Anda di halaman 1dari 46

PERBEDAAN LAMA PERSALINAN ANTARA PRIMIPARA DENGAN

MULTIPARA DI RSUD Dr. MOEWARDI SURAKARTA

SKRIPSI

Untuk Memenuhi Persyaratan


Memperoleh Gelar Sarjana Kedokteran

PUTRI LAROSA
G0005158

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2009
PRAKATA

Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena limpahan


rahmat, hidayah serta ridhoNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan
judul Perbedaan Lama Persalinan antara Primipara dengan Multipara di RSUD Dr.
Moewardi Surakarta.
Dengan selesainya penulisan ini, penulis menyampaikan penghargaan dan
ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Prof. Dr. A.A. Subijanto, dr., MS., selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas
Sebelas Maret Surakarta, yang telah mengizinkan pelaksanaan penelitian ini
dalam rangka penyusunan skripsi.
2. Sri Wahjono, dr., M.Kes., selaku ketua tim skripsi Fakultas Kedokteran
Universitas Sebelas Maret Surakarta, dan seluruh staf skripsi.
3. Tri Budi Wiryanto, dr., SpOG (K)., sebagai pembimbing utama yang memberikan
banyak waktu, pengarahan, bimbingan dan saran.
4. Bagus Wicaksono, Drs., Msi., sebagai pembimbing pendamping yang telah
membimbing penulisan selama penulisan skripsi.
5. Sutrisno, dr., SpOG (K)., sebagai penguji utama.
6. Hari Wujoso, dr., M.M., SpF., sebagai anggota penguji.
7. Kepala Bagian Rekam Medis RSUD Dr.Moewardi Surakarta beserta staf.
8. Papa, Mama, dan Mbak Noni yang telah memberikan dukungan, semangat dan
semua yang tidak dapat disebutkan.
9. Agung Setiono untuk dukungannya, partner terbaik Iaia, Bobon, Inem, Iyem,
Dhinar, Icha, teman-teman Angkatan 05, anak-anak Kost KM3, PMPA Vagus,
kelompok PBL C5, dan sahabat lain yang belum disebut, terimakasih telah
membantu pengambilan, penulisan,dan pengolahan data serta penyiapan
kelengkapan yang lain.
10. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebut satu-persatu yang telah membantu
menyelesaikan penulisan skripsi ini.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penulisan skripsi ini masih jauh
dari sempurna, namun demikian semoga skripsi ini tetap dapat memberikan
manfaatnya.

Surakarta, 18 Desember 2008

Putri Larosa
PERNYATAAN

Dengan ini menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang pernah
diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu Perguruan Tinggi, dan
sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah
ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam
naskah dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Surakarta, 18 Desember 2008

Nama Putri Larosa


NIM G0005158
ABSTRAK

Putri Larosa. G0005158. 2008. Perbedaan Lama Persalinan antara Primipara


dengan Multipara di RSUD Dr. Moewardi Surakarta.

Persalinan diawali dengan saat dimana pasien mengalami his persalinan


yang menuju ke arah kelahiran bayi dan berakhir dengan kelahiran plasenta.
Lama persalinan dibagi menjadi 4 kala persalinan, yaitu kala I, kala II, kala III,
dan kala IV. Persalinan lama biasa terjadi terutama pada wanita yang baru
menjalani persalinan anak pertama (primipara). Sedangkan pada multipara, pada
umumnya akan menjalani persalinan yang lebih cepat.. Tujuan dari penelitian
ini yaitu untuk mengetahui adakah perbedaan lama persalinan antara primipara
dengan multipara. Dalam hal ini, maka faktor yang mempengaruhi lama
persalinan dapat diketahui sehingga dapat menambah kewaspadaan dan
sekaligus menanganinya dengan baik, sehingga persalinan dapat berjalan
dengan baik dan sesuai yang diharapkan.
Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan
pendekatan metode Cross Sectional. Penelitian dilakukan di bagian Kebidanan
dan Kandungan RSUD Dr. Moewardi Surakarta. Jumlah sampel sebanyak 30,
yaitu 15 untuk ibu yang melahirkan pertama kali (primipara) dan 15 untuk ibu
yang sudah melahirkan beberapa kali (multipara). Pengambilan sampel
dilakukan secara purposive random sampling. Instrumen penelitian
menggunakan rekam medis. Analisa data menggunakan metode uji t dua
sample.
Dari penelitian ini diperoleh lama persalinan dari kelompok primipara
rata-rata 9,8181 jam dan kelompok multipara rata-rata 7,7300 jam. Setelah
dilakukan uji statistik diperoleh hasil terdapat perbedaan bermakna antara dua
kelompok di atas dimana t hitung 3,728 dan t tabel 1,701 dengan derajat
kebebasan 28 dan tingkat signifikasi 0,05.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat perbedaan lama persalinan
yang bermakna antara primipara dengan multipara di RSUD Dr. Moewardi
Surakarta.

Kata kunci : Lama persalinan-primipara-multipara


DAFTAR ISI

Halaman

PRAKATA............................................................................................................... v

DAFTAR ISI............................................................................................................ vi

DAFTAR TABEL................................................................................................... viii

DAFTAR LAMPIRAN............................................................................................ ix

BAB I PENDAHULUAN.................................................................................. 1

A. Latar Belakang Masalah................................................................... 1

B. Perumusan Masalah.......................................................................... 3

C. Tujuan Penelitian.............................................................................. 3

D. Manfaat Penelitian............................................................................ 3

BAB II LANDASAN TEORI............................................................................. 4

A. Tinjauan Pustaka............................................................................... 4

1. Persalinan.................................................................................... 4

2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Persalinan........................... 9

3. Lama Persalinan.......................................................................... 13

B. Kerangka Pemikiran......................................................................... 17

C. Hipotesis........................................................................................... 17

BAB III METODE PENELITIAN....................................................................... 18


A. Jenis Penelitian................................................................................. 18

B. Lokasi Penelitian.............................................................................. 18

C. Subjek Penelitian.............................................................................. 18

D. Teknik Sampling............................................................................... 19

E. Identifikasi Variabel Penelitian........................................................ 20

F. Definisi Operasional Variabel.......................................................... 20

G. Alat Penelitian.................................................................................. 21

H. Rancangan Penelitian........................................................................ 21

I. Teknik Analisis Data........................................................................ 22

BAB IV HASIL PENELITIAN............................................................................ 23

A. Data Hasil Penelitian........................................................................ 23

B. Analisis Data..................................................................................... 26

BAB V PEMBAHASAN.................................................................................... 29

BAB VI SIMPULAN DAN SARAN.................................................................... 31

A. Simpulan............................................................................................ 31

B. Saran.................................................................................................. 31

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN
DAFTAR TABEL

Tabel 1. Lama persalinan pada primipara dan multipara.. 23

Tabel 2. Lama persalinan berdasarkan kala persalinan. 24

Tabel 3. Hasil uji analisis lama persalinan antara primipara dengan multipara 26

Tabel 4. Hasil uji analisis berdasarkan kala persalinan. 27

Tabel 5. Rata-rata lama persalinan.... 28


DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Izin Penelitian

Lampiran 2. Distribusi Lama Persalinan

Lampiran 3. Hasil Analisis Statistik

Lampiran 4. Tabel Nilai t.


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Angka kematian perinatal merupakan indikator paling penting untuk melihat

status kesehatan suatu negara bahkan untuk mengukur tingkat kemajuan suatu

bangsa. Angka kematian perinatal di Indonesia masih cukup tinggi, yaitu 40 per

1000 kelahiran hidup. Angka Kematian Bayi (AKB) dengan perhitungan tidak

langsung sebesar 60 per 1000 (Susenas, 1995), turun menjadi 49 per 1000

(Susenas, 1998), dan meningkat lagi menjadi 51 per 1000 (Susenas, 2001). Studi

Mortalitas Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 2001 menunjukkan

penyebab utama kematian perinatal adalah asfiksia 34%, premature dan Berat

Badan Lahir Rendah 33%, kelainan bawaan 4% dan kesehatan ibu yang

mempengaruhi janin sebesar 3%.

Kematian perinatal merupakan masalah kesehatan yang penting pada saat ini.

Di negara-negara yang sedang berkembang termasuk Indonesia, masa-masa

perinatal merupakan masa yang paling kritis bagi kelangsungan hidup seorang

anak. Hal ini tampak pada tingginya angka kesakitan dan kematian pada masa-

masa tersebut (Sulchan, 1998). Kematian perinatal adalah kematian yang terjadi

pada bayi dengan lahir mati atau hidup kemudian meninggal dalam tujuh hari
setelah persalinannya (Rochajati, 2002). Pada tingkat tertentu, kematian perinatal

berhubungan dengan umur dan paritas ibu. Kematian perinatal paling tinggi

terjadi pada persalinan pertama ibu sangat muda dan kelahiran anak ke enam atau

lebih. Dimana paritas 1 berisiko karena ibu belum siap secara medis (organ

reproduksi) maupun secara mental. Paritas di atas 4, ibu secara fisik sudah

mengalami kemunduran untuk menjalani kehamilan yang tidak mudah

(Sulistiyowati dkk, 2001). Kehamilan yang perlu diwaspadai, diantaranya: 1)

Umur ibu kurang dari 20 tahun; 2) Umur ibu lebih dari 35 tahun; 3) Jumlah anak

4 orang atau lebih; 4) Jarak dengan anak sebelumnya kurang dari 2 tahun (Badan

Koordinasi Keluarga Berencana, 2005).

Pada persalinan lama, sering terjadi dehidrasi, tidak jarang timbul infeksi dan

risiko perdarahan postpartum meningkat (Llewellyn-Jones, 2002). Persalinan

lama biasa terjadi terutama pada wanita yang baru menjalani persalinan anak

pertama. Para ibu baru yang menjalani persalinan pertamanya dengan sulit dan

lama mengatakan bahwa pengalaman tersebut akan mempengaruhi mereka untuk

selamanya. Secara keseluruhan, 60% wanita yang menjalani persalinan sulit

mengatakan bahwa pengalaman tersebut akan meninggalkan kesan pada mereka

sepanjang hidupnya, demikian tertulis dalam penelitian yang dipublikasikan oleh

Journal of Clinical Nursing. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan, yaitu untuk

membahas perbedaan lama persalinan antara primipara dengan multipara. Dalam


hal ini, maka faktor yang mempengaruhi lama persalinan dapat diketahui

sehingga dapat menambah kewaspadaan dan sekaligus menanganinya dengan

baik, sehingga persalinan dapat berjalan dengan baik dan sesuai yang diharapkan,

baik oleh ibu maupun penolongnya.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka dapat dirumuskan masalah

pada penelitian ini yaitu: Adakah perbedaan lama persalinan antara primipara

dengan multipara di RSUD Dr. Moewardi Surakarta.?

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perbedaan lama persalinan antara

primipara dengan multipara di RSUD Dr Moewardi Surakarta.

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat teoritis:

Meninjau lebih jauh dan memberi bukti-bukti empirik tentang perbedaan

lama persalinan antara primipara dengan multipara.

2. Manfaat praktis:
a. Diharapkan hasil penelitian ini dapat menambah pengetahuan kepada

pembaca dan masyarakat luas tentang perbedaan lama persalinan antara

primipara dengan multipara

b. Sebagai sumber pemikiran dan acuan untuk penelitian selanjutnya.

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka

1. Persalinan

a. Definisi

Partus atau persalinan adalah proses mendorong janin dan plasenta

keluar dari uterus oleh his miometrium yang terkoordinasi (Llewellyn-

Jones, 2002). Berikut diuraikan beberapa istilah yang berhubungan dengan

persalinan. Persalinan yang terjadi secara normal atau biasa disebut


eutocia . Yang dianggap persalinan biasa atau eutocia ialah bila kelahiran

itu dengan:

1) Isi kandungan hanya satu anak, satu plasenta, dan air ketuban tidak

lebih dari 1,5 liter.

2) Umur anak dalam kandungan tidak kurang dari 37 minggu dan tidak

lebih dari 42 minggu.

3) Letak anak dalam kandungan normal, yaitu letak kepala di bawah.

4) Anak lahir dengan tenaga ibu sendiri, yaitu dari his dan tenaga

mengejan.

5) Jalan kelahiran yang dilalui anak ialah jalan kelahiran biasa yaitu:

uterus, rongga panggul, dan dasar panggul.

6) Waktu persalinan tidak lebih dari 24 jam.

7) Kelainan-kelainan tidak terdapat pada ibu maupun anak (Ibrahim,

1996).

Partus patologis atau partus abnormal ialah bila bayi dilahirkan per

vaginam dengan cunam, ekstraktor vakum, versi dan ekstraksi, dekapitasi,

embriotomi dan sebagainya (Wiknjosastro, 1999).

Partus imatur adalah persalinan saat kehamilan 20-28 minggu dengan

berat janin antara 500-1000 g. Persalinan prematur adalah persalinan saat


kehamilan 28-36 minggu dengan berat janin antara 1000-2500 g

(Mansjoer dkk, 2001).

Gravida adalah seorang wanita yang sedang hamil. Primigravida

adalah seorang wanita yang hamil untuk pertama kali. Para adalah seorang

wanita yang pernah melahirkan bayi yang dapat hidup (viable). Primipara

adalah seorang wanita yang pernah melahirkan bayi hidup untuk pertama

kali (Mochtar, 1992). Multipara atau pleuripara adalah seorang wanita

yang pernah melahirkan bayi yang viable untuk beberapa kali

(Wiknjosastro, 1999). Grandemultipara adalah wanita yang pernah

melahirkan bayi 6 kali atau lebih hidup atau mati (Mochtar, 1992).

b. Mekanisme Persalinan

Persalinan diawali dengan his persalinan, seperti ditunjukkan oleh

perubahan servikal progresif, dan berakhir dengan kelahiran plasenta

(Midwifery, 2004).

Dalam minggu-minggu sebelum persalinan mulai, his persalinan yang

tidak menyakitkan, yang semakin tinggi frekuensinya, terjadi pada

stadium prodromal persalinan yang dapat berlangsung selama 4 minggu.

Selama masa tersebut, segmen bawah mengembang untuk menerima

kepala janin yang masuk ke pintu atas panggul. Pengembangan segmen


bawah ini mengurangi tekanan terhadap abdomen bagian atas tetapi

meningkatkan tekanan pada panggul (Llewellyn-Jones, 2002).

Permulaan persalinan sulit ditentukan waktunya dengan tepat, dan

mungkin didahului beberapa tanda : (1) nyeri persalinan semu menjadi

teratur, atau his persalinan yang menyakitkan mengingatkan pasien bahwa

persalinan telah mulai. Persalinan semu ialah suatu keadaan dimana terjadi

kontraksi uterus yang terasa nyeri namun kemajuan dilatasi serviks tidak

terjadi; (2) keluar lendir bercampur sedikit darah. Lendir berasal dari

lendir kanalis servikalis karena serviks mulai membuka/ mendatar.

Sedangkan darah berasal dari pembuluh-pembuluh kapiler yang berada di

sekitar kanalis servikalis yang pecah karena pergeseran ketika serviks

membuka. Peralihan menuju ke persalinan berlangsung secara

bertahap. Seorang ibu dikatakan dalam persalinan (in partu) apabila

dilatasi serviks paling kurang 2 cm dan telah timbul his persalinan, yaitu

kontraksi yang teratur, makin sering, makin lama, dan makin kuat serta

mengeluarkan lendir bercampur darah (bloody show) (Llewellyn-Jones,

2002; Mansjoer dkk, 2001).

Persalinan aktif dibagi menjadi empat kala yang berbeda, yaitu: Kala

satu, kala dua, kala tiga, dan kala empat. Berikut diuraikan masing-masing

dari kala persalinan tersebut.


Persalinan Kala I

Kala ini disebut stadium pendataran dan dilatasi serviks, mulai ketika

telah tercapai his persalinan dengan frekuensi, intensitas, dan durasi yang

cukup untuk menghasilkan pendataran dan dilatasi serviks yang progresif.

Pada kala ini, tenaga yang efektif adalah his persalinan, yang

selanjutnya akan menghasilkan tekanan hidrostatik ke seluruh selaput

ketuban terhadap seviks dan segmen bawah rahim. Bila selaput ketuban

sudah pecah, bagian terbawah janin terpaksa langsung mendesak serviks

dan segmen bawah rahim. Sebagai akibat kegiatan daya dorong ini, terjadi

dua perubahan mendasar, yaitu pendataran dan dilatasi, pada serviks yang

sudah melunak. Kala satu selesai ketika serviks sudah membuka lengkap

(sekitar 10 cm) sehinggga memungkinkan kepala janin lewat

(Cunningham dkk, 2006).

Kala satu dapat dibagi atas fase laten (tenang) dan fase aktif

1) Fase laten : dimana pembukaan serviks berlangsung lambat; sampai

pembukaan 3 cm berlangsung dalam 7-8 jam.

2) Fase aktif : berlangsung selama 6 jam dan dibagi atas 3 subfase:

a) Periode akselerasi : berlangsung selama 2 jam, pembukaan

menjadi 4 cm.
b) Periode dilatasi maksimal (steady): selama 2 jam pembukaan

berlangsung cepat menjadi 9 cm.

c) Periode deselerasi: berlangsung lambat, dalam waktu 2 jam

pembukaan jadi 10 cm atau lengkap (Mochtar, 1995).

Persalinan Kala II

Kala ini disebut juga dengan stadium ekspulsi janin atau kala

pengeluaran, mulai ketika dilatasi serviks sudah lengkap, dan berakhir

ketika janin sudah lahir. Pada kala ini, janin didorong keluar dengan

kekuatan his dan kekuatan mengedan. Pada primigravida, penurunan

bagian terbawah janin terjadi secara khas agak lambat tetapi

mantap. Namun, pada multigravida, khususnya yang paritasnya

tinggi, penurunan berlangsung cepat (Cunningham dkk, 2006;

Wiknjosastro, 1999).

Persalinan Kala III

Stadium pemisahan dan ekspulsi plasenta, mulai segera setelah janin

lahir, dan berakhir dengan lahirnya plasenta dan selaput ketuban janin

(Cunningham dkk, 2006). Biasanya plasenta lepas dalam waktu 6 sampai


15 menit setelah bayi lahir dan keluar spontan atau dengan tekanan fundus

uteri.

Persalinan Kala IV

Kala IV mulai dari lahirnya plasenta dan lamanya 1 jam. Dalam kala

ini diamati apakah terjadi perdarahan postpartum.

2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Persalinan

Ada tujuh faktor yang mempengaruhi jalannya persalinan normal, yaitu:

keadaan fisik umum dan emosi pasien, besarnya janin, presentasi janin,

kualitas dan jenis his persalinan, keadaan serviks, anatomi dan volume uterus ,

dan arsitektur tulang panggul.

Masing-masing faktor akan mempengaruhi persalinan, baik individual

maupun dalam hubungan yang saling berkaitan.

a. Keadaan fisik umum dan emosi pasien

Idealnya pasien memasuki persalinan dalam keadaan fisik yang baik

dan emosi yang sehat, serta dengan sikap positif dalam menghadapi

pengalaman tersebut. Keadaan fisik ini dapat dinilai dari status gizi pasien.

Pasien yang cemas akan meningkatkan kadar serotonin yang dapat

mempengaruhi kualitas serta efisiensi dari his persalinan.

b. Besarnya janin
Janin yang besar mungkin dapat dilahirkan dengan mudah melalui

panggul yang lebih luas, sedangkan janin kecil mungkin dapat dilahirkan

dengan mudah melalui panggul yang lebih kecil. Ada beberapa faktor

yang turut mempengaruhi perkiraan berat janin, faktor yang pertama yaitu

besar dan beratnya ibu. Ibu yang gemuk cenderung memiliki janin yang

besar juga. Faktor yang kedua adalah paritas. Secara umum bayi-bayi

cenderung menjadi lebih besar dengan meningkatnya paritas. Faktor

ketiga adalah keadaan ibu. Ibu diabetik yang keadaannya tidak terkendali

dengan baik cenderung mendapat bayi yang lebih besar. Ibu-ibu yang

menderita hipertensi kronik atau penyakit ginjal dapat mempunyai bayi

yang lebih kecil. Batasan berat normal bayi yang umum untuk bayi aterm

sebaiknya 2500-4000 g.

c. Presentasi janin

Presentasi janin yang tersering adalah presentasi belakang kepala.

Pada posisi tersebut, kepala janin fleksi dan wajah janin menghadap

punggung ibu. Hal ini memungkinkan diameter anterior-posterior yang

terpendek dari kepala janin bergerak melalui panggul dan mengakibatkan

kemajuan dalam penurunan kepala secara efisien.

d. Kualitas dan jenis kontraksi uterus


Kualitas his paling lemah pada persalinan kala I dini, tetapi kemudian

meningkat bersamaan dengan majunya persalinan, serta terjadi

pembukaan dan penurunan. Kekuatan his persalinan berhubungan

langsung dengan keadaan umum pasien. Pasien yang mengalami dehidrasi

atau kelelahan tidak dapat diharapkan memiliki his yang efisien dan pada

kasus-kasus demikian mungkin diperlukan istirahat dan dilakukan

sebelum mencoba memperbaiki kualitas his.

e. Keadaan serviks

Pada awal persalinan, serviks mungkin masih tebal dan belum

menipis. Dengan bertambah majunya persalinan dan semakin

meningkatnya aktivitas otot uterus, serviks menjadi lunak dan mendatar

serta segmen bawah rahim menjadi tebentuk. Bila serviks seluruhnya

berada di segmen bawah rahim dan ketebalannya sudah tidak ada lagi,

maka dapat dikatakan bahwa serviks telah 100% atau sempurna menipis.

Seringkali pada primigravida akan mengalami penipisan serviks dalam 3

minggu terakhir kehamilannya dan suatu penipisan serviks yang sempurna

akan terjadi pada saat memasuki persalinan. Sedangkan pada multipara

sering terjadi perlunakan serviks tanpa didahului dengan penipisan dari

serviks. Pasien-pasien multipara akan memasuki persalinan dengan


serviks yang lunak dimana penipisan serviks belum terjadi dengan baik,

namun pembukaan dan penipisan yang cepat akan terjadi dalam waktu

yang bersamaan.

f. Anatomi dan volume uterus

Faktor keenam dalam persalinan menyangkut kelainan dalam

peregangan uterus dan kelainan yang berkaitan dengan efisiensi his.

Uterus yang mengalami peregangan yang berlebihan akan mempengaruhi

perjalanan persalinan dan mungkin sebagai salah satu faktor yang

menyebabkan persalinan prematur (Stenchever-Sorensen, 1995).

g. Arsitektur tulang panggul

Menurut pembagian Caldwell dan Moloy (Wiknjosastro, 1999), dalam

obstetri dikenal 4 jenis panggul sebagai berikut.

1) Jenis ginekoid : panggul paling baik untuk wanita, bentuk pintu

atas panggul hampir bulat, panjang diameter

anteroposterior kira-kira sama dengan diameter

tranversa. Terdapat pada 45% wanita.

2) Jenis android : bentuk pintu atas hampir segitiga, panjang

diameter anteroposterior hampir sama dengan

diameter tranversa. Ditemukan pada 15% wanita.


3) Jenis antropoid : bentuk pintu atas panggul agak lonjong, panjang

diameter antero-posterior lebih besar daripada

diameter transversa. Jenis ini ditemukan pada

35% wanita.

4) Jenis platipelloid : ukuran melintang jauh lebih besar daripada ukuran

muka belakang. Jenis ini ditemukan pada 5%

wanita.

Dilatasi Serviks Uteri

Serviks uteri merupakan bagian uterus yang terdapat mulai dari

persambungan fibromuskular di atas sampai ostium uteri eksternum di sebelah

inferior. Serviks terdiri atas 90 persen kolagen dan 10 persen serabut otot tipis

yang terdapat di antara berkas-berkas kolagen. Pada kehamilan lanjut, serviks

menjadi lebih lunak karena perubahan-perubahan kimiawi di dalam serabut

kolagen, dan menjadi lebih pendek karena tergabung ke dalam segmen bawah

rahim. Bagian ini juga mengalami beberapa derajat dilatasi. Perubahan-

perubahan ini secara kolektif disebut pematangan serviks. Perubahan ini

dapat terjadi secara mendadak atau bertahap kapan pun setelah kehamilan

minggu ke-34, tetapi biasanya terjadi dekat aterm terutama pada primigravida.

Pada kehamilan minggu ke-34, dilatasi serviks 2 cm atau lebih pada 20 persen
primigravida dan pada 40 persen multigravida; dan proporsi ini meningkat

sampai aterm.

Seringkali pada primigravida akan mengalami penipisan serviks dalam 3

minggu terakhir kehamilannya dan suatu penipisan serviks yang sempurna

akan terjadi pada saat memasuki persalinan. Sedangkan pada multipara sering

terjadi perlunakan serviks tanpa didahului dengan penipisan dari serviks.

Pasien-pasien multipara akan memasuki persalinan dengan serviks yang lunak

dimana penipisan serviks belum terjadi dengan baik, namun pembukaan dan

penipisan yang cepat akan terjadi dalam waktu yang bersamaan.

3. Lama Persalinan

Karena pada banyak kasus sukar ditetapkan secara tepat kapan persalinan

dimulai, maka tidak ada batasan yang disepakati tentang permulaan

persalinan. Menurut Mochtar (1998) dan Midwifery (2004), yang membatasi

persalinan yaitu diawali dengan saat dimana pasien mengalami his persalinan

yang menuju ke arah kelahiran bayi dan berakhir dengan kelahiran plasenta.

Persalinan yang berlangsung lama dapat menimbulkan komplikasi-

komplikasi baik terhadap ibu maupun terhadap anak, dan akan meningkatkan

angka kematian ibu dan anak (Mochtar, 1995). Partus lama adalah persalinan

yang berlangsung lebih dari 24 jam pada primi; dan lebih dari 18 jam pada
multi. Sedangkan menurut Harjono (Mochtar, 1995), partus lama atau partus

kasep merupakan fase terakhir dari suatu partus yang macet dan berlangsung

terlalu lama sehingga timbul gejala-gejala: dehidrasi, infeksi, kelelahan ibu,

asfiksi dan kematian janin dalam kandungan.

Sebab-sebab terjadinya partus lama ini adalah multikomplek, dan tentu

saja bergantung pada pengawasan selagi hamil, pertolongan persalinan yang

baik dan penatalaksanaannya.

Faktor-faktor penyebab partus lama antara lain:

a. Kelainan letak janin.

b. Kelainan-kelainan panggul.

c. Kelainan his.

d. Pimpinan persalinan yang salah.

e. Janin besar atau kelainan kongenital.

f. Primitua.

g. Perut pendulum, grandemulti.

h. Ketuban pecah dini.

i. His persalinan yang tidak efisien, termasuk serviks yang kaku.

j. Disproporsi fetopelvik.

k. Analgesi dan anesthesi yang berlebihan dalam fase laten.


Faktor-faktor tersebut dapat berperan sendiri-sendiri atau secara

bersamaan.

Fase Laten yang Memanjang

Fase laten yang melampaui waktu 20 jam pada primigravida atau waktu

14 jam pada multipara merupakan keadaan abnormal. Sebab-sebab fase laten

yang panjang mencakup (1) serviks belum matang pada awal persalinan,

memperpanjang fase laten, dan kebanyakan serviks akan membuka secara

normal begitu terjadi pendataran; (2) posisi janin abnormal; (3) disproporsi

cephalopelvik; (4) pemberian sedatif yang berlebihan.

Fase Aktif yang Memanjang pada Primigravida

Pada primigravida, fase aktif yang lebih panjang dari 12 jam merupakan

keadaan abnormal. Yang lebih penting daripada fase ini adalah kecepatan

dilatasi serviks. Laju yang kurang dari 1,2 cm per jam membuktikan adanya

abnormalitas. Pemanjangan fase aktif menyertai: (1) malposisi janin; (2)

disproporsi cephalopelvik; (3) penggunaan sedatif dan analgesik berlebihan;

(4) ketuban pecah sebelum dimulainya persalinan.

Fase Aktif yang Memanjang pada Multipara


Fase aktif pada multipara yang berlangsung lebih dari 6 jam (rata-rata 2,5

jam) dan laju dilatasi serviks yang kurang dari 1,5 cm per jam merupakan

keadaan abnormal. Kelahiran normal yang terjadi di waktu lampau tidak

berarti bahwa kelahiran berikutnya pasti normal kembali. Berikut ini ciri-ciri

partus lama pada multipara:

a. Insidennya kurang dari 1 persen.

b. Mortalitas perinatalnya lebih tinggi dibandingkan pada primigravida

dengan partus lama.

c. Jumlah bayi besar bermakna.

d. Malpresentasi menimbulkan permasalahan.

e. Prolapsus funiculi merupakan komplikasi.

f. Perdarahan postpartum berbahaya.

g. Ruptura uteri terjadi pada grandemultipara.

h. Sebagian besar kelahirannya berlangsung spontan pervaginam.

i. Ekstraksi forceps-tengah lebih sering dilakukan.

j. Angka sectio caesaria tinggi, sekitar 25% .

B. Kerangka Pemikiran
primipara multipara

kelainan letak janin Perubahan pada serviks


kelainan-kelainan panggul
kelainan his
pimpinan persalinan yang
salah
janin besar atau kelainan Lama persalinan
congenital
primitua
perut pendulum,
grandemulti
ketuban pecah dini
disproporsi fetopelvik
analgesi dan anasthesi
berlebihan
Keterangan :

----------- : Tidak dimasukkan dalam penelitian.

: Dimasukkan dalam penelitian.

C. Hipotesis

Ada perbedaan lama persalinan antara primipara dengan multipara di RSUD

Dr. Moewardi Surakarta.


BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian yang digunakan adalah penelitian observasional analitik dengan

pendekatan metode Cross Sectional dimana pengukuran variable-variabelnya

dilakukan hanya satu kali.

B. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di bagian Kebidanan dan Kandungan RSUD Dr.

Moewardi Surakarta.

C. Subjek Penelitian

Subyek penelitian ini adalah seluruh ibu yang melahirkan di Rumah Sakit

Umum Daerah dr. Moewardi Surakarta pada bulan Juni-November 2008.

1. Primipara.

2. Multipara.

Dengan kriteria inklusi:


1. Umur kehamilan 37 sampai 42 minggu.

2. Kehamilan normal.

3. Kehamilan tunggal.

4. Umur ibu 20-35 tahun.

5. Presentasi belakang kepala

6. Pasien-pasien yang masuk dalam persalinan.

Kriteria eksklusi:

1. Ibu dengan Diabetes Mellitus, penyakit jantung, maupun penyakit lain yang

berpengaruh pada kehamilan dan persalinan.

2. Ketuban pecah dini.

3. Preeklamsi, eklamsi.

4. Perdarahan antepartum.

5. Intra Uterine Fetal Death (IUFD).

6. Terdapat tanda-tanda infeksi.

7. Hidramnion.

8. Taksiran berat janin lebih dari 4000 gram.

9. Disproporsi Kepala Panggul (DKP) berat.

10. Pernah menjalani sectio caesaria.

11. Menggunakan obat-obatan yang berefek sedatif.

12. Ibu dengan anemia.


13. Pasien-pasien yang masuk dalam persalinan.

D. Teknik Sampling

Teknik sampling yang digunakan adalah dengan pendekatan campuran yaitu

purposive random sampling. Ditentukan jumlah sampel sebanyak 30, yaitu 15

untuk ibu yang melahirkan pertama kali dan 15 untuk ibu yang melahirkan

beberapa kali, kemudian dipilih secara acak. Pengambilan data diambil dengan

random sampling masing-masing sebanyak 15 sampel.

E. Identifikasi Variabel Penelitian

1. Variabel bebas : primipara dan multipara.

2. Variabel terikat : lama persalinan.

F. Definisi Operasional Variabel

1. Primipara dan multipara

Primipara : Adalah seorang wanita yang pernah melahirkan

bayi yang viable untuk pertama kali.

Multipara : Adalah seorang wanita yang pernah melahirkan

bayi yang viable untuk beberapa kali.

Cara mengukur : Dengan melihat catatan medik mengenai paritas ibu.

Alat ukur : Rekam medis.


Skala pengukuran : Nominal.

2. Lama Persalinan

Lama persalinan dimulai dengan saat dimana pasien mengalami his yang

menuju ke arah kelahiran bayi dan berakhir dengan kelahiran plasenta.

Cara mengukur : Dengan melakukan pengamatan mulai dari

pembukaan 1 hingga lahirnya plasenta.

Alat ukur : Jam

Skala pengukuran : Interval

G. Alat Penelitian

Alat yang dipakai:

Catatan medik : digunakan untuk menilai paritas.

Jam : digunakan untuk mengukur lama persalinan.

H. Rancangan Penelitian

Wanita hamil in partu


Primipara Multipara

1. Umur kehamilan 37
sampai 42 minggu.
2. Kehamilan normal.
3. Kehamilan tunggal.
4. Umur ibu 20-35 tahun.
5. Presentasi belakang
kepala.

Mulai pembukaan 0 Mulai pembukaan 0


hingga kala III hingga kala III

Lama persalinan Lama persalinan

I. Teknik Analisis Data

Untuk mengetahui adakah perbedaan yang nyata antara lama persalinan pada

primipara dan lama persalinan pada multipara di RSUD Dr. Moewardi Surakarta,

digunakan metode uji t.

Cara menghitung signifikansi perbedaan uji t digunakan rumus


x1 x 2
t
1 1
s
n1 n2

dimana nilai s diperoleh dari rumus

s n 1s n 1s n n
1 1
2
2 2
2
1 2 2

Ditentukan = 0,05

Keputusan: Jika t hitung > t table maka menolak H0

H0: Tidak ada perbedaan lama persalinan yang bermakna antara primipara

dengan multipara.

H1: Ada perbedaan lama persalinan yang bermakna antara primipara dengan

multipara.

BAB IV

HASIL PENELITIAN
A. Data Hasil Penelitian

Berdasarkan penelitian mengenai lama persalinan yang dilakukan pada bulan

JuniNovember 2008, didapatkan hasil sebagai berikut.

Tabel 1. Lama persalinan pada primipara dan multipara (dalam jam)

Primipara Multipara

No. No. RM Lama persalinan No. RM Lama persalinan

1 914300 8 30/60 902808 7 30/60

2.. 909208 11 40/60 907934 9 20/60

3. 906022 10 30/60 907032 8 15/60

4. 906022 12 40/60 905418 9 30/60

5. 906519 9 878054 7 44/60

6. 910155 12 40/60 901450 4 10/60

7. 907164 9 40/60 913538 6 45/60

8. 911362 10 30/60 902146 8 45/60

9. 904379 8 10/60 798211 9 10/60

10. 906880 7 5/60 850464 6 15/60

11. 884692 7 20/60 906662 7 10/60

12. 914466 8 5/60 908484 6 45/60

13. 908076 9 25/60 909214 8 30/60

14. 913410 12 908945 6 15/60


15. 912306 9 30/60 901844 6 55/60

Untuk membuktikan adanya perbedaan lama persalinan yang bermakna antara

primipara dengan multipara, maka dilakukan uji t.

Ditentukan = 0,05

Keputusan: Jika t hitung > t table maka menolak H0

H0: Tidak ada perbedaan lama persalinan yang bermakna antara primipara

dengan multipara.

H1: Ada perbedaan lama persalinan yang bermakna antara primipara dengan

multipara.

Tabel 2. Lama persalinan pada primipara dan multipara berdasarkan kala

persalinan (dalam jam)

No. Paritas Lama Persalinan

Kala I Kala II Kala III


20 10
1. Primipara 8 /60 /60

2. Primipara 11 10/60 20
/60 10
/60
20 10
3. Primipara 10 /60 /60
30 10
4. Primipara 12 /60 /60

5. Primipara 8 30/60 15
/60 15
/60

6. Primipara 12 15/60 15
/60 10
/60

7. Primipara 9 10/60 20
/60 10
/60
15 15
8. Primipara 10 /60 /60
20 10
9. Primipara 8 /60 /60

10. Primipara 6 40/60 15


/60 10
/60
10 10
11. Primipara 7 /60 /60

12. Primipara 7 55/60 5


/60 5
/60
15 10
13. Primipara 9 /60 /60

14. Primipara 11 30/60 20


/60 10
/60
20 10
15. Primipara 9 /60 /60

16. Multipara 6 45/60 30


/60 15
/60
15 5
17. Multipara 9 /60 /60
10 5
18. Multipara 8 /60 /60
20 10
19. Multipara 9 /60 /60

20. Multipara 7 20/60 14


/60 10
/60
5 5
21. Multipara 4 /60 /60

22. Multipara 6 25/60 10


/60 10
/60
30 15
23. Multipara 8 /60 /60

24. Multipara 9 16/60 5


/60 5
/60
5 10
25. Multipara 6 /60 /60

26. Multipara 6 45/60 15


/60 10
/60

27. Multipara 6 30/60 10


/60 5
/60
20 10
28. Multipara 8 /60 /60
10 5
29. Multipara 6 /60 /60
40 15
30 Multipara 6 /60 /60

( Sumber : Data primer, 2008)

Untuk membuktikan adanya perbedaan lama persalinan yang bermakna antara

primipara dengan multipara berdasarkan kala persalinan maka dilakukan uji t.

Ditentukan = 0,05

Keputusan: Jika t hitung > t table maka menolak H0

H0: Tidak ada perbedaan lama persalinan yang bermakna antara primipara

dengan multipara.

H1: Ada perbedaan lama persalinan yang bermakna antara primipara dengan

multipara.

B. Analisis Data

Setelah dilakukan analisa data dengan menggunakan uji t, maka didapatkan hasil

sebagai berikut.

Tabel 3. Hasil uji analisis lama persalinan antara primipara dengan multipara

Independent Samples Test

Levene's Test for


Equality of Variances t-test for Equality of Means
95% Confidence
Interval of the
Mean Std. Error Difference
F Sig. t df Sig. (2-tailed)DifferenceDifference Lower Upper
lama persalinan
Equal variances
1.265 .270 3.728 28 .001 2.25133 .60382 1.01446 3.48821
assumed
Equal variances
3.728 26.471 .001 2.25133 .60382 1.01123 3.49144
not assumed
Dari tabel berdasarkan derajat kebebasan 28 dengan tingkat signifikasi 0,05

didapatkan t tabel 1,701. Dari tabel 3, didapatkan t hitung 3,728, maka t hitung

lebih besar daripada t tabel, sehingga H0 ditolak dan hipotesis kerja (H1) diterima.

Tabel 4. Hasil uji analisis lama persalinan antara primipara dengan multipara

berdasarkan kala persalinan

Independent Samples Test

Levenes Test
for Equality of
Variances t-test for Equality of Means
95% Confidence
Std. Interval of the
Sig. Error Difference
(2- Mean Differe
F Sig. T Df tailed) Difference nce Lower Upper
Lama Equal
persalin variances 1.0086
.856 .363 3.767 28 .001 2.21067 .58679 3.41265
an kala assumed 8
I
Equal
variances 1.0063
3.767 26.859 .001 2.21067 .58679 3.41496
not 7
assumed
Lama Equal
persalin variances
5.363 .028 .649 28 .521 .03267 .05030 -.07038 .13571
an kala assumed
II
Equal
variances
.649 20.708 .523 .03267 .05030 -.07204 .13737
not
assumed
Lama Equal
persalin variances
9.249 .005 1.245 28 .223 .02467 .01981 -.01590 .06524
an kala assumed
III
Equal
variances 1.245 22.391 .226 .02467 .01981 -.01637 .06570
not
assumed

Dari tabel berdasarkan derajat kebebasan 28 dengan tingkat signifikasi 0,05

didapatkan t tabel 1,701. Dari tabel 4, pada kala I didapatkan t hitung 3,767,

maka t hitung lebih besar daripada t tabel, sehingga H0 ditolak dan hipotesis kerja

(H1) diterima,. Pada kala II didapatkan t hitung 0,649, maka t hitung lebih kecil

daripada t tabel, sehingga H0 diterima dan hipotesis kerja (H1) ditolak,. Pada kala

III didapatkan t hitung 1,245, maka t hitung lebih kecil daripada t tabel, sehingga

H0 diterima dan hipotesis kerja (H1) ditolak.

Table 5. Rata-rata lama persalinan (dalam jam)

Kala persalinan Paritas

primipara multipara

Kala I 9,3453 7,1347

Kala II 0,2980 0,2653

Kala III 0,1747 0,1500

Total lama persalinan 9,8181 7,7300

Dari data pada tabel 5, didapatkan rata-rata lama persalinan terlama berdasarkan

kala persalinan terdapat pada kelompok primipara, yaitu 9,3453 jam pada kala I.

Sedangkan total rata-rata lama persalinan terlama terdapat pada kelompok

primipara, yaitu 9,8181 jam.


BAB V

PEMBAHASAN

Dari hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa terdapat perbedaan lama

persalinan antara primipara dengan multipara. Data hasil penelitian diproses

menggunakan uji t, dengan derajat kebebasan 28 dan tingkat signifikasi 0,05

didapatkan t tabel 1,701. Jumlah sampel yang digunakan sebanyak 30, yaitu 15 untuk

ibu yang melahirkan pertama kali dan 15 untuk ibu yang sudah melahirkan beberapa

kali. Dari tabel 1, dilakukan uji t kemudian didapatkan t hitung 3,728, maka t hitung
lebih besar daripada t tabel, sehingga H0 ditolak dan H1 diterima, yang berarti secara

statistik terdapat perbedaan lama persalinan yang bermakna antara primipara dengan

multipara. Hasil penelitian tersebut mendukung teori bahwa lama persalinan pada

primipara lebih lama dibandingkan dengan lama persalinan pada multipara.

Pada tabel 2, dilakukan penyusunan lama persalinan berdasarkan kala persalinan,

kemudian dilakukan penghitungan menggunakan uji t, sehingga didapatkan hasil

sebagai berikut.

1. Pada kala I, statistik menyatakan nilai t hitung > t tabel, sehingga H0 ditolak dan

H1 diterima, yang berarti secara statistik terdapat perbedaan lama persalinan yang

bermakna antara primipara dengan multipara pada kala I.

2. Pada kala II, statistik menyatakan nilai t hitung < t tabel, sehingga H0 diterima

dan H1 ditolak, yang berarti secara statistik tidak terdapat perbedaan lama

persalinan yang bermakna antara primipara dengan multipara pada kala II.

3. Pada kala III, statistik menyatakan nilai t hitung < t tabel, sehingga H0 diterima

dan H1 ditolak, yang berarti secara statistik tidak terdapat perbedaan lama

persalinan yang bermakna antara primipara dengan multipara pada kala III.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa perbedaan lama persalinan antara

primipara dengan multipara terdapat pada kala I persalinan. Hal itu dikarenakan

adanya perbedaan pada dilatasi serviks antara primipara dengan multipara. Dimana

pada primigravida akan mengalami penipisan serviks dalam 3 minggu terakhir


kehamilannya dan suatu penipisan serviks yang sempurna akan terjadi pada saat

memasuki persalinan. Sedangkan pada multipara sering terjadi perlunakan serviks

tanpa didahului dengan penipisan dari serviks, pasien multipara akan memasuki

persalinan dengan serviks yang lunak dimana penipisan serviks belum terjadi dengan

baik, namun pembukaan dan penipisan yang cepat akan terjadi dalam waktu yang

bersamaan.

Dari tabel 5, didapatkan rata-rata lama persalinan terlama berdasarkan kala

persalinan terdapat pada kelompok primipara, yaitu 9,3453 jam pada kala I.

Sedangkan total rata-rata lama persalinan terlama terdapat pada kelompok primipara,

yaitu 9,8181 jam.

Dari hasil penelitian ini, maka hipotesis kerja (H1) yang berbunyi ada perbedaan

lama persalinan yang bermakna antara primipara dengan multipara diterima dan

hipotesis 0 (H0) yang berbunyi tidak ada perbedaan lama persalinan yang bermakna

antara primipara dengan multipara ditolak.

BAB VI

SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan
Berdasarkan hasil penghitungan dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan

lama persalinan yang bermakna antara primipara dengan multipara dimana lama

persalinan kala I pada primipara lebih lama dibandingkan lama persalinan pada

multipara. Pada primipara, rata-rata lama persalinan kala I 9,3453, kala II 0,2980,

kala III 0,1747 sedangkan pada multipara, rata-rata lama persalinan kala I 7,1347,

kala II 0,2653, kala III 0,1500. Hasil statistik ini mendukung teori yang

menyatakan bahwa pada primipara akan mengalami lama persalinan yang lebih

lama dibandingkan dengan multipara.

B. Saran

Dengan mengetahui hasil penelitian di atas maka disarankan bagi tenaga

kesehatan untuk melakukan perawatan ante natal care sebaik-baiknya untuk

mencegah komplikasi yang timbul pada ibu dan janin dalam masa persalinan.

Upaya untuk mencegah partus lama berupa:

1. Menggunakan partograf untuk memantau kondisi ibu dan janinnya serta

kemajuan proses persalinan.

2. Mengharapkan dukungan suami dan kerabat ibu yang dapat memberikan

dukungan emosional pada ibu selama persalinan.


Untuk penelitian ini sendiri diharapkan dapat dilakukan penelitian serupa

dengan ukuran sampel yang lebih besar dengan meminimalkan faktor-faktor luar

sehingga akan didapatkan hasil yang lebih signifikan.


DAFTAR PUSTAKA

Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional. 2005. Merencanakan Kehamilan


yang Aman dan Sehat. http: //www.bkkbn.go.id. (8 Maret 2008).
Bryant R.D., Overland A.E. 1966. Obstetric Management and Nursing. 7th ed.
Philadelphia: F.A. Davis Company, pp: 175-194
Cunningham F.G., dkk. 2005. Obstetri Williams Jilid 1. Edisi 21. Jakarta: Kedokteran
EGC, pp: 272-360
Ibrahim C.S. 1996. Perawatan Kebidanan Jilid II. Jakarta: Bhratara Karya Aksara,
pp: 2-8
Kalbe Medical Portal. 2005. Persalinan yang Sulit Meninggalkan Kekhawatiran pada
Wanita. http: //www.kalbe.co.id/templates/ipopeng.htm. (5 Maret 2008).
Llewellyn-Jones D. 2002. Dasar-dasar Obstetri dan Ginekologi. Edisi 6. Jakarta:
Hipokrates, pp: 65-82
Mansjoer A, dkk (eds). 2001. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media
Aesculapius, pp: 291-315
Mochtar R. 1992. Sinopsis Obstetri: Obstetri Fisiologi, Obstetri Patologi. Jakarta:
Kedokteran EGC, pp: 100-102
Mochtar R. 1995. Sinopsis Obstetri Jilid II. Jakarta: Kedokteran EGC, pp: 209-21
Mochtar R. 1998. Sinopsis Obstetri Jilid I. Jakarta: Kedokteran EGC, pp: 75-99
Midwifery V. 2004. Ilmu Kebidanan. Edisi 3. Bandung: Sekeloa Publisher, pp: 333-
347
Oxorn H. 1996. Ilmu Kebidanan: Patologi dan Fisiologi Persalinan. Jakarta:
Yayasan Essentia Medica.
Rabe T. 2002. Buku Saku Ilmu Kebidanan. Jakarta: Hipokrates, pp: 123-131
Riwidikdo H. 2007. Statistik Kesehatan. Yogyakarta: Mitra Cendikia Press, pp: 49-70
Rochajati P. 2002. Penilaian High Risk Pregnancy di RS Dr. Soetomo. Surabaya:
Kongres Obstetri Ginekologi Indonesia ketiga.
Steer P., Flint C. 1999. ABC of labour care: physiology and management of normal
labour. BMJ. 318: 793-796.
Stenchever M.A., Sorensen T. 1995. Penatalaksanaan dalam Persalinan. Jakarta:
Hipokrates.
Sulchan M. 1998. Sebab-sebab Kematian Perinatal. Yogyakarta: Bagian Obstetri
Ginekologi Fakultas Kedokteran UGM.
Sulistiyowati N, Ronoatmodjo S, Tarigan L.H. 2003. Kematian perinatal
hubungannya dengan faktor praktek kesehatan ibu selama kehamilan di kota
Bekasi tahun 2001. Ekologi Kesehatan. Vol 2 no.1: 192-199.
Taufiqurohman M. A. 2004. Pengantar Metodologi Penelitian untuk Ilmu Kesehatan.
Klaten: CSGF, pp: 13-76
Wiknjosastro H, Saifuddin A.B., Rachimhadhi T., editor. 1999. Ilmu Kebidanan.
Jakarta: Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, pp: 171-191

Beri Nilai