Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA

LABORATORIUM KLINIK/MEDIK

OLEH

MANUEL 16 3145 353 098


MAZLINA SAMBRIN 16 3145 353 099
MELINA RAHMAN 16 3145 353 100
MINGSEN GETOL 16 3145 353 101
MOH. ALDI 16 3145 353 102
MOH. JURIZAL AHMAD 16 3145 353 103
MUSPIDA 16 3145 353 104

D.IV ANALIS KESEHATAN


STIKes Mega Resky Makassar
2016 / 2017
KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa,
yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga makalah ini dapat
diselesaikan tepat pada waktunya. Makalah yang berjudul K3 Dalam
Laboratorium Klinik/Medik merupakan salah satu tugas mata kuliah
kesehatan dan keselamatan kerja program studi D-IV Analis Kesehatan
Poltekkes Kemenkes Kendari. Penulis selaku penyusun makalah,
mengucapkan terima kasih kepada ibu Resi Agestia Waji S.Si, M.Si selaku
dosen mata kuliah kesehatan dan keselamatan kerja yang telah membimbing
dalam penyelesaian makalah ini, dan juga pihak-pihak yang telah membantu
hingga selesainya penyusunan makalah ini. Penulis menyadari bahwa
keterbatasan ilmu pengetahuan dan wawasan yang dimiliki, tentunya
makalah ini sangat jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis sangat
mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun dari semua pihak demi
kesempurnaan makalah ini. Mudah-mudahan makalah ini dengan segala
kekurangannya dapat bermanfaat bagi kita semua.

Makassar,15 mei 2017

Kelompok III
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR........................................................................................
DAFTAR ISI.......................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
1. 1 Latar Belakang..............................................................................................
1. 2 Tujuan Penulisan...........................................................................................
1. 3 Rumusan Masalah.........................................................................................
BAB II PEMBAHASAN
2. 1 Masalah tentang laboratorium klinik dan bagian-bagiannya.........................
2. 2 Masalah tentang APD (alat pelindung diri)...................................................
BAB III PENUTUP
3. 1 Kesimpulan.....................................................................................................
3. 2 Saran...............................................................................................................
Daftar Pustaka
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
Kesehatan dan keslamatan kerja adalah upaya memberikan perlindugan
yang ditunjukan agar tenaga kerja dan orang lain ditempat kerja selalu dalam
keadaan selamat dan sehat dan agar setiap sumber produksi perlu dipakai dan
digunakan secara aman dan efisien
Bekerja dalam laboratorium klinik mempunyai resiko terkena bahan kimia
maupun bahan yang bersifat infeksius. Sehingga dapat beresiko terjadinya
kecelakaan kerja ditempat kerja. Kecelakaan kerja adalah kejadian yang tidak
terduga dan tidak di harapkan. Biasanya kecelakaan menyebabkan kerugian
material dan penderitaan dari yang palig ringan sampai kepada yang paling berat.
Sehingga laboratorium harus merupakan tempat yang aman bagi
pekerjanya,terhadap setiap kemungkinan terjadinya kecelakaan,sakit maupun
gangguan kesehatan. Hanya dalam laboratoium yang bebas dari rasa kekhawatiran
akan kecelakaan dan keracunan seseorang dapat bekerja dengan produktif dan
efisien
Taggung jawab moral dalam keselamatan kerja memegang peranan
penting dalam pencegahan kecelakaan disamping disiplin setiap individu terhadap
peraturan juga memberikan andil besar dalam keslamatan kerja.
Salah satu macam laboratorium klinik adalah yaitu laboratorium klinik
yang dimana didalamnya mencakup hematologi, patologi dan lain-lain.
1.2 Tujuan Penulisan
2. Untuk mengetahui lebih dalam tentang pengetahuan kesehatan dan
keselamatan kerja pada laboratorium klinik
3. Untuk mengetahui tentang APD pada laboratorium kerja
1.3 Rumusan Masalah
2. Pengertian tentang laboratorium klinik dan bagian-bagiannya
3. Tentang APD (alat pelindung diri) pada laboratorium dan lain-lainnya
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Laboratorium Klinik
Laboratorium klinik atau laboratorium medis ialah laboratorium di
manaberbagai macam tes dilakukan pada spesimen biologis untuk mendapatkan
informasi tentang kesehatan pasien. Labratorium ini terdiri dari berbagai jenis
Pemeriksaaan menurut Srisasi Gandahusada (2007:122) Dalam Buku Parasitologi
Klinik Diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Mikrobiologi menerima usapan, tinja, air seni, darah, dahak, peralatan medis,
begitupun jaringan yang mungkin terinfeksi. Spesimen tadi dikultur untuk
memeriksa mikroba pathogen
2. Parasitologi mengamati parasit.
3. Hematologi menerima keseluruhan darah dan plasma. Mereka melakukan
penghitungan darah dan selaput darah.
4. Koagulasi menganalisis waktu bekuan dan faktor koagulasi.
5. Kimia klinik biasanya menerima serum. Mereka menguji serum untuk
komponen-komponen yang berbeda.
6. Toksikologi menguji obat farmasi, obat yang disalahgunakan, dan toksin lain.
7. Imunologi menguji antibody.
8. Imunohematologi, atau bank darah menyediakan komponen, derivat, dan
produk darah untuk transfusi.
9. Serologi menerima sampel serum untuk mencari bukti penyakit seperti
hepatitis atau HIV.
10. Urinalisis menguji air seni untuk sejumlah analit
11. Histologi memproses jaringan padat yang diambil dari tubuh untuk membuat
di kaca mikroskop dan menguji detail sel.
12. Sitologi menguji usapan sel (seperti dari mulut rahim) untuk membuktikan
kanker dan keadaan lain.
13. Sitogenetika melibatkan penggunaan darah dan sel lain untuk mendapatkan
kariotipe, yang dapat berguna dalam diagnosis prenatal (mis. sindrom Down)
juga kanker (beberapa kanker memiliki kromosom abnormal).
14. Virologi dan analisis DNA juga dilakukan di laboratorium klinik yang besar.
15. Patologi bedah menguji organ, ekstremitas, tumor, janin, dan jaringan lain
yang dibiopsi pada bedah seperti masektomi payudara
2.2 Konsep Dasar Sistem
Dalam ilmu kesehatan Mervat Abdelhak (2007:25) dalam buku HEALTH
INFORMATION: Management of a Strategic Resource, Menyatakan bahwa
Setiap tindakan medis harus di lakukan pencatatan secara terstruktur guna
memperoleh informasi yang tepat Menurut Herlambang dan Tanuwijaya
(2005:116), definisi sistem dapat dibagi menjadi dua pendekatan, yaitu
pendekatan secara prosedur dan pendekatan secara komponen. Berdasarkan
pendekatan prosedur, sistem didefinisikan sebagai kumpulan dari beberapa
prosedur yang mempunyai tujuan tertentu. Sedangkan berdasarkan pendekatan
komponen, sistem merupakan kumpulan dari komponenkomponen yang saling
berkaitan untuk mencapai tujuan tertentu.
3 Konsep Sistem Informasi
Data adalah fakta-fakta atau kejadian-kejadian yang dapat berupa
angkaangka atau kode-kode tertentu. Data masih belum mempunyai arti bagi
penggunanya. Untuk dapat mempunyai arti data diolah sedemikian rupa sehingga
dapat digunakan oleh penggunanya. Hasil pengolahan data inilah yang disebut
sebagai informasi. Secara ringkas, Informasi adalah data yang telah diolah dan
mempunyai arti bagi penggunanya. Sehingga sistem informasi dapat didefinisikan
sebagai prosedur-prosedur yang digunakan untuk mengolah data sehingga dapat
digunakan oleh penggunanya (Herlambang dan Tanuwijaya, 2005:121).
1. Blok Masukan
Masukan atau Input mewakili data yang masuk ke dalam sistem
informasi. Masukan disini termasuk metode-metode dan media untuk
menangkap data yang akan dimasukkan, yang dapat berupa dokumen-
dokumen dasar.
2. Blok Model
Blok ini terdiri dari kombinasi prosedur, logika dan model matematik
yang akan memanipulasi data input dan data yang tersimpan di basis data
dengan cara yang sudah ditentukan untuk menghasilkan keluaran yang
diinginkan.
3. Blok Keluaran
Produk dari sistem informasi adalah keluaran yang merupakan
informasi yang berkualitas dan dokumentasi yang berguna untuk semua
tingkatan manajemen serta semua pemakai sistem.
4. Blok Teknologi
Teknologi merupakan kotak alat (toolbox) dalam sistem informasi.
Teknologi digunakan untuk menerima input, menjalankan model, menyimpan
dan mengakses data, menghasilkan dan mengirimkan keluaran dan membantu
pengendalian dari sistem secara keseluruhan.
5. Blok Basis Data
Basis data (database) merupakan kumpulan dari data yang saling
berhubungan satu dengan lainnya, tersimpan di perangkat keras komputer dan
digunakan perangkat lunak untuk memanipulasinya. Data perlu disimpan di
dalam basis data untuk keperluan penyediaan informasi lebih lanjut. Data di
dalam basis data perlu diorganisasikan sedemikian rupa, supaya informasi
yang dihasilkan berkualitas. Organisasi basis data yang baik juga berguna
untuk efisiensi kapasitas penyimpannya.
6. Blok Kendali
Banyak hal yang dapat merusak sistem informasi, seperti misalnya
bencana alam, api, temperatur, air, debu, kecurangan-kecurangan,
kegagalankegagalan sistem itu sendiri, kesalahan-kesalahan, ketidak-efisienan,
sabotase, dan lain sebagainya. Beberapa pengendalian perlu dirancang dan
diterapkan untuk meyakinkan bahwa hal-hal yang dapat merusak sistem dapat
dicegah ataupun bila terlanjur terjadi kesalahan-kesalahan dapat langsung
diatasi.
7. Analisa Dan Perancangan Sistem
Blok ini terdiri dari kombinasi prosedur, logika dan model matematik
yang akan memanipulasi data input dan data yang tersimpan di basis data
dengan cara yang sudah ditentukan untuk menghasilkan keluaran yang
diinginkan.
8. System Flow
System flow atau bagan alir sistem merupakan bagan yang
menunjukkan arus pekerjaan secara keseluruhan dari sistem.
2.3 Alat Pelindung Diri (APD)
1. Dasar Hukum
a. Undang-undang No.1 tahun 1970.
1) Pasal 3 ayat (1) butir f: Dengan peraturan perundangan ditetapkan syarat-
syarat untuk memberikan APD.
2) Pasal 9 ayat (1) butir c: Pengurus diwajibkan menunjukkan dan
menjelaskan pada tiap tenaga kerja baru tentang APD.
3) Pasal 12 butir b: Dengan peraturan perundangan diatur kewajiban dan
atau hak tenaga kerja untuk memakai APD.
4) Pasal 14 butir c: Pengurus diwajibkan menyediakan APD secara cuma-
Cuma.
b. Permenakertrans No.Per.01/MEN/1981 Pasal 4 ayat (3) menyebutkan
kewajiban pengurus menyediakan alat pelindung diri dan wajib bagi tenaga
kerja untuk menggunakannya untuk pencegahan penyakit akibat kerja.
c. Permenakertrans No.Per.03/MEN/1982 Pasal 2 butir I menyebutkan
memberikan nasehat mengenai perencanaan dan pembuatan tempat kerja,
pemilihan alat pelindung diri yang diperlukan dan gizi serta penyelenggaraan
makanan ditempat kerja
d. Permenakertrans No.Per.03/Men/1986 Pasal 2 ayat (2) menyebutkan tenaga
kerja yang mengelola Pestisida harus memakai alat-alat pelindung diri yg
berupa pakaian kerja, sepatu lars tinggi, sarung tangan, kacamata pelindung
atau pelindung muka dan pelindung pernafasan.
2. Pengertian APD
Alat Pelindung Diri (APD) merupakan peralatan pelindung yang
digunakan oleh seorang pekerja untuk melindungi dirinya dari kontaminasi
lingkungan. APD dalam bahasa Inggris dikenal dengan sebutan Personal
Protective Equipment (PPE). Dengan melihat kata "personal" pada kata PPE
terebut, maka setiap peralatan yang dikenakan harus mampu memperoteksi si
pemakainya. APD dapat berkisar dari yang sederhana hingga relatif lengkap.
APD merupakan solusi pencegahan yang paling mendasar dari segala macam
kontaminasi dan bahaya akibat bahan kimia. Jadi, tunggu apa lagi.
Gunakanlah APD sebelum bekerja dengan bahan kimia.
2.3.1 Jenis-jenis APD
a. Perlindungan Mata Dan Wajah
Proteksi mata dan wajah merupakan persyaratan yang mutlak yang
harus dikenakan oleh pemakai dikala bekerja dengan bahan kimia. Hal
ini dimaksud untuk melindungi mata dan wajah dari kecelakaan sebagai
akibat dari tumpahan bahan kimia, uap kimia, dan radiasi. Secara umum
perlindungan mata terdiri dari Kacamata pelindung, Goggle,Pelindung
wajah, Pelindung mata special (goggle yang menyatu dengan masker
khusus untuk melindungi mata dan wajah dari radiasi dan bahaya laser).
b. Perlindungan Badan
Baju yang dikenakan selama bekerja di laboratorium, merupakan
suatu perlengkapan yang wajib dikenakan sebelum memasuki
laboratorium. Jas laboratorium dikenal oleh masyarakat pengguna bahan
kimia ini terbuat dari katun dan bahan sintetik. Hal yang perlu
diperhatikan ketika menggunakan jas laboratorium yaitu kancing jas
laboratorium tidak boleh dikenakan dalam kondisi tidak terpasang dan
ukuran dari jas laboratorium pas dengan ukuran badan pemakainya. Jas
laboratorium merupakan pelindung badan dari tumpahan bahan kimia
dan api sebelum mengenai kulit pemakainya. Jika jas laboratorium
terkontaminasi oleh tumpahan bahan kimia, lepaslah jas secepatnya.
Selain jas laboratorium, perlindungan badan lainnya adalah Apron dan
Jumpsuits. Apron digunakan untuk memproteksi diri dari cairan yang
bersifat korosif dan mengiritasi, yang berbentuk seperti celemek terbuat
dari karet atau plastik.Untuk apron yang terbuat dari plastik, bahwa tidak
dikenakan pada area larutan yang mudah terbakar dan bahan-bahan
kimia yang dapat terbakar yang dipicu oleh elektrik statis, karena apron
jenis ini dapat mengakumulasi loncatan listrik statis. Jumpsuits atau
dikenal dengan sebutan baju parasut ini direkomendasikan untuk dipakai
pada kondisi beresiko tinggi Bahan dari peralatan perlindungan badan ini
haruslah mampu memberi perlindungan kepada pekerja laboratorium
dari percikan bahan kimia, panas, dingin, uap lembab, dan radiasi.
c. Perlindungan Tangan
Kontak pada kulit tangan merupakan permasalahan yang sangat
penting apabila terpapar bahan kimia yang korosif dan beracun. Sarung
tangan menjadi solusi tidak hanya melindungi tangan terhadap
karakteristik bahaya bahan kimia tersebut, sarung tangan juga dapat
memberi perlindungan dari peralatan gelas yang pecan atau rusak,
permukaan benda yang kasar atau tajam, dan material yang panas atau
dingin. Sarung tangan harus secara periodik diganti berdasarkan
frekuensi pemakaian dan permeabilitas bahan kimia yang ditangani.
Jenis sarung tangan yang sering dipakai di laboratorium, diantaranya,
terbuat dari bahan karet, kulit dan pengisolasi (asbestos) untuk
temperatur tinggi. Jenis karet yang digunakan pada sarung tangan,
diantaranya adalah karet butil atau alam, neoprene, nitril, dan PVC
(Polivinil klorida). Semua jenis sarung tangan tersebut dipilih
berdasarkan bahan kimia yang akan ditangani.
APD tangan dikenal dengan Safety Glove dengan berbagai jenis
penggunaanya. Berikut ini adalah jenis-jenis sarung tangan dengan
penggunaan yang tidak terbatas hanya untuk melindungi dari bahan
kimia. Jenis-Jenis Safety Glove antara lain : Sarung Tangan Metak
Mesh, Sarung metal mesh tahan terhadap ujung yang lancip dan menjaga
terpotong, Sarung tangan Kulit, Sarung tangan yang terbuat dari kulit ini
akan Melindungi tangan dari permukaan kasar, Sarung tangan Vinyl dan
neoprene Melindungi tangan terhadap bahan kimia beracun, Sarung
tangan Padded Cloth Melindungi tangan dari ujung yang tajam, pecahan
gelas, kotoran dan Vibrasi, Sarung tangan Heat resistant Mencegah
terkena panas dan api, Sarung tangan karet Melindungi saat bekerja
disekitar arus listrik karena karet merupakan isolator (bukan penghantar
listrik), Sarung tangan Latex disposable Melindungi tangan dari Germ
dan bakteri, sarung tangan ini hanya untuk sekali pakai,Sarung tangan
lead lined Digunakan untuk melindungi tangan dari sumber radiasi.
d. Perlindungan Pernafasan
Kontaminasi bahan kimia yang paling sering masuk ke dalam
tubuh manusia adalah lewat pernafasan. Banyak sekali partikel-partikel
udara, debu, uap dan gas yang dapat membahayakan pernafasan.
Laboratorium merupakan salah satu tempat kerja dengan bahan kimia
yang memberikan efek kontaminasi tersebut. Oleh karena itu, para
pekerjanya harus memakai perlindungan pernafasan, atau yang lebih
dikenal dengan sebutan masker, yang sesuai. Pemilihan masker yang
sesuai didasarkan pada jenis kontaminasi, kosentrasi, dan batas paparan.
Beberapa jenis perlindungan pernafasan dilengkapi dengan filter
pernafasan yang berfungsi untuk menyaring udara yang masuk. Filter
masker tersebut memiliki masa pakai. Apabila tidak dapat menyaring
udara yang terkontaminasi lagi, maka filter tersebut harus diganti.
2.3.2 Masalah Umum APD(Alat Pelindung Diri
a. Tidak semua APD melalui pengujian labotoris sehingga tidak
diketahui derajat perlindungannya.
b. Tidak nyaman dan kadang-kadang membuat si pemakai sulit bekerja
c. APD dapat menciptakan bahaya baru
d. Perlindungan yang diberikan APD sulit untuk dimonitor
e. Kewajiban pemeliharaan APD dialihkan dari pihak manajemen ke
pekerja
f. Efekctivitas APD sering tergantung GOOD FIT pada pekerja
g. Kepercayaan pada APD akan menghambat pengembangan control
teknologi yang baru.
2.3.4 Masalah Pemakaaian APD(Alat Pelindung Diri)
1. Pekerja tidak mau memakai dengan alasan:
Tidak sadar/tidak menerti
Panas
Sesask
Tidak enak dipakai
Tidak enak dipandang
Berat
Mengganggu pekerjaan
Tidak sesuai dengan bahaya yang ada
Tidak ada sangsi
Atasan juga tidak memakai
2. Tidak disediakan oleh perusahaan
Ketidakmengertian
Pura-pura tidak mengerti
Alasan bahaya
Dianggap sia-sia
3. Pengadaan oleh perusahaan
Tidak sesuai dengan bahaya yang ada
Asal beli (terutama memilih yang murah)
Beberapa Contoh Masalah APD antara lain :
- Respirator
Penutup muka yang buruk
Sumbatan kerusakan/cacat pada filter
Pemeliharaan yang tidak baik
Tali pengikat longgar/lepas
Tidak nyaman
Psikologis dan kecemasan
Meningkatkan beban kerja pada jantung dan hati
Menghirup kembali udara yang dihembuskan
Kesulitan komunikasi
- Alat Pelindung Telinga
Resiko infeksi
Kesulitan komunikasi
Merasa terisolasi
Sakit kepala karena jepitan terlalu kuat
Tidak nyaman
Menguranggi kemampuan menduga jarak
Iritasi kulit
- Sarung Tangan
Mungin dapat menangkap bahan kimia
Mengurangi kepekaan tangan dan jari
Kebocoran dari lubang yang tidak diketahui
Mungkin menyebabkan dermatitis (keringat yang berlebihan)
Bahan kimia tertentu
- Alat Pelindung Mata
Dapat membatasi pandangan
Timbul kabut, noda dan goresan kecil
Tidak dapat melihat serusakan secara visual
Beberapa kaca mata pengaman memungkinkan benda masuk dari
samping
2.3.4 Risiko Pemakaian APD Penyebab Penyakit Akibat Kerja di
Laboratorium Kesehatan.
Kecelakaan kerja adalah kejadian yang tidak terduga dan tidak
diharapkan. Kecelakaan menyebabkan kerugian material dan
penderitaan dari yang paling ringan sampai pada yang paling berat.
Untuk menghindari risiko dari kecelakaan dan terinfeksinya petugas
laboratorium khususnya pada laboratorium kesehatan sebaiknya
dilakukan tindakan pencegahan seperti pemakaian APD, apabila
petugas laboratorium tidak menggunakan alat pengaman, akan semakin
besar kemungkinan petugas laboratorium terinfeksi bahan berbahaya,
khususnya berbagai jenis virus(Depkes RI, 1996/97).
Faktor Lingkungan kerja sangat berpengaruh dan berperan
sebagai penyebab timbulnya Penyakit Akibat Kerja. Sebagai contoh
antara lain debu silika dan Silikosis, uap timah dan keracunan timah.
Akan tetapi penyebab terjadinya akibat kesalahan factor manusia juga
(WHO), salah satunya pekerja tidak menggunakan APD. Penyakit
Akibat Hubungan Kerja adalah penyakit dengan penyebab
multifaktorial, dengan kemungkinan besar berhubungan dengan
pekerjaan dan kondisi tempat kerja. Pajanan di tempat kerja tersebut
memperberat, mempercepat terjadinya serta menyebabkan kekambuhan
penyakit. Penyakit akibat kerja di laboratorium kesehatan umumnya
berkaitan dengan faktor faktor yaitu :
a. Faktor Biologis
Lingkungan kerja pada Pelayanan Kesehatan terutama
kuman-kuman pyogenic,colli, bacilli dan staphylococci yang
bersumber dari pasien, benda-benda yang terkontaminasi dan udara.
Virus yang menyebar melalui kontak dengan darah dan sekreta
(misalnya HIV dan Hep. B) dapat menginfeksi pekerja hanya akibat
kecelakaan kecil dipekerjaan, misalnya karena tergores atau tertusuk
jarum yang terkontaminasi virus. Angka kejadian infeksi nosokomial
di unit Pelayanan Kesehatan cukup tinggi. Sebagai contoh dokter di
RS mempunyai risiko terkena infeksi 2 sampai 3 kali lebih besar dari
pada dokter yang praktek pribadi atau swasta, dan bagi petugas
Kebersihan menangani limbah yang infeksius senantiasa kontak
dengan bahan yang tercemar kuman patogen, debu beracun
mempunyai peluang terkena infeksi
b. Faktor Kimia
Petugas di laboratorium kesehatan yang sering kali kontak
dengan bahan kimia dan obat-obatan seperti antibiotika, dengan
solvent yang digunakan dalam komponen antiseptik, desinfektan
dikenal sebagai zat yang paling karsinogen. Semua bahan cepat atau
lambat ini dapat memberi dampak negative terhadap kesehatan
mereka. Gangguan kesehatan yang paling sering adalah dermatosis
kontak akibat kerja yang pada umumnya disebabkan oleh iritasi
(amoniak, dioksan) dan hanya sedikit saja oleh karena alergi (keton).
Bahan toksik ( trichloroethane, tetrachloromethane) jika tertelan,
terhirup atau terserap melalui kulit dapat menyebabkan penyakit akut
atau kronik, bahkan kematian. Bahan korosif (asam dan basa) akan
mengakibatkan kerusakan jaringan yang irreversible pada daerah
yang terpapar.
c. Faktor Ergonomi
Ergonomi sebagai ilmu, teknologi dan seni berupaya
menyerasikan alat, cara, proses dan lingkungan kerja terhadap
kemampuan, kebolehan dan batasan manusia untuk terwujudnya
kondisi dan lingkungan kerja yang sehat, aman, nyaman dan tercapai
efisiensi yang setinggi-tingginya. Pendekatan ergonomi bersifat
konseptual dan kuratif, Sebagian besar pekerja di perkantoran atau
Pelayanan Kesehatan pemerintah, bekerja dalam posisi yang kurang
ergonomis, misalnya tenaga operator peralatan, hal ini disebabkan
peralatan yang digunakan pada umumnya barang impor yang
disainnya tidak sesuai dengan ukuran pekerja Indonesia. Posisi kerja
yang salah dan dipaksakan dapat menyebabkan mudah lelah
sehingga kerja menjadi kurang efisien dan dalam jangka panjang
dapat menyebakan gangguan fisik dan psikologis (stress) dengan
keluhan yang paling sering adalah nyeri pinggang kerja.
d. Faktor Fisik
Faktor fisik di laboratorium kesehatan yang dapat
menimbulkan masalah kesehatan kerja meliputi :
1) Kebisingan, getaran akibat mesin dapat menyebabkan stress dan
ketulian.
2) Pencahayaan yang kurang di ruang kamar pemeriksaan,
laboratorium, ruang perawatan dan kantor administrasi dapat
menyebabkan gangguan penglihatan dan kecelakaan kerja.
3) Suhu dan kelembaban yang tinggi di tempat kerja.
4) Terimbas kecelakaan/kebakaran akibat lingkungan sekitar.
5) Terkena radiasi Khusus untuk radiasi, dengan berkembangnya
teknologi pemeriksaan, penggunaannya meningkat sangat tajam
dan jika tidak dikontrol dapat membahayakan petugas yang
menangani.
e. Faktor Psikososial
Beberapa contoh faktor psikososial di laboratorium
kesehatan yang dapa menyebabkan stress :
1) Pelayanan kesehatan sering kali bersifat emergency dan
menyangkut hidup mati seseorang. Untuk itu pekerja di
laboratorium kesehatan di tuntut untuk memberikan
pelayanan yang tepat dan cepat disertai dengan kewibawaan
dan keramahan-tamahan.
2) Pekerjaan pada unit-unit tertentu yang sangat monoton.
3) Hubungan kerja yang kurang serasi antara pimpinan dan
bawahan atau sesama teman kerja.
4) Beban mental karena menjadi panutan bagi mitra kerja di
sector formal ataupun informal.
2.3.5 Beberapa alasan Tidak menggunakan APD
Sudah tidak asing apabila menghadapi kondisi para pekerja yang
tidak melengkapi dirinya dengan APD saat bekerja. Tapi keselamatan
kerja tidak mempuyai alasan untuk dilupakan walau sesaat.
Berikut ini adalah hasil wawancara Safety News Alert dengan
290 orang Safety Officer mengenai cara mereka mengatasi berbagai
alasan pekerja yang tidak memakai APD saat bekerja:
a. Ini tidak cocok / tidak nyaman (alasan 30% pekerja)
Solusi: Biarkan pekerja memilih APD yang cocok, selalu tanyakan
apakah ada masalah dengan ukuran atau kenyamanan APD yang
mereka gunakan, dan lakukan uji coba ukuran dan kenyamanan
APD terhadap pekerja sebelum melakukan pengadaan APD.
b. Tidak tahu kalau sekarang harus memakai APD (10% alasan
pekerja).
Solusi: Selalu buat pernyataan dengan tanda tangan pekerja bahwa
mereka sudah menerima dan paham terhadap materi training APD
dan lakuan tindakan disiplin yang tegas oleh supervisor terhadap
pekerja yang tidak memakai APD saat bekerja di lapangan.
c. Tidak punya waktu untuk memakai APD/ Memakai APD
menghabiskan waktu saya (18% alasan pekerja). Solusi:
komunikasikan dengan pekerja tersebut mengenai alasan mereka
lebih dalam lagi, komunikasikan alasan ini dengan supervisor
produksi agar dapat bersinergi antara K3 dengan watu produksi,
pastikan pekerja tersebut sudah mendapatkan training mengenai
APD, dan masukan keharusan memakai APD kedalam aturan
disiplin waktu saat produksi.
d. Tidak akan celaka (8 % alasan para manager dan pekerja). Solusi:
undang pembicara dari korban kecelakaan kerja, dan biarkan ia
bercerita tentang bagaimana kecelakaan kerja ini sangat berdampak
pada kehidupan pribadinya, dan simulasikan pada pekerja untuk
mengikat tali sepatu mereka dengan satu tangan sebagai ilustrasi
jika mereka kehilangan satu tangan akibat kecelakaan kerja.
2.3.6 Tindakan Pencegahan
a. Tindakan Pencegahan Secara Umum
Sebagian besar laboratorium klinik membutuhkan
penanganan darah dan cairan tubuh. The CDC dan The National
Committee for Clinical Laboratory Standards (NCCLS) telah
mengembangkan sistem untuk perlindungan pekerja secara umum
yang disebut Pencegahan secara umum (Universal Precaution / UP).
Pengendalian perancangan, pengendalian praktek kerja dan
penggunaan alat pelindung diri pada pekerja laboratorium dari
potensi paparan agen infeksius dalam darah. Perhatian agen yang
primer adalah Hepatitis dan HIV. HBV (Hepatitis B Virus)
merupakan virus DNA yang menyebabkan sekitar 12.000 infeksi
pada pekerja pelayanan kesehatan per tahun. Selama Hepatitis B
akut, kadar virus dalam darah dan cairan tubuh sangat tinggi
mencapai 108 109 infeksi unit/ml. Satu persen atau lebih pasien
yang dirawat akan menjadi kronik dan pembawa virus. Virus dapat
bertahan pada permukaan yang kering. Beberapa prosedur yang
ditunjukkan oleh EPA sebagai sterilisasi atau desinfektan tingkat
tinggi dapat menginaktifkan HBV. Virus inaktif dalam permukaan
kering dalam waktu yang lama. Beberapa desinfektan yang mampu
menginak tivasikan HBV akan efektif melawan HIV, karena agen
yang belakangan lebih peka sampai tindakan. Agen lain yang dapat
ditularkan melalui spesimen darah termasuk malaria, sifilis,
babesiosis, brucellosis, leptospirosis, infeksi arbovirus, Creutzfeld-
Jacob disease, T- limfositik virus pada manusia tipe I, virus demam
berdarah, dan Cytomegallo Virus.
Konsep pencegahan secara umum diterapkan pada seluruh
darah dan jaringan manusia. Termasuk cairan serous seperti cairan
pleura, peritoneal, perikardial, amnion, serebrospinal dan sendi.
Semen dan sekret vagina mempunyai bahaya yang sama. Seluruh
spesimen klinik lain (seperti sputum, feses, keringat, urin, airmata,
isi lambung dan saliva) kurang diperhatikan. UP diterapkan hanya
jika substansi terdiri dari darah yang terlihat. Elemen dari
keselamatan secara umum laboratorium yang baik adalah bagian
dari UP. Pekerja harus menggunakan pelindung yang baik ketika
menangani spesimen klinik. Sarung tangan latex atau vinyl
digunakan dan diganti secara periodik. Pakaian yang tahan air,
celemek atau baju luar dan pelindung wajah sebaiknya dipakai saat
ada kemungkinan terpercik dan tercelup. Sering cuci tangan (
terutama saat sarung tangan dicopot) adalah hal yang mendasar
yang harus dilakukan. Semua spesimen darah dan cairan tubuh
seharusnya dikumpulkan dan dikirim dengan wadah yang terhindar
dari kebocoran, wadah yang mempunyai potensi terkontaminasi dari
luar harus dikirim dengan wadah kedua anti bocor seperti kantong
plastik. Pekerja harus hati-hati dengan permukaan, wadah,
permintaan dan pelaporan yang terkontaminasi. Pengecatan darah
yang tampak dan tumpah sesegera mungkin didekontaminasi atau
ditutupi.
Permukaan untuk bekerja harus didekontaminasi setiap
pergantian. Juga teknik untuk menghindarkan bentuk percikan atau
droplet merupakan bagian yang terus menerus dilakukan pada
pelatihan tenaga kerja baru dan program pendidikan yang terus
menerus. Semua pekerjaan pipetasi harus menggunakan alat. Label
peringatan bahaya biologi harus ditempelkan pada semua wadah
yang berisi zat kontaminan. Limbah infeksius harus dikemas dan
dihancurkan dengan baik. Semua yang tajam harus ditangani secara
hati-hati dan dibuang pada tempat yang tahan terhadap tusukan.
Pemilihan teknologi untuk alternatif mengurangi bahaya ( seperti
menghindari penggunaan barang yang tajam atau penggantian
metode manual ke automatis, juga bagian dari kewaspaan umum.
Wadah dengan bagian luar terkontaminasi harus ditempatkan pada
kantong plastik saat dikirim ke laboratorium. Potong beku dari
jaringan yang tidak padat harus hati-hati. Sebagian agen infeksius
tidak inaktif pada pembekuan. Pembekuan jaringan harus dilakukan
dengan hati-hati. Dilarang menyemprot jaringan dengan gas
pembeku dengan tekanan karena bahan yang infeksius akan
memercik
b. Tindakan Pencegahan Secara khusus
Pencegahan khusus diterapkan pada penanganan jaringan
dari pasien Creutzfeld-Jacob disease. Kuman tahan terhadap
formalin dan bahan fiksasi lain, alkohol, dan panas (diatas 100C ).
Dibutuhkan pemberlakuan kewaspadaan umum secara tegas. 5,25%
larutan sodium hipoklorit atau 1 N sodium hidroksi sangat efektif
menginaktifkan agen pada permukaan. Pembuangan cairan atau alat
yang terkontaminasi dengan cara direndam dalam 5,25% larutan
sodium hipoklorit selama 1 jam atau dengan autoklaf pada 132C
selama 1 jam.
2.3.7 Biological Safety Cabinetry
Merupakan Pengendalian bahaya mikrobiologi terbaik dengan
perancangan Biological Safety Cabinetry ( BSC ) yang sesuai. Kabinet
kelas I digunakan pada tekanan negatif dengan kecepatan aliran sekitar
75 kaki / menit. Udara dalam kamar dikeluarkan melalui High
Effeciency Particulare Air (HEPA) filter / filter efisiensi partikel udara.
Bagian depan dari BSC kelas I dapat dibuka atau tertutup dengan
sarung tangan lengan panjang. BSC kelas II merupakan aliran udara
vertikal dan udara dalam yang disirkulasi ulang melalui filter HEPA.
Kamar beroperasi pada tekanan negatif dengan ruang yang sama ke
depan kabinet kelas I, tetapi pemurnian dengan kontaminasi minimal
dari kultur. Kelas I dan II sama tingkatnya dengan keselamatan
personel. Kabinet kelas III harus digunakan pada sebagian besar agen
yang virulen. Ruang tertutup seluruhnya. Isi harus diperlakukan dengan
sarung tangan lengan panjang yang sesuai. Seluruh bahan yang masuk
kabinet BSC kelas III harus sudah di autoklaf atau didekontaminasi.
Kabinet Kelas I dan II biasa ditemukan di laboratorim klinik. Kelas III
BSC dibutuhkan pada fasilitas khusus yang mengkultur, seperti
Mycobacterium tuberculosis atau jamur sitemik dan HIV.
Tingkat Biosafety The Center for Disease Control (CDC) dan
The National Institutes of Health mempunyai sistem pengkodeaan dari
peningkatan level keamanan dari laboratorium mikrobiologi dan klinik.
Tingkat biosafety (BSL) I yang dibuat untuk laboratorium yang
menggunakan bahan biasanya tidak infeksius terhadap manusia.
Bekerja dengan menggunakan benchtop yang terbuka. Praktek
laboratorium yang baik meliputi penggunaan alat pipetasi, pembersihan
tumpahan, desinfetan harian, dan pembuangan limbah yang baik.
Laboratorium klinik seharusnya mengikuti BSL II. BSL II berbeda
dengan BSL I pada akses ke tempat kerja yang seharusnya dijaga ketat
dari individu yang belum terlatih dan prosedur yang jelas seperti aerosol
yang menimbulkan infeksi dilakukan di BSC. BSL II efektif dalam
pengendalian bahaya infeksi dari agen yang ada dalam darah pada
spesimen laboratorium klinik. Prosedur bakteriologik secara rutin
seperti meletakkan dan mempersiapkan hapusan untuk pengecatan
diselenggarakan dalam BSL II. Pemeriksaan parasit, penelitian bakteri,
dan beberapa kultur virus dan jamur lebih aman bila dengan tindakan
pencegahan dalam BSL II. BSL III sesuai dengan laboratorium yang
bekerja dengan agen yang dapat menyebabkan penyakit yang fatal bila
terhirup. Akses ke laboratorium dan aliran dikendalikan secara cermat.
Semua prosedur dilakukan dalam BSC atau alat yang seusai. Pekerja
harus memakai pakaian pelindung yang lengkap. Sebagian kecil
laboratorium klinik yang mengkultur jamur sistemik dan tuberkulosis
butuh melanjutkan ke BSL III.
2.3.8 Dekontaminasi
Beberapa prosedur dan teknik yang mengurangi infektifitas dari
substansi atau bahan menjadi tingkat lebih aman (noninfektif) disebut
dekontaminasi. Germisida adalah istilah umum untuk semua substansi
yang dapat membunuh kuman patogen. EPA membagi germisida
menjadi 3 kategori umum. Sterilisasi penghancuran secara komplet
semua kuman infeksius ( termasuk mikobakteria dan spora).
Desinfektan sangat efektif melawan mikroorganisme yang terseleksi.
Desinfektan diproduksi tergantung dari spektrum aktivitas tertentu.
Desinfektan mungkin tidak efektif melawan spora bakteri dan
mikobakteria. Antiseptik adalah bahan kimia pembunuh kuman yang
cocok untuk kulit, jaringan dan membran mukosa. Antiseptik sebaiknya
tidak digunakan untuk desinfektan laboratorium. Sampel darah atau
jaringan yang tumpah harus dibersihkan dan didekontaminasi.
Kebersihan diri dengan memakai dan menggunakan alat pengaman
keselamatan kerja. Forsep atau sekop digunakan untuk membersihkan
pecahan gelas tanpa harus kontak manual. Protein dan lemak dalam cat
dapat menginaktifkan desinfektan kimia atau sebagai barier sekitar agen
infeksius. Oleh karena itu, sisanya kemudian dicuci dengan detergen
dan air. Setelah semua darah yang terlihat dibersihkan, gunakan
desinfektan yang sesuai. Larutan yang baru. 1:10 larutan pemutih (
5,25% sodium hipoklorit). Formula iodofor merupakan desinfektan kuat
yang bisa juga digunakan. Aldehid ( dalam larutan glutaraldehid atau
formaldehid) dan fenol juga efektif namun toksik; bahan hanya
digunakan pada ruang dengan ventilasi yang adekuat atau dengan
masker asap kimia.
Dekontaminasi pada instrumen laboratorium sebaiknya
dilakukan secara teratur. Frekuensinya tergantung dari penggunaannya.
Personel sebaiknya memakai sarung tangan selama beraktivitas..
Tumpahan pada alat segera dibersihkan dan didesinfektan. Potensi
paparan dapat diminimalkan dengan cara yang sederhana. Kerusakan
tabung dalam sentrifuse, rotor harus ditunggu sampai benar-benar
berhenti sebelum membuka penutupnya; sehingga droplet yang melalui
udara mengendap. Pecahan kaca diambil dengan forsep. Bagian luar
dibersihkan dengan deterjen dan desinfektan.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa:
1. Laboratorium klinik atau laboratorium medis ialah laboratorium di
manaberbagai macam tes dilakukan pada spesimen biologis untuk
mendapatkan informasi tentang kesehatan pasien. Labratorium ini terdiri
dari berbagai jenis pemeriksaaan.
2. Bekerja dalam laboratorium klinik mempunyai resiko terkena bahan kimia
maupun bahan yang bersifat infeksius.
3. Alat Pelindung Diri (APD) merupakan peralatan pelindung yang
digunakan oleh seorang pekerja untuk melindungi dirinya dari kontaminasi
lingkungan.
3.2 Saran
Dengan melihat banyaknyanya penyabab kecelakaan yang terjadi di dalam
laboratorium klinik/medik maka disarankan kepada para praktikan dalam
bekerja harus mematuhi peraturan dan harus sesuai dengan SOP yang berlaku.
DAFTAR PUSTAKA
Sukma, A. 2011. Laboratorium medik. Surabaya : Stikom Surabaya
file:///C:/Users/USER/Downloads/Makalah%20k3.htm. Diakses pada tanggal 15
mei 2017
http://ewyhimawary.blogspot.co.id/2011/04/apd-di-laboratorium.html. Diakses
pada tanggal 15 mei 2017