Anda di halaman 1dari 21

Kelompok 2 Kelumpuhan Tungkai

Laporan Tutorial
Kelumpuhan Tungkai

DISUSUN
OLEH :

KELOMPOK IV

Ketua : Ernest C.W Gulo (14000031)

Sekretaris : Butet Desniar Gultom (14000019)

Anggota Kelompok : Micheel Sarah (14000002)

Andri Tambunan (14000005)

Eva Rehulina Simarsoit (14000008)

Putri Rahmi Maharani (14000014)

Hermina Sridayanti Limbong (14000011)

Fransiskus Xaverius Manik (14000023)

Hanna Tashia Claudia (14000050)

~0~
Kelompok 2 Kelumpuhan Tungkai

Pemicu

Seorang laki-laki berusia 21 tahun, mendadak mengalami kelumpuhan pada kakinya


kanannya sejak beberapa jam yang lalu. Kelumpuhan dirasakan setelah penderita ditusuk oleh
perampok pada punggungnya. Setelah dilakukan pemeriksaan didapatkan bahwa luka tusuk
berada setentang torakal 10.

More info I

Pada pemeriksaan fisik didapatkan kelumpuhan bersifat spastic dengan kekuatan otot tungkai
kanan 1, dan juga dijumpai berkurangnya rasa raba dan nyeri pada tungkai kiri. Didapatkan
adanya refleks patologis pada tungkai kanan serta refleks fisiologi yang meningkat.

Masalah
1. Kelumpuhan pada kaki kanan sejak beberapa jam yang lalu.
2. Luka tusuk setentang torakal 10

Analisa masalah

Kelumpuhan

UMN LMN

Kerusakan di atas inti Kerusakan pada Inti/


kaki dibawah inti kaki

Trauma torakal 10

Kaki kanan : Kaki kiri :

1.Motorik Terganggu 1.Exteroseptif terganggu :

2. Proprioseptif Raba , Nyeri


Terganggu : Spastik,
fisiologis , Babinski (+)

Hipotesa

Kelumpuhan tipe UMN et causa Trauma Medula Spinalis

Learning Issue

1. Anatomi Medula Spinalis


2. Fisiologi LMN, UMN, Eksteroseptif, Proprioseptif serta Jaras asendens dan desendens
3. Patogenesis kelumpuhan UMN dan LMN
4. Diagnosa Banding Kelumpuhan
5. Tipe-tipe kelumpuhan
6. Patofisiologi Kasus
7. Penatalaksanaan dan Indikasi Merujuk
8. Komplikasi dan Prognosis trauma medulla spinalis

~1~
Kelompok 2 Kelumpuhan Tungkai

Pembahasan Learning Issue

1. Anatomi Medula Spinalis

Medulla spinalis berbentuk silinder memanjang & terletak seluruhnya di dalam canalis
vertebralis yang dilindungi oleh kolumna vertebralis. Berasal dari otak bagian dasar kemudian
masuk menuju Foramen Magnum dan beredar di kanalis vertebralis dan berakhir di Lumbal 1 &
2 yang dinamakan caudal medularis. Dibagian bawah nya dilanjuti berfilamen yang dinamakan
conus medulari. Pada orang dewasa panjang medula spinalis ini adalah 43-45cm.

Pada awal pertumbuhan medula spinalis dan vertebra ini sama panjang, beranjak dewasa
pertumbuhan vertebra lebih progresif sehingga panjang vertebra kini lebih panjang dari pada
medula spinalis ketika dewasa.

Pada medula spinalis terdapat 3 lapisan yang melindunginya ;

1. Durameter
2. Arachnoid
3. Piameter

~2~
Kelompok 2 Kelumpuhan Tungkai

Pada medula spinalis terdapat 2 substansi yang bekerja :


1. Substansi Alba

Terdiri dari serabut yang sedikit bermielin


Berjalan sejajar dengan sumbu panjang
Tidak mempunyai badan sel

2. Substansi Grisea

Terdiri dari badan sel, sebagian besar tanpa mielin


Jumlah substansia gricea pada tiap ketinggian medulla spinalis berhubungan dengan
banyaknya persarafan perifer.
Substansia gricea pada segmen setinggi intumesensia servikal dan lumbosakral besar
karena mensarafi anggota gerak atas dan bawah
Segmen torakal dan lumbal atas mempunyai substansia grisea yang relatif sedikit, ok
mensarafi daerah torak dan abdomen.

~3~
Kelompok 2 Kelumpuhan Tungkai

Sirkulasi Darah Medulla Spinalis

Medulla spinalis mendapat darah dari sejumlah arteri spinalis yang merupakan cabang
dari : a.vertebralis, a.cervicalis ascendens, a.cervicalis interna, a.intercostalis, a.lumbalis dan
a.sakralis. Arteri spinalis berjalan bersama saraf spinal menyusup melalui duramater membagi
menjadi a.radikular dorsal dan a.radikular ventral. Cabang arteri spinalis:

a.spinalis anterior
a.spinalis posterior
vasokorona arteria : anastomose dari cabang-cabang arteri spinalis anterior dan
posterior(1)
Traktus Pada Medula Spinalis

Traktus pada medula spinalis terbagi menjadi 2 :

1. Traktus Ascendens

Tractus pada Funiculus Anterolateralis

Tractus spinothalamicus posterior : serabut radiks posterior aferen berakhir pada sel
substansia gelatinosa, menyilang di commisura alba, dan naik ke thalamus dalam
funiculus lateralis.
Tractus spinothalamicus anterior: serabut afferan berakhir pada radiks dorsalis,
menyilang ke sisi sebelahnya dan naik melalui funiculus anterior menuju thalamus.
Tractus spinotectalis

Tractus pada funiculus posterior

Fasciculus gracilis (Goll) dan fasciculus cuneatus (Burdach), serabut-serabut bermielin


tebal ini naik langsung melalui columna posterior homolateral tanpa sinaps

Tractus pada funiculus lateralis

Tractus spinocerebellaris posterior, dari nukleus dorsalis ( clarke) menuju cerebellum


pada funiculus lateralis ipsilateral.
Tractus spinocerebellaris anterior, dari radiks posterior naik pada sisi yang sama dan sisi
sebelahnya di pinggir ventrolateral medulla spinalis menuju cerebellum.
Tractus spino-olivarius
Tractus spinovestibularis

~4~
Kelompok 2 Kelumpuhan Tungkai

2. Traktus Descendens

Tractus piramidal
- Kortikospinalis
- Kortikobulbaris
Tractus extrapiramidalis

Traktus Kortikospinalis

Traktus kortikospinalis terletak pada bagian lobus frontalis kemudian turun dan
menyatu di kapsula interna. Di kapsula interna terbagi menjadi 3 cabang serabut, 2
serabut bagian depan nantinya akan menpersarafi N I N XI & serabut di bagian
belakang akan melanjutkan sinyal dan akan turun kemesensepalon. Di mesensepalon
serabut itu kemudian menuju pons dan berlanjut kemedula oblongata.

~5~
Kelompok 2 Kelumpuhan Tungkai

Dimedula oblongata terjadi persilangan serabut, Sebagian besar serabut akan


kontralater menyilang, dan serabut sedikit akan berlanjut kebawah tanpa persilangan
(ipsilateral). Tempat persilangan serabut itu dinamakan decusatio piramidalis.
Serabut saraf tadi kemudian turun ke medula spinalis. Dimedula spinalis traktus
yang beserabut tadi kemudian menuju tempatnya sedangkan yang serabut sedikit akan
menuju serabut banyak untuk bergabung sehingga mempersarafi bagian ekstremitas atas
dan bawah.(2)

2. Fisiologi LMN, UMN, Eksteroseptif, Proprioseptif serta Jaras asendens


dan desendens
Otot-otot skeletal dan neuron-neuron menyusun susunan neuromuskular voluntar, yaitu
sistem yang mengurus dan sekaligus melaksanakan gerakan yang dikendalikanoleh kemauan.
Secara anatomik sistem tersebut terdiri atas (1) upper motor neuron, (2) lower motor neuron, (3)
alat penghubung antara unsur saraf dan unsur otot dan, (4) otot skeletal. Gaya saraf yang
disalurkan melalu lintasan-lintasan neuronal adalah potensial aksi, yangsejak dulu dijului impuls
dan tidak lain berarti pesan. Dan impuls yang disampaikan kepada otot sehingga menghasilkan
gerak otot dinamakan impuls motorik. Pembagian UMN dan LMN:

Upper Motor Neuron/UMN

Motoneurons that originate in the cerebral cortex (motor strip), terminating in the
brainstem or spinal cord.

~6~
Kelompok 2 Kelumpuhan Tungkai

UMNs in the pyramidal tract directly synapse with LMNs.

UMNs in the extrapyramidal tract synapse with neurons in the red nucleus or the reticular
formation.

UMNs that provide contralateral innervation to LMNs are on the opposite side of the
brain as the muscle, UMNs that provide bilateral innervation to LMNs "talk" to muscles
on both sides of the body.

UMNs course through the corona radiata, internal capsule, cerebral peduncle, and finally
synapse in the midbrain/pons/medulla/spinal cord.

Semua neuron yang menyalurkan impuls motorik ke LMN tergolong dalam kelompok UMN.
Berdasarkan perbedaan anatomik dan fisiologik kelompok UMN dibagi dalam susunan piramidal
dan susunan ekstrapiramidal. Susunan piramidal dibagi menjadi jaras kortikospinal dan
kortikobulbar. Neuron tersebut merupakan penghuni gyrus presentralis, oleh karena itu maka
gyrus tersebut dinamakan korteks motorik. Mereka berada dilapisan ke V dan masing-masing
memiliki hubungan dengan gerak otot tertentu. Melalui akson neuron korteks motorik
menghubungi motoneuron yang membentuk inti motorik saraf kranial dan motoneuron di kornu
anterius medula spinalis.

Diperbatasan
antara medula
oblongata dan medula
spinalis, serabut-
serabut kortikospinal
sebagian besar
menyilang dan
membentuk jaras
kortikospinal lateral
yang berjalan
difunikulus
posterolateralis
kontralateralis.
Sebagian dari mereka
tidak menyilang tapi
melanjutkan ke
medula spinalis di
funikulus ventralis
piramidalis ventralis.

Sepanjang batang otak, serabut kortikobulbar meninggalkan kawasan mereka (didalam


pedunkulus serebri, pespontis dan akhirnya di piramis), untuk menyilang garis tengah dan
berakhir secara langsung di motorneuron saraf kranial motorik atau interneuronnya disisi

~7~
Kelompok 2 Kelumpuhan Tungkai

kontralateral. Sebagian dari serabut kortikobulbar berakhir di inti-inti saraf kranial motorik sisi
ipsilateral juga.

Berbeda dengan uraian yang sederhana tentang susunan piramidal, susunan


ektrapiramidal terdiri atas komponen-komponen yakni; korpus striatum, globus palidus, inti2
talamik, nukleus subtalamikus, substansia nigra, formatio retikularis batang otak, serebelum &
korteks motorik tambahan (area 4, 6 & 8). Komponen2 tsb dihubungkan satu dengan lain oleh
akson masing2 komponen yg akan membentuk lintasan melingkar/ sirkuit. (sirkuit striatal
prinsipal & 3 sirkuit striatal penunjang). Data yang tiba di seluruh neokorteks akan diserahkan
kpd korpus striatum/ globus palidus/ talamus untuk diproses menjadi output.

~8~
Kelompok 2 Kelumpuhan Tungkai

~9~
Kelompok 2 Kelumpuhan Tungkai

Lower Motor Neuron/LMN

Motoneurons that originate in the brainstem (cranial nerves) or spinal cord (spinal
nerves), terminating at the neuromuscular junction (muscles).

All LMNs innervate ipsilateral muscles (the muscle and the LMN that innervates it are
always on the same side).

LMNs receive input from upper motor neurons from the opposite side of the brain
(contralateral UMN innervation) or from both sides of the brain (bilateral UMN
innervation).

Neuron-neuron yang menyalurkan impuls motorik pada bagian perjalanan terakhir ke sel
otot skeletal dinamakan lower motor neuron atau final common path. LMN dibagi menjadi -
motoneuron, neuron berukuran besar yang menjulurkan akson tebal ke ekstrafusal & -
motoneuron yang berukuran kecil yang aksonnya halus mensyarafi serabut otot intrafusal.
Dengan perantara motoneuron tersebut, impuls motorik dapat mengemudikan keseimbangan
tonus otot yang diperlukan untuk mewujudkan setiap gerakan. Tiap motoneuron menjulurkan
satu akson yang ujungnya bercabang dan setiap cabang mensyarafi seutas serabut otot. Tugas
untuk menghambat gerak otot adalah sel interneuron yang menjadi penghubunga antara
motoneuron dengan pusat eksitasi atau pusat inhibisi.

Eksteroseptif & Propioseptif

Eksteroseptif merupakan perasaan yang berasal dari alat perasa pada kulit dan mukosa yang
bereaksi terhadap rangsang dari luar atau perubahan disekitarnya. Pokok perasaan protopatik
adalah rasa raba, nyeri, dan suhu. Sedangkan rangsang yang berasal dari dalam (otot, tendon,
persendian) disebut propioseptif yang meliputi rasa tekan, getar, peregangan, penarikan, dll.(3)

~ 10 ~
Kelompok 2 Kelumpuhan Tungkai

3. Patogenesis kelumpuhan UMN dan LMN


a. Patogenesis paresis spastik pada UMN
Pada fase akut lesi di traktus kortikospinalis, refleks tendon profunda akan bersifat
hipoaktif dan terdapat kelemahan flaksid pada otot. Refleks muncul kembali beberapa
hari atau beberapa minggu kemudian dan menjadi hiperaktif, karena spindel otot
berespons lebih sensitif terhadap regangan dibandingkan dalam keadaan normal, terutama
fleksor ekstremitas superior dan ekstensor ekstremitas inferior. Hipersensitivitas ini
terjadi akibat hilangnya kontrol inhibisi sentral desendens pada sel-sel fusimotor (neuron
motor ) yang mempersarafi spindel otot. Dengan demikian, serabut-serabut otot
intrafusal teraktivasi secara permanen (prestretched) dan lebih mudah berespons terhadap
peregangan otot lebih lanjut dibandingkan normal. Gangguan sirkuit regulasi panjang
otot mungkin terjadi, yaitu berupa pemendekan panjang target secara abnormal pada
fleksor ekstremitas superior dan ekstensor ekstremitas inferior. Hasilnya adalah
peningkatan tonus spastik dan hiperrefleksia, serta tanda-tanda traktus piramidalis dan
klonus. Diantara tanda-tanda traktus piramidalis tersebut terdapat tanda-tanda yang sudah
dikenal baik pada jari-jari tangan dan kaki, seperti Tanda Babinski (ekstensi tonik ibu jari
kaki sebagai respons terhadap gesekan di telapak kaki)(4).
Lesi UMN menggangu keseimbangan input inhibitor dan eksitatorik dari supraspinal,
menyebabkan disinhibisi refleks spinal. Hal ini mencakup refleks propioseptif (regangan)
dan nosiseptif (fleksor dan ekstensor). Namun, perubahan pada eksitabilitas refleks spinal
tidak hanya karena ketidakseimbangan dari kontrol supraspinal. Onset yang progresif
(awal kelemahan flaksid, beberapa hari atau beberapa minggu menjadi kelemahan
spastik) dan berkurangnya refleks eksitabilitas secara progresif, menandakan adanya
plastisitas dari CNS.(5)

b. Patogenesis paresis spastik pada LMN(6)


Lower Motorneuron,Tanda-tanda kelumpuhan LMN :

Seluruh gerakan, baik yang voluntary maupun yang reflek totik tidak dapat dibangkitkan.
Ini berarti bahwa kelumpuhan disertai oleh :

Hilangnya reflex tendon


Tak adanya reflaks patologik
Karena lesi LMN ini, maka bagian eferen lengkung reflex, berikut gamma loop
tidak berfungsi lagi, sehingga:
Tonus otot hilang
Musnahnya moto neuron berikut dengan aksonnya berarti pula bahwa
kesatuan motoric runtuh, sehingga:
Atrofi otot cepat terjadi

~ 11 ~
Kelompok 2 Kelumpuhan Tungkai

Perbedaan UMN dan LMN


Karakteristik UMN LMN

Jenis dan distribusi kelemahan Lesi di otak : distribusi piramidalis Bergantung LMN yang
yaitu bagian distal terutama otot-otot terkena yaitu segmen
tangan, ekstensor lengan dan fleksor radiks, atau saraf yang
tungkai lebih lemah. Lesi di medulla mana.
spinalis :bervareasi bergantung lokasi
lesi.

Tonus Spastisitas : lebihnya pada fleksor Flaksid


lengan dan ekstensor tungkai

Massa otot Hanya sedikit mengalami disuse atropi Atropi dapat sangat
jelas

Refleks Meninggi : Babinski positif Menurun atau tidak ada


: Babinski negatif

Fasikulasi Tidak Ada

Klonus Seringkaliada Tidak ada.

~ 12 ~
Kelompok 2 Kelumpuhan Tungkai

4. Diagnosa Banding Kelumpuhan

Nama Defenisi Etiologi Tanda & Gejala Pemeriksaan Pemeriksaan


Penyakit Fisik Penunjang
Trauma Cedera pada Trauma Nyeri, kelemahan dan Fungsi X-Ray Spinal
medulla tulang kelumpuhan motorik : ( {menentukan
spinalis belakang baik ekstremitas, hemiplegia, lokasi dan
langsung inkontinensia urine paraplegia, jenis cedera
maupun tidak dan inkontinensia alvi, tetraplegia) tulang (fraktur
langsung, nyeri tekan Fungsi atau dislokasi)]
yang otot,hiperestesia tepat sensorik : CT Scan
menyebabkan di atas daerah trauma, (hemianastesi Spinal {untuk
lesi di dan deformitas pada a, menentukan
medula daerah trauma. hemihipestesi tempat
spinalis a) luka/jejas,
sehingga Fungsi mengevaluasi
menimbulkan otonom gangguan
gangguan :(ileus, struktural },
neurologis konstipasi, - MRI Spinal
hipotensi, {untuk
bradikardi, mengidentif
retensi urin, ikasi
hipotermi) kerusakan
syaraf
spinal,
edema dan
kompresi},
Mielografi
Sindrom Suatu Infeksi 2-4 minggu setelah Pemeriksaan 1. Pemeriksaa
Guillain kelainan Vaksini infeksi muncul fungsi
n LCS
Barre sistem sasi keluhan kelemahan motoric,
kekebalan Penyak otot proksimal fungsi 2. Pemeriksaa
tubuh it ekstremitas bawah dan sensorik, dan
n EMG
manusia yang sistemi berkembang fungsi
menyerang k: melibatkan lengan, otonom. 3. Pemeriksaa
bagian dari Keganasan saraf cranial dan otot
n MRI
susunan saraf SLE pernapasan
tepi dirinya - Tiroiditis -
sendiri Keluhan
dengan Umum
karekterisasi Diplopi
berupa a,
kelemahan oftalmo
atau plegia,
arefleksia paraste
dari saraf sia
motorik yang dimulai
sifatnya dari
progresif kaki
Rasa
sakit
Perubahan
Otonom
Takikar
di,bradi
kardi,
hiperte
nsi dan
retensi
urin
~ 13 ~
Kelompok 2 Kelumpuhan Tungkai

Keluhan
pernapasan
yang khas
Dyspne
a pada
saat
aktivita
s
Sesak napas dan bicara
cadel

Tumor Tumor yang Genetik Kelemahan plastik Pemeriksaan - Pungsi


Medula berkembang pada ekstremitas fungsi Lumal
Spinalis dalam tulang bagian bawah motoric, - Mielografi
belakang atau Parestesia fungsi - CT Scan
isinya dan Nyeri dan perasaan sensorik, dan - MRI
biasanya terjepit dan fungsi
menimbulkan tertekan pada dada otonom.
gejala akibat dan abdomen
terkibatnya Refleks perut
medula bagian bawah dan
spinalis atau tanda Beevor dapat
radiks saraf. menghilang

Stroke(7) Kondisi yang - Trombosis a. Perdarahan Pemeriksaan - Pungsi


terjadi ketika - Lakunar intraserebral fungsi Lumbal
pasokan - Embolisme - Onset perdarahan motoric, - CT Scan
darah ke otak - Aneurisma bersifat mendadak fungsi - MRI
terputus Berry - Penurunan sensorik, dan
akibat kesadaran yang fungsi
penyumbatan berat sampai koma otonom.
atau - Tanda penekanan
pecahnya batang otak
pembuluh - Dapat dijumpai
darah, tanda-tanda TIK
sehingga
terjadi b.Perdarahan
kematian sel Subarakhnoid
sel pada - Onset berupa nyeri
sebagian area kepala mendadak
di otak. - Penurunan
kesadaran & sadar
dalam beberapa
menit/jam
- Dijumpai gejala
rangsang meningen
- Perdarahan retina
- Gangguan fungsi
otonom

~ 14 ~
Kelompok 2 Kelumpuhan Tungkai

5. Tipe-tipe kelumpuhan(4)
1.Monopharese
Monopharese

Definisi Etiologi Patogenesis

Kelemahan pada satu


extremitas,ekstremitas Trauma Medula spinalis Contoh kasus : lesi di
bawah saja atau
extremitas atas saja.
T10proprioseptif searah
dengan letak
lesi,eksteroseptif bersilang
di medula spinalis jadi
berbalik
arahproprioseptif kanan
sejalan dengan
eksteroseptif kiri,
proprioseptif kiri sejalan
dengan eksteroseptif
kananlesi ada di sebelah
kananproprioseptif
(motorik)kanan terganggu
dan extero septif(sensorik)
kiri terganggu

2.Parapharese

Parapharese

Definisi Etiologi Patogenesis

Kelemahan Trauma/spinal cord


pada kedua Spinal Cord
extremitas Compression, compressionlesi di
bawah Poliomyelitis, T2-T12, L1-
L5terjadi
Trauma. kerusakan di medula
spinalis yang
menekan
saraflesinya di
tengah kedua
kstremitas bawah
mengalami
kelumpuhan

~ 15 ~
Kelompok 2 Kelumpuhan Tungkai

3.Tetrapharese

Tetrapharese

Definisi Etiologi Patogenesis

Kelemahan Trauma medula Contoh kasus : lesi di C1-


pada spinalis, C4(tanganUMN kaki
ke empat ,UMN),C5-T1(Tangan
ekxtremitas Infeksi.
UMN,Kaki LMN)jika
lesi ada di C3 maka
jenis kelumpuhannya
UMNmaka impuls
tidak bisa berjalan ke
tangan maupun kaki
karna sudah berhenti di
C3kelumpuhan pda
keempat anggota gerak

4.Hemipharese

Hemipharese

Definisi Etiologi Patogenesis

Kelemahan pada satu Terdapat lesi di salah


sisi tubuh yaitu satu satu hemisfer otak (
ekstremitas atas dan Stroke, Tumor
cerebral, Abses otak. hemisfer kiri atau
satu ekstremitas hemisfer
bawah pada sisi yang kanan)impuls
sama melewati deccucasio
piramidalisterdapat
penyilangan saraf di
deccucasio
piramidalisitu
sebabnya jika lesi di
hemisfer kanan maka
seluruh anggota tubuh
sebelah kiri mengalami
kelumpuhan

~ 16 ~
Kelompok 2 Kelumpuhan Tungkai

6. Patofisiologi Kasus(9)
Trauma Medula Spinalis

Gangguan Jaras Motorik kaki kanan (menyilang di M.


Oblobngata) Terputusnya jaras
somatosensorik
Terputusnya traktus Terputusnya traktus
desenden traktus desenden traktus
extrapiramidalis piramidalis
Traktus spinotalamikus Traktus spinotalamikus
lateral anterior
Serabut saraf eferen
berlebihan thd spindle Gangguan traktus
otot kortikospinalis
Jalan impuls serabut terganggu/menurun

Hipertonisitas Eksteroseptif kaki kiri terganggu

(Menyilang di segmen T-10)


Spastik Refleks Babinski (+)

Reseptor Nyeri di Tidak terbentuk sinaps di


otot nucleus ventralis
Resistensi saat peregangan posterolateralis thalami

Apresiasi Raba
Inhibisi neurotendinosa

Otot Hiperaktif

Refleks fisiologis

Tekanan menghilang

~ 17 ~
Kelompok 2 Kelumpuhan Tungkai

7. Penatalaksanaan dan Indikasi Merujuk


Emergency

imobilisasi dengan gips atau alat penguat bertujuan untuk menahan dan
mengurangi dampak trauma yang terjadi, dan harus tetap menjaga konstipasi
dari benda untuk menjaga goresan atau beban yang di berikan.
Stabilisasi vertebra
Instabilisasi vertebra berisiko merusak saraf. Vertebra servikal dapat diimobilisasi
sementara menggunakan hard cervikal collar dan meletakan bantal pasir pada kedua sisi
kepala. Bila terdapat abnormalitas struktir vertebra, tujuan penatalaksanaan adalah
reallgnment dan fiksasi segmen bersangkutan, indikasi operasi meliputi fraktur tidak stabil,
fraktur yang tidak dapat di reduksi dengan traksi,gross spinalpada trauma inkomplet,
penurunan status neurologis, dan instabilitas menetap pada manajemen konservatif

Farmakologi
Kortikosteroid Sebagai anti inflamasi dan anti edema, Steroid berfungsi menstabilkan
membran, menghambat oksidasi lipid, mensuspensi edema vasogenik dengan memperbaiki
sawar darah medulla spinalis, menghambat respon radang. Obat steroid yang biasa di berikan
ialah Metilprednisolon. Pemberian cairan juga di butuhkan dalam kasus emergency, demi
menjaga keseimbangan elektrolit pada pasien dan menjaga kesadaran.

Fisioterapi
o Terapi fisik
terapi fisik difokuskan pada pergerakan. Terapi fisik membantu
mengembangkan cara untuk mengimbangi paralisis melalui penggunaan otot yang
masih mempunyai fungsi normal, membantu mempertahankan dan membentuk
adanya kekuatan dan mengontrol bekas yang dipengaruhinya pada otot dan
membantu mempertahankan ROM dalam mempengaruhi anggota badan untuk
mencegah otot dari pemendekan ( kontraktur ) dan terjadinya kecacatan. Jika
pertumbuhan kembali saraf yang diharapkan, terapi fisik menggunakan retrain
yang mempengaruhi anggota badan selama pemulihan. Terapi fisik juga
menggunakan peralatan yang sesuai seperti penyangga badan dan kursi roda.
o Terapi kerja
Fokus terapi kerjaadalah pada aktivitas sehari hari seperti makan dan
mandi. Terapi kerja mengembangkan alat dan tehnik khusus yang mengijinkan
perawatan sendiri dan jalan memberi kesan untuk memodifikasi rumah dan
tempat kerja bahwa pasien dengan kelemahannya bisa hidup normal.
o Terapi khusus lainnya
pasien membutuhkan pelayanan terapi pernafasan, konselor bagian
rahabilitasi, pekerja sosial, nutrisi, berbicara, guru pengajar khusus

Indikasi Rujukan
Jika terdapat tanda kompresi pada sumsum belakang karena deformitas fleksi, dislokasi,
fragmen tulang, atau hematom, maka diperlukan tindakan dekompres dan segera di rujuk
kepada dokter spesialis bedah saraf.(10)

~ 18 ~
Kelompok 2 Kelumpuhan Tungkai

8. Komplikasi dan Prognosis trauma medulla spinalis


a. Komplikasi

1. Sistem respirasi : Pneumonia


2. Sister kardiovaskular : Syok neurogenik
3. Sistem urologi : Retensi urin
4. Sistem Gastrointestinal : Ileus paralitik
5. Kulit : Ulkus dekubitus

b. Prognosis
Pasien dengan Trauma medula spinalis komplit kemungkinan untuk sembuh
sekitar 5%. Tapi jika pasien dengan Trauma medula spinalis komplit sesudah 72 jam
tidak mengalami perbaikan tidak ada kemungkinan untuk sembuh.(10)

Kesimpulan

Seorang laki-laki menderita kelumpuhan tipe UMN et causa trauma medulla spinalis
dengan SKDI-2.

~ 19 ~
Kelompok 2 Kelumpuhan Tungkai

Daftar Pustaka

1. Agur, Anne dan Keith L.M. 2002. Anatomi Klinis Dasar. Jakarta: Hipokrates
2. Daniel S. Wibowo. 2008. Neuroanatomi untuk Mahasiswa Kedokteran. Malang:
Bayumedia Publishing.
3. Hall & Guyton. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 11. Jakarta : EGC
4. Baehr, M., Frotscher, M. Diagnosis Topik Neurologi DUUS: Anatomi, Fisiologi, Tanda,
Gejala. Edisi 4. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2012.
5. Sheean, G. The Pathophysiology of Spasticity. 2002. Available from:
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/11918643 (Online, Diakses 25 Januari 2017)
6. Price Sylvia. A, dkk. 2005. Patofisiologi. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.
7. Snell, Richard S. Neuroanatomi Klinik. Ed. 7. Jakarta: EGC. 2011. Hal 172-176.
8. Chin, Lawrence S. Spinal Cord Injury. 2016. Available from:
https://emedicine.medscape.com/article/793582-overview (Online, Diakses 25 Januari
2017)

~ 20 ~