Anda di halaman 1dari 12

1

JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (2013) 1-12

DESAIN JEMBATAN BARU PENGGANTI


JEMBATAN KUTAI KARTANEGARA
DENGAN SISTEM BUSUR
Hilmy Gugo Septiawan, Ir. Djoko Irawan, MS.
Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111
djoko.irawan@gmail.com

I. PENDAHULUAN
Abstrak - Jembatan Kutai Kartanegara 1.1 Latar Belakang
(Kukar) adalah jembatan yang melintas di atas
sungai Mahakam dan merupakan jembatan gantung Jembatan Kutai Kartanegara (Kukar)
dengan total panjang bentang utama 470 meter adalah jembatan yang melintas di atas sungai
dengan lebar 9 meter. Kondisi eksisting jembatan Mahakam dan merupakan jembatan gantung dengan
adalah jembatan tipe gantung, kondisi ini jelas total panjang bentang utama 470 meter. Penggunaan
membutuhkan pemeliharaan yang berkala untuk tipe jembatan gantung pada kondisi eksisting jelas
mencegah terjadinya gejala korosi utamanya pada membutuhkan pemeliharaan yang berkala untuk
kabel suspensi. Sebagai alternatif lain untuk mencegah terjadinya gejala korosi utamanya pada
mengganti Jembatan Kutai Kartanegara yang roboh kabel suspensi. Pemeliharaan jembatan tipe gantung
dapat dipilih dengan menggunakan jembatan sistem ini cukup rumit dan membutuhkan biaya yang
busur. Karena dengan mempertimbangkan faktor mahal, diduga runtuhnya jembatan Kukar salah
psikologis masyarakat setempat dan juga untuk satunya disebabkan karena kurangnya perawatan.
tingkat perawatan tidak serumit jembatan gantung. Untuk konstruksi jembatan gantung yang penyangga
Pemberian bentuk busur pada jembatan tipe ini utamanya berupa kabel suspensi dan kabel hanger
dimaksudkan untuk mengurangi momen lentur pada harus memperhatikan sambungan diantara
jembatan sehingga penggunaan bahan menjadi keduanya, karena akan berakibat fatal jika
lebih efisien. sambungan tersebut over stress atau kelebihan beban
Dasar dasar perencanaan jembatan yang berakibat putusnya kabel.
mengacu pada peraturan BMS 1992 dan R-SNI T Sebagai alternatif lain untuk mengganti
2005, sedangkan perencanaan struktur Jembatan Kutai Kartanegara yang roboh dapat
menggunakan peraturan AISC LRFD. Pada tahap dipilih dengan menggunakan jembatan sistem busur.
awal adalah perhitungan lantai kendaraan dan Karena dengan mempertimbangkan faktor
trotoar. Kemudian dilakukan perencanaan dimensi psikologis masyarakat setempat dan juga untuk
gelagar memanjang dan melintang, serta tingkat perawatan tidak serumit jembatan gantung.
perhitungan shear connector. Analisa konstruksi Pemberian bentuk busur pada jembatan tipe ini
pemikul utama dan konstruksi sekunder dilakukan dimaksudkan untuk mengurangi momen lentur pada
dengan menggunakan program SAP 2000. Setelah jembatan sehingga penggunaan bahan menjadi lebih
didapatkan gaya-gaya dalam yang bekerja efisien. Selain itu jembatan busur memiliki nilai
dilakukan perhitungan kontrol tegangan dan lebih dalam bentuk arsitekturalnya dan memberikan
perhitungan sambungan. Kemudian memasuki tahap kesan monumental sehingga dapat dijadikan ikon
akhir dari perencanaan struktur atas dilakukan kota Tengarong maupun Samarinda.
perhitungan dimensi perletakan dan dilanjutkan
dengan staging analysis (analisa pelaksanaan) pada 1.2 Rumusan Masalah
struktur atas. Dari hasil perencanaan didapatkan 1. Bagaimana merencanakan jembatan busur rangka
profil dan dimensi yang dipakai pada jembatan. baja yang baik serta memenuhi persyaratan yang
ditentukan?
Kata kunci : Jembatan busur rangka baja 2. Dengan merencanakan jembatan busur rangka
baja perlu adanya desain yang baik. Hal itu
meliputi :
- Bagaimana prosedur dan perencanaan
jembatan busur rangka baja?
2
JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (2013) 1-12

- Bagaimana analisa struktur bangunan atas tekan sehingga menjadi keuntungan sendiri bagi
pada tahap pelaksanaan (staging analysis)? jembatan tersebut. Dengan kelebihan utama dari
jembatan busur yaitu adanya gaya tekan yang
1.3 Batasan Masalah mendominasi gaya pada jembatan busur dan dengan
Perencanaan Jembatan Kutai Kartanegara adanya teknologi beton, baja, maupun komposit
meliputi : yang semakin maju, pada penggunaan material
1. Perencanaan dimensi dan analisa struktur busur tersebut dapat mengurangi bobot jembatan dan
rangka batang dengan mempertimbangkan meningkatkan panjang lantai jembatan. (Chen, Wai-
tahapan pelaksanaan. Fah, Duan, Lian. Bridge Engineering Handbook.
2. Perencanaan dimensi bangunan pelengkap London. 2000)
jembatan. Selain harus memiliki kekuatan yang cukup,
3. Perencanaan tidak membahas tentang rangka batang juga harus memiliki tinggi lengkung
perhitungan anggaran biaya, metode busur yang cukup dan ideal. Sehingga kekuatan
pelaksanaan secara detail dan perencanaan busur dapat optimum. Tinggi lengkung busur
bangunan bawah jembatan. tergantung pada panjang bentang jembatan. Contoh
Tidak memperhitungkan aspek hidrologi, aspek lalu beberapa jembatan yang ada di dunia yang
menggunakan sistem busur antara lain :
lintas dan aspek geometri jembatan.
The Modern Britannia Bridge, di Anglesey,
North Wales. Jembatan ini memiliki panjang
II. TINJAUAN PUSTAKA bentang busur 461 meter dengan tinggi
2.1 Umum lengkung busur 40 meter. Sehingga
Pada kondisi eksisting jembatan Kutai perbandingan tinggi busur dengan panjang
Kartanegera didesain dengan menggunakan metode bentang adalah 1 : 11,5. Jembatan ini
jembatan gantung (suspension bridge). Karena merupakan jembatan busur rangka baja.
terdapat beberapa kelemahan pada kondisi eksisting Wanxian Yangtze Bridge, di China. Jembatan
jembatan maka dalam tugas akhir ini jembatan Kutai ini memiliki panjang bentang 425 meter dengan
Kartanegara didesain ulang dengan menggunakan tinggi lengkung busur 85 meter. Sehingga
busur rangka baja dengan lantai kendaraan di tengah perbandingan tinggi busur dengan panjang
(a half- through arch). bentang adalah 1 : 5. Jembatan ini merupakan
Pertimbangan dalam pemilihan bentuk dan jembatan beton rangka busur dan merupakan
jenis konstruksi busur sangat dipengaruhi oleh yang terpanjang.
kondisi tanah dasar, besarnya beban, panjang Dari beberapa contoh di atas, dapat diambil
bentang maupun segi estetikanya. Jembatan Kutai kesimpulan bahwa perbandingan tinggi muka
Kartanegara merupakan suatu bangunan struktur tampang busur dengan panjang bentang jembatan
yang menjadi sarana dalam akses transportasi untuk adalah berkisar 1 : 11,5 s/d 1 : 4,6. Untuk tinggi
menghubungkan kota Samarinda dengan Tengarong. tampang busur jembatan rangka batang adalah
Jembatan ini mempunyai panjang bentang total 470 1 1
sekitar hingga . Lebar jembatan rangka batang
m, dengan karakter seperti itu maka sistem pemikul 40 25
agar busur kaku, maka harus direncanakan memiliki
struktur utamanya dipilih menggunakan busur
perbandingan lebar dan panjang lebih kurang sama
rangka dengan menggunakan bahan baja.
dengan 1 : 20.
2.2 Bagian-bagian Jembatan Rangka Busur
2.3 Analisis Sistem Rangka Baja Pada
2.2.1 Deck Girder
Deck girder atau lantai jembatan termasuk Struktur Jembatan Busur Rangka Baja
Rangka batang adalah susunan elemen-
ke dalam struktur bangunan atas (Upper-Structure).
elemen yang membentuk segitiga atau kombinasi
Bagian ini berfungsi langsung untuk memikul beban
segitiga, sehingga menjadi bentuk rangka yang tidak
lalu-lintas dan melindungi terhadap keausan. Dan
berubah bentuknya ketika diberi gaya-gaya dari luar.
biasanya untuk jembatan lengkung baja konstruksi
Prinsip utama yang mendasari penggunaan
deck menggunakan pelat dari beton bertulang atau
rangka batang sebagai pemikul beban utama adalah
pelat baja orthotropic.
penyusunan elemen menjadi konfigurasi segitiga
2.2.2 Batang Lengkung
yang menghasilkan bentuk stabil. Pada struktur yang
Merupakan bagian dari struktur yang
stabil deformasi yang terjadi relatif kecil, dan lentur
penting sekali karena seluruh beban di sepanjang
tidak akan terjadi selama gaya-gaya luar berada pada
beban jembatan dipikul olehnya. Dan bagian
titik simpul. (Dien Aristadi, 2006)
struktur ini mengubah gaya-gaya yang bekerja dari
beban vertikal dirubah menjadi gaya horizontal/
3
JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (2013) 1-12

III. METODOLOGI 4.4.2 Tulangan Kerb


start Data perencanaan kerb : h = 200 mm. Dipasang
Pengumpulan data dan literatur :
tulangan 12-100 (As pasang = 1.130,97 mm2).
1.Data umum jembatan, data
eksisting, data tanah.
2.Buku-buku yang berkaitan.
Tulangan pembagi dipasang tulangan susut dengan
8-100 (As pasang = 502,65 mm2).
3.Peraturan-peraturan yang
berkaitan.

Mendesain lay out awal jembatan

Merencanakan dimensi awal jembatan


1. Menentukan tinggi penampang
2. Menentukan lebar jembatan

Menentukan pembebanan jembatan :


1. Beban mati
2. Beban hidup
3. Beban angin
4. Beban gempa

Analisa struktur
1. Analisa tegangan terhadap beban-beban
2. Perhitungan gaya-gaya yang bekerja
3. Pemodelan struktur dengan program
SAP 2000

Kontrol kestabilan struktur :


1. Kontrol tekuk
2. Kontrol geser
3. Kontrol lendutan

Apakah profil memenuhi kontrol


tekuk, geser dan lendutan? Not OK

Gambar 3. Tulangan kerb


OK

Staging analysis
4.4.3 Perhitungan Kolom Sandaran
Direncanakan kolom sandaran dengan dimensi
Penggambaran hasil
perencanaan
20x20x120 cm. Dengan pipa sandaran 2. Maka
dipasang tulangan lentur 4 12 mm dan tulangan
Finish geser 10-100 mm.

Gambar 1. Diagram alur perancangan

IV. PERHITUNGAN PELAT LANTAI


KENDARAAN
4.1 Tebal Pelat Lantai Kendaraan
Tebal pelat beton = 25,4 cm, dengan tinggi bondek
5,4 cm, penulangan pelat digunakan D16-150 untuk
tulangan utama dan D13-200 untuk tulangan susut
dan pembagi.

Gambar 4. Tulangan kolom sandaran

V. PERENCANAAN GELAGAR
Perencanaan gelagar jembatan ini menggunakan
profil baja dengan mutu BJ 55, dengan ketentuan
Gambar 2. Tulangan pelat lantai sebagai berikut :
Tegangan leleh fy = 410 MPa
Tegangan ultimate fu = 550 MPa
4
JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (2013) 1-12

Modulus Elastisitas, E = 2 x 106 kg/cm2


Jarak gelagar memanjang = 1,75 m Cb =
12,5 . Mmax
< 2,3
Jarak gelagar melintang = 5 m 2,5. Mmax + 3.M + 4.M + 3.M
A B C
12,5 469,81
5.1 Perencanaan Gelagar Memanjang Cb =
Untuk perencanan gelagar memanjang 2,5 469,81 + 3 262,28 + 4 469,81 + 3 262,28
dipilih profil WF dengan dimensi 450 x 200 x 9 x = 1,27 < 2,3
14.
Kontrol Penampang Mp= Zx . fy = 2.535 4.100 = 10.393.500 kgcm
a. Badan : = 103.935 kgm
h = d2(tf +r)
= 450 2 ( 14 + 18 ) = 386 mm Mr = Sx.(fy-fr)= 1.489 (4100 700)
1680 = 5.062.600kgcm = 50.626 kgm
h
fy Mn = Cb Mr + ( Mp Mr ) Lr Lb
tw Lr Lp

386 1680 Mn
410 641,82 500
9 = 1,27 50.626 + (103.935 50.626)
42,89 82,97 OK 641,82 171,04
Mn = 84.628,82 kgm < Mp = 103.935 kgm
b. Sayap : Maka, diambil Mn = 84.628,82 kgm
170 = 8.462.882 kgcm
b
Mu = MD + ML2 = 62,37 + 329,06
2 tf fy = 391,43 kNm = 3.990.156 kgcm
200 170
Mu = 3.990.156 kg.cm
2 x 14
410 Mn = 0,9 8.462.882 = 7.616.593,36 kgcm
7,14 8,40 OK Mu < Mn...OK
Penampak kompak : Mn = Mp

Kontrol Tekuk Lateral 5.2 Perencanaan Gelagar Memanjang


E Untuk perencanan awal gelagar melintang
Lp = 1,76 i y
fy dipilih profil WF Box dengan dimensi : 800 x 600 x
22 x 38.
200000
= 1,76 4,40
410 Kontrol Penampang
= 171,04 cm Badan :
Lb = 500 cm h = d2(tf +r)
Lr = 641,82 cm (Tabel) = 800 2 ( 38 + 0 ) = 724 mm
Lp < Lb < Lr Bentang Menengah h

1680
tw fy
Pu = VD + VL = 49,90 + 238,35= 288,25 kN
724 1680
qu = qD + qL = 19,96 + 15,08 = 35,04 kN/m
VA = VB = 0,5 . Pu + 0,5 . qu . L 22 410
= 0,5 x 288,25 + 0,5 x 35,04 x 5 = 231,72 kN 32,91 82,97 OK
MA = MC = Va . . L 0,5 . qu . (1/4 L)2 Sayap :
2
= 231,72 1 / 4 5 0,5 35,04 (1 / 4 5) b

170
= 262,28 kNm 2 tf fy
600 170
Mmax = MB = Va . 0,5 . L 0,5 . qu . (1/2 L)2
2 x 38 410
2
= 231,72 0,5 5 0,5 35,04 (1 / 2 5) 7,89 8,40 OK
= 469,81 kNm Penampak kompak : Mn = Mp
5
JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (2013) 1-12

Kontrol Tekuk Lateral 410


36234
Lb = 200 cm (dipasang pelat stifner sejarak 200 fy 1,89
Nn = c Ag = 0,85 = 714.295,219 kg
cm sebagai pengaku lateral untuk gelagar melintang) 10
y
Lp = 1,76 i y E Nn= 714.295,219 kg > Nu = 121.029,25 kg OK
fy
2. Kekakuan Pelat Kopel
= 1,76 16,41 200000 I I
kopel
410 10 1
b L
= 637,927 cm 1
Lb < Lp Bentang Pendek L1 = L / 3 = 1400 / 3 = 466,67 cm
Karena bentang pendek maka, I1 = momen inersia minimum penampang tunggal
lk = momen inersia pelat kopel yang dipasang
Mn = Mp
I1= Imin = Iy = 17.128,126 cm4
Mn = fy Zx I 17.128,126
I 10 1 b = 10 30 = 11.010,94 cm 4
= 4.100 23.139,536 =94.872.097,60 kg.cm kopel L 466,67
1
Mn = 0,9 x 94.872.097,6 = 85.384.888 kg.cm
= 8.703,9 kNm Direncanakan tebal pelat kopel, t = 12 mm maka :
Mu = MqD1 + ML 1 t h 3 11.010,94
12
= 1.207,53 + 4.475,25
1 1,2 h 3 11.010,94
= 5682,78 kNm 12
Mn Mu ....OK 11.010,94
h3
0,1
Perhitungan Pelat Kopel h 3 110.109,4
Pelat kopel dihitung untuk menghubungkan antar h 47,93 cm
gelagar melintang dengan profil WF Box
8003002238 Diambil h = 50 cm
Nu = 121.029,25 kg (Frame 738- 3. Pemeriksaan Kekakuan Pelat Kopel
Komb.DL+UDL+KEL+T)
Syarat kekakuan pelat kopel:
1. Mencari Angka Kelangsingan

Arah sumbu kuat (sumbu x) 1
k .L
= x = 1 1400 = 43,52 Beban pada penampang:
x i
x
32,17 Akibat L

fy 43,52 410
Akibat M = L e
= x = = 0,627 0,25 < < 1,2 DS
E 200.000 y
Harga L = L
1,43 1,43 I 1
= = = 1,212 y
x 1,6 0,67. 1,6 0,67 0,627

dimana:
410
38728 D = 2% P = 0,02 121.029,25 = 2.420,585 kg
fy 1,157
Nn = c Ag = 0,85 = 1.113.513,421 kg
10 y 1,861
x D= P= 121.029,25 = 2.858,581kg
Nn= 1.113.513,421 kg > Nu = 121.029,25 kg OK 80 80
Maka diambil nilai D terbesar yaitu = 2.858,581 kg

Arah sumbu lemah (sumbu y)


k .Ly 1 1400 Sy = A b
= = = 85,31 = 387,28 30 = 5.809,20 cm3
y i 16.41
y
Iy = 2 (Iyo + A ( b)2)
y fy 85,31 410
= = = 1,229 > 1,2
E 200.000 = 2 (17.164,243 + 387,28 (15)2)
= 1,25.
2
= 1,25 1,229 2 = 1,890
= 208.604,486 cm4
y
6
JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (2013) 1-12

Gaya geser D : VI. KONSTRUKSI PEMIKUL UTAMA


2.858,581 5.809,20 Bentuk konstruksi pemikul utama yang dipilih
L= 466,67 = 37.149,24 kg
208.604,486 sesuai dengan kriteria yang ada pada bagian Bab I
3 L 3 37.149,24 adalah konstruksi busur dengan batang tarik.
= = = 928,73kg / cm 2 Pendekatan pertama bentuk geometrik busur sebagai
2 ht 2 50 1,2
persamaan parabola.
fy 4100
' = 0,6 = 0,6 = 1640 kg / cm 2
1,5 1,5
..Ok!
Dipakai dimensi pelat kopel:
t = 12 mm
h = 50 cm ; b = 30 cm
Jarak antar pelat kopel = 450 cm

4. Sambungan Las Pelat Kopel


Sambungan las sudut :
Persyaratan ukuran las :
Maksimum = tebal pelat 1,6 = 12 1,6
= 10,4 mm Gambar 6. Rancangan jembatan busur rangka
Minimum = 5 mm (Buku LRFD, Tabel
7.1) 1 f 1
Maka digunakan las ukuran 10 mm f = 54 m syarat :
te = 0,707 . a = 0,707 x 10 = 7,07 mm 6 L 5
Kuat rencana las sudut ukuran 10 mm per mm 1 54 1
:
panjang 6 270 5
.Rnw = . te. (0,60. fuw) Mutu las fuw : 0,167 0,2 0,2 ....OK
= 490 MPa
= 0,75 x 7,07 x 0,60 x 490 = 1 h 1
H = 7 m syarat : )
1.558,935 N/mm 40 L 25
Tidak boleh melebihi kuat runtuh geser pelat 1 7 1
.Rnw = . t. (0,60. fu) :
40 270 25
= 0,75 x 12 x 0,6 x 550 = 2.970
: 0,025 0,026 0,04 ....OK
N/mm
Beban tarik terfaktor, Tu
6.1 Batang Tarik
Tu = 106.544,99 kg Panjang dari batang tarik dicari dengan
(Frame 737) (Kombinasi
DL+UDLS+KELS+EQy) menggunakan pendekatan persamaan sumbu
Panjang total las yang dibutuhkan, Lw geometrik busur.
Lw = Tabel 1. Panjang batang tarik
Tu 107.145,07 10 Titik L tarik
= = 341,724 mm
.R nw 2 x1.558,935 26 7.507
28 14.361
30 20.563
32 26.111
34 31.007
36 35.250
38 38.840
40 41.778
42 44.063
44 45.694
46 46.674
48 47.000
Dari hasil perhitungan :
Gambar 5. Detail sambungan pelat kopel dengan
profil WF
7
JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (2013) 1-12

Batang tarik menggunakan profil Kabel Rod Bar Vu = 31.921,25 kg (gaya geser gelagar
M85 ( 82 mm). Dengan mutu Macalloy 520 Bar memanjang)
System. Fy = 520 Mpa; Fu = 660 Mpa Mutu baut A325
fy = 585 MPa
6.2 Kontruksi Busur fu = 825 MPa
db = 12 mm
Mutu pelat BJ-55
Profil = 2L 90.90.12
fy = 410 MPa
fu = 550 MPa
tp = 12 mm

- Kekuatan geser baut


Vd = f x 0,4 x fub x m x Ab
= 0,75 x 0,4 x 8250 x 2 x ( /4 x 1,22)
= 5.598,32 kg
Gambar 7. Penampang busur - Kekuatan tumpu baut
Rd = f x 2,4 x db x tp x fup
Kontrol Local Buckling = 0,75 x 2,4 x 1,2 x 1,2 x 5.500
a. Dimensi Flens = 14.256 kg
b 600
= = 12,00
2 tf 2 x 25 b Yang menentukan adalah Vd = 5.598,32 kg
< R OK (diambil yang terkecil)
625 625 2 tf
R = = = 30,87
fy 410 Jumlah baut yang diperlukan
b. Dimensi Web : Vu 31.921,25
- n = = = 6 baut
Untuk menghindari terjadinya flexural Vd 5.598,32
buckling pada badan. Syarat jarak baut berdasarkan segi pelaksanaan :
h = d 2 (tf + r) 3db S 15tp
= 750 2 (25 + 0) = 700 mm 1,5db S1 (4tp + 100) atau 200 mm
h
=
700
= 31,82 1,25db S2 12tp atau 150 mm
tw 22 h Jadi :
< R OK 36 mm 60 180 mm
665 665 tw
R = = = 32.84 18 mm 40 148 mm atau 200 mm
fy 410 15 mm 40 144 mm atau 150 mm
L = 200 mm
VII KONSTRUKSI SEKUNDER Kontrol Pelat Siku
Dari hasil perhitungan didapat : - Luas geser pelat siku
Ikatan Angin Busur Atas Anv = Lmv x tL
2L 150.150.15 = (L n/2 d1) x tL
Ikatan Angin Busur Bawah = (200 3 14) x 13 /100
2L 150.150.15 = 22,08 cm2
2L 175.175.15 - Kuat rencana
Ikatan Angin Pada Lantai Kendaraan Rn = x 0,6 x fub x Anv
2L 200.200.20 = 0,75 x 0,6 x 8250 x 22,08
= 81.972 kg
Bracing Karena 2 siku maka :
HB 400.400.13.21 2 Rn > Vu
HB 300.300.10.15 2 x 81.972 > 31.921,25 kg
2L 200.200.20 163.944 kg > 31.921,25 kg OK

8.2 Sambungan Gelagar Melintang Batang


VIII. PERHITUNGAN SAMBUNGAN
Tarik Busur
8.1 Sambungan Gelagar Melintang Vu = 153.706,24 kg (gaya geser pada gelagar
Gelagar Memanjang melintang)
Kontrol Sambungan Baut Tipe Tumpu Kontrol Sambungan Baut Tipe Tumpu
8
JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (2013) 1-12

Mutu baut A325 Sambungan pada 1 Flens


fy = 585 MPa n baut terpasang = 48 baut
fu = 825 MPa Vd = .Vd x n baut terpasang
db = 27 mm = 14.170,74 x 48
= 680.195,65 Kg
Mutu pelat BJ-55 Sambungan pada Badan
fy = 410 MPa n baut terpasang = 15 baut
fu = 550 MPa Vd = .Vd x n baut terpasang
tp = 25 mm = 14.170,74 x 15
= 212.561,14 Kg
Kekuatan geser baut Total Kekuatan Baut = 1.785.513,58 Kg
Vd = f x 0,4 x fub x m x Ab Syarat jarak baut berdasarkan segi pelaksanaan :
= 0,75 x 0,4 x 8250 x 1 x ( /4 x 2,72) 3db S 15tp
= 14.170,74 kg 1,5db S1 (4tp + 100) atau 200 mm
Kekuatan tumpu baut 1,25db S2 12tp atau 150 mm
Rd = f x 2,4 x db x tp x fup Jadi :
= 0,75 x 2,4 x 2,7 x 2,5 x 5.500 81 mm 100 375 mm
= 66.825,00 kg 40,5 mm 50 200 mm
33,8 mm 50 300 mm atau 150 mm
Yang menentukan adalah Vd= 14.170,74 kg
(diambil yang terkecil) 8.4 Sambungan pada Rangka Batang (L = 100 m)
Cek Sambungan Profil WFB 750.400.22.25
Jumlah baut yang diperlukan
Pu = 874.622,15 kg
Vu 153.706,24 Kontrol Sambungan Baut Tipe Tumpu
- n = = = 12 baut
Vd 14.170,74 Mutu baut A325
fy = 585 MPa
Syarat jarak baut berdasarkan segi pelaksanaan : fu = 825 MPa
3db S 15tp db = 27 mm
1,5db S1 (4tp + 100) atau 200 Mutu pelat BJ-55
mm fy = 410 MPa
Jadi : fu = 550 MPa
81 mm 100 375 mm tp = 25 mm
40,5 mm 50 200 mm
- Kekuatan geser baut
8.3 Sambungan Antar Batang Tarik Busur Vd = f x 0,4 x fub x m x Ab
Cek Sambungan Profil WFB 750.400.22.32 = 0,75 x 0,4 x 8250 x 1 x ( /4 x 2,72)
Pu = 1.718.845,89 kg = 14.170,74 kg
Kontrol Sambungan Baut Tipe Tumpu - Kekuatan tumpu baut
Mutu baut A325 Rd = f x 2,4 x db x tp x fup
fy = 585 MPa = 0,75 x 2,4 x 2,7 x 2,5 x 5.500
fu = 825 MPa = 66.825,00 kg
db = 27 mm Yang menentukan adalah Vd= 14.170,74 kg
Mutu pelat BJ-55 (diambil yang terkecil)
fy = 410 MPa
fu = 550 MPa Jumlah baut yang diperlukan tiap flens :
tp = 25 mm Pu 874.622,15
- n = = = 32 baut
2.Vd 2 14.170,74
- Kekuatan geser baut
Vd = f x 0,4 x fub x m x Ab
Syarat jarak baut berdasarkan segi pelaksanaan :
= 0,75 x 0,4 x 8250 x 1 x ( /4 x 2,72)
3db S 15tp
= 14.170,74 kg
1,5db S1 (4tp + 100) atau 200 mm
- Kekuatan tumpu baut
1,25db S2 12tp atau 150 mm
Rd = f x 2,4 x db x tp x fup
Jadi :
= 0,75 x 2,4 x 2,7 x 2,5 x 5.500
81 mm 80 375 mm
= 66.825,00 kg
9
JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (2013) 1-12

40,5 mm 50 200 mm = 1.652,24 ( 8 x 3,0 x 3,8) (4 x 10 x 3,8)


33,8 mm 50 300 mm atau 150 mm = 1.326,96 cm2
An = 85 % x Ag = 1404,40 cm2
8.5 Sambungan Pada Busur x 46,43
Cek Sambungan Profil WFB 750.750.38.38 u = 1- = 1- = 0,929
L 650
Pu = 4.613.407,18 kg Ae = u x An = 0,929 x 1.326,96 = 1.232,18 cm2
Kontrol Sambungan Baut Tipe Tumpu .Tn = x fu x Ae ..... (LRFD 10.1.1-
Mutu baut A325 2.b)
fy = 585 MPa = 0,75 x 5.500 x 1.232,18
fu = 825 MPa = 5.082.752,65 kg > 4.613.407,18 kg
db = 27 mm .Tn > Pu ... OK
Mutu pelat BJ-55
fy = 410 MPa
IX. STAGING ANALYSIS
fu = 550 MPa
tp = 25 mm Staging analysis untuk perencanaan
- Kekuatan geser baut (2 bidang geser) Jembatan Kutai Kartanegara dengan sistem busur ini
Vd = f x 0,4 x fub x m x Ab dilakukan dengan program bantu SAP 2000. Analisa
= 0,75 x 0,4 x 8250 x 2 x ( /4 x 2,72) ini menggunakan salah satu fitur non-liniear staged
= 28.341,49 kg construction, yaitu dimana jembatan dirancang
Kekuatan geser baut (1 bidang geser) bertahap dari mulai pendirian kolom portal akhir
Vd = f x 0,4 x fub x m x Ab hingga erection untuk busur rangka puncak.
= 0,75 x 0,4 x 8250 x 1 x ( /4 x 2,72) Untuk metode pelaksanaan jembatan busur rangka
= 14.170,74 kg ini mengunakan metode balance cantilever dengan
- Kekuatan tumpu baut dibantu tarikan kabel untuk menahan lendutan
Rd = f x 2,4 x db x tp x fup akibat berat sendiri. Sedangkan untuk pemasangan
= 0,75 x 2,4 x 2,7 x 2,5 x 5.500 profil menggunakan crane ponton selama proses
= 66.825,00 kg erection berlangsung. Untuk lebih jelasnya akan
Pu / 2 = 2.306.703,59 kg diberikan ilustrasi urutan tahapan pelaksanaan
jembatan.
- Kemampuan (2 bidang geser) Stage 1
n(baut) = 56,00 Pembangunan dimulai dari struktur bawah
n .Vd = 56,00 x 28.341,49 kg yaitu : pemancangan, pembuatan pilar, dan
= 1.587.123,18 kg abutment. Kemudian didirikan kolom portal
- Kemampuan (1 bidang geser) akhir yang menumpu pada perletakan sendi,
n(baut) = 56,00 dilanjutkan dengan pemasangan segmen
n.Vd = 56,00 x 14.170,74 kg rangka busur. Pengerjaan dilakukan dua sisi.
= 793.561,59 kg
- Kemampuan baut
.Vd = 1.587.123,18 + 794.561,59
= 2.380.684,78 kg
.Vd > Vu..... OK

Syarat jarak baut berdasarkan segi pelaksanaan :


3db S 15tp
1,5db S1 (4tp + 100) atau 200 mm
1,25db S2 12tp atau 150 mm
Jadi : Gambar 8. Stage 8
81 mm 100 375 mm
40,5 mm 50 200 mm Stage 2
33,8 mm 75 300 mm atau 150 mm Dilanjutkan pengecekan terhadap frame
L = 650 mm rangka untuk side span jika terjadi
kantilever sepanjang 1. = 5 m.
Kontrol kekuatan patah :
Ag = 1.652,24 cm2
An = Ag-n x d x tf-n x d x tw
10
JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (2013) 1-12

Gambar 12. Stage 5


Gambar 9. Stage 2 Stage 6
Pemasangan frame rangka untuk side span
4. = 20 m dan untuk main span 3.= 15 m.
Stage 3
Pemasangan frame rangka untuk main span
sepanjang 1.= 5 m untuk mengimbangi
berat rangka pada stage 2.

Gambar 13. Stage 6

Stage 7
Pemasangan frame rangka untuk side span
1. = 5 m dan untuk main span 1.= 5 m.
Gambar 10. Stage 3 Tambahan gaya tarikan kabel untuk side
Stage 4 span sebesar 7.000 kN dan main span
Pemasangan frame rangka untuk side span sebesar 1.500 kN.
2. = 10 m dan untuk main span 1= 5 m.

Gambar 14. Stage 7

Stage 8
Pemasangan frame rangka untuk side span
4. = 20 m dan untuk main span 4.= 20 m.
` Gambar 11. Stage 4

Stage 5
Temporary tower mulai didirikan untuk
menopang berat struktur dengan
mengandalkan kekuatan tarikan kabel.
Kabel pada side span diberi tarikan sebesar
3.000 kN, sedangkan pada main span diberi
gaya tarikan kabel sebesar 1.000 kN. Gambar 15. Stage 8
11
JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (2013) 1-12

Stage 9 Stage 13
Pemasangan frame rangka untuk side span Tambahan gaya tarikan kabel untuk main
1. = 5 m dan untuk main span 1.= 5 m. span sebesar 3.000 kN.
Tambahan gaya tarikan kabel untuk side
span sebesar 5.000 kN dan main span
sebesar 3.000 kN.

Gambar 20. Stage 13

Stage 14
Pemasangan frame rangka untuk main span
Gambar 16. Stage 9 3. = 15 m.

Stage 10
Pemasangan frame rangka untuk side span
5. = 25 m.

Gambar 21. Stage 14

Stage 15
Pemasangan frame rangka untuk side span
2. = 15 m.
Gambar 17. Stage 10

Stage 11
Tambahan gaya tarikan kabel untuk side
span sebesar 5.000 kN dan main span
sebesar 3.000 kN.
Gambar 22. Stage 15

Stage 16
Tambahan gaya tarikan kabel untuk main
span sebesar 6.000 kN.

Gambar 18. Stage 11

Stage 12
Pemasangan frame rangka untuk main span Gambar 10.16 Stage 16
4. = 20 m.

Stage 17
Pemasangan frame akhir rangka utama
untuk main span.

Gambar 19. Stage 12


Gambar 10.17 Stage 17
12
JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (2013) 1-12

DAFTAR PUSTAKA
Stage 18 Chen, Wai-Fah, Duan, Lian. 2000. Bridge
Pemasangan kabel penggantung, batang Engineering Handbook. Boca Raton. London
tarik serta gelagar memanjang.
Departemen PU Bina Marga, 1992, Bridge
Management System (BMS).

Dien, Aristadi., 2006, Analisis Sistem Rangka


Gambar 10.18 Stage 18 Baja Pada Struktur Jembatan Busur Rangka
Baja.
Stage 19 http://www.pu.go.id/bapekin/hasil%20kajian//k
ajian2.html.
Menghilangkan gaya tarikan kabel.
Hool, G.A., & Kinne, W.S., 1943, Moveable
And Long-Span Steel Bridges (Second Edition),
New York & London, McGraw-Hill Book
Gambar 10.19 Stage 19 Company, Inc.

XII. PENUTUP Standar Nasional Indonesia (SNI) T-02-2005,


a. Kesimpulan
Standar Pembebanan Untuk Jembatan.
Departemen Pekerjaan Umum.
Dari hasil perencanaan yang diperoleh dapat
disimpulkan sebagai berikut:
1. Mutu baja profil yang digunakan yaitu BJ- Standar Nasional Indonesia (SNI) T-03-2005,
55 (fy= 410 Mpa; fu=550 MPa), sedangkan Perencanaan Struktur Baja Untuk Jembatan.
mutu beton menggunakan fc 30 MPa. Departemen Pekerjaan Umum.
2. Dimensi melintang lantai kendaraan lengkap
dengan trotoar adalah 13 m untuk jalan 2 Standar Nasional Indonesia (SNI) 03-1729-
jalur 2 arah. Tinggi fokus busur adalah 7 m. 2002, Tata Cara Pelaksanaan Struktur Baja
3. Pelat lantai kendaraan komposit, dengan Untuk Bangunan Gedung. Departemen
tebal pelat beton bertulang 254 mm. Pekerjaan Umum.
Tulangan terpasang arah melintang D16-150
dan arah memanjang D13-200.
Standar Nasional Indonesia (SNI) 03-2847-
4. Gelagar memanjang WF 450.200.9.14,
gelagar melintang WFB 800.600.22.38 2002, Tata Cara Peerhitungan Struktur Beton
dengan BJ 55, lendutan 1,521 cm Untuk Bangunan Gedung. Departemen
(UDL+KEL) dan 1,736 cm (T) 1,75 cm Pekerjaan Umum.
(Yijin).
5. Struktur utama busur berupa profil WFB Troitsky, M. S. 1994. Planning and Design of
750.600.22.25; WFB 750.600.22.32; WFB Bridge. John Wiley & Sons, Inc. New York
750.800.22.25; WFB 750.800.22.32; WFB
750.1500.38.38. Wardana, Panji Krisna., 2002, Aplikasi Metoda
6. Rangka busur menggunakan profil WFB Perkuatan Jembatan Rangka Baja.
750.800.22.25; WF 750.500.22.25; WF http://pustaka.pu.go.id/katalogdetail.
750.500.22.32; WF 750.400.22.25;
750.400.22.32; WF 750.300.22.25; Zderic, Zeljco, 2008, Cantilever Erection of
7. Batang tarik menggunakan kabel rod bar
Arch Bridge. Kroasia
M82.
8. Struktur sekunder berupa ikatan angin
dengan dimensi profil yaitu 2L 150.150.15;
2L 175.175.15; 2L 200.200.20; L
175.175.15; L 100.100.10.
9. Perletakan berupa perletakan sendi dan rol.