Anda di halaman 1dari 16

Yeti Febrina

13015020

Mekanisme Fosforilasi Oksidatif


Fosforilasi oksidatif merupakan lintasan metabolisme untuk menghasilkan energi berupa
ATP, yaitu dengan menggunakan energi yang dilepaskan oleh oksidasi nutrien. Lintasan ini
merupakan cara yang paling efisien dalam menghasilkan energi dibandingkan dengan proses
fermentasi dan glikolisis anaerob. Proses ini terjadi di dalam mitokondria. NADH dan FADH2
hasil dari siklus asam sitrat merupakan bahan bakar dalam proses fosforilasi oksidatif yang
bekerja di mitokondria. Dalam hal ini tiga molekul ATP dihasilkan untuk setiap pasang elektron
yang dibawa dari NADH ke Oksigen atau dua ATP untuk pengangkutan elektron dari Ubikuinon
ke Oksigen. Sehingga tiap substrat yang melepaskan elektronnya ke NADH akan menghasilkan
tiga ATP dan mereduksi satu atom oksigen, sehingga perbandingan P terhadap O (harga P/O)
untuk substrat ini adalah 3.
Proses fosforilasi oksidatif pada rantai pernafasan terdiri dari tiga mekanisme yang
masing-masing berdiri sendiri, namun ketiganya terkoordinasi sedemikian rupa sehingga
menghasilkan ATP dari ADP + Pi dan reduksi O2 menjadi H2O. Ketiga mekanisme itu adalah:
1) sintesis ATP dari ADP + Pi dikatalis oleh kompleks ATPaseyang terdapat pada permukaan
dalam membran-membran mitokondria.
2) mekanisme pengangkutan elektron sepanjang rantai pernafasan, yang juga terdapat dalam
membran dalam mitokondira.
3) suatu mekanisme yang berperan dalam merangkaikan kedua mekanisme tersebut diatas.
Proses yang terjadi adalah sebagai berikut :
NADH dan FADH2 dioksidasi melepaskan elektron ke RTE melewati serangkaian
senyawa pembawa elektron, energi yang dilepaskan digunakan untuk memompa ion H+
terjadi gradien ion H+ (proton motive force) yang menggerakkan pembentukan ATP oleh enzim
syntahse. Molekul O2 sbg penerima elektron terakhir terbentuk H2O dengan menghasilkan
ATP
Yeti Febrina
13015020

Gambar 1. Mekanisme Fosforilasi Oksidatif


Mekanisme molekuler terbentuknya ATP (khususnya pembentukan energi ikatan fosfat)
dari ADP + Pi yang didorong oleh energi pengangkutan elektron sepanjang rantai pernafasan,
pada masa kini masih merupakan hal yang belum jelas. Namun demikian dikemukakan adanya
tiga hipotesis mengenai mekanisme fosforilasi bersifat oksidatif tersebut yaitu hipotesis
perangkaian secara kimia, perangkaian dengan perubahan konformasi, perangkaian kemiosmotik.
1. Hipotesis perangkaian kimia
Teori mekanisme ini merupakan hipotesis yang pertama kali dikemukakan Edward Slater
(1953) & Lehninger (1967). Menurut hipotesis ini reaksi pengangkutan elektron yang
menghasilkan energi dirangkaikan dengan reaksi yang membutuhkan energi dari pembentukan
ATP dari ADP + Pi, melalui senyawa kimia-antara yang umum seperti halnya tahap reaksi
glikolisis yang dikatalisis oleh enzim gliseraldehidafosfat dehidrogenase.

Reaksi yang terjadi :


3-fosfogliseraldehida + NAD+ + Pi 3-fosofogliseriol fosfat+NADH + H+
3-fosofogliseriol fosfat + ADP 3-fosogliserat + ATP
Yeti Febrina
13015020

Dari reaksi diatas energi yang dihasilkan oleh oksidasi gugus aldehida menjadi gugus
karboksilat disimpan sebagai senyawa antara, 3-fosfogliserol fosfat. Selanjutnya bentuk energi
kimia ini diberika ke ADP menghasilkan ATP dan 3-fosfogliserat. Dengan demikian terjadilah
mekanisme perangkaian dua reaksi secara kimia.

Berdasarkan gambar 16.13, pembawa elektron tereduksi pada rantai pernafasan (misalnya,
AH2) bereaksi dengan oxidised carrier (misalnya B) yang berdekatan dengan penurunan energi
bebas yang terjadi untuk membuat reaksi A dengan senyawa C yang tidak diketahui
menghasilkan senyawa peralihan energi tinggi non terfosforilasi A ~ C. B dikurangi menjadi
BH2.
Dalam reaksi pertukaran sekuensial berikutnya, C ditransfer ke fosfat untuk membentuk zat
antara C ~ P yang terfosforilasi. Pembawa elektron A menjadi bebas dan teroksidasi.
Akhirnya, fosfat dari C ~ P dipindahkan ke ADP untuk memberi ATP. Senyawa C yang tidak
diketahui bebas dan di recycle lagi.
Hipotesis ini memberikan penjelasan suatu mekanisme yang relatif sederhana, namun
menunjukkan adanya dua kekurangan. Pertama, senyawa-antara berenergi tinggi yang ada dalam
hipotesis tersebut sampai kini belum dapat diisolasi. Kedua, mekanisme yang sederhana ini dapat
berlangsung tanpa adanya membran sel, sehingga mekanisme fosforilasi bersifat oksidasi yang
memerlukan keterlibatan rantai pernafasan (yang berlokasi dalam membran mitokondria) tidak
dapat diterangkan secara terperinci dan mendalam oleh hipotesis ini.

2. Hipotesis perangkaian dengan cara perubahan konformasi


Teori ini pertama kali dikemukakan oleh Boyer pada tahun 1964. Mekanisme hipotesis ini
didasarkan pada terjadinya pemindahan energi yang dihasilkan oleh proses pengangkutan
Yeti Febrina
13015020

elektron ke bentuk energi lain, yaitu perubahan konformasi molekul pembawa elektron dalam
rantai pernafasan.
Boyer menyarankan bahwa perubahan konformasi pada pembawa elektron mungkin
membawa kelompok karboksil dan sulfidril yang sangat berdekatan satu sama lain untuk
membentuk ikatan asil-s (Gambar 16.14 A) dan bahwa ini adalah 'perantara energi tinggi' yang
dapat mendorong ATP perpaduan.
Berdasarkan teori coupling conformation Green and Ji (1972) telah memberikan teori copling
elektro-mekanokimia yang mempertimbangkan perubahan konformasi pada kompleks enzim
daripada pada masing-masing operator.
Menurut model mereka, pengangkutan elektron membawa perubahan konformasi di salah
satu kompleks transpor elektron dalam bentuk komponen regangan mekanis dan elektrik.
Perubahan mekanik dan listrik serupa pada gilirannya diinduksi di Kompleks ATPase. Perubahan
konformasi sebaliknya sekarang mengarah pada sintesis ATP dari ADP + Pi dengan proses
pengangkutan elektron. Dengan demikian dihasilkan suatu konformasi berenergi tinggi, yang
selanjutnya akan mendorong reaksi pembentukan ATP dari ADP + Pi dan secara serempak
konformasi molekul tersebut berubah kembali ke keadaan semula (konformasi berenergi rendah).
Ada dua kenyataan yang menunjang hipotesis ini. Pertama, terjadinya perubahan fisik (atau
struktur) membran mitokondria pada waktu elektron mengalir melalui rantai pernafasan. Kedua,
terjadinya perubahan ultra-struktur mitokondria yang sedang mengalami pernafasan segera
setelah penambahan ADP. Walaupun teori coupling conformational cukup atraktif namun
kesulitan utama dengan teori ini adalah masalah menyiapkan eksperimen untuk mengujinya.
Yeti Febrina
13015020

3. Hipotesis perangkaian secara kemiosmotik


Berbeda dari kedua hipotesis lainnya, hipotesis ini tidak membenarkan terjadinya suatu
senyawa kimia-antara yang berperan dalam merangkaikan reaksi eksergonik dan endergonik,
melainkan mengemukakan terbentuknya suatu keadaan-antara yang berenergi tinggi yang
merangkaikan kedua reaksi tersebut. Keadaan-antara ini merupakan suatu perbedaan
elektrokimia dari ion H+ antara bagian dalam dan luar membran dalam mitokondria yang
dihasilkan oleh proses pengangkutan elektron melalui rantai pernafasan. Selanjutnya keadaan-
antara yang bernergi tinggi tersebut mendorong reaksi endergonik pembentukan ATP dari ADP
+ Pi.
Teori kemiosmotik adalah teori yang dikembangkan dari hipotesis kemiosmotik yang
dicetuskan oleh peraih Nobel Peter Dennis Mitchell pada tahun 1961 sebagai hasil dari analisis
ilmiah terhadap studi David Keilin pada sistem sitokrom, serta studi Warburg dan Wieland pada
respiratory hydrogen carriers, yang kemudian berkembang menjadi konsep rantai
pernapasan.Teori ini berbunyi, Transpor elektron dan sintesis ATP digabungkan oleh gradien
proton, dan bukan oleh media berenergi tinggi kovalen atau protein aktif. Teori ini paling
meyakinkan dari ketiga teori tersebut untuk menjelaskan mekanisme fosforilasi oksidatif
mitokondria. Hal ini juga berlaku untuk fotofosforilasi kloroplas.
Hal yang penting dari hipotesis perangkaian kemiosmotik adalah terlibatnya mekanisme
reaksi kimia yang bervektor yaitu mengikuti kelandaian H+ yang mengarah dari luar ke dalam
melalui membran mitokondria. Jadi berbeda dari reaksi kimia biasa yang tak berarah atau skalar,
Yeti Febrina
13015020

yang bisa terjadi dalam suatu larutan homogen. Terjadinya kelandaian H+ yang berarah kedalam
dimungkinkan karena susunan yang khas dari molekul protein pembawa elektron sedemikian
rupa hingga proses penarikan H+ oleh rantai pernafasan terjaid pada pemukaan dalam membran
dan pelepasan H+ berlangsung pada permukaan luar membran.
Bagian utama dari teori ini (Gambar 16.15) adalah membran yang mengandung reversibel
ATPase. Membran adalah mitokondria dalam kasus fosforilasi oksidatif dan kloroplas dalam
kasus fotofosforilasi.
ATPase mengkatalisis reaksi berikut ini:

Reaksi ini diasumsikan anisotropik sehingga pusat aktif dapat diakses dengan H+ tapi tidak
bisa untuk OH- dari sisi luar membran. Di sisi lain hanya bisa diakses dari OH- tapi tidak bisa
untuk H+ dari sisi dalam membran. Pusat aktif diasumsikan relatif tidak dapat diakses oleh air
dan membran hampir tidak lengket pada ion.
Hal ini cukup jelas dari ATPase yang mengkatalisis reaksi reversibel bahwa penghilangan H+
dan OH- akan mendukung reaksi terhadap sintesis ATP.
Menurut Mitchell H+ dan OH- dapat dihilangkan dengan rantai transpor elektron yang terikat
membran dan pengoperasian ATPase dengan cara berikut:
a. Oksidasi dari pembawa elektron berkurang misalnya, AH2 ke A dengan reduksi simultan
O ke H2O yang menyebabkan akumulasi H+ pada sisi dalam dan OH- pada sisi luar
membran.
b. Akumulasi H+ ini di sisi dalam membran menarik OH- dari reaksi katalis ATPase.
Demikian pula, akumulasi OH- pada sisi luar membran menarik H+ dari reaksi katalis
ATPase. Jadi, ekuilibrium digeser untuk mendukung sintesis ATP (Gambar 16.15). Gaya
dehidrasi yang mendorong reaksi katalis ATPase ke arah sintesis ATP berasal dari
perbedaan potensial kimia dari OH- dan H+ yang melintasi membran.
Yeti Febrina
13015020

Hipotesis Mitchell juga memprediksi adanya transporter membran atau pembawa difusi
pertukaran spesifik yang telah terbukti benar. Pembawa ini mengizinkan pertukaran anion
reversibel (misalnya CI-) untuk OH- dan kation (misalnya K+) untuk H+ dan mengatur pH dan
diferensial osmotik melintasi membran. Sistem ini memungkinkan pergerakan metabolit esensial
tanpa merusak potensial membran yang penting untuk reaksi katalis ATPase ke arah sintesis
ATP.
Hipotesis Mitchell bahwa oksidasi dan fosforilasi digabungkan oleh gradien proton didukung
oleh banyak bukti:
1. Tidak ada hipotesis intermediet 'energi tinggi', yang menghubungkan transpor elektron
dengan sintesis ATP, telah ditemukan sampai saat ini.
2. Fosforilasi oksidatif membutuhkan kompartemen tertutup, yaitu mitokondria bagian
dalam. Membrsn harus dalam keadaan utuh. Lubang di membran dalam tidak
memungkinkan fosforilasi oksidatif, meskipun transpor elektron dari substrat ke oksigen
mungkin masih berlanjut. Sintesis ATP yang digabungkan ke transfer elektron juga tidak
terjadi pada persiapan sel terlarut.
3. Membran mitokondria bagian dalam tidak kedap pada H+, K+, OH- dan Cl- ion. Jika
membran dirusak agar bisa melewati ion tersebut dengan mudah, fosforilasi oksidatif
tidak akan terjadi Namun, bukti yang ada menunjukkan adanya sistem transportasi
tertentu yang memungkinkan ion menembus membran mitokondria bagian dalam.
4. Baik rantai pernapasan dan ATPase diatur secara vektori dalam membran kopling.
Yeti Febrina
13015020

5. Sebuah gradien proton yang melintasi membran dalam mitokondria dihasilkan pada
transpor elektron. pH di dalamnya adalah 1,4 unit lebih tinggi dari luar, dan potensial
membrannya 0,14 V, bagian luar positif. Potensi elektrokimia total p (dalam volt) terdiri
dari potensi potensial membran () dan H+ gradien konsentrasi (pH). Mengambil R
sebagai konstanta gas, T sebagai suhu absolut dan F sebagai kalor setara dengan Faraday,
nilai potensi elektrokimia total p dapat ditulis sebagai:

6. ATP disintesis saat pH gradien dikenakan pada mitokondria atau kloroplas pada saat
tidak adanya transpor elektron
7. Fosforilasi oksidatif dapat diperiksa oleh uncouplers dan ionofor tertentu. Uncouplers
seperti 2,4-dinitrophenol meningkatkan permeabilitas mitokondria, sehingga mengurangi
potensi elektrokimia dan arus pendek sistem sintetase ATP vectorial untuk produksi ATP.
8. Penambahan asam ke media luar, pembentukan gradien proton, menyebabkan sintesis
dari ATP.

Gambar 3. Mekanisme yang mungkin terjadi pada hipotesis kemiosmosis


Yeti Febrina
13015020

Daftar Pustaka :

Koratkar, Sanjay. Classical Theories of Oxidative Phosphorylation | Respiration.


http://www.biologydiscussion.com/respiration/classical-theories-of-oxidative-
phosphorylation-respiration/23326. Dibuka pada tanggal 17 September 2017

Lehninger AL, Wadkins CL. Oxidative phosphorylation. Ann. Rev. Biochem. 31 : 47-78, 1962.

Voet dan Prats. 2013. Fundamental of Biochemistri : Life at Molecular Level 4th edition.Wiley
Yeti Febrina
13015020

1. Respirasi Aerobik
Proses katabolik yang menghasilkan ATP . Melibatkan lintasan metabolisme :
a. Glikolisis
Glikolisis merupakan tahap pertama dalam reaksi respirasi. Tahap ini berlangsung
di dalam sitoplasma sel. Molekul Gukosa (6-karbon) dipecah menjadi 2 buah
senyawa asam 3-karbon yaitu asam piruvat. Dari setiap pemecahan satu ikatan
karbon-karbon, dihasilkan energi metabolik. Apabila tidak ada oksigen, asam
piruvat mengalami reaksi anaerob (fermentasi). Apabila terdapat oksigen yang
cukup, asam piruvat bergerak ke dalam mitokondria masuk ke dalam Siklus Krebs.

b. Konversi piruvat menjadi asetil Ko-A


(Asam piruvat (dari glikolisis) dioksidasi menjadi Asetil KoA) sebagai substrat
awal Silkus Krebs dg menghasilkan 1 NADH.
c. Siklus Krebs
Siklus Krebs terjadi apabila ada oksigen dan berlangsung di dalam matriks
mitokondria. Asam piruvat dari reaksi glikolisis kehilangan CO2 , kemudian
bereaksi dengan senyawa dengan 4-karbon (asam oksalo asetat) membentuk
senyawa dengan 6-karbon (asam sitrat). Asam sitrat mengalami pemecahan
menjadi senyawa asam dengan 5-karbon , kemudian menjadi senyawa asam dengan
4-karbon , megalami pemecahan ikatan karbon-karbon , melepaskan CO2 dan
menhasilkan energi metabolik (ATP, NADH dan FADH2) untuk setiap
Yeti Febrina
13015020

pemecahan. Senyawa asam dengan 4-karbon acid dibentuk kembali, dan siklus
berlansung kembali. Siklus berjalan 2 kali untuk setiap 1 molekul glukosa (satu
siklus untuk setiap 1 molelul asam piruvat yang dihasilkan dari proses glikolisis).

d. Rantai Transpor Elektron & Fosforilasi Oksidatif (Sistem Sitokrom)


Bentuk energi metabolik yang paling berguna bagi tanaman adalah ATP. Berbagai
macam energi metabolik yang dihasilkan melalui Glikolisis dan siklus Krebs
bergerak menuju membran dalam mitokondria. Di dalam membran mitokondria
berlangsung rantai transpor elektron yang disebut sistem sitokrom, yang sangat
mirip dengan rantai transpor elektron pada Fotosintesis. Senyawa energi metabolik
(NADH and FADH2) menyumbangkan elektronnya pada electron transport
carriers dalam rantai transpor elektron, dihasilkan gradien energi, dan enzim
pengahsil ATP (ATPase) . Oksigen berperan sebagai penangkap elektron terakhir
dan bereaksi dengan ion H+ untuk menghasilkan air.
Yeti Febrina
13015020

Proses yang terjadi secara keseluruhan adalah sekarang tanaman telah mengkonversi seluruh
energi yang tersimpan dalam ikatan karbon-karbon dari glukosa kembali menjadi berbagai
senyawa energi metabolik yang diperlukan untuk metabolisme. Tanaman dapat menggunaan
NADH atau FADH2 baik secara langsung atau diubah dahulu menjadi ATP untuk keperluan
metabolisme. Ingat, bentuk energi metabolik ini tidak mudah untuk disimpan atau di angkut,
sehingga respirasi harus berlangsung di setiap sel dan harus berlangsung pada saat yang tepat
yaitu pada saat energi metabolik diperlukan.
Yeti Febrina
13015020

2. Respirasi Anaerobik
Respirasi tanpa menggunakan oksigen dari luar, tetapi menggunakan senyawa
anorganik yang ada dalam substrat sebagai akseptor elektron terakhir Energi yang
dihasilkan lebih sedikit dibandingkan respirasi aerobik. Senyawa- senyawa anorganik
yang dapat digunakan sebagai akseptor elektron : sulfat, nitrat, atau CO2.
Respirasi Anaerobik melibatkan : Glikolisis, Siklus Asam Sitrat dan RTE. Total
hasil energi per molekul glukosa yang dioksidasi lebih kecil atau sama dengan 36 ATP
(lebih sedikit dari Respirasi Aerobik, tapi lebih banyak dari fermentasi).
Beberapa prokariot mampu melakukan respirasi anaerob
Contoh :
- Beberapa bakteri pereduksi sulfat dapat mentransfer elektron ke ggs sulfat direduksi
menjadi H2S.
- Bakteri pereduksi nitrat dapat mentransfer elektron ke ggs nitrat direduksi menjadi
nitrit
- Bakteri pereduksi nitrat lain dapat mereduksi nitrat NO dan N2

Respirasi anaerob merupakan respirasi yang tidak menggunakan oksigen sebagai


penerima elektron akhir pada saat pembentukan ATP. Respirasi anaerob juga
menggunakan glukosa sebagai substrat. Respirasi anaerob merupakan proses fermentasi.
Yeti Febrina
13015020

3. Fermentasi
Merupakan reaksi oksidasi-reduksi di dalam sistem biologi yang menghasilkan
energi dan sebagai donor dan akseptor elektron digunakan senyawa organik (tidak perlu
O2), akan tetapi prosesnya tidak efisien.
Fermentasi adalah proses produksi energi dalam sel dalam keadaan anaerobik
(tanpa oksigen). Secara umum, fermentasi adalah salah satu bentuk respirasi anaerobik,
akan tetapi, terdapat definisi yang lebih jelas yang mendefinisikan fermentasi sebagai
respirasi dalam lingkungan anaerobik dengan tanpa akseptor elektron eksternal. Gula
adalah bahan yang umum dalam fermentasi. Beberapa contoh hasil fermentasi adalah
etanol, asam laktat, dan hidrogen. Akan tetapi beberapa komponen lain dapat juga
dihasilkan dari fermentasi sepertiasam butirat dan aseton. Ragi dikenal sebagai bahan
yang umum digunakan dalam fermentasi untuk menghasilkan etanol dalam bir ,anggur
dan minuman beralkohol lainnya. Respirasi anaerobik dalam otot mamalia selama kerja
yang keras (yang tidak memiliki akseptor elektron eksternal), dapat dikategorikan
sebagai bentuk fermentasi yang mengasilkan asam laktat sebagai produk sampingannya.
Akumulasi asam laktat inilah yang berperan dalam menyebabkan rasa kelelahan pada
otot.
Yeti Febrina
13015020

Dari hasil akhirnya, fermentasi dibedakan menjadi fermentasi asam laktat


dan fermentasi alkohol.
a. Fermentasi asam laktat
Fermentasi asam laktat merupakan respirasi anaerob, hasil akhir fermentasi ini
ialah asam laktat yang disebut juga asam susu. Sebagian masyarakat menyebut
asam laktat sebagai asam kelelahan, karena erat kaitannya dengan rasa lelah. Hal ini
terjadi pada manusia, karena bergerak melebihi batas sehingga terjadi penimbunan asam
laktat yang merupakan hasil akhir fermentasi pada otot tubuh.
Proses fermentasi juga dimulai dengan glikolisis yang menghasilkan asam
piruvat. Karena pada proses ini tidak ada oksigen yang merupakan reseptor terakhir,
maka asam piruvat diubah menjadi asam laktat. Kejadian ini berakibat pada elektron
yang tidak meneruskan perjalanannya, tidak lagi menerima elektron dari NADH
dan FAD. Karena tidak terjadi penyaluran elektron, berarti pula NAD+ dan FAD
yang diperlukan dalam siklus krebs juga tidak terbentuk. Akibatnya, reaksi siklus krebs
pun terhenti. Asam laktat merupakan zat kimia yang merugikan karena bersifat
racun atau toksis.
b. Fermentasi alkohol
Pada beberapa mikroorganisme, peristiwa pembebasan energi terjadi karena
asam piruvat diubah menjadi asam asetat dan CO2. Selanjutnya, asam asetat diubah
menjadi alkohol. Pada peristiwa ini, NADH diubah menjadi NAD+.
Denganterbentuknya NAD+, glikolisis dapat terjadi. Dengan demikian, asam piruvat
selalu tersedia, kemudian diubah menjadi energi.
Pada fermentasi ini, energi (ATP) yang dihasilkan dari 1 molekul glukosa
hanya 2 molekul ATP, berbeda dengan proses respirasi aerob yang mengubah 1
molekul glukosa menjadi 34 ATP.
Yeti Febrina
13015020