Anda di halaman 1dari 5

PEMAKAIAN ANTIBIOTIKA DALAM USAHA PETERNAKAN

TRI BUDHI MURDIATI

Balai Penelitian Veteriner


Alan R.E. Martadinata 30, P.O.Box 52, Bogor 16114

PENDAHULUAN sin . Dan sediaan premik adalah obat yang dapat


dicampurkan kedalam pakan, yang dibeclakan se-
Penggunaan obat-obatan dalam usaha peter- bagai imbuhan pakan (feed additive) clan pe-
nakan hampir tidak dapat dihindarkan, karena lengkap pakan (feed supplemen) .
ternak cliharapkan selalu berproduksi secara opti Imbuhan pakan atau feed additive dapat diar-
mal yang berarti kesehatan ternak harus selalu tikan sebagai suatu bahan yang ditambahkan ke
terjaga . Untuk memenuhi tuntutan produksi ter- dalam pakan dalam jumlah yang kecil . Secara
nak yang tinggi, maka ketersediaan obat hewan alami imbuhan pakan bukan merupakan bahan
sangat diperlukan, disamping penggunaan bibit yang terdapat dalam pakan, tetapi apabila ditam-
unggul clan pemuliaan yang memakan waktu yang bahkan pada pakan akan memperbaiki kualitas
relatif lama . pakan, dapat meningkatkan efisiensi dari pakan,
Dalam bidang peternakan, pemakaian antibio- sehingga dapat meningkatkan produksi ternak .
tika selain untuk pengobatan penyakit, juga digu- Sedangkan yang dimaksud dengan feed supple-
nakan untuk memacu pertumbuhan ternak men adalah suatu bahan yang secara alami sudah
(growth promotor), yang umumnya ditambahkan terkandung dalam pakan, tetapi jumlahnya kurang
dalam pakan sebagai imbuhan. Pada pemakaian mencukupi sehingga perlu ditambah dengan cara
antibiotika dalam bidang peternakan, faktor mencampurkan pada pakan .
keamanan harus dipertimbangkan, diantaranya Obat hewan berdasarkan tingkat bahaya
adalah keamanan produk peternakan dari residu dalam pemakaiannya dapat digolongkan menjadi
antibiotika yang digunakan. 3 golongan, seperti yang dinyatakan dalam SK
Dalam memilih obat untuk manusia, harga Menteri Pertanian No .806 tahun 1994, yaitu
obat tidak terlalu menjadi pertimbangan . Tidak golongan obat keras, golongan obat bebas ter-
demikian halnya pemilihan obat untuk ternak, batas clan golongan obat bebas . Obat keras adalah
faktor ekonomi menjadi pertimbangan pertama. obat hewan yang bila pemakaiannya tidak sesuai
Biaya pembelian obat disamping harga pakan clan dengan ketentuan dapat menimbulkan bahaya
biaya pemeliharaan akan mempengaruhi harga bagi hewan clan atau manusia yang mengkon-
dari produk peternakan yang dihasilkan, seperti sumsi hasil hewan tersebut . Obat bebas terbatas
harga claging, telur clan susu . Efisiensi yang tinggi adalah obat keras yang diperlakukan sebagai obat
dengan. keuntungan yang maksimal merupakan bebas untuk jenis hewan tertentu, dengan jumlah,
harapan dari setiap peternak . closis, bentuk sediaan clan cara pemakaian yang
tertentu, serta diberi tanda pernyataan khusus .
OBAT DALAM BIDANG PETERNAKAN Sedangkan obat bebas yaitu obat hewan yang
dapat dipakai secara bebas oleh setiap orang pada
Seperti yang tercantum dalam PP 78/1992 setiap jenis hewan . Antibiotika clan kemotera-
tentang obat hewan, sediaan obat hewan menurut petika yang digunakan untuk mengobati suatu
kegunaannya atau asalnya dibagi menjadi empat penyakit, pada umumnya digolongkan sebagai
golongan yaitu golongan farmasetik, biologik, pre- obat keras.
mik clan golongan obat alami . Obat yang dimasuk-
kan dalam golongan farmasetik meliputi vitamin, ANTIBIOTIKA UNTUK PENGOBATAN TERNAK
hormon, antibiotika clan kemoterapetika lainnya
seperti antelmintika, anti protozoa, antihistamin, Telah banyak antibiotika yang dipergunakan
antipiretika clan anaestetika . Sedangkan yang di- untuk mengobati penyakit infeksi, baik yang
maksud dengan golongan biologik adalah sediaan dibuat secara alami ataupun dari hasil sintesa, clan
yang dihasilkan melalui proses biologi, umumnya telah banyak pula yang diproduksi dalam suatu
mempunyai fungsi bukan untuk mengobati pe- industri (DIT .JEN .NAK, 1993) . Namun demikian,
nyakit melainkan untuk pencegahan, seperti vak- selalu ditemukan antibiotika yang baru yang lebih

18
WARTAZOA Vol. 6 No . 1 Th . 1997

luas spektrumnya dan lebih baik dalam melawan manusia, selain itu pemakaian khlorampenikol
kuman yang resisten terhadap antibiotika yang dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan
telah digunakan terlebih dahulu . aplastik anemia (SETTEPANI, 1984).
Idealnya, penggunaan antibiotika untuk me- Menurut peraturan, antibiotika untuk pengo-
ngatasi penyakit infeksi harus didasarkan pada batan pada ternak hanya dapat diperoleh dengan
identifikasi bakteri yang menyebabkan infeksi, resep dokter hewan . Namun pada kenyataannya
disertai hasil uji kepekaan dari bakteri yang ber- berbagai jenis antibiotika bisa diperoleh dengan
sangkutan, sehingga akan diperoleh hasil yang mudah dari toko obat hewan (poultry shop) atau
maksimal . Pada kenyataannya, hal tersebut sukar dari Koperasi peternak seperti KUD (Koperasi Unit
untuk dilakukan karena terbatasnya waktu dan Desa) atau KPS (Koperasi Pengumpul Susu)
kemampuan . Selain itu, dalam menghadapi pe- (MURDIATI dan BAHRI 1991) . Seperti mudahnya
nyakit infeksi yang berbahaya baik pada ternak memperoleh antibiotika untuk pengobatan
maupun pada manusia, maka pengobatan harus manusia tanpa mempergunakan resep, walaupun
dilaksanakan dengan cepat tanpa harus mela- menurut peraturan hanya bisa diperoleh dengan
kukan identifikasi dari agen penyebab penyakit . resep dokter .
Walaupun begitu, diagnosis berdasarkan ge-
jala klinis tetap harus dilakukan untuk menentukan ANTIBIOTIKA SEBAGAI IMBUHAN PAKAN
jenis antibiotika, karena efikasi dari setiap antibio
tika terhadap bakteri akan tetap berbeda, walau- Mekanisme kerja atau fungsi dari imbuhan
pun antibiotika digolongkan dalam antibiotika pakan sangat bermacam macam, antara lain seba-
yang bersepektrum luas (broad spectrum) . Selain gai pengawet, obat cacing, anti koksidia, anti
itu, pada umumnya ada drug of choice (obat jamur, meningkatkan palatabilitas, memperbaiki
pilihan) untuk mengatasi penyakit tertentu . sistem pencernaan . Intinya pemberian imbuhan
Pengobatan dengan antibiotika pada ternak pakan mempunyai tujuan meningkatkan efisiensi
diharapkan dapat mengurangi resiko kematian, dalam beternak, dengan cara mempercepat ke-
menghambat penyebaran penyakit ke lingkungan, naikan bobot badan atau meningkatkan produksi
baik ke manusia maupun ternak lainnya . Terlebih ternak sehingga biaya pemeliharaan dapat ditekan
lagi apabila ternak ada dalam kelompok dengan dan keuntungan dapat diperoleh secara maksimal .
jumlah besar sehingga penularan penyakit infeksi Pemakaian antibiotika dosis kecil dalam pakan
mudah terjadi . Penggunaan antibiotika yang dapat untuk memacu pertumbuhan ternak telah di-
memberikan hasil penyembuhan yang cepat sa- lakukan lebih dari setengah abad yang lalu . Kenya
ngat diperlukan, karena ternak diharapkan cepat taan menunjukkan bahwa antibiotika dalam dosis
kembali berproduksi secara optimal sehingga yang sangat kecil dapat mempercepat pertum-
kerugian ekonomi yang besar dapat dihindari . buhan ternak, sehingga menyebabkan timbulnya
Kecenderungan untuk memelihara ternak kelonggaran dalam memperoleh antibiotika untuk
dalam jumlah besar telah menyebabkan cepatnya dipergunakan dalam bidang peternakan . Akan
penularan penyakit dari ternak satu ke ternak tetapi timbulnya kasus resistensi Salmonela pada
lainnya . Akibatnya, pemakaian antibiotika juga tahun 1960 telah mendorong utuk berpikir ten-
ikut meningkat. Meningkatnya obat hewan dapat tang kerugian dan keuntungan pemakaian antibi-
dibuktikan dari nilai obat hewan yang beredar . otika dalam bidang peternakan . Pada bulan Juli
Pada tahun 1992 dilaporkan nilai obat hewan 1968 dibentuk suatu komisi di Inggris, yang diberi
sebesar 278,62 milyar rupiah, tahun 1993 sebe- nama Swann Committe, yang bertugas memba-
sar 289,02 milyar rupiah, dan pada tahun 1994 has pemakaian antibiotika dalam bidang peter-
nilainya menjadi 349,36 milyar rupiah . Dari go- nakan (BRANDER, 1977 ; BELL, 1986) . Dari komisi
longan farmasetik termasuk didalamnya antibio- tersebut dihasilkan beberapa rekomendasi penting
tika dilaporkan nilainya sebesar 176,88 milyar yang diadopsi oleh banyak negara, yang antara
rupiah pada tahun 1992, sebesar 180,17 milyar lain menyatakan bahwa
rupiah pada tahun 1993, kemudian naik menjadi - Antibiotika dapat dipergunakan sebagai im-
193,44 milyar rupiah pada tahun 1994 (WIRYO- buhan pakan, akan tetapi sebaiknya yang se-
SUHANTO, 1994 ; INFOVET, 1995) cara ekonomi memang menguntungkan .
Antibiotika yang dipergunakan untuk ternak - Antibiotika yang dipergunakan sebagai im-
sebaiknya tidak merupakan antibiotika potensial buhan pakan bukan yang dipergunakan untuk
untuk pengobatan manusia, seperti halnya pengobatan baik pada hewan maupun
khlorampenikol yang sama sekali dilarang untuk manusia.
digunakan pada ternak . Khlorampenikol masih - Pemakaian antibiotika sebagai imbuhan pakan
merupakan drug of choice bagi kesehatan hendaknya tidak meninbulkan resistensi silang

19
TRi BUDHI MURDIATI : Pemakaian Antibiotika dalam Usaha Petemakan

atau resistensi berganda terhadap obat yang RESIDU ANTIBIOTIKA DALAM PRODUK
dipergunakan untuk pengobatan manusia PETERNAKAN
maupun ternak .
Antibiotika yang digunakan sebagai imbuhan Di Indonesia, kesadaran akan bahaya residu
pakan sebaiknya bisa diperoleh tanpa resep antibiotika dalam produk peternakan masih kurang
dokter . mendapatkan perhatian, karena pengaruhnya me
mang tidak terlihat secara langsung . Akan tetapi
Imbuhan pakan yang telah diizinkan beredar akan membahayakan kesehatan manusia, apabila
di Indonesia dibedakan atas kelompok antibiotika produk peternakan seperti susu, daging dan telur
dan kelompok non antibiotika . Dari kelompok an yang mengandung residu dikonsumsi secara terus
tibiotika berdasarkan SK Dirjen Peternakan ter- menerus setiap hari (MCCRACKEN, 1977 ; KAN,
tanggal 23 Juli 1991, telah terdaftar sebanyak 19 1993) .
jenis dan dari kelompok non antibiotika terdaftar Selain dapat menyebabkan resistensi, residu
sebanyak 25 jenis, seperti yang terlihat pada tabel antibiotika juga dapat menimbulkan allergi, dan
1 (INFOVET, 1994) . kemungkinan keracunan . Timbulnya bakteri yang
Keinginan untuk memperoleh keuntungan resisten tersebut disebabkan oleh pemakaian an-
yang besar telah menyebabkan terjadinya per- tibiotika yang tidak tepat clan tidak wajar baik
saingan yang tidak sehat dalam memasarkan -an dalam memilih jenis antibiotika maupun dosis
tibiotika sebagai imbuhan pakan, seperti golongan serta lama pemakaian. Sifat resistensi dari mik-
tetrasiklin yang tidak termasuk dalam daftar im- roba ini dapat dipindahkan kepada mikroba lain
buhan pakan yang diizinkan, tetapi karena har- melalui R-faktor (SMITH, 1977 ; SJAMSUHIDAYAT et
ganya relatif murah dibandingkan antibiotika yang a/ .,1990) . Adanya mikroba yang resisten dapat
memang diperbolehkan untuk imbuhan, maka menjadi penyebab kegagalan pengobatan penya-
golongan tetrasiklin banyak dipergunakan sebagai kit infeksi .
imbuhan pakan . Antibiotika golongan tetrasiklin Allergi terhadap penisilin diperkirakan dapat
dalam pakan ayam yang beredar di pasaran telah terjadi pada sekitar 10% populasi manusia di
dilaporkan, juga adanya residu tetrasiklin dalam dunia, padahal penisilin masih banyak diperguna
daging ayam broiler yang siap dipasarkan kan dalam peternakan terutama untuk mengatasi
(BALITVET, 1991 ; MURDIATI clan BAHRI, 1991) . mastitis pada sapi perah . Adanya residu antibio-
tika golongan penisilin dilaporkan dari susu pas-
Tabel 1 : Daftar imbuhan pakan yang diizinkan beredar di teurisasi yang beredar di pasaran maupun susu
Indonesia yang siap diproses di pabrik (SUDARWANTO et al.,
1992) .
Golongan non antibiotika Golongan antibiotika
Adanya residu antibiotika dalam produk pe-
Aklomide Zink Basitrasin ternakan akan menjadi kendala dalam penyediaan
Amprolium Virginiamisin produk peternakan sebagai komoditi ekspor, se
Butinorat Flavomisin hingga produk peternakan dari Indonesia tidak
Klopidol Higromisin dapat diterima di era perdegangan bebas . Akibat-
Dequinate Monensin
Etopabate Salinomisin nya, akan menurunkan kepercayaan dunia ter-
Levamisole Spiramisin hadap produk peternakan Indonesia .
Piperasin basa Kitasamisin Seharusnya, pada pemakaian antibiotika dan
Piperasin sitrat Tiamulin hidrogen fumarat obat hewan lainnya dalam bidang peternakan
Tetramisol Tilosin
Robenidin Lasalosid perlu diperhatikan waktu henti atau withdrawal
Roksarson Avilamisin time dari antibiotika yang bersangkutan . Yang
Sulfaklopirasin Avoparsin dimaksud dengan waktu henti adalah kurun waktu
Sulfadimetoksin Envamisin dari saat pemberian obat yang terakhir hingga
Sulfanitran Kolistin sulfat
Sulfaquinoksaline Linkomisin hidroklorida ternak boleh dipotong atau produknya seperti
Buquinolate Maduramisin susu dan telur boleh dikonsumsi . Setelah waktu
Nitrofurason Narasin henti terlampui, diharapkan tidak diketemukan lagi
Furasolidon Nastatin residu obat atau residu telah berada dibawah nilai
Phenotiasin
Halquinol batas maksimum, sehingga produk ternak yang
Pirantel tatrat bersangkutan dapat dikatakan aman untuk dikon-
Olaquindoks sumsi (DEBACKERE, 1990) .
Alumunium silikat Waktu henti satu antibiotika tidak sama de-
Nitrovina
ngan antibiotika yang lainnya, tergantung juga dari
Sumber : INFOVET, 1994 . jenis ternak dan cars pemakaian antibiotika, se-

20
WARTAZOA Vol. 6 No . 1 Th. 1997

perti terlihat pada tabel 2 . Waktu henti dari suatu hanya 14,3% yang mengetahui bahwa apabila
obat termasuk antibiotika sangat dipengaruhi oleh sapi seclang diobati maka susu ticlak boleh dijual
proses absorbsi, distribusi clan eliminasi dari obat atau disetor pada Koperasi dalam jangka waktu
yang bersangkutan (BAGGOT, 1977) . Proses terse- tertentu, dengan kata lain peternak tahu mengenai
but dipengaruhi oleh beberapa hal antara lain umur waktu henti . Akan tetapi ticlak semua yang tahu
clan jenis hewan, status kesehatan clan nutrisi adanya waktu henti mematuhinya, karena ter-
hewan, serta sifat kimia clan fisika dari obat seperti nyata hanya 8,2% yang mematuhi waktu henti,
berat molekul, kelarutan dalam air maupun dalam atau 91,8% tidak mematuhi (BALITVET, 1994) .
lemak clan ikatannya dengan protein tubuh. Sedangkan HERRICK (1993) melaporkan 50% clan
Pemakaian antibiotika sebagai imbuhan pakan SPENCE (1993) melaporkan 15,6% dari penyebab
memperbesar peluang adanya residu dalam hasil terjaclinya residu adalah ticlak clipatuhinya waktu
peternakan, karena ternak dalam proses pro henti .
duksinya akan mengonsumsi pakan yang mengan- Antibiotika yang diizinkan untuk cliperguna-
dung antibiotika terus menerus sampai saat kan sebagai imbuhan pakan umumnya ticlak diab-
dipotong atau sampai saat menghasilkan susu sorbsi dari saluran pencernaan, atau absorbsinya
atau telur . Seharusnya pakan ternak diganti de- sangat kecil, sehingga antibiotika tersebut akan
ngan yang ticlak mengandung antibiotika . Hal cepat dieliminasi dari tubuh. Karena absorbsi sa-
tersebut sukar untuk dilakukan, karena beberapa ngat kecil, maka distribusi ke jaringan juga sangat
pabrik makanan ternak telah menambahkan anti- kecil clan dengan sendirinya ticlak akan ditemukan
biotika tanpa mencantumkan jenis clan jumlah residu dalam daging, susu ataupun telur.
yang ditambahkan . Dilain pihak peternak juga Ditemukannya residu dalam produk ternak
tidak mau mengalami kerugian yang lebih besar, telah banyak dilaporkan baik dari Indonesia atau-
maka ternak tetap akan dipotong atau susu clan pun negara lain seperti yang diungkapkan oleh
telurnya tetap dijual, walaupun ternak masih BAHRI (1994) . Dari negara negara maju produk
dalam pengobatan . ternak yang mempunyai kanclungan residu antibio-
tika dari tahun ke tahun makin seclikit jumlahnya,
Tabel 2 : Waktu henti beberapa obat hewan karena umumnya mereka telah mempunyai suatu
Komisi yang efektif dalam melakukan monitoring
Jenis Cara Waktu
hewan pemakaian henti clan penyuluhan pada peternak, disamping telah
(hari) tersedianya peralatan clan tenaga yang dapat men-
deteksi adanya residu antibiotika dalam produk
Ampisilin ayam injeksi 5 peternakan .
sapi injeksi 6
Amprolium sapi oral 1
Dihidrostreptomisin babi injeksi 30 KESIMPULAN
sapi injeksi 30
Erithromisin babi injeksi 7 Antibiotika secara intensif telah dipergunakan
sapi injeksi 14 dalam bidang peternakan, baik untuk pengobatan
Furazolidon ayam oral 5
maupun sebagai imbuhan pakan . Dalam memper
babi oral 5
Karbadoks babi oral 70 gunakan antibiotika atau obat hewan lainnya un-
Khlortetrasiklin ayam injeksi 15 tuk ternak, maka selain efikasi dari obat, perlu juga
Monensin ayam oral 3 cliperhatikan faktor ekonomi clan keamanan dari
Nitrofurazon ayam oral 5
babi produk yang dihasilkan . Kemampuan beberapa
oral 5
Penisilin G ayam injeksi 5 antibiotika dosis rendah dalam memacu pertam-
babi injeksi 5 bahan berat baclan ternak, telah mendorong pe-
Oksitetrasiklin ayam injeksi 15 makaian antibiotika yang seharusnya ticlak untuk
Penisilin Streptomisin babi injeksi 30
cligunakan sebagai imbuhan pakan .
sapi injeksi 30
Preparat sulfonamida sapi oral 7-15 Mudahnya memperoleh antibiotika di pasaran
Tetrasiklin sapi oral 5 disamping tujuan untuk meningkatkan produksi
Thiobendazol sapi oral 3 peternakan secara cepat, telah mendorong pe
Tilosina babi oral 2
Streptomisin ayam oral 4 makaian antibiotika secara berlebihan tanpa mem-
sapi oral 2 perhatikan segi keamanan produk ternak yang
dihasilkan .
Sumber : DITJENNAK, 1993 . Pemakaian antibiotika secara berlebihan akan
menyebabkan adanya residu dalam produk peter-
Penelitian yang dilaklukan' di Jawa Barat nakan seperti daging, susu clan telur. Adanya
menunjukkan bahwa dari 49 peternak sapi perah, residu akan menyebabkan turunnya tingkat kese-

21
TRI BUDHI MURDIATI : Pemakaian Antibiotika dalam Usaha Petemakan

hatan masyarakat karena dapat menyebabkan re- INFOVET. 1995 . Seputar perkembangan far-
sistensi, alergi atau keracunan . Adanya residu masetik. lnfovet. 027 :8-9 .
dalam produk peternakan dapat dihindari apabila INFOVET. 1994 . Kronologi ketentuan penggunaan
semua pihak memperhatikan serta mentaati. pera-
feed additive di Indonesia. lnfovet. 014:12
turan pemakaian antibiotika, termasuk mematuhi
waktu henti dari antibiotika yang dipergunakan . KAN, C .A . 1993 . Residues of veterinary drugs in
eggs . Poultry Sci. J. 49 : 291-292.
MCCRACKEN, A . 1977 . Detection of antibiotics in
DAFTAR PUSTAKA slaughtered animals . in Antibiotics and Anti-
biosis in Agriculture. Butterworths, London
BAHRI, S . 1994 . Residu obat hewan pada produk 239-244 .
ternak dan upaya pengamanannya . Loka-
karya Obat Hewan dan Munas 111 ASOHL MURDIATI, T.B . dan S . BAHRI . 1991 . Pola penggu-
Jakarta, Desember 1994. naan antibiotika dalam peternakan ayam di
Jawa Barat, kemungkinan hubungan dengan
BAGGOT, J .D . 1977 . Principles of drug disposition masalah residu . Proceedings Kongres llmiah
in domestic animals. W.B .Saunders Co . Phila- ke 8 /SFI, Jakarta 1991 :445-448 .
delphia .
SJAMSUHIDAYAT, S ., N . SUKASEDIATI., dan U .
BALITVET . 1991 . Laporan penelitian residu pes- KADARWATI . 1990 . Hubungan antara resis-
tisida, hormon, antibiotika dan standarsisasi tensi bakteri dan residu antibiotika dengan
kualitas broiler untuk ekspor . kesehatan masyarakat . Kumpulan makalah
BALITVET . 1994 . Laporan penelitian kandungan seminar nasional, Penggunaan Antibiotika
residu antibiotika dalam susu sapi serta Dalam Bidang Kedokteran Hewan . Jakarta
penyebab terjadinya residu . 1990 .

BELL, I . 1986 . Rational chemotherapeutics . Aus- SPENCE, S . 1993 . Antimicrobial residue survey .
tralian Veterinary Poultry Association. Pro- Perspective 18 : 79-82 .
ceedings no . 92, Poultry Health . :429-467 . SMITH, H .W . 1977 . Antibiotics resistance in bac-
BRANDER, G .C . 1977 . The use of antibiotics in the teria and associated problems in farm animals
veterinary field in the 1970's . in Antibiotics before and after the 1969 Swann Report .in
and Antibiosis in Agriculture. Butterworths, Antibiotics and Antibiosis in Agriculture. But-
London : 199-209 . terworths, London :344-357 .

DEBACKERE, M . 1990 . Veterinary medicine pro- SETTEPANI, J .A . 1984 . The hazard of using
ducts : Their pharmacokinetics in relation to chloramphenicol in food animals. JAVMA
the residue problem . Euroresidue. Noord- 184 : 930-931 .
wijkerhout, The Nether/ands :326-395 . SUDARWANTO, M ., W. SANJAYA dan P. TRIOSO
DIT.JEN .NAK . 1993 . Indeks Obat Hewan Indone- 1992 . Residu antibiotika dalam susu pasteur-
sia . Edisi Ill . Jakarta. isasi ditinjau dari kesehatan masyarakat .
J. llmu Pet./ndonesia. 2007-40
HERRICK, J .B . 1993 . Food for thought for food
animal veterinarians . Violatile drug residues . WIRYOSUHARTO, S. 1994 . Sistem pengawasan
JAVMA . 203(8) : 1122-1123 . obat hewan dalam sistem kesehatan hewan
nasional . Farmazoa 03 : 1-26 .

Anda mungkin juga menyukai