Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM PANGAN DAN GIZI

PENILAIAN STATUS GIZI

OLEH :

NETTA CLARITA TAMPINONGKOL 1511105077

JURUSAN ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN

FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN

UNIVERSITAS UDAYANA

TAHUN 2016
DAFTAR ISI

PENILAIAN STATUS GIZI

I. PENDAHULUAN ................................................................................................. 3
1.1 Latar Belakang .................................................................................................... 3
1.2 Tujuan ................................................................................................................. 3
1.3 Manfaat ............................................................................................................... 4
II. TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................................ 5
2.1 Faktor- faktor yang mempengaruhi Status Gizi ................................................ 5
2.1.1 Faktor Eksternal .......................................................................................... 5
2.1.2 Faktor Internal ............................................................................................. 6
2.2 Penilaian Status Gizi ........................................................................................... 6
2.2.1 Penilaian Status Secara Langsung ............................................................... 6
2.2.2 Penilaian Gizi Secara Tidak Langsung .........Error! Bookmark not defined.
2.2.3 Macam Klasifikasi Status Gizi .................................................................... 7
III. METODELOGI .................................................................................................. 11
3.1 Alat.................................................................................................................... 11
3.2 Prosedur Kerja .................................................................................................. 11
3.2.1 Pengukuran Antropometri ......................................................................... 11
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN .......................................................................... 12
4.1 Data Hasil Pengamatan ..................................................................................... 12
4.1.1 Perhitungan Indeks Massa Tubuh (IMT) .................................................. 12
4.1.2 Perhitungan berat badan ideal berdasarkan standar Brocca ...................... 12
4.2 Pembahasan....................................................................................................... 12
V. KESIMPULAN ................................................................................................... 14
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................................... 15
I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sekarang ini, banyak orang yang belum memperhatikan zat gizi apa
yang masuk ke dalam tubuh, hanya melihat bentuk dari penyajian makanan
(segi visual) atau rasa enak pada makanan yang telah dikonsumsinya tanpa
mempertimbangkan nutrisi yang terdapat di dalamnya. Padahal zat gizi yang
masuk ke dalam tubuh itu sangat penting bagi kondisi tubuh seseorang.

Penyerapan zat gizi makanan yang dikonsumsi dapat mempengaruhi


keadaan kesehatan tubuh pelaku konsumsi atau disebut dengan status gizi
seseorang. Kita dapat mengetauhi status gizi seseorang dengan
memperhatikan apa saja kandungan makanan yang masuk ke dalam
tubuhnya.

Biasanya orang yang tidak bisa mengontrol napsu makannya


cenderung mengalami overweight atau lebih parahnya lagi obesitas. Namun
nyatanya di masyarakat, masih banyak orang, terutama anak kecil atau
balita, yang mengalami defisiensi zat gizi karena kekurangan asupan
makanan yang cukup.

Pada zaman sekarang, masyarakat kurang peduli dengan nutrisi yang


diperoleh dari makanan yang dikonsumsinya, hanya mementingkan rasa
enak yang dapat memuaskan orang tersebut tanpa mempertimbangkan
kondisi kesehatan. Maka diperlukan penelitian agar kita dapat mengetauhi
status gizi seseorang dari berat badan dan tinggi badan sehingga kita dapat
menghindari dan mengatasi masalah kurang gizi yang masih banyak terjadi
di masyarakat.

1.2 Tujuan
Untuk menentukan status gizi orang dewasa secara antropometri.

3
1.3 Manfaat
Dapat mengetahui status gizi seseorang yang bertujuan agar dapat
mengembangkan program pangan dan gizi untuk membantu mengatasi
masalah kurang gizi yang ada di masyarakat sehingga tercukupinya
kebutuhan gizi yang dibutuhkan. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi
status gizi seseorang, yaitu bisa dilihat dari berat badan dan tinggi badan
orang tersebut.

4
II. TINJAUAN PUSTAKA

Status gizi adalah ukuran keberhasilan dalam pemenuhan nutrisi untuk


anak yang diindikasikan oleh berat badan dan tinggi badan anak. Status gizi juga
didefinisikan sebagai status kesehatan yang dihasilkan oleh keseimbangan antara
kebutuhan dan masukan nutrien. Penelitian status gizi merupakan pengukuran
yang didasarkan pada data antropometri serta biokimia dan riwayat diit (Beck,
2000: 1).

2.1 Faktor- faktor yang mempengaruhi Status Gizi

2.1.1 Faktor Eksternal


1. Pendapatan
Masalah gizi karena kemiskinan indikatornya adalah taraf
ekonomi keluarga, yang hubungannya dengan daya beli yang
dimiliki keluarga tersebut (Santoso, 1999).
2. Pendidikan
Pendidikan gizi merupakan suatu proses merubah
pengetahuan, sikap dan perilaku orang tua atau masyarakat untuk
mewujudkan dengan status gizi yang baik (Suliha, 2001).

3. Pekerjaan

Pekerjaan adalah sesuatu yang harus dilakukan terutama


untuk menunjang kehidupan keluarganya. Bekerja umumnya
merupakan kegiatan yang menyita waktu. Bekerja bagi ibu-ibu akan
mempunyai pengaruh terhadap kehidupan keluarga (Markum, 1991).

4. Budaya

Budaya adalah suatu ciri khas, akan mempengaruhi tingkah


laku dan kebiasaan (Soetjiningsih, 1998).

5
2.1.2 Faktor Internal
1. Usia

Usia akan mempengaruhi kemampuan atau pengalaman yang


dimiliki orang tua dalam pemberian nutrisi anak balita (Nursalam,
2001).

2. Kondisi Fisik

Mereka yang sakit, yang sedang dalam penyembuhan dan


yang lanjut usia, semuanya memerlukan pangan khusus karena status
kesehatan mereka yang buruk. Bayi dan anak-anak yang
kesehatannya buruk, adalah sangat rawan, karena pada periode hidup
ini kebutuhan zat gizi digunakan untuk pertumbuhan cepat
(Suhardjo, et, all, 1986).

3. Infeksi

Infeksi dan demam dapat menyebabkan menurunnya nafsu


makan atau menimbulkan kesulitan menelan dan mencerna makanan
(Suhardjo, et, all, 1986).

2.2 Penilaian Status Gizi

2.2.1 Penilaian Status Secara Langsung


1. Antropometri
Antropometri adalah ukuran tubuh manusia. Sedangkan
antrometri gizi adalah berhubungan dengan berbagai macam
pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dan tingkat umur
dan tingkat gizi. Antropometri secara umum digunakan untuk
melihat keseimbangan asupan protein dan energi.
2. Klinis

Pemeriksaan klinis adalah metode untuk menilai status gizi


berdasarkan atas perubahan-perubahan yang terjadi dihubungkan

6
dengan ketidakcukupan zat gizi, seperti kulit, mata, rambut, dan
mukosa oral atau organ yang dekat dengan permukaan tubuh seperti
kelenjar tiroid.

3. Biokimia
Penilaian status gizi dengan biokimia adalah pemeriksaan
spesimen yang diuji secara laboratoris yang dilakukan pada berbagai
macam jaringan. Jaringan tubuh yang digunakan antara lain darah,
urine, tinja dan juga beberapa jaringan tubuh seperti hati dan otot.
4. Biofisik
Penilaian status gizi secara biofisik adalah metode penentuan
status gizi dengan melibat kemamapuan fungsi dan melihat
perubahan struktur dari jaringan.

2.2.2 Macam Klasifikasi Status Gizi

2.2.2.1 Parameter Indeks Massa Tubuh


Indeks massa tubuh (IMT) merupakan kalkulasi angka dari berat
dan tinggi badan seseorang. Nilai IMT didapatkan dari berat dalam
kilogram dibagi dengan kuardrat dari tinggi dalam meter (kg/m2 ). Nilai
dari IMT pada orang dewasa tidak bergantung pada umur maupun jenis
kelamin. Tetapi, IMT mungkin tidak berkorenspondensi untuk derajat
kegemukan pada populasi yang berbeda, pada sebagian, dikarenakan
perbedaan proporsi tubuh pada mereka (WHO, 2000).

Menurut WHO (2000) dalam Sugondo (2006) berat badan dan


Obesitas dapat diklasifikasikan berdasarkan IMT

Klasifikasi Berat Badan Lebih dan Obesitas Berdasarkan IMT


Menurut Kriteria Asia Pasifik.

Klasifikasi Obesitas
Klasifikasi IMT
Berat Badan Kurang < 18,5
Kisaran Normal 18,5 22,9

7
Berat Badan Lebih > 23,0
Beresiko 23,0 24,9
Obese I 25,0 29,9
Obese II > 29,9
Klasifikasi IMT

Indeks massa tubuh tidak mengukur lemak tubuh secara


langsung, tapi hasil riset telah menunjukan bahwa IMT berkorelasi
dengan pengukuran lemak tubuh secara langsung, seperti pengukuran
dalam air dan dual energy x-ray absorptiometry (DXA). IMT adalah
metode yang tidak mahal dan gampang untuk dilakukan untuk
memberikan indikator atas lemak tubuh dan digunakan untuk screening
berat badan yang dapat mengakibatkan problema kesehatan (CDC,
2011).

Meskipun IMT pada umumnya dapat digunakan pada pria dan


wanita, namun ada pengecualian:

Tidak berlaku bagi orang-orang yang membangun otot, seperti


olahragawan/atlet.
Tidak berlaku bagi orang yang kehilangan massa ototnya atau
massa otot abnormal.
Bukan perhitungan yang akurat untuk orang yang berusia lanjut.

2.2.2.2 Parameter Antropometri


Indeks Status Gizi Ambang Batas
Gizi Lebih > + 2 SD
Berat badan
Gizi Baik -2 SD sampai +2 SD
menurut umur
Gizi Kurang < -2 SD sampai -3 SD
(BB/U)
Gizi Buruk < 3 SD
Tinggi badan Normal 2 SD
menurut umur Pendek (stunted) < -2 SD

8
(TB/U)
Gemuk > + 2 SD
Berat badan
Normal -2 SD sampai + 2 SD
menurut tinggi
Kurus (wasted) < -2 SD sampai -3 SD
badan (BB/TB)
Kurus sekali < 3 SD
Sumber : Depkes RI, 2002

Klasifikasi di atas berdasarkan parameter antropometri yang


dibedakan atas:

1. Berat Badan / Umur

Status gizi ini diukur sesuai dengan berat badan terhadap


umur dalam bulan yang hasilnya kemudian dikategorikan sesuai
dengan tabel di atas.

2. Tinggi Badan / Umur

Status gizi ini diukur sesuai dengan tinggi badan terhadap umur
dalam bulan yang hasilnya kemudian dikategorikan sesuai dengan
tabel di atas.

3. Berat Badan / Tinggi Badan

Status gizi ini diukur sesuai dengan berat badan terhadap


tinggi badan yang hasilnya kemudian dikategorikan sesuai dengan
tabel di atas.

4. Lingkar Lengan Atas / Umur

Lingkar lengan atas (LILA) hanya dikategorikan menjadi 2


kategori yaitu gizi kurang dan gizi baik dengan batasan indeks
sebesar 1,5 cm/tahun.

5. Parameter Berat Badan / Tinggi Badan banyak digunakan karena


memiliki kelebihan:

a. Tidak memerlukan data umur

9
b. Dapat membedakan proporsi badan ( gemuk, normal, kurus)

6. Parameter berat badan / tinggi badan berdasarkan kategori Z-


Score diklasifikasikan menjadi 4 yaitu:

a. Gizi Buruk ( Sangat Kurus) : <3 SD

b. Gizi Kurang (Kurus) : -3SD s/d -2SD

c. Gizi Baik (Normal) : -2SD s/d +2SD

d. Gizi Lebih (Gemuk) : >+2SD

10
III. METODELOGI

3.1 Alat
Timbangan badan
Meteran

3.2 Prosedur Kerja

3.2.1 Pengukuran Antropometri


1. Pengukuran Indeks MassaTubuh
Ditimbang berat badan (BB) Anda dalam satuan kilogram (kg).
Diukur tinggi badan (TB) Anda dalam satuan meter (m).
Dihitung Indeks Massa Tubuh (IMT) Anda dengan rumus :
()
= (2 )

2. Penentuan berat badan ideal berdasarkan standar Brocca


Diukur tinggi badan (TB) Anda dalam satuan centimeter (cm).
Ditimbang berat badan (BB) Anda berdasarkan standar Brocca
dengan rumus:
= ( 100)
= 10%

11
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Data Hasil Pengamatan


Berat badan : 49 kg
Tinggi badan : 1,58 m

4.1.1 Perhitungan Indeks Massa Tubuh (IMT)


()
=
(2 )
49
=
(1,58 )2
49
=
2,4964 2
= 19,6282

4.1.2 Perhitungan berat badan ideal berdasarkan standar Brocca


= ( 100)
= 158 100
= 58
= (10% )
= 58 5,8
= 52,2

4.2 Pembahasan
Jika ingin mencari nilai indeks massa tubuh dan berat badan ideal.
Kita harus dihitung berat badan dan tinggi badan. Berdasarkan data yang
didapatkan, diperoleh berat badan sebesar 49 kg dan tinggi badan sebesar
158 cm atau 1,58 m.

Dari hasil perhitungan didapatkan nilai indeks massa tubuh (IMT)


sebesar 19,6282 yang dapat dibulatkan menjadi 19,6. Nilai tersebut
termasuk dalam kategori kisaran normal karena rentang nilainya dari
18,5 22,9 berdasarkan IMT menurut klasifikasi berat badan lebih dan

12
obesitas Kriteria Asia Pasifik. Jika kita sudah termasuk kategori beresiko
tinggi dan hendaknya mulai melakukan diet.

Sedangkan dari hasil perhitungan juga didapatkan nilai berat


badan ideal sebesar 52,2. Untuk menghindari berat badan yang dapat
menyebabkan overweight hingga obesitas, maupun defisiensi gizi.
Sejatinya, kita harus menjaga pola makan dan memerhatikan zat gizi apa
saja yang masuk dalam tubuh kita sehingga kita dapat terhindar dari
masalah kurang gizi dan obesitas agar meningkatkan status gizi
seseorang.

13
V. KESIMPULAN

Dari hasil pengamatan percobaan penilaian status gizi ini, saya


menyimpulkan bahwa menentukan status gizi seseorang maupun sekelompok
orang secara pengukuran antropometri dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu
berat badan dan tinggi badan untuk memperoleh indeks massa tubuh (IMT) dan
berat badan yang ideal.

Berdasarkan hasil percobaan, didapatkan nilai indeks massa tubuh (IMT)


sebesar 19,6282 yang dapat dibulatkan menjadi 19,6 yang termasuk dalam
kategori kisaran normal karena rentang nilainya dari 18,5 22,9. Sedangkan
didapatkan nilai berat badan ideal sebesar 52,2, jika memiliki berat badan sebesar
49 kg dan tinggi badan sebesar 158 cm.

14
DAFTAR PUSTAKA

Meutia, N. 2012. http://repository.usu.ac.id/ diakses pada tanggal 12 November


2016.

Tjokoprawiro, Askardar. 2011. Hidup Sehat Bersama Diabetes, ed. revisi-3.


Jakarta : Gramedia.

Trident Referensi Publishing. 2016. Bebas Masalah Berat Badan. Yogyakarta :


Kanisius.

15