Anda di halaman 1dari 118

Perpajakan sektor publik

Prof.Dr.Hj.Titiek Herwanti.,MSi
ekonomi publik studi ttg kebijakan ekonomi dengan penekanan khusus
pada pajak subjek ini meliputi topik topik yang beragam
- respon untuk ekstrenalitas dan kegagalan pasar karena keberadaan
dan penentuan kebijakan keamanan sosial yang optimal-
mencerminkan perluasan cakupan ekonomi publik dari penekanan
awal atas koleksi dan pencairan pendapatan pemerintah untuk semua
aspek dan intervensi pemerintah.

Peran dari sektor publik yang sering diketahui secara umum:


1. peran alokasi yang membicarakan tentang pengg sumber daya alam
2. Peran regulasi atau kebijak yang dikeluarkan pem.
3. peran redistribusi yang terkait dengan pemerataan kebijakan
4. peran stabilisasi untuk mengontroladanya fluktuasi perubahan secara
global
Pasar vs Pemerintah
Pasar didefinisikan sbg suatu sistem ek dimana variabel variabel
yang menentukan harga bergerak bebas terhadap permintaan
konsumen dan mendorong efisiensi dalam pemakaian sumber daya
baik tenaga modal pengaruhnya terhadap maupun bahan mentah
untuk kepentingan prod melalui pengaruh terhadap tingkat
keuntungan.
Penyebaranbiaya
Masalahterbesarpemerintahadalahsumberdayaumum
dimanaotoritaspengeluarantersebarnamunkasmemiliki
tanggungjawabuntukmenyeimbangkananggaransecara
keseluruhan.setiapotoritasmemilikiprioritaspengeluara
sendiri,denganmempertimbangkansedikitprioritas
lainnyayanglebihbaikdapatmemenuhinyadengan
mengambilseluruhanggaran

Pertimbanganlayananpubliksepertipensiun,kesehatan,
sekolahdanpekerjaaninfrastruktursepertijembatanjalan
untukpelayananpublik,danpadakenyataannya
pemerintahtidakmembebankanpenggunalangsungbiaya
marjinalpenuh,tetapisubsidikegiataninisebagianatau
seluruhnyadaripenerimaanpajak.
Perpajakanmerupakansumberutamapendapatan
pemerintahuntukmembayarbarangdanjasayang
dihasilkan.
Tujuanutamanya
Adalahuntukmengevaluasiuntukmemahami
dampakdarisumberberbagaipajakyangdigunakanuntuk
membiayaipemerintah.
untukmemahamidapakdampakdaripajakatasekonomi,
sistempajakharusdianalisissecarakeseluruhankarenefek
darisatujenispajakakantergantungpadabagaimanapajak
pajakyangberinteraksidenganketentuanjenispajakyang
lain.
merupakanmodaldasarpembangunan 2/3modal
dasarberasaldaripajak.
pemmelakukanbelanjabarangdanjasaterjadialiran
pendapatandaripemerintahkedalammasy.
kenaikanpendapatanmasyiniakanmerangsang
peningkatanpermintaandandalamkondisipenawaranyang
Relatifterbatasakanterjadikecenderungankenaikanharga(
untukselanjutnyamengarahpadainflasi). dalamsituasi
sepertiinisebagiandaripendapatanmasyyangmeningkatitu
diambilolehpemerintahmelaluipajakuntukmembiayai
defisitanggaranberikutnya.forcesaving,yangselanjutnya
dapatdimanfaatkanuntukpembentukanmodal.
PrisippengenaanPajak
pengenaanpajakyangterbaikdipandangdariilmuekonomi
adalamsistemperpajakanyangmemilikipengaruhpengaruh
ekonomipalingbaiksetidaknyawalaupunmemberikan
pengaruhtidakbaik,adalahyangpalingsedikit.
Kreteria
1.distribusidaribebanpajakharusadil sesuaibebanyang
wajar
2.pajak pajakharussedikitmungkinmencampurikeputusan
keputusanekonomi
3.pajak pajakharuslahmemperbaikiketidakefisiennan
yangterjadidisektorswasta,apabilainstrumenpajakdapat
melakukannya.
4.strukturpaqjakharusmampudigunakandalamkebijaka
fiskaluntuktujuanstabilisasidanpertumbuhanekonomi
5.sistempajakharusdimengertiwajibpajak
6.administrasipajakdanbiayapelaksanaannyaharuslah
sesedikitmungkin.
AdamSmith cannonoftaxation.
Pengertian pajak
Kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh
orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa
berdasarkan undang undang, dengan tidak
mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan
untuk keperluan negara bagi sebesar besarnya
kemakmuran rakyat.

bersifat memaksa dan tidak mendapatkan imbalan


secara langsung ketidak simetrisan hubungan
antara negara dan masyarakat (pemby pajk)
Wacana mengkonstruksikan ulang definisi terkait
kontraprestasi atau imbalan yang harus diberikan negara
atas pajak yang sudah dibayar.
hal yang sangat penting untuk dikaji bahkan menjadi
asupan bagi pemerintah untuk mengevaluasi kebijakan
dan implementasi penggunaan pajak tuntutan akan
penyelenggaraan pemerintah yang baik (good
governens) ,transparansi penggunaan tax revenue
merupakan keharusan.
Pajak dalam paradigma klasik
Dapat dipaksakan
Dipungut berdasarkan undang undang
Tidak mendapatkan manfaat langsung
Digunakan untuk menjalankan fungsi negara

Pajak dalam paradigma kontemporer


Pajak tidak boleh memaksa prinsipnya mewujudkan
kesadaran masy dalam kontribusinya terhadap neg.
Masalah krusial perpajakan Indonesia
Ketidak pastian hukum regulasi serta hambatan
infrastrktur menghambat pertumbuhan industri
nasional
Pembenahan infrastruktur
pajak harus dikembalikan ke masy, sehingga
seharusnya hasil penerimaan pajak tidak boleh
digunakan untuk membayar utang atau menutup defisit
anggaran belanja.

pembayar pajak mendapat benefit, terutama akses


dari pemerintah baik akses informasi maupun akses
ekonomi

pajak juga mempunyai ukuran benefit misalnya


secara tranparan pemerintah menunjukkan bahwa.
hasil pajak digunakan untuk membangun infrastruktur,
subsidi pendidikan.

dalam kongres pajak sedunia bulan September 2005


di Buenos Aires, Argentia terdapat pergeseran
paradigma.

Dalam perspektif politik pajak adalah saham politik


rakyat atas negara shg rakyat memiliki hak hak
istimewa dalam setiap proses politik untuk menentukan
kebijakan negara.
Dinyatakan bahwa dalam masy yg demokratis masa kini,
konsep pajak tidak bisa hanya dilihat semata mata
hanya sebagai metode untuk mengumpulkan
penerimaan negara guna membiayai pemerintahan.

Pajak juga harus dilihat sebagai tujuan demokratis , yaitu


untuk mengalokasikan beban pajak secara adil bagi
seluruh masy dan menjaga stabilitas ekonomi serta
mendorong terciptanya kesejahteraan
Gagasan demokratisasi perpajakan menjadi penting
untuk dikembangkan dengan alasan
semakin terbukanya sistem politik dan perkembangan
pasar bebas
meningkatkan kesadaran masyarakat sehingga
meningkatkan tuntutan adanya transparansi dalam
pengelolaan pajak
menguatnya sistem ekonomi yang demokratis.
Kebijakan publik dalam arti luas membicarakan metode
managerial Negara

Arti sempit pembahasan pajak dan kebijakan perpajakan.

Peran sektor publik

1. Peran alokasi yang membicarakan tentang penggunaan


sumber daya alam

2. peran Regulasi atau kebijakan yg dikeluarkan Pemerintah

3. Peran redistribusi yang terkait dengan pemerataan kebijk


4. Peran stabilisasi unntuk mengontroladanya fluktuasi
perubahan secara global peran tersebut saling terkait.
Fungsi Negara dan Pajak
Mengpa negara harus memungut pajak ?dapatkah suatu
negara tdk memungut pajak atau apakah ada alternatif
lain untuk menyelenggarakan pemerintahan?
Kenapa memungut pajak, karena ada fungsi yang
diemban.
Selain pajak
1. cetak uang,2. pinjaman LN. 3, pinjaman DNdengan
menerbitkan obligasi Pem.
4. Menjual candangan devisa
Fungsi Pemerintah
1. fungsi Alokasi
Apabila semua penyedian barang dan jasa semuanya
diserahkan pada ekonomi pasar, maka penyediaan
barang dan jasa dan besarnya harga akan sepenuhnya
ditentukan oleh preferensi konsumen , serta kepentingan
produsen untuk meraup keuntungan. dipastikan akan
ada barang barang dan jasa tertentu yanga tdk
tersedia di pasar.
Alasan utama pasar/swasta tdk mau memproduksinya
karena alasan inefisiensikegagalan pasar atau market
failure. jika pasar tdk mau memprod brg dan jasa yang
dibutuhkan oleh masy luas maka pada saat itulah
pemerintah melakukan intervensi.
Kegagalan pasar yang umumnya terjadi adalah
kegagalan dalam menyediakan barang publik.
2. fungsi distribusi
Pemerintah mempunyai tanggung jawab untuk
mendistribusikan pendapatan agar kesejahteraan dapat
menyebar kesetiap lapisan masyarakat.
ketidak sempurnanya pasar dapat menyebabkan
menumpuknya kekayaan pada salah satu gol atau
kelomp masy kesenjangan semakin melebar.

Melalui pemungutan pajak negara bisa menyediakan


pelayanan kesehatan murah dan pendidikan terjangkau
untuk seluruh lapisan masy.

3. fungsi Stabilisasi
Masalah pengangguran, inflasi, pertumbuhan ekonomi,
suplai uang, nilai tukar dll yang tdk dapat diselesaikan -
tidak bisa diselesaikan oleh pasar secara otomatis
fungsi stabilitas Pem dilakukan dengan menggunakan
kebijakan anggaran sebagai alat untuk menjaga agar
tingkat tenaga kerja tetap tinggi, tingkat stabilitas harga
yang pantas, pertumb ekonomi yang tepat, dengan
mempertimbangkan dampaknya bagi perdagangan
dengan keseimbangan pembayaran.
Fungsi Regulasi
pajak yang dipungut untuk mengoreksi efek
eksternalitas negatif. Dalam mengatasi eksternalitas
negatif para ekonom umumnya lebih menganjurkan -
Instrumen pemungutan pajak karena lebih efisien untuk
mengurangi polusi bila dibandingkan jika pemerintah
hanya membuat regulasi ttg polusi pemungutan pajak
akan mempengaruhi harga.

Fungsi Pajak
1. sebagai sumber penerimaan negara yang
aman,murah dan berkelanjutan
- aman, adalah pada derajat kemandirian yang tinggi
dan terhindar dari intervensi neg lain atau lembaga
pemberi pinjaman.
- Murah, negara tidak dibebani dengan kewajiban
membayar bunga .
- Berkelanjutan, mempresentasikan sumber sumber
pemungutan pajak ada pada setiap aktivitas masy
sehingga selama pemerintah menjamin keamanan dan
mendorong aktivitas ekonomi masy maka akan selalu
ada sumber penerimaan negara.

Tujuan utama dari setiap sistem pajak adalah


menghimpun sejumlah penerimaan yang cukup untuk
membiayai komitmen pemerintah.
apabila sistem pajak belum mampu menghimpun
penerimaan dalam jumlah yang cukup , selain dapat
mengganggu penyediaan jasa publik (terutama pada
sektor pendidikan, kesehatan, dan transportasi.
pemerintah juga mungkin tdk mempunyai banyak
kesempatan mengeluarkan pembiayaan dan investasi
sarta penyediaan dana tdk terduga.

di negara yang belum kaya dengan masih banyaknya


rakyat miskin tidak mudah memungut pajak
Fungsi Pajak Sebagai Instrumen Keadilan dan
Pemerataan.
Rendahnya kepatuhan (tax compliance) mengidikasikan
lemahnya negara karena masy tdk mempunyai
keyakinan bahwa pajak yang dibayar akan memberikan
kesejahteraan bagi masyarakat luas.dalm konteks ini
keadilan dan pemerataan menjadi prasyarat untuk
meningkatkan kepatuhan membayar pajak secara suka
rela.

Keberpihakan pemerintah terhadap keadilan dan


pemerataan tergambar dalam program program -
yang menjadi prioritas pemerintah dan komitmen
pemerintah untuk mewujudkan program program
tersebut.
Contoh
Meskipun pemerintah menjadikan pengentasan
kemiskinan sebagai program utama, tapi tanpa adanya
komitmen yang tinggi untuk mewujudkannya. Maka
kegagalan program justru akan menjadi pemicu ketidak
percayaan masy terhadap pemerintah, yang antara lain
direpresentasikan dengan berbagai upaya untuk
menghindari pajak.
Dengan demikian pajak sebagai instrumen keadilan
dapat dilihat dari 2 sisi:
1. dari sisi kebijakan pajak, misalnya menerapkan asas
keadilan vertikal dan horizontal dalam menentukan
beban pajak langsung yang harus ditanggung setiap WP

2. dari sisi belanja/pengeluaran pemerintah (government


spending/expenditure).

Sebagi bagian dari kebijakan fiskal, pajak juga menjadi


instrumen keadilan dan pemerataan.
Kebijakan dana perimbangan pada hakekatnya
merupakan bagiaan dari fungsi pajak.

3. Pajak Sebagai Instrumen Kebijakan


A. pajak untuk mewujudkan Millenium Development
Goals
Keikut sertaan Indonesia dalam penandatanganan
MDGspada bulan September sesungguhnya merupakan
penegasan atas karsa nasional 8 buah sasaran
pembangunan dalam MDGs merupakan sasaran
pembangunan yang menjadi bagian dari pemb nas-
Berdasarkan komitmen MDGs pada tahun 2015
pemerintah harus dapat mengurangi lebih dari separuh
orang orang yang menderita kelaparan, menjamin
semua anak untuk menyelesaikan pendidikan dasarnya,
mengurangi perbedaan dan diskriminasi gender pada
semua tingkatan pendidikan, mengurangi 2/3 tingkat
kematian anak anak usia dibawah 5 tahun dan
mengurangi hingga separuh orang yang tidak memiliki
akses air.

Target MDGs tersebut dapat terakselerasi jika


pemerintah mendukung dengan instrumen kebijakan-
yang telah ditetapkan. Dalam RPJMN 2010 2014
pemerintah menetapkan:
1. reformasi birokrasi dan tata kelola
2. pendidikan
3. kesehatan
4. penanggulangan kemiskinan
5. ketahanan pangan
6. infrastruktur
7. iklim investasidan usaha
8. energi
9. lingkungan hidup dan bencana
pajak yang bersifat insentif serta menghilangkan
kebijakan kebijakan pajak yang bersifat disinsentif.

B. Pajak Untuk Pembangunan Nasional


Program pembangunan nasional sebagai upaya untuk
mewujudkan tujuan dan cita cita berbangsa dan
bernegara.
Pemerintah Indonesia menyusun RPJP dan RPJMN.
Guna merealisasi program program tersebut.
Untuk merealisasi tujuan tujuan tersebut pajak dapat
menjadi instrumen pendorong pencapaian target target-
10. daerah tertinggal, terdepan, terluar dan pasca
konflik, serta
11. kebudayaan , kreativitas dan inovasi teknologi
Sudah seharusnya kebijakan pajak yang dipilih
harus dapat mendorong 11 prioritas tersebut.

Ketidak selarasan antara kebijakan pajak dan RPJMN


akan menghambat pencapaian target target yang telah
ditetapkan.
Contoh
Jika pemerintah menetapkan kesehatan sebagai salah
satu prioritas nya, namun kebijakan pajak yang berlaku-
Justru menimbulkan beban pajak yang tinggi, maka
pencapaian target akan terdistorsi
C. pajak Untuk Pembangunan Regional
Geografis suatu negara berbeda beda, pada akhirnya
juga mempengaruhi kebijakan pajak yang dipilih.
Provinsi membutuhkan pajak bukan hanya sebagai
instrumen keadilan dan pemerataan, tetapi juga sebagai
instrumen pembangunan regional.
bahwa insentif pajak untuk pembangunan regional
bukan hanya dilakukan oleh NSB tetapi juga oleh negara
industri/negara maju.
D. Pajak Untuk Pembangunan Ekonomi
Pajak dan pembangunan ekonomi adalah bagian yang
tdk terpisahkan. Keterkaitan dan ketergantungan antara
satu dengan yang lainya terjadi karena potensi
pemungutan pajak berada dalam aktivitas ekonomi. OKI
pajak dapat dijadikan sebagai instrumen yang bertujuan
untuk mendorong pembangunan nasional

Sebaliknya pajak dapat dijadikan sebagai instrumen


untuk mendistorsi aktivitas ekonomi tertentu yang tidak
diharapkan oleh pemerintah.
Menjadi sangat penting bagi pemerintah untuk
merumuskan kebijakan insentif pajak bukan hanya
berdasarkan permintaan pelaku ekonomi atau keinginan
investor tetapi berdasarkan kepentingan bangsa dan
negara. Dengan demikian kebijakan insentif pajak
seharusnya didisain sejalan dengan program pemb
ekonomi nasionl.

Tarif pajak yang tinggi mengidentifikasikan pilihan


pemerintah untuk menghambat pertumbuhan sektor
ekonomi tersebut.
Sebaliknya tariff yang rendah dari tariff umum yang
berlaku, fasilitas pembebasan atau bentuk bentuk
fasilitas fasilitas pajak lainnyayang bersifat mengurangi
beban pajak, pada hakekatnya mengindikasikan pilihan
pemerintahuntuk mendorong pertumbuhan sektor
tersebut.

Dengan demikian kebijakan pajak yang dipilih pada


hakekatnya mempresentasikan pilihan pemerintah atas
aktivitas ekonomiyang ingin atau tidak di dorong.
4. Fungsi Pajak Sebagai Instrumen Ketenagakerjaan
Negara mengemban amanah untuk menjamin semua
warga negaranya mempunyai kesempatan untuk
mendapatkan pekerjaan.

Keberpihakan Pemerintah terhadap masalah


ketenagakerjaan kerap kali didukung dengan kebijakan
kebijakan lain yang terkait, antara lain kebij pajak
memberikan insentif pajak salah satu tujuan
khusus insentive pajak adalah menciptakan lapangan
kerja
bahwa rasionalisasi kebijakan moneter dan fiskal
sejak awal tahun 1950 an adalah pertumbuhan ekonomi
yang mampu menekan angka pengangguran serta
stabilitas harga.

Kemajuan pembangunan merupakan tujuan yang


ingin dicapai oleh pemerintah dinegara manapun.
Untuk mewujudkan pembangunan dibutuhkan
ketersediaan sumber dayamodal
membangun infrastruktur,menggaji aparat
pemerintah, menyediakan pelayanan dasar dasar -
masyarakat, memberikan subsidi dsb.

pemerintah setiap tahun merumuskan


APBNmerencanakan bagaimana memperoleh
penerimaan dan membelanjakan sumber daya yang
telah diperoleh sesuai skala prioritas sehingga di
tengah keterbatasan pemerintah dapat melakukan poin
poin pembangunan yang ingin dicapai.
Struktur APBN
pendapatan Negara
Pajak, penerimaan bukan pajak dan hibah
Belanja Negara
Belanja pemerintah pusat
Transper ke daerah dan
Suspen belanja negara

penerimaan pajak msh menjadi tulang punggung


pendapatan negara.
Tahun anggaran 2010, realisasi penerimaan pajak Rp
723,306 trilyun atau 72,67 % dari total penerimaan
negarasebesar Rp 995,271 trilyun
Tranfer belanja ke daerah :
DAU, DAK, dan dana bagi hasil pajak.

Studi Kasus di Daerah


Transfer DAU dari pusat ke daerah yang cenderung
meningkat akan sangat membantu pembangunan
perekonomian di daerah yang masih mengalami
ketimpangan fiskal.
Apbn 2012, penerimaan pajak ditargetkanRp 1.032,6
trilyun atau 78,74% dari total anggaran negara Rp
1.311,4 trilyun merupakan kontributor pendapatan
yang paling dominan dalam membiayai belanja belanja
negara.
Tahun 2014 ditargetka penerimaan sektor pajak 80> dari
APBN.

Realisasi antara Pajak dengan Dana Bagi Hasil Pajak


Penghasilan.
Target penerimaan pajak selalu meningkat dari tahun ke
tahun, memiliki korelasi positif terhadap peningkatan-
Selain DAU dan DAK pemerintah daerah masih dapat
transfer dari pemerintah pusat berupa DBH pajak.

Besarnya DBH tergantung pada kontribusi daerah


tersebut dalam penyetoran pajak negara semakin
besar kontribusi daerah dalam penyetoran pajak negara,
maka semakin besar DBH Pajak yang akan diterima

Korelasinya untuk daerah,


DBh Pajak yang besar akan meningkatkan kapasitas
daerah melakukan program program untuk
pembangunan di daerah.
Peran serta Bendaharawan Pemerintah
Untuk menertibkan penerimaan pajak,pem Indonesia
menganut 3 sistem pemungutan pajak.
1. Official assessment system
System pemungutan yang mana pemerintah (fiskus)
berwenang untuk menentukaan besarnya pajak yang
terhutang PBB

2. Self Assessment system


System pemungutan yang mana WP diberi kewenangan
untuk menghitung sendiri besarnya pajak terutangPPn
dan PPh
3. with Holding System
System perpajakan yang mana pihak ketiga
(pemungut/pemotong) diberi kewenangan untuk
menentukan nilai pajak terutangdari wajib pajak PPh
pasal21,22,23, pasal 4 ayat 2 dan PPn.

Dari identifikasi di atas, maka keberhasilan pencapaian


realisasi penerimaan pajak tergantung pada peran aktif 3
pihak. Pemerintah, wajib pajak dan pihak pihak ke 3
(pemungut/pemotong.
Bendaharawan pemerintah selaku pemungut/pemotong
pajak juga memiliki andil besar dalam sumbangannya
dalam mengamankan penerimaan pajak.

Kelalaian bendahara pemerintah dalam mentaati


ketentuan perpajakan akan mengakibatkan
berkurangnya penerimaan pajak, sehingga akan
menurunnya kemampuan pemerintah untuk membiayai
kebutuhan belanja negara.
Dasar Hukum Penunjukan Bendaharawan Sebagai
Pemungut/Pemotong Pajak
Bendaharawan ditunjuksebagai pemungut/pemotong
pajak didasarkan pada ketentuan sbb:
1. UU nomor 36 th 2008 tentang pajak penghasilan
A. pasal 21 pemotongan pajak atas penghasilan sehub
dg pekerjaan, jasa, atau kegiatan dengan nama dan
dalam bentuk apapun yang diterima atau diperoleh WP
orang pribadi dalam negeri dilakukan oleh:

(i). Pemberi kerja yang membayar gaji, upah, dan -


Pembayaran lain sebagai imbalan sehub dg pekerjaan
yang dilakukan oleh pegawai atau bukan pegawai,

(ii). Bendaharawan pemerintah yang membayar gaji,


upah, honorarium, tunjangan, dan pembayaran lain
sehubungan dengan pekerjaan, jasa atau kegiatan.

(iii). Dana pensiun atau badan lain yang membayarkan


uang pensiun dan pembayaran lain dengan nama
apapun dalam rangka pensiun.
(iv). Badan yang membayar honorarium atau
pembayaran lain sebagai imbalan sehubungan dengan
jasa termasuk jasa tenaga ahli yang melakukan
pekerjaan bebas dan

(v). Penyelenggara kegiatan yang


melakukanpembayaran sehubungan dengan
pelaksanaan suatu kegiatan.

B. pasal 22 ayat 1 menteri keuangan dapat


menetapkan:
(i). Bendahara pemerintah untuk memungut pajak
sehubungan dengan pembayaran atau penyerahan
barang.
(ii). Badan badan tertentu untuk memungut pajak dan
WP yang melakukan kegiatan di bidang import atau
kegiatan usaha di bid. Lain dan-
(iii). WP badan tertentu untuk memungut pajak dari
pembeli atas penjualan barang yang tergolong sangat
mewah.

C. Pasal 23 ayat 1 yang berbunyi bahwa -


Atas penghasilan tersebut dibawah ini dengan nama dan
dalam bentuk apapun yang dibayarkan, disediakan
untuk dibayarkan, atau telah jatuh tempo
pembayarannya oleh badan pemerintah, subjek pajak
badan dalam negeri, penyelenggara kegiatan, bentuk
usaha tetap atau perwakilan perusahaan luar negeri
lainnya kepada WajibPajak dalam negeri atau bentuk
usaha tetap dipotong pajak oleh pihak yang wajib
membayarkan.

Undang undang nomor 42 tahun 2009 tentang PPn-


dan PPnBM pasal 1 angka 27 yang berbunyi
Pemungutan Pajak Pertambahan Nilai adalah adalah
Bendaharawan Pemerintah badan atau instansi yang
ditunjuk oleh menteri Keuangan untuk memungut,
menyetor, dan melaporkan pajak yang terutang oleh
Pengusaha Kena Pajak atas penyerahan Barang kena
Pajak dan/atau penyerahan Jasa Kena Pajak kepada
bendahara pemerintah, badan, atau instansi pemerintah
tersebut.

3. pengumuman Dirjen Pajak NO :


No :-05/Pj.09/2010 tentang kewajiban Bendahara
Pemerintah Pusat dan Daerah Untuk melakukan
pemotongan/pemungutan Pajak dalam angka 1yang
berbunyi Bahwa Setiap Bendahara pemerintah Pusat
dan Daerah di Lingkungan
Kementrian/lembaga/Instansi Pemerintah, diingatkan
kembali kewajiban untuk;
i). Melaksanakan pemotongan/pemungutan pajak
Ii). Melakukan penyetoran pajak ke Bank
persepsiatau Kantor Pos dan
Iii). Melakukan pelaporan ke Kantor Pelayanan -
Pajak sesuai batas waktu yang ditentukan.

Sesuai dengan ketentuan di atas, maka bendahara


pemerintah wajib melaksanakan kewajiban pemotongan
atau pemungutan pajak pusat atas dana yang berasal
dari APBN/APBD yang diantaranya:

PPh pasal 4 ayat 2


Pemotongan atas penghasilan yang dibayarkan sehub.
Jasa tertentu dan sumber tertentu (jasa konstruksi, sewa
tanah/bangunan, pengalihan hak atas tanah/bangunan-
Pasal 23.
Pemotongan atas penghasilanyang dibayarkan berupa
hadiah, bunga, sewa, royalty,bunga, deviden dan jasa jasa
lainnya selain objek PPh pasal 21.

PPn dan PPnBM


Pemungutan atas pajak konsumsi yang dibayar sendiri sehub.
Penyerahan Barang Kena Pajak dan Jasa kena Pajak.

Bea Meterai
Pembayaran atas pemanfaata dokumen dokumen
tertentu.(kuitansi, kontrak dan lainnya).
hadiah, undian dan lainnya).

PPh pasal 21
Pemotongan atas panghasilan yang dibayarkan kepada
orang pribadisehubungan dengan pekerjaan, jasa dan
kegiatan.

PPh pasal 22
Pemungutan atas penghasilan yang dibayarkan sehub.
Dengan pembelian barang.
Ketentuan Umum dan Tatacara Perpajakan KUP
Dasar Dasar Perpajakan
1. pengertian pajak

2. Pengelompokan Pajak
1. Menurut Golongannya
A. Pajak Langsung
Pajak yang secara ekonomis menjadi tanggung jawab
WP dan tidak dapat dibebeankan atau dialihkan kepada
pihak lain pajak penghasilan.
B. Pajak Tidak Langsung
Pajak yang secara ekonomis dapat dialihkan kepada
orang lain PPn dan pajak penjualan barang mewah.

2.Menurut Sifatnya
i. Pajak Subjektif
Pajak yang pembebanannya berdasarkan subjeknya
pajak penghasilan
Ii. Pajak Objektif
Pajak yang pembebanannya berdasarkan objeknya -
tanpa memperhatikan kondisi subjek atau WP PPn
dan PPnBM.

3. menurut Kewenangan Pemungutnya


i. Pajak Pusat
Pajak yang di kelola oleh Pemerintah Pusat dan menjadi
sumber penerimaan APBN PPh, PPn dan PPnBM,
Bea Meterai
Ii. Pajak Daerah
Pajak yang dikelola oleh pemerintah Daerah dan
menjadi sumber penerimaan APBD.
pajak kendaraan bermotor, pajak hotel dan restoran,
pajak reklame dan pajak penerangan jalan.

Tarif Pajak
1. Tarif Proporsional
Tarif yang besarnya nilai pajak akan proposional dengan
besarnya jumlah yang dikenakan pajak tarif PPn 10%
dari dasar Pengenaan Pajak(DPP). Bila DPPnya besar
maka pajak yang dikenakan besar dan sebaliknya.
2. Tarif Tetap
Tarif yang jumlahnya akan tetap berapapun jumlah yang
dikenai pajak bea meterai

3. Tarif Progresif
Tarif yang digunakan senakin besar bila jumlah yang
dikenai pajak semakin besar.

4. Tarif degresif
Kebalikan dari tarif progresif merupakan tarif yang
digunakan akan semakin kecil bila jumlah yang di -
Kenai pajak semakin besar.

Istilah Istilah Perpajakan


1. wajib pajak, orang pribadi atau badan, meliputi
pembayar pajak, pemungut pajak, yang mempunyai hak
dan kewajibanperpajakan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang undangan perpajakan.
2. NPWP
Sebagai sarana dalam administrasi perpajakan yang
dipergunakan sebagai tanda pengenal diri atau identitas
WP dlm melaksanakan hak dan kewajiban perpjkan.
5 Tahun Pajak
Jangka waktu 1 (satu) tahun kalender kecuali jika wajib
pajak menggunakan tahun buku yang tidak sama
dengan tahun kalender.
6. Penghasilan Brutto
Jumlah penghasilan ditambah tunjangan tunjangan
yang diterima oleh WP
7. Penghasilan Netto
Jumlah penghasilan brutto ikurangi biaya jabatan dan
biaya pensiun dan iuran THT yang ditangg. Oleh
pegawai.
3. Objek Pajak Penghasilan
Penghasilan, yaitu setiap tambahan kemampuan
ekonomis yang diterima atau diperoleh WP, baik yang
berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia yang
dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah
kekayaan WP ybs dengan nama dan dalam bentuk
apapun
4. Masa Pajak
Jangka waktu yang menjadi dasar bagi WP untuk
menghitung, menyetor, dan melaporkan pajak yang
terutang dalam suatu jangka waktu tertentu.
8. Penghasilan Tidak Kena Pajak
PTKP batasan minimal penghasilan untuk dapat
dikenakan pajak atau tidak.
9. Penghasilan Kena Pajak (PKP)
Besarnya penghasilan netto dikurangi dengan PTKP.
Nilai PKP yang akan dikenakan tarif pajak pasal 17 UU
PPh.
10. Pajak yang Terutang
Pajak yang harus dibayar pada suatu saat, dalam masa
pajak, dalam Tahun Pajak atau dalam Bagian Tahun
Pajak sesuai dengan ketentuan -
peraturan perundang undangan perpajakan.
11. Barang/Jasa Kena Pajak
Barang/jasa yang dikenakan PPn menurut Undang
Undang PPn
12. Dasar Pengenaan Pajak
Jumlah harga jual, penggantian, nilai import, nilai ekspor
atau nilai lain yang ditetapkan Menteri keuangan sebagai
dasar untuk menghitung pajak yang terutang.

C. hak dan Kewajiban Bendaharawan Selaku Wajib


Potong/Pungut
Sebagai pemungut dan pemotong pajak pajak negara
maka bendaharawan pemerintah mempunyai hak dan
kewajiban perpajakan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang undangan perpajakan.

1. Hak Wajib pajak:


Perlindungan atas kerahasiaan data wajib pajak,
Penundaan pembayaran, dalam kondisi tertentu
Pengangsuran pembayaran, dalam hal dan kondisi
tertentu
Pembebasan pajak menurut kebijakan DJP apabila WP-
WP mengalami musibah dikarenakan force majeur
seperti bencana alam.
Penundaan pelaporan SPT tahunan apabila WP tidak
dapat menyelesaikan/menyiapkan laporan keuangan
tahunan untuk memenuhi batas waktu penyelesaian, WP
berhak mengajukan permohonan perpanjangan
penyampaian SPTtahunan pajak penghasilan paling
lama 6 (enam) bulan.
Restitusi pengembalian kelebihan pembayaran pajak,
apabila WP merasa bahwa jumlah pajak atau kredit
pajak yang dibayar lebih besar dari pada jumlah pajak-
Yang terutang, atau telah dilakukan pembayaran pajak
yang tidak seharusnya terutang, dengan catatan WP
tidak punya utang pajak lain.
Insentif perpajakan, di bidang PPn, untuk barang kena
pajak tertentu atau kegiatan tertentu diberikan fasilitas
pembebasan PPn atau PPn tidak dipungut.
Contoh, BKP tertentu yang dibebaskan dari pengenaan
PPn kereta api, pesawat udara, kapal laut, buku
buku perlengkapan TNI/Polri.
2. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP)
nomor yang diberikan kepada waji pajak sebagai
sarana , merupakan tanda pengenal atau identitas bagi
setiap WP dalam melaksanankan hak dan kewajibannya
di bidang perpajakan.

Proses pendaftaran NPWP


1. mendaftaran di KPP setempat
2. mengisi formulir pendaftaran
3. melampirkan foto kopi surat keputusan pengangkatan
sebagai bendaharawan.
4. melampirkan fotokopi KTP/SIM bendaharawan ybs.

Pengusaha Kena Pajak


Setelah memperoleh NPWP sebagai pengusaha yang
melakkan penyerahan barang/jasa kena pajak dalam
daerah pabeaan yang dikenakan PPn, wajib melaporkan
usahanya untuk dikukuh kan sebagai Pengusaha Kena
Pajak (PKP) pada KPP setempat/dapat dengan
sistem on line melalui e-register.
Pengusaha kecil dengan batasan jumlah peredaran
bruto atau penerimaan bruto tidak lebih dari 600 jt,
dikecualikan dari pengertian PKP,
yang termasuk pengusaha kena pajak:
1. pabrik atau produsen
2. agen utama dan penyalur utama pabrikan atau
importir
3. pemegang hak paten atau merek dagang barang kena
pajak.
4. pedagang besar
5. pengusaha yang melakukan penyerahan jasa kena
pajak
6. pedagang eceran.
7. pedagang kecil yang memilih untuk dikukuhkan
sebagai PKP.
pada proses pengukuhan sebagai PKP dilakukan
penelitian setempat mengenai keberadaan kegiatan
usaha ybs.
Dengan dikukuhkan PKP maka penyerahan atas barang
atau jasa kena pajak, wajib diterbitkan Faktur Pajak.

Faktur Pajak bukti pungutan pajak yang dibuat oleh


PKP yang melakukan penyerahan BKP atau jasa kena
pajak (JKP) atau bukti pungutan pajak karena import -
Barang kena pajak yang digunakan oleh DirJen Bea dan
Cukai.
Faktur Pajak berupa Faktur Pajak Standar paling sedikit
dibuat dalam rangkap dua yaitu
i. lembar ke 1 : untuk pembeli BKP atau penerima JKP
sebagai bukti pajak masukan

Ii. Lembar ke 2. :Untuk PKP yang menerbitkan Faktur


Pajak standar sebagai bukti Pajak Keluaran.
apabila pemungutan PPn dilakukan oleh
bendaharawan maka rekanan perlu membuat tambahan
foemulir faktur pajak yang diperuntukkan untuk - .
KPP dan KPPN.
F. Surat Setoran Pajak. (SSP).
Setelah bendaharawan mendapatkan NPWP,
selanjutnya bendaharawan dapat bertindak sebagai
pemotong /pemungut pajak pajak negara .
Pemotongan/pemungutan pajak disetorkan melalui
kantor pos atau bank persepsi dengan menggunakan
SSP. sebagai bukti pembayaran atau penyetoran
pajak yang telah dilakukan

SSP sebagai bukti pembayaran masing masing


Memiliki kode akun pajak dan kode jenis setoran yang
berbeda.

Surat Pemberitahuan (SPT).


Setelah pembayaran hasil pungutan /potongan pajak,
Bendaharawan juga memiliki kewajiban untuk
melaporkan pajak yang terhutang melalui KPP setempat
dengan menggunakan SPT Masa atau Tahunan

Surat Pemberitahuan surat yang oleh WP digunakan


untuk melaporkan penghitungan dan/atau pembayaran-
pajak, objek pajak dan/atau bukan objek pajak , dan atau
harta dan kewajiban sesuai dengan ketentuan
ketentuan perundang undangan perpajakan.

Bagi pemotong atau pemungut pajak, SPT brfungsi


sebagai sarana untuk melaporkan dan
mempertanggungjawakan pajak yang dipotong atau
dipungut dan disetorkan,SPT terdiri atas 2.yaitu:
1. SPT Masa surat pemberitahuan untuk suatu masa
pajak tertentu.
2. SPT Tahunan untuk suatu tahun pajak atau bagian
tahun pajak

Batas Waktu pembayaran Pajak dan Pelaporan Pajak


Untuk ketertiban dan kepatuhan pelaksanaan
perpajakan, maka melalui undang undang KUP dan
peraturan menteri keuangan yang terkait telah diatur
mengenai batas waktu pembayaran serta batas waktu
penyampaian SPT.
PPh pasal 4 ayat 2
PPh pasal 21
PPh pasal 22 Bendaharawan
PPh pasal 23
PPn/PPn BM Bendaharawan
SPT PPh pasal 21

I. Sanksi Administrasi
1. apabila pembayaran atau penyetoran pajak dilakukan
setelah tanggal jatuh tempo pembayaran atau
penyetoran pajak, dikenai sanksi administrasi berupa
bunga 2% perbulan dikalikan dasar pengenaan pajak
(DPP) yang dihitung dari tanggal jatuh tempo -
Pempbayaran sampai dengan tanggal pembayaran, dan
bagian dari bulan dihitung penuh satu bulan.
2. apabila SPT sebagai bukti pelaporan pajak tidak
disampaikan dalam jangka waktu yang ditentukan, maka
dikenai sanksi administrasi berupa denda Rp 500.000,-
untuk SPT Masa PPn , Rp 100.000,- untuk SPT lainnya.

Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 4 Ayat 2


A. Dasar Hukum
1. UU Nomor 36 Th 2008 tentang perubahan keempat
atas UU Nomor 7 tahun 1983 tentang pjk penghasilan.
2. UU nomor 28 Th 2007 tentang perubahan ketiga atas
UU nomor 6 tahun 1983 ketentuan umum dan tata cara
perpajakan.
3. peraturan pemerintah no 40 Th 2009 tentang
perubahan atas peraturan pemerintah no 51 tahun 2008
tentang pajak penghasilan atas penghasilan dari usaha
jasa konstruksi.
4. peraturan pemerintah no 17 tahun 2009 tentang PPh
atas penghasilan dari transaksi Derivatif berupa kontrak
berjangka yang diperdagangkan di bursa.
5. Peraturan Pemerintah no 16 no 16 tahun 2009
tentang PPh atas penghasilan Bunga Obligasi.
6. Peraturan Pemerintah 71 tahun 2008 tentang
perubahan ke3 atas peraturan pemerintah no 48 tahun
1994 tentang pembayaran Pphatas penghasilan dari
pengalihan Hak atas Tanah dan/atau bangunan.
7. peraturan pemerintah no 27 tahun 2008tentang PPh
atas diskonto Surat perbendaharaan Negara.
8. Peraturan pemerintah no 5 tahun 2002 tentang
perubahan atas peraturan no 29 tahun 1996 tentang
Pembayaran PPh atas penghasilan dari persewaan
tanah dan/atau bangunan.
9. Peraturan Pemerintah no 132 tahun 2000 tentang
Pphatas Hadiah Undian.
10. Peraturan pemerintah no 131 tahun 2000 tentang PPh
atas bunga deposito dan tabungan serta Diskonto
Sertifikat Bank Indonesia.
11. Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia no
243/PMK.03/2008 tentang perubahan kedua atas
keputusan Meneri keuangan no 635/KMK.04/1994
Tentang Pelaksanaan pembayaran Pphatas penghasilan
dari Pengalihan Hak Atas tanah dan bangunan.
12. kepitusan menteri Keuangan KMK-
120/KMK.03/2002 tentang perubahan Keputusan
menteri keuangan no 394/KMK.04/1996 Tentang
pelaksanaan Pembayaran dan pemotongan PPh atas
Penghasilan dari persewaan Tanah dan bangunan.
13. keputusan Direktur Jendral Pajak No KEP
227/PJ./2002 tentang tata cara Pemotongan dan
pembayaran serta pelaporan PPh dari persewaan Tanah
dan/atau Bangunan.
14. keputusan dirjen Pajak no KEP 395/PJ./2001 tentang
pengenaan PPh atas hadiah dan penghargaan.
B. Objek pajak penghasilan Pasal 4 Ayat 2.
1. Penghasilan dari transaksi pengalihan harta berupa
tanah dan/atau bangunan.
2. Penghasilan atas sewa tanah dan bangunan.
3. Penghasilan dari kegiatan konstruksi baik dari
perencanaan , pelaksanaan, dan pengawasan
4. Hadiah undian merupakan hadiah dalam bentuk
apapunyang diberikan melalui undian.
5. Penghasilan atas bunga deposito dan tabungan serta
diskonto Sertifikat bank Indonesia.
6. penghasilan atas diskonto Surat perbendaharaan
Negara (SPN). Apabila suatu pemerintah daerah
memperoleh penghasilan atas diskonto surat utang neg
dari kegiatan investasi maka yang wajib memotong
pajak atas penghasilan tsb adalah penerbit SPN atau
perusahaan perantara (BROKER).
7. penghasilan berupa bunga obligasi. Pemotong
tergantung atas penghasilan berupa bunga obligasi.
adalah penerbit obligsi selaku agen pembayaran yang
ditunjuk dan/atau perusahaan efek, dealer, atau bank
selaku pedagang perantara.
8. penghasilan dari transaksi derivatif berupa kontrak
berjangka. Pihak yang wajib memungut pajak yang
terutang atas penghasilan dari transaksi derivatif yaitu
lembaga kliring dan penjamin.

C. Tarif Pajak penghasilan Pasal 4 Ayat 2.


Tarif untuk pengenaan pajak sesuai objek penghasilan
yang terkait dengan bendaharawan sbb:
1. pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan 5%
2. persewaan tanah dan Bangunan10%
3. Kegiatan konstruksi yang meliputi:
A. jasa pelaksana konstruksi tidak memiliki kualifikasi
4%
B. Jasa Pelaksana konstruksi kualifikasi usaha kecil
2%
C. Jasa pelaksana konstruksi kualifikasi usaha besardan
menengah 3%
D. Jasa perencanaan dan pengawasan konstruksi
berkualifikasi usaha 4%
E. Jasa perencanaan dan pengawasan konstruksi tidak
memiliki usaha 6%
masing masing tarif tersebut dikenakan dari
penghasilan bruto tidak termasuk PPn dan bersifat final.

4. Hadiah atas undian 25%

D. Saat terutangnya pajak


PPh pasal 4 ayat 2 mulai menjadi mulai kewajiban WP
yaitu saat penghasilan tersebut diterimakan kepada WP
dan Bendaharawan langsung memotong penghasilan
tersebutsesuai pajak terutangnya.
E. Kewajiban Bendaharawan
1. memotong PPh pasal 4(2) dari WP
2. menyetorkan PPh pasal 4(2) yang terutang ke bank
persepsi dengan menggunakan SSP
3. Menyerahkan bukti potong PPh pasal 4 (2) kepada
WP
4. Melaporkan SPT Masa PPh pasal 4 (2)ke kantor
pelayanan pajak (KPP).

Mekanisme Penyetoran dan Pelaporan


1.penyetoran PPh pasal 4 (2) terutang melalui bank-
Bank perepsi atau kantor pos paling lambat tanggal 10
bulan berikutnya setelah masa pajak berakhir. Bila
penyetoran terlambat dari tanggal jatuh tempo, maka
dikenakan denda administratif berupa bunga 2% sebulan
dari nilai pajak terutang.

2. Penyampaian SPT Masa melalui KPP paking lambat


20 hari setelah masa pajak berakhir. Penyampaian SPT
masa yang melebihi tanggal jatuh tempo tersebut
dikenakan denda sebesar Rp 100.000,-
Contoh
Tanggal 10 Januari 2013, Dinas ABC menerima
penyelesaian kegiatan konstruksi pembangunan gedung
sebesar Rp 80.000.000,- (sudah termasuk PPn). Atas
transaksi tersebut, Bendaharawan akan membayar pada
rekanan dan memotong PPh pasal 4(2) dengan
perhitungan sebagai berikut:
A. Menghitung nilai dasar pengenaan pajak atas
kegiatan kunstruksi yaitu nilai jasa tidak masuk PPn
DPP 100/110 x jumlah bruto
100/110 x Rp 80.000.000,-
Rp 72.727.273,-
B. Menghitung PPn
PPn tarif 10% x DPP
10% x Rp 72.727.273,-
Rp 7.272.727,-
C. Menghitung PPh pasal4(2) atas kegiatan konstruksi
untuk rekanan dengan kualifikasi usaha konstruksi
katagori kecil
PPh pasal 4 (2) tarif 2% x DPP
2% x Rp 72.727.273,-
Rp 1.454.545,-
D. Jumlah yang dibayarkan Bendaharawan kepada CV
Indonesia Hebat selaku rekanan/penyedia jasa.
Jumlah bruto termasuk PPn Rp 80.000.000,-
Dikurangi:
Pungutan PPn Rp 7.272.727,-
Potongan PPh pasal 4 (2) Rp 1.454.545,- +
-------------------
Jumlah pot-put pajak Rp 8.727.727
----- ------------ --
Jumlah uang yg dibayarkan Rp 71.272.728

Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21.


A. Dasar Hukum
1. undang undang no 36 th 2008 tentang perubahan
keempat atas Undang undang no 7 th 1983 tentang
pajak penghasilan.
2. UU no 28 th 2007 tentang perubahan ketiga atas UU
no 6 th1883 tentang KUP.
3. PP no 80 th 2010 tentang tarif pemotongan dan
pengenaan PPh pasal 21 atas penghasilan yang
menjadi beban APBN atau APBD
4. Peraturan menteri Keuangan no 250/PMK.03/2008
tentang Besarnya Biaya jabatan atau Biaya pensiunyang
dapat Dikurangkan dari Penghasilan Bruto
pegawaiTetapatau Pensiunan
5. Peraturan Menteri keuangan no 254/PMK.03/2008
tentang Penetapan Bagian Penghasilan Sehubungan
dengan pekerjaan dari Pegawai harian dan Mingguan
serta Pegawai tidak TetapLainnya yang Tidak Dikenakan
Pemotongan PPh.
6. Peraturan direktur Jendral Pajak no PER-57/PJ/2009
tentang pedoman Teknis Tatacara Pemotongan,
Penyetoran dan Pelaporan Pphpasal 21 dan / atauPPh
Ps 26 sehub dg pekerj, jasa,dan kegiatan orang pribadi.
B. Objek PPh Pasal 21
Yi penghasilan sehub dengan pekerjaan, jasa, atau
kegiatan dengan nama dan dalam bentuk apapun yang
diperoleh atau diterima atau diperoleh WP orang pribadi
dalam negeri. Meski demikian ada beberapa
penghasilan yang merupakan Non-Objek PPh pasal 21.
1. Objek Pasal 21
A. Penghasilan yang diterima oleh pegawai atau
penerima pensiun secara teratur berupa gaji, uang
pensiun, honorarium, , uang lembur, tunjangan
tunjangan bea siswa, uang tunggu, uang -
Premi asuransi yang diberi pemberi kerja dan
penghasilan teratur lainnya dengan nama apapun.
B. Penghasilan yang diterima oleh pegawai secara tidak
teratatur berupaserta diperoleh tunjangan THR, bonus,
jasa produksi , premi tahunan, dan lain lainnya yang
sifatnya tidak tetap.
C. upah berupa upah harian, upah mingguan, upah
satuan, dan upah borongan yang diterima atau diperoleh
pegawai tidak tetap atau tenaga kerja lepas , atau uang
saku harian atau mingguan yang diterima peserta
pendidikan, pelatihan, atau pemagangan yang
merupakan calon pegawai.
D. Penghasilan yang diterima karena berhenti kerja ,
pensiun, pindah kerja, seperti pesangon, uang
tebusan,pensiun
E. Imbalan kepada bukan pegawai antara lain berupa
honorarium, komisi, fee, dan imbalan sejenisnya dengan
namadan dalam bentuk apapunsebagai imbalan
sehubungan dengan pekerjaan, jasa dan kegiatan yang
dilakukan.
F. Imbalan kepada peserta kegiatan, antara lain berupa
uang saku , uang representasi , uang rapat, honorarium
hadiah atau penghargaan dengan nama dan dalam
bentuk apapun, dan imbalan sejenis dengan nama
apapun.
G. penghasilan tdk teratur lainnya. Penghasilan yang
disebut dalam pasal 5 huruf e KEP-545/PJ./2000
sebagaimana diubah dengan Perdirjen Pajak N0. PER-
31/PJ/2009 seperti:
Penghasilan tenaga ahli yang melakukan pekerjaan
bebas
Penghasilan yang diterima oleh mantan pegawai
Penarikan dana pensiun
Penghasilan petugas dinas luar asuransi dan penjaja
barang dagangan
Hadiah atau penghargaan perlombaan
Imbalan atas jasa dan kegiatan lainnya.

2. Non Objek PPh pasal 21


A. pembayaran manfaat atau santunan asuransi dari
perusahaan dari asuransi sehubungan dengan asuransi
kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi
dwiguna, dan asuransi bea siswa.
B. penerimaan dalm bentuk natura dan atau kenikmatan
dalam bentuk apapunyang diberikan oleh WP atau
Pemerintah. Contoh: seragam untuk satpam, pakaian
untuk keselamatan, dan lainnya.
C. Iuran pensiun yang dibayar oleh kerja kepada dana
pensiun yang pendiriannya disahkan oleh
menteriKeuangan, serta iuran tabungan hari tua (THT)
atau jaminan hari tua (JHT) kepada badan
penyelenggara jamsostek.
D. Zakat yang diterima oleh orang pribadi yang berhak
(mustahik) dari badan atau lembaga amil zakat yang
dibentuk atau disahkan pemerintah.
E. Beasiswa yang diterima WNI dalam rangka mengikuti
pendidikan formal/non formal di dalam negeri dan/atau
luar negeridengan syarat-
pemberi dan penerima beasiswa tidak mempunyai
hubungan istimewa.

Penerima Penghasilan yang Dipotong PPh pasal 21


A.. Pegawai tetap
B. Tenaga lepas (seniman, olahragawan, penceramah,
pemberi jasa, pengelola proyek)
C. Peserta perlombaa, petugas dinas luar asuransi,
distributor MLM/direct selling dan kegiatan sejenis.
D. Penerima pensiun, mantan pegawai, termasuk orang
pribadi atau ahli waris yang menerima tabungan hari tua
atau jaminan hari tua.
F. Tenaga ahli (pengacara, akuntan, arsitek, dokter,
penilai dan profesi lainnya)

Penerima penghasilan yang tidak dipotong PPh


Pasal 21.
SuratKetetapanPajak
surattagihanpajak
suratketetapanpajakkurangbayar
suratketetapankurangbayartambahan
suratketatapanpajaknihil
suratketetapanpajaklebihbayar
pasal1huruf15UUKUP
Kebijakan Fiskal Pengelolaan Pajak di Indonesia

Indonesia merupakan nrgara bangsa yang unik keunikan terletak


pada berbagairegulasi yang dibuat oleh antar rezim yang berkuas .
tentang penjelasan historis tentang kebijakan fiskal negara
dimulaidari orde lama, orde barudan rezim reformasi.

dinamika kebijakan fiskal dan perpajakan dalam konteks studi


perbandingan antar rezim berkuasa penting dilakukan untuk
memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif tentang
keterlibatan masy dalam proses politik yang dilaksanakan negara.
Ng
Negara kesatuan republik Indonesia di bagi atas daerah
daerah provinsi dan daerah provinsi dibagi atas kabupaten dan
kotayang tiap tiap provinsi, kabupaten, dan kota itu
mempunyai pemerintahan daerah yang diatur dengan UU.

spirit di atas sudah dirumuskan dalam UU Otonomi Daerah tahun


1999 (UU No .22/1999) mengenai pentingnya sifat otonomi
pemerinah daerah. diperjelas pada UU No 32 tahun 2004 tentang
pemerintah pusat (pembaharuan UU No22) tentang pemerintah
daerah urusan pemerintah pusat dipertegas dan jelas berkuasa
pada 6 bidang 1 pol luar negeri 2. pertahana 3. keamanan 4. yustisi
5. moneter dan fiskal nasional. 6. agama
yang menjadi urusan daerah adalah seluruh kewenangan di
luar yang menjadi kewenangan pemerintah pusat.
terbatasnya kewenangan pusat memperlihatkan adanya
kemauan politk yang kuat untuk memberikan hak otonomi yang
seluas luasnya kepada daerah.

Sesuai dengan konstitusi negara Indonesia menganut sistem


negara kesatuan, yang pusat menjadi sumber kekuasaan.
dengan demikian sistem pemerintahan Indonesia bersifat
hierakhis, yang pusat sebagai pengayom bagi pemerintahan pada
level dibawahnya (prov dan Kab kota }
dalam struktur pemerintahan sejak kemerdekaan hingga kini
pemerintah pusat memiliki hak monopolo terhadap
pemerintah daerah.
sistem desentralisasi yang diterapkan masih memberi ruang
adanya keterlibatan pusat dalam berbagai pelaks
pemerintahandaerah.
sistem pemerintahan yang bersifat kesatuan dengan struktur
pemerintahan yang berjenjang membuka kemungkinan bagi
pelaeksanaannya program pelayanan umumyang lebih cepat, efektif
dan efisien kepada rakyat . Pemda dapat mengambil kebijakan
politikyang sesuai dengan kultur lokalnya karena kontitusi negara
membenarkan hal tsb dilakukan.

Proses Penganggaran Negara (pusat daerah)


. RAPBNdapat menjadi alat penilaian rakyat terhadap prilaku rezim
dalam menjalankan amanat kontitusi yang dibebankan rakyat
kepada mereka yang berkuasa.
secaa eksplisit APBN seharusnya dapat memberikan informasi
kepada seluruh stakeholders tentang apa yang akan dikerjakan
negara untuk rakyatnya dalam periode tertentudan secara implisit
APBNmenyampaikan pesanterdapatnya bebanyang harus
ditunaikanrakyat kepada negara berupa pajak.

APBN tdk hanya sekedar kumpulan daftar program dan


kegiatan rezim berkuasa tetapi di dalamnya terkandung makna
bahwa rakyat telah memberikan investasi politiknya kepada
penguasa.
akibatnya penguasa memiliki kewajiban untuk mendialogkan
agenda agenda politik itu denan rakyat minimal memiliki
aksesuntuk mengetaui programpolitik rezim berkuasa.
Sistem Penganggaran Negara
Dalam sistem penganggaran nasional pemerintah pada mulanya
menggunakan sistem anggaran yang bersifat tradisional yakni
sistem anggaran yang didasarkan pada unit organisasi.
sistem ini dianut sebagai bagian dari usaha untuk mempermudah
inventarisasi program politik rezim.
segara dalam perkembangannya pemerintah mengubah
kebijakan tersebut dari sistem anggaran teradisional berdasarkan
unit organisasi menjadi penganggaran berdasasrkan program
(program budgeting). mementingkan hub antara hasil dengan
biaya yang akan dikeluarkan .
hasil menjadi pertimbangan penting ketika suatu institusi negara
harus mengeluarkan biaya.
program anggaran yang termuat dalam APBN sedapat mungkin
berimbang dan dinamis dibuat dalam rangka penertipan keuangan
negara dan usaha untuk memupuk dana negara secara sehat guna
membiayai pembangunan.
APBN yang barmbang dan dinamis perlu mengadakan
penertipan terhadap defisit yang tidak dibiayai tidak secra inflatoir
melalui percetakan uang, tetapi melalui budgetair

APBN sebagai bagian integral dari kebijakan anggaran telah


ditertipkan pengelolaannya sejak dari persiapan, perencanaan,
pembahasan di kabinet, penyampaian kepada DPR dan
pembicaraan di DPR, persetujuan DPR menjadi UU, dan
pengaturan pelaks APBN untuk departemen departemen
pemerintah serta pengawasannya..
melalui proses panjang hingga akhirnya menjadi rumusan UU
yang berada dalam koordinasi Menteri Keuangan.

sumber keuangan yang dikelola negara atau APBN sebagian


besar digali dari masyarakat.
Dalam APBN terdapat monetery policy (menyangkut masalah
uang, jumlah uang, peredaran uang, nilai mata uang seperti
yang diungkapkan dalam tingkat bunga, kurs mata uang, dan
harga barang)

antara fiskal policy dan monetary policy mempunyai


hubungan yang saling mempengaruhi.
Fiscal Policy yang berdefisit besar dan terus menerusdapat
mempengaruhi monetary policy melalui dorongan defisit terhadap
inflasi sehingga menjadi hyper inflation.sebaliknya nilai mata
uang yangterus menerus merosot karena monetary policy yang
keliru akan mempengaruhi besaran dan efektifitas fiscal policy.

persoalan keuangan tersebut berkaitan langsung dengan


program politik negara.
kondisi keuangan yang stabil ketika kurs mata uang maupun
deficit yang bersifat wajar akan memberikan ruang yang lebih
melegakan bagi negara untuk menjalankan program sos pol dan
ekonominya guna mensejahterakan masy.
negara yang sehat adalah negara yang mampu memberikan
jaminan sosial kepada rakyatnya dengan menyediakan lapngan
kerja dan santunan sosial kepada mereka yang tidak mampu.

Relasi Antar Aktor dalam Proses Penganggaran Negara 91


negara yang sehat adalah negara yang mampu memberikan
jaminan sosial kepada rakyatnya dengan menyediakan lapngan
kerja dan santunan sosial kepada mereka yang tidak mampu.