Anda di halaman 1dari 22

PAPER

PERBENGKELAN PERTANIAN
(Ulir dan Roda Gigi)

Oleh :
Nama : Fia Noviyanti
NPM : 240110100053
Kelas : TMIP A

LABORATORIUM PERBENGKELAN PERTANIAN


JURUSAN TEKNIK DAN MANAJEMEN INDUSTRI PERTANIAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2012
1. Ulir
Ulir adalah alur yang berputar, biasanya terdapat pada benda silinder yang
memiliki fungsi untuk menghubungkan satu benda dengan benda lainnya.
1.1 Fungsi Ulir
Dengan adanya system ulir memungkinkan kita untuk menggabungkan
atau menyambung beberapa komponen menjadi satu unit produk jadi.
Berdasarkan hal ini maka fungsi dari ulir secara umum dapat dikatakan sebagai
berikut:
a. Sebagai alat pemersatu, artinya menyatukan beberapa komponen
menjadi satu unit barang jadi. Biasanya yang digunakan adalah ulir-
ulir segi tiga baik ulir yang menggunakan standar ISO, British
Standard maupun American Standard.
b. Sebagai penerus daya, artinya sistem ulir digunakan untuk
memindahkan suatu daya menjad daya lain misalnya system ulir pada
dongkrak, sistem ulir pada dongkrak, sistem ulir pada poros berulir
(transportir) pada mesin-mesin produksi, dan sebagainya. Dengan
adanya sistem ulir inimaka beban yang relatif berat dapat
ditahan/diangkat dengan daya yang relative ringan.
c. Sebagai salah satu alat untuk mencegah terjadinya kebocoran, terutama
pada sistem ulir yang digunakan pada pipa. Kebanyakan yang dipakai
untuk penyambungan pipa adalah ulir-ulir Whitworth.
1.2 Jenis Ulir
Ulir digolongkan menurut bentuk profil penampangnya sebagai berikut:
ulir segitiga, persegi, trapesium, dan gigi gergaji. Pada umumnya dipakai untuk
penggerak atau penerus gaya, sedangkan ulir bulat dipakai untuk menghidari
kemacetan karena kotoran, tetapi ulir yang banyak dipakai adalah ulir segitiga.
Ulir segitiga diklasifikasikan lagi menurut jarak baginya dalam ukuran metris dan
inch, dan menurut ulir kasar dan lembut sebagai berikut:
a. Seri ulir kasar metris
b. Seri ulir kasar UNG
c. Seri ulir lembut simetris
d. Seri ulir lembut UNF
1.3 Penggunaan Ulir
Penggunaan ulir yang sering kita lihat di bengkel diantaranya:
a. Sekrup
b. Tutup botol
c. Ragum
d. Mesin bubut
e. Frais, dll
1.4 Perhitungan Ulir
1.5 Proses Pembuatan Ulir
Proses pembuatan ulir bisa dilakukan pada mesin bubut. Pada mesin bubut
konvensional (manual) proses pembuatan ulir kurang efisien, karena pengulangan
pemotongan harus dikendalikan secara manual, sehingga proses pembubutan lama
dan hasilnya kurang presisi. Dengan mesin bubut yang dikendalikan CNC proses
pembubutan ulir menjadi sangat efisien dan efektif, karena sangat memungkinkan
membuat ulir dengan kisar (pitch) yang sangat bervariasi dalam waktu relatif
cepat dan hasilnya presisi. Nama-nama bagian ulir segi tiga dapat dilihat pada
gambar dibawah.
Gambar 1.Nama-nama bagian ulir
Ulir segi tiga tersebut bisa berupa ulir tunggal atau ulir ganda. Pahat yang
digunakan untuk membuat ulir segi tiga ini adalah pahat ulir yang sudut ujung
pahatnya sama dengan sudut ulir atau setengah sudut ulir. Untuk ulir metris, sudut
ulir adalah 60, sedangkan ulir whitwoth sudut ulir 55. Identifikasi ulir biasanya
ditentukan berdasarkan diameter mayor dan kisar ulir (Tabel 1). Misalnya ulir
M50,8 berarti ulir metris dengan diameter mayor 5 mm dan kisar (pitch) 0,8 mm.
Tabel 1. Dimensi Ulir Metris
Selain ulir Metris pada mesin bubut bisa juga dibuat ulir whitworth (sudut
ulir 55). Identifikasi ulir ini ditentukan oleh diamater mayor ulir dan jumlah ulir
tiap inchi (Tabel 6.2). Misalnya untuk ulir Whitwoth 3/8 jumlah ulir tiap inchi
adalah 16 (kisarnya Selain ulir Metris pada mesin bubut bisa juga dibuat ulir
whitworth (sudut ulir 55). Identifikasi ulir ini ditentukan oleh diamater mayor ulir
dan jumlah ulir tiap inchi (Tabel 6.2). Misalnya untuk ulir Whitwoth 3/8 jumlah
ulir tiap inchi adalah 16 (kisarnya 0,0625). Ulir ini biasanya digunakan untuk
membuat ulir pada pipa (mencegah kebocoran fluida).

Tabel 2. Dimensi Ulir Whitworth


Selain ulir segitiga, pada mesin bubut bisa juga dibuat ulir segi empat
(Gambar dibawah). Ulir segi empat ini biasanya digunakan untuk ulir daya.
Dimensi utama dari ulir segi empat pada dasarnya sama dengan ulir segi tiga
yaitu: diameter mayor, diameter minor, kisar (pitch), dan sudut helix. Pahat yang
digunakan untuk membuat ulir segi empat adalah pahat yang dibentuk (diasah)
menyesuaikan bentuk alur ulir segi empat dengan pertimbangan sudut helix ulir.
Pahat ini biasanya dibuat dari HSS atau pahat sisipan dari bahan karbida.

Gambar 2. Ulir segi empat


1.5.1 Pahat Ulir
Pada proses pembuatan ulir dengan menggunakan mesin bubut manual
pertama-tama yang harus diperhatikan adalah sudut pahat. Pada Gambar atas.
ditunjukkan bentuk pahat ulir metris dan alat untuk mengecek besarnya sudut
tersebut (60). Pahat ulir pada gambar tersebut adalah pahat ulir luar dan pahat
ulir dalam. Selain pahat terbuat dari HSS pahat ulir yang berupa sisipan ada yang
terbuat dari bahan karbida (Gambar bawah).

Gambar 3. Pahat ulir metris dan mal ulir untuk ulir luar dan ulir dalam
Gambar 4. Proses pembuatan ulir luar dengan pahat sisipan
Setelah pahat dipilih, kemudian dilakukan setting posisi pahat terhadap
benda kerja. Setting ini dilakukan terutama untuk mengecek posisi ujung pahat
bubut terhadap sumbu.

Gambar 5. Setting pahat bubut untuk proses pembuatan ulir luar


Setelah itu dicek posisi pahat terhadap permukaan benda kerja, supaya
diperoleh sudut ulir yang simetris terhadap sumbu yang tegak lurus terhadap
sumbu benda kerja (Gambar dibawah). Gambar dibawah Setting pahat bubut
untuk proses pembuatan ulir luar Gambar diatas Proses pembuatan ulir luar
dengan pahat sisipan Parameter pemesinan untuk proses bubut ulir berbeda
dengan bubut rata. Hal tersebut terjadi karena pada proses pembuatan ulir harga
gerak makan (f ) adalah kisar (pitch) ulir tersebut, sehingga putaran spindel tidak
terlalu tinggi (secara kasar sekitar setengah dari putaran spindel untuk proses
bubut rata). Perbandingan harga kecepatan potong untuk proses bubut rata (stright
turning) dan proses bubut ulit (threading) dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 3. Kecepatan Potong Proses Bubut Rata dan Proses Bubut Ulir untuk Pahat
HSS
1.5.2 Langkah Penyayatan Ulir

Gambar 6. Eretan atas diatur menyudut terhadap sumbu tegak lurus benda kerja
dan arah pemakanan pahat bubut
Supaya dihasilkan ulir yang halus permukaannya perlu dihindari
kedalaman potong yang relatif besar. Walaupun kedalaman ulir kecil (misalnya
untuk ulir M10 1,5, dalamnya ulir 0,934 mm), proses penyayatan tidak
dilakukan sekali potong, biasanya dilakukan penyayatan antara 5 sampai 10 kali
penyayatan ditambah sekitar 3 kali penyayatan kosong (penyayatan pada diameter
terdalam).
Hal tersebut karena pahat ulir melakukan penyayatan berbentuk V. Agar
diperoleh hasil yang presisi dengan proses yang tidak membahayakan operator
mesin, maka sebaiknya pahat hanya menyayat pada satu sisi saja (sisi potong
pahat sebelah kiri untuk ulir kanan, atau sisi potong pahat sebelah kanan
untuk ulir kiri). Proses tersebut dilakukan dengan cara memiringkan eretan atas
dengan sudut 29 untuk ulir metris. Untuk ulir acme dan ulir cacing
dengan sudut 29, eretan atas dimiringkan 14,5. Proses penambahan
kedalaman potong (dept of cut) dilakukan oleh eretan atas.
Langkah-langkah proses bubut ulir dengan menggunakan mesin
konvensional dilakukan dengan cara-cara berikut:
1) Memajukan pahat pada diameter luar ulir.
2) Setting ukuran pada handle ukuran eretan atas menjadi 0 mm.
3) Tarik pahat ke luar benda kerja, sehingga pahat di luar benda kerja dengan
jarak bebas sekitar 10 mm di sebelah kanan benda kerja.
4) Atur pengatur kisar menurut tabel kisar yang ada di mesin bubut, geser
handle gerakan eretan bawah untuk pembuatan ulir.
5) Masukkan pahat dengan kedalaman potong sekitar 0,1 mm.
6) Putar spindel mesin (kecepatan potong mengacu Tabel 3) sampai panjang
ulir yang dibuat terdapat goresan pahat, kemudian hentikan mesin dan
tarik
pahat keluar.
7) Periksa kisar ulir yang dibuat dengan menggunakan caliber ulir (screw
pitch gage). Apabila sudah sesuai maka proses pembuatan ulir
dilanjutkan. Kalau kisar belum sesuai periksa posisi handle pengatur kisar
pada mesin bubut.
8) Gerakkan pahat mundur dengan cara memutar spindel arah kebalikan,
hentikan setelah posisi pahat di depan benda kerja (Gerakan seperti
gerakan pahat untuk membuat poros lurus).
9) Majukan pahat untuk kedalaman potong berikutnya dengan memajukan
eretan atas.
10) Langkah dilanjutkan seperti No. 7 sampai kedalaman ulir maksimal
tercapai.
Gambar 7. Pengecekan kisar ulir dengan kaliber ulir
11) Pada kedalaman ulir maksimal proses penyayatan perlu dilakukan
berulang-ulang agar beram yang tersisa terpotong semuanya.
12) Setelah selesai proses pembuatan ulir, hasil yang diperoleh dicek ukuranya
(diameter mayor, kisar, diameter minor, dan sudut ulir).

2. Roda Gigi
Roda gigi adalah bagian dari mesin yang berputar yang berguna untuk
mentransmisikan daya. Roda gigi memiliki gigi-gigi yang saling bersinggungan
dengan gigi dari roda gigi yang lain. Dua atau lebih roda gigi yang bersinggungan
dan bekerja bersama-sama disebut sebagai transmisi roda gigi, dan bisa
menghasilkan keuntungan mekanis melalui rasio jumlah gigi. Roda gigi mampu
mengubah kecepatan putar, torsi, dan arah daya terhadap sumber daya. Tidak
semua roda gigi berhubungan dengan roda gigi yang lain; salah satu kasusnya
adalah pasangan roda gigi dan pinion yang bersumber dari atau menghasilkan
gaya translasi, bukan gaya rotasi.
Transmisi roda gigi analog dengan transmisi sabuk dan puli. Keuntungan
transmisi roda gigi terhadap sabuk dan puli adalah keberadaan gigi yang mampu
mencegah slip, dan daya yang ditransmisikan lebih besar. Namun, roda gigi tidak
bisa mentransmisikan daya sejauh yang bisa dilakukan sistem transmisi roda dan
puli kecuali ada banyak roda gigi yang terlibat di dalamnya.
Ketika dua roda gigi dengan jumlah gigi yang tidak sama dikombinasikan,
keuntungan mekanis bisa didapatkan, baik itu kecepatan putar maupun torsi, yang
bisa dihitung dengan persamaan yang sederhana. Roda gigi dengan jumlah gigi
yang lebih besar berperan dalam mengurangi kecepatan putar namun
meningkatkan torsi.
Rasio kecepatan yang teliti berdasarkan jumlah giginya merupakan
keistimewaan dari roda gigi yang mengalahan mekanisme transmisi yang lain
(misal sabuk dan puli). Mesin yang presisi seperti jam tangan mengambil banyak
manfaat dari rasio kecepatan putar yang tepat ini. Dalam kasus di mana sumber
daya dan beban berdekatan, roda gigi memiliki kelebihan karena mampu didesain
dalam ukuran kecil. Kekurangan dari roda gigi adalah biaya pembuatannya yang
lebih mahal dan dibutuhkan pelumasan yang menjadikan biaya operasi lebih
tinggi.
Ilmuwan Yunani Kuno Archimedes pertama kali mengembangkan roda
gigi dalam ilmu mekanika di sekolah Aleksandria pada abad ketiga sebelum
masehi. Mekanisme Antikythera adalah contoh aplikasi roda gigi yang rumit yang
pertama, yang didesain untuk menghitung posisi astronomi. Waktu pengerjaan
mekanisme ini diperkirakan antara 150 dan 100 SM
2.1 Jenis-jenis Roda Gigi
2.1.1 Roda gigi spur
Spur adalah roda gigi yang paling sederhana, yang terdiri dari silinder atau
piringan dengan gigi-gigi yang terbentuk secara radial. Ujung dari gigi-giginya
lurus dan tersusun paralel terhadap aksis rotasi. Roda gigi ini hanya bisa
dihubungkan secara paralel.

Gambar 8. Roda Gigi Spur


2.1.2 Roda Gigi Dalam
Roda gigi dalam (atau roda gigi internal, internal gear) adalah roda gigi
yang gigi-giginya terletak di bagian dalam dari silinder roda gigi. Berbeda dengan
roda gigi eksternal yang memiliki gigi-gigi di luar silindernya. Roda gigi internal
tidak mengubah arah putaran.
Gambar 9. Roda Gigi Dalam
2.1.3 Roda Gigi Heliks
Roda gigi heliks (helical gear) adalah penyempurnaan dari spur. Ujung-
ujung dari gigi-giginya tidak paralel terhadap aksis rotasi, melainkan tersusun
miring pada derajat tertentu. Karena giginya bersudut, maka menyebabkan roda
gigi terlihat seperti (heliks).
Gigi-gigi yang bersudut menyebabkan pertemuan antara gigi-gigi menjadi
perlahan sehingga pergerakan dari roda gigi menjadi halus dan minim getaran.
Berbeda dengan spur di mana pertemuan gigi-giginya dilakukan secara langsung
memenuhi ruang antara gigi sehingga menyebabkn tegangan dan getaran. Roda
gigi heliks mampu dioperasikan pada kecepatan tinggi dibandingkan spur karena
kecepatan putar yang tinggi dapat menyebabkan spur mengalami getaran yang
tinggi. Spur lebih baik digunakan pada putaran yang rendah. Kecepatan putar
dikatakan tinggi jika kecepatan linear dari pitch melebihi 25 m/detik.
Roda gigi heliks bisa disatukan secara paralel maupun melintang. Susunan
secara paralel umum dilakukan, dan susunan secara melintang biasanya disebut
dengan skew.
Gambar 10. Roda Gigi Heliks
2.1.4 Roda Gigi Heliks Ganda
Roda gigi heliks ganda (double helical gear) atau roda gigi herringbone
muncul karena masalah dorongan aksial (axial thrust) dari roda gigi heliks
tunggal. Double helical gear memuliki dua pasang gigi yang berbentuk V
sehingga seolah-olah ada dua roda gigi heliks yang disatukan. Hal ini akan
menyebabkan dorongan aksial saling meniadakan. Roda gigi heliks ganda lebih
sulit untuk dibuat karena kerumitan bentuknya.

Gambar 11. Roda Gigi Heliks Ganda


2.1.5 Roda Gigi Bevel
Roda gigi bevel (bevel gear) berbentuk seperti kerucut terpotong dengan
gigi-gigi yang terbentuk di permukaannya. Ketika dua roda gigi bevel
mersinggungan, titik ujung kerucut yang imajiner akan berada pada satu titik, dan
aksis poros akan saling berpotongan. Sudut antara kedua roda gigi bevel bisa
berapa saja kecuali 0 dan 180.
Roda gigi bevel dapat berbentuk lurus seperti spur atau spiral seperti roda
gigi heliks. Keuntungan dan kerugiannya sama seperti perbandingan antara spur
dan roda gigi heliks.
Gambar 11. Roda Gigi Bevel
2.1.6 Roda Gigi Hypoid
Roda gigi hypoid mirip dengan roda gigi bevel, namun kedua aksisnya
tidak berpotongan.

Gambar 21. Roda Gigi Hypoid


2.1.7 Roda Gigi Mahkota
Roda gigi mahkota (crown gear) adalah salah satu bentuk roda gigi bevel
yang gigi-giginya sejajar dan tidak bersudut terhadap aksis. Bentuk gigi-giginya
menyerupai mahkota. Roda gigi mahkota hanya bisa dipasangkan secara akurat
dengan roda gigi bevel atau spur.

Gambar 22. Roda Gigi Hypoid


2.1.8 Roda Gigi Cacing
Roda gigi cacing (worm gear) menyerupai screw berbentuk batang yang
dipasangkan dengan roda gigi biasa atau spur. Roda gigi cacing merupakan salah
satu cara termudah untuk mendapatkan rasio torsi yang tinggi dan kecepatan putar
yang rendah. Biasanya, pasangan roda gigi spur atau heliks memiliki rasio
maksimum 10:1, sedangkan rasio roda gigi cacing mampu mencapai 500:1.
Kerugian dari roda gigi cacing adalah adanya gesekan yang menjadikan roda gigi
cacing memiliki efisiensi yang rendah sehingga membutuhkan pelumasan.
Roda gigi cacing mirip dengan roda gigi heliks, kecuali pada sudut gigi-
giginya yang mendekati 90 derajat, dan bentuk badannya biasanya memanjang
mengikuti arah aksial. Jika ada setidaknya satu gigi yang mencapai satu putaran
mengelilingi badan roda gigi, maka itu adalah roda gigi cacing. Jika tidak, maka
itu adalah roda gigi heliks. Roda gigi cacing memiliki setidaknya satu gigi yang
mampu mengelilingi badannya beberapa kali. Jumlah gigi pada roda gigi cacing
biasanya disebut dengan thread.
Dalam pasangan roda gigi cacing, batangnya selalu bisa menggerakkan
roda gigi spur. Jarang sekali ada spur yang mampu menggerakkan roda gigi
cacing. Sehingga bisa dikatakan bahwa pasangan roda gigi cacing merupakan
transmisi satu arah.
2.1.9 Roda Gigi Non-Sirkular
Roda gigi non-sirkular dirancang untuk tujuan tertentu. Roda gigi biasa
dirancang untuk mengoptimisasi transmisi daya dengan minim getaran dan
keausan, roda gigi non sirkular dirancang untuk variasi rasio, osilasi, dan
sebagainya.

Gambar 23. Roda Gigi Non-Sirkular


2.1.10 Roda Gigi Pinion
Pasangan roda gigi pinion terdiri dari roda gigi, yang disebut pinion, dan
batang bergerigi yang disebut sebagai rack. Perpaduan rack dan pinion
menghasilkan mekanisme transmisi torsi yang berbeda; torsi ditransmisikan dari
gaya putar ke gaya translasi atau sebaliknya. Ketika pinion berputar, rack akan
bergerak lurus. Mekanisme ini digunakan pada beberapa jenis kendaraan untuk
mengubah rotasi dari setir kendaraan menjadi pergerakan ke kanan dan ke kiri
dari rack sehingga roda berubah arah.

Gambar 24. Roda Gigi Pinion


2.1.11 Roda Gigi Episiklik
Roda gigi episiklik (planetary gear atau epicyclic gear) adalah kombinasi
roda gigi yang menyerupai pergerakan planet dan matahari. Roda gigi jenis ini
digunakan untuk mengubah rasio putaran poros secara aksial, bukan paralel.
Kombinasi dari beberapa roda gigi episiklik dengan mekanisme penghentian
pergerakan roda gigi internal menghasilkan rasio yang dapat berubah-ubah.
Mekanisme ini digunakan dalam kendaraan dengan transmisi otomatis.
Roda gigi planet yang sederhana dapat ditemukan pada zaman revolusi
industri di Inggris; ketika itu mekanisme roda gigi planet yang berupa roda gigi
pusat sebagai matahari dan roda gigi yang berputar mengelilinginya sebagai
planet, menjdi bagian utama dari mesin uap. Bagian ini mengubah gaya translasi
menjadi rotasi, yang kemudian dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan.

Gambar 25. Roda Gigi Pinion


2.2 Perhitungan Roda Gigi
a. Diameter Pitch Circle (P)
Rumus dari buku deutschman (hal 521)
P = Nt/d (in) ( 1 )
Dimana :
P = Diametral pitch
d = Diameter roda gigi ( inch )
Nt = Jumlah gigi ( buah )
b. Perbandingan Kecepatan (rv)
Rumus dari buku deutschman hal 525
rv = W2/W1 = NtP/Ntg = d1/d2 = n2/n1 ( 2 )
Dimana :
N1,n2 = putaran roda gigi ( rpm )
Nt1,Nt2 = jumlah gigi ( buah )
d1,d2 = diameter roda gigi ( inch )
c. Jarak Poros (C)
Rumus dari buku deutschman hal 528
C= d1+d2 (in) ( 3 )
Dimana :
C = jarak poros antara dua roda gigi
d = diameter roda gigi
d. Kecepatan Pitch Line / Garis Kontak (Vp)
Rumus dari buku deutschman hal 563
Vp = (ft/mnt) ( 4 )
Dimana :
Vp = kecepatan putaran
e. Torsi yang Bekerja
T= (5)
Dimana :
T = torsi yang bekerja
N = daya motor
n = putaran input
f. Gaya-gaya pada Roda Gigi

Gambar 2.7. Gaya-Gaya pada Roda Gigi


Gaya radial (Fr)
Fr = Fn.Sin = Fn.Cos ( 6 )
Gaya normal (Fn)
Fn =
Gaya tangensial (Ft)
Ft = ( 7 )
Gaya dinamis (Fd)
Fd = . Ft ( 8 )
Untuk 0 < Vp 2000 ft/menit
Fd =
Untuk 2000 < Vp 4000 ft/menit

Fd = . Ft
Untuk Vp > 4000 ft/min dimana Fw Fd dan Fb Fd
Dimana :
T = Torsi (lbm)
n = Putaran (rpm)
Ft = Gaya tangensial (lb)
Fn = Gaya normal (lb)
Fd = Gaya dinamis (lb)
Fr = Gaya radial (lb)
a. Lebar Gigi (b)
Rumus dari buku deutschman hal 584
b= (9)
Q=
Dimana :
b = Lebar gigi (in)
Fd = Gaya dinamis (in)
d1 = diameter pinion
d2 =diameter gear
Q = Perbandingan roda gigi
K = Faktor pembebanan
b. Syarat Keamanan Roda Gigi
b

c. Evaluasi Kekuatan Gigi (Persamaan AGMA)


Sad = (10)

t= ; Sad > t (syarat aman ) ( 11 )

Dimana :
Sat = Tegangan ijin Material
Kl = Faktor umur
Kt = Faktor temperature
Kr = Faktor keamanan
= Tegangan banding pada kaki gigi
Ko = Faktor koreksi beban lebih
Km = Koreksi distribusi beban
Kv = Faktor dinamis
J = Faktor bentuk geometris
d. Menentukan Gaya bending Pada Pinion dan Gear (Fb)
Rumus dari buku deutschman hal 551
( 12 )
Dimana :
Fb = Gaya bending
So = Kekuatan permukaan gigi
Y = Faktor bentuk Lewis
b = diameter pitch
P = lebar gigi
e. Menentukan Panjang Garis Kontak Gigi

[( ) ( ) ]

l. Menentukan Perbandingan Kontak (kontak ratio)

Dimana :
AB = Panjang garis kontak
CR = Kontak ratio
M. Standart Ukuran Roda Gigi
Tabel 2.1. Standart Ukuran Roda Gigi

Nama 20 20 dipotong 25

Addendum (A)

Dedendum (b)

Tinggi gigi (c)

Tinggi kontak (d)

Celah /
Gambar 2.8. Bagian-bagian pada Roda Gigi
PROSES PEMBUATAN ULIR
Posted on June 14, 2011

sumber :http//galuh-dwi.blogspot.com
http://afrizalrasyidana.wordpress.com/2011/06/14/proses-pembuatan-ulir-3/
http://www.search-document.com/pdf/1/1/prosespembuatan-ulir-dengan-mesin-
bubut.html#
http://www.scribd.com/doc/17830905/MEMBUAT-RODA-GIGI
http://id.wikipedia.org/wiki/Roda_gigi
http://teknik-mesin1.blogspot.com/2012/01/proses-pembuatan-roda-gigi.html
http://www.scribd.com/doc/57464270/25/Perhitungan-roda-gigi-7-8-dan-9