Anda di halaman 1dari 8

RANGKUMAN MATERI GAMMA KAMERA

BY KELOMPOK 3/3C
A. DEFINISI
Kamera gamma, juga disebut scintillation camera atau Anger camera, adalah alat pencitraan yang
menangkap radiasi radioisotop gamma, sebuah teknik yang dinamai scintigraphy.
Skintigrafi adalah metode diagnosis pencitraan non-invasif yang menggunakan dosis radiasi
rendah , tidak menimbulkan rasa sakit yang memungkinkan penilaian fungsional dan structural
dari metabolik suatu organ.
B. DASAR FISIKA
PRINSIP KERJA
Proses pembentukan gambar atau proses akuisisi citra pada gamma camera dapat digambarkan sebagai
berikut : misalkan pada koordinat X,Y (45,18) ada pulsa dengan cacah sama dengan N. Sinyal sinyal
tersebut dilewatkan pada rangkaian ADC. Bilangan desimal 45 dan 18 dikonversikan ke bilangan
digital sehingga posisinya dapat dipastikan pada system video display dan apabila terjadi pulsa pulsa
diposisi koordinat 48,18 pada kristal maka hasil cacahnya diakuisisi di lokasi yang sesuai pada layar
display. Sinyal koordinat X dan Y dapat langsung dikirim ke peralatan penampil gambar atau direkam
oleh komputer, sedangkan sinyal Z diolah oleh penganalisis tinggi pulsa (PHA). Titik cahaya dapat
dimunculkan pada layar monitor hanya apabila pulsa energinya ada pada daerah jendela yang diatur
sebelumnya ( preset window) dari PHA dengan koordinat titik cahaya ditentukan oleh sumbu X dan Y.

Jenis kamera gamma


Kamera gamma berkepala tunggal terpasang pada gantry yang berputar . Kamera dioperasikan dari
komputer ( kiri ) . Posisi fleksibel kamera kepala dan meja pemeriksaan ( kanan) memungkinkan
sistem untuk mendapatkan banyak gambar dari bagian tubuh yang berbeda .

Sistem kamera gamma dual-headed ( atas ). Perhatikan bahwa kepala kamera dapat ditempatkan
pada orientasi yang berbeda untuk memberikan dua pandangan simultan dari organ atau tubuh (
bawah ).
C. INSTRUMENTASI

1. KOLIMATOR

Kollimator merupakan bagian terluar dari detektor kamera gamma. Kollimator terbuat dari timbal
dengan penampang mirip sarang tawon, terdiri dari lubang dan septa diantara lubang-lubang
tersebut. Bentuk lubang bisa bundar atau hexagonal. Lubang hexagonal lebih banyak digunakan,
karena lebih banyak sinar yang dapat mencapai kristal dan tebal septa homogeny.
Jenis kollimator dalam kamera gamma
a. Paralel Hole kolimator
Terdiri dari selubung timah hitam yang mempunyai lubang-lubang parallel dengan
detector. Alat ini digunakan untuk objek berukuran besar.
b. Konverging Kolimator
Terdiri dari selubung timah yang mempunyai lubang-lubang yang memusat dari detector
ke objek. Kolimator ini dapat digunakan untuk objek yang terletak pada bagian dalam
tubuh.
c. Diverging Kolimator
Terdiri dari selubung timah hitam yang mempunyai lubang-lubang yang memusat dari
objek ke detector. . Sensitifitas kolimator akan berkurang bila jarak kolimator ke objek
diperbesar. Objek yang lebih besar dari ukuran kolimator dapat dideteksi tanpa terpotong.
d. Pin Hole Kolimator
Mempunyai bentuk kerucut. Kolimator ini biasa digunakan untuk objek yang sangat
kecil, misal kelenjar tyroid

Kolimator bds tingkat energy yang digunakan


Kolimator energi rendah resolusi tinggi (Low Energy High Resolution/LEHR)
Kolimator LEHR merupakan kolimator yang dirancang untuk kepentingan pemeriksaan
yang memerlukan citra dengan resolusi tinggi, sehingga dapat mendeteksi kelainan
dengan ukuran seminimal mungkin. Teknik pemeriksaan yang menggunakan kolimator
ini adalah pemeriksaan statik dan bersifat kualitatif. Bentuk kolimator ini memiliki
diameter lubang yang kecil dan septa yang tipis namun masih mampu menahan arah sinar
gamma yang tidak diinginkan, sehingga dapat memberikan gambar dengan resolusi
tinggi.
Kolimator energi rendah sensitifitas tinggi (Low Energy High Sensitivity/LEHS)
Pemeriksaan yang bersifat kuantitatif dan pencitraan dinamik memerlukan count rate
yang tinggi dalam kurun waktu yang sempit, seperti pemeriksaan renografi dan laju
filtrasi glomerulus. Pemeriksaan jenis ini memerlukan kemampuan kristal detektor
menangkap lebih banyak sinar gamma. Makin banyak cacahan yang bisa diperoleh,
makin kecil kemungkinan kesalahan. Kolimator ini memiliki lubang relatif lebih besar
dengan septa yang tipis, sehingga memungkinkan lebih banyak sinar gamma yang dapat
mencapat kristal detektor, namun demikian resolusi kurang dibandingkan dengan
pencitraan yang dihasilkan menggunakan kolimator LEHR.
Kolimator energi rendah multi fungsi (Low Energy General Purpose/LEGP)
Kolimator LEGP merupakan kolimator kompromi dari kedua kolimator sebelumnya.
Kolimator ini digunakan jika jumlah cacahan diperlukan dalam jumlah yang tinggi,
namun resolusi tetap diperlukan. Pemeriksaan yang memerlukan kolimator jenis ini
adalah pencitraan dinamik yang tidak memerlukan perhitungan kuantitatif.
Kolimator energi tinggi
Kolimator ini memiliki septa yang tebal agar mempu nenahan sinar gamma dengan
tingkat energi tinggi. Septa yang tebal diharapkan mampu untuk menahan sinar gamma
yang tidak diharapkan dapat mencapai kristal detektor. Kolimator ini biasa digunakan
pada pencitraan menggunakan radionuklida 131I.
2. DETECTOR
Komponen dari detector ini adalah Kristal sodium iodide, kaca untuk jalan sinar, dan kumpulan
tabung PMT. Sinar gamma yang membentur kristal membangkitkan cahaya, yang intensitasnya
sebanding dengan energi yang hilang dari sinar gamma itu.

Kristal NaI (TI) pada kamera gamma

3. PMT (PHOTO MULTIPLIER TUBE)


PMT merupakan tabung sesuai dengan namanya berfungsi sebagai alat untuk menggandakan
sinar tampak yang dilepaskan dari kristal detektor. Sinar tampak yang terbentuk akibat peristiwa
skintilasi dengan masuknya sinar gamma sangat lemah, sehingga perlu dikuatkan dengan PMT.
Selain memperkuat sinar, PMT juga mekonversikannya menjadi pulsa elektrik. Sinar yang
tadinya berkekuatan 100 V dilipatgandakan menjadi 600 V.
4. PREAMPLIFIER
Pada umunya preamplifier adalah berupa suatu rangkaian elektronik yang berfungsi untuk
memperkuat sinyal output dari PMT yang mempunyai amplitude sangat rendah. Semakin besar
dari arus tabung pada PMT, tegangan pada anoda semakin menurun, sehingga out put dari PMT
adalah merupakan pulsa terbalik.

5. Pulse Haight Analyser (PHA)


Pada rangkaian pulse higt analyzer pulsa akan dipisahkan, dimana pulsa hasil radiasi seconder
dan radiasi lain seperti back ground diupayakan untuk dihilangkan. Pemisahan pulsa dapat
dilakukan pada rangkaian PHA adalah karena perbedaan tinggi pulsa.
6. KOMPUTER
Sinyal analog dari amplifier akan diubah menjadi sinyal digital agar dapat dipahami oleh
perangkat lunak akuisisi pada komputer. Dengan bantuan komputer, pulsa direkam dan diolah,
kemudian ditampilkan pada layar.
Hasil citra organ pasien, selanjutnya dilakukan analisis menggunakan studi pasien, pengolahan
data citra, penyimpanan file, pelaporan dan pengiriman file kepada dokter maupun bagian lain
untuk penanganan lebih lanjut.

D. RADIOFARMAKA
Radiofarmaka merupakan sediaan farmasi dalam bentuk senyawa kimia yang mengandung
radioisotop yang diberikan pada pemeriksaan kedokteran nuklir. Radiofarmaka pada umumnya
terdiri dari 2 komponen yaitu radioisotop dan bahan pembawa menuju ke organ target atau sering
disebut dengan tracer . Pancaran radiasi dari radioisotop itulah yang akan ditangkap oleh detector
gamma camera untuk direkonstruksi menjadi citra ataupun grafik intensitas radiasi.
a. RADIONUKLIDA (RADIOISOTOP)
Penggunaan radionuklida di kedokteran nuklir harus dibedakan antara pemakaian untuk
keperluan terapi dan diagnostik. Untuk penggunaan terapi diperlukan radionuklida yang massa
paruhnya panjang dan memancarkan radiasi sinar beta yang mempunyai efek biologis tinggi.
Radionuklida yang mempunyai beban radiasi kecil terhadap pasien dan memiliki energi yang
ideal untuk pemeriksaan dengan gamma kamera.
Kriteria yang ideal dimiliki oleh suatu radionuklida untuk keperluan diagnostik adalah
Waktu paruh : pendek tetapi tidak lebih pendek dari waktu pemeriksaan
Radiasi : memancarkan gamma
Energi : 50 400 keV
Sifat kimia : tidak toxis dan tidak merubah sifat biologis dari farmaka yang
dilabel
Ekonomis : murah dan dapat diproduksi dalam jumlah banyak

Dari kriteria di atas Tc-99 merupakan radionuklida yang paling memenuhi syarat karena Tc-
99 mempunyai waktu paruh 6 jam, radiasi gamma, energi 146 keV, sifat kimia tidak toxis dan
tidak merubah sifat biologis farmaka yang dilabel dan ekonomis.
b. TREASURE/ZAT PEMBAWA
Untuk membawa aktifitas ke organ yang akan diperiksa diperlukan senyawa yang mempunyai
spesifitas tas terhadap organ tersebut yang biasanya disebut zat pembawa. Zat pembawa adalah
unsur / zat yang dapat mengikat radionuklida dan membawa ke organ yang akan diperiksa dan
dimetabolisir oleh organ tersebut.
Berikut adalah penggunaan radioisotop dengan bahan pembawanya sesuai dengan organ yang
diperiksa.

Zat Pembawa Radionuclide Organ yang


diperiksa
MDP Tc-99m Tulang
DTPA Tc-99m Ginjal
DMSA Tc-99m (glomerolus)
MAA Tc-99m Ginjal (Parenkim)
MIBI Tc-99m Paru
HMPAO Tc-99m Jantung
Hipuran I-131 Otak
N I-131 Ginjal (Tubular)
Tyroid
Produksi sediaan radiofarmaka dapat diklasifikasikan menjadi 4 yaitu:
1. Radioisotop primer medical yaitu radioisotop dalam bentuk kimia yang
sederhana (biasanya an-organik). Diproduksi dengan cara mengiradiasi atom sasaran dalam
reaktor nuklir atau dalam siklotron.
2. Senyawa bertanda medikal yaitu senyawa yang salah satu atau lebih dari atom atau
gugusnya digantikan dengan atom unsur radioisotope
3. Generator radioisotop ; untuk mendapatkan radioisotop umur pendek pada lokasi yang jauh
dari tempat produksi radioisotop terutama bagi rumah-sakit yang tidak memiliki fasilitas reaktor
nuklir maka diciptakanlah generator radioisotop. Generator radioisotop adalah suatu sistem yang
terdiri dua macam radioisotop yaitu radioisotop induk induk dan radioisotop anak yang keduanya
membentuk pasangan kesetimbangan radioaktif. Radioisotop induk memiliki waktu paruh yang
lebih panjang daripada waktu paruh radioisotop anak. Radioisotop anak digunakan untuk
keprluan diagnostik maupun terapi.
4. Kit Radiofarmaka ; adalah sediaan non-radioaktif yang terdiri dari beberapa senyawa kimia
yang akan ditandai dengan radioisotop untuk menjadi sediaan radiofarmaka.

E. PEMERIKSAAN
1.Salivari Gland Imaging

Gambar 6 Gambar normal pencitraan kelenjar ludah. Gambar dinamis dilakukan selama 30
menit dan sitrat stimulus pada lima belas menit pertama. ROI ditempatkan di kanan dan kiri
parotis (merah dan biru) dan submandibulary (kuning dan hijau) kelenjar dan kurva aktivitas
waktu yang dibuat menunjukkan serapan kuantitatif dan ekskresi analisis.

Gambar 7 Gambar abnormal kelenjar ludah. Tidak ada penyerapan dan non ekskresi pada
kelenjar parotis dapat dilihat pada kurva kuantitatif dengan ROI (merah dan biru).
2. Liver-spleen imaging

Gambar 8Liver-spleen scintigraphy. Focal hiperplasia nodular. Gambar anterior dan posterior. Fokus
Penyerapan meningkat di hati (panah hitam) dan Limpa (panah merah).
3. Perfusion lung scintigraphy (P)

Gambar 8.
Normal pulmonary scintigraphy.Inhalation and perfusion images are compared. Homogeneous uptake in
lungs. Matched findings.
4. Renal Scintigraphy

5. Bone Skintigraphy

Gambar 9
Bone scintigraphies in adults. A. Normal scan: symmetric uptake on the sckeletal. B. Single bone
metastasis on left rib. C. Multiple bone metastasis. Multiple focal uptake on skull, scapulas, ribs, spine,
pelvis and right femur. D. Monostotic Paget Disease on right humerus. Intense uptake on right humerus.
E. Hyperparathyroidism. Intense uptake on skull and focal uptake on ribs.
F. CITRA YANG DIHASILKAN
GAMBARAN HASIL SCANNING
Ada 2 macam gambaran yang diperoleh dari hasil scanning :
1) Hot area, artinya daerah abnormal yang menunjukkan kenaikan up take (distribusi yang
berlebihan) radiofarmaka. Contoh ; bone scanning dan brain scanning.
2) Pada keadaan dimana radiofarmaka diikat oleh organ tubuh yang normal sehingga pada keadaan
abnormal timbul penurunan aktivitas atau cold area. Contoh : scanning liver, thyroid.

G. PROTEKSI RADIASI
Proteksi Radiasi untuk pasien
Dosis radiasi yang diterima oleh pasien termasuk dalam penerimaan dosis untuk keperluan medis
(medical exposure). Pengendalaian penyinaran medic hanya menerapkan azaz pembenaran
(justification) dan azaz optimasi, artinya suatu prosedur kedokteran yang melibatkan radiasi
hanya layak dilakukan jika memang ada indikasi medik yang kuat dan tidak ada cara lain yang
dapat memberikan informasi medik yang dikehendaki.
Proteksi Radiasi bagi keluarga pasien dan petugas lain
Proteksi Radiasi bagi keluarga pasien dan petugas lain dilingkungan kedokteran nuklir dilakukan
dengan:
Hot lab dan ruang pemeriksaan yang terperisai dengan baik.
Tidak diperkenankan berada di dalam ruang pemeriksaan selama proses
pemeriksaan berlangsung.
Isolasi pasien yang sudah disuntik radiofarmaka.
Proteksi radiasi bagi radiografer
Proteksi radiasi bagi radiografer dilakukan dengan:
Tersedia peraturan kerja dengan radiasi dan mengerti penggunaannya
Petunjuk kerja harus telah diberikan dan dipahami cara pelaksanaannya
Harus menggunakan film badge selama bekerja dengan sumber radiasi dan apabila mungkin
gunakan pula dosimeter saku
Survey meter harus tersedia dan selalu dalam keadaan baik
Hot lab yang terperisai dengan baik pada saat elusi radionuklida
Memakai sarung tangan Pb, kacamata Pb dan baju khusus pada saat melakukan elusi,
pencampuran dengan zat pembawa, penyuntikan radiofarmaka ke pasien dan selama
pemeriksaan.
Tidak berada terlalu lama di ruangan pemeriksaan dan jika diperlukan radiografer menggunakan
apron.
Proteksi Terhadap Lingkungan Kedokteran nuklir
Limbah radioaktif untuk pasien diagnostik berupa ekskresi pasien dan sisa radiofarmaka yang
terdapat dalam jarum dan tabung suntik. Untuk ekskresi pasien disediakan WC khusus radioaktif
diunit kedokteran nuklir.
Limbah lain berupa baju pasien, kemasan radiofarmaka, suntikan, spuit atau benda apa pun yang
terkena senyawa radioaktif maka harus disimpan ditembat khusus yang berPb sampai energinya
meluruh dan aman untuk dibuang ke lingkungan sekitar.
Penyimpanan Sumber Radiasi Radioisotop.
memperhatikan ruangan yang terbuat dri tahan api,bebas banjir, dan dapat dibuka dari dalam, adanya
tanda bahaya radiasi yang dapat dilihat.
Pengolahan limbah radionuklida.
Pengolahan limbah padat dilakukan dengan pengukuran kontaminasi dan dimasukkan ke drum khusus
kemudian dibawa ke BATAN. Untuk zat cair dibuang pada saluran limbah khusus.