Anda di halaman 1dari 55

TUGAS AKHIR

PERBANDINGAN KUAT LENTUR BALOK


BERPENAMPANG PERSEGI DENGAN BALOK
BERPENAMPANG I DENGAN PENGURANGAN
LUASAN SEBESAR 10 %

RIO NOVIHENDRI
03 511 020

JURUSAN TEKNIK SIPIL


FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
YOGYAKARTA
2009


ii 
KATA PENGANTAR

‫ﺒﺴم اﷲ اﻠرﺤﻤﻦاﻠرﺣﻴﻢ‬
‫اﻠﺳﻼم ﻋﻠﻳﮐم ﻮﺮﺤﻤﺔ اﷲ ﻮﺒﺮﮑﻴﻪ‬

Alhamdulillahirabbil’alamiin, tiada kata yang patut terucap atas segala nikmat-


Nya yang telah diberikan untuk kita. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah
kepada Nabi Muhammad SAW, inspirasi akhlak dan pribadi mulia. Dengan penuh
konsentrasi, perjuangan yang keras serta kemudahan dari Allah akhirnya, tugas
akhir berjudul “PERBANDINGAN KUAT LENTUR BALOK
BERPENAMPANG PERSEGI DENGAN BALOK BERPENAMPANG I
DENGAN PENGURANGAN LUASAN SEBESAR 10%” ini dapat
terselesaikan.
Tugas akhir ini merupakan syarat untuk mencapai jenjang Strata Satu (S1),
pada Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Universitas
Islam Indonesia. Masih terdapat banyak keterbatasan dalam penelitian dan
penulisan tugas akhir ini, oleh karena itu penulis mohon maaf dan berharap akan
ada pengembangan penelitian yang lebih baik dengan rekomendasi penelitian
yang dikemukakan pada bagian akhir dari tugas akhir ini.
Penulis mengucapkan terima kasih tidak terhingga kepada pihak-pihak yang
memberikan dukungan material dan spiritual sehingga tugas akhir ini dapat
terwujud, yaitu kepada:
1. Ibu dan Ayah-ku Tercinta yang selalu memberikan doa dan Petuah.
2. Adik-adikku Nanda, Dani, dan Hanafi Tersayang, yang memberi arti
menjalani hidup ini
3. Yth. Rektor Universitas Islam Indonesia, Prof. DR. H. Edy Suandi
Hamid, M.Ec.
4. Yth. Dekan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan UII, DR. Ir. H.
Ruzardi, MS.

iii 
5. Yth. Ketua dan Sekretaris Jurusan Teknik Sipil FTSP-UII, Ir. H. Faisol
A.M., MS dan Ir. H. Suharyatmo, MT.
6. Yth. Bapak A Kadir Aboe, Ir. MS. H, terima kasih atas bimbingan,
nasehat, dan dukungan yang diberikan kepada penulis dalam
penyusunan tugas akhir ini dan selama penulis menjalani masa kuliah.
7. Yth. Bapak Susastrawan, Ir, H, MS dan Bapak Moch.Samsudin, Ir, H,
MT selaku dosen tamu yang bersedia menguji penulis terhadap hasil
dari tugas akhir ini dan selama penulis menjalani masa kuliah.
8. Anak-anak satu kontrakan Perumahan IDI, Rozi, dan Abay
9. Anak- anak BKT dan Teman Maen Rama, Hendri, Tree (mau) Abay,
Untung, Aji, Heru, Kodok, Harya, Ratih, yade, benk2, Arif femow,
Dian, Dedy, Diego, Anton, dan anak- anak yang gak kesebut
terimakasih atas dukungan moril, canda – tawa dan jadi temen main
pingpong yang bisa menghilangkan kejenuhanku dalam menyusun
Tugas Akhir ini.
10. Temen-temen Jurusan Teknik Sipil UII angkatan 2003 yang tidak bisa
saya sebutkan semuanya satu-persatu, terima kasih ya… semoga kita
sukses dikemudian hari, Amin.
11. Pak Warno dan Mas Aris selaku petugas lab. BKT UII, terima kasih
atas bantuannya selama proses pembuatan sampel hingga pengujian.
12. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu.
Penulis berharap semoga penelitian yang telah dilakukan dan disajikan
dalam bentuk tugas akhir ini dapat memberikan kontribusi yang berarti bagi dunia
Teknik Sipil dan dapat bermanfaat untuk pengembangan penelitian selanjutnya.

Wassalammualaikum WR.WB

Yogyakarta, Maret 2009


Penulis

Rio Novihendri

iv 
ABSTRAKSI

Dalam suatu bangunan disamping faktor keamanan terhadap elemen-


elemen struktur perlu juga diperhatikan faktor waktu dan biaya yang akan
dikeluarkan dalam pembuatan elemen struktur pada bangunan tersebut. Oleh
karena itu hal ini seharusnya menjadi perhatian khusus bagi para pelaku bisnis
jasa konstruksi supaya dapat menghasilkan suatu elemen struktur yang dapat
menghemat dalam proses pembuatannya, sehingga dapat menekan anggaran
biaya menjadi lebih ekonomis.
Sebagai salah satu elemen struktur dari bangunan gedung, balok
mempunyai fungsi yang sangat penting didalam sistem struktur bangunan. Balok
merupakan elemen struktur yang fungsinya menahan beban lentur akibat dari
beban vertikal. Beban vertikal yang didukung meliputi beban hidup, beban plat,
berat tembok dan berat balok itu sendiri.
Pada umumnya balok berpenampang persegi. Balok mempunyai dua
bagian, yaitu daerah tekan dan daerah tarik. Pada daerah tekan gaya luar yang
ada sepenuhnya ditahan oleh beton, namun pada daerah tarik, dikarenakan
kekuatan beton sangatlah kecil untuk dapat menahan gaya tarik, kira – kira 10%
dibandingkan kekuatan tekannya, diperlukan baja tulangan guna mengatasi
kelemahan beton tersebut.
Dalam hal ini, peneliti akan mencoba mengurangi luasan beton bertulang
pada bagian badannya menjadi berpenampang I dengan harapan kekuatan yang
akan dihasilkan nantinya tidak mengurangi kekuatan balok tersebut dalam
menahan beban yang ada diatasnya. Dengan pengurangan luasan beton
bertulang tersebut tentu saja dapat menghemat bahan-bahan yang dipakai dalam
pembuatan balok tersebut tanpa mengurangi kekuatan sedikitpun dari balok
tersebut untuk menahan beban yang ada diatasnya.Dari hasil pengujian
pengurangan beton pada daerah tarik sebesar 10% tidak mempengaruhi
kapasitas penampang, tetapi lendutannya menjadi lebih besar.
Data dari pengujian yang diperoleh adalah beban dan lendutan.

Kata kunci : Balok tampang persegi, balok tampang I

v
DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ......................................................................................... i


HALAMAN PENGESAHAN........................................................................... ii
HALAMAN PERSEMBAHAN ...................................................................... iii
KATA PENGANTAR....................................................................................... iv
DAFTAR ISI...................................................................................................... vi
DAFTAR TABEL ............................................................................................. x
DAFTAR GAMBAR......................................................................................... xi
DAFTAR NOTASI............................................................................................ xiv

BAB I PENDAHULUAN............................................................................ 1

1.1 Latar Belakang ......................................................................... 1

1.2 Tujuan Penelitian ..................................................................... 2

1.3 Manfaat Penelitian ................................................................... 2

1.4 Batasan Masalah ...................................................................... 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA .................................................................. 4

2.1 Pendahuluan ............................................................................. 4

2.2 Konsep dasar Balok.................................................................. 4

BAB III LANDASAN TEORI....................................................................... 5

3.1 Bahan Penyusun Beton ............................................................ 6

3.1.1 Semen................................................................................ 6

3.1.2 Agregat.............................................................................. 7

3.1.3 Air ..................................................................................... 8

3.1.4 Udara ................................................................................. 8


3.2 Baja Tulangan .......................................................................... 9

3.3 Metode Analisis dan Perencanaan ........................................... 9

3.4 Kuat Lentur Balok Persegi ....................................................... 11

3.5 Balok Penampang I .................................................................. 13

3.6 Hubungan Beban dan Lendutan ............................................... 13

3.6.1 Perilaku Lendutan .......................................................... 15

3.6.2 Kontrol terhadap Lendutan ............................................ 15

BAB IV METODE PENELITIAN ............................................................... 17

4.1 Umum....................................................................................... 17

4.2 Bahan dan Benda Uji ............................................................... 17

4.2.1 Bahan uji ........................................................................ 17

4.2.2 Benda Uji ....................................................................... 17

4.3 Peralatan Penelitian.................................................................. 18

4.4 Persiapan Bahan ....................................................................... 19

4.5 Pembuatan Sampel ................................................................... 19

4.6 Perawatan Benda Uji................................................................ 21

4.7 Proses Pengujian ...................................................................... 22

BAB V ANALISIS DAN PEMBAHASAN................................................. 25

5.1 Pendahuluan ............................................................................. 25

5.2 Kuat Desak Beton .................................................................... 25

5.3 Balok Beton Bertulang............................................................. 27

5.3.1 Hubungan Beban-Lendutan ........................................... 27

5.4 Pembahasan.............................................................................. 27

vi 
5.4.1 Kapasitas Momen........................................................... 27

5.4.2 Hubungan Beban dengan Lendutan ............................... 30

5.4.3 Kontrol terhadap Lendutan ............................................ 40

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ....................................................... 41

6.1 Kesimpulan .............................................................................. 41

6.2 Saran......................................................................................... 42

   
 

 
 
 

vii 
DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Lendutan izin maksimum.................................................................. 16

Tabel 4.1 Alat – alat yang digunakan dalam penelitian .................................... 18

Tabel 5.1 Hasil pengujian kuat tekan beton ...................................................... 26

Tabel 5.2 Kuat lentur balok beton bertulang..................................................... 30

Tabel 5.3 kontrol terhadap lendutan.................................................................. 40

viii 
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Tampang Balok ........................................................................... 3


Gambar 3.1 Perilaku Lentur Pada Beban Sedang .......................................... 9
Gambar 3.2 Perilaku Lentur Pada Beban Ultimit ........................................... 10
Gambar 3.3 Distribusi Tegangan Persegi Ekuivalen dari Whitney ................ 11
Gambar 3.4 Digram regangan dan tegangan balok penampang I ................... 13
Gambar 3.5 Lendutan Balok ........................................................................... 14
Gambar 3.6 Momen pada tampang memanjang balok ................................... 14
Gambar 3.7 Hubungan Beban dan Lendutan .................................................. 15
Gambar 3.10 Grafik Hubungan Beban-Lendutan pada Balok.......................... 15
Gambar 5.1 Hubungan Beban-Lendutan Balok Berpenampang Persegi (BTP-I)
dengan Balok Berpenampang I (BTI-I) ...................................... .31
Gambar 5.2 Hubungan Beban-Lendutan Balok Berpenampang Persegi (BTP-I)
dengan Balok Berpenampang I (BTI-II).......................................32
Gambar 5.3 Hubungan Beban-Lendutan Balok Berpenampang Persegi (BTP-I)
dengan Balok Berpenampang I (BTI-III)......................................33
Gambar 5.4 Hubungan Beban-Lendutan Balok Berpenampang Persegi (BTP-II)
dengan Balok Berpenampang I (BTI-I).........................................34
Gambar 5.5 Hubungan Beban-Lendutan Balok Berpenampang Persegi (BTP-II)
dengan Balok Berpenampang I (BTI-II).......................................35
Gambar 5.6 Hubungan Beban-Lendutan Balok Berpenampang Persegi (BTP-II)
dengan Balok Berpenampang I (BTI-III).....................................36
Gambar 5.7 Hubungan Beban-Lendutan Balok Berpenampang Persegi
(BTP-III) dengan Balok Berpenampang I (BTI-I). ......................37
Gambar 5.8 Hubungan Beban-Lendutan Balok Berpenampang Persegi
(BTP-III) dengan Balok Berpenampang I (BTI-II)......................38
Gambar 5.9 Hubungan Beban-Lendutan Balok Berpenampang Persegi (BTP-
III) dengan Balok Berpenampang I (BTI-III)..............................39

ix 
DAFTAR NOTASI

a Tinggi blok tegangan


A Luas benda uji
As Luas tulangan tarik
b Lebar balok
c Jarak sumbu netral penampang keserat paling tertekan
Cc Gaya tekan beton
Cs Gaya tekan baja
d Tinggi efektif balok
d’ Jarak dari tepi serat tertekan kepusat tulangan tekan
D Diameter baja tulangan
Ec Modulus elastis beton
Es Modulus elastis baja
f’c Kuat tekan beton
fs Tegangan baja tarik
fr Modulus keruntuhan beton
fu Tegangan tarik ultimit
fy Tegangan leleh baja
h tinggi balok
I Inersia penampang
jd lengan dari titik berat baja dan beton tekan ke titik berat tulangan dan
beton tarik
k factor tinggi garis netral
L Panjang balok
M Momen
Mcr Momen retak dari beton
Mn Momen nominal
My Momen leleh pertama
P Gaya, beban
Pu Beban ultimit


Py Beban leleh
S Momen statis dari bagian yang tergeser terhadap garis netral
Ts Gaya tarik pada baja
v Tegangan geser
V Gaya geser
Vc Gaya geser beton
Vn Gaya geser nominal total
Vs Gaya geser yang ditahan oleh sengkang
∆ Lendutan, defleksi
∆y Lendutan leleh
β Konstanta yang merupakan fungsi dari kuat tekan beton
εc Regangan beton
εs Regangan baja tarik
εs’ Regangan baja tekan
εy Regangan leleh baja
ρ Rasio luas penampang tulangan tarik terhadap luas efektif penampang
balok
ρb Rasio tulangan seimbang
φ Kelengkungan
φy Kelengkungan leleh pertama

xi 

 

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sebagian besar dari hidup manusia berada di sekitar atau di dalam


bangunan, seperti perumahan, kantor-kantor, pabrik-pabrik, rumah sakit, jembatan
dan sebagainya. Pengaruh yang sedemikian luas itu mengakibatkan sektor
bangunan memegang peranan penting dalam meningkatkan kesejahteraan dan
perekonomian suatu negara.
Dikarenakan krisis moneter yang menerpa Indonesia sejak beberapa tahun
silam mengakibatkan perlunya beberapa terobosan untuk dapat sedikit mengatasi
keterbatasan – keterbatasan yang mungkin terjadi. Oleh karena itu hal ini
seharusnya menjadi perhatian khusus bagi para pelaku bisnis jasa konstruksi
supaya dapat menghasilkan atau merencanakan suatu elemen struktur yang dapat
menghemat dalam proses pembuatannya, sehingga dapat menekan anggaran biaya
menjadi lebih ekonomis.
Sebagai salah satu elemen struktur dari bangunan gedung, balok
mempunyai fungsi yang sangat penting didalam sistem struktur bangunan. Balok
merupakan elemen struktur yang fungsinya menahan beban lentur akibat dari
beban vertikal. Beban vertikal yang didukung meliputi beban hidup, beban plat,
berat tembok dan berat balok itu sendiri. Kegagalan balok akan berakibat
langsung pada runtuhnya komponen struktur lain yang berhubungan dengan balok
atau bahkan dapat mengakibatkan kegagalan keseluruhan struktur bangunan.
Pada umumnya balok berpenampang persegi. Balok mempunyai dua
bagian, yaitu daerah tekan dan daerah tarik. Pada daerah tekan gaya luar yang ada
sepenuhnya ditahan oleh beton, namun pada daerah tarik, dikarenakan kekuatan
beton sangatlah kecil untuk dapat menahan gaya tarik, kira – kira 10%
dibandingkan kekuatan tekannya, diperlukan baja tulangan guna mengatasi
kelemahan beton tersebut.

 
 

 

Dalam hal ini, peneliti akan mencoba mengurangi luasan beton bertulang
pada bagian badannya menjadi berpenampang I dengan harapan kekuatan yang
akan dihasilkan nantinya tidak mengurangi kekuatan balok tersebut dalam
menahan beban yang ada diatasnya. Dengan pengurangan luasan beton bertulang
tersebut tentu saja dapat menghemat bahan-bahan yang dipakai dalam pembuatan
balok tersebut tanpa mengurangi kekuatan sedikitpun dari balok tersebut untuk
menahan beban yang ada diatasnya.

1.2 Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui
apakah balok berpenampang persegi apabila luasannya dikurangi pada bagian
badannya menjadi berpenampang I dapat mengakibatkan berkurangnya kekuatan
balok tersebut atau tidak.

1.3 Manfaat Penelitian

Bebarapa hal yang diharapkan dapat memberi manfaat setelah


diadakannya penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Secara akademik dapat memberikan variasi tampang balok
2. Secara praktis jika penelitian ini berhasil, diharapkan dapat memberikan
tampang balok yang efisien sehingga dapat menghemat biaya konstruksi.

1.4 Batasan Masalah

Agar ruang lingkup penelitan lebih jelas dan lebih terarah diperlukan
adanya batasan – batasan masalah, yaitu :
1. Beton yang digunakan adalah beton normal dengan kuat desak (f’c) = 25
MPa,
2. Dalam penelitian ini menggunkan baja dengan diameter tulangan 10 mm
dan sebagai tulangan sengkang digunakan baja diameter 8 mm dengan fy
= 350 Mpa,

 
 

 

3. Benda uji lentur ( balok ) dengan ukuran (200 x 300 x 1400) mm,
4. Bahan ikat semen digunakan semen pc merk Holcim,
5. Air yang digunakan berasal dari Laboratorium Bahan Konstruksi Teknik
(BKT) Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Universitas Islam
Indonesia,
6. Agregat kasar diambil dari daerah Clereng, Kulon Progo
7. Agregat Halus (Pasir) yang digunakan berasal dari kali boyong Gunung
Merapi,
8. Pengujian kekuatan lentur pada benda uji menggunakan beban terpusat.
Pengujian dilakukan di laboratorium BKT jurusan teknik sipil FTSP UII
setelah umur 28 hari.
9. Pada balok berpenampang I, tinggi blok tekan direncanakan masih berada
pada daerah sayap,
10. Penampang Balok seperti berikut :

Gambar 1.1 Tampang Gambar 1.1 Tampang


Balok Persegi Balok I

11. Dari gambar tampang balok diatas terlihat pengurangan luas balok
tampang persegi sebesar 10% pada bagian badannya menjadi balok
tampang I.

 
 

 

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pendahuluan

Beton adalah suatu campuran yang terdiri dari pasir, kerikil, batu pecah,
atau agregat – agregat lain yang dicampur menjadi satu dengan suatu pasta yang
terbuat dari semen dan air sehingga membentuk suatu massa mirip batuan.
Kekuatan, keawetan dan sifat-sifat lain beton tergantung pada bahan campurannya
(sifat dan proporsinya), pengolahannya (cara mencampur/mengaduk,
menuang/mencetak dan memadatkan) dan perawatan selama proses pengerasan.
Sedangkan Beton Bertulang adalah suatu kombinasi antara beton dan baja dimana
baja berfungsi menyediakan kuat tarik yang tidak dimiliki oleh beton. Beton
nomal adalah beton yang mempunyai berat satuan 2200 Kg/cm3 sampai 2500
Kg/cm3 dan dibuat menggunakan agregat alam yang dipecah maupun tidak
dipecah. (SK SNI 03-2847-2002).

2.2 Konsep dasar Balok

Asumsi-asumsi yang dugunakan dalam menetapkan perilaku penampang


adalah sebagai berikut :
1. Distrubusi regangan dianggap linier. Asumsi ini berdasarkan hipotesis
Bernuolli yaitu penampang yang datar sebelum mengalami lentur akan
tetap datar dan tetap tegak lurus terhadap sumbu netral setelah mengalami
lentur.
2. Regangan pada baja dan beton disekitarnya sama sebelum terjadi retak
pada beton atau leleh pada baja.
3. Beton lemah terhadap tarik. Beton akan retak pada taraf pembebanan
kecil, yaitu sekitar 10% dari kekuatan tekannya. Akibatnya didalam
analisa da n pendesainan kuat tarik beton diabaikan. bagian beton yang

 
 

 

mengalami tarik pada penampang diabaikan. Tulangan tarik yang ada


dianggap memikul gaya tarik tersebut.
Berdasarkan asumsi diatas dimana beton tarik diabaikan, maka balok
bertampang I ini akan direncanakan sama seperti balok penampang persegi, akan
tetapi dengan adanya pengurangan luas khususnya pada daerah tarik (tidak
mempengaruhi dari blok tegangan a = β1.c). Sehingga dengan pengurangan luasan
pada daerah tarik tersebut tetap tidak mempengaruhi besarnya nilai momen
nominal (Mn).

 
 

 

BAB III
LANDASAN TEORI

3.1 Bahan Penyusun Beton

3.1.1 Semen

Semen merupakan bahan hidrolis yang dapat bereaksi secara kimia dengan
air sehingga membentuk material yang padat. Pada umumnya semen untuk bahan
bangunan adalah tipe Semen Portland. Semen Portland adalah bahan konstruksi
yang paling banyak digunakan dalam pekerjaan beton. Menurut ASTM C-150,
1985 Semen Portland didefinisikan sebagai semen hidrolik yang dihasilkan
dengan menggiling klinker yang terdiri dari kalsium silikat hidrolik, yang
umumnya mengandung satu atau lebih bentuk kalsium sulfat sebagai bahan
tambahan yang digiling bersama-sama dengan bahan utamanya. Semen Portland
yang digunakan di Indonesia harus memenuhi syarat SII.0013-81 atau Standar Uji
Bahan Bangunan Indonesia 1986, dan harus memenuhi persyatatan yang
ditetapkan dalam standar tersebut(Tri Mulyono, 2003).
Menurut PUBI 1982 sesuai dengan tujuan pemakaiannya Semen Portland
dibagi menjadi 5 jenis, antara lain:
1. Jenis I : Semen Portland untuk penggunaan umum untuk semua tujuan
2. Jenis II : Relatif sedikit panas, digunakan untuk struktur besar
3. Jenis III : Mencapai kekuatan tinggi pada umur tiga hari
4. Jenis IV : Dipakai pada bendungan beton, karena mempunyai sifat
panas hidrasi rendah
5. Jenis V : Dipakai untuk saluran dan struktur yang ekpos terhadap
sulfat.

 
 

 

3.1.2 Agregat

Agregat adalah butiran mineral alami yang berfungsi sebagai bahan


pengisi dalam campuran beton. Pada beton biasanya terdapat sekitar 60-80%
volume agregat.
Untuk mendapatkan beton yang baik, diperlukan agregat yang mempunyai
kualitas yang baik pula, agregat yang baik dalam pembuatan beton harus
mempunyai persyaratan(PBI 1971), yaitu:
1. Harus bersifat kekal, berbutir tajam dan kuat,
2. Tidak mengandung lumpur lebih dari 5% untuk agregat halus, dan 1%
untuk agregat kasar,
3. Tidak mengandung bahan-bahan organik dan zat-zat yang reaktif
alkali, dan
4. Harus terdiridari butir-butir yang keras dan tidak berpori.
Sedangkan maksud dari penggunaan agregat dalam pembuatan campuran
beton adalah:
1. Menghemat penggunaan Semen Portland,
2. Menghasilkan beton dengan kekuatan besar,
3. Mengurangi penyusutan pada saat pengerasan beton,
4. Dengan gradasi yang dapat tercapai beton padat,
5. Mudah dikerjakan (workable).

a. Agregat kasar
Agregat kasar didefinisikan sebagai butiran yang tetahan saringan 4.75
mm(no.4 standar ASTM). Agregat kasar mempengaruhi kekuatan akhir beton dan
daya tahannya terhadap disintregasi beton, cuaca, dan efek-efek perusak lainnya.
Agregat kasar harus bersih dari bahan-bahan organik dan harus mempunyai ikatan
yang baik dengan gel semen (Edward G.Nawy, 1990). Agregat kasar dapat berupa
kerikil atau batu pecah.
b. Agregat Halus
Agregat halus ini berupa pasir alam hasil disintregasi alami dari batu-batuan
atau berupa pasir buatan yang dihasilkan dari alat-alat pemecah batuan (artificial
 
 

 

sand) dengan ukuran kecil antara 0,15-5 mm (SK SNI 03-2847-2002). Agregat
dapat berupa pasir alam, pasir olahan, atau gabungan dari kedua jenis pasir
tersebut. Ukurannya bervariasi antara No. 4 dan No. 100 saringan standar
Amerika. Agregat halus yang baik harus bebas dari bahan organik, lempung,
partikel yang lebih kecil dari saringan No. 100 atau bahan-bahan lain yang dapat
merusak beton (Edward G. Nawy)

3.1.3 Air

Air diperlukan pada pembuatan beton untuk memicu proses kimiawi


semen, membasahi agregat dan memberikan kemudahan dalam pekerjaan beton.
Penggunaan air yang berlebihan akan menyebabkan banyaknya gelembung air
setelah proses hidrasi selesai, sedangkan air yang terlalu sedikit akan
menyebabkan proses hidrasi tidak tercapai seluruhnya, sehingga akan
mempengaruhi kekuatan beton.
Karena karakter pasta semen merupakan hasil reaksi kimiawi antara semen
dan air, maka bukan perbandingan jumlah air terhadap total material
(semen+agregat halus+agregat kasar) yang menentukan, melainkan hanya
perbandingan antara air dan semen pada campuran yang menentukan.
Proporsi air yang sedikit akan memberikan kekuatan yang tinggi pada
beton, tetapi kelemasan beton atau daya kerjanya akan berkurang. Sedangkan
proporsi air yang agak besar akan memberikan kemudahan pada waktu
pelaksanaan pengecoran, tetapi kekuatan hancur beton menjadi rendah. Proporsi
air ini dinyatakan dalam rasio air-semen (water-cement ratio), yaitu angka yang
menyatakan perbandingan antara berat air (kg) dibagi dengan berat semen (kg)
dalam adukan beton tersebut (L. wahyudi Syahril A. Rahim).

3.1.4 Udara

Sebagai akibat terjadinya penguapan air secara perlahan-lahan dari


campuran beton mengakibatkan terjadinya rongga-rongga pada beton keras yang
dihasilkan. Adanya rongga ini akan memudahkan pengerjaan beton, mengurangi
 
 

 

bleeding, segresi dan mengurangi jumlah pasir yang diperlukan. Kandungan udara
optimum ini adalah 9% dari friksi mortar dalam beton.

3.2 Baja tulangan

Baja tulangan merupakan bahan yang digunakan sebagai tulangan pada


konstruksi beton bertulang dan merupakan bahan utama yang dihitung untuk
memikul kekuatan tarik pada konstruksi beton bertulang. Sifat fisik baja tulangan
yang paling penting digunakan dalam perhitungan perencanaan beton bertulang
ialah tegangan luluh (fy) dan modulus elastisitas (Es). Tegangan luluh adalah
tegangan baja pada saat dimana meningkatnya tegangan tidak disertai lagi dengan
meningkatnya regangan.

3.3 Metode Analisis dan Perencanaan

Anggapan-anggapan yang dipakai sebagai dasar untuk metode


perencanaan kekuatan (ultimit) pada dasarnya adalah bahwa tegangan beton
sebanding dengan regangannya hanya sampai pada tingkat pembebanan tertentu.
Pada tingkat pembebanan ini, apabila beban ditambah, keadaan sebanding akan
hilang dan diagram tegangan tekan pada penampang balok beton akan berbentuk
setara dengan kurva tegangan-regangan beton tekan seperti terlihat pada gambar
dibawah ini.

b
ecu=0.003 f 'c

x x
GN

d
h

T
es

Tampang Balok Diagram Regangan Diagram Tegangan

Gambar 3.1 Perilaku lentur pada beban sedang

 
 
10 
 

Pada beban sedang, kuat tarik beton dilampaui dan beton mengalami retak
rambut seperti tampak pada Gambar 3.1 karena beton tidak dapat meneruskan
gaya tarik melintasi daerah retak, baja tulangan akan mengambil alih memikul
seluruh gaya tarik yang timbul. Pada keadaan tersebut tegangan beton tekan masih
dianggap sebanding dengan nilai regangannya.
Pada beban yang lebih besar lagi nilai regangan serta tegangan tekan akan
meningkat dan tidak sebanding lagi antara keduanya, dimana tegangan beton
akan membentuk kurva nonlinier. Kurva diatas garis netral (daerah tekan)
berbentuk sama dengan kurva tegangan-regangan beton sepeti yang terlihat pada
gambar dibawah ini.

b
ecu=0.003 f 'c

x x
GN

d
h

T
es

Tampang Balok Diagram Regangan Diagram Tegangan

Gambar 3.2 Perilaku lentur pada beban ultimit

Pada gambar 3.2 terlihat bahwa kapasitas kuat beton terlampaui dan baja
tulangan mencapai luluh, balok mengalami kehancuran. Pada tahap kapasitas
ultimit atau terlampauinya kapasitas batas kuat beton ini merupakan proses yang
tidak dapat terulang.
Untuk memperhitungkan terjadinya keadaan ultimit, digunakan faktor
reduksi dengan angka aman. Hal in serupa dengan system pembebanan, yakni
beban kerja (servis load) yang diperbesar dengan suatu beban yang disebut beban
berfaktor (faktor load). Dari analisa keseimbangan statis dan kesesuaian
regangan-regangan yang tidak linier pada suatu penampang elemen struktur
didapat suatu kuat teoritis atau kuat nominal (nominal strength). Suatu faktor

 
 
11 
 

reduksi θ yang dikalikan dengan kuat nominal tersebut akan menghasilkan kuat
rencana (design strength).

3.4 Kuat Lentur Balok Persegi

Pada suatu komposisi tertentu balok menahan beban sedemikian sehingga


regangan tekan lentur beton maksimum (εmaks) mencapai 0,003 sedangkan
tegangan tarik baja tulangan mencapai tegangan luluh fy. apabila hal demikan
terjadi, penampang dinakaman mencapai keseimbangan regangan, atau disebut
penampang bertulang seimbang.
Berdasarkan anggapan-anggapan seperti yang telah dikemukakan dapat
dilakukan pengujian regangan, tegangan dan gaya-gaya yang timbul pda
penampang balok yang bekerja menahan momen batas, yaitu momen akibat beban
luar yang timbul tepat pada saat terjadi hancur. Momen ini mencerminkan
kekuatan dan disebut sebagai kuat lentur ultimit balok.
Kuat lentur nominal, adalah nilai maksimum yang diperoleh dari gaya-
gaya dalam C (resultan gaya tekan-dalam) dan T (resultan gaya tarik-dalam) yang
membetuk suatu momen kopel tahanan dalam dengan jarak Z = d – a/2 dengan d
adalah tinggi efektif balok.

b
ecu=0.003 f 'c 0.85 f 'c

x x a c
GN

d
h Z=d-a/2

T T
es

Tampang Balok Diagram Regangan Distribusi Tegangan Distribusi Tegangan


sebenarnya Ekivalen Whitney

Gambar 3.3 Blok tegangan ekivalen Whitney

 
 
12 
 

Dari gambar 3.3 tersebut didapat sebuah rumus yaitu :


Cc = 0,85. f ' c.a.b ....................................................................... (3.1)
Ts = As. fy ................................................................................... (3.2)
Dengan :
Cc = gaya tekan pada beton
Ts = gaya tarik pada baja
f’c = kuat tekan beton
a = tinggi blok tegangan
b = lebar balok
fy = tegangan leleh baja
As = luas baja tarik
Persamaan keseimbangan gaya-gaya dalam :
Cc = Ts ....................................................................................... (3.3)
0,85. f ' c.a.b = As. fy ................................................................... (3.4)
Dari persamaan 3.4 didapat nilai a yaitu dengan cara :
As. fy
a= ............................................................................ (3.5)
0,85. f ' c.b
Sehingga momen nominal untuk tulangan sebelah dapat dihitung dengan
persamaan :
Mn = Cc.Z
Mn = 0,85. f ' c.a.b.( d − a / 2) ....................................................... (3.6)
Nilai a yang terdapat pada persamaan 3.5 disubstitusikan kedalam persamaan 3.6
sehingga didapat persamaan baru yaitu :
⎛ As. fy ⎞ ⎛ As. fy ⎞
Mn = 0,85 f ' c.b⎜⎜ ⎟⎟ × ⎜⎜ d − ⎟
⎝ 0,85. f ' c.b ⎠ ⎝ 2.(0,85. f ' c.b) ⎟⎠

⎛ As. fy ⎞
Mn = As. fy⎜⎜ d − 0,59 ⎟ ...................................................... (3.7)
⎝ f ' c.b ⎟⎠

 
 
13 
 

Dengan :
Mn = Momen nominal
d = Tinggi efektif
d’ = Jarak dari tepi serat tertekan kepusat tulangan tekan

3.5 Balok Penampang I

Prinsip perhitungan balok penampang I sama dengan balok penampang


persegi dengan asumsi tinggi blok tekan maksimal didalam sayap balok
penampang I, ditunjukkan pada gambar dibawah ini.

b
ecu=0.003 f 'c 0.85 f 'c

x x a c
GN

d
h Z=d-a/2

T T
es

Tampang Balok Diagram Regangan Distribusi Tegangan Distribusi Tegangan


sebenarnya Ekivalen Whitney

Gambar 3.4 Diagram regangan-tegangan balok penampang I

3.6 Hubungan Beban dan Lendutan

Menurut Park dan Pauley, (1975), jika suatu balok dikenai beban, maka
balok yang semula lurus akan mengalami perubahan bentuk menjadi sebuah kurva
yang disebut dengan kurva lendutan (∆) yang akan terlihat pada gambar dibawah
ini :

 
 
14 

Lendutan

Gambar 3.5 Lendutan pada balok

Dari persamaan umum lendutan maksimum ∆maks pada balok elastis, dapat
diperoleh lendutan pada tengah bentang ∆maks, yaitu :

∆ .............................................................................................. (3.8)

Dengan :
ln = panjang bentang bersih
E = modulus elastis beton
I = momen inersia penampang
p = beban titik
Grafik hubungan antara beban dan lendutan akibat beban menurut Park
dan Pauley (1975) ditunjukkan pada gambar dibawah ini :

Beban ( P )

Bahan daktail

Bahan Getas

Lendutan

Gambar 3.7 Hubungan beban dan lendutan

 
 
15 
 

Dari hubungan antara kekakuan (P) dan lendutan (∆) pada Gambar 3.7 didapat
kekakuan balok (k) sebagai berikut :
p
K= ......................................................................................... (3.9)

3.6.1 Perilaku Lendutan

Hubungan beban-lendutan balok beton bertulang pada dasarnya dapat


diidialisasikan menjadi bentuk trilinier seperti yang diperlihatkan pada Gambar
3.8. Hubungan ini terdiri dari tiga daerah sebelum terjadinya rapture
Daerah I : taraf praretak, (batang-batang struktural bebas retak)
Daerah II : taraf pascaretak, (batang-batang struktural mengalami retak-retak
terkontrol yang masih dapat diterima, baik distribusi maupun
lebarnya)
Daerah III : taraf pasca-serviebility, ( tegangan pada tulangan tarik sudah
mencapai tegangan lelehnya).

Beban ( P ) I II III

Lendutan

Gambar 3.8 Grafik hubungan beban-lendutan pada balok

3.6.2 Kontrol terhadap lendutan

Lendutan yang diizinkan sangat bergantung pada besarnya lendutan yang


masih dapat ditahan oleh komponen-komponen struktur yang berinteraksi tanpa
kehilangan penampilan elastis dan tanpa kerusakan pada elemen yang terdeteksi.

 
 
16 
 

Menurut RSNI (2002) tentang tata cara perencanaan struktur beton untuk
bangunan gedung disajikan batas dari nilai lendutan maksimum yang diizinkan
seperti tersaji dalam tabel 3.1 berikut:

Tabel 3.1 Lendutan izin maksimum


Jenis komponen struktur Lendutan yang ditinjau Batas
lendutan
Atap datar yang tidak menahan Lendutan seketika akibat
atau tidak disatukan dengan beban hidup (L) 180

komponen non struktural yang


mungkin akan rusak oleh lendutan
yang besar.
Lantai yang tidak menahan atau Lendutan seketika akibat
tidak disatukan dengan komponen beban hidup (L) 360

non struktural yang mungkin akan


rusak oleh lendutan yang besar.
Konstruksi atap atau lantai yang Bagian dari lendutan total
menahan atau disatukan dengan yang terjadi setelah 480

komponen nonstruktural yang pemasangan komponen


mungkin akan rusak oleh lendutan nonstruktural (jumlah dan
yang besar. lendutan jangka panjang,
Konstuksi atap atau lantai yang akibat semua beban tetap
menahan atau disatukan dengan yang bekerja, dan lendutan 240

komponen nonstruktural yang seketika, akibat


mungkin tidak akan rusak oleh penambahan beban hidup
lendutan yang besar.

 
 
17 
 

BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN

4.1 Umum

Metode penelititan adalah suatu rangkaian pelaksanaan penelitian dalam


rangka mencari jawaban atas suatu permasalahan. Penelitian dapat brjalan dengan
sistematis dan lancar serta mencapai tujuan yang diinginkan tidak terlepas dari
metode penlitian yang disesuaikan dengan prosedur, alat dan jenis penelitian.

4.2 Bahan dan Benda Uji

4.2.1 Bahan Uji


Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan benda uji penelitian ini
adalah sebagai berikut :
1. Semen merk Holcim
2. Agregat kasar diambil dari daerah Clereng, Kulon Progo
3. Agregat halus (pasir) diambil dari kali Boyong Gunung Merapi
4. Air dari Laboratorium Bahan Konstruksi Teknik Universitas Islam
Indonesia.
5. Baja tulangan polos dengan diameter 8 mm untuk sengkang dan 10 mm
untuk tulangan pokok.
6. Kawat bendrat
7. Kayu lapis untuk membuat cetakan balok

4.2.2 Benda Uji


Panjang balok 1.4 meter dengan 2 macam variasi yaitu :
1. Tiga buah sampel balok penampang persegi dengan ukuran 200 mm x
300 mm x 1400 mm.
2. Tiga buah sampel balok penampang I dengan ukuran 200 mm x 300
mm x 1400 mm.

 
 
18 
 

Pada setiap pembuatan satu benda uji balok dibuat juga 3 buah benda uji
silinder beton, sehingga diperoleh 18 benda uji untuk mengetahui kuat desak dan
berat satuan beton yang telah dibuat, sedangkan semua ukuran baja yang
digunakan diperiksa dan dilakukan uji tarik agar diketahui tegangan leleh dan
tegangan maksimumnya.

4.3 Peralatan Penelitian

Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 4.1

Tabel 4.1 Alat-Alat Yang Digunakan Dalam Penelitian

No. Jenis alat-alat yang Kegunaan


digunakan
1 Mesin uji desak Uji desak beton
2 Mistar Mengukur dimensi cetakan
3 Kaliper Mengukur diameter tulangan
4 Timbangan Menimbang bahan-bahan
5 Cetakan silinder Untuk membuat benda uji
6 Mesin aduk (molen) Mengaduk campuran beton
7 Gelas ukur Menakar jumlah air
8 Kerucut Abrams Mengetahui nilai slump
9 Saringan Untuk menyaring agregat kasar atau
halus
10 Ember Untuk menampung bahan-bahan
11 Cetok Memasukan adukan kedalam cetakan
12 Talam Menampung adukan beton dari molen
13 Tongkat penumbuk Untuk memadatkan benda uji
14 Mesin uji lentur Uji lentur beton

 
 
19 
 

4.4 Persiapan Bahan

1. Pengujian agregat halus


a. Pengujian kadar Lumpur
b. Pengujian berat jenis (specifi grafity)
c. Pengujian gradasi
2. Pegujian agregat kasar
a. Pengujian berat jenis (specifi grafity)
b. Pengujian gradasi
3. Perencanaan adukan beton
Penelitian ini menggunakan peraturan SNI (Standar Nasional Indonesiat)
sebagai perencanaan dasar adukan beton. Salah satu tujuan yang hendak
dipakai dengan perancangan campuran SNI adalah menghasilkan beton
yang mudah dikerjakan. Ukuran derajat kekentalan dan kemudahan
pengerjaan dapat dilihat pada nilai slump.

4.5 Pembuatan Sampel

a. Tahapan pembuatan campuran adukan beton


1. Menentukan kuat desak rencana
2. Menentukan faktor air semen
3. Menentukan nilai slump
4. Menetapkan kebutuhan air
5. Menentukan kebutuhan semen
6. Menetapkan volume agregat kasar permeter kubik beton.
7. Menghitung kebutuhan pasir

b. Langkah-langkah pembuatan benda uji silinder


1. Melakukan penimbangan bahan-bahan, seperti : semen, pasir, kerikil,
sesuai dengan kebutuhan rencana campuran adukan beton
2. Memasukan semen, pasir, kerikil, air sedikit demi sedikit kedalam
molen, kemudian molen dihidupkan

 
 
20 
 

3. Pada saat molen mulai berputar diusahakan selalu dalam keadaan


miring sekitar 450, agar adukan beton merata
4. Setelah adukan beton terlihat merata, dituang secukupnya dan
dilakukan pengujian nilai slump dengan menggunakan kerucut
Abrams.
5. Mempersiapkan cetaka-cetakan silinder dengan terlebih dahulu diolesi
dengan oli
6. Mengeluarkan adukan beton dari molen, dan ditampung pada talam
7. Masukan adukan kedalam cetakan dengan memakai cetok, kemudian
ditusuk-tusuk dan diketok-ketok sisi agar tidak keropos /gagal
8. Adukan yang telah dicetak diletakkan ditempat yang terlindung dari
sinar matahari dan hujan, didaimkan selama 24 jam
9. cetakan dapat dibuka dengan memberikan kode atau keterangan pada
setiap sempel uji.

c. Langkah-langkah pembuatan balok control dan balok uji


1. Pembuatan benda uji balok dengan 2 variasi, yang pertama merupakan
balok dengan penampang persegi ukuran 200 x 300 x 1400 sebanyak 3
buah dan yang kedua balok penampang I dengan ukuran 200 x 300 x
1400 sebanyak 3 buah.
2. Setelah alat dan bahan disiapkan serta rencana campuran beton telah
dibuat, dilakukan penimbangan bahan-bahan sesuai proporsi yang
telah ditentukan. Untuk agregat kasar yang digunakan terlebih dahulu
dicuci untuk menghilangkan kandungan lumpur yang menempel. Pada
saat penimbangan, kondisi pasir dan kerikil adalah jenuh kering muka
(SSD).
3. Bahan susun beton diaduk menjadi satu berturut-turut, agregat kasar,
agregat halus, semen, dan air sedikit demi sedikit sampai campuran
rata. Proporsi bahan-bahan ini disesuaikan dengan kapasitas molen
yang dipakai.

 
 
21 
 

4. Untuk mengetahui kelayakan adukan, dilakukan pengujian nilai slump


dengan kerucut abrams dengan diameter atas 100 mm, diameter bawah
200 mm, dan tinggi 300 mm, yang dilengkapi tongkat penumbuk dari
baja dengan diameter 16 mm. Pelaksanaan percobaan slump dilakukan
dengan cara kerucut ditekan kebawah pada penyokong-penyokong
kakinya sambil didisi adukan beton. Pengisisan adukan beton dibuat
tiga lpis adukan, dan tiap lapis ditumbuk ± 25 kali. Bagian atas kerucut
diratakan dan didiamkan ± 30 detik, kemudian kerucut abrams
diangkat perlahan-lahan secara tegak lurus dan diletakkan disamping
adukan tersebut, selisih tinggi tersebut dinamakan slump.
5. Sebelum dilakukan pengecoran, terlebih dahulu disiapkan tulangan
untuk balok. Untuk tulangan pokok pada daerah tarik dipakai tulangan
dengan diameter 10 mm dan untuk tulangan sengkang 8 mm.
6. Adukan beton dilakukan kedalam cetakakn balok yang telah
dibersihkan dan telah diolesi oli dan ditutup dengan selotip setiap sisi
sudut setiap bagian dalam cetakan balok agar adukan beton tidak
menetes/ merembes keluar. Sisi bekisting balok diketok-ketok dengan
menggunakan palu atau digetarkan dengan menggunakan vibrator,
sehingga terjadi pemadatan yang sempurna dan gelembung udara yang
tertangkap akan keluar.
7. Cetakan dibuka setelah terjadi pengerasan.

4.6 Perawatan Benda Uji

Perawatan benda uji meliputi berbagai cara, antara lain :


1. Beton dibasahi terus menerus dengan air
2. Beton direndam dalam air dengan suhu 230 – 280 C
3. Beton diselimuti dengan karung goni basah, plastik film atau kertas
perawatan tahan air.
Pada penelitian ini, untuk balok uji dilakukan dengan cara menutupi balok
uji dengan karung basah sampai sehari sebelum benda uji tersebut dilakukan

 
 
22 
 

pengujian. Perawatan terhadap beton akan memperbaiki bebrapa segi dari


kualitasnya. Kekuatan beton akan bertambah selama terdapat cukup air yang bias
menjamin berlangsungnya hidrasi semen secara baik.

4.7 Proses Pengujian

Pengujian kuat desak, kuat lentur dan kuat geser dilakukan pada umur 28
hari
a. Pengujian Kuat Tarik Tulangan
Pengujian kuat tarik tulangan baja dilakukan di Laboratorium Bahan
Konstruksi Taknik, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Ssipil dan
Perencanaan, Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta. Data yang diambil
pada pengujian tarik baja adalah beban maksimum, beban patah, batas
luluh awal. Tegangan tarik tulangan baja dapat diketahui dengan cara
membagi batas luluh awal dengan luas rata-rata dari diameter tulangan
baja.

b. Pengujian Kuat Desak Silinder


Pengujian kuat desat dilakukan dengan benda uji silinder dengan diameter
150 mm dan tinggi 300 mm.
Langkah-langkah pengujian sebagai berikut :
1. Mencatat dimensi benda uji yaitu diameter dan tingginya kemudian
menimbang benda uji.
2. Meletakan benda uji diatas mesin uji desak, lalu dihidupkan dan
dilakukan pembebanan secara berangsur-angsur.
3. Mecatat beban maksimum yang terjadi, dimana benda uji mulai telah
mengalami kehancuran.

Kuat desak beton dapat diketahui dengan cara membagi beban ultimit
yang dicapai dengan luas permukaan bagian yang didesak, secara matematis dapat
ditulis sebagai berikut :

 
 
23 
 

P
f 'c = ...................................................................................... (4.1)
A
Dengan :
f’c = kuat desat beton (MPa)
P = beban ultimit (N)
A = luas tampang benda uji (m2)

c. Pengujian Kuat Lentur


Pelaksanaan pengujian kuat lentur balok dilakukan dengan cara sebagai
berikut :
1. Benda uji diletakan pada mesin pemberi gaya tranversal dengan
kekuatan maksimum 30 ton dengan perlakuan sendi dan rol.
2. Pengujian siap dilakukan. Gaya/beban diberikan secara perlahan-lahan
beban konstan dan beban dinaikkan secara berangsur-angsur hingga
pada batas tertentu sampai pada tegangan maksimum, sehingga benda
uji akan mengalami retak, lendutan maksimum dan patah.
3. Retak yang terjadi ditandai pada benda uji saat pengujian, sehingga
retakan yang terjadi dapat terekam dengan baik menurut jenjang-
jenjang prosesi pemberian beban dilakukan. Lendutan dan beban-
beban dicatat agar bisa diperoleh hubungan dengan retakan yang
terjadi.
Variabel-variabel yang diukur dalam proses pengujian :
1. Beban (P). pemberian beban-beban pada pengujian pada awal hingga
beban patah
2. Lendutan (deflection), δ. Lendutan didapat dengan pencatatan
pembacaan tiga buah dial pada masing-masing jenjang pemberian
beban dari setiap titik-titik tinjau yang sudah ditentukan.
3. Momen didapat dari perhitungan

 
 
24 
 

A B
L
RA RB

Mmax

Dimana :
M = Momen (kNm)
P = Beban (N)
L = Panjang bentang (m)

 
 
25 
 

BAB V
ANALISIS DAN PEMBAHASAN

5.1 Pendahuluan

Dari data-data yang didapat, hasil yang telah dianalisis disajikan dalam
bentuk tabel dan grafik. Data-data hasil penelitian mencangkup data pegujian
agregat, pengujian baja tulangan, pengujian karakteristik beton yang terdiri dari
pengujian kuat desak silinder beton dan pengujian kuat lentur beton bertulang.
Pegujian yang utama dalam penelitian ini adalah pengujian kuat lentur beton
bertulang yang terdiri dari 2 jenis tampang balok, yakni balok berpenampang
persegi dan balok berpenampang I. Masing-masing balok berjumlah 3 buah
dengan total keseluruhan balok berjumlah 6 buah. Dari data yang diperoleh
tersebut yang kemudian akan dianalisis guna mendapatkan grafik beban-lendutan
(P-∆).

5.2 Kuat Desak Beton

Beton mempunyai nilai kuat tarik yang lebih rendah dibandingkan kuat
desaknya. Kuat desak beton dipengaruhi oleh komposisi dan kekuatan masing-
masing bahan susun dan lekatan pasta semen pada agregat. Nilai kuat desak beton
didapatkan melalui tata-cara pengujian standar, menggunakan mesin uji dengan
cara memberikan beban tekan bertingkat dengan kecepatan peningkatan beban
tertentu atas benda uji silinder beton (diameter 150 mm, tinggi 300 mm) sampai
benda uji tersebut hancur. Hasil rangkuman dari pengujian kuat desak beton dapat
dilihat pada Tabel 5.1 dan hasil selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran C.

 
 
26 
 

Tabel 5.1 Hasil pengujian kuat tekan beton

Tinggi Diameter Kuat Tekan


No Kode silinder Beton
(mm) (mm) (Mpa)
1 BTP-I 1 300 151.75 28.57
2 BTP-I 2 300 151 37.57
3 BTP-I 3 300 148.5 33.87
4 Rata-rata 300 33,34
5 BTP-II 1 300 149.3 27,54
6 BTP-II 2 300 152 36,53
7 BTP-II 3 300 151.25 31,82
8 Rata-rata 300 31,96
9 BTP-III 1 300 150.5 27,22
7 BTP-III 2 300 149.5 30,24
8 BTP-III 3 300 150 20,67
9 Rata-rata 300 26,05
10 BTI-I 1 300 151 20,35
11 BTI-I 2 300 150 14,79
12 BTI-I 3 300 152 26,03
13 Rata-rata 300 20,39
14 BTI-II 1 300 152 23,40
15 BTI-II 2 300 150.6 18,39
16 BTI-II 3 300 150.2 30,66
17 Rata-rata 300 24,15
18 BTI-III 1 300 151 20,08
19 BTI-III 2 300 152.75 18,73
20 BTI-III 3 300 151.1 29,72
21 Rata-rata 300 22,84
Ket : BTP = Beton Tampang Persegi
BTI = Beton Tampang I

 
 
27 
 

5.3 Balok Beton Bertulang

Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui kuat lentur yang dimiliki oleh tiap
model balok. Pengujian ini membahas antara lain : hubungan beban dan lendutan
(P-∆)

5.3.1 Hubungan beban dan lendutan


Pelaksanaan uji lentur dilakukan di Laboratorium Bahan Konstruksi Teknik,
Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Islam Indonesia Yogyakarta.
Pada setiap balok diberi 1 titik pembebanan tepat ditengah bentang dan interval
pembebanan 500 kg pada setiap tahap pembebanan. Untuk mencatat lendutan
yang terjadi pada balok dipasang dial pada bagian bawah balok. Lendutan yang
terjadi dicatat, dan hasil selengkapnya disajikan dalam Lampiran E.

5.4 Pembahasan

5.4.1 Kapasitas Momen


Untuk mengetahui perbandingan balok berpenampang persegi dengan
balok I yang merupakan pengurangan luasan balok persegi pada bagian sayap
dengan sarat bahwa pada balok I daerah beton tekan masih berada dalam daerah
sayapnya, dapat dibandingkan dengan kapasitas momen yang terjadi.

1. Perbandingan BTP-I dengan BTI-I


Kapasitas lentur hasil pengujian antara balok berpenampang persegi (BTP-
I=31,05 kNm) dengan balok berpenampang I (BTI-I=34,17 kNm) didapat
nilai pengurangan kuat lentur BTP-I terhadap BTI-I sebesar 9,13% namun
dari kedua tampang balok tersebut nilai kuat lentur hasil pengujian masih
lebih besar dari kuat lentur teori.

2. Perbandingan BTP-I dengan BTI-II


Kapasitas lentur hasil pengujian antara balok berpenampang persegi (BTP-
I=31,05 kNm) dengan balok berpenampang I (BTI-II=29,05 kNm) didapat
 
 
28 
 

nilai pengurangan kuat lentur BTI-II terhadap BTP-I sebesar 6,44%


namun dari kedua tampang balok tersebut nilai kuat lentur hasil pengujian
masih lebih besar dari kuat lentur teori.

3. Perbandingan BTP-I dengan BTI-III


Kapasitas lentur hasil pengujian antara balok berpenampang persegi (BTP-
I=31,05 kNm) dengan balok berpenampang I (BTI-III=27,79 kNm)
didapat nilai pengurangan kuat lentur BTI-III terhadap BTP-I sebesar
10,5% namun dari kedua tampang balok tersebut nilai kuat lentur hasil
pengujian masih lebih besar dari kuat lentur teori.

4. Perbandingan BTP-II dengan BTI-I


Kapasitas lentur hasil pengujian antara balok berpenampang persegi (BTP-
II=27,42 kNm) dengan balok berpenampang I (BTI-I=34,17 kNm) didapat
nilai pengurangan kuat lentur BTP-II terhadap BTI-I sebesar 19,75%
namun dari kedua tampang balok tersebut nilai kuat lentur hasil pengujian
masih lebih besar dari kuat lentur teori.

5. Perbandingan BTP-II dengan BTI-II


Kapasitas lentur hasil pengujian antara balok berpenampang persegi (BTP-
II=27,42 kNm) dengan balok berpenampang I (BTI-II=29,05 kNm)
didapat nilai pengurangan kuat lentur BTP-I terhadap BTI-I sebesar 5,6%
namun dari kedua tampang balok tersebut nilai kuat lentur hasil pengujian
masih lebih besar dari kuat lentur teori.

6. Perbandingan BTP-II dengan BTI-III


Kapasitas lentur hasil pengujian antara balok berpenampang persegi (BTP-
II=27,42 kNm) dengan balok berpenampang I (BTI-III=27,79 kNm)
didapat nilai pengurangan kuat lentur BTP-I terhadap BTI-I sebesar 1,33%
namun dari kedua tampang balok tersebut nilai kuat lentur hasil pengujian
masih lebih besar dari kuat lentur teori.

 
 
29 
 

7. Perbandingan BTP-III dengan BTI-I


Kapasitas lentur hasil pengujian antara balok berpenampang persegi (BTP-
III=33,30 kNm) dengan balok berpenampang I (BTI-I=34,17 kNm)
didapat nilai pengurangan kuat lentur BTP-I terhadap BTI-I sebesar 2,55%
namun dari kedua tampang balok tersebut nilai kuat lentur hasil pengujian
masih lebih besar dari kuat lentur teori.

8. Perbandingan BTP-III dengan BTI-II


Kapasitas lentur hasil pengujian antara balok berpenampang persegi (BTP-
III=33,30 kNm) dengan balok berpenampang I (BTI-II=29,05 kNm)
didapat nilai pengurangan kuat lentur BTP-I terhadap BTI-I sebesar
12,76% namun dari kedua tampang balok tersebut nilai kuat lentur hasil
pengujian masih lebih besar dari kuat lentur teori.

9. Perbandingan BTP-III dengan BTI-III


Kapasitas lentur hasil pengujian antara balok berpenampang persegi (BTP-
III=33,30 kNm) dengan balok berpenampang I (BTI-III=27,79 kNm)
didapat nilai pengurangan kuat lentur BTP-I terhadap BTI-I sebesar
16,55% namun dari kedua tampang balok tersebut nilai kuat lentur hasil
pengujian masih lebih besar dari kuat lentur teori.

Nilai Kapasitas momen pada pengujian dinyatakan aman, hal ini dapat
dilihat dalam tabel 5.2 . Dalam tabel 5.2 tersebut dapat dilihat pada kolom
perbandingan momen bahwasannya kapasitas momen yang terjadi pada saat
pengujian di bandingkan dengan kapasitas momen secara teoritis mempunyai nilai
yang lebih besar dibanding nilai teoritisnya.

 
 
30 
 

Tabel 5. 2 Kuat lentur balok beton bertulang

Teoritis Uji
Momen
f'c Beban pada Perbandingan
N0 Jenis Mn Mu
Beban Momen
Maksimal maksimal
MPa kNm kNm kN kNm
1 BTP-I 33.34 28.20 22.56 123.5 31.05 1.38
2 BTI-I 20.39 27.34 21.87 136 34.17 1.56
3 BTP-II 31.96 28.16 22.53 109 27.42 1.22
4 BTI-II 24.15 27.80 22.24 115.5 29.05 1.31
5 BTP-III 26.05 27.90 22.32 132.5 33.30 1.49
6 BTI-III 22.84 27.63 22.10 110.5 27.79 1.26

5.4.2 Hubungan beban dengan lendutan

Perbandingan antara nilai lendutan secara teoritis dengan pengujian


dinyatakan aman sampai batas luluh, setelah luluh dalam pengujian ini nilai
lendutan melewati batas aman. Pada dasarnya nilai menjadi tidak aman pada saat
setelah luluh dikarenakan nilai modulus elastis yang semakin kecil mendekati 0,
sehingga mengakibatkan nilai lendutan menjadi sangat besar. Pada pengujian di
dapatkan nilai yang bervariatif dikarenakan nilai kuat tekan bervariatif, namun
selama nilai yang dihasilkan pada pengujian masih lebih besar dibandingkan
dengan nilai teoritis, masih dianggap aman. Dari hasil pengujian, didapat nilai
antara balok berpenampang persegi dengan balok berpenampang I tidak jauh
berbeda bahkan mestinya sama selama pengurangan luasan balok tidak
mempengaruhi tinggi blok tekan atau blok tekan sama antara balok berpenampang
persegi dengan balok berpenampang I.

 
 
31 
 

1. Hubungan Beban –Lendutan balok Tampang Persegi – I (BTP-I)


dengan balok tampang I – I (BTI-I)

Grafik Beban ‐ Lendutan


160
140
120
100
Beban (kN)

BTP‐I
80
BTI‐I
60
40
20
0
0 10 20 30 40
Lendutan (mm)

Gambar 5.1 Hubungan beban-lendutan BTP-I dengan BTI-I

Gambar 5.1 diatas dapat dibahas mengenai bagaimana hubungan beban-


lendutan pada balok persegi dan balok berpenampang I. Balok berpempang
persegi-I (BTP-I) memiliki nilai f’c sebesar 33,34 MPa, sedangkan balok
penampang I-I (BTI-I) memiliki nilai f’c sebesar 20,39 MPa. Balok penampang
persegi mengalami lendutan yang relatif lebih besar (pada saat mencapai luluh)
dari pada lendutan pada balok berpenampang I (pada saat mencapai luluh).
Gambar 5.1 diatas dapat diamati bahwa balok berpenampang persegi mampu
menahan beban maksimal dengan pembebanan pada 123,5 kN dimana
mempunyai nilai lendutan sebesar 17 mm,. Nilai beban pada saat balok
berpenampang persegi mengalami retak pertama adalah 60 kN. Sedangkan untuk
balok berpenampang I nilai lendutan sebesar 32,4 mm dengan pembebanan
maximal sebesar 136 kN. Nilai beban pada saat retak pertama adalah 65 kN.

 
 
32 
 

2. Hubungan Beban –Lendutan balok Tampang Persegi – I (BTP-I)


dengan balok penampang I-II (BTI-II)

Grafik Beban ‐ Lendutan


140

120

100
Beban (kN)

80 BTP‐I
BTI‐II
60

40

20

0
0 5 10 15 20 25
Lendutan (mm)

Gambar 5.2 Hubungan beban-lendutan BTP-I dengan BTI-II

Gambar 5.2 diatas dapat dibahas mengenai bagaimana hubungan beban-


lendutan pada balok persegi dan balok berpenampang I. Balok berpempang
persegi-I (BTP-I) memiliki nilai f’c sebesar 33,34 MPa, sedangkan balok
penampang I-II (BTI-II) memiliki nilai f’c sebesar 24,15 MPa. Balok penampang
I mengalami lendutan yang relatif lebih besar (pada saat mencapai luluh) dari
pada lendutan pada balok berpenampang persegi (pada saat mencapai luluh).
Gambar 5.2 diatas dapat diamati bahwa balok berpenampang persegi mampu
menahan beban maksimal dengan pembebanan pada 123,5 kN dimana
mempunyai nilai lendutan sebesar 17 mm,. Nilai beban pada saat balok
berpenampang persegi mengalami retak pertama adalah 60 kN. Sedangkan untuk
balok berpenampang I nilai lendutan sebesar 20,28 mm dengan pembebanan
maximal sebesar 115,5 kN. Nilai beban pada saat retak pertama adalah 60 kN.

 
 
33 
 

3. Hubungan Beban –Lendutan balok Tampang Persegi–I (BTP-I)


dengan balok penampang I-III (BTI-III)

Grafik Beban ‐ Lendutan


140

120

100
Beban (kN)

80 BTP‐I
BTI‐III
60

40

20

0
0 5 10 15 20
Lendutan (mm)

Gambar 5.3 Hubungan beban-lendutan BTP-I dengan BTI-III

Gambar 5.3 diatas dapat dibahas mengenai bagaimana hubungan beban-


lendutan pada balok persegi dan balok berpenampang I. Balok berpempang
persegi-I (BTP-I) memiliki nilai f’c sebesar 33,34 MPa, sedangkan balok
penampang I-III (BTI-III) memiliki nilai f’c sebesar 22,84 MPa. Balok
penampang I mengalami lendutan yang relatif lebih besar (pada saat mencapai
luluh) dari pada lendutan pada balok berpenampang persegi (pada saat mencapai
luluh). Gambar 5.3 diatas dapat diamati bahwa balok berpenampang persegi
mampu menahan beban maksimal dengan pembebanan pada 123,5 kN dimana
mempunyai nilai lendutan sebesar 17 mm,. Nilai beban pada saat balok
berpenampang persegi mengalami retak pertama adalah 60 kN. Sedangkan untuk
balok berpenampang I nilai lendutan sebesar 13,25 mm dengan pembebanan
maximal sebesar 110,5 kN. Nilai beban pada saat retak pertama adalah 60 kN.

 
 
34 
 

4. Hubungan Beban –Lendutan balok Tampang persegi-II (BTP-


II)dengan balok penampang I-I (BTI-I)

Grafik Beban ‐ Lendutan


160
140
120
100
Beban (kN)

BTP‐II
80
BTI‐I
60
40
20
0
0 10 20 30 40
Lendutan (mm)

Gambar 5.4 Hubungan beban-lendutan BTP-II dengan BTI-I

Gambar 5.4 diatas dapat dibahas mengenai bagaimana hubungan beban-


lendutan pada balok persegi dan balok berpenampang I. Balok berpempang
persegi-II (BTP-II) memiliki nilai f’c sebesar 31,96 MPa, sedangkan balok
penampang I-I (BTI-I) memiliki nilai f’c sebesar 20,39 MPa. Balok penampang
persegi mengalami lendutan yang relatif lebih besar (pada saat mencapai luluh)
dari pada lendutan pada balok berpenampang I (Pada saat mencapai luluh).
Gambar 5.4 diatas dapat diamati bahwa balok berpenampang persegi mampu
menahan beban maksimal dengan pembebanan pada 109 kN dimana mempunyai
nilai lendutan sebesar 9,75 mm,. Nilai beban pada saat balok berpenampang
persegi mengalami retak pertama adalah 55 kN. Sedangkan untuk balok
berpenampang I nilai lendutan sebesar 32,4 mm dengan pembebanan maximal
sebesar 136 kN. Nilai beban pada saat retak pertama adalah 65 kN.

 
 
35 
 

5. Hubungan Beban –Lendutan balok Tampang persegi-II (BTP-II)


dengan balok penampang I-II (BTI-II)

Grafik Beban ‐ Lendutan


140

120

100
Beban (kN)

80 BTP‐II
BTI‐II
60

40

20

0
0 5 10 15 20 25
Lendutan (mm)

Gambar 5.5 Hubungan beban-lendutan BTP-II dengan BTI-II

Gambar 5.5 diatas dapat dibahas mengenai bagaimana hubungan beban-


lendutan pada balok persegi dan balok berpenampang I. Balok berpempang
persegi-II (BTP-II) memiliki nilai f’c sebesar 31,96 MPa, sedangkan balok
penampang I-II (BTI-II) memiliki nilai f’c sebesar 24,15 MPa. Balok penampang
I mengalami lendutan yang relatif lebih besar (pada saat mencapai luluh) dari
pada lendutan pada balok berpenampang persegi (pada saat mencapai luluh).
Gambar 5.5 diatas dapat diamati bahwa balok berpenampang persegi mampu
menahan beban maksimal dengan pembebanan pada 109 kN dimana mempunyai
nilai lendutan sebesar 9,75 mm,. Nilai beban pada saat balok berpenampang
persegi mengalami retak pertama adalah 55 kN. Sedangkan untuk balok
berpenampang I nilai lendutan sebesar 20,28 mm dengan pembebanan maximal
sebesar 115,5 kN. Nilai beban pada saat retak pertama adalah 60 kN.

 
 
36 
 

6. Hubungan Beban –Lendutan balok Tampang Persegi-II (BTP-II)


dengan balok tampang I-III (BTI-III)

Grafik Beban ‐ Lendutan


120

100

80
Beban (kN)

BTP‐II
60
BTI‐III
40

20

0
0 5 10 15
Lendutan (mm)

Gambar 5.6 Hubungan beban-lendutan BTP-II dengan BTI-III

Gambar 5.6 diatas dapat dibahas mengenai bagaimana hubungan beban-


lendutan pada balok persegi dan balok berpenampang I. Balok berpempang
persegi-II (BTP-II) memiliki nilai f’c sebesar 31,96 MPa, sedangkan balok
penampang I-III (BTI-III) memiliki nilai f’c sebesar 22,84 MPa. Balok
penampang I mengalami lendutan yang relatif lebih besar (pada saat mencapai
luluh) dari pada lendutan pada balok berpenampang persegi (pada saat mencapai
luluh). Gambar 5.6 diatas dapat diamati bahwa balok berpenampang persegi
mampu menahan beban maksimal dengan pembebanan pada 109 kN dimana
mempunyai nilai lendutan sebesar 9,75 mm,. Nilai beban pada saat balok
berpenampang persegi mengalami retak pertama adalah 55 kN. Sedangkan untuk
balok berpenampang I nilai lendutan sebesar 13,25 mm dengan pembebanan
maximal sebesar 110,5 kN. Nilai beban pada saat retak pertama adalah 60 kN.

 
 
37 
 

7. Hubungan Beban –Lendutan balok Tampang persegi-III (BTP-III)


dengan balok penampang I-I (BTI-I)

Grafik Beban ‐ Lendutan


160
140
120
100
Beban (kN)

BTP‐III
80
BTI‐I
60
40
20
0
0 10 20 30 40
Lendutan (mm)

Gambar 5.7 Hubungan beban-lendutan BTP-III dengan BTI-I

Gambar 5.7 diatas dapat dibahas mengenai bagaimana hubungan beban-


lendutan pada balok persegi dan balok berpenampang I. Balok berpempang
persegi-III (BTP-III) memiliki nilai f’c sebesar 26,05 MPa, sedangkan balok
penampang I-I (BTI-I) memiliki nilai f’c sebesar 20,39 MPa. Balok penampang I
mengalami lendutan yang relatif lebih besar (pada saat mencapai luluh) dari pada
lendutan pada balok berpenampang persegi (pada saat mencapai luluh). Gambar
5.7 diatas dapat diamati bahwa balok berpenampang persegi mampu menahan
beban maksimal dengan pembebanan pada 132,5 kN dimana mempunyai nilai
lendutan sebesar 19,10 mm,. Nilai beban pada saat balok berpenampang persegi
mengalami retak pertama adalah 110 kN. Sedangkan untuk balok berpenampang I
nilai lendutan sebesar 32,4 mm dengan pembebanan maximal sebesar 136 kN.
Nilai beban pada saat retak pertama adalah 65 kN.

 
 
38 
 

8. Hubungan Beban –Lendutan balok Tampang persegi-III (BTP-III)


dengan balok penampang I-II(BTI-II)

Grafik Beban ‐ Lendutan


140

120

100
Beban (kN)

80 BTP‐III
BTI‐II
60

40

20

0
0 5 10 15 20 25
Lendutan (mm)

Gambar 5.8 Hubungan beban-lendutan BTP-III dengan BTI-II

Gambar 5.8 diatas dapat dibahas mengenai bagaimana hubungan beban-


lendutan pada balok persegi dan balok berpenampang I. Balok berpempang
persegi-III (BTP-III) memiliki nilai f’c sebesar 26,05 MPa, sedangkan balok
penampang I-II (BTI-II) memiliki nilai f’c sebesar 24,15 MPa. Balok penampang
I mengalami lendutan yang relatif lebih besar (pada saat mencapai luluh) dari
pada lendutan pada balok berpenampang persegi (pada saat mencapai luluh).
Gambar 5.8 diatas dapat diamati bahwa balok berpenampang persegi mampu
menahan beban maksimal dengan pembebanan pada 132,5 kN dimana
mempunyai nilai lendutan sebesar 19,10 mm,. Nilai beban pada saat balok
berpenampang persegi mengalami retak pertama adalah 110 kN. Sedangkan untuk
balok berpenampang I nilai lendutan sebesar 20,28 mm dengan pembebanan
maximal sebesar 115,5 kN. Nilai beban pada saat retak pertama adalah 60 kN.

 
 
39 
 

9. Hubungan Beban –Lendutan balok Tampang persegi-III (BTP-III)


dengan balok penampang I-III(BTI-III)

Grafik Beban ‐ Lendutan


140

120

100
Beban (kN)

80 BTP‐III
BTI‐III
60

40

20

0
0 5 10 15 20 25
Lendutan (mm)

Gambar 5.9 Hubungan beban-lendutan BTP-III dengan BTI-III

Gambar 5.9 diatas dapat dibahas mengenai bagaimana hubungan beban-


lendutan pada balok persegi dan balok berpenampang I. Balok berpempang
persegi-III (BTP-III) memiliki nilai f’c sebesar 26,05 MPa, sedangkan balok
penampang I-III (BTI-III) memiliki nilai f’c sebesar 22,84 MPa. Balok
penampang I mengalami lendutan yang relatif lebih besar (pada saat mencapai
luluh) dari pada lendutan pada balok berpenampang persegi (pada saat mencapai
luluh). Gambar 5.8 diatas dapat diamati bahwa balok berpenampang persegi
mampu menahan beban maksimal dengan pembebanan pada 132,5 kN dimana
mempunyai nilai lendutan sebesar 19,10 mm,. Nilai beban pada saat balok
berpenampang persegi mengalami retak pertama adalah 110 kN. Sedangkan untuk
balok berpenampang I nilai lendutan sebesar 13,25 mm dengan pembebanan
maximal sebesar 110,5 kN. Nilai beban pada saat retak pertama adalah 60 kN.

 
 
40 
 

5.4.3 Kontrol terhadap Lendutan

Komponen struktur beton bertulang yang mengalami lentur harus


direncanakan agar mempunyai kekakuan yang cukup untuk membatasi
lendutan apapun yang dapat memperlemah kekuatan ataupun mengurangi
kemampuan layan struktur pada beban kerja. Hasil perhitungan yang
lengkapnya disajikan dalam lampiran E didapat:

Tabel 5.3 kontrol terhadap lendutan


Syarat Batas Lendutan
Jenis Balok ∆maks (mm) Ket
Ln/180 (mm) Ln/360 (mm)
BTP-I 5,56 2.78 0,2067 Aman
BTP-II 5,56 2.78 0,1862 Aman
BTP-III 5,56 2.78 0,2045 Aman
BTI-I 5,56 2.78 0,2797 Aman
BTI-II 5,56 2.78 0,2213 Aman
BTI-III 5,56 2.78 0,2184 Aman

Dengan demikian semua jenis balok dapat memikul elemen


nonstruktural yang dapat rusak oleh defleksi besar.

 
 
41 
 

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat dibuat dari penelitian balok beton bertulang yang
berongga terhadap kuat lentur adalah sebagai berikut :
1. Kapasitas lentur hasil pengujian pada balok berpenampang persegi lebih
besar daripada balok berpenampang I dengan nilai rasio yang bervariasi.
Hal ini disebabkan karena perbedaan nilai kuat tekan masing-masing
benda uji. Namun kapasitas lentur hasil pengujian lebih besar
dibandingkan nilai kapasitas lentur teori.
2. Hasil pengujian kapasitas lentur didapat nilai rata-rata pada balok tampang
persegi sebesar 30,09 kNm dan pada balok tampang I sebesar 30,34 kNm
yang artinya terjadi pengurangan kekuatan kapasitas lentur sebesar 0,83%.
3. Hasil percobaan di laboratorium menunjukan bahwa pengurangan luasan
tampang selama masih di bawah beton tekan tidak mempengaruhi
kapasitas lentur tampang.
4. Lendutan balok tampang I lebih besar dibandingkan lendutan balok
tampang persegi. Hal ini disebabkan karena inersia efektif balok
penampang persegi lebih besar dari balok penampang I.
5. Hasil seperti dalam point 3 diatas menunjukan bahwa penggunaan balok I
pada bagian lentur diharapkan dapat menjadi pertimbangan praktisi
kedepan, mengingat pengurangan luasan berarti dapat mengurangi berat
sendiri struktur.

6.2 Saran
Untuk memperoleh hasil yang lebih baik dalam melakukan penelitian
balok, dikemukakan saran sebagai berikut :
1. Dalam pembuatan sampel hendaknya menggunakan beton yang berasal
dari satu adukan agar mutu beton antara masing-masing balok sama.

 
 
42 
 

2. Apabila tidak dapat dibuat dalam satu campuran, maka bahan-bahan harus
disimpan dengan baik (terhadap kandungan air) supaya perencanaan tidak
berubah dan pelaksanaan campuran pertama dan selanjutnya dengan cara
yang sama.
3. Percobaan ini dilakukan masih dalam skala laboratorium, untuk
mendapatkan hasil yang lebih mendekati kenyataan perlu diadakan
percobaan dengan ukuran yang mendekati kenyataan.
Percobaan yang dilakukan adalah berdasarkan kajian secara teoritis, yakni
balok dengan tulangan sebelah yang dalam kenyataannya tulangan dengan
rangkap, maka untuk mendapatkan hasil yang lebih baik lagi maka perlu
dilakukan percobaan selanjutnya dengan menggunakan tulangan rangkap.

 
 
43 
 

DAFTAR PUSTAKA

Ferguson, Phil M, 1986, DASAR-DASAR BETON BERTULANG, Terjemahan


Budianto Sutanto dan Kris Setianto, Edisi Keempat, Erlangga, Jakarta.
Mirwan Ahmad. H. 2007. TUGAS AKHIR PERBANDINGAN KUAT
LENTUR BALOK BERPENAMPANG PERSEGI DENGAN BALOK
BERPENAMPANG I Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan
Perencanaan, Universitas Islam Indonesia.
Istimawan Dipohusodo, 1994, STRUKTUR BETON BERTULANG, PT.
Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Kardiyono Tjokrodimoeljo, 1992, BAHAN BANGUNAN, Jurusan Teknik Sipil,
Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Murdock, L.J., and Brook, K.M., 1986, BAHAN DAN PRAKTEK BETON,
Terjemahan Ir. Stephanus Hendarko, Edisi keempat,Erlangga, Jakarta.
Nawy, Edward G., 1990, BETON BERTULANG SUATU PENDEKATAN
DASAR, Terjemahan Bambang Suryoatmono, PT. Eresco, Bandung.
Park, R. Dan Paulay, 1975, REINFORCED CONCRETE STRUCTURES,
John Wiley & Sonc, Inc, New York.
R. Segel, P. Kole, Gideon Kusuma., 1993, PEDOMAN PENGERJAAN
BETON BERDASARKAN SKSNI T-15-1991-03, Seri kedua.
Timoschenko, S.P. dan Gere, 1987, MEKANIKA BAHAN, Terjemahan Hans,
J.Waspakrik, Jilid 1, Edisi kedua, Erlangga, Jakarta.
Tri Mulyono,Ir, MT , 2004, TEKHNOLOGI BETON, Andi Offset, Yogyakarta.
Vis, W.C. dan Gideon Kusuma. 1993, DASAR-DASAR PERENCANAAN
BETON BERTULANG, Seri 1, Erlangga, Jakarta.
Wang, C.K. dan Salmon, C.G., 1993, DESAIN BETON BERTULANG, Jilid 1,
Edisi Keempat, Erlangga, Jakarta.
______________________, 2007, BUKU PANDUAN PRAKTIKUM
TEKNOLOGI BAHAN KONSTRUKSI, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas
Teknik Sipil dan Perencanaan, Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta.