utama.

15
Kadang penyebabnya diketahui. Pada beberapa kasus, Parkinson merupakan
komplikasi yang sangat lanjut dari ensefalitis karena virus (suatu infeksi yang
menyebabkan peradangan otak). Kasus lainnya terjadi jika penyakit degeneratif
lainnya, obat-obatan atau racun memengaruhi atau menghalangi kerja dopamin di
dalam otak. Misalnya obat anti psikosa yang digunakan untuk mengobati paranoia
berat dan skizofrenia menghambat kerja dopamin pada sel saraf.
Penyakit Parkinson bisa diobati dengan berbagai obat, seperti levodopa,
bromokriptin, pergolid, selegilin, antikolinergik (benztropin atau triheksifenidil),
antihistamin, anti depresi, propanolol dan amantadin. Tidak satupun dari obat-obat
tersebut yang menyembuhkan penyakit atau menghentikan perkembangannya,
tetapi obat-obat tersebut menyebabkan penderita lebih mudah melakukan suatu
gerakan dan memperpanjang harapan hidup penderita.
Di dalam otak levodopa diubah menjadi dopamin. Obat ini mengurangi tremor
dan kekakuan otot dan memperbaiki gerakan. Penderita Parkinson ringan bisa
kembali menjalani aktivitasnya secara normal dan penderita yang sebelumnya
terbaring di tempat tidur menjadi kembali mandiri.
Pengobatan dasar untuk Parkinson adalah levodopa-karbidopa. Penambahan
karbidopa dimaksudkan untuk meningkatkan efektivitas levodopa di dalam otak
dan untuk mengurangi efek levodopa yang tidak diinginkan di luar otak.
Mengkonsumsi levodopa selama bertahun-tahun bisa menyebabkan timbulnya
gerakan lidah dan bibir yang tidak dikehendakik, wajah menyeringai, kepala
mengangguk-angguk dan lengan serta tungkai berputar-putar. Beberapa ahli
percaya bahwa menambahkan atau mengganti levodopa dengan bromokriptin
selama tahun-tahun pertama pengobatan bisa menunda munculnya gerakan-
gerakan yang tidak dikehendaki.
Sel-sel saraf penghasil dopamin dari jaringan janin manusia yang dicangkokkan
ke dalam otak penderita Parkinson bisa memperbaiki kelainan kimia tetapi belum
cukup data mengenai tindakan ini.
Untuk mempertahankan mobilitasnya, penderita dianjurkan untuk tetap
melakukan kegiatan sehari-harinya sebanyak mungkin dan mengikuti program
latihan secara rutin. Terapi fisik dan pemakaian alat bantu mekanik (misalnya kursi
roda) bisa membantu penderita tetap mandiri.

16
Makanan kaya serat bisa membantu mengatasi sembelit akibat kurangnya
aktivitas, dehidrasi dan beberapa obat. Makanan tambahan dan pelunak tinja bisa
membantu memperlancar buang air besar. Pemberian makanan harus benar-benar
diperhatikan karena kekakuan otot bisa menyebabkan penderita mengalami
kesulitan menelan sehingga bisa mengalami kekurangan gizi (malnutrisi).

B. Alzheimer
Alzheimer atau nyanyuk menyebabkan semua fungsi otak, terutama daya
ingatan seseorang, merosot. Antara puncanya ialah peningkatan usia, keturunan,
latar belakang pendidikan yang rendah, jantina dan penyakit lain seperti strok.
Penyakit ini juga bukan saja boleh menyebabkan pesakit lupa tetapi turut
menjejaskan daya intelek, kebolehan berfikir secara logik dan pada peringkat teruk
mereka turut kehilangan keupayaan berinteraksi atau memahami perkataan.
Mengonsumsi minyak ikan, berolahraga rutin dan mengisi teka teki silang
adalah aktivitas yang disebut-sebut bermanfaat bagi otak. Tetapi menurut kajian
terbaru, tidak ada bukti kuat bahwa semua itu dapat mencegah penyakit
Alzheimer.Sebuah panel ahli yang terdiri dari para ahli menyimpulkan, suplemen,
obat atau interaksi sosial juga belum terbukti dapat mencegah penyakit degenerasi
otak tersebut. Kelompok ahli itu mengamati puluhan riset yang menunjukkan cara-
cara untuk mencegah Alzheimer, penyakit yang merusak otak dan tidak dapat
diobati. Tetapi belum menemukan satu pun bukti yang cukup kuat akan dampaknya
bagi pencegahan.
C. Post power syndrome
Arti dari "syndrome" itu adalah kumpulan gejala. "Power" adalah kekuasaan.
Jadi, terjemahan dari post power syndrome kira-kira adalah gejala-gejala pasca
kekuasaan. Gejala ini umumnya terjadi pada orang-orang yang tadinya mempunyai
kekuasaan atau menjabat satu jabatan, namun ketika sudah tidak menjabat lagi,
seketika itu terlihat gejala-gejala kejiwaan atau emosi yang kurang stabil. Gejala-
gejala itu biasanya bersifat negatif, itulah yang diartikan post power syndrome.
Ada banyak faktor yang menyebabkan terjadinya post-power syndrome. Pensiun
dini dan PHK adalah salah satu dari faktor tersebut. Bila orang yang mendapatkan
pensiun dini tidak bisa menerima keadaan bahwa tenaganya sudah tidak dipakai

17
lagi, walaupun menurutnya dirinya masih bisa memberi kontribusi yang signifikan
kepada perusahaan, post-power syndrome akan dengan mudah menyerang.
Apalagi bila ternyata usianya sudah termasuk usia kurang produktif dan ditolak
ketika melamar di perusahaan lain, post-power syndrome yang menyerang akan
semakin parah.
Gejala post-power syndrome:
1) Gejajala fisik, misalnya menjadi jauh lebih cepat tua tampaknya
dibandingkan waktu dia menjabat. Rambut semakin banyak beruban,
keriput, sakit-sakitan, dan menjadi lemah.
2) Gejala emosi, misalnya cepat teringgung, merasa tidak berharga,
menarik diri dari pergaulan,dsb.
3) Gejala perilaku, misalnya malu bertemu orang lain, lebih mudah
melakukan pola-pola kekerasan atau menunjukkan kemarahan.

Ciri-ciri orang yang rentan menderita post-power syndrome:


1) Orang yang terlalu senang dihargai dan dihormati orang lain,
permintaanya senantiasa terlaksana/dituruti, suka dilayani.
2) Orang yang membutuhkan pengakuan dari orang lain karena kurangnya
harga diri, dengan jabatan dia lebih merasa diakui orang lain.
3) Orang yang meletakkan arti hidupnya pada prestise jabatan dan pada
kemampuan mengatur orang lain, untuk dapat berkuasa atas orang lain.

Post-power syndrome hampir selalu dialami terutama orang yang sudah lanjut usia
dan pensiun dari pekerjaannya. Hanya saja banyak orang yang berhasil melalui fase ini
dengan cepat dan dapat menerima kenyataan dengan hati yang lapang. Tetapi pada
kasus-kasus tertentu, dimana seseorang tidak mampu menerima kenyataan yang ada,
ditambah dengan tuntutan hidup yang terus mendesak, dan dirinya adalah satu-satunya
penopang hidup keluarga, resiko terjadinya post-power syndrome yang berat semakin
besar.
Beberapa kasus post-power syndrome yang berat diikuti oleh gangguan jiwa seperti
tidak bisa berpikir rasional dalam jangka waktu tertentu, depresi yang berat, atau pada

18
pribadi-pribadi introfert (tertutup) terjadi psikosomatik (sakit yang disebabkan beban
emosi yang tidak tersalurkan) yang parah.
Post-power syndrome dapat menyerang siapa saja, baik pria maupun wanita. Antara
pria dan wanita, pria lebih rentan terhadap post power sindrome karena pada wanita
umumnya lebih menghargai relasi dari pada prestise, prestise dan kekuasaan itu lebih
dihargai oleh pria. Kematangan emosi dan kehangatan keluarga sangat membantu untuk
melewati fase ini. Dan satu cara untuk mempersiapkan diri menghadapi post-power
syndrome adalah gemar menabung dan hidup sederhana. Karena bila post-power
syndrome menyerang, sementara penderita sudah terbiasa hidup mewah, akibatnya
akan lebih parah.
Apabila seseorang telah mampu menaklukan fase Post-Power Syndrome akan jauh
menjadi lebih bijaksana dan mampu membuktikan kebermanfaatan atas eksistensinya.

2.6 Gangguan Psikologi Pada Masa Lansia


A. Gangguan persepsi
Halusinasi dan ilusi pada lanjut usia merupakan fenomena yang disebabkan
oleh penurunan ketajaman sensorik. Pemeriksa harus mencatat apakah penderita
mengalami kebingungan terhadap waktu atau tempat selama episode halusinasi
dapat disebabkan oleh tumor otak dan patologo fokal yang lain.
B. Proses berpikir
Gangguan pada progresi pikiran adalah neologisme, gado-gado kata,
sirkumstansialitas, asosiasi longgar, asosiasi bunyi, flight of ideas, dan retardasi.
Hilangnya kemampuan untuk dapat mengerti pikiran abstrak.
C. Gangguan Sensorik dan kognitif
Sensorik mempermasalhkan fungsi dari indra tertentu, sedangkan kognitiv
merupakan kemampuan seseorang untuk menerima, mengolah, menyimpan dan
menggunakan kembali semua masukan sensorik secara baik. Fungsi kognitif terdiri
dari unsur-unsur, memperhatikan (atensi), mengingat (memori), mengerti
pembicaraan/berkomunikasi (bahasa), bergerak (motorik), dan merencanakan
/melaksanakan keputusan (eksekutif) juga intelektual.
D. Gangguan Kesadaran

19
Indikator yang peka terhadap disfungsi otak adalah adanya perubahan
kesadaran, adanya fluktuasi tingkat kesadaran. Pada keadaan yang berat penderita
dalam keadaan somnolen atau stupor.
E. Gangguan Orientasi
Gangguan orientasi terhadap waktu, tempat dan orang berhubungan dengan
gangguan kognisi. Gangguan orientasi sering ditemukan pada gangguan kognitif,
gangguan kecemasan, gangguan buatan, gangguan konversi dan gangguan
kepribadian, terutama selam periode stres fisik atau lingkungan yang tidak
mendukung. Pemeriksa dilakukan dengan dua cara: Apakah penderita mengenali
namanya sendiri dan apakah juga mengetahui tanggal, tahun, bulan dan hari.
F. Gangguan Daya ingat
Daya ingat dinilai dalam hal daya ingat jangka panjang, pendek dan segera.Tes
yang diberikan pada penderita dengan memberikan angka enam digit dan
penderita diminta untuk mengulangi maju mundur. Penderita dengan daya ingat
yang tak terganggu biasanya dapat mengingat enam angka maju dan lima angka
mundur. Daya ingat jangka panjang diuji dengan menanyakan tempat dan tanggal
lahir, nama dan hari ulang tahun anak-anak penderita. Daya ingat jangka pendek
dapat diperiksa dengan beberapa cara, misalnya dengan menyebut tiga benda pada
awal wawancara dan meminta penderita mengingat kembali benda tersebut akhir
wawancara atau dengan memberikan cerita singkat pada penderita dan penderita
diminta untuk mengulangi cerita tadi secara tepat/persisi.
G. Gangguan Fungsi intelektual
Konsentrasi, informasi dan kecerdasan. Sejumlah fungsi intelektual mungkin
diajukan untuk menilai pengetahuan umum dan fungsi intelektual. Menghitung
dapat diujikan dengan meminta penderita untu mengurangi 7 dari angka 100 dan
mengurangi 7 lagi dari hasil akhir dan seterusnya sampai tercapai angka 2.

20
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Lanjut usia merupakan istilah tahap akhir dari proses penuaan. Pada Usia 65
tahun seseorang dianggap telah memasuki masa lansia atau lanjut usia. Usia tua
dipandang sebagai masa kemunduran, masa kelemahan manusiawi dan sosial
sangat tersebar luas dewasa ini. Pada lansia biasanya mengalami kemunduran
fisik, mental dan sosial sedikit demi sedikit sehingga tidak dapat melakukan
tugasnya sehari-hari lagi. Tahap usia lanjut adalah tahap di mana terjadi penuaan
dan penurunan, yang penururnanya lebih jelas dan lebih dapat diperhatikan dari
pada tahap usia baya.

Pada lansia terjadi banyak perubahan, diantaranya perkembangan jasmani


atau fisik, perkembangan intelektual, perkembangan emosi, perkembangan
spiritual, perubahan sosial, perubahan kehidupan keluarga, dan hubungan sosio-
emosional lansia. Lansia mengalami perubahan dalam kehidupannya sehingga
menimbulkan beberapa masalah dalam kehidupannya, diantaranya pada masalah

21
fisik, intelektual, emosi, dan spiritual. Misalnya saja dalam hal intelektual, lansia
lebih sering mengalami pikun atau sulit untuk mengingat.

3.2 Saran

Kita dapat mengetahui perkembangan yang terjadi pada lansia. Lansia adalah
masa dimana seseorang mengalami kemunduran, dimana fungsi tubuh kita sudah
tidak optimal lagi. Oleh karena itu sebaiknya sejak muda kita persiapkan dengan
sebaik-sebaiknya masa tua kita. Gunakan masa muda dengan kegiatan yang
bermanfaat agar tidak menyesal di masa tua.

DAFTAR PUSTAKA

Santrock, John W., 1995, Life-Span Development, Jakarta: Erlangga.


Hurlock, Elizabeth B., 1980, A Life-Span Approach, Jakarta: Erlangga
J Purba. 2011. Perkembangan Lansia.
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/23559/5/Chapter%20I.pdf.
(diakses pada tanggal 26 Maret 2016)
http://file.upi.edu/Direktori/FPTK/JUR._PEND._KESEJAHTERAAN_KELUARGA/19630311
1990012-ELIS_ENDANG_NIKMAWATI/Makalah_Semarang__Pangan_
%2526_Gizi_Lansia_untuk_menunjang_kesehatan_kebugaran_dan_kecantikanKEHIDUP
A.pdf (diakses pada tanggal 26 Maret 2016)

22