Anda di halaman 1dari 31

I.

Judul : Penentuan Orde Reaksi Pada Laju Ketengikan


Minyak Kelapa Sawit
II. Hari, tanggal percobaan: Rabu, 29 April 2015; 09.30 WIB
III. Selesai Percobaan : Rabu, 29 April 2015; 12.30 WIB
IV. Tujuan Percobaan :
1. Mengetahui besarnya bilangan peroksida pada minyak kelapa sawit
2. Mengetahui cara penentuan ketengikan minyak kelapa sawit
3. Mengetahui orde reaksi pada proses ketengikan minyak kelapa sawit
V. Dasar Teori :
Ketengikan oksidatif merupakan ketengikan yang disebabkan oleh
oksidasi oksigen diudara secara spontan jika bahan yang mengandung minyak
dan lemak dibiarkan kontak dengan udara. Ketengikan merupakan proses
autooksidasi dan kerusakan yang terjadi pada bau, rasa lemak dan makanan
berlemak. Hal tersebut dikarenakan terdapat satu atau lebih ikatan rangkap
yang mudah terserang oksigen sehingga menimbulkan ketengikan. Bau tengik
yang dihasilkan pada proses ketengikan disebabkan oleh terbentuknya
senyawa-senyawa hasil akhir pemecahan hidroperoksida sepertiasam-asam
lemak rantai pendek, aldehid, keton yang bersifat volatile
Kinetika kimia merupakan bagian dari ilmu Kimia Fisika yang
mempelajari tentang kecepatan reaksi-reaksi kimia dan mekanisme reaksi-
reaksi yang bersangkutan.Tidak semua reaksi kimia dapat dipelajari secara
kinetik.Laju reaksi didefinisikan sebagai perubahan konsentrasi reaktan atau
produk per satuan waktu. Satuan laju reaksi M/s (Molar per detik). . Laju
reaksi menyatakan molaritas zat terlarut dalam reaksi yang dihasilkan
tiapdetik reaksi.Sebagaimana diketahui, reaksi kimia berlangsung dari arah
reaktan menuju produk. Hal ini berarti, selama reaksi kimia berlangsung
reaktan digunakan (dikonsumsi) bersamaan dengan pembentukan sejumlah
produk. Dengan demikian, laju reaksi dapat dikaji dari sisi pengurangan
konsentrasi reaktan maupun peningkatan konsentrasi produk. Secara umum,
laju reaksi dapat dinyatakan dalam persamaan sebagai berikut:
A B
Laju reaksi berhubungan erat dengan koefisien reaksi. Untuk reaksi
kimia dengan koefisien reaksi yang bervariasi, laju reaksi harus disesuaikan
dengan koefisien reaksi masing-masing spesi. Contohnya dalam reaksi 3A
B, terlihat bahwa 3mol A dikonsumsi untuk menghasilkan satu mol B. Hal ini
menandakan bahwa laju konsumsi spesi A adalah tiga kali laju pembentukan
spesi B.
Hukum laju reaksi (The Rate Law) menunjukkan korelasi antara laju
reaksi (V) terhadap konsentrasi laju reaksi (k) dan konsentrasi reaktan yang
dipangkatkan dengan bilangan tertentu (orde reaksi). Hukum laju reaksi dapat
dinyatakan sebagai berikut:
aA + Bb Cc + Dd
v = k [A]x [B]y
x dan y adalah bilangan perpangkatan (orde reaksi) yang hanya dapat
ditentukan melalui eksperimen. Nilai x maupun y tidak sama dengan
koefisien reaksi a dan b.
Bilangan perpangkatan x dan y memperlihatkan pengaruh konsentrasi
reaktan A dan B terhadap laju reaksi. Orde total (orde keseluruhan) atau
tingkat reaksi adalah jumlah orde reaksi reaktan secara keseluruhan. Orde
reaksi adalah ukuran konstribusi setiap konsentrasi pereaksi atau zat yang
berperan dalam laju reaksi. Pada umunya orde reaksi merupakan bilangan
bulat dan kecil namun dalam beberapa hal pecahan atau nol. Penentuan orde
reaksi adalah hal yang essensial daripada penelitian-penelitian terhadap
proses kimia yang menyangkut analisis hubungan konsentrasi dan
waktu.Dalam hal ini, orde total adalah x + y.

Reaksi Orde Nol


Merupakan reaksi dimana laju tidak bergantung pada konsentrasi
reaktan. Penambahan maupun pengurangan konsentrasi reaktan tidak
mengubah laju reaksi. Untuk orde nol didapatkan persamaan sebagai
berikut:
[A]t = -kt + [A]0

Reaksi Orde Satu


Reaksi dengan orde satu adalah reaksi dimana laju bergantung pada
konsentrasi reaktan yang dipangkatkan dengan bilangan satu. Secara
umum reaksi dengan orde satu dapat digambarkan oleh persamaan reaksi
berikut:
A Produk
Laju reaksi dapat dinyatakan dengan persamaan: v = [A]/ t dan juga
dapat dinyatakan dalam persamaan : v = k [A].
Satuan k dapat diperoleh dari persamaan:
k = v/[A] = M.s-1/M = s-1 atau 1/s
Dengan menghubungkan kedua persamaan laju reaksi
[A]/ t = k [A]
Maka akan diperoleh persamaan sebagai berikut:
ln { [A]t / [A]0 }= kt
atau
ln [A]t = kt + ln [A]0
dimana :
ln = logaritma natural
[A]0 = konsentrasi saat t = 0 (konsentrasi awal sebelum reaksi)
[A]t = konsentrasi saat t = t (konsentrasi setelah reaksi berlangsung selama
t detik)
Reaksi Orde Dua
Merupakan reaksi dimana laju bergantung pada konsentrasi satu
reaktan yang dipangkatkan dengan bilangan dua atau konsentrasi dua
reaktan berbeda yang masing-masing dipangkatkan dengan bilangan satu.
Untuk orde dua didapatkan persamaan sebagai berikut:
1 / [A]t = kt + 1 / [A]0

Berikut ini beberapa cara penentuan orde reaksi yaitu:


1. Bentuk Differensial
a. Metode variasi atau metode differensial non grafik
A + B hasil/produk
Dengan persamaan : r = k[A]x[B]y
dimana x = orde reaksi untuk reaktan A, y merupakan orde reaksi
untuk reaktan B dan [A] dan [B] merupakan konsentrasi reaktan A
dan B. Orde reaksi dapat ditentukan dengan metode isolasi, dimana
dengan mencari konsentrasi yang sama. Misalnya untuk mencari
orde reaksi B dapat ditentukan dengan mencari konsentrasi A yang
sama. Berikut ini persamaan laju reaksi bentuk differensial:

Orde 0

Orde 1

Orde 2

Satu pereaksi =

Dua pereaksi =

Orde 3

Orde n

a. Metode differensial grafik


Persamaan
dx/dt = r = k (a-x)n
diubah ke dalam bentuk ln r = ln k + n ln (a-x)t
1. Bentuk Integral
a. Merupakan suatu metode trial and error. Yakni perubahan konsentrasi
dengan waktu yang diukur, dan harga k dihitung dengan menggunakan
orde reaksi akan diperoleh persamaan yang memberikan harga k yang
konsisten.
Berikut ini persamaan yang dapat digunakan;
Orde 0
dx
k
dt

Orde 1
dx dx
k (a x)
k (a x)
dt
dt
dx
k dt
(a x)
dx
k dt
(a x)
ln ( a x ) kt c

t = 0, x= 0 maka:
a
k t ln
ax

Orde 2

kt =

Orde 3

kt =

b. Integral Grafik
Orde suatu reaksi dapat ditentukan dengan cara membuat grafik dari
data eksperimen.

Minyak jagung
Minyak jagung adalah minyak yang diekstraksi atau diperas dari biji
jagung, bersifat setengah kering, berwarna kekuningan dan digunakan untuk
membuat sabun, dan pelumas.Minyak ini mulai mengeluarkan asap pada
kisaran suhu 204C - 213C.Karena tahan dalam suhu tinggi tanpa
mengeluarkan asap, minyak jagung cocok digunakan untuk memasak
banyak jenis makanan. Minyak jagung seringkali digunakan sebagai
alternatif pengganti minyak sawit karena diduga memiliki kandungan asam
lemak jenuh yang lebih rendah.Minyak jagung juga memiliki rasa yang
hampir hambar.
Minyak jagung mengandung asam oleat 20%-50%, asam linoleat
35%-60%, fosfolipid 2% serta bahan tak tersabunkan 2%
(tokoferol,sitosferol dan lilin). Selain itu, zat-zat yang terkandung dalam
minyak jagung murni adalah 99% triasilgliserol dengan asam lemak tak
jenuh ganda (PUFA) 59%, Asam lemak tak jenuh tunggal 24% dan asam
lemak jenuh (SFA) 13%. Yang tak kalah penting, minyak jagung juga
mengandung ubiquinon, alfatokoferol tinggi dan gamma-tokoferol yang
tinggi sehingga dapat menghindarkan dari "ketengikan" oksidatif. Nutrisi
penting lain dalam minyak jagung yang tidak kalah penting adalah vitamin
E yang sangat baik untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan juga
bertindak sebagai antioksidan dengan mencegah kerusakan akibat radikal
bebas.
Minyak ini menyediakan asam lemak esensial dan energi. Asam linoleat
dalam minyak jagung merupakan asam lemak esensial yang digunakan
untuk integritas kulit, membran sel, sistem kekebalan dan untuk sintesis
icosanoid.Icosanoid merupakan unsur yang penting untuk unsur-unsur
reproduksi, kardiovaskuler, ginjal, pencernaan dan ketahanan terhadap
penyakit. Mengkonsumsi minyak jagung efektif untuk menurunkan kadar
kolesteroldarah.Untuk mendapatkan manfaat yang optimal, perlu dipilih
minyak jagung yang berbahan jagung non-transgenik.

Ketengikan Minyak
Ketengikan oksidatif merupakan ketengikan yang disebabkan oleh
oksidasi oksigen diudara secara spontan jika bahan yang mengandung
minyak dan lemak dibiarkan kontak dengan udara. Minyak dan lemak
mudah mengalami oksidasi spontan adalah minyak yang mengandung
asam lemak tak jenuh.Paparan oksigen,suhu tinggi dan cahaya merupakan
beberapa factor yang mempengaruhi oksidasi.Penggunaan suhu tinggi
selama penggorengan memacu terjadinya oksidasi minyak.Kecepatan
oksidasi lemak akan bertambah dengan kenaikan suhu dan berkurang pada
suhu rendah.
Ketengikan merupakan proses autooksidasi dan kerusakan yang
terjadi pada bau, rasa lemak dan makanan berlemak. Hal tersebut
dikarenakan terdapat satu atau lebih ikatan rangkap yang mudah terserang
oksigen sehingga menimbulkan ketengikan. Bau tengik yang dihasilkan
pada proses ketengikan disebabkan oleh terbentuknya senyawa-senyawa
hasil akhir pemecahan hidroperoksida seperti asam-asam lemak rantai
pendek, aldehid, keton yang bersifat volatil. Rasa tengik juga disebabkan
karena terbentuknya aldehid tak jenuh (akreolin) yang dapat menimbulkan
rasa gatal pada tenggorokan.

Bilangan Peroksida
Bilangan peroksida didefinisikan sebagai jumlah meq peroksida
dalam setiap 1000 g(1 kg) minyak atau lemak. Bilangan peroksida sangat
penting untuk identifikasi tingkat oksidasi minyak karena bilangan
peroksida ini menunjukkan tingkat kerusakan minyak atau lemak atau
parameter penurunan mutu minyak goreng. Pada percobaan ini,
peningkatan bilangan peroksida digunakan sebagai indikator dan
peringatan bahwa minyak sebentar lagi akan berbau tengik.Minyak yang
mengandung asam-asam lemak tidak jenuh dapat teroksidasi oleh oksigen
yang menghasilkan suatu senyawa peroksida.Cara yang sering digunakan
untuk menentukan bilangan peroksida adalah dengan titrasi iodometri.
Peroksida terbentuk pada tahap inisiasi oksidasi,pada tahap ini
hidrogen diambil dari senyawa oleofin menghasilkan radikal
bebas.Radikal bebas yang terbentuk bereaksi dengan oksigen membentuk
radikal peroksi,selanjutnya dapat mengambil hydrogen dari molekul tak
jenuh lain menghasilkan peroksida dan radikal bebas yang baru.Peroksida
dapat mempercepat proses timbulnya bau tengik yang tidak dikehendaki
pada bahan pangan.Jika jumlah peroksida lebih dari 100 meq peroksida/kg
maka minyak akan bersifat sangat beracun dan mempunyai bau yang tidak
enak.
Peroksida terbentuk akibat pemanasan pada suhu tinggi yang
menyebabkan kerusakan pada minyak dan dapat mengakibatkan keracunan
dalam tubuh dan berbagai macam penyakit seperti diare,pengendapan
lemak dalam pembuluh darah ,kanker dan menurunkan nilai cerna minyak.
Selain itu, peroksida dapat menyebabkan dekstruksi beberapa macam
vitamin dalam bahan pangan berlemak.
Minyak goreng yang yang memiliki kadar peroksida tinggi
memiliki cirri-ciri yang khas diantaranya jika dilihat secara kasat mata
minyak goreng cenderung berwarna coklat tua sampai kehitaman,jika
dibandingkan dengan minyak goreng yang kadar peroksidanya sesuai
standar masih berwarna kuning sampai coklat muda.Warna gelap pada
minyak disebabkan oleh proses oksidasi terhadap tekoferol (vitamin E).
Minyak goreng dengan kadar peroksida yang sudah melebihi standar
memiliki endapan yang relatif tebal,keruh,berbuih sehingga membuat
minyak goreng lebih kental daripada minyak goreng yang kadar
peroksidanya masih sesuai standar. Berikut ini merupakan persamaan
untuk mencari bilangan peroksida:

Keterangan:
a = volume Na2S2O3 yang diperlukan pada titrasi sampel
b = volume Na2S2O3 yang diperlukan pada titrasi blanko
VI. Alat dan Bahan
Alat :
Gelas kimia 2 buah
gelas ukur 2 buah
erlenmeyer 3 buah
buret 1 buah
kaki tiga dan kasa 1 buah
corong 1 buah
Bahan :
Minyak jagung
asam asetat glasial
larutan Na2S2O3 0,1N
Aquades
kloroform
KI jenuh
Amilum 1 %
VII. Alur Percobaan
1. Tahapan perlakuan sampel

25 mL sampel

Dididihkan dengan lama pemanasan 15, 30,


45, 60, dan 90 menit
Dibiarkan di tempat terbuka
Sampel
2. Tahap penentuan bilangan peroksida

1 gram sampel

+ 3,6 mL asam asetat glasial


+ 2,4 mL kloroform
+ 2 tetes KI jenuh
Didiamkan 1 menit dengan diguncang sewaktu-waktu
+ 6 mL aquades
+ 2 tetes amilum 1%
Volume titrasi
Dititrasi dengan larutan Na2S2O3 0,1 M
3. Titrasi blanko

3,6 mL asam asetat glasial + 2,4


mL kloroform

Dimasukkan erlenmeyer
+ 2 tetes larutan KI jenuh
Didiamkan selama 1 menit dengan sewaktu-waktu
digoyang-goyang
+ 6 mL aquades
+ 2 tetes amilum 1%
Dititrasi dengan larutan Na2S2O3 0,1 M sampai warna biru
hilang

Volume titrasi
VIII. Hasil Pengamatan

No. Prosedur Percobaan Hasil Pengamatan Dugaan/ Reaksi Kesimpulan

1 Tahap perlakuan sampel Sebelum : Lama pemanasan


- Minyak kelapa = kuning minyak akan
25 mL sampel jernih (+++) mempengaruhi
Sedudah : ketengikan
Dididihkan dengan lama pemanasan 15, - Minyak dipanaskan = minyak, sehingga
30, 45, 60, dan 90 menit kuning (+) lebih lama waktu
pemanasan,
Dibiarkan di tempat terbuka semakin tengik
Sampel dan bilangan
peroksida yang
semakin tinggi.

2 Tahap penentuan bilangan peroksida Sebelum : Orde reaksi secara teori ialah orde Orde reaksi pada
- Asam asetat glasial = 1 ketengikan
1 gram sampel larutan tidak berwarna minyak adalah
- Minyak kelapa = kuning orde 2
+ 3,6 mL asam asetat glasial (+++)
- Kloroform = larutan tak
+ 2,4 mL kloroform berwarna
+ 2 tetes KI jenuh - KI jenuh = larutan tak
berwarna
Didiamkan 1 menit dengan diguncang - Amilum = larutan tak
sewaktu-waktu berwarna
- Aquades = larutan tak
+ 6 mL aquades berwarna
+ 2 tetes amilum 1% - Na2S2O3 = larutan tak
Volume titrasi berwarna
Dititrasi dengan larutan Na2S2O3 0,1 M
Sesudah :
- Minyak dipanaskan 0-
90 = kuning (+)
- + asam asetat glasial =
larutan tidak berwarna,
terdapat 2 lapisan
- + kloroform=larutan keruh
- + Ki jenuh = larutan keruh
- + aquades = larutan keruh
- + amilum = terdapat 2
lapisan, lapisan atas :
larutan keruh, sedangkan
bawah : berwarna kuning
kecoklatan
- Dititrasi dengan Na2S2O3 =
larutan keruh
- Volume titrasi :
15 = 7,3 mL
30 = 7,4 mL
45 = 7,6 mL
60 = 7,7 mL
90 = 7,8 mL
3 Titrasi blanko Sesudah : Voume Na2S2O3
- Asam asetat glasial + yang diperlukan
kloroform + KI = larutan untuk titrasi
keruh sebanyak 6,9 mL
3,6 mL asam asetat glasial + 2,4
- + aquades = larutan keruh
mL kloroform - + amilum = larutan keruh
- Dititrasi dengan Na2S2O3 =
Dimasukkan erlenmeyer
semula berwarna biru,
+ 2 tetes larutan KI jenuh dititrasi terus menerus
menjadi keruh
Didiamkan selama 1 menit dengan sewaktu- - Volume titrasi = 6,9 mL
waktu digoyang-goyang
+ 6 mL aquades
+ 2 tetes amilum 1%
Dititrasi dengan larutan Na2S2O3 0,1 M sampai
warna biru hilang

Volume titrasi
IX. Analisis dan Pembahasan
Telah dilakukan percobaan yang berjudul Penentuan Orde Reaksi
pada Laju Ketengikan Minyak Kelapa Sawit dengan Metode Titrasi Iodometri
yang memiliki tujuan Mengetahui besarnya bilangan peroksida pada minyak
kelapa, Mengetahui cara penentuan ketengikan minyak kelapa sawit, Mengetahui
orde reaksi pada proses ketengikan minyak kelapa. Yang digunkan pada saat
praktikum merupakan sampel minyak jagung.

Tahap pertama yaitu tahap perlakuan sampel. Sampel 2,5 mL


sampel minyak jagung yang berwarna kuning jernih (+++) dididhkan dengan lama
pemanasan 15, 30,45, 60, dan 90 menit dan dibiarkan di tempat terbuka.
Pemanasan disini memiliki tujuan yaitu untuk meningkatkan bilangan peroksida
pada minyak dengan waktu yang berbeda-beda. Sehingga warna minyak akan
semakin gelap seiring dengan meningkatnya bilangan peroksida.

Pada tahap penentuan bilangan peroksida sebelumnya dilakukan


titrasi larutan blanko dima pada Erlenmeyer ditambahkan 3,6 mL asam asetat
glacial yakni larutan tak berwarna. Lalu ditambahkan dengan 2,4 mL larutan
kloroform hingga menjadi larutan keruh. Selanjutnya ditambahkan dengan
aquades sebanyak 6 mL. hingga menjadi larutan keruh. Kemudian ditambahkan
dengan larutan amilum 1% yakni larutan tak berwarna sampai larutan campuran
menjadi keruh. Selanjutnya dititrasi dengan larutan Na2S2O3 yang semula akan
berwarna biru jika dititrasi pada keadaan tepat. Dan akan menjadi larutan keruh
kembali jika dititrasi secara terus menerus. Dan didapatkan volume titrasi blanko
yakni 6,9 mL.

Pada tahap penentuan bilangan peroksida pada 20 tetes sampel


minyak jagung yang telah diletakkan pada Erlenmeyer dengan segera
ditambahkan 3,6 mL asam asetat glacial yakni larutan tak berwarna. Penambahan
asam asetat glacial pada sampel minyak tidak dapat bercampur dengan baik
sehingga terbentuk 2 lapisan, maka digunakan pelarut yang dapat menyebabkan
kedua zat dapat bercampur dengan baik yaitu menggunakan larutan kloroform
yakni larutan tak berwarna sebanyak 2,4 mL. Tujuan penambahan asam pada
sampel minyak jagung yaitu agar sampel minyak memiliki sifat oksidator dan
dapat berlangsung dalam suasana asam. Selanjutnya ditambahkan 2 tetes larutan
KI jenuh yaitu larutan tak berwarna menjadi larutan campuran yang keruh Lalu
didiamkan selama 1 menit dengan mengguncang guncang sewaktu-waktu. Maka
akan terjadi reaksi oksidasi larutan KI sesuai persamaan berikut ini :

2I- I2 + 2e
Setelah itu ditambahkan dengan aquades yakni lartan tak berwarna
sebanyak 6 mL untuk mengencerkan larutan menjadi larutan campuran yang
keruh. Selanjutnya ditambahkan 2 tetes amilum 1% sehingga tebentuk 2 lapisan,
lapisan atas menjadi larutan keruh dan lapisan bawah berwarna kuning
kecoklatan, hal ini memiliki tujuan yakni sebagai indicator teroksidasinya I-
dengan perubahan larutan menjadi warna ungu. Larutan ini kemudian dititrasi
menggunakan Na2S2O3 untuk mengetahui kadar I- dan banyaknya lemak yang
mengalami perubahan struktur karena proses oksidasi, sesuai dengan reaksi :

Proses pembentukan peroksida


2S2O32- S4O62- + 2e-

I2 + 2e- 2I-

I2 + 2S2O32- 2I- + S4O62-

Detik ke- 900 s 1800 s 2700 s 3600 s 5400 s


Volume titrasi Na2S2O3 7,3 mL 7,4 mL 7,6 mL 7,7 mL 7,8 mL

Berdasarkan hasil titrasi tersebut dapat dihitung bilangan peroksida


dan didapatkan hasil sebagai berikut :

Detikke- 900 1800 2700 3600 5400


Bilangan Peroksida 17,204 meq 21,505 meq 30,108 meq 34,409 meq 38,709 meq

Dari data yang telah didapat makan dapat diketahui bahwa terdapat
hubungan bahwa lama pemanasan akan menambah bilangan peroksida
sehingga memiliki hubungan berbanding lurus yakni semakin tinggi bilangan
peroksida maka semakin tinggi ketengikan dalam minyakj jagung atau kualitas
dari sampel minyak jagung tersebut buruk.

Selanjutnya adalah penentuan orde reaksi dengan menggunakan


metode integral grafikd an non-grafik. Pada metode integral non-grafik didapat
nilai k sebesar :

t (detik) Orde 1 Orde 2 Orde 3

900

1800

2700

3600

5400

Berdasarkan perhitungan non grafik, didapatkan nilai k dengan selisih


yang konstan pada orde 2, sehingga dapat disimpulkan bahwa orde reaksi pada
laju ketengikan minyak jagung adalah 2.

Selanjutnya adalah dengan menggunakan metode integral grafik


dengan rincian sebagai berikut :

Penetuan Reaksi Orde 1 :


Waktu (s) (a-x) ln(a-x)
900 0,07927 -2,5348
1800 -2,5350
2700 -2,5352
3600 -2,5354
5400 -2,5355

Berdasarkan grafik tersebut didapatkan R2 sebesar 0,9258


Penetuan Reaksi Orde 2 :
Time (s) (a-x) 1/(a-x)
900 0.07927 12,615
1800 0.07926 12,616
2700 0.07924 12,619
3600 0.07923 12,621
5400 0.07922 12,623
Berdasarkan grafik tersebut didapatkan R2 sebesar 0,9578
Penetuan Reaksi Orde :
Time (s) (a-x) 1/(a-x)2
900 0.07927 159.1410
1800 0.07926 159.1812
2700 0.07924 159.2615
3600 0.07923 159.3018
5400 0.07922 159.3420
Berdasarkan grafik tersebut didapatkan R2 sebesar 0,9318
Berdasarkan ketiga grafik tersebut diperoleh R2 yang paling
mendekati 1 yaitu pada grafik orde 2, yaitu dengan R 2 = 0,9578. Jadi dapat
dikatakan bahwa dengan metode grafik, padaorde reaksi dari reaksi ini termasuk
dalam orde 2. Karena dengan cara integral non-grafik maupun cara integral grafik
diperoleh orde reaksi pada reaksi ini yaitu orde 2, maka dapat disimpulkan bahwa
orde reaksinya adalah 2.

X. Diskusi
Berdasrkan data dan grafik yang diperoleh dari percobaan
seharusnya didapat orde reaksi menurut teori yakni 1. Tetapi pada percobaan yang
kami lakukan yaitu tidak mendapatkan hasil perhitungan yang mengarah ke orde
rekasi 1, melainkan mendekati ke orde 2. Kemungkinan kesalahan dalam proses
titrasi sehingga didapatkan volume hasil titrasi yang salah dalam penglihatan dan
kurang teliti dalam memanajemen waktu pada saat memanaskan sehingga
didapatkan perhitungan yang tidak akurat. Sehingga kesalahan yang terjadi
diakibatkan dari perlakuan praktikan sehingga tidak menghasilkan tujuan
percobaan yang sesuai dengan teori.

XI. Kesimpulan
1. Bilangan peroksida minyak kelapa cap jagung sebesar
2. Ketengikan minyak berupa reaksi orde dua dengan R=0,9578 mendekati 1
3. Cara menentukan bilangan peroksida dari minyak jagung tersebut dengan
metode titrasi iodometri. Na2S2O3 sebagai titran, sehingga didapatkan

rumus, bilangan peroksida .


XII. Daftar Pustaka
Anonim. 2009. Penentuan Orde Reaksi pada Laju Ketengikan Minyak Jagung
dengan Metode Titrasi Iodometri. (online),
http://Ustadzkimia.blogspot.com; diakses pada tanggal 07 Maret 2015
pukul 07.40 WIB
Ketaren, S. 1986. Pengantar Teknologi Minyak dan Lemak Pangan. Jakarta:
UI Press.
Pahan, Iyung. Tanpa Tahun. Panduan Lengkap Kelapa Sawit. (online),
https://books.google.com/books?isbn=979489995X; diakses pada
tanggal 07 Maret 2015 pukul 07.37 WIB
Sucinta, W. 2010. Tinjauan Pustaka. (online), reposito-
ry.usu.ac.id/bitstream/123456789/20060/3/Chapter%20II.pdf; diakses
pada tanggal 07 Maret 2015 pukul 07.39 WIB
Suyono dan Bertha Yonata. 2014. Panduan Praktikum Kimia Fisika III.
Surabaya:Unesa Press
Lampiran

No Perlakuan Dokumentasi/Foto Keterangan

Anda mungkin juga menyukai