Anda di halaman 1dari 4

Reformasi DK PBB: Kunci

Menghentikan Israel
Sampai dengan hari ke dua belas sejak 27 Desember 2009, pengeboman udara dan penyerangan
darat di Gaza telah menjatuhkan korban meninggal sekurangnya 670 orang dan melukai lebih
dari 2500 orang lainnya (Kompas.com, 08/01/09). Israel dengan tegas telah menyatakan tidak
akan mengakhiri serangannya sampai Hamas dilenyapkan. Sebaliknya Hamas juga dengan tegas
menyatakan tidak akan menghentikan serangan roketnya ke Israel dan menutup kemungkinan
berunding. Apakah Resolusi Dewan Keamanan PBB (DK PBB) ataupun Majelis Umum PBB
dapat menyelesaikan masalah ini?

Arti Resolusi Bagi Israel

Ironis memang, karena pengeboman Israel yang diluar batas ini dimulai dalam waktu kurang dari
sebulan sejak dikeluarkannya Resolusi DK PBB No. 1850 tanggal 16 Desember 2008. Resolusi
ini meminta kepada Israel dan Palestina untuk menahan diri dan melanjutkan upaya-upaya
perundingan dan penyelesaian sengketa secara damai.

Lebih ironis lagi, pertemuan darurat DK PBB gagal menghasilkan Resolusi baru yang lebih tegas
memaksa Israel menghentikan serangannya dan membuka blokade jalur Gaza. Beberapa negara
selanjutnya mengusulkan untuk diadakan pertemuan darurat Majelis Umum PBB. Apakah
mungkin Israel akan mematuhi keputusan Majelis Umum PBB? Perlu diketahui, Resolusi DK
PBB No. 1850 bukanlah yang pertama berkaitan dengan masalah konflik Israel-Pelestina ini.

Sebelumnya sudah ada Resolusi No. 242, 338, 1397 dan 1515 namun kesemuanya itu tidak
berarti apa-apa bagi Israel. Bahkan Israel terang-terangan melecehkan semua Resolusi ini dengan
membangun tembok-tembok yang menutup dan memblokade Gaza. Puncaknya, Israel bahkan
mengabaikan Advisory Opinion atas permintaan Majelis Umum PBB yang dikeluarkan oleh
Mahkamah Internasional di tahun 2004 dengan tetap meneruskan pembangunan tembok-tembok
tersebut.
Berdasar pada sikap Israel diatas, penulis yakin bahwa Resolusi yang biasa-biasa saja tidak akan
cukup untuk memaksa Israel untuk menghentikan serangan bersenjata terhadap penduduk Gaza.
Pengeboman kali ini sudah diluar batas, Israel telah melanggar begitu banyak aturan hukum
internasional dan prinsip-prinsip fundamental di dalamnya.

Serangan Israel terhadap penduduk sipil termasuk anak-anak, sekolah, rumah sakit dan
perumahan penduduk telah jelas-jelas melanggar Konvensi Jenewa 1949 tentang Perlindungan
Orang-orang Sipil dalam Masa Perang. Begitu juga pemboman yang berlebihan diatas Gaza telah
melanggar prinsip proporsionalitas dalam hukum humaniter internasional.

Kejahatan perang Israel diatas semakin diperberat lagi dengan adanya pelanggaran hak-hak asasi
manusia terhadap rakyat dan anak-anak Palestina untuk mendapatkan kehidupan yang damai dan
masa depan bagi anak-anak sebagaimana diatur dalam Kovenan internasional tentang hak-hak
sipil dan politik (ICCPR), Kovenan internasional tentang hak-hak ekonomi, social dan budaza
(ICESC) dan Konvensi PBB tentang hak-hak anak.

Dua Kewenangan

Atas berbagai pelanggaran terhadap hukum internasional diatas, setidaknya terdapat dua
kewenangan yang dimiliki DK PBB untuk menghentikan kejahatan perang dan kemanusiaan
oleh Israel.

Pertama, DK PBB harus berani menggunakan kewenangannya berdasarkan Pasal 13 (b) Statuta
Roma tentang Mahkamah Pidana Internasional (ICC) untuk mengadili pelaku kejahatan perang
dan kemanusiaan. Komandan pasukan Israel bahkan sampai dengan Kepala Negara Israel harus
diahadapkan ke persidangan pidana atas jatuhnya korban dan harta benda penduduk sipil di
Gaza.

Kedua, untuk mencegah jatuhnya korban yang lebih banyak lagi DK PBB harus berani
menggunakan kewenangannya berdasarkan Chapter VII Piagam PBB untuk memberikan sanksi
tegas terhadap Israel. Supaya efektif, sanksi ini dapat berupa embargo perdagangan sementara
atau dalam kurun waktu tertentu sampai dengan Israel bersedia mematuhi ketentuan hukum
internasional. Bahkan bila langkah ini masih dianggap kurang, DK PBB harus berani
menggunakan kekuatan bersenjata sebagaimana yang dimandatkan oleh Pasal 42 Piagam PBB.

Reformasi DK PBB

Masalahnya, penggunaan kewenangan oleh DK PBB hanya bisa terwujud bila kelima negara
pemegang hak veto setuju secara bulat untuk mengeluarkan Resolusi berisi dua hal diatas. Salah
satu saja tidak setuju, maka sulit untuk dapat menghentikan kejahatan Israel.

Oleh karena itu, reformasi dalam tubuh DK PBB adalah suatu hal yang mutlak untuk dilakukan
segera. Sepanjang reformasi ini masih belum terjadi Israel akan terus mendapatkan
perlindungan dari sekutunya yang memiliki hak veto. Ketidakadilan masih akan terus berlanjut
dan rakyat sipil akan terus menjadi korbannya.

Penulis sendiri berpendapat agar hak veto ini sebaiknya dihapuskan saja, yaitu setidaknya karena
dua alasan. Pertama, adanya hak veto oleh lima negara saja dianggap sudah tidak
merepresentasikan konstelasi politik dan hubungan internasional saat ini. Kekuatan ekonomi,
teknologi dan persenjataan tidak lagi berpusat hanya pada lima negara itu saja.

Kedua, bahkan hak veto ini justru telah melanggengkan terjadinya banyak kekerasan dan
kejahatan kemanusiaan di dunia lihat saja lambannya reaksi DK PBB dalam mengatasi
kekerasan bersenjata dan kejahatan kemanusiaan di negara-negara Afrika, Myanmar, Irak,
Afganistan dan tentunya Palestina.

Memang akan tidak mudah melakukan reformasi ini, karena Piagam PBB Pasal Pasal 108
Piagam PBB mensyaratkan bahwa amandemen terhadap Piagam ini hanya akan sah bila
duapertiga anggota Majelis Umum menyetujuinya dan diratifikasi oleh duapertiga negara
anggota PBB termasuk oleh seluruh negara anggota permanen DK PBB pemegang hak veto.

Sebenarnya negara-negara Liga Arab dan OKI mempunyai kemampuan untuk mendesak
reformasi ini. Namun keputusan berpulang kepada mereka, apakah memilih untuk cukup
mengecam dan menerima keadaan ataukah akan mendesakkan reformasi DK PBB dengan
menggunakan posisi tawarnya sebagai negara pengekspor minyak terbesar dunia?