Anda di halaman 1dari 40
Laporan Kasus Status Asmatikus dengan Kehamilan G2P1A0 Disusun Oleh : dr. Yumindra Pratama Pendamping :
Laporan Kasus
Status Asmatikus dengan
Kehamilan G2P1A0
Disusun Oleh : dr. Yumindra Pratama
Pendamping : dr. Juliana
Pembimbing : dr. Novie Widjaja, Sp.PD
RSUD Sultan Imanuddin Pangkalan Bun
1
Identitas Pasien —   Nama —   Umur : Ny. S : 29 tahun —
Identitas Pasien
—   Nama
—   Umur
: Ny. S
: 29 tahun
—   Jenis Kelamin : Perempuan
—   Agama : Islam
—   Alamat
—   Tgl. MRS
: P.Bun
: 26 April 2017
—   Med. Record : 063xxx
—   Jaminan
: Umum
2
Anamnesis q  Keluhan Utama : Sesak nafas q  Riwayat Penyakit Sekarang - Sesak nafas setiap
Anamnesis
q  Keluhan Utama : Sesak nafas
q  Riwayat Penyakit Sekarang
- Sesak nafas setiap malam sejak usia kehamilan 4 bulan
- berkurang jika siang hari
- Sesak nafas dirasa sangat berat sehingga tidak bisa tidur
- Sebelumnya pasien mengeluh demam dan pilek
- Jika tidur, pasien biasa menggunakan satu bantal saja
- Pasien sudah menggunakan obat semprot sejak usia
kehamilan 4 bulan untuk mengurangi keluhan
- Namun, sejak 1 hari SMRS, keluhan tidak berkurang
dengan pemberian obat semprot tersebut à Masuk RS
3
Anamnesis q   Riwayat Pemberian Obat : : Pasien sudah dirawat di Klinik Rawat Inap
Anamnesis
q   Riwayat Pemberian Obat : : Pasien sudah dirawat di Klinik
Rawat Inap Kesuma sejak jam 15.35 WIB, riw. Penggunaan
obat semprot sebelumnya di rumah (+).
q   Riwayat penyakit dahulu : Alergi obat (-), Alergi makanan
(-), Alergi cuaca dingin (+), Asma (+), Riw. Penggunaan obat
inhalasi (+), Riw.penyakit paru (-), Penyakit bawaan (-), Riw.
Hipertensi (-), Riw. DM (-), Riw.penyakit jantung (-),
Riw.penyakit ginjal (-).
q   Riwayat Penyakit Keluarga : Ibu pasien menderita
penyakit Asma (+)
q   Riwayat Lingkungan Sosial : Pasien tinggal bersama suami
dan adik di rumah. Pasien sebagai ibu rumah tangga. Biaya
pengobatan ditanggung sendiri (umum).
4
Pemeriksaan Fisik Status Generalisata —   Kesadaran —   KU —   Kooperatif —  
Pemeriksaan Fisik
Status Generalisata
—   Kesadaran
—   KU
—   Kooperatif
—   Tekanan Darah
—   Nadi
—   Suhu
—   Respirasi
—   SaO2
: Compos mentis
: Tampak sakit berat
: Kooperatif
: 130/80 mmHg
: 143 x/menit
:
38,5 o C
: 32 x/menit
: 94 %
5
Pemeriksaan Fisik Kepala : Normocephal Mata CA -/-, SI -/-, pupil bulat isokor (2mm/2mm), reflek
Pemeriksaan
Fisik
Kepala : Normocephal
Mata
CA -/-, SI -/-, pupil bulat isokor (2mm/2mm), reflek
cahaya (+/+)
:
THT
:Faring Hiperemis (+), Tonsil T1 – T1
Mulut
:Bentuk normal, bibir sianosis (-), pucat (-)
Leher
:KGB tidak teraba membesar
6
Pemeriksaan Fisik Dada Paru-paru : Inspeksi Palpasi Perkusi : bentuk simetris,retraksi(-) : fremitus fokal
Pemeriksaan
Fisik
Dada
Paru-paru :
Inspeksi
Palpasi
Perkusi
: bentuk simetris,retraksi(-)
: fremitus fokal simetris Ka/Ki
: Sonor seluruh lapang paru
Auskultasi : vesikuler (-/-),Ronkhi (-/-),Wheezing(+/+)
Jantung
:
Inspeksi
: ictus cordis tidak terlihat
Palpasi
: Apeks teraba lembut di ICS IV Midclavicula Sinistra,
Thrill (-)
Perkusi
: Batas Kanan
Batas Kiri
: ICS IV parasternal dextra
: ICS IV Midclavicula Sinistra
Auskultasi : Reguler,tunggal,S1-S2,Bising(-)
Abdomen
: Inspeksi
Palpasi
Perkusi
: Supel, datar, pelebaran vena (-),hernia umbilicalis(-),
caput medusa (-)
: Nyeri tekan (-) massa (-) turgor dalam batas normal
: Timpani
Auskultasi : Bising usus (+) normal
TFU ½ dari Proc. Xiphoideus dengan Umbilikus, DJJ 134x/m.
Ekstremitas
: Akral hangat, edema tungkai +/+, sianosis(-), Capillary Refill Time <2 detik.
7
Pemeriksaan Penunjang 8
Pemeriksaan Penunjang
8
Diagnosis Banding •   •   •   •   Status Asmatikus Sindrom batuk kronik
Diagnosis Banding
•  
Status Asmatikus
Sindrom batuk kronik saluran
nafas atas
Penyakit jantung kongenital
Inhalasi benda asing
Diagnosis
—   Status Asmatikus
—   G2P1A0 hamil ± 7
bulan
9
Penatalaksanaan —   O2 nasal kanul 2-7 lpm —   Ivfd drip Aminophilin (0,8mg/kgBB/jam) dalam
Penatalaksanaan
—   O2 nasal kanul 2-7 lpm
—   Ivfd drip Aminophilin (0,8mg/kgBB/jam)
dalam D5% 500ml 10 tpm
—   Inj. Cefotaxim 2 g/12 jam
—   Inj. Dexamethasone 1 ampul/12 jam
—   Drip Paracetamol 500 mg (k/p) jika demam
—   Inj. Furosemide 1 ampul (extra)
—   Cetirizine tab 1-0-1 tab
—   Inhalasi/Nebulisasi à (Salbutamol 1 respul +
Budesonide 1 respul)/8 jam
—   Konsul dr.SpOG
10
Prognosis OD Quo ad vitam Dubia ad bonam Quo ad sanam Dubia ad malam Quo
Prognosis
OD
Quo ad vitam
Dubia ad bonam
Quo ad sanam
Dubia ad malam
Quo ad fungsionam
Dubia ad malam
Follow up Tanggal Subjek Objektif Ass Planning 27-04-2017 sesak (+), batuk kering (+), lemah (+),
Follow up
Tanggal
Subjek
Objektif
Ass
Planning
27-04-2017
sesak (+),
batuk
kering (+),
lemah (+),
demam
(+).
TD : 110/60
mmHg
HR : 120 x/mnt
RR : 32 x/mnt
T : 37,5 0 C,
SaO2 : 94% -
1. Asma
Bronkial
2. G2P1A0
96%
•   tampak sakit
berat, CM,
tampak sangat
sesak.
•   Faring
Hiperemis (+),
Tonsil T1 – T1.
•   SNV -/-, Rh
-/-, Wh +/+.
•   TFU ½ dari
Proc.
Xiphoideus
dengan
Umbilikus, DJJ
hamil ± 7
bulan, janin
tunggal
intrauterine
Ø   O2 NRM 8-10 lpm
Ø   Ivfd NaCL 0,9 %
12 tpm
Ø   Inj. Ceftriaxone 1
g/12 jam
Ø   Inj. Gentamycin
1x1 amp / 24 jam
Ø   Inj.
Methylprednisolone
62,5 mg/8 jam
Ø   Inj. Ranitidine 50
mg/12 jam
Ø   Inhalasi/Nebulisasi
à (Salbutamol +
Ipratropium bromide
1 respul)/8 jam
Ø   Monitoring VS
140x/m.

Akral dingin (-/-), edema +/

+ Ipratropium bromide 1 respul)/8 jam Ø   Monitoring VS 140x/m. •   Akral dingin (-/-
Follow up Tanggal Subjek Objektif Ass Planning 28-04-2017 sesak (+) berkurang, batuk kering (+), lemah
Follow up
Tanggal
Subjek
Objektif
Ass
Planning
28-04-2017
sesak (+)
berkurang,
batuk
kering (+),
lemah (+),
demam
(+).
TD : 110/70
mmHg
HR : 110 x/mnt
RR : 30 x/mnt
T : 37,2 0 C,
SaO2 : 95% -
1. Asma
Bronkial
2. G2P1A0
97%
•   tampak sakit
berat, CM,
tampak sesak.
•   Faring
Hiperemis (-),
Tonsil T1 – T1.
•   SNV -/-, Rh
-/-, Wh +/+.
•   TFU ½ dari
Proc.
Xiphoideus
dengan
Umbilikus, DJJ
136 x/m.
•   Akral dingin
(-/-), edema +/
hamil ± 7
bulan, janin
tunggal
intrauterine
Ø   O2 NRM 8-10 lpm
Ø   Ivfd NaCL 0,9 %
12 tpm
Ø   Inj. Ceftriaxone 1
g/12 jam
Ø   Inj. Gentamycin
1x1 amp / 24 jam
Ø   Inj.
Methylprednisolone
62,5 mg/8 jam
Ø   Inj. Ranitidine 50
mg/12 jam
Ø   Inhalasi/Nebulisasi
à (Salbutamol +
Ipratropium bromide
1 respul)/8 jam
Ø   Monitoring VS
Ø   Pasien pulang APS
+
à (Salbutamol + Ipratropium bromide 1 respul)/8 jam Ø   Monitoring VS Ø   Pasien pulang
Teori 14
Teori
14
—   Status asmatikus adalah kegawatan medis di mana gejala asma tidak membaik pada pemberian
—   Status asmatikus adalah kegawatan medis di mana gejala asma
tidak membaik pada pemberian bronkodilator inisial di unit gawat
darurat.
—   Seringnya, pasien telah menggunakan obat-obat antiinflamasi.
—   Pasien biasanya mengeluh rasa berat di dada, sesak napas yang
semakin bertambah, batuk kering dan mengi dan penggunaan beta-
agonis yang meningkat (baik inhalasi maupun nebulisasi) sampai
hitungan menit.
15
Status Asmatikus —   Pasien yang terlambat mendapatkan perawatan medis, khususnya perawatan dengan steroid sistemik,
Status Asmatikus
—   Pasien yang terlambat mendapatkan perawatan medis, khususnya
perawatan dengan steroid sistemik, memiliki resiko kematian
yang besar. Pasien dengan kondisi penyerta (misal: penyakit paru
restriksi, CHF, deformitas dinding dada) memiliki resiko kematian
yang lebih besar karena status asmatikus, demikian juga perokok
yang biasanya terkena PPOK.
Gambaran klinis Status Asmatikus :
—   Penderita tampak sakit berat dan sianosis.
—   Sesak nafas, bicara terputus-putus.
—   Banyak berkeringat, bila kulit kering menunjukkan kegawatan
sebab penderita sudah jatuh dalam dehidrasi berat.
—   Pada keadaan awal kesadaran penderita mungkin masih cukup
baik, tetapi lambat laun dapat memburuk yang diawali dengan
rasa cemas, gelisah kemudian jatuh ke dalam koma.
16
Asma bronkhial Ø   Asma adalah penyakit heterogen, biasanya ditandai dengan inflamasi jalan nafas kronik.
Asma bronkhial
Ø   Asma adalah penyakit heterogen, biasanya ditandai
dengan inflamasi jalan nafas kronik.
Ø   Asma ditandai dengan riwayat gejala saluran
pernapasan seperti wheezing, dispneu, dada terasa
berat, dan batuk yang bervariasi diantara waktu dan
intensitas, berasa dengan hambatan jalan nafas
ekspirasi yang bervariasi.
Ø   Gejala terbatasnya jalan nafas dapat sembuh secara
spontan dengan pengobatan dan dapat menghilang
selama beberapa minggu atau bulan.
Ø   Di sisi lain, pasien juga dapat mengalami beberapa
periode serangan (eksaserbasi) asma yang dapat
mengancam nyawa dan dapat memberikan beban
yang signifikan bagi pasien dan komunitas.
Klasifikasi —   Asma alergika —   Asma non-alergika —   Asma onset lambat —
Klasifikasi
—   Asma alergika
—   Asma non-alergika
—   Asma onset lambat
—   Asma dengan hambatan jalan nafas paten
—   Asma dengan obesitas
18
FAKTOR RESIKO Berikut ini adalah faktor resiko asma yang dapat dimodifikasi (GINA, 2016): —  
FAKTOR RESIKO
Berikut ini adalah faktor resiko asma yang dapat dimodifikasi
(GINA, 2016):
—   Pasien dengan minimal 1 faktor risiko eksaserbasi
—   Minimal 1 periode eksaserbasi berat di tahun terakhir
—   Paparan tembakau dan rokok
—   Penurunan FEV 1 , terutama kurang dari <60% prediksi
—   Permasalahan psikologis besar
—   Permasalahan sosioekonomik besar
—   Alergi makanan terkonfirmasi
—   Paparan allergen jika tersensitisasi
—   Eosinofilia pada sputum
PATOGENESIS Hygiene Hypothesis —   Teori tersebut mengatakan infeksi dan kontak dengan lingkungan yang tak
PATOGENESIS
Hygiene Hypothesis
—   Teori tersebut mengatakan infeksi dan kontak dengan lingkungan yang
tak higienis dapat melindungi diri dari perkembangan alergi.
—   Hipotesis tersebut berdasarkan pemikiran bahwa sistem imun pada
bayi didominasi oleh sitokin T helper (Th2).
—   Setelah lahir pengaruh lingkungan akan mengaktifkan respons Th1
sehingga akan terjadi keseimbangan Th1/Th2.
PATOGENESIS Mekanisme In2lamasi Saluran Nafas Berbagai sel in2lamasi berperan : sel mast, eosino2il , sel
PATOGENESIS
Mekanisme In2lamasi Saluran Nafas
Berbagai sel in2lamasi berperan : sel mast, eosino2il , sel limfosit T,
makrofag , neutrophil , dan sel epitel
Proses in2lamasi:
▪   In2lamasi akut
Reaksi asma tipe cepat :
Alergen terikat dgn IgE à menempel pada sel mast à mediator
in2lamasi à kontraksi otot polos bronkhus , sekresi mukus dan
vasodilatasi
Reaksi fase lambat :
Timbul 6 – 9 jam setelah reaksi cepat à aktivasi eosino2il , sel T, CD4+,
neutro2il dan makrofag .
▪   In2lamasi kronik
Berbagai sel terlibat dan teraktivasi pada in2lamasi kronik seperti:
limfosit T, eosino2il , makrofag , sel mast, sel epitel , 2ibroblast dan otot
polos bronkus
PATOGENESIS Pengaruh Sitokin —   Proses inflamasi saluran napas diatur oleh interaksi sitokin dan growth
PATOGENESIS
Pengaruh Sitokin
—   Proses inflamasi saluran napas diatur oleh interaksi sitokin dan growth
factor yang disekresi tidak hanya oleh sel inflamasi tetapi juga oleh
komponen jaringan di antaranya sel epitel, fibroblast, dan sel otot
polos. Secara keseluruhan sitokin dapat dikelompokkan sebagai:
◦   Sitokin Th2 seperti IL-4, IL-5, IL-9 dan IL-13,
◦   Sitokin proinflamasi di antaranya tumor necrosis factor- α (TNF- α )
dan IL-1s,
◦   Kemokin seperti RANTES, eotaksin dan MCP-1,
◦   Growth factor seperti transforming growth factor –s dan epidermal
growth factor.
Diagnosis PEMERIKSAAN PENUNJANG : ANAMNESIS PEMERIKSAAN FISIK : Wheezing ekspiratorik Spirometri, Tes Provokasi
Diagnosis
PEMERIKSAAN
PENUNJANG :
ANAMNESIS
PEMERIKSAAN
FISIK : Wheezing
ekspiratorik
Spirometri, Tes
Provokasi Bronkus,
Tes Alergi,
Ekshalasi Nitrit
Oksida
Diagnosis
Diagnosis
Diagnosis
Diagnosis
DIAGNOSIS BANDING –   Sindrom batuk kronik saluran nafas atas –   Disfungsi pita suara
DIAGNOSIS BANDING
–   Sindrom batuk kronik saluran nafas atas
–   Disfungsi pita suara
–   Hiperventilasi, pernafasan disfungsional
–   Bronkiektasis
–   Kistik fibrosis
–   Penyakit jantung kongenital
–   Defisiensi alfa-1 antitripsin
–   Inhalasi benda asing
Penilaian Asma
Penilaian Asma
Penilaian Asma
Penilaian Asma
Penatalaksanaan Nonfarmakologis (GINA, 2016) ◦   Penghentian kebiasaan merokok dan paparan alergen ◦  
Penatalaksanaan
Nonfarmakologis (GINA, 2016)
◦   Penghentian kebiasaan merokok dan paparan alergen
◦   Aktivitas fisik
◦   Penghindaran paparan alergen kerja
◦   Penghindaran obat-obatan yang dapat memicu asma
◦   Penghindaran alergen dalam ruangan
◦   Latihan bernafas
◦   Diet sehat dan Penurunan Berat badan
◦   Vaksinasi
◦   Bronkial termoplasti
◦   Kontrol stress emosional
◦   Imunoterapi alergen
◦   Penghindaran alergen dan polutan di luar ruangan
◦   Penghindaran makanan alergen dan makanan berkimiawi.
29
Penatalaksanaan Tatalaksana Farmakologis (GINA, 2016) —   Controller medication, yaitu obat yang digunakan untuk
Penatalaksanaan
Tatalaksana Farmakologis (GINA, 2016)
—   Controller medication, yaitu obat yang digunakan untuk
pemeliharaan asma secara reguler. Obat ini menurunkan inflamasi
jalan nafas, mengendalikan gejala dan menurunkan risiko
eksaserbasi dan penurunan fungsi paru.
◦   Glukokortikoid inhalasi : Beklometason dipropionat, Budesonid,
Flunisolid, Flutikason, Triamsinolon asetonid.
◦   Kromolin (sodium kromoglikat dan nedokromil sodium)
◦   Metilsantin : Teofilin, Aminophilin
◦   Agonis beta-2 kerja lama : Formoterol, Salmeterol
◦   Leukotriens modifiers : Montelukas, Zafirlukas, Pranlukas,
Zileuton
30
Penatalaksanaan 31
Penatalaksanaan
31
Penatalaksanaan Tatalaksana Farmakologis (GINA, 2016) —   Reliever (rescue) medication, yaitu obat yang digunakan
Penatalaksanaan
Tatalaksana Farmakologis (GINA, 2016)
—   Reliever (rescue) medication, yaitu obat yang digunakan untuk
meredakan gejala asma, misalnya saat perburukan atau
eksaserbasi, atau saat terjadi brokonstriksi terkait olahraga.
◦   Agonis beta-2 kerja singkat : salbutamol, terbutalin, fenoterol,
dan prokaterol.
◦   Metilsantin : Teofilin, Aminophilin.
◦   Antikolinergik : ipratropium bromide dan tiotropium bromide.
◦   Adrenalin
32
Penatalaksanaan 33
Penatalaksanaan
33
Penatalaksanaan 34
Penatalaksanaan
34
Penatalaksanaan 35
Penatalaksanaan
35
Lanjutan… 36
Lanjutan…
36
37
37
Asma pada Kehamilan —   Selama kehamilan berat penyakit asma dapat berubah sehingga penderita memerlukan
Asma pada Kehamilan
—   Selama kehamilan berat penyakit asma dapat berubah
sehingga penderita memerlukan pengaturan jenis dan
dosis obat asma yang dipakai.
—   Penelitian retrospektif memperlihatkan bahwa selama
kehamilan 1/3 penderita mengalami perburukan penyakit,
1/3 lagi menunjukkan perbaikan dan 1/3 sisanya tidak
mengalami perubahan.
—   Asma yang tidak terkontrol bisa menimbulkan masalah
pada bayi berupa peningkatan kematian perinatal,
pertumbuhan janin terhambat dan lahir prematur,
peningkatan insidensi operasi caesar, berat badan lahir
rendah dan perdarahan postpartum.
—   Prognosis bayi yang lahir dari ibu menderita asma tapi
terkontrol sebanding dengan prognosis bayi yang lahir dari
ibu yang tidak menderita asma.
38
Asma pada Kehamilan —   Pada umumnya semua obat asma dapat dipakai saat kehamilan kecuali
Asma pada Kehamilan
—   Pada umumnya semua obat asma dapat dipakai saat kehamilan
kecuali komponen α adrenergik, bromfeniramin dan epinefrin.
—   Kortikosteroid inhalasi sangat bermanfaat untuk mengontrol asma
dan mencegah serangan akut terutama saat kehamilan.
Bila terjadi serangan, harus segera ditanggulangi secara agresif
yaitu pemberian inhalasi agonis beta-2, oksigen dan
kortikosteroid sistemik.
—   Pemilihan obat pada penderita hamil, dianjurkan :
◦   Obat inhalasi
◦   Memakai obat-obat lama yang pernah dipakai pada
kehamilan sebelumnya yang sudah terdokumentasi dan
terbukti aman.
39
TERIMA KASIH 40
TERIMA KASIH
40