Anda di halaman 1dari 17

PRODUKSI TANAMAN HORTIKULTURA

(Laporan Akhir Produksi Tanaman Hortikultura)

Oleh

Kelompok 2

Cici Chintia Sari 1514121013


Aulia Indah Pratiwi 1514121014
Ayu Satia Haini 1514121017
Sinta Alvianti 1514121018
Vickram Kautsar N. 15141210

JURUSAN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2017
I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia merupakan negara yang memiliki jumlah penduduk paling besar ke


empat didunia. Jumlah penduduk yang tinggi juga menuntut akan kebutuhan
pangan yang tinggi pula. Kebutuhan pangan tersebut antara lain tanaman
hortikultura yang mencakup tanaman buah, tanaman sayur, tanaman biofarmaka,
dan tanaman hias sebagai estetika. Tanaman hortikultura khususnya buah dan
sayur memiliki kandungan vitamin dan mineral yang sangat bermanfaat bagi
kesehatan tubuh. Oleh karena itu, tanaman buah dan sayur memiliki nilai
permintaan yang cukup tinggi.

Permintaan tanaman buah dan sayur yang cukup tinggi tentu harus diimbangi
dengan produksi kedua tanaman tersebut. Dalam proses produksi berupa budidaya
tanaman buah dan sayur, tentu perlu diperhatikan klasifikasi, morfologi tanaman,
syarat tumbuh tanaman, teknik budidaya. Maka perlu dilakukan praktikum
produksi tanaman hortikultura sebagai pembelajaran dalam budidaya atau
produksi tanaman hortikultura. Praktikum ini dimulai dari proses pengolahan
lahan, pemupukan, penanaman, panen, dan pascapanen. Dengan praktikum secara
langsung, maka kita mampu melihat dan melakukan secara langsung bagaimana
tindakan-tindakan yang perlu dilakukan hingga menghasilkan produksi yang
tinggi.

Praktikum produksi tanaman hortikultura bertujuan untuk mengetahui


pertumbuhan tanaman hortikultura, mengetahui masalah yang dihadapi pada lahan
pertanaman, mengetahui waktu panen setiap tanaman hortikultura (kacang
panjang, timun, bayam, pakcoy, dan sawo).
1.2 Tujuan Praktikum

Tujuan praktikum ini sebagai berikut :


1. Mengetahui proses pertumbuhan tanaman kacang panjang, timun, pakcoy,
bayam, dan sawo
2. Mengetahui permasalahan yang dihadapi dalam budidaya tanaman kacang
panjang, timun, pakcoy, bayam, dan sawo
3. Mengetahui hasil panen tanaman kacang panjang, timun, pakcoy, bayam, dan
sawo
II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kacang Panjang (Vigna cylindrica)

2.1.1 Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Kacang Panjang

Kerajaan : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Kelas : Angiospermae
Sub kelas : Dicotyledonae
Ordo : Rosales
Famili : Papilionaceae
Genus : Vigna
Spesies : Vigna cylindrica (Haryanto, 2007).

Tanaman kacang panjang merupakan tanaman semak, menjalar, semusim dengan


tinggi kurang lebih 2,5 m. Batang tanaman ini tegak, silindris, lunak, berwarna
hijau dengan permukaan licin. Daunnya majemuk, lonjong, berseling, panjang 6-8
cm, lebar 3-4,5 cm, tepi rata, pangkal membulat, ujung lancip, pertulangan
menyirip, tangkai silindris, panjang kurang lebih 4 cm, dan berwarna hijau. Bunga
tanaman ini terdapat pada ketiak daun, majemuk, tangkai silindris, panjang kurang
lebih 12 cm, berwarna hijau keputih-putihan, mahkota berbentuk kupu-kupu,
berwarna putih keunguan, benang sari bertangkai, panjang kurang lebih 2 cm,
berwarna putih, kepala sari kuning, putik bertangkai, berwarna kuning, panjang
kurang lebih 1 cm, dan berwarna ungu. Buah tanaman ini berbentuk polong,
berwarna hijau, dan panjang 15-25 cm. Bijinya lonjong, pipih, berwarna coklat
muda. Akarnya tunggang berwarna coklat muda (Asripah,2004).
2.1.2 Teknik Budidaya Tanaman Kacang Panjang

1) Persiapan Lahan
Lahan dibersihkan dari rumput-rumput liar, dicangkul/dibajak sedalam 30 cm
hingga tanah menjadi gembur.

2) Persiapan Benih
Benih kacang panjang yang baik dan bermutu adalah yang memiliki penampilan
bernas/berisi, memiliki ukuran yang seragam dan normal, daya kecambah tinggi
di atas 85%, tidak rusak/cacat, tidak mengandung wabah hama dan penyakit.

3) Penanaman
Pembuatan jarak lubang tanam untuk tipe merambat adalah 20 x 50 cm, 40 x 60
cm, 30 x 40 cm. Dan jarak tanam tipe tegak adalah 20 x 40 cm dan 30 x 60 cm.
Benih yang dimasukkan dalam lubang tanam cukup 2 biji saja.

3) Pemupukan
Pupuk dasar untuk tanaman kacang panjang dapat diberikan sesuai dengan dosis
berikut: Kacang panjang tipe merambat: Urea 150 kg + TSP 100 kg + 100 kg/ha.
Kacang panjang tipe tegak: Urea 22,5 kg + TSP 45 kg + KCl 45 kg/ha. Kacang
hibrida: 85 kg Urea + 310-420 kg TSP + 210 kg KCl/ha.

4) Panen Dan Pascapanen


Ciri-ciri kacang panjang yang siap dipanen adalah ukuran dan panjang polong
telah maksimal, mudah dipatahkan dan biji-bijinya di dalam polong tidak
menonjol. Waktu panen yang paling baik pada pagi/sore hari. Umur tanaman siap
panen 3,5-4 bulan (Fachruddin, 2000).

2.2 Timun (Cucumis sativus)

2.2.1 Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Timun

Kingdom : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Sub division : Angiospermae
Class : Dicotyledonae
Ordo : Cucurbitales
Family : Cucurbitaceae
Genus : Cucumis
Spesies : Cucumis sativus L.

Mentimun memiliki sistem perakaran tunggang dan bulu-bulu akar.. Tanaman


mentimun memiliki batang yang berwarna hijau, berbulu dengan panjang yang
bisa mencapai 1,5 m. Mentimun mempunyai sulur dahan berbentuk spiral yang
keluar di sisi tangkai daun. Daun mentimun lebar berlekuk menjari dan dangkal,
berwarna hijau muda sampai hijau tua. Bunga mentimun berwarna kuning dan
berbentuk terompet, tanaman ini berumah satu artinya, bunga jantan dan bunga
betinah terpisah, tetapi masih dalam satu pohon. Sementara buah mentimun yang
sudah tua (untuk produksi benih) berwarna cokelat, cokelat tua bersisik, kuning
tua, dan putih bersisik. Panjang dan diameter buah mentimun antara 12-25 cm
dengan diameter antara 2-5 cm atau tergantung kultivar yang diusahakan. Biji
timun berwarna putih, berbentuk bulat lonjong (oval) dan pipih. Biji mentimun
diselaputi oleh lendir dan saling melekat pada ruang-ruang tempat biji tersusun
dan jumlahnya sangat banyak (Sunarjono, 2007).

2.2.2 Syarat Tumbuh Tanaman Timun

Mentimun cocok ditanam di lahan yang jenis tanahnya lempung sampai lempung
berpasir yang gembur dan mengandung bahan organik. Mentimun membutuhkan
pH tanah di kisaran 5,5-6,8 dengan ketinggian tempat 100-900 m di atas
permukaan laut. Pertumbuhan yang optimum diperlukan iklim kering, sinar
matahari yang cukup dengan temperatur optimal antara 21 oC 30 oC. Sementara
untuk suhu perkecambahan biji optimal yang dibutuhkan antara 25 oC 35 oC.
Kelembaban udara (RH) yang dikehendaki oleh tanaman mentimun agar hidup
dengan baik adalah antara 80-85%. Curah hujan optimal untuk budidaya
mentimun adalah 200-400 mm/bulan (Rukmana, 1994).
2.2.3 Teknik Budidaya Tanaman Timun

1) Persiapan Lahan dan Pengolahan Lahan


Tanah yang akan ditanami digemburkan dengan cara dicangkul sebaik-baiknya.
Tanah yang telah dicangkul akan menjadi remah sehingga aerasinya berjalan baik
dan zat-zat beracun pun akan hilang. Pembuatan bedeng dilakukan dengan cara
pencangkulan akan mempengaruhi sifat fisik tanah yang berfungsi memperbaiki
ruang pori-pori tanah yang terbentuk diantara partikel-partikel tanah (tekstur dan
stuktur).

2) Persemaian
Syarat umum yang dibutuhkan untuk pertumbuhan benih adalah; 1) adanya air
yang cukup untuk melembabkan biji, 2) suhu yang sesuai, 3) cukup oksigen, dan
4) adanya cahaya. Media semai itu berupa campuran tanah dan pupuk kandang
dengan perbandingan 7:3. Sebagai tempat media dapat menggunakan polybag
atau plastik transparan dengan dilubangi untuk drainase air.

3) Penanaman
Penanaman benih dapat dilakukan jika benih telah memiliki daun 2-3 daun utama
dan benih mentimun yang sudah dikecambahkan ditanam langsung dilubang
tanam yang dibuat dengan cara penugalan sedalam 5 cm dengan jarak lubang
tanam 30 cm x 60 cm.

4) Pemeliharaan

a. Penyiraman
Penyiraman adalah komponen terpenting untuk makhkluk hidup. Tanpa air, semua
makhluk hidup di bumi tidak akan bertahan hidup.
b. Penyulaman
Penyulaman dilakukan dengan segera minimal seminggu setelah tanaman
dipindahkan ke pot permanen agar diperoleh pertumbuhan yang serempak

c. Pemupukan
Jenis pupuk yang dapat digunakan pupuk organik berupa pupuk kandang ayam 10
ton/ha, dan pupuk anorganik berupa Urea 225 kg/ha TSP 120 kg/ha, KCL 100
kg/ha dan curater. Pemupukan dilakukan 2 kali yakni pemberian awal dan
pemberian susulan.

d. Penyiangan
Membersihkan tanaman dari rumput dan tanaman liar yang mungkin menjadi
tempat hidup dan bertelur ataupun makanan serangga sangat diperlukan, dalam
usaha mengurangi populasi serangga.

e. Pemangkasan
Pemangkasan merupakan upaya menciptakan keadaan tanaman menjadi lebih
baik, sehingga sinar matahari dapat masuk keseluruh bagian tanaman
meningkatnya intersepsi cahaya yang masuk ke tajuk tanaman serta meningkatnya
sirkulasi udara dan ketersediaan CO2 dalam tajuk.

f. Pengendalian Hama dan Penyakit


Hama yang sering mengganggu yakni Thrips dan Imagothripis yang merusak
tanaman dengan cara menghisap cairan sel. Tanda awal dari kerusakan ini bila
daun dihadapkan ke sinar matahari akan kelihatan bintik berwarna putih.

5) Panen dan Pasca Panen


Buah mentimun dapat dipanen pada umur 30-50 hst, ciri-ciri buah yang dapat
dipanen, yaitu buah masih berduri, panjang buah antara 10-30 cm atau tergantung
jenis yang diusahakan jarak panen dilakukan antara 1-2 hari sekali (Sumpena,
2001).

2.3 Pakcoy

2.3.1 Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Pakcoy

Kingdom : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Rhoeadales
Famili : Brassicaceae
Genus : Brassica
Spesies : Brassica rapa L
Pakcoy adalah jenis tanaman sayur-sayuran termasuk keluarga Brassicaceae.
Daun pakcoy bertangkai, berbentuk oval, berwarna hijau tua, dan mengkilat, tidak
membentuk kepala, tumbuh agak tegak atau setengah mendatar, tersusun dalam
spiral rapat, melekat pada batang yang tertekan. Tangkai daun berwarna putih atau
hijau muda, gemuk dan berdaging, tanaman mencapai tinggi 1530 cm. Bentuk
daun berwarna hijau pudar dan ungu. Bunga berwarna kuning pucat. Masa panen
pakcoy cukup singkat, hanya sekitar 45 hari (Chaeruddin, 1996).

2.3.2 Syarat Tumbuh Tanaman Pakcoy

Daerah penanaman yang cocok adalah mulai dari ketinggian 5 meter sampai
dengan 1.200 meter di atas permukaan laut. Namun biasanya dibudidayakan pada
daerah yang mempunyai ketinggian 100 meter sampai 500 meter dpl. Tanaman
pakcoy dapat tumbuh baik di tempat yang berhawa panas maupun berhawa
dingin, sehingga dapat diusahakan dari dataran rendah maupun dataran tinggi.
Meskipun demikian pada kenyataannya hasil yang diperoleh lebih baik di dataran
tinggi. Tanaman pakcoy tahan terhadap air hujan, sehingga dapat di tanam
sepanjang tahun (Chaeruddin, 1996).

2.3.3 Teknik Budidaya Tanaman Pakcoy

1) Pengolahan Lahan
Dalam tahapan pengolahan, terlebih dahulu dilakukan pembersihan lahan atau
persiapan lahan tempat budidaya, yaitu dengan membuang semua jenis tanaman
yang tidak diinginkan dan jenis tanaman yang sulit terurai, seperti sisa-sisa
perakaran rumput, sampah plastik, batu, disekitar lahan yang akan diolah.

2) Pemupukan
a) Pupuk dasar
Pupuk dasar diberikan 7 hari sebelum penanaman atau penaburan benih tanaman
pakcoy. Adapun pemberian pupuk kandang sebanyak 100 kg perbedengan dan
pupuk dasar NPK Phonska 5 kg perbedengan. Dan timbahakan kapur dolomite 50
kg perbedengan sebagai penyeimbang tanah yang asam dan basa.
b) Pupuk susulan
Pemupukan susulan dilakukan pada sore hari, yaitu pada umur tanaman 10-15 hari
setelah tanam. Dengan pupuk urea 10 kg dengan cara pupuk urea di larutkan
terlebih dahulu menggunakan air dengan konsentrasi 1kg/10 liter air kemudian
pupuk yang di campur dengan air tersebut di campur kembali dengan air 5 liter
dengan konsentrasi 200 ml per 5 liter air dan dilakukan pemupukan susulan
dengan menggunakan gembor, selanjutnya tanaman yang sudah dipupuk disiram
kembali air 2-3 gembor air agar sayur di dipupuk tidak mati atau terbakar.

3) Persemian (Penaburan Benih)


Persemaian atau pembibitan dilakukan dengan menggunakan bedengan kemudian
langsung disiram dengan air secara merata dengan menggunakan gembor.
Selanjutnya meletakkan sekam padi atau jerami untuk menutup permukaan
bedengan. Setelah benih berumur 1012 hari sejak biji disemaikan atau bibit
berdaun 35 helai daun, bibit pakcoy siap dipindahkan atau ditanam pada lahan
budidaya telah disiapkan.

4) Penanaman
Tanah di tugal dengan kayu atau jari tangan dengan jarak 20 x 20 cm sesuai
dengan jarak tanam. Setelah selesai penanaman dilakukan penyiraman tanaman
dengan menggunakan gembor yang semburan airnya halus sehingga bibit tanaman
tidak rebah.

5) Penyingan (Perawatan)
Penyiangan biasanya dilakukan 1-2 kali selama masa pertumbuhan pakcoy,
disesuaikan dengan kondisi keberadaan gulma pada bedeng penanaman.

6) Pengendalian Hama
Untuk serangan hama karat daun dan kutu anjing dapat disemprot dengan
menggunakan insektisida metindo dengan dosis 5 gram per 15 liter air. Sedangkan
untuk serangan hama kutu anjing dan kutu kebul disemprot dengan menggunakan
insektisida konfidor dengan dosis 10 gram atau satu sendok makan per 15 liter air
penyemperotan.
7) Panen
Tanaman pakcoy dapat dipanen pada saat berumur 3545 hari setelah tanam.
Tanaman yang telah layak panen memiliki daun yang tumbuh subur dan berwarna
hijau segar, pangkal daun tampak sehat, serta ketinggian tanaman seragam dan
merata (Sunarjono, 2007).

2.4 Bayam (Amaranthus sp.)

2.4.1 Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Bayam

Kingdom : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Class : Angiospermae
SubClass : Dicotyledoneae
Ordo : Amaranthales
Family : Amaranthaceae
Genus : Amaranthus
Spesies : Amaranthus sp.

Bentuk tanaman bayam adalah terma (perdu), tinggi tanaman dapat mencapai 1,5
sampai 2 m, berumur semusim atau lebih. Sistem perakaran menyebar dangkal
pada kedalaman antara 20-40 cm dan berakar tunggang. Batang tumbuh tegak,
tebal, berdaging dan banyak mengandung air, tumbuh tinggi diatas permukaan
tanah. Bunga bayam berukuran kecil, berjumlah banyak terdiri dari daun bunga 4-
5 buah, benang sari 1-5, dan bakal buah 2-3 buah. Penyerbukan berlangsung
dengan bantuan angin dan serangga. Biji berukuran sangat kecil dan halus,
berbentuk bulat, dan berwarna coklat tua sampai mengkilap sampai hitam kelam
(Hadisoeganda, 1996).

2.4.2 Syarat Tumbuh Tanaman Bayam

Tanaman bayam biasanya tumbuh di daerah tropis. Bayam mempunyai daya


adaptasi yang baik terhadap lingkungan tumbuh, sehingga dapat ditanam di
dataran rendah sampai dataran tinggi. Lokasi penanaman harus memperhatikan
persyaratan tumbuh bayam, yaitu: keadaan lahan harus terbuka, tanah banyak
mengandung bahan organik, memiliki pH 6-7 dan tidak tergenang air, ketinggian
optimum kurang dari 1400 m dpl, curah hujan lebih dari 1500 mm/tahun, cahaya
matahari penuh, suhu udara berkisar 17-28C, serta kelembaban udara 50-60%
(Rukmana, 1994).

2.4.3 Teknik Budidaya Tanaman Bayam

1) Pembibitan
Pembibitan diberi atap plastik atau atap jerami padi. Benih bayam disebar merata
atau berbaris-baris pada tanah persemaian dan ditutup dengan selapis tanah tipis.
Setelah bibit tumbuh berumur sekitar 7-14 hari, bibit dipindah-tanam ke dalam
pot-pot a telah diisi dengan medium tumbuh campuran tanah dan pupuk organik
yang halus (1:1).

2) Pengolahan Media Tanam


Lahan yang akan ditanami dicangkul/dibajak sedalam 30-40 cm, bongkah tanah
dipecah gulma dan seluruh sisa tanaman diangkat dan disingkirkan lalu diratakan.
Setelah tahap pencangkulan kemudian dibuat bedengan dengan lebar sekitar 120
cm atau 160 cm. Dibuat parit antar bedengan selebar 20-30 cm, kedalaman 30 cm
untuk drainase. Pada bedengan dibuat lubang-lubang tanam, jarak antar barisan
60-80 cm, jarak antar lubang (dalam barisan) 40-50 cm. Pemupukan awal
menggunakan pupuk kandang yang telah masak. Dosis untuk pupuk kandang
sekitar 10 ton per hektar.

3) Teknik Penanaman
Jarak tanam untuk tanaman bayam adalah antara 60 cm x 50 cm atau 80 cm x 40
cm. Lubang tanam dapat dibuat dengan menggunakan alat kayu dengan cara di
pukul-pukul sehingga membentuk lubang. Jarak antara barisan adalah 60-80 cm
dan jarak antar lubang (antar barisan) 40-50 cm. Penanaman dapat langsung di
lapangan tanpa penyemaian atau dengan penyemaian terlebih dahulu.

4) Pemeliharaan
Penyiangan dilakukan bersamaan dengan penggemburan tanah. Caranya dengan
dicangkul untuk mencabut gulma atau langsung dicabut dengan tangan. Proses
pembubunan dilakukan bersamaan dengan penyiangan. Fase awal pertumbuhan,
sebaiknya penyiraman dilakukan rutin dan intensif 1-2 kali sehari, terutama di musim
kemarau.

5) Panen
Ciri-ciri bayam cabut siap panen adalah umur tanaman antara 25-35 hari setelah
tanam. Tinggi tanaman antara 15-20 cm dan belum berbunga. Waktu panen yang
paling baik adalah pagi atau sore hari, saat suhu udara tidak terlalu tinggi. Cara
panennya adalah dengan mencabut seluruh bagian tanaman dengan memilih tanaman
yang sudah optimal. Panen pertama dilakukan mulai umur 25-30 hari setelah tanam,
kemudian panen berikutnya adalah 3-5 hari sekali.

6) Pascapanen
Pengumpulan bayam dilakukan setelah panen dengan cara meletakkan di suatu
tempat yang teduh agar tidak terkena sinar matahari langsung, karena dapat
membuat daun layu (Rukmana, 1994).

2.5 Sawo (Achras zapota L. )

2.5.1 Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Sawo

Kingdom : Plantae
Divisio : Magnoliophyta
Subdivisio : Magnoliopshida
Classis : Dicotyledoneae
Subclassis : Sympetalae
Ordo : Ebenales
Family : Sapotaceae
Genus : Achras
Species : Achras zapota L.
Sawo memiliki batang tanaman yang keras dan percabangannya cukup rapat, dari
bagian bawah batang hingga ke ujung tanaman. Daun sawo berbentuk bundar
memanjang dan tumbuh bergeormbol pada bagian ujung tangkai ataupun ranting.
Bunga sawo merupakan bunga tunggal yang panjang tangkainya 1-2 cm. Buah
sawo berkulit tipis, daging buahnya lembut serta berwarna coklat kemerahan
sampai kekuningan (Rukmana, 1997).

2.5.2 Syarat Tumbuh Tanaman Sawo

Tanaman sawo dapat dibudidayakan pada daerah yang beriklim basah sampai
kering, dari dataran rendah sampai dengan ketinggian 1200 mdpl. Curah hujan
yang dikehendaki oleh tanaman sawo yaitu 12 bulan basah atau 10 bulan basah
dengan 2 bulan kering atau 9 bulan basah dengan 3 bulan kering atau 7 bulan
basah dengan 5 bulan kering dan 5 bulan basah dengan 7 bulan kering atau
membutuhkan curah hujan 2.000 sampai 3.000 mm/tahun. Tanaman sawo dapat
beradaptasi pada suhu 22-32 oC. Sawo termasuk tanaman yang toleran terhadap
keadaan teduh atau naungan (Sidiyasa, 1998).

2.5.3 Teknik Budidaya Tanaman Sawo

1) Pengecambahan benih
a. Siapkan bak pengecambahan yang telah diisi media pasir bersih setebal 1015
cm.
b. Sebarkan biji sawo pada permukaan media, kemudian tutup dengan pasir
setebal 12 cm.
c. Siram media dalam bak pengecambahan dengan air bersih hingga cukup basah.
d. Tutup permukaan bak pengecambahan dengan lembaran plastik bening
(tembus cahaya) untuk menjaga kestabilan kelembaban media.
e. Biarkan biji berkecambah ditempat yang teduh selama 7 hari sampai 15 hari.
Biji sawo yang telah berkecambah atau keluar akar sepanjang 2-5 mm dapat
segera dipindahsemikan.

2) Penyemaian
a. Semaikan biji sawo yang sudah berkecambah (7-15 hari setelah tahap
pengecambahan biji) pada bedengan penyemaian atau dalam polybag sedalam
1-2 cm. Jarak semai antar biji yang disemai pada bedengan penyemaian diatur
10 cm x 10 cm atau 15 cm x 15 cm. Penyemaian dalam polybag cukup diisi
satu butir biji sawo tiap polybag.
b. Siram media dengan air bersih hingga cukup basah.
c. Biarkan biji tumbuh menjadi bibit muda.

3) Pengolahan Media Tanam


a. Membongkar tanaman yang tidak diperlukan dan mematikan alang-alang serta
menghilangkan rumput-rumput liar dan perdu dari areal tanam.
b. Membajak tanah untuk menghilangkan bongkahan tanah yang terlalu besar.
c. Pembuatan Lubang Tanam : Pembuatan lubang tanam dimaksudkan untuk
menciptakan lingkungan yang lebih baik bagi bibit yang akan ditanam. Untuk
itu tanah tempat penanaman dalam lubang tanam haru gembur karena sistem
perakaran bibit yang masih lemah.Lubang tanam untuk sawo dapat dibuat
dengan ukuran 60 cm x 60 cm x 60 cm.

4) Penanaman
Pembungkus (polybag) harus dilepas dengan hati-hati agar tanahnya tidak
berantakan dan perakaran tidak rusak. Penanaman dilakukan sedalam leher akar
tegak di tengah lubang tanam. Masukkan tanah bagian atas bekas galian lebih
dahulu, baru disusul tanah bagian bawah bekas galian. Tanah di sekeliling akar
tanaman dipadatkan agar tidak terjadi rongga-rongga udara yang dapat
menyulitkan akar mencari makan.

5) Pembubunan
Pada saat melakukan penyiangan tanaman sawo, dapat juga dilakukan
pembubunan tanah di sekitar tanaman. Pembubunan dilakukan untuk
menggemburkan tanah di sekitar tanaman sawo dan untuk memperkokoh batang
tumbuhnya.

6) Pemupukan
Sebagai pedoman pemupukan dapat diberikan 250-500 gram urea/pohon/tahun
sebelum tanaman sawo berbuah. Pemupukan ini dimaksudkan untuk merangsang
pertumbuhan batang dan daun, karena urea adalah sumber N yang berfungsi untuk
merangsang pertumbuhan batang dan daun. Bila tanaman sudah waktunya
berbuah, kurang lebih berumur 4 tahun, dilakukan pemupukan dengan
menggunakan pupuk majemuk NPK (10-20-15) yang kandungan fosfor (P) dan
kaliumnya (K) tinggi sebanyak 500 gram per pohon tiap tahun.

7) Penyiraman
Pada awal tanaman sawo memulai kehidupannya, perlu dilakukan penyiraman
paling sedikit dua minggu sekali jika tidak ada hujan. Pemberian air pada tanaman
sawo perlu dilakukan sampai tanaman berumur 3-4 tahun. Semakin tua tanaman,
semakin tahan terhadap kekeringan. Kekurangan air pada waktu tanaman sawo
sedang berbunga atau berbuah dapat menyebabkan bunga atau buah mudah gugut.
Pemberian air yang baik dan teratur akan menghasilkan buah dengan jumlah dan
kualitas yang baik (Sidiyasa, 1998).
DAFTAR PUSTAKA

Asripah. 2004. Budidaya Kacang Panjang. Azka Press. Jakarta.

Chaeruddin. 1996. Budidaya Tanaman Hortikultura. Balai Penelitian Tanaman


Pangan. Bogor.

Fachruddin, Lisdiana. 2000. Budidaya Kacang-Kacangan. Kaninus. Yogyakarta.

Hadisoeganda, A. & W. Widjaja. 1996. Bayam Sayuran Penyangga Petani di


Indonesia. BPPP. Lembang.

Haryanto. 2007. Budidaya Kacang Panjang. Penebar Swadaya. Jakarta.

Rukmana, R. 1994. Bayam Bertanam & Pengolahan Pascapanen. Kanisius.


Yogyakarta.

Rukmana, R. 1994. Budidaya Mentimun. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

Rukmana, R. 1997. Usaha Perkebunan Sawo. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

Sidiyasa, K. 1998. Mengenal Flora Langka Sawo Kecik (Manilkara kauki L.).
Bumi Aksara. Solo.

Sumpena. 2001. Budidaya Mentimun Intensif dengan Mulsa Secara Tumpang


Gilir. Penebar Swadaya. Jakarta.

Sunarjono, H. 2007. Bertanam 30 Jenis Sayur. Penebar Swadaya. Jakarta.