Anda di halaman 1dari 30

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Seorang wanita kerap mengalami keluhan nyeri berkepanjangan pada
daerah perut dan panggulnya.Nyeri tersebut merupakan gejala yang paling
sering dikeluhkan pada wanita yang bagian atas wanita yang sebagian
besar akibat hubungan seksual. Biasanya disebabkan oleh Neisseria
gonore dan Klamidia trakomatis dapat pual oleh organisme lain yang
menyebabkan vaginosis bacteriaPenyakit radang panggul adalah infeksi
saluran reproduksi bagian atas. Penyakit tersebut dapat mempengaruhi
endometrium (selaput dalam rahim), saluran tuba, indung telur,
miometrium (otot rahim), parametrium dan rongga panggul. Penyakit
radang panggul merupakan komplikasi umum dari Penyakit Menular
Seksual (PMS). Saat ini hampir 1 juta wanita mengalami penyakit radang
panggul yang merupakan infeksi serius pada wanita berusia antara 16-25
tahun. Lebih buruk lagi, dari 4 wanita yang menderita penyakit ini, 1
wanita akan mengalami komplikasi seperti nyeri perut kronik, infertilitas
(gangguan kesuburan), atau kehamilan abnormal.Terdapat peningkatan
jumlah penyakit ini dalam 2-3 dekade terakhir berkaitan dengan beberapa
faktor, termasuk diantaranya adalah peningkatan jumlah PMS dan
penggunaan kontrasepsi seperti spiral. 15% kasus penyakit ini terjadi
setelah tindakan operasi seperti biopsi endometrium, kuret, histeroskopi,
dan pemasangan IUD (spiral). 85% kasus terjadi secara spontan pada
wanita usia reproduktif yang seksual aktif.
Penyakit radang pelvis adalah suatu istilah umum bagi infeksi genital
yang telah menyebar ke dalam bagian-bagian yang lebih dalam dari alat
reproduksi wanita seperti rahim, tuba falopi dan/atau ovarium. Ini satu hal
yang amat mengkhawatirkan. Suatu infeksi serius dan sangat
membahayakan jiwa. Infeksi tersebut juga sangat umum. Satu dari 7
wanita Amerika telah menjalani perawatan karena infeksi ini dan kurang
lebih satu juta kasus baru terjadi setiap tahun, demikian menurut (Gay
Benrubi, M.D., profesor pada Division of Gynegology Oncology,
University of Florida di Jacksonville).
Kurang lebih 150 wanita meninggal per tahun sehingga cukup
beralasan untuk memperhatikan gangguan medis ini secara lebih serius.
Namun, ada pula kekhawatiran lainnya: Serangan infeksi ini diketahui
sangat meningkatkan resiko seorang wanita untuk menjadi mandul. Ketika
bakteri-bakteri yang menyerang menembus tuba falopi, mereka dapat
menimbulkan luka di sepanjang lapisan dalam yang lunak, menyebabkan
sukarnya sebuah telur masuk ke dalam rahim, demikian Dr. Benrubi
menerangkan. Pembuluh yang tertutup juga menyebabkan sukarnya
sperma yang sedang bergerak melakukan kontak dengan sel telur yang
turun. Akibatnya adalah perkiraan yang mengkhawatirkan berikut ini:
Setelah satu episode infeksi ini, resiko seorang wanita untuk menjadi
mandul adalah 10%.
Setelah infeksi kedua resikonya menjadi dua kali lipat yaitu 20%. Jika
wanita ini mendapatkan infeksi untuk ketiga kalinya, resikonya akan
melambung menjadi 55%. Secara keseluruhan, demikian Dr. Benrubi
memperkirakan, penyakit radang panggul menyebabkan kurang lebih
antara 125.000 hingga 500.000 kasus baru setiap tahun.
Kekhawatiran besar lainnya mengenai infeksi ini adalah bahwa
gangguan medis ini dapat meningkatkan resiko seorang wanita mengalami
kehamilan di luar kandungan sebesar enam kali lipat. Alasannya: karena
tuba falopi sering mendapatkan parut (bekas luka) yang timbul karena
infeksi ini, telur yang turun mungkin akan macet dan hanya tertanam di
dinding tuba. Kurang lebih 30.000 kehamilan di luar kandung per tahun
dapat dipastikan disebabkan oleh infeksi seperti ini, demikian kata Dr.
Benrubi. Itu masalah yang serius: Kehamilan di luar kandungan, demikian
katanya, "dewasa ini menjadi penyebab kematian ibu dengan prosentase
sebesar 15% dan dengan segera akan menjadi penyebab kematian ibu yang
paling sering terjadi.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana konsep medik dari Penyakit Radang Panggul
2. Bagaimana konsep Keperawatan dari Penyakit Radang Panggul
3. Bagaimana Tinjauan Jurnal dari Penyakit Radang Panggul
C. Tujuan
a. Umum
Untuk mengetahui bagaimana asuhan keperawatan penyakit radang
panggul serta menambah wawasan tentang penyakit radang panggul
b. Khusus
1. Untuk mengetahui konsep medik dari penyakit radang panggul
2. Untuk mengetahui konsep keperawatan dari penyakit radang panggul
3. Untuk mengetahui tinjauan jurnal dari penyakit radang panggul
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. KONSEP MEDIK

a. Defenisi
Pelvic Inflammatory Disease (PID) atau penyakit radang panggul
adalah infeksi pada organ reproduktif wanita seperti uterus, serviks,
ovarium, atau tuba fallopi. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri yang
ditularkan melalui hubungan seksual. Infeksi ini cenderung lebih cepat
menyebar pada saat menstruasi. penyakit radang panggul dapat melukai
tuba fallopi dan ovarium, yang mengakibatkan sulitnya untuk hamil
atau menyebabkan terjadinya kehamilan ektopik (berkembangnya fetus
di tuba fallopi).
Pelvic Inflammatory Disease (PID) adalah suatu kumpulan radang
pada saluran genital bagian atas oleh berbagai organisme, yang dapat
menyerang endometrium, tuba fallopi, ovarium maupun miometrium
secara perkontinuitatum maupun secara hematogen ataupun sebagai
akibat hubungan seksual. (widyastuti, rahmawati, & purnamaningrum,
2009)
Infeksi pelvis meruakan suatu istilah umum yang biasanya
digunakan untuk menggambarkan keadaan atau kondisi dimana organ-
organ pelvis (uters, tuba fallopi atau ovarium) diserang oleh
mikroorganisme pathogen. Organism-organisme ini biasanya
bakteri,mereka melakukan multiplikasi dan menghasilkan suatu reaksi
peradangan. (Ben-zion Taber, 1994).
Penyakit radang panggul adalah infeksi saluran reproduksi bagian
atas. Penyakit tersebut dapat mempengaruhi endometrium (selaput
dalam rahim), saluran tuba, indung telur, miometrum (otot rahim),
parametrium dan rongga panggul. Penyakit radang panggul merupakan
komplikasi umum dari penyakit menular seksual (PMS). Saat ini
hampir 1 juta wanita mengalami penyakit radang panggul yang
merupakan infeksi serius pada wanita berusia 16-25 tahun.Penyakit
radang pelvis adalah suatu istilah umum bagi infeksi genital yang telah
menyebar kedalam bagian-bagian yang lebih dalam dari alat reproduksi
wanita, seperti rahim, tuba fallopi dan/atau ovarium.

b. Etiologi
Apa sebenarnya yang menyebabkan terjadinya penyakit radang
panggul atau penyakit infeksi rahim? Infeksi menular seksual
merupakan penyebab utamanya. Maka, penyakit ini biasanya
menyerang perempuan yang mempunyai kehidupan seksual yang aktif.
Penyakit radang panggul disebabkan oleh infeksi pada rahim dan
bagian-bagiannya oleh bakteri atau jenis kuman lainnya. Dua bakteri
yang cukup sering menyerang dan mengakibatkan penyakit radang
panggul adalah kuman gonore dan juga klamidia yang juga merupakan
dua bakteri yang paling sering menyebabkan infeksi pada organ intin
pria dan perempuan.
Biasanya, awalnya kuman-kuman tersebut menginfeksi organ intim
perempuan, dengan atau tanpa gejala. Gejala yang dapat timbul dari
infeksi organ intim adalah keputihan dan nyeri berkemih, namun infeksi
ini juga sering tidak menimbulkan gejala yang berarti pada perempuan.
Infeksi ini nantinya akan naik ke atas hingga mencapai rahim, baik
leher rahim, dinding rahim maupun saluran telur. Maka, penting sekali
bagi kaum hawa untuk mengobati dan mengkonsultasikan kondisi
organ intimnya bila mengalami keluhan seperti muncul keputihan yang
banyak, berbau, berwarna dan juga nyeri saat berkemih.
Penyakit radang panggul terjadi apabila terdapat infeksi pada
saluran genital bagian bawah, yang menyebar ke atas melalui leher
rahim. Butuh waktu dalam hitungan hari atau minggu untuk seorang
wanita menderita penyakit radang panggul. Bakteri penyebab tersering
adalah N. Gonorrhoeae dan Chlamydia trachomatis yang menyebabkan
peradangan dan kerusakan jaringan sehingga menyebabkan berbagai
bakteri dari leher rahim maupun vagina menginfeksi daerah tersebut.
Kedua bakteri ini adalah kuman penyebab PMS. Proses menstruasi
dapat memudahkan terjadinya infeksi karena hilangnya lapisan
endometrium yang menyebabkan berkurangnya pertahanan dari rahim,
serta menyediakan medium yang baik untuk pertumbuhan bakteri
(darah menstruasi)

Faktor Risiko
Wanita yang aktif secara seksual di bawah usia 25 tahun berisiko
tinggi untuk mendapat penyakit radang panggul. Hal ini disebabkan
wanita muda berkecenderungan untuk berganti-ganti pasangan seksual
dan melakukan hubungan seksual tidak aman dibandingkan wanita
berumur. Faktor lainnya yang berkaitan dengan usia adalah lendir
servikal (leher rahim). Lendir servikal yang tebal dapat melindungi
masuknya bakteri melalui serviks (seperti gonorea), namun wanita
muda dan remaja cenderung memiliki lendir yang tipis sehingga tidak
dapat memproteksi masuknya bakteri. Faktor risiko radang panggul
berkaitan dengan keguguran, persalinan, aborsi, sering berganti
pasangan seksual, berhubungan seks tanpa pengaman (seperti kondom),
memiliki sejarah radang panggul dan infeksi menular seksual, memiliki
riwayat infeksi saluran kemih serta memakai alat kontrasepsi KB di
dalam rahimnya serta kebiasaan mencuci vagina atau vaginal douching.
Faktor risiko lainnya adalah:
a. Riwayat penyakit radang panggul sebelumnya
b. Pasangan seksual berganti-ganti, atau lebih dari 2 pasangan dalam
waktu 30 hari
c. Wanita dengan infeksi oleh kuman penyebab PMS
d. Menggunakan douche (cairan pembersih vagina) beberapa kali
dalam sebulan
e. Penggunaan IUD (spiral) meningkatkan risiko penyakit radang
panggul.
Risiko tertinggi adalah saat pemasangan spiral dan 3 minggu
setelah pemasangan terutama apabila sudah terdapat infeksi dalam
saluran reproduksi sebelumnya.

c. Patofisiologi

Infeksi dapat terjadi pada bagian manapun atau semua bagian


saluran genital atas endometrium (endometritis), dinding uterus
(miositis), tuba uterina (salpingitis), ovarium (ooforitis), ligamentum
latum dan serosa uterina (parametritis) dan peritoneum pelvis
(peritonitis). Organisme dapat menyebar ke dan di seluruh pelvis
dengan salah satu dari lima cara.

a. Interlumen
Penyakit radang panggul akut non purpuralis hampir selalu (kira-kira
99%) terjadi akibat masuknya kuman patogen melalui serviks ke
dalam kavum uteri. Infeksi kemudian menyebar ke tuba uterina,
akhirnya pus dari ostium masuk ke ruang peritoneum. Organisme
yang diketahui menyebar dengan mekanisme ini adalah N.
gonorrhoeae, C. Tracomatis, Streptococcus agalatiae,
sitomegalovirus dan virus herpes simpleks.
b. Limfatik
Infeksi purpuralis (termasuk setelah abortus) dan infeksi yang
berhubungan denngan IUD menyebar melalui sistem limfatik seperti
infeksi Myoplasma non purpuralis.
c. Hematogen
Penyebaran hematogen penyakit panggul terbatas pada penyakit
tertentu (misalnya tuberkulosis) dan jarang terjadi di Amerika
Serikat.
d. Intraperitoneum
Infeksi intraabdomen (misalnya apndisitis, divertikulitis) dan
kecelakaan intra abdomen (misalnya virkus atau ulkus
denganperforasi) dapat menyebabkan infeksi yang mengenai sistem
genetalia interna.
e. Kontak langsung
Infeksi pasca pembedahan ginekologi terjadi akibat penyebaran
infeksi setempat dari daerah infeksi dan nekrosis jaringan.

Terjadinya radang panggul di pengaruhi beberapa faktor yang


memegang peranan, yaitu:
a. Terganggunya barier fisiologik
Secara fisiologik penyebaran kuman ke atas ke dalam genetalia
eksterna, akan mengalami hambatan.
a) Diostium uteri internum
b) Di kornu tuba
c) Pada waktu haid, akibat adanya deskuamasi endometrium maka
kuman kuman pada endometrium turut terbuang. Pada ostium
uteri eksternum, penyebaran asenden kumankuman dihambat
secara : mekanik, biokemik dan imunologik. Pada keadaan
tertentu, barier fisiologik ini dapat terganggu, misalnya pada saat
persalinan, abortus, instrumentasi pada kanalis servikalis dan
insersi alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR)
b. Adanya organisme yang berperang sebagai vector.
Trikomonas vaginalis dapat menembus barier fisiologik dan
bergerak sampai tuba fallopi. Beberapa kuman pathogen misalnya E
coli dapat melekat pada trikomonas vaginalis yang berfungsi sebagai
vektor dan terbawa sampai tuba fallopi dan menimbulkan
peradangan di tempat tersebut. Spermatozoa juga terbukti berperan
sebagai vektor untuk kuman kuman N gonerea, ureaplasma
ureolitik, C trakomatis dan banyak kuman kuman aerobik dan
anaerobik lainnya.
c. Aktivitas seksual
Pada waktu koitus, bila wanita orgasme, maka akan terjadi kontraksi
utrerus yang dapat menarik spermatozoa dan kuman kuman
memasuki kanalis servikalis.
d. Peristiwa Haid
Radang panggul akibat N gonorea mempunyai hubungan dengan
siklus haid. Peristiwa haid yang siklik, berperan pentig dalam
terjadinya radang panggul gonore. Periode yang paling rawan
terjadinya radang panggul adalah pada minggu pertama setelah haid.
Cairan haid dan jaringan nekrotik merupakan media yang sangat
baik untuk tumbuhnya kuman kuman N gonore. Pada saat itu
penderita akan mengalami gejala gejala salpingitis akut disertai
panas badan. Oleh karena itu gejala ini sering juga disebut sebagai
Febril Menses.

d. Klasifikasi
Berdasarkan rekomendasi Infectious Disease Society for
Obstetrics & Gynecology, USA, Hager membagi derajat radang
panggul menjadi :

Derajat I : Radang panggul tanpa penyulit (terbatas pada tuba


danovarium ), dengan atau tanpa pelvio peritonitis.
Derajat II : Radang panggul dengan penyulit (didapatkan masa
radang, atau abses pada kedua tuba ovarium) dengan atau
tanpa pelvio peritonitis.
Derajat II : Radang panggul dengan penyebaran diluar organ-organ
pelvik, misal adanya abses tubo ovarial.

a. Endometritis adalah peradangan dari endometrium, lapisan mukosa


bagian dalam uterus, disebabkan oleh invasi bakteri. Endometrisis
adalah suatu peradangan pada endometrium yang biasanya disebakan
oleh infeksi bakteri pada jaringan. Endometritis paling sering
ditemukan terutama :
a) Setelah seksio sesarea
b) Partus lama atau pecah ketuban yang lama.
Endometritis terdapat dua jenis yakni endometritis akut dan
endometritis kronica.
a) Endometritis akut
Pada endometritis akut endometrium mengalami edema dan
hiperemi terutama terjadi pada post partum dan post abortus.
b) Endometritis kronica tidak sering ditemukan. Pada pemeriksaan
microscopic ditemukan banyak sel-sel plasma dan limfosit.
b. Parametrisis (cellulitis pelvis) adalah peradangan parametrium,
jaringan penyambung pelvis yang mengelilingi uterus.
c. Salpingitis adalah peradangan tuba fallopi.
d. Ooforitis adalah peradangan ovarium .
e. Myometrisis
Biasanya tidak bediri sendiri tetapi lanjutan dari endometritis, ,maka
gejala-gejala dan terapinya sama dengan endometritis. Diagnose
hanya dapat dibuat secara patologi anatomis.
f. Pelvioperitonitis (perimetritis)
Biasanya terjadi sbagai lanjutan dari salpingoophoritis. Kadang-
kadang terjadi dari endometritis atau parametritis.
Pelvioperitonitis dapat menimbulkan perlekatan-perlekatan dari
alat-alat dalam rongga panggul dengan akibat perasaan nyeri atau
ileus. Dapat dibedakan menjadi 2 bentuk :
1. Bentuk yang dapat menimbulkan perlekatan-perlekatan tanpa
pembentukan nanah.
2. Bentuk dengan pembentukan nanah yang menimbulkan douglas
abses
e. Manifestasi Klinis
Sebenarnya apa itu arti penyakit radang panggul? Radang panggul
adalah suatu penyakit yang menyerang organ perempuan, yaitu rahim
dan bagian-bagiannya seperti indung telur (ovarium), saluran telur (tuba
falopi), leher rahim (cervix), rahim dan juga organ lainnya disekitar
rahim. Penyakit ini hampir ekslusif disebabkan oleh infeksi bakteri.
Jadi, istilah infeksi rahim sebenarnya masuk ke dalam penyakit radang
panggul, karena pada infeksi rahim pun terjadi radang pada rahim yang
disebabkan oleh infeksi bakteri. Penyakit ini eksklusif menyerang
perempuan yang telah aktif secara seksual.
Lalu, apa gejala, tanda dan ciri-ciri radang panggul? Apakah
berbahaya? Gejala radang panggul dapat bermacam-macam, mulai dari
tidak menimbulkan gejala, munculnya keputihan hingga nyeri pada
daerah panggul dan perut bawah. Tidak jarang, penyakit radang
panggul atau penyakit infeksi rahim ini akan mengganggu kehidupan
seksual seorang perempuan, karena dapat menimbulkan rasa nyeri
ketika berhubungan intim. Mengenal gejala penyakit ini sangatlah
penting untuk membuat semua perempuan waspada, karena komplikasi
yang ditimbulkan penyakit radang panggul bukanlah kondisi yang
mudah disembuhkan. Berikut kami sajikan gejala dan ciri-ciri radang
panggul yang dapat terjadi pada perempuan:
Nyeri yang terus menerus pada perut bagian bawah
Demam yang sering muncul, baik terus menerus maupun hilang
timbul
Keluarnya keputihan dari organ intim, kadang berwarna dan berbau
serta memiliki jumlah yang banyak
Nyeri yang dirasakan saat berhubungan intim
Keluarnya darah selesai dan sesaat berhubungan intim
Sensasi terbakar ketika berkemih atau di akhir berkemih
Munculnya perdarahan atau flek di antara waktu siklus menstruasi
(yang seharusnya tidak keluar)
Beberapa Tanda dan Gejala yang terlihat pada pemeriksaan fisik dan
ginekologik :

a. Pemeriksaan fisik
a) Suhu tinggi disertai takikardi.
b) Nyeri suprasimfisis terasa lebih menonjol dari pada nyeri
dikuadran atas abdomen.
c) Bila sudah terjadi iritasi peritoneum, maka akan terjadi rebound
tenderness, nyeri tekan, dan kekakuan otot perut sebelah bawah.
d) Tergantung dari berat dan lamanya keradangan, radang panggul
dapat pula disertai gejala ileus paralitik.
e) Dapat disertai metroragi, menoragi.

b. Pemeriksaan ginekologik
Pada pemeriksaan ginekologik didapatkan :

a) Pembengkakan dan nyeri pada labia didaerah kelenjar Bartholini.


b) Bila ditemukan flour albus purulen, umumnya akibat kuman N.
gonore. Sering kali juga disertai perdarahan-perdarahan ringan
diluar haid, akibat endometritis akuta.
c) Nyeri daerah parametrium, dan diperberat bila dilakukan gerakan-
gerakan pada servik.
d) Bila sudah terbentuk abses, maka akan teraba masa pada adneksa
disertai dengan suhu meningkat. Bila abses pecah, akan terjadi
gejala-gejala pelvioperitonitis atau peritonitis generalisata,
tenesmus pada rectum disertai diare.
e) Pus ini akan teraba sebagai suatu massa dengan bentuk tidak
jelas, terasa tebal dan sering disangka suatu subserous mioma.
f) Pemeriksaan inspekulo memberikan gambaran : keradangan akut
serviks, bersama dengan keluarnya cairan purulen.
g) Pecahnya abses tubo ovarial secara massif, memberikan
gambaran yang khas. Rasa nyeri mendadak pada perut bawah,
terutama terasa pada tempat rupture. Dalam waktu singkat seluruh
abdomen akan terasa nyeri karena timbulnya gejala perioritas
generalisata. Bila jumlah cairan purulen yang mengalir keluar
banyak akan terjadi syok. Gejala pertama timbulnya syok ialah
mual dan muntah-muntah, distensi abdomen disertai tanda-tanda
ileus paralitik. Segera setelah pecahanya abses, suhu akan menuru
atau subnormal, dan beberapa waktu kemudian suhu meningkat
tinggi lagi. Syok terjadi akibat rangsangan peritoneum dan
penyebaran endotoksin.
h) Anemi sering dijumpai pada abses pelvic yang sudah berlangsung
beberapa minggu.

f. Pencegahan
Salah satu penyebab radang panggul adalah infeksi menular
seksual, seperti penyakit klamidia (chlamydia) yang kasusnya umum
menimpa kalangan pria muda serta memiliki gejala yang tidak terlihat.
Infeksi ini dapat dihindari dengan menerapkan kebiasaan yang aman
saat berhubungan seksual. Kebiasaan ini dapat dimulai dengan tidak
berganti-ganti pasangan seksual dan menggunakan alat kontrasepsi
kondom, spiral, dan/atau spermisida tiap berhubungan seks. Hindari alat
kontrasepsi yang dipasang di dalam rahim jika Anda melakukan
hubungan seksual dengan lebih dari satu pasangan. Selain memulai
kebiasaan seksual yang sehat, Anda juga dapat melakukan beberapa
tindakan pencegahan seperti berikut:
a. Pemeriksaan kesehatan rutin pada diri Anda dan pasangan, lakukan
pemeriksaan ginekologi maupun tes infeksi menular seksual untuk
mendeteksi gejala penyakit radang panggul atau penyakit lainnya.
Makin cepat penyakit dapat terdiagnosis, maka makin besar pula
tingkat kesuksesan pengobatan.
b. Segera temui dokter jika Anda merasakan gejala radang panggul atau
infeksi menular yang tidak biasa, seperti sakit panggul berat atau
perdarahan di antara periode menstruasi.
c. Saling terbuka mengenai sejarah infeksi menular seksual dengan
pasangan Anda adalah salah satu tindakan pencegahan yang dapat
menyelamatkan kesehatan bersama.
d. Pertahankan kebiasaan kebersihan yang sehat, hindari mencuci
vagina (vaginal douching) dan bilaslah alat kelamin dari arah depan
ke belakang seusai buang air untuk mencegah bakteri masuk melalui
vagina.
e. Hindari atau pantang berhubungan seksual beberapa saat khususnya
setelah persalinan, keguguran, aborsi, atau setelah melalui prosedur
ginekologi lain untuk menjaga agar kondisi rahim tetap aman dari
infeksi bakteri.
Pencegahan radang panggul, atau pelvic inflammatory disease,
akan lebih mudah dilakukan bersama pasangan. Saling mengetahui
sejarah infeksi menular seksual, informasi penyakit menular seksual
terkini, dan saling mendukung selama proses pengobatan dapat
memperlancar proses penyembuhan. Pemeriksaan dan konsultasi
dokter yang rutin sangat disarankan jika Anda sedang mengidap
penyakit lain di saat bersamaan.

g. Pengobatan
Berdasarkan derajat radang panggul, maka pengobatan dibagi
menjadi :
a. Terapi
Klien dengan penyakit akut yang menderita abses dalam
panggul atau tuba-ovarium, seringkali membutuhkan perawatan
duduk rendam dengan air hangat dapat menurunkan nyeri dan
meningkatkan kenyamanan serta penyembuhan. Klien sebaiknya
ditidurkan pada posisi semi Fowler untuk memungkinkan
pengeluaran cairan rambas mukopurulen.

b. Pengobatan rawat jalan.


Pengobatan rawat inap dilakukan kepada penderita radang
panggul derajat 1 (satu). Obat yang diberikan ialah :
1) Antibiotik, sesuai dengan Buku Pedoman Penggunaan Antibiotik.
Ampisilin 3.5 g/sekali p.o/ sehari selama 1 hari dan Probenesid 1
g sekali p.o/sehari selama 1 hari. Dilanjutkan Ampisilin 4 x 500
mg/hari selama 7-10 hari, atau
2) Amoksilin 3 g p.o sekali/hari selama 1 hari dan Probenesid 1 g p.o
sekali sehari selama 1 hari. Dilanjutkan Amoxilin 3 x 500 mg/hari
p.o selama 7 hari, atau Tiamfenikol 3,5 g/sekali sehari p.o selama
1 hari. Dilanjutkan 4 x 500 mg/hari p.o selama 7-10 hari, atau
a) Tetrasiklin 4 x 500 mg/hari p.o selam 7-10 hari, atau
b) Doksisiklin 2 x 100 mg/hari p.o selama 7-10 hari, atau
c) Eritromisin 4 x 500 mg/hari p.o selama 7-10 hari.
3) Analgesik dan antipiretik.
a) Parasetamol 3 x 500 mg/hari atau
b) Metampiron 3 x 500 mg/hari.

c. Pengobatan rawat inap.


Pengobatan rawat inap dilakukan kepada penderita radang
panggul derajat II dan III. Obat yang diberikan ialah :
Antibiotik : sesuai dengan Buku Pedoman Penggunaan Antibiotik.
a) 1g im/iv 4 x sehari selama 5-7 hari dan Gentamisin 1,5 mg 2,5
mg/kg BB im/iv, 2 x sehari slama 5-7 hari dan Metronidazol 1 g
rek. Sup, 2 x sehari selama 5-7 hari atau, Sefalosporin generasi III
1 gr/iv, 2-3 ghx sehari selama 5-7 hari dan Metronidazol 1 g rek.
Sup 2 x sehari selama 5-7 hari.
b) Analgesik dan antipiretik.

h. Komplikasi atau Bahaya


Bahaya Radang Panggul (Komplikasi), beberapa hari yang lalu, ada
beberapa pertanyaan dari mediskuser mengenai bahaya radang panggul
(PID = Pelvic infalammatory Disease), sebagian besar takut akan
terjadinya kemandulan, dan ingin tahu adakah hal-hal lain yang
berbahya? Berikut mari kita ketahui bersama. Sekilas meri kita
mengingat apa itu radang panggul, PID adalah infeksi pada organ
reproduksi wanita. Ini merupakan komplikasi yang sering disebabkan
oleh beberapa penyakit menular seksual, seperti klamidia dan gonore.
Infeksi lain yang tidak termasuk menular seksual juga dapat
menyebabkan PID. Lebih lanjut silahkan artikel saya tentang Radang
Panggul. Terkadang Penyakit radang panggul dapat menyebabkan
masalah serius dan jangka panjang, selanjutnya kita sebut sebagai
komplikasi. Apa saja komplikasi PID yang mungkin? Berikut bahaya
atau komplikasi radang panggul :
a. Radang Panggul Berulang
Beberapa wanita akan mengalami episode PID berulang. Hal
ini dikenal sebagai penyakit radang panggul Recurrent. Hal ini
terjadi ketika infeksi awal tidak diobati dengan tuntas dengan
berbagai alasan, termasuk penggunaan antibiotik yang tidak
diminum sampai habis (selesai), atau karena pasangan belum
diperiksa dan diobati. Jika kerusakan rahim atau saluran tuba
berulang-ulang terjadi, maka akan lebih mudah bagi bakteri untuk
menginfeksinya lagi, membuat seorang wanita lebih rentan untuk
terkana radang panggul lagi. Jika PID sering berulang, maka bisa
meningkatkan risiko infertilitas (Kemandulan) yang akan
dijelaskan nanti.
b. Abses
Radang panggul juga dapat menyebabkan koleksi cairan nanah
pada saluran tuba dan ovarium, lebih lanjut hal ini kita sebut
sebagai abses. Abses ini dapat diobati dengan antibiotik, tapi
kadang-kadang merlukan moperasi laparoskopi untuk
menyingkirkannya. Cairan nanah ini juga kadang-kadang dapat
dibuang dengan menggunakan jarum yang dipandu dengan
ultrasound.
c. Nyeri Panggul Jangka Panjang (Kronis)
Beberapa wanita dengan PID akan mengembangkan sakit
di sekitar panggul dan perut bagian bawah jangka panjang (kronis),
yang tentunya sangat tidak rasanya dan dapat menyebabkan
masalah lebih lanjut seperti depresi dan sulit tidur (insomnia). Jika
Anda mengembangkan nyeri panggul kronis, mungkin dokter akan
memberikan obat penghilang rasa sakit untuk membantu
mengontrol gejala dan menganjurkan beberapa pemeriksaan
termasuk pemeriksaan penunjang untuk menentukan penyebabnya.
d. Kehamilan Ektopik (Hamil di Luar Kandungan)
Kehamilan ektopik terjadi ketika telur yang telah dibuahi
yang seharusnya menempel (implantasi) pada rahim malah di luar
rahim, biasanya di salah satu saluran tuba. Hal ini terjadi karena
PID yang menginfeksi saluran tuba, dapat melukai lapisannya dan
bahkan menimbulkan jaringan parut, sehingga lebih sulit bagi telur
untuk melewatinya. Jika telur yang telah dibuahi terjebak dan mulai
tumbuh di dalam tabung falopi, maka lama kelamaan tuba falopi
dapat meledak, hal ini dapat menyebabkan pendarahan internal
yang parah dan mengancam nyawa. Oleh karena itu, obat untuk
menghentikan pertumbuhan sel telur atau operasi untuk
menghilangkan kehamilan ektopik mungkin dianjurkan jika Anda
mengalami Hal ini.
e. Infertilitas (Kemandulan)
Selain meningkatkan risiko terjadinya kehamilan ektopik,
jaringan parut atau abses pada tuba falopi juga bisa membuat
seorang wanita sulit hamil dengan alasan yang sama, yaitu telur
tidak bisa lewat dengan mudah ke dalam rahim. Tuba falopi yang
rusak atau tersumbat terkadang dapat diobati dengan pembedahan,
tetapi jika hal ini tidak berhasil dan Anda ingin memiliki anak,
mungkin sebagai solusinya adalah menggunakan teknik bayi
tabung (IVF = In Vitro Fertilization). Bayi tabung dilakukan
dengan prosedur pengangkatan sel telur dari ovarium seorang
wanita dan membuahinya dengan sperma yang dilakukan di
laboratorium, lalu dilakukan penanaman telur yang telah dibuahi ke
dalam rahim ibu. Teknik ini dapat membantu seorang wanita untuk
hamil jika tidak bisa memiliki anak secara alami. Namun perlu
diketahui bahwa teknik ini tidak memiliki tingkat keberhasilan
yang tinggi.
Penyakit radang panggul dapat diobati dengan tuntas dan
hasilnya akan lebih baik apabila ini segera dilakukan setelah
dignosis dini. Namun, pengobatan tidak akan memperbaiki
kerusakan yang telah terjadi pada organ reproduksi. Semakin lama
Anda menunggu untuk mendapatkan pengobatan, semakin besar
kemungkinan terjadinya komplikasi seperti disebutkan di atas. Oleh
karena itu sangat penting untuk mengenal Gejala Radang Panggul
secara dini agar segera dilakuakan pemeriksaan dan pengobatan
secepatnya. Selama minum obat antibiotik, gejala radang panggul
mungkin akan hilang sebelum infeksi sembuh. Bahkan jika gejala
sudah tidak ada lagi, Anda harus tetap minum obat sampai habis.
Pastikan untuk memberitahu pasangan Anda, sehingga mereka
dapat dites dan diobati juga. Karena jika tidak maka akan terjadi
fenomena ping-pong.
B. KONSEP KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a. Identitas klien
Nama, jenis kelamin, usia, pekerjaan, agama, suku, dll
b. Keluhan utama
Demam, mual muntah, perdarahan menstruasi yang tidak
teratur, kram karena menstruasi, nyeri BAK, nyeri saat hubungan,
sakit pada perut bagian bawah, lelah, nyeri punggung bagian bawah,
nafsu makan berkurang.
c. Riwayat kesehatan
a) Riwayat kesehatan sekarang
Pengumpulan data yang dilakukan untuk menentukan sebab
dari penyakit radang panggul, yang nantinya membantu dalam
membuat rencana tindakan terhadap klien. Ini bisa berupa terjadi
kronologi terjadinya penyakit tersebut sehingga nantinya bisa
ditentukan apa yang terjadi. Pada pasien Penyakit Radang
Panggul, pasien bisa mengeluhkan Nyeri yang terus menerus
pada perut bagian bawah, Demam yang sering muncul, Keluarnya
keputihan dari organ intim, Nyeri yang dirasakan saat
berhubungan intim, Keluarnya darah selesai dan sesaat
berhubungan intim, dll
b) Riwayat kesehatan dahulu
KET, Abortus Septikus, Endometriosis.Pernah menderita
penyakit kelamin, abortus, pernah kuret, aktivitas seksual pada
masa remaja, berganti-ganti pasangan seksual, pernah
mengunakan AKDR.
c) Riwayat Kesehatan Keluarga
d) Riwayat menstruasi
Perdarahan menstruasi yang tidak teratur, Disminore, Fluor
albus.
e) Riwayat obstetric dan KB
Pernah abortus, kuretase, keguguran,Pernah atau sedang
menggunakan AKDR
f) Riwayat menstruasi
Kaji menarche, siklus haid, jumlah darah yang keluar,
dismenorea,dan HPHT.
g) Riwayat Ginekologi
Kaji keluhan yang pernah dirasakan berkaitan dengan organ
reproduksi, berapa lama keluhan ibu rasakan, ada tidaknya upaya
yang dilakukan untuk mengatasi keluhan itu. Seperti menanyakan
apakah ibu pernah mengalami keputihan yang berbau dan gatal,
operasi yang dialami.
h) Riwayat kesehatan
Kaji penyakit-penyakit yang pernah diderita ibu, suami, dan
keluarga baik dari ibu maupun suami seperti : penyakit jantung,
hipertensi, DM, TBC, asma dll. Kaji apakah ibu pernah kontak
dengan penderita HIV/AIDS, TBC, hepatitis.
i) Pemeriksaan fisik
a. Suhu tinggi disertai takikardia
b. Nyeri suprasimfasis terasa lebih menonjol daripada nyeri di
kuadran atas abdomen. Rasa nyeri biasanya bilateral. Bila
terasa nyeri hanya uniteral, diagnosis radang panggul akan
sulit dirtegakkan.
c. Bila sudah terjadi iritasi peritoneum, maka akan terjadi reburn
tenderness, nyeri tekan dan kekakuan otot sebelah bawah.
d. Tergantung dari berat dan lamanya peradangan, radang
panggul dapat pula disertai gejala ileus paralitik.
e. Dapat disetai Manoragia, Metroragia.
f. Nyeri tekan dan nyeri goyang genitalia eksterna ( unilateral
dan bilateral)
g. Daerah adneksa teraba kaku
h. Teraba massa dengan fluktuasi
j) Pemeriksaan sistematis dan Ginekologis
Didapatkan berdasarkan hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh
pemeriksa dan hasil pemeriksaan dengan tehnik palpasi, inspeksi,
auskultasi, dan perkusi . Pemeriksaan sistematis ini meliputi:
a. Pemeriksaan Kepala dan Wajah
Kaji keadaan mata, hidung, mulut dan bibir ibu
b. Pemeriksaan pada leher
Periksa apakah ada pembesaran kelenjar pada leher seperti
kelenjar limfe, tiroin atau pelebaran pembluh vena.
c. Pemeriksaan Dada dan Payudara:
Inspeksi: lihat berntuk payudara (simetris/ asimetris), warna
(kemerahan atau normal), pengeluaran, puting susu (menonjol,
datar, masuk), retraksi.
d. Pemeriksaan Abdomen:
Kaji adaya masa atau benjolan dan nyeri tekan pada abdomen,
jaringan parut , bekas luka operasi.
e. Pemeriksaan Anogenital
Kaji pengeluaran pervaginam : jumlah, warna, konsistensi dan
bau kaji adanya tanda-tanda infeksi pada daerah genital,
perhatikan ada tidaknya varises dan oedema pada genetalia,
inspikulo, dinding vagina (rugae vagina less), karsinoma.
Portio.Lakukan pemeriksaan adneksa dengan menekan daerah
shympisis , apakah terasa nyeri atau tidak .
f. Pemeriksaan Genitalia
1) Ada cairan flour albus yang berbau, dan berwarna kehijauan
2) Nyeri pada servik, uterus dan kedua adnexa saat pemeriksaan
bimanual.
3) Terdapat masa iflamatoris daerah pelvis
k) Pemeriksaan penunjang
a. Periksa darah lengkap : Hb, Ht, dan jenisnya, LED.
b. Urinalisis
c. Tes kehamilan
d. USG panggul
2. Diagnosa Keperawatan
a. Hipertermia b/d efek langsung dari sirkulasi endotoksin pada
hipotalamus,perubahan pada reagulasi temperatur.
b. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan sepsis akibat infeksi.
c. Disfungsi seksual b/d perubahan kesehatan seksual.
d. Perubahan kenyamanan b/d infeksi pada pelvis.
e. Resiko terhadap infeksi (sepsis) b/d kontaak dengan mikroorganisme
f. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi
Doengoes, Marilyn. E. 2001. Rencana Keperawatan. Jakarta. EGC.

3. Intervensi NOC-NIC
N Dx.Keper Tujuan NOC NIC
o awatan
1 Hiperterm Setelah Thermoregu Fever Treatment
i b/d efek dilakukan lation 1. monitor suhu minimal
langsung tindakan setiap 2 jam
sirkulasi keperawat a. Suhu kulit 2. monitor warna dan
an selama turu (5) suhu kulit
1x24 jam b. Perubahan 3. monitor TD,N,RR,dan
diharapka warna kulit tingkat kesadaran
n suhu (5) 4. monitor intake dan
pasien c. Radang output
akan turun (4) 5. berikan pengobatan
atau d. Dehidrasi untuk mengatasi demam
normal (4) 6. tingkatkan sirkulasi
b. Denyut udara
nadi radial 7. kompres pasien pada
(4) lipat paha dan aksila
c. 8. kolaborasi pemberian
Melaporkan cairan intravena dan anti
ketidaknyam piretik
anan panas(5)
2 Nyeri Setelah Pain Control Pain Management
akut b/d dilakukan
proses asuhan a. Mengenali 1. observasi reaksi
infeksi keperawat serangan nonverbal dari
an selama nyeri (5) ketidaknymanan
2x24 jam b. 2. lakukan pengkajian
diharapka Menggambar nyeri secara komprehensif
n nyeri kan sebab 3. gunakan teknik
menurun akibat (5) komunikasi terapeutik
a. Gunakan 4. kaji yg mempengaruhi
tindakan nyeri
pencegahan 5. ajarkan teknik non
(5) farmakologi
c. Gunakan 6. tingkatkan istirahat
non analgesik 7. kontrol lingkungan yg
(5) dapat mempengaruhi nyeri
a. Laporkan 8. pilih dan lakukan
perubahan penanganan nyeri
nyeri (5) 9. kolaborasi dg dokter
d. Laporkan jika ada keluhan
pengontrolan
nyeri (5)
Gangguan Setelah Anxiety Anxiety Reduction
3 rasa dilakukan Level
nyaman asuhan 1. Gunakan pendekatan
b/d TIK keperawat a. Kegelisaha yang menenangkan
meningkat an selama n (5) 2. Jelaskan semua
1x24 jam b. Kelelahan prosedur dan apa yang
di (5) dirasakan selama prosedur
harapkan c. Kesulitan 3. Temani pasien untuk
(5) memberikan keamanan
d. Kecemasa dan mengurangi takut
n verbal (5) 4. Identifikasi tingkat
e. Gangguan kecemasan
tidur (5) 5. Bantu pasin mengenali
f. Pusing (4) situasi yg menimbulkan
kecemasan
6. Instruksikan pasien
menggunakan teknik
relaksasi
7. Kolaorasi obat untuk
mengurangi kecemasan
4 Disfungsi Setelah Sexuality Sexuality counseling
. seksual dilakukan Pattern, 1. membangun hubungan
b/d asuhan Ineffektif terapeutik
kesehatan keperawat Kriteria 2. memberikan informasi
seksual an selama hasil: tentang fungsi seksual
2x24 jam a. 3. diskusikan efek dari
diharapka Mengetahui perubahan seksualitas pada
n masalah orang lain yang signifikan
reproduksi 4. diskusikan tingkat
b. kontrol pengetahuan pasien
resiko tentang seksualitas pada
penyakit umumnya..
mmenular
5 Resiko Setelah a. Immune Infecction Control
. infeksi dilakukan status (Kontrol Infeksi)
(sepsis) asuhan b. 1. Cuci tangan setiap
b/d keperawat Knowledge: sebelum dan sesudah
hubugan an selama infection tindakan keperawatan
dengan 2x24 jam control 2. Gunakan baju, sarung
mikroorga diharapka Kriteria tangan sebagai alat
nisme n hasil : pelindung
1. Klien 3. Barikan terapi
bebas dari antibiotik bila perlu
tanda dan Infection Protection
gejala infeksi 4. Tingkatklan intake
2. Jumlah nutrisi
leukosit 5. Monitor hitung
dalam batas granulosit, WBC
normal 6. Ajarkan cara
3. menghindari infeksi
Menunjukkan
perilaku
hidup sehat

4. Evaluasi Keperawatan
a. Klien dapat meningkatkan kesehatan di buktikan dengan bertambahnya
kemampuan dan pemahaman klien dalam berperilaku hidup bersih dan
sehat.
b. klien mengatakan nyeri berkurang atau hilang.
c. Klien memperoleh pengetahuan dan ketrampilan dalam menigkatkan
kemampuannya dalam memelihara kesehatan.
BAB III
TINJAUAN JURNAL

A. RingkasanJurnal
Demam adalah keadaan tubuh mengalami kenaikan suhu hingga 38C

atau lebih. Ada juga yang mengambil batasan lebih dari 37,8 C, sedangkan

bila suhu tubuh lebih dari 40C disebut demam tinggi/hiperpireksia. Demam

dapat membahayakan apabila timbul dalam suhu yang tinggi. Demam atau

suhu tubuh yang tinggi dapat diturunkan dengan berbagai cara. Kompres air

hangat merupakan metode untuk menurunkan suhu tubuh. Kenyataan yang

ditemukan di tempat penelitian yaitu di KRIPMD PKU Muhammadiyah

Kutoarjo pelaksanaan kompres sebagai salah satu tindakan mandiri untuk

menangani demam masih sering diabaikan oleh pasien dan keluarga. Tujuan

penelitian ini adalah untuk diketahuinya perbedaan efektivitas pemberian

kompres air hangat di aksila dan dahi terhadap penurunan suhu tubuh pada

pasien demam di KRIPMD PKU Muhammadiyah Kutoarjo. Desain

penelitian menggunakan true eksperimen: two-group pre-post test design.

Jumlah populasi sebesar 40 dengan subyek sebanyak 38 orang dengan

teknik consecutive sampling. Pengukuran suhu dilakukan sebelum dan

sesudah perlakuan menggunakan thermometer air raksa.Analisis data

menggunakan uji t. Hasil: Rerata derajat penurunan suhu tubuh sebelum dan

sesudah dilakukan kompres air hangat pada daerah aksila sebesar 0,247oC.

Rerata derajat penurunan suhu tubuh sebelum dan sesudah dilakukan

kompres air hangat pada daerah sebesar 0,111oC. Analisis uji menunjukkan

teknik pemberian kompres hangat pada daerah aksila lebih efektif terhadap

penurunan suhu tubuh dibandingkan dengan teknik pemberian kompres


hangat pada dahi (t hitung=5,879 p=0,000). Simpulan: Teknik pemberian

kompres air hangat pada daerah aksila lebih efektif terhadap penurunan

suhu tubuh.

B. Implementasi
Hasil penelitian ini juga sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh

Tamsuri yang menyatakan daerah ketiak terdapat vena besar yang memiliki

kemampuan proses vasodilatasi yang sangat baik dalam menurunkan suhu

tubuh dan sangat dekat dengan otak yang merupakan tempat terdapatnya

sensor pengatur suhu tubuh yaitu hypothalamus(10). Hasil penelitian ini

mendukung hasil penelitian Juwariyah bahwa kompres air hangat lebih

efektif 74,6% untuk menurunkan suhu pada pasien anak dengan demam

daripada kompresplester(11). Hasil penelitian didukung hasil penelitian

Sukmawati yang menunjukkan kompres di ketiak memberikan efektivitas

tinggi bila dibandingkan kompres di dahi dengan derajat penurunan suhu

masing 0,234oC dan 0,145oC(12). Hasi lanalisis menggunakan uji t

diperoleh t hitung sebesar 5,673 dengan p=0,018. Serta

penelitianWeningmenyatakanbahwapasien yang dikompres di bagian ketiak

memiliki penurunan suhu lebih besar daripada pasien yang dikompress pada

daerahdahi(13).

C. Rekomendasi
1. Bagi pasien
Teknik ini sangat penting bagi pasien karena dalam pemberian

kompres hangat pada daerah aksila lebih efektif terhadap penurunan suhu

tubuh

2. Bagi pelayanan kesehatan


Teknik ini sangat penting untuk diberikan kepada pasien karena

dalam pemberian kompres hangat pada daerah aksila lebih efektif

terhadap penurunan suhu tubuh

3. Bagi peneliti selanjutnya


Diharapkan kepada peneliti selanjutnya agar lebih meneliti tentang

teknik dalam pemberian kompres hangat pada daerah aksila agar lebih

efektif dalam penurunkan suhu pasien.


BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Penyakit radang Panggul adalah keadaan terjadinya infeksi pada
genetalia interna, yang disebabkan berbagai mikroorganisme dapat
menyerang endometrium, tuba, ovarium parametrium, dan peritoneum
panggul, baik secara perkontinuinatum dan organ sekitarnya, secara
homogen, ataupun akibat penularan secara hubungan seksual.
Peradangan biasanya disebabkan oleh infeksi bakteri, dimana
bakteri masuk melalui vagina dan bergerak ke dalam rahim lalu ke tuba
fallopi 90 95 % kasus PID disebabkan oleh bakteri yang juga
menyebanbkan terjadinya penyakit menular seksual (misalnya klamidia,
gonare, mikroplasma, stafilokokous, streptokus).
Gejala biasanya muncul segera setalah siklus menstruasi. Penderita
merasakan nyeri pada perut bagian bawah yang semakin memburuk dan
disertai oleh mual atau muntah.
Biasanya infeksi akan menyumbat tuba fallopi. Tuba yang tersumbat bisa
membengkak dan terisi cairan. Sebagai akibatnya bisa terjadi nyeri
menahun, perdarahan menstruasi yang tidak teratur dan kemandulan,
infeksi bisa menyebar ke struktur di sekitarnya, menyebabkan
terbentuknya jaringan perut dan perlengketan fibrosa yang abnormal
diantara organ organ perut serta menyebabkan nyeri menahun.

B. Saran
Jauhi seks bebas karena itu sangat berpotensi pada PMS. Jadi
lindungi diri kita sendiri karena masa depan yang cerah sedang menanti
kita semua.
DAFTAR PUSTAKA

nugroho, t., & utama, b. i. (2014). masalah kesehatan reproduksi. yogyakarta:


nuha medika.
taber, b.-z. (1994). kapita selekta kedaruratan obstetri dan ginekologi. jakarta:
buku kedokteran EGC.
Widyastuti, y., & Rahmawati, a. (2009). Kesehatan Reproduksi. yogyakarta:
Fitramaya.
Doengoes, Marilyn. E. 2001. Rencana Keperawatan. Jakarta. EGC.
Gloria, M. B., Howard, K. B., Joanne, M. D., & Cheryl, M. W. (2013). Nursing
Interventions Classification (NIC). United States of America: ISBN:978-0-323-
10011-3.
Moorhead, S., Johnson, M., Meridean, L. M., & Swanson, E. (2013). Nursing
Outcomes Classification (NOC). United States of America: ISBN:978-0-323-
10010-6.

Anda mungkin juga menyukai