Anda di halaman 1dari 59

ARETHA

Friday, September 30, 2011

Perspektif Global MODUL 4 S1 PGSD

PERSPEKTIF GLOBAL

ISU ISU GLOBAL

1. WAWASAN GLOBAL

Pentingnya (urgensi) wawasan perspektif global dalam pengelolaan pendidikan ialah sebagai langkah
upaya dalam peningkatan mutu pendidikan nasional. Hal ini dikarenakan dengan wawasan perspektif
global kita dapat menghindarkan diri dari cara berpikir sempit dan terkotak-kotak oleh batas subyektif
sehingga pemikiran kita lebih berkembang. Kita dapat melihat sistem pendidikan di negara lain yang
telah maju dan berkembang. Dapat membandingkannya dengan pendidikan di negara kita, mana yang
dapat diterapkan dan mana yang sekerdar untuk diketahui saja. Kita bisa mencontoh sistem pendidikan
yang baik di negara lain selama hal itu tidak bertentangan dengan jati diri bangsa Indonesia.

Selanjutnya dalam penerapan pengelolaan pendidikan dengan wawasan ber-prespektif global, lebih
ditekankan pada pendidikan yang berwawasan global. Pendidikan yang berwawasan global ini dapat
dibedakan menjadi 2, yaitu dalam perspektif reformasi dan perspektif kuliner.

2. KEPENTINGANGLOBAL

IMPERIALISME

Asal Mula Kata Imperialisme

Perkataan imperialisme berasal dari kata Latin "imperare" yang artinya "memerintah". Hak untuk
memerintah (imperare) disebut "imperium". Orang yang diberi hak itu (diberi imperium) disebut
"imperator". Yang lazimnya diberi imperium itu ialah raja, dan karena itu lambat-laun raja disebut
imperator dan kerajaannya (ialah daerah dimana imperiumnya berlaku) disebut imperium. Pada zaman
dahulu kebesaran seorang raja diukur menurut luas daerahnya, maka raja suatu negara ingin selalu
memperluas kerajaannya dengan merebut negara-negara lain. Tindakan raja inilah yang disebut
imperialisme oleh orang-orang sekarang, dan kemudian ditambah dengan pengertian-pengertian lain
hingga perkataan imperialisme mendapat arti-kata yang kita kenal sekarang ini.
Arti Imperialisme

Imperialisme ialah politik untuk menguasai (dengan paksaan) seluruh dunia untuk kepentingan diri
sendiri yang dibentuk sebagai imperiumnya. "Menguasai" disini tidak perlu berarti merebut dengan
kekuatan senjata, tetapi dapat dijalankan dengan kekuatan ekonomi, kultur, agama dan ideologi, asal
saja dengan paksaan. Imperium disini tidak perlu berarti suatu gabungan dari jajahan-jajahan, tetapi
dapat berupa daerah-daerah pengaruh, asal saja untuk kepentingan diri sendiri. Apakah beda antara
imperialisme dan kolonialisme ? Imperialisme ialah politik yang dijalankan mengenai seluruh imperium.
Kolonialisme ialah politik yang dijalankan mengenai suatu koloni, sesuatu bagian dari imperium jika
imperium itu merupakan gabungan jajahan-jajahan.

Galtung menyatakan bahwa : Imperialisme adalah sebuah sistem yang membagi-bagi kolektivitas-
kolektivitas dan menghubungkan beberapa bagian satu sama lain dalam hubungan kesadaran
kepentingan dan bagian lain dengan ketidakselarasan kepentingan atau konflik kepentingaan. Kata kunci
dari pemikiran Galtung di atas berkaitan dengan adanya sistem, kesadaran kepentingan dan
ketidakselarasan kepentingan. Dalam tulisan Galtung, pihak yang lebih dominan adalah pusat, sementara
pinggiran menjadi pihak yang subdominan.

Mekanisme Imperialisme

Imperialisme dapat diurai secara sederhana dalam hubungan antara pusat dan pinggiran. Hubungan
itulah yang menghasilkan adanya sebuah mekanisme dalam imperialisme. Ada dua mekanisme yang
ditawarkan oleh Galtung, yaitu

Asas hubungan interaksi vertikal.

Pada pola hubungan ini, ada sesuatu yang ditukarkan misalnya sebuah barang atau jasa. Interaksi yang
terjadi biasanya berdasar asas saling melengkapi. Misalnya saja perjanjian dagang pada pertukaran beras
dan pesawat terbang. Keduanya melakukan pertukaran dikarenakan adanya keterbatasan barang.
Namun sebenarnya, kedua barang tersebut memiliki kandungan nilai yang berbeda atau tidak sederajat.
Hubungan yang cenderung bersifat asimetris tersebut menghasilkan pihak-pihak yang lebih banyak
memperoleh keuntungan dan pihak yang dirugikan. Asas hubungan vertikal inilah yang kemudian
mendukung adanya konsep imperialisme

Asas hubungan interaksi feodal.

Pola ini merupakan kebalikan dari asas hubungan di atas. Asas ini merupakan faktor yang
mempertahankan dan memperkuat ketimpangan yang ada. Terdapat empat tuntunan yang
mendefinisikan asas hubungan ini, antara lain: interaksi yang terjadi antara pusat dan pinggiran
berlangsung vertikal, tidak terdapat interaksi antara pinggiran dan pinggiran, tidak terdapat interaksi
multilateral yang melibatkan semua kegiatannya, dan interaksi terhadap dunia luar dimonopoli oleh
pihak pusat. Hubungan yang bersifat feodal ini merupakan usaha pusat agar pinggiran memiliki
ketergantungan yang absolut terhadapnya. Jika ketergantungan tersebut belum maksimal, maka pusat
menetapkan politik pecah belah sehingga pusat memiliki wewenang penuh atas pinggiran tanpa ada
usaha perlawanan.

Kolonialisme dan imperialisme pada dasarnya adalah penguasaan oleh satu wilayah terhadap wilayah
lainnya yang bertujuan mencari propit yang sebanyak-banyaknya dengan tidak mempedulikan kejelekan
yang di timbulkannya.

Persamaan dan Perbedaan Kolonialisme dan Imperialisme

Persamaan dari kolonialisme dan imperialisme adalah

keduanya merupakan penjajahan atau penguasaan terhadap suatu daerah atau suatu bangsa oleh
bangsa lainn

Perbedaan dari kolonialisme dan imperialisme dilihat dari :

a. Asal Kata

Kolonialisme berasal dari kata colonia dalam bahasa latin yang artinya tanah permukiman/ jajahan.

Imperialisme berasal dari kata imperator yang artinya memerintah. Atau dari kata imperium yang
artinya kerajaan besar dengan memiliki daerah jajahan yang amat luar.

b. Pengertian

Kolonialisme adalah suatu sistem dimana suatu negara menguasai rakyat dan sumber daya negara lain
tetapi masih tetap berhubungan dengan negeri asal.

Imperialisme adalah suatu sistem penjajahan langsung dari suatu negara terhadap negara lainnya.

c. Tujuan Penguasaan Wilayah

o Kolonialisme tujuannya untuk menguras sumber-sumber kekayaan daerah koloni demi perkembangan
industri dan memenuhi kekayaan negara yang melaksanakan politik kolonial tersebut.

o Imperialisme, melakukan penjajahan dengan cara membentuk pemerintahan jajahan dan dengan
menanamkan pengaruh pada semua bidang kehidupan di daerah jajahan.

Dari uaraian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa Imperialisme ialah sebuah kebijakan di mana
sebuah negara besar dapat memegang kendali atau pemerintahan atas daerah lain agar negara itu bisa
dipelihara atau berkembang.

Macam Imperialisme
1. Imperialisme Kuno (Ancient Imperialism).

Inti dari imperialisme kuno adalah semboyan gold, gospel, and glory (penyebaran agama, kekayaan dan
kejayaan). Suatu negara merebut negara lain untuk menyebarkan agama, mendapatkan kekayaan dan
menambah kejayaannya. Imperialisme ini berlangsung sebelum revolusi industri dan dipelopori oleh
Spanyol dan Portugal. Masa itulah yang identik dengan kehidupan kolonialisasi. Selain itu pada masa
kolonial terdapat ciri khusus dengan hadirnya aktor dominan secara nyata. Kehadiran fisik tersebut
berimplikasi terhadap bentuk-bentuk imperialisme yang menggunakan trend penyerangan secara frontal
untuk menguasai suatu kawasan tertentu.

2. Imperialisme Modern (Modern Imperialism).

Inti dari imperialisme modern ialah kemajuan ekonomi. Imperialisme modern timbul sesudah revolusi
industri. Industri besar-besaran (akibat revolusi industri) membutuhkan bahan mentah yang banyak dan
pasar yang luas. Mereka mencari jajahan untuk dijadikan sumber bahan mentah dan pasar bagi hasil-
hasil industri, kemudian juga sebgai tempat penanaman modal bagi kapital surplus.

Masa sekarang lebih berkembang trend menggunakan tangan organisasi yang mempunyai jaringan luas.
Organisasi tersebut membentuk sebuah kesatuan besar yang memiliki cabang di mana-mana. Misalnya
saja organisasi internasional atau perusahaan transnasional yang tersebar di negara-negara tertentu.
Adanya jaringan yang luas berdampak pada penguatan posisi organisasi tersebut terhadap pihak lain.
Aktor yang berada di organisasi itu pun tidak lagi membutuhkan adanya kehadiran fisik. Antara pelaku
atau orang di belakang layar organisasi itu mungkin saja berbeda. Inilah masa di mana istilah neo-
kolonialisme berkembang.

Masa akan datang, Galtung meramalkan bahwa imperialisme dapat tersebar melalui media komunikasi
internasional. Kelompok dominan dapat menerapkan kekuasaannya pada penguasaan teknologi
informasi seperti jaringan telepon atau satelit sehingga mereka dapat mengatur informasi yang ada
maupun orang-orang yang berinteraksi di dalamnya.

Contoh negara yang menganut

Imperialisme Kuno : Portugis, Spanyol, Romawi

Imperialisme Modern : Inggris, Perancis, belanda, Jerman, dan Italia

Pembagian imperialisme dalam imperialisme kuno dan imperialisme modern ini didasakan pada soal
untuk apa si imperialis merebut orang lain. Jika mendasarkan pendangan kita pada sektor apa yang ingin
direbut si imperialis, maka kita akan mendapatkan pembagian macam imperialisme yang lain, yaitu:

1. IMPERIALISME POLITIK

Si imperialis hendak mengusai segala-galnya dari suatu negara lain. Negara yang direbutnya itu
merupakan jajahan dalam arti yang sesungguhnya. Bentuk imperialisme politik ini tidak umum ditemui di
zaman modern karena pada zaman modern oaham nasionalisme sudah berkembang. Imperialisme
politik ini biasanya bersembunyi dalam bentuk protectorate dan mandate. Galtung menyebutkan bahwa
imperialisme politik terjadi ketika pusat menguasai akses yudikatif dengan berbagai macam peraturan
atau pun model-model instruksi yang mengharuskan pinggiran mematuhi perturan dan berposisi sebagai
fallower. Ketika pinggiran bertindak sebagai peniru, terkadang poisis mereka berada pada orang yang
diperintah. Posisi yang diperintah memiliki wewenang atau kekuatan yang kurang kuat terhadap orang
yang diperintah.

2. IMPERIALISME EKONOMI

Si imperialis hendak menguasai hanya ekonominya saja dari suatu negara lain. Jika sesuatu negara tidak
mungkin dapat dikuasai dengan jalan imperialisme politik, maka negara itu masih dapat dikuasai juga jika
ekonomi negara itu dapat dikuasai si imperialis. Imperialisme ekonomi inilah yang sekarang sangat
disukai oleh negara-negara imperialis untuk menggantikan imperialisme politik. imperialis menguasai
bidang ekonomi melalui sarana produksi. Sementara pinggiran memiliki kesempatan dalam penyediaan
bahan-bahan mentah sekaligus sebagai target pasar daerah pusat. Bentuk imperialisme terjadi ketika
pusat mengeksploitasi sumber-sumber kekayaan pinggiran serta menjadikan pinggiran sebagai
konsumen barang jadi mereka dengan tarif yang relatif lebih mahal. Selain itu kunci untuk memahami
konsep ini terletak juga pada sisi distribusi dan redistribusi yang sengaja diatur oleh pusat.

3. IMPERIALISME BUDAYA

Imperialisme budaya yang dimaksud adalah tergusurnya nilai-nilai kebudayaan lokal menjadi kebudayaan
global. Bila ditelusuri lebih jauh, proses imperialisme budaya yang terjadi tidak terlepas dari kepentingan
(interests) dunia Barat dengan

mengekspor modernitas dan mempropogandakan konsumerisme. Hegemoni pembentukan budaya


global ini sebagai satu bentuk " American Cultural Imperialisme" dan proses percepatan nilai-nilai
kapitalis di negara- negara berkembang.

Tanpa kita sadari proses imperialisme budaya inilah yang sedang

terjadi di seluruh dunia. Indikasi nyata dari proses imperialisme budaya ini adalah kuatnya arus
konsumerisme, hedonisme, individualisme, narkotikisme, dan idol yang dijejalkan kepada masyarakat
melalui berbagai acara hiburan seperti yang

kita saksikan disiarkan oleh media-media eloktronik dan cetak yang dikemas dengan berbagai
bentuk.Imperialisme kebudayaan telah menghilangkan nilai nilai ontologism dalam realitas kehidupan
yang keras. Si imperialis hendak menguasai jiwa (de geest, the mind) dari suatu negara lain. Dalam
kebudayaan terletak jiwa dari suatu bangsa. Jika kebudayaannya dapat diubah, berubahlah jiwa dari
bangsa itu.
Si imperialis hendak melenyapkan kebudayaan dari suatu bangsa dan menggantikannya dengan
kebudayaan si imperialis, hingga jiwa bangsa jajahan itu menjadi sama atau menjadi satu dengan jiwa si
penjajah. Menguasai jiwa suatu bangsa berarti mengusai segala-galnya dari bangsa itu. Imperialisme
kebudayaan ini adalah imperialisme yang sangat berbahaya, karena masuknya gampang, tidak terasa
oleh yang akan dijajah dan jika berhasil sukar sekali bangsa yang dijajah dapat membebaskan diri
kembali, bahkan mungkin tidak sanggup lagi membebaskan diri. Imperialisme ini berputar pada bidang
pengajaran. Misalnya saja pusat mengkukuhkan dirinya menjadi pihak yang dominan dengan
memonopoli staf pengajar (guru misalnya) atau bahan-bahan bacaan pelajaran. Pendidikan secara
langsung berkolerasi terhadap kualitas manusia di dalamnya. Jika warga pinggiran dibatasi serta diatur
secara ketat oleh pusat, maka mereka pun relatif sulit berkembang agar setara dengan pusat.

Cultural Imperialism Theory (Teori Imperialisme Budaya)

Teori ini pertama kali dikemukakan oleh Herb Schiller pada tahun 1973. Tulisan pertama Schiller yang
dijadikan dasar bagi munculnya teori ini adalah Communication and Cultural Domination. Teori
imperialisme budaya menyatakan bahwa negara Barat mendominasi media di seluruh dunia ini. Ini
berarti pula, media massa negara Barat juga mendominasi media massa di dunia ketiga. Alasannya,
media Barat mempunyai efek yang kuat untuk mempengaruhi media dunia ketiga. Media Barat sangat
mengesankan bagi media di dunia ketiga. Sehingga mereka ingin meniru budaya yang muncul lewat
media tersebut. Dalam perspektif teori ini, ketika terjadi proses peniruan media negara berkembang dari
negara maju, saat itulah terjadi penghancuran budaya asli di negara ketiga.

Negara dunia ketiga tanpa sadar meniru apa yang disajikan media massa yang sudah banyak diisi oleh
kebudayaan Barat tersebut. Saat itulah terjadi penghancuran budaya asli negaranya untuk kemudian
mengganti dan disesuaikan dengan budaya Barat. Kejadian ini bisa dikatakan terjadinya imperialisme
budaya Barat. Imperialisme itu dilakukan oleh media massa Barat yang telah mendominasi media massa
dunia ketiga.

Teori ini juga menerangkan bahwa ada satu kebenaran yang diyakininya. Sepanjang negara dunia ketiga
terus menerus menyiarkan atau mengisi media massanya berasal dari negara Barat, orang-orang dunia
ketiga akan selalu percaya apa yang seharusnya mereka kerjakan, pikir dan rasakan. Perilaku ini sama
persis seperti yang dilakukan oleh orang-orang yang berasal dari kebudayaan Barat.

Imperialisme Budaya; Posmo Kolonialisme Imperialisme

Proses degradasi dan regresi yang terjadi dimulai sejak masuknya budaya asing seiring datangnya
bangsa-bangsa asing untuk tinggal menetap di Bhumi Nusantara. Keramah tamahan dan kehangatan
pribumi dalam menyambut tamu-tamu asing berbuah aneksasi dan kolonialisasi. Panji-panji Gold, Glory
dan Gospel berkibar di seluruh penjuru Bumi Nusantara semata-mata untuk mengeruk kekayaan alam
yang berlimpah hingga menimbulkan kerusakan dan kebinasaan di seantero negeri.

Kerusakan yang paling parah justru terjadi pada aspek budaya. Tata kehidupan sosial yang berlandaskan
pada nilai-nilai budaya lokal menjadi porak poranda dan carut marut. Politik adu domba dan pecah belah
yang penuh dengan intrik dan tipu muslihat direkayasa untuk menghasilkan silang sengketa antar anak
bangsa sebagai upaya penumpasan terhadap berbagai kemungkinan adanya potensi perlawanan.

Seiring berjalannya waktu, dengan semakin tingginya tingkat kemajuan ilmu pengetahuan, proses dan
teknik penghancuran terhadap bangsa ini jauh semakin canggih dan elegan pula. Pilihan-pilihan cara
yang opresif dan represif tak lagi digunakan berganti dengan cara-cara yang lebih mengedepankan
pendekatan humanitarian. Proses cuci otak dan indoktrinasi melalui rekayasa sosial menjadi pilihan
utama untuk bisa membuat bangsa ini tunduk dan takluk dibawah imperialisme budaya bangsa-bangsa
asing.

4. IMPERIALISME INFORMASI

Dunia semakin sempit. Dataran bumi merupakan lahan yang paling empuk untuk dipotret dan
ditelanjangi oleh kemajuan pengetahuan. Jaringan pusat satelit didirikan oleh Amerika dengan memakai
nama Pusat Penelitian Cuaca. Jutaan informasi dari seluruh negara diolah dan dianalisis untuk
kepentingan perusahaan dan ambisi para zionis untuk mewujudkan cita-citanya menguasai seluruh
bangsa. Televisi bukanlah sekadar lahan usaha yang menggiurkan, melainkan bahan informasi yang bisa
juga menyesatkan, tentunya bergantung kepada kepentingan pemegang sahamnya.

Kekuatan psikologis televisi dalam "meneror" para pemirsanya melalui: ilusi, kesan (impression), dan
pembentukan citra (image) telah berhasil menempatan Amerika sebagai super videocracy. Setiap inci
filmnya ditata dengan menyisipkan ketiga karakter psikologi tersebut.

Televisi merupakan cara paling ampuh untuk membuka koridor penjajahan baru kaum zionis di muka
bumi, bahkan ada semacam "penuhanan" terhadap televisi. Oleh karena kelangsungan hidup stasiun
televisi sangat ditentukan oleh pemasukan iklannya, sedangkan perusahaan-perusahaan menghadapi
masalah likuiditas dan dana tunai sehingga mereka "megap-megap" --baik untuk memasang iklan
maupun ikut investasi-- bukan tidak mungkin saham suatu stasiun televisi akan dibeli perusahaan asing
tentunya dengan lobi dan tekanan kepada pemerintah. Mereka menguasai media massa, khususnya
jaringan stasiun televisi.

Imperialisme informasi, inilah dua kata yang paling tepat untuk menunjukkan dominasi negara Barat.
Abad ini adalah millennium of television yang mampu "mencengkeram" syaraf-syaraf pemirsanya dan
sekaligus mengubah budayanya.

Televisi bukan sekadar kotak hiburan, tetapi ia membawa pesan-pesan tersembunyi, sehingga tanpa kita
sadari telah mengubah budaya suatu bangsa. Hal ini memberikan kesan kepada kita akan kekuatan
propaganda, terlebih bila dilancarkan melalui media massa. Tidak pernah kita bayangkan bahwa
kekuatan media melalui selulosa video telah menjadi satu kekuatan besar yang membentuk citra, sikap,
bahkan mengubah suatu kebiasaan, budaya dan ideologi suatu negara melalui penguasa media
(videocracy).
5. IMPERIALISME MILITER

Si imperialis hendak menguasai kedudukan militer dari suatu negara. Ini dijalankan untuk menjamin
keselamatan si imperialis untuk kepentingan agresif atau ekonomi. Tidak perlu seluruh negara diduduki
sebagai jajahan, cukup jika tempat-tempat yang strategis dari suatu negara berarti menguasai pula
seluruh negara dengan ancaman militer. Imperialisme berkembang dengan lengkapnya sarana militer
serta perkembangan teknologi pertahanan keamanan yang lebih kuat. Sebaliknya, pinggiran memiliki
posisi yang lemah dengan adanya peralatan yang relatif tradisional. Bentuk penguasaan imperialisme
dapat terjadi dengan kekuatan senjata atau dengan kata lain, pusat dapat sewaktu-waktu membungkam
pinggiran dengan serangan frontal atau invansi.

Sebab-sebab Imperialisme

1. Keinginan untuk menjadi jaya, menjadi bangsa yang terbesar di seluruh dunia (ambition, eerzucht).

2. Perasaan sesuatu bangsa, bahwa bangsa itu adalah bangsa istimewa di dunia ini (racial superiority).

3. Hasrat untuk menyebarkan agama atau ideologi.

4. Letak suatu negara yang diangap geografis tidak menguntungkan.

Sebab-sebab ekonomi merupakan sebab yang terpenting dari timbulnya imperialisme, terutama
imperialisme modern.

1. Keinginan untuk mendapatkan kekayaan dari suatu negara

2. Ingin ikut dalam perdagangan dunia

3. Ingin menguasai perdagangan

4. Keinginan untuk menjamin suburnya industri

Akibat Imperialisme

1. Akibat politik

1. Terciptanya tanah-tanah jajahan

2. Politik pemerasan

3. Berkorbarnya perang kolonial

4. Timbulnya politik dunia (wereldpolitiek)

5. Timbulnya nasionalisme

2. Akibat Ekonomis

1. Negara imperislis merupakan pusat kekayaan, negara jajahan lembah kemiskinan


2. Industri si imperialis menjadi besar, perniagaan bangsa jajahan lenyap

3. Perdagangan dunia meluas

4. Adanya lalu-lintas dunia (wereldverkeer)

5. Kapital surplus dan penanamna modal di tanah jajahan

6. Kekuatan ekonomi penduduk asli tanah jajahan lenyap

3. Akibat sosial

1. Si imperialis hidup mewah sementara yang dijajah serba kekurangan

2. Si imperialis maju, yang dijajah mundur

3. Rasa harga diri lebih pada bangsa penjajah, rasa harga diri kurang pada bangsa yang dijajah

4. Segala hak ada pada si imperialis, orang yang dijajah tidak memiliki hak apa-apa

5. Munculnya gerakan Eropa-isasi.

Jadi, akibat adanya imperialisme secara umum:

v Berkembang penanaman modal di daerah jajahan oleh kaum partikelir/swasta

v Perdagangan dunia semakin meluas

v Negara jajahan semakin miskin

v Rakyat jajahan serta kekurangan karena rakyat dibebankan berbagai macam kewajiban tanpa memiliki
hak

v Kebudayaan penduduk asli digeser dan dipengaruhi oleh kebudayaan bangsa Eropa.

3. MASALAH MASALAH GLOBAL

LINGKUNGAN

Ada 11 macam kerusakan lingkungan yang terjadi didunia dan perlu untuk segera diatasi , diantaranya
yang dapat saya sajikan adalah :

a. PENCEMARAN AIR, UDARA, TANAH, DAN SUARA

Polusi atau pencemaran lingkungan adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat energi,
dan atau komponen lain ke dalam lingkungan, atau berubahnya tatanan lingkungan oleh kegiatan
manusia atau oleh proses alam sehingga kualitas lingkungan turun sampai ke tingkat tertentu yang
menyebabkan lingkungan menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya
(Undang-undang Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup No. 4 Tahun 1982).

Zat atau bahan yang dapat mengakibatkan pencemaran disebut polutan. Syarat-syarat suatu zat disebut
polutan bila keberadaannya dapat menyebabkan kerugian terhadap makhluk hidup. Contohnya, karbon
dioksida dengan kadar 0,033% di udara berfaedah bagi tumbuhan, tetapi bila lebih tinggi dari 0,033%
dapat rnemberikan efek merusak.

Suatu zat dapat disebut polutan apabila:

1. Jumlahnya melebihi jumlah normal

1. Berada pada waktu yang tidak tepat

2. Berada pada tempat yang tidak tepat

Gbr. Lingkungan Dikelilingi Polusi

Sifat polutan adalah:

1. merusak untuk sementara, tetapi bila telah bereaksi dengan zat

lingkungan tidak merusak lagi

2. merusak dalam jangka waktu lama.

Sumber-sumber Terjadinya Pencemaran

Bahan-bahan kimia yang kehadirannya dalam lingkungan hidup dapat menyebabkan terganggunya
kesejahteraan hidup manusia, hewan maupun tumbuh-tumbuhan disebut bahan pencemar. Sebagai
sumber utama terjadinya pencemar adalah:

1. Proses-proses alam, antara lain pembusukan secara biologis, aktivitas gunung berapi, terbakarnya
semak-semak, dan halilintar.

2. Pembuatan/aktivitas manusia, seperti:

Hasil pembakaran bahan bakar yang terjadi pada industri dan kendaraan bermotor.

Pengolahan dan penyulingan bijih tambang mineral dan batubara.

Proses-proses dalam pabrik.

Sisa-sisa buangan dari aktivitas-aktivitas tersebut di atas.

Faktor-faktor penyebab terjadinya pencemaran lingkungan sebagai hasil sampingan perbuatan manusia
meliputi;

1. Faktor Industrialisasi
o Pertambangan, transportasi, penyulingan dan pengolahan bahan hingga menghasilkan barang yang
dapat digunakan.

o Pertambangan, transportasi, penyulingan dan penggunaan bahan bakar untuk menghasilkan energi.

o Sisa-sisa buangan yang dihasilkan sebagai hasil sampingan selama proses-proses di atas.

2. Faktor Urbanisasi

o Pembukaan hutan untuk perkampungan, industri dan sistem

transportasi.

o Penimbunan atau menumpuknya sisa-sisa buangan/sampah dan hasil?samping selama proses-proses


di atas.

3. Faktor Kepadatan Penduduk

o Meningkatnya kebutuhan tempat tinggal/perumahan.

o Meningkatnya kebutuhan pangan dan kebutuhan energi.

o Meningkatnya kebutuhan barang-barang konsumsi dan bahan-bahan untuk hidup.

4. Faktor Cara Hidup

o Penggunaan barang kebutuhan secara berlebihan sehingga terbuang percuma.

o Tuntutan akan kemewahan.

o Pemborosan energi.

5. Faktor Perkembangan Ekonomi

o Meningkatnya penggunaan bahan sumber, misal BBM, hasil hutan.

o Meningkatnya sisa-sisa buangan sebagai hasil sampingan produksi barang-barang kepentingan dalam
pabrik dan meningkatnya bahan pencemar.

Macam-macam Pencemaran

Macam-macam pencemaran dapat dibedakan berdasarkan pada tempat terjadinya, macam bahan
pencemarnya, dan tingkat pencemaran.

a. Menurut tempat terjadinya

Menurut tempat terjadinya, pencemaran dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu pencemaran udara, air,
dan tanah.
1. Pencemaran udara

Pencemaran udara adalah suatu kondisi di mana kualitas udara menjadi rusak dan terkontaminasi oleh
zat-zat, baik yang tidak berbahaya maupun yang membahayakan kesehatan tubuh manusia. Pencemaran
udara biasanya terjadi di kota-kota besar dan juga daerah padat industri yang menghasilkan gas-gas yang
mengandung zat di atas batas kewajaran.

Rusaknya atau semakin sempitnya lahan hijau atau pepohonan di suatu daerah juga dapat memperburuk
kualitas udara di tempat tersebut. Semakin banyak kendaraan bermotor dan alat-alat industri yang
mengeluarkan gas yang mencemarkan lingkungan akan semakin parah pula pencemaran udara yang
terjadi. Untuk itu diperlukan peran serta pemerintah, pengusaha dan masyarakat untuk dapat
menyelesaikan permasalahan pencemaran udara yang terjadi.

Jenis-jenis pencemar

Karbon monoksida

Oksida nitrogen

Oksida sulfur

CFC

Hidrokarbon

Ozon

Volatile Organic Compounds

Partikulat

Sumber Polusi Udara

Pencemar udara dibedakan menjadi dua yaitu, pencemar primer dan pencemar sekunder. Pencemar
primer adalah substansi pencemar yang ditimbulkan langsung dari sumber pencemaran udara. [Karbon
monoksida]adalah sebuah contoh dari pencemar udara primer karena ia merupakan hasil dari
pembakaran. Pencemar sekunder adalah substansi pencemar yang terbentuk dari reaksi pencemar-
pencemar primer di atmosfer. Pembentukan [ozon]dalam [smog fotokimia]adalah sebuah contoh dari
pencemaran udara sekunder.

Pencemar udara dapat berupa gas dan partikel. Contohnya sebagai berikut.

a. Gas HzS. Gas ini bersifat racun, terdapat di kawasan gunung berapi,

bisa juga dihasilkan dari pembakaran minyak bumi dan batu bara.

b. Gas CO dan COz. Karbon monoksida (CO) tidak berwarna dan tidak
berbau, bersifat racun, merupakan hash pembakaran yang tidak

sempurna dari bahan buangan mobil dan mesin letup. Gas COZ dalam

udara murni berjumlah 0,03%. Bila melebihi toleransi dapat meng-

ganggu pernapasan. Selain itu, gas C02 yang terlalu berlebihan di

bumi dapat mengikat panas matahari sehingga suhu bumi panas.

Pemanasan global di bumi akibat C02 disebut juga sebagai efek rumah

kaca.

c. Partikel SOZ dan NO2. Kedua partikel ini bersama dengan partikel cair

membentuk embun, membentuk awan dekat tanah yang dapat

mengganggu pernapasan. Partikel padat, misalnya bakteri, jamur,

virus, bulu, dan tepung sari juga dapat mengganggu kesehatan.

Sumber polusi udara lain dapat berasal dari radiasi bahan radioaktif, misalnya, nuklir. Setelah peledakan
nuklir, materi radioaktif masuk ke dalam atmosfer dan jatuh di bumi. materi radioaktif ini akan
terakumulusi di tanah, air, hewan, tumbuhan, dan juga pada manusia. Efek pencemaran nuklir terhadap
makhluk hidup, dalam taraf tertentu, dapat menyebabkan mutasi, berbagai penyakit akibat kelainan gen,
dan bahkan kematian.

Pencemaran udara dinyatakan dengan ppm (part per million) yang artinya jumlah cm3 polutan per m3
udara.

Bahaya Efek Gas Pencemaran Udara

1. Gas CO / Karbon Monoksida / Karbon Mono Oksida Karbon monoksida adalah gas yang bersifat
membunuh makhluk hidup termasuk manusia. Zat gas CO ini akan mengganggu pengikatan oksigen pada
darah karena CO lebih mudah terikat oleh darah dibandingkan dengan oksigen dan gas-gas lainnya. Pada
kasus darah yang tercemar karbon monoksida dalam kadar 70% hingga 80% dapat menyebabkan
kematian pada orang.

2. Gas CO2 / Karbon Dioksida / Karbon Di Oksida Karbon dioksida adalah zat gas yang mampu
meningkatkan suhu pada suatu lingkungan sekitar kita yang disebut juga sebagai efek rumah kaca.
Dengan begitu maka temperatur udara di daerah yang tercemar CO2 itu akan naik dan otomatis suhunya
menjadi semakin panas dari waktu ke waktu seperti di wilayah DKI Jakarta. Hal ini disebabkan karena
CO2 akan berkonsentrasi dengan jasad renik, debu dan titik-titik air yang membentuk awan yang dapat
ditembus cahaya matahari namun tidak dapat melepaskan panas ke luar awan tersebut. Keadaan seperti
itu mirip dengan kondisi rumah kaca tanpa AC dan fentilasi udara yang cukup.

3. Gas NO, NO2, SO dan SO2 Gas-gas di atas akan dapat menimbulkan gangguan pada saluran
pernapasan dari mulai yang ringan hingga yang berat.

2. Pencemaran air

Pencemaran air adalah penyimpangan sifat-sifat air dari keadaan normal, bukan dari kemurniannya. Air
yang tersebar dialam semesta ini tidak pernah terdapat dalam bentuk murni, namun bukan berarti
bahwa semua air sudah tercemar. Sifat-sifat kimia-fisika air yang umum diuji dan dapat digunakan untuk
menentukan tingkat pencemaran air adalah: Nilai pH, Keasaman dan Alkalinitas. Nilai pH yang normal
adalah sekitar 6 -8. Air yang masih segar dari pegunungan biasanya mempunyai pH yang lebih tinggi.

Keasaman adalah kemampuan untuk menetralkan basa. Keasaman dapat dibedakan menjadi keasaman
bebas dan keasaman total. Keasaman bebas dapat banyak menurunkan pH. Keasaman total terdiri dari
keasaman bebas ditambah keasaman yang disebabkan oleh asam lemah. Alkalinitas berkaitan dengan
kesadahan air, yang merupakan salah satu sifat air.

Pencemaran terhadap sumber-sumber mata air lebih disebabkan oleh penimbunan sampah pada tanah
(landfill) dan merembes dalam air tanah kemudian masuk pada daerah resapan air ke sumber. Air yang
kita pakai kemudian menjadi tidak layak diminum karena telah tercemar. Secara langsung pencemaran
air terjadi karena pembuangan sampah-sampah yang di buang ke dekat sumber-sumber mata air atau ke
sungai baik dari pabrik-pabrik, tempat-tempat penambangan dan rumah penduduk. Aktifitas pabrik-
pabrik terutama penambangan memiliki efek samping yang sangat berbahaya bagi lingkungan, di mana
penggunaan logam berat yang selalu mengikutkan air sebagai pelarut. Hal ini sangat berbahaya jika
menggunakan media umum seperti sungai dan seterusnya mengalir ke laut dan masuk dalam sistem
rantai makanan. Di darat, persediaan air bersih yang semakin menurun memperburuk persoalan
ketersediaan kebutuhan air. Seperti ketersediaan air bersih di Indonesia, dari yang diperkirakan telah
berkurang sebesar 15-35 persen per kapita per tahun. Dipastikan bangsa Indonesia akan mengalami
krisis air pada masa mendatang. Sekarang saja hal tersebut sudah dirasakan, di mana setiap kemarau
masyarakat mengalami kekurangan air. Sebaliknya bila datang musim hujan di beberapa daerah juga
kesulitan mendapatkan air bersih karena kebanjiran berhari-hari.

Polusi air dapat disebabkan oleh beberapa jenis pencemar sebagai berikut.

a. Pembuangan limbah industri, sisa insektisida, dan pembuangan sampah domestik, misalnya, sisa
detergen mencemari air. Buangan industri seperti Pb, Hg, Zn, dan CO, dapat terakumulasi dan bersifat
racun.

b. Sampah organik yang dibusukkan oleh bakteri menyebabkan 02 di air berkurang sehingga
mengganggu aktivitas kehidupan organisme air.
c. Fosfat hasil pembusukan bersama h03 dan pupuk pertanian terakumulasi dan menyebabkan
eutrofikasi, yaitu penimbunan mineral yang menyebabkan pertumbuhan yang cepat pada alga (Blooming
alga). Akibatnya, tanaman di dalam air tidak dapat berfotosintesis karena sinar matahari terhalang.

Salah satu bahan pencemar di laut adalah tumpahan minyak bumi, akibat kecelakaan kapal tanker
minyak yang sering terjadi. Banyak organisme akuatik yang mati atau keracunan karenanya. (Untuk
membersihkan kawasan tercemar diperlukan koordinasi dari berbagai pihak dan dibutuhkan biaya yang
mahal. Bila terlambat penanggulangan-nya, kerugian manusia semakin banyak. Secara ekologis, dapat
mengganggu ekosistem laut). Bila terjadi pencemaran di air, maka terjadi akumulasi zat pencemar pada
tubuh organisme air. Akumulasi pencemar ini semakin meningkat pada organisme pemangsa yang lebih
besar.

3. Pencemaran tanah

Pencemaran tanah saling terkait dengan pencemaran udara. Sampah-sampah yang tak bisa terurai
ditimbun langsung ditanah menyebabkan rusaknya tanah bagi terutama bagi kegiatan pertanian. Belum
lagi pencemaran udara yang mengkontaminasi udara dan dibawa air hujan ke tanah. Sehingga tanah
menyerap bahan-bahan pencemar tersebut. Jika tumbuh-tumbuhan menyerap bahan pencemar
tersebut maka akan terjadi akumulasi pada tubuh tanaman dan seterusnya dikonsumsi manusia.
Kebanyakan sampah buangan rumah tangga juga sering ditimbun pada tanah, seperti yang terjadi di
seluruh kota di Indonesia di TPA (tempat pembuangan akhir) sampah. Padahal tanah tidak bisa merubah
segala bahan pencemar tersebut secara alami karena kemampuan tanah terbatas.

Tanah yang manusia butuhkan untuk tanaman bagi kebutuhan makanan adalah sangatlah vital. Kegiatan
pertanian dewasa ini juga umumnya menggunakan bahan-bahan kimia untuk merangsang dan
mempercepat pertumbuhan tanaman. Di sisi lain suatu saat pertanian secara intensif akan berakhir
karena tanah tidak berdaya lagi mendukung tanaman tumbuh. Seperti pestisida dapat memproteksi
tanaman dari hama dan penyakit.

Di pabrik-pabrik, kantor, hotel, restoran, juga di rumah, manusia memproduksi berton-ton sampah.
Selama bertahun-tahun hak ini menjadi masalah yang masih belum terpecahkan. Sampah dapat dibakar,
tetapi dapat mengakibatkan pencemaran udara. Juga dapat dibuang di sungai atau di laut, namun dapat
mengakibatkan pencemaran air dan laut. Namun, sampah harus diletakkan di suatu tempat. Kebanyakan
sampah tanpa dipilah langsung ditimbun dalam tanah (landfill). Tanah digali kemudian sampah
diletakkan, ketika suatu tempat telah penuh ditimbun kembali dan lokasi ini tentunya tidak bisa dijadikan
lahan pertanian.

Di dalam tanah terjadi proses dimana terjadi pembusukan kotoran yang memproduksi gas beracun
methane yang bisa terlepas ke permukaan tanah. Bahan-bahan kimia lainnya dalam sampah tersebut
larut dalam lapisan air tanah dan lewat jalur air (drainase) bawah tanah akan tersebar ke tempat lain.
Aliran air dalam tanah yang telah terkontaminasi ini akan terbawa dan mencemari sumber-sumber mata
air, sungai dan laut sehingga air tidak bisa diminum. Hal inilah yang secara tidak langsung menjadi
sumber bagi pencemaran di sungai dan laut. Pada tanah tumbuhan yang hidup tak bisa dimakan,
demikian pula halnya pada organisme di sungai dan di laut, begitu seterusnya.

Di daratan Negara Amerika Serikat terdapat banyak sekali daerah landfill. Hal ini telah menyebabkan
kerugian bagi manusia dimana daerah tersebut sering terjadi kebakaran akibat reaksi kimia bawah tanah.
Beberapa daerah timbunan ini juga telah meracuni sumber air menimbulkan keracunan dan sumber
penyakit. Banyak kasus yang terungkap kemudian, ternyata daerah-daerah landfill merupakan sumber
penyebab terjadinya kerugian kesehatan bagi manusia.

4. Polusi suara

Meskipun pengaruh suara banyak kaitannya dengan faktor-faktor psikologis dan emosional, ada kasus-
kasus di mana akibat-akibat serius seperti kehilangan pendengaran terjadi karena tingginya tingkat
kenyaringan suara pada tingkat tekanan suara atau karena lamanya telinga terpasang terhadap
kebisingan tersebut. Sangat penting mengetahui tingkatan intensitas suara yang dapat menimbulkan
pencemaran suara. Unit yang digunakan untuk mengukur intensitas suara dalam lingkungan disebut
decibel (dBA). Skala decibel dimulai dari 0 yaitu kurang lebih suara terhalus yang dapat didengar
manusia. Skala ini meningkat secara logaritmik setiap 10 desibel. Contohnya suara mesin blender 90
desibel, mesin pabrik 100 desibel, konser rock dan subway 120 desibel, suara pesawat jet 150 desibel
dan suara peluncuran roket 190 desibel.

Standar yang dikeluarkan OHSA (Occupational Safety and Health Administration) mengindikasikan bahwa
mendengarkan terus suara lebih dari 85 dBA dapat merusak sistem pendengaran. Jika frekwensi suara 95
dBA didengarkan terus selama lebih dari 4 jam maka akan mengakibatkan pendengaran hilang. Pada
frekwensi 115 dbA yang didengarkan hanya 15 menit setiap hari dapat pula menghilangkan
pendengaran. Demikian pula orang yang mendengarkan musik setiap hari, walaupun hanya beberapa
jam lambat laun sisem pendengaran akan berkurang. Pada komunitas kita, setiap saat kita dibombardir
oleh suara. Suara mobil, kemacetan lalu lintas, mesin, alarm, suara kendaran dan pesawat dan lain-lain.
Bahkan pada suasana rekreasi seperti mendengarkan konser musik dan mendengarkan stereo dari radio
dan tape. Tidak hanya itu transportasi umum juga selain menghasilkan pencemaran udara juga
menghasilkan pencemaran suara dari suara mesin sampai suara tape stereo di dalam mobil yang sering
terdengar keras. Dan ironisnya sopir tidak menghiraukan pencemaran yang ditimbulkannya bagi
penumpang dan orang sekitarnya.

Berbagai penelitian menunjukan bahwa kebisingan menjadi penyebab utama kehilangan pendengaran
28 juta orang di Amerika Serikat. Karena kehilangan pendengaran berdampak pada komunikasi maka hal
ini menimbulkan efek bergelombang. Dengan dampak negative pada keberadaan emosional dan sosial
seseorang. Kebisingan akan menghilangkan pendengaran secara permanent. Bahkan pada hewan,
kebisingan dapat mempengaruhi tingkah lakunya dan pada akhirnya berdampak pada ekosistem.
Penelitian lanjut yang berhubungan juga mengindikasikan bahwa kebisingan mempengaruhi
perkembangan kognitif, tingkah laku sosial dan juga pembelajaran ; Dan ini mempengaruhi perubahan
fisiologi waktu tidur, darah tinggi dan pencernaan. Seperti kita ketahui, stress terjadi juga akibat dari
kebisingan. Bahkan kebisingan kurang dari 85 dBA selama 8 jam perhari yang menjadi standar kebisingan
dapat membuat kita marah dan naik darah.

Sebagai suatu isu lingkungan bagi kesehatan manusia, kebisingan di berbagai tempat tidak diberi
prioritas status oleh pemerintah namun teramat penting. Kebisingan sebenarnya dapat dicegah dan
dikurangi, dengan mengenal sumber-sumber kebisingan di dalam lingkungan dan memproteksi diri kita
dari dampak sumber ini. Sumber-sumber kebisingan sebenarnya dapat dikontrol manusia relatif mudah
dan hal ini tergantung pada penguasaan dan perkembangan teknologi yang telah ada.

b. Menurut macam bahan pencemar

Macam bahan pencemar adalah sebagai berikut.

1. Kimiawi; berupa zat radio aktif, logam (Hg, Pb, As, Cd, Cr dan Hi),

pupuk anorganik, pestisida, detergen dan minyak.

2. Biologi; berupa mikroorganisme, misalnya Escherichia coli, Entamoeba

coli, dan Salmonella thyposa.

3. Fisik; berupa kaleng-kaleng, botol, plastik, dan karet

c. Menurut tingkat pencemaran

Menurut WHO, tingkat pencemaran didasarkan pada kadar zat pencemar dan waktu (lamanya) kontak.
Tingkat pencemaran dibedakan menjadi 3, yaitu sebagai berikut :

1. Pencemaran yang mulai mengakibatkan iritasi (gangguan) ringan pada panca indra dan tubuh serta
telah menimbulkan kerusakan pada ekosistem lain. Misalnya gas buangan kendaraan bermotor yang
menyebabkan mata pedih.

2. Pencemaran yang sudah mengakibatkan reaksi pada faal tubuh dan

menyebabkan sakit yang kronis. Misalnya pencemaran Hg (air raksa) di Minamata Jepang yang
menyebabkan kanker dan lahirnya bayi cacat.

3. Pencemaran yang kadar zat-zat pencemarnya demikian besarnya sehingga menimbulkan gangguan
dan sakit atau kematian dalam lingkungan. Misalnya pencemaran nuklir.

b. GAS RUMAH KACA


Gas rumah kaca adalah gas-gas yang ada di atmosfer yang menyebabkan efek rumah kaca. Gas-gas
tersebut sebenarnya muncul secara alami di lingkungan, tetapi dapat juga timbul akibat aktivitas
manusia.

Gas rumah kaca yang paling banyak adalah uap air yang mencapai atmosfer akibat penguapan air dari
laut, danau dan sungai. Karbondioksida adalah gas terbanyak kedua. Ia timbul dari berbagai proses alami
seperti: letusan vulkanik; pernapasan hewan dan manusia (yang menghirup oksigen dan
menghembuskan karbondioksida); dan pembakaran material organik (seperti tumbuhan).

Karbondioksida dapat berkurang karena terserap oleh lautan dan diserap tanaman untuk digunakan
dalam proses fotosintesis. Fotosintesis memecah karbondioksida dan melepaskan oksigen ke atmosfer
serta mengambil atom karbonnya.

Uap air, meningkatnya uap air di Boulder, Colorado.

Uap air adalah gas rumah kaca yang timbul secara alami dan bertanggungjawab terhadap sebagian besar
dari efek rumah kaca. Konsentrasi uap air berfluktuasi secara regional, dan aktivitas manusia tidak secara
langsung mempengaruhi konsentrasi uap air kecuali pada skala lokal.

Dalam model iklim, meningkatnya temperatur atmosfer yang disebabkan efek rumah kaca akibat gas-gas
antropogenik akan menyebabkan meningkatnya kandungan uap air di troposfer, dengan kelembapan
relatif yang agak konstan. Meningkatnya konsentrasi uap air mengakibatkan meningkatnya efek rumah
kaca; yang mengakibatkan meningkatnya temperatur; dan kembali semakin meningkatkan jumlah uap air
di atmosfer. Keadaan ini terus berkelanjutan sampai mencapai titik ekuilibrium (kesetimbangan). Oleh
karena itu, uap air berperan sebagai umpan balik positif terhadap aksi yang dilakukan manusia yang
melepaskan gas-gas rumah kaca seperti CO2[1]. Perubahan dalam jumlah uap air di udara juga berakibat
secara tidak langsung melalui terbentuknya awan.

Karbondioksida

Manusia telah meningkatkan jumlah karbondioksida yang dilepas ke atmosfer ketika mereka membakar
bahan bakar fosil, limbah padat, dan kayu untuk menghangatkan bangunan, menggerakkan kendaraan
dan menghasilkan listrik. Pada saat yang sama, jumlah pepohonan yang mampu menyerap
karbondioksida semakin berkurang akibat perambahan hutan untuk diambil kayunya maupun untuk
perluasan lahan pertanian.

Walaupun lautan dan proses alam lainnya mampu mengurangi karbondioksida di atmosfer, aktivitas
manusia yang melepaskan karbondioksida ke udara jauh lebih cepat dari kemampuan alam untuk
menguranginya. Pada tahun 1750, terdapat 281 molekul karbondioksida pada satu juta molekul udara
(281 ppm). Pada Januari 2007, konsentrasi karbondioksida telah mencapai 383 ppm (peningkatan 36
persen). Jika prediksi saat ini benar, pada tahun 2100, karbondioksida akan mencapai konsentrasi 540
hingga 970 ppm. Estimasi yang lebih tinggi malah memperkirakan bahwa konsentrasinya akan meningkat
tiga kali lipat bila dibandingkan masa sebelum revolusi industri.

Metana
Metana yang merupakan komponen utama gas alam juga termasuk gas rumah kaca. Ia merupakan
insulator yang efektif, mampu menangkap panas 20 kali lebih banyak bila dibandingkan karbondioksida.
Metana dilepaskan selama produksi dan transportasi batu bara, gas alam, dan minyak bumi. Metana juga
dihasilkan dari pembusukan limbah organik di tempat pembuangan sampah (landfill), bahkan dapat
keluarkan oleh hewan-hewan tertentu, terutama sapi, sebagai produk samping dari pencernaan. Sejak
permulaan revolusi industri pada pertengahan 1700-an, jumlah metana di atmosfer telah meningkat satu
setengah kali lipat.

Nitrogen Oksida

Nitrogen oksida adalah gas insulator panas yang sangat kuat. Ia dihasilkan terutama dari pembakaran
bahan bakar fosil dan oleh lahan pertanian. Ntrogen oksida dapat menangkap panas 300 kali lebih besar
dari karbondioksida. Konsentrasi gas ini telah meningkat 16 persen bila dibandingkan masa pre-industri.

Gas lainnya

Gas rumah kaca lainnya dihasilkan dari berbagai proses manufaktur. Campuran berflourinasi dihasilkan
dari peleburan alumunium. Hidrofluorokarbon (HCFC-22) terbentuk selama manufaktur berbagai
produk, termasuk busa untuk insulasi, perabotan (furniture), dan temoat duduk di kendaraan. Lemari
pendingin di beberapa negara berkembang masih menggunakan klorofluorokarbon (CFC) sebagai media
pendingin yang selain mampu menahan panas atmosfer juga mengurangi lapisan ozon (lapisan yang
melindungi Bumi dari radiasi ultraviolet). Selama masa abad ke-20, gas-gas ini telah terakumulasi di
atmosfer, tetapi sejak 1995, untuk mengikuti peraturan yang ditetapkan dalam Protokol Montreal
tentang Substansi-substansi yang Menipiskan Lapisan Ozon, konsentrasi gas-gas ini mulai makin sedikit
dilepas ke udara.

Para ilmuan telah lama mengkhawatirkan tentang gas-gas yang dihasilkan dari proses manufaktur akan
dapat menyebabkan kerusakan lingkungan. Pada tahun 2000, para ilmuan mengidentifikasi bahan baru
yang meningkat secara substansial di atmosfer. Bahan tersebut adalah trifluorometil sulfur pentafluorida.
Konsentrasi gas ini di atmosfer meningkat dengan sangat cepat, yang walaupun masih tergolong langka
di atmosfer tetapi gas ini mampu menangkap panas jauh lebih besar dari gas-gas rumah kaca yang telah
dikenal sebelumnya. Hingga saat ini sumber industri penghasil gas ini masih belum teridentifikasi.

c. HUJAN ASAM

Hujan asam adalah suatu masalah lingkungan yang serius yang benar-benar difikirkan oleh manusia. Ini
merupakan masalah umum yang secara berangsur-angsur mempengaruhi kehidupan manusia. Istilah
Hujan asam pertama kali diperkenalkan oleh Angus Smith ketika ia menulis tentang polusi industri di
Inggris (Anonim, 2001). Tetapi istilah hujan asam tidaklah tepat, yang benar adalah deposisi asam.

Deposisi asam ada dua jenis, yaitu deposisi kering dan deposisi basah. Deposisi kering ialah peristiwa
kerkenanya benda dan mahluk hidup oleh asam yang ada dalam udara. Ini dapat terjadi pada daerah
perkotaan karena pencemaran udara akibat kendaraan maupun asap pabrik. Selain itu deposisi kering
juga dapat terjadi di daerah perbukitan yang terkena angin yang membawa udara yang mengandung
asam. Biasanya deposisi jenis ini terjadi dekat dari sumber pencemaran.

Deposisi basah ialah turunnya asam dalam bentuk hujan. Hal ini terjadi apabila asap di dalam udara larut
di dalam butir-butir air di awan. Jika turun hujan dari awan tadi, maka air hujan yang turun bersifat asam.
Deposisi asam dapat pula terjadi karena hujan turun melalui udara yang mengandung asam sehingga
asam itu terlarut ke dalam air hujan dan turun ke bumi. Asam itu tercuci atau wash out. Deposisi jenis ini
dapat terjadi sangat jauh dari sumber pencemaran.

Hujan secara alami bersifat asam karena Karbon Dioksida (CO2) di udara yang larut dengan air hujan
memiliki bentuk sebagai asam lemah. Jenis asam dalam hujan ini sangat bermanfaat karena membantu
melarutkan mineral dalam tanah yang dibutuhkan oleh tumbuhan dan binatang.

Hujan pada dasarnya memiliki tingkat keasaman berkisar pH 5, apabila hujan terkontaminasi dengan
karbon dioksida dan gas klorine yang bereaksi serta bercampur di atmosphere sehingga tingkat
keasaman lebih rendah dari pH 5, disebut dengan hujan asam.

Pada dasarnya Hujan asam disebabkan oleh 2 polutan udara, Sulfur Dioxide (SO2) dan nitrogen oxides
(NOx) yang keduanya dihasilkan melalui pembakaran. Akan tetapi sekitar 50% SO2 yang ada di atmosfer
diseluruh dunia terjadi secara alami, misalnya dari letusan gunung berapi maupun kebakaran hutan
secara alami. Sedangkan 50% lainnya berasal dari kegiatan manusia, misalnya akibat pembakaran BBF,
peleburan logam dan pembangkit listrik. Minyak bumi mengadung belerang antara 0,1% sampai 3% dan
batubara 0,4% sampai 5%. Waktu BBF di bakar, belerang tersebut beroksidasi menjadi belerang dioksida
(SO2) dan lepas di udara. Oksida belerang itu selanjutnya berubah menjadi asam sulfat (Soemarwoto O,
1992).

Kadar SO2 tertinggi terdapat pada pusat industri di Eropa, Amerika Utara dan Asia Timur. Di Eropa Barat,
90% SO2 adalah antrofogenik. Di Inggris, 2/3 SO2 berasal dari pembangkit listrik batu bara, di Jerman
50% dan di Kanada 63% (Anonim, 2005).

Menurut Soemarwoto O (1992), 50% nitrogen oxides terdapat di atmosfer secara alami, dan 50% lagi
juga terbentuk akibat kegiatan manusia, terutama akibat pembakaran BBF. Pembakaran BBF
mengoksidasi 5-50% nitrogen dalam batubara , 40-50% nitrogen dalam minyak berat dan 100% nitrogen
dalam mkinyak ringan dan gas. Makin tinggi suhu pembakaran, makin banyak Nox yang terbentuk.

Selain itu NOx juga berasal dari aktifitas jasad renik yang menggunakan senyawa organik yang
mengandung N. Oksida N merupakan hasil samping aktifitas jasad renik itu. Di dalam tanah pupuk N
yang tidak terserap tumbuhan juga mengalami kimi-fisik dan biologik sehingga menghasilkan N. Karena
itu semakin banyak menggunakan pupuk N, makin tinggi pula produksi oksida tersebut.

Senyawa SO2 dan NOx ini akan terkumpul di udara dan akan melakukan perjalanan ribuan kilometer di
atsmosfer, disaat mereka bercampur dengan uap air akan membentuk zat asam sulphuric dan nitric.
Disaat terjadinya curah hujan, kabut yang membawa partikel ini terjadilah hujam asam. Hujan asam juga
dapat terbentuk melalui proses kimia dimana gas sulphur dioxide atau sulphur dan nitrogen mengendap
pada logam serta mongering bersama debu atau partikel lainnya (Anonim. 2005).

2.2 Dampak Hujan Asam

Terjadinya hujan asam harus diwaspadai karena dampak yang ditimbulkan bersifat global dan dapat
menggangu keseimbangan ekosistem. Hujan asam memiliki dampak tidak hanya pada lingkungan biotik,
namun juga pada lingkungan abiotik, antara lain :

Danau

Kelebihan zat asam pada danau akan mengakibatkan sedikitnya species yang bertahan. Jenis Plankton
dan invertebrate merupakan mahkluk yang paling pertama mati akibat pengaruh pengasaman. Apa yang
terjadi jika didanau memiliki pH dibawah 5, lebih dari 75 % dari spesies ikan akan hilang (Anonim, 2002).
Ini disebabkan oleh pengaruh rantai makanan, yang secara signifikan berdampak pada keberlangsungan
suatu ekosistem. Tidak semua danau yang terkena hujan asam akan menjadi pengasaman, dimana telah
ditemukan jenis batuan dan tanah yang dapat membantu menetralkan keasaman.

Tumbuhan dan Hewan

Hujan asam yang larut bersama nutrisi didalam tanah akan menyapu kandungan tersebut sebelum
pohon-pohon dapat menggunakannya untuk tumbuh. Serta akan melepaskan zat kimia beracun seperti
aluminium, yang akan bercampur didalam nutrisi. Sehingga apabila nutrisi ini dimakan oleh tumbuhan
akan menghambat pertumbuhan dan mempercepat daun berguguran, selebihnya pohon-pohon akan
terserang penyakit, kekeringan dan mati. Seperti halnya danau, Hutan juga mempunyai kemampuan
untuk menetralisir hujan asam dengan jenis batuan dan tanah yang dapat mengurangi tingkat keasaman.

Pencemaran udara telah menghambat fotosintesis dan immobilisasi hasil fotosintesis dengan
pembentukan metabolit sekunder yang potensial beracun. Sebagai akibatnya akar kekurangan energi,
karena hasil fotosintesis tertahan di tajuk. Sebaliknya tahuk mengakumulasikan zat yang potensial
beracun tersebut. Dengan demikian pertumbuhan akar dan mikoriza terhambat sedangkan daunpun
menjadi rontok. Pohon menjadi lemah dan mudah terserang penyakit dan hama.

Penurunan pH tanah akibat deposisi asam juga menyebabkan terlepasnya aluminium dari tanah dan
menimbulkan keracunan. Akar yang halus akan mengalami nekrosis sehingga penyerapan hara dan iar
terhambat. Hal ini menyebabkan pohon kekurangan air dan hara serta akhirnya mati. Hanya tumbuhan
tertentu yang dapat bertahan hidup pada daerah tersebut, hal ini akan berakibat pada hilangnya
beberapa spesies. Ini juga berarti bahwa keragaman hayati tamanan juga semakin menurun.

Kadar SO2 yang tinggi di hutan menyebabkan noda putih atau coklat pada permukaan daun, jika hal ini
terjadi dalam jangka waktu yang lama akan menyebabkan kematian tumbuhan tersebut. Menurut
Soemarmoto (1992), dari analisis daun yang terkena deposisi asam menunjukkan kadar magnesium yang
rendah. Sedangkan magnesium merupakan salah satu nutrisi assensial bagi tanaman. Kekurangan
magnesium disebabkan oleh pencucian magnesium dari tanah karena pH yang rendah dan kerusakan
daun meyebabkan pencucian magnesium di daun.

Sebagaimana tumbuhan, hewan juga memiliki ambang toleransi terhadap hujan asam. Spesies hewan
tanah yang mikroskopis akan langsung mati saat pH tanah meningkat karena sifat hewan mikroskopis
adalah sangat spesifik dan rentan terhadap perubahan lingkungan yang ekstrim. Spesies hewan yang lain
juga akan terancam karena jumlah produsen (tumbuhan) semakin sedikit. Berbagai penyakit juga akan
terjadi pada hewan karena kulitnya terkena air dengan keasaman tinggi. Hal ini jelas akan menyebabkan
kepunahan spesies.

Kesehatan Manusia

Dampak deposisi asam terhadap kesehatan telah banyak diteliti, namun belum ada yang nyata
berhubungan langsung dengan pencemaran udara khususnya oleh senyawa Nox dan SO2. Kesulitan yang
dihadapi dkarenakan banyaknya faktor yang mempengaruhi kesehatan seseorang, termasuk faktor
kepekaan seseorang terhadap pencemaran yang terjadi. Misalnya balita, orang berusia lanjut, orang
dengan status gizi buruk relatif lebih rentan terhadap pencemaran udara dibandingkan dengan orang
yang sehat.

Berdasarkan hasil penelitian, sulphur dioxide yang dihasilkan oleh hujan asam juga dapat bereaksi secara
kimia didalam udara, dengan terbentuknya partikel halus suphate, yang mana partikel halus ini akan
mengikat dalam paru-paru yang akan menyebabkan penyakit pernapasan. Selain itu juga dapat
mempertinggi resiko terkena kanker kulit karena senyawa sulfat dan nitrat mengalami kontak langsung
dengan kulit.

Korosi

Hujan asam juga dapat mempercepat proses pengkaratan dari beberapa material seperti batu kapur,
pasirbesi, marmer, batu pada diding beton serta logam. Ancaman serius juga dapat terjadi pada bagunan
tua serta monument termasuk candi dan patung. Hujan asam dapat merusak batuan sebab akan
melarutkan kalsium karbonat, meninggalkan kristal pada batuan yang telah menguap. Seperti halnya
sifat kristal semakin banyak akan merusak batuan.

2.3 Upaya Pengendalian Deposisi Asam

Usaha untuk mengendalikan deposisi asam ialah menggunakan bahan bakar yang mengandung sedikit
zat pencemae, menghindari terbentuknya zat pencemar saar terjadinya pembakaran, menangkap zat
pencemar dari gas buangan dan penghematan energi.
a. Bahan Bakar Dengan kandungan Belerang Rendah

Kandungan belerang dalam bahan bakar bervariasi. Masalahnya ialah sampai saat ini Indonesia sangat
tergantung dengan minyak bumi dan batubara, sedangkan minyak bumi merupakan sumber bahan bakar
dengan kandungan belerang yang tinggi.

Penggunaan gas asalm akan mengurangi emisi zat pembentuk asam, akan tetapi kebocoran gas ini dapat
menambah emisi metan. Usaha lain yaitu dengan menggunakan bahan bakar non-belerang misalnya
metanol, etanol dan hidrogen. Akan tetapi penggantian jenis bahan bakar ini haruslah dilakukan dengan
hati-hati, jika tidak akan menimbulkan masalah yang lain. Misalnya pembakaran metanol menghasilkan
dua sampai lima kali formaldehide daripada pembakaran bensin. Zat ini mempunyai sifat karsinogenik
(pemicu kanker).

b. Mengurangi kandungan Belerang sebelum Pembakaran

Kadar belarang dalam bahan bakar dapat dikurangi dengan menggunakan teknologi tertentu. Dalam
proses produksi, misalnya batubara, batubara diasanya dicuci untukk membersihkan batubara dari pasir,
tanah dan kotoran lain, serta mengurangi kadar belerang yang berupa pirit (belerang dalam bentuk besi
sulfida( sampai 50-90% (Soemarwoto, 1992).

c. pengendalian Pencemaran Selama Pembakaran

Beberapa teknologi untuk mengurangi emisi SO2 dan Nox pada waktu pembakaran telah dikembangkan.
Slah satu teknologi ialah lime injection in multiple burners (LIMB). Dengan teknologi ini, emisi SO2 dapat
dikurangi sampai 80% dan NOx 50%.

Caranya dengan menginjeksikan kapur dalam dapur pembakaran dan suhu pembakaran diturunkan
dengan alat pembakar khusus. Kapur akan bereaksi dengan belerang dan membentuk gipsum (kalsium
sulfat dihidrat). Penuruna suhu mengakibatkan penurunan pembentukan Nox baik dari nitrogen yang
ada dalam bahan bakar maupun dari nitrogen udara.

Pemisahan polutan dapat dilakukan menggunakan penyerap batu kapur atau Ca(OH)2. Gas buang dari
cerobong dimasukkan ke dalam fasilitas FGD. Ke dalam alat ini kemudian disemprotkan udara sehingga
SO2 dalam gas buang teroksidasi oleh oksigen menjadi SO3. Gas buang selanjutnya "didinginkan" dengan
air, sehingga SO3 bereaksi dengan air (H2O) membentuk asam sulfat (H2SO4). Asam sulfat selanjutnya
direaksikan dengan Ca(OH)2 sehingga diperoleh hasil pemisahan berupa gipsum (gypsum). Gas buang
yang keluar dari sistem FGD sudah terbebas dari oksida sulfur. Hasil samping proses FGD disebut gipsum
sintetis karena memiliki senyawa kimia yang sama dengan gipsum alam.

d. Pengendalian Setelah Pembakaran

Zat pencemar juga dapat dikurangi dengan gas ilmiah hasil pembakaran. Teknologi yang sudah banyak
dipakai ialah fle gas desulfurization (FGD) (Akhadi, 2000. Prinsip teknologi ini ialah untuk mengikat SO2 di
dalam gas limbah di cerobong asap dengan absorben, yang disebut scubbing (Sudrajad, 2006). Dengan
cara ini 70-95% SO2 yang terbentuk dapat diikat. Kerugian dari cara ini ialah terbentuknya limbah. Akan
tetapi limbah itu dapat pula diubah menjadi gipsum yang dapat digunakan dalam berbagai industri. Cara
lain ialah dengan menggunakan amonia sebagai zat pengikatnya sehingga limbah yang dihasilkan dapat
dipergunakan sebagi pupuk.

Selain dapat mengurangi sumber polutan penyebab hujan asam, gipsum yang dihasilkan melalui proses
FGD ternyata juga memiliki nilai ekonomi karena dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, misal
untuk bahan bangunan. Sebagai bahan bangunan, gipsum tampil dalam bentuk papan gipsum (gypsum
boards) yang umumnya dipakai sebagai plafon atau langit-langit rumah (ceiling boards), dinding
penyekat atau pemisah ruangan (partition boards) dan pelapis dinding (wall boards).

Amerika Serikat merupakan negara perintis dalam memproduksi gipsum sintetis ini. Pabrik wallboard
dari gipsum sintetis yang pertama di AS didirikan oleh Standard Gypsum LLC mulai November tahun 1997
lalu. Lokasi pabriknya berdekatan dengan stasiun pembangkit listrik Tennessee Valley Authority (TVA) di
Cumberland yang berkapasitas 2600 megawatt.

Produksi gipsum sintetis merupakan suatu terobosan yang mampu mengubah bahan buangan yang
mencemari lingkungan menjadi suatu produk baru yang bernilai ekonomi. Sebagai bahan wallboard,
gipsum sintetis yang diproduksi secara benar ternyata memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan
gipsum yang diperoleh dari penambangan. Gipsum hasil proses FGD ini memiliki ukuran butiran yang
seragam. Mengingat dampak positifnya cukup besar, tidak mustahil suatu saat nanti, setiap PLTU batu
bara akan dilengkapi dengan pabrik gipsum sintetis.

d. Mengaplikasikan prinsip 3R (Reuse, Recycle, Reduce)

Hendaknya prinsip ini dijadikan landasan saat memproduksi suatu barang, dimana produk itu harus
dapat digunakan kembali atau dapat didaur ulang sehingga jumlah sampah atau limbah yang dihasilkan
dapat dikurangi. Teknologi yang digunakan juga harus diperhatikan, teknologi yang berpotensi
mengeluarkan emisi hendaknya diganti dengan teknologi yang lebih baik dan bersifat ramah lingkungan.
Hal ini juga berkaitan dengan perubahan gaya hidup, kita sering kali berlomba membeli kendaraan
pribadi, padahal transportasilah yang merupakan penyebab tertinggi pencemaran udara. Oleh karena itu
kita harus memenuhi kadar baku mutu emisi, baik di industri maupun transportasi.

d. KELANGKAAN AIR BERSIH

Air adalah elemen yang paling melimpah di atas bumi. 70% permukaan bumi terdiri dari air dan
jumlahnya kira-kira 1,4 ribu juta km3. Namun hanya 0,003% yang benar-benar bisa dipakai. Sebagian
besar air ada di samudera (97%) dan kadar garamnya terlalu tinggi. Sisanya tersimpan di kutub atau
sangat dalam di bawah tanah.

PBB meramalkan bahwa sekitar abad pertengahan ini, 7 miliar orang di 60 negara akan mengalami
kelangkaan air bersih. Dan yang paling terancam adalah negara-negara berkembang. Kelangkaan air
terjadi karena penggunaan air di dunia naik dua kali lipat dibandingkan seabad lalu. Apalagi jumlah
penduduk bumi terus bertambah. Langkanya air juga disebabkan penebangan hutan secara besar-
besaran.

Tipus, malaria, demam berdarah dan penyakit-penyakit yang berkaitan dengan langkanya air bersih
menjadi penyebab kematian 5 juta orang per tahun. Ini berarti setiap menit sepanjang hari, di suatu
tempat ada 10 orang meninggal. Air yang terpapar zat polutan di Afrika dan India menyebabkan 1,4 juta
orang meninggal setiap tahunnya. Biasanya, di negara berkembang, 95% sampah kota tidak terlebih dulu
diolah tapi langsung dibuang ke danau atau sungai, yang airnya digunakan untuk minum dan mandi.Air
bersih sangat penting bagi kehidupan manusia. Karena itu, langkanya air bersih dapat mengganggu
kehidupan manusia.

e. RUSAKNYA TANAH KRITIS

Perubahan Penggunaan Lahan

Data dan fakta yang teramati menunjukkan bahwa selama dekade terakhir degradasi lahan semakin
meningkat. Pada tahun 1993 jumlah luas lahan kritis di Jawa Barat diperkirakan sebesar 530.000 hektar
(15% dari luas wilayah). Pada tahun 1996 lahan kritis tersebut mencapai 1.06 juta hektar, meningkat dua
kali lipat atau mendekati sepertiga dari luas Provinsi Jawa Barat. Kondisi terburuk dengan jumlah lahan
kritis yang besar berada di wilayah kabupaten Cianjur, Bandung, Garut dan Tasikmalaya. Pada umumnya,
sebagian besar lahan kritis adalah lahan pertanian, yang menggambarkan buruknya konservasi tanah
dan penggarapan yang berlebihan sehingga menimbulkan kerusakan struktur tanah, hilangnya
kandungan bahan organik, dan hilangnya kesuburan tanah.

Ciri utama lahan kritis adalah gundul, berkesan gersang, dan bahkan muncul batu-batuan di permukaan
tanah, topografi lahan pada umumnya berbukit atau berlereng curam (Hakim et al., 1991). Tingkat
produktivitas rendah yang ditandai oleh tingginya tingkat kemasaman tanah, kekahatan hara P, K, C dan
Mg, rendahnya kapasitas tukar kation (KT), kejenuhan basa dan kandungan bahan organik, tingginya
kadar Al dan Mn, yang dapat meracuni tanaman dan peka terhadap erosi. Selain itu, pada umumnya
lahan kritis ditandai dengan vegetasi alang-alang yang mendominasinya dengan sifat-sifat lahan padang
alang-alang memiliki pH tanah relatif rendah sekitar 4,8-6,2, mengalami pencucian tanah tinggi,
ditemukan rizoma dalam jumlah banyak yang menjadi hambatan mekanik dalam budidaya tanaman,
terdapat reaksi alelopati dari akar rimpang alang-alang yang menyebabkan gangguan pertumbuhan pada
lahan tersebut

Pada umumnya, penduduk yang tinggal di daerah tersebut relatif miskin (sedikit kesempatan untuk
memperoleh income), yang disebabkan pemberdayaan tanah kritis tersebut berhubungan erat dengan
masalah kemiskinan penduduknya, tingginya kepadatan populasi, kecilnya luas lahan, kesempatan kerja
terbatas dan lingkungan yang terdegradasi. Oleh karena itu perlu diterapkan sistem pertanian
berkelanjutan dengan melibatkan penduduk dan kelembagaan.

Permasalahan Lahan Kritis

Meluasnya lahan kritis disebabkan oleh beberapa hal antara lain


1. Tekanan penduduk

2. Perluasan areal pertanian yang tidak sesuai,

3. Perladangan berpindah

4. Padang penggembalaan yang berlebihan

5. Pengelolaan hutan yang tidak baik

6. Pembakaran yang tidak terkendali

Fujisaka dan Carrity (1989) mengemukakan bahwa masalah utama yang dihadapi di lahan kritis antara
lain adalah lahan mudah tererosi, tanah bereaksi masam dan miskin unsur hara.

Strategi Pengelolaan Lahan Kritis

Akhir-akhir ini ada pendapat yang menyatakan bahwa strategi swasembada pangan perlu diubah
menjadi swadaya pangan. Artinya, yang harus diutamakan bukan meningkatkan produksi tetapi
bagaimana menumbuhkan kemampuan membeli bahan pangan. Dalam kondisi yang tidak
menguntungkan, impor pangan tertentu merupakan alternatif yang dianggap baik.

Apapun strategi yang dianut, pengelolaan usahatani tanaman pangan tetap perlu dilakasanakan sebaik
mungkin dengan tujuan produksi tinggi dan berwawasan lingkungan agar kebutuhan pangan nasional
tidak tergantung kepada negara lain. Dalam kaitan itu, penelitian dan pengembangan teknologi
usahatani perlu ditingkatkan, termasuk penelusuran perluasan areal baru, baik oleh pengambil kebijakan
maupun para ahli dan pihak terkait lainnya.

1. Aplikasi Usahatani Konservasi

Banyak teknologi yang dianjurkan untuk menekan erosi tanah, seperti pembuatan teras dan galengan.
Akan tetapi, petani pada umumnya tidak memiliki cukup biaya untuk pembuatan teras. Oleh karena itu,
belakangan ini telah dianjurkan pula sistem usahatani konservasi.

Sistem usahatani konservasi adalah penataan usahatani yang stabil berdasarkan daya dukung lahan yang
didasarkan atas tanggapannya terhadap faktor-faktor fisik, biologis dan sosial ekonomis serta
berlandaskan sasaran dan tujuan rumah tangga petani dengan mempertimbangkan sumber daya yang
tersedia (UACP-FSR 1990).

Penanganan masalah secara parsial yang telah ditempuh selama ini ternyata tidak mampu mengatasi
masalah yang kompleks dan juga tidak efisien ditinjau dari segi biaya. Pendekatan parsial untuk
mengatasi masalah produktivitas tanaman adalah ciri suatu penelitian yang berbasis komoditas. CGIAR
(Consultative Group on International Agriculture Research) mengubah strategi penelitian melalui
pendekatan holistik dengan fokus sumberdaya. Dalam skala makro strateginya disebut ecoregional
initiative dan dalam skala mikro dijabarkan dalam integrated crop management (Kartaatmadja dan Fagi,
1999).
Kunci keberhasilan budidaya tanaman pangan berkelanjutan antara lain 1) mengusahakan agar tanah
tertutup tanaman sepanjang tahun guna melindungi tanah dari erosi dan pencucian 2) mengembalikan
sisa-sisa tanaman, kompos dan pupuk kandang ke dalam tanah guna memperbaiki/mempertahankan
bahan organik tanah (Effendi et al, 1986). Sedangkan kebiasaan petani dalam mengusahakan tanaman
pangan sebagian besar limbah pertaniannya diangkut keluar untuk pakan dan kayu bakar, dibakar pada
saat persiapan tanah atau terbawa erosi, oleh karena itu makin lama kandungan bahan organik tanah
makin menurun dan diikuti oleh peningkatan erosi tanah karena kurangnya tindakan konservasi tanah.

Pengusahaan budidaya tanaman yang dapat menutup permukaan tanah sepanjang tahun merupakan
tindakan konservasi vegetatif yang baik. Tindakan tersebut akan lebih baik lagi jika sisa tanaman juga
dikembalikan sebagai tambahan bahan organik tanah. Bahan organik yang tinggi tidak hanya akan
menambah nutrisi tanah setelah melapuk , tetapi juga dapat berperan sebagai penyanggah dari pupuk
yang diberikan, mengikat air lebih baik dan meningkatkan daya infiltrasi tanah dari curah hujan yang
jatuh akhirnya dapat mengurangi erosi dan aliran permukaan serta dapat meningkat produksi dan
pendapatan petani. Penelitian jangka panjang penggunaan bahan organik pada pola tanam tanaman
pangan di lahan kering di laboratorurium lapangan ungaran. Hasil penelitian selama 3 tahun menujukkan
bahwa pemberian pupuk kandang cukup satu kali saja pada awal musim hujan, karena tidak ada
perbedaan yang berarti antara yang diberikan tiga kali dan satu kali. Hasil pertanaman jagung dan ubi
kayu lebih tinggi pada pola tanam yang didahului oleh tanaman kacang tanah dibanding yang didahului
oleh padi googo, masing meningkat 29 dan 50 %. (Toha dan Abdurrahman, 1991).

Pupuk hijau tanaman leguminosa dapat meningkatkan kadar C organik, Kadar N total dan KTK tanah
(Lukman dan Mursidi, 1987). Dengan demikian mulsa diharapkan dapat mensubsidi unsur hara yang
biasa ditambahkan melalui pupuk buatan. Toha et al., (1985) mengemukakan bahwa pemberian mulsa
lamtorogung 30 t/ha dengan tanpa pupuk N dapat mengimbangi pemupukan 45 kg N/ha dengan tanpa
mulsa.

Berdasarkan kaidah konservasi tanah dan air, lahan yang berkemiringan 15 % tidak dibenarkan untuk
usahatani tanaman pangan (semusim). Akan tetapi, karena tidak punya pilihan lain maka petani
menggunakan lahan tersebut unutk usahatani tanaman semusim. Sehubungan dengan itu, Hakim et al.,
(1991) berpendapat bahwa usahatani tanaman pangan pada lahan tersebut dapat dianjurkan, tetapi
perlu diikuti dengan upaya konservasi tanah dan air. Dari laporan Hakim et al., (1991) diketahui bahwa
tanaman jagung, kedelai dan kacang hijau dapat berproduksi dengan baik pada lahan kritis yang sudah
dikonservasi

Upaya dalam mempertahankan atau meningkatkan produktivitas lahan kritis hendaknya didekati dengan
menerapkan sistem usahatani konservasi melalui, pengaturan pola tanam, penambahan bahan organik
dengan daur ulang sisa panen dan gulma, serta penerapan budidaya lorong (Adiningsih dan Mulyadi,
1992). Penerapan teknologi tersebut akan memberikan pengaruh positif terhadap produktivitas tanah
seperti meningkatnya ketersediaan P dan bahan organik tanah serta menurunnya kadar Al.

2. Penggunaan Amelioran
Penggunaan pupuk organik (pupuk kandang atau pupuk hijau ) dan kapur dapat meningkatkan efisiensi
pemakaian pupuk anorganik, karena kedua unsur tersebut dapat meningkatkan daya pegang air dan hara
di tanah, sementara itu, residu pupuk diharapkan dapat mengurangi jumlah pemakaian pupuk anorganik
pada tanam berikutnya. Hasil penelitian Arief dan Irman (1993) disimpulkan bahwa pemberian
amelioran berupa kapur, pupuk kandang, daun gamal, jerami padi dan kiserit mampu meningkatkan hasi
padi gogo dan kedelai di tanah podzolik merah kuning.

DAS Jratunseluna (1989) mengemukakan bahwa penggunaan mulsa segar maupun limbah tanaman
dapat meningkatkan hasil kacang hijau. Rata-rata hasil mencapai 1,22 t/ha. Hasil tertinggi dicapai pada
penggunaan mulsa daun kaliandra sebanyak 10 t/ha. Sisa tanaman yang baik digunakan sebagai mulsa
pertanaman kacang hijau berturut-turut jerami padi, jerami jagung, jerami kacang tanah dan terakhir
jerami kedelai dengan hasil cukup baik mencapai 1,37; 1,35; 1,25 dan 1,22 t/ha. Mulsa segar kalindra dan
lamtorogung dapat dikembangkan sebagai tanaman pagar dalam sistem pertanaman lorong.

3. Penerapan Sistem Budidaya Lorong

Salah satu cara untuk meningkatkan produksi dan pendapatan petani tanaman pangan adalah
peningkatan intensitas tanam. Intensitas tanam yang tinggi melalui pengaturan pola tanam merupakan
tindakan konservasi vegetatif yang sangat dianjurkan. Tetutupnya lahan sepanjang tahun, akan
mengurangi erosi (run off berkurang, infiltrasi air hujan meningkat) serta menghasilkan limbah tanaman
pangan untuk menambah bahan organik tanah (Effendi, 1987).

Budidaya lorong adalah upaya pemanfaatan lahan dengan tanaman tahunan dan tanaman semusim.
Tanaman semusim ditanam di lorong tanaman pagar yang umumnya berupa famili kacang-kacangan
(Kang, Wilson dan Lowson, 1984). Tanaman pagar berfungsi sebagai penahan erosi dan penghasil bahan
organik yang dapat meningkatkan produktivitas lahan (IPB, 1987)

Hasil penelitian Evenson dan Jost (1986) di Sitiung, Sumatera Barat, menunjukkan bahwa tanaman pagar
jenis Albisia menghasilkan biomas dan nitrogen lebih banyak dibanding Kaliandra. Sedangkan Adiningsih
et al., (1986) mengemukakan bahwa di Kuamang Kuning, Jambi, Kalindra dan Lamtoro menghasilkan
biomas lebih banyak daripada Flemengia congesta. Zaini et al., (1985) melaporkan bahwa biomas yang
dihasilkan lamtoro di Sitiung, Sumatera Barat berbisar antara 4,6-6,3 t/ha/tahun, Flemengia congesta
sekitar 5 t/ha/tahun, sedangkan Albisia berkisar antara 2,5-3,1 t/ha/tahun.

Hasil penelitian Hakim et al., (1993) menunjukkan bahwa budidaya lorong dengan rumput raja (king
grass) sebagai tanaman pagar dan rotasi jagung-kedelai atau jagung-jagung sebagai tanaman lorong,
dapat disarankan pada lahan kritis. Rumput raja selain sebagai pupuk hijau juga dapat menekan laju
erosi.

f. MENIPISNYA LAPISAN OZON


Ancaman yang diketahui terhadap keseimbangan ozon adalah kloroflorokarbon (CFC) yang
mengakibatkan menipisnya lapisan ozon. CFC digunakan oleh masyarakat modern dengan cara yang
tidak terkira banyaknya, misalnya dengan :

1. AC

2. kulkas

3. bahan dorong dalam penyembur (aerosol), diantaranya kaleng semprot untuk pengharum ruangan,
penyemprot rambut atau parfum

4. pembuatan busa

5. bahan pelarut terutama bagi kilang-kilang elektronik

Satu buah molekul CFC memiliki masa hidup 50 hingga 100 tahun dalam atmosfer sebelum dihapuskan.
Dalam waktu kira-kira 5 tahun, CFC bergerak naik dengan perlahan ke dalam stratosfer (10 50 km).
Molekul CFC terurai setelah bercampur dengan sinar UV, dan membebaskan atom KLORIN. Atom klorin
ini berupaya memusnahkan ozon dan menghasilkan LUBANG OZON. Penipisan lapisan ozon akan
menyebabkan lebih banyak sinar UV memasuki bumi.

Lubang ozon di Antartika disebabkan oleh penipisan lapisan ozon antara ketinggian tertentu seluruh
Antartika pada musim semi. Pembentukan lubang tersebut terjadi setiap bulan September dan pulih ke
keadaan normal pada lewat musin semi atau awal musim panas.

Dalam bulan Oktober 1987, 1989, 1990 dan 1991, lubang ozon yang luas telah dilacak di seluruh
Antartika dengan kenaikan 60% pengurangan ozon berbanding dengan permukaan lubang pra-ozon.
Pada bulan Oktober 1991, permukaan terendah atmosfer ozon yang pernah dicatat telah terjadi di
seluruh Antartika.

1975, dikhawatirkan aktivitas manusia akan mengancam lapisan ozon. Oleh itu atas permintaan United
Nations Environment Programme (UNEP), WMO memulai Penyelidikan Ozon Global dan Proyek
Pemantauan untuk mengkoordinasi pemantauan dan penyelidikan ozon dalam jangka panjang. Semua
data dari tapak pemantauan di seluruh dunia diantarkan ke Pusat Data Ozon Dunia di Toronto, Kanada,
yang tersedia kepada masyarakat ilmiah internasional. 1977, pertemuan pakar UNEP mengambil
tindakan Rencana Dunia terhadap lapisan ozon; 1987, ditandatangani Protokol Montreal, suatu
perjanjian untuk perlindungan terhadap lapisan ozon. Protokol ini kemudian diratifikasi oleh 36 negara
termasuk Amerika Serikat. 1990 Pelarangan total terhadap penggunaan CFC sejak diusulkan oleh
Komunitas Eropa (sekarang Uni Eropa) pada tahun 1989, yang juga disetujui oleh Presiden AS George
Bush.

1991 Untuk memonitor berkurangnya ozon secara global, National Aeronautics and Space
Administration (NASA) meluncurkan Satelit Peneliti Atmosfer. Satelit dengan berat 7 ton ini mengorbit
pada ketinggian 600 km (372 mil) untuk mengukur variasi ozon pada berbagai ketinggian dan
menyediakan gambaran jelas pertama tentang kimiawi atmosfer di atas. 1995, lebih dari 100 negara
setuju untuk secara bertahap menghentikan produksi pestisida metil bromida di negara-negara maju.
Bahan ini diperkirakan dapat menyebabkan pengurangan lapisan ozon hingga 15 persen pada tahun
2000.1995 CFC tidak diproduksi lagi di negara maju pada akhir tahun dan dihentikan secara bertahap di
negara berkembang hingga tahun 2010.

Hidrofluorokarbon atau HCFC, yang lebih sedikit menyebabkan kerusakan lapisan ozon bila dibandingkan
CFC, digunakan sementara sebagai pengganti CFC.

Memang timbulnya penipisan lapisan ozon ini dipicu dari tingginya pemakaian CFC oleh negara-negara
maju beberapa dekade yang lalu, namun guna menormalkan kembali kondisi ozon ini diperlukan kerja
sama yang baik dari semua pihak. Baik negara maju maupun negara berkembang yang saat ini masih
menginginkan penggunaan zat kimia buatan manusia tersebut dalam industrinya perlu melakukan
tindakan yang diperlukan.

Tindakan yang dapat kita lakukan saat ini demi memelihara lapisan ozon, misalnya mulai mengurangi
atau tidak menggunakan lagi produk-produk rumah tangga yang mengandung zat-zat yang dapat
merusak lapisan pelindung bumi dari sinar UV ini. Untuk itu, diperlukan upaya meningkatkan kesadaran
dan partisipasi aktif masyarakat dalam program perlindungan lapisan ozon, pemahaman mengenai
penanggulangan penipisan lapisan ozon, memperkenalkan bahan, proses, produk, dan teknologi yang
tidak merusak lapisan ozon. Bila tidak, maka proses penipisan ozon akan semakin meningkat dan
mungkin saja akan menyebabkan lapisan ini tidak dapat dikembalikan lagi ke bentuk aslinya

g. PEMANASAN GLOBAL

Anomali temperatur permukaan rata-rata selama periode 1995 sampai 2004 dengan dibandingkan pada
temperatur rata-rata dari 1940 sampai 1980

Pemanasan global atau Global Warming adalah adanya proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut,
dan daratan Bumi.

Suhu rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat 0.74 0.18 C (1.33 0.32 F) selama
seratus tahun terakhir. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa,
"sebagian besar peningkatan suhu rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar
disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia"[1] melalui efek
rumah kaca. Kesimpulan dasar ini telah dikemukakan oleh setidaknya 30 badan ilmiah dan akademik,
termasuk semua akademi sains nasional dari negara-negara G8. Akan tetapi, masih terdapat beberapa
ilmuwan yang tidak setuju dengan beberapa kesimpulan yang dikemukakan IPCC tersebut.

Model iklim yang dijadikan acuan oleh projek IPCC menunjukkan suhu permukaan global akan meningkat
1.1 hingga 6.4 C (2.0 hingga 11.5 F) antara tahun 1990 dan 2100.[1] Perbedaan angka perkiraan itu
disebabkan oleh penggunaan skenario-skenario berbeda mengenai emisi gas-gas rumah kaca di masa
mendatang, serta model-model sensitivitas iklim yang berbeda. Walaupun sebagian besar penelitian
terfokus pada periode hingga 2100, pemanasan dan kenaikan muka air laut diperkirakan akan terus
berlanjut selama lebih dari seribu tahun walaupun tingkat emisi gas rumah kaca telah stabil.[1] Ini
mencerminkan besarnya kapasitas panas dari lautan.

Meningkatnya suhu global diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan yang lain seperti
naiknya permukaan air laut, meningkatnya intensitas fenomena cuaca yang ekstrim,[2] serta perubahan
jumlah dan pola presipitasi. Akibat-akibat pemanasan global yang lain adalah terpengaruhnya hasil
pertanian, hilangnya gletser, dan punahnya berbagai jenis hewan.

Beberapa hal-hal yang masih diragukan para ilmuwan adalah mengenai jumlah pemanasan yang
diperkirakan akan terjadi di masa depan, dan bagaimana pemanasan serta perubahan-perubahan yang
terjadi tersebut akan bervariasi dari satu daerah ke daerah yang lain. Hingga saat ini masih terjadi
perdebatan politik dan publik di dunia mengenai apa, jika ada, tindakan yang harus dilakukan untuk
mengurangi atau membalikkan pemanasan lebih lanjut atau untuk beradaptasi terhadap konsekuensi-
konsekuensi yang ada. Sebagian besar pemerintahan negara-negara di dunia telah menandatangani dan
meratifikasi Protokol Kyoto, yang mengarah pada pengurangan emisi gas-gas rumah kaca.

Penyebab pemanasan global

Efek rumah kaca

Segala sumber energi yang terdapat di Bumi berasal dari Matahari. Sebagian besar energi tersebut
berbentuk radiasi gelombang pendek, termasuk cahaya tampak. Ketika energi ini tiba permukaan Bumi,
ia berubah dari cahaya menjadi panas yang menghangatkan Bumi. Permukaan Bumi, akan menyerap
sebagian panas dan memantulkan kembali sisanya. Sebagian dari panas ini berwujud radiasi infra merah
gelombang panjang ke angkasa luar. Namun sebagian panas tetap terperangkap di atmosfer bumi akibat
menumpuknya jumlah gas rumah kaca antara lain uap air, karbon dioksida, dan metana yang menjadi
perangkap gelombang radiasi ini. Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang
yang dipancarkan Bumi dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan di permukaan Bumi. Keadaan ini
terjadi terus menerus sehingga mengakibatkan suhu rata-rata tahunan bumi terus meningkat.

Gas-gas tersebut berfungsi sebagaimana gas dalam rumah kaca. Dengan semakin meningkatnya
konsentrasi gas-gas ini di atmosfer, semakin banyak panas yang terperangkap di bawahnya.

Efek rumah kaca ini sangat dibutuhkan oleh segala makhluk hidup yang ada di bumi, karena tanpanya,
planet ini akan menjadi sangat dingin. Dengan temperatur rata-rata sebesar 15 C (59 F), bumi
sebenarnya telah lebih panas 33 C (59 F)dari temperaturnya semula, jika tidak ada efek rumah kaca
suhu bumi hanya -18 C sehingga es akan menutupi seluruh permukaan Bumi. Akan tetapi sebaliknya,
apabila gas-gas tersebut telah berlebihan di atmosfer, akan mengakibatkan pemanasan global.

Efek umpan balik

Anasir penyebab pemanasan global juga dipengaruhi oleh berbagai proses umpan balik yang
dihasilkannya. Sebagai contoh adalah pada penguapan air. Pada kasus pemanasan akibat bertambahnya
gas-gas rumah kaca seperti CO2, pemanasan pada awalnya akan menyebabkan lebih banyaknya air yang
menguap ke atmosfer. Karena uap air sendiri merupakan gas rumah kaca, pemanasan akan terus
berlanjut dan menambah jumlah uap air di udara sampai tercapainya suatu kesetimbangan konsentrasi
uap air. Efek rumah kaca yang dihasilkannya lebih besar bila dibandingkan oleh akibat gas CO2 sendiri.
(Walaupun umpan balik ini meningkatkan kandungan air absolut di udara, kelembaban relatif udara
hampir konstan atau bahkan agak menurun karena udara menjadi menghangat).[3] Umpan balik ini
hanya berdampak secara perlahan-lahan karena CO2 memiliki usia yang panjang di atmosfer.

Efek umpan balik karena pengaruh awan sedang menjadi objek penelitian saat ini. Bila dilihat dari
bawah, awan akan memantulkan kembali radiasi infra merah ke permukaan, sehingga akan
meningkatkan efek pemanasan. Sebaliknya bila dilihat dari atas, awan tersebut akan memantulkan sinar
Matahari dan radiasi infra merah ke angkasa, sehingga meningkatkan efek pendinginan. Apakah efek
netto-nya menghasilkan pemanasan atau pendinginan tergantung pada beberapa detail-detail tertentu
seperti tipe dan ketinggian awan tersebut. Detail-detail ini sulit direpresentasikan dalam model iklim,
antara lain karena awan sangat kecil bila dibandingkan dengan jarak antara batas-batas komputasional
dalam model iklim (sekitar 125 hingga 500 km untuk model yang digunakan dalam Laporan Pandangan
IPCC ke Empat). Walaupun demikian, umpan balik awan berada pada peringkat dua bila dibandingkan
dengan umpan balik uap air dan dianggap positif (menambah pemanasan) dalam semua model yang
digunakan dalam Laporan Pandangan IPCC ke Empat.[3]

Umpan balik penting lainnya adalah hilangnya kemampuan memantulkan cahaya (albedo) oleh es.[4]
Ketika temperatur global meningkat, es yang berada di dekat kutub mencair dengan kecepatan yang
terus meningkat. Bersamaan dengan melelehnya es tersebut, daratan atau air di bawahnya akan terbuka.
Baik daratan maupun air memiliki kemampuan memantulkan cahaya lebih sedikit bila dibandingkan
dengan es, dan akibatnya akan menyerap lebih banyak radiasi Matahari. Hal ini akan menambah
pemanasan dan menimbulkan lebih banyak lagi es yang mencair, menjadi suatu siklus yang
berkelanjutan.

Umpan balik positif akibat terlepasnya CO2 dan CH4 dari melunaknya tanah beku (permafrost) adalah
mekanisme lainnya yang berkontribusi terhadap pemanasan. Selain itu, es yang meleleh juga akan
melepas CH4 yang juga menimbulkan umpan balik positif.

Kemampuan lautan untuk menyerap karbon juga akan berkurang bila ia menghangat, hal ini diakibatkan
oleh menurunya tingkat nutrien pada zona mesopelagic sehingga membatasi pertumbuhan diatom
daripada fitoplankton yang merupakan penyerap karbon yang rendah.[5]

Variasi Matahari selama 30 tahun terakhir.

Terdapat hipotesa yang menyatakan bahwa variasi dari Matahari, dengan kemungkinan diperkuat oleh
umpan balik dari awan, dapat memberi kontribusi dalam pemanasan saat ini.[6] Perbedaan antara
mekanisme ini dengan pemanasan akibat efek rumah kaca adalah meningkatnya aktivitas Matahari akan
memanaskan stratosfer sebaliknya efek rumah kaca akan mendinginkan stratosfer. Pendinginan
stratosfer bagian bawah paling tidak telah diamati sejak tahun 1960,[7] yang tidak akan terjadi bila
aktivitas Matahari menjadi kontributor utama pemanasan saat ini. (Penipisan lapisan ozon juga dapat
memberikan efek pendinginan tersebut tetapi penipisan tersebut terjadi mulai akhir tahun 1970-an.)
Fenomena variasi Matahari dikombinasikan dengan aktivitas gunung berapi mungkin telah memberikan
efek pemanasan dari masa pra-industri hingga tahun 1950, serta efek pendinginan sejak tahun 1950.[8]
[9]

Ada beberapa hasil penelitian yang menyatakan bahwa kontribusi Matahari mungkin telah diabaikan
dalam pemanasan global. Dua ilmuan dari Duke University mengestimasikan bahwa Matahari mungkin
telah berkontribusi terhadap 45-50% peningkatan temperatur rata-rata global selama periode 1900-
2000, dan sekitar 25-35% antara tahun 1980 dan 2000.[10] Stott dan rekannya mengemukakan bahwa
model iklim yang dijadikan pedoman saat ini membuat estimasi berlebihan terhadap efek gas-gas rumah
kaca dibandingkan dengan pengaruh Matahari; mereka juga mengemukakan bahwa efek pendinginan
dari debu vulkanik dan aerosol sulfat juga telah dipandang remeh.[11] Walaupun demikian, mereka
menyimpulkan bahwa bahkan dengan meningkatkan sensitivitas iklim terhadap pengaruh Matahari
sekalipun, sebagian besar pemanasan yang terjadi pada dekade-dekade terakhir ini disebabkan oleh gas-
gas rumah kaca.

Pada tahun 2006, sebuah tim ilmuan dari Amerika Serikat, Jerman dan Swiss menyatakan bahwa mereka
tidak menemukan adanya peningkatan tingkat "keterangan" dari Matahari pada seribu tahun terakhir ini.
Siklus Matahari hanya memberi peningkatan kecil sekitar 0,07% dalam tingkat "keterangannya" selama
30 tahun terakhir. Efek ini terlalu kecil untuk berkontribusi terhadap pemansan global.[12][13] Sebuah
penelitian oleh Lockwood dan Frhlich menemukan bahwa tidak ada hubungan antara pemanasan
global dengan variasi Matahari sejak tahun 1985, baik melalui variasi dari output Matahari maupun
variasi dalam sinar kosmis.

Mengukur pemanasan global

Hasil pengukuran konsentrasi CO2 di Mauna Loa

Pada awal 1896, para ilmuan beranggapan bahwa membakar bahan bakar fosil akan mengubah
komposisi atmosfer dan dapat meningkatkan temperatur rata-rata global. Hipotesis ini dikonfirmasi
tahun 1957 ketika para peneliti yang bekerja pada program penelitian global yaitu International
Geophysical Year, mengambil sampel atmosfer dari puncak gunung Mauna Loa di Hawai.

Hasil pengukurannya menunjukkan terjadi peningkatan konsentrasi karbon dioksida di atmosfer. Setelah
itu, komposisi dari atmosfer terus diukur dengan cermat. Data-data yang dikumpulkan menunjukkan
bahwa memang terjadi peningkatan konsentrasi dari gas-gas rumah kaca di atmosfer.

Para ilmuan juga telah lama menduga bahwa iklim global semakin menghangat, tetapi mereka tidak
mampu memberikan bukti-bukti yang tepat. Temperatur terus bervariasi dari waktu ke waktu dan dari
lokasi yang satu ke lokasi lainnya. Perlu bertahun-tahun pengamatan iklim untuk memperoleh data-data
yang menunjukkan suatu kecenderungan (trend) yang jelas. Catatan pada akhir 1980-an agak
memperlihatkan kecenderungan penghangatan ini, akan tetapi data statistik ini hanya sedikit dan tidak
dapat dipercaya.
Stasiun cuaca pada awalnya, terletak dekat dengan daerah perkotaan sehingga pengukuran temperatur
akan dipengaruhi oleh panas yang dipancarkan oleh bangunan dan kendaraan dan juga panas yang
disimpan oleh material bangunan dan jalan. Sejak 1957, data-data diperoleh dari stasiun cuaca yang
terpercaya (terletak jauh dari perkotaan), serta dari satelit. Data-data ini memberikan pengukuran yang
lebih akurat, terutama pada 70 persen permukaan planet yang tertutup lautan. Data-data yang lebih
akurat ini menunjukkan bahwa kecenderungan menghangatnya permukaan Bumi benar-benar terjadi.
Jika dilihat pada akhir abad ke-20, tercatat bahwa sepuluh tahun terhangat selama seratus tahun terakhir
terjadi setelah tahun 1980, dan tiga tahun terpanas terjadi setelah tahun 1990, dengan 1998 menjadi
yang paling panas.

Dalam laporan yang dikeluarkannya tahun 2001, Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC)
menyimpulkan bahwa temperatur udara global telah meningkat 0,6 derajat Celsius (1 derajat Fahrenheit)
sejak 1861. Panel setuju bahwa pemanasan tersebut terutama disebabkan oleh aktivitas manusia yang
menambah gas-gas rumah kaca ke atmosfer. IPCC memprediksi peningkatan temperatur rata-rata global
akan meningkat 1.1 hingga 6.4 C (2.0 hingga 11.5 F) antara tahun 1990 dan 2100.

IPCC panel juga memperingatkan, bahwa meskipun konsentrasi gas di atmosfer tidak bertambah lagi
sejak tahun 2100, iklim tetap terus menghangat selama periode tertentu akibat emisi yang telah
dilepaskan sebelumnya. karbon dioksida akan tetap berada di atmosfer selama seratus tahun atau lebih
sebelum alam mampu menyerapnya kembali.[15]

Jika emisi gas rumah kaca terus meningkat, para ahli memprediksi, konsentrasi karbondioksioda di
atmosfer dapat meningkat hingga tiga kali lipat pada awal abad ke-22 bila dibandingkan masa sebelum
era industri. Akibatnya, akan terjadi perubahan iklim secara dramatis. Walaupun sebenarnya peristiwa
perubahan iklim ini telah terjadi beberapa kali sepanjang sejarah Bumi, manusia akan menghadapi
masalah ini dengan risiko populasi yang sangat besar.

Model iklim

Prakiraan peningkatan temperature terhadap beberapa skenario kestabilan (pita berwarna) berdasarkan
Laporan Pandangan IPCC ke Empat. Garis hitam menunjukkan prakiraan terbaik; garis merah dan biru
menunjukkan batas-batas kemungkinan yang dapat terjadi.

Perhitungan pemanasan global pada tahun 2001 dari beberapa model iklim berdasarkan scenario SRES
A2, yang mengasumsikan tidak ada tindakan yang dilakukan untuk mengurangi emisi.

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Model iklim global

Para ilmuan telah mempelajari pemanasan global berdasarkan model-model computer berdasarkan
prinsip-prinsip dasar dinamikan fluida, transfer radiasi, dan proses-proses lainya, dengan beberapa
penyederhanaan disebabkan keterbatasan kemampuan komputer. Model-model ini memprediksikan
bahwa penambahan gas-gas rumah kaca berefek pada iklim yang lebih hangat.[16] Walaupun digunakan
asumsi-asumsi yang sama terhadap konsentrasi gas rumah kaca di masa depan, sensitivitas iklimnya
masih akan berada pada suatu rentang tertentu.

Dengan memasukkan unsur-unsur ketidakpastian terhadap konsentrasi gas rumah kaca dan pemodelan
iklim, IPCC memperkirakan pemanasan sekitar 1.1 C hingga 6.4 C (2.0 F hingga 11.5 F) antara tahun
1990 dan 2100.[1] Model-model iklim juga digunakan untuk menyelidiki penyebab-penyebab perubahan
iklim yang terjadi saat ini dengan membandingkan perubahan yang teramati dengan hasil prediksi model
terhadap berbagai penyebab, baik alami maupun aktivitas manusia.

Model iklim saat ini menghasilkan kemiripan yang cukup baik dengan perubahan temperature global
hasil pengamatan selama seratus tahun terakhir, tetapi tidak mensimulasi semua aspek dari iklim.[17]
Model-model ini tidak secara pasti menyatakan bahwa pemanasan yang terjadi antara tahun 1910
hingga 1945 disebabkan oleh proses alami atau aktivitas manusia; akan tetapi; mereka menunjukkan
bahwa pemanasan sejak tahun 1975 didominasi oleh emisi gas-gas yang dihasilkan manusia.

Sebagian besar model-model iklim, ketika menghitung iklim di masa depan, dilakukan berdasarkan
skenario-skenario gas rumah kaca, biasanya dari Laporan Khusus terhadap Skenario Emisi (Special Report
on Emissions Scenarios / SRES) IPCC. Yang jarang dilakukan, model menghitung dengan menambahkan
simulasi terhadap siklus karbon; yang biasanya menghasilkan umpan balik yang positif, walaupun
responnya masih belum pasti (untuk skenario A2 SRES, respon bervariasi antara penambahan 20 dan 200
ppm CO2). Beberapa studi-studi juga menunjukkan beberapa umpan balik positif.[18][19][20]

Pengaruh awan juga merupakan salah satu sumber yang menimbulkan ketidakpastian terhadap model-
model yang dihasilkan saat ini, walaupun sekarang telah ada kemajuan dalam menyelesaikan masalah
ini.[21] Saat ini juga terjadi diskusi-diskusi yang masih berlanjut mengenai apakah model-model iklim
mengesampingkan efek-efek umpan balik dan tak langsung dari variasi Matahari

. Dampak pemanasan global

Para ilmuan menggunakan model komputer dari temperatur, pola presipitasi, dan sirkulasi atmosfer
untuk mempelajari pemanasan global. Berdasarkan model tersebut, para ilmuan telah membuat
beberapa prakiraan mengenai dampak pemanasan global terhadap cuaca, tinggi permukaan air laut,
pantai, pertanian, kehidupan hewan liar dan kesehatan manusia.

Iklim Mulai Tidak Stabil

Para ilmuan memperkirakan bahwa selama pemanasan global, daerah bagian Utara dari belahan Bumi
Utara (Northern Hemisphere) akan memanas lebih dari daerah-daerah lain di Bumi. Akibatnya, gunung-
gunung es akan mencair dan daratan akan mengecil. Akan lebih sedikit es yang terapung di perairan
Utara tersebut. Daerah-daerah yang sebelumnya mengalami salju ringan, mungkin tidak akan
mengalaminya lagi. Pada pegunungan di daerah subtropis, bagian yang ditutupi salju akan semakin
sedikit serta akan lebih cepat mencair. Musim tanam akan lebih panjang di beberapa area. Temperatur
pada musim dingin dan malam hari akan cenderung untuk meningkat.
Daerah hangat akan menjadi lebih lembab karena lebih banyak air yang menguap dari lautan. Para
ilmuan belum begitu yakin apakah kelembaban tersebut malah akan meningkatkan atau menurunkan
pemanasan yang lebih jauh lagi. Hal ini disebabkan karena uap air merupakan gas rumah kaca, sehingga
keberadaannya akan meningkatkan efek insulasi pada atmosfer. Akan tetapi, uap air yang lebih banyak
juga akan membentuk awan yang lebih banyak, sehingga akan memantulkan cahaya matahari kembali ke
angkasa luar, dimana hal ini akan menurunkan proses pemanasan (lihat siklus air). Kelembaban yang
tinggi akan meningkatkan curah hujan, secara rata-rata, sekitar 1 persen untuk setiap derajat Fahrenheit
pemanasan. (Curah hujan di seluruh dunia telah meningkat sebesar 1 persen dalam seratus tahun
terakhir ini)[22]. Badai akan menjadi lebih sering. Selain itu, air akan lebih cepat menguap dari tanah.
Akibatnya beberapa daerah akan menjadi lebih kering dari sebelumnya. Angin akan bertiup lebih
kencang dan mungkin dengan pola yang berbeda. Topan badai (hurricane) yang memperoleh
kekuatannya dari penguapan air, akan menjadi lebih besar. Berlawanan dengan pemanasan yang terjadi,
beberapa periode yang sangat dingin mungkin akan terjadi. Pola cuaca menjadi tidak terprediksi dan
lebih ekstrim

. Peningkatan permukaan laut

Perubahan tinggi rata-rata muka laut diukur dari daerah dengan lingkungan yang stabil secara geologi.

Ketika atmosfer menghangat, lapisan permukaan lautan juga akan menghangat, sehingga volumenya
akan membesar dan menaikkan tinggi permukaan laut. Pemanasan juga akan mencairkan banyak es di
kutub, terutama sekitar Greenland, yang lebih memperbanyak volume air di laut. Tinggi muka laut di
seluruh dunia telah meningkat 10 25 cm (4 - 10 inchi) selama abad ke-20, dan para ilmuan IPCC
memprediksi peningkatan lebih lanjut 9 88 cm (4 - 35 inchi) pada abad ke-21.

Perubahan tinggi muka laut akan sangat mempengaruhi kehidupan di daerah pantai. Kenaikan 100 cm
(40 inchi) akan menenggelamkan 6 persen daerah Belanda, 17,5 persen daerah Bangladesh, dan banyak
pulau-pulau. Erosi dari tebing, pantai, dan bukit pasir akan meningkat. Ketika tinggi lautan mencapai
muara sungai, banjir akibat air pasang akan meningkat di daratan. Negara-negara kaya akan
menghabiskan dana yang sangat besar untuk melindungi daerah pantainya, sedangkan negara-negara
miskin mungkin hanya dapat melakukan evakuasi dari daerah pantai.

Bahkan sedikit kenaikan tinggi muka laut akan sangat mempengaruhi ekosistem pantai. Kenaikan 50 cm
(20 inchi) akan menenggelamkan separuh dari rawa-rawa pantai di Amerika Serikat. Rawa-rawa baru
juga akan terbentuk, tetapi tidak di area perkotaan dan daerah yang sudah dibangun. Kenaikan muka
laut ini akan menutupi sebagian besar dari Florida Everglades.

Suhu global cenderung meningkat

Orang mungkin beranggapan bahwa Bumi yang hangat akan menghasilkan lebih banyak makanan dari
sebelumnya, tetapi hal ini sebenarnya tidak sama di beberapa tempat. Bagian Selatan Kanada, sebagai
contoh, mungkin akan mendapat keuntungan dari lebih tingginya curah hujan dan lebih lamanya masa
tanam. Di lain pihak, lahan pertanian tropis semi kering di beberapa bagian Afrika mungkin tidak dapat
tumbuh. Daerah pertanian gurun yang menggunakan air irigasi dari gunung-gunung yang jauh dapat
menderita jika snowpack (kumpulan salju) musim dingin, yang berfungsi sebagai reservoir alami, akan
mencair sebelum puncak bulan-bulan masa tanam. Tanaman pangan dan hutan dapat mengalami
serangan serangga dan penyakit yang lebih hebat.

Gangguan ekologis

Hewan dan tumbuhan menjadi makhluk hidup yang sulit menghindar dari efek pemanasan ini karena
sebagian besar lahan telah dikuasai manusia. Dalam pemanasan global, hewan cenderung untuk
bermigrasi ke arah kutub atau ke atas pegunungan. Tumbuhan akan mengubah arah pertumbuhannya,
mencari daerah baru karena habitat lamanya menjadi terlalu hangat. Akan tetapi, pembangunan
manusia akan menghalangi perpindahan ini. Spesies-spesies yang bermigrasi ke utara atau selatan yang
terhalangi oleh kota-kota atau lahan-lahan pertanian mungkin akan mati. Beberapa tipe spesies yang
tidak mampu secara cepat berpindah menuju kutub mungkin juga akan musnah.

Dampak sosial dan politik

Perubahan cuaca dan lautan dapat mengakibatkan munculnya penyakit-penyakit yang berhubungan
dengan panas (heat stroke) dan kematian. Temperatur yang panas juga dapat menyebabkan gagal panen
sehingga akan muncul kelaparan dan malnutrisi. Perubahan cuaca yang ekstrem dan peningkatan
permukaan air laut akibat mencairnya es di kutub utara dapat menyebabkan penyakit-penyakit yang
berhubungan dengan bencana alam (banjir, badai dan kebakaran) dan kematian akibat trauma.
Timbulnya bencana alam biasanya disertai dengan perpindahan penduduk ke tempat-tempat
pengungsian dimana sering muncul penyakit, seperti: diare, malnutrisi, defisiensi mikronutrien, trauma
psikologis, penyakit kulit, dan lain-lain.

Pergeseran ekosistem dapat memberi dampak pada penyebaran penyakit melalui air (Waterborne
diseases) maupun penyebaran penyakit melalui vektor (vector-borne diseases). Seperti meningkatnya
kejadian Demam Berdarah karena munculnya ruang (ekosistem) baru untuk nyamuk ini berkembang
biak. Dengan adamya perubahan iklim ini maka ada beberapa spesies vektor penyakit (eq Aedes Agipty),
Virus, bakteri, plasmodium menjadi lebih resisten terhadap obat tertentu yang target nya adala
organisme tersebut. Selain itu bisa diprediksi kan bahwa ada beberapa spesies yang secara alamiah akan
terseleksi ataupun punah dikarenakan perbuhan ekosistem yang ekstreem ini. hal ini juga akan
berdampak perubahan iklim (Climat change)yang bis berdampak kepada peningkatan kasus penyakit
tertentu seperti ISPA (kemarau panjang / kebakaran hutan, DBD Kaitan dengan musim hujan tidak
menentu)

Gradasi Lingkungan yang disebabkan oleh pencemaran limbah pada sungai juga berkontribusi pada
waterborne diseases dan vector-borne disease. Ditambah pula dengan polusi udara hasil emisi gas-gas
pabrik yang tidak terkontrol selanjutnya akan berkontribusi terhadap penyakit-penyakit saluran
pernafasan seperti asma, alergi, coccidiodomycosis, penyakit jantung dan paru kronis, dan lain-lain.

Perdebatan tentang pemanasan global


Tidak semua ilmuwan setuju tentang keadaan dan akibat dari pemanasan global. Beberapa pengamat
masih mempertanyakan apakah temperatur benar-benar meningkat. Yang lainnya mengakui perubahan
yang telah terjadi tetapi tetap membantah bahwa masih terlalu dini untuk membuat prediksi tentang
keadaan di masa depan. Kritikan seperti ini juga dapat membantah bukti-bukti yang menunjukkan
kontribusi manusia terhadap pemanasan global dengan berargumen bahwa siklus alami dapat juga
meningkatkan temperatur. Mereka juga menunjukkan fakta-fakta bahwa pemanasan berkelanjutan
dapat menguntungkan di beberapa daerah.

Para ilmuwan yang mempertanyakan pemanasan global cenderung menunjukkan tiga perbedaan yang
masih dipertanyakan antara prediksi model pemanasan global dengan perilaku sebenarnya yang terjadi
pada iklim. Pertama, pemanasan cenderung berhenti selama tiga dekade pada pertengahan abad ke-20;
bahkan ada masa pendinginan sebelum naik kembali pada tahun 1970-an. Kedua, jumlah total
pemanasan selama abad ke-20 hanya separuh dari yang diprediksi oleh model. Ketiga, troposfer, lapisan
atmosfer terendah, tidak memanas secepat prediksi model. Akan tetapi, pendukung adanya pemanasan
global yakin dapat menjawab dua dari tiga pertanyaan tersebut.

Kurangnya pemanasan pada pertengahan abad disebabkan oleh besarnya polusi udara yang
menyebarkan partikulat-partikulat, terutama sulfat, ke atmosfer. Partikulat ini, juga dikenal sebagai
aerosol, memantulkan sebagian sinar matahari kembali ke angkasa luar. Pemanasan berkelanjutan
akhirnya mengatasi efek ini, sebagian lagi karena adanya kontrol terhadap polusi yang menyebabkan
udara menjadi lebih bersih.

Keadaan pemanasan global sejak 1900 yang ternyata tidak seperti yang diprediksi disebabkan
penyerapan panas secara besar oleh lautan. Para ilmuan telah lama memprediksi hal ini tetapi tidak
memiliki cukup data untuk membuktikannya. Pada tahun 2000, U.S. National Oceanic and Atmospheric
Administration (NOAA) memberikan hasil analisa baru tentang temperatur air yang diukur oleh para
pengamat di seluruh dunia selama 50 tahun terakhir. Hasil pengukuran tersebut memperlihatkan adanya
kecenderungan pemanasan: temperatur laut dunia pada tahun 1998 lebih tinggi 0,2 derajat Celsius (0,3
derajat Fahrenheit) daripada temperatur rata-rata 50 tahun terakhir, ada sedikit perubahan tetapi cukup
berarti.[22]

Pertanyaan ketiga masih membingungkan. Satelit mendeteksi lebih sedikit pemanasan di troposfer
dibandingkan prediksi model. Menurut beberapa kritikus, pembacaan atmosfer tersebut benar,
sedangkan pengukuran atmosfer dari permukaan Bumi tidak dapat dipercaya. Pada bulan Januari 2000,
sebuah panel yang ditunjuk oleh National Academy of Sciences untuk membahas masalah ini mengakui
bahwa pemanasan permukaan Bumi tidak dapat diragukan lagi. Akan tetapi, pengukuran troposfer yang
lebih rendah dari prediksi model tidak dapat dijelaskan secara jelas.

Pengendalian pemanasan global

Konsumsi total bahan bakar fosil di dunia meningkat sebesar 1 persen per-tahun. Langkah-langkah yang
dilakukan atau yang sedang diskusikan saat ini tidak ada yang dapat mencegah pemanasan global di
masa depan. Tantangan yang ada saat ini adalah mengatasi efek yang timbul sambil melakukan langkah-
langkah untuk mencegah semakin berubahnya iklim di masa depan.
Kerusakan yang parah dapat di atasi dengan berbagai cara. Daerah pantai dapat dilindungi dengan
dinding dan penghalang untuk mencegah masuknya air laut. Cara lainnya, pemerintah dapat membantu
populasi di pantai untuk pindah ke daerah yang lebih tinggi. Beberapa negara, seperti Amerika Serikat,
dapat menyelamatkan tumbuhan dan hewan dengan tetap menjaga koridor (jalur) habitatnya,
mengosongkan tanah yang belum dibangun dari selatan ke utara. Spesies-spesies dapat secara perlahan-
lahan berpindah sepanjang koridor ini untuk menuju ke habitat yang lebih dingin.

Ada dua pendekatan utama untuk memperlambat semakin bertambahnya gas rumah kaca. Pertama,
mencegah karbon dioksida dilepas ke atmosfer dengan menyimpan gas tersebut atau komponen karbon-
nya di tempat lain. Cara ini disebut carbon sequestration (menghilangkan karbon). Kedua, mengurangi
produksi gas rumah kaca.

Menghilangkan karbon

Cara yang paling mudah untuk menghilangkan karbon dioksida di udara adalah dengan memelihara
pepohonan dan menanam pohon lebih banyak lagi. Pohon, terutama yang muda dan cepat
pertumbuhannya, menyerap karbon dioksida yang sangat banyak, memecahnya melalui fotosintesis, dan
menyimpan karbon dalam kayunya. Di seluruh dunia, tingkat perambahan hutan telah mencapai level
yang mengkhawatirkan. Di banyak area, tanaman yang tumbuh kembali sedikit sekali karena tanah
kehilangan kesuburannya ketika diubah untuk kegunaan yang lain, seperti untuk lahan pertanian atau
pembangunan rumah tinggal. Langkah untuk mengatasi hal ini adalah dengan penghutanan kembali yang
berperan dalam mengurangi semakin bertambahnya gas rumah kaca.

Gas karbon dioksida juga dapat dihilangkan secara langsung. Caranya dengan menyuntikkan
(menginjeksikan) gas tersebut ke sumur-sumur minyak untuk mendorong agar minyak bumi keluar ke
permukaan (lihat Enhanced Oil Recovery). Injeksi juga bisa dilakukan untuk mengisolasi gas ini di bawah
tanah seperti dalam sumur minyak, lapisan batubara atau aquifer. Hal ini telah dilakukan di salah satu
anjungan pengeboran lepas pantai Norwegia, dimana karbon dioksida yang terbawa ke permukaan
bersama gas alam ditangkap dan diinjeksikan kembali ke aquifer sehingga tidak dapat kembali ke
permukaan.

Salah satu sumber penyumbang karbon dioksida adalah pembakaran bahan bakar fosil. Penggunaan
bahan bakar fosil mulai meningkat pesat sejak revolusi industri pada abad ke-18. Pada saat itu, batubara
menjadi sumber energi dominan untuk kemudian digantikan oleh minyak bumi pada pertengahan abad
ke-19. Pada abad ke-20, energi gas mulai biasa digunakan di dunia sebagai sumber energi. Perubahan
tren penggunaan bahan bakar fosil ini sebenarnya secara tidak langsung telah mengurangi jumlah
karbon dioksida yang dilepas ke udara, karena gas melepaskan karbon dioksida lebih sedikit bila
dibandingkan dengan minyak apalagi bila dibandingkan dengan batubara. Walaupun demikian,
penggunaan energi terbaharui dan energi nuklir lebih mengurangi pelepasan karbon dioksida ke udara.
Energi nuklir, walaupun kontroversial karena alasan keselamatan dan limbahnya yang berbahaya, bahkan
tidak melepas karbon dioksida sama sekali.
Persetujuan internasional

Kerjasama internasional diperlukan untuk mensukseskan pengurangan gas-gas rumah kaca. Di tahun
1992, pada Earth Summit di Rio de Janeiro, Brazil, 150 negara berikrar untuk menghadapi masalah gas
rumah kaca dan setuju untuk menterjemahkan maksud ini dalam suatu perjanjian yang mengikat. Pada
tahun 1997 di Jepang, 160 negara merumuskan persetujuan yang lebih kuat yang dikenal dengan
Protokol Kyoto.

Perjanjian ini, yang belum diimplementasikan, menyerukan kepada 38 negara-negara industri yang
memegang persentase paling besar dalam melepaskan gas-gas rumah kaca untuk memotong emisi
mereka ke tingkat 5 persen di bawah emisi tahun 1990. Pengurangan ini harus dapat dicapai paling
lambat tahun 2012. Pada mulanya, Amerika Serikat mengajukan diri untuk melakukan pemotongan yang
lebih ambisius, menjanjikan pengurangan emisi hingga 7 persen di bawah tingkat 1990; Uni Eropa, yang
menginginkan perjanjian yang lebih keras, berkomitmen 8 persen; dan Jepang 6 persen. Sisa 122 negara
lainnya, sebagian besar negara berkembang, tidak diminta untuk berkomitmen dalam pengurangan emisi
gas.

Akan tetapi, pada tahun 2001, Presiden Amerika Serikat yang baru terpilih, George W. Bush
mengumumkan bahwa perjanjian untuk pengurangan karbon dioksida tersebut menelan biaya yang
sangat besar. Ia juga menyangkal dengan menyatakan bahwa negara-negara berkembang tidak dibebani
dengan persyaratan pengurangan karbon dioksida ini. Kyoto Protokol tidak berpengaruh apa-apa bila
negara-negara industri yang bertanggung jawab menyumbang 55 persen dari emisi gas rumah kaca pada
tahun 1990 tidak meratifikasinya. Persyaratan itu berhasil dipenuhi ketika tahun 2004, Presiden Rusia
Vladimir Putin meratifikasi perjanjian ini, memberikan jalan untuk berlakunya perjanjian ini mulai 16
Februari 2005.

Banyak orang mengkritik Protokol Kyoto terlalu lemah. Bahkan jika perjanjian ini dilaksanakan segera, ia
hanya akan sedikit mengurangi bertambahnya konsentrasi gas-gas rumah kaca di atmosfer. Suatu
tindakan yang keras akan diperlukan nanti, terutama karena negara-negara berkembang yang
dikecualikan dari perjanjian ini akan menghasilkan separuh dari emisi gas rumah kaca pada 2035.
Penentang protokol ini memiliki posisi yang sangat kuat. Penolakan terhadap perjanjian ini di Amerika
Serikat terutama dikemukakan oleh industri minyak, industri batubara dan perusahaan-perusahaan
lainnya yang produksinya tergantung pada bahan bakar fosil. Para penentang ini mengklaim bahwa biaya
ekonomi yang diperlukan untuk melaksanakan Protokol Kyoto dapat menjapai 300 milyar dollar AS,
terutama disebabkan oleh biaya energi. Sebaliknya pendukung Protokol Kyoto percaya bahwa biaya yang
diperlukan hanya sebesar 88 milyar dollar AS dan dapat lebih kurang lagi serta dikembalikan dalam
bentuk penghematan uang setelah mengubah ke peralatan, kendaraan, dan proses industri yang lebih
effisien.

Pada suatu negara dengan kebijakan lingkungan yang ketat, ekonominya dapat terus tumbuh walaupun
berbagai macam polusi telah dikurangi. Akan tetapi membatasi emisi karbon dioksida terbukti sulit
dilakukan. Sebagai contoh, Belanda, negara industrialis besar yang juga pelopor lingkungan, telah
berhasil mengatasi berbagai macam polusi tetapi gagal untuk memenuhi targetnya dalam mengurangi
produksi karbon dioksida.

Setelah tahun 1997, para perwakilan dari penandatangan Protokol Kyoto bertemu secara reguler untuk
menegoisasikan isu-isu yang belum terselesaikan seperti peraturan, metode dan pinalti yang wajib
diterapkan pada setiap negara untuk memperlambat emisi gas rumah kaca. Para negoisator merancang
sistem dimana suatu negara yang memiliki program pembersihan yang sukses dapat mengambil
keuntungan dengan menjual hak polusi yang tidak digunakan ke negara lain. Sistem ini disebut
perdagangan karbon. Sebagai contoh, negara yang sulit meningkatkan lagi hasilnya, seperti Belanda,
dapat membeli kredit polusi di pasar, yang dapat diperoleh dengan biaya yang lebih rendah. Rusia,
merupakan negara yang memperoleh keuntungan bila sistem ini diterapkan. Pada tahun 1990, ekonomi
Rusia sangat payah dan emisi gas rumah kacanya sangat tinggi. Karena kemudian Rusia berhasil
memotong emisinya lebih dari 5 persen di bawah tingkat 1990, ia berada dalam posisi untuk menjual
kredit emisi ke negara-negara industri lainnya, terutama mereka yang ada di Uni Eropa.

h. RUSAKNYA HUTAN

Sudah sangat sering diungkapkan keluhan masyarakat secara nasional maupun internasional tentang
kebakaran hutan yang berdampak negatif bagi kesehatan manusia dan mengganggu kegiatan sehari-hari
terutama bidang transportasi baik darat, laut maupun udara. Agar hal ini tidak terulang lagi sebagaimana
terjadi di penghujung tahun 90-an jika musim kemarau selalu saja terjadi kebakaran hutan yang
menimbulkan asap tebal. Kondisi udara, awan dan atmosfer yang ditutupi asap seperti pulau Kalimantan
dan Sumatera yang cukup luas terkadang menembus ke wilayah tetangga seperti Malaysia, Brunei dan
Singapura. Hutan Indonesia sebagai produsen asap sering mendapat protes tidak hanya dari negeri jiran
bahkan dunia internasional. Sebagai bangsa beradab dan berbudaya kita seharusnya menyikapi hal ini
dengan serius tidak hanya mengekploitasi tetapi juga serius mengelola dan memanfaatkan agar hutan
tropis yang menjadi paru-paru dunia dapat lestari.

Penguasa di masa lalu hanya menitikberatkan penyebab kerusakan dan kebakaran hutan kepada
masyarakat seperti peladang berpindah, penebang liar atau perambah hutan dan perkebunan. Namun
dampak kerusakan lingkungan yang lebih dahsyat dari penebangan pengusaha HPH sama sekali nyaris
tak terdengar. Selalu saja yang menjadi kambing hitam adalah masyarakat miskin, peladang berpindah
atau penebang liar. IMPAS-B merasa berkewajiban menyampaikan suara-suara dari sisi pedalaman
karena mereka secara langsung adalah keluarga atau anak cucu peladang.berpindah.

Tuduhan tersebut adalah sangat tidak adil, masyarakat keberatan jika kebakaran hutan adalah akibat
kebodohan dan ketidakmauan masyarakat mengikuti petunjuk pemerintah seperti pelarangan
penebangan hutan dan berladang berpindah, karena pekerjaan itu telah beratus ratus tahun sudah ada
tetapi mengapa baru sekarang timbul dampaknya dan menjadi permasalahan. Tanpa bermaksud apapun
tulisan ini berdasarkan penelitian dan pengalaman tentang apa yang IMPAS-B lihat dan IMPAS-B rasakan.
Sejak tahun 2005 IMPAS-B telah menapakkan kaki di belantara terutama di wilayah Kabupaten Banjar
Kalimantan Selatan tepatnya di perbukitan sekitar Paramasan, sungai pinang sampai daerah Riam Kanan
dengan kekayaan Hutan Tropis Kahung
Penyebab Rusaknya Hutan di Kasel

Ladang Berpindah

Sebagaimana kita maklumi di daerah Kalimantan Selatan kualitas sumberdaya lahan dan tanah untuk
pertanian di perbukitan sangat kurang, sehingga apabila sudah ditanami dua sampai tiga kali terulang
lahan tersebut tidak potensial lagi, ditambah dengan teknologi pertanian yang sangat tradisional. Karena
itulah masyarakat yang dipimpin Kepala Padang (Kepala Ladang) membuka hutan lagi untuk lahan
pertanian baru demi kelangsungan hidup mereka.

Proses tradisional ini sudah berlangsung ratusan tahun atau semenjak manusia Kalimantan mulai
berbudaya hingga sekarang ini. Sepengetahuan IMPAS-B hingga penghujung tahun 80-an tidak ada
dampak negatif dari aktivitas ladang berpindah karena sewaktu pembakaran lahan masyarakat selalu
siap di sekeliling tepian hutan (dalam arti jangan sampai hutan ikut terbakar).

Berladang bagi masyarakat Dayak Kalimantan (penghuni hutan) hanya sekadar untuk mencukupi
keperluan pangan saja, tidak sebagai usaha komersial, dan mereka mencukupi kebutuhan lainnya dengan
mengambil apa saja yang bernilai ekonomis yang ada di hutan. Peladang berpindah selalu membuka
hutan baru berdasarkan perkiraan musim atau iklim. Menurut pengamatan dan berdasarkan
kemanusiaan yang adil dan beradab masyarakat Dayak Kalimantan yang menghuni hutan, berladang bagi
mereka adalah keharusan alami.

Bekas ladang di tepian hutan yang ditumbuhi rumput dan tanaman muda merupakan lahan santapan
yang sangat diperlukan marga satwa penghuni rimba raya sehingga menjadikan kawasan ini sebagai
ekosistem yang sangat harmonis. Terlihat adanya ketergantungan antara manusia, tumbuhan dan hewan.
Flora menghidupkan fauna dan fauna menebarluaskan flora.

Ladang berpindah sebenarnya tidak merusak lingkungan yang berarti walaupun ada tetapi tidak sebagai
penyebab utama kerusakan hutan, karena sewaktu membakar lahan selalu dijaga dan secara emosional
mereka memiliki kearifan ekologis terhadap lingkungan sebagai tempat mencari penghidupan.

Penebang Liar

Di masa orde lama istilah penebang liar tidak pernah dikenal khususnya di daerah Paramasan Bawah.
Kalau masyarakat penghuni kawasan hutan berladang untuk mencukupi keperluan pangan beras, maka
untuk keperluan hidup lainnya mereka memanfaatkan sumberdaya hutan lainnya.

Sebelum negeri ini merdeka masyarakat sudah mengenal dan memanfaatkan hasil hutan dengan
menebang secara manual atau cara tradisional. Perdagangan hasil hutan berupa kayu saat itu dilakukan
secara barter dalam skala lokal. Kayu sebagai bahan bangunan rumah tinggal hanya kulitnya saja yang
dapat mereka ambil karena minimnya teknologi dan keterampilan mereka masa itu.
Masyarakat dengan cara manual tidak mampu mengambil kayu yang jaraknya melebihi 500 m dari anak
sungai apalagi kalau sudah dibatasi bukit. Berdasarkan data yang ada sejak tahun 1980 tidak pernah
terjadi dampak negatif dari aktivitas pemanfaatan hutan oleh masyarakat di hutan Kalimantan yang
mengganggu lingkungan hidup baik kehidupan flora, fauna dan bagi masyarakat. Begitu pula tentang
kebakaran hutan dan kabut asap hingga tahun 1980 belum pernah menyaksikan langsung atau
mendengar ceritanya.

Penebangan Oleh Pemilik HPH

Sejujurnya, apa saja yang kita lakukan terhadap hutan baik ladang berpindah, perambah hutan,
penebang liar, lahan perkebunan, produksi bahan bangunan seperti balok-balok ulin dan siap dan
ekploitasi hutan oleh pemilik HPH kesemuanya itu akan mengganggu ekosistem dan merusak habitat
hutan. Perbedaannya terletak pada besar-kecilnya kerusakan yang ditimbulkan akibat permanfaatan
hutan.

Kondisi hutan pasca eksploitasi oleh pemilik HPH, di pulau Kalimantan khususnya di Kabupaten Banjar,
memiliki struktur yang utuh, rapat, padat dan berpotensi besar. Hutan yang indah, cantik nan serasi ini
menurut pengamatan kami memerlukan waktu ribuan tahun untuk pemantapannya.

Beberapa jenis kayu hidup bergantian hingga menjadi satu kesatuan hutan yang saling melindungi. Di
dalam hutan kalau kita membaca lingkungannya secara arif seakan-akan suatu perpaduan yang
harmonis, saling bantu dalam masing-masing pertumbuhannya. Kehidupan suatu jenis tumbuhan seperti
telah diatur untuk membantu kelangsungan hidup yang lain.

Hutan yang masih utuh perawan sangat indah, kokoh menakjubkan. Daun, ranting dan dahan rapat
menjaga sinar matahari agar tidak tembus leluasa ke bawah pohon. Kerapatan daun fungsinya sangat
besar yaitu melindungi kawasan semak dan belukar di bawahnya agar dedaunan yang membusuk
menjadi humus dan menyerap air sebagai persediaan air hujan jika musim kemarau tiba. Perilaku hutan
ini juga merupakan upaya hutan secara alami melindungi dirinya dari bahaya kebakaran.

Hingga penghujung tahun 1960 hutan di kawasan Kabupaten Banjar masih dikategorikan kokoh padat
walaupun ada eksploitasi masyarakat secara manual. Di awal tahun 1970 pemilik HPH dalam hal ini PT.
KODECO mulai memasukkan alat-alat ke kawasan hutan untuk mengeksploitasi hutan. Peralatan yang
handal ini dalam waktu singkat mengakibatkan hutan lumpuh berantakan, istilah hutan gundul mulai
dikenal masyarakat.

Berikut ini coba kita bandingkan antara aktivitas peladang berpindah, penebang liar dan eksploitasi HPH
dengan alat beratnya. Peladang berpindah hanya berlokasi sekitar pemukiman penduduk dan sekadar
mencukupi keperluan hidupnya sehari-hari. Tebangan liar hanya berlokasi pada sekitar daerah aliran
sungai (DAS) karena hanya mengandalkan tenaga manusia dan siklus alami. Sedangkan eksploitasi
pemilik HPH dengan peralatan berat dan modern mampu menjangkau lokasi dan kawasan hutan mana
saja yang mereka inginkan.
Kita tidak merinci berapa juta pohon yang sudah dibabat dan berapa meter kubik volumenya selama
lebih 30 tahun. Kitapun tidak mengungkap bagaimana kejahatan KKN di instansi kehutanan, perilaku
tidak bijak dalam mengelola hutan atau manipulasi data dan dokumen di mana terdapat kayu yang tidak
memiliki dokumen resmi atau dokumen kayu yang volumenya 2.000 m3 bisa melindungi kayu yang
volumenya 10.000 m3?.

Kekhawatiran kita terfokus pada perubahan perilaku alam jika kawasan hutan lumpuh tidak berfungsi
sebagaimana mestinya karena ketidakmampuan hutan yang telah dibabat untuk pulih kembali atau tidak
ada upaya mengembalikan fungsi hutan dengan rehabilitasi dan reboisasi (yang sebenarnya, bukan di
atas atau laporan ketika ada kunjungan pejabat pusat) saja. Jika hutan tidak mampu lagi menyimpan air,
menjaga kelembabannya di musim kemarau agar tidak terbakar dan sebagai daerah penyangga luapan
air di musim hujan di mana air menumpuk di kawasan hulu sungai daerah pasang surut.

Dampak Terjadinya Kerusakan Hutan di Kalsel

Hutan perawan sebagaimana di uraikan di atas dengan kerapatan utuh 100 persen maka sinar matahari
tidak dapat menembus ke bawah sehingga daun-daun lapuk selalu basah walau di musim kemarau
sekalipun sehingga tidak mudah dilalap api. Jika hutan itu terbuka dalam hamparan yang luas seperti
pasca eksploitasi HPH, dengan kerapatan dibawah 50 persen maka akan mudah terbakar. Akibatnya
dedaunan busuk dengan humus yang tebal, ranting dan dahan yang kering lekang sehingga dengan
pemantik kecil saja kawasan ini segera terbakar.

Keadaan hutan yang sudah longgar, pohon-pohon besar dan kecil ditebang dan tidak ada regenerasi
berdampak pada perairan terutama anak-anak sungai akan banjir besar dan menerima debit air yang
melebihi kapasitas normal. Sungai yang dahulunya tidak bisa meluap dan begitu bersahabat sekarang
sebaliknya, seperti banjir di Martapura, Kabupaten Banjar tahun 2006. Sedangkan di musim kemarau
persediaan air sangat kurang.

Fakta di atas menunjukkan bahwa kawasan hutan bukit dan pegunungan di Kalimantan sudah kurang
fungsinya sebagai penahan air agar secara perlahan-lahan mengalir ke muara sungai. Yang kita
khawatirkan jika musim hujan tiba dengan curah hujan sangat tinggi yang merupakan siklus sepuluh
tahunan maka air akan tertumpuk di daerah muara tepatnya di daerah Banjarmasin dan Barito Kuala.
Genangan air ini bisa bertahan lama 1 sampai 2 minggu atau lebih karena arus air ke muara tertahan
pasang surut sedang kiriman air dari hulu sungai martapura terus berlangsung apalagi di muara juga
terjadi hujan.

Analisis ini di tahun-tahun mendatang jika benar terjadi berakibat pengungsian penduduk secara massal,
karena usaha penduduk mati total di saat banjir. Lahan sawah, kebun dengan segala infrastrukturnya
tergenang dalam waktu cukup lama. Kawasan rawa yang kami maksud sebagai tempat menumpuknya air
kiriman dari pegunungan sebenarnya bukan hanya di selatan Kabupaten Banjar, Kota Banjarmasin dan
Kabupaten Barito Kuala, tetapi akan terjadi di seluruh kawasan rawa yang diapit pegunungan Muller,
Schawanner, dan pegunungan Meratus. Kawasan ini adalah kawasan persawahan pasang surut dan
pemukiman penduduk.
Dampak bagi daerah selatan atau kawasan pasang surut seperti Kota Banjarmasin dan sekitarnya, air
pasang akan bertambah tinggi bisa menjangkau naik ke dalam rumah penduduk dan menggenangi jalan-
jalan raya. Apalagi jika kita ingat analisis seorang akademisi Unlam ketika Proyek Lahan Gambut (PLG)
Sejuta Hektar di Kalteng digulirkan yang menyatakan tunggu saja limpahan air dari hulu akan
menenggelamkan dataran yang lebih rendah (dan sialnya Banjarmasin adalah kawasan rendah yang lebih
dekat ke laut Jawa).

Benar atau tidaknya analisis ini seyogiyanya menyadarkan kita akan bahaya yang mengancam berupa
banjir atau genangan air besar-besaran akibat dari rusaknya tatanan hutan, bukan bermaksud menakut-
nakuti dengan mendramatisir masalah apalagi memprovokasi tetapi lebih pada warning bahwa
penyelamatan hutan merupakan tanggung jawab kita bersama kepada Tuhan bagi anak cucu dikemudian
hari.

Air sungai, utamanya Sungai Barito terlalu sering surut dan mengalami penurunan fungsi sebagai alur
transportasi vital. Terganggunya fauna, terutama habitat perairan bagi ikan. Sangat susah mendapatkan
beberapa species ikan di Sungai Barito bahkan di kawasan anak sungai.

Dengan sedikit curah hujan bisa mendatangkan luapan sungai-sungai kecil, kebakaran hutan dan lain-
lain. Dampak negatif dari kerusakan hutan dan lingkungan yang akan kita wariskan kepada generasi
penerus, anak cucu kita haruslah diantisipasi semaksimal mungkin.

Mempertimbangkan ancaman yang akan datang sebagai mana analisis kami di atas maka kami
mengimbau jajaran aparat terkait dan lingkungan hidup, kehutanan, pemegang HPH, cendekiawan,
kelompok akademisi, MAPALA, KPA dan LSM serta tokoh masyarakat Kalsel terutama pihak-pihak yang
mencurahkan perhatiannya kepada kelestarian alam, marilah kita sama-sama berdialog, duduk bersama
mencari solusi terbaik tentang tata cara mengelola sumberdaya alam ini secara baik, arif bijak dan ramah
lingkungan.

Pulau Kalimantan dengan kawasan rawa pasang surut yang luas sangat rawan banjir menjadi genangan
yang luas jika kawasan hulu, bukit dan pegunungan tidak mendapat perhatian serius. Save our trofical
forest, save our life. Karena betul bahwa hutan dan aturan yang terdapat didalamnya adalah sekolah
terbaik bagi manusia.

h. PUNAHNYA SPESIES

Setiap makhluk hidup pasti akan mati termasuk kita manusia tidak terkecuali hewan dan tumbuhan.
Kematian suatu jenis makhluk hidup secara terus menerus yang tidak diimbangi dengan regenarasi
generasi penerus / keturunan (berkembang biak) adalah merupakan kepunahan. Punah berarti tidak
akan ada lagi makhluk hidup itu selama-lamanya di muka bumi. Contoh spesies yang sudah punah adalah
dinosaurus jenis t-rex.

Faktor Alasan Penyebab Kepunahan Suatu Spesies :


1. Daya Regenerasi Yang Rendah

Banyak hewan yang butuh waktu lama untuk masuk ke tahap berkembang biak, biasa memiliki satu anak
perkelahiran, butuh waktu lama untuk merawat anak, sulit untuk kawin, anaknya sulit untuk bertahan
hidup hingga dewasa, dan sebagainya. Tumbuhan tertentu pun juga terkadang membutuhkan
persyaratan situasi dan kondisi yang langka untuk bisa tumbuh berkembang. Hal tersebut menyulitkan
spesies yang memiliki daya regenerasi / memiliki keturunan rendah untuk memperbanyak dirinya secara
signifikan. Berbeda dengan tikus, ayam, lalat, kelinci, dll yang mudah untuk melakukan regenerasi.

2. Campur Tangan Manusia

Adanya manusia terkadang menjadi malapetaka bagi keseimbangan makhluk hidup di suatu tempat.
Manusia kadang untuk mendapatkan sesuatu yang berharga rela membunuh secara membabi buta
tanpa memikirkan regenerasi hewan atau tumbuhan tersebut. Gajah misalnya dibunuhi para pemburu
hanya untuk diambil gadingnya, harimau untuk kulitnya, monyet untuk dijadikan binatang peliharaan,
dan lain sebagainya.

Perubahan areal hutan menjadi pemukiman, pertanian dan perkebunan juga menjadi salah satu
penyebab percepatan kepunahan spesies tertentu. Mungkin di jakarta jaman dulu terdapat banyak
spesies lokal, namun seiring terjadinya perubahan banyak spesies itu hilang atau pindah ke daerah
wilayah lain yang lebih aman.

3. Bencana Alam Besar

Adanya bencana super dahsyat seperti tumbukan meteor seperti yang terjadi ketika jaman dinosaurus
memungkinkan banyak spesies yang mati dan punah tanpa ada satu pun yang selamat untuk
meneruskan keturunan di bumi. Sama halnya dengan jika habitat spesies tertentu yang hidup di lokasi
yang sempit terkena bencana besar seperti bancir, kebakaran, tanah longsor, tsunami, tumbukan meteor,
dan lain sebagainya maka kepunahan mungkin tidak akan terelakkan lagi.

Didesak Populasi Lain Yang Kuat

Kompetisi antar predator seperti macan tutul dengan harimau mampu membuat pesaing yang lemah
akan terdesak ke wilayah lain atau bahkan bisa mati kelaparan secara masal yang menyebabkan
kepunahanUntuk itulah mari kita jaga satwa langka serta tumbuhan langka yang tersisa agar tidak punah
dimakan waktu sehingga anak cucu kita bisa melihat hewan dan tumbuhan tersebut secara langsung.

i. BAHAN BERACUN DAN BERBAHAYA

Pengelolaan Limbah B3 ditetapkan berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 19 tahun 1994 yang
dibaharui dengan PP No. 12 tahun 1995 dan diperbaharui kembali dengan PP No. 18 tahun 1999 tanggal
27 Februari 1999 yang dikuatkan lagi melalui Peraturan Pemerintah No. 74 tahun 2001 tanggal 26
November 2001 tentang Pengelolaan Limbah B3
Pengertian B3

Menurut PP No. 18 tahun 1999, yang dimaksud dengan limbah B3 adalah sisa suatu usaha dan atau
kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan atau beracun yang karena sifat dan atau
konsentrasinya dan atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan
dan atau merusakan lingkungan hidup dan atau membahayakan lingkungan hidup, kesehatan,
kelangsungan hidup manusia serta mahluk hidup lain.

Intinya adalah setiap materi yang karena konsentrasi dan atau sifat dan atau jumlahnya mengandung B3
dan membahayakan manusia, mahluk hidup dan lingkungan, apapun jenis sisa bahannya.Tujuan
pengelolaan limbah B3

Tujuan pengelolaan B3 adalah untuk mencegah dan menanggulangi pencemaran atau kerusakan
lingkungan hidup yang diakibatkan oleh limbah B3 serta melakukan pemulihan kualitas lingkungan yang
sudah tercemar sehingga sesuai dengan fungsinya kembali.

Dari hal ini jelas bahwa setiap kegiatan/usaha yang berhubungan dengan B3, baik penghasil, pengumpul,
pengangkut, pemanfaat, pengolah dan penimbun B3, harus memperhatikan aspek lingkungan dan
menjaga kualitas lingkungan tetap pada kondisi semula. Dan apabila terjadi pencemaran akibat
tertumpah, tercecer dan rembesan limbah B3, harus dilakukan upaya optimal agar kualitas lingkungan
kembali kepada fungsi semula.

Identifikasi limbah B3

Pengidentifikasian limbah B3 digolongkan ke dalam 2 (dua) kategori, yaitu:

Berdasarkan sumber

2. Berdasarkan karakteristik

Golongan limbah B3 yang berdasarkan sumber dibagi menjadi:

Limbah B3 dari sumber spesifik;

Limbah B3 dari sumber tidak spesifik;

Limbah B3 dari bahan kimia kadaluarsa, tumpahan, bekas kemasan dan buangan produk yang tidak
memenuhi spesifikasi.

Sedangkan golongan limbah B3 yang berdasarkan karakteristik ditentukan dengan:

mudah meledak;

pengoksidasi;

sangat mudah sekali menyala;

sangat mudah menyala;


mudah menyala;

amat sangat beracun;

sangat beracun;

beracun;

berbahaya;

korosif;

bersifat iritasi;

berbahayabagi lingkungan;

karsinogenik;

teratogenik;

mutagenik.

Karakteristik limbah B3 ini mengalami pertambahan lebih banyak dari PP No. 18 tahun 1999 yang hanya
mencantumkan 6 (enam) kriteria, yaitu:

mudah meledak;

mudah terbakar;

bersifat reaktif;

beracun;

menyebabkan infeksi;

bersifat korosif.

Peningkatan karakteristik materi yang disebut B3 ini menunjukan bahwa pemerintah sebenarnya
memberikan perhatian khusus untuk pengelolaan lingkungan Indonesia. Hanya memang perlu menjadi
perhatian bahwa implementasi dari Peraturan masih sangat kurang di negara ini.

Pengelolaan dan pengolahan limbah B3

Pengelolaan limbah B3 meliputi kegiatan pengumpulan, pengangkutan, pemanfatan, pengolahan dan


penimbunan.

Setiap kegiatan pengelolaan limbah B3 harus mendapatkan perizinan dari Kementerian Lingkungan
Hidup (KLH) dan setiap aktivitas tahapan pengelolaan limbah B3 harus dilaporkan ke KLH. Untuk aktivitas
pengelolaan limbah B3 di daerah, aktivitas kegiatan pengelolaan selain dilaporkan ke KLH juga
ditembuskan ke Bapedalda setempat.

Pengolahan limbah B3 mengacu kepada Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan
(Bapedal) Nomor Kep-03/BAPEDAL/09/1995 tertanggal 5 September 1995 tentang Persyaratan Teknis
Pengolahan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (www.menlh.go.id/i/art/pdf_1054679307.pdf)

Pengolahan limbah B3 harus memenuhi persyaratan:

Lokasi pengolahan

Pengolahan B3 dapat dilakukan di dalam lokasi penghasil limbah atau di luar lokasi penghasil limbah.
Syarat lokasi pengolahan di dalam area penghasil harus:

daerah bebas banjir; jarak dengan fasilitas umum minimum 50 meter;

Syarat lokasi pengolahan di luar area penghasil harus:

1. daerah bebas banjir; jarak dengan jalan utama/tol minimum 150 m atau 50 m untuk jalan lainnya;

3. jarak dengan daerah beraktivitas penduduk dan aktivitas umum minimum 300 m; jarak dengan
wilayah perairan dan sumur penduduk minimum 300 m;

5. dan jarak dengan wilayah terlindungi (spt: cagar alam,hutan lindung) minimum 300 m.

Fasilitas pengolahan

Fasilitas pengolahan harus menerapkan sistem operasi, meliputi:

1. sistem kema0nan fasilitas;

2. sistem pencegahan terhadap kebakaran;

3. sistem pencegahan terhadap kebakaran;

4. sistem penanggulangan keadaan darurat;

5. sistem pengujian peralatan;

6. dan pelatihan karyawan.

Keseluruhan sistem tersebut harus terintegrasi dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam
pengolahan limbah B3 mengingat jenis limbah yang ditangani adalah limbah yang dalam volume kecil
pun berdampak besar terhadap lingkungan.

Penanganan limbah B3 sebelum diolah

Setiap limbah B3 harus diidentifikasi dan dilakukan uji analisis kandungan guna menetapkan prosedur
yang tepat dalam pengolahan limbah tersebut. Setelah uji analisis kandungan dilaksanakan, barulah
dapat ditentukan metode yang tepat guna pengolahan limbah tersebut sesuai dengan karakteristik dan
kandungan limbah.

Pengolahan limbah B3

Jenis perlakuan terhadap limbah B3 tergantung dari karakteristik dan kandungan limbah. Perlakuan
limbah B3 untuk pengolahan dapat dilakukan dengan proses sbb:

1. proses secara kimia, meliputi: redoks, elektrolisa, netralisasi, pengendapan, stabilisasi, adsorpsi,
penukaran ion dan pirolisa.

proses secara fisika, meliputi: pembersihan gas, pemisahan cairan dan penyisihan komponen-komponen
spesifik dengan metode kristalisasi, dialisa, osmosis balik, dll. Proses stabilisas/solidifikasi, dengan tujuan
untuk mengurangi potensi racun dan kandungan limbah B3 dengan cara membatasi daya larut,
penyebaran, dan daya racun sebelum limbah dibuang ke tempat penimbunan akhir proses insinerasi,
dengan cara melakukan pembakaran materi limbah menggunakan alat khusus insinerator dengan
efisiensi pembakaran harus mencapai 99,99% atau lebih. Artinya, jika suatu materi limbah B3 ingin
dibakar (insinerasi) dengan berat 100 kg, maka abu sisa pembakaran tidak boleh melebihi 0,01 kg atau
10 gr

Tidak keseluruhan proses harus dilakukan terhadap satu jenis limbah B3, tetapi proses dipilih
berdasarkan cara terbaik melakukan pengolahan sesuai dengan jenis dan materi limbah.

Hasil pengolahan limbah B3

Memiliki tempat khusus pembuangan akhir limbah B3 yang telah diolah dan dilakukan pemantauan di
area tempat pembuangan akhir tersebut dengan jangka waktu 30 tahun setelah tempat pembuangan
akhir habis masa pakainya atau ditutup.

Perlu diketahui bahwa keseluruhan proses pengelolaan, termasuk penghasil limbah B3, harus
melaporkan aktivitasnya ke KLH dengan periode triwulan (setiap 3 bulan sekali).

j. RUSAKNYA LAPISAN OZON

Di atas bumi kita terdapat lapisan udara yang berfungsi melindungi bumi dari terpaan langsung sinar
matahari dan benda-benda langit yang jatuh. Keseluruhan pelindung bumi ini disebut atmosfer dan
terdiri atas tujuh lapis. Dimulai dari troposfer yang merupakan lapisan paling dekat ke bumi, hingga
eksosfer yang merupakan laisan paling jauh dari bumi. Dengan adanya atmosfer, benda langit yang jatuh
akan tergesek dan terbakar habis sebelum sampai ke permukaan bumi. Kalau benda itu cukup besar,
gesekan itu biasanya mengikis benda langit menjadi berukuran kecil hingga tak membahayakan isi bumi.

Ozon adalah lapisan mantel bumi,yang berfungsi melindungi bumi beserta isinya dari sinar ultra violet
secara langsung. Bila ada lubamg ozon berarti di situlah sinar UV memancarkan sinarnya secara
langsung, tanpa adanya penyaring (lapisan Ozon). Semua mahkluk hidup di bumi tidak akan mampu
bersentuhan langsung dengan sinar UV tersebut. Cahaya matahari yang kita terima/rasakan setiap hari,
sudah merupakan hasil penyaringan dari ozon. Sehingga sudah tidak bebrbahaya lagi bagi manusia dan
mahkluk hidup lainnya di muka bumi.

Matahari diketahui memancarkan radiasi sinar ultraviolet dalam jumlah sangat besar. Kalau sedikit saja,
sinar ini berguna bagi kehidupan di bumi. Tetapi, dalam jumlah besar, sinar ultraviolet bisa
membahayakan kehidupan tumbuhan, hewan dan manusia.

Ozon terbentuk secara alamiah dari pertemuan sinar matahari dan zat oksigen di bumi. Sederhananya,
setiap kali sinar ultra violet dari matahari bertemu dengan zat oksigen di bumi, reaksi ini memecah
molekul molekul oksigen dan mengikat unsur unsur oksigen ini menjadi zat baru yaitu ozon. Ozon
ozon yang terbentuk selama jutaan tahun ini lama kelamaan membentuk lapisan tersendiri yang kita
sebut sebagai lapisan ozon. Dengan terbentuknya lapisan ozon sebagian besar radiasi sinar ultraviolet
dari cahaya matahari terserap sehingga yang sampai ke bumi hanya pada kadar yang tidak
membahayakan kehidupan bumi.

Penipisan lapisan ozon membawa kebimbangan kepada dunia

Ancaman yang diketahui terhadap keseimbangan ozon adalah kloroflorokarbon (CFC) yang
mengakibatkan menipisnya lapisan ozon. CFC digunakan oleh masyarakat modern dengan cara yang
tidak terkira banyaknya, misalnya dengan :

1. AC

2. kulkas

3. bahan dorong dalam penyembur (aerosol), diantaranya kaleng semprot untuk pengharum ruangan,
penyemprot rambut atau parfum

4. pembuatan busa

5. bahan pelarut terutama bagi kilang-kilang elektronik

Satu buah molekul CFC memiliki masa hidup 50 hingga 100 tahun dalam atmosfer sebelum dihapuskan.
Dalam waktu kira-kira 5 tahun, CFC bergerak naik dengan perlahan ke dalam stratosfer (10 50 km).
Molekul CFC terurai setelah bercampur dengan sinar UV, dan membebaskan atom Klorin. Atom klorin ini
berupaya memusnahkan ozon dan menghasilkan Lubang Ozon. Penipisan lapisan ozon akan
menyebabkan lebih banyak sinar UV memasuki bumi.

Lubang ozon di Antartika disebabkan oleh penipisan lapisan ozon antara ketinggian tertentu seluruh
Antartika pada musim semi. Pembentukan lubang tersebut terjadi setiap bulan September dan pulih ke
keadaan normal pada lewat musin semi atau awal musim panas.
Lapisan Ozon (O3) yang menyelimuti bumi berfungsi menahan radiasi sinar ultraviolet yang berbahaya
bagi kehidupan di bumi. Di tengah-tengah kerusakan hutan, meningkatnya zat-zat kimia di bumi akan
dapat menimbulkan rusaknya lapisan ozon. Kerusakan itu akan menimbulkan lubang-lubang pada lapisan
ozon yang makin lama dapat semakin bertambah besar. Melalui lubang-lubang itu sinar ultraviolet akan
menembus sampai ke bumi, sehingga dapat menyebabkan kanker kulit dan kerusakan pada tanaman-
tanaman di bumi.

Dalam bulan Oktober 1987, 1989, 1990 dan 1991, lubang ozon yang luas telah dilacak di seluruh
Antartika dengan kenaikan 60% pengurangan ozon berbanding dengan permukaan lubang pra-ozon.
Pada bulan Oktober 1991, permukaan terendah atmosfer ozon yang pernah dicatat telah terjadi di
seluruh Antartika.

1975, dikhawatirkan aktivitas manusia akan mengancam lapisan ozon. Oleh karena itu atas permintaan
United Nations Environment Programme (UNEP), WMO memulai Penyelidikan Ozon Global dan Proyek
Pemantauan untuk mengkoordinasi pemantauan dan penyelidikan ozon dalam jangka panjang. Semua
data dari tapak pemantauan di seluruh dunia diantarkan ke Pusat Data Ozon Dunia di Toronto, Kanada,
yang tersedia kepada masyarakat ilmiah internasional.

1977, pertemuan pakar UNEP mengambil tindakan Rencana Dunia terhadap lapisan ozon; 1987,
ditandatangani Protokol Montreal, suatu perjanjian untuk perlindungan terhadap lapisan ozon. Protokol
ini kemudian diratifikasi oleh 36 negara termasuk Amerika Serikat. 1990 Pelarangan total terhadap
penggunaan CFC sejak diusulkan oleh Komunitas Eropa (sekarang Uni Eropa) pada tahun 1989, yang juga
disetujui oleh Presiden AS George Bush.

1991 Untuk memonitor berkurangnya ozon secara global, National Aeronautics and Space
Administration (NASA) meluncurkan Satelit Peneliti Atmosfer. Satelit dengan berat 7 ton ini mengorbit
pada ketinggian 600 km (372 mil) untuk mengukur variasi ozon pada berbagai ketinggian dan
menyediakan gambaran jelas pertama tentang kimiawi atmosfer di atas. 1995, lebih dari 100 negara
setuju untuk secara bertahap menghentikan produksi pestisida metil bromida di negara-negara maju.
Bahan ini diperkirakan dapat menyebabkan pengurangan lapisan ozon hingga 15 persen pada tahun
2000.

1995 CFC tidak diproduksi lagi di negara maju pada akhir tahun dan dihentikan secara bertahap di negara
berkembang hingga tahun 2010. Hidrofluorokarbon atau HCFC, yang lebih sedikit menyebabkan
kerusakan lapisan ozon bila dibandingkan CFC, digunakan sementara sebagai pengganti CFC.

Memang timbulnya penipisan lapisan ozon ini dipicu dari tingginya pemakaian CFC oleh negara-negara
maju beberapa dekade yang lalu, namun guna menormalkan kembali kondisi ozon ini diperlukan kerja
sama yang baik dari semua pihak. Baik negara maju maupun negara berkembang yang saat ini masih
menginginkan penggunaan zat kimia buatan manusia tersebut dalam industrinya perlu melakukan
tindakan yang diperlukan.

Tindakan yang dapat kita lakukan saat ini demi memelihara lapisan ozon, misalnya mulai mengurangi
atau tidak menggunakan lagi produk-produk rumah tangga yang mengandung zat-zat yang dapat
merusak lapisan pelindung bumi dari sinar UV ini. Untuk itu, diperlukan upaya meningkatkan kesadaran
dan partisipasi aktif masyarakat dalam program perlindungan lapisan ozon, pemahaman mengenai
penanggulangan penipisan lapisan ozon, memperkenalkan bahan, proses, produk, dan teknologi yang
tidak merusak lapisan ozon. Bila tidak, maka proses penipisan ozon akan semakin meningkat dan
mungkin saja akan menyebabkan lapisan ini tidak dapat dikembalikan lagi ke bentuk aslinya.

k. MELUASNYA GURUN

Gurun datang lagi lagi ke timur tengah ; tanah subur beralih jadi tempat limbah gersang yang dapat
semakin merusak kestabilan wilayah itu. Penggurunan menyebar seperti kanker, itu dapat dilihat dengan
cepat. Dampaknya dapat dilihat disuriah, tempat kemarau telah membuat ratusan ribu orang
meninggalkan rumah, menghancurkan petani dan membuat warga kota besar membengkak.

Laporan Pembangunan Manusia Arab 2009 Oleh Program Pembangunan PBB, menyatakan penggurunan
mengancam sebanyak 2,87 km2 lahan aatu seperlima dari wilayah Timur Tengah dan Afrika Utara.
Banyak lahan tidur dan tanah pertanian menghadapi ancaman, sementara tidak banyak upaya untuk
mengubah keadaan itu. Penduduk yang berkembang, yang makin menambah berat rentangan terhadap
lingkungan hidup, dan perubahan iklim menambah cepat kecenderungan tersebut.

Kecenderungan didunia arab condong kearah kegersangan. Kita menghadapi pergolakan melawan
kecenderungan alam, tapi kecepatannyalah yang membuat kita takut. Kebanyakan negara Arab sampai
2006 menghadapinya sebagai salah satu dari banyak masalah. Lalu, para menteri pertanian
menggambarkannya sebagai bahaya yang mengancam dunia arab. Itu terjadi karena mereka mulai
merasakan sakitnya.

Satu studi PBB pada 2007 berbicara mengenai krisis lingkungan hidup dengan proporsi global yang
dapat membuat 50 juta orang meninggalkan tempat tinggal mereka hingga 2010, kebanyakan di Afrika.
Jika tidak dipedulikan, kecenderungan itu dapat muncul sebagai ancaman terhadap kestabilan
internasional, kesimpulan yang juga disampaikan oleh laporan PBB.

KEPENDUDUKAN

Penduduk atau warga suatu negara atau daerah bias didefinisikan menjadi dua:

1. Orang yang tinggal didaerah tersebut.

2. Orang yang secara hukum tinggal didaerah tersebut.


Dalam sosiologi penduduk adalah kumpulan manusia yang menempati suatu wilayah geografi dan ruang
tertentu.

Ada tiga masalah pokok mengenai kependudukan yaitu:

1. PERTUMBUHAN PENDUDUK TIDAK TERKENDALI

Pertumbuhan penduduk

Pertumbuhan penduduk adalah perubahan sewaktu-waktu dan dapat dapat dihitung sebagai perubahan
dalam jumlah individu dalam sebuah populasi menggunakan per unit waktu untuk pengukuran. Model
pertumbuhan penduduk meliputi pertumbuhan Malthusian dan model logistik.

Nilai pertumbuhan penduduk

Dalam demografi dan ekologi nilai pertumbuhan penduduk (NPP) adalah nilai kecil dimana jumlah
individu dalam sebuah populasi meningkat. NPP hanya merujuk pada perubahan populasi pada periode
waktu unit. Sering diartikan sebagai persentase jumlah individu dalam populasi ketika dimulainya
periode. Ini dapat dituliskan dalam rumus :

(populasi diawal periode populasi diakhir periode)

Nilai pertumbuhan penduduk=

Populasi diawal periode

Cara yang paling umum digunakan untuk menghitung pertumbuhan penduduk adalah rasio bukan nilai.
Perubahan populasi pada periode waktu unit dihitung sebagai persentase populasi ketika dimulainya
periode. Yang merupakan :

Rasio pertumbuhan = nilai pertumbuhan X 100 %

Ketika pertumbuhan penduduk dapat melewati kapasitas muat suatu wilayah atau lingkungan hasilnya
berakhir dengan kelebihan penduduk atau over populasi. Over populasi dapat menandakan populasi
spesies manusia atau hewa tertentu lebih besar dari kapasitas bawaan dari ecological niche. Istilah ini
menunjuk ke hubngan antara jumlah polpulasi manusia dan planet bumi. Overpopulasi bukan jumlah
manusia atau hewan tetapi merupakan perbandingan antara jumlah manusia dan sumber daya yang
dibutuhkan untuk hidup. Dalam kata lain sebuah rasio antara populasi dibagi jumlah sumber daya.

Bila sebuah populasi berjumlah 10 orang, namun hanya ada cukup makanan untuk 9 orang maka
keadaan ini disebut over populasi. Selain itu masih ada sumber daya lain yang dibutuhkan oleh manusia
antara lain air bersih, rumah, tanah garap, pendidikan, listrik, transportasi, dan lain-lain.

Kepadatan penduduk

Laju pertumbuhan penduduk di negara berkembang lebih tinggi dibandingkan dengan negara maju.
Kepadatan penduduk dihitung dengan membagi jumlah penduduk dengan luas area dimana mereka
tinggal.

Distribusi usia dan jenis kelamin penduduk dalam negara atau wilayah tertentu dapat digambarkan
dengan suatu piramida penduduk. Piramida penduduk menggambarkan perkembangan penduduk dalam
kurun waktu tertentu. Negara atau daerah dengan angka kematian bayi dan memiliki usia harapan hidup
tinggi, bentuk piramida penduduknya hamper menyerupai kotak karena mayoritas penduduknya hidup
hingga usia tua.

Sebaliknya yang memiliki angka kematian bayi tinggi dan usia harapan hidup rendah, piramida
penduduknya berbentuk menyerupai genta (lebar di tengah) yang menggambarkan tingginya angka
kematian bayi dan tingginya resiko kematian.

Pengendalian penduduk

Pengendalian penduduk adalah kegiatan membatasi pertumbuhan penduduk, umumnya dengan


mengurangi jumlah kelahiran. Indonesia menerapkan pengendalian penduduk yang dikenal dengan
program keluarga berencana (KB), program ini dinilai berhasil menekan tingkat pertmbuhan penduduk di
Indonesia.

Menurut kamus besar bahasa Indonesia KB merupakan gerakan untuk membentuk keluarga sehat dan
sejahtera dengan membatasi kelahiran. Dengan kata lain KB adalah perencanaan jumlah keluarga.
Pembatasan bias dilakukan dengan penggunaan alat-alat kontrasepsi seperti kondom, spiral, dan
sebagainya.

Jumlah anak dalam sebuah keluarga yang dianggap ideal adalah dua. Gerakan ini mulai dicanangkan
pada tahun 1970an. Berkurangnya jumlah penduduk menyebabkan turunnya jumlah populasi pada
sebuah daerah.
Paul R. Ehrlich meramalkan adanya bencana kemanusiaan akibat terlalu banyaknya penduduk dan
ledakan penduduk. Ia berargumen bahwa laju pertumbuhan penduduk mengikuti pertumbuhan
eksponensial dan akan melampaui suplai makanan yang akan mengakibatkan kelaparan.

2. KOMPOSISI PENDUDUK

Komposisi penduduk merupakan sebuah mata statistik dari statistik kependudukan yang membagi dan
membahas masalah kependudukan dari segi umur dan jenis kelamin. Komposisi menurut umur dan jenis
kelamin ini sangat penting bagi pemerintah sebuah negara untuk menentukan kebijakan kependudukan
mereka untuk beberapa tahun ke depan. Komposisi menurut umur biasanya dijabarkan dalam kelompok-
kelompok umur 5 tahun sedangkan menurut jenis kelamin adalah laki-laki dan perempuan.

Komposisi penduduk yaitu pengelompokan penduduk berdasarkan criteria tertentu. Dasar untuk
menyusun komposisi penduduk yang umum digunakan adalah umur, jenis kelamin, mata pencaharian
dan tempat tinggal. Pengelompokan penduduk dapat digunakan untuk dasar dalam pengambilan
kebijakan dan pembuatan program dalam mengatasi masalah-masalah bidang kependudukan.

Komposisi penduduk menurut umur dan jenis kelamin dapat ditampilkan dalam bentuk grafik yang
dinamakan piramida penduduk. Bentuk piramida penduduk ada 3 macam yaitu:

a. Piramda penduduk muda berbentuk limas

Piramida ini menggambarkan jumlah penduduk usia muda lebih besar disbanding usia dewasa. Di waktu
yang akan datang jumlah penduduk bertambah lebih banyak. Jadi penduduk sedang mengalami
pertumbuhan.

c. Piramida penduduk berbentuk stasioner atau tetap berbentuk granat

Bentuk ini menggambarkan jumlah penduduk usia muda seimbang dengan usia dewasa. Hal ini berarti
penduduk dalam keadaan stasioner sehingga pertambahan penduduk akan tetap diwaktu yang akan
dating.

d. Piramida penduduk tua berbentuk batu nisan

Bentuk ini menunjukkan jumlah penduduk usia muda lebih sedikit dibandingkan dengan usia dewasa. Di
waktu yang akan datang jumlah penduduk mengalami penurunan karena tingkat kelahiran yang rendah
dan kematian yang tinggi.

Pembuatan piramida penduduk dapat berguna untuk:

Mengetahui perbandingan jumlah antara laki-laki dan perempuanv


Untuk mengetahui struktur umur penduduk suatu negara secara umumv

Mengetahui keadaan jumlah penduduk di waktu yang akan datingv

Perbandingan antara jumlah penduduk laki-laki dan perempuan di daerah atau negara tertentu pada
tahun tertentu disebut perbandingan jenis kelamin (sex ratio). Selain itu juga bias digunakan perhitungan
rasio ketergantungan (dependency ratio) yaitu angka perbandingan yang menunjukkan besar beban
tanggungan dari kelompok usia produktif. Usia produktif (15-64) tahun selain menanggung dirinya juga
menanggung kebutuhan hidup golongan usia muda (0-14) tahun dan golongan tua (65 tahun keatas).
Makin besar rasio ketergantungan semakin besar beban yang ditanggung oleh kelompok produktif.

3. MUTU SUMBER DAYA MANUSIA

Manusia dilahirkan ke dunia ini telah di lengkapi dengan beraneka ragam potensi didalam diri mereka
masing-masing. Potensi manusia akan terlihat ketika mereka melakukan berbagai aktifitas. Aktifitas yang
mereka lakukan, baik secara formal maupun informal akan membantu tergalinya potensi setiap manusia.

Jika telah mengetahui potensi dalam dirinya yang kemudian dikembangkan sehingga berguna bagi diri
sendiri dan orang lain. Untuk usa pengambangan potensi diri, adalah melalui sebuah usaha keras untuk
menyalurkan hasil karya cipta yang kita miliki.

Kualitas sumberdaya manusia masih menjadi persoalan utama dalam bidang pendidikan di Indonesia,
baik ditingkat pendidikan tinggi maupun pendidikan dasar dan menengah. Dari sekitar 160 ribu dosen
yang ada di Indonesia hamper lima 54% nya belum S2 dan S3. Sementara guru dari 2,7 juta guru, 1,5 juta
diantaranya belum S1. Pembenahan kualitas SDM ini memang bukan pekerjaan mudah.

Indonesia masih jauh tertinggal dibandingkan dengan negara lainnya didunia bahkan di Asia Tenggara.
Berdasarkan data dari Global Competitiveness Report di tahun 2008 Indonesia menempati peringkat 55
sementara di tahun 2005 di peringkat 69.

TERORISME

Terorisme adalah serangan-serangan terkoordinasi yang bertujuan membangkitkan perasaan teror


terhadap sekelompok masyarakat. Istilah terorisme menurut para ahli kontraterorisme dikatakan
merujuk kepada para pelaku yang tidak tergabung dalam angkatan bersenjata yang dikenal atau tidak
menuruti aturan angkatan bersenjata tersebut.
Terorisme didunia bukanlah merupakan hal baru, namun menjadi aktual terutama sejak terjadinya
serangan terhadap gedung WTC di Amerika Serikat. Terorisme digunakan sebagai senjata psikologis
untuk menciptakan suasana panic, tidak menentu serta menciptakan ketidak percayaan terhadap
kemampuan pemerintah dan memaksa masyarakat atau kelompok tertentu untuk mentaati kehendak
pelaku teror.

Terorisme kian jelas menjadi momok bagi peradaban modern. Sifat, tindakan, pelaku, tujuan strategis,
motivasi, hasil yang diharapkan serta dicapai. Terorisme sekarang kian bervariasi.

Aksi teror yang terjadi mengganggu kestabilian sistem politik di Indonesia dikarenakan:

a. Sistem politik Indonesia yang terdiri dari beberapa sistem yang menjalani fungsinya masing-masing.
Namun ketika terjadi kepincangan terjadi dalam subsistem Indonesia maka keseluruhan subsistem atau
atau system tadi mengalami gangguan. Dalam kaitannya dengan terorisme kepincangan yang terjadi
adalah dibidang pertahanan. Walaupun yang terjadi kepincangan dalam bidang pertahanan namun
berdampak pada bidang-bidang lain seperti gagalnya diplomasi dengan negara yang menjadi korban,
larangan berwisata ke Indonesia yang mengakibatkan kesulitan di bidang ekonomi karena berkurangnya
wisatawan.

b. Didalam sistem politik terdapat input yang berguna untuk memberikan masukan didalam sistem
politik. Namun permasalahannya untuk Indonesia yang memiliki berbagai macam tuntutan karena latar
belakang masyarakat yang berbeda-beda dan kebutuhan yang berbeda pula. Kebutuhan yang tidak
terpenuhu dan kurangnya perhatian pemerintah menyebabkan beberapa golongan nekat sehingga
terjadilah tindakan terorisme tersebut. Jadi, input dan masukan yang tidak terpenuhi serta tidak dapat
perhatian khusus bias menyebabkan masyarakat nekat dan melakukan teror.

Jadi dapat disimpulkan bahwa terorisme memang mengganggu sistem perpolitikan dan kestabilan suatu
negara.

Oleh : DIMYATI, S.Pd

ARETHA SUPPLIER at 3:32 PM

Share

No comments:

Post a Comment

Home

View web version

About Me

My photo

ARETHA SUPPLIER

View my complete profile

Powered by Blogger.