Anda di halaman 1dari 7

MODE OF ACTION FUNGISIDA DAN

BENTUK FORMULASI PESTISIDA

Dibuat untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Pestisida dan Teknik Aplikasi

Disusun oleh :
Putri Erli Dwi Yulistari
150510150255

Kelas A

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
SUMEDANG
2017
MODE OF ACTION FUNGISIDA

Fungisida berdasarkan cara masuknya (mode of entry) dalam tanaman dibagi


menjadi fungisida kontak dan sistemik. Berdasarkan cara kerja racun fungisida, ada
yang merusak dinding sel patogen, mempengaruhi pembelahan sel, mempengaruhi
permeabilitas membran sel, menghambat enzim, mengganggu proses metabolisme dan
banyak cara kerja fungisida lainnya. Mengetahui cara kerja (mode of action) suatu
fungisida penting untuk mengetahui apakah suatu penyakit dapat dikendalikan dengan
fungisida atau tidak, serta penting juga untuk memanajemen penundaan resistensi
fungisida dengan cara mengganti suatu fungisida dengan fungisida lain dengan mode of
action yang berbeda.
Protektan atau sebutan lain untuk fungisida kontak yang melindungi tanaman
dari serangan patogen pada permukaan tanaman atau pada tempat aplikasi. Jenis
fungisida ini tidak dapat mengendalikan atau menyembuhkan tanaman yang sudah
terserang. Fungisida kontak berbahan aktif tembaga (Cu) seperti Cupravit, bekerja
dengan cara denaturasi protein yang menyebabkan kematian sel jamur. Fungisida seperti
mankozeb yang tergolong ditiokarbamat, bekerja sebagai agen penghelat unsur yang
dibutuhkan jamur sehingga menghambat pertumbuhan jamur. Mekanisme kerja
demikian disebut dengan multisites action atau bekerja pada banyak tempat di tubuh
jamur atau dapat pula dikatakan bekerja secara nonspesifik. Sebaliknya fungisida
sistemik bekerja sampai jauh dari tempat aplikasi atau masuk ke dalam jaringan
tanaman dan ditranslokasikan ke seluruh bagian tanaman. Fungisida ini dapat
menyembuhkan atau mengendalikan patogen pada tanaman yang telah terserang. Jenis
fungisida sistemik bekerja bersama dengan proses metabolisme tanaman (Crowdy, 1977
dalam Sumardiono, 2008). Fungisida sistemik hanya bekerja pada satu tempat dari
bagian sel jamur sehingga disebut mempunyai cara kerja yang spesifik atau single site
action. Contohnya seperti pada golongan oksatin yang dapat menghambat suksinat
dehidrogenase yang penting dalam proses respirasi di dalam mitokondria. Benzimidazol
berpengaruh pada pembelahan inti dengan mengikat mikrotubulus sehingga benang
gelendong tidak terorganisir. Antibiotika polioksin dan kitazin menghambat sintesis
khitin patogen (Agrios, 1997 dalam Sumardiono, 2008).
Cara kerja fungisida lainnya yaitu menargetkan komponen membaran sel,
sintesis protein, transduksi sinyal, respirasi, mitosis sel, dan sintesis asam nukleat
(Yang, C., et.al, 2011).
Efek terhadap sintesis lipid, sterol, dan komponen membran lainnya
Membran sel merupakan dinding dengan selektifitas permiable yang dapat
memisahkan isi sel dari lingkungan luar. Perlakuan fungisida dapat mengubah
struktur dan fungsi dari membran suatu mikroorganisme tanah. Struktur lipid yang
merupakan komponen dasar dari membran sel termodifikasi dengan fungisida dari
golongan Aromatic Hydrocarbons (AH) yang akhirnya berdampak pada fungsi
sistem membran mikroba. Contoh bahan aktif fungisida golongan AH seperti
etridiazole yang menyebabkan hidrolisis fosfolipid membran sel menjadi asam
lemak bebas. Selain itu pada penelitian sebelumnya terbukti bahwa fungisida
dicloran dapat menyebabkan mutasi pada Salmonella typhimurium dengan
mengganggu interaksi hidrofobik dalam membran.
Sterol merupakan komponen penyusun penting dari membran sel jamur. Salah satu
fungisida yang dapat menghambat biosintesis sterol dalam sel jamur seperti
Demethylation (DMI).
Efek terhadap sintesis asam amino dan protein
Protein merupakan salah satu bagian terpenting dalam kehidupan suatu organisme.
Protein memiliki berbagai fungsi biologis seperti menyusun sitoskeleton,
memberikan sinyal antara sel-sel, dan mengkatalis reaksi biokimia. Penyusun dari
protein yaitu asam amino. Beberapa fungisida mengganggu biosintesis asam amino
dan protein sehingga mempengaruhi fungsi biologis suatu organisme. Contoh bahan
aktif yang mengganggu sintesis protein seperti streptomisin.
Efek terhadap sinyal transduksi
Fungisida yang berpengaruh terhadap membran mikroba atau protein, seperti yang
dibahas di atas, dapat berpengaruh pula terhadap transduksi sinyal yang
berlangsung pada tingkat membran dan melibatkan fungsi protein tertentu. Telah
ditemukan bahwa fludioxonil dapat mengganggu jalur transduksi sinyal, yang
mengarah ke disfungsi sintesis gliserol dan penghambatan pembentukan hifa di
Candida albicans.
Efek terhadap respirasi
Beberapa fungisida dengan aksi yang berbeda diketahui ada yang dapat
menghambat respirasi mikroba. Contohnya pada inhibitor kompleks II namun tidak
banyak digunakan seperti boscalid, carboxin, dan flutolanil yang dapat
menyebabkan disfungsi suksinat dehidrogenase (SDH) dalam siklus trikarboksilat
dan mitokondria rantai transpor elektron, menghambat aktivitas kompleks II dan
respirasi di sel jamur.
Efek terhadap mitosis dan pembelahan sel
Fungisisda Methyl benzimidazole carbamat (MBC) diketahui berdampat terhadap
mitosis dan pembelahan sel pada sel jamur target. Penelitian sebelumnya
mengungkapkan efek penghambatan fungisida pada polimerisasi tubulin ke dalam
mikrotubulus. MBC ini mengikat -tubulin di mikrotubulus yang menghambat
proliferasi dan menekan ketidakstabilan. Mikrotubulus adalah polimer sitoskeletal
dalam sel eukariotik dan dengan demikian banyak memainkan peran penting dalam
fungsi seluler. Penerapan fungisida MBC menekan perakitan mikrotubulus spindel,
mengganggu penjajaran kromosom di fase metafase dan interaksi mikrotubulus-
kinetokor menyebabkan kerugian bagi kromatid, kehilangan kromosom atau
menyebabkan nondisjunction di sel target, atau pun dapat mengakibatkan efek lain
pada mikroorganisme lainnya.
Efek terhadap sintesis asam nukleat
Fungisida Phenylamides (PA) mempengaruhi sintesis asam nukleat dengan
menghambat aktivitas sistem RNA polimerase I. Fungisida PA banyak digunakan,
cara kerjanya menghambat penggabungan uridin ke dalam rantai RNA. Sehingga
dapat mengganggu sintesis asam nukleat melalui penghambatan aktivitas RNA
polimerase yang dapat menghalangi sintesis rRNA pada tingkat transkip uridin.
Aplikasi fungisida PA dapat meningkatkan prevelensi resistensi fungisida dalam
populasi patogen dan menyebabkan resistensi atau lebih banyak isolat tahan.
Fungisida dengan multisite activity
Fungisida multisite activity atau yang bekerja secara non-spesifik banyak
digunakan dalam kegiatan agronomi, hal ini karena memiliki spektrum yang luas
dari aktivitas pengendaliannya, namun mungkin memiliki efek samping pada
mikroorganisme lain atau non-target. Contohnya seperti pada fungisida dengan
bahan aktif chlorothalonil.

BENTUK FORMULASI PESTISIDA

Formulasi pestisida merupakan campuran homogen dan stabil dari bahan aktif
dan bahan-bahan tak aktif atau bahan tambahan yang digunakan dalam produksi
pestisida. Pestisida harus diformulasikan karena bahan aktif murni sangat beracun dan
berbahaya, bahan aktif murni sangat mahal serta umumnya sulit digunakan dalam
praktek. Fungsi dari formulasi pestisida yaitu untuk mempermudah penanganan dan
aplikasi di lapangan, meningkatkan keselamatan (safety) bagi pengguna, konsumen, dan
lingkungan, meningkatkan efikasi pestisida di lapangan serta meningkatkan kestabilan
produk. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan untuk membuat suatu formulasi yaitu
kelestarian lingkungan, phytotoxicity, biologi OPT (Organisme Pengganggu Tanaman)
sasaran, teknis (semakin mudah semakin baik), biaya (semakin murah semakin baik),
keselamatan pengguna dan peralatan.
Susunan formulasi pestisida :
1. Bahan aktif (active ingredient)
Senyawa kimia atau bahan-bahan lain yang memiliki efekbiologi sebagai pestisida
(meracuni, membunuh atau mempengatuhi kehidupan OPT). Termasuk kedalam
bahan aktif : bahan aktif, sinergis (kadang dicampurkan untuk meningkatkan efikasi
pestisida tertentu), impurity (bahan cemaran; senyawa kimia yang tidak diinginkan,
tetapi sulit dihindari pada proses produksi bahan aktif).
2. Bahan tidak aktif (inert ingredient)
Inert ditambahkan dalam formulasi untuk memudahkan pendispersian dalam air,
adar pestisida mudah digunakan, meningkatkan kinerja pestisida di lapangan,
menyebarkan pestisida pada bidang sasaran, meningkatkan penetrasi pestisida pada
sasaran, serta meningkatkan kestabilan dan umur simpan produk pestisida.
Bahan pembantu (adjuvant) : utility modifier (solvent (zat pelarut), suspension
agent, defoaming agent), spray modifier (thickener (zat pengental), sticker (zat
perekat), emulsifier), activator adjuvant (surfactant, penetrant).
Bahan pembawa (carrier) : cair (water based formulation dan oil based
formulation), dan padat (tepung, butiran, dan lain-lain).

Tabel 1. Bentuk-bentuk formulasi pestisida


Kode Formulasi Uraian
EC Emulsifiable Concentrate: merupakan campuran bahan aktif
dan bahan pengemulsi yang memungkinkan pestisida akan
membentuk emulsi jika ditambahkan dengan air
SC Suspension Concentrate: berbentuk suspensi pekat akan
membentuk suspensi yang lebih encer jika dilarutkan dalam air
WP Wettable Powder: merupakan formulasi pestisida yang
berbentuk tepung dengan ukuran partikel yang sangat kecil.
Jika dilarutkan dalam air akan membentuk suspensi
SL Soluble Liquid: berbentuk larutan pekat yang dalam
aplikasinya dilarutkan dalam air sehingga membentuk larutan
yang lebih encer untuk disemprotkan
DP Dustable Powder: berbentuk tepung siap pakai, digunakan
dengan cara dihembuskan (menggunakan alat penghembus,
duster
SP Soluble Powder: berbentuk tepung, dalam aplikasinya
diencerkan dalam air agar membentuk larutan homogen untuk
disemprotkan
G Granule: berbentuk butiran siap pakai, diaplikasikan secara
kering dengan cara ditabur
WDG Water Dispersible Granule: berbentuk butiran, dalam
aplikasinya dilarutkan dalam air agar membentuk suspensi
untuk disemprotkan
SG Soluble Granule: berbentuk butiran, dalam aplikasinya
dilarutkan dalam air agar membentuk larutan untuk
disemprotkan
ULV Ultra Low Volume: umumnya berbasis minyak. Dibuat khusus
untuk penyemprotan dengan volume sangat rendah antara 1-5
liter/hektar
WSC Water Soluble Concentrate: mirip dengan EC akan tetapi
sistem solvent yang digunakan berbasis air bukan minyak
DAFTAR PUSTAKA
Djojosumarto, P. 2009. Pengetahuan Pestisida; Formulasi Pestisida.
http://hortikultura.litbang.pertanian.go.id/Modul%20PTT/Bawang_Merah/Pestisida.pdf.
Diakses tanggal 14 September 2017. Pukul 20:55 WIB.
http://repository.unand.ac.id/19061/1/Bahan_Ajar_Pestisida.pdf. Diakses tanggal 19
September 2017. Pukul 16:54 WIB.
https://www.extension.iastate.edu/sites/www.extension.iastate.edu/files/greene/Fungicid
e101.pdf. Diakses tanggal 19 September 2017. Pukul 16:48 WIB.
Sumardiono, C. 2008. Ketahanan Jamur Terhadap Fungisida Di Indonesia. Jurnal
Perlindungan Tanaman Indonesia, Vol. 14, No. 1, 2008: 1-5.
Yang, C., et.al. 2011. Fungicide: Modes of Action and Possible Impact on Nontarget
Microorganism. International Scholarly Research Network: ISRN Ecology.
Volume 2011, Article ID 130289, 8 pages. doi:10.5402/2011/130289.