Anda di halaman 1dari 61

Penalaran 41

2
Penalaran (Reasoning)

Scientists, being only human, cannot always admit their errors,


even when confronted with strict proof.

(Thomas S. Kuhn, 1970)

Telah disebutkan dalam Bab 1 bahwa pengertian teori akuntansi dalam buku ini
difokuskan pada pengertian teori sebagai suatu penalaran logis untuk menjelas-
kan bagaimana suatu standar akuntansi diturunkan, dikembangkan, atau dipilih.
Penalaran sangat penting perannya dalam belajar teori akuntansi karena teori
akuntansi menuntut kemampuan penalaran yang memadai. Teori akuntansi
banyak melibatkan proses penilaian kelayakan dan validitas suatu pernyataan dan
argumen. Penalaran memberi keyakinan bahwa suatu pernyataan atau argumen
layak untuk diterima atau ditolak. Penalaran logis merupakan salah satu sarana
untuk memverifikasi validitas suatu teori.
Penalaran merupakan pengetahuan tentang prinsip-prinsip berpikir logis
yang menjadi basis dalam diskusi ilmiah. Penalaran juga merupakan suatu ciri
sikap (attitude) ilmiah yang sangat menuntut kesungguhan (commitment) dalam
menemukan kebenaran ilmiah.1 Sikap ilmiah membentengi sikap untuk meme-
cahkan masalah secara serampangan, subjektif, pragmatik, dan emosional. Karena
pentingnya masalah penalaran ini, bab ini membahas secara khusus pengertian
penalaran dan berbagai aspeknya serta aplikasinya dalam akuntansi.

Pengertian
Sebagai titik tolak pembahasan, diajukan pengertian penalaran oleh Nickerson
(1986) sebagai berikut:2

Reasoning encompasses many of the processes we use to form and evaluate


beliefsbeliefs about the world, about people, about the truth or falsity of claims
we encounter or make. It involves the production and evaluation of arguments,
the making of inferences and the drawing of conclusions, the generation and

1
Istilah kebenaran dalam pembahasan di sini tidak dimaksudkan dalam pengertian kebenaran
mutlak (absolute truth) tetapi lebih dalam pengertian kebenaran ilmiah yang dibatasi oleh kemampuan
penalaran manusia. Kebenaran mutlak adalah milik Tuhan. Oleh karena itu, walaupun digunakan isti-
lah kebenaran, kebenaran di sini harus lebih diartikan sebagai validitas. Lihat catatan kaki 16 di Bab 1.
2
Raymond S. Nickerson, Reflections on Reasoning (Hillsdale, NJ: Lawrence Erlbaum Associates,
Publisher, 1986). Pembahasan di bab ini banyak didasarkan atas buku tersebut.
42 Bab 2

testing of hypotheses. It requires both deduction and induction, both analysis


and synthesis, and both criticality and creativity (hlm. 1-2).

Dapat dikatakan bahwa penalaran adalah proses berpikir logis dan sistematis
untuk membentuk dan mengevaluasi suatu keyakinan (belief) terhadap suatu
pernyataan atau asersi (assertion). Pernyataan dapat berupa teori (penjelasan)
tentang suatu fenomena atau realitas alam, ekonomik, politik, atau sosial. Pena-
laran perlu diajukan dan dijabarkan untuk membentuk, mempertahankan, atau
mengubah keyakinan bahwa sesuatu (misalnya teori, pernyataan, atau penjelas-
an) adalah benar. Penalaran melibatkan inferensi (inference) yaitu proses penu-
runan konsekuensi logis dan melibatkan pula proses penarikan simpulan/konklusi
(conclusion) dari serangkaian pernyataan atau asersi. Proses penurunan simpulan
sebagai suatu konsekuensi logis dapat bersifat deduktif maupun induktif. Penalar-
an mempunyai peran penting dalam pengembangan, penciptaan, pengevaluasian,
dan pengujian suatu teori atau hipotesis.
Teori (pernyataan-pernyataan teoretis) merupakan sarana untuk menyata-
kan suatu keyakinan sedangkan penalaran merupakan proses untuk mendukung
keyakinan tersebut. Oleh karena itu, keyakinan (terhadap suatu teori atau per-
nyataan) berkisar antara lemah sampai kuat sekali atau memaksa (compelling)
bergantung pada kualitas atau keefektifan penalaran dalam menimbulkan daya
bujuk atau dukung yang dihasilkan.

Unsur dan Struktur Penalaran


Struktur dan proses penalaran dibangun atas dasar tiga konsep penting yaitu:
asersi (assertion), keyakinan (belief), dan argumen (argument). Struktur penalaran
menggambarkan hubungan ketiga konsep tersebut dalam menghasilkan daya
dukung atau bukti rasional terhadap keyakinan tentang suatu pernyataan.
Asersi adalah suatu pernyataan (biasanya positif) yang menegaskan bahwa
sesuatu (misalnya teori) adalah benar. Bila seseorang mempunyai kepercayaan
(confidence) bahwa statemen keuangan itu bermanfaat bagi investor adalah benar,
maka pernyataan statemen keuangan itu bermanfaat bagi investor merupakan
keyakinannya. Asersi mempunyai fungsi ganda dalam penalaran yaitu sebagai ele-
men pembentuk (ingredient) argumen dan sebagai keyakinan yang dihasilkan oleh
penalaran (berupa simpulan). Artinya, keyakinan yang dihasilkan dinyatakan
dalam bentuk asersi pula. Dengan demikian, asersi merupakan unsur penting
dalam penalaran karena asersi menjadi komponen argumen (sebagai masukan
penalaran) dan merupakan cara untuk merepresentasi atau mengungkapkan
keyakinan (sebagai keluaran penalaran).
Keyakinan adalah tingkat kebersediaan (willingness) untuk menerima bahwa
suatu pernyataan atau teori (penjelasan) mengenai suatu fenomena atau gejala
(alam atau sosial) adalah benar. Orang mendapatkan keyakinan akan suatu per-
nyataan karena dia melekatkan kepercayaan terhadap pernyataan tersebut.
Orang dapat dikatakan mempunyai keyakinan yang kuat kalau dia bersedia
bertindak (berpikir, berperilaku, berpendapat, atau berasumsi) seakan-akan
Penalaran 43

keyakinan tersebut benar. Keyakinan merupakan unsur penting penalaran karena


keyakinan menjadi objek atau sasaran penalaran dan karena keyakinan menentu-
kan posisi (paham) dan sikap seseorang terhadap suatu masalah yang menjadi
topik bahasan.
Argumen adalah serangkaian asersi beserta keterkaitan (artikulasi) dan infe-
rensi atau penyimpulan yang digunakan untuk mendukung suatu keyakinan. Bila
dihubungkan dengan argumen, keyakinan adalah tingkat kepercayaan yang dile-
katkan pada suatu pernyataan konklusi atas dasar pemahaman dan penilaian
suatu argumen sebagai bukti yang masuk akal. Oleh karena itu, argumen menjadi
unsur penting dalam penalaran karena tia3 digunakan untuk membentuk, meme-
lihara, atau mengubah suatu keyakinan. Gambar 2.1 menunjukkan secara diagra-
matik proses penalaran secara umum.

Gambar 2.1
Proses atau Struktur Penalaran
Masukan Proses Keluaran

Asersi sebagai Keyakinan


elemen Argumen bahwa asersi
argumen konklusi benar

Asersi Asersi

inferensi inferensi Asersi


Asersi konklusi
Asersi Asersi
Asersi inferensi

Gambar di atas menunjukkan bahwa argumen dalam proses penalaran meru-


pakan salah satu bentuk bukti yang oleh Mautz dan Sharaf (1964) disebut sebagai
argumentasi rasional (rational argumentation).4 Dua jenis bukti yang lain adalah
bukti natural (natural evidence) dan bukti ciptaan (created evidence). Bukti dalam
bentuk argumen rasional akan banyak diperlukan dalam teori akuntansi yang
membahas masalah konseptual khususnya bila akuntansi dipandang sebagai
teknologi dan teori akuntansi diartikan sebagai penalaran logis. Bukti adalah
3
Kata ini digunakan untuk menunjuk kata argumen. Dalam buku ini, kata tia (sebagai padan
kata it dalam bahasa Inggris) kadangkala digunakan sebagai kata ganti penunjuk nomina sebagai
varian kata dia yang digunakan sebagai kata ganti penunjuk orang ketiga. Sebagai objek (pelengkap
penderita) atau untuk menyatakan kata ganti posesif (padan kata its dalam bahasa Inggris), kata nya
sebagai akhiran masih tetap dapat digunakan. Dengan penalaran yang sama, kata meretia akan
digunakan dalam buku ini sebagai padan kata they untuk kata ganti penunjuk benda (nomina) jamak.
4
R. K. Mautz dan Hussein A. Sharaf, The Philosophy of Auditing (Sarasota, FL: American
Accounting Association, 1964), hlm. 68.
44 Bab 2

sesuatu yang memberi dasar rasional dalam pertimbangan (judgment) untuk


menetapkan kebenaran suatu pernyataan (to establish the truth). Dalam hal teori
akuntansi, pertimbangan diperlukan untuk menetapkan relevansi atau keefek-
tifan suatu perlakuan akuntansi untuk mencapai tujuan akuntansi. Gambar 2.2 di
bawah ini menunjukkan peran argumen sebagai bukti.

Gambar 2.2
Arti Penting Argumen Sebagai Bukti

Keyakinan bahwa
Argumen
pernyataan benar
sebagai bukti
membentuk, sebagai bukti
memelihara,
Semua A adalah C mengubah
B bukan A B bukan C
B bukan C

Perlu dicatat bahwa keyakinan yang diperoleh seseorang karena kekuatan


atau kelemahan argumentasi adalah terpisah dengan masalah apakah pernyataan
yang diyakini itu sendiri benar (true) atau takbenar (false). Dapat saja seseorang
memegang keyakinan yang kuat terhadap sesuatu yang salah atau sebaliknya
menolak suatu pernyataan yang benar (valid). Berikut ini dibahas lebih lanjut
konsep atau komponen penalaran.

Asersi
Asersi (pernyataan) memuat penegasan tentang sesuatu atau realitas. Pada
umumnya asersi dinyatakan dalam bentuk kalimat. Berikut ini adalah contoh
beberapa asersi (beberapa adalah asersi dalam akuntansi):

Manusia adalah makhluk sosial.


Semua binatang menyusui mempunyai paru-paru.
Beberapa obat batuk menyebabkan kantuk.
Tidak ada ikan hias yang melahirkan.
Partisipasi mempengaruhi kinerja.
Statemen aliran kas bermanfaat bagi investor dan kreditor.
Perusahaan besar akan memilih metoda MPKP.
Informasi sumber daya manusia harus dicantumkan di neraca.
Dalam sektor publik, anggaran merupakan alat pengendalian dan
pengawasan yang paling andal.

Beberapa asersi mengandung pengkuantifikasi yaitu semua (all), tidak ada


(no), dan beberapa (some). Asersi yang memuat pengkuantifikasi semua dan tidak
ada merupakan asersi universal sedangkan yang memuat penguantifikasi bebera-
pa merupakan asersi spesifik. Asersi spesifik dapat disusun dengan pengkuanti-
Penalaran 45

fikasi sedikit, banyak, sebagian besar, atau bilangan tertentu. Pengkuantifikasi


diperlukan untuk menentukan ketermasukan (inclusiveness) atau keuniversalan
asersi. Burung dapat terbang tidak dapat diinterpretasi sebagai asersi universal
karena kita tahu kecualian terhadap asersi tersebut yaitu misalnya burung unta
(yang tidak dapat terbang). Tanpa pengkuantifikasi ketermasukan akan sangat
sulit ditentukan. Misalnya seseorang mengajukan asersi Pria lebih berat
badannya daripada wanita. Asersi tersebut meragukan (ambigus) karena sulit
untuk diinterpretasi apa maksud sesungguhnya asersi tersebut. Asersi tersebut
dapat berarti:

Semua pria lebih berat badannya daripada semua wanita?


Beberapa pria lebih berat badannya daripada semua wanita?
Beberapa pria lebih berat badannya daripada beberapa wanita?
Sebagian besar pria lebih berat badannya daripada sebagian besar wanita?
Berat badan rata-rata pria lebih besar daripada berat rata-rata wanita?

Asersi-asersi yang dicontohkan di atas lebih menyatakan makna atau arti


(meaning) daripada struktur atau bentuk (form). Menyajikan asersi berdasar arti
sering menimbulkan salah interpretasi karena keterbatasan bahasa atau karena
kesalahan bahasa. Bila digunakan sebagai unsur argumen, penyajian makna dapat
mengacaukan evaluasi argumen. Dalam mengevaluasi argumen harus dipisahkan
antara validitas penalaran dan kesetujuan terhadap (kebersediaan menerima)
kebenaran isi asersi. Oleh karena itu, asersi sering disajikan dalam struktur atau
diagram tanpa menunjukkan arti. Penyajian struktur umum asersi adalah:

Semua A adalah B.
Tidak ada satupun A adalah B.
Beberapa A adalah B.

Dengan cara di atas, orang akan lebih memperhatikan validitas asersi daripa-
da isi asersi karena simbol A atau B dapat diganti dengan apapun sesuai dengan
topik yang dibahas. Misalnya A dapat berisi badan usaha milik negara (BUMN)
dan B berisi perusahaan pencari laba (PPL). Dalam contoh ini, badan usaha
disamakan dengan perusahaan. Dengan cara ini, asersi lebih dinilai atas dasar
strukturnya daripada atas dasar penerimaan atau kesetujuan terhadap isi asersi
yang diajukan. Dengan demikian, dapat terjadi bahwa suatu asersi valid (benar
secara struktural) tetapi tidak mempunyai kandungan empiris. Pernyataan
Semua A adalah B adalah valid secara struktural tetapi tidak berkaitan dengan
dunia nyata atau pengamatan empiris.
Struktur asersi dapat disajikan pula dalam bentuk diagram untuk memper-
oleh kejelasan mengenai hubungan antara kelas (himpunan) objek yang satu
dengan lainnya. Gambar 2.3 di halaman berikut merepresentasi asersi berstruk-
tur semua A adalah B yang berisi Semua badan usaha milik negara adalah
perusahaan pencari laba dalam bentuk diagram.
46 Bab 2

Gambar 2.3
Penyajian Asersi Dengan Diagram

Perusahaan
Perusahaan pencari laba
pencari laba

BUMN BUMN

Himpunan semua perusahaan Himpunan semua perusahaan Asersi:


milik negara pencari laba Semua BUMN adalah PPL

Dalam representasi di atas, semua kelas objek di luar lingkaran BUMN


merepresentasi himpunan perusahaan non-BUMN. Demikian juga, semua kelas
objek di luar lingkaran PPL merepresentasi himpunan non-PPL. Dalam hal ini,
himpunan yang merepresentasi PPL juga termasuk himpunan yang merepresen-
tasi BUMN. Gambar 2.4 di bawah ini menunjukkan dalam bentuk diagram cara
untuk merepresentasi himpunan non-BUMN pencari laba (gambar kiri) dan non-
perusahaan pencari laba (gambar kanan).

Gambar 2.4

Non-BUMN
Non-BUMN
pencari laba
pencari laba

BUMN
BUMN

Non-pencari laba

Non-BUMN direpresentasi dalam Gambar 2.4 kiri dengan area abu-abu. Non-
perusahaan pencari laba di Gambar 2.4 kanan (area yang diarsir) meliputi segala
macam unit organisasi yang tidak terbatas pada unit organisasi yang disebut peru-
sahaan atau pencari laba. Jadi, area non-PPL sebenarnya merepresentasi universa
(universe) himpunan yang tak terbatas sehingga areanya tidak dapat dibatasi
menjadi empat persegi panjang seperti di atas. Penggambaran seperti itu semata-
mata merupakan konvensi untuk merepresentasi suatu universa.
Penalaran 47

Universa non-BUMN dapat direpresentasi seperti pada Gambar 2.4 kanan


dengan mengarsir pula area pencari laba non-BUMN. Pada contoh di atas, BUMN
termasuk dalam himpunan perusahaan pencari laba. Hubungan semacam ini
merupakan hubungan inklusi (inclusion) dengan struktur Semua A adalah B.
Hubungan dapat pula bersifat peniadaan atau eksklusi (exclusion) atau bersifat
tumpang-tindih atau saling-isi (overlap) seperti dalam struktur berikut:

Tidak ada satupun A adalah B (eksklusi).


Beberapa A adalah B (saling-isi).

Hubungan di atas digunakan untuk merepresentasi kenyataan bahwa tidak


satu pun BUMN adalah perusahan non-pencari laba (NPL) atau kenyataan bahwa
beberapa BUMN adalah perusahaan pencari laba (PL). Hubungan ini dapat
dilukiskan dengan diagram dalam Gambar 2.5 di bawah ini. Dalam gambar terse-
but, diagram kiri merepresentasi asersi eksklusi dan diagram kanan merepresen-
tasi asersi saling-isi (bagian yang diarsir).

Gambar 2.5

BUMN NPL BUMN PL

Representasi asersi dengan diagram bertujuan untuk menjelaskan asersi ver-


bal yang meragukan maksudnya. Asersi verbal berbunyi Beberapa A adalah B
hanya memberitahu bahwa beberapa A adalah B tetapi tidak menunjukkan
hubungan antara himpunan A dan himpunan B secara lengkap. Jadi, tidak dike-
tahui apakah himpunan B termasuk di dalam himpunan A atau tidak (saling-isi).
Gambar 2.6 di halaman berikut menunjukkan cara merepresentasi asersi verbal
Beberapa A adalah B atas dasar informasi tentang hubungan himpunan.
Bila diketahui bahwa terdapat A yang bukan B dan terdapat B yang bukan A,
diagram (1) merupakan representasi yang tepat. Akan tetapi, bila area B yang
bukan A tidak mempunyai anggota (kosong), representasi dalam diagram (2) lebih
tepat. Bila tidak ada informasi tambahan apapun, kedua diagram tersebut dapat
merepresentasi asersi Beberapa A adalah B.5
Dalam bahasa matematika, area yang diarsir pada diagram (1) dalam Gambar
2.6 disebut dengan interseksi (intersection), produk (product), atau konjungsi (con-
junction). Kombinasi dua kelas atau himpunan disebut dengan uni (union), tam-
48 Bab 2

bah (sum), atau-inklusif (inclusive or), atau disjungsi (disjunction). Kombinasi dua
himpunan tidak termasuk bagian yang saling-isi disebut dengan atau-eksklusif
(exclusive or) atau disjungsi eksklusif (exclusive disjunction).

Gambar 2.6

A B
B

(1) (2)

Dalam menyatakan asersi, perlu dibedakan penggunaan kata non dan nir.6
Non (dari kata Inggris non) berarti bukan dan bersifat komplementer. Walaupun
demikian, dalam pemakaiannya kata non lebih bermakna sebagai suatu orientasi
daripada klasifikasi. Sebagai contoh, kata non-profit lebih bermakna tidak
mementingkan profit daripada tidak ada atau tanpa profit. Berbeda dengan non,
nir (dari kata Inggris -less) berarti tanpa dan tidak harus bersifat komplementer
dan juga tidak harus mengklasifikasi. Kata yang tepat menggunakan nir misalnya
sugarless (tanpa gula atau nirgula), useless (tanpa guna atau nirguna), riskless
(tanpa risiko atau nirrisiko), atau scripless (tanpa skrip). Jadi, non-profit jelas ber-
beda dengan nir-profit. Oleh karena itu, tidak tepat pulalah memadankatakan
non-profit dengan nirlaba.7

Interpretasi Asersi

Untuk menerima kebenaran suatu asersi, harus dipastikan lebih dahulu apa arti
atau maksud asersi. Sangat penting sekali untuk memahami arti asersi untuk
menentukan keyakinan terhadap kebenaran asersi tersebut. Untuk memahami

5
Bila benar bahwa semua A adalah B atau bila A dan B merupakan himpunan yang sama, benar
juga dikatakan bahwa beberapa A adalah B. Dalam hal ini, representasi dalam diagram akan menun-
jukkan area A ada di dalam area B atau area A berimpitan (saling isi penuh) dengan area B. Bila tidak
ada informasi tersebut, pada umumnya asersi Beberapa A adalah B diartikan sebagaimana direpre-
sentasi dalam diagram (1) atau (2) dalam Gambar 2.6.
6
Dalam tata bahasa, kata-kata semacam ini disebut pro-leksem. Penulisannya di depan dan mele-
kat pada kata yang diwatasi.
7
Istilah nirlaba digunakan oleh Ikatan Akuntan Indonesa (IAI) dalam Standar Akuntansi Keu-
angan 2002 (PSAK No. 45).
Penalaran 49

maksud asersi, orang juga harus mempunyai pengetahuan tentang subjek atau
topik yang dibahas. Kesalahan interpretasi dapat terjadi karena dua bentuk asersi
yang berbeda dapat berarti dua hal yang sama atau dua hal yang sangat berbeda.
Perhatikan beberapa contoh bentuk asersi berikut:

(1) Semua A adalah B.


(2) Semua B adalah A.
(3) Tidak satu pun A adalah B.
(4) Tidak satu pun B adalah A.
(5) Beberapa A adalah B.
(6) Tidak semua A adalah B.

Asersi (1) jelas berbeda arti dan bentuknya dengan asersi (3). Demikian juga,
asersi (1) jelas berbeda dengan asersi (2). Kesalahan menginterpretasi asersi (1)
sama dengan asersi (2) disebut dengan kesalahan konversi premis (premise conver-
sion error).
Asersi (3) mempunyai makna yang sama dengan asersi (4) karena kalau asersi
yang satu benar, tidak mungkin asersi yang lain salah. Dalam hal ini, asersi yang
satu merupakan implikasi asersi yang lain. Bila asersi (3) benar, dengan sendiri-
nya asersi (4) juga benar.
Dalam percakapan sehari-hari, asersi (5) sering disamakan dengan asersi (6)
dan dapat disaling-tukar penggunaannya. Artinya, dianggap bahwa bila asersi (5)
benar dengan sendirinya asersi (6) juga benar. Interpretasi yang lebih teliti secara
logis dapat menunjukkan perbedaan makna kedua asersi tersebut. Asersi (5)
menegaskan bahwa terdapat beberapa A yang juga B tetapi tidak mementingkan
apakah terdapat beberapa A yang bukan B. Dapat saja beberapa A yang bukan B
tidak ada. Di lain pihak, asersi (6) mengandung penegasan bahwa terdapat bebera-
pa A yang bukan B tetapi tidak mementingkan informasi bahwa terdapat bebera-
pa B yang bukan A. Asersi ini biasanya merupakan penyangkalan terhadap asersi
Semua A adalah B. Kedua asersi dapat berbeda karena kalau asersi (5) benar
tidak dengan sendirinya asersi (6) juga benar. Jadi, makna beberapa dan tidak
semua dapat berarti dua hal yang sama atau berbeda bergantung pada konteks
yang dibahas atau informasi yang tersedia.

Asersi untuk Evaluasi Istilah

Representasi asersi dalam bentuk diagram dapat digunakan untuk mengevaluasi


ketepatan makna suatu istilah. Sebagai contoh, manakah istilah yang tepat antara
bersertifikat akuntan publik (BAP) dan akuntan publik bersertifikat
(APB) sebagai padan kata certified public accountant (CPA).
Bersertifikat akuntan publik bermakna himpunan (set) orang-orang yang ber-
sertifikat dan salah satu subhimpunannya adalah akuntan publik. Sesuai dengan
makna aslinya, akuntan publik bersertifikat bermakna sebagai subhimpunan
akuntan publik dan akuntan publik merupakan subhimpunan akuntan. Diagram
berikut menjelaskan perbedaan makna kedua istilah tersebut.
50 Bab 2

Gambar 2.7
Perbedaan Makna BAP dan APB

Makna Bersertifikat Akuntan Publik Makna Akuntan Publik Bersertifikat

Bersertifikat
Akuntan

Akuntan Dukun
Publik
Akuntan Publik

Ahli Ahli Akuntan Publik


Pijat Kaca Mata Bersertifikat

Gambar di atas menunjukkan bahwa penggunaan istilah bersertifikat akun-


tan publik alih-alih (instead of) akuntan publik bersertifikat merupakan suatu
kesalahan fatal. Kesalahan tersebut disebabkan oleh tidak dipahaminya makna
istilah aslinya, tidak dipahaminya teori himpunan, dan tidak ditaatinya kaidah
diterangkan-menerangkan (DM) dalam bahasa Indonesia. Bahasa Inggris meng-
gunakan kaidah menerangkan-diterangkan (MD). Kesalahan paling telak dalam
istilah BAP adalah penyimpangan kaidah DM. Sebagai analogi, blue round table
jelas tidak dapat diterjemahkan menjadi biru meja bundar atau meja biru
bundar karena menyalahi kaidah DM sehingga maknanya menyimpang.
Pada dasarnya, istilah merefleksi suatu asersi. Diagram sebelah kiri mengi-
syaratkan asersi-asersi antara lain sebagai berikut:8

Semua akuntan publik adalah bersertifikat.


Semua ahli kaca mata adalah bersertifikat.
Yang tidak bersertifikat akuntan publik adalah bersertifikat dukun, ahli
pijat, dan ahli kacamata.

Di lain pihak, diagram sebelah kanan menggambarkan secara tepat makna


yang dimaksud oleh istilah aslinya dalam bentuk asersi-asersi berikut:

8
Bersertifikat dapat dipandang sebagai komplemen himpunan takbersertifikat yang di dalamnya
terdapat subhimpunan akuntan publik, dukun, dan sebagainya. Oleh karena itu, akan didapatkan pula
subhimpunan takbersertifikat akuntan publik. Akan tetapi, untuk menyatakan makna certified
public accountant sebagai pusat perhatian, himpunan takbersertifikat akuntan publik sebagai komple-
mennya tidak relevan lagi.
Penalaran 51

Semua akuntan publik adalah akuntan.


Semua akuntan publik bersertifikat adalah akuntan publik.
Akuntan merupakan suatu himpunan dalam universa profesi.

Uraian di atas menunjukkan bahwa makna bersertifikat akuntan publik jelas


sangat berbeda dengan makna akuntan publik bersertifikat. Penyimpangan mak-
na tersebut sebenarnya mengisyaratkan bahwa argumen atau penalaran di balik
pembentukan istilah tidak valid. Orang mestinya malu menyandang sebutan BAP
yang tidak bernalar tersebut. Kriteria validitas argumen dibahas lebih lanjut
dalam bagian lain bab ini.

Jenis Asersi (Pernyataan)

Untuk menimbulkan keyakinan terhadap kebenaran suatu asersi, asersi harus


didukung oleh bukti atau fakta. Untuk keperluan argumen, suatu asersi sering
dianggap benar atau diterima tanpa harus diuji dahulu kebenarannya. Bila dikait-
kan dengan fakta pendukung, asersi dapat diklasifikasi menjadi asumsi (assump-
tion), hipotesis (hypothesis), dan pernyataan fakta (statement of fact).
Asumsi adalah asersi yang diyakini benar meskipun orang tidak dapat menga-
jukan atau menunjukkan bukti tentang kebenarannya secara meyakinkan atau
asersi yang orang bersedia untuk menerima sebagai benar untuk keperluan disku-
si atau debat.
Hipotesis adalah asersi yang kebenarannya belum atau tidak diketahui tetapi
diyakini bahwa asersi tersebut dapat diuji kebenarannya. Untuk disebut sebagai
hipotesis, suatu asersi juga harus mengandung kemungkinan salah. Bila tidak ada
kemungkinan salah, suatu asersi akan menjadi pernyataan fakta. Hipotesis
biasanya diajukan dalam rangka pengujian teori.9 Dalam pengujian ilmiah suatu
teori (hipotesis), terdapat prinsip yang disebut prinsip keterbuktisalahan (princi-
ple of falsifiability) yang berbunyi bahwa untuk diperlakukan sebagai teori yang
serius dan ilmiah, tia harus dapat dibuktikan salah kalau memang kenyataannya
tia salah. Teori yang kuat atau yang meyakinkan adalah teori yang tidak hanya
dapat dibuktikan salah tetapi juga yang tegar atau bertahan terhadap segala
upaya untuk membuktikan salah (to disprove). Prinsip ini didasari oleh pemikiran
bahwa teori itu tidak dapat dibuktikan benar tetapi yang dapat dibuktikan adalah
bahwa tia salah. Oleh karena itu, pengujian suatu teori baru (hipotesis) biasanya
diarahkan untuk menyanggah teori lawan. Pendekatan atau strategi semacam ini
dikenal sebagai pendekatan penyanggahan ilmiah (scientific refutation).
Pernyataan fakta adalah asersi yang bukti tentang kebenarannya diyakini
sangat kuat atau bahkan tidak dapat dibantah. Contoh asersi sebagai pernyataan
fakta adalah: semua orang akan meninggal, satu hari sama dengan 24 jam,
matahari merupakan pusat orbit tata surya, dan penduduk kota Jakarta lebih
padat daripada penduduk kota Solo.

9
Dalam penelitian empiris, hipotesis merupakan penjabaran suatu proposisi (proposition).
52 Bab 2

Fungsi Asersi

Telah ditunjukkan dalam Gambar 2.1 bahwa asersi merupakan bahan olah dalam
argumen. Dalam argumen, asersi dapat berfungsi sebagai premis (premise) dan
konklusi (conclusion). Premis adalah asersi yang digunakan untuk mendukung
suatu konklusi. Konklusi adalah asersi yang diturunkan dari serangkaian asersi.
Suatu argumen paling tidak berisi satu premis dan satu konklusi. Karena premis
dan konklusi keduanya merupakan asersi, konklusi (berbentuk asersi) dalam
suatu argumen dapat menjadi premis dalam argumen yang lain.
Ketiga jenis asersi yang dibahas sebelum iniasumsi, hipotesis, pernyataan
faktadapat berfungsi sebagai premis dalam suatu argumen. Dalam hal ini, prin-
sip yang harus dipegang adalah bahwa kredibilitas konklusi tidak dapat melebihi
kredibilitas terendah premis-premis yang digunakan untuk menurunkan konklu-
si. Artinya, kalau konklusi diturunkan dari serangkaian premis yang salah satu
merupakan pernyataan fakta dan yang lain asumsi, konklusi tidak dapat dipan-
dang sebagai pernyataan fakta. Dengan kata lain, keyakinan terhadap konklusi
dibatasi oleh keyakinan terhadap premis.

Keyakinan
Keyakinan terhadap asersi adalah tingkat kebersediaan untuk menerima bahwa
asersi tersebut benar. Keyakinan diperoleh karena kepercayaan (confidence) ten-
tang kebenaran yang dilekatkan pada suatu asersi. Suatu asersi dapat dipercaya
karena adanya bukti yang kuat untuk menerimanya sebagai hal yang benar.
Orang dikatakan yakin terhadap suatu asersi bila dia menunjukkan perbuatan,
sikap, dan pandangan seolah-olah asersi tersebut benar karena dia percaya bahwa
asersi tersebut benar.10 Kepercayaan diberikan kepada suatu asersi biasanya sete-
lah dilakukan evaluasi terhadap asersi atas dasar argumen yang digunakan untuk
menurunkan asersi. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa keyakinan merupa-
kan produk, hasil, atau tujuan suatu penalaran. Berbagai faktor mempengaruhi
tingkat keyakinan seseorang atas suatu asersi. Karakteristik (sifat) asersi menen-
tukan mudah-tidaknya keyakinan seseorang dapat diubah melalui penalaran.

Properitas Keyakinan

Semua penalaran bertujuan untuk menghasilkan keyakinan terhadap asersi yang


menjadi konklusi penalaran. Pemahaman terhadap beberapa properitas (sifat)
keyakinan sangat penting dalam mencapai keberhasilan berargumen. Argumen

10
Istilah keyakinan sering digunakan sebagai padan kata belief dan confidence. Istilah confidence
sering diterjemahkan menjadi keyakinan atau kepercayaan. Dalam buku ini, keyakinan digunakan
untuk padan kata belief yang dibedakan dengan kepercayaan yang digunakan untuk padan kata confi-
dence. Keyakinan adalah hal yang diperoleh dan dianut dari asersi sedangkan kepercayaan adalah hal
yang diberikan kepada asersi. Dari segi subjek (pemegang keyakinan), keyakinan arahnya masuk
sedangkan kepercayaan arahnya keluar. Orang menjadi yakin akan sesuatu karena dia percaya pada
sesuatu tersebut. Tidak ada keyakinan tanpa adanya kepercayaan; keduanya tidak dapat dipisahkan.
Penalaran 53

dianggap berhasil kalau argumen tersebut dapat mengubah keyakinan. Berikut


ini dibahas properitas keyakinan yang perlu disadari dalam berargumen.

Keadabenaran

Sebagai produk penalaran, untuk dapat menimbulkan keyakinan, suatu asersi


harus ada benarnya (plausible). Keadabenaran atau plausibilitas (plausibility)
suatu asersi bergantung pada apa yang diketahui tentang isi asersi atau penge-
tahuan yang mendasari (the underlying knowledge) dan pada sumber asersi (the
source). Pengetahuan yang mendasari (termasuk pengalaman) biasanya menjamin
kebenaran asersi. Oleh karena itu, konsistensi suatu asersi dengan pengetahuan
yang mendasari akan menentukan plausibilitas asersi. Dalam hal sumber, autori-
tas sumber menentukan plausibilitas asersi. Artinya, kalau sumber asersi diyakini
dapat dipercaya dan ahli di bidangnya (knowledgeable) tentang topik asersi, orang
akan lebih bersedia meyakini asersi daripada kalau sumbernya tidak dapat diper-
caya dan tidak ahli. Oleh karena itu, kadang-kadang orang menyerahkan
penilaian plausibilitas asersi kepada ahli dengan pemeo serahkan saja pada ahli-
nya. Dengan pikiran ini, keyakinan diperoleh karena keautoritatifan sumber.
Mengacu argumen pada autoritas sumber untuk mendukung kebenaran asersi
disebut dengan imbauan autoritas (appeal to authority).11

Bukan pendapat

Keyakinan adalah sesuatu yang harus dapat ditunjukkan atau dibuktikan secara
objektif apakah tia salah atau benar dan sesuatu yang diharapkan menghasilkan
kesepakatan (agreement) oleh setiap orang yang mengevaluasinya atas dasar fakta
objektif. Pendapat atau opini adalah asersi yang tidak dapat ditentukan benar
atau salah karena berkaitan dengan kesukaan (preferensi) atau selera. Berbeda
dengan keyakinan, plausibilitas pendapat tidak dapat ditentukan. Artinya, apa
yang benar bagi seseorang dapat salah bagi yang lain. Walaupun dalam kenyataan-
nya kedua konsep tersebut tidak dibedakan secara tegas, penalaran logis yang
dibahas di sini lebih ditujukan pada keyakinan daripada pendapat.

Bertingkat

Keyakinan yang didapat dari suatu asersi tidak bersifat mutlak tetapi bergradasi
mulai dari sangat maragukan sampai sangat meyakinkan (convincing). Tingkat
keyakinan ditentukan oleh kuantitas dan kualitas bukti untuk mendukung asersi.
Orang yang objektif dan berpikir logis tentunya akan bersedia untuk mengubah
11
Imbauan yang dimaksud di sini adalah pemanfaatan sesuatu sebagai pelarian atau taktik untuk
tidak mengajukan argumen yang valid. Pemanfaatan semacam ini sebenarnya merupakan suatu
kecohan atau salah nalar (fallacy). Imbauan lain yang merupakan kecohan logika antara lain adalah
affirming the consequence, appeal to force, appeal to pity, dan attacking the person. Lihat kecohan lain
dalam Jerry Cederblom dan David W. Paulsen, Critical Reasoning (Belmont, CA: Wadsworth Publish-
ing Co., 1986), hlm. 101-109. Kecohan dan taktik tersebut dibahas lebih lanjut di bagian lain bab ini.
54 Bab 2

tingkat keyakinannya manakala bukti baru mengenai plausibilitas suatu asersi


diperoleh.

Berbias

Selain kekuatan bukti objektif yang ada, keyakinan dipengaruhi oleh preferensi,
keinginan, dan kepentingan pribadi yang karena sesuatu hal perlu dipertahankan.
Idealnya, dalam menilai plausibilitas suatu asersi orang harus bersikap objektif
dengan pikiran terbuka (open mind). Pada umumnya, bila orang mempunyai
kepentingan, sangat sulit baginya untuk bersikap objektif. Dengan bukti objektif
yang sama, suatu asersi akan dianggap sangat meyakinkan oleh orang yang mem-
punyai kepentingan pribadi yang besar dan hanya dianggap agak atau kurang
meyakinkan oleh orang yang netral. Demikian pula sebaliknya.

Bermuatan nilai

Orang melekatkan nilai (value) terhadap suatu keyakinan. Nilai keyakinan adalah
tingkat penting-tidaknya suatu keyakinan perlu dipegang atau dipertahankan
seseorang. Nilai keyakinan bagi seseorang akan tinggi apabila perubahan keya-
kinan mempunyai implikasi serius terhadap filosofi, sistem nilai, martabat, penda-
patan potensial, dan perilaku orang tersebut.

Berkekuatan

Kekuatan keyakinan adalah tingkat kepercayaan yang dilekatkan seseorang pada


kebenaran suatu asersi. Orang yang nyatanya tidak mengerjakan apa yang ter-
kandung dalam asersi menandakan bahwa keyakinannya terhadap kebenaran
asersi lemah. Dapat dikatakan bahwa semua properitas keyakinan merupakan
faktor yang menentukan tingkat kekuatan keyakinan seseorang.

Veridikal

Veridikalitas (veridicality) adalah tingkat kesesuaian keyakinan dengan realitas.


Realitas yang dimaksud di sini adalah apa yang sungguh-sungguh benar tentang
asersi yang diyakini.12 Dengan kata lain, veridikalitas adalah mudah tidaknya fak-
ta ditemukan dan ditunjukkan untuk mendukung keyakinan. Misalnya keyakinan
bahwa besi yang dipanasi akan memuai lebih mudah ditunjukkan (lebih veridikal)
daripada keyakinan bahwa sistem sosialis dapat mengurangi kemiskinan. Dalam
banyak hal, penilaian apakah benar suatu asersi sesuai dengan realitas merupa-
kan hal yang sangat pelik dan bersifat subjektif. Oleh karena itu, untuk tujuan
12
Realitas dalam hal ini jangan dikacaukan dengan realitas sosial yaitu apa yang nyatanya banyak
dilakukan orang. Apa yang nyatanya dilakukan banyak orang tidak menjadikan apa yang dilakukan-
nya itu benar. Walaupun banyak orang melakukan korupsi, tidak menjadikan korupsi itu benar (paling
tidak secara moral). Kenyataan bahwa banyak akuntan menggunakan istilah beban sebagai padan kata
expense tidak menjadikan istilah tersebut benar.
Penalaran 55

ilmiah tingkat veridikalitas keyakinan dievaluasi berdasarkan kaidah pengujian


ilmiah (scientific rules of evidence).

Berketertempaan

Ketertempaan (malleability) atau kelentukan keyakinan berkaitan dengan


mudah-tidaknya keyakinan tersebut diubah dengan adanya informasi yang rele-
van. Berbeda dengan veridikalitas, ketertempaan tidak memasalahkan apakah
suatu asersi sesuai atau tidak dengan realitas tetapi lebih memasalahkan apakah
keyakinan terhadap suatu asersi dapat diubah oleh bukti. Kelentukan ini biasanya
ditentukan oleh kesungguhan pemegang keyakinan, lamanya keyakinan telah
dipegang (baik secara pribadi maupun secara sosial/umum), dan konsekuensi
perubahan keyakinan bagi diri pemegang. Tujuan suatu argumen adalah untuk
mengubah keyakinan kalau memang keyakinan tersebut lentuk untuk berubah.

Beberapa sifat keyakinan di atas perlu disadari mengingat bahwa tujuan


argumen adalah dalam rangka mencari kebenaran (the search of truth) dan bukan
untuk menyembunyikan kebenaran dengan cara pengelabuhan (deception) dan
pengecohan. Jadi, tujuan argumen adalah untuk merekonsiliasi ketidaksepakatan
(disagreement) untuk menemukan kebenaran. Hal inilah yang mendasari pemi-
kiran ilmiah untuk mengembangkan pengetahuan. Sifat-sifat keyakinan di atas
menunjukkan bahwa mengubah keyakinan melalui argumen dapat merupakan
proses yang kompleks karena pengubahan tersebut menyangkut dua hal yang ber-
kaitan yaitu manusia yang meyakini dan asersi yang menjadi objek keyakinan.
Manusia tidak selalu rasional dan bersedia berargumen sementara itu tidak
semua asersi dapat ditentukan kebenarannya secara objektif dan tuntas.

Argumen
Dalam kehidupan sehari-hari, istilah argumen sering digunakan secara keliru
untuk menunjuk ketidaksepakatan, perselisihan pendapat (dispute), atau bahkan
pertengkaran mulut (Jawa: padu). Dalam pengertian ini, argumen mempunyai
konotasi negatif. Orang yang suka bertengkar dan ingin menangnya sendiri akan
menikmati dan memburunya tetapi orang yang ingin mencari solusi atau alterna-
tif pemecahan masalah yang terbaik akan menghindarinya. Dalam arti positif,
argumen dapat disamakan dengan penalaran logis untuk menjelaskan atau meng-
ajukan bukti rasional tentang suatu asersi. Bila seseorang mengajukan alasan
untuk mendukung suatu gagasan atau pandangan, dia biasanya menawarkan
suatu argumen. Argumen dalam arti positif selalu dijumpai dalam bacaan, per-
cakapan, dan dalam diskusi ilmiah. Argumen merupakan bagian penting dalam
pengembangan pengetahuan. Agar memberi keyakinan, argumen harus dievaluasi
kelayakan atau validitasnya.
Gambar 2.1 dan 2.2 menunjukkan arti argumen sebagai proses dan sebagai
suatu bukti tentang keyakinan. Pengertian argumen seperti itu didasarkan atas
definisi yang diajukan Nickerson (1986) sebagai berikut:
56 Bab 2

An argumen is an effort to convince someone to believe or to do something. An


argumen is a set of assertion, one of which is a conclusion or key assertion, and
the rest of which are intended to support that conclusion or key assertion (hlm.
69).

Anatomi Argumen

Dari definisi di atas dan Gambar 2.1 dapat dikatakan bahwa argumen terdiri atas
serangkaian asersi. Asersi berkaitan dengan yang lain dalam bentuk inferensi
atau penyimpulan. Asersi dapat berfungsi sebagai premis atau konklusi (atau
asersi kunci) yang merupakan komponen argumen. Berikut ini adalah beberapa
contoh argumen (beberapa merupakan argumen dalam akuntansi):

Merokok adalah penyebab kanker karena kebanyakan penderita


kanker adalah perokok.
Jika suatu binatang menyusui, maka binatang tersebut mempunyai
paru-paru karena semua binatang menyusui mempunyai paru-paru.
Kreditor adalah pihak yang dituju oleh pelaporan keuangan sehingga
statemen keuangan harus memuat informasi tentang kemampuan
membayar utang.
Karena akuntansi menekankan substansi daripada bentuk, statemen
keuangan beberapa perusahaan yang secara yuridis terpisah tetapi
secara ekonomik merupakan satu perusahaan harus dikonsolidasi.
Karena akuntansi menganut kesatuan usaha ekonomik, beberapa
perusahaan yang secara yuridis terpisah harus dianggap sebagai satu
kesatuan ekonomik kalau perusahaan-perusahaan tersebut ada di
bawah satu kendali. Oleh karena itu, laporan konsolidasian harus
disusun oleh perusahaan pengendali.

Sebagai suatu argumen, asersi yang satu harus mendukung asersi yang lain
yang menjadi konklusi. Kata-kata dengan huruf miring di atas merupakan kata
indikator argumen yang dapat digunakan untuk menunjuk mana premis dan
mana konklusi. Daftar di bagian atas halaman berikut ini memuat beberapa kata
yang biasanya menjadi indikator suatu argumen.13
Dalam suatu kalimat argumen, kata-kata dalam daftar tersebut secara umum
mengisyaratkan suatu makna dengan alasan bahwa. Di samping kata-kata di
atas, beberapa kata kerja (verba) dapat menjadi indikator argumen seperti:
menunjukkan bahwa, membuktikan bahwa, menegaskan bahwa, berimplikasi
bahwa, mengakibatkan bahwa, mempunyai konsekuensi bahwa, menjadi landasan
berpikir bahwa, dan semacamnya.

13
Dalam tata bahasa Indonesia, kata-kata tersebut berfungsi sebagai kata penghubung kalimat
majemuk (setara atau bertingkat) atau kata pengait kalimat dalam paragraf. Lihat kaidah penempatan
dan penggunaan kata-kata tersebut dalam kalimat atau paragraf dalam buku tata bahasa Indonesia.
Penalaran 57

Indikator konklusi Indikator premis

Inggris Indonesia Inggris Indonesia

so karena itu, jadi, maka since oleh karena


thus dengan demikian for karena, mengingat
therefore oleh karena itu because karena
hence oleh karena itu assuming that dengan asumsi bahwa
be concluded that disimpulkan bahwa for the reason that dengan alasan bahwa
consequently sebagai akibatnya

Dalam banyak hal, argumen tidak menunjukkan secara eksplisit kata-kata


indikator sehingga tidak dapat segera diidentifikasi mana premis dan mana kon-
klusi. Akibatnya, sulit untuk menentukan mana asersi yang mendukung dan
mana asersi yang didukung sehingga dapat timbul berbagai interpretasi terhadap
argumen. Bila hal ini terjadi, premis dan konklusi dapat diidentifikasi dengan
kaidah yang oleh Cederblom dan Paulsen (1986) disebut principle of charitable
interpretation (prinsip interpretasi terdukung). Prinsip ini menyatakan bahwa
bila terdapat lebih dari satu interpretasi terhadap suatu argumen, argumen harus
diinterpretasi sehingga premis-premis yang terbentuk memberi dukungan yang
paling kuat terhadap konklusi yang dihasilkan. Dengan kata lain, argumen yang
dipilih adalah argumen yang plausibilitasnya paling tinggi atau yang paling masuk
akal (valid) dalam konteks yang dibahas. Cederblom dan Paulsen memberi contoh
sebagai berikut:14

Anda harus datang ke seminar itu. Anda berjanji kepada panitia bahwa
anda akan datang ke seminar itu. Jika anda berjanji untuk berbuat
sesuatu, anda harus mengerjakannya.

Serangkaian asersi di atas tidak mengandung indikator premis atau konklusi


sehingga argumen yang terbentuk dapat diinterpretasi sebagai berikut:

Interpretasi 1: Premis (1) Jika anda berjanji untuk berbuat sesuatu, anda harus mengerjakannya.
Premis (2) Anda berjanji kepada panitia bahwa anda akan datang ke seminar itu.

Konklusi: Anda harus datang ke seminar itu.

14
Walaupun Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (EYD) menganjurkan untuk menulis
kata anda dengan huruf kapital, tia ditulis dengan huruf kecil dalam contoh ini (kecuali pada awal
kalimat) karena tia dianggap padan kata you dalam bahasa Inggris. Seperti you, kata anda merupakan
kata ganti orang kedua dan bukan kata sebutan seperti Bapak, Ibu, atau Saudara. Ciri kata sebutan
adalah tia dapat diikuti nama orang. Bila tidak, tia merupakan kata ganti. Sebagai kata ganti, kata
anda merupakan kata yang netral serta bebas gender dan kelas masyarakat sehingga sangat dianjur-
kan agar tia digunakan dalam pergaulan akademik dan ilmiah yang menghendaki kenetralan.
58 Bab 2

Interpretasi 2: Premis (1) Anda harus datang ke seminar itu.


Premis (2) Anda berjanji kepada panitia bahwa anda akan datang ke seminar itu.

Konklusi: Jika anda berjanji untuk berbuat sesuatu, anda harus mengerjakannya.

Interpretasi 3: Premis (1) Anda harus datang ke seminar itu.


Premis (2) Jika anda berjanji untuk berbuat sesuatu, anda harus mengerjakannya.

Konklusi: Anda berjanji kepada panitia bahwa anda akan datang ke seminar itu.

Pada interpretasi 1, jelas dapat dirasakan bahwa asersi Anda harus datang ke
seminar itu paling tepat didukung dalam argumen daripada dua asersi yang lain.
Interpretasi 1 adalah yang terbaik (paling valid) dibanding interpretasi yang lain
karena bila semua premis benar, maka konklusi juga benar (yang merupakan
salah satu syarat validitas argumen). Dalam hal ini, premis (1) menyatakan bahwa
bila anda memenuhi kondisi tertentu (berjanji) maka anda mempunyai kewajiban
(menepati janji). Premis (2) menegaskan bahwa anda memenuhi kondisi berjanji
(akan datang ke seminar). Kalau kedua premis benar, maka konklusi (Anda
seharusnya datang ke seminar) harus benar. Dengan demikian dapat dikatakan
konklusi mengikuti atau diturunkan secara logis dari (follow from) premis. Atas
dasar prinsip interpretasi terdukung dan syarat validitas argumen, interpretasi 2
dan 3 dapat dianalisis bahwa keduanya kurang valid dibanding interpretasi 1.

Jenis Argumen

Berbagai karakteristik dapat digunakan sebagai basis untuk mengklasifikasi argu-


men. Misalnya argumen dibedakan menjadi argumen langsung dan taklangsung,
formal dan informal, serta meragukan dan meyakinkan. Klasifikasi yang ditinjau
dari bagaimana penalaran (reasoning) diterapkan untuk menurunkan konklusi
merupakan klasifikasi yang sangat penting dalam pembahasan buku ini. Dalam
hal ini, argumen dapat diklasifikasi menjadi argumen deduktif dan induktif.15
Contoh argumen yang diberikan dalam interpretasi 1, 2, dan 3 di atas sebenarnya
merupakan contoh argumen deduktif. Salah satu jenis argumen yang lain adalah
argumen dengan analogi (argument by analogy). Berikut ini dibahas berbagai jenis
argumen tersebut.

15
Karena argumen selalu melibatkan penalaran, argumen itu sendiri sering disebut dengan
penalaran. Oleh karena itu, argumen deduktif atau induktif sering disebut juga penalaran deduktif
atau induktif (deductive or inductive reasoning). Penalaran induktif sebenarnya hanyalah merupakan
salah satu jenis penalaran nondeduktif. Termasuk dalam penalaran nondeduktif adalah penalaran
dengan analogi, generalisasi empiris, dan generalisasi kausal. Lihat pembahasan lebih lanjut dalam
Cederblom dan Paulsen (1986), hlm. 171-205.
Penalaran 59

Argumen Deduktif
Telah disebutkan bahwa argumen atau penalaran deduktif adalah proses penyim-
pulan yang berawal dari suatu pernyataan umum yang disepakati (premis) ke
pernyataan khusus sebagai simpulan (konklusi). Argumen deduktif disebut juga
argumen logis (logical argument) sebagai pasangan argumen ada benarnya (plau-
sible argument). Argumen logis adalah argumen yang asersi konklusinya tersirat
(implied) atau dapat diturunkan/dideduksi dari (deduced from) asersi-asersi lain
(premis-premis) yang diajukan. Disebut argumen logis karena kalau premis-
premisnya benar konklusinya harus benar (valid). Kebenaran konklusi tidak sela-
lu berarti bahwa konklusi merefleksi realitas (truth). Hal inilah yang membedakan
argumen sebagai bukti rasional dan bukti fisis/langsung/empiris berupa fakta.16
Salah satu bentuk penalaran deduktif adalah suatu penalaran yang disebut
silogisma. Silogisma terdiri atas tiga komponen yaitu premis major (major
premise), premis minor (minor premise), dan konklusi (conclusion). Dalam silogis-
ma, konklusi diturunkan dari premis yang diajukan seperti contoh berikut:

Premis major: Semua binatang menyusui mempunyai paru-paru.


Premis minor: Kucing binatang menyusui.

Konklusi: Kucing mempunyai paru-paru.

Semua binatang menyusui dalam contoh di atas disebut anteseden (anteced-


ent) sedangkan mempunyai paru-paru merupakan konsekuen (consequent).
Dalam silogisma, konklusi akan benar bila kedua premis benar dan premis minor
menegaskan anteseden (disebut pola modus ponens) atau premis minor
menyangkal konsekuen (disebut pola modus tollens). Konklusi di atas benar kare-
na kucing binatang menyusui menegaskan semua binatang menyusui sebagai
anteseden. Jadi, konklusi mengikuti kedua premis secara logis. Walaupun kedua
premis benar, konklusi dapat saja salah sebagaimana contoh di bawah ini:

Premis major: Semua burung bertelur.


Premis minor: Kura-kura bertelur.

Konklusi: Kura-kura adalah burung.

Konklusi di atas salah karena premis minor menegaskan konsekuen bukan


menegaskan anteseden. Bila dipandang sebagai argumen, penalaran di atas tidak
dapat diterima (tidak valid) karena tidak lengkapnya premis major. Memang benar

16
Dalam sistem pengadilan di Amerika, dikenal apa yang disebut bukti situasional (circumstantial
evidence) dan bukti langsung (direct evidence). Bukti langsung misalnya adalah orang tertangkap basah
pada saat melakukan kejahatan dan ada saksi. Bukti situasional adalah bukti-bukti yang menghubung-
kan tertuduh dengan kejahatan meskipun pada saat kejadian tertuduh tidak ada di tempat atau tidak
ada saksi mata. Orang dapat dinyatakan salah (misalnya membunuh orang) atas dasar bukti situa-
sional dan penalaran logis yang meyakinkan walaupun sebenarnya dia tidak bersalah (membunuh).
60 Bab 2

bahwa semua burung bertelur tetapi tidak berarti bahwa binatang lain tidak ada
yang bertelur. Konklusi akan benar kalau premis minor menyangkal konsekuen
dan silogisma di atas dimodifikasi seperti berikut:

Premis major: Semua burung bertelur.


Premis minor: Kelelawar tidak bertelur.

Konklusi: Kelelawar bukan burung.

Penalaran deduktif berlangsung dalam tiga tahap yaitu: (1) penentuan per-
nyataan umum (premis major) yang menjadi basis penalaran, (2) penerapan kon-
sep umum ke dalam situasi khusus yang dihadapi (proses deduksi), (3) penarikan
simpulan secara logis yang berlaku untuk situasi khusus tersebut. Penalaran
deduktif lebih dari sekadar silogisma karena penalaran deduktif dan unsur-
unsurnya (asersi-asersi) akan membentuk argumen untuk mengubah suatu
keyakinan. Misalnya, keyakinan bahwa penilaian aset atas dasar kos sekarang
lebih relevan daripada kos historis. Contoh lain adalah keyakinan bahwa istilah
biaya lebih tepat daripada beban sebagai padan kata expense.
Penalaran deduktif dalam akuntansi digunakan untuk memberi keyakinan
tentang simpulan-simpulan yang diturunkan dari premis yang dianut. Dalam teori
akuntansi, premis major sering disebut sebagai postulat (postulate). Sebagai
penalaran logis, argumen-argumen yang dihasilkan dengan pendekatan deduktif
dalam akuntansi akan membentuk teori akuntansi. Gambar 2.8 di halaman
berikut ini menunjukkan salah satu contoh penalaran deduktif dalam akuntansi.
Dalam gambar tersebut, premis 1 merupakan premis major yang berfungsi
sebagai postulat dalam penalaran logis akuntansi. Semua premis dan konklusi
berbentuk suatu pernyataan atau penegasan yang semuanya merupakan asersi.
Dalam akuntansi, premis major dapat berasal dari konklusi penalaran deduk-
tif. Penalaran deduktif untuk suatu masalah menghasilkan argumen untuk
masalah tersebut. Oleh karena itu, penalaran dalam akuntansi dapat menjadi pan-
jang dan terdiri atas beberapa argumen. Apakah suatu argumen cukup meyakin-
kan? Dengan kata lain, bersediakah orang menerima kebenaran konklusi. Untuk
menjawab ini, perlu dinilai apakah struktur penalaran logis dan premis-premisnya
dapat diterima (dapat dipercaya sebagai benar).

Evaluasi Penalaran Deduktif

Tujuan utama mengevaluasi argumen adalah untuk menentukan apakah konklusi


argumen benar dan meyakinkan. Untuk menilai suatu argumen deduktif (logis),
Nickerson (1986) mengajukan empat pertanyaan yang harus dijawab, yaitu:

(1) Apakah tia lengkap?


(2) Apakah artinya jelas?
(3) Apakah tia valid? (Apakah konklusi mengikuti premis?)
(4) Apakah premis dapat dipercaya (diterima)?
Penalaran 61

Gambar 2.8
Penalaran Deduktif Dalam Akuntansi

Investor dan kreditor merupakan pengambil keputusan


Premis 1 dominan dalam perekonomian yang didasarkan pada
mekanisme pasar.

Agar investor dan kreditor bersedia menanamkan modal


Premis 2 dalam suatu perusahaan, harus disediakan informasi
tentang perusahaan kepada investor dan kreditor.

Keputusan investasi dan kredit memerlukan informasi Argumen sebagai


Premis 3 tentang kemampuan perusahaan menghasilkan laba dan hasil penalaran
membayar utang. deduktif

Kemampuan perusahaan membayar utang dapat ditun-


Premis 4 jukkan dengan informasi tentang likuiditas, solvensi, dan
profitabilitas melalui statemen keuangan.

Laporan keuangan harus memuat elemen: aset, kewa-


Konklusi jiban, ekuitas, pendapatan, biaya, rugi, untung, investasi
pemilik, distribusi ke pemilik, dan laba.

Keempat pertanyaan di atas merupakan kriteria evaluasi yang terdiri atas


kelengkapan, kejelasan, kesahihan, dan kepercayaian. Apabila jawaban untuk
keempat pertanyaan di atas adalah positif (ya), maka konklusi memberi keyakinan
tentang kebenarannya.
Kelengkapan merupakan kriteria yang penting karena validitas konklusi
menjadi kurang meyakinkan bila premis-premis yang diajukan tidak lengkap.
Dalam hal tertentu, konklusi tidak dapat ditarik karena tidak lengkapnya premis.
Bila konklusi dipaksakan, jelas argumen menjadi tidak logis.
Kejelasan arti diperlukan karena keyakinan merupakan fungsi kejelasan
makna. Kejelasan tidak hanya diterapkan untuk makna premis tetapi juga untuk
hubungan antarpremis (inferensi dan penyimpulan). Keterbatasan bahasa, kesa-
lahan bahasa, dan keterbatasan pengetahuan tentang topik yang dibahas merupa-
kan faktor yang menentukan kejelasan dan bahkan pemahaman argumen.
Karena argumen merupakan bagian penting dalam pengembangan ilmu dan
pengetahuan, kecermatan bahasa dalam argumen juga menjadi penting khusus-
62 Bab 2

nya dalam karya tulis. Arti penting kemampuan berbahasa dan kaitannya dengan
argumen untuk tujuan ilmiah dinyatakan Suriasumantri (1999) seperti berikut:17

Kemampuan berbahasa yang baik dan benar merupakan persyaratan mut-


lak untuk melakukan kegiatan ilmiah sebab bahasa merupakan sarana komu-
nikasi ilmiah yang pokok. Tanpa penguasaan tata bahasa dan kosa kata yang
baik akan sukar bagi seorang ilmuwan untuk mengkomunikasikan gagasannya
kepada pihak lain. Dengan bahasa selaku alat komunikasi, kita bukan saja
menyampaikan informasi tetapi juga argumentasi, di mana kejelasan kosa
kata dan logika tata bahasa merupakan persyaratan utama (hlm. 14).

Kesahihan (validitas) merupakan kriteria utama untuk menilai penalaran


logis. Validitas berkaitan dengan struktur formal argumen. Perlu dibedakan di sini
antara validitas dan kebenaran (truth). Validitas adalah sifat yang melekat pada
argumen sedangkan kebenaran adalah sifat yang melekat pada asersi. Secara
struktural, validitas argumen tidak bergantung pada kebenaran asersi. Artinya,
argumen dikatakan valid kalau konklusi diturunkan secara logis dari premis tan-
pa memperhatikan apakah premis itu sendiri benar atau salah. Oleh karena itu,
dapat saja terjadi suatu argumen yang valid dengan premis yang salah. Tentu saja,
kalau premis benar dan penalarannya valid, konklusi juga akan benar. Secara dia-
gramatik, pengaruh benar tidaknya premis terhadap konklusi dalam argumen
yang logis dilukiskan Nickerson (1986) dalam Gambar 2.9 di bawah ini.18

Gambar 2.9
Hubungan Kebenaran Premis dan Kebenaran Logis Konklusi
dalam Penalaran Deduktif

Konklusi

Benar Takbenar

Harus/pasti Tidak mungkin


Benar (Konklusi harus benar (Konklusi tidak
kalau premis benar) mungkin takbenar
kalau premis benar)
Premis
Mungkin Mungkin
Takbenar (Konklusi mungkin (Konklusi mungkin
benar meskipun takbenar bila premis
premis takbenar) takbenar)

17
Jujun S. Suriasumantri, Hakikat Dasar Keilmuan, dalam M. Thoyibi (editor), Filsafat Ilmu
dan Perkembangannya (Surakarta: Muhammadiyah University Press, 1999). Penebalan kata argumen-
tasi oleh penulis. Kata di mana seharusnya diganti dengan yang di dalamnya.
18
Kata takbenar digunakan sebagai padan kata false. Falsity dipadankan dengan ketakbenaran.
Penalaran 63

Keterpercayaian melengkapi ketiga kriteria sebelumnya agar konklusi


meyakinkan sehingga orang bersedia menerima. Orang bersedia menerima suatu
asersi kalau dia percaya pada asersi tersebut. Orang dapat percaya pada suatu
asersi kalau asersi tersebut ada benarnya (plausible). Telah disebutkan sebelum-
nya bahwa plausibilitas suatu asersi bergantung pada pemahaman pengetahuan
yang mendasari dan pada sumber asersi. Pengetahuan yang mendasari (termasuk
pengalaman) biasanya diyakini kebenarannya. Kesesuaian suatu asersi dengan
pengetahuan yang mendasari akan menentukan plausibilitas asersi. Dalam hal
inilah kriteria ketiga berbeda dengan kriteria keempat. Kriteria kesahihan ber-
kaitan dengan validitas logis (logical validity) suatu argumen sedangkan kriteria
kepercayaan berkaitan dengan kebenaran empiris (empirical truth) suatu asersi
(premis). Gabungan antara keduanya menentukan kebenaran konklusi.
Gabungan kriteria kelengkapan dan kejelasan sebenarnya digunakan untuk
meyakinkan bahwa semua premis benar atau masuk akal secara struktural.
Keempat kriteria di atas dapat diringkas menjadi:

(1) Semua premis benar (lepas dari apakah orang setuju atau tidak).
(2) Konklusi mengikuti (follow from) semua premis.
(3) Semua premis dapat diterima. Artinya, orang percaya atau setuju
dengan semua premis yang diajukan.

Kriteria (1) dan (2) diperlukan untuk memenuhi validitas logis argumen. Kri-
teria (3) diperlukan untuk memenuhi kebenaran empiris asersi untuk melengkapi
argumen agar konklusi meyakinkan kebenarannya. Contoh argumen yang hanya
memenuhi kriteria (1) dan (2) diberikan berikut ini.

Premis major: Semua aset mempunyai manfaat ekonomik bagi perusahaan.


Premis minor: Rugi selisih kurs tidak mempunyai manfaat ekonomik bagi perusahaan.

Konklusi: Rugi selisih kurs tidak dapat menjadi aset.

Secara struktural konklusi di atas akan selalu benar tanpa memperhatikan


makna empiris kata aset. Kata aset dapat diganti dengan kata apapun dan konklu-
si akan tetap valid. Jadi, validitas konklusi independen terhadap makna aset.
Akan tetapi, secara empiris atau observasi dunia nyata, konklusi tersebut salah
sehingga tidak dapat diterima. Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa konklusi
di atas valid tetapi tidak mempunyai makna empiris (empirical content). Dunia
praktik (observasi) menunjukkan bahwa rugi selisih kurs dapat dikapitalisasi
sehingga menjadi bagian dari aset.
Perlu dicatat bahwa konklusi tidak selalu dapat mengubah keyakinan seseo-
rang. Properitas keyakinan yang dibahas sebelumnya menentukan keyakinan
seseorang akan suatu asersi konklusi. Demikian juga, dalam beberapa hal orang
tidak selalu bersedia menerima atau bahkan mendengarkan argumen. Hal ini
dibahas di bagian lain bab ini dalam subbahasan stratagem (stratagem) dan salah
nalar (reasoning fallacy).
64 Bab 2

Argumen Induktif
Penalaran ini berawal dari suatu pernyataan atau keadaan yang khusus dan bera-
khir dengan pernyataan umum yang merupakan generalisasi dari keadaan khusus
tersebut. Berbeda dengan argumen deduktif yang merupakan argumen logis (logi-
cal argument), argumen induktif lebih bersifat sebagai argumen ada benarnya
(plausible argument). Dalam argumen logis, konklusi merupakan implikasi dari
premis. Dalam argumen ada benarnya (plausible), konklusi merupakan generalisa-
si dari premis sehingga tujuan argumen adalah untuk meyakinkan bahwa proba-
bilitas atau kebolehjadian (likelihood) kebenaran konklusi cukup tinggi atau
sebaliknya, ketakbenaran konklusi cukup rendah kebolehjadiannya (unlikely).
Berikut ini adalah contoh struktur suatu penalaran induktif:

Contoh 1: Premis Satu jeruk dari karung A manis rasanya.


Premis Satu jeruk berikutnya manis rasanya.

Konklusi: Semua jeruk dalam karung A manis rasanya.

Contoh 2: Premis Sekelompok penderita kanker semuanya perokok.

Konklusi: Merokok menyebabkan kanker.

Dalam contoh di atas, argumen mengalir dari informasi atas pengamatan


khusus atau tertentu (sampel) menuju ke konklusi yang diterapkan untuk seluruh
pengamatan yang mungkin dilakukan (populasi). Konklusi melewati (mencakupi
lebih dari) apa yang dapat ditunjukkan oleh fakta/bukti empiris (manisnya bebera-
pa jeruk yang telah dicicipi) atau meliputi pula apa yang tidak diamati (seluruh
jeruk dalam karung). Dengan demikian konklusi atau generalisasi akan bersifat
prediktif. Dalam Contoh 1, misalnya, kalau sebuah jeruk diambil dari karung A,
dapat diprediksi bahwa jeruk tersebut akan manis. Demikian pula dalam Contoh
2, bila konklusi benar maka dapat diprediksi bahwa seorang perokok kemung-
kinan besar terkena kanker. Karena konklusi (generalisasi) didasarkan pada peng-
amatan atau pengalaman yang nyatanya terjadi, penalaran induktif disebut pula
generalisasi empiris (empirical generalization).
Akibat generalisasi, hubungan antara premis dan konklusi dalam penalaran
induktif tidak langsung dan tidak sekuat hubungan dalam penalaran deduktif.
Dalam penalaran deduktif, kebenaran premis menjamin sepenuhnya kebenaran
konklusi asal penalarannya logis. Artinya, jika semua premis benar dan
penalarannya logis, konklusi harus benar (disebut necessary implication dan oleh
karenanya necessarily true). Dalam penalaran induktif, kebenaran premis tidak
selalu menjamin sepenuhnya kebenaran konklusi. Kebenaran konklusi hanya
dijamin dengan tingkat keyakinan (probabilitas) tertentu. Artinya, jika premis
benar, konklusi tidak selalu benar (not necessarily true). Perbedaan struktural
antara argumen deduktif dan induktif dapat ditujukkan dalam contoh berikut.19
Penalaran 65

Argumen Deduktif Argumen Induktif

Premis (1): Semua burung mempunyai Premis (1): Kebanyakan burung dapat
bulu. terbang.

Premis (2): Bebek adalah burung. Premis (2): Bebek adalah burung.

Konklusi: Bebek mempunyai bulu. Konklusi: Bebek dapat terbang.


(pasti) (boleh jadi)

Contoh di atas menunjukkan bahwa dalam argumen deduktif bila semua pre-
mis benar maka konklusi pasti atau harus benar. Akan tetapi, dalam argumen
induktif, konklusi tidak selalu benar meskipun kedua premis benar. Perbedaan
tersebut menjadi dasar untuk menilai perbedaan keefektifan atau keberhasilan
kedua jenis argumen. Argumen deduktif dengan premis benar dapat dikatakan
berhasil jika kebenaran premis menjadikan konklusi tidak mungkin (impossible)
takbenar. Di lain pihak, argumen induktif dengan premis benar dapat dikatakan
berhasil jika kebenaran premis menjadikan konklusi kecil kemungkinan atau kecil
kebolehjadian takbenarnya. Karena ada kebolehjadian takbenar, asersi ilmiah
yang bersandar pada penalaran induktif diperlakukan sebagai hipotesis bukan
pernyataan fakta.

Argumen dengan Analogi

Argumen induktif sebenarnya merupakan salah satu jenis penalaran nondeduktif.


Salah satu penalaran nondeduktif lainnya adalah argumen dengan analogi (argu-
ment by analogy). Penalaran dengan analogi adalah penalaran yang menurunkan
konklusi atas dasar kesamaan atau kemiripan (likeness) karakteristik, pola, fung-
si, atau hubungan unsur (sistem) suatu objek yang disebutkan dalam suatu asersi.
Analogi bukan merupakan suatu bentuk pembuktian tetapi merupakan suatu
sarana untuk meyakinkan bahwa asersi konklusi mempunyai kebolehjadian
untuk benar. Dengan kata lain, bila premis benar, konklusi atas dasar analogi
belum tentu benar. Struktur argumen ini digambarkan sebagai berikut:

Premis (1) X dan Y mempunyai kemiripan dalam hal a, b, c, ...


Premis (2) X mempunyai karakteristik z.

Konklusi: Y mempunyai karakteristik z.

Kemiripan dalam suatu analogi merupakan suatu hubungan konseptual dan


bukan hubungan fisis atau keidentikan. Hubungan analogis bersifat implisit dan

19
Dalam percakapan sehari-hari, kata bulu (feather) sering dirancukan dengan rambut atau ram-
but kulit (fur). Orang sering mengatakan bulu kucing padahal yang dimaksud sebenarnya adalah
rambut kucing. Kera, anjing, dan kelinci tidak mempunyai bulu tetapi mempunyai rambut sehingga
meretia tidak termasuk dalam kelas burung.
66 Bab 2

kompleks. Dalam banyak hal, penalar harus mengidentifikasi dan menyimpulkan


sendiri hubungan kemiripan tersebut dalam analogi. Berikut adalah suatu contoh
argumen dengan analogi.

Premis (1) Negara adalah ibarat sebuah kapal pesiar dengan presiden sebagai
nahkoda.

Premis (2) Dalam keadaan darurat, semua penumpang harus tunduk pada
perintah nahkoda tanpa kecuali.

Konklusi: Dalam keadaan krisis, presiden harus diberi kekuasaan khusus untuk
mengeluarkan undang-undang darurat yang harus diikuti semua warga
tanpa kecuali.

Dalam contoh di atas, hubungan kemiripan negara dan kapal dapat diinter-
pretasi bahwa keduanya sama-sama merupakan suatu wilayah (teritori) yang di
dalamnya hidup sekelompok warga yang menyerahkan sebagian kedaulatannya
kepada seorang pemimpin. Penalar dapat juga menginterpretasi bahwa kemiripan
tersebut berkaitan dengan pemerintahan atau manajemen. Karena kemiripan
tersebut, disimpulkan bahwa kekuasaan (karakteristik, fungsi, atau sistem peme-
rintahan) presiden sama dengan kekuasaan nahkoda. Kesamaan kekuasaan meru-
pakan argumen untuk mendukung konklusi bahwa presiden dapat mengeluarkan
undang-undang darurat dalam situasi krisis.
Walaupun analogi banyak digunakan dalam argumen, argumen semacam ini
banyak mengandung kelemahan. Perbedaan-perbedaan penting yang mempe-
ngaruhi (melemahkan) konklusi sering tersembunyi atau disembunyikan. Perbe-
daan sering lebih dominan daripada kemiripan. Dalam analogi nahkoda misalnya,
warga dalam kapal jumlahnya lebih kecil dan tidak terdapat lembaga perwakilan
seperti dalam negara. Karena bukan merupakan pembuktian, analogi sering
disalahgunakan untuk pembuktian sebagai cara untuk mengecoh orang.

Argumen Sebab-Akibat

Menyatakan konklusi sebagai akibat dari asersi tertentu merupakan salah satu
bentuk argumen yang disebut argumen dengan penyebaban (argument by causa-
tion) atau generalisasi kausal (causal generalization). Hubungan penyebaban
biasanya dinyatakan dalam struktur X menghasilkan Y atau X memaksa Y ter-
jadi atau X menyebabkan Y terjadi atau Y terjadi akibat X atau Y berubah
karena X berubah. Akan tetapi, pernyataan tersebut sebenarnya hanyalah cara
memverbalkan bahwa A bervariasi atau berasosiasi dengan B tetapi tidak menun-
jukkan bahwa apa yang sebenarnya terjadi merupakan hubungan kausal.
Untuk dapat menyatakan adanya hubungan kausal perlu diadakan pengujian
tentang apa yang sebenarnya terjadi. Kaidah untuk menguji adanya hubungan
kausal adalah apa yang disebut kaidah kecocokan (method of agreement), kaidah
kecocokan negatif (negative canon of agreement) dan kaidah perbedaan (method of
Penalaran 67

difference) yang dikemukakan oleh John Stuart Mill (sehingga seluruh kaidah
disebut dengan kaidah Mill).20
Kaidah kecocokan menyatakan bahwa jika dua kasus (atau lebih) dalam suatu
fenomena mempunyai satu dan hanya satu kondisi atau faktor yang sama (C),
maka kondisi tersebut dapat menjadi penyebab timbulnya gejala (Z).
Kaidah kecocokan negatif menyatakan bahwa jika tiadanya suatu faktor (C)
berkaitan dengan tiadanya gejala (Z), maka ada bukti bahwa hubungan faktor dan
gejala tersebut bersifat kausal.
Kaidah perbedaan menyatakan bahwa jika terdapat dua kasus atau lebih
dalam suatu fenomena, dan dalam salah satu kasus suatu gejala (Z) muncul
sementara dalam kasus lainnya gejala tersebut (Z) tidak muncul; dan jika faktor
tertentu (C) terjadi ketika gejala tersebut (Z) muncul, dan faktor tersebut (C) tidak
terjadi ketika gejala tersebut (Z) tidak muncul; maka dapat dikatakan bahwa ter-
dapat hubungan kausal antara faktor (C) dan gejala (Z) tersebut.
Dalam argumen, kasus-kasus dalam ketiga kaidah di atas dapat diperlakukan
sebagai premis. Kaidah ketiga sebenarnya merupakan gabungan antara kaidah
pertama dan kedua. Kaidah Mill didasarkan pada asumsi bahwa tidak ada faktor
lain (selain C) yang mempengaruhi gejala Z. Kaidah Mill digunakan untuk
meyakinkan apakah hubungan dua faktor bersifat korelasional atau kausal. Kai-
dah Mill ini didiagramkan dalam Gambar 2.10 di halaman berikut.

Kriteria Penyebaban

Kaidah perbedaan Mill sebenarnya merupakan suatu rancangan untuk menguji


secara ekperimental apakah memang terdapat hubungan kausal. Akan tetapi,
kaidah tersebut belum dapat sepenuhnya meyakinkan karena mungkin ada faktor
lain (selain C) yang menyebabkan gejala Z terjadi. Oleh karena itu, untuk menguji
dan menyatakan bahwa suatu faktor atau variabel (C) menyebabkan suatu gejala
atau variabel lain (Z) terjadi, tiga kriteria berikut harus dipenuhi:

(1) C dan Z bervariasi bersama. Bila C berubah, Z juga berubah.


(2) Perubahan C terjadi sebelum atau mendahului perubahan Z terjadi.
(3) Tidak ada faktor lain selain C yang mempengaruhi perubahan Z.

Kriteria (1) harus dipenuhi karena hubungan sebab-akibat hanya terjadi jika
ada perubahan baik faktor sebab maupun faktor akibat. Bila salah satu faktor
berubah sementara yang lain tetap, maka jelas bahwa kedua faktor tersebut tidak
berhubungan sama sekali. Perubahan di sini harus diartikan secara luas sebagai
perbedaan keadaan (status/klasifikasi/gejala) atau nilai (skor/peringkat). Misalnya
keadaan kena kanker dan tidak kena kanker, merokok dan tidak merokok, diberi
obat dan tidak diberi obat, muncul dan tidak muncul, serta sembuh dan tidak sem-
buh merupakan suatu perbedaan keadaan yang menggambarkan perubahan.
Demikian juga, perbedaan skor hasil pengukuran dua kasus atau lebih menunjuk-

20
Lihat Cooper and Schindler (2001), hlm. 148-149.
68 Bab 2

kan adanya perubahan. Misalnya perbedaan skor rata-rata tes potensi akademik
(TPA) sebelum dan sesudah mengikuti kursus, perbedaan tingkat kecerdasan yang
diukur pada waktu yang berbeda, perbedaan kinerja sekelompok karyawan yang
diukur pada waktu yang berbeda atau, dan perbedaan kinerja dua kelompok sete-
lah adanya suatu percobaan merupakan indikasi adanya perubahan.

Gambar 2.10
Kaidah Penyebaban Mill

Kaidah Kecocokan
Faktor Penjelas Gejala

Kasus 1 A B C Z

Kasus 2 E C D Z

Kasus 3 C F G Z

menyebabkan
Konklusi C Z

Kaidah Perbedaan
Faktor Penjelas Gejala

Kasus 1 A B C Z

Kasus 2 A B C -Z (Tak ada Z)

menyebabkan
Konklusi C Z

Kriteria (2) harus dipenuhi karena penyebaban menuntut adanya pengaruh


satu faktor terhadap faktor yang lain dalam selang waktu tertentu. Jadi, harus
ada selang waktu antara terjadinya perubahaan faktor sebab dan faktor akibat.
Oleh karena itu, perubahan faktor sebab harus terjadi dahulu sebelum perubahan
faktor akibat terjadi. Dengan kata lain, harus ada semacam ketergantungan atau
dependensi faktor akibat pada faktor sebab. Selang waktu tersebut dapat sekejap
atau lama bergantung pada masalah yang dibahas.
Untuk meyakinkan bahwa faktor sebab benar-benar menyebabkan faktor aki-
bat, kriteria (3) harus dipenuhi. Tidak adanya faktor-faktor lain selain faktor
sebab yang diteorikan harus diartikan bahwa faktor-faktor lain tersebut memang
tidak ada atau kalau ada, pengaruh faktor-faktor lain tersebut dapat dikendalikan,
diukur, atau diisolasi sehingga diperoleh keyakinan yang tinggi bahwa perubahan
Penalaran 69

faktor sebab benar-benar menyebabkan perubahaan faktor akibat.21 Misalnya,


untuk meyakinkan apakah kegaduhan (noise) menyebabkan turunnya produktivi-
tas ayam petelur, faktor lain yang diduga juga merupakan penyebab seperti penyi-
naran, temperatur, dan jenis makanan harus dikendalikan atau dijaga konstan.

Penalaran Induktif dalam Akuntansi

Penalaran induktif dalam akuntansi pada umumnya digunakan untuk menghasil-


kan pernyataan umum yang menjadi penjelasan (teori) terhadap gejala akuntansi
tertentu. Pernyataan-pernyataan umum tersebut biasanya berasal dari hipotesis
yang diajukan dan diuji dalam suatu penelitian empiris. Hipotesis merupakan
generalisasi yang dituju oleh penelitian akuntansi. Bila bukti empiris konsisten
dengan (mendukung) generalisasi tersebut maka generalisasi tersebut menjadi
teori yang valid dan mempunyai daya prediksi yang tinggi. Contoh pernyataan
umum sebagai hasil penalaran induktif (generalisasi) antara lain adalah:

Perusahaan besar memilih metoda akuntansi yang menurunkan laba.


Tingkat likuiditas perusahaan perdagangan lebih tinggi daripada
tingkat likuiditas perusahaan pemanufakturan.
Tingkat solvensi berasosiasi positif dengan probabilitas kebankrutan
perusahaan.
Partisipasi manajer divisi dalam penyusunan anggaran mempunyai
pengaruh positif terhadap kinerja divisi.
Ambang persepsi etis wanita lebih tinggi dibanding ambang persepsi
etis pria dalam menilai kasus pelanggaran etika atau hukum.
Ukuran atau besar-kecilnya (size) perusahaan berasosiasi positif
dengan tingkat pengungkapan sukarela (voluntary disclosures) dalam
statemen keuangan.

Secara statistis, generalisasi berarti menyimpulkan karakteristik populasi


atas dasar karakteristik sampel melalui pengujian statistis. Misalnya, suatu teori
harus diajukan untuk menjelaskan mengapa terjadi perbedaan luas atau banyak-
nya pengungkapan dalam statemen keuangan antarperusahaan. Teori tersebut
misalnya dinyatakan dalam pernyataan umum (proposisi) terakhir dalam daftar di
atas yaitu ukuran perusahaan berasosiasi positif dengan tingkat pengungkapan
sukarela. Proses penalaran induktif dalam contoh ini dapat dilukiskan dalam
Gambar 2.11 di halaman berikut.
Untuk sampai pada proposisi dalam contoh tersebut, tentu saja diperlukan
argumen dalam bentuk rerangka atau landasan teoretis. Dalam proposisi ini,
ukuran perusahaan dan tingkat pengungkapan sukarela merupakan konsep
sedangkan berasosiasi positif merupakan hubungan yang diteorikan. Agar
proposisi dapat diuji, konsep dalam proposisi harus didefinisi secara operasional

21
Dalam suatu percobaan atau penelitian eksperimental, tingkat keyakinan bahwa faktor tertentu
benar-benar merupakan penyebab faktor yang lain disebut dengan validitas internal.
70 Bab 2

menjadi suatu variabel yang dapat diamati dalam dunia nyata sehingga konsep
abstrak dapat diukur. Dalam contoh ini, aset (dapat juga penjualan) dijadikan defi-
nisi operasional (proksi) ukuran perusahaan sedangkan banyaknya butir peng-
ungkapan yang tidak diatur oleh standar akuntansi merupakan definisi
pengungkapan sukarela. Dalam pengujian statistis, hubungan teoretis antarvaria-
bel sering dinyatakan dalam bentuk hipotesis.22

Gambar 2.11
Contoh Penalaran Induktif dalam Akuntansi

Tataran abstrak

Rerangka/landasan
teoretis

Hubungan teoretis

Konsep:
Konsep:
Tingkat pengungkapan
Ukuran perusahaan Proposisi sukarela

Tataran empiris Definisi operasional


Generalisasi
Variabel Y: sebagai
Variabel X: penalaran
Banyaknya pengung-
Hipotesis kapan yang tidak diwa- induktif
Aset
jibkan oleh standar.

Pengukuran Pengukuran
sampel sampel

Sampel X Y
Pengujian hubungan secara statistis
(dengan regresi, korelasi, atau lainnya)

Setelah definisi operasional diukur untuk sampel amatan, konsep-konsep


yang diteorikan direpresentasi dalam bentuk variabel dan diberi notasi (misalnya
X dan Y) agar analisis data mudah dilakukan. Untuk menguji hipotesis, hubungan

22
Proposisi sering disebut dengan hipotesis. Istilah proposisi biasanya digunakan dalam tataran
(level) teoretis atau abstrak sedangkan istilah hipotesis biasanya digunakan dalam tataran empiris
atau pengujian. Dalam penelitian akuntansi, kedua istilah sering tidak dibedakan dan digunakan
secara saling tukar.
Penalaran 71

antara variabel diuji dengan alat statistis tertentu (misalnya regresi). Bila
pengujian secara statistis menunjukkan bahwa hubungan antara variabel secara
statistis signifikan, berarti ada keyakinan tinggi (misalnya tingkat keyakinan
95%) bahwa teori yang diajukan didukung secara empiris sehingga dapat dilaku-
kan generalisasi. Dari contoh di atas, generalisasi secara formal dapat dinyatakan
dalam penalaran induktif sebagaimana tampak pada argumen di bawah ini.

Premis: Pengamatan (sampel) menunjukkan bahwa makin besar


aset perusahaan makin banyak butir pengungkapan yang
disajikan perusahaan dalam statemen keuangan.
Hubungan ini secara statistis signifikan pada = 0,05.

Konklusi: Ukuran atau besar-kecilnya (size) perusahaan beraso-


siasi positif dengan tingkat pengungkapan sukarela
(voluntary disclosures) dalam statemen keuangan.

Dalam praktiknya, penalaran induktif tidak dapat dilaksanakan terpisah


dengan penalaran deduktif atau sebaliknya. Kedua penalaran tersebut saling ber-
kaitan. Premis dalam penalaran deduktif, misalnya, dapat merupakan hasil dari
suatu penalaran induktif. Demikian juga, proposisi-proposisi akuntansi yang dia-
jukan dalam penelitian biasanya diturunkan dengan penalaran deduktif.
Bila dikaitkan dengan perspektif teori yang lain, teori akuntansi normatif
biasanya berbasis penalaran deduktif sedangkan teori akuntansi positif biasanya
berbasis penalaran induktif. Secara umum dapat dikatakan bahwa teori akuntansi
sebagai penalaran logis bersifat normatif, sintaktik, semantik, dan deduktif
sementara teori akuntansi sebagai sains bersifat positif, pragmatik, dan induktif.
Buku ini memandang teori akuntansi sebagai penalaran logis dalam bentuk
perekayasaan pelaporan keuangan. Oleh karena itu, pembahasan buku ini lebih
berhaluan normatif sehingga banyak menerapkan penalaran deduktif dengan
fokus bahasan yang bersifat struktural (sintaktik) dan semantik.

Kecohan (Fallacy)
Dalam kehidupan sehari-hari (baik akademik maupun nonakademik), acapkali
dijumpai bahwa argumen yang jelek, lemah, tidak sehat, atau bahkan tidak masuk
akal ternyata mampu meyakinkan banyak orang sehingga mereka terbujuk oleh
argumen tersebut padahal seharusnya tidak. Bila hal ini terjadi, akan banyak
praktik, perbuatan, atau tindakan dalam masyarakat yang dilandasi oleh teori
atau alasan yang tidak sehat. Akibatnya praktik itu sendiri menjadi tidak sehat.
Cederblom dan Paulsen (1986) membahas hal ini dengan mengajukan pertanyaan:
Why are bad arguments sometimes convincing? Pertanyaan tentang adanya
kecohan penalaran dalam akuntansi misalnya adalah Mengapa istilah yang salah
banyak dipakai orang?
Telah dibahas sebelumnya bahwa keyakinan mempunyai beberapa sifat yang
menjadikan perubahan atau pemertahanan keyakinan tidak semata-mata dilan-
dasi oleh validitas dan kekuatan argumen tetapi juga oleh faktor manusia. Dalam
72 Bab 2

kasus tertentu (bahkan dalam konteks ilmiah atau akademik), manusia lebih ter-
bujuk atau terkecoh oleh emosi atau kepentingan pribadi daripada logika. Dengan
kata lain, keyakinan tidak selalu diperoleh melalui argumen logis atau akal sehat.
Apapun faktor yang menyebabkan, bila terdapat suatu asersi yang nyatanya mem-
bujuk dan dianut banyak orang padahal seharusnya tidak lantaran argumen yang
diajukan mengandung cacat (faulty), maka pasti terjadi kesalahan yang disebut
kecohan atau salah nalar (fallacy). Cederblom dan Paulsen (1986) mendefinisi
pengertian kecohan sebagai berikut:

A fallacy is a kind of argument or appeal that tends to persuade us, even though
it is faulty. ... Fallacies are arguments that tend to persuade but should not per-
suade (hlm. 102).

Kita harus mengenal berbagai kecohan agar kita waspada bahwa hal semacam
itu memang ada sehingga kita tidak terkecoh atau mengecoh orang lain secara tak
sengaja. Orang dapat terkecoh oleh dirinya sendiri sehingga dia berpikir bahwa
dia mengajukan argumen yang valid padahal sebenarnya tidak valid. Sebaliknya,
orang dapat mengecoh orang lain dengan sengaja semata-mata karena ingin
memaksakan kehendak atau ingin menangnya sendiri sehingga dia akan meng-
gunakan segala taktik untuk meyakinkan orang lain tentang keyakinan atau
pendapatnya dengan menyampingkan masalah pokok atau menyembunyikan
argumen yang valid. Oleh karena itu, perlu dibedakan kecohan lantaran taktik
atau akal bulus (yang oleh Nickerson disebut dengan stratagem) dan kecohan lan-
taran salah logika atau nalar dalam argumen (reasoning fallacy).23 Ciri yang mem-
bedakan keduanya adalah maksud atau niat (intention) untuk berargumen.

Stratagem

Stratagem adalah pendekatan atau cara-cara untuk mempengaruhi keyakinan


orang dengan cara selain mengajukan argumen yang valid atau masuk akal (rea-
sonable argument). Stratagem merupakan salah satu bentuk argumen karena
merupakan upaya untuk menyakinkan seseorang agar dia percaya atau bersedia
mengerjakan sesuatu. Berbeda dengan argumen yang valid, stratagem biasanya
digunakan untuk membela pendapat yang sebenarnya keliru atau lemah dan tidak
dapat dipertahankan secara logis. Karenanya, stratagem dapat mengandung kebo-
hongan (deceit) dan muslihat (trick). Biasanya, stratagem digunakan dengan niat
semata-mata untuk memaksakan kehendak, membujuk orang agar meyakini
sesuatu, menjadikan hal yang tidak baik/benar kelihatan baik/benar, atau menja-
tuhkan lawan bicara dalam debat atau perselisihan. Stratagem dapat melibatkan
salah nalar walaupun tidak harus selalu demikian. Artinya, argumen yang logis
tidak selalu dapat membujuk. Oleh karena itu, keyakinan kadang-kadang dianut
bukan karena kekuatan argumen semata-mata tetapi juga karena stratagem.
23
Pengertian kecohan yang diajukan oleh Cederblom dan Paulsen meliputi pula stratagem sedang-
kan istilah kecohan oleh Nickerson dibatasi pada pengertian sebagai salah nalar. Stratagem juga sering
disebut sebagai argumen informal sementara penalaran logis disebut sebagai argumen formal.
Penalaran 73

Stratagem banyak dijumpai dalam arena politik walaupun tidak tertutup kemung-
kinan bahwa hal tersebut dijumpai dalam diskusi ilmiah. Pakar atau ilmuwan
kadang kala lebih menunjukkan stratagem daripada argumen yang valid. Berikut
ini dibahas beberapa stratagem yang sering dijumpai dalam diskusi atau perde-
batan baik politis maupun akademik.

Persuasi Taklangsung

Persuasi taklangsung merupakan stratagem untuk menyakinkan seseorang akan


kebenaran suatu pernyataan bukan langsung melalui argumen atau penalaran
melainkan melalui cara-cara yang sama sekali tidak berkaitan dengan validitas
argumen. Contoh persuasi taklangsung banyak dijumpai dalam periklanan (adver-
tising). Untuk membujuk agar orang mau membeli produk, orang tidak disuguhi
argumen tentang mengapa produk tersebut berkualitas melainkan ditunjuki
pemandangan bahwa seorang selebritis menggunakan produk tersebut. Harapan-
nya adalah orang yang tidak menggunakan produk akan merasa bahwa dia tidak
termasuk dalam golongan yang bergaya hidup selebritis.
Orang yang rasional tentunya tidak mudah terbujuk oleh stratagem tersebut.
Akan tetapi, teknik-teknik persuasi sudah canggih dan halus sehingga orang yang
rasional pun masih terkecoh secara emosional.

Membidik Orangnya

Stratagem ini digunakan untuk melemahkan atau menjatuhkan suatu posisi atau
pernyataan dengan cara menghubungan pernyataan atau argumen yang diajukan
seseorang dengan pribadi orang tersebut.24 Alih-alih mengajukan kontra-argumen
(counter-argument) yang lebih valid, pembicara mengajukan kejelekan atau sifat
yang kurang menguntungkan dari lawan berargumen. Jadi, yang dilawan orang-
nya bukan argumennya. Dengan cara ini diharapkan bahwa daya bujuk argumen
akan menjadi turun atau jatuh. Taktik ini sering disebut argumentum ad hom-
inem. Berikut ini adalah beberapa contoh stratagem ini.

Dia tidak mungkin menjadi pemimpin yang andal karena dia bekas
militer (atau tahanan politik yang pernah dihukum).
Praktisi akuntansi yang tidak mengikuti standar akuntansi seperti apa
adanya adalah orang yang tidak loyal dan tidak profesional.
Jangan menggunakan istilah tersebut karena yang mengusulkan orang
Yogya. (Saya tidak setuju istilah itu karena itu istilah Yogya.)
Program tersebut tidak valid didukung karena yang mengajukan
adalah partai politik A.
Kurikulum ini harus diganti total karena yang mengembangkan adalah
pengelola lama (rezim orde baru).

24
Posisi yang dimaksud di sini adalah posisi setuju (mendukung) atau tidak sejutu (menolak) ter-
hadap suatu gagasan, ide, usul, konsep, atau kebijakan.
74 Bab 2

Berkaitan dengan stratagem ini, orang sering menggunakan taktik ungkapan


merendahkan (put-downs) untuk menyanggah/menghindari argumen dengan
ungkapan-ungkapan berikut (diucapkan dengan nada meninggi):

Semua orang tahu itu!


Saya tidak percaya anda dapat mengatakan hal itu!
Yang anda katakan itu adalah lelucon baru yang belum pernah saya
dengar!
Apa itu kok aneh-aneh, seperti kurang pekerjaan saja! (Sebagai
reaksi terhadap istilah akuntansi baru yang baru saja didengarnya.)

Menyampingkan Masalah

Stratagem ini dilakukan dengan cara mengajukan argumen yang tidak bertumpu
pada masalah pokok atau dengan cara mengalihkan masalah ke masalah yang lain
yang tidak bertautan. Hal ini sering dilakukan orang jika dia (karena sesuatu hal)
tidak bersedia menerima argumen yang dia tahu lebih valid dari argumen yang
dipegangnya. Penyampingan masalah ini juga merupakan salah satu contoh salah
nalar karena penyampingan dilakukan dengan memberi penjelasan yang tidak
menjawab masalah. Berikut ini adalah beberapa contoh stratagem ini.

Gerakan antikorupsi tidak perlu digalakkan lagi karena nyatanya


banyak orang yang melakukan korupsi tidak mendapatkan sanksi
hukum.
Pembenahan istilah akuntansi tidak perlu dilakukan karena dalam
komunikasi yang penting kita tahu maksudnya.
Mengapa istilah kos seharusnya digunakan alih-alih biaya? Stratagem:
Apa bedanya dengan kos-kosan (tempat mondok)?

Dari contoh di atas, penyampingan masalah terjadi karena orang tidak lagi
menyajikan argumen tandingan yang valid terhadap pernyataan yang ingin
disanggahnya (yaitu perlunya pemberantasan korupsi). Dalam contoh kedua,
misalnya, orang tidak lagi membahas arti pentingnya pembenahan melainkan
mematikan atau memotong diskusi dengan mengajukan alasan yang menyimpang
dari masalah pokok. Dalam contoh ketiga, penyanggah tidak bertanya secara ilmi-
ah atau akademik mengapa demikian tetapi malahan mengolok-olok penggagas
atau gagasan untuk menyampingkan masalah pokok. Bila hal semacam ini terjadi
dalam forum ilmiah atau akademik, hal tersebut sebenarnya merefleksi kepicikan
penyanggah yang justru pantas untuk diolok-olok.
Stratagem penyampingan masalah (avoiding the issue) sering digunakan oleh
politikus untuk menghidari pertanyaan yang dapat memalukannya dalam suatu
jumpa pers dengan cara menyalahartikan pertanyaan dan menjawab pertanyaan
yang disalahartikan tersebut. Hal ini sama dengan taktik mahasiswa yang tidak
dapat menjawab pertanyaan dalam ujian tetapi kemudian sengaja menyalaharti-
kan maksud pertanyaan dan menjawab pertanyaan yang disalahartikan tersebut
Penalaran 75

dengan baik. Kemudian dia datang ke dosennya, setelah tahu nilainya jelek, untuk
memprotes dan berargumen bahwa itulah yang dipahami tentang pertanyaan
ujian (meskipun dia tahu benar maksud sebenarnya pertanyaan).
Penyampingan masalah pokok sering disebut dengan taktik red herring dalam
perdebatan politik untuk menutupi atau menghindari kekalahan dalam argumen.
Red herring adalah praktik dalam perburuan untuk menghalangi anjing pelacak
membaui sasaran dengan cara memasang ikan herring melintang pada jalan seta-
pak atau jejak (trail).

Misrepresentasi

Stratagem ini digunakan biasanya untuk menyanggah atau menjatuhkan posisi


lawan dengan cara memutarbalikkan atau menyembunyikan fakta baik secara
halus maupun terang-terangan. Hal ini dapat dilakukan dengan cara misalnya:
mengekstremkan posisi lawan, menyalahartikan maksud baik posisi lawan, atau
menonjolkan kelemahan dan menyembunyikan keunggulan argumen lawan.
Sebagai contoh, seorang anggota DPR dari Partai A mengajukan argumen
untuk mendukung agar pemerintah mengurangi anggaran untuk pertahanan dan
menambah anggaran untuk pendidikan. Anggota dari Partai B, sebagai penyang-
gah, menuduh anggota dari Partai A ingin menghancurkan militer dan menempat-
kan negara pada kondisi kurang aman. Ini merupakan misrepresentasi dengan
mengekstremkan posisi lawan.
Contoh lain misalnya adalah seorang mahasiswa, Amin, meminta dosennya
untuk mengomentari tulisan atau proposal skripsinya. Dosennya menyarankan
perbaikan-perbaikan yang rinci dan jelas. Amin, yang mengharapkan untuk
mendapat pujian dari dosennya, mengeluh dengan mengatakan kepada teman-
temannya bahwa dosen tersebut sangat rewel padahal tulisan atau proposalnya
memang amburadul.
Berkaitan dengan strategi ini adalah apa yang dikenal dengan istilah the
deceptive use of truth. Dengan taktik ini, penalar menunjukkan fakta atau kebe-
naran (truth) tetapi tidak secara utuh atau hanya sebagian. Pengiklan obat
menunjukkan khasiat obat tanpa menunjukkan efek samping. Peneliti menunjuk-
kan perbedaan karakteristik dua kelompok dengan menggambar grafik perbedaan
di bagian ujung saja sehingga perbedaan yang secara statistis tidak signifikan
menjadi tampak secara ekonomik signifikan. Ada berbagai cara lain untuk menge-
labuhi dengan statistik tanpa harus berbohong.

Imbauan Cacah

Stratagem ini biasanya digunakan untuk mendukung suatu posisi dengan menun-
jukkan bahwa banyak orang melakukan apa yang dikandung posisi tersebut.
Sebagai contoh, suatu kelompok memegang posisi untuk membolehkan penaikan
harga (mark-up) kontrak atau tender karena banyak rekanan melakukan hal
tersebut. Dalam promosi produk, pengiklan membuat klaim Sembilan dari sepu-
luh bintang film menggunakan sabun merek X untuk membujuk konsumer agar
76 Bab 2

membeli sabun tersebut. Imbauan cacah (appeal to number) didasarkan pada


asumsi bahwa majoritas orang melakukan suatu hal atau popularitas suatu hal
menunjukkan bahwa hal tersebut adalah benar atau tidak dapat salah. Mengaju-
kan asumsi ini untuk mendukung posisi tidak sama dengan mengajukan argumen
tetapi lebih merupakan stratagem.
Agar tidak terkecoh, orang harus memegang prinsip bahwa suatu hal tidak
menjadi benar lantaran banyak orang yang melakukannya atau popular sebagai-
mana pepatah yang berbunyi the fact that many people do thing does not make it
right. Misalnya, kenyataan bahwa banyak orang melakukan korupsi tidak mem-
buat korupsi menjadi benar. Penalar (reasoner) yang bijak, lebih-lebih akademisi,
akan mempertimbangkan suatu gagasan atas dasar bukti pendukung (argumen)
yang valid dan bukan atas dasar banyaknya orang yang memegang gagasan itu.
Mirip dengan stratagem ini adalah apa yang dikenal dengan istilah peringan-
an lewat generalisasi (dilution by generalization). Misalnya seorang politikus men-
dukung posisi bahwa Ketua DPR yang dijatuhi hukuman karena tindakan korupsi
masih tetap dapat menjabat dengan argumen bahwa tidak ada orang yang sem-
purna (no one is perfect). Apa yang sebenarnya dikatakan adalah bahwa melaku-
kan korupsi adalah suatu bentuk ketidaksempurnaan manusia. Tindakan korupsi
sah-sah saja selama orang mengakui ketidaksempurnaan manusia. Akan tetapi,
penalar terkecoh dalam hal ini karena dia menyamaratakan semua jenis ketidak-
sempurnaan. Dengan kecohan ini, orang dapat menerima argumen bahwa pem-
bunuh dan pencuri tidak perlu dihukum karena tidak seorangpun sempurna.

Imbauan Autoritas

Stratagem ini mirip dengan imbauan cacah kecuali bahwa banyaknya orang atau
popularitas diganti dengan autoritas. Stratagem ini dapat juga dianggap sebagai
salah satu jenis argumen ad hominem (membidik orangnya). Argumen membidik
orangnya yang dibahas sebelumnya berusaha menjatuhkan daya bujuk argumen
dengan menjatuhkan kredibilitas penggagasnya. Dengan imbauan autoritas,
orang berusaha meningkatkan daya bujuk suatu posisi dengan menunjukkan bah-
wa posisi tersebut dipegang oleh orang yang mempunyai autoritas dalam masalah
bersangkutan tanpa menunjukkan bagaimana autoritas bernalar. Apakah strata-
gem ini dapat dianggap sebagai kecohan bergantung pada situasi nyata yang mela-
tarbelakangi karena kalau autoritas dan penalarannya memang layak orang akan
terbujuk ke arah yang benar. Akan tetapi, kalau autoritas semata-mata dijadikan
alat untuk membujuk maka kecohanlah yang terjadi. Lebih-lebih dalam hal aka-
demik atau pengembangan ilmu pengetahuan, kalau autoritas akademik diganti
dengan autoritas politis (kekuasaan/jabatan) dalam mengevaluasi suatu gagasan
atau idea, kemungkinan terjadinya kecohan akan semakin besar. Memang selayak-
nyalah bahwa pernyataan orang autoritatif akan lebih mendapat bobot dibanding
orang awam. Akan tetapi, penalaran di balik pernyataan harus tetap menjadi per-
timbangan utama.
Sebagai contoh, seorang akademisi ditanya mengapa dia memakai istilah
beban bukan biaya untuk padan kata expense. Akademisi tersebut dapat menga-
Penalaran 77

jukan stratagem bahwa dia menggunakan istilah beban karena autoritas (Ikatan
Akuntan Indonesia) menggunakan istilah tersebut tanpa mempersoalkan apakah
istilah tersebut layak atau tidak padahal dia tahu bahwa istilah beban tidak valid
(tidak dapat didukung secara argumentatif).25
Agar kita tidak terkecoh atau terperangkap ke stratagem, beberapa prinsip
yang diajukan Nickerson (1986, hlm. 114-115) berikut dapat dijadikan dasar
untuk mengembangkan argumen atau penalaran:

The fact that an authoritative person holds a particular view does not
make that view correct.
The fact that a highly knowledgeable individual holds a certain belief
with respect to his particular area of knowledge should carry some
weight.
A belief is not necessarily right because it is held by an expert.

Berkaitan dengan stratagem ini adalah imbauan autoritas yang tidak tepat
(appeal to inappropriate authority). Dengan taktik ini, penalar berusaha untuk
meningkatkan kredibilitas dan daya bujuk suatu posisi dengan menunjukkan bah-
wa posisi tersebut juga dipegang oleh orang yang diakui sebagai ahli di bidang
yang tidak berpautan dengan masalah yang dibahas. Memang orang yang telah
menyandang julukan ahli atau pakar pada umumnya mempunyai kemampuan
yang baik juga dalam menalar suatu gagasan di luar bidang keahliannya. Akan
tetapi, tidak selayaknyalah dalam berargumen kita berasumsi bahwa orang yang
memenuhi kualifikasi untuk berbicara dengan penuh autoritas dalam suatu
bidang ilmu (karena telah menekuninya cukup lama) juga dengan sendirinya
memenuhi kualifikasi untuk berbicara dengan penuh autoritas dalam bidang ilmu
lain yang tidak berkaitan. Untuk tujuan sensasional, jurnalis media masa atau
televisi sering mengundang pakar atau penguasa untuk berbicara tentang
masalah yang tidak dikuasainya atau yang keahliannya tidak bersangkutan sama
sekali dengan masalah yang diberitakan.

Imbauan Tradisi

Dalam beberapa hal, orang sering mengerjakan sesuatu dengan cara tertentu
semata-mata karena memang begitulah cara yang telah lama dikerjakan orang.
Dalam dunia ilmiah atau akademik, orang sering memegang suatu keyakinan
dengan mengajukan argumen bahwa memang demikianlah orang-orang mempu-
nyai keyakinan. Namun, kenyataan bahwa sesuatu telah lama dikerjakan dengan
cara tertentu di masa lampau tidak dengan sendirinya menjadi argumen untuk

25
Stratagem yang lebih parah adalah bilamana ada seorang akademisi yang memilih istilah aka-
demik yang menyimpang dengan alasan enak didengar bukan dengan alasan kaidah bahasa. Di sini,
suatu istilah yang sifatnya akademik dinilai atas dasar telinga bukan atas dasar apa yang ada di balik
telinga. Alasan enak didengar saja tidak cukup untuk membentuk istilah. Bila alasan ini digunakan
padahal terdapat alternatif istilah yang lebih baik maka alasan tersebut dapat dikatakan sebagai strat-
agem menyampingkan masalah.
78 Bab 2

meneruskan cara tersebut khususnya kalau terdapat cara lain yang terbukti lebih
valid atau baik (secara rasional dan praktis).
Misalnya seorang dosen berargumen bahwa skripsi mahasiswa harus ditulis
dengan mesin ketik (bukan komputer) karena tradisi penulisan jaman dulu atau,
bila boleh menggunakan komputer, dosen melarang mahasiswa mencetak kata
yang biasanya diberi garis bawah dengan huruf miring karena mempertahankan
tradisi penulisan ilmiah jaman sebelum datangnya komputer. Di sini, dosen terse-
but tidak lagi berkepentingan untuk mengevaluasi argumen bahwa jaman dulu
suatu kata diberi garis bawah karena mesin ketik tidak dapat menghasilkan huruf
miring sementara itu secara tipografis penekanan kata akan lebih baik tampilan-
nya kalau kata dicetak dengan huruf miring (garis bawah merupakan distraksi).
Imbauan terhadap tradisi juga mempunyai justifikasi sehingga tradisi tidak
dapat ditinggalkan begitu saja. Akan tetapi, justifikasi tersebut dapat menjadi
kecohan kalau tia dipaksakan secara membabi buta. Hal yang perlu dicatat dalam
kaitannya dengan argumen ini adalah bahwa maksud baik tradisi tidak merupa-
kan alasan yang kuat untuk mempertahankannya atau untuk menolak memper-
timbangkan bukti baru kalau memang terdapat bukti kuat baru bahwa maksud
tersebut tidak lagi valid. Prinsip ini sering disebut the purpose defeats the law.

Dilema Semu

Dilema semu (false dilemma) adalah taktik seseorang untuk mengaburkan argu-
men dengan cara menyajikan gagasannya dan satu alternatif lain kemudian
mengkarakterisasi alternatif lain sangat jelek, merugikan, atau mengerikan
sehingga tidak ada cara lain kecuali menerima apa yang diusulkan penggagas.
Misalnya, dalam suatu perdebatan tentang amandemen udang-undang dasar, seo-
rang anggota fraksi mengatakan (untuk meyakinkan anggota dewan yang lain):

Kita harus menyetujui amandemen ini atau negara kita akan hancur.

Dasar pikiran argumen di atas adalah bahwa negara kita tidak boleh hancur
dan karenanya simpulannya adalah kita harus menyetujui amandemen. Kecohan
terjadi karena pengargumen mengklaim bahwa hanya ada dua alternatif dan yang
satu jelas tidak diinginkan sehingga hanya alternatif yang diusulkannya yang
harus diterima. Akan tetapi, dia mengecoh seakan-akan hanya ada dua alternatif
padahal kenyataannya ada beberapa alternatif lain yang lebih valid. Sayangnya,
dalam banyak hal, orang tidak cukup kritis untuk menanyakan apakah ada alter-
natif lain yang lebih masuk akal. Struktur dilema semu (sering disebut inapprori-
ate dichotomizing) dapat dinyatakan secara umum sebagai berikut:

Kalau kita tidak memilih alternatif A, maka kita akan mengalami penderitaan atau kerugian
akibat dipilihnya alternatif B.

Dalam mengajukan stratagem di atas, orang sering menambahkan ungkapan


penyangat seperti take it or leave it atau pokoknya. Penyangat pokoknya
Penalaran 79

sering dilandasi oleh kekuasaan atau autoritas pengargumen (arguer). Argumen di


atas memang valid kalau dievaluasi atas dasar struktur argumen saja, yaitu:

Premis major: Baik A atau B.


Premis minor: Bukan B.

Konklusi: A.

Walaupun valid strukturnya, dilema semu merupakan argumen yang tidak


layak (unsound) karena premis majornya Baik A atau B adalah takbenar meng-
ingat bahwa kenyataannya ada alternatif-alternatif lain yang tidak disebutkan.

Imbauan Emosi

Apa yang dibahas sebelumnya adalah stratagem yang semata-mata menggunakan


muslihat (trick) yang oleh Cederblom dan Paulsen (1986) disebut tipu daya
(kecekatan) tangan pesulap (sleight of hand) tanpa melibatkan emosi pihak yang
dituju. Daya bujuk argumen sering dicapai dengan cara membaurkan emosi
dengan nalar (disebut confusing emotion with reason atau motive in place of sup-
port). Pendeknya, daya nalar orang dimatikan dengan cara menggugah emosinya.
Membidik orangnya (argumen ad hominem) atau imbauan autoritas sebenarnya
merupakan salah satu bentuk imbauan emosi.
Dengan menggugah emosi, pengargumen sebenarnya berusaha menggeser
dukungan nalar (support) validitas argumennya dengan motif (motive). Dengan
taktik ini, emosi orang yang dituju diagitasi sehingga dia merasa tidak enak untuk
tidak menerima alasan yang diajukan. Dua stratagem yang dapat digunakan
untuk mencapai hal ini adalah imbauan belas kasih (appeal to pity) dan imbauan
tekanan/kekuasaan (appeal to force).
Orang dikatakan telah memanfaatkan imbauan belas kasih ke anda bilamana
dia memaksa anda menyetujui sesuatu karena kalau anda tidak setuju dia akan
menderita. Misalnya, seorang mahasiswa yang telah dikeluarkan dari universitas
(memang secara akademik tidak mampu menyelesaikan kuliahnya dalam waktu
yang ditentukan) datang ke anda (kebetulan menjabat rektor) dan mengajukan
pencabutan keputusan tersebut dan mengajukan argumen bahwa keputusan
pengeluarannya akan menyebabkan dia dalam kesulitan dan penderitaan. Hal itu
diajukan karena dia tahu benar bahwa memang dia pantas dikeluarkan atas dasar
argumen akademik dan rasional. Anda tidak jadi mengeluarkannya karena anda
tahu bahwa orang tersebut akan makin menderita kalau permohonan tidak dika-
bulkan. Akhirnya anda mengeluarkan surat untuk membolehkan mahasiswa
tersebut meneruskan kuliah dengan menyatakan bahwa mahasiswa tersebut
mampu secara akademik. Konklusi di sini adalah mahasiswa mampu menyelesai-
kan kuliah meskipun bukti tidak mendukung.
Kebalikan dari imbauan belas kasih adalah bilamana seseorang mamaksa
anda menyetujui sesuatu karena kalau anda tidak setuju anda akan menderita
atau menanggung akibatnya. Anda (mahasiswa) diminta untuk mengevaluasi
80 Bab 2

pendapat dalam artikel dosen anda. Anda tidak setuju dengan pendapat tersebut
karena memang pendapat itu tidak valid secara akademik tetapi anda mendukung
secara penuh pendapat tersebut karena dosen tersebut akan keras terhadap anda.
Konklusi di sini adalah pendapat dosen tersebut valid meskipun bukti akademik
tidak mendukung.
Dari dua contoh di atas, faktor yang membuat argumen menjadi persuasif
adalah motif bukan validitas argumen. Kedua stratagem tersebut menempatkan
orang menjadi tidak enak kalau tidak menerima (meyakini) konklusi meskipun
keduanya tidak mengajukan bukti pendukung untuk meyakinkan bahwa konklusi
adalah benar (valid). Cederblom dan Paulsen (1986) mendeskripsi karakteristik
kedua stratagem ini sebagai berikut:

When a person gets you to agree to something because he will be hurt if you
dont agree, this is an appeal to pity. If someone gets you to agree because he will
hurt you if you dont agree, this is an appeal to force (hlm. 115).

Salah Nalar (Reasoning Fallacy)

Suatu argumen boleh jadi tidak meyakinkan atau persuasif karena argumen terse-
but tidak didukung dengan penalaran yang valid. Dengan kata lain, argumen men-
jadi tidak efektif karena tia mengandung kesalahan struktur logika atau karena
tia tidak masuk akal (unreasonable). Salah nalar terjadi apabila penyimpulan
tidak didasarkan pada kaidah-kaidah penalaran yang valid. Jadi, salah nalar
adalah kesalahan struktur atau proses formal penalaran dalam menurunkan sim-
pulan sehingga simpulan menjadi salah atau tidak valid.
Berbeda dengan stratagem yang lebih merupakan taktik atau pendekatan
yang sengaja digunakan untuk meyakinkan kebenaran suatu asersi, salah nalar
merupakan suatu bentuk kesalahan penyimpulan lantaran penalarannya mengan-
dung cacat sehingga simpulan tidak valid atau tidak dapat diterima. Demikian
juga, salah nalar biasanya bukan kesengajaan (intentional) dan tidak dimaksud-
kan untuk mengecoh atau mengelabuhi (to deceive). Kalau toh kecohan atau
pengelabuhan terjadi, hal tersebut semata-mata karena penalar tidak menyadari
bahwa proses atau struktur penalarannya keliru sehingga dia sendiri terkecoh.
Jadi, kecohan atau salah nalar terjadi lantaran penalar salah dalam mengaplikasi
kaidah penalaran.
Walaupun salah nalar dapat dipakai sebagai suatu stratagem atau penalaran
yang layak sering didukung dengan stratagem, tidak selayaknyalah kaidah pena-
laran yang sangat baik ditolak semata-mata karena tia sering disalahgunakan.
Penalaran juga bersifat kontekstual. Artinya, penalaran valid yang efektif dalam
konteks yang satu belum tentu efektif dalam konteks yang lain. Demikian juga,
stratagem yang efektif dalam suatu situasi belum tentu efektif dalam situasi yang
lain. Berikut ini dibahas beberapa salah nalar yang banyak dijumpai dalam diskusi
atau karya tulis profesional, akademik, atau ilmiah.
Penalaran 81

Menegaskan Konsekuen

Telah disinggung sebelumnya bahwa agar argumen valid maka tia harus mengiku-
ti kaidah menegaskan anteseden (affirming the antecedent atau modus ponens).
Bila simpulan diambil dengan pola premis yang menegaskan konsekuen, akan ter-
jadi salah nalar. Berikut struktur dan contoh argumen yang valid dan salah nalar.

Valid: Takvalid:
Menegaskan anteseden (modus ponens) Menegaskan konsekuen

Premis (1): Jika A, maka B. Premis (1): Jika A, maka B


Premis (2): A. Premis (2): B.

Konklusi: B. Konklusi: A.

Contoh:

Premis (1): Jika saya di Semarang, Premis (1): Jika saya di Semarang,
maka saya di Jawa Tengah. maka saya di Jawa Tengah.
Premis (2): Saya di Semarang. Premis (2): Saya di Jawa Tengah.

Konklusi: Saya di Jawa Tengah. Konklusi: Saya di Semarang.

Dalam contoh di atas, premis (2) Saya di Semarang menegaskan anteseden


Jika saya di Semarang sehingga konklusi pasti benarnya secara umum sedang-
kan premis (2) Saya di Jawa Tengah di sebelah kanan menegaskan konsekuen
sehingga konklusinya tidak valid secara umum. Jadi, untuk contoh sebelah kanan,
simpulan Saya di Semarang adalah tidak valid karena simpulan tidak mengikuti
premis (does not follow from the premises). Kenyataan bahwa seseorang ada di
Jawa Tengah tidak dengan sendirinya dia ada di Semarang.
Dalam hal ini, penalar terkecoh karena menyamakan atau merancukan per-
nyataan atau premis (1) Jika saya di Semarang, maka saya di Jawa Tengah
dengan premis Jika saya di Jawa Tengah, maka saya di Semarang. Premis tera-
khir ini menjadikan konklusi di sebelah kanan (Saya di Semarang) valid.26 Salah
nalar terjadi karena premis Jika A, maka B disamakan dengan premis Jika B,
maka A padahal kenyataannya tidak selalu demikian. Kecohan ini sering terjadi
karena dalam beberapa hal memang benar bahwa kalau B mengikuti A maka
benar pula bahwa A mengikuti B. Misalnya pernyataan bila ada api, maka ada
asap dapat dinyatakan pula bila ada asap, maka ada api karena memang
demikian adanya. Kedua pernyataan tersebut merupakan pernyataan fakta yang
tidak dapat disangkal.

26
Walaupun demikian, makna kedua pernyataan tersebut berbeda. Jika saya di Semarang, maka
saya di Jawa Tengah merupakan pernyataan fakta sedangkan Jika saya di Jawa Tengah, maka saya
di Semarang merupakan pernyataan empiris atau sekadar janji.
82 Bab 2

Menyangkal Anteseden

Kebalikan dari salah nalar menegaskan konsekuen adalah menyangkal anteseden.


Suatu argumen yang mengandung penyangkalan akan valid apabila konklusi
ditarik mengikuti kaidah menyangkal konsekuen (denying the consequent atau
modus tollens). Bila simpulan diambil dengan struktur premis yang menyangkal
anteseden, simpulan akan menjadi tidak valid. Berikut struktur dan contoh argu-
men yang valid dan salah nalar.

Valid: Takvalid:
Menyangkal konsekuen (modus tollens) Menyangkal anteseden

Premis (1): Jika A, maka B. Premis (1): Jika A, maka B


Premis (2): Tidak B. Premis (2): Tidak A.

Konklusi: Tidak A. Konklusi: Tidak B.

Contoh:

Premis (1): Jika saya di Semarang, Premis (1): Jika saya di Semarang,
maka saya di Jawa Tengah. maka saya di Jawa Tengah.
Premis (2): Saya tidak di Jawa Tengah. Premis (2): Saya tidak di Semarang.

Konklusi: Saya tidak di Semarang. Konklusi: Saya tidak di Jawa Tengah.

Konklusi di sebelah kanan tidak valid karena premis (2) menyangkal antese-
den (Jika saya di Semarang). Konklusi akan valid bila premis (1) diubah menjadi
Jika saya di Jawa Tengah, maka saya di Semarang sehingga argumen mengikuti
pola modus tollens. Akan tetapi, makna premis ini tidak lagi sama dengan makna
premis semula. Jadi, salah nalar akibat menegaskan konsekuen atau menyangkal
anteseden dapat terjadi karena makna jika A, maka B disamakan atau dikacau-
kan dengan jika B, maka A.

Pentaksaan (Equivocation)

Salah nalar dapat terjadi apabila ungkapan dalam premis yang satu mempunyai
makna yang berbeda dengan makna ungkapan yang sama dalam premis lainnya.
Dapat juga, salah nalar terjadi karena konteks premis yang satu berbeda dengan
konteks premis lainnya. Argumen dalam bahasa Inggris berikut memberi ilustrasi
salah nalar ini (Nickerson, 1986, hlm. 4).

Premis major: Nothing is better than eternal happiness.


Premis minor: A ham sandwhich is better than nothing.

Konklusi: A ham sandwhich is better than eternal happines.


Penalaran 83

Secara struktural, argumen di atas menjadi salah nalar karena kata nothing
dalam premis major berbeda maknanya dengan kata nothing dalam premis minor.
Dalam premis major, nothing bermakna tidak ada satupun dari himpunan objek
yang memenuhi syarat sehingga kebahagiaan abadi adalah satu-satunya yang ter-
baik.27 Sementara itu, nothing dalam premis minor bermakna tidak tersedianya
anggota lain dalam himpunan yang di dalamnya ham sandwhich merupakan salah
satu anggota sehingga ham sandwhich bukan satu-satunya yang terbaik.28 Jadi,
nothing dalam premis major mensyiratkan kebahagiaan abadi sebagai sesuatu
yang terbaik sedangkan nothing dalam premis minor mensyiratkan ham sand-
which sebagai sesuatu yang terjelek sehingga konklusi tidak masuk akal atau
tidak valid. Salah nalar seperti ini terjadi karena penalar bermaksud menerapkan
kaidah transitivitas (transitivity) tetapi tidak memenuhi syarat. Transitivitas dan
contoh dapat dinyatakan sebagai berikut:

Kaidah: Contoh:

Premis (1): B > C. Premis (1): Baroto lebih rajin daripada Candra.
Premis (2): A > B. Premis (2): Anton lebih rajin daripada Baroto.

Konklusi: A > C. Konklusi: Anton lebih rajin daripada Candra.

Argumen dalam contoh di atas valid apabila unsur B atau Baroto mengacu
pada makna atau objek yang sama sehingga tidak terjadi pentaksaan.

Perampatan-lebih (Overgeneralization)29

Salah nalar yang banyak dijumpai dalam kehidupan sehari-hari adalah melekat-
kan (mengimputasi) karakteristik sebagian kecil anggota ke seluruh anggota him-
punan, kelas, atau kelompok secara berlebihan. Bila seseorang menyimpulkan
bahwa warga Kampung X adalah pencuri karena dia mendapati bahwa dua pen-
curi yang baru saja ditangkap berasal dari Kampung X maka dia telah melakukan
salah nalar.
Perampatan atau generalisasi itu sendiri bukan merupakan salah nalar.
Kemampuan merampatkan merupakan suatu kemampuan intelektual yang
sangat penting dalam pengembangan ilmu. Masalahnya adalah bila derajat peram-
patan begitu ekstrem (atas dasar sampel atau pengamatan terbatas) sehingga
mengabaikan kemungkinan bahwa apa yang diamati merupakan peluar (outlier)
atau pengecualian (exceptions to the rule). Dalam penelitian empiris, ukuran

27
Dalam bahasa statistika atau matematika, nothing di sini bermakna himpunan kosong (tidak
mempunyai anggota).
28
Ham sandwhich merupakan salah satu anggota himpunan sandwhich yang dapat terdiri atas
beef, cheese, chicken, ham, peanut-butter, dan tuna sandwhich. Dalam hal ini, dapat saja beef atau cheese
sandwhich lebih baik daripada ham sandwhich.
29
Istilah perampatan digunakan oleh Anton M. Moeliono dalam Kembara Bahasa: Kumpulan
Karangan Tersebar (Jakarta: PT Gramedia, 1989), hlm. 125.
84 Bab 2

sampel yang terlalu kecil dan kurangnya kerepresentatifan sampel dapat meng-
hasilkan konklusi yang keliru.
Salah nalar yang bartalian dengan perampatan lebih adalah apa yang dikenal
dengan istilah penstereotipaan (stereotyping). Salah nalar ini terjadi bila penalar
mengkategori seseorang sebagai anggota suatu kelompok kemudian melekatkan
semua sifat atau kualitas kelompok kepada orang tersebut. Misalnya, orang
mengetahui bahwa para akuntan publik umumnya adalah kaya (sifat kelompok).
Salah nalar dapat terjadi kalau penalar menyimpulkan bahwa Hariman pasti kaya
karena dia adalah akuntan publik.

Parsialitas (Partiality)

Penalar kadang-kadang terkecoh karena dia menarik konklusi hanya atas dasar
sebagian dari bukti yang tersedia yang kebetulan mendukung konklusi. Hal ini
mirip dengan perampatan lebih lantaran sampel kecil atau ketakrepresentatifan
bukti. Kadang-kadang kita sengaja memilih dan melekatkan bobot yang tinggi
pada bukti (argumen) yang cenderung mendukung konklusi atau keyakinan yang
kita sukai dengan mengabaikan bukti yang menentang konklusi tersebut. Kesa-
lahan semacam ini tidak harus merupakan suatu stratagem karena penalar tidak
bermaksud mengecoh atau menjatuhkan lawan tetapi karena semata-mata dia
tidak objektif (bias) dalam penggunaan atau pengumpulan bukti.
Dalam penelitian, peneliti sering bias dalam pengumpulan data dengan mem-
buat pertanyaan yang mengarahkan responden (disebut leading questions). Bila
peneliti berupaya untuk mendukung teori yang disukainya dengan mengarahkan
bukti secara bias, hal tersebut disebut membangun kasus (building the case).

Pembuktian dengan Analogi

Telah dibahas sebelumnya bahwa analogi bukan merupakan cara untuk membuk-
tikan (to prove) validitas atau kebenaran suatu asersi. Analogi lebih merupakan
suatu sarana untuk meyakinkan bahwa asersi konklusi mempunyai kebolehjadian
(likelihood) untuk benar. Dengan kata lain, bila premis benar, konklusi atas dasar
analogi belum tentu benar. Jadi, analogi dapat menghasilkan salah nalar.
Menyatakan bahwa dua objek sama atau serupa dalam beberapa aspek (misal-
nya a, b, dan c) lebih dimaksudkan untuk menunjukkan kemiripan kedua objek
tersebut. Namun demikian, mengetahui bahwa dua objek sama dalam aspek a, b,
dan c tidak menjadi bukti bahwa kedua objek tersebut juga sama dalam aspek d.
Bila diketahui bahwa kedua objek tersebut serupa dalam aspek d maka analogi
tidak diperlukan untuk membuktikannya.
Bila tidak diketahui bahwa dua objek sama dalam aspek d, salah nalar dapat
terjadi bila orang mengatakan bahwa karena X analogus dengan Y dalam aspek a,
b, dan c, X juga pasti punya d karena Y punya d. Jadi, Y punya d bukan merupa-
kan bukti bahwa X punya d meskipun X dan Y analogus. Kesalahan semacam ini
dapat dicontohkan sebagai berikut:
Penalaran 85

Premis (1): Komputer mempunyai CPU yang bekerja seperti otak.


Premis (2): Otak berpikir.

Konklusi: Komputer berpikir.

Dalam pengembangan istilah, analogi sering diartikan sebagai mengikuti


kaidah atau struktur ungkapan yang sama. Dengan makna ini, menggunakan
analogi untuk menurunkan istilah bukan merupakan salah nalar tetapi merupa-
kan sarana untuk mengaplikasi kaidah secara taat asas. Salah nalar justru akan
terjadi kalau kaidah tidak diikuti. Berikut ini adalah contoh penurunan istilah
(padan kata) Indonesia atas dasar penerjemahan istilah Inggris dengan analogi.

Premis (1): Real number diterjemahkan atau diserap menjadi bilangan real.
Premis (2): Real asset diterjemahkan atau diserap menjadi aset real.
Premis (3): Round table diterjemahkan atau diserap menjadi meja bundar.

Konklusi: Real estate diterjemahkan atau diserap menjadi estat real.

Konklusi atas dasar analogi di atas valid karena konklusi mengikuti kaidah
(struktur) yang melekat pada tiap premis. Bahasa Indonesia mengikuti kaidah DM
(diterangkan-menerangkan) sedangkan bahasa Inggris mengikuti kaidah MD
(menerangkan-diterangkan). Salah nalar terjadi justru kalau real estate diserap
menjadi real estat sebagaimana terlihat dalam Standar Akuntansi Keuangan,
PSAK No. 44. Salah nalar terjadi karena kaidah penalaran pembentukan istilah
dilanggar yaitu menggunakan kaidah MD untuk istilah bahasa Indonesia.30

Merancukan Urutan Kejadian dengan Penyebaban

Dalam percakapan sehari-hari atau diskusi, kesalahan yang sering dilakukan


orang adalah merancukan urutan kejadian (temporal succession) dengan penye-
baban (causation). Bila kejadian B selalu mengikuti kejadian A, orang cenderung
menyimpulkan bahwa B disebabkan oleh A. Karena malam selalu mengikuti
siang, tidak berarti bahwa siang menyebabkan malam. Salah nalar terjadi bila
urutan kejadian disimpulkan sebagai penyebaban. Kesalahan ini sering disebut
dalam bahasa Latin post hoc ergo propter hoc (setelah ini, maka karena ini).
Telah dibahas sebelumnya bahwa urutan kejadian hanyalah merupakan salah
satu syarat untuk menyatakan adanya penyebaban (lihat kembali subbahasan
Argumen Sebab-Akibat di halaman 60). Syarat ini merupakan syarat perlu (neces-
sary condition) untuk penyebaban tetapi bukan syarat cukup (sufficient condi-
tion). Kalau A memang menyebabkan B maka perlu dipenuhi syarat bahwa A
selalu mendahului B. Syarat ini makin kuat mendukung penyebaban bilamana

30
Penerjemahan atau penyerapan estate menjadi estat sudah sangat tepat mengikuti analogi
penyerapan accurate, senate, candidate, carbonate, atau variate menjadi akurat, senat, kandidat,
karbonat, atau variat sebagaimana ditentukan dalam Pedoman Umum Pembentukan Istilah (PUPI).
86 Bab 2

hubungan A dan B adalah asimetri. Artinya, kejadian A mendahului B tidak


sama atau tidak berpasangan dengan kejadian B mendahului A (kejadian B
mendahului A tidak ada). Dua syarat lain yang harus dipenuhi agar cukup untuk
menyatakan adanya penyebaban adalah B bervariasi dengan A dan tidak ada fak-
tor lain selain A yang menyebabkan B berubah.
Dalam penelitian ekperimental yang bertujuan untuk menguji hubungan
penyebaban, konklusi dapat salah atau meragukan karena terdapat faktor
penyebab selain yang diteliti yang ternyata juga mempengaruhi faktor akibat. Bila
hal ini terjadi, maka dikatakan bahwa penelitian tersebut mempunyai validitas
internal (internal validity) yang rendah.31

Menarik Simpulan Pasangan

Kemampuan seseorang untuk menyajikan argumen sering menjadikan argumen


yang valid atau benar menjadi kurang meyakinkan. Akibatnya, orang sering lalu
menyimpulkan bahwa konklusinya tidak benar atau valid. Hal penting yang perlu
diingat adalah bahwa kemampuan seseorang untuk menyajikan argumen yang
mendukung atau menyangkal suatu posisi tidak menentukan kebenaran (truth)
atau ketakbenaran (falsity) konklusi (posisi). Kebenaran konklusi atau posisi
memang harus didukung oleh argumen yang meyakinkan.
Salah nalar terjadi kalau orang menyimpulkan bahwa suatu konklusi salah
lantaran argumen tidak disajikan dengan meyakinkan (tidak konklusif) sehingga
dia lalu menyimpulkan bahwa konklusi atau posisi pasanganlah yang benar.
Kecohan ini mirip dengan bentuk salah nalar menyangkal anteseden yang telah
dibahas sebelumnya. Kecohan ini dapat dinyatakan sebagai berikut:

Premis (1): Jika seseorang dapat menyajikan suatu argumen yang meyakinkan,
maka konklusinya benar (valid).
Premis (2): Pak Antoni menyajikan argumennya dengan tidak meyakinkan.

Konklusi: Konklusi atau posisinya takbenar. Posisi pasangannya yang benar.

Jadi, mengambil konklusi pasangan lantaran konklusi yang diajukan tidak


disajikan secara meyakinkan merupakan suatu salah nalar. Kalau suatu per-
nyataan yang memang valid disajikan dengan argumen yang kurang efektif, maka
hal terbaik yang dapat disimpulkan adalah bahwa validitas atau kebenaran per-
nyataan tersebut belum terungkap atau ditunjukkan tetapi tidak berarti bahwa
pernyataan tersebut takbenar. Dengan demikian, kurang meyakinkannya suatu
konklusi tidak dengan sendirinya membenarkan konklusi yang lain (pasangan).
Dalam pengembangan ilmu dikenal suatu pendekatan atau semangat untuk
menguji suatu teori yang disebut penyanggahan atau refutasi ilmiah (scientific
31
Validitas internal dapat menjadi rendah karena hal-hal yang dikenal sebagai: history, maturity,
mortality, pretesting, instrumentation, selection bias, dan statistical regression. Lihat pembahasan lebih
lanjut dalam Uma Sekaran, Research Methods for Business: A Skill Building Approach (New York:
John Wiley & Sons, Inc., 2003), hlm. 151-156.
Penalaran 87

refutation). Semangat ini dilandasi oleh pikiran bahwa suatu teori ilmiah tidak
harus dapat dibuktikan benar tetapi harus dapat disanggah (dibuktikan salah)
kalau tia memang salah; misalnya dengan pengajuan teori baru yang lebih baik.
Dasar pikiran ini sering disebut dengan prinsip ketersalahan atau keterbuktisa-
lahan (principle of falsifiability). Bila ilmuwan tidak dapat menunjukkan dengan
meyakinkan bahwa teori barunya lebih valid, maka ilmuwan terpaksa meneri-
ma teori yang disanggahnya.32 Prosedur penyimpulan semacam ini bukan meru-
pakan salah nalar tetapi lebih merupakan usaha untuk mencapai ketegaran
ilmiah (scientific rigor). Hal ini penting agar orang tidak dengan mudah menggan-
ti teori dengan teori yang belum teruji secara meyakinkan. Namun, prosedur ini
mengandung risiko yaitu ilmuwan tidak menolak teori yang disangkalnya padahal
teori tersebut sebenarnya salah. Jadi, ilmuwan menerima teori yang salah. Risi-
ko ini disebut kesalahan penyimpulan (error of inference) dan harus dihindari.
Dalam penelitian ilmiah (empiris), konklusi atau teori biasanya dinyatakan
dalam bentuk hipotesis. Konklusi pasangan yang dibahas di atas sering ditempat-
kan sebagai hipotesis nol (null atau default hypothesis) sedangkan hipotesis (teori
baru) yang diajukan dan akan diuji ditempatkan sebagai hipotesis alternatif (alter-
native hypothesis). Kalau peneliti tidak dapat menunjukkan bukti-bukti yang
sangat kuat untuk mendukung teorinya (bukti-bukti empiris yang diajukan tidak
mendukung secara statistis hipotesis alternatif), maka peneliti terpaksa menyim-
pulkan (tidak menolak) hipotesis nol. Jadi, bila bukti empiris tidak cukup
meyakinkan untuk menyimpulkan hipotesis alternatif, maka dikatakan bahwa
peneliti gagal menolak hipotesis nol (to fail to reject the null or default hypothesis).
Dalam hal ini, peneliti menghadapi dua jenis risiko kesalahan penyimpulan yaitu
menyimpulkan hipotesis nol padahal sebenarnya tia salah atau menyimpulkan
hipotesis alternatif padahal sebenarnya tia salah.
Dalam bahasa statistika, kesalahan menyimpulkan hipotesis alternatif (atau
menolak hipotesis nol) padahal kenyataannya hipotesis alternatif adalah salah
disebut dengan kesalahan Tipa I atau . Sebaliknya, kesalahan menyimpulkan
hipotesis nol (tidak menolak hipotesis nol) padahal kenyataannya hipotesis nol
adalah salah disebut dengan kesalahan Tipa II atau .
Prosedur refutasi ilmiah juga diterapkan dalam sistem pengadilan dengan
dianutnya asas praduga takbersalah (presumption of innocence). Pengadilan harus
memutuskan (menyimpulkan) bahwa seorang terdakwa bersalah (guilty) atau tak-
bersalah (innocent atau not guilty). Penyimpulan ini sejalan dengan pengujian
hipotesis yang dibahas di atas. Dengan asas praduga takbersalah, terdakwa harus
dianggap takbersalah sampai terbukti memang bersalah (until proven guilty)
sehingga posisi takbersalah ditempatkan sebagai hipotesis nol dan posisi bersalah
sebagai hipotesis alternatif. Tugas jaksalah atau penuntutlah untuk menunjukkan
bukti-bukti yang meyakinkan bahwa terdakwa bersalah. Dengan kata lain, beban
32
Bahwa ilmuwan menerima teori yang disangkal tidak berarti bahwa teori tersebut benar. Makna
menerima di sini harus diinterpretasi bahwa ilmuwan tidak dapat menolak teori tersebut karena tidak
dapat menunjukkan bukti yang meyakinkan untuk menyanggahnya. Jadi, masih ada kemungkinan
teori yang disanggahnya tersebut salah. Itulah sebabnya buku-buku statistika menganjurkan meng-
gunakan ungkapan tidak menolak H0 untuk menyimpulkan H0 bukan menerima H0.
88 Bab 2

pembuktian (burden of proof) ada di tangan penuntut. Bila penuntut tidak dapat
mengajukan bukti-bukti yang sangat meyakinkan, maka hakim atau juri harus
memutuskan bahwa terdakwa takbersalah dengan risiko kesalahan bahwa terdak-
wa sebenarnya memang bersalah (benar-benar melakukan kejahatan yang ditu-
duhkan). Kesalahan ini dapat dipadankan dengan kesalahan Tipa II. Dapat juga
terjadi risiko kesalahan bahwa terdakwa yang memang tidak bersalah dinyatakan
salah. Risiko ini merupakan kesalahan Tipa I. Hal yang perlu diingat adalah
bahwa, dengan bukti yang sama, mengecilkan risiko yang satu akan berakibat
memperbesar risiko yang lain. Masalah bagi pengadilan atau negara adalah mana-
kah risiko yang akan ditekan sekecil-kecilnya. Asas praduga takbersalah pada
umumnya diterapkan dengan harapan bahwa risiko kesalahan Tipa I adalah
sekecil-kecilnya atau bahkan mendekati nol.33

Aspek Manusia Dalam Penalaran


Stratagem dan salah nalar yang dibahas di atas belum mencakup semua stratagem
dan kecohan yang mungkin terjadi. Masih banyak cara atau proses yang mengaki-
batkan kecohan. Uraian di atas juga belum menyinggung aspek manusia dalam
penalaran. Namun, pembahasan di atas memberi gambaran bahwa penalaran
untuk meyakinkan kebenaran atau validitas suatu pernyataan bukan merupakan
proses yang sederhana.
Telah disinggung sebelumnya bahwa mengubah keyakinan melalui argumen
dapat merupakan proses yang kompleks karena pengubahan tersebut menyangkut
dua hal yang berkaitan yaitu manusia yang meyakini dan asersi yang menjadi
objek keyakinan. Manusia tidak selalu rasional dan bersedia berargumen sementa-
ra itu tidak semua asersi dapat ditentukan kebenarannya secara objektif dan tun-
tas. Hal ini tidak hanya terjadi dalam kehidupan umum sehari-hari tetapi juga
dalam dunia ilmiah dan akademik yang menuntut keobjektifan tinggi. Yang mem-
prihatikan dunia akademik adalah kalau para pakar pun lebih suka berstratagem
daripada berargumen secara ilmiah. Berikut ini dibahas beberapa aspek manusia
yang dapat menjadi penghalang (impediments) penalaran dan pengembangan
ilmu, khususnya dalam dunia akademik atau ilmiah.

Penjelasan Sederhana

Rasionalitas menuntut penjelasan yang sesuai dengan fakta. Kebutuhan akan


penjelasan terhadap apa yang mengusik pikiran merupakan fundasi berkembang-
nya ilmu pengetahuan. Namun, keingingan yang kuat untuk memperoleh penje-
lasan sering menjadikan orang puas dengan penjelasan sederhana yang pertama
33
Untuk melindungi hak sipil warga negara, pengadilan di Amerika menetapkan bahwa risiko
yang sekecil-kecilnya dinyatakan dalam ungkapan beyond reasonable doubt. Artinya, juri sangat dian-
jurkan untuk tidak membuat keputusan (verdict) bahwa terdakwa bersalah kalau terdapat keraguan
sedikit pun akan bukti-bukti yang diajukan penuntut. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah terja-
dinya orang yang tidak bersalah masuk penjara. Namun akibatnya, akan sering terjadi bahwa orang
yang bersalah dibebaskan (dinyatakan tak bersalah) dan berkeliaran di masyarakat.
Penalaran 89

ditawarkan sehingga dia tidak lagi berupaya untuk mengevaluasi secara saksama
kelayakan penjelasan dan membadingkannya dengan penjelasan alternatif.
Dengan kata lain, orang menjadi tidak kritis dalam menerima penjelasan. Akibat-
nya, argumen dan pencarian kebenaran akan terhenti sehingga pengembangan
ilmu pengetahuan akan terhambat.

Kepentingan Mengalahkan Nalar

Hambatan untuk bernalar sering muncul akibat orang mempunyai kepentingan


tertentu (vested interest) yang harus dipertahankan. Kepentingan sering memaksa
orang untuk memihak suatu posisi (keputusan) meskipun posisi tersebut sangat
lemah dari segi argumen.
Dalam dunia akademik dan ilmiah, kepentingan untuk menjaga harga diri
individual atau kelompok (walaupun semu) dapat menyebabkan orang (akademisi
atau ilmuwan) berbuat yang tidak masuk akal. Hal ini terjadi umumnya pada
mereka yang sudah mendapat julukan pakar atau ilmuwan yang kebetulan mem-
punyai kekuasaan politis (baik formal atau informal). Nickerson (1986) menggam-
barkan hal ini dengan mengatakan bahwa people with good reasoning ability may
find themselves behaving in an unreasonable way.34
Kebebasan akademik merupakan suatu ciri penting lingkungan akademik
yang kondusif untuk pengembangan pengetahuan dan profesi (khususnya akun-
tansi). Kebebasan akademik harus diartikan sebagai kebebasan untuk berbeda
pendapat secara akademik dalam suatu forum yang memungkinkan akademisi
berargumen secara terbuka. Sikap akademisi yang patut dihargai adalah keberse-
diaan untuk berargumen.
Sikap ilmiah menuntut akademisi (termasuk pengelola suatu institusi) untuk
berani membaca dan memahami gagasan alternatif dan, kalau gagasan tersebut
valid dan menuju ke perbaikan, bersedia membawa gagasan tersebut ke kelas
atau diskusi ilmiah dan bukan malahan mengisolasinya. Keberanian dan keberse-
diaan seperti itu merupakan suatu ciri sikap ilmiah dan akademik yang sangat ter-
puji (respected). Ini tidak berarti bahwa ilmuwan/akademisi harus selalu setuju
dengan suatu gagasan. Ketidaksetujuan dengan suatu gagasan itu sendiri (setelah
berani membaca) merupakan suatu sikap ilmiah asal dilandasi dengan argumen
yang bernalar dan valid. Ketidakberanian dan ketidakbersediaan itulah yang
merupakan sikap tidak ilmiah (akademik) dan justru hal ini sering terjadi dalam
dunia akademik tidak hanya pada masa sekarang tetapi juga masa lalu.
Sikap pakar dan akademisi yang tidak masuk akal tersebut, yang sering dise-
but sebagai sikap yang insulting the intelligence, dikemukakan Hirshleifer (1988,
hlm. 4) sebagai berikut:35

34
Pakar atau akademisi dapat dianggap mempunyai kemampuan penalaran yang baik karena
pengetahuan ilmiah atau akademiknya umumnya harus dipahami dengan proses penalaran yang baik
dan objektif.
90 Bab 2

All sciences advance through disagreement. In astronomy the geocentric


model of Ptolemy was opposed by the new heliocentric model of Copernicus; in
chemistry Priestley supported the phlogiston theory of combustion while Lavoisi-
er propounded the oxidation theory; and in biology the creationisme of earlier
naturalists was countered by Darwins theory of evolution. It is not universal
agreement but rather the willingness to consider evidence that signals the
scientific approach. For Galileos opponents to disagree with him about Jupi-
ters moons was not unscientific of itself; what was unscientific was
their refusal to look through his telescope and see.

Sikap kolega senior Galileo untuk tidak bersedia mempertimbangkan bukti


yang diajukan Galileo melalui teleskopnya sebenarnya merupakan sikap tidak
ilmiah. Apapun motifnya, sikap tersebut menjadi tidak masuk akal mengingat
kolega Galileo tersebut adalah para pakar dan ilmuwan (bahkan juga merupakan
pemuka masyarakat dan penguasa). Sikap kurang terpuji ini akan menjadikan
perbedaan pandangan (disagreement) tidak akan terbuka untuk didiskusi dan
kebenaran ilmiah tidak akan dicapai. Keadaan ini dapat membingungkan
masyarakat akademik dan menghambat pengembangan pengetahuan.
Lingkungan akademik seperti di atas biasanya berkembang akibat sikap aka-
demisi itu sendiri yang membentuk budaya akademik. Budaya akademik yang
dapat menghambat kemajuan pengetahuan adalah apa yang penulis sebut sebagai
sindroma tes klinis (kalau diinggriskan menjadi clinical test syndrom) dan men-
talitas Djoko Tingkir (Djoko Tingkir mentality).

Sindroma Tes Klinis

Sindroma ini menggambarkan seseorang yang merasa (bahkan yakin) bahwa ter-
dapat ketidakberesan dalam tubuhnya dan dia juga tahu benar apa yang terjadi
karena pengetahuannya tentang suatu penyakit. Akan tetapi, dia tidak berani
untuk memeriksakan diri dan menjalani tes klinis karena takut bahwa dugaan
tentang penyakitnya tersebut benar. Akhirnya orang ini tidak memeriksakan diri
ke dokter dan mengatakan pada orang lain bahwa dirinya sehat. Jadi, orang ini
takut mengetahui kebenaran gagasan sehingga menghindarinya secara semu.
Dalam dunia akademik, sindroma semacam ini dapat terjadi kalau seseorang
mempunyai pandangan yang menurut dirinya sebenarnya keliru atau tidak valid
lagi karena adanya pandangan atau gagasan baru. Gagasan baru dia peroleh kare-
na dia sering mendengar dari kolega atau mahasiswa. Orang lain memperoleh
gagasan baru tersebut dari artikel atau hasil penelitian ilmiah. Dalam kondisi

35
Jack Hirshleifer, Price Theory and Applications (Englewoods Cliffs, NJ: Prentice Hall, 1988),
hlm. 4. Penebalan oleh penulis. Konon pada suatu petang, para lawan (para kolega senior) Galileo
datang ke apartemen Galileo untuk mengejek dan mengancam Galileo agar tidak menyebarkan dan
mengajarkan teorinya. Pada saat para senior akan meninggalkan apartemen Galileo, mereka bertanya
tentang sikap Galileo. Galileo mengatakan bahwa dia tidak dapat mengatakan lain daripada apa yang
telah dipikir dan ditulisnya dan kemudian meminta kepada para seniornya untuk membuktikan
sendiri apa yang diteorikannya dengan melihat teleskop di apartemennya. Ternyata tidak seorang
kolega seniorpun bersedia melakukan hal itu.
Penalaran 91

seperti ini, akademisi sering tidak berani untuk membaca sumber gagasan karena
takut jangan-jangan pendapatnya yang telah telanjur disebarkan kepada maha-
siswa benar-benar keliru. Dapat juga, akademisi tersebut memang berani mem-
baca dan benar-benar dapat menerima argumen tetapi di muka umum (kelas) dia
bersikap seolah-olah tidak pernah tahu gagasan baru tersebut (bersikap tak pedu-
li) apalagi membahasnya di kelas dengan cukup dalam. Manifestasi lain dari sin-
droma ini adalah akademisi (dosen) mengisolasi gagasan baru agar mahasiswa
tidak pernah tahu semata-mata untuk menutupi kelemahan suatu gagasan lama
yang dianutnya.
Bila sindroma semacam ini banyak diindap oleh akademisi, dapat dipastikan
kemajuan pengetahuan dan profesi akan terhambat dan rugilah dunia pendidikan.

Mentalitas Djoko Tingkir

Bila kepentingan mengalahkan nalar sebagaimana digambarkan dalam kasus


Galileo di atas, maka pengembangan ilmu pengetahuan dapat terhambat dan pada
gilirannya praktik kehidupan yang lebih baik juga ikut terhambat. Sayangnya,
ilmuwan atau akademisi yang merasa ada di bawah kekuasaan kolega senior
sering memihak seniornya dan mengajarkan apa yang sebenarnya salah dengan
menyembunyikan apa yang sebenarnya valid semata-mata untuk menghormati
kolega senior (atau kelompoknya) atau untuk melindungi diri dari tekanan senior.
Akibatnya, timbul situasi yang di dalamnya argumen yang lemah harus dimenang-
kan dan dilestarikan semata-mata karena kekuasaan. Ini berarti kekuasaan lebih
unggul dari penalaran.
Budaya Djoko Tingkir digunakan untuk menggambarkan lingkungan aka-
demik atau profesi seperti ini karena konon perbuatan Djoko Tingkir yang tidak
terpuji harus dibuat menjadi terpuji dengan cara mengubah skenario yang sebe-
narnya terjadi semata-mata untuk menghormatinya karena dia bakal menjadi raja
(kekuasaan). Dalam dunia akademik, status pakar merupakan kekuasaan atau
autoritas akademik. Kepakaran merupakan kekuasaan karena orang dapat mem-
peroleh kekuasaan dan kedudukan (baik politik, struktural, atau institusional)
lantaran pengetahuan atau ilmunya. Namun, tidak semestinya kalau kekuasaan
tersebut lalu menentukan ilmu. Dunia akademik harus mengembangkan ilmu
atas dasar validitas argumen dan bukan atas dasar kekuasaan politik/jabatan.

Merasionalkan Daripada Menalar

Bila karena keberpihakan, kepentingan, atau ketakkritisan, orang telanjur meng-


ambil posisi dan ternyata posisi tersebut salah atau lemah, orang ada kalanya
berusaha untuk mencari-cari justifikasi untuk membenarkan posisinya. Dalam hal
ini, tujuan diskusi bukan lagi untuk mencari kebenaran atau validitas tetapi
untuk membela diri atau menutupi rasa malu. Bila hal ini terjadi, orang tersebut
sebenarnya tidak lagi menalar (to reason) tetapi merasionalkan (to rationalize).
Sikap merasionalkan posisi dapat terjadi karena keterbatasan pengetahuan
orang bersangkutan dalam topik yang dibahas tetapi orang tersebut tidak mau
92 Bab 2

mengakuinya. Agar argumen berjalan dengan baik, para penalar paling tidak
harus mempunyai pengetahuan yang cukup dalam topik yang dibahas. Kurangnya
pengetahuan (topical knowledge) dapat menjebak orang untuk lari ke stratagem
daripada argumen yang layak.
Sikap merasionalkan dalam diskusi dapat menimbulkan pertengkaran mulut,
perselisihan pendapat (dispute), atau debat kusir. Dalam situasi ini, pihak yang
terlibat dalam diskusi biasanya tidak lagi mengajukan argumen yang sehat untuk
mendukung posisi tetapi mengajukan argumen kusir (pedestrian argument) untuk
menyalahkan pihak lain dan memenangi perselisihan. Jadi, tujuan diskusi bukan
lagi mencari solusi tetapi mencari kemenangan (kadang-kadang menangnya sendi-
ri). Memenangi debat (selisih pendapat) dan meyakinkan suatu gagasan adalah
dua hal yang sangat berbeda. Untuk memenangi selisih pendapat, faktor emosio-
nal lebih banyak berperan daripada faktor rasional atau penalaran. Pakarpun
kadang-kadang lebih suka berdebat daripada berargumen. Hal ini dikemukakan
Nickerson (1986, hlm. 97) sebagai berikut:36

Disputes often arise when each of the two people builds a case favoring the oppo-
site conclusion and tries to convince the other person that he or she is wrong.
Disputes can be very frustrating. Even highly intelligent people sometimes
act childishly when engaged in them.
... winning a dispute and persuading someone to believe something are
not necessarily the same things. Indeed, winning a dispute may be the least like-
ly way of winning an opponent over your point of view. Disputes are rarely
resolved by reason, because the disputing parties typically are not seeking resolu-
tion; rather each is seeking to win.

Persistensi

Karena kepentingan tertentu harus dipertahankan atau karena telah lama mele-
kat dalam rerangka pikir, seseorang kadang-kadang sulit melepaskan suatu keya-
kinan dan menggantinya dengan yang baru. Dengan kata lain, orang sering
berteguh atau persisten terhadap keyakinannya meskipun terdapat argumen yang
kuat bahwa keyakinan tersebut sebenarnya salah sehingga dia seharusnya
melepaskan keyakinan tersebut.
Sampai tingkat tertentu persistensi merupakan sikap yang penting agar
orang tidak dengan mudahnya pindah dari keyakinan atau paradigma yang satu
ke yang lain. Paradigma adalah satu atau beberapa capaian ilmu pengetahuan
pada masa lalu (past scientific achievements) yang diakui oleh masyarakat ilmiah
pada masa tertentu sebagai basis atau tradisi untuk mengembangkan ilmu penge-
tahuan dan praktik selanjutnya. Capaian (achievements) dalam ilmu pengetahuan
(sciences) dapat berupa filosofi, postulat, konsep, teori, prosedur ilmiah, atau
pendekatan ilmiah. Untuk menjadi paradigma, suatu capaian harus mempunyai
penganut yang cukup teguh dan capaian tersebut bersaing dengan capaian atau
kegiatan ilmiah lain yang juga mempunyai sekelompok penganut. Paradigma
36
Penebalan oleh penulis.
Penalaran 93

harus terbuka untuk diperbaiki atau diganti oleh capaian pesaing atau baru
sehingga dimungkinkan terjadi pergeseran atau pergantian paradigma dari masa
ke masa (conversion of paradigm). Konversi dapat terjadi pada diri ilmuwan secara
individual pada masa hidupnya atau pada generasi ilmuwan ke generasi ilmuwan
berikutnya. Riwayat terjadinya konversi paradigma antargenerasi disebut oleh
Thomas Kuhn sebagai revolusi ilmiah (scientific revolution).37
Dalam dunia ilmiah, persistensi untuk tidak melepaskan suatu keyakinan
dapat dimaklumi kalau tujuannya adalah untuk memperoleh argumen atau bukti
yang kuat untuk menunjukkan bahwa keyakinan yang dianut memang salah.
Tidak selayaknyalah suatu keyakinan atau paradigma dipertahankan kalau
memang terdapat bukti yang sangat meyakinkan bahwa tia salah. Namun, manu-
sia tidak selalu dapat bersikap objektif dan tidak memihak (impartial). Karena
kepentingan tertentu yang perlu dipertahankan, ilmuwan atau pakar pun sering
bersikap demikian sehingga konversi keyakinan sulit terjadi. Thomas Kuhn (1970)
menunjukkan contoh sebagai berikut:

Priestley never accepted the oxygen theory, nor Lord Kelvin the electromagnetic
theory, and so on. The difficulties of conversion have often been noted by scien-
tists themselves. Darwin, in a particulary perceptive passage at the end of his
Origin of Species, wrote: Although I am fully convinced of the truth of the views
given in this volume..., I by no means expect to convince experienced naturalists
whose mind are stocked with a multitude of facts all viewed, during a long
course of years, from a point of view directly opposite to mine. ... [B]ut I look with
confidence to the future, to young and rising naturalists, who will be able to
view both sides of the question with impartiality. And Max Planck, ..., sadly
remarked that a new scientific truth does not triumph by convincing its oppo-
nents and making them see the light, but rather because its opponents eventually
die, and a new generation grows up that is familiar with it (hlm. 151).

Memang menyedihkan apa yang dikatakan Planck bahwa gagasan baru yang
benar (a new scientific truth) mengungguli atau menang atas gagasan yang keliru
bukan lantaran pemegang gagasan lama sadar dan melihat sinar kebenaran
melainkan lantaran generasi baru telah menggantinya. Mengapa hal ini terjadi?
Kuhn menjelaskan hal ini dengan menyatakan (penebalan oleh penulis):

... scientists, being only human, cannot always admit their errors, even when
confronted with strict proof. I would argue, rather, that in these matters neither
proof nor error is at issue. The transfer of allegience from paradigm to paradigm
is a conversion experience that cannot be forced (hlm. 151).

Sebagai manusia, ilmuwan atau pakar tidak selalu dapat mengakui kesalah-
annya meskipun dihadapkan pada bukti yang sangat telak (strict proof). Lagi pula,

37
Lihat pembahasan selanjutnya dalam Thomas S. Kuhn, The Structure of Scientific Revolutions
(Chicago: The University of Chicago Press, 1970). Thomas Kuhn menyebut tradisi kegiatan ilmuwan
yang mendasarkan diri pada capaian-capaian ilmiah pada masanya disebut ilmu normal (normal sci-
ences). Ilmu ini biasanya terefleksi dalam buku-buku teks pada masa dianutnya paradigma.
94 Bab 2

konversi paradigma (atau keyakinan) bukanlah hal yang dapat dipaksakan sehing-
ga resistensi adalah takterhindarkan dan sah-sah saja (legitimate).
Berkaitan dengan persistensi adalah gejala psikologis atau perilaku manusia
untuk terpaku pada makna suatu simbol atau objek dan kemudian menjadikan
orang tidak mampu melihat makna alternatif atau objek alternatif. Orang secara
intuitif melekatkan makna pada suatu objek melalui pengalamannya dan sering
tidak menyadari bahwa makna tersebut bersifat kontekstual di masa lalu dan
tidak lagi relevan dengan situasi yang baru. Perilaku semacam ini dikenal dengan
istilah keterpakuan atau fiksasi fungsional (functional fixation). Dalam akuntansi,
keterpakuan ini digunakan untuk menjelaskan mengapa investor tidak mampu
untuk mengubah keputusannya sebagai tanggapan atas perubahan proses akun-
tansi dalam menyediakan data laba. Orang hanya melihat angka laba (bottom line)
dalam statemen laba-rugi tanpa memperhatikan bagaimana laba tersebut ditentu-
kan atau terpengaruh oleh perubahan metoda (proses) akuntansi. Keterpakuan
fungsional juga merupakan penghambat terjadinya argumen yang sehat.38 Orang
yang sudah terpaku dengan istilah harga pokok penjualan akan sangat sulit
untuk dapat menerima istilah kos barang terjual yang sebenarnya lebih tepat
menggambarkan makna istilah aslinya yaitu cost of goods sold.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa aspek manusia sangat berperan
dalam argumen yang bertujuan mencari kebenaran. Rasionalitas merupakan
unsur penting dalam argumen. Walaupun demikian, faktor-faktor psikologis dan
emosional, kekuasaan, dan kepentingan pribadi atau kelompok juga berperan dan
dapat menghalangi terjadinya argumen yang sehat.

Rangkuman
Praktik yang sehat harus dilandasi oleh teori yang sehat pula. Teori yang sehat
harus dilandasi oleh penalaran yang sehat karena teori akuntansi menuntut
kemampuan penalaran yang memadai. Penalaran merupakan proses berpikir logis
dan sistematis untuk membentuk dan mengevaluasi suatu keyakinan akan asersi.
Unsur-unsur penalaran adalah asersi, keyakinan, dan argumen. Interaksi
antara ketiganya merupakan bukti rasional untuk mengevaluasi kebenaran suatu
pernyataan teori. Asersi merupakan pernyataan bahwa sesuatu adalah benar atau
penegasan tentang suatu realitas. Keyakinan merupakan kebersediaan untuk
menerima kebenaran suatu pernyataan. Argumen adalah proses penurunan sim-
pulan atau konklusi atas dasar beberapa asersi yang berkaitan secara logis.
Asersi dapat dinyatakan secara verbal atau struktural. Asumsi, hipotesis, dan
pernyataan fakta merupakan jenis tingkatan asersi. Jenis tingkatan konklusi
tidak dapat melebihi jenis tingkatan asersi yang terendah.
Keyakinan merupakan hal yang dituju oleh penalaran. Keyakinan mengan-
dung beberapa sifat penting yaitu: keadabenaran, bukan pendapat, bertingkat,
mengandung bias, memuat nilai, berkekuatan, veridikal, dan tertempa.

38
Lihat pembahasan lebih mendalam dalam Belkaoui, op. cit., hlm.117-118.
Penalaran 95

Argumen bertujuan untuk mengubah keyakinan kalau memang keyakinan


tersebut lentuk untuk berubah. Argumen terdiri atas beberapa asersi yang ber-
fungsi sebagai premis dan konklusi. Argumen dapat bersifat deduktif dan non-
deduktif (induktif dan analogi).
Argumen deduktif berawal dari pernyataan umum dan berakhir dengan suatu
pernyataan khusus berupa konklusi. Penalaran ini terdiri atas tiga tahap yaitu:
penentuan premis, proses deduksi, dan penarikan konklusi. Kelengkapan, keje-
lasan, kesahihan, dan keterpercayaan merupakan kriteria validitas konklusi yang
diturunkan atas dasar penalaran deduktif.
Argumen induktif berawal dari suatu keadaan khusus dan berakhir dengan
pernyataan umum berupa konklusi sebagai hasil generalisasi. Berbeda dengan
penalaran deduktif yang kebenaran konklusinya merupakan konsekuensi logis
(pasti benar atau takbenar), penalaran induktif menghasilkan konklusi yang boleh
jadi benar atau takbenar. Bila premis benar, konklusi penalaran deduktif harus
(necessarily) benar sedangkan konklusi penalaran induktif tidak harus (not neces-
sarily) benar atau boleh jadi benar.
Di samping argumen deduktif dan induktif, dikenal pula argumen dengan
analogi dan argumen penyebaban. Kemiripan merupakan basis untuk menurun-
kan simpulan dengan analogi. Analogi bukan merupakan pembuktian tetapi lebih
merupakan alat untuk menjelaskan atau klarifikasi. Argumen penyebaban bertu-
juan untuk meyakinkan bahwa suatu gejala timbul karena gejala yang lain atau
perubahan suatu variabel diakibatkan oleh perubahaan variabel tertentu. Keya-
kinan tentang adanya penyebaban dapat dicapai kalau tiga kriteria penyebaban
dipenuhi yaitu: adanya kovariasi, adanya urutan kejadian, dan tiadanya faktor
lain selain faktor sebab yang diamati.
Karena tujuan argumen adalah untuk mengevaluasi dan mengubah keyakin-
an, ada kalanya argumen yang jelek dapat meyakinkan banyak orang. Orang
sering terkecoh oleh atau mengecoh dengan argumen. Kecohan atau salah nalar
adalah argumen yang dapat membujuk meskipun penalarannya mengandung
cacat. Kecohan dapat terjadi akibat stratagem atau akibat salah logika.
Stratagem adalah cara-cara untuk meyakinkan orang akan suatu pernyataan,
konklusi, atau posisi selain dengan mengajukan argumen yang valid. Cara-cara ini
dapat berupa persuasi taklangsung, membidik orangnya, menyampingkan
masalah pokok, misrepresentasi, imbuan cacah, imbauan autoritas, imbauan tra-
disi, dilema semu, dan imbuan emosi. Pada umumnya stratagem digunakan
dengan niat semata-mata untuk memenangkan posisi dan bukan untuk mencari
solusi yang terbaik. Argumen yang valid tidak selalu dapat membujuk sehingga
stratagem sering digunakan tanpa melibatkan salah nalar.
Salah nalar adalah kesalahan konklusi akibat tidak diterapkannya kaidah-
kaidah penalaran yang valid. Beberapa bentuk salah nalar adalah menegaskan
konsekuen, menyangkal anteseden, pentaksaan, perampatan-lebih, parsialitas,
pembuktian analogis, perancuan urutan kejadian dengan penyebaban, dan peng-
ambilan konklusi pasangan.
Aspek manusia sangat berperan dalam argumen khususnya apabila suatu
kepentingan pribadi atau kelompok terlibat dalam suatu perdebatan. Orang cen-
96 Bab 2

derung bersedia menerima penjelasan sederhana atau penjelasan yang pertama


kali didengar. Sebagai manusia, orang tidak selalu dapat mengakui kesalahan.
Sindroma tes klinis dan mentalitas Djoko Tingkir dapat menghalangi terjadinya
argumen yang sehat. Bila keputusan telanjur diambil padahal keputusan tersebut
mengandung kesalahan, orang cenderung melakukan rasionalisasi bukan lagi
argumen untuk mendukung keputusan. Karena tradisi atau kepentingan, orang
sering bersikap persisten terhadap keyakinan yang terbukti salah.
Sampai tingkat tertentu persistensi mempunyai justifikasi yang dapat diper-
tanggungjelaskan. Namun, bila sikap persisten menghalangi atau menutup diri
untuk mempertimbangkan argumen-argumen baru yang kuat dan lebih mengarah
untuk meninggalkan keyakinan atau paradigma yang tidak valid lagi, sikap persis-
ten menjadi tidak layak lagi. Lebih-lebih, bila sikap tersebut dilandasi oleh motif
untuk melindungi kepentingan tertentu (vested interest). Persistensi semacam ini
akan menjadi resistensi terhadap perubahan yang pada gilirannya akan meng-
hambat pengembangan pengetahuan.

Diskusi
1. Jelaskan pengertian penalaran serta sebutkan unsur-unsur penalaran.
2. Berilah beberapa contoh asersi.
3. Jelaskan pengertian argumen dan apa bedanya dengan perselisihan pendapat (dispute).
4. Apa yang dimaksud bahwa penalaran merupakan suatu bentuk bukti? Berilah suatu
contoh situasi yang menunjukkan bahwa penalaran merupakan suatu bukti.
5. Apakah suatu pernyataan atau asersi selalu benar apabila didukung oleh argumen
yang kuat? Berilah suatu contoh.
6. Dapatkah seseorang memegang keyakinan yang kuat terhadap suatu asersi yang salah
atau sebaliknya menyangkal suatu asersi yang benar? Berilah contoh.
7. Interpretasilah berbagai makna asersi yang berbunyi Manajer perusahaan swasta
lebih profesional daripada manajer perusahaan negara (BUMN).
8. Berilah beberapa contoh cara menyatakan asersi dalam strukturnya bukan maknanya.
9. Bedakan antara asersi universal dan asersi spesifik serta berilah beberapa contoh
untuk masing-masing sifat asersi.
10. Berilah contoh-contoh asersi yang menunjukkan hubungan inklusi, eksklusi, dan
saling-isi dan gambarkan dengan diagram asersi-asersi tersebut.
11. Gambarkan dengan diagram asersi Beberapa burung adalah karnivor.
12. Bedakan makna nir dan non sebagai proleksem serta berilah beberapa contoh peng-
gunaan kedua proleksem tersebut secara benar dalam istilah akuntansi.
13. Dapatkah rumah sakit dikatakan sebagai organisasi nirlaba?
14. Jelaskan apakah makna asersi-asersi berikut sama atau berbeda antara satu dan lain-
nya. Bila perlu gambarkan secara diagramatik asersi tersebut.

(1) Semua mahasiswa adalah anggota Koperasi Serba Usaha.


(2) Semua anggota Koperasi Serba Usaha adalah mahasiswa.
(3) Tidak satu pun mahasiswa adalah anggota Koperasi Serba Usaha.
(4) Tidak satu pun anggota Koperasi Serba Usaha adalah mahasiswa.
(5) Beberapa mahasiswa adalah anggota Koperasi Serba Usaha.
(6) Tidak semua mahasiswa adalah anggota Koperasi Serba Usaha.
Penalaran 97

15. Berilah suatu contoh situasi untuk menunjukkkan bahwa pernyataan Beberapa A
adalah B berbeda dengan Tidak semua A adalah B.
16. Sebut dan jelaskan jenis tingkatan asersi dan berilah contoh untuk masing-masing.
17. Jelaskan pengertian keyakinan (belief) terhadap suatu asersi.
18. Sebut dan jelaskan sifat-sifat keyakinan. Mengapa mengubah suatu keyakinan melalui
argumen merupakan suatu proses yang tidak mudah dan kompleks?
19. Apakah perbedaan karakteristik antara keyakinan dan opini?
20. Jelaskan apakah pernyataan berikut merupakan keyakinan atau pendapat:

(1) Sepakbola lebih mengasyikkan daripada badminton.


(2) Sungai Nil adalah sungai terpanjang di dunia.
(3) Pisang lebih banyak mengandung potasium daripada pepaya.
(4) Merokok dapat menyebabkan kanker.
(5) Susu lebih banyak mengandung nutrisi daripada kopi.
(6) Teori akuntansi adalah pelajaran yang sangat sulit dan membosankan.
(7) Es krim rasa coklat lebih enak daripada rasa vanila.
(8) Informasi aliran kas bermanfaat bagi investor.
(9) Kolesterol adalah penyebab utama gangguan jantung.
(10) Istilah estat real lebih tepat daripada real estat.
(11) Menjadi auditor lebih memberi tantangan daripada menjadi pengacara.
(12) Ada makluk hidup di Planet Mars.

21. Sebutkan komponen-komponen pembentuk argumen dan berilah beberapa contoh


argumen dalam akuntansi.
22. Apakah yang dimaksud dengan prinsip interpretasi terdukung (principle of charitable
interpretation) dalam suatu argumen dan berilah beberapa contoh.
23. Jelaskan secara umum pengertian argumen deduktif dan induktif serta berilah contoh
untuk tiap jenis argumen tersebut.
24. Apakah syarat-syarat (kriteria) validitas suatu argumen deduktif?
25. Apakah perbedaan antara kebenaran/validitas logis dan kebenaran/validitas empiris?
Berilah suatu contoh untuk menjelaskan perbedaan atara kedua konsep tersebut.
26. Dalam argumen deduktif, apakah premis yang benar dapat menghasilkan konklusi
yang salah?
27. Jelaskan pengertian argumen logis (logical argument) dan argumen ada benarnya
(plausible argument) sebagai pembeda argumen deduktif dan induktif.
28. Berilah beberapa contoh pernyataan dalam akuntansi yang dapat dikatakan sebagai
hasil penalaran induktif.
29. Gambarkan secara diagramatik suatu proses penalaran induktif dalam akuntansi.
30. Berilah suatu contoh argumen dengan analogi dalam akuntansi.
31. Apakah kelemahan argumen dengan analogi (argument by analogy)?
32. Jelaskan kaidah Mill untuk mengidentifikasi adanya kausalitas antara dua faktor.
33. Sebutkan syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk meyakinkan bahwa faktor X benar-
benar merupakan penyebab faktor Y. Mengapa syarat-syarat tersebut harus dipenuhi?
34. Jelaskan pengertian kecohan (fallacy) dalam berargumen. Mengapa argumen yang
tidak valid (cacat) kadang-kadang dapat meyakinkan dan dianut orang banyak?
35. Jelaskan perbedaan dan persamaan antara stratagem (stratagem) dan salah nalar (rea-
soning fallacy).
36. Sebut dan jelaskan serta berilah contoh berbagai jenis stratagem (sedapat-dapatnya
dalam bidang akuntansi).
98 Bab 2

37. Sebut dan jelaskan serta berilah contoh berbagai jenis salah nalar (sedapat-dapatnya
dalam bidang akuntansi).
38. Evaluasilah penyimpulan deduktif berikut ini:

Premis major: Semua burung mempunyai bulu.


Premis minor: Kucing mempunyai bulu.

Konklusi: Kucing adalah burung.

39. Aspek-aspek apa saja yang harus anda perhatikan agar anda tidak terjebak dalam
stratagem?
40. Bagaimana pendapat anda tentang prisip penilaian plausibilitas asersi yang berbunyi:
Serahkan saja pada ahlinya. Apa kelemahan prinsip ini?
41. Seseorang yang cukup terpandang di bidang profesi dan penyusunan standar akuntansi
membuat pernyataan dalam suatu seminar nasional di bawah ini. Evaluasilah apakah
pernyataan tersebut merupakan stratagem atau salah nalar?

Kita tidak perlu macam-macam tentang istilah beban. Istilah beban untuk expense adalah
benar karena nyatanya semua kantor akuntan publik menggunakan istilah tersebut.

42. Evaluasilah kecohan (fallacy) yang terkandung dalam pernyataan-pernyatan berikut:

Karena saya berada di Amerika, daging ayam yang disembelih tanpa mengikuti rukun
agama adalah halal.
Dia pasti kaya karena dia seorang pejabat.
Dia pasti rajin belajar Akuntansi Pengantar karena dia mendapat nilai A untuk mata kuliah
tersebut.
Dalam pembentukan istilah tidak perlu kita memperhatikan kaidah bahasa karena dalam
komunikasi yang penting adalah orang tahu maksudnya.
Sekarang ini adalah jaman globalisasi. Oleh karena itu, kita harus mampu berbahasa Ing-
gris. Tanpa kemampuan berbahasa Inggris kita tidak akan mampu mengglobal.
Walaupun dia telah terbukti sebagai koruptor, dia tetap dapat menjadi presiden karena
tidak ada seorangpun yang sempurna.

43. Jelaskan pengertian beberapa konsep berikut ini dan bila perlu berilah contoh situasi
nyata untuk lebih menjelaskan konsep tersebut.

put-downs appeal to pity leading question


red herring appeal to force building the case
deceptive use of truth modus tollens stereotyping
sleight of hand modus ponens error of inference
dilution by generalization affirming the consequent pedistrian arguments
appeal to inappropriate denying the antecedent functional fixation
authority principle of falsifiability clinical test syndrom
inappropriate dechotomizing false dilemma

44. Sebut dan jelaskan berbagai aspek manusia yang dapat menjadi penghalang terjadinya
argumen yang sehat.!
Penalaran 99

Bahan ini diambil dari buku:

Teori Akuntansi
Perekayasaan Pelaporan Keuangan

Suwardjono
Fakultas Ekonomika dan Busines
Universitas Gadjah Mada

Penerbit:

BPFE
Yogyakarta

2005

Walaupun buku Teori Akuntansi ditujukan untuk bidang akuntansi,


Bab 2 membahas topik yang cukup umum dan relevan untuk bidang
ilmu yang lain. Bahan ini khusus disediakan oleh penulis untuk bahan
diskusi terbatas dalam mata kuliah Filsafat Ilmu program pascasarja-
na. Bahan ini digunakan pula sebagai pengganti bahan Logika Formal
(Formal Logics) yang mendasari mata kuliah, kursus, atau pelatihan
Negosiasi atau Pelobian. Penggandaan/penggunaan untuk keperluan
di luar pendidikan harus mendapat persetujuan dari penulis/penerbit.
100 Bab 2

Daftar Isi

Pengertian 41 Kecohan (Fallacy) 71


Unsur dan Struktur Penalaran 42 Strategem 72
Asersi 44 Persuasi Taklangsung 73
Interpretasi Asersi 48 Membidik Orangnya 73
Asersi untuk Evaluasi Istilah 49 Menyampingkan Masalah 74
Jenis Asersi (Pernyataan) 51 Misrepresentasi 75
Fungsi Asersi 52 Imbauan Cacah 75
Keyakinan 52 Imbauan Autoritas 76
Properitas Keyakinan 52 Imbauan Tradisi 77
Keadabenaran 53 Dilema Semu 78
Bukan Pendapat 53 Imbauan Emosi 79
Bertingkat 53 Salah Nalar (Reasoning Fallacy) 80
Berbias 54 Menegaskan Konsekuen 81
Bermuatan nilai 54 Menyangkal Anteseden 82
Berkekuatan 54 Pentaksaan (Equivocation) 82
Veridikal 54 Perampatan-lebih (Overgeneral-
Berketertempaan 55 ization) 83
Argumen 55 Parsialitas (Partiality) 84
Anatomi Argumen 56 Pembuktian dengan Analogi 84
Jenis Argumen 58 Merancukan Urutan Kejadian
Argumen Deduktif 59 dengan Penyebaban 85
Evaluasi Penalaran Deduktif 60 Menarik Simpulan Pasangan 86
Argumen Induktif 64 Aspek Manusia dalam Penalaran 88
Argumen dengan Analogi 65 Penjelasan Sederhana 88
Argumen Sebab-akibat 66 Kepentingan Mengalahkan
Kriteria Penyebaban 67 Nalar 89
Penalaran Induktif dalam Sindroma Tes Klinis 90
Akuntansi 69 Mentalitas Djoko Tingkir 91
Merasionalkan Daripada
Menalar 91
Persistensi 92
Rangkuman 94
Diskusi 96

Kontak: suwardjono@ugm.ac.id
Penalaran 101

Penalaran
dan
Sikap Ilmiah

Suwardjono
Fakultas Ekonomika dan Busines
Universitas Gadjah Mada
Yogyakarta