Anda di halaman 1dari 22

TELAAH KURIKULUM BAHASA INDONESIA

KUMPULAN KURIKULUM
OLEH
JUMAENI
NIM A1A1 13062
PROGRAM STUDI BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
UNIVERSITAS SEMBILANBELAS NOVEMBER KOLAKA

Pengertian Standar Kompetensi

Standar Kompetensi mata pelajaran adalah deskripsi pengetahuan, keterampilan, dan


sikap yang harus dikuasai setelah siswa mempelajari mata pelajaran tertentu pada
jenjang pendidikan tertentu pula. Menurut Abdul Majid Standar kompetensi
merupakan kerangka yang menjelaskan dasar pengembangan program pembelajaran
yang terstruktur. Pada setiap mata pelajaran, standar kompetensi sudah ditentukan
oleh para pengembang kurikulum, yang dapat kita lihat dari standar isi. Jika sekolah
memandang perlu mengembangkan mata pelajaran tertentu misalnya pengembangan
kurikulum muatan local, maka perlu dirumuskan standar kompetensinya sesuai
dengan nama mata pelajaran dalam muatan local tersebut,

Pengertian Kompetensi Dasar

Kompetensi Dasar adalah pengetahuan, keterampilan dan sikap minimal yang harus
dicapai oleh siswa untuk menunjukkan bahwa siswa telah menguasai standar
kompetensi yang telah ditetapkan, oleh karena itulah maka kompetensi dasar
merupakan penjabaran dari standar kompetensi.

1. Rencana pelajaran 1947


Kurikulum pertama pada masa kemerdekaan namanya Rentjana Pelajaran 1947.
Ketika itu penyebutannya lebih populer menggunakan leer plan (rencana pelajaran)
ketimbang istilah curriculum dalam bahasa Inggris. Rencana Pelajaran 1947 bersifat
politis, yang tidak mau lagi melihat dunia pendidikan masih menerapkan kurikulum
Belanda, yang orientasi pendidikan dan pengajarannya ditujukan untuk kepentingan
kolonialis Belanda. Asas pendidikan ditetapkan Pancasila Situasi perpolitikan dengan
gejolak perang revolusi, maka Rencana Pelajaran 1947 baru diterapkan pada tahun
1950. Oleh karena itu Rencana Pelajaran 1947 sering juga disebut kurikulum 1950.
Susunan Rencana Pelajaran 1947 sangat sederhana, hanya memuat dua hal pokok,
yaitu daftar mata pelajaran dan jam pengajarannya, serta garis-garis besar
pengajarannya. bentuknya memuat dua hal pokok:
1. Daftar mata pelajaran dan jam mengajar
2. Garis-garis besar pengajaran (GBP)
Rencana pelajaran 1947 mengurangi pendidikan pikiran dalam arti kognitif
namun yang diutamakan pendidikan watak atau kepribadian (value attitude)
meliputi:
1. Kesadaran bernegara dan bermasyrakat.
2. Materi pelajaran dihubungkan dengan kejadian sehari-hari.
3. Perhatian terhadap kesenian dan pendidikan jasmani.

Ciri-ciri Kurikulum 1947

Lebih menekankan pada pembentukan karakter manusia yang berdaulat dan


sejajar dengan bangsa lain.

1
Bentuknya memuat dua hal pokok, yaitu daftar mata pelajaran dan jam
pengajarannya, serta garis-garis pengajarannya.

Kelebihan dan kekurangan kurikulum tahun 1947


Kelebihan :

Lebih menekankan pada pembentukan karakter manusia yang berdaulat dan


sejajar dengan bangsa lain.

Kelemahan :

Kurikulum pendidikan Indonesia masih dipengaruhi system pendidikan


kolonial belanda dan jepang.

Garis-garis besar pengajaran pada saat itu menekankan pada cara guru mengajar
dan cara murid mempelajari. Misalnya, pelajaran bahasa mengajarkan bagaimana
cara berbicara, membaca, dan menulis. Ilmu Alam mengajarkan bagaimana proses
kejadian sehari-hari, bagaimana mempergunakan berbagai perkakas sederhana
(pompa, timbangan), dan menyelidiki berbagai peristiwa sehari-hari, misalnya
mengapa lokomotif diisi air dan kayu, mengapa nelayan melaut pada malam hari, dan
bagaimana menyambung kabel listrik. Pada perkembangannya, rencana pelajaran
lebih dirinci lagi setiap pelajarannya, yang dikenal dengan istilah Rencana Pelajaran
Terurai 1952.

2. Rencana Pelajaran Terurai 1952


Setelah Rentjana Pelajaran 1947, pada tahun 1952 kurikulum di Indonesia
mengalami penyempurnaan. Pada tahun 1952 ini diberi nama Rencana Pelajaran
Terurai 1952. Pembentukan Panitia Penyelidik Pengajaran pada masa Mr. Soewandi
sebagai Menteri PP dan K (Pengajaran, Pendidikan dan Kebudayaan) adalah dalam
rangka mengubah sistem pendidikan kolonial ke dalam sistem pendidikan nasional.
Sebagai konsekuensi dari perubahan sistem itu, maka kurikulum pada semua tingkat
pendidikan mengalami perubahan pula, sehingga yang semula diorientasikan kepada
kepentingan kolonial maka kini diubah selaras dengan kebutuhan bangsa yang
merdeka. Salah satu hasil panitia tersebut yang menyangkut kurikulum adalah bahwa
setiap rencana pelajaran pada setiap tingkat pendidikan harus memperhatikan hal-hal
sebagai berikut :
Pendidikan pikiran harus dikurangi
Isi pelajaran harus dihubungkan terhadap kesenian
Pendidikan watak
Pendidikan jasmani
Kewarganegaraan dan masyarakat
Kurikulum ini lebih merinci setiap mata pelajaran yang disebut Rencana
Pelajaran Terurai 1952. Silabus mata pelajarannya jelas. seorang guru mengajar satu
mata pelajaran. Fokusnya pada pengembangan Pancawardhana, yaitu, Daya cipta,
Rasa, Karsa, Karya, Moral.
Setelah Undang-Undang Pendidikan dan Pengajaran No. 04 Tahun 1950
dikeluarkan, maka:

Kurikulum pendidikan rendah ditujukan untuk menyiapkan anak memiliki


dasar-dasar pengetahuan, kecakapan, dan ketangkasan baik lahir maupun
batin, serta mengembangkan bakat dan kesukaannya

2
Kurikulum pendidikan menengah ditujukan untuk menyiapkan pelajar ke
pendidikan tinggi, serta mendidik tenaga-tenaga ahli dalam pelbagai lapangan
khusus, sesuai dengan bakat masing-masing dan kebutuhan masyarakat.
Kurikulum pendidikan tinggi ditujukan untuk menyiapkan pelajaran agar
dapat menjadi pimpinan dalam masyarakat, dan dapat memelihara kemajuan
ilmu, dan kemajuan hidup kemasyarakatan.

Ciri-ciri Kurikulum 1952

setiap pelajaran harus memperhatikan isi pelajaran yang dihubungkan dengan


kehidupan sehari-hari.
pada pengembangan pancawardhana dan mata pelajaran diklasifikasikan
dalam lima kelompok bidang studi :moral, kecerdasan, emosional,
keterampilan dan jasmani.

Kelebihan dan Kelemahan


Kelebihan:

Kurikulum ini sudah mengarah pada suatu system pendidikan nasional.

Kelemahan:

Masih kurangnya tenaga pengajar.


Tidak di dukung dengan fasilitas yang memadai.

3. Kurikulum 1964
Usai tahun 1952, menjelang tahun 1964, pemerintah kembali menyempurnakan
sistem kurikulum di Indonesia. Kali ini diberi nama Rencana Pendidikan 1964.
Pokok-pokok pikiran kurikulum 1964 yang menjadi ciri dari kurikulum ini adalah
bahwa pemerintah mempunyai keinginan agar rakyat mendapat pengetahuan
akademik untuk pembekalan pada jenjang SD, sehingga pembelajaran dipusatkan
pada program Pancawardhana yang meliputi pengembangan daya cipta, rasa, karsa,
karya, dan moral. Mata pelajaran diklasifikasikan dalam lima kelompok bidang studi:
moral, kecerdasan, emosional, keterampilan, dan jasmani. Pendidikan dasar lebih
menekankan pada pengetahuan dan kegiatan fungsional praktis.
Kurikulum 1964 tidak bertahan lama. Situasi politik mengalami perubahan pesat
dan terjadi peristiwa yang dikenal dengan nama G.30.S/PKI. Pada tanggal 11 Maret
1966 Presiden Soekarno mengeluarkan Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) yang
memberikan wewenang kepada Mayjen Soeharto untuk mengamankan ajaran
Panglima Besar Revolusi. Dengan kewenangan yang dimilikinya, Mayjen Soeharto
kemudian membubarkan PKI, sesuai dengan Tiga Tuntutan Rakyat (Tritura).
Manipol-USDEK dan Nasakom tidak lagi menjadi ideologi negara. Revolusi
menemukan titik akhir perjalanannya. Pada tahun 1966, MPRS menetapkan
kebijakan pendidikan untuk menghilangkan pengaruh Manipol dan melarang ajaran
komunis. TAP MPRS XXVI tahun 1966 menentukan bahwa pendidikan haruslah
diarahkan pada

mempertinggi mental-moral-budi pekerti dan memperkuat keyakinan


beragama,
mempertinggi kecerdasan dan ketrampilan, dan
Membina atau memperkembangkan fisik yang kuat dan sehat.

3
Oleh karena itu maka kurikulum baru diperlukan untuk membersihkan pikiran dan
hati generasi muda dari ideologi tersebut. Meski pun demikian, pendidikan ideologi
terus berlanjut. Kurikulum baru segera dikembangkan untuk menggantikan
kurikulum 1964, dibersihkan dari Manipol-USDEK dan Nasakom.

4. Kurikulum 1968
Lahirnya Orde Baru memberikan warna tersendiri dalam sistem pendidikan
Indonesia. Sesuai dengan ketetapan TAP MPRS No. XXVII/MPRS/1966 tentang
Agama, Pendidikan, dan Kebudayaan, maka dirumuskan mengenai tujuan
pendidikan sebagai bentuk manusia Pancasila sejati berdasarkan ketentuan-ketentuan
sesuai dengan Pembukaan UUD 1945 dan isi UUD 1945. Isi dari kurikulum 1968
ialah mempertinggi mental. Moral, budi pekerti dan memperkuat keyakinan
beragama, mempertinggi kecerdasan dan keterampilan, membina atau
mengembangkan fisik yang kuat dan sehat.
Kurikulum 1968 merupakan pembaharuan dari Kurikulum 1964, yaitu
dilakukannya perubahan struktur kurikulum pendidikan dari Pancawardhana menjadi
pembinaan jiwa pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus. Kurikulum
1968 merupakan perwujudan dari perubahan orientasi pada pelaksanaan UUD 1945
secara murni dan konsekuen. Dari segi tujuan pendidikan, Kurikulum 1968 istilah
yang digunakan adalah Rencana Pendidikan bertujuan bahwa pendidikan ditekankan
pada upaya untuk membentuk manusia Pancasila sejati, kuat, dan sehat jasmani,
mempertinggi kecerdasan dan keterampilan jasmani, moral, budi pekerti, dan
keyakinan beragama. Isi pendidikan diarahkan pada kegiatan mempertinggi
kecerdasan dan keterampilan, serta mengembangkan fisik yang sehat dan kuat.
Kelahiran Kurikulum 1968 bersifat politis, mengganti Rencana Pendidikan 1964
yang dicitrakan sebagai produk Orde Lama. Tujuannya pada pembentukan manusia
Pancasila sejati. Kurikulum 1968 menekankan pendekatan organisasi materi
pelajaran: kelompok pembinaan Pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus.
Jumlah pelajarannya Sembilan.

Karakteristik kurikulum 1968

Kurikulum 1968 merupakan pembaharuan dari Kurikulum 1964, yaitu


dilakukannya perubahan struktur kurikulum pendidikan dari Pancawardhana
menjadi pembinaan jiwa pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus.
Kurikulum 1968 merupakan perwujudan dari perubahan orientasi pada
pelaksanaan UUD 1945 secara murni dan konsekuen.
Mata pelajaran dikelompokkan menjadi 9 pokok.

Ciri-ciri kurikulum 1968

Mata pelajaran yang dikorelasikan dengan mata pelajaran yang lain, walaupun
batas demokrasi antar mata pelajaran masih terlihat jelas.
Penjurusan di SMA dilakukan di kelas II, dan disederhanakan menjadi dua
jurusan, yaitu sastra social budaya dan ilmu pengetahuan alam.
Menekankan pendekatan organisasi materi pelajaran. Kelompok pembinaan
pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus. Jumlah pelajarannya 9.

Kelebihan dan kekurangan.


Kelebihan:

4
Bertujuan pada pembentukan manusia pancasila sejati.
Struktur pendidikan dari pancawardhana menjadi pembinaan jiwa pancasila,
pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus.

Kelemahan:

Muatan materi masing-masing mata pelajaran masih bersifat teoritis dan


belum terikat erat dengan keadaan nyata dalam lingkungan sekitar.

5. Kurikulum 1975
Latar belakang ditetapkanya Kurikulum 1975 sebagai pedoman pelaksanaan
pengajaran di sekolah menurut Menteri Pendidikan Republik Indonesia Sjarif Thajeb,
adalah:

1. Selama Pelita I, yang dimulai pada tahun 1969, telah banyak timbul gagasan
baru tentang pelaksanaan sistem pendidikan nasional.
2. Adanya kebijaksanaan pemerintah di bidang pendidikan nasional yang
digariskan dalam GBHN yang antara lain berbunyi : Mengejar ketinggalan di
bidang ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mempercepat lajunya
pembangunan.
3. Adanya hasil analisis dan penilaian pendidikan nasional oleh Departemen
Pendidikan dan Kebudayaaan mendorong pemerintah untuk meninjau
kebijaksanaan pendidikan nasional.
4. Adanya inovasi dalam system belajar-mengajar yang dianggap lebih efisien
dan efektif yang telah memasuki dunia pendidikan Indonesia.
5. Keluhan masyarakat tentang mutu lulusan pendidikan untuk meninjau sistem
yang kini sedang berlaku.
6. Diperlukan peninjauan terhadap Kurikulum 1968 tersebut agar sesuai dengan
tuntutan masyarakat yang sedang membangun.

Kurikulum 1975 sebagai pengganti kurikulum 1968 menggunakan prinsip-prinsip di


antaranya sebagai berikut.

1. Berorientasi pada tujuan. Pemerintah merumuskan tujuan-tujuan yang harus


dikuasai oleh siswa yang lebih dikenal dengan hirarki tujuan pendidikan.
2. Menganut pendekatan integrative dalam arti bahwa setiap pelajaran memiliki
arti dan peranan yang menunjang kepada tercapainya tujuan-tujuan yang lebih
integratif.
3. Menekankan kepada efisiensi dan efektivitas dalam hal daya dan waktu.
4. Menganut pendekatan sistem instruksional yang dikenal dengan Prosedur
Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI).
5. Dipengaruhi psikologi tingkah laku dengan menekankan kepada stimulus
respon (rangsang-jawab) dan latihan (Drill). Pembelajaran lebih banyak
menggunaan teori Behaviorisme, yakni memandang keberhasilan dalam
belajar ditentukan oleh lingkungan dengan stimulus dari luar, dalam hal ini
sekolah dan guru.

Kurikulum 1975 memuat ketentuan dan pedoman yang meliputi unsur-unsur :

5
1) Tujuan institusional.
Berlaku mulai SD, SMP maupun SMA. Tujuan Institusional adalah tujuan yang
hendak dicapai lembaga dalam melaksanakan program pendidikannya.
2) Struktur Program Kurikulum.
Struktur program adalah kerangka umum program pengajaran yang akan diberikan
pada tiap sekolah.
3) Garis-Garis Besar Program Pengajaran
Garis-Garis Besar Program Pengajaran, memuat hal-hal yang berhubungan dengan
program pengajaran, yaitu.

Tujuan Kurikuler, yaitu tujuan yang harus dicapai setelah mengikuti program
pengajaran yang bersangkutan selama masa pendidikan.
Tujuan Instruksional Umum, yaitu tujuan yang hendak dicapai dalam setiap
satuan pelajaran baik dalam satu semester maupun satu tahun.
Pokok bahasan yang harus dikembangkan untuk dijadikan bahan pelajaran
bagi para siswa agar mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.
Urutan penyampaian bahan pelajaran dari tahun pelajaran satu ke tahun
pelajaran berikutnya dan dari semester satu ke semester berikutnya.

4) Sistem Penyajian dengan Pendekatan PPSI (Prosedur Pengembangan Sistem


Instruksional)

Sistem PPSI berpandangan bahwa proses belajar-mengajar sebagai suatu system yang
senantiasa diarahkan pada pencapaian tujuan. PPSI sendiri merupakan sistem yang
saling berkaitan dari satu instruksi yang terdiri atas urutan, desain tugas yang
progresif bagi individu dalam belajar (Hamzah B.Uno, 2007). Oemar Hamalik
mendefinisikan PPSI sebagai pedoman yang disusun oleh guru dan berguna untuk
menyusun satuan pelajaran. Komponen PPSI meliputi:

1. Pedoman perumusan tujuan. Pedoman perumusan tujuan memberikan


petunjuk bagi guru dalam merumuskan tujuan-tujuan khusus.
2. Pedoman prosedur pengembangan alat penilaian. Tes yang digunakan dalam
PPSI disebut criterion referenced test yaitu tes yang digunakan unuk
mengukur efektifitas program/ pelaksanaan pengajaran.
3. Pedoman proses kegiatan belajar siswa. Pedoman proses kegiatan belajar
siswa merupakan petunjuk bagi guru untuk menetapkan langkah-langkah
kegiatan belajar siswa sesuai dengan bahan pelajaran yang harus dikuasai dan
tujuan khusus instruksional yang harus dicapai oleh para siswa
4. Pedoman program kegiatan guru. Pedoman program kegiatan guru merupakan
petunjuk-petunjuk bagi guru untuk merencanakan program kegiatan
bimbingan sehingga para siswa melakukan kegiatan sesuai dengan rumusan
TIK.
5. Pedoman pelaksanaan program. Pedoman pelaksanaan program merupakan
petunjuk-petunjuk dari program yang telah disusun.
6. Pedoman perbaikan atau revisi. Pedoman perbaikan atau revisi yang
merupakan pengembangan program setelah selesai dilaksanakan.

5) Sistem Penilaian
Penilaian menggunakan PPSI diberikan pada setiap akhir pelajaran atau pada akhir
satuan pelajaran tertentu., inilah yang membedakan kurikulum 1975 dengan

6
kurikulum sebelumnya yaitu memberikan penilaian pada akhir semester akhir tahun
saja
6) Sistem Bimbingan dan Penyuluhan
Setiap siswa memiliki tingkat kecepatan belajar yang tidak sama. Sehingga mereka
memerlukan pengarahan yang akan mengembangkan mereka menjadi manusia yang
mampu meraih masa depan yang lebih baik.
7) Supervisi dan Administrasi
Sebagai suatu lembaga pendidikan memerlukan pengelolaan yang terarah, baik yang
digunakan oleh para guru, administrator sekolah, maupun para pengamat sekolah
menggunakan teknik supervisi dan administrasi sekolah yang dapat dipelajari pada
Pedoman pelaksanaan kurikulum tentang supervise dan administrasi.
Mata Pelajaran dalam Kurikulum tahun 1975 adalah

1. Pendidikan agama
2. Pendidikan Moral Pancasila
3. Bahasa Indonesia
4. IPS
5. Matematika
6. IPA
7. Olah raga dan kesehatan
8. Kesenian
9. Keterampilan khusus

Kelebihan Kurikulum 1975

Menekankan pada pendidikan yang lebih efektif dan efisien dalam hal daya
dan waktu
Menganut sistem yang senantiasa mengarah kepada tercapainya tujuan yang
spesifik,dapat diukur dan dirumuskan dalam bentuk tingkah laku siswa

Kelemahan Kurikulum 1975


Guru dibuat sibuk menulis rincian apa yang akan dicapai dari setiap kegiatan
pembelajaran

6. Kurikulum 1984
Sidang umum MPR 1983 yang produknya tertuang dalam GBHN 1983
menyiratkan keputusan politik yang menghendaki perubahan kurikulum dari
kurikulum 1975 ke kurikulum 1984, karena sudah dianggap tidak mampu lagi
memenuhi kebutuhan masyarakat dan tuntutan ilmu pengetahuan dan teknologi .
Secara umum dasar perubahan kurikulum 1975 ke kurikulum 1984 di antaranya
adalah sebagai berikut.

1. Terdapat beberapa unsur dalam GBHN 1983 yang belum tertampung ke


dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah.
2. Terdapat ketidakserasian antara materi kurikulum berbagai bidang studi
dengan kemampuan anak didik.
3. Terdapat kesenjangan antara program kurikulum dan pelaksanaannya di
sekolah.
4. Terlalu padatnya isi kurikulum yang harus diajarkan hampir di setiap jenjang.

7
5. Pelaksanaan Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB) sebagai bidang
pendidikan yang berdiri sendiri mulai dari tingkat kanak-kanak sampai
sekolah menengah tingkat atas termasuk Pendidikan Luar Sekolah.
6. Pengadaan program studi baru (seperti di SMA) untuk memenuhi kebutuhan
perkembangan lapangan kerja.

Kurikulum 1984 memiliki ciri-ciri sebagai berikut.

1. Berorientasi kepada tujuan instruksional. Didasari oleh pandangan bahwa


pemberian pengalaman belajar kepada siswa dalam waktu belajar yang sangat
terbatas di sekolah harus benar-benar fungsional dan efektif.
2. Pendekatan pengajarannya berpusat pada anak didik melalui cara belajar
siswa aktif (CBSA). CBSA adalah pendekatan pengajaran yang memberikan
kesempatan kepada siswa untuk aktif terlibat secara fisik, mental, intelektual,
dan emosional dengan harapan siswa memperoleh pengalaman belajar secara
maksimal, baik dalam ranah kognitif, afektif, maupun psikomotor.
3. Materi pelajaran dikemas dengan nenggunakan pendekatan spiral. Spiral
adalah pendekatan yang digunakan dalam pengemasan bahan ajar berdasarkan
kedalaman dan keluasan materi pelajaran.
4. Menanamkan pengertian terlebih dahulu sebelum diberikan latihan. Untuk
menunjang pengertian alat peraga sebagai media digunakan untuk membantu
siswa memahami konsep yang dipelajarinya.
5. Materi disajikan berdasarkan tingkat kesiapan atau kematangan siswa.
Pemberian materi pelajaran berdasarkan tingkat kematangan mental siswa dan
penyajian pada jenjang sekolah dasar harus melalui pendekatan konkret,
semikonkret, semiabstrak, dan abstrak dengan menggunakan pendekatan
induktif dari contoh-contoh ke kesimpulan.
6. Menggunakan pendekatan keterampilan proses. Keterampilan proses adalah
pendekatan belajar-mengajar yang memberi tekanan kepada proses
pembentukkan keterampilan memperoleh pengetahuan dan
mengkomunikasikan perolehannya.

Kebijakan dalam penyusunan Kurikulum 1984 adalah sebagai berikut.

1. Adanya perubahan dalam perangkat mata pelajaran inti. Kurikulum 1984


memiliki enam belas mata pelajaran inti. Mata pelajaran yang termasuk
kelompok inti tersebut adalah: Agama, Pendidikan Moral Pancasila,
pendidikan sejarah perjuangan bangsa , Bahasa dan sastra Indonesia, Geografi
Indonesia, Geografi Dunia, Ekonomi, Kimia, Fisika, biolagi, Matematika,
Bahas Inggris, Kesenian, Keterampilan, Pendidikan Jasmani dan olah raga,
Sejarah dunia dan Nasional.
2. Penambahan mata pelajaran pilihan yang sesuai dengan jurusan masing-
masing.
3. Perubahan program jurusan. Kalau semula pada Kurikulum 1975 terdapat 3
jurusan di SMA, yaitu IPA, IPS, Bahasa, maka dalam Kurikulum 1984
jurusan dinyatakan dalam program A dan B. Program A terdiri dari :

A1, penekanan pada mata pelajaran Fisika


A2, penekanan pada mata pelajaran Biologi
A3, penekanan pada mata pelajaran Ekonomi

8
A4, penekanan pada mata pelajaran Bahasa dan Budaya.

Sedangkan program B adalah program yang mengarah kepada keterampilan kejuruan


yang akan dapat menrjunkan siswa langsung berkecimpung di masyarakat, Tetapi
mengingat program B memerlukan sarana sekolah yang cukup , maka program ini
untuk sementara ditiadakan

4. Pentahapan waktu pelaksanaan


Kurikulum 1984 dilaksanakan secara bertahap dari kelas 1 SMA berturut
turut sampai berikutnya di kelas yang lebih rendah

Kelebihan kurikulum 1984

Pendekatan pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk


aktif terlibat secara fisik, mental, intlektual dan emosional dengan harapan
siswa memperoleh pengalaman belajar secara maksimal, baik dalam ranah
kognitif, afektip, maupun psikomotor.

Kekurangan Kurikulum 1984

Posisi siswa ditempatkan sebagai subjek belajar.


Banyak sekolah kurang mampu menafsirkan, yang terlihat adalah suasana
gaduh di ruang kelas lantaran siswa berdiskusi, di sana sini ada tempelan
gambar, dan yang menyolok guru tak lagi mengajar model berceramah.

7. Kurikulum 1994

Pada kurikulum sebelumnya yaitu kurikulum 1984 proses pembelajaran


menekankan pada pola pengajaran yang berorientasi pada tiori belajar mengajar
dengan kurang memperhatikan muatan (isi) pelajaran. Hal ini terjadi karena
disesuaikan dengan suasana pendidikan di LPTK (Lembaga Pendidikan dan Tenaga
Kependidikan) pun lebih mengutamakan teori tentang proses belajar mengajar.
Akibatnya, pada saat itu dibentuk tim basic science yang salah satu tugasnya ikut
mengambangkan kurikulum di sekolah. Tim ini memandang bahwa materi (isi)
pelajaran harus diberikan cukup banyak kepada siswa , sehingga siswa selesai
mengikuti pelajara pada priode tertentu akan mendapatkan materi pelajaran yang
cukup banyak.
Kurikulum 1994 dibuat sebagai penyempurna kurikulum 1984 dan
dilaksanakan sesuai dengan undang undang no 2 tahun 1989 tentang sistem
pendidikan Nasional. Hal ini berdampak pada sistem pembagian waktu pelajaran,
yaitu dengan mengubah dari sistem semester ke sistem catur wulan, dengan sistem
caturwulan yang pembagiannya dalam satu tahun menjadi tiga tahap diharapkan
dapat memberi kesempatan bagi siswa untuk dapat menerima materi pelajaran cukup
banyak.

Terdapat ciri-ciri yang dominan dari pemberlakuan kurikulum 1994 di antaranya:

1. Pembagian tahapan pelajaran di sekolah dengan sistem caturwulan


2. Pembelajaran di sekolah lebih menekankan materi pelajaran yang cukup padat
(berorientasi pada materi (isi)

9
3. Kurikulum 1994 bersifat populis, yaitu yang memberlakukan satu sistem
kurikulum untuk semua siswa di seluruh Indonesia. Kurikulum ini bersifat
kurikulum inti sehingga daerah yang khusus dapat mengembangkan
pengajaran sendiri disesuaikan dengan lingkungan dan kebutuhan masyarakat
itu sendiri.
4. Dalam melaksanakan kegiatan , guru hendaknya memilih dan menggunakan
strategi yang melibatkan siswa aktif dalam belajar, baik secara mental, fisik
dan sosial. Dalam mengaktifkan siswa guru dapat memberikan bentuk soal
yang mengarah kepada jawaban konvergen. Divergen (terbuka,
dimungkinkan lebih dari satu jawaban) dan penyelidikan.
5. Dalam pengajaran suatu mata pelajaran hendaknya disesuaikan dengan
kekhasan konsep/pokok bahasan dan perkembangan berfikir siswa, sehingga
diharapkan akan terdapat keserasian antara pengajaran yang menekankan pada
pemahaman konsep dan pengajaran yang menekankan keterampilan
menyelesaikan sola dan pemecahan masalah.
6. Pengajaran dari hal yang kongkrit ke hal yang abestrak, dari hal yang mudah
ke yang sulit, dan dari hal yang sederhana ke hal yang komplek.
7. Pengulangan pengulangan materi yang di anggap sulit perlu dilakukan untuk
pemantapan pemahaman siswa.

Selama dilaksanakannya kurikulum 1994 muncul beberapa permasalahan , terutama


sebagai akibat dari kecenderungan kepada pendekatan penguasaan materi (content
oriented) di antaranya sebagai adalah:

1. Bahan belajar siswa terlalu berat karena banyaknya mata pelajaran dan
banyaknya materi/substansi setiap mata pelajaran.
2. Materi pelajaran dianggap terlalu sulit karena kurang relevan dengan tingkat
perkembangan berfikir siswa dan kurang bermakna karena kurang terkait
denga aplikasi kehidupan sehari-hari.
3. Permasalahan yang dihadapi ketika berlangsung pe;aksanaan kurikulum
1994. Hal ini mendorong pera pembuat kebijakan untuk penyempurnaan
kurikulum tersebut. Salah satu upaya penyempurnaan tersebut dilkakukannya
suplemen kurikulum 1994. Penyempurnaan tersebut dilakukan dengan tetap
mempertimbangkan prinsip penyempurnaan kurikulum yaitu (a)
penyempurnaan kurikulum secara berterus menerus sebagai upaya
menyesuaikan kurikulum denga perkembangan ilmun pengetahuan dan
teknologi, serta tuntutan kebutuhan perkembangan ilmun pengetahuan dan
teknologi, serta tuntutan kebutuah masyarakat, (b) Penyempurnaan kurikulum
dilakukan untuk mendapatkan proporsi yang tepat antara tujuan yang ingin di
capai dengan beban belajar, potensi siswa dan keadaan lingkungan serta
sarana pendukung.
4. Penyempurna kurikulum dikukan untuk memperoleh kebenaran substansi
materi pelajaran dan kesesuaian dengan tingkat perkembangan siswa
5. Penyempurnaan kurikulum memprtimbangkan berbagai aspek terkait seperti
tujuan materi, pembelajaran, evaluasi dan sarana dan prasarana termasuk buku
pelajaran.
6. Penyempurnaan kurikulum tidak mempersulit guru dalam
mengimplementasikan dan tetap dapat menggunakan buku pelajaran dan saran
prasarana pendidikan lainnya yang tersedia di sekolah. penyempurnaan 1994

10
di pendidikan dasar dan menengah dilaksanakan bertahap yaitu tahap
penyempurnaan jangka pendek dan penyempurnaan jangka panjang.

Kelebihan Kurikulum 1994

Penggunaan strategi yang melibatkan siswa aktif dalam belajar, baik secara
mental, fisik, dan sosial.
Pengajaran dari hal yang konkret ke hal yang abstrak, dari hal yang mudah ke
hal yang sulit, dari hal yang sederhana ke hal yang kompleks.

Kekurangan Kurikulum 1994

Aspek yang di kedepankan dalam kurikulum 1994 terlalu padat.


Konsep pengajaran satu arah, dari guru ke murid.
Beban belajar siswa terlalu berat karena banyaknya mata pelajaran dan
banyaknya materi/ substansi setiap mata pelajaran.
Materi pelajaran yang dianggap terlalu sukar karena kurang relevan dengan
tingkat perkembangan berpikir siswa, dan kurang bermakna karena kurang
terkait dengan aplikasi kehidupan sehari-hari.
Pengulangan-pengulangan materi yang dianggap sulit perlu dilakukan untuk
pemantapan pemahaman.

8. Pengertian Kurikulum 2004 (KBK)


Dalam dokumen kurikulum 2004 dirumuskan bahwa Kurikulum Berbasis
Kompetensi (KBK) merupakan perangkat rencana dan pengaturan tentang
kompetensi dan hasil belajar yang harus dicapai oleh siswa, penilaian, kegiatan
belajar mengajar,dan pemberdayaan sumber daya pendidikan dalam
pengembangan kurikulum sekolah (Depdiknas 2002).

KBK menuntut keragaman penggunaan berbagai sumber informasi, yang tidak


hanya mengandalkan dari mulut guru, akan tetapi dari sumber lainnya termasuk
dari media elektronik semacam komputer dan internet, video, dan lain sebagainya.
Dengan demikian kemajuan bidang teknologi khususnya teknologi informasi,
memungkinkan siswa bisa belajar dari berbagai sumber belajar sesuai dengan
minat, kemampuan, dan kecepatan masing-masing.
Kurikulum ini menitik beratkan pada pengembangan kemampuan
melakukan (kompetensi) tugas-tugas dengan standar performasi tertentu, sehingga
hasilnya dapat dirasakan oleh peserta didik, berupa penguasaan terhadap
serangkat kompetensi tertentu. KBK diarahkan untuk mengembangkan
pengetahuan, pemahaman, kemampuan, nilai, sikap dan minat peserta didik, agar
dapat melakukan sesuatu dalam bentuk kemahiran, ketepatan dan keberhasilan
dengan penuh tanggungjawab.

Ciri-ciri Kurikulum KBK

1. Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual


maupaun klasikal. Artinya isi KBK pada intinya adalah menekankan pada
pencapaian sejumlah kompetensi yang harus dicapai oleh siswa. Kompetensi
inilah yang selanjutnya dinamakan standar minimal atau kemampuan dasar.

11
2. Berorientasi pada hasil belajar dan keberagaman. Artinya, keberhasilan
pencapaian kompetensi dasar diukur oleh indikator hasil belajar. Indikator
inilah yang dijadikan acuan apakah kompetensi yang diharapkan sudah
tercapai atau belum.
3. Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang
bervariasi. Dalam KBK proses menerima informasi dari guru harus
ditinggalkan. Belajar adalah proses mencari dan menemukan. Jadi menuntut
keaktifan siswa, oleh sebab itu proses pembelajaran harus bervariasi.
4. Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan
suatu kompetensi. Artinya, keberhasilan pembelajaran KBK tidak hanya
diukur dari sejauh mana siswa dapat menguasai isi atau materi pelajaran, akan
tetapi bagaimana cara mereka menguasai pelajaran tersebut. Jadi hasil dan
proses adalah dua sisi yang sama penting.

Kelebihan Kurikulum KBK

1. Mengembangkan kompetensi-kompetensi siswa pada setiap aspek mata


pelajaran dan bukan pada penekanan penguasaan konten mata pelajaran itu
sendiri
2. Mengembangkan pembelajaran yang berpusat pada siswa (student oriented).
Siswa dapat bergerak aktif secara fisik ketika belajar dengan memanfaatkan
indra seoptimal mungkin dan membuat seluruh tubuh serta pikiran terlibat
dalam proses belajar. Dengan demikian, siswa dapat belajar dengan bergerak
dan berbuat, belajar dengan berbicara dan mendengar, belajar dengan
mengamati dan menggambarkan, serta belajar dengan memecahkan masalah
dan berpikir. Pengalaman-pengalaman itu dapat diperoleh melalui kegiatan
mengindra, mengingat, berpikir, merasa, berimajinasi, menyimpulkan, dan
menguraikan sesuatu. Kegiatan tersebut dijabarkan melalui kegiatan
mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis.
3. Bentuk pelaporan hasil belajar yang memaparkan setiap aspek dari suatu mata
pelajaran memudahkan evaluasi dan perbaikan terhadap kekurangan peserta
didik.
4. Penilaian yang menekankan pada proses memungkinkan siswa untuk
mengeksplorasi kemampuannya secara optimal, dibandingkan dengan
penilaian yang terfokus pada konten.

Kelemahan Kurikulum KBK

1. Paradigma guru dalam pembelajaran KBK masih seperti kurikulum-


kurikulum sebelumnya yang lebih pada teacher oriented
2. Kualitas guru, hal ini didasarkan pada statistik, 60% guru SD, 40% guru
SLTP, 43% SMA, 34% SMK dianggap belum layak untuk mengajar di
jenjang masing-masing. Selain itu 17,2% guru atau setara dengan 69.477 guru
mengajar bukan bidang studinya. Kualitas SDM kita adalah urutan 109 dari
179 negara berdasarkan Human Development Index.
3. Sarana dan pra sarana pendukung pembelajaran yang belum merata di setiap
sekolah, sehingga KBK tidak bisa diimplementasikan secara komprehensif.
4. Kebijakan pemerintah yang setengah hati, karena KBK dilaksanakan dengan
uji coba di beberapa sekolah mulai tahun pelajaran 2001/2002 tetapi tidak ada
payung hukum tentang pelaksanaan tersebut.

12
5. Konsep KBK sering mengalami perubahan termasuk pada urutan standar
kompetensi dan kompetensi dasar sehingga menyulitkan guru untuk
merancang pembelajaran secara berkelanjutan.

Komponen Utama Kurikulum Berbasis Kompetensi

Kurikulum berbasis kompetensi merupakan kerangka inti yang memiliki


empat komponen dasar yaitu: Kurikulum dan Hasil Belajar, Penilaian Berbasis Kelas,
Kegiatan Belajar Mengajar, dan Pengelolaan Kurikulum Berbasis Sekolah.

1) Kurikulum Hasil Belajar (KHB).


KHB berisi tentang perencaan pengembangan kompetensi siswa yang perlu
dicapai secara keseluruhan sejak lahir sampai usia 18 tahun. Kurikulum dan hasil
belajar ini memuat kompetensi, hasil belajar, dan indicator. KHB memberikan suatu
rentang kompetensi dan hasil belajar siswa yang bermanfaat bagi guru untuk
menentukan apa yang harus dipelajari oleh siswa, bagaimana seharusnya mereka
dievaluasi, dan bagaimana pembelajaran disusun.

2) Penilaian Berbasis Kelas (PBK).


Memuat prinsip, sasaran, dan pelaksanaan penilaian berkelanjutan yang lebih
akurat dan konsisten sebagai akuntabilitas publik melalui penilaian terpadu dengan
kegiatan belajar mengajar di kelas (berbasis kelas) dengan mengumpulkan kerja
siswa (fortofolio), hasil karya (produk), penugasan (proyek), kinerja (performance),
dan tes tertulis. Penilaian ini mengidentifikasi kompetensi/hasil belajar yang telah
dicapai, dan memuat pernyataan yang jelas tentang standar yang harus dan telah
dicapai serta peta kemajuan belajar siswa dan pelaporan.
3) Kegiatan Belajar Mengajar
KBM diarahkan pada kegiatan aktif siswa dala membangun makna atau pemahaman,
guru tidak bertindak sebagai satu-satunya sumber belajar, tetapi sebagai motivator
yang dapat menciptakan suasana yang memungkinkan siswa dapat belajar secara
penuh dan optimal.
4) Pengelolaan Kurikulum Berbasis sekolah.
Memuat berbagai pola pemberdayaan tenaga kependidikan dan sumber daya lain
untuk meningkatkan mutu hasil belajar. Pola ini dilengkapi dengan gagasan
pembentukan jaringan kurikulum, pengembangan perangkat kurikulum (antara lain
silabus), pembinaan profesional tenaga kependidikan, dan pengembangan sistem
informasi kurikulum.

Perbandingan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dan Kurikulum 1994

PERSAMAAN

1. Pendidikan dasar 9 tahun


2. Penekanan pada kemampuan Membaca, Menulis, dan Berhitung
3. Konsep-konsep dan materi pokok (esensial) pada setiap mata pelajaran untuk
mencapai kompetensi
4. Adanya muatan lokal
5. Alokasi waktu setiap jam pelajaran tetap 45 menit untuk SMP/MTs dan
SMA/MA

PERBEDAAN

13
1. Pemberdayaan sekolah dan daerah --> Sentralistik
2. Memuat Standar Kompetensi ---> Tidak memuat standar kompetensi
3. Kegiatan pembiasaan perilaku terintegrasi dan terprogram ---> Tidak ada kegiatan
pembiasaan perilaku terintegrasi dan terprogram
4. Pengenalan mata pelajaran TIK ---> belum ada mata pelajaran TIK
5. Penilaian Berbasis Kelas (PBK) --> Meskipun sudah disarankan untuk melakukan
PBK, kenyataannya masih didominasi penilaian pilihan ganda
6. Pendekatan tematik di kelas I dan II SD/MI untuk memperhatikan kelompok usia
--> Pendekatan tematik di kelas I dan II SD/MI hanya disarankan
7. Kesinambungan pemeringkatan kompetensi bahan kajian dari kelas I sampai kelas
XI --> Tidak ada kesinambungan pemeringkatan kompetensi bahan kajian dari
kelas I sampai kelas XII
8. Silabus disusun oleh daerah dan atau sekolah sesuai dengan kebutuhan dan
kemampuannya --> Memberikan peluang pada guru/sekolah/daerah untuk
mengembangkan potensinya

9. KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (2006)


Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) merupakan kurikukulum
terbaru di indonesia yang disarankan untuk dijadikan rujukan oleh para pengembang
kurikulum di tingkat satuan pendidikan.
KTSP merupakan kurikulum yang disempurnakan dari kurikulum 2004
(KBK). Kurikulum ini disusun oleh masing-masing satuan pendidikan atau sekolah.
Prinsipnya hampir sama dengan KBK. KTSP diberlakukan mulai tahun 2006/2007.
Dalam kurikulum ini pemerinyah hanya sebagai pengembang kompetensi standar isi
dan kelulusan. Selanjutnya sekolah bebas menyusun kurikulum sesuai dengan
keadaan sekolah dan siswa didik.
KTSP disusun dalam rangka memenuhi amanat yang tertuang dalam UU RI
no. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional. Dalam KTSP pendekatan
belajar berbasis materi, jam belajar dan struktur program.
Perubahan kurikulum harus beranjak pada kompetensi yang berdasar pada
kebutuhan di masyarakat. Harapannya dengan kurikulum KTSP lebih mudah
diterapkan guru karenha guru diberi kebebasan untuk mengembangkan kompetensi
siswa. Keberhasilan pendidikan bergantung pada sekolah dan guru yang
menerapkan kurikulum tersebut. Harapannya dapat meningkatkan kualitas SDM.
KTSP lahir dari semangat otonomi daerah, di mana urusan pendidikan tidak
semuanya tanggung jawab pusat, akan tetapi menjadi tanggung jawab daerah. Oleh
sebab itu, dari pola atau model pengembangannya KTSP merupakan salah satu
model kurikulum yang bersifat desentralistik.
KTSP meruapakan strategi pengembangan kurikulum untuk mewujudkan
sekolah yang efektif, produktif dan berprestasi. KTSP merupakan paradigma baru
pengembangan kurikulum yang memberikan otonomi luas pada setiap satuan
pendidikan dan pelibatan masyarakat dalam rangka mengefektifkan belajar-
mengajar di sekolah. Otonomi diberikan agar setiap satuan pendidikan dan sekolah
memiliki keleluasaan dalam mengelola sumber daya, sumber dana, sumber belajar
dan mengalokasikannya sesuai prioritas kebutuhan serta lebih tanggap terhadap
kebutuhan setempat.
KTSP adalah suatu ide tentang pengembangan kurikulum yang diletakkan
pada posisi yang paling dekat dengan pembelajaran, yakni sekolah dan satuan
pendidikan. Pemberdayaan sekolah dan satuan pendidikan dengan memberikan
otonomi yang lebih besar, di samping menunjukkan sikap tanggap pemerintah

14
terhadap masyarakat juga merupakan sarana peningkatan kualitas, efisiensi dan
pemerataan pendidikan.
Dalam KTSP, pengembangan kurikulum dilakukan oleh guru, kepala sekolah,
serta komite sekolah dan dewan pendidikan. Badan ini merupakan lembaga yang
ditetapkan berdasarkan musyawarah dari pejabat daerah setempat. Komisi
pendidikan pada DPRD, pejabat pendidikan daerah, kepala sekolah, tenaga
kependidikan, perwakilan orang tua peserta didikk, dan tokoh masyarakat. Lembaga
inilah yang menetapkan segala kebuijakan sekolah berdasarkan ketentuan-ketentuan
tentang pendidikan yang berlaku. Selanjutnya komite sekolah perlu merumuskan
dan menetapkan visi, misi dan tujuan sekolah dengan berbagai implikasinya
terhadap program-program kegiatan operasional untuk mencapai tujuan sekolah.

Secara khusus tujuan diterapkannya KTSP adalah untuk :

1. Meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah


dalam mengembangkan kurikulum, mengelola dan memberdayakan seuber
daya yang tersedia.
2. Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam
pengembangan kurikulum melalui pengambilan keputusan bersama.
3. Meningkatkan kompetisi yang sehat antar satuan pendidikan tentang kualitas
pendidikan yang akan dicapai.

Landasan Pengembangan KTSP


KTSP dilandasi oleh undang-undang dan peraturan pemerintah sebagai berikut :

1. Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas dikemukkan bahwa


Standar Nasional Pendidikan terdiri atas standar isi, proses, kompetisi lulusan,
tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan dan
penilaian pendidikan yang harus ditingkatkan secara berencana dan berkala.
2. Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan
dikemukakan bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan peraturan
mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai
pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan
pendidikan tertentu.
3. Permendikas No. 22 tahun 2006 tentang standar isi, mencakup lingkup materi
minimal dan tingkat kompetensi minimal untuk mencapai kompetensi lulusan
minimal pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu.
4. Permendiknas No. 23 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk
satuan dasar pendidikan dasar dan menengah digunakan sebagai pedoman
penilaian dalam menentukan kelulusan peserta didik.
5. Permendiknas No. 24 tahun 2006 tentang Pelaksanaan permendiknas no. 22
dan 23, dikemukakan bahwa satuan pendidikan dasar dan menengah
mengembangkan dan menetapkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dasar
dan menengah sesuai kebutuhan satuan pendidikan yang bersangkutan.

Karakteristik KTSP
Karakteristik KTSP bisa diketahui antara lain dari bagaimana sekolah dan satuan
pendidikan dapat mengoptimalkan kinerja, proses pembelajaran, pengelolaan sumber
belajar, profesionalisme tenaga kependidikan serta sistem penilaian.

1. Pemberian otonomi luas kepada sekolah dan satuan pendidikan

15
Sekolah dan satuan pendidikan juga diberi kewenangan dan kekuasaan yang luas
untuk mengembangkan pembelajaran sesuai dengan kondisi dan kebutuhan peserta
didik serta tuntutan masyarakat.
2. Partisipasi masyarakat dan orang tua yang tinggi
Orang tua peserta didik dan masyarakat tidak hanya mendukung sekolah melalui
bantuan keuangan, tetapi melalui komite sekolah dan dewan pendidikan merumuskan
serta mengembangkan program-program yang dapat meningkatkan kualitas
pembelajaran.
3. Kepemimpinan yang demokratis dan profesional
Kepala sekolah dan guru-guru yang direkrut sebagai tenaga pelaksana kurikulum
merupakan orang-orang yang memiliki kemampuan dan integritas profesional.
4. Tim-kerja yang kompak dan transparan
Dalam pelaksanaan pembelajaran, pihak-pihak terkait bekerjasama secara profesional
untuk mencapai tujuan-tujan yang disepakati bersama.

Pembelajaran dan Penilaian Berbasis KTSP


1. Prinsip Pelaksanaan KTSP

Pelaksanaan kurikulum didasarkan pada potensi, perkembangan dan kondisi


peserta didik untuk menguasai kompetensi yang berguna bagi dirinya.
Kurikulum dilaksanakan dengan menegakkan lima pilar belajar, yaitu : a)
belajar untuk beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yng Maha Esa, b) belajar
untuk memahami dan menghayati, c) belajar untuk mampu melaksanakan dan
berbuat secara efektif, d) belajar untuk hidup bersama dan berguna bagi orang
lain, e) belajar untuk membangun dan menemukan jati diri melalui proses
pembelajaran yang efekti, aktif, kreatif dan menyenangkan.
Pelaksanaan kurikulum memungkinkan peserta didik mendapat pelayanan
yang bersifat perbaikan, pengayaan atau percepatan sesuai dengan potensi,
tahap perkembngan dan kondisi peserta didik dengan tetap memperhatikan
keterpaduan pengembangan pribadi peserta didik yang berdimensi ke-
Tuhanan, keindividuan, kesosialan dan moral.
Kurikulum dilaksanakan dalam suasana hubungan peserta didik dan pendidik
yang saling menerima dan mengahrgai, akrab, terbuka, dan hangat dengan
prinsip di belakang memberikan daya dan kekuatan, di tengah membangun
semangat dan prakarsa dan di depan memberikan contoh dan teladan.
Kurikulum dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan multistrategi dan
multimedia, sumber belajar dan teknologi yang memadai dan memanfaatkan
lingkungan sekita dengan sumber belajar.
Kurikulum dilaksanakan dengan mendayagunakan kondisi alam, sosial dan
budaya serta kekayaan daerah untuk keberhasilan pendidikan dengan muatan
seluruh bahan kajian secara optimal.
Kurikulum yang mencakup seluruh komponen kompetensi mata pelajaran,
muatan lokal dan pengembangan diri diselenggrakan dalam keseimbangan,
keterkaitan dalam kesinambungan yang cocok dan memadai antarkelas dan
jenis serta jenjang pendidikan.

2. Pengembangan Program KTSP

a. Program Tahunan
Program tahunan merupakan program umum setiap mata pelajaran untuk setiap kelas
yang dikembangkan oleh guru mata pelajaran yang bersangkutan. Program ini perlu

16
dipersiapkan dan dikembangkan oleh guru sebelum tahun ajaran karena merupakan
program bagi pengembangan program-program berikutnya, yakni program semester,
program mingguan dan program harian.
Sumber-sumber yang dapat dijadikan bahan pengembangan program tahunan antara
lain :

1. Daftar kompetensi standar yang dikembangkan dalam silabus setiap mata


pelajaran.
2. Ruang lingkup dan urutan kompetensi disusun dalam topik atau tema dan sub
topik atau sub tema yang mengandung ide-ide pokok sesuian dengan
kompetensi dan tujuan pembelajaran.
3. Kalender pendidikan. Dapat dilihat berapa jam waktu yang efektif digunakan
untuk kegiatan pembelajaran, termasuk waktu libur dan lain-lain.

b. Program Semester
Program semester berisikan garis-garis besar mengenai hal-hal yang hendak
dilaksanakan dan dicapai dalam semester tersebut. Program semester ini merupakan
penjabaran dari program tahunan. Pada umumnya progam semester ini berisikan
tentang pokok bahasan yang hendak disampaikan, waktu yang direncanakan dan
keterangan-keteranagan.

c. Program Mingguan dan Harian


Program ini merupakan penjabaran dari program semester dan program modul.
Melalui program ini dapat diketahui tujuan-tujuan yang telah dicapai dan yang perlu
diulang bagi peserta didik, juga dapat mengidentifikasi kemajuan belajar setiap
peserta didik yang medapat kesulitan dalam pembelajaran.

d. Program Pengayaan dan Remedial


Peserta didik dipandang tuntas belajar jika ia mampu menyelesaikan dan menguasai
pembelajaran minimal 65% dari seluruh tujuan pembelajaran. Sedangkan
keberhasilan kelas dilihat dari jumlah peserta didik yang mampu menyelesaikan
minimal 65%, sekurang-kurangnya 85% dari jumlah peserta didik yang ada di
kelas.Sekolah perlu memberikan perlakuan khusus terhdap peserta didik yang
mendapati kesulitan belajar melalui kegiatan remedial.

e. Program Pengembangan Diri


Sekolah berkewajiban memberikan program pengembangan diri melalui bimbingan
dan konseling kepada peserta didik yang menyangkut pribadi, sosial, belajar dan
karier.

3. Pelaksanaan Pembelajaran KTSP


a. Pre Tes (tes awal)
Pada umumnya pelaksanaan proses pembealajaran dimulai dengan pre tes. Pre tes ini
memiliki banyak kegunaan dalam menjajaki proses pembelajaran yang akan
dilaksanakan. Fungsi pre tes antara lain :
1) Untuk menyiapkan peserta didik dalam proses belajar.
2) Untuk mengetahui tingkat kemajuan peserta didik.
3) Untuk mengetahui kemampuan awal yang telah dimiliki peserta didik.
4) Untuk mengetahui darimana seharusnya proses pembelajaran dimulai.

b. Pembentukan kompetensi

17
Pembentukan kompetensi merupakan kegiatan dari pelaksanaan proses
pembelajaran, yakni bagaimana kompetensi dibentuk peserta didik, dan bagaimana
tujuan-tujan pembelajaran direalisasikan.
Kualitas pembentukan kompetensi dapat dilihat dari segi proses dan segi
hasil. Dari segi proses, dapat dikatakan berhasil apabila 75% dari peserta didik
terlibat secara aktif, baik fisik, mental, maupun sosial dalam proses pembentukan
kompetensi. Sedangkan dari segi hasil, dapat dikatakan berhasil apabila terjadi
perubahan perilaku yang positif pada diri peserta didik sebesar 75% sesuai dengan
kompetensi dasar.

c. Post Tes
Pada umumnya pembelajaran diakhiri dengan post tes. Fungsi post tes anatara lain :

1. Untuk mengetahui tingkat penguasaan peserta didik terhadap kompetensi


yang telah ditentukan, baik secara individu maupun kelompok.
2. Untuk mengetahui kompetensi dan tujuan-tujuan yang dapat dikuasai peserta
didik serta kompetensi dan tujuan-tujan yang belum dikuasainya.
3. Untuk mengetahui peserta didik yang perlu mengikuti kegiatan remedial, dan
yang perlu melakukan pengayaan serta untuk mengetahui tingkat kesulitan
belajar yang dihadapi siswa.
4. Sebagai bahan acuan untuk melakukan perbaikan terhadap kegiatan
pembelajaran dan pembentukan kompetensi yang dilaksanakan baik terhadap
perencanaan , pelaksanaan maupun evaluasi.

Kelebihan KTSP :

Mendorong terwujudnya otonomi sekolah dalam penyelenggaraan


pendidikan.
Mendorong para guru, kepala sekolah dan pihak manajemen sekolah semakin
meningkatkan kreativitasnya dalam penyelenggaraan program-program
pendidikan.
KTSP sangat memungkinkan bagi setiap sekolah untuk menitikberatkan dan
mengembangkan mata pelajaran tertentu bagi kebutuhan siswa.
KTSP akan mengurangi beban belajar siswa yang sangat padat dang
memberatkan kurang lebih 20%.
KTSP memberikan peluang yang lebih luas kepada sekolah-sekolah plus
untuk mengembangkan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan.

Kelemahan KTSP

Kurangnya SDM yang diharapkan mampu menjabarkan KTSP pada


kebanyakan satuan pendidikan yang ada.
Kurangnya ketersediaan sarana dan prasarana pendukung sebagai
kelengkapan dari pelaksanaan KTSP.
Masih banyak guru yang belum memahami KTSP secara komprehensif baik
konsepnya, penyusunannya maupun prakteknya di lapangan.
Penerapan KTSP yang merekomendasikan pengurangan jam pelajaran akan
berdampak berkurang pendapatan guru.

G. Persamaan dan Perbedaan antara KBK dengan KTSP


Persamaan KBK dan KTSP

18
Memiliki tujuan yang sama terhadap kemajuan dunia pendidikan yaitu untuk
menciptakan sumber daya manusia yang berkompeten dan cerdas dalam
membangun identitas budaya dan bangsa, berbudi pekerti yang luhur serta
mencerdaskan kehidupan bangsa.
Sama-sama bergantung pada materi yang mengacu kepada silabus.

Perbedaan KBK dan KTSP

Dalam KBK guru lebih aktif menjelaskan, sedangkan KTSP guru cenderung
menunggu pendapat siswa.
KBK lebih mengutamakan diskusi kelompok, sedangkan KTSP kelompok
kerja.
Jumlah pelajaran KBK lebih banyak dari KTSP.
KBK alokasi waktu pada setiap pertemuan lebih banyak, sedangkan KTSP
alokasi waktu pada pertemuan lebih sedikit.

10. KURIKULUM 2013


Pengertian Kurikulum secara umum merupakan seperangkat rencana dan
pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan
sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan
pendidikan tertentu. Tujuan tertentu ini meliputi tujuan pendidikan nasional serta
kesesuaian dengan kekhasan, kondisi dan potensi daerah, satuan pendidikan dan
peserta didik. (BSNP,2006: 1)
Sedangkan kurikulum terbaru saat ini yang digunakan di Indonesia yaitu
Kurikulum Tahun 2013, di mana kurikulum ini lebih mirip dengan Kurikulum
Berbasis Kompetensi. Model kurikulum berbasis kompetensi ini ditandai oleh
pengembangan kompetensi berupa sikap, pengetahuan, keterampilan berpikir, dan
keterampilan psikomotorik yang dikemas dalam berbagai mata pelajaran. Walaupun
hampir mirip dengan model Kurikulum Berbasis Kompetensi, akan tetapi masih ada
juga perbedaan-perbedaannya. Kurikulum dikembangkan dengan memberikan
kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan potensi dan kemampuan
yang mereka miliki. Di dalam kurikulum ini memandang bahwa setiap peserta didik
itu memiliki potensinya masing-masing yang perlu digali dan dikembangkan,
sehingga kelak potensinya tersebut dapat bermanfaat di dalam kehidupan si peserta
didik nantinya dalam bermasyarakat. Kurikulum ini dikembangkan berdasarkan
prinsip bahwa setiap peserta didik berada pada posisi sentral dan aktif dalam belajar,
sehingga dapat dikatakan bahwa guru hanya sebagai fasilitator saja. Peran peserta
didik di dalam kegiatan pembelajaran itu lebih diutamakan, sehingga potensi-potensi
yang ada di dalam diri peserta didik menjadi lebih tersalurkan dan dapat berkembang.
Penyelenggaraan pendidikan seperti yang disampaikan dalam Undang-Undang
Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional diharapkan dapat
mewujudkan proses berkembangnya kualitas pribadi peserta didik sebagai generasi
penerus bangsa di masa depan.
Latar belakang perubahan kurikukulum
Dalam system suatu pendidikan perlunya sebuah kurikulum yang menjadi
mesin untuk pencapaian tujuan pendidikan yang sesuai dengan harapan suatu bangsa.
Kurikulum besifat dinamis, yang dimana sewaktu-waktu bisa berubah sesuai situasi
dan kondisi tuntutan zaman. Meskipun demikian perubahan sebuah kurikulum
dilakukan secara sistematis dan terarah agar tidak melenceng dari jalur yang
diharapkan. Perubahan dan pengembangan kurikulum tersebut harus memiliki visi

19
dan arah yang jelas, mau dibawa kemana pendidikan nasional dengan kurikulum
tersebut.
Sejak wacana perubahan dan pengembangan kurikulum digulirkan, telah
muncul berbagai tanggapan pro dan kontra mengenai perubahan dan pengembangan
kurikulum 2013. Sehubungan dengan itu untuk menanggapi tanggapan miring
tersebut, Mentri Pendidikan dan Kebudayaan Muhammad Nuh dalam berbagai
kesempatan menegaskan perlunya perubahan dan pengembangan kurikulum 2013.
Mendikbut mengungkapkan bahwa pengembangan dan perubahan kurikulum
merupakan persoalan yang sangat penting, karena kurikulum harus bisa disesuaikan
dengan perkembangan zaman. Perubahan dan pengembangan kurikulum ini
didasarkan oleh beberapa hasil studi kasus tentang kemampuan peserta didik
Indonesia dalam kancah Internasional. Hasi survey Trend in International Math and
science Tahun 2007, yang dilakukan oleh Global Institute, menunjukkan hanya 5%
dari peserta didik di Indonesia yang mampu menyelesaikan soal penalaran tingkat
tinggi, padahal peserta didik korea dapat mencapai 71% , sebaliknya 78% pesrta didik
Indonesia dapat mengerjakan soal hafalan berkategori rendah, sedangkan peserta
didik Korea hanya 10%, dari 65% Negara peserta PISA. Jadi bisa disimpulkan bahwa
kemampuan peserta didik Indonesia hanya sampai pada level 3 saja, sedangkan
banyak peserta didik Negara lain bisa mencapai level 4,5 bahkan level 6. Dalam
rangka inilah diperlukan adanya perubahan dan pengembangan kurikulum, yang
dimulai dengan penetapan standar kopetnsi kelulusan, standar isi, standar proses d an
standar penilaian.
Menurut E. Mulyasa perlunya perubahan kurikulum juga karena adanya
beberapa kelemahan yag ditemukan dalam KTSP 2006 sebagai berikut:

1. Isi dan pesan-pesan kurikulum masih terlalu padat, yang ditunjukkan dengan
banyaknya mata pelajaran dan banyak materi yang keluasan dan kesukarannya
melampaui tingkat perkembangan usia anak
2. Kurikulum belum mengembangkan kopetensi secara utuh sesuai dengan visi,
misi, dan tujuan pendidikan nasional.
3. Kopetensi yang dikembangkan lebih didominasi oleh aspek pengetahuan,
belum sepenuhnya menggambarkan pribadi peserta didik(pengetahuan,
keterampilan dan sikap).
4. Berbagai kompetensi yang diperlukan sesuai dengan perkembangan
masyarakat, seperti pendidikan berkarakter, peduli lingkungan, pendekatan
dan metode pembelajaran konstruksifistik, keseimbangan soft skill and hard
skill, jiwa kewirahusaan, belum terakomodasi di dalam kurikulum.
5. Kurikulum belum peka dan tanggap terhadap berbagai perubahan social yang
terjadi pada tingkat local, nasional, maupun global.
6. Standar proses pembelajaran belum menggambarkan urutan pembelajaran
yang etrperinci sehingga membuka peluang penafsiran yang beranekaragam
yang berujung pada pembelajaran yang berpusat pada guru.
7. Penilaian belum menggunakan standar penilaian yang berbasis kompetensi,
serta belum tegas memberikan layanan remediasi dn pengayaan secara
berkala.

Disamping beberapa kelemahan sebagaimana yang telah dikemukan di atas,


perubahan dan pengembangan kurikulum diperlukan karena adanya beberapa
kesenjangan kurikulum yang sedang berlaku dahulunya( KTSP).

Landasan perubahan dan pengembangan kurikulum 2013

20
Pengembangan dan pengembangan kurikulum 2013 dilandasi secara filosofis, yudiris,
dan konseptual sebagai berikut.

1. Landasan filosofis

Filosofis Pancasila yang memberikan berbagai prinsip dasar dalam


pembangunan pendidikan
Filosofis pendidikan yang berbasis pada nilai-nilai luhur, nilai akademik,
kebutuhan peserta didik dan masyarakat.

2. Landasan yuridis

RPJMM 2010-2014 Sektor Pendidikan, tentang Perubahan Metodologi


Pembelajaran dan Penataan Kuruikulum.
PP No. 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan
IMPRES No.1 Tahun 2010, tentang Percepatan pelaksanaan Prioritas
Pembangunan Nasional , penyempurnaan kurikulum dan metode
pembelajaran aktif berdsarkan nilai-nilai budaya bangasa untuk membentuk
daya saing dan karakter bengsa.

3. Landasan konseptual

Relevansi pendidikan
Kurikulum berbasis kompetensi dan karakter
Pembelajaran konstektual
Pembelajaran aktif
Penilaian yang valid, untuh, dan menyeluruh

Keunggulan kurikulum 2013

Kurikulum sebagai bidang kajian yangyang sangat sulit dipahami, tetapi sangat
terbuka untuk didiskusikan. Berbagai cara para ahli menemukan, bereksperimen dan
meneliti bagaimana menemukan kurikulum yang sesuai dengan karakter bangsa, nilai
luhur dan tuntutan zaman. Sampai kepada kurikulum yang kita kenal dengan
kurikulum 2013,. Kurikulum 2013 yang berbasis karakter dan kompetensi lahir
sebagai jawaban terhadap berbagai kritikan terhadap kurikulum 2006, serta sesuai
dengan perkembangan kebutuhan dunia kerja. Kurikulum 2013 merupakan slah satu
upaya pemerintah untuk mencapai keunggulan masyarakat bangsa dalam penguasaan
ilmu dan teknologi seperti yang digariskan dalam haluan negara. dengan demikian,
diharapkan dapat menyelesaikan permasalahan yang terjadi belakangan ini, dan
menjawab tuntutan zaman yang telah memasuki era globalisasi yang penuh dengan
berbagai tantangan.
Implementasi kurikulum 2013 diharapkan dapat mengahasilkan insan yang
produktif, kreatif, dan inovatif. Menurut E. Mulyasa, kurikulum berbasis karakter dan
kompetensi ini, secara konseptual memiliki beberapa keunggulan yaitu:

Kurikulum 2013 menggunakan pendekatan yang bersifat karena berangkat,


berfokus, dan bermuara pada hakekat peserta didik untuk mengembangkan
berbagai kompetensi sesuai dengan potensi masing-masing. Dalam hal ini
pesrta didik merupakan subjek belajar dan proses belajar berlansung secara

21
alamiah dalam bentuk bekerja dan mengalami berdasarkan kompetensi
tertentu, bukan transfer pengetahuan. Dengan kata lain siswa dituntut untuk
bisa berbuat dengan kemampuannya sendiri sesuai dengan potensi yang telah
dimilikinya.
Kurikulum 2013 berbasis karakter dan kompetensi boleh jadi mendasari
pengembangan kemampuan-kemampuan lain. Penguasaan ilmu pengetahuan
dan keahlian tertentu dalam suatu pekerjaan, kemampuan memecahkan
masalah dalam kehidupan sehari-hari, serta pengembanganaspek-aspek
kepribadian dapat dilakukan secara optimal berdasarkan standar kompetensi
tertentu.
Dalam bidang studi atau mata pelajaran tertentu yang pengembangannya lebih
tepat menggunakan pendekatan kompetensi, terutama yang berkaitan dengan
keterampilan.

Kelemahan kurikulum 2013

Walaupun kurikulum belum sepenuhnya terlaksana tetapi mempunyai beberapa


kelemahan yaitu sebagai berikut.

1. Pemerintah seolah melihat semua guru dan siswa memiliki kapasitas yang
sama dalam kurikulum 2013. Guru juga tidak pernah dilibatkan langsung
dalam proses pengembangan kurikulum 2013.
2. Tidak ada keseimbangan antara orientasi proses pembelajaran dan hasil dalam
kurikulum 2013. Keseimbangan sulit dicapai karena kebijakan ujian nasional
(UN) masih diberlakukan.
3. Pengintegrasian mata pelajaran IPA dan IPS dalam mata pelajaran Bahasa
Indonesia untuk jenjang pendidikan dasar tidak tepat, karena rumpun ilmu
pelajaran-pelajaran tersebut berbeda

Persamaan kurikulum 2013 dengan kurikulum sebelumnya

Kurikulum 2006 (KTSP) dan Kurikulum 2013 sama-sama menampilkan teks


sebagai butir-butir KD.
Untuk struktur kurikulumnya baik pada KTSP atau pada 2013 sama-sama
dibuat atau dirancang oleh pemerintah tepatnya oleh Depdiknas.
Beberapa mata pelajaran masih ada yang sama seperti KTSP.
Terdapat kesamaan esensi kurikulum, misalnya pada pendekatan ilmiah yang
pada hakekatnya berpusat pada siswa. Dimana siswa yang mencari
pengetahuan bukan menerima pengetahuan.

Jadi, kurikulum 2013 bertujuan untuk mempersiapkan manusia Indonesia agar


memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga negara yang beriman,
produktif, kreatif, inovatif, dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan peradaban dunia.

22