Anda di halaman 1dari 13

Deteksi Dini Kanker Serviks

A. Pendahuluan

Kanker leher rahim atau disebut juga kanker serviks adalah sejenis kanker yang
99,7% disebabkan oleh human papilloma virus (HPV) onkogenik, yang menyerang leher
rahim. Ataupun tumor ganas yang mengenai lapisan permukaan (epitel) dari leher rahim
atau mulut rahim, dimana sel sel permukaan (epitel) tersebut mengalami penggandaan
dan berubah sifat tidak seperti sel yang normal. Penggandaan sel yang tidak menuruti
aturan yang normal itu dapat membentuk tumor atau dungkul kadang kadang luka atau
borok, yang member keluhan atau gejala keputihan yang berbau atau perdarahan
(Septadina, Kesuma, Handayani, Suciati, & Liana, 2015).

Menurut WHO, 490.000 perempuan didunia setiap tahun didiagnosa terkena kanker
serviks dan 80 % berada di Negara Berkembang termasuk Indonesia. Setiap 1 menit
muncul 1 kasus baru dan setiap 2 menit meninggal 1 orang perempuan karena kanker
serviks. Di Indonesia diperkirakan setiap hari muncul 40-45 kasus baru, 20-25 orang
meninggal, berarti setiap 1 jam diperkirakan 1 orang perempuan meninggal dunia karena
kanker serviks. Artinya Indonesia akan kehilangan 600-750 orang perempuan yang masih
produktif setiap bulannya. Hal ini mungkin ada kaitannya dengan, sekitar sepertiga dari
kasus-kasus kanker termasuk kanker serviks datang ketempat pelayanan kesehatan pada
stadium yang sudah lanjut dimana kanker tersebut sudah menyebar ke organ-organ lain di
seluruh tubuh sehingga biaya pengobatan semakin mahal dan angka kematian semakin
tinggi. Disisi lain kesadaran dan pengetahuan masyarakat tentang kanker termasuk faktor-
faktor risiko dan upaya pencegahannya masih kurang. Padahal 90-95 % faktor risiko
terkena kanker berhubungan dengan perilaku dan lingkungan. Karena itu perlu ada suatu
gerakan bersama, menyeluruh dan berkesinambungan untuk meningkatkan kepedulian
masyarakat terhadap kanker terutama kanker serviks.

Insiden kanker serviks sebenarnya dapat ditekan dengan melakukan upaya


pencegahan primer seperti meningkatkan atau intensifikasi kegiatan penyuluhan kepada
masyarakat untuk menjalankan pola hidup sehat, menghindari faktor risiko terkena kanker,
melakukan immunisasi dengan vaksin HPV dan diikuti dengan deteksi dini kanker serviks
tersebut melalui pemeriksaan pap smear atau IVA (inspeksi visual dengan menggunakan
asam acetat). Saat ini cakupan screening deteksi dini kanker serviks di Indonesia melalui
pap smear dan IVA masih sangat rendah (sekitar 5 %), padahal cakupan screening yang
efektif dalam menurunkan angka kesakitan dan angka kematian karena kanker serviks
adalah 85 %.

Mencegah lebih baik daripada mengobati

Upaya pencegahan kanker leher rahim antara lain :

1. Pola Hidup Sehat dengan CERDIK

C = Cek kesehatan secara teratur

E = Enyahkan asap rokok

R = Rajin aktifitas fisik

D = Diet sehat dengan kalori seimbang

I = Istirahat cukup

K = Kelola stress

2. Cegah kanker dengan melakukan deteksi dini

Deteksi dini kanker leher rahim dengan metode Inspeksi Visual dengan Asam
Asetat (IVA) ataupun Pap Smear

Melalui kegiatan penyuluhan Deteksi Dini Kanker Serviks ini diharapkan kesadaran
dan kepedulian masyarakat terutama dalam mengendalikan faktor risiko kanker dan
deteksi dini kanker sehingga diharapkan angka kesakitan, kematian, akibat penyakit
kanker dapat ditekan. Setelah penyuluhan selesai dilakukan pendataan bagi peserta yang
akan melakukan pemeriksaan serviks. Persyaratan untuk dilakukannya IVA test yaitu tidak
sedang datang bulan/haid dan 24 jam sebelumnya tidak melakukan hubungan seksual.
Kegiatan ini merupakan bagian dalam mewujudkan masyarakat hidup sehat dan
berkualitas, hal ini sesuai dengan tercapainya Nawacita kelima yaitu meningkatkan
kualitas hidup manusia (Moeloek, 2015).

B. TUJUAN

1. Tujuan Umum

Setelah dilakukan penyuluhan audien mengetahui mengenai deteksi dini kanker serviks
2. Tujuan khusus

1. Meningkatnya motivasi masyarakat untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara


rutin

2. Meningkatnya jumlah perempuan yang melakukan deteksi dini kanker leher rahim

3. Terlaksananya perluasan informasi tentang penyakit kanker, faktor risiko kanker


SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

DETEKSI DINI KANKER SERVIKS

Pokok bahasan : Deteksi Dini Kanker Serviks

Sub pokok bahasan :

a. Memahami tentang kanker serviks


b. Memahami tentang resiko kanker serviks
c. Pentingnya deteksi dini untuk pencegahan kanker
d. Meningkatkan kualitas hidup masyarakat di daerah tersebut melalui
pola hidup sehat bebas dari kanker
e. Menyampaikan informasi fasilitas kesehatan yang dapat melakukan
pelayanan deteksi dini.

Sasaran : Ibu rumah tangga / wanita sudah menikah usia 30-50 tahun

Tempat : Balai Desa Tamanan, Kec.Bendo, Kab.Magetan

Hari : Agustus 2017

Waktu : 08.30-09.30 WIB

Metode : Ceramah, Tanya jawab

Media : Leaflet

PPT

1. Tujuan Instruksional Umum

Setelah dilakukan penyuluhan mengenai Deteksi Dini Kanker Serviks, diharapkan para ibu
rumah tangga dapat mengerti mengenai kanker serviks.

2. Tujuan Instruksional Khusus :

a. Memahami tentang kanker serviks


b. Memahami tentang resiko kanker serviks
c. Pentingnya deteksi dini untuk pencegahan kanker
d. Meningkatkan kualitas hidup masyarakat di daerah tersebut melalui pola
hidup sehat bebas dari kanker
e. Menyampaikan informasi fasilitas kesehatan yang dapat melakukan
pelayanan deteksi dini.
KEGIATAN PENYULUHAN

NO Waktu Kegiatan Penyuluhan Kegiatan


Peserta

1. 5 menit Pembukaan Menjawab


Memberi salam Mendengarkan
Memperkenalkan diri
Menjelaskan tujuan dari penyuluhan
2. 20 menit Penyajian Mendengarkan
Menyampaikan materi Memperhatikan
a. tentang kanker serviks
b. tentang resiko kanker serviks
c. Pentingnya deteksi dini untuk pencegahan
kanker
d. Meningkatkan kualitas hidup masyarakat
di daerah tersebut melalui pola hidup sehat
bebas dari kanker
e.Menyampaikan informasi fasilitas
kesehatan yang dapat melakukan pelayanan
deteksi dini.

3. 10 menit Penutup Tanya jawab


Memberikan kesempatan peserta Menjawab
Memberikan pertanyaan
Evaluasi
Kesimpulan
Salam penutup

EVALUASAI

1. Evaluasi proses
Masyarakat berantusias memperhatikan penyuluhan
Banyak masyarakat yang bertanya

2. Evaluasi hasil

Masyarakat mampu memahami kanker serviks

Masyarakat antusias dan mendukung adanya deteksi dini kanker serviks


Masyarakat menjadwal dilaksanakannya deteksi kanker serviks
MATERI
Deteksi Dini Kanker Serviks
A. Pengertian

Kanker serviks merupakan keganasan yang berasal dari serviks. Serviks merupakan
sepertiga bagian bawah uterus, berbentuk silindris, menonjol dan berhubungan dengan
vagina melalui ostium uteri eksternum. Kanker Leher Rahim adalah tumor ganas yang
mengenai lapisan permukaan (epitel) dari leher rahim atau mulut rahim, dimana sel sel
permukaan (epitel) tersebut mengalami penggandaan dan berubah sifat tidak seperti sel
yang normal. Penggandaan sel yang tidak menuruti aturan yang normal itu dapat
membentuk tumor atau dungkul kadang kadang luka atau borok, yang member keluhan
atau gejala keputihan yang berbau atau perdarahan.

B. Faktor Resiko
Telah diketahui banyak faktor risiko dari karsinoma serviks. Diantaranya yang
penting, disebutkan berikut ini :

Sanggama pertama pada usia muda

Pasangan seksual yang banyak

Pasangan seksual pria yang berisiko tinggi yaitu pria yang bersanggama dengan siapa
saja, yang sebelumnya memiliki istri penderita kanker serviks, atau yang memiliki
riwayat kondiloma pada alat kelaminnya.

Semua faktor resiko lain dapat dihubungkan dengan ketiga faktor tersebut, seperti
tingginya insiden karsinoma serviks pada kelompok sosial ekonomi remdah, pada wanita
yang telah menikah (insidennya meningkat sesuai dengan jumlah perkawinab dan jumlah
anak), jarangnya karsinoma serviks pada gadis (perawan), dan angka kejadian yang tinggi
pada wanita tuna susila. Beberapa hal yang tidak lagi dianggap sebagai faktor resiko ialah
merokok, pemakaian pil KB, bahan yang meragukan pada semen, dan tidak dilakukannya
sirkumsisi pada pasangan seksual pria (dengan dugaan adanya karsinogen dalam smegma)
(KOMITE PENANGGULANGAN KANKER NASIONAL)

C. Penetapan teknis pelaksanaan deteksi dini Kanker:


1. Pendaftaran dengan pembagian nomor urut
2. Pembuatan kartu status
3. Pemanggilan klien dan suaminya
4. Pemberian konseling dan informed consent (meminta kesediaan klien dan
suaminya untuk dilakukan tindakan).
5. Pelaksanaan IVA oleh Bidan dengan dikonfirmasi oleh dokter puskesmas
6. Pelaksanaan Krioterapi oleh dokter/bidan puskesmas untuk IVA positif.
7. Penjelasan rencana tindak lanjut/follow-up baik pada kasus positif maupun
negatif.
8. Pencatatan dan pelaporan pada form yang telah tersedia.
9. Pemulangan klien (Moeloek, 2015)

D. Alur Pemeriksaan Deteksi Dini Kanker Leher Rahim (Moeloek, 2015)

Konseling awal tentang


pemeriksaan

Klien

Pendaftaran Pemeriksaan-Mengisi
Data Pribadi-Persetujuan Tindakan
Pemeriksaan

Anjurkan Pemerikaan IVA


Berperilaku Kontrol
Hidup Sehat Dan
Pemeriksaan IVA
Ulang Setiap 3-5
IVA (-) IVA (+) Terapi
E. PENCEGAHAN
1. SCREENING

Screening untuk memeriksa perubahan-perubahan leher rahim sebelum adanya gejala-


gejala adalah sangat penting. Screening dapat membantu dokter mencari sel-sel abnormal
sebelum kanker berkembang. Mencari dan merawat sel-sel abnormal dapat mencegah
kebanyakan kanker serviks. Screening juga dapat membantu mendeteksi kanker secara
dini, sehingga perawatan akan menjadi lebih efektif.(7,11) Untuk beberapa dekade yang
lalu, jumlah wanita-wanita yang didiagnosis setiap tahun dengan kanker serviks sudah
menurun. Dokter-dokter percaya bahwa ini terutama disebabkan oleh sukses dari
screening.(3,4,7) (Wulandari, 2014).

a. IVA
IVA yaitu singkatan dari Inspeksi Visual dengan Asam asetat. Metode
pemeriksaan dengan mengoles serviks atau leher rahim dengan asam asetat.
Kemudian diamati apakah ada kelainan seperti area berwarna putih. Jika tidak
ada perubahan warna, maka dapat dianggap tidak ada infeksi pada serviks.
Anda dapat melakukan di Puskesmas dengan harga relatif murah. Ini dapat
dilakukan hanya untuk deteksi dini. Jika terlihat tanda yang mencurigakan,
maka metode deteksi lainnya yang lebih lanjut harus dilakukan.(2,4)
(Wulandari, 2014).
Tahapan pemeriksaan IVA
Deteksi dini kanker leher rahim dilakukan oleh tenaga kesehatan yang
sudah dilatih dengan pemeriksaan leher rahim secara visual
menggunakan asam asetat yang sudah di encerkan, berarti melihat
leher rahim dengan mata telanjang untuk mendeteksi abnormalitas
setelah pengolesan asam asetat 3-5%. Daerah yang tidak normal akan
berubah warna dengan batas yang tegas menjadi putih (acetowhite),
yang mengindikasikan bahwa leher rahim mungkin memiliki lesi
prakanker . Tes IVA dapat dilakukan kapan saja dalam siklus
menstruasi, termasuk saat menstruasi, dan saat asuhan nifas atau paska
keguguran. Pemeriksaan IVA juga dapat dilakukan pada perempuan
yang dicurigai atau diketahui memiliki ISR/IMS atau HIV/AIDS.
Penatalaksanaan IVA Positif
Bila ditemukan IVA Positif, dilakukan krioterapi, elektrokauterisasi
atau eksisi LEEP/LLETZ.
Krioterapi dilakukan oleh dokter umum, dokter spesialis
obstetri dan ginekologi atau konsultan onkologi ginekologi
Elektrokauterisasi, LEEP/LLETZ dilakukan oleh dokter
spesialis obstetri dan ginekologi atau konsultan onkologi
ginekologi

IVA Positif

(lesi<75%, lesi < 2 mm di luar batas krioprob


termasuk ujung prob, tidak ada perluasan
dinding vagina ke dalam kanal di luar
jangkauan krioprob)

Tawarkan Tawarkan pengobatan Tawarkan pengobatan


waktu
pengobatan segera setelah konseling
kunjungan berbeda
Ibu tidak pindah ruang antara Ibu meninggalkan ruang
tes IVA dan pengobatan. Dia Ibu mendapat janji
pemeriksaan dan untuk konseling dan
harusmenerima konseling mendapat
pengobatan pada hari
mengenai pengobatan lain atau di tempat lain.
konseling di ruang yang
sebelum tes dimulai dan Waktu kunjungan harus
berbeda. Setelah spesifik. Petugas harus
diberi kesempatan untuk
konseling mampu menghubungi
bertanya atau memperkuat
ibu jika ada perubahan
selesai, dia dapat kembali
konseling di antara tes dan jadwal atau jika ibu
pengobatan. ke ruang tidak datang.

periksa/pengobatan untuk

mendapat pengobatan
IVA negatif = Serviks normal.
IVA radang = Serviks dengan radang (servisitis), atau kelainan jinak lainnya (polip serviks).
IVA positif = ditemukan bercak putih (aceto white epithelium). Kelompok ini yang menjadi
sasaran temuan skrining kanker serviks dengan metode IVA karena temuan ini mengarah
pada diagnosis Serviks-pra kanker (dispalsia ringan-sedang-berat atau kanker serviks in situ).
IVA- Kanker serviks Pada tahap ini pun, untuk upaya penurunan temuan stadium kanker
serviks, masih akan bermanfaat bagi penurunan kematian akibat kanker serviks bila
ditemukan masih pada stadium invasif dini. (Septadina, Kesuma, Handayani, Suciati, &
Liana, 2015)

b. Pap smear
Metode tes Pap smear yang umum yaitu dokter menggunakan pengerik atau
sikat untuk mengambil sedikit sampel sel-sel serviks atau leher rahim.
Kemudian sel-sel tersebut akan dianalisa di laboratorium. Tes itu dapat
menyingkapkan apakah ada infeksi, radang, atau sel-sel abnormal. Menurut
laporan sedunia, dengan secara teratur melakukan tes Pap smear telah
mengurangi jumlah kematian akibat kanker serviks.(4,5,6) (Wulandari, 2014).
c. Thin prep
Metode Thin prep lebih akurat dibanding Pap smear. Jika Pap smear hanya
mengambil sebagian dari sel-sel di serviks atau leher rahim, maka Thin prep
akan memeriksa seluruh bagian serviks atau leher rahim. Tentu hasilnya akan
jauh lebih akurat dan tepat.(3,4,6) (Wulandari, 2014).
DAFTAR PUSTAKA

Moeloek, S. (. (2015). PROGRAM NASIONAL GERAKAN PENCEGAHAN DAN DETEKSI


DINI KANKER. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.

Septadina, I. S., Kesuma, H., Handayani, D., Suciati, T., & Liana, P. (2015). UPAYA
PENCEGAHAN KANKER SERVIKS MELALUI PENINGKATAN PENGETAHUAN
KESEHATAN REPRODUKSI WANITA DAN PEMERIKSAAN METODE IVA
(INSPEKSI VISUAL ASAM. Jurnal Pengabdian Sriwijaya , 222-228.

Wulandari, A. S. (2014). PENGERTIAN DAN PEMAHAMAN RESIKO CA CERVIX


PADA. Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya , 1-7.