Anda di halaman 1dari 31

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa


karena telah memberikan kekuatan kepada penulis untuk menyelesaikan tugas
makalah ini. makalah ini berjudul Filsafat Ilmu dan Perkembanganya, yang berisi tentang
ulasan mengenai Perkembangan Filsafat Ilmu. Penulis membuat makalah ini ditujukan sebagai
tugas dalam mata kuliah Filsafat Ilmu. Kemudian penulis mengucapkan terimakasih kepada dosen
yang bersangkutan karena telah membimbing penulis untuk menyelesaikan makalah ini, tak lupa
pula penulis sampaikan ucapan terima kasih kepada teman-teman dan keluarga yang telah
memberikan dukungan kepada penulis. Kemudian penulis memohon maaf jika pada penulisan ini
banyak kesalahan-kesalaan maka dari itu sebagai manusia biasa, penulis sekali lagi meminta
maaf. Sekian dan terimakasih

Pekanbaru, 21 Des 2013

Penulis

DAFTAR ISI

Kata Pengantar................................................................................................................... 1
Daftar Isi.............................................................................................................................. 2
BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang............................................................................................................... 3
BAB II PEMBAHASAN
Filsafat Ilmu.................................................................................................................. 5
Definisi Filsafat Ilmu................................................................................................. 35
Ruang Lingkup Filsafat Ilmu.................................................................................... 38
Problema Filsafat Ilmu............................................................................................... 39
Fungsi dan Manfaat Filsafat Ilmu.............................................................................. 40

BAB III
Penutup........................................................................................................................ 42
Daftar Pustaka............................................................................................................. 43

BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Dewasa ini filsafat ilmu sudah menjadi bahan ajar bagi tiap-tiap universitas, berbagai
kajian mengenai hakikat kehidupan. Bagaimanakah
kehidupan ini? Dan untuk apa kehidupan ini?, manusia mempunyai seperangkat pengetahuan
yang bisa membedakan antara benar dan salah, baik dan buruk. Orang lain yang mampu
memberikan penilaian secara objektif dan tuntas serta pihak lain yang melakukan penilaian
sekaligus memberikan arti adalah pengetahuan yang disebut filsafat. Filsafat ilmu terbagi atas dua
kata yaitu Filsafat dan Ilmu, Filsafat dan Ilmu adalah dua
kata yang saling berkaitan baik secara substansial maupun historis
Kelahiran suatu ilmu tidak dapat dipisahkan dari peranan filsafat, sebaliknya perkembangan
ilmu memperkuat keberadaan filsafat.
Ilmu atau Sains merupakan komponen terbesar yang diajarkan dalam semua
strata pendidikan. Walaupun telah bertahun-tahun mempelajari ilmu , pengetahuan ilmiah tidak
digunakan sebagai acuan dalam kehidupan sehari-hari. Ilmu dianggap sebagai hafalan saja,
bukan sebagai pengetahuan yang mendeskripsikan, menjelaskan, memprediksikan gejala
alam untuk kesejahteraan dan kenyamanan hidup . Kini ilmu telah tercerabut dari nilai
luhur ilmu, yaitu untuk menyejahterakan umat manusia. Bahkan tidak mustahil terjadi, ilmu
dan teknologi menjadi bencana bagi kehidupan manusia, seperti pemanasan global dan
dehumanisasi. Ilmu dan teknologi telah kehilangan rohnya yangfundamental, karena ilmu
telah mengurangi bahkan menghilangkan peran
manusia, dan bahkan tanpa disadari manusia telah menjadi budak ilmu dan teknologi. Oleh
karena itu, filsafat ilmu mencoba mengembalikan roh dan nilai luhur dari ilmu, agar ilmu tidak
menjadi bumerang bagi kehidupan manusia. Filsafat ilmu akan mempertegas bahwa ilmu dan
teknologi adalah instrumen dalam mencapai kesejahteraan bukan tujuan. Filsafat ilmu diberikan
sebagai pengetahuan bagi orang yang ingin mendalami hakikat ilmu dan kaitannya dengan
pengetahuan lainnya . Bahan yang diberikan tidak ditujukan untuk menjadi ahli filsafat. Dalam
masyarakatreligius, ilmu dipandang sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari nilai-nilai
ketuhanan, karena sumber ilmu yang hakiki adalah Tuhan.
Manusia diberi daya fikir oleh Tuhan, dan dengan daya fikir inilah manusia menemukan
teori-teori ilmiah dan teknologi. Pengaruh agama
yang kaku dan dogmatis kadangkala menghambat perkembangan ilmu. Oleh
karenanya diperlukan kecerdasan dan kejelian dalam memahami kebenaran ilmiah dengan
sistem nilai dalam agama, agar keduanya tidak
saling bertentangan. Dalam filsafat ilmu, ilmu akan dijelaskan secara filosofis dan akademis
sehingga ilmu dan teknologi tidak tercerabut dari nilai agama, kemanusiaan dan lingkungan.
Dengan demikian filsafat ilmu akan memberikan nilai dan orientasi yang jelas bagi setiap ilmu.

BAB II
PEMBAHASAN

1. FILSAFAT ILMU

Ilmu dan Filsafat


Alkisah bertanyalah seorang awam kepada ahli filsafat yang arif bijaksana, Coba sebutkan
kepada saya berapa jenis manusia yang terdapat dalam kehidupan ini berdasarkan
pengetahuannya!
Filsuf itu menarik napas panjang dan berpantun:
Ada orangyang tahu di tahunya
Ada orangyang tahu di tidaktahunya
Ada orang yang tidak tahu di tahunya
Ada orang yang tidak tahu di tidak tahunya
Pengetahuan dirnulai dengan rasa ingin tahu, kepastian dimulai den gan rasa ragu-ragu danfilsafat
dimulai dengan kedua-duanya. Berfilsafat didorong untuk mengetahui apayang telah kita tahu dan
apa yang kita belum tahu. Berfilsafat berarti berendah hati bahwa tidak sem uanya akan pernah
kita ketahui dalani kesemestaan yang seakan tak terbatas ml. Demikian juga berfilsafat berartj
mengoreksi din,semacam keberanian untuk berterus teang, seberapa jauh sebenarnya kebenaran
yang dicari telah kita jangkau.
Ilmu merupakan pengetahuan yang kita gumuli sejak bangku sekolah dasar sampaipendidikan
lanjutan dan perguruan tinggi. Berfilsafat tentang ilmu berarti kita berterus terng kepada din kita
sendiri: Apakah Sebenarnya yang sayaketahui tentang ilmu? Apakah ciri-cininya yang hakiki yang
membedakan ilmu dan pengetahuan pengetahuan lainnya yang bukan ilmu? Bagaimana saya
ketahui bahwa ilmu merupakan pengetahuan yang benar? Kritenia apa yang kita pakai dalam
menentukan kebenaran secara ilmiah? Mengapa kita mesti mempelajari ilmu?

ApakahFilsafat
Seorangyang berfilsafat dapat diumpamakan seorang yang berpijak di bumi sedang tengadah ke
bintang-bintang. Dia ingin mengetahui hakikat dirinya dalam kesemestaan galaksi. Atau seorang,
yang berdiri di puncak tinggi, memandang kengarai dan lembah di bawahnya. Dia ingin menyimak
khadirannya dengan kesemestaanyang ditatapnya. Karakteristik berpikir filsafat yang pertama
adalah sifat menyeluruh Seorang ilmuwan tidak puas lagi mengenal ilmu hanya dan segi pandang
ilmu itu sendiri. Dia ingin melihat hakikat ilmu dalam konstelasi pengetahuan yang Iainnya. Dia
ingin tahu kaitan ilmu dengan moral. Kaitan ilmu dengan agama. Diaingin yakin apakah ilmu itu
membawa kebahag iaan kepada dirinya.
Seringkita melihat seorang ilmuwan yang picik. Ahli fisika nuklir mem andang rendah kepada ahli
ilmu sosial. Lulusan IPA merasa Iebih tinggi dan lulusan IPS. Atau lebih sedih lagi, seorang
ilmuwan memand ang rendah kepada pengetahuan lain.Mereka meremehkan moral, agama dan
nilai estetika.
Seorang yang berpikir filsafat selain tengadah ke bintang-bintang, juga membongkar tempat
berpijak secara fundamental. lnilah karakteristik berpikir filsfati yang kedua yakni sifat , mendasar.
Dia tidak lagi percaya begitu saja bahwa ilmu itu benar. Mengapa ilmu dapat disebut benar?
Bagaimana proses penilaian berdasarkan kriteria tersebut dilakukan? Apakah kriteria itu sendiri
benar?Lalu benar sendiri itu apa? Seperti sebuah Iingkaran maka pertanyaan itu melingkar. Dan
menyusun sebuah lingkaran, kita harus mulaidari satu titik, yang awal dan pun sekaligus akhir.
Memang demikian, secara terus terang tidak mungkin kita menangguk pengetahuan secara
keseluruhan, dan bahkan kita tidak yakin kepada titik awal yang menjadi jangkar pemikiran yang
mendasar. Dalam hal ini kita hanya berspekulasi dan inilah yangmerupakan ciri filsafat yang
ketiga yakni sifat spekulatif. Kita mulai mengeyitkan kening dan timbul kecurigaan terhadap
filsafat: bukankahspekulasi mi suatu dasar yang tidak bisa diadakan? Dan seorang filsuf akan
menawab: memang namun hal mi tidak bisa dihindarkan, Menyusur sebuah lingkaran kita harus
mulai dan sebuah titik bagaimanapun juga spekulatifnya Yang pentingadalah bahwa dal ain
prosesnya, balk dalam analisis maupun pembuktiannya, kitabisa memisahkan spekulasi mana
yang dapat diandalkan dan mana yang tidak. Dantugas utama filsafat adalah menetapkan dasar-
dasar yang dapat diandalkan.Apakah yang disebut logis? Apakah yang disebut benar? Apakah
yang disebut sahih? Apakah alam ini teratur atau kacau? Apakah hidup ini ada tujuannya atau
absurd?
Sekarang kita sadar bahwa semua pengetahuan yang sekarang ada dimulai dengan spekulasi.Dan
serangkaian spekulasi ini kita dapat memilih buah pikiran yang dapat diandalkan yang merupakan
titik awal dan penjelajahan pengetahuan. Tanpa menetapkan kriteria tentang apa yang disebut
benar maka tidak mungkin pengetahuan lain berkembang di atas dasar kebenaran, Tanpa
menetapkan apa yangdisebut balk atau buruk maka kita tidak mungkin berbicara tentang
moral.Demikian juga tanpa wawasan apa yang disebut indah atau jelek tidak mungkinkita
berbicara tentang kesenian.
FilsafatPeneratas Pengetahuan Filsafat, merninjam pemikiran Will Durant, dapatdiibaratkan
pasukan marinir yang merebut pantai untuk pendaratan pasukaninfantri. Pasukan infanteri ini
adalah sebagai pengetahuan yang di antaranyaadalah ilmu. Filsafatlah yang memenangkan tempat
berpijak bagi kegiatan keilmuan. Setelah itu ilmulah yang membelah gunung dan merambah hutan
menyempurnakan kemenangan ini menjada pengetahuan yang dapat diandalkan. Setelah
penyerahan dilakukan maka filsafat pun pergi. Dia kembali menjelalah laut lepas berspekulasi dan
meneratas. Seorang yang skeptis akan berkata: sudah lebih dan dua ribu tahun orang berfilsafat
namun selangkah pun dia tidak maju. Sepintas lalu kelihatannya memang demikian,dan
kesalahpahaman ini dapat segera dihilangkan,sekiranya kita sadar bahwa filsafat adalah marinir
yang merupakan pionir, bukan pengetahuan yang bersifat memerinci. Filsafat menyerahkan daerah
yang sudah dimenangkannya kepada ilmu pengetahuan dan pengetahuan lainnya. Semua ilmu,
baik ilmu-ilmu alam maupun ilmu-ilmu sosial, bertolak dan pengembangannya bermula sebagai
filsafat.
Nama asal fisika adalah filsafat alam (natural phisolophy) dan nama asal ekonomi adalah filsafat
moral (moral philosophy). Dalarn perkembangan filsafat mnjadi ilmu maka terdapat taraf
peralihan. Dalam taraf peralihan makabidang penjelajahan filsafat menjadi lebih sempit, tidak lagi
rnenyeluruh melainkan sekitoral. Disini orang tidak lagi mempermasalahkan moral secara
keseluruhan melainkan dikaitkan dengan kegiatan manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya
yang kemudian berkembang menjadi ilmu ekonomi. Walaupun demikian dalam taraf ini secara
konseptual ilmu masih mendasarkan kepada norma norma filsafat. Umpamanyaekonomi masih
merupakan penerapan etika (applied ethics) dalam kegiatan manusia memenuhi kebutuhan
hidupnya. Metode yang dipakai adalah normatif dan deduktif berdasarkan asas-asas moral yang
filsafati. Pada tahap setanjutnya ilmu menyatakan dirinya otonom dan konsep-konsep filsafat dan
mendasarkan sepenuhnya kepada hakikat alam sebagaimana adanya.
Selaras dengan dengan dasarnya yang spekulatif, maka dia menelaah segala masalah yang
mungkin dapat dipikirkan oleh manusia. Sesuai dengan fungsinya sebagai pionir dia
mempermasalahkan hal-hal yang pokok: terjawab masajah yang satu, dia pun mulai merambah
pertanyaan lain. Tentu saja tiap kurun zaman mempunyai masalah yang merupakan mode pada
waktu itu. Hal ini selaras dengan usaha peningkatan kernampuan penalaran maka filsafat ilmu
menjadi ngetop, sedangkan dalam masa-masa mendatang maka yang akan menjadi perhatian
kemungkinan besar bukanlagi filsafat ilmu, melainkan filsafat moral yang berkaitan dengan ilmu.
Kadang kurang disadari bahwa tiap ilmu, terutama ilmu-ilmu sosial, mempunyaj asumsi tertentu
tentang manusia yang menjadi lakon utama dalam kajian keilmuannya.Mungkin ada baiknya kita
mengambil contoh yang agak berdekatari yakni ilmu ekonorni dan manajemen. Kedua ilrnu mi
mempunyai asumsi tentang manusia yang berbeda. Ilmu ekonomi mempunyaj asumsi bahwa
manusia adalah makhluk ekonomi yang bertujuan mencari kenikmatan sebesar-besarnya dan
menjauhi ketidaknyanianan semungkin bisa. Dia adalah makhluk hedonis yang serakab; ataudalam
proposisi ilmiah; mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dengan pengorbanan sekec il-
kecilnya. Sedang ilmu manajemen mempunyai asumsi lain tentang mahusia sebab bidang telaah
ilmu manajemen lain dengan lain ekonomi.
Ilmu ekonomi bertujuan menelaah hubungan manusia degan benda/jasa yang dapat memenuhi
kebutuhan hidupnya; dan manajemen bertujuan menelaah kerja sama antar sesama manusia dalam
mencapai suatu tujuan yang disetujui bersama.Cocoklah asumsi bahwa manusia adalab Homo
oeconomicus bagi manajernenyang tujuannya menelaah kerja sama antar manusia? Apakah motif
ekonomis yangmendorong seseorang untuk ikut menjadi suka relawan memberantas kemiskinan
dan kebodohan? Tentu saja tidak, bukan, dan untuk itu manajemen rnempunyai beberapa asumsi
tentang manusia tergantung dan perkembangan dan lingkungan masing-masing seperti makhluk
ekonomi,rnakhluk sosial dan makhluk aktualisasi din. Mengkaji permasalahan manajemen dengan
asumsi manusia dalam kegiatan ekonomis akan men yebabkan kekacauan dalam analisis yang
bersifat akademik. Demikian pula mengkaji permasalahan ekonomidengan asumsi manusia yang
lain di luar makhluk ekonomi (katakanlah makhluksosial) seperti asumsi dalam manajemen akan
menjadikan ilmu ekonomi menjadi moral erapan, mundur, sekian ratus tahun ke abad pertengahan.

Cabang Filsafat
Pokok permasalahaN yang dikaji filsafat mencakup tiga segi yakni apa yang disebut benar dan apa
yang disebut salah (logika), mana yang dianggap baik dan mana yang dianggap buruk (elika),serta
apa yang termasuk indah dan apa yang termasuk jelek (estetika). Ketigacabang utama filsafat ini
kemudian bertambah Lagi yakni, pertama, teori tentang ada: tentang hakikat keberadaan zat,
tentang hakikat pikiran serta kaitan antara zat dan pikiran yang semuanya terangkum dalam
metafisika; dan,kedua, politik: yakni kajian mengenal organisasi sosial/pemerIntahan yang ideal.
Kelima cabang utama ml kemudian benembang lagi menjadi cabang-cabang filsafat yang
mempunYai bidang kajian yang Iebih spesifikdi antaranya filsafat iLmu. Cabang cabang filsafat
tersebut antara lain mencakup :
Epistemologi (Filsafat Pengetahuan)
Etika (Filsafat Moral)
Estetika (Filsafat Seni)
Metafisika
Politik
Agama
Filsafat ilmu
Pendidikan hukum
Sejarah
Matematika

DASAR DASAR PENGETAHUAN


Penalaran
Kemampuan menalar ini menyebabkan manusia mampu mengembangkan pengetahuan yang
merupakan rahasia kekuasaan-kekuasaanNya. Secara simbolik manusia memakan buah
pengetahuan lewat Adam dan Hawa dan setelah itu manusia hars hidup berbekal pengetahuan ini.
Dia mengetahui mana yangbenar dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk,
serta mana yang indah dan mana yang jelek. Secara terus menerus dia dipaksa harus mengambil
pilihan: mana jalan yang benar mana jalan yang salah, mana tindakan yang baikmana tindakan
yang buruk, dan apa yang indah dan apa yang jelek. Dalam melakukan pilihan ini manusia
berpaling kepada pengetahuan. Manusia adalah satu-satunyamakhluk yang mengembangkan
pengetahuan ini secara sungguh-sungguh. Binatang juga mempunyai pengetahuan, namun
pengetahuan ini terbatas untuk kelangsungan hidupnya.
Manusia mengembangkan pengetahuannya nengatasi kebutuhan kelangsungan hidup ini. Dia
memikirkan hal-hal baru, menjelajah ufuk baru, karena dia hidup bulcan sekadaruntuk
kelangsungan hidup, namun lebih dari itu. Manusia rnengembangkan kebudayaan; manusia
memberi makna kepada kehidupan; manusia memanusiakan diri dalam hidupnya; dan masih
banyak lagi pernyataan semacam ini: semua itu pada hakikatnya menyimpulkan bahwa manusia
itu dalam hidupnya mempunyai tujuan tertentu yang lebih tinggi dan sekadar kelangsungan hidup.
lnilah yang menyebabkan manusia.mengembangkan pengeiahuan dan pengetahuan ini jugalah
yang rnendorong manusia menjadi makhluk yang bersifat khas di muka bumi ini.
Pengetahuan ini mampu dikembangkan manusia disebabkan dua hal utama yakni, pertama,
manusia mempunyai bahasa yang mampu mengkomunikasikan informasi dan jalan pikiran yang
melatar belakangi informasi tersebut. Sebab kedua, yang menyebabkan manusia mampu
mengembangkan pengetahuannya dengan cepat dan mantap, adalah kemampuanberpikir
menurut suatu alur kerangka berpikir tertentu. Secara garis besar cara berpikirseperti mi disebut
penalaran. Binatang mampu berpikir namun tidak mampu berpikir nalar.

Hakikat Penalaran
Penalaran merupakan suatu proses berpikir dalam menarik sesuatu kesimpulan yang berupa
pengetahuan. Manusia pada hakikatnya merupakan makhluk yang berpikir, merasa, bersikap, dan
bertindak. Sikap dan tindakannya yang bersumber pada pengetahuan yang didapatkan lewat
kegiatan merasa atau berpikir. Penalaran menghasilkan pengetahuan yang dikaitkan dengan
kegiatan berpikir dan bukan dengan perasaan, meskipun seperti dikatakan Pascal,hati pun
mempunyai logika tersendiri. Meskipun demikian patut kita sadari bahwatidak semua kegiatan
berpikir men yandarkan din pada penalaran. .Jadi penalaran merupakan kegiatan berpikir yang
mempunyai karakteristik tertentu dalam menemukan kebenaran.
Berpikir merupakan suatu kegiatan untuk menemukan pengetahuan yang benar. Apa yang disebut
benar bagi tiap orang adalah tidak sama maka oleh sebab itu kegiatanproses berpikir untuk
menghasilkan pengetahuan yang benar itu pun jugaberbeda-beda Dapat dikatakan bahwa tiap jalan
pikiran mempunyai apa yangdisebut sebagai kriteria kebenaran, dan kriteria kebenaran ini
merupakanlandasan bagi proses penemuan kebenaran tersebut. Penalaran merupakan suatuproses
penemuan kebenaran di mana tiap-tiap jenis penalaran mempunyai criteria kbenarannya masing-
masing.
Sebagaisuatu kegiatan berpikir maka penalaran mempunyal ciri-ciri tertentu. Ciri yang pertama
ialah adanya suatu pola berpikir yang secara luas dapat disebut logika.Dalam hal ini maka dapat
kita katakan bahwa tiap bentuk penalaran mempunyailogikanya tersendiri. Atau dapat juga
disimpulkan bahwa kegiatan penalaran merupakan suatu proses berfikir logis di mana berpikir
logis di sini harus diartikan sebagal kegiatan berpikir menurut suatu pola tertentu, atau dengan
perkataan lain, menurut logika tertentu. Hal ini patut kita sadari bahwaberpikir logis Itu mempun
yai konotasi yang bersifat jamak (plural) dan bukan tunggal (singular). Suatu kegiatan berpikir
bisa disebut logis ditinjau dan suatu logika tert entu, dan mungkin tidak logis bila ditinjau dan
sudut logika yang lain. Hal ini sering menimbulkan gejala apa yang dapat kita sebt sebagai
kekacauan penalaran yang disebabkan oleh tidak konsistennya kitadalam mempergunakan pola
berpikir tertentu.
Ciri yang kedua dari penalaran adalah sifat analitik dan proses berpikirnya.Penalaran merupakan
suatu kegiatan berpikir yang menyandark an din kepada suatuanalisis dan kerangka berpikir yang
dipergunakan untuk analisis tersebut adalahlogika penalaran yang bersangkutan. Artin ya
penalarani ilrniah merupakan suatukegiatan analisis yang mempergunakan logika ilmiah, dan
demikian juga penalaran lainnya yang mempergunakan Iogikanya tersendirj pula. Sifat analitik
ini, kalau kita kaji lebih jauh, merupakan konsekuensi dan adanya suatu polaberpikir tert entu.
Tanpa adanya pola berpikir tersebut maka tidak akan ada kegiatan analisis, sebab analisis pada
hakikatnya merupakan suatu kegiatan berpikir berdasarkan langkah-langkah tertentu.
Seperti kita sebutkan terdahulu tidak semua kegiatan berpikir mendasarkan diri pada
penalaran.Berdasarkan kniteria penalaran tersebut di atas maka dapat kita katakan bhwatidak
semua kegiatan berpikir bersifat logis dan analitis. Atau lebih jaubdapat kita simpulkan: cara
berpikir yang tidak termasuk ke dalam penalaran bersifat tidak logis dan tidak analitik. Dengan
demikian maka kita dapat membedakan secara ganis besar ciri-ciri berpikir menurut penalaran dan
berpikir yang bukan berdasarkan penalaran.
Logika
Penalaran merupakan suatu proses berpikir yang membuahkafl pengetahuan. Agar pengetahuan
yang dihasilkan penalaran itu mempunyai dasar kebenaran maka proses berpikir itu harus
dilakukan suatu cara tertentu.Suatu penarikan kesimpulan baru dianggap sahih (valid) kalau proses
penarikan kesimpuLan tersebut dilakukan menurut cara tertentu tersebut. Cara penarikan
kesimpulan mi disebut logika, di mana logika secara luas dapat didefinisikan sebagai pengkajian
untuk berpikir secara sahih. Terdapat bermacam-macam cara penarikan kesimpulan namun
untuk sesuai dengan tujuan studi yang memusatkan diri kepada penalaran ilmiah, kita akan
melakukan penelaahanyang saksama hanya terhadap dua jenis cara penarikan kesimpulan, yakni
logikainduktif dan logika deduktif. Logika induktif erat hubungannya dengan
penarikankesimpulan dan kasus-kasus individual nyata menjadi kesimpulan yang bersifatumum.
Sedangkan di pihak lain, kita mempunyai logika deduktif yang membantu kita dalam menarik
kesimpulan dan hal yang bersifat umum menjadi kasus yang bersifat individual (khusus).
Induksi merupakancara berpikir di mana ditarik suatu kesimpulan yang bersifat umum dan
berbagaikasus yang bersifat individual. Penalaran secara induktif dinilai dengan mengemukakan
pernyataan-pernyataan yang mempunyai ruang lingkup yang khas dan terbatas dalam menyusun
argumentasi yang diakhiri dengan pernyataan yangbersifat umum. Kesimpulan yang bersifat
umum ini penting artinya sebab mempunyai dua keuntungan. Keuntungan yang pertam ialah
bahwa pernyataan yang bersifat umum ini bersifat ekonomis. Kehidupanyang beraneka ragam
dengan berbagai corak dan segi dapat direduksikan menjadi beberapa pernyataan. Pengetahuan
yang dikumpulkan manusia bukanlah merupakankoleksi dan berbagai fakta melainkan esensi dan
fakta-fakta tersebut. Demikianjuga dalam pernyataan mengenai fakta yang dipaparkan,
pengetahuan tidak bermaksud membuat reprod uksi dan obyek tertentu, melainkan menekankan
kepada struktur dasar yang menyangga ujud fakta tersebut. Pernyataan seperti ini sudahcukup bagi
manusia untuk bersifat fungsional dalam kehidupan praktis dan berpikir teoretis.
Keuntunganyang kedua dan pernyataan yang bersifat umum adalah dimungkinkan
prosespenalaran selanjutnya baik secara induktif maupun secara deduktif. Secara induktifmaka
dari berbagai pernyataan yang bersifat umum dapat disimpulkan pernyataan yang bersifat lebih
umum lagi. Penalaran seperti ini memungkinkan disusunnya pengetahuan secara sistematis yang
mengarah kepada pernyataan-penn yataan yangm akin lama makin bersifat fundamental.
Penalarandeduktif adalah kegiatan berpikir yang sebaliknya dan pen alaran induktif. Deduksi
adalah cara berpikir dimana dan pernyataan yang bersifat umum ditarik kesimpulan yang bersifat
khusus.Penarikan kesimpulan secara deduktif biasanya mempergunakan pola berpikir
yangdinamakan silogismus. Silogismus disusun dan dua buah pernyataan dansebuah kesimpulan.
Pernyataan yang mendukung silogismus ini disebut premis yangkemudian dapat dibedakan
sebagai premis mayor dan premis minor. Kesimpulan merupakan pengetahuan yang didapat dan
pnalaran deduktif berdasarkan kedua premis tersebut.

Sumber Pengetahuan
Baik logika deduktif maupun logika induktif, dalam proses penalarannya,mempergunakan premis-
Premis yang berupa pengetahuan yang dianggap benar. Padadasarnya terdapat dua car yang
pokok bagi manusia untuk mendapatkan pengetahuan yang benar. Yang pertama adalah
mendasarkan diri kepada rasio dan yang kedua mendasarkan diri kepada pengalaman. Kaum
rasionalis mengembangkan paham apa yang kita kenal dengan rasionalisme. Sedangkan mereka
yang mendasarkan din kepada pengalanian rnengembangkan paham yang disebut
denganempirisime.
Kaum rasionalis mempergunakan metode deduktif dalam menyusufl pengetahuannya. Premis
yang dipakai dalam penalarannya didapatkan dan ide yang menurut anggapannyajelas dan dapat
diterima. Ide ini menurut mereka bukanlah ciptaan pikiran manusia.Prinsip itu sendiri sudah ada
jauh sebelum manusia berusaha memikirkannya. Halini disebut idealisme. Fungsi pikiran manusia
hanyalah mengenali prinsip tersebut yang lalu menjadi pengetahuannya.Prinsip itu sendiri sudah
ada dan bersifat apriori dan dapat diketahui oleh manusia lewat kemampuan berpikir rasionalnya.
Pengalaman tidaklah membuahkan prinsip dan justru sebaliknya, hanya dengan mengetahui
prinsip yang didapat lewat penalaran rasional itulah maka kita dapat mengerti kejadian-
kejadian yang berlaku dalam alam sekitar kita. Secara singkat dapat dikatakan bahwa ide bagi
kaum rasionalis adalah bersifat apriori dan prapengalaman yang didapatkan manusialewat
penalaran rasional.
Masalah utama yang dihadapi kaum rasionalis adalah evaluasi dan kebenaranpremis-prefnls yang
dipakainya dalam penalaran deduktif., Karena premis-premis dari semuanya bersumber pada
penalaran rasional yang bersifat abstrak dan terbebas dan pengalaman maka evaluasi semacam ini
tak dapat dilakukan. Oleh sebab itu maka lewat penalaran rasional akan didapatkan bermacam-
macam pengetahuan mengenai satu obyek tertentu tanpa adanya suatu konsensus yang dapat
diterima olehsernua pihak. Dalam hal ini maka pemikiran rasional cenderung untuk
bersifatsolipsistik dan subyektif.
Berlainand engan. kaum rasionalis maka kaum empinis berpendapat bahwa pengetahuan
manusiaitu bukan didapatka lewat penalaran rasional yang abstrak namun lewat pengalamanyang
kongkret. Gejala-gejala alamiah menurut anggapan kaum empiris adalah bersifat kongkret dan
dapat dinyatakan lewat tangkapan pancaindera manusia.Gejala itu kalau kita telaah lebih lanjut
mempunyah beberapa karakteristik tertentu umpamanya saja terdapat pola yang teratur mengenai
suatu kejadiantertentu.

ONTOLOGI : HAKIKAT APA YANG DIKAJI

Ontologi
Ontologi merupakan salah satu kajian kefilsafatan yang paling kuno danberasal dari Yunani. Studi
tersebut membahas keberadaan sesuatu yang bersifat konkret. Tokoh Yunani yang
memilikipandangan yang bersifat ontologis yang terkenal diantaranya Thales, Plato, dan
Aristoteles. Pada masanya,kebanyakan orang belum mampu membedakan antara penampakan
dengan kenyataan.
PengertianOntologi
a. Menurut Bahasa :
Ontologi berasal dari Bahasa Yunani, yaitu on / ontos = being atau ada, dan logos = logic atau
ilmu. Jadi, ontologi bisa diartikan : The theory of being qua being (teori tentang keberadaan
sebagai keberadaan), atau Ilmu tentang yang ada.
b. Pengertian menurut istilah :
Ontologi adalah ilmu yang membahas tentang hakikat yang ada, yang merupakan ultimate reality
yang berbentuk jasmani/ kongkret maupun rohani / abstrak.

Termi ontologi
Term ontologi pertama kali diperkenalkan oleh RudolfGoclenius pada tahun1636 M untuk
menamai teori tentang hakikat yang ada yangbersifat metafisis. Dalam perkembangan selanjutnya
Christian Wolf (1679 1754M) membagi Metafisika menjadi 2 yaitu :
a. MetafisikaUmum : Ontologi
Metafisika umum dimaksudkan sebagai istilah lain dari ontologi.Jadi metafisika umum atau
ontologi adalah cabang filsafat yangmembicarakan prinsip yang paling dasar atau paling dalam
dari segala sesuatuyang ada.

b. MetafisikaKhusus : Kosmologi, Psikologi, Teologi.

Pahampaham dalam Ontologi


Dalam pemahaman ontologi dapat diketemukan pandangan-pandanganpokok/aliran-aliran
pemikiran antara lain: Monoisme, Dualisme, Pluralisme,Nihilisme, dan Agnotisisme.
a. Monoisme
Paham ini menganggap bahwa hakikat yang asal dari seluruh kenyataan itu hanyalah satusaja,
tidak mungkin dua, baik yang asal berupa materi ataupun rohani. Paham inikemudian terbagi
kedalam 2 aliran :
Materialisme
Aliranmaterialisme ini menganggap bahwa sumber yang asal itu adalah materi, bukanrohani.
Aliran pemikiran ini dipelopori oleh Bapak Filsafat yaitu Thales (624-546 SM). Dia berpendapat
bahwasumber asal adalah air karena pentingnya bagi kehidupan. Aliran ini sering jugadisebut
naturalisme. Menurutnya bahwa zat mati merupakan kenyataan dansatu-satunya fakta. Yang ada
hanyalah materi/alam, sedangkan jiwa /ruh tidakberdiri sendiri. Tokoh aliran ini adalah
Anaximander (585-525 SM). Diaberpendapat bahwa unsur asal itu adalah udara dengan alasan
bahwa udaramerupakan sumber dari segala kehidupan. Dari segi dimensinya paham ini
seringdikaitkan dengan teori Atomisme. Menurutnya semua materi tersusun dari sejumlahbahan
yang disebut unsur. Unsur-unsur itu bersifat tetap tak dapat dirusakkan.Bagian-bagian yang
terkecil dari itulah yang dinamakan atom-atom. Tokoh aliranini adalah Demokritos (460-370
SM).Ia berpendapat bahwa hakikat alam ini merupakan atom-atom yang banyakjumlahnya, tak
dapat di hitung dan amat halus. Atom-atom inilah yang merupkanasal kejadian alam.
Idealisme
Idealisme diambil dari kata idea, yaitu sesuatu yang hadir dalam jiwa. Idelisme sebagailawan
materialisme, dinamakan juga spiritualisme. Idealisme berarti serbacita,spiritualisme berarti serba
ruh. Aliran idealisme beranggapan bahwa hakikat kenyataan yang beraneka ragam itu semua
berasal dari ruh (sukma) atau sejenisdengannya, yaitu sesuatu yang tidak berbentuk dan menempati
ruang.

Tokoh aliran ini diantaranya :


o Plato (428 -348 SM) dengan teori ide-nya.Menurutnya, tiap-tiap yang ada dialammesti ada
idenya, yaitu konsep universal dari setiap sesuatu.
o Aristoteles (384-322 SM), memberikan sifat keruhaniandengan ajarannya yang
menggambarkan alam ide itu sebagai sesuatu tenaga yangberada dalam benda-benda itu sendiri
dan menjalankan pengaruhnya dari dalambenda itu.
o Pada Filsafat modern padangan ini mula-mula kelihatan pada George Barkeley (1685-1753 M)
yang menyatakan objek-objek fisisadalah ide-ide.
o Kemudian Immanuel Kant (1724-1804 M), Fichte(1762-1814 M), Hegel (1770-1831 M), dan
Schelling (1775-1854 M).

b. Dualisme
Aliran ini berpendapat bahwa benda terdiri dari 2 macam hakikat sebagai asal sumbernya yaitu
hakikat materi dan hakikat ruhani, benda dan ruh, jasad dan spirit. Tokoh paham ini adalah
Descartes(1596-1650 M) yang dianggap sebagai bapak filsafat modern. Ia menamakan
keduahakikat itu dengan istilah dunia kesadaran (ruhani) dan dunia ruang(kebendaan). Tokoh yang
lain :Benedictus De spinoza (1632-1677 M), dan Gitifried Wilhelm Von Leibniz(1646-1716 M).
c. Pluralisme
Paham ini berpandangan bahwa segenap macam bentuk merupakan kenyataan. Lebih jauh lagi
paham ini menyatakan bahwa kenyataan alam ini tersusun dari banyak unsur. Tokohaliran ini pada
masa Yunani Kuno adalah Anaxagoras dan Empedocles yang menyatakan bahwa substansi yang
ada itu terbentuk dan terdiri dari 4 unsur,yaitu tanah, air, api, dan udara. Tokoh modern aliran ini
adalah William James(1842-1910 M) yang terkenal sebagai seorang psikolog dan filosof Amerika.
Dalam bukunya The Meaning of Truth, James mengemukakan bahwa tiada kebenaran yang
mutlak, yang berlaku umum, yang bersifattetap, yang berdiri sendiri, lepas dari akal yang
mengenal. Apa yang kitaanggap benar sebelumnya dapat dikoreksi/diubah oleh pengalaman
berikutnya.
d. Nihilisme
Nihilisme berasal dari bahasa Latin yang berarti nothing atau tidak ada. Doktrin tentang nihilism
sudah ada semenjak zaman Yunani Kuno, tokohnya yaitu Gorgias (483-360 SM) yang
memberikan 3 proposisi tentang realitas yaitu: Pertama, tidak ada sesuatupun yang eksis, Kedua,
bila sesuatu itu ada ia tidak dapat diketahui, Ketiga, sekalipun realitas itu dapat kita ketahui ia tidak
akan dapat kita beritahukan kepada orang lain. Tokoh modern aliranini diantaranya: Ivan
Turgeniev(1862 M) dari Rusia dan Friedrich Nietzsche (1844-1900 M), ia dilahirkan diRocken di
Prusia dari keluarga pendeta.
e. Agnotisisme
Paham ini mengingkari kesanggupan manusia untuk mengetahui hakikat benda. Baik hakikat
materi maupun ruhani. Kata Agnoticisme berasal dari bahasa Greek yaitu Agnostos yang berarti
unknown A artinya not Gno artinya know. Aliran ini dapat kita temui dalamfilsafat eksistensi
dengan tokoh-tokohnya seperti: Soren Kierkegaar (1813-1855 M), yangterkenal dengan julukan
sebagai Bapak Filsafat Eksistensialisme dan Martin Heidegger (1889-1976 M) seorangfilosof
Jerman, serta JeanPaul Sartre (1905-1980 M), seorang filosof dan sastrawan Prancis yang atheis.

Metafisika
Apakah hakikat kenyataan ini yang sebenar-benarnya? Metafisika dapat diartikansebagai ilmu
yang menyelidiki apa hakikat dibalik alam nyata ini. Bidang telaahfilsafati yang disebut metafisika
ini merupakan tempat berpijak dari setiappemikiran filsafat termasuk pemikiran ilmiah.

Asumsi
Determinisme, probabilistik dan pilihan bebas merupakan permasalahan filsafatiyang rumit
namun menarik. Tanpa mengenal ketiga aspek ini akan sulit bagi kitauntuk mengenal hakikat
keilmuan dengan baik. Paham determinisme dikembangkanoleh William Hamilton ( 1788-1856 )
dari doktrin Thomas Hobbes ( 1588-1679 )yang menyimpulkan bahwa pengetahuan adalah bersifat
empiris yang dicerminkanoleh zat dan gerak yang bersifat universal. Aliran ini merupakan lawan
dari fatalisme yang menyatakn bahwa segala kejadian ditentukan oleh nasib yangditetapkan lebih
dahulu.

Peluang
Berdasarkan teori keilmuan tidak akan pernah mendapatkan hal yang pasti mengenai suatu
kejadian. Yang ada adalah kesimpulan yang probabilistik.

Beberapa asumsi dalam ilmu


Suatu permasalahan kehidupan tidak bisa dianalisis secara cermat dan saksama hanya oleh satu
disiplin keilmuan saja. Dalam mengembangkan asumsi kita harus perhatikanbeberapa hal.
Pertama, asumsi ini harus relevan dengan bidang dan tujuanpengkajian disiplin keilmuan. Asumsi
harus operasional dan merupakan dasar daripengkajian teoritis. Kedua, asumsi ini harus
disimpulkan dari keadaansebagaimana adanya bukan bagaimana keaadaan yang seharusnya.
Asumsi yangpertama adalah mendasari telaah ilmiah sedangkan asumsi yang kedua adalahasumsi
yang mendasari telaah moral.

Batas-Batas Penjelajahan Ilmu


Ilmumemulai penjelajahan pada pengalaman manusia dan berhenti di batas pengalamanmanusia.
Ilmu membatasi lingkup penjelajahanya pada batas pengalaman manusiajuga disebabkan metode
yang dipergunakan dalam menyusun yang telah terujikebenaranya secara empiris.
EPISTEMOLOGI: CARA MENDAPATKAN PENGETAHUANYA

1.1 JARUM SEJARAH PENGETAHUAN


Dengan berkembangnya ilmupengetahuan abad penalaran maka konsepdasar berubah dari
kesamaan kepada perbedaan. Mulai terdapat pembedaan yangjelas antara berbagai pengetahuan,
yang mengakibatkan timbulnya spesialisasipekerjaan dan konsekuensinya mengubah struktur
kemasyarakatan. diferensiasi dalam bidamh ilmu dengan cepatterjadi.secara meta fisik ilmu mulai
dipisahkan dengan moral. Berdasarkan objekyang telah ditelaah mulai dibedakan ilmu-ilmu alam
dan ilmu social. Perbedaanmakin terperinci ini menimbulkan keahlian yang makin spesifik pula.
makin ciutnya kaplingmasing-masing disiplin keilmuan itu bukan tidak menimbulkan masalah
sebab dalamkehidupan nyata seperti pembangunan pemukiman manusia, maka masalah
yangdihadapi demikian banyak dan kompleks. Menghadapi kenyataan ini terdapat lagiorang-orang
yang inin memutar jarum sejarah kembali dengan mengaburkanbatas-batas otonomi masing-
masing disiplin keilmuan. dengan dalih pendekataninterdisipliner maka berbagai disiplin keilmuan
dikaburkan batas-batasnya,perlahan menyatu dalam kesatuan yang berdifusi.
pendekatan inter-disiplinermemang merupakan keharusan, namun tidak dengan mengaburkan
otonomimasing-masing disiplin keilmuan yang telah berkembang berdasarkan jalannyamasing-
masing, melainkan dengan menciptakan paradigm baru.
1.2 PENGETAHUAN
Pengetahuan pada hakikatnyamerupakan segenap apa yang kita ketahui tentang sesuatu objek
tertentu.,termasuk kedalamnya adalah ilmu, jadi ilmu merupakan bagian dari pengetahuanyang
diketahui oleh manusia disamping berbagai pengetahuan lainnya seperti senidan agama.
Ilmu membatasi diri padapengkajian objek yang berada dalam lingkup pemgalaman manusia.,
sedangkan agamamemasuki pula daerah penjelajahan yang bersifat transedental yang berada diluar
pengalaman manusia. Ilmu tidak mejawab pertanyaan tentang agama sebab ilmudalam tubuh
pengetahuan yang disusunnya tidak mencakup permasalahan tersebut.
Dari perbedaan perspektif danketerbatasan diatas lalu timbulah bagaimana cara kita melakukan
penyusunanpengetahuan yang benar. Masalah inilah yang dalam kajian filsafat
disebutepistemologi dan landasan epistemology ilmu disebut metode ilmiah.
setiap jenis pengetahuanmempunyai cirri-ciri yang spesifik mengenai apa (ontology),
bagaimana(epistemology)dan untuk apa (aksiologi) pengetahuan tersebut disusun. ketigalandasan
ini saling berkaitan; jadi ontology ilmu berkaitan dengan epistemologyilmu dan epistemology ilmu
berkaitan dengan aksiologi ilmu.
Berdasarkan landasan ontology danaksiologi seperti itu maka bagaimana sebaiknya kita
mengembangkan landasanepistemology yang cocok? Persoalan utama yang dihadapi oleh tiap
epistemologypengetahuan pada dasarnya adalah bagaimana mendapatkan ilmu pengetahuan
yangbenar dengan memperhitungkan aspek ontology dan aksiologi masing-masing.demikian juga
halnya dengan masalah yang dihadapi epistemology keilmuan yaknibagaimana menyusun
pengetahuan yang benar untu menjawab permasalahan mengenaidunia empiris yang akan
digunakan sebagai alat untuk meramal dan mengontrolgejala alam.
agar kita mampu meramalkan danmengontrol sesuatu maka pertama-tama kita harus mengetahui
mengapa sesuatu ituterjadi. Untuk dapat meramalkan dan mengontrol sesuatu, maka kita
harusmengetahui pengetahuan yang mejelaskan pristiwa itu. dengan demikian makapenelaahan
ilmiah diarahkan kepada usaha mendapatkan penjelasan mengenaiberbagai gejala alam.
Ilmu mencoba mencarikanpenjelasan mengenai alam menjadi kesimpulan yang bersifat umum
daninterpersonal. sebaliknya, seni tetap bersifat individual dan personal, denganmemusatkan
perhatian pada pengalamanhidup manusia perorangan.
Tahapan selanjutnya ditandai olehusaha manusia mencoba menafsirkan dunia ini terlepas dari
belenggu mitos.Berkembanglah lalu pengetahuan yang berakar pada pengalaman berdasarkan
akalsehat (common sense) yang didukungoleh metode mencoba-coba(trial-and-error).
Perkembangan ini menyebabkan tumbuhnya pengetahuan yangdisebut seni terapan (applied art)
yangmempunyai kegunaan langsung dalam kehidupan sehari-hari. seni terpakai ini
padahakikatnya mempunyai dua cirri yakni pertama brsifat deskriptif dan fenomenologis dan
kedua, rung lingkupterbatas. sifat deskriptif ini mencerminkan proses pengkajian yang
menitikberatkan pada penyelidikan gejala-gejalayang bersifat empiris tanpa kecenderungan untuk
pengembangan postulat yangbersifat teoritisatomistis.
Pekembangan selanjutnya adalahtumbuhnya rasionalisme yang secara kritis mempermasalahkan
dasar-dasar pikiranyang bersifat mitos. Ilmu mencoba menafsirkan gejala alam dengan
mencobamencari penjelasan tentang berbagai kejadian. dalam usaha menemukan penjelasanini
trutama penjelasan yang bersifat mendasar dan postulasional, maka ilmutidak bisa melepaskan diri
dari penafsiran yang bersifat rasional danmetafisis.
Ilmu mempunyai dua peranan,bersifat metafisika dan akal sehat yang terdidik (educated common
sense). Bagaimana cara agar kita dapatmengembangkan ilmu yang mempunyai kerangka
penjelasan yang masuk akal dansekaligus mencerminkan kenyataan yang sebenarnya?
berkembanglah dalam kaitanpemikiran ini metode eksperimen yang merupakan jembatan antara
penjelasanteoritis yang hidup di alam rasional dengan pembuktian yang dilakukan secaraempiris.
Pengetahuan metode eksperimen yang berasal dari timur ini mempunyaipengaruh penting terhadap
cara berfikir manusia sebab dengan demikian makadapat diuji berbagai penjelasa teoritis apakah
sesuai dengan kenyataan empirisatau tidak. Dengan demikian berkembanglah metoe ilmiah yang
menggabungkan caraberfikir deduktif dan induktif. Dalam pohon silsilah logika dapat
dilihatperkembangan logika ilmiah yang merupakan pertemuan anttara rasionalisme
danempirisme.
Pengetahuan ilmiah tidak sukaruntuk diterima sebab pada dasarnya adalah akal sehat meskipun
ilmu bukanlahsembarangan akal sehat melainkan akalsehat yang terdidik. Pengetahuan ilmiah
tidak sukar untuk dipercaya sebab dapatdiandalkan meskipun tentu saja tidak semua masalah dapat
dipecahkan secarakeilmuan, itulah sebabnya maka kita msih memerlukan berbagai pengetahuan
lainuntuk memenuhi kehidupan kita sebab bagaimanapun majunya ilmu secara hakiki diaadalah
terbatas dan tidak lengkap.
1.3 METODE ILMIAH
Metode ilmiah merupakan prosedurdalam mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu. Jadi ilmu
merupakan ilmupengetahuan yang didapatkan lewat metode ilmiah.Tidak semua pengetahuan
dapatdisebut ilmu sebab ilmu merupakan pengetahuan yang cara mendapatkannya harusmemenuhi
syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat yang harus dipenuhi agar suatupengetahuan dapat disebut ilmu
tercantum dalam apa yang dinamakan dengan metodeilmiah. Metodologi ilmiah secara filsafat
termasuk dalam apa yang dinamakanepistemology. Epistemologi merupakan pembahasan
mengenai bagaimana kitamendapatkan pengetahuan: apakah sumber pengetahuan? apa hakikak ,
jangkauan danruang lingkup pengetahuan? apakah manusia dimungkinkan untuk
mendapatkanpengetahuan? sampai tahap mana pengetahuan yang mungkin untuk
didatangkanmanusia.
Karakteristik khusus yangdimiliki oleh pengetahuan ilmiah adalah sifat rasional dan teruji
yangmemungkinkan tubuh pengetahuan yang disusunnya merupakan pengetahuan yang
dapatdiandalkan. Dalam hal ini maka metodologi ilmiah mencoba menggabungkan caraberfikir
deduktif dan cara berfikir induktif dalam membangun tubuh pengetahuan.Berfikir deduktif
memberikan sifat yang rasional kepada pengetahuan ilmiah dansifat konsisten dengan
pengetahuan yang telah dikumpulkan sebelumnya. Secarasistematik dan kumulatif pengetahuan
ilmu disusun setahap demi setahap denganmenyusun argumentasi mengenai suatu yang baru
berdasarkan pengetahuan yangtelah ada.
Penjelasan yang bersifat rasionalini dengan criteria kebenaran koherensi tidak memberikan
kesimpulan yangbersifat final, sebab sesuai dengan hakikat rasionalisme yang bersifatpluralistic,
maka dimungkinkan disusunnya berbagai penjelasan terhadap suatuobjek pemikiran tertentu.
tahapan selanjutnya yaitu manusiamulai memberi batas-batas yang jelas kepada objek kehidupan
tertentuyangterpisah dengan eksistensi manusia sebagai subjek yang mengamati dan
menelaahobjek tersebut. dalam menghadapi masalah tertentu, maka dalam tahapan ontology ini,
manusia mulai menentukanbatas-batas eksistensi masalah tersebut, yang memungkinkan manusia
dapatmengenal wujud masalah itu, untuk kemudian ditelaah dan dicarikan pemecahanjawabannya.
dalam usaha untuk memecahkanmasalah tersebut maka ilmu tidak berpaling kepada perasaan
melainkan kepadapikiran yang berdasarkan penalaran. ilmu mencoba mencari penjelasa
mengenaipermasalahan yang dihadapinya agar dia mengerti mengenai hakikat permasalahanitu
dan dengan demikian maka ia dapat memecahkannya. secara ontology maka ilmumembatasi
masalah yang dikajinya hanya pada masalah yang terdapat dalam ruanglingkup jangkauan
pengalaman manusia.
dalam menghadapi tiap masalahilmiah, karena masalah yang dihadapi adalah nyata maka ilmu
mencari jawabanpada dunia yang nyata pula. Ilmu dimulai dengan fakta dan diakhiri denganfakta,
Einstein berkata, apapun juga teori yang menjembatani antara keduanya.Teori yang dimaksudkan
disini adalah penjelasan mengenai gejala yang terdapatdalam dunia fisik tersebut. teori merupakan
suatu abstraksi intelektual dimanapendekatan secara rasional digabungkan dengan pengalaman
empiris. artinya, teori ilmu merupakan suatu penjelasanrasional yang berkesesuaian dengan objek
yang dijelaskannya.
Semua teori ilmiah harus memenuhidua syarat utama yakni:
a) Harus konsisten dengan teori-teori sebelumnyayang memungkinkan tidak terjadinya
kontradiksi dalam teori keilmuan secarakeseluruhan
b) harus cocok dengan fakta-fakta empiris sebabteori yang bagaimanapun konsistennya
sekiranya tidak didukung oleh pengujianempiris tidak dapat diterima kebenarannya secara ilmiah.
jadi logika ilmiah merupakangabungan antara logika deduktif dan logika induktif dimana
rasionalisme danempirisme hidup berdampingan dalam sebuah system dengan mekanisme
korektif. olehsebab itu maka sebelum teruji kebenarannya secara empiris semua penjelasanrasional
yang diajukan statusnya hanyalah bersifat sementara. penjelasansementara ini biasa disebut
hipotesis.
hipotesis merupakan dugaan ataujawaban sementara terhadap permasalahan yang sedang kita
hadapi. dalammelakukan penelitian untuk medapatkan jawaban yang benar maka seorang
ilmuanseakan-akan melakukan sesuatu interogasi terhadap alam. Hipotesis dalamhubungan ini
berfungsi sebagai penunjuk jalan yang memungkinkan kitamendapatkan jawaban, karena alam itu
sendiri membisu dan tidak responsiveterhadap pertanyaan-pertanyaan. harus kita sadari bahwa
hipotesis itu sendirimerupakan penjelasan yang bersifat sementara yang membantu kita dalam
melakukanpenyelidikan. sering kita temui kesalahpahaman dimana analisis ilmiah berhentipada
hipotesis ini tanpa upaya selanjutnya untuk melakukan verifikasi apakahhipotesis ini benar atau
tidak. kecenderungan ini terdapat pada ilmuwan yangsangat dipengaruhi oleh paham rasionalisme
dan melupakan bahwa metode ilmiahmerupakan gabungan dari rasionalisme dan empirisme.
dengan adanya jembatan berupapenyusunan hipotesis ini maka metode ilmiah sering dikenal
sbagai proses logico-hypothetico-verifikasi; ataumenurut Tyndall sebagai perkawinan yang
berkesinambungan antara deduksi daninduksi
langkah selanjutnya sesudahpenyusunan hipotesis adalah pengujian hipotesisi tersebut
denganmengkonfrontasikannya dengan dunia fisik yang nyata. proses pengujian inimerupakan
pengumpulan fakta yang relevan dengan hipotesis yang diajukan.fakta-fakta ini kadang-kadang
bersifat sederhana yang dapat kita tangkap secaralangsung dengan panca indra kita.
Dasar pola fikir ilmuan skeptis:
a) Jelaskankepada saya lalu berikan buktinya!
b) dimulaidengan ragu-ragu dan diakhiri dengan percaya atau tidak percaya
c) mulaidengan percaya dan dikahiri dengan makin percaya atau mungkin jadi ragu?
pola berfikir yang tercakup dalammetode ilmiah dapat dijabarkan dalam beberapa langkah berikut:
1) perumusanmasalah
2) penyusunankerangka berfikir dalam pengajuan hipotesis
3) perumusanhipotesis
4) pengujianhipotesis
5) penarikankesimpulan
Keseluruhan langkah ini harus ditempuh agarsuatu penelaahan dapat disebut ilmiah. Namun
dalam prakteknya sering terjadilompatan-lompatan. hubungan antara langkah satu dengan yang
lainnya tidakterikat secara statis melainkan bersifat dinamis dengan proses pengkajianilmiah yang
tidak semata mengandalkan penalaran melainkan juga imajinasi dankreatifitas. sering terjadi
bahwa langkah yang stu bukan saja merupakanlandasan bagi langkah yang berikutnya namun
sekaligus juga merupakan landasankoreksi bagi langkah lain. dengan jalan ini diharapkan
diprosesnya pengetahuanyang bersifat konsisten dengan pengetahuan-pengetahuan sebelumnya
serta terujikebenarannya secara empiris.
Kesimpulan:
1) ilmumerupakan kumpulan pengetahuan yang disusun secara konsisten dan
kebenarannyatelah teruji secara empiris
2) ilmutidak bertujuan mencari kebenaran absolute melainkan kebenaran yang bermanfaat
bagimanusia dalam tahap perkembangan tertentu
3) Ilmujuga bersifat konsisten karena penemuan yang stu didasarkan kepadapenemuan-
penemuan sebelumnya
4) ilmubukan sesuatu tanpa cela, disebabkan penalaran dan pancaindra manusia yang jauhdari
sempurna.
5) metodeilmiah pada dasarnya adalah sama bagi semua disiplin keilmuan baik yangtermasuk
dalam ilmu-ilmu alam maupun ilmu-ilmu social
6) metodeimiah tidak dapat diterapkan kepada pengetahuan yang tidak termasuk
kedalamkelompok ilmu.
7) penelitianmerupakan cerminan secara konkret kegiatan ilmu dalam proses
pengetahuan.metodologi penelitian ilmiah dan hakikatnya merupakan operasionalisasi darimetode
keilmuan. langkah-langkah penelitian yang mencakup apa yang diteliti, bagaimana penelitian
dilakukan serta untuk apa hasil penelitiandigunakan adalah koheren dengan landasan ontology,
epistemology dan aksiologi keilmuan.

1.4 STRUKTUR PENGETAHUAN ILMIAH


Pengetahuan yang diproses menurutmetode ilmiah merupakan pengetahuan yang memenuhi
syarat-syarat keilmuan, dandengan demikian dapat disebut pengetahuan ilmiah atau ilmu.
pengetahuan ilmiahini diproses lewat serangkaian langkah-langkah tertentu yang dilakukan
denganpenuh kedisiplinan dan dari karakteristik inilah maka ilmu sering dikonotasikansebagai
disiplin. ilmu dapat diibaratkan sebagai piramida terbalik denganperkembangan pengetahuannya
yang bersifat kumulatif dimana penemuan pengetahuanilmiah yang satu memungkinkan
penemuan pengetahuan-pengetahuan ilmiah lainnya.sekiranya pengetahuan ilmiah yang baru ini
kemudian ternyata salah, disebabkankelengahan dalam salah satu langkah dari proses
penemuannya, maka cepat ataulambat kesalahan ini akan diketahui dan pengetahuan ini akan
dibuang dalamkhasanah keilmuan. sebaliknya bila ternyata bahwa sebuah pengetahuan ilmiahyang
baru ini adalah benar, maka pernyataan yang terkandung dalam pengetahuanini dapat digunakan
ebagai premis baru dalam kerangka pemikiran yangmenghasilkan hipotesis-hipotesis baru, yang
bila kemudian ternyata dibenarkandalam proses pengujian akan menghasilkan pengetahuan-
pengetahuan ilmiah barupula.
secara garis besar terdapat empatjenis pola penjelasan yakni:
1) deduktif
Penjelasan deduktifmenggunakan cara berfikir deduktif dalam menjelaskan suatu gejala
denganmenarik kesimpulan secara logis dari premis-premis yang telah ditetapkansebelumnya
2) probabilistic
Penjelasan probabilistic merupakan penjelasan yangditarik secara induktif dari sejumlah kasus
yang dengan demikian tidakmemberikan kepastian seperti penjelasan deduktif melainkan
penjelasan yangbersifat peluang seperti kemungkinan, kemungkinan besar atau hamper
dapatdipastikan.
3) fungsional/teleologis
Penjelasan fungsional atau teleologis merupakanpenjelasan yang meletakkan sebuah unsur dalam
kaitannya dengan system secarakeseluruhan yang mempunyai karekteristik atau arah
perkembangan tertentu.
4) genetic
penjelasan genetic mempergunakan factor-faktor yang timbulsebelumnya dalam menjelaskan
gejala yang muncul kemudian.

teori merupakan pengetahuanilmiah yang mencakup penjelasan mengenai suatu factor tertentu dari
sebuahdisiplin keilmuan. sebuah teori biasanya terdiri dari hokum-hukum. Hukum padahakikatnya
merupakan pernyataan yang menyatakan hubungan antara dua variableatau lebih dalam suatu
kaitan sebab akibat. pernyataan yang mencakup hubungansebab akibat ini, atau dengan perkataan
lain hubungan kausalitas, memungkinkankita untuk meramalkan apa yang akan terjadi sebagai
akibat dari sebuah sebab.
secara mudah kita dapatmengatakan bahwa teori adalah pengetahuan ilmiah yang memberikan
penjelasantentang mengapa suatu gejala-gejalaterjadi, sedangkan hukum memberikan
kemampuan kepada kita untuk meramalkantentang apa yang mungkin terjadi.pengetahuan
ilmiah dalam bentuk teori dan hukum ini merupakan alat yang dapat kita gunakan
untukmengontrol gejala alam.
pengetahuan ilmiah dalam bentukteori dan hukum ini harusmempunyai tingkat keumuman yang
tinggi, atau secara ideal, harus bersifatuniversal. penting untuk diingat adalah demi kepraktisan
ilmu tidak merupakankumpulan pengetahuan yang bersifat kasus, melainkan pengetahuan yang
bersifatumum yang disimpulkan dari berbagai kasus.
dala usaha mengembangkan tingkatkeumuman yang lebih tinggi ini maka sejarah perkembangan
ilmu kita melihatberbagai contoh dimana teori-teori yang mempunyai tingkat keumuman yang
rendahdisatukan dalam suatu teori umum yang mampu mengikat keseluruhan teori-teoritersebut.
ilmu teoritis, meminjam definisiMoritz Schlick, terdiri dari sebuah system pernyataan. system
yang terdiri daripernyataan-pernyataan agar terpadu secara utuh dan konsisten jelas
memerlukankonsep yang mempersatukan dan konsep yang mempersatukan tersebut dalam teori.
makin tinggi tingkat keumumansebuah konsep maka makin teoritis konsep tersebut. pengertian
teoritis disini dikaitkan dengan gejalafisik yang dijelaskan oleh konsep yang dimaksud; artinya
makin teoritis sebuahkonsep maka makin jauh pernyataan yang dikandungnya bila dikaitkan
dengangejala fisik yang tampak nyata.
konsep-konsep yang bersifatteoritis karena sifatnya yang mendasar sering tidak langsung ketara
kegunaanpraktisnya. secara logis maka hal ini tidak sukar untuk dimengerti, sebab makinteoritis
suatu konsep maka makin jauh pula kaitan langsung konsep tersebutdengan gejala fisik yang nyata;
padahal kehidupan kita sehari-hari adalahberhubungan dengan gejala yang bersifat kongkret
tersebut. kegunaan praktisdari konsep tersebut yang bersifat teoritis baru dapat dikembangkan
sekiranyakonsep yang bersifat mendasar tersebut diterapkan pada masalah-masalah yangbersifat
praktis. dan dari pengertian inilah kita sering mendengar konsep dasardan konsep terapan yang
juga diwujudkan dalam bentuk ilmu dasar dan ilmuterapan serta penelitian dasar dan penelitian
terapan.
prinsip dapat diartikan sebagaipernyataan yang berlaku secara umum bagi kelompok gejala-gejala
tertentu, yangmampu menjelaskan kejadian yang terjadi, umpanyanya saja hokum sebab
akibatsebuah gejala. dengan prinsip inilah maka kita mejelaskan pengertian efisiensidan
mengembangkan berbagai teknik seperti analisi system dan risetoperasional untuk
meningkatkanefisiensi. dengan mengetahui prinsip yang mendasarinya, maka tidak sukar
bagimereka yang mempelajari teknik-teknik tersebut yang bernaung dalam payingkonsep system,
untuk memahami bukan saja penjelasan teknis namun sekaliguspengkajian filsafati.
postulat merupakan asumsi dasaryang kebenarannya kita terima tanpa dituntut pembuktiannya.
kebenaran ilmiah pada hakikatnya harus disahkandalam sebuah proses yang disebut metode
keilmuan. postulat ilmiah ditetapkantanpa melalui prosedur ini melainkan ditetapkan secara begitu
saja.
asumsi harus merupakan pernyataanyang kebenarannya usecara empiris dapat diuji. kita harus
memilih teori yangterbaik dari sejumlah teri yang ada berdasarkan kecocokan asumsi
yangdipergunakannya. itulah sebabnya maka dalam pengkajian ilmiah sepertipenelitian dituntut
untuk menyetakan secara tersurat, postulat, asumsi, prinsipserta dasar-dasar pemikran lainnya
yang digunakan dalam mengembangkan argumentasi.
penelitian yang bertujuan untukmenemukan pengetahuan baru yang sebelumnya belum pernah
diketahui dinamakanpenelitian murni atau penelitian dasar. sedangkan penelitian yang
bertujuanuntuk mempergunakan pengetahuan ilmiah yang telah diketahui untuk
memecahkanmasalah kehidupan yang bersifat praktis dinamakan penelitian terapan.diperlukan
waktu yang cukup lama untuk dapat menerapkan penemuan-penemuanilmiah yang baru kepada
pemanfaatan yang berguna. terdapat selang waktu yangmakin lama makin pendek antara
penemuan suatu teori ilmiah dengan penerapannyekepada masalah-masalah yang bersifat praktis.

1.5 SARANA BERFIKIR ILMIAH


Perbedaan utama antara manusiadan binatang terletak pada kemapuan manusia untuk mengambil
jalan melingkardalam mencapai tujuan. seluruhpemikiran binatang dipenuhi oleh kebutuhan
yang menyebabkan mereka secaralangsung mencari objek yang diinginkan atau membuang objek
yang menghalanginya.manusia sering disebut sebagai Homofaber yaitu mahluk yang membuat
alat; dan kemampuan membuat alat itudimungkinkan oleh pengetahuan.
untuk melakukan kegiatan ilmiahsecara baik diperlukan sarana berfikir. tersedianya sarana
tersebutmemungkinkan dikakukannya penelaahan ilmiah secara teratur dan cermat.penguasaan
sarana berfikir ini merupakan suatu hal yang bersifat imperativebagi seorang ilmuan.
sarana merupakan alat yangmembantu kita dalam mencapai suatu tujuan tertentu atau dengan
perkataan lain,sarana ilmiah mempunyai fungsi-fungsi yang khas dalam kaitan kegiatan ilmiah
secaramenyeluruh. Sarana berfikir dapat dikatakan bahwa sarana berfikir ilmiahmempunyai
metode tersendiri dalam mendapatkan pengetahuan yang berbeda denganmetode ilmiah.
tujuan mempelajari sarana ilmiahadalah untuk memungkinkan kita melakukan penelaahan ilmiah
secara baik.sedangkan tujuan mempelajari ilmu dimaksudkan untuk mendapatkan
pengetahuanyang memungkinkan kita untuk bisa memecahkan masalah kita sehari-hari. dalamhal
ini maka sarana berfikir ilmiah merupakan alat bagi cabang-cabang pengetahuanuntuk
mengembangkan materi pengetahuan berdasarkan metode ilmiah.
untuk dapat melakukan kegiatanberfikir ilmiah dengan baik maka diperlukan sarana yang berupa:
1) bahasa,
2) logika,
3) matematika dan
4) statistika.

1.6 BAHASA
Bahasa merupakan alat komunikasiverbal yang dipakai dalam seluruh proses berfikir alamiah
dimana bahasamerupakan alat berfikir dan alat komunikasi untuk menyampaikan jalan
pikirantersebut kepada orang lain.
Bahasa memungkinkan manusiaberfikir secara abstrak di mana objek-objek yang factual
ditransformasikanmenjadi symbol-simbol bahasa uyang bersifat abstrak. dengan adanya
transformasiini maka manusia dapat berfikir mengenai suatu objek tertentu meskipun
objektersebut secara factual tidak berada di tempat dimana kegiatan berfikir itudilakukan.
transformasi objek factualmenjadi symbol abstrak yang diwujudkan lewat perbendaharaan kata-
kata dirangkaian oleh tata bahasa untuk mengemukakan suatu jalan pemikiran atauekspresi
perasaan. bahasa mengkomunikasikantiga hal yakni buah pikiran, perasaan dan sikap. Atau seperti
dinyatakan olehKneller bahasa dalam kehidupan manusia mempunyai fungsi symbolic, emotik
danafektif. fungsi simbolik dari bahasa menonjol dalam komunikasi ilmiah sedangkanfungsi
emotik menonjol dalam komunikasi estetik.
Apakah sebenarnya bahasa?
pertama-tama bahasa dapat kitacirikan sebagai serangkaian bunyi. kedua, bahasa merupakan
lambang dimanarangkaian bunyi ini membentuk suatu arti tertentu.
perbedaan pendidikan antaramanusia dengan binatang terutama terletak dalam tujuannya: manusia
belajar agarberbudaya sedangkan binatang belajar untuk mempertahankan jenisnya.
denganbahasamanusia dapat berfikir secara teratur juga dapat mengomunikasikan apayang sedang
dia pikirkan kepada orang lain. dengan bahasa kitapun dapatmengekspresikan sikap dan perasaan
kita. dengan adanya bahasa maka manusiahidup dalam dunia yakni dunia pengalaman yang nyata
dan dunia simbolik yangdinyatakan dengan bahasa. pengalaman mengajarkan kepada manusia
bahwa hidupseperti ini kurang bisa diandalkan dimana eksistensi hidupnya tergantung
kepadafactor yang sukar dikontrol dan diramalkan. hidup dalam dunia fisik yang kejamdan sukar
diramalkan maka manusia bangkit dan melawannya. manusia lalumengembangkan pengetahuan
untuk menguasainnya. mereka berusaha mengerti setiapgejala yang dihadapi dan membuahkan
pengetahuan yang memberikan penjelasankepadanya.
dengan ini manusia memberartikepada hidupnya, arti yang terpatri dalam dunia simbolik yang
diwujudkan lewatkata-kata. kata-kata lalu mempunyai arti bahkan kekuatan. demikian juga
manusiamember arti bagi yang indah dalam hidup yangindah dalam hidup ini dengan bahasa.
seni merupakan kegiatan estetikyang banyak mempergunakan aspek emotif dari bahasa baik itu
seni suara maupunseni sastra. dalam hal ini bahasa bukan saja dipergunakan untuk
mengemukakanperasaan itusendiri melainkan juga merupakan ramuan untuk
mejelmakanpengalamanyang ekspresif tadi.
komunikasi ilmiah mensyaratkanbentuk komunikasi yang sangat lain dengan komunikasi estetik.
komunikasiillmiah bertujuan untuk menyampaikan informasi berupa pengetahuan dan bahasayang
dipergunakan harus terbebas dari unsur emotif. komunikasi ilmiah harusbersifat reproduktif
artinya jika si pengirim komunikasi menyampaikan suatuinformasi yang katakanlah berupa x,
maka so penerima komunikasi harus menerimainformasi yang berupa x pula.
berbahasa dengan jelas artinyaialah bahwa makna yang terkandung dalam kata-kata yang
dipergunakan diungkapkansecara tersurat (eskplisit) untuk mencegah pemberian makna lain.
berbahasadengan jelas artinya juga mengemukakan pendapat atau jalan pemikiran secarajelas.
karya ilmiah pada dasarnyamerupakan kumpulan pernyataan yang mengemukakan informasi
tentang pengetahuanmaupun jalan pemikiran dalam mendapatkan pengetahuan tersebut. untuk
dapatmengkomunikasikan suatu pernyataan dengan jelas maka seseorang seseorang
harusmenguasai tata bahasa yang baik. sedangkan tata bahasa menurut Charlton Lairdmerupakan
alat dalam mempergunakan aspek logis dan kreatif dari pikiran untukmengungkapkan arti dan
emosi dengan mempergunakan aturan-aturan tertentu. karyailmiah mempunnyai format penulisan
tertentu seperti cara meletakkan catatankaki atau menyertakan daftar bacaan.
Beberapa Kekurangan Bahasa
sebagai sarana komunikasi illmiahbahasa mempunyai beberapa kekurangan. kekurangan ini pada
hakikatnya terletakpada peranan bahasa itu sendiri yang bersifat multi fungsi yakni sebagai
saranakomunikasi emotif, afektif, dan simbolik. bahasa ilmiah pada hakikatnyaharuslah bersifat
objektif tanpa mengandung emosi dan sikap atau dengan katalain bahasa ilmiah haruslah bersifat
antiseptic dan reproduktif.
kekurangan kedua terletak padaarti yang tidak jelas dan eksak yang dikandung oleh kata-kata yang
membangunbahasa. kelemahan lain terletak pada sifat majemuk (pluralistic) dari
bahasa.kelemahan yang lainnya dari bahasa adalah konotasi yang bersifat emosional.

1.7 MATEMATIKA
matematika adalah bahasa yangmelambangkan serangkaian makna dari pernyataan yang ingin kita
sampaikan.lambing-lambang matematika bersifat artificial yang baru mempunyai artisetelah
sebuah makna diberikan kepadanya. tanpa itu maka matematika hanya merupakan kumpulan
rumus-rumus yangmati.
bahasa verbal seperti telah kitalihat sebelumnya mempunyai beberapa kekurangan yang sangat
mengganggu. untukmengatasi kekurangan yang terdapat pada bahasa maka kita berpaling
kepadamatematika. dalam hal ini dapat kita katakana bahwa matematika adalah bahasayang
berusaha untuk menghilangkan sifat kabur, majemuk,. dan emosional daribahasa verbal. lambing-
lambang dari matematika dibuat secara artificial danindividu yang merupakan perjanjian yang
berlaku khusus untuk masalah yangsedang kita kaji. Pernyataan matematika mempunyai sifat yang
jelas, spesifikdan informative dengan tidak menimbulkan konotasi yang bersifat emosional.
SIFAT KUANTITATIF DARI MATEMATIKA
matematika mempunyai kelebihanlain dibandingkan dengan bahasa verbal. matematika
mengembangkan bahasa numericyang memungkinkan kita untuk melakukan pengukuran secara
kuantitatif.
bahasa verbal hanya mapumengemukakan pernyataan yang bersifat kualitatif. demikian juga maka
penjelasandan ramalan yang diberikan oleh ilmu dalam bahasa verbal semuanya bersifatkualitatif.
sifat kuantitatif dari matematika ini meningkatkan daya prediktifdan control dari ilmu. ilmu
memberikan jawaban yang lebih bersifat eksak yangmemungkinkan pemecahan masalah secara
llebih tepat dan cermat. matematikamemungkinkan ilmu mengalami pperkembangan dari tahap
kualitatif ke kuantitatif.perkembangan ini merupakan suatu hal yang imperatif bila kita
menghendaki dayaprediksi dan control yang lebih tepat dan cermat dari ilmu. beberapa
disiplinkeiomuan, terutama ilmu-ilmu social, agak mengalami kesukaran dalamperkembangan
yang bersumber pada problema teknis dan dalam pengukuran.kesukaran ini secara bertahap telah
mulai dapat diatasi. dimana ilmu socialtelah mulai memasuki tahap yang bersifat kuantitatif. pada
dasarnya matematikadiperlukan oleh semua disiplin keilmuan untuk meningkatkan daya prediksi
dancontrol dari ilmu tersebut.
MATEMATIKA : SARANA BERFIKIR DEDUKTIF
kita semua telah mengenal bahwajumlah sudut dalam sebuah segitiga adalah 180o. pengetahuan
inimungkin saja kita dapat dengan jalan mengukur sudut-sudut dalam sebuah segitigadan
kemudian menjumlahkannya. di pihak lain, pengetahuan ini bisa didapatkansecara deduktif
dengan mempergunakan matematika. berfikir deduktif adalahproses pengambilan kesimpulan
didasarkan kepada premis bahwa kalau terdapat duagaris sejajar maka sudut-sudut yang dibentuk
kedua garis sejajar tersebutdengan garis ketiga adalah sama. premis yang kedua adalah bahwa
jumlah sudutyang dibentuk oleh sebuah garis lurus adalah 180o.
Dengan contoh seperti diatassecara deduktif matematika menemukan pengetahuan yang baru
berdasarkanpremis-premis yang tertentu. pengetahuan yang ditemukan ini sebenarnya
hanyalahmerupakan konsekuensi dari pernyataan-pernyataan ilmiah yang telah kita
temukansebelumnya.
BEBERAPA ALIRAN DALAM FILSAFAT MATEMATIKA
terdapat dua pendapat tentang matematika yakni:
1. ImmanuelKant (1724-1804) berpendapat bahwamatematika merupakan pengetahuan yang
bersifat sintetik apriori dimanaeksistensi matematika tergantung dari pancaindra
2. pendapatdari aliran yang disebut logistic yang berpendapat bahwa matematika
merupakancara berfikir logis yang salah atau benarnya dapat ditentukan tanpa mempelajaridunia
empiris.
3. DavidHilbert (1862-1943) yang dikenal dengan kaum formalis
kaum logistik mengemukakan bahwamatematika murni merupakan cabang dari logika. pendapat
ini mula-muladikembangkan oleh Gottlob Frege (1848-1925) yang menyatakan bahwa
hokumbilangan (the law of number) dapat direduksikan kedalam proporsi-proporsilogika.
kaum formalis menolak anggapankaum logistic ini yang menyatakan bahwa konsep matematika
dapat direduksimenjadi konsep logika. mereka berpendapat bahwa banyak masalah-masalah
dalambidang logika yang sama sekali tidak ada hubungannya tentang struktur formaldari lambing.
pengetahuan kita tentangbilangan, merupakan pengertian rasional yang bersifat apriori, yang kita
pahamilewat mata penalaran (the eye of reason) yang memandang jauh ke dalamstruktur hakikat
bilangan.
perbedaan pandangan ini tidakmelemahkan perkembangan matematika malah justru sebaliknya
dimana satu aliranmember inspirasi kepada aliran-aliran lainnya dalam titik-titik pertemuan
yangdisebut Black sebagai kompromi yang bersifat eklektik (ecletic compromise).
Matematika dan peradaban
matematika merupakan bahasaartificial yang dikembangkan untuk menjawab kekurangan bahasa
verbal yangbersifat alamiah. maka diperlukan usaha tertentu untuk menguasai matematikadalam
bentuk kegiatan belajar. matematika makin lama makin bersifat abstrak danesoteric yang makin
jauh dari tangkapan orang awam; magis dan misterius.

1.8 STATISTIKA
Konsep statistika seringdikaitkan dengan distribusi variable yang ditelaah dalam suatu populasi
tertentu. pada tahun 1757 Thomas simson menyimpulkan bahwa terdapat suatu distribusi yang
berlanjut (continuous distribution) dari suatu variable dalam suatu frekuensi yang cukup banyak.
Piere Simon de Laplace (1749-182)[1]

2. Orientasi Filsafat Ilmu


Setelah mengenal pengertian dan makna apa itu filsafat dan apa iti ilmu, maka pemahaman
mengenai filsafat ilmu tidak akan terlalu mengalami kesulitan. Hal ini tidak berarti bahwa dalam
memaknai filsafat ilmu tinggal menggabungkan kedua pengertian tersebut, sebab sebagai suatu
istilah, filsafat ilmu telah mengalami perkembangan pengertian serta para akhli pun telah
memberikan pengertian yang bervariasi, namun demikian pemahaman tentang makna filsafat dan
makna ilmu akan sangat membantu dalam memahami pengertian dan makna filsafat ilmu
(Philosophy of science).
Pada dasarnya filsafat ilmu merupakan kajian filosofis terhadap hal-hal yang berkaitan
dengan ilmu, dengan kata lain filsafat ilmu merupakan upaya pengkajian dan pendalaman
mengenai ilmu (Ilmu Pengetahuan/Sains), baik itu ciri substansinya, pemerolehannya, ataupun
manfaat ilmu bagi kehidupan manusia. Pengkajian tersebut tidak terlepas dari acuan pokok filsafat
yang tercakup dalam bidang ontologi, epistemologi, danaxiologi dengan berbagai pengembangan
dan pendalaman yang dilakukan oleh para akhli.
Secara historis filsafat dipandang sebagai the mother of sciences atau induk segala ilmu,
hal ini sejalan dengan pengakuan Descartes yang menyatakan bahwa prinsip-prinsip dasar ilmu
diambil dari filsafat. Filsafat alam mendorong lahirnya ilmu-ilmu kealaman, filsafat sosial
melahirkan ilmu-ilmu sosial, namun dalam perkembangannya dominasi ilmu sangat menonjol,
bahkan ada yang menyatakan telah terjadi upaya perceraian antara filsafat dengan ilmu, meski hal
itu sebenarnya hanya upaya menyembunyikan asal usulnya atau perpaduannya seperti terlihat dari
ungkapkan HuseinNasr (1996) bahwa :
meskipun sains modern mendeklarasikan independensinya dari aliran filsafat tertentu, namun ia
sendiri tetap berdasarkan sebuah pemahaman filosofis partikular baik tentang karakteristik alam
maupun pengetahuan kita tentangnya, dan unsur terpenting di dalamnya adalah Cartesianisme
yang tetap bertahan sebagai bagian inheren dari pandangan dunia ilmiah modern

dominasi ilmu terutama aplikasinya dalam bentuk teknologi telah menjadikan pemikiran-
pemikiran filosofis cenderung terpinggirkan, hal ini berdampak pada cara berfikir yang sangat
pragmatis-empiris dan partial, serta cenderung menganggap pemikiran radikal filosofis sebagai
sesuatu yang asing dan terasa tidak praktis, padahal ilmu yang berkembang dewasa ini di dalamnya
terdapat pemahaman filosofis yang mendasarinya sebagaimana kata Nasr .
Perkembangan ilmu memang telah banyak pengaruhnya bagi kehidupan manusia, berbagai
kemudahan hidup telah banyak dirasakan, semua ini telah menumbuhkan keyakinan bahwa ilmu
merupakan suatu sarana yang penting bagi kehidupan, bahkan lebih jauh ilmu dianggap sebagai
dasar bagi suatu ukuran kebenaran. Akan tetapi kenyataan menunjukan bahwa tidak semua
masalah dapat didekati dengan pendekatan ilmiah, sekuat apapun upaya itu dilakukan, seperti
kata Leenhouwers yang menyatakan:
Walaupun ilmu pengetahuan mencari pengertian menerobos realitas sendiri, pengertian
itu hanya dicari di tataran empiris dan eksperimental. Ilmu pengetahuan membatasi kegiatannya
hanya pada fenomena-fenomena, yang entah langsung atau tidak langsung, dialami dari
pancaindra. Dengan kata lain ilmu pengetahuan tidak menerobos kepada inti objeknya yang sama
sekali tersembunyi dari observasi. Maka ia tidak memberi jawaban prihal kausalitas yang paling
dalam.

Pernyataan di atas mengindikasikan bahwa adalah sulit bahkan tidak mungkin ilmu mampu
menembus batas-batas yang menjadi wilayahnya yang sangat bertumpu pada fakta empiris,
memang tidak bisa dianggap sebagai kegagalan bila demikian selama klaim kebenaran yang
disandangnya diberlakukan dalam wilayahnya sendiri, namun jika hal itu menutup pintu refleksi
radikal terhadap ilmu maka hal ini mungkin bisa menjadi ancaman bagi upaya memahami
kehidupan secara utuh dan kekayaan dimensi di dalamnya.
Meskipun dalam tahap awal perkembangan pemikiran manusia khususnya jaman Yunani
kuno cikal bakal ilmu terpadu dalam filsafat, namun pada tahap selanjutnya ternyata telah
melahirkan berbagai disiplin ilmu yang masing-masing mempunyai asumsi filosofisnya
(khususnya tentang manusia) masing-masing. Ilmu ekonomi memandang manusia sebagai homo
economicus yakni makhluk yang mementingkan diri sendiri dan hedonis, sementara sosiologi
memandang manusia sebagai homo socius yakni makhluk yang selalu ingin berkomunikasi dan
bekerjasama dengan yang lain, hal ini menunjukan suatu pandangan manusia yang fragmentaris
dan kontradiktif, memang diakui bahwa dengan asumsi model ini ilmu-ilmu terus berkembang dan
makin terspesialisasi, dan dengan makin terspesialisasi maka analisisnya makin tajam, namun
seiring dengan itu hasil-hasil penelitian ilmiah selalu berusaha untuk mampu membuat
generalisasi, hal ini nampak seperti contradictio in terminis (pertentangandalam istilah)
Dengan demikian eksistensi ilmu mestinya tidak dipandang sebagai sesuatu yang sudah
final, dia perlu dikritisi, dikaji, bukan untuk melemahkannya tapi untuk memposisikan secara tepat
dalam batas wilayahnya, hal inipun dapat membantu terhindar dari memutlakan ilmu dan
menganggap ilmu dan kebenaran ilmiah sebagai satu-satunya kebenaran, disamping perlu terus
diupayakan untuk melihat ilmu secara integral bergandengan dengan dimensi dan bidang lain yang
hidup dan berkembang dalam memperadab manusia. Dalam hubungan ini filsafat ilmu akan
membukakan wawasan tentang bagaimana sebenarnya substansi ilmu itu, hal ini karena filsafat
ilmu merupakan pengkajian lanjutan, yang menurut Beerleng, sebagaiRefleksi sekunder atas illmu
dan ini merupakan syarat mutlak untuk menentang bahaya yang menjurus kepada keadaan cerai
berai serta pertumbuhan yang tidak seimbang dari ilmu-ilmu yang ada, melalui pemahaman
tentang asas-asas, latar belakang serta hubungan yang dimiliki/dilaksanakan oleh suatu kegiatan
ilmiah.

3. Definisi Filsafat Ilmu

Rosenberg menulis Philosophy deals with two sets of questions: First, the questions that
science physical, biological, social, behavioral . Second, the questions about why the sciences
cannot answer the rst lot of questions.[2] Dikatakan bahwa filsafat dibagi dalam dua buah
pertanyaan utama, pertanyaan pertama adalah persoalan tentang ilmu (fisika,biologi, social dan
budaya) dan yang kedua adalah persoalan tentang duduk perkara ilmu yang itu tidak terjawab
pada persoalan yang pertama. Dari narasi ini ada dua buah konsep filsafat yang senantiasa
dipertanyakan yakni tentang apa dan bagaimana. Apa itu ilmu dan bagaimana ilmu itu disusun dan
dikembangkan. Ini hal sangat mendasar dalam kajian dan diskusi ilmiah dan ilmu pengetahuan
pada umumnya.yang satu terjawab oleh filsafat dan yang kedua dijawab oleh kajian filsafat ilmu.
Beberapa penjelasan mengenai filsafat tentang pengetahuan. Dipertanyakanlah hal-hal
misalnya : Apa itu pengetahuan? Dari mana asalnya? Apa ada kepastian dalam pengetahuan, atau
semua hanya hipotesis atau dugaan belaka? Teori pengetahuan menjadi inti diskusi, apa hakekat
pengetahuan, apa unsur-unsur pembentuk pengetahuan, bagaimana menyusun dan
mengelompokkan pengetahuan, apa batas-batas pengetahuan, dan juga apa saja yang menjadi
sasaran dari ilmu pengetahuan.[3]Disinilah filsafat ilmu memfokuskan kajian dan
telaahnya. Yakni pada sebuah kerangka konseptual yang menyangkut sebuah system
pengetahuan yang di dalamnya terdapat hubungan relasional antara, pengetahu /yang mengetahui
(the Knower) dan yang terketahui /yang diketahui (the known) dan juga antara pengamat (the
observer) dengan yang diamati (the observed).[4]
Pengertian-pengertian tentang filsafat ilmu, telah banyak dijumpai dalam berbagai buku
maupun karangan ilmiah. Filsafat ilmu adalah segenap pemikiran reflektif terhadap persoalan-
persoalan mengenai segala hal yang menyangkut landasan ilmu maupun hubungan ilmu dengan
segala segi dari kehidupan manusia. Filsafat ilmu merupakan suatu bidang pengetahuan integrative
yang eksistensi dan pemekarannya bergantung pada hubungan timbal-balik dan saling-pengaruh
antara filsafat dan ilmu.
Filsafat ilmu merupakan penerusan pengembangan filsafat pengetahuan. Objek dari filsafat
ilmu adalah ilmu pengetahuan. Oleh karena itu setiap saat ilmu itu berubah mengikuti
perkembangan zaman dan keadaan. Pengetahuan lama menjadi pijakan untuk mencari
pengetahuan baru.
Untuk memahami arti dan makna filsafat ilmu, di bawah ini dikemukakan pengertian
filsafat ilmu dari beberapa ahli yang terangkum dalam sejumlah literatur kajian Filsafat Ilmu.[5]
Robert Ackerman philosophy of science in one aspect as a critique of current scientific
opinions by comparison to proven past views, but such aphilosophy of science is clearly not a
discipline autonomous of actual scientific paractice. (Filsafat ilmu dalam suatu segi adalah suatu
tinjauan kritis tentang pendapat-pendapat ilmiah dewasa ini dengan perbandingan terhadap
kriteria-kriteria yang dikembangkan dari pendapat-pendapat demikian itu, tetapi filsafat ilmu jelas
bukan suatu kemandirian cabang ilmu dari praktek ilmiah secara aktual.
Lewis White Beck Philosophy of science questions and evaluates the methods of scientific
thinking and tries to determine the value and significance of scientific enterprise as a
whole.(Filsafat ilmu membahas dan mengevaluasi metode-metode pemikiran ilmiah serta
mencoba menemukan dan pentingnya upaya ilmiah sebagai suatu keseluruhan)
Cornelius Benjamin That philosopic disipline which is the systematic study of the nature of
science, especially of its methods, its concepts and presuppositions, and its place in the general
scheme of intellectual discipines. (Cabang pengetahuan filsafati yang merupakan telaah sistematis
mengenai ilmu, khususnya metode-metodenya, konsep-konsepnya dan praanggapan-praanggapan,
serta letaknya dalam kerangka umum cabang-cabang pengetahuan intelektual.)
Michael V. Berry The study of the inner logic if scientific theories, and the relations between
experiment and theory, i.e. of scientific methods. (Penelaahan tentang logika interen dari teori-
teori ilmiah dan hubungan-hubungan antara percobaan dan teori, yakni tentang metode ilmiah.)
May Brodbeck Philosophy of science is the ethically and philosophically neutral analysis,
description, and clarifications of science. (Analisis yang netral secara etis dan filsafati, pelukisan
dan penjelasan mengenai landasan landasan ilmu.
Dari paparan pendapat para pakar dapat disimpulkan bahwa pengertian filsafat ilmu itu
mengandung konsepsi dasar yang mencakup hal-hal sebagai berikut:
1) sikap kritis dan evaluatif terhadap kriteria-kriteria ilmiah
2) sikap sitematis berpangkal pada metode ilmiah
3) sikap analisis obyektif, etis dan falsafi atas landasan ilmiah
4) sikap konsisten dalam bangunan teori serta tindakan ilmiah

Dari ungkapan tersebut terdapat sebuah konsep bahwa tugas dari pemikir filsafat ilmu
itu untuk menjawab dan menyelesaikan persoalan persoalan yang menyangkut: pertama, apa yang
menjadi perbedaaan ilmiah karakteristik type masing masing ilmu antara satu ilmu dengan ilmu
lainnya melalu penelitian. Kedua Prosedur apa yang harus dilakukan secara ilmiah dalam
melakukan penelitian atas kenyataan yang terjadi di alam?, Ketiga apa yang mestinya dilakukan
dalam mendapatkan penjelasan ilmiah untuk melakukan penelitian dan eksperimen itu ?
Dan keempat apakah teori itu dapat diambil sebagai konsep dan prinsip-prinsip ilmiah?.

Sehingga sketsa filsafat ilmu dapat di gambarkan dalam bentuk tabel sebagai berikut:[6]
Level Disciplin Subject-matter
2 Philosophy of Science Analysis of the Procedures and Logic of
Scientic Explanation
1 Science Explanation of Facts
0 Facts

Dengan memperhatikan tabel diatas secara jelas ditampilkan bahwa filsafat ilmu
menempati level ke-2 sedangkan ilmu (science) pada level pertama dan semuanya pada satu
pangkal pokok yakni fakta (kenyataan) menjadi basis utama bangunan segala disiplin ilmu. Kalau
ilmu itu menjelaskan Fakta sementara filsafat ilmu itu subyek materinya adalah menganalisa
prosedur-prosedur logis dari ilmu (Analysis of the Procedures and Logic of Scientic Explanation).

4. Ruang Lingkup Filsafat Ilmu

Berdasarkan pendapat di atas kita memperoleh gambaran bahwa filsafat ilmu merupakan
telaah kefilsafatan yang ingin menjawab pertanyaan mengenai hakikat ilmu, yang ditinjau dari segi
ontologis, epistemelogis maupun aksiologisnya. Dengan kata lain filsafat ilmu merupakan bagian
dari epistemologi (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengakaji hakikat ilmu, seperti :

Obyek apa yang ditelaah ilmu ? Bagaimana ujud yang hakiki dari obyek tersebut?
Bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya tangkap manusia yang membuahkan
pengetahuan ? (Landasan ontologis)
Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu?
Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar mendapatkan
pengetahuan yang benar? Apakah kriterianya? Apa yang disebut kebenaran itu? Adakah
kriterianya? Cara/teknik/sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan
yang berupa ilmu? (Landasan epistemologis)
Untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan? Bagaimana kaitan antara cara
penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan obyek yang
ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral ? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural
yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral/profesional ?
(Landasan aksiologis). [7]

Sedangkan di dalam introduction-nya Stathis Psillos and martin Curd menjelaskan bahwa
filsafat ilmu secara umum menjawab pertanyaan pertanyaan yang meliputi :

apa tujuan dari ilmu dan apa itu metode ? jelasnya apakah ilmu itu bagaimana
membedakan ilmu dengan yang bukan ilmu (non science) dan juga pseudoscience?
bagaimana teori ilmiah dan hubungannya dengan dunia secara luas ? bagaiman konsep
teoritik itu dapat lebih bermakna dan bermanfaat kemudian dapat dihubungkan dengan
penelitian dan observasi ilmiah?
apa saja yang membangun struktur teori dan konsep-konsep seperti
misalnya causation(sebab-akibat dan illat), eksplanasi (penjelasan), konfirmasi, teori,
eksperimen, model, reduksi dan sejumlah probabilitas-probalitasnya?.
apa saja aturan aturan dalam pengembangan ilmu? Apa fungsi eksperimen ? apakah ada
kegunaan dan memiliki nilai (yang mencakup kegunaan epistemic atau pragmatis) dalam
kebijakan dan bagaimana semua itu dihubungkan dengan kehidupan social, budaya dan
factor-faktor gender? [8]

Dari paparan ini dipertegas bahwa filsafat ilmu itu memiliki lingkup pembahasan yang
meliputi: cakupan pembahasan landasan ontologis ilmu, pembahasan mengenai landasan
epistemologi ilmu, dan pembahasan mengenai landasan aksiologis dari sebuah ilmu.[9]

5. Problema Filsafat Ilmu

Problem filsafat Ilmu dibicarakan sejajar dengan diskusi yang berkaitan dengan landasan
pengembangan ilmu pengetahuan yakni landasan ontologis, epistemologis dan aksiologis. Untuk
Telaah tentang problema substansi Filsafat Ilmu, yaitu substansi yang berkenaan dengan: (1) fakta
atau kenyataan, (2) kebenaran (truth), (3) konfirmasi dan (4) logika inferensi.[10]
Permasalahan atau problema filsafat ilmu mancakup ;pertama Problem ontologi
ilmu; perkembangan dan kebenaran
ilmu sesungguhnya bertumpu pada landasan ontologis (apa yang terjadi -
eksistensi suatu entitas) Kedua, Problem epistemologi; adalah bahasan tentang asal muasal,
sifat alami, batasan (konsep), asumsi, landasan
berfikir, validitas, reliabilitas sampai soal kebenaran (bagaimana ilmu diturunkan -
metoda untuk menghasilkan kebenaran) Ketiga,
Problem aksiologi; implikasi etis, aspek estetis, pemaparan serta penafsiran mengenai pera
nan (manfaat) ilmu dalam peradaban manusia.
Ketiganya digunakan sebagai landasan penelaahan ilmu[11]

6. Fungsi dan Manfaat Filsafat Ilmu

Cara kerja filsafat ilmu memiliki pola dan model-model yang spesifik dalam menggali dan
meneliti dalam menggali pengetahuan melalui sebab musabab pertama dari gejala ilmu
pengetahuan. Di dalamnya mencakup paham tentang kepastian , kebenaran, dan obyektifitas. Cara
kerjanya bertitik tolak pada gejala gejala pengetahuan mengadakan reduksi ke arah intuisi para
ilmuwan, sehingga kegiatan ilmu ilmu itu dapat dimengerti sesuai dengan kekhasannya masing-
masing [12] disinilah akhirnya kita dapat mengerti fungsi dari filsafat ilmu.
Filsafat ilmu merupakan salah satu cabang dari filsafat. Oleh karena itu, fungsi filsafat ilmu
kiranya tidak bisa dilepaskan dari fungsi filsafat secara keseluruhan, yakni :

Sebagai alat mencari kebenaran dari segala fenomena yang ada.


Mempertahankan, menunjang dan melawan atau berdiri netral terhadap pandangan filsafat
lainnya.
Memberikan pengertian tentang cara hidup, pandangan hidup dan pandangan dunia.
Memberikan ajaran tentang moral dan etika yang berguna dalam kehidupan
Menjadi sumber inspirasi dan pedoman untuk kehidupan dalam berbagai aspek kehidupan
itu sendiri, seperti ekonomi, politik, hukum dan sebagainya.
Jadi, Fungsi filsafat ilmu adalah untuk memberikan landasan filosofik dalam memahami
berbagi konsep dan teori sesuatu disiplin ilmu dan membekali kemampuan untuk membangun teori
ilmiah. Selanjutnya dikatakan pula, bahwa filsafat ilmu tumbuh dalam dua fungsi, yaitu:
sebagai confirmatory theories yaitu berupaya mendekripsikan relasi normatif antara hipotesis
dengan evidensi dantheory of explanation yakni berupaya menjelaskan berbagai fenomena kecil
ataupun besar secara sederhana. Manfaat lain mengkaji filsafat ilmu adalah
Tidak terjebak dalam bahaya arogansi intelektual
Kritis terhadap aktivitas ilmu/keilmuan
Merefleksikan, menguji, mengkritik asumsi dan metode ilmu terus-menerus sehingga ilmuwan
tetap bermain dalam koridor yang benar (metode dan struktur ilmu)
Mempertanggungjawabkan metode keilmuan secara logis-rasional
Memecahkan masalah keilmuan secara cerdas dan valid
Berpikir sintetis-aplikatif (lintas ilmu-kontesktual)

BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
1. Hakekat Filsafat
Secara bahasa Philo/philia/philare yang artinya cinta, ingin, senang dan kata Sophia/sophos
yang artinya ilmu, kebijaksanaan atau pengetahuan. Jadi idzofahnya menjadi
filsafat/falsafah/filosofi yang artinya mencintai kebijaksanan pengetahuan dan kenginan yang kuat
akan ilmu pengetahuan. Jadi berfikir filsafat mengandung makna berfikir tentang segala sesuatu
yang ada secara kritis, sistematis,tertib,rasional dan komprehensip
2. Hakikat Filsafat Ilmu
a. Pengertian Filsafat Ilmu
merupakan cabang dari filsafat yang secara sistematis menelaah sifat dasar ilmu,
khususnya mengenai metoda, konsep- konsep, dan praanggapan-pra-anggapannya, serta letaknya
dalam kerangka umum dari cabang-cabang pengetahuan intelektual.
filsafat ilmu pada dasarnya adalah ilmu yang berbicara tentang ilmu
pengetahuan (science of sciences) yang kedudukannya di atas ilmu lainnya. Dalam
menyelesaikan kajiannya pada konsep ontologis. ,secara epistemologis
dan tinjauan ilmu secara aksiologis.
b. Karakteristik filsafat ilmu
Filsafat ilmu merupakan cabang dari filsafat.
Filsafat ilmu berusaha menelaah ilmu secara filosofis dari berbagai sudut pandang dengan
sikap kritis dan evaluatif terhadap kriteria-kriteria ilmiah, sitematis berpangkal pada metode ilmiah
, analisis obyektif, etis dan falsafi atas landasan ilmiah dan sikap konsisten dalam membangun
teori serta tindakan ilmiah
3. Objek filsafat ilmu
Objek material filsafat ilmu adalah ilmu dengan segala gejalanya manusia untuk tahu.
Objek formal filsafat ilmu adalah ilmu atas dasar tinjauan filosofis, yaitu secara ontologis,
epistemologis, dan aksiologis dengan berbagai gejala dan upaya pendekatannya.

4. Lingkup dan problema substansi filsafat ilmu


Cakupannya pembahasan tentang problema substansi landasan ontologis ilmu, epistemologi
ilmu, dan pembahasan mengenai landasan aksiologis dari sebuah ilmu.
5. Manfaat mempelajari filsafat ilmu
Semakin kritis dalam sikap ilmiah dan aktivitas ilmu/keilmuan
Menambah pemahaman yang utuh mengenai ilmu dan mampu
menggunakan pengetahuan tersebut sebagai landasan dalam proses pembelajaran dan penel
itian ilmiah.
Memecahkan masalah dan menganalisis berbagai hal yang berhubungan dengan
masalah yang dihadapi.
Tidak terjebak dalam bahaya arogansi intelektual
Merefleksikan, menguji, mengkritik asumsi dan metode ilmu terus-menerus sehingga ilmuwan
tetap bermain dalam koridor yang benar (metode dan struktur ilmu)
Mempertanggungjawabkan metode keilmuan secara logis-rasional
Memecahkan masalah keilmuan secara cerdas dan valid
Berpikir sintetis-aplikatif (lintas ilmu-kontesktual)
DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Charis,Z, Dimensi Etik dan Asketik Ilmu Pengetahuan Manusia;Kajian Filsafat Ilmu,
Yogyakarta:LESFI,2002
Ahmad Syadali dan Mudzakir, Filsafat Umum, Bandung; Pustaka Setia , 1997
Amsal bakhtiar , FIlsafat ilmu ,Jakart;Raja Grafindo, 2006
Al Quran dan Terjemahannya ,Jakarta: Depag, 1974
C. Verhaak dkk, FIlsafat Ilmu Pengetahuan,Jakarta; Gramedia, 1995
Hamdani Ihsan & Fuad Ihsan, Filsafat Pendidikan Islam, Pustaka setia, Bandung, 2007
Harun Nasution, Islam ditinjau dari berbagai aspeknya, Jakarta; UIP,985
JB. Blikolong,FILSAFAT ILMU SEBUAH PENGANTAR;Seri diktat kuliahUniversitas Gunadarma
Jakarta,
Jerome R.Ravertz , Filsafat Ilmu;sejarah dan ruang lingkup bahasan, Yogyakarta; Pustaka Pelajar,
2004
Jujun S.Suriasumantri, Filsafat Ilmu ;sebuah pengantar popular, Jakarta;Pustaka Sinar Harapan ,
2001
Juraid Abdul Latif,M.Hum, Manusia Filsafar dan Sejarah,Jakart;Bumi Aksara, 2006
Lokisno CW, Pengantar Filsafat, Bahan Presentasi kuliah filsafat ilmu di Fakultas Ushuluddin IAIN
Sunan Ampel Surabaya,..
M.Solihin,M.Ag, Perkembangan Pemikiran Filsafat dari Klasik Hingga Modern,Bandung;Pustaka
Setia, 2007
Made Pramono, S.S., M.Hum.Filsafat Ilmu, Bahan Presentasi kuliah Pascasarjana UNESA.
Mohammad Adib, Filsafat Ilmu;ontologi,Epistemologi, Aksiologi, dan logika Ilmu
Pengetahuan Yogyakarta;Pustaka Pelajar,2010
Muhdhor Achmad, Ilmu dan Keingintahuan , Bandung; Trigendakarya,1994
Prasetyo , Flsafat Pendidikan,Bandung ;Pustaka Setia, 2002

[1] Jujun S.Suriasumantri, Filsafat Ilmu ;sebuah pengantar popular, Jakarta;Pustaka Sinar Harapan ,
2001

[2] Alex Rosenberg,Philosophy of Science A contemporary Iintroduction,(New york;


Routledge,2010) 4
[3] Muhdhor Achmad, Ilmu dan Keingintahuan( Bandung; Trigendakarya,1994), 61-85
[4] Jerome R.Ravertz , Filsafat Ilmu;sejarah dan ruang lingkup bahasan, (Yogyakarta;
Pustaka Pelajar, 2004), 86
[5] Lokisno CW, Pengantar Filsafat, Bahan Presentasi kuliah filsafat ilmu di Fakultas
Ushuluddin IAIN Sunan Ampel Surabaya,
[6] ibid
[7] Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu, 33
[8] Stathis Psillos and Martin Curd , Introduction;Historical and
philosophical Context,Canada: Routledge, 2008) xix
[9] Baca Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu 17-18
[10] Lukkisno CW, Pengantar Filsafat Ilmu, Bahan Presentasi kuliah Filsafat di
Fak.Ushuluddin, Bandingkan dengan buku Tahu dan Pengetahuan karangan Jujun S.
Suriasumantri penerbit OBOR Jakarta.
[11] Made Pramono, S.S., M.Hum. Filsafat Ilmu,Bahan Presentasi kuliah Pascasarjana UNESA.
[12] C. Verhaak dkk, FIlsafat Ilmu Pengetahuan,(Jakarta; Gramedia, 1995) 107-108