Anda di halaman 1dari 28

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Matlab adalah sebuah bahasa dengan (high-performance) kinerja tinggi
untuk komputasi masalah teknik. Matlab mengintegrasikan komputasi, visualisasi,
dan pemrograman dalam suatu model yang sangat mudah untuk digunakan
dimana masalah-masalah dan penyelesaiannya diekspresikan dalam notasi
matematika yang familiar. Penggunaan matlab meliputi bidangbidang:
Matematika dan komputasi, pembentukan algoritma akusisi data, Pemodelan,
Simulasi, dan pembuatan prototipe, analisa data, explorasi, dan visualisas, dan
Grafik keilmuan dan bidang rekayasa.
Matlab merupakan singkatan dari matrix laboratory.. Saat ini perangkat
Matlab telah menggabung dengan LAPACK dan BLAS library, yang merupakan
satu kesatuan dari sebuah seni tersendiri dalam perangkat lunak untuk komputasi
matrix. Dalam lingkungan perguruan tinggi teknik, Matlab merupakan perangkat
standar untuk memperkenalkan dan mengembangkan penyajian materi
matematika, rekayasa dan kelimuan.
Sinyal merupakan sesuatu yang secara kuantitatif bisa terdeteksi dan
digunakan untuk memberikan informasi yang berkaitan dengan fenomena fisik.
Contoh sinyal yang kita temui dalam kehidupan sehari hari, suara manusia,
cahaya, temperatur, kelembaban, gelombang radio, sinyal listrik, dsb. Sinyal
listrik secara khusus akan menjadi pembicaraan di dalam praktikum ini, secara
normal diskpresikan di dalam bentuk gelombang tegangan atau arus. Dalam
aplikasi bidang rekayasa, banyak sekali dijumpai bentuk sinyal-sinyal lingkungan
yang dikonversi ke sinyal listrik untuk tujuan memudahkan dalam pengolahannya.
Secara matematik sinyal biasanya dimodelkan sebagai suatu fungsi yang tersusun
lebih dari satu variabel bebas. Contoh variabel bebas yang bisa digunakan untuk
merepresentasikan sinyal adalah waktu, frekuensi atau koordinat spasial. Sebelum
memperkenalkan notasi yang digunakan untuk merepresentasikan sinyal, berikut

1
2

ini kita mencoba untuk memberikan gambaran sederhana berkaitan dengan


pembangkitan sinyal dengan menggunakan sebuah sistem.
Sinyal banyak dijumpai dalam kehidupan sehari-hari seperti suara, musik,
gambar, video. Selain itu, fenomena alam seperti temperatur, kelembapan, arah
angin juga termasuk sinyal. Jika kita memeriksakan diri ke dokter biasanya akan
diukur tekanan darah dan jika kita masuk ke ruang ICU kemungkinan kita melihat
denyut jantung seseorang yang ditampilkan dalam layar peralatan medis. Tekanan
darah dan denyutjantung dapatjuga digolongkan sebagai sinyal.
Oleh karena itu, dalam praktikum pembangkitan sinyal ini diharapkan
praktikan dapat memahami tentang sinyal diskrit dan sinyal kontinyu yang
digunakan dalam analisis sinyal, mengetahui analisis pembangkitan sinyal waktu
diksrit dan sinyal waktu kontinyu, mengetahui perbedaan bentuk gelombang yang
dihasilkan dengan menggunakan sinyal waktu diskrit dan sinyal waktu kontinyu.
1.2 Tujuan
1. Untuk mengetahui perbedaan sinyal kontinu dengan sinyal diskrit.
2. Untuk mengetahui perbedaan bentuk gelombang yang dihasilkan dengan
menggunakan sinyal waktu diskrit dan sinyal waktu kontinyu.
1.3 Manfaat
1. Mengetahui perbedaan sinyal kontinu dengan sinyal diskrit.
2. Mengetahui perbedaan bentuk gelombang yang dihasilkan dengan
menggunakan sinyal waktu diskrit dan sinyal waktu kontinyu.
3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Sinyal merupakan sebuah fungsi yang berisi informasi mengenai keadaan


tingkah laku dari sebuah sistem secara fisik. Sebagi contoh sinyal berbentuk
sebuah pola dari banyak variasi waktu atau sebagian saja. Secara matematis,
sinyal merupakan fungsi dari satu atau lebih variable yang berdiri sendiri
(independent variable). Contoh, sinyal wicara dinyatakan secara matematis oleh
tekanan akustik sebagai fungsi waktu dan sebuah gambar dinyatakan sebagai
fusngsi ke-terang-an (brightness) dari dua variable ruang (spatial).Secara umum,
variable yang berdiri sendiri (independent) secara matematis diwujudkan dalam
fungsi waktu. Terdapat 2 tipe dasar sinyal, yaitu: Sinyal waktu kontinu
(continous-time signal) dan Sinyal waktu diskrit (discrete-time signal) Pada sinyal
kontinu, variable independent terjadi terus-menerus dan kemudian sinyal
dinyatakan sebagai sebuah kesatuan nilai dari variable independent. Sebaliknya,
sinyal diskrit hanya menyatakan waktu diskrit dan mengakibatkan variabel
independent hanya merupakan himpunan nilai diskrit (Huda, 2010).
Sinyal yang paling mudah diukur dan sederhana adalah sinyal listrik
sehingga sinyal listrik biasanya dijadikan kuantitas fisik referensi. Sinyal-sinyal
lain seperti temperatur, kelembapan, kecepatan angin, dan intensitas cahaya biasa
diubah terlebih dahulu menjadi sinyal listrik dengan menggunakan transducer
(Gunawan, 2012).
Sinyal dapat berarti apa saja, sinyal tidak dibatasi hanya pada dunia
kelistrikan seperti trgangan dan arus. Contoh dari sinyal secara umum adalah bit-
bit yang dikirimkan komputer, sinyal EEG (Electro Encephalo Graph) dan ECG
(Electro Cardio Graph), jumlah mahasiswa baru di sebuah kampus, seuhu
ruangan yang dicatat setiap menit, kecepatan angin di suatu daerah, ketinggian air
pada sungai, dan jumlah produksi dari sebuah mesin setiap jam (Syaifudin, 2014).
Sinyal diklasifikasikan menjadi dua macam yaitu sinyal diskrit dan sinyal
kontinu. Secara sederhana, sinyal diskrit menggunakan bilangan bulat untuk
menunjukkan waktu, sedangkan sinyal kontinu menggunakan bilangan rill.

3
4

Pencatatan getaran seismik sktivitas gunung biasanya dilakukan dengan


menggunakan plotter. Semakin besar getarannya maka semakin besar simpangan
plotter ini adalah contoh sinyal kontinu (Syaifudin, 2014).
Sinyal listrik pada umumnya merupakan fungsi waktu t dalam teknologi
elektro yang telah berkembang demikian lanjut kita mengenal dua macam bentuk
sinyal listrik yaitu sinyal waktu kontinu dan sinyal waktu diskrit. Suatu sinyal
disebut sebagai sinyal waktu kontinu (atau disebut juga sinyal analog) jika sinyal
itu mempunyai nilai untuk setiap t dan t sendiri mengambil nilai dari satu set
bilangan riil (Syaifudin, 2014).
Sinyal waktu kontinu (continous-time signal), variabel independent yang
terjadi terus menerus dan kemudian sinyal dinyatakan sebagai sebuah kesatuan
nilai dari variabe independent. Suatu sinyal dikatakan kontinu atau sinyal analog
ketika memiliki nilai real pada keseluruhan rentang waktu t yang ditempatinya.
Sebaliknya sinyal diskrit hanya menyatakan waktu dan mengakibatkan variabel
independent hanya merupakan himpunan nilai diskrit (Syaifudin, 2014).
Proses pengiriman suara, misalnya pada teknologi telepon, dilewatkan
melalui gelombang elektromagnetik ini. Sistem digital merupakan bentuk
sampling dari sistem analog. Jumlah bit juga sangat mempengaruhi nilai akurasi
sistem digital. Sinyal digital memiliki berbagai keistimewaan yang unik yang
tidak dapat ditemukan pada teknologi analog yaitu :
1. Mampu mengirimkan informasi dengan kecepatan cahaya yang dapat
membuat informasi dapat dikirim dengan kecepatan tinggi.
2. Penggunaan yang berulangulang terhadap informasi tidak mempengaruhi
kualitas dan kuantitas informasi itu sendiri.
3. Informasi dapat dengan mudah diproses dan dimodifikasi ke dalam berbagai
bentuk (Syaifudin, 2014).
Pengukuran getaran yang banyak dilakukan sekarang bersifat kontak
langsung artinya instrumen yang digunakan untuk melakukan pengukuran harus
melakukan kontak langsung dengan benda yang akan diamati hal ini
menimbulkan banyak masalah apalagi hal tersebut berada di dalam objek
(Syaifudin, 2014).
5

Dalam domain waktu, analisis sinyal belum dapat dilakukan. Analisis dapat
dilakukan jika sinyal berbentuk spektrum. Sehingga diperlukan transformasi
sinyal dari domain waktu menjadi sinyal domain frekuensi. Fungsi yang
digunakan untuk melihat spectrum getaran dari sinyal domain adalah Fast Fourier
Transform (FFT). FFT mampu menunjukkan kandungan frekuensi yang
terkandung didalam sinyal dan menunjukkan berapa banyak komponen frekuensi
didalam sinyal. Berdasarkan permasalahan diatas, penelitian ini dilakukan untuk
melihat spektrum getaran suara yang dihasilkan sistem. Selain itu penelitian ini
merupakan prediksi awal untuk analisis sinyal suara karena efek Doppler akibat
gerakan benda di dalam sistem dengan waktu getaran benda dapat diprogram
menggunakan mikrikontour (Syaifuddin,2014).
Konfigurasi pin ATmega16 dengan kemasan 40 pin Dual In-line package
(DIP) menggunakan medan magnet sebagai sumber data perekaman sinyal suara
efek Doppler berbasis mikrokontroler ATmega16. Setelah itu perekam data
menggunakan ultrasonik incpection dengan device fetal Doppler yang terhubung
dengan software scope. Langkah selanjutnya pengujian sinyal suara Doppler
dengan Fast Fourier Transform (FFT) matlab untuk melihat frekuensi dasar dari
sinyal suara Doppler yang didapatkan dari perekaman (Syaifuddin,2014).
Sistem simulasi getaran untuk menganalisa sinyal Doppler ultrasonik dapat
dibangkitkan menggunakan program dari mikrokontroler dan direkam dalam
komputer. Dari analisis Fast Fourier Transform (FFT) menunjukkan jumlah
frekuensi yang dibangkitkan oleh sistem pembangkit sinyal pada Doppler
ultrasonik memiliki jumlah yang sesuai dengan yang dibangkitkan oleh
mikrokontroler. Frekuensi dominan dari sinyal yang dibangkitkan menunjukkan 3
frekuensi dominan yang sebanding dengan frekuensi referensi mikrokontroler
(Syaifuddin,2014).
6

BAB III
METODOLOGI
3.1 Kasus
1. Pada kasus pembangkit sinyal kontinu sinusoida dengan mengganti angka
s1=10,15,dan 20. Kemudian melakukan perubahan amplitudo dengan nilai
5,10,15,20 dan 25 dan merubah nilai fase awal menjadi 90,45,120,180dan
225.
2. Pada kasus ini sebuah sinyal persegi dengan karakteristik frekuensi dan
amplitudo yang sama dengan sinyal sinus. Sebuah sinyal persegi dengan
amplitudo 1 dan nilai frekuensinya 5 Hz, divariasikan nilai frekunsinya
sebesar (10Hz, 15Hz, dan 20Hz). Kemudian memvarisikan pula nila beda
fase sebesar (45,120 ,180 , dan 225 ) Kemudian dilanjutkan dengan
membandingkan beberapa sinyal tersebut dan dibuat perbandingan pula untuk
sinyal persegi dengan memvariasikan amplitudo, frekuensi dan fasa yang
akan digunakan.
3. Pada kasus ini sebuah sinyal pembangkit sinyal waktu diskrit, dengan
panjang gelombang lebih besar dari 40 dan panjang sekuen 10 kemudian
memvariasikan nilai panjang gelombang dan panjang sekuennya dengan
bereda-beda.
4. Pada kasus ini sebuah sinyal pembangkit sinyal waktu diskrit, dengan
panjang gelombang lebih besar dari 40 (L) dan panjang sekuen 10 (P)
kemudian memvariasikan nilai panjang gelombang (L) dan panjang
sekuennya (P) sesuai keinginan kita dengan nilia yang bereda-beda.
5. Pada kasus ini sebuah sinyal sinus diskrit dengan sifat dasarnya memiliki
kemiripan dengan sinus waktu , pada kasus ini nilai fs nya bnilai
30,40,50,60,70, dan 80 divariasian nilai fsya pula sebesar 18,15,12,10 dan 8.
6. Pada kasus ini kia dapat memanggil sinyal audio dengan memasukkan nilai
frekuensi nilai sampling sebesar 10000 kemudian stelah melakukan
pemanggilan audio munculkan dalam bentuk grafik sebagai fungsi waku.

6
7

3.2 Algoritma
3.2.1 Pembangkitan Sinyal Waktu Kontinu Sinusoida

1.Memulai program
2. Dimasukkan nilai-nilai yang diinput
3. Dimasukkan persamaan untuk pembangkit sinyal waktu kontinu
sinusoida sebagai berikut:
1 = sin(25)
4. Diganti nilai s1 dengan angka 5, 10, 15, dan 20
5. Diubah kembali pada keadaan semula dan diganti nilai amplitudonya
dengan 5,10,15,20 dan 25.
6. Dikembalikan program seperti keadaan semula dan diubah nilai fase awal
dengan nilai 450, 1200, 1800, dan 2250
7. Digunakan proses plot untuk pembangkitan sinyal waktu kontinu
sinusoida
8. Akhiri program
3.2.2 Pembangkitan Sinyal Persegi

1.Memulai program
2. Dimasukkan nilai-nilai yang diinput
3. Dimasukkan persamaan untuk pembangkit sinyal persegi sebagai
berikut:
1 = square(25)
4. Diganti nilai s1 dengan angka 5 Hz, 10 Hz, 15 Hz, dan 20 Hz.
5. Dikembalikan program seperti keadaan semula dan diubah nilai fase awal
dengan nilai 450, 1200, 1800, dan 2250
6. Digunakan proses plot untuk pembangkitan sinyal pesegi
7. Akhiri profram
3.2.3 Pembangkitan Sinyal Waktu Diskrit,Sekuen Konstan

1.Memulai program
2. Dimasukkan nilai-nilai yang diinput
8

4. Diganti nilai panjang gelombang dan panjang sekuen dengan nilai yang
berbeda-beda yaitu L1=50, L2=45, P1=20 dan P2=5
5. Dilakukan pengulangan untuk nilai n
6. Dimasukkan nilai step (n) dengan nilai 0 dan 1
7. Digunakan proses stem untuk pembangkitan sinyal waktu diskrit, sakeun
konstan
8. Akhiri program
3.2.4 Pembangkitan Sinyal Waktu Diskrit,Sekuen Pulsa

1.Memulai program
2. Dimasukkan nilai-nilai yang diinput
4. Diganti nilai panjang gelombang dan panjang sekuen dengan nilai yang
berbeda-beda yaitu L1=50, L2=45, P1=20 dan P2=5.
5. Dilakukan pengulangan untuk nilai n
6. Dimasukkan nilai step (n) dengan nilai 0 dan 1
7. Digunakan proses stem untuk pembangkitan sinyal waktu diskrit, sekuen
pulsa
8. Akhiri program
3.2.5 Pembangkitan Sinyal Waktu Diskrit

1.Memulai program
2. Dimasukkan nilai-nilai yang diinput
3. Dimasukkan persamaan untuk pembangkit sinyal sinus diskrit sebagai
berikut:
1 = sin(25)
4. Diganti nilai Fs dengan nilai yang berbeda-beda
5. Digunakan proses stem untuk pembangkitan sinyal sinus waktu diskrit
6. Akhiri program
3.2.6 Pembangkitan Sinyal Dengan Memanfaatkan File *.wav

1. Memulai program
2. Mendeklarasikan variabel
9

3. Dimasukkan nilai Fs
4. Dibaca audio yang kita gunakan
5. Dimainkan audio sinyal asli dengan menggunakan perintah wavplay
6. Diplot untuk pembangkitan sinyal dengan memanfaatkan file*.wav
7. Akhiri program
10

3.3 Flowchart
3.3.1 Pembangkitan Sinyal Waktu Sinusoida
3.3.3.1 Perubahan Frekuensi 10 Hz, 15 Hz dan 20 Hz
start

Fs=100

Menginput frekuensi awal (Fs) 10,15,20

t=(1:100)/Fs
s1=sin(2*pi*t*5);

Melakukan plot dari data t dan s

end
3.3.3.2 Perubahan Amplitudo 5, 10,15,20, dan 25
start

Fs=100

Menginput frekuensi awal (Fs) 5,10,15,20,dan 25

t=(1:100)/Fs
s1=2*sin(2*pi*t*5);

end
3.3.3.3 Perubahan Fase Awal 45, 120, 180, dan 225
start

Fs=100

Menginput frekuensi awal (Fs)


45, 120, 180, dan 225

t=(1:100)/Fs;
s1=2*sin(2*pi*t*5+pi/4);

Melakukan plot dari data t dan s

end
11

3.3.2 Pembangkitan Sinyal Persegi


3.3.2.1 Sinyal Persegi dengan Frekuensi 10 Hz, 15 Hz dan 20 Hz
Start

Fs=100

Menginput frekuensi awal (Fs) 10,15,dan 20

t=(1:100)/Fs
s1=square(2*pi*10*t);

Melakukan plot dari data t dan s

end

3.3.2.2 Sinyal Fase awal menjadi 45, 120, 180 dan 225

Start

Fs=100

Menginput frekuensi awal (Fs)


45, 120, 180, dan 225

t=(1:100)/Fs
s1=square(2*pi*5*t+pi/4);

Melakukan plot dari data t dan s

end
12

3.3.3 Pembangkitan Sinyal Waktu Diskrit,Sekuen Konstan

Start

L=input(panjang gelombang)
P=input(panjang sekuen)

For n=1:L
No

If(n.>=P)
Yes
Step(n)=1 Step(n)=0

x=1:L

Melakukan step dari data t dan s

End
3.3.4 Pembangkitan Sinyal Waktu Diskrit,Sekuen Pulsa
Start

L=input(panjang gelombang)
P=input(panjang sekuen)

For n=1:L

No
If(n.>=P)

Yes
Step(n)=1 Step(n)=0

x=1:L

Melakukan step dari data t dan s

End
13

3.3.5 Pembangkitan Sinyal Waktu Diskrit


Start

Fs=30;
Fs=40;
Fs=50;
Fs=60;
Fs=70;
Fs=80;

Fs=20;%frekuensi sampling

t=(0:Fs-1)/Fs;%proses normalisasi
s1=sin(2*pi*t*2)

Stem(t,s1)

End

3.3.6 Pembangkitan Sinyal Dengan Memanfaatkan File *.wav

Start

Fs=10000
y1=wavread(dog.wav)

x=audioplayer(y1, Fs)

Melakukan wavplay untuk memainkan audio


sinyal asli

end
14

3.4 Script
3.4.1 Pembangkitan Sinyal Waktu Kontinu Sinusoida
Fs=100
t=(1:100)/Fs;
s1=sin(2*pi*t*10);
subplot(3,1,1);
plot(t,s1);
title('Grafik Pembangkit Sinyal Kontinu Sinusoidal 10');
xlabel('Waktu');
ylabel('Simpangan');
subplot(3,1,2);
s2=sin(2*pi*t*15);
plot(t,s2);
title('Grafik Pembangkit Sinyal Kontinu Sinusoidal 15');
xlabel('Waktu');
ylabel('Simpangan');
subplot(3,1,3);
s3=sin(2*pi*t*20);
plot(t,s3);
title('Grafik Pembangkit Sinyal Kontinu Sinusoidal 20');
xlabel ('Waktu');
ylabel('Simpangan');
Fs=100
t=(1:100)/Fs;
s1=5*sin(2*pi*t*5);
subplot(3,2,1);
plot(t,s1);
title('Grafik Pembangkit Sinyal Kontinu Sinusoidal 5');
xlabel('Waktu');
ylabel('Simpangan');
subplot(3,2,2);
s2=10*sin(2*pi*t*5);
plot(t,s2);
title('Grafik Pembangkit Sinyal Kontinu Sinusoidal 10');
15

xlabel('Waktu');
ylabel('Simpangan');
subplot(3,2,3);
s3=15*sin(2*pi*t*5);
plot(t,s3);
title('Grafik Pembangkit Sinyal Kontinu Sinusoidal 15');
xlabel ('Waktu');
ylabel('Simpangan');
subplot(3,2,4);
s4=20*sin(2*pi*t*5);
plot(t,s4);
title('Grafik Pembangkit Sinyal Kontinu Sinusoidal 20');
xlabel ('Waktu');
ylabel('Simpangan');
subplot(3,2,5);
s5=25*sin(2*pi*t*5);
plot(t,s5);
title('Grafik Pembangkit Sinyal Kontinu Sinusoidal 25');
xlabel ('Waktu');
ylabel('Simpangan');

Fs=100
t=(1:100)/Fs;
s1=2*sin(2*pi*t*5+pi/4);
subplot(3,2,1);
plot(t,s1);
title('Grafik Pembangkit Sinyal Kontinu Sinusoidal 4');
xlabel('Waktu');
ylabel('Simpangan');
subplot(3,2,2);
s2=2*sin(2*pi*t*5+pi/2);
plot(t,s2);
title('Grafik Pembangkit Sinyal Kontinu Sinusoidal 2');
xlabel('Waktu');
16

ylabel('Simpangan');
subplot(3,2,3);
s3=2*sin(2*pi*t*5+pi/3);
plot(t,s3);
title('Grafik Pembangkit Sinyal Kontinu Sinusoidal 3');
xlabel ('Waktu');
ylabel('Simpangan');
subplot(3,2,4);
s4=2*sin(2*pi*t*5+pi);
plot(t,s4);
title('Grafik Pembangkit Sinyal Kontinu Sinusoidal ');
xlabel ('Waktu');
ylabel('Simpangan');
subplot(3,2,5);
s5=2*sin(2*pi*t*5+pi/0.8);
plot(t,s5);
title('Grafik Pembangkit Sinyal Kontinu Sinusoidal 0.8');
xlabel ('Waktu');
ylabel('Simpangan');
3.4.2 Pembangkitan Sinyal Persegi
Fs=100
t=(1:100)/Fs;
s1=square(2*pi*10*t);
subplot(2,2,1);
plot(t,s1,'linewidth',2)
axis([0 1 -1.2 1.2])
title('Grafik Pembangkit Sinyal Persegi 10');
xlabel('Waktu');
ylabel('Simpangan');
subplot(2,2,2);
s2=square(2*pi*15*t);
plot(t,s2,'linewidth',2)
axis([0 1 -1.2 1.2])
title('Grafik Pembangkit Sinyal Persegi 15');
17

xlabel('Waktu');
ylabel('Simpangan');
subplot(2,2,3);
s3=square(2*pi*20*t);
plot(t,s3,'linewidth',2)
axis([0 1 -1.2 1.2])
title('Grafik Pembangkit Sinyal Persegi 20');
xlabel('Waktu');
ylabel('Simpangan');

Fs=100
t=(1:100)/Fs;
s1=square(2*pi*5*t+pi/4);
subplot(3,3,1);
plot(t,s1,'linewidth',2)
axis([0 1 -1.2 1.2])
title('Grafik Pembangkit Sinyal Persegi 4');
xlabel('Waktu');
ylabel('Simpangan');
subplot(3,3,2);
s2=square(2*pi*15*t+pi/2);
plot(t,s2,'linewidth',2)
axis([0 1 -1.2 1.2])
title('Grafik Pembangkit Sinyal Persegi 2');
xlabel('Waktu');
ylabel('Simpangan');
subplot(3,3,3);
s3=square(2*pi*20*t+pi/3);
plot(t,s3,'linewidth',2)
axis([0 1 -1.2 1.2])
title('Grafik Pembangkit Sinyal Persegi');
xlabel('Waktu');
ylabel('Simpangan');
subplot(3,3,4);
18

s4=square(2*pi*20*t+pi);
plot(t,s4,'linewidth',2)
axis([0 1 -1.2 1.2])
title('Grafik Pembangkit Sinyal Persegi');
xlabel('Waktu');
ylabel('Simpangan');
subplot(3,3,5);
s5=square(2*pi*20*t+pi/0.8);
plot(t,s5,'linewidth',2)
axis([0 1 -1.2 1.2])
title('Grafik Pembangkit Sinyal Persegil 0.8');
xlabel('Waktu');
ylabel('Simpangan');
3.4.3 Pembangkitan Sinyal Waktu Diskrit,Sekuen Konstan
L=input('Panjang Gelombang(>=40=')
P=input('Panjang sekuen=')
for n=1:L
if(n>=P)
step(n)=1;
else
step(n)=0;
end
end
x=1:L;
stem(x,step)
title('Grafik Pembangkitan sinya waktu diskrit sekuen konstan')
3.4.4 Pembangkitan Sinyal Waktu Diskrit,Sekuen Pulsa
L=input('Panjang Gelombang(>=40)=')
P=input('Posisi Pulsa=')
for n=1:L
if(n==P)
step(n)=1;
else
step(n)=0;
19

end
end
x=1:L;
stem(x,step);
axis([0 L -.1 1.2]);
title('Grafik pembangkitan sinyal waktu diskrit sekuen pulsa')
3.4.5 Pembangkitan Sinyal Waktu Diskrit
Fs=20;%frekuensi sampling
t=(0:Fs-1)/Fs;%proses normalisasi
s1=sin(2*pi*t*2);
subplot(6,2,1);
stem(t,s1)
axis([0 1 -1.2 1.2])
title('Grafik Pembangkit Sinyal sinus diskrit 20 Hz');
xlabel('Waktu');
ylabel('Simpangan');

Fs1=30;%frekuensi sampling
t=(0:Fs1-1)/Fs;%proses normalisasi
s2=sin(2*pi*t*2);
subplot(6,2,2);
stem(t,s2)
axis([0 1 -1.2 1.2])
title('Grafik Pembangkit Sinyal sinus diskrit 30 Hz');
xlabel('Waktu');
ylabel('Simpangan');
Fs2=40;%frekuensi sampling
t=(0:Fs2-1)/Fs;%proses normalisasi
s3=sin(2*pi*t*2);
subplot(6,2,3);
stem(t,s3)
axis([0 1 -1.2 1.2])
title('Grafik Pembangkit Sinyal sinus diskrit 40 Hz');
xlabel('Waktu');
20

ylabel('Simpangan');
Fs3=50;%frekuensi sampling
t=(0:Fs3-1)/Fs;%proses normalisasi
s4=sin(2*pi*t*2);
subplot(6,2,5);
stem(t,s4)
axis([0 1 -1.2 1.2])
title('Grafik Pembangkit Sinyal sinus diskrit 50 Hz');
xlabel('Waktu');
ylabel('Simpangan');
Fs4=60;%frekuensi sampling
t=(0:Fs4-1)/Fs;%proses normalisasi
s5=sin(2*pi*t*2);
subplot(6,2,6);
stem(t,s5)
axis([0 1 -1.2 1.2])
title('Grafik Pembangkit Sinyal sinus diskrit 60 Hz');
xlabel('Waktu');
ylabel('Simpangan');
Fs5=70;%frekuensi sampling
t=(0:Fs5-1)/Fs;%proses normalisasi
s6=sin(2*pi*t*2);
subplot(6,2,7);
stem(t,s6)
axis([0 1 -1.2 1.2])
title('Grafik Pembangkit Sinyal sinus diskrit 70 Hz');
xlabel('Waktu');
ylabel('Simpangan');
Fs6=80;%frekuensi sampling
t=(0:Fs6-1)/Fs;%proses normalisasi
s7=sin(2*pi*t*2);
subplot(6,2,8);
stem(t,s7)
axis([0 1 -1.2 1.2])
21

title('Grafik Pembangkit Sinyal sinus diskrit 80 Hz');


xlabel('Waktu');
ylabel('Simpangan');
3.4.6 Pembangkitan Sinyal Dengan Memanfaatkan File *.wav
y1=wavread('dog.wav');
Fs=10000;
x=audioplayer(y1,Fs);
play(x);
plot(y1);
title('pembangkitan sinyal dengan memanfaatkan dog.wav');
22

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Pembangkitan Sinyal Waktu Kontinu Sinusoida

Gambar 4.1.1 Grafik Pembangkitan Sinyal Waktu Kontinu Sinusoida


Pada pembangkitan sinyal waktu kontinu sinusoida dilakukan percobaan
pembangkit sinyal dengan merubah nilai frekuensi yang mana digunakan
frekuensi 10 hz, 15 hz, 20 hz, didapatkan hasil bahwa semakin besar nilai
frekuensi yang di input maka semakin rapat bentuk gelombangnya yang
didapatkan sesuai dengan hasil dari simulasi sinyal dengan menggunakan matlab.

Gambar 4.1.2 Grafik Pembangkitan Sinyal Waktu Kontinu Sinusoida


Untuk perubahan amplitudo dari nilai 5,10,15 dan 20 didapatkan hasil
yang mana pada saat mengganti amplitudo maka puncak gelombang akan
memiliki nilai yang sama dengan nilai amplitudo yang kita inputkan.

Gambar 4.1.3 Grafik Pembangkitan Sinyal Waktu Kontinu Sinusoida


Pada perubahan fase awal dengan menggunkan sudut trionometri
didapatkan hasil gelombang pada fase awal dengan sudut 45 awal fase berada

22
23


dekat dengan puncak gelombang sedangkan untuk fase awal dengan nilai 120
awal gelombang berada pada bagian kanan puncak gelombang, bergeser kenakan
dari fase awal sebelumnya, untuk fase awal dengan nilai 180 didapatkan bentuk
gelombang dengan awal gelombang mendekati dasar lembah pada gelombang
pertama , dan untuk fase awal 225 didapatkan bentuk gelombang dengan awal
gelombang barada pada dasar gelombang lembah pertama.
4.2 Pembangkitan Sinyal persegi

Gambar 4.2.1 Grafik Pembangkitan Sinyal Persegi


Pada pembangkit sinyal persegi untuk perubahan frekuensi hasil yang di
peroleh adalah semakin besar nilai frekuensi yang di inputkan maka semakin rapat
bentuk gelomangnya sesuai dengan hasil dari simulasi sinyal, serta jumlah
frekuensinya sesuai dengan jumlah pucak gelombang yangmana jika kita
memberikan input frekuensi gelombang 5 hz maka jumlah puncak gelombangnya
juga 5 , demikian juga seterusnya.

Gambar 4.2.2 Grafik Pembangkitan Sinyal Persegi


24

Perubahan fase awal hasilnya sama saja dengan hasil dari pembangkit sinyal
waktu kontinu sinusoida yaitu pada fase awal dengan sudut 45 awal fase berada
dekat dengan puncak gelombang sedangkan untuk fase awal dengan nilai 120
awal gelombang berada pada bagian kanan puncak gelombang, bergeser kenakan
dari fase awal sebelumnya, untuk fase awal dengan nilai 180 didapatkan bentuk
gelombang dengan awal gelombang mendekati dasar lembah pada gelombang
pertama , dan untuk fase awal 225 didapatkan bentuk gelombang dengan awal
gelombang barada pada dasar gelombang lembah pertama.
4.3 Pembangkitan Sinyal Waktu Diskrit, Sakuen Konstan

Gambar 4.3 Grafik Pembangkitan Sinyal Waktu Diskrit, Sakuen Konstan


Pembangkitan sinyal waktu diskrit, sekuen konstan diperoleh bentuk
gelombang diskit, ketika kita memberikan nilai yang besar pada sekuen maka
semakin banyak sinyal yang bernilai nol dan semakin besar nilai panjang
gelombangnya maka semakin banyak pula data sinyal yang muncul pada grafik.
4.4 Pembangkitan Sinyal Waktu Diskrit, Sakuen Pulsa
25

Gambar 4.4 Grafik Pembangkitan Sinyal Waktu Diskrit, Sakuen Pulsa


Pada pembangkitan sinyal waktu diskrit, sekuen pulsa didapatkan bentuk
gelombang seperti pada gambar diatas dimana pada panjang gelombangnya
dimasukkan nilai 50 dan 45 titik berada di 0 pada saat nilai posisi pulsa
dimasukkan nilainya 20 dan 5 titik paling tinggi mencapai 1 hanya terdapat pada
saat 20 dan 5 saja.
4.5 Pembangkitan Sinyal Sinus Waktu Diskrit

Gambar 4.5 Grafik Pembangkitan Sinyal Sinus Waktu Diskrit


Pembangkitan sinyal sinus waktu diskrit didapatkan bentuk gelombang
sinus berbentuk sekuen pulsa yang mana ketika fs di definisikan dengan nilai 20
maka jumlah titik gelombang akan muncul sebanyak 20 titik dalam waktu satu
detik, karena frekuensi yang digunakan adalah 20 hz maka titik gelombang akan
terbagi sebanyak 20 titik pada frekuensi 20 hz demikian seterusnya dengan
memasukkan nilai fs yang berbeda-beda yaitu fs=30,40,50,60,70,80 semakin
26

besar nilai fs nya maka semakin rapat nilai yang didapatkan dalam waktu satu
detik.
4.6 Pembangkitan Sinyal dengan Memanfaatkan file*.wav

Gambar 4.6 Pembangkitan Sinyal dengan Memanfaatkan file*.wav


Pada simulasi sinyal wav diperoleh output sinyal berupa suara yang
disimulasikan dalam bentuk grafik gelombang suara. Wav sendiri singkatan dari
wavefrom audio format, yang mana bisa diartikan sebagai format gelombang
audio, dalam hal ini kita bisa membuat simulasi audio menjadi bentuk geombang
dan kita dengarkan suara yang dihasilkan oleh audio tersebut. Untuk file wav
yang saya gunakan adalah suara trek.

Gambar 4.6.1 Pembangkitan Sinyal dengan Memanfaatkan file*.wav


Pada simulasi sinyal wav diperoleh output sinyal berupa suara yang
disimulasikan dalam bentuk grafik gelombang suara. Wav sendiri singkatan dari
wavefrom audio format, yang mana bisa diartikan sebagai format gelombang
audio, dalam hal ini kita bisa membuat simulasi audio menjadi bentuk geombang
dan kita dengarkan suara yang dihasilkan oleh audio tersebut. Untuk file wav
yang saya gunakan adalah suara trek.
27

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
1. Adapun perbedaan sinyal waktu kontinu dengan sinyal waktu diskrit adalah
pada sinyal kontinu, variable independent (yang berdiri sendiri) terjadi terus-
menerus dan kemudian sinyal dinyatakan sebagai sebuah kesatuan nilai dari
variable independent. Sebaliknya, sinyal diskrit hanya menyatakan waktu
diskrit dan mengakibatkan variable independent hanya merupakan himpunan
nilai diskrit.
2. Bentuk gelombang yang dihasilkan antara pembangkitan sinyal waktu diskrit
dan sinyal waktu kontinyu sangat berbeda dimana pada pembangkitan sinyal
waktu kontinyu pada grafik menunjukkan tiga variabel yang digunakan yaitu
amplitudo menggambarkan tinggi gelombang, frekuensi menggambarkan
jumlah gelombang perdetik, fasa menggambarkan besarnya sudut yang
terbentuk pada gelombang dan pada sinyal ini menggambarkan nilai pada
setiap saat. Sedangkan pembangkitan sinyal waktu diskrit hanya
menggambarkan nilai pada rentang waktu tertentu.
5.2 Saran
Sebaiknya pada praktikum selanjutnya melakukan percobaan pembangkitan
sinyal kontinyu dengan menggunakan fungsi step dan impuls, agar dapat
digunakan sebagai perbandingan.

27
28

DAFTAR PUSTAKA

Gunawan, Danang.2012. Pengolahan sinyal digital. Yogyakara : Graha ilmu


Syaifuddin, Arif, Suryono.2014.Fast Fourier Transform (FFT) untuk Analisis
Sinyal Suara Doppler Ultrasonik. Semarang: Universitas Diponegoro
Tri Budi Santoso dan Miftahul Huda.Penghitungan Energi pada Sinyal Wicara,
Modul 2 Praktikum,
http://www.eepisits.edu/~tribudi/LN_SIP_Prak/rev_01_Speech_prak_Matla
b.pdfdiupdate tanggal 2 Maret 2010