Anda di halaman 1dari 7

EFEKTIVITAS ALUM DARI KALENG

MINUMAN BEKAS SEBAGAI KOAGULAN


UNTUK PENJERNIHAN AIR

M. Syaiful*, Anugrah Intan Jn, Danny Andriawan


*Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya
Jln. Raya Palembang Prabumulih Km. 32 Inderalaya Ogan Ilir (OI) 30662
E-mail:dannyandriawan29@gmail.com

Abstrak

Persediaan air bersih di Indonesia ini semakin terbatas mengingat sumber air untuk memenuhi kebutuhan
hidup manusia saat ini sebagaian besar sudah tercemar karena kegiatan manusia itu sendiri. Akibatnya
perlu pengolahan lebih lanjut agar dapat menghasilkan air bersih. Diantaranya adalah penambahan tawas
sebagai koagulan untuk penjernihan air. Ada banyak bahan baku yang biasa digunakan untuk membuat
tawas atau aluminium sulfat yang salah satunya adalah potongan kaleng minuman bekas. Di dalam
potongan-potongan kaleng tersebut banyak mengandung logam aluminium. Dibutuhkan unsur aluminum
dalam pembuatan aluminium sulfat. Maka dari itu unsur aluminium yang terdapat pada potongan kaleng
tersebut dapat dimanfaatkan tetapi membutuhkan bahan tambahan berupa KOH dan aluminium sulfat.
Produk aluminium sulfat terbukti efektif dapat menjadi koagulan untuk penjernihan air seperti tawas
murni.

Kata kunci : air, kaleng, aluminium sulfat, koagulan

Abstract

Supply of clean water in Indonesia is getting limited given the source of water to fulfill necessity of
human life at this time most of already contaminated due to human activity itself. As a result, it needs
further processing in order to produce clean water. Such as the addition of alum as a coagulant for water
purification. There are many raw materials used to make alum or aluminum sulfate, one of which are
pieces of used beverage tin. The tin pieces interior contains a lot of metal aluminum. It takes elements of
aluminum in the manufacture of aluminum sulfate. Thus the elements contained in the pieces of
aluminum tin can be used but require additional materials such as potassium hydroxide and aluminum
sulfate. Aluminum sulfate products can be proven to be effective coagulant for water purification as pure
alum.

Keywords : Water, tin, aluminium sufate, coagulant

Jurnal Teknik Kimia No. 4, Vol. 20, Desember 2014 Page | 39


1. PENDAHULUAN digunakan untuk peralatan listrik dan peralatan
Air bersih merupakan salah satu dapur.
kebutuhan pokok manusia yang bisa diperoleh Penggunaan aluminium yang begitu
dari berbagai sumber, tergantung pada kondisi banyak menimbulkan masalah baru, yaitu
suatu daerah. Namun tidak semua air dapat pencemaran lingkungan. Dibutuhkan waktu lebih
langsung digunakan, misalnya saja air gambut. kurang 400 tahun agar aluminium dapat terurai
Hal ini karena air gambut jika berdasarkan dalam tanah. Untuk mengatasi sampah
parameter baku mutu air tidak memenuhi aluminium tersebut, cara terbaik adalah dengan
persyaratan kualitas air bersih. mendaur ulang. Mengubahnya menjadi tawas
Pengolahan air baku menjadi air bersih adalah salah satu alternatifnya. Dikarenakan
memiliki beberapa proses tahapan. Proses dengan menggunakan aluminium sebagai bahan
koagulasi dan flokulasi misalnya, proses ini baku tawas, maka biaya produksi tawas semakin
belum berjalan dengan optimum seiring dengan rendah sehingga semakin banyak air bersih yang
semakin meningkatnya beban pengolahan akibat dapat diproduksi.
dari perubahan kualitas dari sumber air baku. Bagaimanakah kualitas tawas yang
Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan terbuat dari limbah kaleng bekas untuk proses
meningkatkan efisiensi dalam proses koagulasi penjernihan air? Apakah pengaruh penggunaan
dan flokulasi dengan asumsi beberapa bahan tawas dari limbah kaleng tersebut terhadap air
alternatif dapat dikembangkan sabagai pengganti dengan parameter jartest air seperti turbidity,
koagulan. Limbah kaleng bekas merupakan salah conductivity, pH, temperatur, Beume dan dosis?
satunya. Kaleng bekas berbahan dasar Dan seberapa efisienkah tawas tersebut jika
alumunium dapat diambil kembali kandungan dibandingkan dengan tawas yang dijual secara
alumnya untuk dijadikan alumunium sulfat atau komersil?
tawas. Kaleng bekas tersebut antara lain kaleng TINJAUAN PUSTAKA
minuman ringan (soft drink) yang dibuang a. Air
sehabis diminum. Sisa pembuangan tersebut bisa Sumber air baku memegang peranan yang
dimanfaatkan dengan menggunakan pengolahana sangat penting dalam industri air minum. Air
khusus dan penambahan zat kimia lain supaya baku merupakan awal dari suatu proses dalam
alumunim dapat dipisahkan dari kaleng. penyediaan dan pengolahan air bersih. Sekarang
Optimalisasi proses daur ulang juga dapat apa yang disebut dengan air baku. Berdasar pada
menambah nilai ekonomis dari limbah kaleng. SNI 6773:2008 tentang Spesifikasi unit paket
Dari penelitian ini diharapkan limbah Instalasi Pengolahan Air (IPA) dan SNI
yang sudah tidak terpakai tersebut dapat diproses 6774:2008 tentang tata cara perencanaan unit
kembali dan tentunya akan membantu paket Instalasi Pengolahan Air pada bagian
mengurangi pencemaran lingkungan serta dapat istilah dan definisi yang disebut dengan air baku
memberikan perhitungan ekonomis tentang adalah air yang berasal dari sumber air
proses koagulasi dan flokulasi dengan pemukaan, cekungan air tanah dan atau air hujan
menggunakan tawas. Selain pemanfaatan limbah, yang memenuhi ketentuan baku mutu tertentu
penelitian ini akan memberikan perbandingan sebagai air baku untuk air minum.
antara tawas yang murni dari pabrik atau Sumber air baku bisa berasal dari sungai,
komersil dengan tawas buatan dari limbah danau, sumur air dalam, mata air dan bisa juga
dimana akan terlihat tawas mana yang dibuat dengan cara membendung air buangan
efisiensinya lebih baik. Pengujian efektifitas atau air laut. Evaluasi dan pemilihan sumber air
tawas sebagai koagulan untuk penjernihan air ini yang layak harus berdasar dari ketentuan berikut:
dilakukan dengan menggunakan beberapa 1. Kualitas dan kuantitas air yang diperlukan,
parameter standar tentang air bersih di PDAM. 2. Kondisi iklim,
Penjernihan dengan cara koagulasi
sudah sering digunakan salah satunya adalah 3. Tingkat kesulitan pada pembangunan
dengan menambahkan tawas pada air baku (raw Intake,
water). Tawas merupakan bahan kimia dengan 4. Tingkat keselamatan operator,
rumus molekul KAl(SO4)2. 12 H2O. Alumuium
5. Ketersediaan biaya minimum operasional
bersifat keras, kuat, memiliki massa jenis kecil,
dan tahan terhadap korosi oleh karena itu dan pemeliharaan untuk IPA,
aluminium sering digunakan untuk pembuatan 6. Kemungkinan terkontaminasinya sumber
pesawat, mobil dan lain sebagainya. Selain itu, air pada masa yang akan datang,
aluminium juga merupakan penghantar listrik
dan panas yang baik, sehingga aluminium sering 7. Kemungkinan untuk memperbesarintake
pada masa yang akan datang.

Jurnal Teknik Kimia No. 4, Vol. 20, Desember 2014 Page | 40


Dalam jumlah yang kecil, air bawah tanah, kalium, mempunyai nama dagang dengan nama
termasuk air yang dikumpulkan dengan cara alum, mempunyai rumus yaitu
rembesan, bisa dipertimbangkan sebagai sebuah K2SO4.Al2(SO4)3.24H2O. Alum kalium
sumber air. Kualitas air bawah tanah secara merupakan salah satu alum yang sangat penting.
umum sangat baik bagi air permukaan dan Alum kalium adalah senyawa yang tidak
dibeberapa tempat yang memiliki musim dingin berwarna dan mempunyai bentuk kristal
bisa memanfaatkan salju sebagai sumber air. Hal oktahedral atau kubus ketika kalium sulfat dan
ini bisa menghemat biaya operasional dan aluminium sulfat keduanya dilarutkan dan
pemeliharaan karena secara umum kualitas air didinginkan. Larutan alum kalium tersebut
bawah tanah sangat baik sebagai air baku. bersifat asam dan sangat larut dalam air yang
Khusus untuk air bawah tanah yang diambil bersuhu tinggi. Kristalin alum kalium dipanaskan
dengan cara pengeboran tentunya melalui terjadi pemisahan secara kimia, dan sebagian
perijinan. Hal ini untuk mencegah terjadinya garam yang terdehidrasi terlarut dalam air.
eksploitasi secara besar-besaran. Akibat dari
ekplotasi secara besar-besaran bisa Koagulasi
mengakibatkan kekosongan air dibawah tanah Koagulasi didefinisikan sebagai proses
karena tidak seimbangnya antara air yang masuk destabilisasi muatan koloid padatan tersuspensi
dengan air yang diambil, sehingga menyebabkan termasuk bakteri dan virus, dengan suatu
pondasi bangunan yang berada diatasnya bisa koagulan sehingga akan terbentuk flok-flok halus
turun. yang dapat diendapkan. Proses pengikatan
partikel koloid dapat dilihat pada gambar 2.1.
Instalasi Pengolahan Air (IPA) Pengadukan cepat (flash mixing) merupakan
Disebutkan diatas bahwa tidak semua air bagian integral dari proses koagulasi. Tujuan
baku bisa diolah, oleh karena itu dibuatlah pengadukan cepat adalah untuk mempercepat
ketentuan sebagai standar kualitas air baku yang dan menyeragamkan penyebaran zat kimia
bisa diolah. Dalam SNI 6773:2008 bagian melalui air yang diolah. Koagulan yang umum
Persyaratan Teknis kualitas air baku yang bisa dipakai adalah alumunium sulfat, feri sulfat, fero
diolah oleh Instalasi Pengolahan Air Minum sulfat dan PAC.
(IPA) adalah:
1) Kekeruhan, maximum 600 NTU
(nephelometric turbidity unit) atau 400 mg/l
SiO2.
2) Kandungan warna asli (appearent colour)
tidak melebihi dari 100 Pt Co dan warna
sementara mengikuti kekeruhan air baku.
3) Unsur-unsur lainnya memenuhi syarat baku
air baku sesuai PP No. 82 tahun 2000 Gambar 1. Proses pengikatan partikel koloid
tentang Pengelolaan Kualitas Air dan oleh koagulan (CG).
Pengendalian Pencemaran Air. Pengadukan cepat yang efektif sangat
4) Dalam hal air sungai daerah tertentu penting ketika menggunakan koagulan logam
mempunyai kandungan warna, besi dan seperti alum dan ferric chloride karena proses
bahan organic melebihi syarat tersebut hidrolisnya terjadi dalam hitungan detik dan
diatas tetapi kekeruhan rendah (<50 NTU) selanjutnya terjadi adsorpsi partikel koloid.
maka digunakan IPA sistem DAF Waktu yang dibutukan untuk zat kimia lain
(Dissolved Air Flotation) atau sistem seperti polimer (polyelectrolites), chlorine, zat
lainnya yang dapat dipertanggung kimia alkali, ozone, danpotassium permanganat,
jawabkan. tidak optimal karena tidak mengalami reaksi
Instalasi Pengolahan Air menggunakan bahan
hidrolisis.
kimia untuk koagulasi atau biasa disebut
koagulan.
Flokulasi
Tawas Flokulasi merupakan proses pembentukan
Tawas atau alum adalah termasuk kelompok flok, yang pada dasarnya merupakan
garam rangkap berhidrat berupa kristal dan pengelompokan antara partikel dengan koagulan
isomorf. Kristal tawas mudah larut dalam air, (menggunakan proses pengadukan lambat atau
dan kelarutannya tergantung pada jenis logam slow mixing). Proses pengikatan partikel koloid
dan temperatur. Alum merupakan salah satu oleh flokulan dapat dilihat pada gambar 2.2.
senyawa kimia yang dibuat dari Al2(SO4)3. Alum Pada flokulasi terjadi proses penggabungan

Jurnal Teknik Kimia No. 4, Vol. 20, Desember 2014 Page | 41


beberapa partikel menjadi flok yang berukuran dimasukkan kedalam Erlenmeyer 250 ml,
besar. Partikel yang berukuran besar akan mudah ditambah KOH 7% sebanyak 20 ml. Reaksi
diendapkan. dihentikan sampai tidak ada gelembung-
Tujuan dilakukan flokulasi pada air limbah gelembung gas. Larutan tersebut disaring dan
selain lanjutan dari proses koagulasi adalah: didinginkan kemudian ditambahkan dengan 12
a. Meningkatkan penyisihan Suspended Solid ml H2SO4 6 M. Larutan didinginkan di dalam
(SS) dan COD dari pengolahan fisik. lemari pendingin. Kristal tawas yang terbentuk
b. Memperlancar proses conditioning air dicuci dengan 20 ml etanol 50% dan dipisahkan
limbah khususnya limbah industri. dengan kertas saring.
c. Meningkatkan kinerja secondary-clarifier
dan proses lumpur aktif. 3. HASIL DAN PEMBAHASAN
d. Sebagai pretreatment untuk proses Pembuatan tawas dari kaleng bekas
pembentukan secondary effluent dalam memerlukan bahan kimia tambahan yaitu Kalium
filtrasi. hidroksida dan Asam sulfat. Digunakan Kalium
hidroksida supaya mengikat ion logam
Alumunium lalu direaksikan dengan Asam
Sulfat. Pada Asam Sulfat akan diambil senyawa
sulfat supaya diproduk akhir membentuk Alum
atau Tawas Al2(SO4)3. Tawas yang dihasilkan
berupa tawas padat dalam bentuk kristal untuk
memudahkan dalam penentuan dosis dan
menimbang berat konversi yang diapat. Tawas
juga nanti akan diuji seberapa efektif untuk
Gambar 2. Proses pengikatan partikel koloid menjernihkan air.
oleh flokulan.
Koagulasi yang efektif terjadi pada selang Penggunaan Konsentrasi Kalium Hidroksida
pH tertentu. Penggunaan koagulan logam seperti Reaksi yang terjadi adalah:
aluminium dan garam-garam besi secara umum
dapat mendekolorisasi air limbah yang 2Al(s)+2KOH(aq)+2H2O(l)
mengandung komponen-komponen organik. 2KAlO2(aq)+3H2(g)
Koagulasi merupakan proses destabilisasi
muatan pada partikel tersuspensi dan koloid. Dalam penelitian pembuatan alum dari
Flokulasi adalah kumpulan dari partikel yang kaleng bekas digunakan KOH untuk mengikat
terdestabilisasi dan koloid menjadi partikel kation Al2+ yang terdapat pada potongan kaleng.
terendapkan. Kalium pada KOH bersifat inert dan mudah larut
Ketika koagulan direaksikan dengan air dalam air. Hasil reaksi 2KAlO2 akan direkasikan
limbah, partikel-partikel koloid yang terdapat dengan asam sulfat. Konsentrasi KOH yang tepat
dalam limbah tersebut akan mengalami dalam pembuatan tawas adalah 7-10%, jika
penggabungan partikel kecil untuk membentuk konsentrasi lebih dari 11% konversi yang
partikel yang lebih besar, sebagai akibat dari dihasilkan pada tawas akan kecil, sedangkan jika
adanya perbedaanmuatan antara partikel koloid kurang dari 7% KOH tidak akan bisa menarik
dengan koagulan. Proses koagulasi saja Al2+ karena banyak mengandung air.
terkadang belum cukup untuk mengendapkan Pada sampel tidak ada perbandingan
agregat tersebut secara cepat. Penambahan berat potongan kaleng dan volume KOH. Dalam
polimer akanmempengaruhi kestabilan molekul 5 gram potongan kaleng berat alumunium tidak
dari agregat yang terbentuk, sehingga ketika sebanyak berat kaleng tersebut. Diasumsikan
molekul dalam keadaan tidak stabil polimer akan bahwa berat setiap 5 gram potongan kaleng
mudah untuk berikatan dengan agregat mengandung unsur aluminium yang sama karena
yangnantinya akan membentuk agregasi baru bahan baku tersebut sama. Untuk volume yang
atau disebut juga flok. Flok-flok tersebut akan direaksikan terhadap 5 gram potongan kaleng
saling bergabung membentuk flok yang lebih tidak bergantung dengan rasio perbandingan
besar. reaksi. Volume KOH yang ditetapkan adalah 20
ml karena semua potongan kaleng harus
2. METODE PENELITIAN terendam seluruh didalam larutan KOH dan
Disiapkan kaleng bekas yang telah dengan volume tersebut sudah dapat mengikat
dibersihkan dan diamplas. Kaleng bekas maksimal kandungan alumunium didalam setiap
dipotong kecil-kecil dengan berat 5 gram. 5 gram potongan kaleng. Untuk penggunaan
Potongan-potongan tersebut kemudian volume diatas 20 ml KOH masih bisa dilakukan

Jurnal Teknik Kimia No. 4, Vol. 20, Desember 2014 Page | 42


tetapi hanya akan membuang banyak KOH saja, Tabel 3. Berat Tawas konsentrasi KOH 20 ml
dengan kata lain tidak efisien. Konversi berat NO. Konsentrasi Tawas Bobot (gram)
yang didapat untuk penggunaan KOH diatas 20 dengan KOH 20 ml
ml memang menghasilkan produk yang lebih 1. Tawas 5% 0,2375
berat tetapi berat tersebut bukan merupakan berat 2. Tawas 7% 0.9855
alumunium melainkan berat kalium yang ada 3. Tawas 10% 0,9436
pada KOH. 4. Tawas 12% 0,5362
Total Tawas 2,7028
Tabel 1. Pengujian Reaksi dengan KOH
No KOH t (s) T Warna Hasil
20ml (C) (ml) Berat Alum yang diperoleh dari
(%) hasil uji konsentrasi KOH
1. 1 73.13 28 abu-abu 15
2. 3 65.40 30 abu-abu 14,5 1.2
3. 5 44.20 34 abu-abu 11,5 1
4. 7 42.41 45 abu-abu 10 0.8
5. 12 45.15 35 abu-abu 8 0.6
0.4
Reaksi kaleng dengan KOH tidak diperlukan
bantuan seperti pengadukan atau penambahan 0.2
panas karena KOH sendiri berekasi secara 0
eksotermis. Pada saat reaksi tersebut juga 3% 5% 7% 10% 12% 15% 20% 30% 40%
terdapat gelembung-gelembung disekitar
permukaan kaleng. Gelembung-gelembung Berat Alum
tersebut menandakan kation aluminum sedang
ditarik dari potongan kaleng. Rekasi penarikan Gambar 1. Tawas dibuat dengan 20 ml KOH
dikatakan selesai ketika sudah tidak ada lagi
gelembung gelembung dan tidak ada lagi gas Penggunaan Asam Sulfat
hidrogen yang keluar. Dibutuhkan senyawa sulfat untuk reaksi
pembentuk akhir. Hasil reaksi potongan kaleng
Tabel 2. Pengujian Reaksi dengan KOH dengan KOH didapat 2KAlO2 akan direaksikan
No. KOH t (S) T Warna Hasil dengan H2SO4. Digunakan asam sulfat karena
20ml (C) (ml) dibutuhkan sulfat untuk pembuatan alum
(%) (Al2(SO4)3). Konsentreasi asam sulfat yang dapat
1. 10 43.70 35,3 hitam 12,5 bereaksi adalah 6-7 M. Dibawah dari nilai
2. 15 16.13 36 hitam 0,20 tersebut sulfat tidak dapat bereaksi. Untuk
3. 20 20.76 38 hitam 0,18 konsentrasi diatas 7 M didapat larutan dan tawas
4. 30 29.53 47 hitam 0,15 yang terlalu asam dan dapat merusak pH air saat
5. 40 04.45 71 hitam 0 proses koagulan nantinya.
Larutan alumina dinetralkan dengan asam
6. 50 03.15 75 hitam 0
sulfat mula-mula terbentuk endapan berwarna
7. 60 02.18 76 hitam 0
putih dari aluminium hidroksida Al(OH)3.
Pada saat reaksi harus dilakukan dilemari
asam mengingat gas hidrogen saat berbahaya 2KAlO2(aq)+2H2O(l)+H2SO4(aq)
apabila dihirup langsung. Warna potongan K2SO4(aq)+Al(OH)3(s)
kaleng yang semula berwarna silver berubah
menjadi abu-abu, indikator warna yang berubah Dengan penambahan asam sulfat endapan
ini juga menujukan bahwa kandungan aluminum putih semakin banyak dan jika asam sulfat
telah hilang dari kaleng. Waktu reaksi dapat berlebihan endapan akan larut membentuk kation
dipercepat dengan penambahan pemanasan akan K+, Al3+, dan SO42-, jika didiamkan akan
tetapi hal tersebut tidak kami lakukan karena terbentuk kristal dari tawas kalium aluminium
disamping reaksi sudah berjalan eksotermis juga sulfat. Secara singkat reaksi yang terjadi dapat
alat pemanasan juga sebatas hotplate sehingga dituliskan sebagai berikut:
tidak perlu ditambah pemanasan.
H2SO4(aq)+K2SO4(aq)+2Al(OH)3
(s)2KAl(SO4)2(aq)+6H2O

24 H2O + 2KAl(SO4)2(aq)
2KAl(SO4)2.12H2O(s)

Jurnal Teknik Kimia No. 4, Vol. 20, Desember 2014 Page | 43


Tabel 4. Penambahan Asam Sulfat 45 Tidak terbentuk Flok.
Asam Sulfat Keterangan Air masih keruh
12 ml (M) 50 Tidak terbentuk Flok.
1M Tidak terbentuk kristal Air masih keruh
2M Tidak terbentuk kristal 4 100 Terbentuk Sedikit Flok.
3M Tidak terbentuk kristal Air mulai terlihat jernih
4M Tidak terbentuk kristal 200 Semakin banyak terlihat
5M Tidak terbentuk kristal flok yang terbentuk.
6M Terbentuk kristal Air mulai jernih
7M Terbentuk kristal 300 Banyak terbentuk flok.
Air Jernih
Alum kalium sangat larut dalam air panas,
sehingga ketika setelah penambahan H2SO4 Pengujian dengan Parameter Air Bersih
yang membentuk endapan dan kemudian Tawas kaleng bekas terbukti efektif sebagai
dipanaskan. Pemanasan suhu 60-80oC koagulan walau dosis pemakaian lebih banyak.
berlangsung didalam oven untuk menguapkan Tawas kaleng bekas mampu menurunkan
airnya dan suhu pemanasan tidak boleh lebih dari turbuditi hinggs mendekati nol. Untuk parameter
80oC karena tawas akan larut dalam air uji seperti konuktiviti, pH, TDS, serta temperatur
mendidih. Ketika Kristal alum kalium normal dan tidak jauh berbeda apabila diuji
dipanaskan terjadi pemisahan secara kimia dan dengan tawas murni. Perbandingan takaran untuk
sebagian garam yeng terdehidrasi larut dalam air. turbidity tertentu bias sampai 1:6. Artinya untuk
Pada proses penguapan selama 1 jam dan turbidity 100 NTU, untuk tawas murni hanya
didinginkan akan terbentuk Kristal dari cukup 46 ppm dan untuk tawas yang terbuat dari
KAl(SO4)2.12 H2O. kaleng bekas mencapai 300 ppm.

Pengujian dengan Jar-Test dan Beume Tabel 6. Pengujian terhadap air baku
Tawas dari kaleng bekas mampu menjadi
koagulan, hal ini dibuktikan melalui metode Kondisi Awal Kondisi Akhir
jartest. Tawas dari kaleng bekas mampu Turbidity Awal Turbidity Akhir
membentuk kotoran menjadi flokulan akan tetapi 103 NTU 1,59 NTU
dosis yang digunakan lebih banyak dari pada
tawas murni dikarenakan kadungan alumunium Conductivity Awal Conductivity Akhir
pada tawas kaleng cenderung lebih sedikit. Bila 32,1 69,7
dibandingkan dengan tawas murni pada
perbandingan berat yang sama kandungan tawas TDS Awal 16,0 TDS Akhir 34,8
alumunium dari kaleng bekas lebih sedikit dan
banyak mengandung kalium. Hal ini dapat pH Awal 6,41 pH Akhir 4,89
diketahui setelah dilakukan metode Beume.
Temperatur Awal Temperatur Akhir
Tabel 5. Jar-test 27,6 0C
No Dosis Keterangan 26,8 0C
Alum
(ppm) Kualitas Tawas dari Kaleng
1 15 Tidak terbentuk Flok. Kualitas tawas kaleng dilihat dari
Air masih keruh kemampuan sebagai koagulan tidak jauh berbeda
18 Tidak terbentuk Flok. dibandingkan tawas murni hanya saja dosis
Air masih keruh penggunaan dapat mencapai 7-8 kali lipat dari
20 Tidak terbentuk Flok. tawas murni. Perbandingan tersebut ada
Air masih keruh dikarenakan tawas kaleng mengandung cukup
2 25 Tidak terbentuk Flok. banyak berat kalium. Kalium tidak berpengaruh
Air masih keruh besar terhadap air mutu yang dihasilkan setelah
30 Tidak terbentuk Flok. proses koagulasi atau flokulasi, sifat kalium yang
Air masih keruh mudah larut dalam air sehingga dapat dikatakan
35 Tidak terbentuk Flok. kalium disini bersifat inert.
Air masih keruh Sumber aluminium didalam kaleng harus
3 40 Tidak terbentuk Flok. diteleti kembali, serta perlu kajian lebih luas
Air masih keruh tentang pemilihan jenis kaleng yang

Jurnal Teknik Kimia No. 4, Vol. 20, Desember 2014 Page | 44


mengandung aluminum. Kaleng bekas disini bisa Pomits Vol. 2, No. 1, (2013) Issn: 2337-
menjadi bahan alternatif dari sisi bahan baku, 3539 (2301-9271 Print).
artinya logam aluminum dapat dimanfaatkan Manurung, Manuntun,. Irma Fitria Ayuningtyas.
kembali. Tawas dari kaleng bekas disini dapat 2010. Kandungan Aluminium Dalam
terapkan dalam skala pabrik akan tetapi perlu Kaleng Bekas Dan Pemanfaatannya Dalam
perhitungan efisiensi dan analisa ekonomi Pembuatan Tawas. Universitas Udayana,
dengan perbandingan pabrikan yang membuat Bukit Jimbaran. Jurnal Kimia 4 (2), Juli
tawas secara murni. 2010: 180-186
Rufiati, Etna.2011.Penjernihan Air dengan
4. KESIMPULAN Tawas.http://etnarufiati.guru-
indonesia.net/artikel_detail-42943.html.
1. Pembuatan alum dari kaleng bekas Diakses 5 Januari 2014 Pukul 17:53 WIB.
mempunyai metode yang sederhana. Yahya, A., 1988, Analisis Sifat Fisik Kimia Air,
2. Alum yang terbuat dari limbah kaleng bekas Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Institut
terbukti mampu menjadi koagulan, hanya Pertanian Bogor, 26-27
saja dosis yang dibutuhkan agar bisa
menjernihkan air jauh lebih banyak
dibandingkan dengan dosis tawas murni.
3. Pada Jar-test dapat disimpulkan dalam 1000
ml air dengan turbiditas 100 diperlukan 46
ppm tawas murni dan 300 ppm alum dari
tawas kaleng bekas.
4. Kualitas air bersih setelah menggunakan
tawas dari limbah kaleng bekas tidak jauh
berbeda dengan tawas murni.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2006, Penuntun Praktikum Kimia
Anorganik III, Fakultas MIPA, Universitas
Udayana, Denpasar, 25-28
Advyka, Sampah Sesuatu yang Terlupakan,
http:// Jakarta. Wordpress.com, 14
September 2007
Ayundyahrini, Meilinda,. Rusdhianto Effendie
A. K, & Nurlita Gamayanti. 2013. Estimasi
Dosis Alumunium Sulfat pada Proses
Penjernihan Air Menggunakan Metode
Genetic Algorithm. Jurnal, Universitas
Institut Teknologi Sepuluh Nopember,
Surabaya, 2013. Jurnal Teknik Pomits Vol.
2, No. 2, (2013) Issn: 2337-3539 (2301-
9271 Print).
Ayuningtyas, Irma Fitria.Kandungan Aluminium
dalam Kaleng Bekas dan Pemanfaatannya
dalam Pembuatan Tawas
.http://ojs.unud.ac.id/index.php/jchem/articl
e/viewFile/2806/1995,. Diakses 3 Januari
2014 Pukul 17:53 WIB.
Intan Ramadhani, Gary,. Atiek Moesriati. 2013.
Pemanfaatan Biji Asam Jawa
(Tamarindusindica) Sebagai Koagulan
Alternatif dalam Proses Menurunkan
Kadar COD dan BOD dengan Studi Kasus
pada Limbah Cair Industri Tempe. Jurnal,
Universitas Institut Teknologi Sepuluh
Nopember, Surabaya, 2013. Jurnal Teknik

Jurnal Teknik Kimia No. 4, Vol. 20, Desember 2014 Page | 45