Anda di halaman 1dari 55

BAB I

ANALISIS PERTUMBUHAN EKONOMI WILAYAH

1.1 Konsep Wilayah


Wilayah dapat dilihat sebagai suatu ruang pada permukaan bumi. Region
atau wilayah saat ini bahkan digunakan unutk mencakup wilayah beberapa
Negara sekaligus. Menjadikan wilayah beberapa Negara sebagai sautu
kesatuan haruslah ada dasarnya, misalnya karena ada ikatan seperti kerja
sama ekonomi, pertahanan dan lain-lainnya. Menurut Glassons, wilayah
terbagi menjadi 3 yaitu
1. Homogen atau wilayah kesamaan
2. Wilayah nodal atau berdasarkan fungsi
3. Wilayah perencanaan berdasarkan administrasi
Wilayah homogen adalah suatu wilayah yang mempunyai kesamaan
dengan wilayah lainnya atau wilayah yang dipandang dari aspek/kriteria
mempunyai sifat-sifat atau ciri-ciri yang relatif sama. Sifat-sifat atau ciri-ciri
kehomogenan ini misalnya dalam hal ekonomi (seperti daerah dengan stuktur
produksi dan kosumsi yang homogen, daerah dengan tingkat pendapatan
rendah/miskin dll.), geografi seperti wilayah yang mempunyai topografi atau
iklim yang sama), agama, suku, dan sebagainya. Richarson (1975) dan
Hoover (1977) mengemukakan bahwa wilayah homogen di batasi
berdasarkan keseragamamnya secara internal (internal uniformity). Kesamaan
yang dimaksud adalah misalnya pertanian atau adat istiadat.
Nodal region adalah daerah yang ekonominya dilihat dari segi fungsinya.
Wilayah nodal (nodal region) adalah wilayah yang secara fungsional
mempunyai ketergantungan antara pusat (inti) dan daerah belakangnya
(interland). Tingkat ketergantung.an ini dapat dilihat dari arus penduduk,
faktor produksi,barang dan jasa, ataupun komunikasi dan transportasi.
Sukirno (1976) menyatakan bahwa pengertian wilayah nodal yang paling
ideal untuk di gunakan dalam analisis mengenai ekonomi wilayah,

5
mengartikan wilayah tersebut sebagai ekonomi ruang yang yang di kuasai
oleh suatu atau beberapa pusat kegiatan ekonomi.
Batas wilayah nodal di tentukan sejauh mana pengaruh dari suatu pusat
kegiatan ekonomi bila di gantikan oleh pengaruh dari pusat kegiatan ekonomi
lainnya.
Hoover (1977) mengatakan bahwa struktur dari wilayah nodal dapat di
gambarkan sebagai suatu sel hidup dan suatu atom,dimana terdapat inti dan
plasma yang saling melengkapi. Pada struktur yang demikian, integrasi
fungsional akan lebih merupakan dasar hubungan ketergantungan atau dasar
kepentingan masyarakat di dalam wilayah itu, daripada merupakan
homogenitas semata-mata. Dalam hubungan saling ketergantungan ini dengan
perantaraan pembelian dan penjualan barangbarang dan jasa-jasa secara local,
aktifitas-aktifitas regional akan mempengaruhi pembangunan yang satu
dengan yang lain.
Wilayah nodal mempunyai 1 titik atau daya tarik tersendiri sehingga
daerah di sekitarnya dapat ditarik atau bergabung. Planning region
menggunakan batas administrasi (nyata). Planning region merupakan
gabungan antara homogeitas dengan nodal region. Boudeville (dalam
Glasson,1978) mendefinisikan wilayah perencanan (planning region atau
programming region) sebagai wilayah yang memperlihatkan koherensi atau
kesatuan keputusan-keputusan ekonomi. Wilayah perencanaan dapat dilihat
sebagai wilayah yang cukup besar untuk memungkinkan terjadinya
perubahan-perubahan penting dalam penyebaran penduduk dan kesempatan
kerja, namun cukup kecil untuk memungkinkan persoalan-persoalan
perencanaannya dapat dipandang sebagai satu kesatuan.
Pada umumnya, wilayah Negara-negara maju menggunakan sistem
ekonomi nodal region sedangkan Negara-negara berkembang menggunakan
sistem ekonomi planning region. Wilayah administratif adalah wilayah yang
batas-batasnya ditentukan berdasarkan kepentingan administrasi
pemerintahan atau politik, seperti: propinsi, kabupaten, kecamatan,
desa/kelurahan, dan RT/RW. Sukirno (1976) menyatakan bahwa di dalam

6
praktek, apabila membahas mengenai pembangunan wilayah ,maka
pengertian wilayah administrasi merupakan pengertian yang paling banyak
digunakan.Lebih populernya pengunaan pengertian tersebut di sebabkan dua
factor yakni : (a) dalam kebijaksanaan dan rencana pembangunan wilayah di
perlukan tindakan-tindakan dari berbagai badan pemerintahan.
1.2 Pertumbuhan Ekonomi Wilayah
Pertumbuhan ekonomi adalah proses perubahan kondisi perekonomian
suatu negara secara berkesinambungan menuju keadaan yang lebih baik
selama periode tertentu. Pertumbuhan ekonomi dapat diartikan juga sebagai
proses kenaikan kapasitas produksi suatu perekonomian yang diwujudkan
dalam bentuk kenaikan pendapatan nasional. Adanya pertumbuhan ekonomi
merupakan indikasi keberhasilan pembangunan ekonomi. Konsep dan
Definisi Konsep-konsep yang digunakan dalam perhitungan Produk Domestik
Regional Bruto (PDRB) ini adalah sebagai berikut :

1) Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Atas Dasar Harga Pasar


Angka PDRB atas dasar harga pasar diperoleh dari penjumlahan
nilai tambah bruto (NTB), yang mencakup seluruh komponen faktor
pendapatan, yaitu upah dan gaji, bunga, sewa tanah, keuntungan,
penyusutan dan pajak tak langsung dari seluruh sektor perekonomian
yang ada di wilayah.
2) Produk Domestik Regional Neto (PDRB) Atas Dasar Harga Pasar
Pada PDRN atas dasar harga pasar ini sudah dikeluarkan nilai
penyusutan. Penyusutan adalah susutnya nilai barang modal yang terjadi
selama barang-barang modal tersebut ikut serta dalam proses produksi.
Penyusutan disini adalah nilai susut seluruh barang di sektor
perekonomian dalam Provinsi Jambi.
3) PDRN Atas Dasar biaya Faktor Produksi
Diperoleh dari PDRN atas dasar harga pasar dikurangi pajak tak
langsung neto. Pajak tak langsung neto adalah pajak tak langsung
dikurangi subsidi. Pajak tak langsung meliputi pajak penjualan, pajak

7
tontonan, bea ekspor dan impor, cukai dan lain-lain, kecuali pajak
pendapatan dan pajak perseroan.
Berdasarkan konsep-konsep diatas dapat diketahui bahwa PDRN Atas
Dasar Biaya Faktor Produksi sebenarnya merupakan jumlah balas jasa faktor-
faktor produksi yang ikut serta dalam proses produksi. Balas jasa faktor
produksi.
1.3 Faktor-Faktor Pertumbuhan Ekonomi
Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi adalah:
1) Faktor Sumber Daya Manusia
Sama halnya dengan proses pembangunan, pertumbuhan ekonomi juga
dipengaruhi oleh SDM. Sumber daya manusia merupakan faktor
terpenting dalam proses pembangunan, cepat lambatnya proses
pembangunan tergantung kepada sejauhmana sumber daya manusianya
selaku subjek pembangunan memiliki kompetensi yang memadai untuk
melaksanakan proses pembangunan.
2) Faktor Sumber Daya Alam
Sebagian besar negara berkembang bertumpu kepada sumber daya alam
dalam melaksanakan proses pembangunannya. Namun demikian, sumber
daya alam saja tidak menjamin keberhasilan proses pembanguan
ekonomi, apabila tidak didukung oleh kemampaun sumber daya
manusianya dalam mengelola sumber daya alam yang tersedia. Sumber
daya alam yang dimaksud dinataranya kesuburan tanah, kekayaan
mineral, tambang, kekayaan hasil hutan dan kekayaan laut.
3) Faktor Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat
mendorong adanya percepatan proses pembangunan, pergantian pola
kerja yang semula menggunakan tangan manusia digantikan oleh mesin-
mesin canggih berdampak kepada aspek efisiensi, kualitas dan kuantitas
serangkaian aktivitas pembangunan ekonomi yang dilakukan dan pada
akhirnya berakibat pada percepatan laju pertumbuhan perekonomian.

8
4) Faktor Budaya
Faktor budaya memberikan dampak tersendiri terhadap pembangunan
ekonomi yang dilakukan, faktor ini dapat berfungsi sebagai pembangkit
atau pendorong proses pembangunan tetapi dapat juga menjadi
penghambat pembangunan. Budaya yang dapat mendorong
pembangunan diantaranya sikap kerja keras dan kerja cerdas, jujur, ulet
dan sebagainya. Adapun budaya yang dapat menghambat proses
pembangunan diantaranya sikap anarkis, egois, boros, KKN, dan
sebagainya.
5) Sumber Daya Modal
Sumber daya modal dibutuhkan manusia untuk mengolah SDA dan
meningkatkan kualitas IPTEK. Sumber daya modal berupa barang-
barang modal sangat penting bagi perkembangan dan kelancaran
pembangunan ekonomi karena barang-barang modal juga dapat
meningkatkan produktivitas.
Berbicara masalah ekonomi dari sisi makro merupakan suatu hal yang
menarik untuk dibahas dan dikaji. Menjadi menarik karena banyak pihak,
baik secara individu maupun kelompok memperhatikan masalah makro
ekonomi ini. Makro ekonomi menjelaskan perubahan ekonomi yang
memengaruhi banyak rumah tangga, perusahaan, dan pasar. Ekonomi makro
dapat digunakan untuk menganalisis cara terbaik untuk memengaruhi target-
target kebijaksanaan dalam suatu negara, seperti pertumbuhan ekonomi,
stabilitas harga, tenaga kerja dan kebijakan dalam sisi lainnya. Pada tulisan
kali ini akan kita bahas mengenai salah satu indikator dalam ekonomi makro
suatu negara yaitu pertumbuhan ekonomi.
1.4 Pertumbuhan Ekonomi, Definisi dan Metode Penghitungan
Terdapat beberapa indikator ekonomi yang dapat digunakan untuk
mengetahui kondisi perekonomian suatu negara. Salah satu indikator yang
sering digunakan adalah data PDB (Produk Domestik Bruto). BPS
mendefinisikan PDB sebagai jumlah nilai tambah yang dihasilkan oleh
seluruh unit usaha dalam suatu negara tertentu, atau merupakan jumlah nilai

9
barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh seluruh unit ekonomi. Data PDB
yang dipublikasikan terdiri dari data PDB atas dasar harga berlaku dan atas
dasar harga konstan. PDB atas dasar harga berlaku menggambarkan nilai
tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga yang berlaku pada
setiap tahun, sedangkan PDB atas dasar harga konstan menunjukkan nilai
tambah barang dan jasa tersebut yang dihitung menggunakan harga yang
berlaku pada satu tahun tertentu sebagai dasar.
PDB atas dasar harga berlaku dapat digunakan untuk melihat pergeseran
dan struktur ekonomi suatu negara, sedangkan PDB atas dasar harga konstan
digunakan untuk mengetahui pertumbuhan ekonomi dari tahun ke tahun.
Pertumbuhan ekonomi dapat diartikan sebagai proses kenaikan output per
kapita dalam jangka panjang, atau dapat juga diartikan sebagai kenaikan
output total (PDB) dalam jangka panjang tanpa memandang apakah kenaikan
itu lebih kecil atau lebih besar dari pertumbuhan penduduk. Pertumbuhan
ekonomi ini sering dijadikan salah satu ukuran kinerja perekonomian suatu
negara. Semakin tinggi nilai pertumbuhan ekonomi bisa dikatakan kinerja
perekonomian semakin membaik.
Data PDB atas dasar harga kostan yang dikeluarkan oleh BPS
menggunakan beberapa tahun dasar, yaitu 1983, 1993 dan 2000. Sehingga
kita harus menyamakan tahun dasar terlebih dahulu jika ingin melihat
pertumbuhan ekonomi dari tahun ke tahun. Saat ini tahun dasar yang
digunakan BPS adalah tahun 2000, maka kita samakan tahun dasarnya
menjadi tahun 2000 agar lebih mudah dan lebih representatif dengan keadaan
ekonomi saat ini. Penyamaan tahun dasar 1983 dan 1993 menjadi tahun dasar
2000 ini disebut backcasting. Perubahan tahun dasar (backcasting) dapat
dilakukan dengan rumus sebagai berikut:
a. Backcasting PDB tahunan yang memiliki tahun dasar 1983 menjadi
tahun dasar 1993 dan dimulai dari PDB tahun 1993 tahun dasar 1983.
b. Backcasting PDB tahunan yang memiliki tahun dasar 1993 menjadi
tahun dasar 2000 dan dimulai dari PDB tahun 2000 tahun dasar 1993.

10
Dalam rumus di atas i didefinisikan sebagai periode tahun yang akan
dirubah tahun dasarnya, rumus di atas mengambil contoh periode yang akan
dirubah adalah dari tahun 1984 sampai 2000 sehingga i ditulis 1984-2000.
Setelah data PDB atas dasar harga konstan memiliki tahun dasar yang sama
untuk setiap tahun yang akan dianalisis, maka kita dapat mencari besarnya
nilai pertumbuhan ekonomi setiap tahunnya dengan rumus.
1.5 Analisis Deskriptif, Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tahun 1986-2010
Jika kita lakukan sebuah analisis deskriptif tentang pertumbuhan
ekonomi Indonesia dari tahun 1986-2010 maka kita akan melihat laju
pertumbuhan ekonomi yang cukup berfluktuatif. Pertumbuhan ekonomi
Indonesia pada beberapa tahun menunjukan peningkatan dan pada tahun-
tahun lainnya mengalami penurunan.
Secara umum perekonomian Indonesia pada periode sebelum krisis
ekonomi (1986-1996) mengalami pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi,
yaitu antara 6,47 sampai 9,12 persen per tahun dengan rata-rata pertumbuhan
ekonomi pada periode tersebut sebesar 7,76 persen. Pertumbuhan ekonomi
pada tahun 1991, yaitu sebesar 9,11 persen menjadi pertumbuhan tertinggi
yang pernah dimiliki Indonesia. Pada saat krisis ekonomi melanda negeri ini
(1997-1999), perekonomian Indonesia memiliki rata-rata pertumbuhan
ekonomi yang sangat rendah yaitu sekitar -2,68 persen. Pertumbuhan
ekonomi paling rendah terjadi pada tahun 1998, dimana pertumbuhan
ekonomi Indonesia pada saat itu adalah -13,24 persen dan menjadi
pertumbuhan terendah yang pernah dimiliki oleh Indonesia. Perlambatan
pertumbuhan ekonomi ini sebenarnya sudah mulai terjadi pada tahun 1997,
pertumbuhan ekonomi saat itu sebesar 4,59 persen, turun sebesar 3,19 persen
dari tahun sebelumnya. Kemudian pada tahun 1998 pertumbuhan ekonomi
Indonesia turun lebih besar lagi akibat adanya krisis ekonomi, yaitu turun
sampai 8,65 persen dari tahun sebelumnya. Pada tahun 1999 perekonomian
Indonesia mulai membaik, hal ini terlihat dari angka pertumbuhan ekonomi
yang berhasil naik 12,63 persen dari pertumbuhan tahun 1998.

11
Pada periode pemulihan setelah krisis ekonomi (2000-2007)
pertumbuhan ekonomi Indonesia kembali naik, yaitu sebesar 3,83 sampai
6,35 persen dengan rata-rata pertumbuhan pada periode tersebut sekitar 5,04
persen. Pada tahun 2008 perekonomian dunia diguncangkan dengan adanya
krisis global, namun adanya krisis global ini ternyata tidak terlalu
berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pertumbuhan ekonomi
Indonesia tidak mengalami penurunan yang cukup berarti seperti saat periode
krisis ekonomi, pada tahun 2008 pertumbuhan ekonomi tercatat sebesar 6,01
persen, turun 0,33 persen dibandingkan pertumbuhan pada tahun 2007.
Dampak adanya krisis global ini justru baru dirasakan pada tahun 2009.
Pertumbuhan ekonomi pada tahun 2009 ternyata mengalami penurunan yang
lebih besar jika dibandingkan dengan penurunan pertumbuhan ekonomi pada
tahun 2008. Pada tahun 2009 pertumbuhan ekonomi tercatat sebesar 4,58
persen, jika dibandingkan tahun 2008 pertumbuhan ekonomi tahun 2009
mengalami penurunan sebesar 1,44 persen. Pada tahun 2010 kondisi
perekonomian Indonesia kembali menunjukkan kondisi yang cukup baik,
pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2010 tumbuh 6,1 persen, meningkat
dibandingkan tahun 2009 dan mampu lebih tinggi dari tahun 2008.
Melihat kinerja dan stabilitas perekonomian yang cukup bagus pada
tahun 2010 memberikan suatu harapan bahwa di tahun selanjutnya
pertumbuhan ekonomi Indonesia mampu bertahan dan mengalami
peningkatan.

12
BAB II
PERTUMBUHAN EKONOMI WILAYAH

2.1 Pandangan Umum Teori Pertumbuhan Ekonomi Wilayah


Pertumbuhan ekonomi wilayah adalah pertumbuhan pendapatan
masyarakat secara keseluruhan terjadi di wilayah tersebut, yaitu kenaikan
seluruh nilai tambah (added value) yang terjadi (Robinson. 2007:46).
Perhitungan pendapatan wilayah pada awalnya dibuat dalam harga berlaku.
Namun agar dapat dilihat pertambahan dari dari satu kurun waktu kekurun
waktu berikutnya, harus dinyatakan dalam nilai reel, artinya dinyatakan
dalam harga constant. Kemakmuran suatu wilayah selain ditentukan oleh
besarnya nilai tambah yang tercipta diwilayah tersebut juga oleh seberapa
besar terjadi transfer payment yaitu bagian pendapatan yang mengalir keluar
wilayah atau mendapat aliran dana dari luar wilayah.
Pertumbuhan ekonomi adalah proses kenaikan output perkapitan dalam
jangka panjang jadi persentase pertambahan output itu haruslah lenih tinggi
dari persentase pertambahan jumlah penduduk dan ada kecenderungan jangka
panjang bahwa pertumbuhan itu akan berlanjut. Menururt Boediono ada ahli
ekonomi yang membuat defenisi yang lebih ketat yaitu bahwa pertumbuhan
itu haruslah bersumber dari proses intern perekonomian tersebut. Ketentuan
yang terakhir ini sangat penting diperhatikan dalam ekonomi wilayah, karena
bias saja suatu wilayah mengalami pertumbuhan tetapi pertumbuhan itu
tercipta karena banyaknya bantuan atau suntikan dana dari pemerintah pusat
dan pertumbuhan itu terhenti apabila suntikan dana itu dihentikan. Dalam
kondisi seperti ini sangat sulit dikatakan ekonomi wilayah itu bertumbuh.
Adalah wajar suatu wilayah terbelakang mendapat suntikan dana dalam
proporsi yang lebih besar dibandingkan wilayah lainnya, akan tetapi setelah
suatu jangka waktu tertentu. Wilayah itu mestilah tetap bias bertumbuh
walaupun tidak lagi mendapat lokasi yang belebihan.

13
Teori yang membicarakan pertumbuhan wilayah dimulai dari teori yang
dikutip dari ekonomi makro atau ekonomi pembangunan dengan mengubah
batas wilayah dan disesuaikan dengan lingkungan operasionalnya, dilanjutkan
dengan teori yang dikembangkan asli dalam ekonomi wilayah. Apabila dalam
ekonomi makro dan ekonomi pembangunan istila eksport dan import adalah
perdagangan dengan luar negeri maka dalam ekonomi wilayah hal itu berarti
perdagangan dengan luar wilayah termasuk perdagangan dengan luar negeri,
(Tarigan Robinson : 46).
Menurut teori Ketidakseimbangan Pertumbuhan Wilayah, pertumbuhan
wilayah muncul terutama karena reaksi terhadap konsep kestabilan dan
keseimbangan neoklasik. Yang paling pokok dari teori ini adalah bahwa
kekuatan pasar sendiri tidak dapat menghilangkan perbedaan-perbedaan antar
wilayah dalam suatu daerah, bahkan sebaliknya kekuatan-kekuatan ini
cenderung akan menciptakan dan bahkan memperburuk perbedaan-perbedaan
itu. Kekuatan efek penyebaran mencakup penyebaran pasar hasil produksi
bagi wilayah belum berkembang penyebaran inovasi dan teknologi,
sedangkan kekuatan efek balik negatif biasanya melampaui efek penyebaran
dengan ketidakseimbangan aliran modal dan tenaga kerja dari wilayah yang
tidak berkembang ke wilayah berkembang.Kondisi ini memberikan
pengesahan terhadap intervensi mekanisme pasar untuk mengatasi efek balik
negatif yang akan menimbulkan kesenjangan wilayah.
Menurut Sasmojo. S(1999), bahwa pertumbuhan output wilayah
ditentukan adanya peningkatan skala pengembalian, terutama dalam kegiatan
manufaktur. Hal ini berarti bahwa wilayah dengan kegiatan utama sektor
industri pengolahan akan mendapat keuntungan produktivitas yang lebih
besar dibandingkan wilayah yang tergantung pada sektor industri akan lebih
tumbuh lebih cepat dibandingkan wilayah yang bergantung pada sektor
primer.
Dalam mengembangkan teori Kaldor dengan menekankan dampak proses
penyebab komulatif pertumbuhan ekonomi wilayah. Pertumbuhan output
wilayah menentukan tingkat perubahan teknologi dan pertumbuhan rasio

14
modal dan tenaga kerja. Kedua faktor ini lebih lanjut akan menentukan
pertumbuhan dan tingkat produktifitas wilayah. Pertumbuhan sektor suatu
wilayah bergantung pada produktifitas wilayah. Pada masalah ini proses
penyebab kumulatif pertumbuhan ekonomi akan terjadi secara menyeluruh,
karena pertumbuhan ekspor wilayah menentukan pertumbuhan ekspor
wilayah. Keterkaitan dan pertumbuhan output wilayah dan pertumbuhan
produktifitas juga dikenal dengan Efek Verdoorn.
Menurut pandangan ahli-ahli ekonomi klasik seperti Thomas Robert
Malthus, Adam Smith, David Ricardo dan John Stuart Mill, ada 4 faktor
yangmempengaruhi pertumbuhan ekonomi yaitu jumlah penduduk, jumlah
stok barang-barang modal, luas tanah dan kekayaan alam serta tingkat
teknologiyang digunakan (Sukirno,1985:275). Pola pertumbuhan digunakan
dalam teoridinamis sebagaimana yang dikembangkan oleh pemikir neo klasik
yangmengemukakan bahwa pertumbuhan ekonomi berpokok pada efek
investasi dan penambahan jumlah tenaga kerja terhadap pertumbuhan output
serta proses peningkatan produksi barang dan jasa dalam kegiatan ekonomi
masyarakat(Tambunan, 2003). Tingkat pertumbuhan ekonomi harus lebih
besar daripadalaju pertumbuhan penduduk, agar peningkatan pendapatan
perkapita dapat tercapai.
Pembangunan dalam lingkup daerah tidak selalu berlangsung cepat dan
merata seperti yang diinginkan. Beberapa daerah mencapai pertumbuhan
cepat, sementara beberapa daerah lain mengalami pertumbuhan yang lambat.
Daerah-daerah tersebut tidak mengalami kemajuan yang sama disebabkan
oleh karena kurangnya sumber-sumber yang dimiliki, adanya kecenderungan
peranan modal (investor) memilih daerah perkotaan atau daerah yang telah
memiliki fasilitas di samping adanya ketimpangan redistribusi pembagian
pendapatan dari Pemerintah Pusat kepada daerah (Mudrajad Kuncoro, 2003).
Dalam konteks pertumbuhan, Boediono (1992:1) mengemukakan bahwa
pertumbuhan ekonomi adalah proses kenaikan output per kapita dalam jangka
panjang. Penekanan pada proses mengandung unsur dinamis, perubahan dan
perkembangan. Oleh karena itu pemakaian indikator pertumbuhan ekonomi

15
akan dilihat dalam kurun waktu yang cukup lama misalnya 10, 20 atau 25
tahun atau bahkan lebih. Pertumbuhan ekonomi terjadi apabila ada
kecenderungan yang bersumber dari proses intern perekonomian tersebut.
Artinya, pertumbuhan harus berasal dari kekuatan yang ada dalam
perekonomian ekonomi itu sendiri.
Produk Domestik Bruto (PDB) secara umum disebut agregat ekonomi,
maksudnya angka besaran total yang menunjukkan prestasi ekonomi suatu
negara. Dari agregat ekonomi ini selanjutnya dapat diukur pertumbuhan
ekonomi. Untuk menghitung pertumbuhan ekonomi riil, terlebih dahulu harus
dihilangkan pengaruh perubahan harga yang melekat pada angka-angka
agregat ekonomi menurut harga berlaku (current price) sehingga
terbentuk harga agregat ekonomi menurut harga konstan (constant price)
(Dumairy,1999:38-39)
2.2 Pertumbuhan Ekonomi Wilayah Dan Permasalahanya
Pertumbuhan ekonomi wilayah adalah peningkatan volume variabel
ekonomi dari sub sistem spasial suatu bangsa atau negara. Seringkali dipakai
istilah lain yang mempunyai arti yang sama untuk pertumbuhan ekonomi
yaitu pembangunan ekonomi atau pengembangan ekonomi. Ada beberapa
variabel yang dapat dipilih sebagai indikator pengukuran pertumbuhan
ekonomi.Pertumbuhan dapat diartikan sebagai suatu peningkatan dalam
kemakmuran suatu wilayah (Adisasmita. 2005 : 80).
Lebih lanjut dikatakan bahwa pertumbuhan ekonomi juga dapat
dinyatakan sebagai suatu peningkatan dalam sejumlah komuditas yang dapat
digunakan atau diperoleh di suatu wilayah.Konsep ini menyangkut pengaruh
perdagangan yaitu dapat diperolehnya komuditas sebagai suplai hasil akhir
yang meningkat melalui pertukaran antar wilayah.
Tantangan bagi ekonomi regional yaitu dapat dinyatakan bahwa
pengetahuan gejala-gejala ekonomi akan menjadi lebih penting dan nyata
apabila faktor tata ruang diintroduksikan sebagai suatu variabel tambahan
dalam kerangka teori ekonomi. Secara eksplisit pertimbangan mengenai

16
pentingnya dimensi tata ruang tersebut meliputi lima persoalan utama
ekonomi wilayah, (Adisasmita. 2005 : 78) yaitu :
a. Pertama, adalah yang berhubungan dengan penentuan landscape
ekonomi, yaitu mengenai penyebaran kegiatan ekonomi atas tata ruang.
b. Kedua, berhubungan dengan introduksinya konsep wilayah dalam analisis
teoritis, wilayah disini diartikan sebagai sub system spasial dari ekonomi
nasional. Konsep baru tersebut telah mendorong pembuatan rencana
pembangunan sub system spasial dan pengukuran aktifitas ekonominya.
c. Ketiga, adalah menganalisis interaksi antar daerah-daerah.dalam persoalan
ini dapat dibedakan dua bentuk interaksi antar wilayah, yaitu arus
pergerakan factor produksi, dan arus pertukaran komoditi.
d. Keempat, yaitu persoalan analisis optimum dan equilibrium antar wilayah.
Model tipe ini mencoba menentukan beberapa sumber optimum untuk
suatu system ekonomi dalam suatu lingkungan spasial. Keadaan optimum
selalu dikaitkan dengan sasaran dan tujuan yang hendak dicapai seperti
alokasi sumberdaya yang optimal atau minimalisasi factor masukan (input)
tertentu.
e. Kelima, adalah persoalan kebijakan wilayah.Kebijakan ekonomi wilayah
dimaksudkan sebagai kegiatan-kegiatan yang berusaha memperhitungkan
perilaku ekonomi dalam suatu lingkungan spasial.
2.3 Strategi Pengembangan Ekonomi Wilayah Melalui Investasi
Komponen utama yang membentuk iklim investasi di daerah terdiri dari;
Kelembagaan pelayanan penanaman modal, Promosi investasi daerah,
Komitmen Pemerintah Daerah, Infrastruktur, Akses lahan usaha, Tenaga
kerja, Keamanan usaha, Kinerja ekonomi daerah, dan Peranan dunia usaha
dalam perekonomian daerah.Sedangkan komponen-komponen yang menjadi
hambatan bagi para pelaku usaha di dalam menjalankan usahanya adalah;
infrastruktur, perijinan oleh pemerintah pusat, peraturan daerah, kenaikan
tariff BBM/ listrik dan lain-lain, pajak/retribusi, kelangkaan bahan baku,
invisiblecost, kelangkaan modal, stabilitas dan hankam, upah minimum

17
regional, pemasaran, kapasitas bisnis, memproses perijinan, bom/ terorisme,
biaya pengapalan, dan ketepatan waktu.
Faktor-faktor yang menjadi daya tarik bagi dunia usaha dalam melakukan
investasi, dalam suatu wilayah diantaranya adalah; ketersediaan infrastruktur,
kepastian hukum, potensi yang dimiliki oleh suatu daerah/ wilayah, kebijakan
investasi, SDM, serta jaminan kepastian keamanan. Informasi yang
dibutuhkan oleh investor, pada umumnya berupa kebutuhan investasi di suatu
daerah, kebijakan investasi, potensi yang dimiliki, peluang usaha, sumber dan
proyek investasi, serta contoh proyek investasi yang ada di suatu daerah.
Untuk mendorong dan menarik investasi ke daerah, diperlukan Profil
Potensi Daerah yang berisi tentang informasi peluang usaha yang layak bagi
investor. Profil Potensi Daerah ini dimaksudkan agar investor dapat lebih
cepat menangkap peluang investasi dan mengambil keputusan untuk
berinvestasi. Dengan adanya Profil Potensi Daerah, UKM juga dapat
mengidentifikasi peluang usaha yang ada.
Dengan Profil Potensi Daerah yang telah memenuhi kriteria, maka
diharapkan daerah dapat mempunyai prospek usaha dengan pasar yang jelas
serta sesuai dengan prioritas Pembangunan Daerah (Renstrada). Disamping
itu profil proyek investasi di daerah juga dapat digunakan sebagai materi
utama dalam berbagai kegiatan untuk mempromosikan potensi daerah.
Pemilihan potensi daerah ini dibagi dalam tiga sektor, yaitu sektor primer
(perkebunan, pertanian, dan perikanan), sektor sekunder (pengolahan dan
industri), serta sektor tersier (perdagangan, jasa, hotel dan sebagainya).
Penyusunan Profil Potensi Daerah dilakukan dengan menggunakan
metode 3W1H (What, Why, Where dan How).Profil Potensi Daerah adalah
bagian dari upaya pengembangan potensi investasi daerah yang meliputi;
identifikasi seluruh potensi yang ada (what), alasan-alasan yang menjadikan
potensi-potensi dimaksud dijadikan sebagai unggulan (why), lokasi investasi
yang ditetapkan (where), dan bagaimana kebijakan-kebijakan pusat dan
daerah (who).

18
Rencana Pembangunan Jangka Pendek, Menengah, dan Panjang;
Kebijakan Propinsi/Kabupaten/Kota; Visi dan Misi Propinsi/Kabupaten/Kota;
Daftar Panjang/Pendek potensi daerah, seluruhnya merupakan bagian dari
potensi unggulan daerah.Perencanaan potensi daerah dan hasil riset
pengumpulan data existing kemudian di analisa untuk mengetahui bagaimana
analisis pasarnya, potensi bahan baku, keuntungan komparatif dan kompetitif,
serta kebutuhan calon industrinya.
Hasil analisa terhadap lokasi, luas lahan dan harga, infrastruktur dan
kelengkapannya, jenis industri dan asal investor, daya dukung industri, serta
ketersediaan tenaga kerja digunakan untuk menetapkan lokasi.
Untuk pengembangannya, hasil analisis kebijakan existing dan kebijakan
yang masih diperlukan baik di Pusat maupun di Daerah, dapat diajukan
sebagai usulan kebijakan untuk pengembangan investasi, baik itu berupa
insentif, maupun berbagai fasilitas serta kemudahan yang ditawarkan.
Melalui strategi pengembangan potensi ekonomi wilayah kemudian dapat
ditetapkan pasar bagi produk-produk yang dihasilkan dan juga masuknya
investasi ke daerah.Dari analisis pasar kemudian dapat ditetapkan strategi
apakah untuk pasa lokal atau pasar ekspor. Dari analisis pasar ekspor,
kemudian ditetapkan strategi untuk pasar tradisional, pasar non tradisional
atau pasar alternatif.
Untuk pasar tradisional, sasarannya adalah negara tujuan/ mitra dagang
utama, dan pada umumnya adalah negara-negara yang sudah maju dan
memiliki ekonomi serta teknologi yang kuat. Selain itu biasanya juga
merupakan anggota dari WTO. Untuk pasar non tradisional dan pasar
alternatif, sasarannya adalah negara-negara yang ekonominya kuat atau
menengah dan berpotensi menjadi mitra dagang.
Strategi pengembangan potensi ekonomi daerah ini harus dibuat
berdasarkan peluang serta potensi yang dimiliki oleh suatu daerah dengan
menonjolkan kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh suatu daerah dan
kebijakan-kebijakan pemerintah setempat yang ramah terhadap dunia usaha.
Dengan pengelolaan yang baik dan profesional, tentunya akan berdampak

19
positif bagi perekonomian di daerah, yaitu dengan semakin banyaknya usaha-
usaha baru yang berdiri, tenaga kerja yang semakin mudah terserap,
pendapatan asli daerah semakin bertambah, dan meningkatnya indeks
perekonomian daerah.

20
BAB III
TEORI KUTUB PERTUMBUHAN

3.1 Dasar Teori Kutub Pertumbuhan.


Teori Kutub Pertumbuhan pertama kali diperkenalkan oleh seorang ahli
ekonomi yang berasal dari Perancis, Francis Perroux (1950) dengan teorinya
Pole Croisanse atau Pole de Development. Ia mendefinisikan pengertian dari
kutub pertumbuhan regional sebagai seperangkat industri-industri sedang
mengalami perkembangan, dan berlokasi di suatu daerah perkotaan dan
mendorong perkembangan lanjut dari kegiatan ekonomi melalui daerah
pengaruhnya.
Teori ini dikemukakan oleh Perroux pada tahun 1955, atas dasar
pengamatan terhadap proses pembangunan. Perroux mengakui kenyataan
bahwa pembangunan tidak terjadi dimana-mana secara serentak, tetapi
muncul ditempat-tempat tertentu dengan intensitas yang berbeda. Tempat-
tempat itulah yang dinamakan titik-titik dan kutub-kutub pertumbuhan. Dari
titik-titik dan kutub-kutub pertumbuhan itulah pembangunan akan menyebar
melalui berbagai saluran dan mempunyai akibat akhir yang berlainan pada
perekonomian secara keseluruhan.
Perroux menekankan pada dinamisme industri-industri dan aglomerasi
industri-industri di bagian-bagian tata ruang geografis. Konsep kutub
pertumbuhan dapat digunakan sebagai alat untuk mengamati gejala-gejala
pembangunan, proses kegiatan-kegiatan ekonomi, timbul dan berkembangnya
industri-industri pendorong serta peranan keuntungan-keuntungan
aglomerasi. Secara esensial teori kutub pertumbuhan dikategorisasikan
sebagai teori dinamis.
Kutub pertumbuhan regional terdiri dari suatu kumpulan industri-industri
yang mengalami kemajuan dan saling berhubungan, serta cenderung
menimbulkan anglomerasi yang disebabkan oleh adanya faktor-faktor
ekonomi/eksternal (Sihotang ,2001 : 98). Pemikiran dasar dari teori kutub
pertumbuhan ini adalah kegiatan ekonomi di dalam suatu daerah cenderung

21
terpusat pada satu titik lokal (pusat), dan titik-titik lokal ini akan memberikan
pengaruhnya terhadap perkembangan ekonomi yang ada pada daerah yang
berada disekitar titik.
Mengingat pengamatan diatas teori ini menyarankan keperluan untuk
memusatkan investasi dalam sejumlah sektor kecil sebagia sektor kunci di
beberapa tempat tertentu. Dalam memusatkan usaha pada sejumlah sektor dan
tempat yang kecil diharapkan pembangunan akan menjalar pad sektor lain
pada seluruh wilayah, dengan demikian sumber-sumber material dan
manusiawi yang digunakan dapat dimanfaatkan lebih baik dan lebih efisien.
Jadi pada dasarnya teori kutub pertumbuhan menerangkan akibat dari
sekelompok kesatuan-kesatuan yang memimpin atau karena polarisasi.
Dalam mengembangkan teorinya, Perroux sangat terpengaruh dan
mendasarkan pada teori Schumpeter. Pada umumnya unit-unit ekonomi
berskala besar dapat mendominasi pengaruh-pengaruhnya terhadap unit-unit
ekonomi lainnya. Konsep Perroux mempunyai pengertian adanya kaitan erat
antara skala perusahaan, dominasi, dan dorongan untuk melakukan inovasi.
3.2 Teori Kutub Pertumbuhan (Francois Perroux, 1995)
Sebagaimana diketahui bahwa potensi dan kemampuan masing-masing
wilayah berbeda-beda satu sama lainnya, demikian pula masalah pokok
yangdihadapinya tidak sama. Sehingga usaha-usaha pembangunan sektoral
yang akandilaksanakan harus disinkronisasikan dengan usaha-usaha
pembangunan regional. Hirschman mengatakan bahwa untuk mencapai
tingkat pendapatan yang lebih tinggi,terdapat keharusan untuk membangun
sebuah atau beberapa buah pusat kekuatanekonomi dalam wilayah suatu
negara, atau yang disebut sebagai pusat-pusat pertumbuhan (growth point atau
growth pole).
Terdapat elemen yang sangat menentukan dalam konsep kutub
pertumbuhan, yaitu pengaruh yang tidak dapat dielakkan dari suatu unit
ekonomi terhadap unit-unit ekonomi lainnya. Pengaruh tersebut semata
adalah dominasi ekonomi yang terlepas dari pengaruh tata ruang geografis

22
dan dimensi ekonomi yang terlepas dari pengaruh tata ruang geografis dan
dimensi tata ruang (geographic space and space dimension).
Proses pertumbuhanadalah konsisten dengan teori tata ruang ekonomi
(economic space theory), dimana industri pendorong (propulsive industries atau
industries motrice) dianggap sebagaititik awal dan merupakan elemen esensial
untuk pembangunan selanjutnya.Nampaknya Perroux lebih menekankan pada
aspek pemusatan pertumbuhan (Adisasmita, 2005). Hirschman berdalil bahwa
pertumbuhan awalnya terbatas pada wilayah-wilayah yang disukai, meskipun
ketimpangan menyebar berdasarkan letak geografis, meliputi terpencil dan
pertumbuhan ini terjadi melalui dampak hubungandengan kutub-kutub
pertumbuhan.
Teori kutub pertumbuhan menyajikan dua fungsi baik fungsi idiologi
maupun fungsi politik. Di dalam suatu arti idiologis dan padasuatu tingkat
teoritis yang tidak dapat diambil melalui pertanyaan-pertanyaan sosialyang
lebih mendalam. Teori kutub pertumbuhan bersandar terhadap mekanisme
hargasebagai faktor penengah dan retribusi sumberdaya. Perroux menetapkan
bahwa sektor-sektor pertumbuhan didefinisikan dengan hubungan-hubungan
ekonomi dengan unit-unit lain di dalam ekonomi.
Boudeviile (1978: 12) menyatakan bahwa kutub pertumbuhan regional
sebagai kelompok industri yang mengalami ekspansi yang berlokasi di
daerah perkotaan akan mendorong perkembangan kegiatan ekonomi daerah
sekitarnya yang berada dalam cakupannya. Hubungan positif ini diharapkan
dapat mengangkat pertumbuhan daerah sekitarnya yang mempunyai
keterbatasan dalam sumbernya. Menurut Kadariah (1985: 24) bahwa kutub
pertumbuhan dapat diartikan sebagai berikut:
a. arti fungsional, growth pole digambarkan sebagai suatu kelompok
perusahaan cabang industri atau unsur-unsur dinamis yang merangsang
kehidupan ekonomi. Hal terpenting di sini adalah adanya permulaan dari
serangkaian perkembangan dengan efek multipliernya;\
b. arti geografis, diartikan sebagai suatu pole atraction yang menyebabkan
berbagai macam usaha tertarik untuk berkumpul disuatu tempat tanpa

23
adanya hubungan antara usaha-usaha tersebut. Namun tidak berarti
bahwa growth pole yang fungsional tidak mempunyai pengaruh.
c. Growth pole merupakan potensi perkembangan bagi unsur-unsur
ekonomi yang ada dan dapat menarik unsur-unsur ekonomi yang tidak
ada, sehingga dapat menimbulkan permulaan suatu proses
perkembangan. Berdasarkan alasan tersebut growth pole sering dijadikan
peralatan kebijakan ekonomi terutama pada negara-negara yang sedang
berkembang.
Menurut Arsyad (1999: 148) bahwa inti dari teori Perroux ini adalah
sebagai berikut:

a. Dalam proses pembangunan akan muncul industri unggulan yang


merupakan industri penggerak utama dalam pembangunan suatu daerah
karena keterkaitan antara industri (forward linkage dan backward
linkage), maka perkembangan industri unggulan akan mempengaruhi
perkembangan industri lainnya yang berhubungan erat dengan industri
unggulan tersebut;
b. Pemusatan industri pada suatu daerah akan mempercepat pertumbuhan
ekonomi, karena pemusatan industri akan menciptakan pola konsumsi
yang berbeda antardaerah sehingga perkembangan industri di daerah
akan mempengaruhi perkembangan daerah-daerah lainnya;
c. Perekonomian merupakan gabungan dari sistem industri yang relatif aktif
(industri unggulan) dengan industri-industri yang relatif pasif yaitu
industri yang tergantung dari industri unggulan atau pusat pertumbuhan.
Daerah yang relatif maju atau aktif akan mempengaruhi daerah-daerah
yang relatif pasif. Diharapkan dari ide ini adalah munculnya trickle down
effect dan spread effect.
Pusat pertumbuhan dapat diartikan dengan dua cara: secara fungsional,
pusat pertumbuhan adalah suatu lokasi konsentrasi kelompok usaha atau
cabang industri yang karena sifat hubungannya memiliki unsur-unsur
kedinamisan sehingga mampu mendorong kehidupan ekonomi baik ke dalam

24
maupun ke luar. Secara geografis, pusat pertumbuhan adalah suatu lokasi
yang banyak memiliki fasilitas dan kemudahan sehingga menjadi pusat daya
tarik. Menurut Arsyad (1999) bahwa inti dari teori Perroux ini adalah sebagai
berikut:
a. Dalam proses pembangunan akan muncul industri unggulan yang
merupakan industri penggerak utama dalam pembangunan suatu daerah
karena keterkaitan antara industri (forward linkage dan backward
linkage), maka perkembangan industri unggulan akan mempengaruhi
perkembangan industri lainnya yang berhubungan erat dengan industri
unggulan tersebut;
b. Pemusatan industri pada suatu daerah akan mempercepat pertumbuhan
ekonomi, karena pemusatan industri akan menciptakan pola konsumsi
yang berbeda antardaerah sehingga perkembangan industri di daerah
akan mempengaruhi perkembangan daerah-daerah lainnya;
c. Perekonomian merupakan gabungan dari sistem industri yang relatif aktif
(industri unggulan) dengan industri-industri yang relatif pasif yaitu
industri yang tergantung dari industri unggulan atau pusat pertumbuhan.
Daerah yang relatif maju atau aktif akan mempengaruhi daerah-daerah
yang relatif pasif. Diharapkan dari ide ini adalah munculnya trickle
down effect dan spread effect.
3.3 Regional Cluster
a. Integrasi Fungsional Spasial
Konsep sistem: Sistem yg terintegrasi dari berbagai pusat pelayanan
{growth center} dari berbagai tingkatan serta mpy fungsi karakteristik yg
berperan penting dlm memfasilitasi pengembangan wilayah yg lebih
merata.
b. Integrasi Teritorial
Pemusatan hubungan antara desa kota secara hierarkis akan
memperlemah dan mematikan usaha-usaha kecil dan jaringan
perdagangan serta jaringan organisasi pekerja yang dibentuk di kota kecil
dan pedesaan.

25
Teori Kutub Pertumbuhan ( Francois Perroux ) Merupakan
perkembangan modern dari titik titik pertumbuhan yang berasal dari para
ahli Ekonomi Wilayah yang di pelopori oleh Francois Perroux ( 1955 ).
Perroux telah mengembangkan konsep kutub pertumbuhan, dalam artikelnya
yang berjudul Note sur Nation de Pole croissance. Menurut pendapatnya,
pertumbuhan ataupun pembangunan tidak di dilakukkan diseluruh tata
ruang, tetapi terbatas pada beberapa tempat atau lokasi tertentu. Tata ruang
diidentifikasikannya sebagai arena atau medan kekuatan yang didalamnya
terdapat Kutub kutub atau pusat pusat. Setiap kutub mempunyai kekuatan
pancaran pengembangan keluar dan kekuatan tarikan ke dalam. Teori
menjelaskan tentang pertumbuhan Ekonomi dan khususnya mengenai Indutri
industri dan perusahaan perusahaan yang saling ketergantungannya, bukan
mengenai geografis dan pergeseran industry bbaik secara intra maupun inter.
Pada dasarnya teori kutub pertumbuhan mempunyai penngertian tata ruang
ekkonomi secara Abstrak. Kelebihan teori kutub pertumbuhan yaitu :
a. Merupakan langkah awal dalam integrasi Ekonomi secara Spasial dan
Regional
b. Kontribusi yang besar dalam pengembangan wilayah
c. Dapat menentukan mata rantai mata rantai antar industry.
Sedangkan kelemahan dari teori kutub pertumbuhan yaitu :
a. Kenyataannya menunjjukan bahwa besarnnya suatu industry secara
tersendiri tidak cukup menjamin keberhasilan pertumbuhan Ekonomi
b. Tidak memberikan penjelasan yang memuaskan mengenai proses
Algomerasi.: conntohnya industri industri tertarik mengadakann
algomerasi bukan karena sifat sifat oligopolistic industri pendorong,
akan tetapi karena penghematan penghematan eksternal yang
dihasilkan oleh daerah - daerah perkotaan besar.
c. Peranan industry pendorong selalu di tafsirkan terlalu berlebihan.
d. Merupakan konsep barat yang menekankan pada industri yang bermodal
dengan skala besar.

26
e. Kebijakan dari teori ini akan memprioritaskan pada strategi industri
perkotaan dengan demikian maka akan terdapat tuntutan untuk
mendistribusikan investasi dari daerah kota ke daerah daerah pedesaan
sedangkan pembangunan pedesaan tergolong berjalan lambat.

27
BAB IV
INVESTASI

4.1 Definisi Investasi


Teori ekonomi mendefinisikan investasi sebagai pengeluaran-
pengeluaran untuk membeli barang-barang modal dan peralatan-peralatan
produksi dengan tujuan untuk mengganti dan terutama menambah barang-
barang modal dalam perekonomian yang akan digunakan untuk
memproduksikan barang dan jasa di masa depan.
Menurut Boediono (1992), investasi pengeluaran oleh sektor produsen
untuk pembelian barang dan jasa untuk menambah stok yang digunakan atau
untuk perluasan pabrik. Sehingga dapat disimpulkan bahwa investasi itu
adalah sebuah keputusan untuk menunda konsumsi sumber daya atau bagian
penghasilan demi meningkatkan kemampuan menambah /menciptakan nilai
hidup (penghasilan dan atau kekayaan) dimasa mendatang. Peranan ini
bersumber dari tiga fungsi penting dari kegiatan investasi yaitu Investasi
merupakan salah satu komponen dari pengeluaran agregat, sehingga kenaikan
investasi akan meningkatkan permintaan agregat, pendapatan nasional dan
kesempatan kerja, Pertambahan barang modal sebagai akibat investasi akan
menambah kapasitas produksi dan Investasi selalu diikuti oleh perkembangan
teknologi
Investasi adalah kata kunci penentu laju pertumbuhan ekonomi, karena
disamping akan mendorong kenaikan output secara signifikan, juga secara
otomatis akan meningkatkan permintaan input, sehingga pada gilirannya akan
meningkatkan kesempatan kerja dan kesejahteraan masyarakat sebagai
konsekuensi dari meningkatnya pendapatan yang diterima masyarakat
(Makmun & Yasin, 2003 :63).
Rostow (dalam Todaro, 2000) menyatakan bahwa setiap upaya untuk
tinggal landas mengharuskan adanya mobilisasi tabungan dalam dan luar
negeri dengan maksud untuk menciptakan investasi yang cukup, untuk

28
mempercepat pertumbuhan ekonomi sehingga pada gilirannya akan
meningkatkan kesempatan kerja dan kesejahteraan masyarakat sebagai
konsekuensi dari meningkatnya pendapatan yang diterima masyarakat.
Menurut Sadono Sukirno (2000) kegiatan investasi memungkinkan suatu
masyarakat terus menerus meningkatkan kegiatan ekonomi dan kesempatan
kerja, meningkatkan pendapatan nasional maupun wilayah dan meningkatkan
taraf kemakmuran masyarakat. Peranan ini bersumber dari tiga fungsi penting
dari kegiatan investasi, yakni (1) investasi merupakan salah satu komponen
dari pengeluaran agregat, sehingga kenaikan investasi akan meningkatkan
permintaan agregat, pendapatan nasional serta kesempatan kerja; (2)
pertambahan barang modal sebagai akibat investasi akan menambah kapasitas
produksi; (3) investasi selalu diikuti oleh perkembangan teknologi.
4.2 Faktor faktor yang mempengaruhi investasi
Aktivitas investasi merupakan faktor yang sangat penting dalam
menggerakkan dan mendorong pertumbuhan ekonomi suatu wilayah. Namun
ada berbagaipertimbangan yang dirasa perlu oleh para investor yang membuat
harapan masuknya investasi, terutama investasi asing terkadang masih sulit
untuk diwujudkan pada wilayah-wilauah di Indonesia.
Faktor yang dapat mempengaruhi investasi yang dijadikan bahan
pertimbangan investor dalam menanamkan modalnya, antara lain:
a. Faktor kestabilan perekonomian suatu wilayah, yang dirasa penting bagi
investor dalam menjamin kepastian mereka berinvestasi
b. Faktor perubahan dan perkembangan teknologi
c. Faktor tingkat suku bunga dan Keempat faktor prospek ekonomi di masa
datang.
Mengenai masalah kestabilan perekonomian, merupakan suatu
pertimbangan yang penting dalam melakukan investasi. Sedangkan faktor
kemajuan teknologi juga penting dalam akan meningkatkan efisiensi produksi
dan mengurangi biaya produksi. Dengan kemajuan teknologi yang dimiliki
oleh suatu wilayahakan memberikan peluang lebih besar pula untukdapat
mendorong masuknya lebih banyak investasi.

29
Faktor ketiga adalah mengenai tingkat suku bunga. Faktor ini juga tidak
kalah pentingnya dalam menentukan tingkat investasi yang terjadi dalam
suatu wilayah/negara. Apabila di suatu negara tingkat suku bunganya rendah,
maka tingkat investasi yang terjadi akan tinggi karena kredit dari bank masih
menguntungkan untuk mengadakan investasi. Sebaliknya apabila tingkat
bunga tingginya, maka investasi dari kredit bank pun akan tidak
menguntungkan.
Adanya investasi dapat menjadi salah satu tolak ukur kemakmuran bagi
suatu wilayah dan juga masyarakatnya. Dengan adanya kegiatan investasi
dapat memungkinkan masyarakat untuk dapat meningkatkan kegiatan
ekonomi dan memperoleh kesempatan kerja, sedangkan bagi negara, kegiatan
investasi dapat meningkatkan pendapatan nasional. Semuanya itu berujung
pada satu kata yaitu, kemakmuran.
4.3 Investasi Dalam Menunjang Pembangunan Berkelanjutan
Pembangunan daerah yang lebih dikenal pengembangan Wilayah
menjadi salah satu isu utama saat ini terutama setelah diterbitkannya UU No.
22 Tahun 1999 tentang pemerintah daerah yang telah diperbaharui dengan
UU No. 32 Tahun 2004. Melalui undang-undang ini sistem pemerintah yang
sebelumnya bersifat sentralistik direformasi sehingga bobot pembangunan
didesentralisasi ke pemerintahan kabupaten dan kota dengan harapan
efesiensi dan kualitas pembangunan nasional akan semakin meningkat.
Asumsi yang mendasari hal ini adalah dengan menggeser bobot
pembangunan ke daerah maka proses pembangunan akan semakin dekat
dengan masyarakat dan lingkungan sehingga pengambilan keputusan tentang
strategi pembangunan dan pelaksanaannya akan lebih sesuai dengan kondisi
dan aspirasi masyarakat.
Desentralisasi ekonomi merupakan salah satu dari kebijakan
desentralisasi yang sedang dilaksanakan di negara, disamping desentralisasi
kewenangan pemerintahan dan desentralisasi fiskal. Kebijakan desentralisasi
ekonomi diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara
merata.Melalui desentralisasi ekonomi masyarakat yang tersebar di seluruh

30
daerah mempunyai peluang untuk mendapat kesempatan meraih
kesejahteraan secara merata. Menghadapi persaingan di era pasar bebas
regional maupun global, kebijakan desentralisasi ekonomi yang dilaksanakan
dalam rangka implementasi kebijakan otonomi daerah haruslah mampu
meningkatkan kemampuan daya saing pelaku ekonomi nasional dan daerah.
Pembangunan yang berlangsung selama ini sebelum otonomi daerah
ternyata menciptakan kesenjangan yang lebar antar daerah, seperti antara
Jawa dan luar Jawa, antara Kawasan Barat Indonesia (KBI) dan Kawasan
Timur Indonesia (KTI), serta antara kota dan desa. Untuk dua konteks
pertama, ketimpangan telah berakibat langsung pada munculnya semangat
kedaerahan yang pada titik yang paling ekstrim, muncul dalam bentuk upaya-
upaya separatis. Sedangkan untuk konteks yang ketiga kesenjangan antara
desa dan kota diakibatkan oleh investasi ekonomi (infrastruktur dan
kelembagaan) yang cenderung terkonsentrasi di daerah perkotaan. Akibatnya,
kota mengalami pertumbuhan yang lebih cepat sedangkan wilayah perdesaan
relatif tertinggal.
Beberapa masalah dan tantangan yang harus diselesaikan dalam memacu
pembangunan daerah melalui pengembangan kawasan strategis dan cepat
tumbuh antara lain : a) kurangnya kesigapan daerah-daerah dalam
mempercepat pengembangan wilayah dan memanfaatkan peluang dan minat
investasi di daerah berkaitan dengan era perdagangan bebas, b) masih
terbatasnya SDM yang profesional dan belum berkembangnya infrastruktur
kelembagaan modern dalam perekonomian daerah, c) belum optimalnya
keterlibatan swasta, lembaga non pemerintah, dan masyarakat lokal dalam
pembangunan kawasan, d) masih terbatasnya akses pelaku usaha skala kecil
terhadap modal, input produksi, teknologi, pasar, serta peluang usaha dan
kerjasama investasi, e) keterbatasan jaringan prasarana dan sarana fisik dan
ekonomi di daerah dalam mendukung pengembangan kawasan dan potensi
unggulan daerah.
Pada prinsipnya pembangunan daerah mengandung arti dapat
memperbaiki tingkat kesejahteraan hidup di wilayah tertentu, memperkecil

31
kesenjangan pertumbuhan dan ketimpangan antar wilayah. Mutaali (2006)
melihat bahwa konsep yang pernah berkembang sebelumnya didominasi oleh
ilmu ekonomi regional walaupun sesungguhnya penerapannya akan lebih
banyak bergantung pada potensi pertumbuhan setiap wilayah yang akan
berbeda dengan wilayah lain, baik potensi SDA, kondisi sosial budaya,
ekonomi masyarakat dan ketersediaan infrastruktur.
Pendekatan kewilayahan pada masa kini pada umumnya didasari atas
adanya masalah-masalah ketidakseimbangangan demografi dalam suatu
daerah dengan daerah lain dan adanya kebutuhan mendesak di daerah
tertentu. Beberapa pendekatan dalam pengembangan wilayah berdasarkan
karakter dan sumber daya daerah (Mutaali, 2006)diantaranya : 1)
Pengembangan wilayah berbasis sumberdaya, dengan beberapa strategi
diantaranya a) Pengembangan wilayah berbasis input namun surplus sumber
daya manusia, b) pengembangan wilayah berbasis input namun surplus
sumber daya alam, 2) pengembangan wilayah berbasis komoditas
keunggulan, dimana konsep ini menitik beratkan pada komoditas unggulan
suatu wilayah sebagai motor penggerak pembangunan baik di tingkat
domestik maupun internasional, 3) Pengembangan wilayah berbasis efisiensi,
dasar penekanannya melalui pembangunan bidang ekonomi yang porsinya
lebih besar dibandingkan dengan bidang-bidang yang lain dan 4)
Pengembangan wilayah berbasis pelaku pembangunan, fokus utama konsep
ini diantaranya: usaha kecil/rumah tangga, usaha lembaga sosial, lembaga
bukan keuangan dan pemerintah (goverment).
Kondisi tersebut dalam jangka panjang dapat mengakibatkan dampak
yang lebih serius dalam bentuk adanya kesenjangan regional yang dapat
terwujud baik antara pusat pertumbuhan dengan daerah penyangga
(hinterland) atau antar daerah yang satu dengan daerah yang lain. Pada
dasarnya bentuk kesenjangan yang sering terjadi diantaranya dimana pusat
pertumbuhan dengan daerah penyangga sering dianggap identik dengan
kesenjangan antara kota dan desa, antara sektor industri dan pertanian. Dalam
hal ini wilayah perkotaan terutama kota-kota besar selalu menawarkan

32
fasilitas yang lebih banyak dan lebih baik dibandingkan wilayah pedesaan.
Bentuk kesenjangan yang lain terjadinya kesenjangan antar daerah dalam
prosesnya. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa perbedaan geografis,
potensi Sumberdaya Manusia dan Sumberdaya Alam serta perkembangan
sosial ekonomi antara daerah akan mengakibatkan perbedaan daya tarik bagi
berbagai investasi. Apabila di ingat, bahwa tidak jarang ekspansi ekonomi
didaerah yang sudah berkembang seringkali langsung atau tidak langsung
dapat merugikan perkembangan daerah yang lebih terbelakang.
Investasi di beberapa daerah menunjukkan adanya perbaikan kinerja
investasi di perekonomian.Realisasi penanaman modal menunjukan tren
meningkat semenjak kuartal III tahun 2006.Tren positif tersebut sejalan
dengan terus membaiknya kondisi perekonomian. Pada kuartal I 2007,
berdasarkan yearly basis, realisas Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN)
tumbuh sebesar 60,24% dan realisasi Penanaman Modal Asing (PMA)
tumbuh sebesar 14,96%. Kondisi ini mencerminkan terus meningkatnya
kepercayaan investor dalam dan luar negeri atas perkembangan ekonomi
makro dan penurunan tingkat resiko investasi, serta keyakinan atau
kepercayaan akan kebijakan pemerintah yang diambil selama ini sehingga
tertarik untuk melakukan investasi dalam jangka panjang melalui
pembangunan fisik (Sri Muliani, 2008).
Penerapan paket kebijakan investasi, pembenahan sektor jasa keuangan,
dan percepatan pembangunan infrastruktur yang saat ini dilaksanakan,
diharapkan akan terus mendongkrak nilai investasi Indonesia. Hal ini juga
didorong dengan memanfaatkan besarnya peluang dari daya tarik kinerja
ekonomi Asia dan ASEAN yang menjadikan wilayah tersebut sebagai
prioritas utama bagi investor besar di dunia untuk menanamkan modalnya.

33
BAB V
STRUKTUR EKONOMI PERKOTAAN

5.1 Struktur Ekonomi Perkotaan


Struktur ekonomi setiap kota berbeda-beda tergantung pada sektor
apa/mana yang dapat menjadi tulang punggung perekonomian kota yang
bersangkutan. Adapun struktur ekonomi suatu kota seperti pertanian, industri,
pertambangan, perdagangan dan jasa. Di dalam struktur ekonomi tersebut
terdapat unsure-unsure penunjang yang bertujuan supaya struktur ekonomi
yang dapat berfungsi dengan baik. Berikut adalah unsure-unsure yang ada
dalam struktur perekonomian suatu kota beserta dengan masalah yang timbul
dan solusi yang seharusnya dilakukan;
a. Tempat Tinggal (Wisma)/ Perumahan
Perumahan (papan) merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia.
Perumahan mempunyai peranan penting dalam meningkatkan stabilitas
sosial, dinamika masyarakat dan produktivitas kerja. Namun
pertambahan penduduk kota yang sangat pesat akan meningkatkan
kebutuhan terhadap perumahan yang semakin besar pula hal ini
menimbulkan banyak hambatan disebabkan karena rendahnya
kemampuan ekonomi sebagaian besar penduduknya dan tingginya biaya
pembangunan perumahan. Tingginya biaya disebabkan karena
keterbatasan factor-faktor produksi perumahan seperti tanah ( lahan),
bahan bangunan, dll. Permasalahan : Semakin banyak tumbuh
perumahan yang kurang memenuhi persyaratan bagi perumahan yang
layak dan lingkungan yang sehat (kumuh). Solusi : Dibangunnya
perumahan rakyat yang memenuhi standar yang telah ditetapkan yaitu
jumlah yang memadai di dalam lingkungan yang sehat, kuat dari segi
teknis dan dalam jangkauan masyarakat.

34
b. Tempat Pekerjaan (Karya)
Kota-kota besar sebagai pusat-pusat kegiatan dapat ditandai dengan
terjadinya aglomerasi industry dan arus urbanisasi. Sehingga fungsi dan
peranan kota sangat penting sebagai pusat kegiatan produksi, distribusi,
dan konsumsi. Aglomerasi menurut teori lokasi modern merupakan
salah satu faktor yang mempengaruhi aktifitas ekonomi, aglomerasi juga
menjadi salah satu faktor disamping keunggulan komparatif dan skala
ekonomi menjelaskan mengapa timbul daerah-daerah dan kota-kota
(Soepono, 2002).
Terdapat dua macam aglomerasi, yaitu aglomerasi produksi dan
aglomerasi pemasaran (Soepono, 2002). Dikatakan aglomerasi produksi
bilamana tiap perusahaan yang mengelompok/kluster atau beraglomerasi
mengalami eksternalitas positif di bidang produksi, artinya biaya
produksi perusahaan berkurang pada waktu produksi perusahaan lain
bertambah. Sedangan, Aglomerasi pemasaran adalah perusahaan-
perusahaan dagang atau banyak toko mengelompok dalam satu lokasi.
Aglomerasi Industri yaitu pemusatan industri di suatu kawasan
tertentu dengan tujuan agar pengelolanya dapat optimal. Gejala
aglomerasi industri itu disebabkan karena hal-hal berikut :
1) Adanya persaingan industri yang semakin hebat dan semakin
banyak.
2) Melaksanakan segala bentuk efisiensi di dalam penyelenggaraan
industri.
3) Untuk meningkatkan produktivitas hasil industri dan mutu produksi.
4) Untuk memberikan kemudahan bagi kegiatan industri.
5) Untuk mempermudah kontrol dalam hubungan tenaga kerja, bahan
baku, dan pemasaran.
6) Untuk menyongsong dan mempersiapkan perdagangan bebas di
kawasan Asia Pasifik yang dimulai tahun 2020.

35
7) Melakukan pemerataan lokasi industri sesuai dengan jumlah secara
tepat dan berdaya guna serta menyediakan fasilitas kegiatan industri
yang berwawasan lingkungan.
Selain aglomerasi, arus urbanisasi merupakan ciri khas sebuah kota
sebagai pusat dari kegiatan perekonomian. Faktor pendorong
pertumbuhan ekonomi di perkotaan yaitu :
1) Daerah belum maju
2) pekerjaan
3) Penghasilan rendah
Sedangkan Faktor penarik pertumbuhan ekonomi perkotaan yaitu :
1) Proses aglomerasi/polarisasi
2) Penghasilan/upah yang lebih tinggi
3) Melanjutkan sekolah
4) Kebebasan pribadi
5) Hiburan
6) adat
Permasalahan yang dihadapi adalah sebagai berikut :
1) Pertumbuhan penduduk kota yang sangat cepat sering kali tidak
diimbangi dengan penyediaan lapangan kerja yang memadai yang
pada akhirnya akan menimbulkan pengangguran, beban pemerintah,
keonaran sering terjadi di dalam masyarakat, perkampungan kumuh
dan peningkatan angka kriminalitas.
2) Sebagian kegiatan produktif di perkotaan terjadi atau berada pada
gedung-gedung dan antar gedung. Pembangunan gedung-gedung
tersebut berkembang cepat , bahkan sebagian tidak terarah atau tidak
terkontrol dengan baik.
Solusi dari permasalahan di atas yaitu :
1) Pemerintah harus berusaha menciptakan iklim yang menggairahkan
terhadap kegiatan ekonomi, baik dalam arti menciptakan lapangan
kerja baru maupun memperluas kegiatan yang sudah ada. Diantaranya,
mengadakan perbaikan kondisi pemukiman, penentuan lokasi kegiatan

36
industry yang tepat, mendorang inisiatif (prakarsa) dan usaha swasta
seluas mungkin serta usaha-usaha lainnya dalam rangka penciptaan
dan perluasan lapangan kerja di dalam wilayah perkotaan.
2) Pemerintah kota harus menciptakan lingkungan fisik perkotaan (urban
setting) yang serasi dan harmonis. Keadaan tempat-tempat pekerjaan
harus diusahakan sedapat mungkin memenuhi persyaratan kesehatan,
keamanan, kebersihan dan keindahan.
5.2 Perubahan Struktur Ekonomi dalam Proses Pembangunan
Bahwa struktur ekonomi akan mengalami perubahan dalam proses
pembangunan ekonomi, sudah lama disadari oleh ahli-ahli ekonomi. Tulisan
A.G.B. Fisher dalam International Labour Review pada tahun 1935 telah
mengemukakan pendapat bahwa berbagai negara dapat dibedakan
berdasarkan kepada persentasi tenaga kerja yang berada di sektor primer,
sekunder dan tertier. Pendapat ini dibuktikan oleh Clark yang telah
mengumpulkan data statistik mengenai persentasi tenaga kerja yang bekerja;
di sektor primer, sekunder dan tertier di beberapa negara. Data yang
dikumpulkannya itu menunjukkan bahwa makin tinggi pendapatan per kapita
sesuatu negara, makin kecil peranan sektor pertanian dalam menyediakan
kesempatan kerja. Akan tetapi sebaliknya, sektor industri makin penting
peranannya dalam menampung tenaga kerja.
Kuznets, Chenery dan beberapa penulis lainnya mengadakan
penyelidikan lebih lanjut mengenai perubahan struktur ekonomi dalam proses
pembangunan. Kuznets bukan saja menyelidiki tentang perubahan persentasi
penduduk yang berkerja di berbagai sektor dan subsektor dalam
pernbangunan ekonomi, akan tetapi juga menunjukkan perubahan sumbangan
berbagai sektor kepada produksi nasional dalam proses tersebut. Sedangkan
Chenery mengkhususkan analisanya kepada menunjukkan corak perubahan
sumbangan berbagai sektor dan industri-industri dalam sub-sektor industri
pengolahan kepada produksi nasional.

37
BAB VI
ANALISIS HUBUNGAN ANTAR DAERAH/WILAYAH

6.1 Pengertian Wilayah dan Daerah


Wilayah memiliki pengertian suatu daerah geografis yang memiliki luas
tertentu atau ada batas administrasi. Daerah (region) adalah lebih menunjuk
kepada wilayah administrasi yang lebih luas dibandingkan dengan kota, dapat
berupa daerah provinsi, kabupaten, kecamatan atau desa. Sukirno (1981)
menjelaskan bahwa dalam menganalisa wilayah dapat dibedakan dalam tiga
pengertian yaitu:
a. Daerah atau wilayah adalah suatu ruang atau area geografis dipelbagai
pelosok yang mempunyai kesamaaan sifat baik menurut kriteria sosial,
ekonomi maupun politik yang dikenal dengan sebutan daerah homogen.
b. Perbatasan diantara pelbagai daerah ditentukan oleh tempat-tempat
dimana pengaruh dari satu atau beberapa pusat kegiatan ekonomi
digantikan dengan pengaruh dari pusat lainnya, daerah ini disebut daerah
nodal.
c. Suatu daerah dibedakan menurut batas-batas administratif dalam suatu
daerah atau wilayah.
6.2 Konsep Perwilayahan
Dalam melakukan studi mengenai pembangunan wilayah, hal yang perlu
dijelaskan adalah beberapa konsep tentang wilayah (region). John Glasson
(1978) mengemukakan konsep tentang wilayah sebagai metode klasifikasi
muncul melalui dua fase yang berbeda, yaitu yang mencerminkan kemajuan
ekonomi dari perekonomian sederhana ke sistem industri yang kompleks.
Pada fase pertama memperlihatkan wilayah formal yaitu berkenaan dengan
keseragaman dan didefinisikan menurut homogenitas. Fase kedua
memperlihatkan perkembangan wilayah fungsional yaitu berkenaan dengan
interdependensi, saling hubungan antara bagian-bagian dan didefinisikan
menurut koherensi fungsional.

38
Wilayah formal adalah wilayah geografik yang seragam atau homogen
menurut kriteria tertentu. Pada awalnya kriteria yang digunakan untuk
mendefinisikan daerah formal, terutama adalah bersifat fisik seperti topografi,
iklim dan vegetasi dikaitkan dengan konsep determinasi geografik. Tetapi
berikutnya terjadi peralihan kepada penggunaan kriteria ekonomi, seperti tipe
industri atau tipe pertanian. Wilayah alamiah adalah wilayah formal fisik.
Wilayah fungsional adalah wilayah geografik yang memperlihatkan suatu
koherensi fungsional tertentu, suatu interdependensi dari bagian-bagian, bila
didefinisikan berdasarkan kriteria tertentu. Wilayah fungsional ini kadang-
kadang disebut sebagai wilayah nodal atau polarized regiondan terdiri dari
satuan-satuan yang heterogen, seperti desa-kota yang secara fugsional saling
berkaitan. Wilayah formal atau wilayah fugsional ataupun gabungan
keduanya memberikan suatu kerangka bagi klasifikasi tipe wilayah yang
ketiga yaitu wilayah perencanaaan.
Klasifikasi tentang wilayah di atas tidak jauh berbeda dengan klasifikasi
yang dikemukakan oleh Robinson Tarigan (2004). Wilayah diartikan sebagai
satu kesatuan ruang secara geografis yang mempunyaitempat tertentu tanpa
terlalu memperhatikan soal batas dan kondisinya. Wilayah menurut tipe-
tipenya dapat dipilah menjadi 3 (tiga) macam:
a. Wilayah homogen (homogeneous region), yaitu wilayah-wilayah yang
mempunyai karakteristik seragam. Keseragaman ciri-ciri tersebut bisa
dilihat menurut faktor ekonomi, goegrafi, sosial budaya dan aspek-aspek
lainnya.
b. Wilayah heterogen (nodal region), yaitu wilayah-wilayah yang saling
berhubungan secara fungsional karena adanya
heterogenitas(ketidakmerataan). Wilayah-wilayah tersebut saling
melengkapi tetapi dengan fungsi yang berbeda, pada umumnya
berlangsung antara wilayah pusat (core) dengan wilayah pinggiran
(periphery/hinterland).
c. Wilayah perencana (planning region), yaitu wilayah-wilayah administrasi
yang berada dalam kesatuan kebijakan atau administrasi. Contohnya

39
adalah wilayah yang tergolong dalam provinsi, kota, kabupaten,
kecamatan dan desa.
6.3 Pembangunan Ekonomi Lokal dan Pembangunan Ekonomi Regional
Pembangunan ekonomi wilayah adalah suatu usaha mengembangkan dan
meningkatkan hubungan interdepensi dan interaksi antara sistem ekonomi
(economic system), sistem masyarakat (social system), lingkungan hidup
(environtment) dan sumber daya alam (eco system). (Ambardi, etl, 2002).
Menurut Arsyad (1999), pembangunan ekonomi biasanya didefinisikan
sebagai suatu proses yang menyebabkan kenaikan pendapatan riil per kapita
penduduk suatu negara dalam jangka panjang yang disertai oleh perbaikan
sistem kelembangaan.
Regional lmu ekonomi pembangunan didefinisikan sebagai cabang ilmu
ekonomi yang menganalisa masalah-masalah yang dihadapi oleh negara
sedang berkembang dan mencari cara-cara untuk mengatasi masalah-masalah
ini agar negara-negara berkembang dapat membangun ekonominya lebih
cepat lagi (Arsyad, 1999). Sedangkan ilmu ekonomi regional menurut
Tarigan (2004) adalah cabang ilmu ekonomi yang dalam pembahasannya
memasukkan unsur perbedaan potensi satu wilayah dengan wilayah lain.
Dari uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa regional adalah
wilayah yang melibatkan beberapa kabupaten atau kota. Jadi pembangunan
regional menitikberatkan pada pembangunan yang melibatkan beberapa
kabupaten/kota sedangkan pembangunan lokal hanya melibatkan satu
kabupaten atau satu kota saja.
6.4 Sektor Ekonomi Potensial
Sektor ekonomi potensial atau sektor unggulan dapat diartikan sebagai
sektor perekonomian atau kegiatan usaha yang produktif dikembangkan
sebagai potensi pembangunan serta dapat menjadi basis perekonomian suatu
wilayah dibandingkan sektor-sektor lainnya dalam suatu keterkaitan baik
secara langsung maupun tak langsung (Tjokroamidjojo, 1993).

40
Sektor ekonomi potensial ini dapat berupa sektor basis, dimana menurut
Glasson (1978) sektor basis merupakan sektor yang mengekspor barang dan
jasa ke wilayah-wilayah diluar batas-batas perekonomian setempat. Besarnya
pendapatan pengeluaran dalam sektor basis merupakan fungsi dari
permintaan wilayah-wilayah lain. Tingkat pendapatan yang diperoleh sektor
basis tercermin dari tingkat produksinya, sehingga kemampuan produksi
sektor basis menjadi faktor penentu pendapatan wilayah. Adapun untuk
sektor non basis menyediakan barang dan jasa untuk masyarakat setempat
termasuk kebutuhan sektor basisnya.
Peningkatan sektor basis ditentukan oleh pembelanjaan pendapatan
sektor basis baik berupa faktor-faktor produksi maupun barang dan jasa yang
dibutuhkan pekerja sektor basis. Dengan demikian perkembangan sektor non
basis tergantung pada perkembangan sektor basisnya. Perluasan kegiatan-
kegiatan ekonomi disalurkan sektor basis kepada sektor-sektor non basis yang
mendukungnya secara langsung maupun tidak langsung. Keterkaitan
langsung berupa aliran faktor-faktor produksi yang meliputi bahan baku,
tenaga kerja, modal dan jasa produksi. Sektor ekonomi dapat disebut sebagai
sektor potensial jika memenuhi beberapa kriteria sebagai berikut:
a. Merupakan sektor ekonomi yang dapat menjadi sektor basis wilayah,
sehingga semakin besar barang dan jasa yang dapat diekspor maka
semakin besar pula tingkat pendapatan yang diperoleh suatu wilayah.
b. Memiliki kemampuan daya saing (competitive advantage) yang relatif
baik dibanding sektor sejenis dari wilayah lain. Perkembangan sektor ini
akan merangsang perkembangan sektor-sektor lain baik yang terkait
langsung maupun tidak langsung yang pada akhirnya akan memberikan
dampak positif terhadap perekonomian wilayah.
c. Memiliki sumberdaya yang dapat mendukung bagi pengembangannya
yang meliputi sumber daya alam dan sumber daya manusia. Semakin
tinggi tingkat ketersediaan sumber daya yang dimiliki maka semakin
tinggi pula tingkat pertumbuhan sektor ekonomi wilayah tersebut.

41
6.5 Kajian Pertumbuhan Wilayah
Suatu wilayah akan tumbuh dan berkembang diawali dari pusat kota
yang berinteraksi melalui pusat-pusat pertumbuhan lainnya mengikuti
hierarki dalam suatu pusat-pusat pertumbuhan. Jika ditinjau dari aspek ruang
ekonomi, menurut Sujarto (1981) bahwa dalam ruang ekonomi akan tercipta
pusat-pusat pertumbuhan dengan berbagai ukuran hierarki dan pembangunan
akan terstruktur secara makro melalui hierarki wilayah pusat dan secara
regional dari pusat tersebut ke masing-masing wilayah belakangnya.
Wilayah diidentifikasikan sebagai suatu area kekuatan yang didalamnya
terdapat pusat-pusat atau kutub-kutub. Setiap pusat atau kutub mempunyai
kekuatan pengembangan keluar dan kekuatan tarik ke dalam. Sejalan dengan
penjelasan tersebut, maka Perroux dalam Daldjoeni (1997) menjelaskan
bahwa konsep pertumbuhan kutub (growth pole) yang terpusat dan
mengambil tempat tertentu sebagai pusat pengembangan diharapkan
menjalarkan perkembangan ke pusat-pusat yang tingkatannya lebih rendah.
Dalam konsep tersebut terdapat istilah spread dan trickling down(penjalaran
dan penetesan) serta backwash dan polarization (penarikan dan pemusatan).
Kenyataan yang terjadi menurut teori sektor, dimana ruang lingkup dari
relokasi sumber daya internal adalah besar di daerah-daerah pertanian yang
miskin dari pada di daerah-daerah yang lebih berkembang. Konsekuensi yang
timbul dari proses tersebut adalah sebagaimana yang dikemukakan oleh
Myrdal (1957) bahwa suatu daerah yang lebih maju akan berkembang lebih
cepat dari peda yang kurang maju. Hal ini disebabkan karena backwash effect
yang ditimbulkan oleh daerah yang maju adalah lebih besar dari pada spread
effect.
Kondisi wilayah pusat pertumbuhan dihadapkan pada masalah yang
merupakan konsekuensi logis dari mengelompoknya penduduk dan aktivitas
di tempat-tempat tertentu, seperti yang dikemukakan oleh Oppeinheim bahwa
pertambahan jumlah penduduk tidak hanya disebabkan oleh faktor alami
melainkan juga disebabkan oleh adanya migrasi. Pergerakan penduduk erat
hubungannya dengan pemusatan penduduk di suatu kota atau daerah, dimana

42
terdapat kesempatan lapangan kerja atau pusat kegiatan yang dominan maka
disanalah arus pergerakan penduduk terjadi, hal ini dapat membantu dalam
mengetahui lokasi pusat kegiatan dan pola pusat kegiatan di suatu wilayah.
Sejalan dengan hal itu pertumbuhan dari daerah yang berada di sekitar
pusat kota akan mengalami pertumbuhan yang lambat karena adanya daya
tarik dari pusat kota, khususnya sumber daya manusia yang produktif dan
sumber daya ekonomi. Richardson (1974) menyebutkan sistem pusat
pertumbuhan merupakan sistem yang paling efisien dalam menjalarkan
perkembangan wilayah dan juga sistem ini dapat dipergunakan sebagai suatu
alat untuk mendistribusi pelayanan barang dan jasa bagi masyarakat luas.
Namun menurut Sujarto (1981) bahwa tanpa adanya hierarki yang jelas maka
akan sulit mekanisme penjalaran perkembangan dari pusat-pusat
pengembangan wilayah ekonomi yang terbentuk, malah kemungkinan besar
akan mempertajam kesenjangan yang ada antara kota-kota kecil dengan kota-
kota yang lebih besar atau antara wilayah perdesaan dengan wilayah
perkotaan.
Menurut Sujarto (1991) bahwa faktor-faktor pertumbuhan dan
perkembangan pola struktur pusat-pusat pelayanan dipengaruhi oleh tiga
faktor yaitu: 1. faktor manusia, 2. faktor kegiatan manusia dan 3. faktor pola
pergerakan manusia pada suatu pusat kegiatan ke pusat kegiatan lainnya.
Selanjutnya diterangkan bahwa faktor manusia menyangkut segi-segi
perkembangan penduduk kota naik karena kelahiran maupun karena migrasi
ke kota, perkembangan tenaga kerja, perkembangan status sosial dan
kemampuan ilmu pengetahuan serta penyerapan teknologi. Faktor kegiatan
manusia menyangkut segi-segi kegiatan kerja, kegiatan fungsional, kegiatan
perekonomian kota dan kegiatan hubungan regional yang lebih luas. Faktor
pola pergerakan disebabkan oleh faktor perkembangan penduduk yang
disertai dengan perkembangan fungsi kegiatannya yang akan membentuk
pola hubungan antara pusat-pusat kegiatan dengan sub-sub pusat kegiatan
lainnya.

43
6.6 Keterkaitan Antar Wilayah
a. Kaitan Intrasektoral dan Antarsektor
Keterkaitan ekonomi pada dasarnya menggambarkan hubungan
antara perekonomian suatu daerah dengan lingkungan sekitarnya dan
eksternalitasaglomerasi dipandang sebagai faktor penentu yang penting
dalam konsentrasi goegrafis kegiatan ekonomi di daerah perkotaan.
Kaitan intrasektoral (kaitan antar perusahaan dalam sektor yang sama)
dan kaitan antar sektor adalah suatu cara untuk melihat eksternalitas
aglomerasi, baik yang dipicu oleh input (pemasok) ataupun output
(pelanggan) (Kuncoro, 2002).
Lebih jauh Kuncoro menjelaskan bahwa untuk melihat eksternalitas
aglomerasi dan kaitan antar sektor digunakan model Input-Output(I-O).
Analisis I-O mencoba untuk menghitung ketergantungan ekonomi dalam
suatu daerah tertentu, baik sebuah negara, daerah atau sebuah daerah
metropolitan. Data I-O memberikan gambaran yang sangat jelas
mengenai hubungan antar sektor dalam suatu daerah dan transaksi antar
daerah diantara banyak sektor. Analisis I-O adalah suatu analisis atas
perekonomian wilayah secara komprehensif karena melihat keterkaitan
antar sektor ekonomi wilayah tersebut secara keseluruhan. Dengan
demikian, apabila terjadi perubahan tingkat produksi atas sektor tertentu,
dampaknya terhadap sektor lain dapat dilihat. Selain itu, I-O juga terkait
dengan tingkat kemakmuran masyarakat di suatu wilayah. Hal ini dapat
dilihat apabila terjadi perubahan tingkat produksi sektor tertentu, dapat
dilihat seberapa besar kemakmuran masyarakat akan bertambah ataupun
berkurang (Tarigan, 2005).
Hoover dalam Kuncoro (2002) menjelaskan bahwa model I-O
merupakan alat yang populer untuk menganalisis tiga jenis keterkaitan
spasial yang menjelaskan pertumbuhan ekonomi regional, yaitu:
keterkaitan horisontal, keterkaitan vertikal dan keterkaitan
komplementer. Keterkaitan horisontal meliputi persaingan antar pelaku
ekonomi, keterkaitan vertikal meliputi kaitan ke belakang (backward

44
linkage) yaitu daya tarik terhadap sumber bahan baku dan kaitan ke
depan (forward linkage) yaitu daya tarik terhadap pasar, sedangkan
keterkaitan komplementer diasosiasikan dengan pembentukan klaster
akibat memproduksi barang/jasa yang saling melengkapi ataupun yang
berkaitan/sejenis.
b. Kaitan Antar Daerah
Dalam analisis ekonomi regional harus disadari bahwa dalam suatu
wilayah terdapat perbedaan yang menciptakan suatu hubungan yang unik
antara uatu bagian dengan bagian lain dalam wilayah tersebut. Ada
tempat-tempat dimana penduduk/kegiatan berkonsentrasi dan ada tempat
dimana penduduk/kegiatan kurang terkonsentrasi. Hubungan antara
kedua tempat tersebut yang oleh Tarigan (2005) dikatakan sebagai
hubungan antara kota dengan wilayah belakangnya (hinterland).
Lebih lanjut Tarigan menerangkan bahwa hubungan antara kota dan
daerah belakangnya dapat dibedakan antara kota generatif, kota parasitif
dan kota enclave. Kota generatif adalah kota yang menjalankan
bermacam-macam fungsi, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk
daerah belakangnya sehingga bersifat saling
menguntungkan/mengembangkan. Kota parasitif adalah kota yang tidak
banyak berfungsi untuk menolong daerah belakangnya dan bahkan bisa
mematikan daerah belakangnya.
Kota parasitif umumnya adalah kota yang belum berkembang
industrinya dan masih memiliki sifat daerah pertanian tetapi juga
perkotaan sekaligus. Selain kedua bentuk hubungan tersebut, masih ada
satu bentuk hubungan yang tidak menguntungkan daerah belakangnya
yaitu kota yang bersifat enclave(tertutup). Kota ini seakan-akan terpisah
sama sekali dari daerah sekitarnnya, ia tidak membutuhkan input dari
daerah sekitarnya melainkan dari luar. Hal ini membuat daerah belakang
itu makin ketinggalan dan keadaan antara kota dengan desa makin
pincang. Untuk menghindari hal ini, daerah belakang perlu lebih

45
didorong dengan melakukan kerjasama agar pertumbuhan daerah
belakang bisa lebih sejajar dengan pertumbuhan kota.

46
BAB VII
TEORI LOKASI INDUSTRI

7.1 Definisi Teori Lokasi


Teori lokasi merupakan teori dasar yang sangat penting dalam analisa
spasial dimana tata ruang dan lokasi kegiatan ekonomi merupakan unsur
utama. Teori lokasi adalah ilmu yang menyelidiki tata ruang (spatial order)
kegitan ekonomi, atau ilmu yang menyelidiki alokasi geografis dari sumber-
sumber yang langka, serta hubungannya dengan atau pengaruhnya terhadap
lokasi berbagai macam usaha atau kegiatan lain baik ekonomi maupun sosial.
Berikut ini ada beberapa pengertian teori lokasi menurut para ahli yaitu
sebagai berikut:
1. Hoover dan Giarratan (2007)
Teori lokasi merupakan ilmu yang menyelidiki tata ruang kegiatan
ekonomi. Atau dapat juga diartikan sebagai ilmu tentang alokasi secara
geografis dari sumber daya yang langka, serta hubungannya atau
pengaruhnya terhadap lokasi berbagai macam usaha atau kegiatan lain
Secara umum, pemilihan lokasi oleh suatu unit aktivitas ditentukan oleh
beberapa faktor seperti:
a. Bahan baku lokal (local input).
b. Permintaan lokal (local demand).
c. Bahan baku yang dapat dipindahkan (transferred input).
d. Permintaan luar (outside demand).
2. Von Thunen (1826)
Mengidentifikasi tentang perbedaan lokasi dari berbagai kegiatan
pertanian atas dasar perbedaan sewa lahan (pertimbangan ekonomi).
Menurut Von Thunen tingkat sewa lahan adalah paling mahal di pusat
pasar dan makin rendah apabila makin jauh dari pasar. Von Thunen
menentukan hubungan sewa lahan dengan jarak ke pasar dengan
menggunakan kurva permintaan. Berdasarkan perbandingan (selisih)

47
antara harga jual dengan biaya produksi, masing-masing jenis produksi
memiliki kemampuan yang berbeda untuk membayar sewa lahan. Makin
tinggi kemampuannya untuk membayar sewa lahan, makin besar
kemungkinan kegiatan itu berlokasi dekat ke pusat pasar.
Hasilnya adalah suatu pola penggunaan lahan berupa diagram cincin.
Perkembangan dari teori Von Thunen adalah selain harga lahan tinggi di
pusat kota dan akan makin menurun apabila makin jauh dari pusat kota.
3. Weber (1909)
Menurut teori Weber pemilihan lokasi industri didasarkan atas
prinsip minimisasi biaya. Weber menyatakan bahwa lokasi setiap industri
tergantung pada total biaya transportasi dan tenaga kerja di mana
penjumlahan keduanya harus minimum. Tempat di mana total biaya
transportasi dan tenaga kerja yang minimum adalah identik dengan
tingkat keuntungan yang maksimum. Menurut Weber ada tiga faktor
yang mempengaruhi lokasi industri, yaitu biaya transportasi, upah tenaga
kerja, dan kekuatan aglomerasi atau deaglomerasi.
4. August Losch
Losch mengatakan bahwa lokasi penjual sangat berpengaruh
terhadap jumlah konsumen yang dapat digarapnya. Makin jauh dari
tempat penjual, konsumen makin enggan membeli karena biaya
transportasi untuk mendatangi tempat penjual semakin mahal. Losch
cenderung menyarankan agar lokasi produksi berada di pasar atau di
dekat pasar.
5. Menurut Isard (1956)
Masalah lokasi merupakan penyeimbangan antara biaya dengan
pendapatan yang dihadapkan pada suatu situasi ketidakpastian yang
berbeda-beda

48
7.2 Analisis Lokasi Industri
Pada dasarnya industri merupakan kegiatan pegolahan yang megubah
bentuk benda menjadi sesuatu yang memiliki nilai dan kegunaan berbeda dan
lebih besar. Pemilihan lokasi menentukan suatu tempat atau lokasi yang tepat
untuk suatu usaha, kegiatan dengan tujuan tertentu yang memperhitungkan
kelebihan dan kekurangan lokasi tersebut.
Penentuan lokasi indutri sangat penting, pemilihan lokasi industri harus
memperhatikan faktor-faktor yang berpengaruh yang berkaitan dengan proses
produki mulai dari input sampai dengan output, dan juga harus
memperhatikan faktor yang berkaitan dengan kondisi lingkungan luar.
Masalah lokasi timbul karena unsur-unsur yang mempengaruhi faktor lokasi
tersebut tidak selalu terdapat pada daerah yang sama dan sering terpencar.
Oleh karena itu, berdasarkan orientasi faktor-faktor lokasi yang
mempengaruhinya maka ada kecenderungan lokasi industri berada dekat
dengan bahan mentah atau berada dekat sumber tenaga atau berada sumber
tenaga kerja atau dekat dengan pasar. Pada umumnya industri demikian akan
memilih daerah pasar sebagai lokasinya.
7.3 Masalah tentang tata letak lokasi industri
Pada akhirnya ada beberapa kondisi yang dapat membawa ke persoalan
penentuan lokasi industri, yaitu:
1. Lokasi di kota besar (city location)
Diperlukan tenaga kerja terampil dengan jumlah yg besar.
Proses produksi tergantung pada fasilitas-fasilitas seperti listrik, gas,
dan lain-lain.
Kontak dengan pemasok dekat dan cepat.
Sarana transportasi dan komunikasi mudah didapatkan.
Harga tanah mahal.
Banyak persoalan tenaga kerja.
2. Lokasi di pinggir kota (suburban location)
Menghindari pajak yang berat.
Tenaga kerja tinggal dekat dengan lokasi pabrik.

49
Populasi tidak besar sehingga masalah lingkungan tidak banyak
timbul.
3. Lokasi jauh di luar kota (country location)
Lahan yg luas sangat diperlukan (ekspansi yang akan datang).
Pajak terendah lebih dikehendaki.
Tenaga kerja tidak terampil dalam jumlah besar lebih dikehendaki.
Upah buruh lebih rendah mudah didapatkan.
Baik untuk proses manufakturing produk-produk yg berbahaya.
7.4 Faktor faktor yang mempengaruhi lokasi industri menurut para ahli
7.4.1 Menurut Weber Dalam Tarigan (2005)
a. Biaya Transportasi
Biaya transportasi bertambah secara proporsional dengan jarak
sehingga titik terendah untuk biaya transportasi adalah titik yang
menunjukkan biaya minimum untuk angkutan bahan baku dan
distribusi hasil produksi. Konsep titik minimum tersebut
dinyatakan sebagai segitiga lokasi.
b. Biaya Upah
Produsen cenderung mencari lokasi dengan tingkat upah tenaga
kerja yang lebih rendah dalam melakukan aktivitas ekonomi
sedangkan tenaga kerja cenderung mencari lokasi dengan
konsentrasi upah yang lebih tinggi.
c. Keuntungan dari Konsentrasi Industri Secara Spasial
Konsentrasi spasial akan menciptakan keuntungan yang berupa
penghematan lokalisasi dan penghematan urbanisasi. Penghematan
lokalisasi terjadi apabila biaya produksi perusahaan pada suatu
industri menurun ketika produksi total dari industri tersebut
meningkat. Hal ini terjadi pada perusahaan/industri yang berlokasi
secara berdekatan.

50
7.4.2 Menurut Djojodipuro (1992)
a. Faktor Endowmen
Tersedianya faktor produksi secara kualitatif dan kuantitatif di
suatu daerah, berupa tanah (topografi, struktur tanah, cuaca, harga
tanah), tenaga dan manajemen (fringe benefit, labour turn over,
absenteeism, techno-structure), dan modal (industrial inertia,
industrial nursery).
b. Pasar dan Harga
Suatu daerah yang berpenduduk banyak secara potensial perlu
diperhatikan. Bila daerah ini disertai pendapatan perkapita yang
tinggi, maka pasar tersebut akan menjadi efektif dan semakin
meningkat bila disertai dengan distribusi pendapatan yang merata.
Luas pasar ditentukan oleh jumlah penduduk, pendapatan
perkapita, dan distribusi pendapatan.
c. Bahan Baku dan Energi
Proses produksi merupakan usaha untuk mentransformasikan bahan
baku kedalam hasil akhir yang memiliki nilai lebih tinggi. Jarak
antara lokasi pabrik dengan ketersediaan bahan baku
mempengaruhi biaya pengangkutan. Beberapa industri karena sifat
dan keadaan dari proses pengolahannya mengharuskan untuk
menempatkan pabriknya berdekatan dengan sumber bahan baku.
d. Aglomerasi, Keterkaitan Antar Industri, dan Penghematan
Ekstern
Aglomerasi adalah pengelompokkan beberapa perusahaan dalam
suatu daerah atau wilayah sehingga membentuk daerah khusus
industri.
e. Kebijakan Pemerintah
Kebijakan pemerintah terkait dengan kawasan industri, kawasan
berikat, kawasan ekonomi khusus (KEK), kawasan perdagangan
bebas (FTZ).

51
7.4.3 Menurut Sigit (1987)
a. Pasar
Masalah pasar tidak boleh diabaikan sama sekali karena sangat
berpengaruh terhadap kualitas dan kuantitas barang yang
diperlukan oleh pasar dan kekuatan daya beli masyarakat akan jenis
barang yang diproduksi.
b. Bahan Baku
Bahan baku sangat erat kaitannya dengan faktor biaya produksi.
Lokasi perusahaan haruslah di tempat yang biaya bahan baku
relatif paling murah.
c. Tenaga Kerja
Tenaga kerja harus diperhatikan terutama bagi perusahaan yang
padat karya atau perusahaan yang biaya produksinya terdiri atas
biaya tenaga kerja.
d. Transportasi
Letak perusahaan juga ditentukan oleh faktor transportasi yang
menghubungkan lokasi dengan pasar, lokasi dengan bahan baku,
dan lokasi dengan tenaga kerja.
e. Pelayanan Bisnis
Faktor-faktor sumber tenaga, listrik, air, keadaan iklim, juga
fasilitas komunikasi, perbankan, dan pelayanan teknis seperti
reparasi juga perlu dipertimbangkan dalam penentuan lokasi.
f. Inducement
Inducement ini seperti pemberian insentif dan disinsentif.
g. Sifat Perusahaan
Sifat perusahaan seperti perusahaan yang menghasilkan barang
mudah meledak dan polutan yang berbahaya.
h. Kemungkinan Lain
Kemungkinan lain disini maksudnya seperti bahaya alam seperti
banjir, tanah longsor, dan bahaya sosial misalnya tantangan
masyarakat.

52
7.5 Prosedur Menganalisis Lokasi Industri
7.5.1 Plant Analysis
Melakukan evaluasi terhadap faktor-faktor lokasi, mulai dari yang
paling berpengaruh sampai dengan yang tidak menimbulkan pengaruh
sama sekali. Menganalisis penentuan keputusan lokasi apakah
membangun baru atau hanya relokasi, serta mempertimbangkan
alternatife-alternatif lokasi lain.
7.5.2 Field Analysis
Dalam analisis ini diperlukan penyeleksian beberapa aspek pada
beberapa lokasi yang berpotensial untuk dipilih. Prosedur
penyeleksiannya yaitu melakukan evaluasi kewilayahan, untuk
mengidentifikasikan aspek geografis agar sesuai kebutuhan dan juga
menganalisis kelayakan ekonomis. Selanjutnya dilakukan evaluasi
komunitas, untuk mengetahui dukungan komunitas, keberadaan fasilitas
yang mendukung operasi pabrik, serta adakah keuntungan untuk
pengembangan pabrik. Terakhir dilakukan evaluasi tapak, yaitu dengan
menganalisa biaya, terutama yang sifatnya tak terduga maupun
keberadaan industri lain, baik yang saling mendukung maupun saingan.
7.6 Metode Dalam Analisis Pemilihan dan penetapan Alternatif Lokasi
Industri
7.6.1 Metode ranking prosedur, merupakan metode yang bersifat kualitatif
atau subjektif dan baik diaplikasikan pada masalah-masalah yang sulit
untuk dikuantifikasikan. Langkah-langkah yang harus dianalisis dalam
prosedur ini yaitu :
a. Mengidentifikasi faktor-faktor yang relevan dan signifikan yang
berkaitan dengan proses pemilihan lokasi industri, seperti halnya
dengan faktor supply bahan baku, lokasi pemasaran dan
sebagainya.
b. Pemberian penilaian terhadap faktor-faktor yang telah di
identifikasi tersebut untuk masing-masing alternatif lokasi yang
akan di evaluasi.

53
c. Menghitung total nilai untuk masing-masing alternatif, sehingga
dapat diambilnya suatu keputusan dari alternatif tersebut.
7.6.2 Metode analisa pusat gravitasi, yaitu dengan memperhitungkan jarak
masing-masing sumber material atau wilayah pemasaran dengan lokasi
industri yang akan ditentukan. Asumsinya bahwa biaya produksi dan
distribusi untuk lokasi akan sama. Maka dari itu, lokasi yang optimal
dari fasilitas produksi akan dipengaruhi oleh lokasi dengan sumber-
sumber materialnya yang dibutuhkan untuk masukan (input) dari
aktivitas produksi. Selain itu uga di tentukan oleh wilayah pemasaran
sebagai tempat output suatu produk yang harus didistribusikan.
7.6.3 Meode analisa transportasi program linear, digunakan untuk
menentukan pola distribusi yang terbaik dari lokasi industri ke wilayah
pemasarannya. Keputusan yang di ambil adalah dengan menentukan
lokasi yang dapat memberikan total cost yang terkecil. Metode ini
bertujuan untuk meminimumkan total cost untuk alokasi/distribusi
dalam penyuplaian produk pada setiap lokasi yang di tuju.
7.7 Elemen Penentuan Lokasi Industri
Ada beberapa elemen yang menjadi dasar pengambilan keputusan dalam
penentuan lokasi industri. Yang pertama adalah skala operasi. Skala operasi
ini berupa pertimbangan yang bagi seorang produsen untuk mengetahui
berapa jumlah produk yang dihasilkan dan pada tingkat harga berapa produk
akan dijual. Ini penting bagi seorang produsen agar nantinya setelah
terjadinya proses produksi hasil yang dihasilkan dapat memenuhi permintaan
pasar, tidak kekurangan ataupun malah berlebih. Selain itu untuk mengetahui
daya beli masyarakat terhadap hasil produksi yang dihasilkan.
Yang kedua yaitu teknik produksi. Teknik produksi merupakan
kombinasi dari beberapa input (tenaga kerja, modal, mesin) yang dipilih
untuk proses industri. Teknik produksi menjadi penting dalam penentuan
lokasi industri agar beberapa input yang merupakan bagian dari proses
industri dapat bekerja dengan baik sehingga dapat menghasilkan keuntungan
yang maksimal.

54
Yang terakhir atau ketiga yaitu lokasi pabrik. Lokasi pabrik biasanya
berkaitan erat dengan biaya transportasi. Semakin jauh dengan lokasi
pemasarannya biasanya biaya transportasi yang dikeluarkan akan semakin
mahal sehingga akan mengurangi keuntungan yang akan didapat oleh seorang
produsen.

55
BAB VIII
PENUTUP

8.1 Kesimpulan
- Konsep wilayah menurut Glassons terbagi menjadi 3, yaitu ;
2) Wilayah homogeny
3) Wilayah nodal
4) Wilayah perencanaan
- Pada dasarnya tujuan dari kegiatan ekonomi yaitu
1) Setiap wilayah mencapai tingkat kegiatan ekonomi yang tinggi
2) Mewujudkan tingkat kesempatan kerja penuh
3) Mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi wilayah
- Masalah dari kegiatan pertumbuhan ekonomi yaitu tingginya tingkat
pengangguran dan tingkat inflasi pertumbuhan yang rendah.
- kecuali untuk kegiatan ekonomi memang harus berada pada lokasi bahan
baku (seperti pertumbuhan dan pertanian) maka kegiatan industri
sebaiknya memperhatikan lokasi yang dekat dengan pasar, namun akses
untuk mendapatkan bahan baku juga cukup lancar.
- Untuk menetapkan lokasi kegiatan ekonomi, maka yang menjadi faktor
pertimbangan yaitu hasil analisa terhadap lokasi, luas lahan dan harga,
infrastruktur dan kelengkapannya, jenis industry dan asal investor, daya
dukung industry, serta ketersediaan tenaga kerja digunakan untuk
menetapkan lokasi.
8.2 Saran
- Meningkatkan tingkat investasi daerah dan mengutamakan produk lokal
sehingga dapat menambah penghasilan masyarakat.
- Negara tujuan atau mitra dagang utama, dan pada umumnya adalah
Negara-negara yang sudah maju dan memiliki ekonomi serta teknologi
yang kuat.

56
- Untuk pasar non tradisional dan pasar alternatif. Sasarannya adalah
Negara-negara yang ekonominya kuat atau menengah dan berpotensi
menjaid mitra dagang.
- Strategi pengembangan potensi ekonomi daerah ini harus dibuat
berdasarkan peluang serta potensi yang dimiliki oleh suatu daerah dengan
menonjolkan kelebihan kelebihan yang dimiliki oleh suatu daerah dan
kebijakan-kebijakan pemerintah setempat yang ramah terhadap dunia
usaha.
- Dengan pengelolaan yang baik dan professional, tentunya akan
berdampak positif bagi perekonomian di daerah, yaitu dengan semakin
banyaknya usaha-usaha baru yang berdiri, tenaga kerja yang semakin
mudah terserap, pendapatan asli daerah semakin bertambah, dan
meningkatkan indeks perekonomian daerah.

57
DAFTAR PUSTAKA

Adisasmita Rahardjo, 2005, Dasar Dasar Ekonomi Wilayah. Penerbit PT Graha


Ilmu.

Boediono. 1992. Teori Pertumbuhan Ekonomi. Edisi 1. Yogyakarta: BPFE

Dumairy, 1999. Perekonomian Indonesia, Cetakan Ketiga. Erlangga, Jakarta.

Kuncoro, Mudrajad, 2003. Ekonomi Pembangunan :Teori, Masalah, dan


Kebijakan,UPPAMPYKPN, Yogyakarta.

Mutaali, Lutfhi, 2006, Bahan Ajar Pengembangan Wilayah (Regional


Development). Sekolah pasca sarjana UGM, Jogjakarta

Myrdal, Gunnar, 1976, Bangsa-bangsa Kaya dan Miskin, Gramedia Jakarta.

Soetomo, 2006, Strategi-Strategi Pembangunan Masyarakat, Pustaka Pelajar


Yogyakarta

Sri Muliani, 2008, Kerangka Ekonomi makro dan pokok-pokok kebijakan fiskal
Departemen Keuangan Repeblik Indonesia

Sukirno, Sadono. 2000. Pengantar Teori Makro ekonomi. Ed.Ke-2. Jakarta: PT


Raja Grafindo Persada.

Sukirno, Sadono. 1985. Ekonomi Pembangunan: Proses, Masalah dan


Dasar Kebijaksanaan. Bima Grafika, Jakarta

Sukirno, Sadono, 1976, Beberapa Aspek Dalam Perseolan Pembangunan


Daerah, Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi UI, Jakarta

Tambunan, Tulus. 2003. Perekonomian Indonesia. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Tarigan Robinson, 2005, Ekonomi Regional Teori Dan Aplikasi Edisi Revisi.
Penerbit PT Bumi Aksara.

58
Tjokrowinoto, Moeljarto, 2004, Pembangunan Dilema dan tantangan, Pustaka
Pelajar, Jogjakarta

Yunus, H.S, 2005, Manajemen Kota Perspektif Spasial, Pustaka Pelajar,


Jogjakarta.

http://pengetahuanmirsad.blogspot.com/2012/04/tugas-6.html

59