Anda di halaman 1dari 21

Pengertian Kloramfenikol adalah suatu antibiotik spektrum luas yang berasal dari beberapa

jenis Streptomyces misalnya S.venezuelae, S. phaeochromogenes var. chloromyceticus


dan S. amiyamensis. Setelah para ahli berhasil mengelusidasi strukturnya, maka sejak tahun
1950 kloramfenikol sudah dapat disintesis secara total. S. venezuelae pertama kali diisolasi
oleh Burkhoder pada tahun 1947 dari contoh tanah yang diambil di Venezuela. Filtrat kultur
cair organisme menunjukkan aktivitas terhadap beberapa bakteri gram negatif dan riketsia
(Wattimena, 1991).

Sejarah Kloramfenikol pertama kali dipisahkan pada tahun 1947 dari pembiakan
Streptomyces Venezuelae. Agen ini disintesis pada tahun 1949, kemudian menjadi antibiotik
penting pertama yang sepenuhnya disintesis dan diproduksi secara komersial. Kepentingan
ini mulai memudar seiring dengan tersedianya antibiotik yang lebih aman dan efektif
(Katzung, 2004).

Uraian Umum Kloramfenikol

Persyaratan : Kloramfenikol mengandung tidak kurang dari 97,0% dan tidak lebih dari
103,0% C11H12Cl2N2O5, dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan.

Pemerian : Hablur halus berbentuk jarum atau lempeng memanjang; putih sampai putih
kelabu atau putih kekuningan; tidak berbau; rasa sangat pahit.

Kelarutan : Larut dalam lebih kurang 400 bagian air, dalam 2,5 bagian etanol (95%) P dan
dalam 7 bagian propilenglikol P; sukar larut dalam kloroform P dan dalam eter P .
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya.
Penandaan : Pada etiket harus juga tertera daluarsa.
Khasiat dan penggunaan : Antibiotikum.
(Farmakope IV, 1995).
Kloramfenikol termasuk antibiotika yang paling stabil. Larutan dalam air pada pH 6
menunjukkan kecenderungan terurai yang paling rendah. Dalam basa akan terjadi
penyabunan ikatan amida dengan cepat. Senyawa ini cepat dan hampir sempurna diabsorpsi
dari saluran cerna. Oleh karena itu pemberian peroral menonjol (Wattimena, 1990).

Aktivitas Antimikroba

Kloramfenikol bertindak menghambat sintesis protein dengan cepat tanpa mengganggu


sintesis DNA dan RNA. Kloramfenikol dihasilkan melalui fermentasi, tetapi sekarang telah
dihasilkan melalui sintesis kimia.

Kloramfenikol adalah antibiotika pertama yang mempunyai efek terhadap rikets.


Penggunaannya perlu diawasi dengan memonitor keadaan hematologi karena dapat
menyebabkan efek hipersensitivitas (Hadisahputra dan Harahap, 1994).

Kloramfenikol merupakan antibiotik bakteriostatik berspektrum luas yang aktif terhadap


organisme-organisme aerobik dan anaerobik gram positif maupun negatif. Sebagian besar
bakteri gram positif dihambat pada konsentrasi 1-10 g/mL, sementara kebanyakan bakteri
gram negatif dihambat pada konsentrasi 0,2 - 5 L/mL. (Katzung, 2004).

Spektrum kerja tumpang tindih dengan spektrum tetrasiklin secara luas. Yang perlu digaris
bawahi adalah aktivitas yang mencolok terhadap Salmonella (tergolong penyebab tifus dan
paratifus) dan difusi jaringan yang baik (Wattimena, 1990).

Farmakokinetika

Dosis kloramfenikol yang umum adalah 50-100 mg/kg/hari. Setelah pemberian peroral,
kristal kloramfenikol diabsobsi dengan cepat dan tuntas. Dosis oral 1 g menghasilkan kadar
darah antara 10-15 g/mL. Kloramfenikol palmitat merupakan suatu pro-drug yang
dihidrolisis dalam usus untuk menghasilkan kloramfenikol bebas. Formulasi parenteralnya,
kloramfenikol suksinat, menghasilkan kloramfenikol bebas melalui hidrolisis, menyebabkan
kadar darah sedikit lebih rendah dibandingkan kadar darah yang dicapai dengan obat yang
diberikan secara oral.

Kloramfenikol didistribusikan secara luas ke seluruh jaringan dan cairan tubuh. Hal ini
meliputi juga sistem saraf pusat sehingga konsentrasi kloramfenikol dalam jaringan otak
dapat setara dengan konsentrasi dalam serum. Obat ini mengalami penetrasi membran sel
secara cepat. Ekskresi kloramfenikol tidak perlu diubah pada saat kerja ginjal menurun,
namun harus dikurangi dalam jumlah besar pada kegagalan hati. (Katzung, 2004).

Penggunaan Klinis

Sebagai obat sistemik, kloramfenikol hampir tidak dipakai lagi berhubung toksisitasnya yang
kuat, resistensi bakteri, dan tersedianya obat-obat lain yang lebih efektif (misalnya
cephalosporin).
Kloramfenikol kadang-kadang juga digunakan secara topikal untuk pengobatan infeksi mata
karena spektrum antibakterinya yang luas dan kemampuannya mempenetrasi jaringan okuler
dan cairan bola mata. Obat ini tidak efektif untuk infeksi-infeksi chlamydia (Katzung, 2004).

Identifikasi Kloramfenikol :

Spektrum serapan inframerah zat yang dispersikan dalam kalium bromida P


menunjukkan hanya pada panjang yang sama seperti pada Kloramfenikol BPFI .
Waktu retensi puncak utama pada kromatografi Larutan uji sesuai dengan waktu
retensi puncak utama pada kromatogram Larutan baku yang diperoleh pada
Penetapan kadar .

Penetapan Kadar Kloramfenikol

Penetapan kloramfenikol dapat ditetapkan dengan :

1. Dengan metode kromatografi kinerja tinggi dengan menggunakan fase gerak berupa
campuran air : metanol P : asam glasial (55:45:0,1).
2. Dengan metode spektrofotometri ultraviolet (UV). (Farmakope, 1995) Dalam
penetapan ini kloramfenikol yang ditetapakan dengan metode spektrofotometri (UV).

Daftar Pustaka Kloramfenikol

Katzung, B. G. 2004. Farmakologi Dasar dan Klinik Buku 3 Edisi 8. Penerjemah dan editor: Bagian
Farmakologi FK UNAIR. Penerbit Salemba Medika, Surabaya. Hlm 37-41

Wattimena, J. R., 1991. Farmakodinami Dan Terapi Antibiotik. Gajah Mada University Press, Yogyakarta. Hlm
1, 187

Hadisahputra, S., Harahap, U. 1994. Biokimia Dan Farmakologi Antibiotik. USU Press, Medan. Hlm 38-39
Kloramfenikol diisolasi pertama kali pada tahun 1947 dari Streptomyces venezuelae. Karena
ternyata Kloramfenikol mempunyai daya antimikroba yang kuat maka penggunaan
Kloramfenikol meluas dengan cepat sampai pada tahun 1950 diketahui bahwa Kloramfenikol
dapat menimbulkan anemia aplastik yang fatal.
Kloramfenikol bersepektrum luas ini berkhasiat :
Bacteriostatis terhadap hampir semua kuman Gram positif fan sejumlah kuman Gram
negatif, juga Kloramfenikol bekerja dengan jalan menghambat sintesis protein kuman. Yang
dihambat adalah enzim peptidil transferase yang berperan sebagai katalisator untuk
membentuk ikatan-ikatan peptida pada proses sintesis protein kuman.
Efek toksis Kloramfenikol pada sel mamalia terutama terlihat pada sistem hemopoetik/darah
dan diduga berhubungan dengan mekanisme kerja Kloramfenikol.

Penggunaan

Hanya dianjurkan pada beberapa jenis infeksi bila tidak ada kemungkinan lain, yaitu
pada infeksi tikus (salmonella thypi), dan meningitis (khusus akibat H.influenza) juga
pada infeksi anaerob yang sukar dicapai obat, khususnya abces otak oleh B.fragilis.
Penggunaan topikal
o Digunakan sebagai salep 3% dan tetes/salep mata 0.25-1% sebagai pilihan
kedua, jika fusidat dan tetrasiklin tidak efektif. Lebih baik menggunakan salep
mata 1 dd malam hari daripada tetes mata beberapa kali sehari.
o Tetes telinga (10%) tidak boleh digunakan lagi, karena propilengglikol sebagai
pelarut ternyata ototoksis

Farmakokinetik
Resorpsinya dari usus cepat dan agak lengkap, dengan BA 75-90%. Difusi ke dalam jaringan,
rongga dan cairan tubuh baik sekali, kecuali ke dalam empedu. Waktu paruhnya rata-rata 3
jam. Dalam hati 90% dari zat ini dirombak menjadi glukuronida inaktif. Ekskresinya melalui
ginjal, terutama sebagai metabolit inaktif dan lebih kurang 10% secara utuh.

Efek samping

1. Reaksi hematologik

Terdapat dalam 2 bentuk yaitu;


Reaksi toksik dengan manifestasi depresi sumsum tulang.
Kelainan ini berhubungan dengan dosis, menjadi sembuh dan pulih bila pengobatan
dihentikan. Reaksi ini terlihat bila kadar Kloramfenikol dalam serum melampaui 25 mcg/ml.
Depresi tulang ini sangat berbahaya dan dapat berwujud dalam dua bentuk anemia, yakni
sebagai :
o Penghambantan pembentukan sel-sel darah (eritosit, trombosit dan granulosit) yang timbul
dalam waktu 5 hari sesudah dimulainya terapi. Gangguan ini tergantung dosis serta lamanya
terapi dan bersifat reversibel.
o Anemia aplastis, yang dapat timbul sesudah beberapa minggu sampai beberapa bulan pada
penggunaan oral, parenteral dan okuler, maka tetes mata tidak boleh digunakan lebih dari 10
hari.
Bentuk yang kedua bentuknya lebih buruk karena anemia yang terjadi bersifat menetap
seperti anemia aplastik dengan pansitopenia. Timbulnya tidak tergantung dari besarnya dosis
atau lama pengobatan. Efek samping ini diduga disebabkan oleh adanya kelainan genetik.
2. Reaksi alergi
Kloramfenikol dapat menimbulkan kemerahan kulit, angioudem, urtikaria dan anafilaksis.
Kelainan yang menyerupai reaksi Herxheimer dapat terjadi pada pengobatan demam Tifoid
walaupun yang terakhir ini jarang dijumpai.

3. Reaksi saluran cerna


Bermanifestasi dalam bentuk mual, muntah, glositis, diare dan enterokolitis.

4. Sindrom gray
Pada bayi baru lahir, terutama bayi prematur yang mendapat dosis tinggi (200 mg/kg BB)
dapat timul sindrom Gray, biasanya antara hari ke 2 sampai hari ke 9 masa terapi, rata-rata
hari ke 4.
Mula-mula bayi muntah, tidak mau menyusui, pernafasan cepat dan tidak teratur,
perutkembung, sianosis dan diare dengan tinja berwarna hijau dan bayi tampak sakit berat.
Pada hari berikutnya tubuh bayi menjadi lemas dan berwarna keabu-abuan; terjadi pula
hipotermia (kedinginan).

5. Reaksi neurologik
Dapat terlihat dalam bentuk depresi, bingung, delirium dan sakit kepala.

Penggunaan klinik
Banyak perbedaan pendapat mengenai indikasi penggunaan kloramfenikol, tetapi
sebaiknya obat ini hanya digunakan untuk mengobati demam tifoid, salmonelosis lain dan
infeksi H. influenzae. Infeksi lain sebaiknya tidak diobati dengan kloramfenikol bila masih
ada antimikroba lain yang lebih aman dan efektif.
Kloramfenikol tidak boleh digunakan untuk bayi baru lahir, pasien dengan gangguan hati dan
pasien yang hipersensitif terhadapnya.

Sediaan
Terbagi dalam bentuk sediaan :
Kapsul 250 mg,
Dengan cara pakai untuk dewasa 50 mg/kg BB atau 1-2 kapsul 4 kali sehari.

} Keempat sediaan di atas dipakai beberapa kali sehari.

Untuk infeksi berat dosis dapat ditingkatkan 2 x pada awal terapi sampai didapatkan
perbaikan klinis.
Salep mata 1 %
Obat tetes mata 0,5 %
Salep kulit 2 %
Obat tetes telinga 1-5 %
Kloramfenikol palmitat atau stearat
Biasanya berupa botol berisi 60 ml suspensi (tiap 5 l mengandung Kloramfenikol palmitat
atau stearat setara dengan 125 mg kloramfenikol). Dosis ditentukan oleh dokter.
Kloramfenikol natrium suksinat
Vial berisi bubuk kloramfenikol natrium suksinat setara dengan 1 g kloramfenikol yang harus
dilarutkan dulu dengan 10 ml aquades steril atau dektrose 5 % (mengandung 100 mg/ml).

Resistensi
Dapat timbul dengan agak lambat tetapi resistensi ekstra kromosomal melalui plasmid juga
terjadi antara lain terhadap basil tifus perut.

Kehamilan dan Laktasi


Penggunaannya tidak dianjurkan, khususnya selama minggu-minggu terakhir dari kehamilan,
karena dapat menimbulkan cyanosis dan hypothermia pada neonati, akibat
ketidakmampuannya untuk mengkonyugasi dan mengekskresikan obat ini, sehingga sangat
meningkatkan kadarnya dalam darah.
Berhubung kemampuannya melintasi plasenta dan mencapai air susu ibu, maka tidak boleh
diberikan selama laktasi.

Dosis
o Pada tifus permulaan 1-2 g (palmitat), lalu 4 dd 500-750 mg pc.
o Neonati maksimal 25 mg/kg/hari dalam 4 dosis
o Anak-anak diatas 2 minggu 25-50 mg/kg/hari dalam 2-3 dosis. Pada infeksi parah
(meningitis, abces otak) iv 4 dd 500-1500 mg (Na-suksinat)

Tiamfenikol
Adalah derivat p-metilsulfonil (-SO2CH3) dengan spektrum kerja dan sifat yang mirip
kloramfenikol, tetapi kegiatannya agak lebih ringan.
Indikasi
Pada infeksi tifus dan salmonella, juga digunakan pada infeksi saluran kemih dan saluran
empedu oleh kuman yang resisten terhadap antibiotik lain.

Sediaan :
o Kapsul 250 dan 500 mg.
o Botol berisi pelarut 60 ml dan bubuk Ttiamfenikol 1.5 g yang setelah dilarutkan mengandung
125 mg Tiamfenikol tiap 5 ml.

Dosis
o Tifus perut 4 dd 250-500 mg selama maksimal 8 hari, di atas 60 tahun 2 dd 500 mg, anak-
anak 20-30 mg/kg/hari.
o Gonore : 1 x 2.5 g

KLORAMFENIKOL
Pendahuluan

Kloramfenikol merupakan antibiotik spektrum luas. Kloramfenikol berhubungan dengan


gangguan darah yang serius sebagai efek yang tidak diinginkan sehingga harus disimpan untuk
pengobatan infeksi berat, terutama yang disebabkan oleh Hemofilus influenza dan demam tifoid.
Suspensi lemak sebaiknya disimpan dalam epidemik meningitis meningokokus.

Antibiotik adalah segolongan senyawa, baik alami maupun sintetik, yang mempunyai efek
menekan atau menghentikan suatu proses biokimia di dalam organisme, khususnya dalam proses
infeksi oleh bakteri. Literatur lain mendefinisikan antibiotik sebagai substansi yang bahkan di dalam
konsentrasi rendah dapat menghambat pertumbuhan dan reproduksi bakteri dan fungi. Penggunaan
antibiotika khususnya berkaitan dengan pengobatan penyakit infeksi, meskipun dalam bioteknologi
dan rekayasa genetika juga digunakan sebagai alat seleksi terhadap mutan atau transforman.
Antibiotika bekerja seperti pestisida dengan menekan atau memutus satu mata rantai metabolisme,
hanya saja targetnya adalah bakteri.

Berdasarkan sifatnya (daya hancurnya) antibiotik dibagi menjadi dua:

1. Antibiotik yang bersifat bakterisidal, yaitu antibiotik yang bersifat destruktif terhadap bakteri.

2. Antibiotik yang bersifat bakteriostatik, yaitu antibiotik yang bekerja menghambat pertumbuhan
atau multiplikasi bakteri.

Antibiotik yang menghambat sintesis protein. Yang termasuk ke dalam golongan ini adalah
Macrolide, Aminoglycoside, Tetracycline, Chloramphenicol, Kanamycin, Oxytetracycline.

a) Macrolide, meliputi Erythromycin dan Azithromycin, menghambat pertumbuhan bakteri


dengan cara berikatan pada subunit 50S ribosom, sehingga dengan demikian akan menghambat
translokasi peptidil tRNA yang diperlukan untuk sintesis protein. Peristiwa ini bersifat bakteriostatis,
namun dalam konsentrasi tinggi hal ini dapat bersifat bakteriosidal. Macrolide biasanya menumpuk
pada leukosit dan akan dihantarkan ke tempat terjadinya infeksi. Macrolide biasanya digunakan
untuk Diphteria, Legionella mycoplasma, dan Haemophilus.

b) Aminoglycoside meliputi Streptomycin, Neomycin, dan Gentamycin, merupakan antibiotik


bakterisidal yang berikatan dengan subunit 30S/50S sehingga menghambat sintesis protein. Namun
antibiotik jenis ini hanya berpengaruh terhadap bakteri gram negatif.

c) Tetracycline merupakan antibiotik bakteriostatis yang berikatan dengan subunit ribosomal 16S-
30S dan mencegah pengikatan aminoasil-tRNA dari situs A pada ribosom, sehingga dengan demikian
akan menghambat translasi protein. Namun antibiotik jenis ini memiliki efek samping yaitu
menyebabkan gigi menjadi berwarna dan dampaknya terhadap ginjal dan hati.

d) Chloramphenicol merupakan antibiotik bakteriostatis yang menghambat sintesis protein dan


biasanya digunakan pada penyakit akibat kuman Salmonella.

Sejarah dan Sumber

Kloramfenikol adalah antibiotik yang dihasilkan oleh Streptomyces venezuelae, oraganisme


yang pertama kali diisolasi tahun 1947 dari sample tanah yang dikumpulkan di Venezuela ( Bartz,
1948). Sewaktu struktur materi kristalin yang relatif sederhana tersebut ditemukan antibiotik,
antibiotik ini lalu dibuat secara sinTetik. Pada akhir tahun 1947, sejumlah kecil kloramfenikol yang
tersedia digunakan untuk mengobati wabah tifus epidemik yang tiba-tiba muncul di Bolivia, dengan
hasil yang mencenangkan. Selanjutnya obat ini diujikan pada kasus tifus scrub di semenanjung
Malaka dengan hasil yang sangat baik. Pada tahun 1948, kloramfenikol tersedia untuk pemakaian
kilinis umum. Namun, pada tahun 1950, terbukti bahwa obat ini dapat menyebabkan kasus yang
serius dan diskrasia darah yang fatal. Oleh karena itu, penggunaan obat ini hanya dikhususkan untuk
pasien yang mengalami infeksi berat, seperti meningitis, tifus, dan demam tifoid, yang tidak dapat
menggunakan alternatif lain yang lebih aman karena terjadinya resistensi atau alergi. Obat ini juga
merupakan terapi yang efektif untuk demam bercak Rocky Mountain.

Biosintesis

Pada siklus hidupnya yang normal, Streptomyces venezuelae akan tumbuh dalam medium
yang sesuai dan menghasilkan jumlah sel maximum, setelah itu berhenti pertumbuhannya, dan
memasuki fase stasioner, akhirnya diikuti oleh kematian sel vegetatif atau pembentukan spora. Pada
stadium ini, setelah sel-sel berhenti mambelah, metabolit sekunder mulai diproduksi. Metabolit
sekunder mulai di produksi dalam jumlah besar dan kebanyakan disekresikan ke dalam medium
biakan. Kebanyakan antibiotik merupakan metabolit sekunder.

Jalur biosintesis merupakan urutan pembentukan suatu metabolit dari


molekul yang paling sederhana hingga molekul yang paling kompleks.
Pengetahuan akan jalur biosintesis ini memungkinkan untuk melakukan modifikasi dari jalur
tersebut sehingga dapat diproduksi metabolit dalam jumlah yang lebih banyak dan dalam waktu
yang lebih singkat, mengetahui struktur metabolit yang dihasilkan, kemudian dapat dilakukan
sintesis untuk menghasilkan derivatnya. Jalur yang biasanya dilalui dalam pembentukan metabolit
sekunder ada tiga jalur,yaitu:

1.jalur asam asetat,

2. jalur asam sikimat, dan

3. jalur asam mevalonat

Waktu penggunaan jalur biosintesis saat:1. Rendahnya ekspresi dari gen-gen yang
mengontrol tahap-tahap penting dari jalur biosintesis 2. Untuk mendapatkan senyawa tertentu yang
sangat dibutuhkan dalam
suatu obat. Dengan demikian dalam jalur biosintesis tanaman tersebut ditambahkan suatu
prekursor seperti menggunakan jalur biosintesis triptofan untuk menyediakan prekursor terhadap
sintesis hormon auksin (Indole-3-aceticacid/ IAA), fitoaleksin, glukosinolat, dan indole- serta
anthranilat yang keduanya merupakan derivat alkaloid.

Biosintesis mengubah senyawa awal menjadi senyawa baru yang lebih bermanfaat dengan
pertolongan suspensi sel. Berdasarkan biosintesis, metabo lit sekunder dapat diumpankan
dengan prazat untuk menjadi produk yang lebih cepat dengan kultur suspensi sel. Prazat dapat
merangsang aktivitas enzim tertentu yang terlibat dalam jalur biosintesis, sehingga dapat
meningkatkan produksi metabolit sekunder. Selain itu juga senyawa yang dikehendaki dapat
ditingkatkan jumlahnya
dengan cara memanipulasi media maupun dengan penambahan senyawa prekursor/prazat,
merangsang aktivitas enzim tertentu ya ng terlibat dalam jalur biosintesis, sehingga dapat
meningkatkan produksi metabolit sekunder.

Isolasi

Proses isolasi Kloramfenikol menggunakan metode pemisahan Kromatografi Lapis Tipis pada
mikroorganisme Streptomyces venezuelae. Kromatografi lapis tipis dikenal istilah fase diam dan fase
gerak.

a. Fase diam
Fase diam adalah suatu lapisan yang dibuat dari bahan-bahan berbutir-butir halus yang
ditempatkan pada lempengan. Sifat-sifat umum dari penyerap KLT adalah ukuran partikel dan
homogenitasnya. Ukuran partikel yang biasa digunakan adalah 1- 25 mikron. Adapun macam-macam
fase diam adalah silika gel, alumina, selulosa, resin, kieselguhrs, magnesium silikat.

b. Fase gerak

Fase gerak adalah medium angkut dan terdiri atas satu atau beberapa pelarut. Fase ini
bergerak di dalam fase diam karena adanya gaya kapiler. Macam-macam fase gerak antara lain
heksana, toluen, eter, kloroform, aseton,etil asetat, asetonitril, etanol, metanol air.

Dalam KLT dilakukan tahapan pengembangan atau elusi. Pengembangan ialah proses pemisahan
campuran cuplikan akibat pelarut pengembang merambat naik dalam lapisan fase diam. Jarak
pengembangan senyawa pada kromatogram biasanya dinyatakan dengan Rf atau h Rf . Harga Rf
antara 0-1. Berdasarkan parameter tersebut KLT dapat digunakan untuk perhitungan kualitatif dalam
pengujian sampel.

Mekanisme Kerja

Mekanisme kerja kloramfenikol menghambat sistesis portein pada bakteri dan dalam jumlah
terbatas, pada sel eukariot. Obat ini segera berpenetrasi ke sel bakteri, kemungkinan melalui difusi
terfasilitasi. Kloramfenikol terutama bekerja dengan memikat subunit ribosom 50 S secara reversibel
(di dekat tempat kerja antibiotic makrlida dan klindamisin, yang dihambat secara kompetitif oleh
obat ini). Walaupun pengikatan tRNA pada bagian pengenalan kodon ini ternyata menghalangi
pengikatan ujung tRNA aminosil yang mengandung asam amino ke tempat akseptor pada subunit
ribosom 50 S. interkasi antara pepdiltranferase dengan substrat asam aminonya tidak dapat terjadi,
sehingga pembentukan ikatan peptide terhambat.

Kloramfenikol juga dapat menghambat sistesis protein mitokondria pada sel mamalia,
kemungkinan karena ribosom mitokondria lebih menyerupai ribosom bakteri (keduanya 70 S) dari
pada ribosom sitoplasma 80 S pada sel mamalia. Peptidiltransferase ribosom mitokondria, dan
bukan ribosom sitoplasma, rentan terhadap kerja penghambtan kloramfenikol. Sel eritropoietik
mamalia tampaknya terutama peka terhadap obat ini.

Kerja antimikroba.
Kloramfenikol memiliki aktivitas antimikroba berspektrum luas. Galur dianggap peka apabila dapat
dihambat oleh konsentrasi 8 g/ml atau kurang, kecuali N. gonnorhoeae, S. pneumoniae, dan H.
influenza, yang memiliki batas MIC yang lebih rendah. Kloramfenikol terutama bersifat
bakteriostatik, walupun dapat bersifat bakterisida terhadap spesies tertentu, seperti N.
gonnorhoeae, S. pneumoniae, dan H. influenza. Lebih dari 95% galur bakteri gram-negatif berikut ini
dihambat secara in vitro oleh kloramfenikol 8,0 g/ml atau kurang., yakni N. gonnorhoeae, S.
pneumoniae, dan H. influenza. Demikian juga, kebanyakan juga bakteri anaerob, termasuk kokus
gram-positif dan Clostridium spp, serta batang-batang negative termasuk B. fragilis dihambat oleh
obat ini pada konsentrasi tersebut. Beberapa kokus gram-positif aerob, termasuk Streptococcus
pyogenes, Streptococcus agalactiae (streptokokus kelompok B), dan S. pneumonia peka terhadap 8
g/ml. galur S. aerus cenderung tidak begitu rentan, dengan MIC yang lebih besar dari 8 g/ml.
kloramfenikol aktif terhadap Mycoplasma, Chlamydia, dan Rickettsia..

Penggunaan terapeutik.

Terapi dengan kloramfenikol hanya boleh digunakan pada infeksi yang manfaat obat tersebut lebih
besar dibandingkan resiko toksiksitas potensialnya. Jika tersedia obat antimikroba yang sama-sama
efektif dan secara potensial tidak begitu toksik dibandingkan kloramfenikol, maka sebaiknya obat
tesebut digunakan.

Sediaan Kloramfenikol

Terbagi dalam bentuk sediaan :

1. Kapsul 250 mg, Dengan cara pakai untuk dewasa 50 mg/kg BB atau 1-2 kapsul 4 kali sehari. Untuk
infeksi berat dosis dapat ditingkatkan 2 x pada awal terapi sampai didapatkan perbaikan klinis.

2. Salep mata 1 %

3. Obat tetes mata 0,5 %

4. Salep kulit 2 %

5. Obat tetes telinga 1-5 %

kelima sediaan di atas dipakai beberapa kali sehari.

Kloramfenikol palmitat atau stearat


Biasanya berupa botol berisi 60 ml suspensi (tiap 5 l mengandung Kloramfenikol palmitat atau
stearat setara dengan 125 mg kloramfenikol). Dosis ditentukan oleh dokter.

Kloramfenikol natrium suksinat

Vial berisi bubuk kloramfenikol natrium suksinat setara dengan 1 g kloramfenikol yang harus
dilarutkan dulu dengan 10 ml aquades steril atau dektrose 5 % (mengandung 100 mg/ml).

Nama Perdagangan

Alficetyn Alficetyn

Amphicol Amphicol

Biomicin Biomicin

Chloromycetin (persiapan intravena)

Chlorsig ( tetes mata)

Dispersadron C (tetes mata)

Edrumycetin 250 mg (kapsul)

Fenicol Fenicol

Kemicetine (persiapan intravena)

Kloramfenikol (tetes mata)

Oftan Chlora (salep mata)

Synthomycine (Israel, mata dan salep salep kulit)

Tifomycine (kloramfenikol berminyak)

Unison (salep kulit)

Isoptophenicol (tetes mata)

Cedoctine (persiapan intravena)

Chloramex (salep mata)


Resistensi

Bakteri dikatakan resistensi bila pertumbuhannya tidak dapat dihambat oleh antibiotika pada kadar
maksimum yang dapat ditolerir oleh pejamu.

Mekanisme resistensi terhadap kloramfenikol terjadi melalui inaktivasi obat oleh asetil transferase
yang diperantarai oleh faktor-R yang menimbulkan ketidakmampuan organisme untuk
mengakumulasikan obat sehingga menimbulkan resistensi. Resistensi terhadap P.aeruginosa.
Proteus dan Klebsiella terjadi karena perubahan permeabilitas membran yang mengurangi
masuknya obat ke dalam sel bakteri.

Beberapa strain D. Pneumoniae, H. Influenzae, dan N. Meningitidis bersifat resisten; S. Aureus


umumnya sensitif, sedang enterobactericeae banyak yang telah resisten.

Obat ini juga efektif terhadap kebanyakan strain E.Coli, K. Pneumoniae, dan P. Mirabilis, kebanyakan
Serratia, Providencia dan Proteus rettgerii resisten, juga kebanyakan strain P. Aeruginosa dan S.
Typhi

TUGAS FARMAKOGNOSI

KLORAMFENIKOL
Disusun Oleh :

Cania Mithasari 3311091139

Dwi Novita W 3311091143

Novi Amalia 3311091145

Nunik Setyowati 3311091152

Rizka Menawati 3311091153

Kelas C

UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN

JURUSAN FARMASI

CIMAHI 2011
DAFTAR PUSTAKA

Harvey A. Richard.Farmakologi.1995.Widya Medika : Jakarta.

Mardjono Mahar.Farmakologi dan Terapi.1995.Gaya Baru : Jakarta.

Http//:www.scribd.com/kloramfenikol.

Kloramfenikol diisolasi pertama kali pada tahun 1947 dari Streptomyces venezuelae. Karena
ternyata Kloramfenikol mempunyai daya antimikroba yang kuat maka penggunaan
Kloramfenikol meluas dengan cepat sampai pada tahun 1950 diketahui bahwa Kloramfenikol
dapat menimbulkan anemia aplastik yang fatal.

1. Efek antimikroba

Kloramfenikol bekerja dengan jalan menghambat sintesis protein kuman. Yang dihambat
adalah enzim peptidil transferase yang berperan sebagai katalisator untuk membentuk ikatan-
ikatan peptida
pada proses sintesis protein kuman.
Efek toksis Kloramfenikol pada sel mamalia terutama terlihat pada sistem hemopoetik/darah
dan diduga berhubungan dengan mekanisme kerja Kloramfenikol.

2. Efek samping
a. Reaksi hematologik

Terdapat dalam 2 bentuk yaitu;

i. Reaksi toksik dengan manifestasi depresi sumsum tulang.


Kelainan ini berhubungan dengan dosis, menjadi sembuh dan pulih
bila pengobatan dihentikan. Reaksi ini terlihat bila kadar
Kloramfenikol dalam serum melampaui 25 mcg/ml.
ii. Bentuk yang kedua bentuknya lebih buruk karena anemia yang terjadi
bersifat menetap seperti anemia aplastik dengan pansitopenia.
Timbulnya tidak tergantung dari besarnya dosis atau lama pengobatan.
Efek samping ini diduga disebabkan oleh adanya kelainan genetik.
b. Reaksi alergi

Kloramfenikol dapat menimbulkan kemerahan kulit, angioudem, urtikaria dan anafilaksis.


Kelainan yang menyerupai reaksi Herxheimer dapat terjadi pada pengobatan demam Tifoid
walaupun yang terakhir ini jarang dijumpai.

c. Reaksi saluran cerna

Bermanifestasi dalam bentuk mual, muntah, glositis, diare dan enterokolitis.

d. Sindrom gray

Pada bayi baru lahir, terutama bayi prematur yang mendapat dosis tinggi (200 mg/kg BB)
dapat timul sindrom Gray, biasanya antara hari ke 2 sampai hari ke 9 masa terapi, rata-rata
hari ke 4.
Mula-mula bayi muntah, tidak mau menyusui, pernafasan cepat dan tidak teratur,
perutkembung, sianosis dan diare dengan tinja berwarna hijau dan bayi tampak sakit berat.
Pada hari berikutnya tubuh bayi menjadi lemas dan berwarna keabu-abuan; terjadi pula
hipotermia (kedinginan).

e. Reaksi neurologik

Dapat terlihat dalam bentuk depresi, bingung, delirium dan sakit kepala.

3. Penggunaan klinik

Banyak perbedaan pendapat mengenai indikasi penggunaan kloramfenikol, tetapi sebaiknya


obat ini hanya digunakan untuk mengobati demam tifoid, salmonelosis lain dan infeksi H.
influenzae. Infeksi lain sebaiknya tidak diobati dengan kloramfenikol bila masih ada
antimikroba lain yang lebih aman dan efektif.
Kloramfenikol tidak boleh digunakan untuk bayi baru lahir, pasien dengan gangguan hati dan
pasien yang hipersensitif terhadapnya.

4. Sediaan
a. Kloramfenikol

Terbagi dalam bentuk sediaan :

i. Kapsul 250 mg,

Dengan cara pakai untuk dewasa 50 mg/kg BB atau 1-2 kapsul 4 kali sehari.
Untuk infeksi berat dosis dapat ditingkatkan 2 x pada awal terapi sampai didapatkan
perbaikan klinis.

ii. Salep mata 1 %


iii. Obat tetes mata 0,5 %
iv. Salep kulit 2 %
v.
Obat tetes telinga 1-5 %
Keempat sediaan di atas dipakai beberapa kali sehari.
b. Kloramfenikol palmitat atau stearat

Biasanya berupa botol berisi 60 ml suspensi (tiap 5 l mengandung Kloramfenikol palmitat


atau stearat setara dengan 125 mg kloramfenikol). Dosis ditentukan oleh dokter.

c. Kloramfenikol natrium suksinat

Vial berisi bubuk kloramfenikol natrium suksinat setara dengan 1 g kloramfenikol yang harus
dilarutkan dulu dengan 10 ml aquades steril atau dektrose 5 % (mengandung 100 mg/ml).

d. Tiamfenikol

Terbagi dalam bentuk sediaan :

i. Kapsul 250 dan 500 mg.


ii. Botol berisi pelarut 60 ml dan bubuk Ttiamfenikol 1.5 g yang setelah
dilarutkan mengandung 125 mg Tiamfenikol tiap 5 ml.
Sumber : Buku farmakologi dan Terapi, edisi 4, Bagian farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia 1995.
Untuk pemilihan antibiotika Kloramfenikol dan dosis/cara pakainya yang tepat ada baiknya
anda harus periksakan diri dan konsultasi ke dokter.
Di apotik online medicastore anda dapat mencari obat Kloramfenikol dengan merk yang
berbeda secara mudah dengan mengetikkan di search engine medicastore. Sehingga anda
dapat memilih dan beli obat kloramfenikol sesuai dengan yang diresepkan dokter anda.

2.1 Asal dan Kimia


Kloramfenikol merupakan kristal putih yang sukar larut dalam air (1:400) dan rasanya sangat
pahit. Rumus molekul kloramfenikol ialah
Kloramfenikol R= -NO2
Tiamfenikol R=-CH3SO2
2.2 Farmakodinamik
Efek anti mikroba
Kloramfenikol bekerja dengan menghambat sintesis protein kuman. Obat ini terikat pada
ribosom sub unit 50s dan menghambat enzim peptidil transferase sehingga ikatan peptida
tidak terbentuk pada proses sintesis protein kuman.
Kloramfenikol bersifat bakteriostatik. Pada konsentrasi tinggi kloramfenikol kadang-kadang
bersifat bakterisid terhadap kuman-kuman tertentu. Spektrum anti bakteri meliputi
D.pneumoniae, S. Pyogenes, S.viridans, Neisseria, Haemophillus, Bacillus spp, Listeria,
Bartonella, Brucella, P. Multocida, C.diphteria, Chlamidya, Mycoplasma, Rickettsia,
Treponema, dan kebanyakan kuman anaerob.
Resisitensi
Mekanisme resistensi terhadap kloramfenikol terjadi melalui inaktivasi obat oleh asetil
transferase yang diperantarai oleh faktor-R. Resistensi terhadap P.aeruginosa. Proteus dan
Klebsiella terjadi karena perubahan permeabilitas membran yang mengurangi masuknya obat
ke dalam sel bakteri.
Beberapa strain D. Pneumoniae, H. Influenzae, dan N. Meningitidis bersifat resisten; S.
Aureus umumnya sensitif, sedang enterobactericeae banyak yang telah resisten.
Obat ini juga efektif terhadap kebanyakan strain E.Coli, K. Pneumoniae, dan P. Mirabilis,
kebanyakan Serratia, Providencia dan Proteus rettgerii resisten, juga kebanyakan strain P.
Aeruginosa dan S. Typhi
2.3 Farmakokinetik
Setelah pemberian oral, kloramfenikol diserap dengan cepat. Kadar puncak dalam darah
tercapai hingga 2 jam dalam darah. Untuk anak biasanya diberikan dalam bentuk ester
kloramfenikol palmitat atau stearat yang rasanya tidak pahit. Bentuk ester ini akan
mengalami hidrolisis dalam usus dan membebaskan kloramfenikol.
Untuk pemberian secara parenteral diberikan kloramfenikol suksinat yang akan dihidrolisis
dalam jaringan dan membebaskan kloramfenikol.
Masa paruh eliminasinya pada orang dewasa kurang lebih 3 jam, pada bayi berumur kurang
dari 2 minggu sekitar 24 jam. Kira-kira 50% kloramfenikol dalam darah terikat dengan
albumin. Obat ini didistribusikan secara baik ke berbagai jaringan tubuh, termasuk jaringan
otak, cairan serebrospinal dan mata.
Di dalam hati kloramfenikol mengalami konjugasi, sehingga waktu paruh memanjang pada
pasien dengan gangguan faal hati. Sebagian di reduksi menjadisenyawa arilamin yang tidak
aktif lagi. Dalam waktu 24 jam, 80-90% kloramfenikol yang diberikan oral diekskresikan
melalui ginjal. Dari seluruh kloramfenikol yang diekskresi hanya 5-10% yang berbentuk
aktif. Sisanya terdapat dalam bentuk glukoronat atau hidrolisat lain yang tidak aktif. Bentuk
aktif kloramfenikol diekskresi terutama melalui filtrat glomerulus sedangkan metaboltnya
dengan sekresi tubulus.
Pada gagal ginjal, masa paruh kloramfenikol bentuk aktif tidak banyak berubah sehingga
tidak perlu pengurangan dosis. Dosis perlu dikurangi bila terdapat gangguan fungsi hepar.
Interaksi dalam dosis terapi, kloramfenikol menghambat botransformasi tolbutamid fenitoin,
dikumarol dan obat lain yang dimetabolisme oleh enzim mikrosom hepar. Dengan demikian
toksisitas obat-obat ini lebih tinggi bila diberikan berasama kloramfenikol. Interaksi obat
dengan fenobarbital dan rifampisin akan memperpendek waktu paruh kloramfenikolsehingga
kadar obat menjadi subterapeutik.
Antibakterial Metabolism kloramfenikol ditingkatkan oleh
rifampicin (sehingga menurunkan kadar dalam
darah kloramfenikol)
Antikoagulan Kloramfenikol meningkatkan efek
antikoagulan koumarin
Antidiabetik Kloramfenikol meningkatakn efek sulfonilurea
Antiepilepsi Kloramfenikol meningkatkan kadar fenitoin
dalam darah (meningkatkan risiko toksisitas);
pirimidon meningkatkan metabolism
kloramfenikol (menurunkan kadarnya dalam
darah)
Antipsokotik Hindari penggunaan bersamaan kloramfenikol
dengan klozapin (meningkatkan risiko
agranulositosis)
Barbiturat Barbiturat mempercepat metabolism
kloramfenikol sehingga menurunkan kadarnya
dalam darah
Siklosporin Koramfenikol mungkin meningkatkan kadar
siklosporin dalam darah
Hidroxycobalamin Kloramfenikol menurunkan respon terhadap
hydroxycobalamin
Estrogen Mungkin menurunkan efek kontrasepsi
estrogen
Tacrolimus Kloramfenikol mungkin menurunkan kadar
tacrolimus dalam darah
Vaksin Antibakterial menginaktifkan vaksin tifoid
oral
2.4 Penggunaan klinik
Banyak perbedaan pendapat mengenai indikasi penggunaan kloramfenikol, tetapi sebaiknya
obat ini digunakan untuk mengobati demam tifoid dan meningitis oleh H.Infuenzae juga pada
pneumonia; abses otak; mastoiditis; riketsia; relapsing fever; gangrene; granuloma inguinale;
listeriosis; plak (plague); psitikosis; tularemia; whipple disease; septicemia; meningitis.
Infeksi lain sebaiknya tidak diobati dengan kloramfenikol bila masih ada antimikroba lain
yang masih aman dan efektif. Kloramfenikol dikontraindikasikan pada pasien neonatus,
pasien dengan gangguan faal hati, dan pasien yang hipersensitif terhadapnya. Bila terpaksa
diberikan pada neonatus, dosis jangan melebihi 25 mg/kgBB sehari.
DEMAM TIFOID
Kloramfenikol tidak lagi menjadi plihan utama untuk mengobati penyakit tersebut karena
telah tersedia oba-obat yang lebih aman seperti siprofloksasin dan seftriakson. Walaupun
demikian, pemakaiannya sebagai lini pertamamasih dapat dibenarkan bila resistensi belum
merupakan masalah.
Untuk pengobatan demam tifoid diberikan dosis 4 kali 500 mg sehari sampai 2 minggu bebas
demam. Bila terjadi relaps biasanya dapat diatasi dengan memberikan terapi ulang. Untuk
anak-anak diberikan dosis 50-100mg/kg BB/sehari dibagi dalam beberapa dosis selama 10
hari.
Untuk pengobatan tifoid ini dapat pula digunakan tiamfenikol dengan dosis 50 mg/kg
Bbsehari pada minggu pertama lalu diteruskan 1-2 minggu lagi dengan dosis separuhnya.
Suatu uji klinikdi Indonesia menunjukkan bahwa terapi kloramfenikol (4 x500 mg/hari) dan
siprofloksasin (2500 mg/hari) per oral untuk demam tifoid selama 7 hari tidak bermakna
walaupun siprofloksasin dapat membersihkan sum-sum tulang belakang dari salmonela.
Hingga sekarang belum disepakati obat apa yang paling efektif untuk mengobati status karier
demam tifoid, namun beberapa studi menunjukkan bahwa norloksasin dan siprofloksasin
mungkin bermanfaat untuk itu.
Gastroentritis akibat Salmonella sp. Tidak perlu diberi antibiotik karena tidak mempercepat
sembuhnya infeksi dan dapat memperpanjang status karier.
MENINGITIS PURULENTA
Kloramfenikol efektif untuk mengobati meningitis purulenta yang disebabkan oleh
H.Influenzae. Untuk terapi awal, obat ini masih digunakan bila obat-obat lebih aman seperti
seftriakson tidak tersedia. Dianjurkan pembaerian klramfenikol bersama suntikan ampisilin
sampai didapat hasil pemeriksaan kultur dan uji kepekaan, setelah itu dianjurkan dengan
pemberian obat tunggal yang sesuai dengan hasil kultur.
RIKETSIOSIS
Tetrasiklin merupakan obat terpilih untuk penyakit ini. Bila oleh karena suatu hal tetrasiklin
tidak dapat diberikan, maka dapat diberika kloramfenikol..
2.5 Efek samping
REAKSI HEMATOLOGIK
Terdapat dalam 2 bentuk. Yang pertama ialah reaksi toksik dengan manfestasi depresi
sumsum tulang belakang. Kelainan ini berhubungan dengan dosis, progresif dan pulih bila
pengobatan dihentikan. Kelainan darah yang terlihat anemia, retikulositopenia, peningkatan
serum iron, dan iron binding capacity serta vakuolisasi seri eritrosit muda. Reaksi ini terlihat
bila kadar kloramfenikol dalam serum melampaui 25 g/ml. Bentuk ke dua adalah anemia
aplastik dengan pansitopenia yang irreversibel dan memiliki prognosis yang sangat buruk.
Timbulnya tidak tergantung dari besarnya dosis atau lama pengobatan. Insiden berkisar
antara 1: 24000 50000. efek samping ini diduga efek idiosinkrasi dan mngkin disebabkan
oleh kelainan genetik.
Ada pendapat yang mengatakan bahwa kloamfenikol yang diberikan secara parenteral jarang
menimbulkan anemia aplastik namun hal ini belum dapat dipastikan kebenarannya.
Kloramfenikol dapat menimbulkan hemolisis pada pasien defisiens enzim G6PD bentuk
mediteranean.
Hitung sel darah yang dilakukan secara berkala dapat memberi petunjuk untuk mengurangi
dosis atau menghentikan terapi. Dianjurkan untuk hitung leukosit dan hitung jenis tiap 2 hari.
Pengobatan terlalu lama atau berulang kali perlu dihindari. Timbulnya nyeri tenggorok dan
infeksi baru selama pemberian kloramfenikol menunjukkan adanya kemungkinan leukopeni.
REAKSI SALURAN CERNA
Bermanifestasi dalam bentuk mual, muntah, glositis, diare, dan enterokolitis
REAKSI ALERGI
Kloramfenikol dapat menimbulkan kemerahan kulit, angioudem, urtikaria dan anafilaksis.
Kelainan yang menyerupai reaksi Herxheimer dapat terjadi pada pengobatan demam Tifoid
walaupun yang terakhir ini jarang dijumpai.
SINDROM GRAY
Pada neonatus, terutama pada bayi prematur yang mendapat dosis tinggi (200mg/kg BB)
dapat timbul sindrom Gray, biasanya antara hari ke-2 sampai hari ke-9 masa terapi, rata-rata
hari ke 4. Mula-mula bayi muntah, tidak mau menyusu, pernapasan cepat dantidak teratur,
perut kembung, sianosis, dan diare dengan tinja berwarna hijau dan bayi tampak sakit berat.
Pada hari berikutnya tubuh bayi menjadi lemas dan berwarna keabu-abuan; terjadi pula
hipotermia. Angka kematian kira-kira 40%, sedangkan sisanya sembuh sempurna. Efek
toksik ini diduga disebabkan oleh; (1) sistem konjugasi oleh enzim glukoronil transferase
belum sempurna dan, (2) kloramfenikol yang tidak terkonjugasi belum dapat diekskresi
dengan baik oleh ginjal. Untuk mengurangi kemungkinan terjadimya efek samping ini maka
dosis kloramfenikol untuk bayi berumur kurang dari 1 bulan tidak boleh melebihi 25
mg/kgBB sehari. Setelah umur ini dosis 50 mgKg/BB biasanya tidak menimbulkan efek
samping tersebut.
REAKSI NEUROLOGIK
Dapat terlihat dalam bentuk depresi, bingung, delirium dan sakit kepala.
Sediaan
a. Kloramfenikol
Terbagi dalam bentuk sediaan :
Kapsul 250 mg, Dengan cara pakai untuk dewasa 50 mg/kg BB atau 1-2 kapsul 4 kali
sehari.Untuk infeksi berat dosis dapat ditingkatkan 2 x pada awal terapi sampai didapatkan
perbaikan klinis.
Salep mata 1 %
Obat tetes mata 0,5 %
Salep kulit 2 %
Obat tetes telinga 1-5 %
Keempat sediaan di atas dipakai beberapa kali sehari.
Kloramfenikol palmitat atau stearat
Biasanya berupa botol berisi 60 ml suspensi (tiap 5 l mengandung Kloramfenikol palmitat
atau stearat setara dengan 125 mg kloramfenikol). Dosis ditentukan oleh dokter.
Kloramfenikol natrium suksinat
Vial berisi bubuk kloramfenikol natrium suksinat setara dengan 1 g kloramfenikol yang harus
dilarutkan dulu dengan 10 ml aquades steril atau dektrose 5 % (mengandung 100 mg/ml).
Tiamfenikol
Terbagi dalam bentuk sediaan :

Kapsul 250 dan 500 mg.


Botol berisi pelarut 60 ml dan bubuk Tiamfenikol 1.5 g yang setelah dilarutkan
mengandung 125 mg Tiamfenikol tiap 5 ml.

SUMBER:
http://apps.who.int/emlib/Medicines.aspx?Language=EN ; pk 14.30 WIB
Setyabudi, Rianto. Farmakologi dan terapi. Edisi 5. 2007. Jakarta: Gaya Baru hal 700-
702