Anda di halaman 1dari 8

RESUME PENENTUAN HARGA PELAYANAN PUBLIK (CHARGING FOR SERVICE)

Akuntansi Sektor Publik


Dosen Pengampu: Prof. Dr. Abdul Halim MBA, Akt.

Disusun oleh :

Nama : Intan Fitri Ardinasari

NIM : 17/417566/PEK/23129

PROGRAM STUDI S2 SAINS AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS

UNIVERSITAS GADJAH MADA

2017

1
PENENTUAN HARGA PELAYANAN PUBLIK
A. PELAYANAN PUBLIK YANG DAPAT DIJUAL
Dalam memberikan pelayanan publik, pemerintah dapat dibenarkan manarik tarif
untuk pelayanan tertentu baik secara langsung atau tidak langsung melalui perusahaan publik
milik pemerintah. Pembebanan tarif pelayanan publik kepada konsumen dapat dibenarkan
karna beberapa alas an yaitu adanya barang privat dan barang publik, efesiensi Ekonomi, dan
prinsip keuntungan.
a. Adanya Barang Privat vs Barang Publik
Terdapat tiga jenis barang yang menjadi kebutuhan masyarakat, yaitu :
- Barang privat adalah barang- barang kebutuhan masyarakat yang manfaat atau jasa
tersebut hanya dinikmati secara individual oleh yang membelinya.
- Barang Publik adalah barang-barang kebutuhan masyarakat yang manfaat barang dan
jasa tersebut dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat secara bersama-sama.
- Dalam praktiknya, terdapat barang dan jasa yang merupakan campuran antara barang
privat dan barang publik. Contohnya adalah pendidikan, pelayanan masyarakat,
transporatasi publik, dan air bersih. Barang-brang tersebut sering disebut merit good,
karna semua orang membutuhkannya akan tetapi tidak semua orang bisa mendapatkan
barang dan jasa tersebut.
Dalam hal penyediaan jasa pelayanan publik, yang perlu diperhatiakn adalah (a)
Identifikasi barang/jasa yang menjadi kebutuhan masyaraka, (b) Siapa yang lebih
berkompeten untuk menyediakan kebutuhan publik, (c) Dapatkah penyediaan pelayanan
publik tertentu diserahkan kepada sektor swasta dan sektor ketiga, dan (d) Pelayanan publik
apa saja yang tidak hanya dilakukan oleh pemerintah namun dapat ditangani oleh swasta.
b. Efesiensi ekonomi
Ketika setiap individu bebas menentukan berapa banyak barang/jasa yang mereka
ingin konsumsi, mekanisme harga memiliki perang penting dalam mengalokasikan sumber
daya melalui :
1. Pendistribusian permintaaan: Siapa yang mendapatkan manfaat paling banyak,
maka ia akan membayar lebih banyak pula
2. Pemberian intensif untuk menghindari pemborosan
3. Pemberian instensif pada suplier berkaitan dengan skala produksi
4. Penyediaan sumber daya pada suplier untuk mempertahankan dan
meningkatkan penyediaan jasa (Supply of Service).
c. Prinsip Keuntungan

2
Ketika pelayanan tidak dinikmati oleh semua orang, pembebanan langsung kepada
mereka yang menerima jasa tersbut dianggap wajar bila didasarkan prinsip bahwa yang tidak
menikmati manfaat tidak perlu membayar. Pembebanan tarif pelayanan pemerintah pada
dasarnya juga menguntungkan pemerintah karena dapat doigunakan sebagai salah satu
sumber.
B. ARGUMEN TERHADAP PEMBEBANAN TARIF PELAYANAN
Dalam prakteknya pembebanan langsung (Direct Charging) biasanya ditentukan
karena alasan berikut: (a) Suatu jasa, baik merupakan barang publik maupun barang privat,
mungkin tidak dapat diberikan kepada semua orang, sehingga tidak adil bila biayanya
dibebankan kepada semua masyarakat melaui pajak, sementara merak tidak menikmati jasi
tersebut, (b) Suatu pelayanan membutuhkan sumber daya yang mahal atau lengka sehingga
konsumsi publik harus disiplinkan (Hemat), (c) Terdapat variasi dalam konsumsi individual
yang lebih berhubungan denga pilihan daripada kebutuhan, (d) Suatu jasa mungkin
digunakan untuk operasi komersial yang menguntukgkan dan untuk memenuhi kebutuhan
domestik dan (e) Pembebanan dapat digunakan untuk mengetahui arah dan skala permintaaan
publik atas suatu jasa.
Terlepas dari kasus yang merupakan barang publik terdapat argumen yang menentang
pembebanan tarif pelayanan, yaitu: (a) Terdapat kesulitan administrasi dalam menghitung
biaya pelayanan, (b) Yang Miskin tidak mampu membayar, dan (c) Adanya eksternalitas,
merit good, dan persyaratan Legal.
C. PRINSIP DAN PRAKTIK PEMBEBANAN
Sebagai brang dan jasa disediakn pemerintah lebih sesuai dibiayai dengan
pembebanan tarif. Semakin dekat suatu pelayanan terkait dengan barang privat,semakin
sesuai barang tersebut dikenai tarif. Meskipun demikian, dalam praktiknya permasalahan
administrasi dan pertimbangan sosial dan politik memiliki prioritas yang lebih besar
dibandingkan pertimbangan efesiensi ekonomi. Dalam praktiknya, pelayanan yang gratis
secara nominal seringkali sulit dijumpai pelayanan gratis menyebabkan intensif rendah,
sehingga kualitas pelayanan rendah.
D. KEGUNAAN PEMBEBANAN DALAM PRAKTIK
Praktik pembebanan pelayanan publik berbeda-beda untuk setiap negara, antar jasa
yang disediakan langsung oleh pemerintah dan disediakn oleh perusahaan milik negara.
Pemerintah memperokeh penerimaan dari beberapa sumber antara lain: Pajak, Charging For
Service, Laba BUMN/BUMD, Penjualan aset milik pemerintah, Utang, dan Pembiayaan

3
defisit anggaran. Data biaya kadang sulit diperoleh dan dibandingkan, terutama antara jasa
yang disedikan langsung oleh pemerintah yang disediakan oleh perusahaan milik negara.
E. PENETAPAN HARGA PELAYANAN : Berapa Harga yang harus dibebankan
Aturan yang biasa diapak adalah bahwa beban (Charge) dihitung sebesar total biaya
untuk menyediakan pelayanan tersebut. Akan tetapi untuk menghitung biaya total tersebut
terdapt beberapa kesulitan karena Kita tidak tahu secara tepat bertapa biaya total (Full Cost)
untuk menyediakan suatu pelayanan, Sulit mengukur Jumlah yang harus dikomsumsi,
Pembebanan tidak memperhitungkan kemampuan masyarakat untuk membayar, dan Biaya
apa saja yang harus diperhitungkan
F. PERMASALAHAN MARGINAL COST PRICING
Penggunaan marginal cost pricing memiliki beberapa permasalahan antara lain: (a)
Sulit untuk memperthitungkan secara tepat marginal cost untuk jasa tertentu, (b) Apakah
harga seharusnya didasarkan pada biaya marginal jangka pendek atau biaya marginal jangka
panjang, (c) Marginal Cost Pricing, bukan berati full cost recorvery, (d) Konsep kewajaran
digunakan, (e) Eksternalitas konsumsi seperti manfaat kesehatan umum dari air bersih untuk
minum dan mandi dapat secara signifikan merubah efesiensi harga yang ditentukan oleh
marginal cost dan (e) Pertimbangkan ekuitas mensyaratkan yang kaya membayar lebih,
paling tidak untuk jasa sepeti air.
G. KOMPLESITAS STRATEGI HARGA
a. Two part tarif : Banyak kepentingan publik dipungut dengan two part tariff,
yaitu fixed charge untuk menutup biaya overhead atau biaya infrastruktur dan variabel
charge didasarkan besarnya konsumsi
b. Peak-Load tariffs : Pelayanan publik dipungut berdasarkan tarif tertinggi
c. Dismkriminasi harga. Hal ini adlaah salah satu cara untuk mengakomodasi
pertimbangan keadilan melalui kebijakan penetapan harga.
d. Full Cost recorvery. Harga Pelayanan didasarkan pada biaya penuh atau biaya
total untuk menghasilkan pelayanan
e. Harga diatas marginal cost. Dalam beberapa kasus sengaja ditetaokan harga di
atas marginal cost.
H. TAKSIRAN BIAYA
Penentuan harga dengtan teknik apapun yang digunakan pada dasarnya adalah
mendasarkan pada usaha penaksiran biaya secara akurat. Hal ini melibatkan pertimbangan
sebagai berikut: Oppurtunity cost untuk staf, Opprotunity cost of capital, Accounting Price
untuk input ketika harga pasar tidak menunjukkan value to society dan Cadangan Inflasi.

4
REVIEW JURNAL 1
A. Judul: FAKTOR-FAKTOR PENETAPAN TARIF PARKIR BERLANGGANAN
KENDARAAN BERMOTOR DI KABUPATEN SIDOARJO
B. Peneliti: Novendra Ganda Mihardja
C. Tahun Penelitian: 2012
D. Tujuan Penelitian
menjelaskan mengenai faktor-faktor yang dipertimbangkan dalam penetapan tarif
pelayanan publik yang digunakan dalam hal ini tarif retribusi parkir berlangganan di
Kabupaten Sidoarjo.
E. Data
Menggunakan teknik wawancara, dalam hal ini langsung dengan narasumber Kepala
Unit Pelaksana Teknis Parkir Dinas Perhubungan Sidoarjo, Drs. Abu Dardak, S.Sos
serta ke beberapa staff. Adapun lokasi wawancara dan pengumpulan data dilakukan
langsung di Kantor Dinas Perhubungan, Bagian Unit Pelaksana Teknis Parkir No.107
Candi Sidoarjo. Selain melakukan wawancara sebagai data primer, digunakan juga
data sekunder seperti data target dan realisasi pendapatan retribusi parkir dari tahun
2006-2011 di kantor Dishub, serta beberapa referensi dari buku, koran online, jurnal
online, serta undang-undang dan peraturan daerah yang berkaitan.

F. Hasil Penelitian

5
Penerapan sistem parkir berlangganan memang berhasil meningkatkan PAD
secara signifikan. Hal ini tidak terlepas dari penggunaan metode yang telah digunakan
dalam penetapan tarif parkir berlangganan yang digunakan dengan beberapa faktor
yang dipertimbangkan. Ada beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan dalam
penetapan tarif suatu pelayanan seperti mempertimbangkan asas manfaat,
kemampuan, dan keadilan. Selain asas tersebut juga harus dipertimbangkan beberapa
faktor dalam rangka penetapan tarif pelayanan publik seperti tingkat pertumbuhan
ekonomi, tingkat pendapatan, angka kebutuhan UMK, dan frekuensi tingkat
penggunaan fasilitas publik.

REVIEW JURNAL 2

6
A. Judul: Kebijakan akan Penentuan Tarif Perusahaan Publik (Sebuah Tinjauan Teoritis
dan Telaah Pustaka)
B. Peneliti: Yohanna Maria Kodoatie
C. Tahun Penelitian: 1999
D. Tujuan Penelitian
(1) memberikan gambaran tentang peranan pemerintah dalam pengadaan barang
publik yang efisien sebagai implementasi dari fungsi alokasi dan distribusi yang
dicerminkan dari kebijakan pemerintah di bidang pembiayaan pengadaan barang
publik
(2) memberikan penjelasan tentang latar belakang pemikiran teoritis terbentuknya
harga/tarif perusahaan publik menurut perspektif ekonomi publik
(3) memberikan gambaran betapa kompleks dan sulitnya menentukan struktur
tarif sektor publik yang rasional.
E. Data
Tinjauan Teoritis
F. Hasil Penelitian
Hasil studi ini mengusulkan bahwa penentuan tarif yang rasional dari
sektor public perlu mempertimbangkan: (1) kebijakan harga 'marginal cost
pricing', yaitu harga per unit barang sama dengan biaya per unitnya yang
memenuhi kondlsi P=AC=AR; (2) adanya diskriminasi harga yang berkaitan
dengan pengenaan harga yang berbeda berdasarkan konsumsi, tipe konsumen dan
penggunaannya; (3) kebijakan harga 'peak load' dalam mengantisipasi
penggunaan kapasitas produksi yang optimum; (4) upaya minimalisasi excess
burden; (5) adanya penerimaan yang memadai untuk menutup biaya pengadaan,
biaya operasi dan biaya ekspansi; (6) penghapusan subsidi kepada perusahaan
publik dan kebijakan subsidi langsung diarahkan pada target grup yang jelas dan
masuk dalam budget pemerintah; (7) adanya kepastian hukum yang jelas
mengenai struktur tarif klasifikasi konsumen, penggunaan dan denda yang
didiseminasikan; (8) penghapusan dana lain-lain yang tidak perlu dan efisiensi
dalam hal tertib administrasl; (9) adanya potongan harga yang memberi insentif
konsumen dalam memanfaatkan jasa pelayanan publik secara optimal.

DAFTAR PUSTAKA

7
Kodoatie, Yohanna Maria. 1999, Kebijakan akan Penentuan Tarif Perusahaan Publik
(Sebuah Tinjauan Teoritis dan Telaah Pustaka). Jurnal Bisnis Strategi. Universitas
Diponegoro
Mardiasmo., 2009, Akuntansi Sektor Publik, Yogyakarta: ANDI.
Mihardja. 2012. Faktor-Faktor Penetapan Tarif Parkir Berlangganan Kendaraan
Bermotor di Kabupaten Sidoarjo. Jurnal Mahasiswa Unnesa.