Anda di halaman 1dari 19

Higiene Perusahaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tenaga manusia sebagai salah satu faktor produksi di perusahaan, merupakan satu
kesatuan biologis yang mempunyai peran sama dengan faktor produksi lainnya (dana permodalan,
alat produksi, dan sebagainya). Karena itu pemeliharaan dan pengembangan tenaga manusia
memerlukan perhatian khusus disamping perhatian terhadap faktor produksi lainnya. Tanpa
pemeliharaan dan pengembangan tenaga manusia, pemeliharaan dan pengembangan faktor
produksi lainnya, tidak akan punya arti apa-apa ditinjau dari produktivitas kerja di perusahaan.
Sesuai dengan ketentuan yang berlaku bagi setiap perusahaan, penyehatan lingkungan
perusahaan memerlukan perhatian yang tidak kalah pentingnya dibandingkan dengan upaya
penyehatan di dalam perusahaan sendiri. Penyakit infeksi (terutama penyakit menular) yang
berjangkit dalam masyarakat disekitar perusahaan, tentunya juga ikut mempengaruhi kesehatan
tenaga kerja.
Masyarakat/penduduk di sekitar perusahaan merupakan salah satu lingkungan sosial dari
tenaga kerja di perusahaan. Oleh karena itu dalam beberapa hal pemeliharaan kesehatan
masyarakat di lingkungan perusahaan ikut menjadi tanggung jawab perusahaan. Upaya
pemeliharaan kesehatan meliputi upaya penyehatan pembuangan limbah industri, dan sebagainya.
Dengan demikian, jelas bahwa pemeliharaan kesehatan tenaga kerja dan masyarakat disekitar
perusahaan, merupakan bagian dari upaya kesehatan secara keseluruhan yang sasarannya adalah
masyarakat sendiri. Maka setiap segi pemeliharaan kesehatan (fisik, mental dan sosial) di
perusahaan dan sekitarnya, merupakan upaya kesehatan masyarakat, dengan demikian Hiperkes
adalah sebagian dari Ilmu Kesehatan Masyarakat (Public Health).
B. Batasan Masalah
Pemeliharaan dan pengawasan kesehatan tenaga kerja dilakukan sedini mungkin/sejak
menjadi tenaga kerja diperusahaan yang bersangkutan. Demikian juga sebelum perusahaan memulai
kegiatannya, seawal mungkin telah memperhitungkan segala kemungkinan akibat kegiatan tersebut
terhadap masyarakat disekitar perusahaan.
Dalam hal pemeliharaan kesehatan tenaga kerja, sesuai dengan undang-undang dan
ketentuan ketenagakerjaan serta ketentuan operasional perusahaan, perusahaan diharuskan
mengikutsertakan semua tenaga kerja menjadi anggota asuransi sosial tenaga kerja. Dan untuk
pemeliharaan kesehatan lingkungan masyarakat di sekitar perusahaan, sesuai dengan ketentuan-
ketentuan perundang-undangan yang berlaku, setiap perusahaan di wajibkan merencanakan serta
melaksanakan upaya penyehatan lingkungan di sekitar perusahaan.
C. Tujuan Penulisan
Dalam penulisan makalah yang berjudul Higiene Perusahaan, Keselamatan dan Kesehatan
Kerja ini kiranya bertujuan untuk memberikan pengetahuan kepada publik/masyarakat dan
mahasiswa agar lebih memahami dan mengerti tentang Higiene Perusahaan Kesehatan dan
Keselamatan Kerja dan bagaimana mempromosikan budaya HIPERKES bagi tenaga kerja
di Indonesia.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Higiene Perusahaan, Kesehatan dan Keselamatan Kerja (HIPERKES)
Hiperkes merupakan cabang dari Ilmu Kesehatan Masyarakat, yang mempelajari cara-cara
pengawasan serta pemeliharaan kesehatan tenaga kerja dan masyarakat di sekitar perusahaan, dan
segala kemungkinan gangguan kesehatan dan keselamatan akibat proses produksi di perusahaan.
Banyak kenyataan menunjukkan bahwa dalam setiap kegiatan tersebut. Ancaman dapat langsung
pada manusia yang bersangkutan, ataupun tidak langsung pada manusia lain di sekitarnya. Dapat
ditimbulkan proses produksi, namun dapat juga ditimbulkan bahan baku, bahan jadi, serta bahan sisa
produksi yang bersangkutan.
Ada 2 jenis ancaman yaitu kesehatan (fisik, mental dan sosial) tenaga kerja maupun
masyarakat, serta kecelakaan yang menimbulkan cacat fisik, mental dan sosial. Oleh karena itu, baik
secara individual maupun secara bersama-sama diperlukan upaya pemeliharaan/pencegahan
terhadap berbagai kemungkinan yang diakibatkan kegiatan perusahaan.
Pemeliharaan dan pengawasan kesehatan tenaga kerja dilakukan sedini mungkin/sejak
menjadi tenaga kerja diperusahaan yang bersangkutan. Demikian juga sebelum perusahaan memulai
kegiatannya, seawal mungkin telah memperhitungkan segala kemungkinan akibat kegiatan tersebut
terhadap masyarakat disekitar perusahaan.
Dalam hal pemeliharaan kesehatan tenaga kerja, sesuai dengan undang-undang dan
ketentuan ketenagakerjaan serta ketentuan operasional perusahaan, perusahaan diharuskan
mengikutsertakan semua tenaga kerja menjadi anggota asuransi sosial tenaga kerja. Dan untuk
pemeliharaan kesehatan lingkungan masyarakat di sekitar perusahaan, sesuai dengan ketentuan-
ketentuan perundang-undangan yang berlaku, setiap perusahaan di wajibkan merencanakan serta
melaksanakan upaya penyehatan lingkungan di sekitar perusahaan.
Higiene perusahaan adalah upaya pemeliharaan lingkungan kerja (fisik, kimia, radiasi dan
sebagainya) dan lingkungan perusahaan. Terutama bertujuan pengamatan dengan pengumpulan
data, merencanakan dan melaksanakan pengawasan terhadap segala kemungkinan gangguan
kesehatan tenaga kerja dan masyarakat di sekitar perusahaan. Dengan demikian sasaran kegiatan
perusahaan adalah lingkungan kerja serta lingkungan perusahaan. Penyehatan lingkungan kerja dan
perusahaan, merupakan upaya pencegahan timbulnya penyakit akibat kerja dan pencemaran
lingkungan proses produksi perusahaan.
Lingkungan kerja adalah lingkungan tempat tenaga kerja melakukan kegiatan yang ada
hubungannya dengan kegiatan perusahaan. Ada beberapa golongan lingkungan kerja, antara lain:
1. Lingkungan Fisik, misalnya kualitas cahaya, pertukaran udara, tekanan, suhu dan
kelembaban udara, serta berbagai perangkat kerja (mesin dan bukan mesin)

2. Lingkungan kimia, misalnya bahan baku, bahan jadi dan bahan sisa yang ada
hubungannya dengan kegiatan perusahaan, terutama sekali bahan kimia yang mempunyai
sifat fisiko-kimia radiasi dan sebagainya.

3. Lingkungan biologi, misalnya flora dan fauna yang ada hubungannya dengan
kegiatan perusahaan.

4. Lingkungan sosial, misalnya terhadap sesama pekerja, masyarakat sekitar


perusahaan, keluarga tenaga kerja, dan lain-lain.
Faktor lingkungan merupakan salah satufaktor penyebab timbulnya gangguan kesehatan.
Demikian juga lingkungan kerja merupakan slah satu faktor penyebab akibat kerja dan kecelakaan
kerja. Contohnya yaitu antara lain:
1. Tenaga Kerja pada perusahaan perkebunan/kehutanan di mana lingkungan memiliki
suhu serta kelembaban tertentu, sehingga gangguan kesehatan dan kecelakaan kerja, dapat
terjadi setiap saat. Hal ini mungkin karena tenaga kerja senantiasa berada dalam lingkungan
flora dan fauna serta perangkat kerja yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan serta
kecelakaan kerja.

2. Tenaga kerja pada perusahaan industri kimia, senantiasa berada dalam lingkungan
yang terdiri dari bahan-bahan kimia yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan serta
kecelakaan kerja kibat keracunan, alergi dan sebagainya.

Lingkungan sosial tenaga kerja, dianggap ikut mempengaruhi kesehatan mental tenaga kerja.
Lingkungan sosial yang kurang sehat, dapat menyebabkan kelengahan, kelalaian serta keadaan
mental lainnya yang sering menyebabkan gangguan kesehatan serta kecelakaan kerja di
perusahaan. Maka hampir semua faktor lingkungan kerja sewaktu-waktu dapat mengganggu
kesehatan serta menimbulkan kecelakaan kerja, terutama lingkungan kerja yang kurang sehat.
Penilaian lingkungan kerja merupakan penilaian terhadap semua segi (tenaga kerja, alat
produksi bahan baku, bahan jadi serta bahan sisa, dan proses produksi sendiri) dalam merencanakan
tindakan pencegahan penyakit akibat kerja dan kecelakaan kerja.
Kesehatan kerja adalah upaya perusahaan untuk mempersiapkan, memelihara serta tindakan
lainnya dalam rangka pengadaan serta penggunaan tenaga kerja dengan kesehatan (fisik, mental
dan sosial) yang maksimal, sehingga dapat bereproduksi secara maksimal pula. Kesehatan kerja
direncanakan serta dilaksanakan oleh unit kesehatan kerja di perusahaan, dan dalam kegiatannya
bekerja sama dengan pimpinan perusahaan, dan dalam unit-unit lainnya yang berkaitan dengan
kesehatan serta keselamatan kerja.
Dalam kegiatannya di perusahaan, unit kesehatan kerja bertanggung jawab terhadap
pengadaan serta pemeliharaan kesehatan tenaga kerja yang sesuai dengan bidang pekerjaan
menurut keahliannya. Untuk itu unit kesehatan kerja wajib mempersiapkan program pengamatan
serta pengawasan kesehatan tenaga kerja, yaitu program supervisi langsung dalam perusahaan,
mengamati segala faktor yang mempengaruhi kesehatan kerja.
Semua kegiatan unit kesehatan kerja ditujukan pada pencegahan gangguan kesehatan serta
kecacatan tenaga kerja perusahaan. Sebagai obyek atau sasaran kegiatan adalah tenaga kerja
sebagai salah satu kesatuan biologi, sehingga dapat dimengerti bahwa secara keseluruhan kegiatan
unit tersebut lebih banyak bersifat teknis medis. Karena itu bila ditinjau dari sasaran dan sifat
kegiatan, maka unit kesehatan kerja, sangat berbeda dari higiene perusahaan, namun tujuan
keduanya sama, yaitu mengusahakan tenaga kerja sehat untuk berproduksi semaksimal mungkin
bagi perusahaan. Kedua unit tersebut juga bersama-sama melakukan upaya yang sifatnya mencegah
penyakit serta cacat akibat kerja.
Keselamatan kerja adalah keselamatan yang berkaitan dengan hubungan tenaga kerja
dengan mesin, pesawat, lat kerja, bahan dan proses pengolahannya, landasan tempat kerja,
lingkungan kerja dan cara-cara melakukan pekerjaan tersebut. Unit keselamatan kerja merupakan
suatu unit yang bertanggung jawab atas tempat, alat, mesin, pesawat yang aman bagi tenaga kerja,
dan sesuai dengan kondisi kerja, juga bertanggung jawab dalam penyediaan alat dan keselamatan
kerja/pengaman/pelindung yang cocok serta menyenangkan bagi tenaga kerja.

Tujuan keselamatan tenaga kerja, antara lain:


a. melindungi hak dan keselamatan tenaga kerja dalam atau selama melakukan
pekerjaan untuk kesejahteraan hidup serta peningkatan produksi dan produktivitas nasional.

b. Menjamin keselamatan setiap orang lain yang berada di temapt kerja.

c. Memelihara sumber produksi serta menggunakannya dengan amat dan berdayaguna


(efisien).

Keselamatan kerja adalah sarana utama pencegahan kecelakaan, cacat, dan kematian akibat
kerja. Keselamatan kerja yang baik adalah pintu gerbang keamanan serta kenyamanan tenaga kerja
selama melakukan pekerjaannya. Kecelakaan kerja selain menyebabkan hambatan langsung, juga
menimbulkan kerugian tak langsung, misalnya kerusakan mesin dan peralatan kerja lainnya, terhenti
produksi, dan biaya yang harus dikeluarkan akibat kecelakaan kerja, serta kerusakan lingkungan
kerja, yang secara naional merupakan jumlah kerugian yang sangat besar.
B. Hubungan K3 dengan Produktivitas
Dalam beberapa dasawarsa terakhir pembangunan nasional kita mengalami perkembangan
yang sangat pesat dan mengagumkan. Sentra-sentra industri bertumbuh dimana-mana. Karena itu
tidak berlebihan jika banyak kalangan menilai Indonesia sebagai salah satu kekuatan ekonomi di
kawasan Asia Tenggara yang berpeluang menjadi negara industri.
Namun harus disadari, bahwa kemajuan di sektor industri dan sektor-sektor lainnya harus
diimbangi dengan faktor kualitas SDM pekerja yang kreatif dan inovatif, sehingga dapat menghasilkan
out put yang berkualitas dan kompetitif di pasar global. Kualitas SDM pekerja yang diidealkan itu tidak
saja ditentukan oleh standar gaji yang dapat memenuhi kebutuhan hidup, tetapi juga ditentukan oleh
lingkungan kerja yang memberi rasa aman bagi pekerja. Pada tataran ini, maka kebutuhan akan
program K3 di tempat kerja merupakan hal yang teramat penting dalam menunjang produktivitas
kerja.
Dari perspektif bisnis, program K3 merupakan bagian integral dari strategi bisnis. Asumsinya
siapa yang memiliki kemampuan mengelola perusahaan secara efisien dan efektif, termasuk di
dalamnya aspek K3, maka ia lebih berpeluang untuk meraih keberhasilan dalam kompetisi global.
Kaum industrialis, pengusaha dan penguasa sebaiknya jangan meremehkan K3, sebab pemenuhan
K3 pada kaum buruh/pekerja, tidak hanya menentukan tingkat produktivitas usaha, namun lebih jauh
lagi dapat menentukan tingkat kesejahteraan dan stabilitas sosial-politik sebuah negara.
1. Sumber Daya Manusia: Kunci Produktivitas

Walaupun kemajuan teknologi telah menghasilkan alat-alat produksi yang canggih, tetapi
kedudukan sumber daya manusia pekerja dibalik mesin-mesin produksi tersebut tetap sentral. SDM
pekerja yang terampil, kreatif dan mampu menggunakan modal intelektualnya akan menentukan apa
yang diproduksi dan bagaimana mengelola resources yang ada untuk meningkatkan produktivitas
dan memajukan perusahaan. Itulah sebabnya SDM pekerja merupakan motor produktivitas dan
jantungnya organisasi atau perusahaan.
Namun harus disadari, bahwa peningkatan produksi secara langsung maupun tidak langsung
selalu diikuti dengan permasalahannya yang berkaitan dengan K3. permasalahan-permasalahan
tersebut diantaranya:
a. Adanya kemungkinan penambahan peralatan, tuntutan kapasitas peralatan dan satuan kerja yang
lebih besar.
b. Memperluas lokasi kerja sehingga menambah sarana sistem pengawasan untuk mencegah
kecelakaan;
c. Peningkatan jumlah buruh/pekerja dan tuntutan untuk mendapatkan buruh/pekerja yang berkualitas,
serba cepat, tepat dan selamat;
d. Perlunya standar buku K3 bagi pekerja, baik bagi pekerja yang baru maupun yang lama.
Faktor-faktor tersebut dapat menimbulkan resiko kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja,
apabila tidak ditangani secara cepat dan benar. Dampak lebih jauh adalah menurunnya produktivitas
kerja.
a. Lingkungan Kerja Tanpa Kecelakaan
Salah satu resiko yang dapat muncul dalam suatu aktivitas perusahaan ialah kecelakaan kerja.
Kecelakaan kerja dapat didefinisikan sebagai suatu kejadian yang tidak diinginkan yang dapat
menimbulkan kerugian materialnatau korban jiwa.
Penyebab kecelakaan terdiri dari 2 (dua) jenis yakni: penyebab langsung dan penyebar dasar.
Penyebab langsung merujuk pada kecelakaan dalam bentuk tindakan dan keadaan yang
membahayakan, antara lain: menjalankan peralatan tanpa izin, salah memberikan tanda peringatan,
tidak menggunakan alat pelindung keselamatan, menempatkan barang secara tidak benar, minum
minuman beralkohol dan obat-obatan sebelum/sewaktu bekerja dan bertindak nekad tanpa
perhitungan.
Contoh-contoh keadaan yang membahayakan antara lain: tanpa tutup pengaman yang benar,
tidak adanya alat pelindung keselamatan, kerusakan peralatan, ruangan kerja yang sempit tanda
peringatan kurang jelas, tata ruang yang tidak teratur, lingkungan yang rawan terhadap gas dan asap,
tempat kerja dengan radiasi yang tinggi, kurangnya penerangan dalam ruangan, kurangnya vebtilasi
ruangan, atau tempat kerja dengan temperatur ekstrim. Penelitian lebih cermat dan lebih mendalam
tentang penyebab langsung dari kecelakaan kerja akan menghasilkan cara penanggulangan atau
pencegahan yang lebih tepat.
Sementara itu penyebab dasar merujuk pada faktor perorangan dan faktor kerja. Faktor
perorangan (individual) diakibatkan oleh terbatasnya kemampuan fisik dan mental, kurangnya
pengetahuan, minimnya keterampilan, dan kekeliuran motivasi. Sedangkan faktor kerja diakibatkan
oleh keterbatasan aspek kepemimpinan dan pengawasan, perekayasaan, penanganan logistik,
peralatan dan standar kerja. Apabila faktor penyebab dasar ini tidak ditangani secara serius dan
tepat, maka dapat menimbulkan tindakan atau keadaan yang membahayakan dan sekaligus menjadi
penyebab langsung dari kecelakaan kerja.
Berdasarkan identifikasi faktor-faktor penyebab kecelakaan, maka pihak manajemen
perusahaan harus berupaya menciptakan lingkungan kerja tanpa kecelakaan (zero accident) melalui
implementasi, komunikasi dan pelatihan K3 secara terus mnerus kepada para pekerja. Upaya
menciptakan lingkungan kerja tanpa kecelakaan adalah upaya yang manusiawi, karena menyangkut
penghormatan terhadap harkat dan martabat pekerja sebagai aset dan mitra perusahaan.
Penyuluhan dan pelatihan program K3 bagi pekerja juga harus mencakup hal-hal lain yang
berkaitan dengan keselamatan kerja seperti kesiapan menghadapi keadaan darurat, kemampuan
menganalisis kecelakaan dan keterampilan untuk menggunakan alat-alat produksi. Hal ini penting
bukan saja untuk mengurangi tingkat kerusakan alat, tetapi juga sebagai bagian dari upaya
meningkatkan kualitas pekerja dan menghindari terjadinya kecelakaan kerja.
b. Pelayanan Kesehatan Bagi Pekerja
Selain kecelakaan kerja, resiko lain yang dialami pekerja di tempat kerja adalah munculnya
penyakit akibat kerja. Ada banyak faktor yang menyebabkan terjadinya penyakit akibat kerja di
antaranya kekurangan gizi akibat mengkonsumsi makanan yang tidak memenuhi standar kesehatan,
pola hidup tidak sehat seperti minum minuman beralkohol, merokok, kurang berolahraga, terpajan
bahan kimia dan biologi serta faktor psikososial seperti lingkungan kerja yang tidak kondusif, stress
dan sebagainya.
Penyakit akibat kerja tidak saja menyebabkan menurunnya derajat kesehatan dan kebugaran
pekerja, tetapi juga menyebabkan hilangnya waktu produktif pekerja. Dampak lebih jauh adalah
menurunnya produktivitas kerja.
Untuk itu diperlukan pelayanan kesehatan kerja di tempat kerja yang ditangani oleh dokter
perusahaan. Upaya ini sangat bermanfaat selain untuk meningkatkan derajat kesehatan dan
kebugaran atau kapasitas kerja dapat mencegah penyakit degeneratif kronik seperti: penyakit
jantung, koroner, stroke, kanker, penyakit paru obstruksi kronik dan lain-lain. Penyakit-penyakit
degeneratif kronik tersebut, kini telah menjadi penyebab kematian nomor 1 pekerja usia produktif,
melebihi kematian yang disebabkan oleh kecelakaan kerja, penyakit akibat kerja maupun penyakit
menular lain-lainnya.
Karena itu, pelayanan kesehatan kerja tidak hanya menjaga dan melindungi kesehatan
pekerja dari pengaruh buruk yang ditimbulkan oleh pemejanan dengan hazard kesehatan yang
berasal dari lingkungan kerja dan pekerjaan, tetapi terutama menunjang pembentukan kualitas SDM
yang berciri mental unggul, sehat fisik-psikis, kreatif dan inovatif serta memilki etos kerja yang tinggi.
Dengan SDM yang demikian diharapkan akan tercapai kinerja, jenjang karir dan produktivitas
organisasi atau tempat kerja yang setinggi-tingginya.
Pelayanan kesehatan kerja dapat dilakukan melalui berbagai upaya, yaitu:
a. Upaya peningkatan (promotif)
b. Upaya pencegahan (preventif)
c. Upaya penyembuhan (kuratif)
d. Upaya pemulihan (rehabilitatif)
Dari uraian diatas, jelas bahwa terdapat korelasi yang sangat erat antara faktor SDM pekerja,
K3 dan produktivitas. SDM pekerja yang berkualitas akan meningkatkan produktivitas dan program
K3 adalah salah satu faktor yang dapat menunjang terwujudnya SDM yang berkualitas tersebut. Jika
ketiga faktor itu bersinergis secara seimbang, maka kerugian yang timbul akibat kecelakaan kerja dan
penyakit akibat kerja dapat ditekan seminimal mungkin, sehingga dapat meningkatkan keuntungan
perusahaan dan sekaligus terwujudnya kesejahteraan pekerja serta keluarganya.
2. Manajemen Risiko

Peningkatan produktivitas amat ditentukan oleh buruh/pekerja sebagai aset utama dari
perusahaan. Untuk menjangkau kemajuan perusahaan maka diperlukan sistem manajemen yang
rapi, khususnya pada tataran interaksi buruh/pekerja dengan pengusaha. Syangnya, acapkali
pengusaha lalai menjalankan sistem manajemen yang bersinergis dengan kebutuhan buruh/pekerja,
khusunya menyangkut aspek K3. kelalaian pimpinan perusahaan dalam interaksinya dengan
buruh/pekerja sering diakibatkan oleh keterbatasan wawasan dan lemahnya integritas kepemimpinan
(leadership).
Untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, menangani dan memonitor resiko-resiko yang
mungkin dialami perusahaan pada masa yang akan datang, maka diperlukan manajemen resiko. Jika
dampak resiko kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja cukup signifikan, perlu disusun rencana
untuk menanggulanginya dan meredusir dampak negatif dari resiko tersebut.
Manajemen resiko adalah suatu upaya yang penting untuk melindungi bisnis dari segala
bentuk kerugian baik moral, sosial, fisik, aspek hukum maupun finasial. Dalam versi lain, manajemen
resiko merupakan metode untuk melindungi bisnis (dunia usaha), agar terhindar dari segala bentuk
kerugian, khususnya bagi sumber daya dan penghasilan perusahaan, sehingga perusahaan dapat
mencapai target yang diinginkan 9profit dan berkembang). Dengan demikian, pihak perusahaan
dapat melaksanakanprogram dan aktivitasnya secara baik, lancar efisien, produktif dengan mutu
yang lebih baik.
Mengaci pada definisi di atas, manajemen resiko haruslah merupakan bagian yang tak
terpisahkan dari manajemen perusahaan, dimana K3 menjadi salah satu komponen terpenting.
Dengan kata lain, pelaksanaan K3 adalah derivasi dari manajemen resiko. Jadi, apabila manajemen
resiko berlangsung sinergis dengan melibatkan pimpinan perusahaan, pekerja dan masyarakat, maka
akan mengakselerasi tercapainya kesejahteraan kolektif.
Untuk mengetahui faktor-faktor resiko sebenarnya tergantung pada sebesar apa kemampuan
seseorang (pekerja) mengidentifikasikan setiap kemungkinan buruk dalam menjalankan proses
produksi. Selanjutnya perlu dicari solusi yang rasional, efektif dan ekonomis untuk menghindari
faktor-faktor resiko tersebut.
Metode manajemen resiko seharusnya diterapkan mulai dari tahap perencanaan, tahap
konstruksi hingga tahap operasional perusahaan. Resiko pada konteks ini berarti: Keadaan atas
kejadian dimana dalam aktivitas perusahaan dapat terjadi kerugian, cedera karyawan, kerusakan
aset perusahaan, tanggungjawab hukum dan keuangan maupun gangguan dari segi kesejahteraan
dan pengembangan perusahaan.
Manajemen resiko amat penting dalam program dan aktivitas manajemen guna
mengamankan usaha yang memerlukan intuisi (sensitivitas)ndalam operasionalnya. Secara subtantif,
manajemen yang efisien dan berkualitas selalu memperhitungkan resiko.
Ruang lingkup manajemen resiko mencakup 7 (tujuh) elemen utama yaitu:
1. Korelasinya dengan aspek K3.
2. Korelasinya dengan lingkungan hidup.
3. Korelasinya dengan sekuriti/keamanan.
4. Korelasinya dengan liabilities.
5. Korelasinya dengan Prosedur Kerja.
6. Korelasinya dengan harmoni internal perusahaan.
7. Korelasinya dengan manajemen.
C. Promosi Budaya K3 Di Tempat Kerja
Promosi budaya K3 didefinisikan sebagai proses yang memungkinkan sebagai proses yang
memungkinkan pekerja untuk meningkatkan kontrol tyerhadap keselamatan dan kesehatannya. Jika
dilihat dalam konteks yang lebih luas, promosi budaya K3 di tempat kerja adalah rangkaian kesatuan
kegiatan yang mencakup manajemen dan pencegahan dini kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja
dan akibat kerja (baik penyakit umum mapun penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan) serta
peningkatan kesehatan pekerja secara optimal.
Jadi secara konseptual dapat disimpulkan, bahwa promosi kebudayaan K3 di tempat kerja
adalah program kegiatan yang direncanakan dan ditujukan untuk meningkatkan keselamatan dan
kesehatan para pekerja beserta beserta anggota keluarga yang ditanggungnya, serta meningkatkan
efisiensi dan produktivitas perusahaan.
Secara umum tujuan promosi budaya K3 di tempat kerja adalah untuk mengurangi resiko
terjadinya kecelakaan kerja dan membentuk sikap masing-masing pekerja mengenai kesehatannya
secara Individu, sehingga dari hari ke hari mereka akan menentukann keputusan atas pilihannya
secara personal, menuju gaya hidup yang sehat dan lebih positif.
Sedangkan tujuan khusus promosi budaya K3 antara lain:
1. Membantu pekerja untuk mengenal sedini mungkin lingkungan tempat kerjanya yang berisiko
menimbulkan kecelakaan kerja.
2. Mempengaruhi pekerja untuk selalu menggunakan alat-alat keselamatan yang telah tersedia.
3. Mempengaruhi pekerja untuk selalu menggunakan alat-alat keselamatan yang telah tersedia.
4. Mempengaruhi pekerja untuk menerapkan pola atau gaya hidup sehat dan positif. Misalnya makan
makanan yang mengandung gizi yang cukup, tidak merokok atau minum minuman beralkohol atau
perilaku tidak sehat lainnya.
5. Membantu pekerja untuk terbiasa mengatasi stress yang dialami dalam kehidupannya.
6. Mengajarkan pekerja mengenai kemampuan P3K.
7. Mengajarkan pekerja mengenai penyakit umum dan penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan
serta bagaimana mencegah serta meminimalisir akibatnya.
Untuk mencapai sasaran masyarakat pekerja yang produktif, sehat dan aman diperlukan
pendekatan sistem yang mampu mengajak partisipasi masyarakat pekerja. Langkah strategis ke arah
itu dapat dilaksanakan melalui Pendekatan Pemberdayaan Masyarakat Pekerja (PPMP).
Ciri PPMP tersebut antara lain: penyelenggaraan program promosi budaya K3 di tempat kerja
harus bertumpu pada partisipasi aktif masyarakat pekerja atau kerja sama interaktif antara
penyelenggara program promosi budaya K3 di tempat kerja dengan masyarakat pekerja.
Sasaran yang ingin dicapai adalah adanya konsepsi dan pelaksanaan promosi keselamatan
dan kesehatan di tempat kerja dan adanya kegiatan program promosi budaya K3 yang
diselenggarakan melalui kemitraan tripartit (pemerintah, manajemen tempat kerja dan pekerja atau
serikat pekerja).
Implementasi pendekatan dan pemberdayaan masyarakat pekerja dapat dilakukan melalui
beberapa tahapan, antara lain:
1. Advokasi & Sosialisasi Budaya K3

2. Telaah Mawas Diri

3. Peningkatan Kesadaran K3 Jangka Panjang

Program promosi budaya K3 di tempat kerja dirancang dalam rangka meningkatkan mawas
diri pekerja terhadap resiko-resiko di tempat kerja. Fokus perhatian diutamakan pada pembentukan
sikap dan kebiasaan-kebiasaan sehat yang dilakukan pekerja, serta upaya memberikan perlindungan
terhadap pekerja dari bahaya-bahaya yang berhubungan dengan pekerjaannya.
Implementasi program promosi budaya K3 di tempat kerja merupakan faktor pendukung yang
sangat penting untuk meningkatkan keselamatan dan kesehatan pekerja. Di beberapa negara,
pelaksanaan promosi budaya K3 di tempat kerja tidak hanya dilakukan oleh para ahli K3 dari
kalangan pemerintah, tetapi juga banyak dilakukan oleh swasta atau kelompok-kelompok yang
independen.
Jika program promosi budaya K3 dikelola dengan baik, sebenarnya cukup besar keuntungan
yang didapat, yakni disatu sisi dapat menumbuhkan semangat para pekerja untuk senantiasa
membiasakan diri bertindak aman dan sehat di tempat kerja. Sementara di sisi lain mampu
meningkatkan kebugaran fisik dan meningkatkan moral/semangat pekerja untuk bertindak positif,
sehingga produktivitas kerja dapat tercapai secara optimal.
Ada beberapa elemen penting dalam program promosi budaya K3 di tempat kerja, yaitu:
1. Pelatihan/Pendidikan K3

2. Kebugaran Fisik (Physical Fitness)

3. Kontrol Berat Badan dan Gizi (Nutrition and Weight Control)

4. Manajemen Stress (Stress Management)

5. Penghentian Merokok (Smoking Cessation)

6. Penyalahgunaan Obat dan Alkohol (Alcohol an Drug Abuse)

7. Pelatihan P3K
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Hiperkes merupakan cabang dari Ilmu Kesehatan Masyarakat, yang mempelajari cara-cara
pengawasan serta pemeliharaan kesehatan tenaga kerja dan masyarakat di sekitar perusahaan, dan
segala kemungkinan gangguan kesehatan dan keselamatan akibat proses produksi di perusahaan.
Higiene perusahaan adalah upaya pemeliharaan lingkungan kerja (fisik, kimia, radiasi dan
sebagainya) dan lingkungan perusahaan.
Kesehatan kerja adalah upaya perusahaan untuk mempersiapkan, memelihara serta tindakan
lainnya dalam rangka pengadaan serta penggunaan tenaga kerja dengan kesehatan (fisik, mental
dan sosial) yang maksimal, sehingga dapat bereproduksi secara maksimal pula.
Keselamatan kerja adalah keselamatan yang berkaitan dengan hubungan tenaga kerja
dengan mesin, pesawat, lat kerja, bahan dan proses pengolahannya, landasan tempat kerja,
lingkungan kerja dan cara-cara melakukan pekerjaan tersebut.
Namun harus disadari, bahwa kemajuan di sektor industri dan sektor-sektor lainnya harus
diimbangi dengan faktor kualitas SDM pekerja yang kreatif dan inovatif, sehingga dapat menghasilkan
out put yang berkualitas dan kompetitif di pasar global. Kualitas SDM pekerja yang diidealkan itu tidak
saja ditentukan oleh standar gaji yang dapat memenuhi kebutuhan hidup, tetapi juga ditentukan oleh
lingkungan kerja yang memberi rasa aman bagi pekerja. Pada tataran ini, maka kebutuhan akan
program K3 di tempat kerja merupakan hal yang teramat penting dalam menunjang produktivitas
kerja.
Promosi budaya K3 didefinisikan sebagai proses yang memungkinkan sebagai proses yang
memungkinkan pekerja untuk meningkatkan kontrol tyerhadap keselamatan dan kesehatannya. Jadi
secara konseptual dapat disimpulkan, bahwa promosi kebudayaan K3 di tempat kerja adalah
program kegiatan yang direncanakan dan ditujukan untuk meningkatkan keselamatan dan kesehatan
para pekerja beserta beserta anggota keluarga yang ditanggungnya, serta meningkatkan efisiensi
dan produktivitas perusahaan.
Secara umum tujuan promosi budaya K3 di tempat kerja adalah untuk mengurangi resiko
terjadinya kecelakaan kerja dan membentuk sikap masing-masing pekerja mengenai kesehatannya
secara Individu, sehingga dari hari ke hari mereka akan menentukann keputusan atas pilihannya
secara personal, menuju gaya hidup yang sehat dan lebih positif.
B. Saran
Adapun saran dari pembuatan makalah ini yaitu dengan melalui kegiatan mengenai Higiene
Perusahaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja diharapkan para tenaga kerja lebih bekerja secara
aman dan efisien, sehingga hasil yang diperoleh perusahaan itu lebih maju kedepan dengan cara
meningkatkan produktivitas tenaga kerja.

DAFTAR PUSTAKA
Dainur. 1992, Materi-Materi Pokok Ilmu Kesehatan Masyarakat, Widya Medika, Jakarta.
Wiyono, Djoko. 1999, Manajemen Mutu Pelayanan Kesehatan, Airlangga University Press, Surabaya.
Konradus, Danggur. 2006, Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Membangun SDM Yang Sehat,
Produktif dan Kompetitif), PT Percetakan Penebar Swadaya, Jakarta.

HIGIENE PERUSAHAAN, KESEHATAN


DAN KESELAMATAN KERJA (HIPERKES)
PENGERTIAN HIPERKES
Definisi :
hiperkes merupakan cabang dari ilmu kesehatan masyarakat yang
mempelajari cara-cara pengawasan serta pemeliharaan kesehatan tenaga kerja dan
masyarakat di sekitar perusahaan dan segala kemungkinan gangguan kesehatan
dan keselamatan akibat proses produksi di perusahaan.
ANCAMAN
Ancaman pada hiperkes :
langsung (pada manusia yang bersangkutan)
tidak langsung (manusia disekitar)
Timbul pada saat proses produksi
Ditimbulkan oleh bahan baku, bahan jadi maupun sisa produksi (limbah)
Jenis ancaman:
- Ancaman kesehatan (fisik, mental dan sosial)
- Ancaman yang menimbulkan kecacatan fisik, mental dan sosial.
PENGERTIAN HIPERKES
Pemeliharaan dan pengawasan kesehatan harus dilakukan sedini mungkin / sejak
menjadi tenaga kerja pada perusahaan yang bersangkutan.
Sebelum perusahaan memulai usahanya harus diperhitungkanamdal sesuai
dengan ketentuan yang berlaku.
Penyehatan lingkungan kerja dan perusahaan merupakan pencegahan timbulnya
penyakit akibat kerja dan pencemaran lingkungan akibat proses produksi.
Perusahaan diwajibkan mengikutsertakan karwayan menjadi anggota asuransi
sosial tenaga kerja.
TUJUAN DAN SASARAN HIPERKES
Tujuan hiperkes :
observasi dan pengumpulan data
Perencanaan
Pelaksanaan pengawasan terhadap segala kemungkinan gangguan kesehatan
tenaga kerja dan masyarakat sekitar perusahaan.
Sasaran kegiatan hiperkes :
lingkungan kerja dan lingkungan disekitar perusahaan
LINGKUNGAN KERJA
Lingkungan kerja adalah lingkungan tempat tenaga kerja melakukan aktivitas
kegiatan perusahaan.
Beberapa jenis lingkungan kerja dalam hiperkes :
1. lingkungan fisik (kualitas cahaya, pertukaran udara, tekanan, suhu,
perangkat kerja.
2. Lingkungan kimia (bahan baku, bahan jadi, bahan sisa produksi)
3. Lingkungan biologi (flora dan fauna yang berhubungan dengan
kegiatan perusahaan)
4. Lingkungan sosial (keluarga pekerja dan masyarakat sekitar)
KESEHATAN KERJA
Kesehatan kerja adalah upaya perusahaan untuk mempersiapkan, memelihara
serta tindakan lain dalam rangka pengadaan serta penggunaan tenaga kerja dengan
kesehatan yang maksimal , sehingga dapat berproduksi secara maksimal juga.
Jenis program unit kesehatan kerja :
1. program pemeriksaan kesehatan pendahuluan pada calon tenaga kerja.
2. Program pemeriksaan berkala yang berlangsung saan tenaga kerja melakukan
kegiatan pada bidang pekerjaannya.
3. Program pengobatan jalan, perawatan, gawat darurat
4. Program pengembanngan ketrampilan dan pengetahuan tenaga unit kesehatan
kerja.
5. Program penyuluhan kesehatan.

Keselamatan kerja
Keselamatan kerja adalah keselamatan yang berkaitan dengan hubungan tenaga
kerja dengan mesin, alat kerja, bahan dan proses pengolahannya, landasan tempat
kerja, lingkungan kerja dan cara melakukan pekerjaan tersebut.
Tujuan keselamatan kerja :
1. melindungi hak keselamatan kerja dalam/selama melakukan pekerjaan untuk
kesejahteraan hidup dan peningkatan produksi.
2. Menjamin keselamatan setiap orang yang bekerja di tempat kerja
3. Memelihara sumber produksi serta menggunakannya dengan aman dan
berdayaguna.
Penyakit akibat kerja
Penyakit akibat kerja adala penyakit yang disebabkan oleh lingkungan dimana
pekerjaan pekerjaan dilakukan, terjadi pada saat melakukan pekerjaan maupun
diluar tempat kerja yang ada hubungannya denngan pekerjaan di perusahaan.
Evaluasi/pengawasa penyakit akibat kerja ;
1. pengamatan semua material dan lingkungan kerja.
2. Mengamati proses produksi dan alat-alat produksi yang digunakan.
3. Pengamatan pada sistem pengawasan itu sendiri ( pemakaian alat pelindung,
pembuangan limbah, penyimpanan bahan baku, lingkungan fisik)
4. Penyuluhan dan latihan bagi karyawan.
5. Pengaturan shift karyawan
Tugas perorangan
(dikumpulkan hari jumat, 24-6-2011)
Buatlah tulisan mengenai hiperkes sesuai dengan bidang ilmu elektromedik.Misal :
di ruangan rontgen , meliputi :
keselamatan kerja
kesehatan kerja
penyakit-penyakit akibat kerja

TINGKATAN PENCEGAHAN PENYAKIT


KONSEP DASAR PENCEGAHAN
Berdasarkan dasar konsep natural history of disease ataupun spektrum kesehatan,
maka pengawasan kesehatan atau pemeliharaan kesehatan harus dilakukan jauh
sebelum kita sakit.
Tindakan pencegahan merupakan upaya memotong perjalanan riwayat alamiah
penyakit dengan dukungan IPTEK kedakteran dan IKM.
Contoh penyakit malaria dengan membasmi tempat berkembang biaknya jentik
nyamuk.
DASAR KONSEP PENCEGAHAN
Tahapan utama dalam pencegahan:
1. Pencegahan primer
a. Peningkatan kesehatan (health promotion)
b. Perlindungan khusus (spesifik protection)
2. pencegahan sekunder
3. Pencegahan tersier
a. Disability limitation
b. Rehabilitation
PENCEGAHAN PRIMER
1. Pencegahan Primer
Pencegahan primer dilakukan pada periode pre patogenesis = seolah olah
penyakit belum terjadi.
Dasar pemikiran :
a. Meningkatkan daya tahan host terhadap serangan agent.
b. Menghindarkan kontak antara host dan agent.
c. Melenyapkan agent penyakit.

Pencegahan primer dibagi atas 2 tingkatan yaitu :


a. Peningkatan kesehatan (health promotion)
Merupakan tindakan pencegahan penyakit untuk masalah umum.
Tujuannya adalah meningkatkan dan membina kondisi sehat yang sudah
ada hingga dapat dipertahannkan dari ancaman penyakit secara umum.
Tindakan yang termasuk peningkatan kesehatan :
- Pemberian makanan bergizi
- Sanitasi yang baik
- kebersihan perorangan
- penyuluhan kesehatan secara umum
- Nasehat perkawinan
- penyuluhan mengenai sex
- olah raga
- pemeriksaan kesehatan secara rutin
- Peningkatan standart hidup dan kesejahteraan keluarga.
b. Perlindungan khusus (spesific protection)
Merupakan tindakan pencegahan terhadap penyakit tertentu, ditujukan pada
kelompok berisiko tinggi, contoh:
- Imunisasi spesifik
- Pemberian makanan khusus
- perlindungan terhadap penyakit akibat kerja
- perlindungan terhadap kecelakaan khusus di lingkungan tertentu.
- perlindungan terhadap bahan bahan yang bersifatkarsinogenik.
PENCEGAHAN SEKUNDER
2. Pencegahan sekunder
Merupakan tingkat pencegahan dalam bentuk early diagnosis and prompt
treatment (diagnosa dini dan pengobatan segera).
Tujuannya menghentikan proses penyakit pada tingkat permulaan sehingga tidak
bertambah parah.
Pada tahap ini agent penyakit sudah masuk ke host, mulai bersarang dan
mengadakan penggandaan dan menyebabkan perubahan fungsi organ .
Keluhan dan gejala penyakit belum nampak, namun tergantung dari masa inkubasi
dan tingkat kekebalan tubuh penderita.
Pinsip early diagnosis and prompt treatment banyak diterapkan pada program
pencegahan, pemberantasan dan pembasmian penyakit menular dan tidak menular
dan mempunyai prevalensi tinggi di masyarakat, misalnya TB paru, kusta, kangker,
diabetes mellitus, gangguan gizi, dll.
Tindakan yang tergolong pada tahap pencegahan sekunder antara lain:
1. upaya penemuan kasus, baik secara aktif maupun pasif, perorangan, keluarga
maupun masyarakat berisiki tinggi.
2. Survey kesehatan
3. Monitoring dan surveilans epidemiologis
4. Screening survey
5. Pemeriksaan selektip dan periodik.
PENCEGAHAN TERSIER
Pencegahan tersier merupakan tahap pencegahan yang dilakukan pada stadium
lanjut dimana penderita sudah dalam kondisi sakit yang jelas dinyatakan secara
klinis, bahkan sudah lanjut.
Pencegahan primer terdiri atas:
A. Disability limitation (membatasi ketidakmampuan).
Meskipun pada tahap ini sebenarnya sudah masuk pada tahapan
pengobatan, tapi bisa saja dianggap sebagai pencegahan agar penyakit tidak lebih
parah lagi atau mencegah supaya penderita tidak sampai meninggal.
Apabila hal tersebut bisa dihindari maka penderita akan sembuh masuk
ke tahap recovery
B. Rehabilitation
tingkat rehabilitasi / pemulihan menyangkut tindakan pada lintas sektoral
(kedokteran, kesehatan masyarakat, diklat, dan bidang terkait lainnya guna
menempatkan kembali penderita pada kedudukan dan fungsi semula.
Beberapa tempat rehabilitasi khusus :
- tempat pendidikan untuk tuna netra-tuna rungu.
- tempat pendidikan anak cacad dan terbelakang
- bedah rekonstruksi mantan penderita kusta
- Fisioterapi dan pelatihan penderita kusta

MASALAH KESEHATAN MASYARAKAT


Pola penyakit dan penyebab kematian
Masalah = kesenjangan antara harapan dan kenyataan.
Pola penyakit adalah gambaran perubahan masalah kesehatan dari waktu ke waktu
di suatu daerah.
Pola penyakit senantiasa berubah-ubah, hal ini disebabkan karena beberapa faktor :
- lingkungan (fisik, sosial, ekonomi, politik, budaya)
-faktor yang ada dalam masyarakat (pendidikan, adat kebiasaan,
perilaku, sikap mental, demografi)
- kemampuan pelayanan kesehatan
- faktor bawaan (keturunan)
Faktor lingkungan memberikan andil yang paling besar terhadap perubahan pola
penyakit.
Keseimbangan lingkungan yang terganggu akibat pengambilan dan pembuangan
yang terkait dengan aktifitas manusia mengakibatkan gangguan kesehatan,
kenyamanan, ekonomi dan sosial.
Perkembangan IPTEK berpengaruh terhadap tingginya angka kesakitan pada
masyarakat, yang berdampak pada perubahan pola penyakit di masyarakat tersebut.
Pada negara-negara berkembang 10 besar penyakit penyebab kematian sudah
bergeser dari penyakit menular (pnemonia dan influensa, TB, diare) menjadi
penyakit tidak menular (PJK, kanker, stroke) dalam kurun waktu hampir 70 tahun
sejak tahun 1900.
Kelompok penyakit menular tersebut dewasa ini diperkirakan merupakan 50% dari
semua penyebab kematian utama di negara maju.
Masalah kesehatan di Indonesia
Tujuan pembangunan di bidang kesehatan (UU no 23 1992) tentang kesehatan
adalah untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan bagi setiap orang
agar terwujud derajat kesehatan yang optimal sebagai salah satu unsur
kesejahteraan rakyat umum.
Sistem Kesehatan Nasional (SKN) menggambarkan masalah kesehatan di
Indonesia sampai menjelang 2000.
Didalam SKN ada beberapa hal yang dibahas antara lain:
1. Keadaan umum dan lingkungan (stabilitas nasional, masalah kependudukan,
lingkungan sosial budaya, ekonomi dan lingkungan).
2. Derajad kesehatan.
3. Upaya pelayanan kesehatan.
4. Keadaan yang menunjang pembangunan kesehatan
Sistem Kesehatan Nasional
1. Keadaan umum dan lingkungan
masalah kependudukan : pertumbuhan cepat dan tidak merata, angka
kematian bayi dan balita masih tinggi.
lingkungan sosial-budaya : tingkat kecerdasan msh relatif rendah, yang
berpengaruh terhadap perilaku hidup sehat.
Keadaan ekonomi : meskipun perkapita sdh meningkat tapi belum
merata, tingginya jumlah angkatan kerja, lapangan kerja terbatas, yang
berpengaruh terhadap pemenuhan kebutuhan hidup.
lingkungan fisik dan biologis : terancamnya kelestarian lingkungan
yang berdampak pada kondisi kesehatan masyarakat secara umum.
2. Derajat kesehatan
derajad kesehatan masyarakat ditunjukkan oleh indikator angka kematian
secara umum dan khusus, prevalensi penyakit menular maupun tidak menular,
pergeseran pola penyakit di masa datang.
3. Upaya pelayanan kesehatan
menggambarkan tentang :
jangkauan upaya pelayanan kesehatan
sumber-daya, baik tenaga, dana dan sarana yang masih terbatas.
manajemen upaya kesehatan.
peran serta masyarakat dan kerja-sama lintas sektoral.
4. Keadaan yang menunjang pembangunan kesehatan
Dikaitkan dengan stabilitas politik yang mantap, tingkat pendidikan
masyarakat yang tinggi, meningkatnya pendapatan nasional dan penghasilan
masyarakat, pentingnya pembangunan kesehatan dan perilaku hidup sehat.
Prioritas :
peran serta masyarakat dan lintas sektoral
pendidikan kesehatan masyarakat
Angka kesakitan dan kematian yang tinggi
manajemen dan pelaksanaan upaya kesehatan.
Sumber daya, terutama tenaga dan dana yang masih terbatas
Hal hal penyebab cacad fisik dan gangguan jiwa
Indikator kesehatan
Indikator kesehatan merupakan suatu penunjuk berskala kwantitatif/ skala
pengukuran ordinal (berjenjang) mengenai kesehatan / program pelayanan
kesehatan di suatu wilayah.
Sebagai penunjuk kesehatan dapat bersifat umum atau spesifik.
Contoh :
Angka kematian kasar (crude death rate)
CDR =( jml kematian pddk dalam 1 th/ jml pdkk
pd pertengahan th) x 1000
Angka kelahiran kasar (crude birth rate)
CBR = (jml kelahiran pdkk dlm 1 th/jml pdkk pd pertengahan th)x1000 dll
Profil kesehatan
Profil kesehatan merupakan penggambaran keadaan dan masalah kesehatan serta
penampilan dan pencapaian upaya-upayanya sampai ke ukuran dampaknya dengan
cara menyajikan indikatorindikator yang relevan dengan permasalahan yang dibahas
atau ditunjukkan.
Penyajian data dan indikator biasanya dimulai dari penggambaran situasi umum dan
keadaan daerah, geografis, sarana pelayanan umum, kependudukan, lingkungan
fisik, sosial, ekonomi, budaya, dll yang berpengaruh terhadap kesehatan yang
dibahas.
Profil kesehatan biasanya dipublikasikan oleh instansi terkait Dinas kesehatan
(propinsi atau pusat) pada periode 1 tahun dalam bentuk laporan resmi, majalah.
Informasi yang ada pada profil kesehatan sangat bermanfaat bagi penentu kebijakan
dan pengambil keputusan di bidang kesehatan di lingkungan setempatatau lintas
sektoral sebagai evaluasi untuk melakukan perencanaan kegiatan .
Tugas kelompok
Presentasikan gambaran mengenai kondisi kesehatan masyarakat di Indonesia atau
di suatu daerah / spesifik.
Paparkan mengenai
Masalah kependudukan, lingkungan sosial budaya, keadaan ekonomi, lingkungan.
Derajad kesehatan masyarakat setempat
Upaya pelayanan kesehatan yang ada
Hal-hal yang menunjang pembangunan kesehatan
Bagaimana kesimpulan secara umum dari kondisi kesehatan pada daerah yang
diamati.