Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Pada era belakangan ini kejadian penyakit hipertiroid meningkat
terutama pada wanita tetapi tidak sedikit juga terjadi pada laki-laki.
Berdasarkan Riskesdas 2013 angka prevalensi hipertioid di Indonesia
adalah 0,4%. Walaupun secara persentase kecil namun secara kuantitatif
besar, terdapat lebih 700.000 orang yang terdiagnosa hipertiroid di
Indonesia(1), diperkirakan lebih banyak lagi penderita hipertiroid yang
belum terdiagnosis dan hipertiroid banyak terjadi pada perkotaan
dibandingkan di perdesaan(1). Penderita hipertiroid pada daerah DKI
Jakarta menurut Riskesdas tahun 2013 adalah 0,7% atau sebanyak 53.265
orang terdiagnosa hipertiroid.

Hipertiroid merupakan suatu keadaan overfungsional dari kelenjar


tiroid dan terjadi peningkatan sekresi hormon tiroid yang melebihi
normal(2). Tanda dan gejala dari penyakit hipertiroid adalah berkeringat
tidak wajar pada daerah tertentu, pemandangan ganda, melotot, labil/
emosional, tremor, pembesaran kelenjar tiroid, jantung berdebar-debar,
osteoporosis(3). Faktor-faktor risiko seseorang untuk terkena hipertiroid
antara lain terdapat keturunan yang mengalami penyakit hipertiroid
(kongenital), memiliki riwayat gangguan tiroid sebelumnya, mengonsumsi
iodine berlebihan secara kronik, dan menggunakan obat-obatan yang
mengandung iodine, contohnya amiodarone.

Terdapat juga beberapa gejala hipertiroid pada rongga mulut yaitu


osteoporosis pada maxilla dan mandibula, sindrom mulut terbakar, dan
meningkatkan penyakit periodontal gigi seperti gingivitis dan periodontitis
yang merusak jaringan pendukung gigi(4). Dengan gejala tersebut dokter
gigi harus tahu cara menangani pasien penderita hipertiroid baik yang

3
terdiagnosis maupun tidak terdiagnosis jika tidak tepat menangani pasien
penderita hipertiroid akan menimbulkan hasil yang fatal. Rumah sakit
pondok indah puri indah merupakan rumah sakit bertaraf internasional
yang berlokasi di Jakarta Barat dan memiliki banyak pasien penderita
hipertiroid. Berdasarkan latar belakang diatas peneliti tertarik untuk
mengangkat permasalahan tersebut dengan judul Prevalensi Pasien
Penderita Hipertiroid di Poliklinik Gigi Rumah Sakit Pondok Indah Puri
Indah (Kajian Pada Tahun 2016).

B. RUMUSAN MASALAH
Berapa prevalensi pasien penderita hipertiroid di Poliklinik Gigi
Rumah Sakit Pondok Indah Puri Indah pada tahun 2016?

C. TUJUAN PENELITIAN
Untuk mengetahui prevalensi pasien penderita hipertiroid di
Poliklinik Gigi Rumah Sakit Pondok Indah Puri Indah pada tahun 2016.

D. MANFAAT PENELITIAN
a. Ilmu kedokteran gigi
Untuk menambah pengetahuan mahasiswa preklinik dan klinik
kedokteran gigi dan dokter gigi dalam menangani pasien penderita
hipertiroid.
b. Masyarakat
Untuk memberikan pemahaman lebih lanjut tentang tanda dan gejala
hipertiroid.
c. Pemerintah
Untuk membantu pemerintahan dalam memberikan kebijakan dalam
program-program untuk mengatasi masalah hipertiroid.

4
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Hipertiroid

1. Definisi Hipertiroid

Kelenjar tiroid terletak di leher, tepat di bawah laring. Kelenjar tiroid


menghasilkan dua hormon yaitu triiodothyronine (T3) dan tiroksin (T4).
Jika kelenjar tiroid memproduksi kedua hormon tersebut secara
berlebihan maka keadaan ini dinamakan dengan hipertiroid(5).
Hipertiroid adalah suatu keadaan klinis pembesaran kelenjar tiroid
disebabkan oleh sintesis dan sekresi hormon tiroid oleh kelenjar tiroid
yang berlebihan(2). Hormon tiroid berjalan melalui aliran darah
keseluruh bagian tubuh dimana hormon triidothyrinine (T3) dan
tiroksin (T4) memegang peran penting dalam mengendalikan
metabolisme (metabolisme protein, lemak, karbohidrat), kelebihan
sekresi hormon oleh kelenjar tiroid atau hipertiroid akan mengganggu
berbagai proses metabolisme tubuh, aktifitas fisiologi, dan
mempengaruhi perkembangan dan pertumbuhan jaringan termasuk
sitem saraf dan otak.
Keadaan ini dapat timbul spontan atau adanya sejenis antibodi dalam
darah yang merangsang kelenjar tiroid, sehingga tidak hanya produksi
hormon yang berlebihan tetapi ukuran kelenjar tiroid menjadi besar.
Hipertiroid yang tidak diterapi dapat mengakibatkan penyakit
kardiovaskular seperti kardiomiopati, gagal jangtung kongestif serta
dapat menyebabkan meningkatnya kerusakan tulang yang dapat
menyebabkan osteoporosi dan fraktur. Oleh karena itu penanganan
hipertiroid harus segera mungkin untuk mengindari hasil yang buruk.

5
2. Etiologi Hipertiroid

Berdasarkan etiologinya hipertiroid dapat dibagi menjadi beberapa


kategori, secara umum hipertiroid yang paling banyak ditemukan
adalah Graves Disease, toxic adenoma, dan multinodular goiter.

a) Graves Disease
Graves disease merupakan penyebab utama hipertiroid karena
sekitar 80% kasus hipertiroid di dunia disebabkan oleh Graves
disease. Penyakit ini biasanya terjadi pada usia 20 40 tahun,
riwayat gangguan tiroid keluarga, dan adanya penyakit autoimun
lainnya misalnya diabetes mellitus tipe 1(8). Graves disease
merupakan gangguan autoimun berupa peningkatan kadar hormon
tiroid yang dihasilkan kelenjar tiroid.
Kondisi ini disebabkan karena adanya thyroid stimulating
antibodies (TSAb) yang dapat berikatan dan mengaktivasi reseptor
TSH (TSHr). Aktivasi reseptor TSH oleh TSAb memicu
perkembangan dan peningkakan aktivitas sel-sel tiroid menyebabkan
peningkatan kadar hormon tiroid melebihi normal. TSAb dihasilkan
melalui proses respon imun karena adanya paparan antigen. Namun
pada Graves Disease sel-sel APC (antigen presenting cell)
menganggap sel kelenjar tiroid sebagai antigen yang dipresentasikan
pada sel T helper melalui bantuan HLA (human leucocyte antigen).
Selanjutnya T helper akan merangsang sel B untuk memproduksi
antibodi berupa TSAb.
b) Toxic Adenoma
Pada pasien toxic adenoma ditemukan adanya nodul yang dapat
memproduksi hormon tiroid. Nodul didefinisikan sebagai masa
berupa folikel tiroid yang memiliki fungsi otonom dan fungsinya
tidak terpengaruhi oleh kerja TSH(9). Sekitar 2 9% kasus
hipertiroidisme di dunia disebabkan karena hipertiroid jenis , hanya
37% pasien dengan nodul tiroid yang tampak dan dapat teraba, dan

6
20 76% pasien memiliki nodul tiroid yang hanya terlihat dengan
bantuan ultra sound. Penyakit ini lebih sering muncul pada wanita,
pasien berusia lanjut, defisiensi asupan iodine, dan riwayat terpapar
radiasi. Pada pasien dengan toxic adenoma sebagian besar tidak
muncul gejala atau manifestasi klinik seperti pada pasien dengan
Graves disease.
Pada sebagian besar kasus nodul ditemukan secara tidak sengaja
saat dilakukan pemeriksaan kesehatan umum atau oleh pasien
sendiri. Sebagian besar nodul yang ditemukan pada kasus toxic
adenoma bersifat benign (bukan kanker), dan kasus kanker tiroid
sangat jarang ditemukan. Namun apabila terjadi pembesaran nodul
secara progresif disertai rasa sakit perlu dicurigai adanya
pertumbuhan kanker. Dengan demikian perlu dilakukan pemeriksaan
dan evaluasi terhadap kondisi pasien untuk memberikan tatalaksana
terapi yang tepat.
c) Toxic Multinodular Goiter
Selain Graves Disease dan toxic adenoma, toxic multinodular
goiter merupakan salah satu penyebab hipertiroid yang paling umum
di dunia. Secara patologis toxic multinodular goiter mirip dengan
toxic adenoma karena ditemukan adanya nodul yang menghasilkan
hormon tiroid secara berlebihan, namun pada toxic multinodular
goiter ditemukan beberapa nodul yang dapat dideteksi baik secara
palpasi maupun ultrasonografi. Penyebab utama dari kondisi ini
adalah faktor genetik dan defisiensi iodine.

3. Tanda dan Gejala Hipertiroid

Tanda dan gejala hipertiroid beragam dan sebagian besar


ditentukan oleh umur pasien penderita hipertiroid dan adanya gangguan
organ sebelumnyadan adanya gangguan organ sebelumnya. Pasien
muda biasanya mengeluhkan saraf simpatik yang berlebihan seperti

7
kegelisahan, hiperaktif dan tremor, sedangkan pada lansia umumnya
mengeluhkan kardiovaskular dan penurunan berat badan.

4. Data Penderita Hipertiroid


Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis hipertiroid terbanyak
adalah Graves disease sebanyak 46%. Gejala klinis yang umum
dialami oleh pasien adalah gemetar, produksi keringat berlebihan dan
jantung berdebar.
Berdasarkan riset kesehatan dasar (Riskesdas) tahun 2007 penderita
hipertiroid di Indonesia adalah 12,8% laki-laki dan 14,7% perempuan.
Namun menurut riset kesehatan dasar (Riskesdas) tahun 2013 hanya
terdapat 0,4% penduduk Indonesia yang mengalami hipertiroid.
Walaupun secara persentase kecil namun secara kuantitas cukup besar
yaitu terdapat lebih dari 700.000 orang yang terdiagnosa hipertiroid.
Hipertiroid lebih banyak terjadi pada masyarakat di lingkungan
perkotaan dibandingkan dengan perdesaan(1). Penderita hipertiroid pada
daerah DKI Jakarta menurut Riskesdas tahun 2013 adalah 0,7% atau
sebanyak 53.265 orang terdiagnosa hipertiroid.

B. Manifestasi Hipertiroid pada Rongga Mulut


Hubungan antara hipertiroid dengan ilmu kedokteran gigi adalah
hipertiroid menyebabkan meningkatnya tekanan darah (hipertensi),
sehingga terapi pengobatan gigi yang membutuhkan tindakan invasif harus
di lakukan dengan sangat hati-hati dengan memperhatikan tekanan darah
yang di miliki oleh pasien, selain itu hipertiroid juga menyebabkan
kelainan-kelaian di dalam rongga mulut, seperti berkurangnya kepadatan
tulang (osteoporosis) pada rahang atas (maxilla) dan bawah (mandibula),
serta meningkatkan penyakit periodotal seperti gingivitis dan
periodontitis(4).

8
Hipertiroid menyebabkan kepadatan tulang berkurang dimana hormon
tiroid secara langsung menstimulasi osteoblas. Aktivitas osteoklas dipacu
oleh hormon tiroid bila ada osteoblas dan stimulasi dimediasi oleh
sitokin(6). Pada hipertiroid, fase resorbsi dan formasi dipersingkat,
kedalaman resorbsi nomal tetapi completed wall thickmess pada akhir tiap
siklus memendek memicu hilangnya ketebalan tulang pada tiap siklus(7).
Pasien penderita hipertiroid terjadi peningkatan asupan kalsium namun
absorbsi berkurang dan terjadi pelepasan kalsium dari tulang, sehingga
akan terjadi peningkatan kadar kalsium dalam darah (hiperkalsemia).
Keadaan ini menyebabkan penurunan hormon paratiroid (PTH). Kadar
PTH yang rendah ini dapat mengganggu konversi vitamin D dalam tubuh
(vitamin D dipengaruhi PTH yang cukup). Serta meningkatnya kehilangan
kalsium melalui kulit dan feses sehingga memicu keseimbangan yang
negatif dan menebabkan terjadinya osteoporosis.
Pasien penderita hipertiroid cenderung memiliki resiko lebih tinggi
untuk mengalami gangguan homeostasis yang disebabkan oleh
menumpuknya mukopolisakarida di bawah kulit, yang berakibat
berkurangnya kemampuan pembuluh kapiler untuk kontriksi jika terjadi
luka sehingga pendarahan lebih sulit untuk berhenti, pasien penderita
hipertiroid juga memiliki resiko lebih tinggi untuk terkena infeksi, waktu
penyembuhan luka menjadi lebih lama karena berkurangnya aktivitas
metabolik dari sel fibroblast, dan sensitive terhadap obat-obat tertentu
seperti obat-obatan yang bersifat depresan terhadap system saraf pusat,
obat-obat anastesi dari golongan barbiturate, serta antiseptic yang
mengandung iodine seperti PVP/povidone + iodine dapat meningkatkan
resiko terkena tiroiditis(5).

1. Terapi dan Perawatan


Dalam praktik sehari-hari dokter gigi mungkin sering kali
memegang peran penting dalam mendeteksi kasus kelainan kelenjar
tiroid, maka dari itu dokter gigi sebaiknya menghindari perawatan-

9
perawatan yang dapat menimbulkan komplikasi bagi pasien dengan
kelianan kelenjar tiroid, improvisasi mungkin di butuhkan dalam
menangani pasien-pasien dalam melakukan perawatan bagi pasien-
pasien dengan kelainan kelenjar tiroid(5).

Komunikasi yang baik antara dokter gigi dan dokter spesialis


endokrin sangat di sarankan dalam menangani pasien dengan kelainan
kelenjar tiroid, guna untuk tercapainya langkah-langkah perawatan yang
optimal bagi pasien(5).

10
BAB III

KERANGKA TEORI

Hipertiroid adalah suatu kondisi yang disebabkan oleh beberapa faktor


antara lain keturunan, memiliki riwayat gangguan tiroid sebelumnya,
mengonsumsi iodine berlebihan secara kronik, dan menggunakan obat-obatan
yang mengandung iodine (amiodarone). Prevalensi hipertiroid di jakarta adalah
0,7%. Hipertiroid dapat menyebabkan gejala-gejala seperti gangguan
kardiovaskular, menurunnya berat badan dan gangguan sistem saraf simpatik
yaitu kegelisahan, hipereaktif, dan tremor. Hipertiroid juga memiliki manifestasi
pada rongga mulut yaitu osteoporosis pada maxilla dan mandibula dan
menyebabkan penyakit periodontal. Terapi dan perawatan pasien penderita
hipertiroid dapat dilakukan dengan cara menghindari terapi-terapi yang dapat
menyebabkan komplikasi bagi pasien penderita hipertiroid dan komunikasi yang
baik dengan dokter spesialis endokrin.

11
BAB IV

METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini bersifat observasional deskriptif untuk melihat


prevalensi pasien penderita hipertiroid di Poliklinik Gigi Rumah Sakit Puri
Indah Pondok Indah pada tahun 2016. Tujuan dari penelitian ini adalah
ingin menggambarkan realita empirik dibalik fenomena secara mendalam,
rinci dan tuntas. Selain itu, jenis penelitian deskriptif juga menjadi
pertimbangan dalam pemilihan jenis penelitian karena biaya murah, waktu
yang digunakan singkat.

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di poliklinik gigi rumah sakit pondok indah


puri indah. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 07 September 13
September 2017.

C. Populasi Penelitian
1. Populasi Penelitian
Populasi penelitian ini adalah semua rekam medis di rumah sakit
pondok indah pondok indah pada tahun 2016.

D. Variabel dan Definisi Operasional


1. Variabel Penelitian
Variabel pada penelitian ini adalah pasien penderita
hipertiroid di Poliklinik Gigi Rumah Sakit Pondok Indah Puri
Indah.

12
2. Definisi Operasional Variabel
Hipertiroid adalah suatu keadaan klinis pembesaran
kelenjar tiroid disebabkan oleh sintesis dan sekresi hormon
tiroid oleh kelenjar tiroid yang berlebihan. Skala nominal
merupakan skala yang digunakan dalam menentukan
prevalensi pasien penderita hipertiroid dan penelitian ini
analisa data menggunakan persentase. Pengukuran dilakukan
dengan melihat rekam medis pada rumah sakit pondok indah
puri indah dan menghitung jumlah pasien penderita hipertiroid
di poliklinik gigi.

E. Alat dan Bahan


1. Alat :
1) Pulpen
2) Pensil
3) Penghapus
4) Laptop
5) Kertas Polio
6) Penggaris

2. Bahan
Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah rekam medis.

F. Cara Penelitian
Jenis data yang dikumpulkan yaitu data sekunder. Data sekunder di
dapat dari rekam medis pada rumah sakit pondok indah puri indah
yang berkaitan dengan pasien penderita hipertiroid yang melakukan
kunjungan pada poliklinik gigi.
Peneliti mengumpulkan rekam medis di rumah sakit pondok indah
puri indah pada tahun 2016 kemudian melihat dan memisahkan pasien

13
penderita hipertiroid. Setelah mendapatkan rekam medis pasien
hipertiroid lalu peneliti melihat rekam medis pasien penderita
hipertiroid yang melakukan kunjungan ke poliklinik gigi.

G. Alur Kerja

14
H. Etika Penelitian
Penelitian ini telah disetujui oleh dosen pembimbing dan pihak
manajemen rumah sakit pondok indah puri indah.

I. Instrumen Data

Dalam penelitian ini, peneliti bertindak sebagai pengumpul data dan


sebagai instrumen aktif dalam upaya mengumpulkan data-data di
lapangan. Sedangkan rekam medis sebagai instrumen pendukung yang
digunakan untuk menunjang keabsahan hasil penelitian.

J. Analisis Data
Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis microsoft
office exel dan persentase.

15
DAFTAR PUSTAKA

1. Riset Kesehatan Dasar Nasional tahun 2013


2. JAFES (Journal of the ASEAN Federation of Endocrine Societies).
Indonesian Clinical Practice Guideline For Hiperthroidism. 2012; 27.
3. Semiardji, Gatut. Penyakit Kelenjar Tiroid. Gejala Diagnosis dan
Pengobatan. Jakarta. Balai Penerbit FKUI. 2008.
4. Fabue LC, Soriano YJ, Perez GS. Dental management of patients with
endocrine disorders. J Clin Exp Dent. 2010;2(4):e196-203.
5. Chandna S, Bathla M. Oral manifestations of thyroid disorders and its
management. Indian J Endocrinol Metlab. 2011; 15(Suppl2): S113
S116.
6. Salwani, Desi. Osteoporosis Pada Hipertiroidisme. Jurnal Kedokteran
Syiah Kuala. 2013;13:182.
7. Wexler JA, SharrettsJ. Thyroid and Bone.Endocrinology and
Metebolism Clinics of North America. 2007;36:63-705.
8. Fumarola, A., A. Di Fiore, M. Dainelli, G. Grani., dan A. Calvanese.
Medical Treatment of Hyperthyroidism: State of the Art, Exp Clin
Endocrinol Diabetes. 2010.
9. Sherman, S.I. dan Talbert, R.L., 2008, Thyroid Disorders dalam DiPiro
et al, Pharmacotherapy a Pathophysiologic Approach 7 th Edition,
McGraw Hill.

16