Anda di halaman 1dari 53

UJI DAYA ANTIBAKTERI INFUSA DAUN TERONG PIPIT

(Solanum torvum) DALAM MENGHAMBAT PERTUMBUHAN


BAKTERI Shigella dysentriae Secara In Vitro

Usulan
Untuk Memenuhi Persyaratan Melakukan
Penelitian dalam Rangka Penyusunan Skripsi

Oleh
M. Apuadi
NIM. A1C213075

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARMASIN
SEPTEMBER 2016
2

UJI DAYA ANTIBAKTERI INFUSA DAUN TERONG PIPIT


(Solanum torvum) DALAM MENGHAMBAT PERTUMBUHAN
BAKTERI Shigella dysentriae Secara In Vitro
Pembimbing I : Drs. H. Aminuddin PP, M.Pd
Pembimbing II : Dra. Hj. Sri Amintarti, M.Si

I. LATAR BELAKANG
Awal tahun 2014, WHO memberikan peringatan bahwa resistensi
antimikroba merupakan sebuah masalah besar di tingkat global dan terutama di
Asia Tenggara yang menampung seperempat populasi dunia (Nugroho, 2016).
Berdasakan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia (Permenkes RI)
Nomor 8 Tahun 2015 Tentang Program Pengendalian Resistensi Antimikroba Di
Rumah Sakit. Lebih lanjut Pada Pasal 3 berbunyi: Strategi Program
Pengendalian Resistensi Antimikroba dilakukan dengan cara: a. mengendalikan
berkembangnya mikroba resisten akibat tekanan seleksi oleh antibiotik, melalui
penggunaan antibiotik secara bijak; dan b. mencegah penyebaran mikroba resisten
melalui peningkatan ketaatan terhadap prinsip pencegahan dan pengendalian
infeksi.
Pada lampiran Permenkes RI No. 8 Tahun 2015 tecantum bahwa:
Resistensi antimikroba yang dimaksud adalah resistensi terhadap antimikroba
yang efektif untuk terapi infeksi yang disebabkan oleh bakteri, jamur, virus dan
parasit. Bakteri adalah penyebab infeksi terbanyak maka penggunaan antibakteri
yang dimaksud adalah penggunaan antibiotik.
Laporan Surveilans WHO mengenai resistensi antimikroba (Antimicrobial
resistance: global report on surveillance) mencatat resistensi terjadi di berbagai
mikroba namun paling banyak terjadi di enam jenis bakteri yang menyebabkan
penyakit mulai dari yang ringan hingga berat seperti infeksi aliran darah (sepsis),
diare, pneumonia, infeksi saluran kemih dan gonorrhoea (Nugroho, 2016).
Berdasakan uraian di atas maka diperlukan upaya untuk mempelajari
antimikroba, meningkatkan kualitas kesehatan khalayak umum dan menurunkan
3

tingkat infeksi yang disebabkan oleh mikroba terutama terhadap bakteri.


Harapannya mampu dihasilkannya antibakteri alami pengganti antibiotik yang
menyebabkan resistensi antimikroba.
Salah satu infeksi yang disebabkan bakteri adalah diare. Bakteri penyebab
diare yaitu Salmonella spp, Campylobacter jejuni, Stafilococcus aureus, Bacillus
cereus, Shigella sp, Clostridium perfringens dan Enterohemorrhagic Escherichia
coli (EHEC) (Zein, 2004). Diare bakterial banyak mengenai anak-anak di bawah
14 tahun dengan penyebab terbesar spesies Shigella sp (Buktiwetan, 1998).
Mufazah (2013), mengatakan bahwa penyakit diare masih menjadi masalah
kesehatan masyarakat yang penting karena merupakan penyumbang utama ke 3
angka kesakitan dan kematian anak di berbagai negara termasuk Indonesia.
Menurut Brooks (2005), Bakteri Shigella menghasilkan toksin yang disebut
shigatoksin, dimana mereka sebagai agen disentri basiler. Menurut Gupte (1990),
bakteri Shigella termasuk bakteri famili enterobacteriaceae yang merupakan
bakteri gram negatif. Bakteri Shigella berdasarkan sifat biokimiawi dan serologis
dibagi dalam 4 kelompok, yaitu Shigella dysentriae, Shigella flexneri, Shigella
boydii, Shigella sonnei. Shigella dysentriae menyebabkan disentri basiler berupa
diare akut.
Salah satu jenis tumbuhan yang digunakan masyarakat sebagai obat
tradisional adalah tumbuhan terong pipit (Solanum torvum). Tumbuhan ini juga
mengandung banyak khasiat bagi kesehatan dan termasuk salah satu tanaman obat
yang selain buahnya, daun dan bunganya juga dapat dimanfaatkan. Solanum
torvum digunakan untuk pengobatan demam, luka, bisul, koreng dan kerusakan
gigi (Ndebia et al, 2007) dalam (Rasyid, 2013). Menurut Sitrait (2009), terong
pipit (Solanum torvum) merupakan salah satu bahan tanaman obat tradisional
untuk pengobatan penyakit lambung, pinggang kaku dan bengkak terpukul, batuk
kronis, bisul atau koreng, jantung berdebar maupun nyeri jantung, dan
menurunkan tekanan darah tinggi.
Menurut Sitrait (2009), dalam pengobatan tradisional, tanaman terong pipit
cukup dikenal, namun belum semua masyarakat mengetahui tentang identitas dan
kegunaan dari tanaman tersebut, terutama bagi masyarakat daerah perkotaan.
4

Penelitian ini dapat membantu mengenalkan daun terong pipit (Solanum torvum)
kepada masyarakat umum dengan media yang digunakan adalah media poster,
serta berguna sebagai penunjang pengembangan materi perkuliahan Mikrobiologi.
Beberapa penelitian relevan yang telah dilakukan dalam upaya
menghasilkan antibakteri seperti Rasyid (2013) telah melakukan Uji Efektivitas
Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Terong Pipit (Solanum torvum) Terhadap Bakteri
Staphylococcus aureus dan bakteri Escherichia coli dengan hasil penelitiannya
menunjukkan bahwa bahwa ekstrak etanol daun terong pipit (Solanum torvum)
dapat menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan bakteri
Escherichia coli pada konsentrasi 25% dengan diameter daerah hambat masing-
masing sebesar 20 mm dan 17 mm. Penelitian lainnya yang dilakukan oleh
Rokhmawati, (2014) yaitu Daya Antibakteri Ekstrak Buah terong pipit (Solanum
torvum) terhadap Pertumbuhan Streptococcus mutans dengan hasil penelitian
menunjukkan ekstrak buah terong pipit mampu menghambat pertumbuhan S.
mutans. Selain itu ada pula penelitian yang dilakukan oleh Sari (2013) yaitu Uji
Aktivitas Antibakteri Infusa daun Sirsak (Annona muricata L.) Secara in Vitro
terhadap Staphylococcus aureus ATCC 25923 dan Escherichia coli ATCC 35218
Serta Profil Kromatografi Lapis Tipisnya dengan hasil penelitian nilai Kadar
Bunuh Minimum (KBM) infusa daun sirsak terhadap Staphylococcus aureus
ATCC 25923 pada konsentrasi 85% b/v dan untuk Escherichia coli ATCC 35218
sampai pada konsentrasi 100% b/v tidak dapat membunuh atau tidak poten.
Dari paparan di atas maka peneliti tertarik untuk melakukan suatu penelitian
dengan judul Uji Daya Antibakteri Infusa Daun Terong Pipit (Solanum torvum)
dalam menghambat Pertumbuhan Bakteri Shigella dysentriae secara in vitro

II. RUMUSAN MASALAH


5

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan masalah dalam


penelitian ini :
1. Berapa konsentrasi hambat minimum (KHM) infusa daun terong pipit
(Solanum torvum) dalam menghambat pertumbuhan bakteri Shigella
dysentriae secara in vitro?
2. Bagaimana daya antibakteri infusa daun terong pipit (Solanum
torvum) dalam menghambat pertumbuhan bakteri Shigella dysentriae
secara in vitro?
3. Apakah poster ini layak sebagai bahan penunjang pengembangan
materi perkuliahan Mikrobiologi berdasarkan uji validitas ahli dan
validitas empiris (uji keterbacaan)?

III. BATASAN MASALAH


Berdasarkan latar belakang di atas, agar tidak meluas dalam
pembahasannya, maka dilakukan pembatasan masalah sebagai berikut :
1. Sampel yang digunakan yaitu daun terong pipit (Solanum torvum)
diambil di sekitar Kecamatan Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin,
Provinsi Kalimantan Selatan.
2. Kandungan fitokimia yang terdapat pada ekstrak daun terong pipit
(Solanum torvum) diperoleh berdasarkan sumber pustaka hasil
penelitian yang relevan.
3. Metode ekstraksi yang digunakan adalah metode infusa
4. Bakteri yang digunakan untuk uji daya antibakteri adalah Shigella
dysentriae yang diambil dari Laboratoium Biologi PMIPA FKIP ULM
Banjarmasin.
5. Metode uji daya antibakteri yang digunakan adalah difusi cakram
kertas (disc diffusion Kirby Bauer)
6. Hasil penelitian yang dilakukan digunakan sebagai media poster
dalam menunjang pengembangan materi Mata Kuliah Mikrobiologi.
7. Validitas poster yang dihasilkan diuji berdasarkan validitas ahli dan
validitas empiris. Validitas ahli dilakukan oleh Pembimbing 1 dan 2
6

sedangkan validitas empiris (uji keterbacaan) dilakukan oleh 9 orang


mahasiswa yang telah menempuh mata kuliah Mikrobiologi.

IV. TUJUAN PENELITIAN


Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk :
1. Menetapkan konsentrasi hambat minimum (KHM) infusa daun terong
pipit (Solanum torvum) dalam menghambat pertumbuhan bakteri
Shigella dysentriae secara in vitro

2. Mendeskripsikan kemampuan daya antibakteri infusa daun terong


pipit (Solanum torvum) dalam menghambat pertumbuhan bakteri
Shigella dysentriae secara in vitro.

3. Menetapkan kelayakan poster ini sebagai bahan penunjang


pengembangan materi perkuliahan Mikrobiologi berdasarkan uji
validitas ahli dan validitas empiris

V. MANFAAT PENELITIAN
Melalui penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai
berikut :
1. Bagi peneliti: mendapat pengalaman berharga untuk menerapkan ilmu
pengetahuan yang telah didapatkan dalam pembelajaran selama
perkuliahan di Program Studi Pendidikan Biologi FKIP ULM
Banjarmasin.
2. Bagi perguruan tinggi : dapat mengembangkan ragam penelitian dan dapat
memberikan kontribusi terhadap perbaikan dan mutu proses pembelajaran,
khususnya pada mata mata kuliah Mikrobiologi.
3. Bagi masyarakat : sebagai informasi tentang manfaat daun terong pipit
yang dapat digunakan sebagai bahan alami untuk mengobati penyakit
karena infeksi bakteri saluran pencernaan (diare).
7

VI. TINJAUAN PUSTAKA


6.1 Uraian Terong Pipit (Solanum torvum)
6.1.1 Sistematika
Kedudukan terong pipit (Solanum torvum) dalam taksonomi tumbuhan
menurut Dasuki (1994) adalah sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Divisio : Magnoliophyta
Classis : Magnoliopsida
Ordo : Solanales
Familia : Solanaceae
Genus : Solanum
Species : Solanum torvum.

6.1.2 Deskripsi Tanaman


Tanaman ini termasuk tanaman perdu yang tumbuh tegak, tinggi
tanaman sekitar 3 m. Batang bulat, berkayu, bercabang, berduri jarang dan
percabangan simpodial warna-nya putih kotor. Daunnya tunggal, berwarna
hijau, tersebar, berbentuk bulat telur, bercangap, tepi rata, ujung meruncing
panjang sekitar 27 - 30 cm dan lebar 20 - 24 cm, pertulangan menyirip dan
ibu tulang berduri. Bunga majemuk, bentuk bintang, bertaju, waktu kuncup
berbintik ungu, kelopak berbulu, bertajuk lima, runcing, panjangnya kira-
kira 5 mm, warna hijau muda, benang sari lima, tangkai panjang kira-kira 1
mm dan kepala sari panjangnya kira-kira 6 mm berbentuk jarum, berwarna
kuning, tangkai putik kira-kira 1 cm berwana putih, dan kepala putik
kehijauan. Buah buni, bulat, apabila masih muda berwarna hijau setelah tua
berwarna jingga. Bijinya pipih, kecil, licin berwarna kuning pucat, berakar
tunggang berwarna kuning pucat (Sirait, 2009).
8

Gambar 4. Buah tua


Gambar 1. Tanaman Terong Pipit Gambar 2. Daun(Sumber:
Terong Pipit
Yono, 2015)
(Sumber: Lhoong, 2015) (Sumber: Garden, 2016)

6.1.3 Fitokimia Tanaman


Terong pipit mengandung
berbagai bahan kimia.
Kandungan kimia yang terdapat
pada buah dan daun mengandung
Gambar 3. Bunga dan buah muda
alkaloid steroid yaitu jenis
(Sumber: Prasetyo, 2013)
solasodin 0,84%, sedangkan
kandungan buah kuning
mengandung solasonin 0,1%, buah mentah mengandung chlorogenin,
sisolo-genenone, torvogenin, vitamin A dan mengandung neo-chlorogenine,
panicolugenine dan akarnya me-ngandung jurubine (Sirait, 2009). Pada
bagian buah, bunga, dan daun Solanum torvum mengandung saponin dan
flavonoid, selain itu bunga dan daunnya juga mengandung alkaloid dan
tannin (Haris, 2015)

6.1.4 Khasiat Tanaman


Penggunaan herba asal terong pipit telah dilakukan turun temurun,
dengan berbagai cara penyiapan. Sedangkan Farmakologi Cina
9

menyebutkan, tanaman terong pipit memiliki rasa pahit, pedas, sejuk dan
agak beracun, tanaman ini juga mampu melancarkan sirkulasi darah,
menghilangkan rasa sakit (analgesik) dan menghilangkan batuk (antitusif).
Tanaman terong pipit memiliki aktivitas pembersih superoksida yang tinggi
yakni di atas 70%. Kandungan kimia yang terdapat pada terong pipit
mampu bertindak sebagai antioksidan dan dapat melindungi jaringan tubuh
dari efek negatif radikal bebas, selain sebagai anti radang karena memiliki
senyawa sterol carpesterol dan juga sebagai alat kontrasepsi karena buah
dan daunnya mengandung solasodin 0,84%, yang merupakan bahan baku
hormon seks untuk kontrasepsi. Kandungan solasodin dalam biji dan lendir
buah mencapai 5,5 %, senyawa tersebut telah diuji ternyata dapat mencegah
kehamilan pada hewan percobaan seperti tikus (Sirait, 2009).

6.2 Metabolit Sekunder


6.2.1 Senyawa Flavonoid
Flavonoid merupakan senyawa metabolit sekunder yang banyak
dijumpai pada tumbuh-tumbuhan. Yang termasuk kelompok flavonoid
adalah flavon, flavonol dan sedikit tanin. Flavonoid terdapat dalam berbagai
wama didalam jaringan tanaman, dan memiliki sifat insektisidal (Haris,
2015).
Flavonoid merupakan salah satu jenis komponen yang terkandung
dalam tanaman, dan dapat ditemukan pada semua tanaman vaskuler.
Flavonoid adalah komponen yang mempunyai berat molekul rendah, dan
pada dasarnya merupakan phenylbenzopyrones (phenylchromones) dengan
berbagai variasi pada struktur dasarnya, yaitu tiga cincin utama yang saling
melekat. Struktur dasar ini terdiri dari dua cincin benzene (A dan B) yang
dihubungkan melalui cincin heterosiklik piran atau piron (dengan ikatan
ganda) yang disebut cincinC (Rahmat, 2009).
Flavonoid memiliki ciri yaitu berbau yang tajam dan
berpigmen dan larut dalam air. Flavonoid memiliki peranan sebagai
10

antimikroba dan antivirus. Dinding bakteri yang terkena flavonoid


akan kehilangan permeabilitas sel. Flavonoid merupakan senyawa
fenol. Pada penelitian yang dilakukan oleh Ajizah, (2007)
menunjukkan bahwa ekstrak kayu ulin yang mengandung flavonoid
dapat menghambat pertumbuhan bakteri S. Aureus dengan cara
menggangu permeabilitasan dinding sel bakteri (Karlina, 2013).
6.2.2 Senyawa Alkaloid
Alkaloid merupakan golongan senyawa aktif tumbuhan yang terbesar
(Munfaati, 2015). Alkaloid memiliki kemampuan sebagai antibakteri
(Kurniawan dan Wayan, 2015). Mekanisme kerja senyawa alkaloid dalam
menghambat pertumbuhan bakteri memiliki kesamaan dengan mekanisme
kerja antibiotik kloramfenikol yaitu dengan cara menghambat pembentukan
sintesis protein sehingga dapat mengganggu metabolisme bakteri

6.2.3 Senyawa Saponin


Menurut Widodo (2005) dalam Karlina (2013), saponin
merupakan metabolit sekunder yang banyak terdapat dialam.
Saponin ini berasa pahit, berbusa dalam air dan bersifat antimikroba.
Dalam menekan pertumbuhan bakteri, saponin dapat menurunkan
tegangan permukaan dinding sel. Menurut Pratiwi (2008), senyawa
saponin merupakan zat yang apabila berinteraksi dengan dinding
bakteri maka dinding tersebut akan pecah atau lisis. Saponin akan
mengganggu tegangan permukaan dinding sel, maka saat tegangan
permukaan tergangguzat antibakteri akan dat dengan mudah masuk
kedalam sel dan akan mengganggu metabolisme hingga akhirnya
terjadilah kematian bakteri.
6.2.4 Senyawa Tanin
Menurut Harborne (1987) dalam Hikmah (2016), tanin terdapat luas
dalam tumbuhan berpembuluh, dalam angiospermae terdapat khusus dalam
jaringan kayu. Secara kimia terdapat 2 jenis utama tanin, yaitu tanin
terkodensasi dan tanin terhidrolisiskan. Tanin terkodensasi terdapat di dalam
11

paku-pakuan, gymnospermae dan paling banyak pada angiospermae


sedangkan tanin terhidrolisiskan penyebarannya terbatas pada tumbuhan
berkeping 2. Menurut batasannya, tanin dapat bereaksi dengan proteina
membentuk kopolimer yang tak terlarut dalam air. Tanin memiliki struktur
C34H29O21.
Menurut Pratiwi (2008), senyawa tannin mampu menghambat
pertumbuhan bakteri dengan cara mengkoagulasi protoplasma
bakteri. Menurut Masduki (1996) dalam Karlina (2013), tanin
memiliki peran sebagai antibakteri dengan cara mengikat protein
sehingga pembentukan dinding sel akan terhambat. Mekanisme
penghambatan tanin yaitu dengan cara dinding bakteri yang telah
lisis akibat senyawa saponin dan flavonoid, sehingga menyebabkan
senyawa tanin dapat dengan mudah masuk ke dalam sel bakteri dan
mengkoagulase protoplasma sel bakteri.

6.3 Bakteri Patogen


Bakteri patogen merupakan bakteri yang dapat menimbulkan
penyakit. Ciri-ciri bakteri patogen yaitu menularkan penyakit pada sel
inang, meracuni, serta mampu untuk menghindar dari sistem kekebalan
tubuh sel inang (Haris, 2015).
Banyak bakteri patogen mampu menyerang seluruh bagian tubuh
inang meskipun bakteri tersebut hanya berkoloni di satu tempat saja. Hal itu
dikarenakan bakteri mengeluarkan toksin. Toksin dibedakan menjadi dua,
yaitu endotoksin dan endotoksin (Purwoko, 2007) dalam (Haris, 2015).
Eksotoksin merupakan protein yang diproduksi dan dikeluarkan oleh
bakteri patogen sehingga toksin tersebut dapat terbawa ke peredaran darah
sampai ke seluruh bagian tubuh inang. Endotoksin merupakan lipid dan
termasuk dalam bagian lipopolisakarida. Endotoksin diproduksi oleh bakteri
gram negatif. Ketika bakteri patogen hidup, efek endotoksin terhadap inang
lemah, tetapi ketika mati dan lisis efek endotoksin menjadi kuat (Purwoko,
2007) dalam (Haris, 2015)
12

Menurut Radji dan Biomed (2010), beberapa jenis bakteri patogen


beserta penyakit yang ditimbukannya pada manusia dapat dilihat tabel 1.
Tabel 1. Beberapa bakteri patogen beserta penyakit yang ditimbulkannya
Bakteri patogen Penyakit
Bakteri Gram-Negatif
Escherichia coli Gastroenteritis, meningitis neonatus
E. coli O157:H7 Diare, sindrom uremik hemolitik (HUS)
Salmonella enterica Gastroenteritis
Salmonella typhi Demam tifoid
Shigella dysentriae Disentri bassiler
Yersinia pestis Sampar bubonik (Bubonic plague)
Pseudomonas aeruginosa Infeksi oportunistik, selulitis, pneumonia
Vibrio cholerae Kolera
Bordetella pertussis Batuk rejan (pertusis)
Haemophilus influenzae Meningitis, pneumonia, sinusitis
Helicobacter pylori Ulkus usus dan lambung
Campylobacter jejuni Gastroenteritis
Neisseria gonorrhoeae Gonore
Neisseria meningitidis Meningococcemia dan meningitis
Brucella abortus Demam
Bacteroides fragilis Infeksi anaerob
Bakteri Gram-positif
Staphylococcus aureus Keracunan makanan, bisul, sindrom renjat toksik
Staphylococcus pyogenes Sakit kerongkongan, scarlet fever, mastitis
(Strep Group A)
Staphylococcus pneumoniae Pneumonia, otitis media, meningitis
Bacillus anthracis Antraks
Bacillus cereus Keracunan makanan
Clostridium tetani Tetanus
Clostridium perfringens Keracunan makanan, gangrem, infeksi uterus
Clostridium botulinum Botulisme
Clostridium difficile Diare, pseudomembranous colitis
Corynebacterium diphtheriae Difteri
Listeria monocytogenes Listeriosis

6.4 Tinjauan Shigella dysentriae


13

6.4.1 Klasifikasi
Kedudukan Shigella dysentriae dalam taksonomi menurut Brook (2005),
yaitu :
Kingdom : Animalia
Phylum : Proteobacteria
Classis : Gamma Proteobacteria
Ordo : Enterobacteriales
Familia : Enterobacteria
Genus : Shigella
Species : Shigella dysentriae

6.4.2 Deskripsi Shigella dysentriae

Gambar 5. Koloni bakteri Shigella dysentriae


(Sumber: Lounatmaa)
Bakteri Shigella dysentriae berbentuk batang pendek, berdiameter 0,4-
0,6 mikron dan panjangnya 1-3 mikron. Tidak bergerak, tidak berspora,
tidak berselubung, dan merupakan bakteri gram negatif. Shigella dysentriae
tersebar luas di seluruh dunia dan bersifat epidemik. Kuman ini disebarkan
oleh serangga terutama lalat yang hinggap pada feses penderita disentri dan
disebarkan pula melalui makanan dan minuman serta infeksi melalui oral
(Misnadiarly dan Djajaningrat, 2014). Habitat alami bakteri Shigella
dysentriae terbatas pada sistem saluran intestinal manusia dan binatang
14

menyusui. Bakteri Shigella dysentriae menghasilkan toksin yang disebut


shigatoksin, dimana mereka sebagai agen disentri basiler (Brooks et al,
2005).
Menurut Misnadiarly dan Djajaningrat (2014) Bakteri Shigella
dysentriae ini bersifat aerob dan fakultatif aerob. Shigella dysentriae hidup
pada suhu optimal 37C dan pH 6,4-7,8. Shigella dysentriae dapat tumbuh
di media sederhana (bouillon) dan agar bouillon. Shigella dysentriae
biasanya tumbuh di media padat dengan koloni bulat, konvek, dan tidak
berwarna. Tepi dan permukaannya rata, tetapi kadang terdapat benjolan.
Koloni pada isolasi primer/ subkultur tampak lebih besar transparan dan
tepinya bergerigi (Hikmah, 2016)

6.5 Zat Antibakteri


Pertumbuhan mikroorganisme dapat dikendalikan melalui proses
kimia maupun fisika. Pengendalian dapat berupa pembasmian dan
penghambatan populasi mikroorganisme. Zat antibakteri adalah suatu
senyawa, yang dalam konsentrasi kecil mampu menghambat bahkan
membunuh suatu mikroorganisme yang merugikan manusia (Haris, 2015).
Menurut Pelczar dan Chan (1988) dalam Hikmah (2016), zat antibakteri
bekerja dengan beberapa cara atau salah satu dari cara berikut :

1. Merusak dinding sel.

Struktur dinding sel dapat dirusak dengan cara menghambat pembentukkannya


atau mengubah setelah selesai terbentuk.

2. Perubahan permeabilitas sel.

Membran sitoplasma mempertahankan bahan-bahan tertentu di dalam sel serta


mengatur aliran keluar-masuknya bahan-bahan lain. Membran memelihara
integritas komponen-komponen selular. Kerusakan pada membran ini akan
mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan sel atau matinya sel.

3. Perubahan molekul protein dan asam nukleat.


15

Hidupnya suatu sel bergantung pada terpeliharanya molekul-molekul protein


dan asam nukleat dalam keadaan alamiahnya. Suatu kondisi atau substansi
yang mengubah keadaan ini, yaitu mendenaturasikan protein dan asam-asam
nukleat dapat merusak sel tanpa dapat diperbaiki kembali. Suhu tinggi dan
konsentrasi pekat beberapa zat kimia dapat mengakibatkan koagulasi
(denaturasi) irreversibel (tak dapat balik) komponen-komponen selular yang
vital ini.

4. Penghambatan kerja enzim.

Setiap enzim dari beratus-ratus enzim berbeda-beda yang ada di dalam sel
merupakan sasaran potensial bagi bekerjanya suatu penghambat. Banyak zat
kimia telah diketahui dapat mengganggu reaksi biokimiawi. Penghambatan ini
dapat mengakibatkan terganggunya metabolisme atau matinya sel.

6.6 Uji Daya Antimikroba


Menurut Pratiwi (2008) Pada uji antimikroba mengukur respons
pertumbuhan populasi mikroorganisme terhadap agen antimikroba. Tujuan
assay antimikroba (termasuk antibiotik dan substansi antimikroba
nonantibiotik, misalnya fenol, bisfenol, aldehid), adalah untuk menentukan
potensi dan kontrol kualitas selama proses produksi senyawa antimikroba di
pabrik, untuk menentukan farmakokinetik obat pada hewan atau manusia,
dan untuk memonitor dan mengontrol kemoterapi obat. Kegunaan uji
antimikroba adalah diperolehnya suatu sistem pengobatan yang efektif dan
efisien. Terdapat bermacam-macam metode uji antimikroba seperti yang
dijelaskan berikut ini.
6.6.1 Metode difusi
a. Metode disc difusion (tes Kirby & Bauer)
Untuk menentukan aktivitas agen antimikroba. Piringan yang berisi
agen antimikroba diletakkan pada media Agar yang telah ditanami
mikroorganisme yang akan berdifusi pada media Agar tersebut. Area jernih
16

mengindikasikan adanya hambatan pertumbuhan mikroorganisme oleh agen


antimikroba pada permukaan media Agar (lihat Gambar 6).

Gambar 6. Difusi Cakram)


(Sumber: Pratiwi, 2008)
Cakram kertas saring berisi sejumlah tertentu obat ditempatkan pada
permukaan medium padat yang sebelumnya telah diinokulasi bakteri uji
pada permukaannya. Setelah inkubasi, diameter zona hambatan sekitar
cakram dipergunakan mengukur kekuatan hambatan obat terhadap
organisme uji. Metode ini dipengaruhi oleh beberapa faktor fisik dan kimia,
selain faktor antara obat dan organisme (misalnya sifat medium dan
kemampuan difusi, ukuran molekular dan stabilitas obat). Meskipun
demikian, standardisasi faktor-faktor tersebut memungkinkan melakukan uji
kepekaan dengan baik (Brooks, 2008)
Interpretasi terhadap hasil uji difusi baru didasarkan pada
perbandingan terhadap metode dilusi. Beberapa data perbandingan bisa
digunakan sebagai standar referensi. Grafik regresi linier dapat
menunjukkan hubungan antara log KHM pada cara dilusi dan diameter zone
hambatan pada cara difusi cakram (Brooks, 2008)
Penggunaan cakram tunggal pada setiap antibiotik dengan
standardisasi yang baik, bisa menentukan apakah bakteri peka atau resisten
dengan cara membandingkan zona hambatan standar bagi obat yang sama.
Daerah hambatan sekitar cakram yang berisi sejumlah tertentu antimikrobia
17

tidak mencerminkan kepekaan pada obat dengan konsentrasi yang sama per
mililiter media, darah atau urin (Brooks, 2008)
b. Metode E-test
Metode E-test digunakan untuk mengestimasi MIC (minimum
inhibitory concentration) atau KHM (kadar hambat minimum), yaitu
konsentasi minimal suatu agen antimikoba untuk daat menghambat
pertumbuhan mikroorganisme.
Pada metode ini digunakan strip plastik yang mengandung agen
antimikroba dari kadar terendah hingga tertinggi dan diletakkan pada
pemukaan media Agar yang telah ditanami mikroorganisme. Pengamatan
dilakukan pada area jernih yang ditimbulkannya yang menunjukkan kadar
agen antimikroba yang menghambat pertumbuhan mikroorganisme pada
media Agar (lihat Gambar 7).

Gambar 7. Metode E Test


(Sumber: Pratiwi, 2008)

c. Ditch-plate technique
Pada metode ini sampel uji berupa agen antimikroba yang diletakkan
pada parit yang dibuat dengan cara memotong media Agar dalam cawan
petri pada bagian tengah secara membujur dan mikroba uji (maksimum 6
macam) digoreskan ke arah parit yang berisi agen antimikroba.
18

d. Cup-plate technique
Metode ini serupa dengan metode disc diffusion, di mana dibuat
sumur pada media Agar yang telah ditanami dengan mikroorganisme dan
pada sumur tersebut diberi agen antimikroba yang akan diuji.
e. Gradient-plate technique
Pada metode ini konsentrasi agen antimikroba pada media Agar secara
teoretis bervariasi dari 0 hingga maksimal. Media Agar dicairkan dan
larutan uji ditambahkan. Campuran kemudian dituang ke dalam cawan Petri
dan diletakkan dalam posisi miring. Nutrisi kedua selanjutnya dituang di
atasnya.
Plate diinkubasi selama 24 jam untuk memungkinkan agen
antimikroba berdifusi dan permukaan media mengering. Mikroba uji
(maksimal 6 macam) digoreskan pada arah mulai dari konsentrasi tinggi ke
rendah. Hasil diperhitungkan sebagai panjang total pertumbuhan
mikroorganisme maksimum yang mungkin dibandingkan dengan panjang
pertumbuhan hasil goresan.
x = panjang total pertumbuhan mikroorganisme yang mungkin
y = panjang pertumbuhan aktual
c = konsentrasi tina! agen antimikroba pada total volume media mg/ml.
atau g/mL, malta lwnsentmsi hambatan adalah. [(KJ)]: C mg/mL atau W
ml.
Yang perlu diperhatikan adalah dari hasil perbandingan yang didapat
dari lingkungan padat dan cair, faktur difusi antimikroba dapat
mempengaruhi keseluruhan hasil pada media padat.

6.6.2 Metode dilusi


Metode diiusi dibedakan menjadi dua yaitu dilusi cair (broth dilution)
dan dilusi padat (solid dilution).
a. Metode dilusi cair/broth dilution (serial dilution)
19

Metode ini mengukur MIC (minimum inhibitory concentration atau


kadar hambat minimum, KHM) dan MBC (minimum bactertcidal
concentration atau kadar bunuh minimum, KBM). Cara yang dilakukan
adalah dengan membuat seri pengenceran agen antimikroba pada medium
cair yang ditambahkan dengn mikroba uji (lihat Gambar 3). Larutan uji agen
antimikroba pada kadar terkecil yang terlihat jernih tanpa adanya
pertumbuhan mikroba uji ditetapkan sebagai KHM. Larutan yang ditetapkan
sebagai KHM tersebut selanjutnya dikuitur ulang pada media air tanpa
penambahan mikroba uji ataupun agen antimikroba, dan diinkubasi selama
18-24 jam. Media cair yang tetap terlihat jernih setelah inkubasi ditetapkan
sebagai KBM.
Metode dilusi padat/solid dilution test Metode ini serupa dengan
metode dilusi cair namun menggunakan media padat (solid). Keuntungan
metode ini adalah satu konsentrasi agen antimikroba yang diuji dapat
digunakan untuk menguji beberapa mikroba uji (Brooks, 2008).
Uji kepekaan cara dilusi agar memakan waktu dan penggunaannya
dibatasi pada keadaan tertentu saja. Uji kepekaan dilusi cair dengan
menggunakan tabung reaksi, tidak praktis dan jarang dipakai; namun kini
ada cara yang lebih sederhana dan banyak dipakai, yakni menggunakan
microdilution plate. Keuntungan uji mikrodilusi cair adalah bahwa uji ini
memberi hasil kuantitatif yang menunjukkan jumlah antimikrobia yang
dibutuhkan untuk mematikan bakteri (Brooks, 2008).
20

Gambar 8. Metode Dilusi Cair


(Sumber: Pratiwi, 2008)

6.7 Ekstraksi
Ekstrak adalah suatu proses pemisahan substansi dari campurannya dengan
menggunakan pelarut yang sesuai (Kristanti, 2008). Ekstrak berupa sediaan yang
diperoleh melalui senyawa aktif dari simplisia nabati dan simplisia hewani
menggunakan pelarut. Cara ekstraksi menggunakan pelarut ada 2, yaitu cara
dingin dan cara panas. Ekstraksi cara dingin ada 2 macam metode, yaitu metode
maserasi dan perkolasi sedangkan esktrak panas terdiri dari 6 macam metode,
yaitu soxhletasi, refluks, digesti, dekok, dan infusa (Ditjen POM, 2000).

Sediaan yang paling sering digunakan dalam penyarian adalah maserasi,


perkolasi, soxhletasi, dan infusa. Pembuatan penyarian yang paling praktis yaitu
Infusa dengan pelarut air. Infusa terdiri dari bahan kering yang harus mudah
digerus menjadi serbuk. Infus adalah sediaan cair yang dibuat dengan
menyaringsimplisia nabati dengan air pada suhu 90C selama 15 menit.
Pembuatannya mencampur simplisia dengan air 2x bobot simplisia, kemudian
dipanaskan di atas penangas air selama 15 menit terhitung mulai suhu mencapai
90C sambil sekali-sekali diaduk. Serkai/ saring selagi panas menggunkan kain
21

flannel, tambahkan air panas secukupnya melalui ampas hingga diperoleh volume
infus yang dikehendaki (Ditjen POM, 1979). Infus diserkai selagi panas, kecuali
infus simplisia yang mengandung minyak atsiri diserkai setelah dingin (Ditjen
POM, 2000).

6.8 Metode Eksperimen

Berdasarkan Books (2008) ada 2 metode pada percobaan/eksperimen yang


dilakukan pada organisme hidup, yaitu :
1 In vivo
In vivo adalah eksperimen dengan menggunakan keseluruhan hidup
organisme, dalam sesuatu yang hidup. Suatu percobaan yang dilakukan di dalam
tubuh hewan atau manusia yang masih hidup, untuk menjelaskan keadaan atau
percobaan pertumbuhan dalam keadaan alamiah sel atau jaringan hidup, jadi
bukan dalam medium buatan.
2. In vitro
In vitro adalah percobaan yang dilakukan dalam laboratorium misalnya
dalam gelas kimia atau tebung reaksi. Dilakukan tidak dalam organisme hidup
tetapi dalam lingkungan terkontrol, misalnya di dalam tabung reaksi atau cawan
petri.

6.9 Kategori Uji Kepekaan Antibakteri


Ada 3 kategori uji kepekaan antibakteri menurut Clinical And
Laboratory Standards Institute (2012) :
1. Peka, kategori yang menunjukkan bahwa isolat bakteri dihambat oleh
konsentrasi yang biasanya dapat dicapai agen antibakteri ketika dosis yang
direkomendasikan untuk mengobati tempat infeksi digunakan.

2. Intermediet, kategori yang mencakup isolat bakteri dengan konsentrasi


hambat minimal agen antibakteri yang mendekati kebiasaan yang dapat
dicapai pada tingkat darah dan jaringan, dan dimana tingkat respons lebih
rendah daripada isolat bakteri yang peka.

3. Resisten, kategori yang menunjukkan bahwa isolat bakteri tidak dihambat


oleh konsentrasi yang biasanya dapat dicapai oleh agen dengan dosis yang
22

normal dan /atau yang menunjukkan diameter zona hambat yang jatuh dalam
kisaran mekanisme resistensi mikroba tertentu.

Konsentrasi hambat minimal (KHM) / Minimum Inhibitory


Concetrations (MIC) berbanding terbalik dengan besarnya zona hambat, hal
ini dapat dilihat dari kriteria interpretatif kepekaan agen antibakteri.

Tabel 2. Kriteria interpretatif kepekaan agen antibakteri

Kriteria MIC (g/mL) Zona Diameter (mm)

Peka 4 20
Intermediet 8-16 15-19
Resisten 32 14

6.10 Penelitian yang relevan


Beberapa penelitian relevan yang telah dilakukan dalam upaya
menghasilkan antibakteri seperti Rasyid, (2013) telah melakukan Uji
Efektivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Takokak (Solanum torvum)
Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus dan bakteri Escherichia coli
dengan hasil penelitiannya menunjukkan bahwa bahwa ekstrak etanol daun
takokak (Solanum torvum) dapat menghambat pertumbuhan bakteri
Staphylococcus aureus dan bakteri Escherichia coli pada konsentrasi 25%
dengan diameter daerah hambat masing-masing sebesar 20 mm dan 17 mm.
Penelitian lainnya yang dilakukan oleh Rokhmawati (2014) yaitu Daya
Antibakteri Ekstrak Buah Takokak (Solanum torvum Swartz) terhadap
Pertumbuhan Streptococcus mutans dengan hasil penelitian menunjukkan
ekstrak buah takokak mampu menghambat pertumbuhan S. mutans. Selain
itu ada pula penelitian yang dilakukan oleh Sari (2013) yaitu Uji Aktivitas
Antibakteri Infusa daun Sirsak (Annona muricata L.) Secara in Vitro
terhadap Staphylococcus aureus ATCC 25923 dan Escherichia coli ATCC
35218 Serta Profil Kromatografi Lapis Tipisnya dengan hasil penelitian nilai
Kadar Bunuh Minimum (KBM) infusa daun sirsak terhadap Staphylococcus
23

aureus ATCC 25923 pada konsentrasi 85% b/v dan untuk Escherichia coli
ATCC 35218 sampai pada konsentrasi 100% b/v tidak dapat membunuh
atau tidak poten.

6.11 Poster Sebagai Media Pembelajaran


Banyak masyarakat umum yang tidak mengenal khasiat daun terong
pipit (Solanum torvum), jadi penelitian ini dapat membantu mengenalkan
daun terong pipit (Solanum torvum), kepada masyarakat umum terutama
mahasiswa, media yang digunakan adalah media poster..

Poster adalah sebagai kombinasi visual dari rancangan yang kuat,


dengan warna, dan pesan dengan maksud untuk menangkap perhatian
orang. Poster disebut juga plakat, lukisan atau gambar yang dipasang untuk
mendapatkan perhatian yang cukup sebagai media untuk menyampaikan
informasi, saran, pesan dan kesan, ide dan sebagainya (Rochani, 2009)

Poster hasil penelitian merupakan publikasi dari karya ilmiah yang


dibuat dalam bentuk poster. Poster hasil penelitian memuat bagian-bagian
dari karya ilmiah seperti abstrak, tujuan penelitian juga hasil penelitian.
Menurut Suhardiyanto (2012) susunan poster karya ilmiah adalah sebagai
berikut :

1. Pendahuluan yang berisi latar belakang


2. Tujuan
3. Metode
4. Hasil dan pembahasan
5. Kesimpulan
6. Daftar pustaka
Menurut Sukiman (2012) poster atau plakat secara bahasa diartikan
sebagai gambar ataupun tulisan yang ditempelkan di dinding, tembok dan
tempat-tempat umum untuk menyampaikan pengumuman atau iklan kepada
masyarakat luas. Poster memiliki kekuatan yang dramatik yang begitu tinggi
memikat dan menarik perhatian demi kepentingan produksinya. Sebagai
media pembelajaran poster memiliki kelebihan, di antaranya adalah :
24

1. Dapat membantu guru dalam menyampaikan pelajaran dan membantu


peserta didik belajar
2. Menarik perhatian, dengan demikian mendorong peserta didik untuk
lebih giat belajar
3. Dapat dipasang atau ditempelkan di mana-mana, sehingga memberi
kesempatan kepada peserta didik untuk mempelajari dan mengingat
kembali apa yang telah dipelajari
4. Dapat menyarankan perubahan tingkah laku kepada peserta didik yang
melihatnya.

6.12 Penelitian Eksperimen

6.13 Hipotesis Penelitian


Hipotesis dalam penelitian ini adalah
Ha : Ekstrak daun terong pipit (Solanum torvum) pada daun ke 1 sampai daun
ke 5 dari pucuk mampu menghambat pertumbuhan bakteri Shigella
dysentriae secara nyata.

H0 : Ekstrak daun terong pipit (Solanum torvum) pada daun ke 1 sampai daun
ke 5 dari pucuk tidak mampu menghambat pertumbuhan bakteri Shigella
dysentriae secara nyata.

Gambar 9. Kerangka konseptual Penelitian

Daun terong pipit kurang


bermanfaat

Ekstrak daun terong pipit Bakteri Shigella


dysentriae
25

Flavonid Alkaloid Saponin Tanin


Menyebabkan
Infeksi/Disentri
Mekanisme Zat Antibakteri bassiler

Pertumbuhan Shigella dysentriae


terhambat

Infeksi disentri dapat diatasi


26

VII. METODE PENELITIAN

7.1 Jenis Penelitian


Jenis penelitian ini adalah eksperimen secara in vitro melalui pengukuran
lebar zona hambat pertumbuhan bakteri Shigella dysentriae berdasarkan
konsentrasi hambat minimal. Pada penelitian ini terdapat 2 variabel, yaitu variabel
bebas dan variabel terikat. Varibel bebas dalam penelitian ini adalah konsentrasi
infusa daun terong pipit (Solanum torvum) sedangkan variabel terikatnya adalah
lebar zona hambat pertumbuhan bakteri Shigella dysentriae.

7.2 Rancangan Penelitian


Metode uji daya antibakteri menggunakan metode difusi cakram kertas (disk
diffusion method). Sebelum melakukan pengujian tersebut dilakukan terlebih
dahulu uji pendahuluan yaitu uji konsentrasi hambat minimal (KHM) infusa daun
terong pipit terhadap Shigella dysentriae. Konsentrasi Hambat Minimal dilakukan
dengan membuat deret konsentrasi infusa daun terong pipit (Solanum torvum) dari
konsentrasi 50%, 25%, 12,5%, 6,25%, dan 3,125%. Berdasarkan hasil uji
konsentrasi hambat minimal (KHM) akan diperoleh data bahwa konsentrasi
hambat minimal infusa terong pipit terhadap Shigella dysentriae yaitu X%.
Konsentrasi terserbut akan dibuat 5 perlakuan yaitu (X-10%), (X-5%), (X%),
(X+5%), (X+10%) untuk uji daya antibakteri ditambah dengan 2 perlakuan
kontrol yaitu kontrol positif menggunakan antibiotik ampisilin dan kontrol negatif
menggunakan aquadest. Banyaknya pengulangan mengikuti rumus Federer, yaitu
sebagai berikut: ( t 1 ) x ( n 1 ) 15, dimana t adalah jumlah perlakuan,
sedangkan n adalah jumlah replikasi (Pratiwi, 2011).
( t - 1 ) x ( n - 1 ) 15
( 7 - 1 ) x ( n - 1 ) 15
6 ( n -1) 15
6 n 15 + 6
n 3,5
n=4
27

Adapun rancangan konsentrasi seperti pada Tabel 2.

Tabel 2. Rancangan konsentrasi untuk uji daya antibakteri infusa daun terong
pipit (solanum torvum) dalam menghambat pertumbuhan bakteri
Shigella dysentriae secra in vitro

Pengulangan
Kelomok
Perlakuan
I II III IV

Kontrol
Negatif A1 A2 A3 A4
(Aquadest)

X-10% B1 B2 B3 B4

X-5% C1 C2 C3 C4

X% D1 D2 D3 D4

X+5% E1 E2 E3 E4

X+10% F1 F2 F3 F4

Kontrol
Positif G1 G2 G3 G4
(Ampisilin)

Gambar 10. Diagram Alir Rancangan Penelitian.

Mulai Daun Terong Pipit

Daya Hambat
Infusa
UjiPertumbuhan
UjiData
Difusi
KHMCakram
Daya
?
terhadap
terhadap
Hambat (X)
50% 25% Shigella12,5% Ya
Shigella dysentriae
dysentriae 6,25% 3,125%
28

Tidak
Revisi

Aquadest X-10 X-5 X X+5 X+5 Antibiotik

Data Lebar Zona


Hambat

Selesai

7.3 Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan selama 4 bulan yaitu dari bulan september 2016
sampai dengan bulan Desember 2016 yang meliputi tahap persiapan (pembuatan
29

proposal dan perizinan), pengambilan data, pengolahan data, validasi instrumen,


penyusunan skripsi.

7.4 Tempat Penelitian

Pembuatan infusa terong pipit, medium bakteri, suspensi bakteri, penentuan


KHM, dan uji daya antibakteri dilakukan di Laboratorium Biologi FKIP ULM
Banjarmasin yang beralamat di Jl. Brigjen H. Hasan Basry.

7.5 Populasi dan Sampel Penelitian


Populasi penelitian ini adalah daun terong pipit (Solanum torvum) yang
ada di Kecamatan Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
Adapun sampel penelitian ini adalah daun terong pipit (Solanum torvum) dari
daun ke 1 sampai daun ke 5 dari pucuk yang diambil di sekitar Kecamatan
Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan sebanyak 300 gram.

7.6. Teknik Pengambilan Sampel


Pengambilan daun terong pipit (Solanum torvum) pada penelitian ini adalah
dengan teknik purposive (teknik penentuan sampel untuk tujuan tertentu). Daun
terong pipit (Solanum torvum) yang digunakan adalah daun ke 1 sampai ke 5 dari
pucuk yang tumbuh di sekitar Kecamatan Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin,
Kalimantan Selatan. Menurut Rusmiyati dalam Tuna (2015) daun ke 1-5 dari
pucuk merupakan daun yang masih segar sehingga kandungan zat antibakteri
masih banyak sedangkan pada daun yang sudah tua kandungan metabolit
sekunder sudah berkurang. Sebagai objek penelitian digunakan bakteri Shigella
dysentriae. Bakteri Shigella dysentriae yang digunakan pada penelitian ini
diperoleh dari biakan murni yang ada di Laboratorium Biologi PMIPA FKIP ULM
Banjarmasin.

7.7 Alat dan Bahan


7.7.1 Alat dan bahan yang digunakan dalam pembuatan infusa adalah,
sebagai berikut :
a) Alat
30

Pisau, blender, oven, penangas air/ waterbath, neraca analitik,


penyaring dari kain flanel, saringan, labu erlenmeyer, batang
pengaduk, pipet volumetrik, gelas kimia, tabung reaksi, kertas
label, dan alumunium foil.
b) Bahan
Daun terong pipit (Solanum torvum) dan aquadest.
7.7.2 Alat dan bahan yang digunakan untuk pembuatan medium bakteri uji
dalam penelitian ini yaitu :
a. Alat
Gelas kimia, pengaduk kaca, baki, corong kaca, labu erlenmeyer,
cawan petri, tabung reaksi, kulkas, lampu bunsen, neraca analitik, Hot
plate dan stirrer, dan autoklaf.
b. Bahan
Mueller Hillton Agar (MH) Agar, aquadest, kertas pembungkus, dan
kapas.
7.7.3 Alat dan bahan yang digunakan untuk pembiakan bakteri dan
pembuatan suspensi bakteri uji dalam penelitian ini yaitu :
a. Alat
Tabung reaksi berisi MH agar bidang datar, tabung reaksi kosong
steril, cawan petri berisi MH agar, jarum oase, lampu bunsen, dan
inkubator.
b. Bahan
Biakan murni Shigella dysentriae, MH agar, NaCl 0,9 %, dan Mc.
Farland 0,5.

7.5.4 Alat dan bahan yang digunakan untuk menentukan konsentasi hambat
minimal (KHM) atau Minimum Inhibitory Concretations (MIC) dengan
metode dilusi, sebagai berikut :
a) Alat
Tabung reaksi, inkubator, spidol, penggaris, cawan petri, kertas
label, pembakar spiritus, colony counter, dan pipet volumetrik.
b) Bahan
Suspensi bakteri Shigella dysentriae sesuai Mc. Farland 0,5, MH
Agar, dan infusa daun terong pipit dengan konsentrasi 3,125 %,
6,25 %, 12,5%, 25%, dan 50%,
7.5.5 Alat dan bahan yang digunakan untuk uji daya antibakteri dengan
metode cakram kertas adalah, sebagai berikut :
31

a. Alat
Cawan petri steril, cakram kertas (Paper disk), inkubator, pinset,
tabung reaksi, pembakar spiritus, jangka sorong, botol penyimpanan
infusa dan pipet volumetrik.
b. Bahan
MH agar, biakan murni Shigella dysentriae, antibiotik ampisilin,
aquadest, infusa daun terong pipit (Solanum torvum) dengan
konsentrasi (X-10%), (X-5%), (X%), (X+5%), (X+10%), dimana X
adalah nilai KHM.

7.8 Prosuder Kerja


a. Langkah-langkah dalam proses pembuatan infusa adaptasi dari Ditjen
POM (1979) dalam Hikmah (2016) :
1) Mengambil sampel daun daun terong pipit (Solanum torvum) yang ada di
Kecamatan Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
kemudian menimbang daun terong pipit (Solanum torvum) seberat 300
gram.
2) Mencuci daun daun terong pipit (Solanum torvum) dengan air mengalir
kemudian membungkus daun terong pipit (Solanum torvum) yang telah
di bersihkan dengan alumunium foil dan memasukkannya pada plastik
sampel
3) Pada tahap awal, terlebih dahulu membuat simplisia (bahan alami yang
dipergunakan sebagai obat dan belum mengalami pengolahan kecuali
pengeringan), yaitu dengan cara mengeluarkan daun terong pipit
(Solanum torvum) dari plastik sampel dan bungkus alumunium foil
kemudian mencuci kembali daun terong pipit (Solanum torvum) yang
digunakan sebagai sampel.
4) Mencincang kecil-kecil daun terong pipit (Solanum torvum)
menggunakan pisau.
5) Mengeringkan daun terong pipit (Solanum torvum) yang telah dicincang
menggunakan oven dengan suhu 60C sehingga airnya tidak ada lagi,
selama 20 jam.
6) Memblender hingga halus menjadi serbuk (terbentuk simplisia).
7) Menimbang simplisia daun terong pipit (Solanum torvum) yang telah
dihaluskan sebanyak 50 gram dengan neraca analitik, kemudian merebus
32

daun terong pipit (Solanum torvum) yang telah halus dengan aquadest
sebanyak 100 ml {100 ml di dapat dari ketentuan banyaknya pelarut = 2
x bobot sampel yang digunakan (2 x 50 gram = 100 ml) }, dengan suhu
90 C selama 15 menit.
8) Merebus aquadest selama 25 menit menggunakan penangas air (10 menit
untuk mencapai suhu 90C tanpa dimasukkan simplisia, setelah 10 menit
baru dimasukkan simplisia api-api dan merebusnya selama 15 menit
untuk proses infusa sambil sesekali diaduk).
9) Menyerkai/ menyaring hasil infusa dengan kain flanel dan saringan,
kemudian filtrat hasil saringan ditampung pada gelas kimia.
10) Larutan dalam gelas kimia kemudian dipindahkan ke dalam labu
erlenmeyer dan ditutup menggunakan alumunium foil.
11) Membuat infusa dengan konsentrasi deret konsentrasi 50%, 25%, 12,5%,
6,25%, dan 3,125% sebanyak 10 ml tiap konsentrasi untuk pengujian
konsentrasi hambat minimal (KHM), dengan cara :
a) Konsentrasi 50 % 10 ml = 5 ml ekstrak + 5 ml aquades, lalu
homogenkan.
b) Konsentrasi 25 % 10 ml = 5 ml ekstrak dari konsentrasi 50 % +
5 ml aquades, lalu homogenkan.
c) Konsentrasi 12,5 % 10 ml = 5 ml ekstrak dari konsentrasi 25 %
+ 5 ml aquades, lalu homogenkan.
d) Konsentrasi 6,25 % 10 ml = 5 ml ekstrak dari konsentrasi 12,5
% + 5 ml aquades, lalu homogenkan.
e) Konsentrasi 3,125 % 10 ml = 5 ml ekstrak dari konsentrasi
6,25 % + 5 ml aquades, lalu homogenkan.
12) Membuat konsentrasi infusa untuk uji antibakteri dengan konsentrasi (X-
10%), (X-5%), (X%), (X+5%), (X+10%), dimana X adalah nilai KHM.
Berdasarkan Laksono (2004) pembuatan konsentrasi infusa dilakukan
dengan menggunakan rumus, sebagai berikut:

b. Pembuatan medium bakteri uji adaptasi dari Waluyo (2010) dalam Hikmah
(2016):
33

1) Menimbang MH sebanyak 20 gr dan NB 18 gr dengan menggunakan


neraca analitik.
2) Memasukkan MH yang sudah ditimbang ke dalam gelas kimia sambil
menambahkan aquades sebanyak 1000 ml dan mengaduknya secara
perlahan-lahan.
3) Memanaskan di atas hot plate dan mengaduk menggunakan stirrer .
Menunggu sampai larutan homogen.
4) Memasukkan MH yang sudah homogen kedalam labu erlenmeyer dan
menutup bagian mulutnya dengan kapas, lalu membungkus dengan
kertas pembungkus, kemudian memasukkannya ke dalam autoklaf
dengan tekanan 2 atm dan suhu 121C selama 20 menit dengan .
5) Setelah larutan steril lalu menuangkan MH ke dalam cawan petri dan
tabung reaksi dengan bidang miring maupun bidang datar sesuai
keperluan menggunakan metode tuang setelah itu sumbat mulut
tabung reaksi dengan tutupnya atau kapas berbungks kain kasa, lalu
didinginkan.
6) Memasukkan MH yang sudah dingin ke dalam kulkas untuk
disimpan.

c. Pembuatan suspensi bakteri dan Penanaman bakteri uji adaptasi dari


Waluyo (2010) dalam Hikmah (2016):
1) Satu ose biakan bakteri yang telah diremajakan pada media MH
disuspensikan ke dalam tabung berisi 5 ml media MH dan diinkubasi
selama 24 jam pada suhu 37C.
2) Suspensi bakteri tersebut diencerkan menggunakan NaCl 0,9% steril
sampai kekeruhannya setara dengan larutan standar Mc. Farland 0,5
(biakan cair yang kekeruhannya setara dengan Mc. Farland 0,5
mempunyai populasi 1107 CFU/ml - 1108 CFU/ml).

d. Penentuan konsentrasi hambat minimal, (KHM) atau Minimum Inhibitory


Concretations (MIC) dengan metode dilusi adaptasi pada Pratiwi (2008),
sebagai berikut :
34

1) Menyiapkan MH Agar yang telah dibuat sebelumnya, 5 tabung


reaksi steril, pipet volumetrik steril, dan suspensi bakteri dengan
mengeluarkan alat dan bahan tersebut dari kulkas beberapa saat
untuk menyesuaikan dengan suhu ruangan.

2) Memberi label pada masing-masing tabung reaksi sesuai perlakuan


yang diinginkan yaitu MIC menggunakan infusa 3,125%, 6,25%,
12,5%, 25%, dan 50%.

3) Memasukkan MH menggunakan pipet volumetrik sebanyak 10 ml


pada tabung reaksi, setelah itu menambahkan 1 ml ekstrak sesuai
perlakuan, dan menambahkan pula 0,1 ml suspensi bakteri yang
telah setara dengan Mc. Farland 0,5. Setelah semua di masukkan
kemudian menghomogenkan.
4) Menginkubasi selama 24 jam dengan suhu 37C.
5) Membagi cawan petri steril menjadi 5 sektor dan memberi label
sesuai perlakuan.
6) Mencampurkan 20 ml MH Agar bidang datar pada tabung reaksi
dengan infusa masing-masing perlakuan dan suspensi bakteri yang
telah diinkubasi sebelumnya kemudian menghomogenkannya.
7) Menuangkan campuran MH Agar 20 ml + infusa + suspensi bakteri
ke cawan petri steril yang telah dibagi menjadi 5 sektor.
Membiarkan hingga memadat.
8) Menginkubasi selama 24 jam dengan suhu 37C.
9) Menghitung jumlah koloni bakteri dengan colony counter
bersumber pada Waluyo (2010).
10) Menentukan MIC dengan melihat konsentrasi terkecil yang tidak
terdapat pertumbuhan bakteri Shigella dysentriae sama sekali.

e. Pengujian antibakteri daun terong pipit (Solanum torvum) dengan


metode cakram kertas adaptasi dari Kristanti (2008), adalah sebagai
berikut :
35

1) Mengeluarkan dan mendiamkan 4 tabung reaksi berisi medium MH


(20 ml) bidang datar yang telah dibuat sebelumnya dari kulkas
beberapa saat agar sesuai suhu ruangan.
2) Memasukkan 0,2 ml suspensi bakteri Shigella dysentriae yang
kekeruhannya telah disetarakan dengan Mc. Farland 0,5
menggunakan pipet volumetrik ke dalam tabung reaksi berisi MH
tersebut.
3) Menyumbat mulut tabung reaksi dengan tutupnya atau dengan kapas
berbungkus kasa, lalu menghomogenkan dengan cara menggiling
tabung reaksi dalam posisi tegak.
3) Menuangkan medium MH Agar yang sudah bercampur dengan
suspensi bakteri kedalam cawan petri steril, mendinginkan hingga
memadat.
4) Membagi cawan petri menjadi 7 sektor, salah satu 1 sektor sebagai
kontrol negatif (aquadest) dan membuat 1 lingkaran di tengah yang
digunakan untuk antibiotik ampisilin sebagai kontrol positif, setelah
itu memberi label sesuai perlakuan.
5) Merendam cakram kertas selama 5 menit untuk masing-masing
perlakuan (dalam 5 macam konsentrasi infusa daun terong pipit) di
dalam botol penyimpanan infusa masing-masing konsentrasi, 1
macam dalam aquadest sebagai kontrol negatif dan 1 macam dalam
antibiotik ampisilin sebagai kontrol positif.
6) Meletakkan masing-masing cakram kertas sesuai labelnya di atas
permukaan MH yang sudah dibagi menjadi 7 sektor pada cawan petri
dan meletakkan kontrol cakram antibiotik ampisilin di bagian tengah.
7) Menginkubasi selama 24 jam pada suhu 37C.
8) Mengukur diameter zona hambat yang terbentuk dengan jangka
sorong (satuan mm).

7.6 Prosedur Pembuatan Poster


Menurut gunawan (2012) poster ialah penyampaian kombinasi
informasi visual dan verbal: ilustrasi, teks, dan penjelasan lisan. Poster
merupakan pengayaan dari abstrak dengan memperkuatnya menggunakan
36

ilustrasi (tabel, gambar, foto). Susunan isi poster ilmiah meliputi:


pendahuluan, tujuan, metode, hasil, pembahasan, simpulan, dan daftar
pustaka; tidak diperlukan abstrak.
a. Menyusun dan menentukan informasi verbal, berupa:
1. Judul Poster Ilmiah, berisi: Judul singkat dan jelas, Nama penulis,
Alamat institusi penulis.
2. Pendahuluan berisi latar belakang dan perumusan masalah.
3. Tujuan dibuat dalam bentuk daftar bila terdapat lebih dari satu tujuan.
4. Metode diuraikan secara singkat prosedur percobaan; gunakan bagan
alir.
5. Hasil dan pembahasan mengunakan tabel dan gambar yang jelas,
yang penting saja.
6. Simpulan ditulis dalam bentuk daftar.
7. Daftar pustaka diketik dengan ukuran huruf yang lebih kecil dan di
tempat yang tidak terlalu mencolok.
b. Memperhatikan unsur-unsur poster, seperti:
1. Komunikasi melalui kekuatan visual, verbal, serta komunikasi tulis.
2. Alat komunikasi dasar berupa teks, jenis dan ukuran huruf, warna dan
mutu fisik poster, bentuk dan pengaturan bagian-bagian poster, serta
penyajian data (tabel, gambar, foto).
3. Isi poster ringkas, sederhana, dan disusun dengan pokok bahasan yang
jelas teks dalam poster
4. Menyajikan informasi secara ringkas, menggabungkan kata-kata dan
gambar dengan jelas.
5. Kalimat pendek-pendek dan paragraf pendek (tidak lebih dari 20
baris).
6. Tujuan dan simpulan ditulis dalam bentuk butir-butir daftar.
c. Menentukan Warna dalam Poster dan Mutu Fisik Poster
1. Latar belakang atau bingkai bagian-bagian poster adalah warna gelap-
biru tua, cokelat tua, warna tanah, hijau tua, abu-abu, atau bermotif
gambar tertentu. Bila poster akan dicetak, untuk menghemat tinta
dapat digunakan latar belakang putih atau berwarna muda.
2. Wama teks dan ilustrasi diserasikan agar memiliki kontras yang baik
dengan latar belakangnya.
3. Ragam warna untuk menunjukkan bagian yang berbeda dari poster.
d. Menentukan Ukuran Poster dan Susunan Poster
1. Perhatikan ukuran dan orientasi papan pameran poster yang
disediakan panitia.
37

2. Ukuran poster 90 cm x 120 cm sampai 120 cm x 240 cm.


3. Posisi poster mendatar atau tegak.
4. Susunlah bagian-bagian poster sehingga tidak berjejalan di bagian tepi
poster.
5. Bagilah poster menjadi 4-5 blok berdasarkan susunan bagian-bagian
poster dan antarbagian diberi jarak yang cukup.
6. Materi yang menyusun bagian yang sama dikelompokkan pada blok
yang sama dan bila perlu diberi warna landasan atau bingkai yang
sama. .
7. Untuk poster tegak, susunlah bagian-bagian poster dari atas ke bawah,
dan unsur-unsur bagian yang sama dari kiri ke kanan;
8. Untuk poster mendatar, susunlah bagian-bagian poster dari kiri ke
kanan, dan unsur-unsur bagian yang sama dari atas ke bawah.
f. Menentukan Penyajian Data dalam Poster
1. Tabel tidak lebih dari 20 lema pada bidang data.
2. Grafik tidak lebih dari 3 kurva atau 6 batang per grafik.
3. Cara pemberian keterangan pada grafik yang sejenis harus konsisten.
4. Gambar dan tabel harus jelas dan cukup besar.
5. Poster menggunakan cetak digital dengan menggunakan aplikasi
computer atau software yang sudah umum (Corel Draw, Photoshop,
atau kombinasi aplikasi lain), juga dapat menampilkan foto grafik.
Adapun contoh tata letak poster dapat dilihat pada gambar 11 (untuk
posisi mendatar) dan gambar 12 (untuk posisi tegak).
38

Gambar 11. Tata letak poster posisi mendatar


(Sumber: Gunawan, 2012)
39

Gambar 12. Tata letak poster posisi tegak


(Sumber: Gunawan, 2012)

7.1. Prosedur Uji Keterbacaan


Menurut Marfuah (2013) prosedur dan teknik pengolahan data uji
keterbacaan sebagai berikut :
a. Membagikan poster kepada subjek uji yaitu kepada 10 orang
mahasiswa yang mempunyai kemampuan kognitif berbeda.
b. Menyiapkan instrument uji keterbacaan.(lampiran 1)
c. Meminta mahasiswa untuk memberikan skor pada instrument uji
keterbacaan.
d. Memeriksa jawaban mahasiswa, serta memberikan skor
40

e. Mengolah skor total penulisan ide pokok dan keterbacaan dalam


bentuk persentase (%). Untuk menghitung persentase yang diperoleh
subjek uji, digunakan rumus sebagai berikut
S=
Keterangan :
S = nilai akhir
x = Jumlah skor yang diperoleh mahasiswa setiap konsep
y = Jumlah konsep maksimal
f. Merata-ratakan persentase skor total. Untuk menghitung rata-rata
persentase yang diperoleh, digunakan rumus sebagai berikut :

g. Mencocokkan data persentase berdasarkan kriteria penilaian


keterbacaan mahasiswa.
Tabel 1. Kriteria Penilaian Keterbacaan
No Skor Keterangan
1. 100 % Sangat terbaca
2. < 85% Terbaca
3. < 70 % Cukup terbaca
4. < 60 % Kurang terbaca
5. <50 % Tidak terbaca
Sumber : Diadaptasi dari Sugiono 2010 dalam Yusni (2015)

7.7 Analisa Data


Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif yang
diperoleh melalui hasil pengamatan jumlah koloni bakteri Shigella dysentriae
dalam penentuan konsentrasi hambat minimal (KHM) dan mengukur lebar zona
hambat yang terbentuk dalam uji antibakteri.

a. Data jumlah koloni bakteri Shigella dysentriae dalam penentuan konsentrasi


hambat minimal (KHM) dianalisis berdasarkan jumlah koloni yang tampak/
jumlah koloni yang dapat hidup dibandingkan dengan kriteria Kemenkes
(2011).
b. Data uji antibakteri berupa pengamatan lebar zona hambat
pertumbuhan bakteri Shigella dysentriae setelah diberi ekstrak daun terong
pipit (Solanum torvum) dengan berbagai konsentrasi dianalisis secara statistik
41

menggunakan One Way Anova dengan taraf signifikansi 5% ( = 0,05)


menggunakan SPSS version 22. Uji normalitas dan homogenitas dilakukan
guna memenuhi syarat untuk uji One Way Anova karena data yang diuji terdiri
dari 1 faktor yang mempengaruhi atau hanya memiliki 1 variabel bebas dan 1
variabel terikat. Uji normalitas menunjukkan bahwa data berdistribusi normal
dan pada uji homogenitas menunjukkan bahwa data memiliki varians antar
kelompok yang homogen. Setelah itu dilakukan uji One Way Anova terhadap
data dengan berbagai konsentrasi ekstrak daun terong pipit (Solanum torvum).
Selanjutnya dilakukan uji duncan untuk mengetahui beda antar perlakuan yang
diberikan.

7.8. Teknik Analisis Uji Keterbacaan


Data hasil validasi bahan ajar dari tim ahli dan mahasiswa akan
dianalisis secara deskriptif diukur dengan cara menghitung skor validitas yang
diadaptasi dari Pratiwi (2012) dari hasil validasi ahli menggunakan rumus:

Hasil validitas yang diketahui persentasenya dapat dicocokkan dengan kriteria


seperti yang disajikan pada tabel 2.
Tabel 2. Kriteria Validitas Ahli atau Validitas Pakar
Presentase (%) Kualifikasi Keputusan
Produk baru siap dimanfaatkan dilapangan
79,78 100 Sangat Valid
untuk kegiatan pembelajaran
Produk dapat dilanjutkan dengan
menambah sesuatu yang kurang,
59,52 79,77 Valid melakukan pertimbangan tertentu,
penambahan yang dilakukan tidak terlalu
besar, dan tidak mendasar
Merevisi dengan meneliti kembali secara
Kurang
39,26 59,51 seksama dan mencari kelemahan produk
Valid
untuk disempurnakan
19,00 39,25 Tidak Valid Merevisi secara besarbesaran dan
mendasar tentang isi produk dan
42

memerlukan konsultasi kembali


(Diadaptasi dari Pratiwi, dkk 2014)

Data hasil validitas empiris (uji keterbacaan) mahasiswa dianalisis


berdasarkan hasil angket menggunakan rumus sebagai berikut :

Persentase yang telah diperoleh kemudian dikonversi sesuai dengan parameter


berikut:
79,78 - 100% = Sangat Terbaca
59,52 79,77% = Terbaca
39,26 59,51% = Kurang Terbaca
19,00 39,25 % = Tidak Terbaca
(Diadaptasi dari Rohmad, 2013)
43

Diagram Prosedur Pembuatan Media Ajar Poster

Mulai

Mengkaji Teoritik Hasil Analisis


Daun Terong Pipit dan
Shigella dysentriae

Poster Antibakteri Daun


Terong Pipit

Validasi ahli oleh


pembimbing Validasi Empiris (Uji
Keterbacaan) oleh
Revisi mahasiswa

Valid ? Revisi
Tidak
Terbaca ?
Ya Tidak
Ya

Poster Valid
Poster Terbaca

Poster Valid & Terbaca

Selesai
44

8. DAFTAR PUSTAKA

A.D, Undang. 1994. Sistematik Tumbuhan Tinggi. Pusat Antar Universitas


Bidang Ilmu Hayati, ITB: Bandung.

Brooks, Geo F, Janet S. Butel & Stephen A. Morse. 2005. Mikrobilogi Kedokteran
(Medical Microbiology). Salemba Medika. Jakarta.

Buktiwetan, Paul. Surjawidjaja, Julius E. Salim, Oktavianus Ch. Aidilifit,


Mahyunis dan Lesmana, Murad. 1998. Diare Bakterial Etiologi dan
Kepekaan Antibiotika Di Dua Pusat Kesehatan Masyarakat Di Jakarta.
Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti. Jakarta.
Depdikbud. 1999. Penelitian Tindakan Kelas. Depdikbud. Jakarta.

Depkes RI. 2011. Buku Saku Petugas Kesehatan. Departemen Kesehatan RI


Direktorat Jendral Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan.
Jakarta.

Ditjen POM. 1979. Farmakope Indonesia Jilid III. Departemen Kesehatan RI.
Jakarta.

Ditjen POM. 2000. Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat.


Departemen Kesehatan RI. Jakarta.

Haris, I. 2015.Uji Aktivitas Antioksidan Ekstraks Buah Takokak tehadap Bakteri


serta Isolasinya senyawa kimianya. Skripsi Sarjana. University of Riau,
Riau.

Hendrawan, Ita Zuraida dan Bagus Fajar Pamungkas. 2015. Aktivitas Antibakteri
Ekstrak Metanol Xylocarpus granatum dari Pesisir Muara Badak. Jurnal
Ilmu Perikanan Tropis ISSN 1412-2006. Vol. 20. No. 2.

Hikmah, Mutiara Noor. 2016. Uji Antibakteri Infusa Daun Api-Api (Avicennia
marina) Terhadap Pertumbuhan Bakteri Shigella dysentriae Secara In
Vitro. Skripsi Sarjana. Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin.
Tidak dipublikasikan

Karlina, Chrystie Yudha, Muslimin Ibrahim dan Guntur Trimulyono. 2013.


Aktivitas Antibakteri Ekstrak Herba Krokot (Portulaca oleracea L.)
terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. LenteraBio-ISSN:
2252-3979. Vol. 2 No. 1: 8793

Kristanti, Alfinda Novi. Aminah, Nanik Siti. Tanjung, Mulyadi dan Kurniadi,
Bambang. 2008. Buku Ajar Fitokimia. Erlangga University Press. Surabaya.
45

Kurniawan, Betta dan Wayan. 2015. Binahong (Cassia alata L) As Inhibitor Of


Escherichiacoli Growth. Faculty of Medicine, Lampung University :
Lampung

MENKES. 2011. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor


2406/Menkes/Per/Xii/201 1. Menteri Kesehatan Republik Indonesia : Jakarta

Mufazah, Lailatul. 2013. Ketersediaan Sarana Sanitasi Dasar, Personal Hygiene


Ibu DanKejadian Diare. Universitas Negeri Semarang.
Semarang.http://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/kemas.

Nugroho, Joko. 2014. WHO Serukan Peningkatan Aksi Tanggulangi Resistensi


Antimikroba. Warta Online. http://www.sumbar.antaranews.com/ Diakses
31 Agustus 2016
Permenkes. 2015. Program Pengendalian Resistensi Antimikroba Di Rumah Sakit.
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2015,
Jakarta.

Pratiwi, Arum, Suprapto, dan Arina Maliya. 2011. Efektivitas Waktu Fluoxetini
terhadap Respon Imun Level CD4 pada Tikus Putih Galur Wistar dengan
Depresi Akut. Jurnal Kesehatan. Vol.4 No.2:179.

Pratiwi, Sylvia T. 2008. Mikobiologi Farmasi. Erlangga, Yogyakarta.

Radji, Maksum dan Biomed, M. 2010. Buku Ajar Mikrobiologi: Panduan


Mahasiswa Farmasi & Kedokteran. Jakarta: EGC.
Rahmat, Hardianzah. 2009. Identifikasi Senyawa Flavonoid pada Sayuran
Indigenous Jawa Barat. Skripsi Sarjana. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Rasyid, Puspita, Dian Saraswati dan Mohammad Adam Mustapa. 2013. Uji
Efektivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Takokak (Solanum torvum)
Terhadap Bakteri. Laporan Penelitian. Universitas Negeri Gorontalo,
Gorontalo.

Rochani, Siti. 2009. Penggunaan Pendekatan Ctl Dilengkapi Media Poster Untuk
Meningkatkan Kualitas Proses Dan Hasil Belajar Siswa Pada Materi Pokok
Sistem Periodik Unsur Kelas X Semester Gasal Di Sma Negeri 1 Jakenan,
Pati Tahun Pelajaran 2009/2010. Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Universitas Sebelas Maret : Surakarta
Rokhmawati, Arifatur, Achmad Gunadi dan Warna Aju Fatmawati. 2014. Daya
Antibakteri Ekstrak Buah Takokak (Solanum torvum Swartz) terhadap
Pertumbuhan Streptococcus mutans. Artikel Ilmiah Hasil Penelitian
Mahasiswa 2014. Universitas Jember, Jember.
46

Roslizawaty, Nita Yulida Ramadani , Fakhrurrazi dan Herrialfian. 2013. Aktivitas


Antibakterial Ekstrak Etanol dan Rebusan Sarang Semut (Myrmecodia sp.)
Terhadap Bakteri Escherichia coli. Jurnal Medika Veterinaria ISSN :
0853-1943. Vol. 7 No. 2.

Sari, Yeni Dianita, Sitti Nur Djannah dan Laela Hayu Nurani. 2013. Uji Aktivitas
Antibakteri Infusamdaun Sirsak (Annona muricata L.) Secara in Vitro
terhadap Staphylococcus aureus ATCC 25923 dan Escherichia coli ATCC
35218 Serta Profil Kromatografi Lapis Tipisnya. ISSN KES MAS : 1978-
0575. Vol. 4 No. 3: 144 239.

Sirait, Nursalam. 2009. Terong Cepoka (Solanum torvum) Herba Yang Berkhasiat
Sebagai Obat. Warta Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri,
Volume 15 Nomor 3.

Suhardiyanto, herry. 2012. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. IPB Bogor.


Sukiman. 2012. Pengembangan Media Pembelajaran. Pedogogia : Yogyakarta.
Tjitrosoepomo, Gembong. 2010. Taksonomi Tumbuhan (Spermatophyta) . Gadjah
Mada University Press, Yogyakarta.

Tuna, melisa R, Kepel Billy J dan Leman MichaelA. 2015. Uji Daya Hambat
Ekstrak Daun Sirsak (Annona Muricata L.) terhadap Pertumbuhan
Staphylococcus Aureus Secara In Vitro. Pharmacon Jurnal Farmasi.
UNSRAT Vol. 4.

Waluyo, Lud. 2010. Tekhnik dan Metode Dasar Mikrobiologi. Universitas


Muhammadiyah Press, Malang.

Zein, Umar, Khalid Huda Sagala, & Josia Ginting, Diare Akut disebabkan
Bakteri. Departement Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas
Sumatera Utara, Medan.
47

LAMPIRAN 1

INSTRUMEN VALIDITAS AHLI OLEH DOSEN PEMBIMBING


MEDIA POSTER

Bapak/ Ibu yang terhormat,


Saya memohon bantuan Bapak/ Ibu untuk mengisi angket ini. Angket ini
ditujukan untuk mengetahui pendapat Bapak/ Ibu tentang Poster Uji Daya
Antibakteri Infusa Daun Terong Pipit (Solanum torvum) dalam menghambat
Pertumbuhan Bakteri Shigella dysentriae secara in vitro sebagai bahan
penunjang pengembangan materi perkuliahan Mikrobiologi.
Penilaian, saran dan koreksi dari Bapak/ Ibu akan sangat bermanfaat
untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas bahan ajar ini. Atas perhatian dan
kesediaannya untuk mengisi angket ini, saya ucapkan terima kasih.

A. Petunjuk Pengisian

1. Bapak/Ibu dimohon memberi tanda di bawah kolom skor penilaian


pada skala 1-5. Adapun deskripsi skala penilaian adalah sebagai berikut:
1 : Tidak Baik
2 :Kurang Baik
3 : Cukup Baik
4 : Baik
5 : Sangat Sangat Baik

2. Bapak/Ibu dimohon memberikan komentar dan saran pada tempat yang


tersedia.
48

B. Aspek Penilaian
No Aspek yang dinilai Skala Komentar/ Saran
Penilaian perbaikkan
1 2 3 4 5
1. Visual
a. Pemilihan warna
b. Pemilihan gambar
c. Tata letak
d. Warna latar belakang
e. Ukuran dan jensis huruf
2. Kebahasaan
a. Menggunakan
bahasa baku atau
bahasa yang
digunakan dapat
dipahami
b. Menggunakan
bahasa indonesia
yang baik dan benar
c. Istilah yang
digunakan tepat dan
dapat dipahami
3. Penyajian
a. Kualitas tabel dapat
dipahami
b. Mampu
membangkitkan
motivasi/minat/rasa
ingin tahu
c. Sesuai dengan taraf
berpikir dan
kemampuan
membaca mahasiswa
d. Mendorong
mahasiswa terlibat
aktif
49

e. Menarik/
menyenangkan
f. Mampu mengundang
keingintahuan
mahasiswa lebih
lanjut
Skor Total =
Sumber : Diadaptasi dari Sugiono 2010 dalam Yusni (2015)

C. Perhitungan Skor Validasi

Hasil validitas yang diketahui persentasenya dapat dicocokkan dengan kriteria


seperti yang disajikan pada tabel 1.

Tabel 1. Kriteria Validitas Ahli atau Validitas Pakar


Presentase (%) Kualifikasi Keputusan
79,78 100 Sangat Valid Tidak perlu revisi
59,52 79,77 Valid Revisi kecil
39,26 59,51 Kurang Valid Revisi nesar
19,00 39,25 Tidak Valid Revisi total
(Diadaptasi dari Pratiwi, dkk 2014)

Kesimpulan :
Media Ajar Poster dinyatakan *):
1. Layak digunakan tanpa perbaikan
2. Layak digunakan dengan perbaikan
3. Tidak layak digunakan
*) Lingkari salah satu

Banjarmasin, .............................
50

Validator

(.............................................)
51

LAMPIRAN 2

INSTRUMEN VALIDITAS EMPIRIS (UJI KETERBACAAN) OLEH


MAHASISWA MEDIA POSTER

Nama Mahasiswa : ..................


Semester : ..................
Hari/tanggal : ..................

A. Petunjuk Pengisian:
Dimohon kesediaan mahasiswa/mahasiswi untuk melihat media ajar poster
mata kuliah mikrobiologi terlampir meliputi aspek yang diminta dalam
instrumen berikut ini.
Dimohon memberikan tanda pada skala penilaian yang disediakan.
Dimohon memberikan komentar atau saran bebas pada tempat yang
disediakan.
Keterangan skala penilaian:
1 : Tidak Baik
2 :Kurang Baik
3 : Cukup Baik
4 : Baik
5 : Sangat Sangat Baik
52

B. Aspek Penilaian

Tanggapan
(1) (2) (3) (5)
No. Aspek (4)
Tidak Kuran Cukup Sangat
Baik
Baik g Baik Baik Baik
1. Desain poster sudah menarik,
warna teks dan ilustrasi serasi
serta kontras dengan latar
belakangnya.
2. Gambar-gambar dalam poster
menarik dan sesuai dengan topik
yang dipelajari
3. Gambar yang disajikan dalam
Poster ini jelas atau tidak buram
4. Tulisan dalam Poster
menggunakan huruf yang jelas,
kombinasi huruf, warna, dan
gambar sudah serasi
5. Kalimat di dalam Poster mudah
dipahami
6. Gambar-gambar terlihat jelas
dalam Poster dan mudah
dipahami maknanya
7. Istilah-istilah dalam Poster mudah
dipahami
8. Materi yang disajikan dalam
Poster sudah runtut
9. Tidak ada kalimat yang
menimbulkan makna ganda
dalam Poster ini
10. Materi Mikrobiologi dapat
dipahami dengan mudah
menggunakan Poster ini
Jumlah
53

Saran
....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
.......................................................

Terima kasih
Mahasiswa,

........................
.....................

Diadaptasi dari : Noor Syahdi, 2016. Pengembangan Handout Konsep Populasi Pada Mata
Kuliah Ekologi Tumbuhan Berbasis Hasil Penelitian Tentang Struktur Populasi Tumbuhan Aren
(Arenga pinnata Merr.) di Kawasan Wisata Air Terjun Rampah Menjangan Loksado. Skripsi
Sarjana. Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin. Tidak dipublikasikan.