Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH

MANAJEMEN OPERASIONAL
( Manajemen Persediaan )

Disusun oleh:

PUTRI PERDANI ( 151030013 )

RIFANI (151030033)

UNIVERSITAS WAHID HASYIM SEMARANG

2017

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis haturkan kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat-Nya maka
kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul MANAJEMEN
PERSEDIAAN . Penulisan makalah adalah merupakan salah satu tugas dan persyaratan
untuk menyelesaikan tugas mata kuliah Manajemen Operasional Universitas Wahid
Hasyim Semarang.
Dalam Penulisan makalah ini kami merasa masih banyak kekurangan-kekurangan
baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki. Untuk
itu kritik dan saran dari semua pihak sangat kami harapkan demi penyempurnaan pembuatan
makalah ini.
Dalam penulisan makalah ini kami menyampaikan ucapan terima kasih yang tak
terhingga kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan makalah ini. Semoga
makalah ini bermanfaat bagi kita semua,khususnya bagi penyusun.

Semarang, 01 Juni 2017

Penulis

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................................... 2

DAFTAR ISI.............................................................................................................................. 3

BAB I ......................................................................................................................................... 4

PENDAHULUAN ..................................................................................................................... 4

1.1 Latar Belakang ................................................................................................................. 4

1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................................ 5

BAB II........................................................................................................................................ 6

PEMBAHASAN ........................................................................................................................ 6

BAB III .................................................................................................................................... 12

PENUTUP................................................................................................................................ 12

DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................................. 13

3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sejalan dengan laju perkembangan yang terus berkembang di Indonesia, maka banyak
bermunculan perusahaan, baik perusahaan kecil maupun perusahaan besar. Tujuan utama
suatu perusahaan yaitu memperoleh laba seoptimal mungkin dan mengawasi berjalannya
perusahaan serta berkembangnya perusahaan, maka hal yang perlu dilakukan oleh suatu
perusahaan adalah mengadakan penilaian terhadap persediaan dan pengaruhnya terhadap
laba perusahaan. Hal ini dilakukan karena persediaan bagi kebanyakan perusahaan
merupakan salah satu modal kerja yang sangat penting didalam suatu perusahaan,
dimana prosedurnya terus menerus mengalami perubahan dan perputaran.
Dalam suatu perusahaan, pelaporan mengenai persediaan sangat penting bagi perusahaan
dalam mengambil suatu keputusan dan persediaan merupakan salah satu dari beberapa
unsur yang paling aktif dalam operasi perusahaan yang secara terus meneru diperoleh,
diproduksi dan dijual. Oleh karena itu, system akuntansi itu sendiri harus dilaksanakan
sebaik mungkin sehingga tidak mengalami hal-hal yang mengganggu jalannya operasi
perusahaan. Pelaporan persediaan yang diteliti dan relevan dianggap vital untuk
memberikan informasi yang berguna bagi perusahaan. Apabila terjadi kesalahan dalam
pencatatan persediaan, maka akan mengakibatkan kesalahan dalam menentukan besarnya
laba perusahaan yang diperoleh. Jika persediaan akhir dinilai terlalu rendah dan
mengakibatkan harga pokok barang yang dijual terlalu rendah, maka pendapatan bersih
akan mengalami peningkatan.
Begitu juga dengan lamanya persediaan yang tersimpan digudang akan mempengaruhi
biaya sehingga kemungkinan akan terjadinya kerusakan yang mengakibatkan kerugian
dan kemungkinan juga persediaan akan kadaluarsa sehingga tidak laku.
Dari penjelasan diatas, maka dapat diketahui bahwa persediaan sangat penting artinya
bagi perusahaan. Dalam hal ini penulis merasa tertarik untuk lebih mengetahui dan
memahami bagaimana persediaan dimanage secara benar yang diterapkan dalam suatu
perusahaan agar membawa manfaat yang baik dalam pencapaian laba yang diinginkan.
Menurut prinsip-prinsip akuntansi persediaan merupakan barang dagang yang disimpan
kemudian dijual dalam operasi normal perusahaan.

4
Bahan baku, barang dalam proses dan barang jadi merupakan macam-macam bentuk dari
persediaan dan persediaan berhubungan dengan stok dari apapun yang diperlukan untuk
menjalankan bisnis. Meskipun persediaan mewakili sebagian besar dari investasi bisnis
yang harus dikelolah dengan baik untuk memaksimalkan keuntungan.

Persediaan berhubungan dengan bermacam-macam: mencari perimbangan antara jumlah


stock yang benar tetapi tidak terlalu banyak, meningkatkan turnover persediaan tampa
mengorbankan tingkat pelayanan, menjaga stok terendah tetapi tidak membahayakan
kinerja, memelihara bermacam-macam stok yang sangat luas tetapi tidak menghabiskan
dengan cepat sehingga menipis, mempunyai persedian yang mencukupi tampa item-item
yang usang atau tidak terpakai, selalu mempunyai stock yang diinginkan tetapi tidak
item yang lambat, Ketika persediaan tidak dikelolah dengan benar dan menjadi tidak
dipercaya, tidak efisien dan mahal, tidak hanya item yang disimpan, pajak asuransi dan
juga biaya yang ada dalam inventory.

1.2 Rumusan Masalah


a. Pengertian Persediaan.
b. Pengertian manajemen persediaan.
c. Biaya-Biaya yang Terdapat dalam Persediaan.
d. Jenis-Jenis Persediaan.
e. Sistem Persediaan Economic Order Quantity.
f. Sistem Persediaan Just In Time.
g. Sistem Persediaan Just In Case.

5
BAB II

PEMBAHASAN
Persediaan

Persediaan atau inventory adalah salah satu elemen utama dari modal kerja yang terus
menerus mengalami perubahan. Tanpa persediaan, perusahaan akan menghadapi risiko, yaitu
tidak dapat memenuhi keinginan pelanggan atas barang produksi. Menurut Sofyan Assauri
(1978 : 176), persediaan adalah sebagai suatu aktiva yang meliputi barang-barang milik
perusahaan dengan maksud untuk dijual dalam suatu periode usaha normal atau persediaan
barang-barang yang masih dalam pekerjaan proses produksi ataupun persediaan bahan baku

yang menunggu penggunaannya dalam suatu proses produksi . Sedangkan M Munandar


(1979 : 94) mengatakan persediaan adalah Sebagai persediaan barang-barang (bahan-bahan)
yang menjadi objek usaha pokok perusahaan.

Manajemen persediaan

Kemudian manajemen persediaan adalah bahan atau barang yang disimpan yang akan
digunakan untuk memenuhi tujuan tertentu, misalnya untuk digunakan dalam proses produksi
atau perakitan, untuk dijual kembali, atau untuk suku cadang dari suatu peralatan atau mesin.
Persediaan dapat berupa bahan mentah, bahan pembantu, barang dalam proses, barang jadi,
ataupun suku cadang. Bisa dikatakan tidak ada persuhaan yang beroperasi tanpa persediaan,
meskipun sebenarnya persediaan hanyalah suatu sumber dana yang menganggur, karena
sebelum persediaan digunakan berarti dana yang terikat didalamnya tidak dapat digunakan
untuk keperluan yang lain. Begitu pentingnya persediaan ini sehingga para akuntan
memasukkannya dalam neraca sebagai salah satu pos aktiva lancar.

Biaya-Biaya yang Terdapat dalam Persediaan

Persediaan akan menimbulkan biaya yang merupakan bagian dari harga pokok produksi.
Adapun unsur-unsur biaya yang terdapat dalam persediaan dapat digolongkan atas:

6
a. Biaya pemesanan (ordering cost)

Biaya pemesanan adalah biaya-biaya yang dikeluarkan dalam pemesanan barang atau bahan,
sejak pemesanan dilakukan hingga barang tersebut dikirim dan diserahkan serta diinspeksi di
gudang. Biaya ini diluar harga barang. Termasuk ke dalam biaya pemesanan antara lain:

1. Biaya administrasi dan penempatan pesanan (cost of placing order)


2. Biaya pengangkutan dan bongkar muat (shipping and handling cost)
3. Biaya penerimaan dan pemeriksaan

b. Biaya Penyimpanan ( inventory carrying cost )

Biaya penyimpanan adalah biaya-biaya yang diperlukan dalam penyimpanan persediaan.


Biaya ini bersifat variabel dan berhubungan dengan tingkat rata-rata persediaan yang terdapat
di gudang sehingga besar biaya tergantung dari jumlah persediaan yang ada. Termasuk ke
dalam biaya penyimpanan adalah:

1. Sewa gudang
2. Asuransi dan pajak persediaan
3. Upah dan gaji tenaga pengawas serta pelaksanaan gudang
4. Biaya administrasi gudang
5. Penghapusan, risiko ketinggalan zaman, kerusakan, dan penurunan nilai harga barang.
6. Semua biaya yang dikeluarkan perusahaan sebagai akibat adanya sejumlah
persediaan.

c. Biaya Akibat Persediaan yang Kurang (Out Of Stock Cost)

Biaya tersebut timbul sebagai akibat jumlah persediaan yang lebih kecil dari yang diperlukan.
Jika persediaan kurang, dilakukan pemesanan lagi sehingga otomotis juga menimbulkan
biaya tambahan.

d. Biaya Kapasitas Gudang ( Capacity Associated Cost )

Pekerjaan di gudang beraneka ragam sehingga terjadi biaya kesibukan gudang seperti:

1. Biaya lembur
2. Biaya pemecatan dan pemberitahuan karyawan gudang, dan lain-lain.

7
Jenis-Jenis Persediaan

Dalam praktiknya terdapat tiga jenis persediaan, khususnya untuk perusahaan


manufaktur,yaitu :

a. Bahan Baku

Bahan baku adalah bahan yang digunakan untuk mengolah sebuah produk yang sifatnya
dapat diidentifikasi dan melekat pada produk. Jumlah persediaan bahan baku biasanya
dipengaruhi oleh :

1. Seberapa besar perkiraan produksi yang akan datang.


2. Bagaimana sifat musiman produksi.
3. Keandalan sumber pengadaan persediaan yang ada.
4. Tingkat efisiensi pertahapan operasi pembelian dan produksi.
5. Sifat dari bahan baku.
6. Harga bahan baku.
7. Kapasitas gudang atau tempat yang dimiliki dan pertimbangan lainnya.

b. Barang dalam Proses (barang jadi)

Barang dalam proses merupakan bahan baku yang sudah diproses, sehingga menjadi barang
dalam proses atau dikenal juga dengan nama barang setengah jadi. Faktor-faktor yang
memengaruhi persediaan barang dalam proses adalah :

1. Ketersediaan bahan baku, artinya jika bahan baku tidak tersedia dengan kebutuhan
maka akan menghambat proses barang setengah jadi.
2. Jangka waktu masa produksi, yaitu waktu artinya waktu mulai dari memasukkan
bahan baku sampai menjadi barang jadi.
3. Perputaran persediaan, dalam hal ini untuk mempersingkat masa produksi dapat
dilakukan dengan cara:
Memperbaiki teknik produksi, sehingga proses barang jadi menjadi lebih
cepat,
Cara lainnya adalah membeli bukannya membuat barang setengah jadi.

8
c. Barang Jadi

Persediaan barang jadi adalah barang yang sudah melalui tahap barang setengah jadi dan siap
untuk dijual kepasar atau ke konsumen. Ketersediaan barang jadi ditentukan bagian produksi
dan penjualan. Artinya perlu koordinasi antara tingkat produksi dengan tingkat penjualan.
Faktor-faktor yang memengaruhi barang jadi antara lain:

1. Tersedianya bahan dalam proses, artinya jika barang setengah jadi tersedia maka
proses untuk menyediakan barang jadi akan lebih mudah.
2. Kebutuhan barang di pasar, artinya jika permintaan barang di pasar meningkat maka
otomatis akan mempercepat membuat barang jadi agar tersedia di gudang.

Sementara itu untuk perusahaan dagang dan jasa biasanya hanya terdiri dari persediaan
barang jadi. Hanya saja item dari jenis barang jadi lebih banyak dari perusahaan manufaktur.

ECONOMIC ORDER QUANTITY (EOQ)

Economic order quantity adalah tingkat persediaan yang meminimalkan total biaya
menyimpan persediaan dan biaya pemesanan. Ini adalah salah satu model tertua penjadwalan
produksi klasik. Tujuan economic order quantity, adalah agar kuantitas Persediaan yang
dipesan dan total biaya persediaan dapat diminimumkan sepanjang periode perencanaan
produksi.

Hal-hal yang berkaitan dengan EOQ dan sangat perlu untuk diperhatikan adalah masalah
klasifikasi biaya. Pentingnya klasifikasi biaya akan memudahkan kita dalam melakukan
analisis, sehingga hasil yang akan diperoleh dapat diakui kebenarannya. Secara umum
klasifikasi biaya yang akan dilakukan adalah sebagai berikut:

a. Biaya angkut/penyimpanan atau carrying cost (CC)


b. Biaya pemesanan atau ordering cost (OC)
c. Biaya total atau total cost (TC)

9
JUST IN TIME (JIT)

Just In Time (JIT) adalah suatu sistem produksi yang dirancang untuk mendapatkankualitas,
menekan biaya, dan mencapai waktu penyerahan seefisien mungkin dengan menghapus
seluruh jenis pemborosan yang terdapat dalam proses produksi sehingga perusahaan mampu
menyerahkan produknya (baik barang maupun jasa) sesuai kehendakkonsumen tepat
waktu. Bila sistem ini berjalan baik jumlah barang yang disimpan digudang akan sedikit,
bahkan bisa tidak terdapat simpanan barang sama sekali di gudang.

Syarat sistem "Just in Time" bisa berjalan dengan baik:

1. Data yang ada harus lengkap dan akurat, data disini berupa: Jadwal permintaan
penyediaan barang dari customer, kapasitas produksi, kondisi mesin, waktu
penyediaan barang dari suplier. kesemua data tersebut nantinya dibutuhkan untuk
forecasting (perencanaan dan perhitungan kedepan).
2. Komunikasi dan koordinasi yang benar-benar baik dan tepat dengan suplier, agar
barang yang kita butuhkan, oleh suplier bisa disediakan dan diantarkan tepat sesuai
jadwal yang kita minta (sesuai kesepakatan).

Faktor yang biasanya menyebabkan sistem "Just in Time" tidak bisa berjalan baik:
1. Data dan informasi awal yang diberikan tidak akurat, contoh: jadwal permintaan
penyediaan barang oleh customer yang tidak sesuai, kondisi mesin yang menjadi
rusak, suplier yang tidak bisa memenuhi pesanan kita tepat sesuai jadwal.
2. Faktor kejutan/faktor yang tak terduga. Terkadang walaupun suplier bisa
menyediakan barang pesanan kita tepat sesuai jadwal tetapi saat pengantaran terdapat
kendala: faktor cuaca, kondisi jalur lalu-lintas, kondisi kendaraan transportasi yang
bisa menjadi penyebab terhambatnya barang dari suplier datang tepat pada waktunya.
3. Pesanan dari customer yang mendadak dalam jumlah besar, yang tidak mungkin bisa
dipenuhi dilihat dari kedatangan barang dari suplier maupun dilihat dari kapasitas
produksi (sampai dengan jadi barang siap kirim).

10
Keuntungan sistem JIT:
1. Semakin sedikit barang yang disimpan pengelolaan barang di gudang menjadi
semakin mudah dan resiko terjadinya kerusakan barang juga menjadi kecil.
2. Sumber daya yang dibutuhkan untuk mengelola barang yang disimpan menjadi
sedikit (sumber daya manusia, maupun area gudang yang dibutuhkan).
3. Perputaran barang cepat otomatis perputaran modal juga cepat, semakin kecil modal
macet dalam bentuk barang disimpan di gudang.
Kelemahan sistem JIT:
1. Faktor tak terduga yang memiliki dampak buruk, pengaruhnya besar sekali. Sistem
"Just in Time" ini memiliki resiko lebih besar.
2. Tidak bisa memenuhi permintaan mendadak dari customer dalam jumlah besar,
karena tidak adanya simpanan di gudang.

Just In Case (JIC)


Just In Case adalah sistem persediaan yang bertujuan untuk mengurangi resiko tidak
terpenuhinya permintaan customer maka persediaan barang yang akan diproses tidak boleh
kosong, jumlahnya tidak boleh kurang dari stok aman (safety stock) yang sudah dijadikan
patokan.
Keuntungan sistem JIC:
1. Resiko tidak bisa terpenuhinya permintaan customer kecil.
2. Efek nilai tukar mata uang ataupun efek perubahan harga dari suplier dampaknya
tidak sebesar pada sistem "Just in Time".
Kelemahan sistem JIC:
1. Lama penyimpanan secara langsung mempengaruhi kualitas barang.
2. Resiko terjadinya barang rusak (reject) lebih besar dibanding JIT.
3. Memerlukan sumber daya manusia dan area (gudang) yang lebih besar dalam
mengelola inventory.
Syarat sistem "Just in Case" bisa berjalan dengan baik apabila:
1. Sama seperti pada sistem JIT, pada sistem "Just in Case" ini informasi dan akurasi
data memegang peranan sangat penting, bahkan lebih komplek. Selain jumlah barang
persediaan yang ada, harus pula diperhatikan daya tahan barang (kadaluarsa barang),
kondisi gudang.
2. Data tentang kapasitas barang yang bisa ditampung gudang harus lengkap.

11
BAB III

PENUTUP

Sistem persediaan ini sangat dibutuhkan disuatu persuahaan apabila perusahaan tersebut
memproduksi sesuatu yang sangat diperlukan oleh masyarakat, karena drai persediaan bahan
baku tersebut harus diperhatikan untuk menentukan perusahaan tersebut agar tetap
memproduksinya dan tidak kehabisan bahan baku yang ada. Sistem ini bertujuan menetapkan
dan menjamin tersedianya sumber daya yang tepat, dalam kuantitas yang tepat dan pada
waktu yang tepat.atau dengan kata lain, sistem dan model persediaan bertujuan untuk
meminimumkan biaya total melalui penentuan apa, berapa dan kapan pesanan di lakukan
secara optimal.Kemudian pembiayaan dalam proses produksi pun harus diperlukan supaya
tidak adanya pemborosan dan sesuai dengan rencana. Dan dapat dengan mudah untuk
menganalisis biaya tersebut.

12
DAFTAR PUSTAKA

1. http://thenryputrisarwan.blogspot.co.id/2017/01/makalah-manajemen-persediaan.html

2. https://yenzay90.blogspot.co.id/2012/03/tugas-kampus-manajemen-persediaan.html

3. http://khairilanwarsemsi.blogspot.co.id/2011/10/pengertian-manajemen-
persediaan.html

4. http://makalahlaporanterbaru1.blogspot.co.id/2012/08/makalah-manajemen-
persediaan.html
5. http://saidahida3010.blogspot.co.id/2016/10/manajemen-persediaan.html

13