Anda di halaman 1dari 4

1.

Paragraf Kedua
Perlindungan Pasien

Pasal 56
(1) Setiap orang berhak menerima atau menolak sebagian atau seluruh tindakan
pertolongan yang akan diberikan kepadanya setelah menerima dan memahami
informasi mengenai tindakan tersebut secara lengkap.
(2) Hak menerima atau menolak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku
pada:
a. penderita penyakit yang penyakitnya dapat secara cepat menular ke dalam
masyarakat yang lebih luas;
b. keadaan seseorang yang tidak sadarkan diri; atau
c. gangguan mental berat.
(3) Ketentuan mengenai hak menerima atau menolak sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) diatur sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Contohnya yaitu :seorang pasien yang menderita penyakit demam thypoid akan disuntikkan obat
antibiotic setelah diberikan penjelasan mengenai penyakitnya dan obat apa yang harus diberikan.
Pasien tersebut berhak menerima ataupun menolak tindakan tersebut setelah diberikan informasi
mengenai penyakitnya krn pasien tersebut masih sadarkan diri serta tidak memiliki gangguan
mental.

2. Malpraktik dapat diartikan melakukan tindakan atau praktik yang salah atau menyimpang dari
ketentuan atau prosedur yang baku (benar). apabila kelalaian petugas kesehatan mengakibatkan
orang lain menderita kerugian atau cidera, cacat, atau meninggal dunia, maka hal tersebut berarti
melanggar hukum dan melanggar etika

Masyarakat atau pasien yang menutut ganti rugi atas perbuatan malpraktik, harus dapat
membuktikan 4 unsur berikut, yaitu :
1. Adanya sebuah kewajiban bagi petugas kesehatan terhadap penderita atau
pasien, tetapi tidak dilakukan
2. Petugas kesehatan telah melanggar standar pelayanan kesehatan (medis)
yang lazim digunakan
3. Penggugat atau penderita atau pasien dan atau keluarganya telah
menderita kerugian yang dapat dimintakan ganti rugi
4. Secara jelas (faktual) kerugian itu disebabkan oleh tindakan di bawah
standar atau ketentuan profesi kesehatan/medis
3. BAB II
ASAS DAN TUJUAN

Pasal 2
Pembangunan kesehatan diselenggarakan dengan berasaskan perikemanusiaan,
keseimbangan, manfaat, pelindungan, penghormatan terhadap hak dan kewajiban,
keadilan, gender dan nondiskriminatif dan norma-norma agama.

Pasal 3
Pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan
kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan
masyarakat yang setinggi-tingginya, sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya
manusia yang produktif secara sosial dan ekonomis.

BAB II
ASAS DAN TUJUAN
Pasal 2
Rumah Sakit diselenggarakan berasaskan Pancasila dan didasarkan kepada nilai kemanusiaan,
etika dan profesionalitas, manfaat, keadilan, persamaan hak dan anti diskriminasi, pemerataan,
perlindungan dan keselamatan pasien, serta mempunyai fungsi sosial.
Pasal 3
Pengaturan penyelenggaraan Rumah Sakit bertujuan:
a.mempermudah akses masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan;
b.memberikan perlindungan terhadap keselamatan pasien, masyarakat, lingkungan rumah sakit
dan sumber daya manusia di rumah sakit;
c.meningkatkan mutu dan mempertahankan standar pelayanan rumah sakit; dan
d.memberikan kepastian hukum kepada pasien, masyarakat, sumber daya manusia rumah sakit,
dan Rumah Sakit.

4. Euthania berasal dari bahasa Yunani, yakni dari kata EU yang artinya baik, tanpa
penderitaan, dan THANATOS yang artinya mati Berdasarkan arti kata tersebut, maka
euthanasia artinya mati dengan baik, atau kematian yang baik, atau mati dengan tanpa
penderitaan, atau mati cepat tanpa derita.
Di Indonesia, masalah euthanasia sempat mencuat pada Tahun 2004 yang lalu. Saat itu,
PANCA SATRYA HASAN KESUMA meminta agar istrinya AGAIN ISNA NAULU
SIREGAR, yang sedang koma dihilangkan nyawanya. Hasan menyatakan tidak sanggup
lagi melihat istrinya menderita, apalagi karena tidak memiliki biaya untuk pengobatan
istrinya yang mengalami kerusakan otak setelah menjalani operasi caesar di sebuah
rumah sakit di Bogor.
Permintaan tersebut menjadi kontroversial, karena pakar hukum pidana Indonesia
menentang permintaan tersebut, dan juga bertentangan dengan hukum agama
Ketentuan hukum yang berkaitan dengan euthanasia terdapat dalam beberapa pasal dalam
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUH Pidana), yakni Pasal 388, 340, 344, 345,
dan 349 dari KUH Pidana.
5.
a. Tenaga kesehatan berhak mendapatkan imbalan dan pelindungan hukum dalam
melaksanakan tugas sesuai dengan profesinya
b. Tenaga kesehatan dalam melaksanakan tugasnya berkewajiban mengembangkan dan
meningkatkan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki
c. Untuk kepentingan hukum, tenaga kesehatan wajib melakukan pemeriksaan kesehatan
atas permintaan penegak hukum dengan biaya ditanggung oleh negara
d. Pemeriksaan tersebut didasarkan pada kompetensi dan kewenangan sesuai dengan bidang
keilmuan yang dimiliki.
Yang menjadi sanksi apabila tenaga kesehatan melakukan kelalaian dalam menjalankan
profesinya di atur dalam (Pasal 29 UU No. 36 Tahun 2009) Dalam hal tenaga kesehatan diduga
melakukan kelalaian dalam menjalankan profesinya, kelalaian tersebut harus diselesaikan
terlebih dahulu melalui mediasi

6. TRANSAKSI TERAPEUTIK adalah hubungan hukum antara dokter dengan pasien


didasarkan adanya suatu perjanjian, yaitu suatu perjanjian dimana dokter berusaha semaksimal
mungkin untuk menyembuhkan pasien dari penderitaan sakitnya (Inspanning Verbitenis),
dimana dalam hal ini yang dituntut bukan perjanjian hasil (Resultaat Verbitenis), namun yang
dituntut adalah suatu upaya yang maksimal yang dilakukan dokter atau usaha yang maksimal

10. karakteristik pengobatan tradisional:


1. Pendekatan holistik
2. Pengobatan dilakukan sampai tuntas
3. Waktu kontak dengan pasien tidak terbatas pada waktu kerja (selama 24 jam)
4. Pelayanan bersifat terpadu (penyembuhan dan perawatan)
5. Bersifat kekeluargaan
6. Akrab, ramah dan sangat informal
7. Biaya pengobatan disesuaikan dengan apa yang dimiliki pasien (tidak harus uang)
8. Tidak mengenal kelas sosial dalam melayani pasien
9. Pengobat tradisional pada umumnya bersifat turun temurun
10. Jarak yang dekat
11. Obat yang digunakan lebih mengedepankan obat-obatan herbal, sehingga tidak
menimbulkan efek samping bila dibandingkan dengan obat modern yang sudah pasti
menggunakan zat kimia
Bagian Ketiga
Pelayanan Kesehatan Tradisional

Pasal 59
(1) Berdasarkan cara pengobatannya, pelayanan kesehatan tradisional
terbagi menjadi:
a. pelayanan kesehatan tradisional yang menggunakan keterampilan; dan
b. pelayanan kesehatan tradisional yang menggunakan ramuan.
(2) Pelayanan kesehatan tradisional sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dibina dan diawasi oleh Pemerintah agar dapat dipertanggungjawabkan
manfaat dan keamanannya serta tidak bertentangan dengan norma agama.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara dan jenis pelayanan
kesehatan tradisional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan
Peraturan Pemerintah.

Pasal 60
(1) Setiap orang yang melakukan pelayanan kesehatan tradisional yang
menggunakan alat dan teknologi harus mendapat izin dari lembaga kesehatan
yang berwenang.
(2) Penggunaan alat dan teknologi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
harus dapat dipertanggungjawabkan manfaat dan keamanannya serta tidak
bertentangan dengan norma agama dan kebudayaan masyarakat.
Pasal 61
(1) Masyarakat diberi kesempatan yang seluas-luasnya untuk
mengembangkan, meningkatkan dan menggunakan pelayanan kesehatan
tradisional yang dapat dipertanggungjawabkan manfaat dan keamanannya.
(2) Pemerintah mengatur dan mengawasi pelayanan kesehatan tradisional
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dengan didasarkan pada keamanan,
kepentingan, dan perlindungan masyarakat.