Anda di halaman 1dari 7

Respon hipertonik stereotip berfungsi untuk memblokade perkembangan dari kontrol normal.

Bukti bahwa hipertonisitas mungkin merupakan respons adaptif termasuk fakta bahwa
ini bukan merupakan sekuel atau cedera namun perkembangan terjadi dari waktu ke waktu.
Setelah stroke korteks, pemulihan otot dan gerakan volunter sesuai dengan urutan pemulihan
yang dapat diprediksi. Pada awalnya, otot-otot mengalami paralisis dan lumpuh di sisi tubuh
yang berlawanan dengan lesi, tanpa refleks peregangan yang elastis. Tahap pemulihan
selanjutnya ditandai dengan meningkatnya respons otot terhadap peregangan cepat dan awal
dari output gerakan motorik volunter yang terbatas pada gerakan fleksi dan ekstensi, disebut
sinergi. Karena tonus otot dan pola sinergi gerakan muncul pada waktu yang hampir
bersamaan, klinisi cenderung menyamakan keduanya, namun spastisitas dan sinergi ini
berbeda satu sama lain (lihat Tabel 4-1). Tahap pemulihan lebih lanjut mencakup
progresifitas menjadi spastik sepenuhnya dan pada akhirnya bertahap menjadi tonus otot
yang normal. Pada saat yang sama, gerakan volunter menunjukkan ketergantungan sinergi
sepenuhnya, berlanjut ke pencampuran sinergi, dan akhirnya perbaikan gerakan terkontrol
dari otot-otot yang terisolasi. Pemulihan pasien tertentu mungkin terhambat, terlewat, atau
tidak mengalami perubahan pada salah satu tahapan tersebut, namun tidak mengalami
kemunduran. Pendapat yang menentang spastisitas sebagai respon adaptif adalah perubahan
tonus otot pada pasien dengan kejadian komplit SCI tanpa supraspinal input, jadi tidak ada
adaptasi serebral terhadap fungsi motorik yang bisa terjadi, setidaknya pada populasi ini.

Tatalaksana Hipertonisitas setelah Stroke. Rehabilitasi hipertonisitas setelah stroke


tergantung pada klinisi yang mempercayai hipertonisitas menghambat fungsi tubuh atau
sebagai hasil dari kontrol motorik adaptif. Pada kasus lain, lebih ditekankan pada
pengembalian fungsi independen, apakah kebutuhan penurunan tonus atau reedukasi dari
kontrol pola gerakan motorik volunter.
Manajemen untuk menurunkan hipertonisitas setelah stroke termasuk prolonged
icing, menghambat tekanan, peregangan jangka panjang, penghambatan cast, atau pengaturan
posisi. Biofeedback dan latihan dapat memperbaiki ROM pasif, hal ini juga merupakan
komponen biomekanik dari hipertonisitas. Edukasi ulang terhadap kontrol pola gerakan
volunter termasuk menyangga berat badan untuk memfasilitasi respon postur tubuh normal
atau latihan dengan latihan pola gerakan fungsional secara langsung. Penurunan dari
hipertonisitas dapat merupakan hasil dari perbaikan kontrol motorik. Jika pasien merasa tidak
aman berdiri lurus, tonus otok akan meningkat sesuai dengan tingkat kecemasan. Jika
keseimbangan dan kontrol motorik diperbaiki, pasien akan merasa lebih percaya diri untuk
berdiri dengan posisi lurus, hipertonisitas juga akan berkurang. Pengaturan posisi tubuh untuk
kenyamanan dan menurunkan kecemasan adalah intervensi tambahan untuk menurunkan
tonus otot.
Knott dan Voss mendeskripsikan dua pendekatan untuk menurunkan tonus dari
kelompok otot tertentu. Otot bisa diperbaiki secara langsung, dengan memberi petunjuk
secara verbal untuk merelaksasikan atau aplikasi handuk dingin untuk mendapatkan relaksasi
otot. Alternatif lain, otot dapat diperbaiki secara tidak langsung, dengan stimulasi dari
antagonis ototnya, yang dapat menyebabkan penghambatan resiprokal dari agonis dan agonis
tonus otot yang lebih rendah. Antagonis otot tersebut dapat distimulasi dengan latihan
menahan atau melawan atau dengan stimulasi elektrik (lihat BAB 8).
Jika pasien memiliki hipertonisitas yang berat atau jika beberapa kelompok otot yang
terkena, teknik yang mempengaruhi ANS untuk menurunkan kecemasan individu secara
umum dapat dugunakan. Beberapa teknik seperti pencahayaan yang rendah atau musik yang
lambat, suhu netral, sentuhan atau pukulan yang lemah, rotasi dari trunkus, atau hidroterapi
(lihat BAB 9) dapat digunakan selama pasien merasa perlu. Contohnya, hidroterapi pada
kolam air dingin ditujukan pada pasien dengan MS untuk menurunkan spastisitas.
Peregangan dan terapi dingin juga bermanfaat sementara untuk menurunkan spastisitas MS,
namun kekurangannya manfaat tambahan hidroterapi ini memungkinkan latihan ROM yang
lembut dengan tarikan gravitasi yang kurang.

Rigiditas: Hasil dari Patologi Sistem Saraf Sentral. Beberapa lesi serebral dihubungkan
dengan rigiditas dibandingkan spastisitas. Contohnya cedera kepala, dapat merupakan hasil
dari satu atau dua pola rigiditas yang spesifik tang dapat bersifat konstan atau intermiten.
Kedua pola ini termasuk hipertonisitas di leher dan ekstensor punggung; ekstensor, aduktor,
dan rotator internal panggul; ekstensor lutut; dan plantar fleksor dan inventor dari
pergelangan kaki. Siku disanggah di kedua sisinya, dengan pergelangan tangan dan jari
tertekuk pada kedua sisinya, namun pada dekortikasi, siku difleksikan dan pada deserebrasi
siku diekstensikan (gambar 4-30). Kedua tipe postur tubuh ini mengindikasikan ketinggian
lesi, di atas (dekortikasi) atau di bawah (deserebrasi) dari nukleus di batang otak. Pada
kebanyakan pasien dengan cedera kepala, lesi bersifat difus dan pola ini tidak membantu.
Kedua prinsip posisi ini dapat mengurangi rigiditas pada beberapa kasus dan harus
dipertimbangkan dengan terapi lain: (1) reposisi pasien menjadi posisi/postur yang
berlawanan dari posisinya dengan beban leher yang ringan, fleksi trunkus, dan fleksi panggul
mencapai 90 derajat, dan (2) menghindari posisi supinasi, yang dapat mengekstensikan
trunkus dan ekstremitas melalui symmetrical tonic labyrinthine response (lihat Gambar 4-7).
Rigiditas, sama seperti spastisitas, dapat menyebabkan kekakuan otot biomekanik.
Semakin lama waktu tanpa latihan ROM atau pengaturan posisi untuk kontraksi kelompok
otot, perubahan biomekanik yang terjadi juga dapat lebih berat. Pencegahan merupakan
tatalaksana terbaik untuk komponen biomekanik dari hipertonisitas, namun ortotik atau serial
casting juga dapat berguna untuk menurunkan kekakuan otot yang berhubungan dengan
hipertonisitas. Terapi panas juga dapat digunakan untuk meningkatkan ROM sementara
sebelum pemasangan cast atau ortotik.
Penyakit Parkinson menyebabkna rigiditas sepanjang otot skeletal bukan hanya otot-
otot ekstensor. Selain terapi farmakologis dengan pemberian tambahan dopamin, terapi
sementara untuk menurunkan hipertonisitas dapat dengan terapi panas dan teknik
penghambat umum lainnya untuk memungkinkan pasien mencapai fungsi tertentu. Tabel 4-5
menyimpulkan terapi yang disarankan untuk menurunkan tonus otot yang meningkat.

FLUKTUASI TONUS OTOT


Umumnya, kerusakan dari ganglia basalins menyebabkan gangguan tonus dan aktifasi
otot. Bukan hanya gerakan otot-otot volunter yang sulit diinisiasi, dijalankan, dan dikontrol,
namun juga berbagai tonus otot yang terlihat bisa menjadi gerakan yang sangat ekstrem.
Tremor saat istirahat pada pasien Parkinson adalah salah satu contoh dari peningkatan tonus
yang menyebabkan gerakan involunter. Anak dengan cerebral palsy tipe athetoid memiliki
gerakan involunter serial seperti menggeliat, yang juga menunjukkan peningkatan tonus.
Ketika terjadi peningkatan tonus pada seseorang yang menggerakan tungkai untuk
ROM luas, kontraktur biasa tidak menjadi masalah, namun cedera dapat terjadi. Ketika
tangan atau kaki memukul atau menyentuh benda-benda sekitar, hal itu dapat menyebabkan
tangan menyentuh benda-benda yang keras atau objek-objek yang tidak dapat digerakkan.
Pasien dan perawatnya dapat diedukasi untuk mengatur lingkungan pasien, melapisi objek-
objek yang diwaspadai dengan bahan-bahan yang lembut atau membuang barang-barang
yang tidak berguna untuk mencegah kerusakan atau cedera pada pasien. Jika peningkatan
tonus tidak menyebabkan amplitudo gerakan besar, maka pengaturan posisi dan intervensi
ROM dapat dipertimbangkan. Neutral warmth dapat dilakukan untuk menurunkan kelebihan
geran akibat peningkatan tonus otot pada athetosis.
Tabel 4-5. Intervensi untuk Tonus Otot Meningkat
Penyebab Peningkatan Tonus Otot Intervensi
Nyeri, dingin, atau stres Hilangkan penyebab :
- Hilangkan nyeri
- Hangatkan pasien
- Kurangi stres
Teknik relaksasi
EMG biofeedback
Neutral warmth
Terapi panas
Hidroterapi
Terapi handuk dingin
Stimulasi otot antagonis
- Resisted exercise
- Stimulasi elektrik
Cedera medula spinalis Latihan ROM selektif
Peregangan jangka panjang
Pengaturan posisi
Ortotik
Medikasi (Obat-obatan)
Operasi
Terapi panas
Terapi dingin jangka panjang
Lesi serebral Terapi dingin jangka panjang
Inhibitory pressure
Peregangan jangka panjang
Inhibitory casting
Pengaturan posisi
Reedukasi pola gerakan otot volunter
Stimulasi otot antagonis :
- Resisted exercise
- Stimulasi elektrik
Teknik relaksasi umum :
- Soft lighting or music
- Slow rocking
- Neutral warmth
- Slow stroking
- Maintained touch
- Rotasi trunkus
- Hidroterapi
Rigiditas Pengaturan posisi
ROM exercise
Ortotik
Serial casting setelah cedera kepala
Terapi panas
Obat-obatan
Teknik relaksasi umum

STUDI KASUS KLINIS


Studi kasus di bawah ini merangkum konsep dari abnormalitas tonus otot.
Berdasarkan skenario ini, evaluasi dari temuan klinis dan tujuan dari terapi dapat diketahui.
Pada kasus di bawah juga terdapat diskusi mengenai faktor-faktor yang dipertimbangkan
pada pemilihan intervensi. Catatan bahwa ada beberapa teknik yang mengganggu
abnormalitas tonus harus diikut dengan penggunaan fungsional dari sistem otot yang terlibat
jika pasien ingin mengalami perbaikan untuk menahan atau bergerak.

STUDI KASUS 4-1

Bells Palsy
Pemeriksaan
Anamnesis
GM, 37 tahun, seorang bisnisman, mengalami keluhan Bells Palsy pertama kali 2 hari
yang lalu setelah penerbangan dengan pesawat dalam jangka waktu yang lama ketika dia
tidur dengan kepala menempel di jendela. Dia merasakan dingin dan sisi wajah sebelah
kirinya tertinggal (lemah), pasien sulit mengontrol pengeluaran saliva dan sulit makan
dengan benar karena pasien tidak bisa menutup mulutnya. GM menyatakan wajah
sebelah kirinya seperti terasa ditarik ke bawah. Pasien sadar keluhan ini sulit hilang dan
dapat mempengaruhi kemampuan berinteraksi dengan orang lain dalam berbisnis.
Test dan Pemeriksaan
Pada peeriksaan, sisi wajah yang jatuh terlihat pada sisi kiri dan pasien tidak bisa
menutup mulutnya atau matanya dengan kuat. Reflek kornea mata kiri tidak ada.
Bagaimanakah tonus otot pada otot wajah sebelah kiri? Apakah teknik yang dapat
digunakan untuk memperbaiki tonus otot pada pasien ini?

Evaluasi, Diagnosis, Prognosis, dan Tujuan


Evaluasi dan Tujuan
ICF Level Keadaan Saat Ini Tujuan
Struktur dan fungsi tubuh Hipotonik fasial kiri Mencegah peregangan
berlebihan jaringan lunak
Melindungi mata kiri
Menguatkan otot wajah dan
reinnervasi dalam 1-3 bulan
Aktifitas Tidak bisa menutup mulut Mengembalikan fungsi
dan makan dengan normal mulut menjadi normal
Pastisipasi Kesulitan transaksi bisnis Mengembalikan aktifitas
bisnis menjadi normal

Diagnosis
Pola latihan yang sering digunakan SD: gangguan fungsi motorik dan sensorik
berhubungan dengan penyakit nonprogresif dari SSP penyakit saat remaja atau dewasa.

Prognosis/Rencana Terapi
Bells Palsy adalah penyakit nervus fasialis, biasanya mengenai satu sisi, dengan etiologi
yang bervariasi. Onset tiba-tiba dari gejala GM disebabkan oleh udara dingin pada sisi
wajah sebelah kiri, lalu serabut otot pada sisi kiri wajah tidak dapat menerima sinyal dari
alfa motor neuron, dan otot akan menjadi flaksid. Jika nervus fasialis hanya sebagian
yang terkena, beberapa otot dapat menjadi hipotonus. Reinnervasi dari serabut otot
biasanya setelah terjadi fasial palsy, biasanya dalam 1-3 bulan. Tonus otot diperkirakan
menjadi normal jika reinnervasi terjadi pada otot dan jaringan konektif dipertahankan
sehingga perubahan biomekanik sekunder tidak berpengaruh.

Intervensi
Gerakan pasif dari otot-otot wajah dapat diindikasikan untuk perubahan jaringan lunak
berlawanan dari gangguan gerakan aktif. Namun, GM dapat mengalami wajah lumpuh
yang secara kosmetik tidak dapat diterima ketika otot diintervasi. Penutup atau bentuk
lain dari proteksi mata kiri dapat dipertimbangkan untuk mencegah kerusakan mata
ketika komponen motorik dari reflek kornea lumpuh. Ketika serabut otot diinervasi,
perhatian difokuskan pada latihan untuk meningkatkan kontraksi otot volunter
dibandingkan perbaikan tonus otot. Sentuhan ringan pada kulit pada bagian otot tertentu
dapat menjadi awal untuk reinnervasi otot untuk menggerakkannya secara volunter,
Latihan otot wajah sambil melihat di kaca dapat menjadi feedback tambahan untuk
mempertahankan aktifasi normal otot-otot wajah. ES dengan biofeedback dapat
digunakan untuk membantu GM mempertahankan fungsi otot-otot yang direinnervasi.

STUDI KASUS 4-2

Kerusakan Sendi Panggul


Pemeriksaan
Anamnesis
EL, perempuan berusia 12 tahun dengan kerusakan sendi yang berat pada panggul
kanannya. Pasien memiliki kebiasaan penggunaan abnormal dari tungkai kanan seumur
hidupnya, setelah mengalami polio saat pasien bayi. Beberapa operasi pada anak-anak
untuk menstabilkan kaki dan meneruskan tendon hamstring ke arah anterior agar fungsi
quadriceps dapat menjadi independen, namun pasien berjalan pincang yang semakin
memburuk pada beberapa tahun terakhi. Ketika kepada femur keluar dari acetabulum dan
bergeser ke arah trunkus, kaki kanan menjadi memendek beberapa inchi dibandingkan
kaki kiri dan pasien berjalan dengan jari kaki kanannya. Setelah sukses operasi total hip
replacement, EL sekarang belajar berjalan lagi. Latihan berjalan menjadi lebih kompleks
dibandingkan biasanya setelah Total Hip Replacement