Anda di halaman 1dari 14

PRODUKSI TANAMAN KACANG PANJANG, TIMUN,

PAKCOY, DAN BAYAM


(Laporan Akhir Produksi Tanaman Hortikultura)

Oleh

Kelompok 2

Cici Chintia Sari 1514121013


Aulia Indah Pratiwi 1514121014
Ayu Satia Haini 1514121017
Sinta Alvianti 1514121018
Vickram Kautsar N. 15141210

JURUSAN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2017
I. PENDAHULUAN
II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kacang Panjang (Vigna cylindrica)

2.1.1 Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Kacang Panjang

Kerajaan : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Kelas : Angiospermae
Sub kelas : Dicotyledonae
Ordo : Rosales
Famili : Papilionaceae
Genus : Vigna
Spesies : Vigna cylindrica

Tanaman kacang panjang merupakan tanaman semak, menjalar, semusim dengan


tinggi kurang lebih 2,5 m. Batang tanaman ini tegak, silindris, lunak, berwarna
hijau dengan permukaan licin. Daunnya majemuk, lonjong, berseling, panjang 6-8
cm, lebar 3-4,5 cm, tepi rata, pangkal membulat, ujung lancip, pertulangan
menyirip, tangkai silindris, panjang kurang lebih 4 cm, dan berwarna hijau. Bunga
tanaman ini terdapat pada ketiak daun, majemuk, tangkai silindris, panjang kurang
lebih 12 cm, berwarna hijau keputih-putihan, mahkota berbentuk kupu-kupu,
berwarna putih keunguan, benang sari bertangkai, panjang kurang lebih 2 cm,
berwarna putih, kepala sari kuning, putik bertangkai, berwarna kuning, panjang
kurang lebih 1 cm, dan berwarna ungu. Buah tanaman ini berbentuk polong,
berwarna hijau, dan panjang 15-25 cm. Bijinya lonjong, pipih, berwarna coklat
muda. Akarnya tunggang berwarna coklat muda.
2.1.2 Teknik Budidaya Tanaman Kacang Panjang

1) Persiapan Lahan
Lahan dibersihkan dari rumput-rumput liar, dicangkul/dibajak sedalam 30 cm
hingga tanah menjadi gembur. Buat parit keliling, biarkan tanah dikeringkan
selama 15-30 hari. Setelah 30 hari buatlah bedengan dengan ukuran lebar 60-80
cm, jarak antara bedengan 30 cm, tinggi 30 cm, panjang tergantung lahan.

2) Persiapan Benih
Benih kacang panjang yang baik dan bermutu adalah yang memiliki penampilan
bernas/berisi, memiliki ukuran yang seragam dan normal, daya kecambah tinggi
di atas 85%, tidak rusak/cacat, tidak mengandung wabah hama dan penyakit.

3) Penanaman
Pembuatan jarak lubang tanam untuk tipe merambat adalah 20 x 50 cm, 40 x 60
cm, 30 x 40 cm. Dan jarak tanam tipe tegak adalah 20 x 40 cm dan 30 x 60 cm.
Benih yang dimasukkan dalam lubang tanam cukup 2 biji saja. Waktu tanam yang
baik adalah awal musim kemarau/awal musim penghujan, tetapi dapat saja
sepanjang musim asal air tanahnya memadai.

3) Pemupukan
Pupuk dasar untuk tanaman kacang panjang dapat diberikan sesuai dengan dosis
berikut: Kacang panjang tipe merambat: Urea 150 kg + TSP 100 kg + 100 kg/ha.
Kacang panjang tipe tegak: Urea 22,5 kg + TSP 45 kg + KCl 45 kg/ha. Kacang
hibrida: 85 kg Urea + 310-420 kg TSP + 210 kg KCl/ha. Pupuk diberikan di
dalam lubang pupuk yang terletak di kiri-kanan lubang tanam.

4) Panen Dan Pascapanen


Ciri-ciri kacang panjang yang siap dipanen adalah ukuran dan panjang polong
telah maksimal, mudah dipatahkan dan biji-bijinya di dalam polong tidak
menonjol. Waktu panen yang paling baik pada pagi/sore hari. Umur tanaman siap
panen 3,5-4 bulan. Untuk sasaran pasar ekspor, kriteria mutu polong muda yaitu
ukuran polong minimal 20 cm, tingkat ketuaan polong tergolong muda,
penampakan biji tidak menonjol dan warna hijau dan segar. Untuk
mempertahankan kesegaran polong, penyimpanan sementara sebelum dipasarkan
sebaiknya di tempat teduh.

2.1.3 Kandungan dan Kegunaan Tanaman Kacang Panjang

Kacang panjang banyak mengandung vitamin A, vitamin B, dan vitamin C. Selain


itu, bijinya banyak mengandung protein, lemak, dan karbohidrat. Setiap 100 g
berat kacang panjang mengandung protein 2,7g; lemak 1,3 g; hidrat arang 7,8 g;
dan kalori sebesar 34 kg kalori. Selain itu kacang panjang yang masih muda dapat
disayur atau dibuat lalapan. Daun kacang panjang juga dapat dibuat sayur. Daun
kacang panjang sangat baik bagi wanita yang menyusui karena dapat
memperbanyak air susu ibu (ASI).

2.2 Timun (Cucumis sativus)

2.2.1 Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Timun

Kingdom : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Sub division : Angiospermae
Class : Dicotyledonae
Ordo : Cucurbitales
Family : Cucurbitaceae
Genus : Cucumis
Spesies : Cucumis sativus L.

Mentimun memiliki sistem perakaran tunggang dan bulu-bulu akar, tetapi daya
tembus akar relatif dangkal, pada kedalaman sekitar 30-60 cm. Tanaman
mentimun memiliki batang yang berwarna hijau, berbulu dengan panjang yang
bisa mencapai 1,5 m dan umumnya batang mentimun mengandung air dan lunak.
Mentimun mempunyai sulur dahan berbentuk spiral yang keluar di sisi tangkai
daun. Sulur mentimun adalah batang yang termodifikasi dan ujungnya peka
sentuhan. Bila menyentuh galah sulur akan mulai melingkarinya. Dalam 14 jam
sulur itu telah melekat kuat pada galah/ajir.
Daun mentimun lebar berlekuk menjari dan dangkal, berwarna hijau muda sampai
hijau tua. Daunnya beraroma kurang sedap dan langu, serta berbulu tetapi tidak
tajam dan berbentuk bulat lebar dengan bagaian ujung yang meruncing berbentuk
jantung. Kedudukan daun pada batang tanaman berselang seling antara satu daun
dengan daun diatasnya.

Bunga mentimun berwarna kuning dan berbentuk terompet, tanaman ini berumah
satu artinya, bunga jantan dan bunga betinah terpisah, tetapi masih dalam satu
pohon. Bunga betina mempunyai bakal buah berbentuk lonjong yang
membengkak. Buah mentimun muda berwarna antara hijau, hijau gelap, hijau
muda, hijau keputihan sampai putih, tergantung kultivar yang diusahakan.
Sementara buah mentimun yang sudah tua (untuk produksi benih) berwarna
cokelat, cokelat tua bersisik, kuning tua, dan putih bersisik. Panjang dan diameter
buah mentimun antara 12-25 cm dengan diameter antara 2-5 cm atau tergantung
kultivar yang diusahakan.

Biji timun berwarna putih, berbentuk bulat lonjong (oval) dan pipih. Biji
mentimun diselaputi oleh lendir dan saling melekat pada ruang-ruang tempat biji
tersusun dan jumlahnya sangat banyak. Biji-biji ini dapat digunakan untuk
perbanyakan dan pembiakan.

2.2.2 Syarat Tumbuh Tanaman Timun

Mentimun cocok ditanam di lahan yang jenis tanahnya lempung sampai lempung
berpasir yang gembur dan mengandung bahan organik. Mentimun membutuhkan
pH tanah di kisaran 5,5-6,8 dengan ketinggian tempat 100-900 m di atas
permukaan laut. Mentimun juga membutuhkan sinar matahari terbuka, drainase
air lancar dan bukan bekas penanaman mentimun dan familinya seperti melon,
semangka, dan waluh.

Pertumbuhan yang optimum diperlukan iklim kering, sinar matahari yang cukup
dengan temperatur optimal antara 21 oC 30 oC. Sementara untuk suhu
perkecambahan biji optimal yang dibutuhkan antara 25 oC 35 oC. Kelembaban
udara (RH) yang dikehendaki oleh tanaman mentimun agar hidup dengan baik
adalah antara 80-85%. Curah hujan optimal untuk budidaya mentimun adalah
200-400 mm/bulan, curah hujan yang terlalu tinggi tidak baik untuk pertumbuhan
apalagi pada saat berbunga karena akan mengakibatkan menggugurkan bunga.

2.2.3 Teknik Budidaya Tanaman Timun

1) Persiapan Lahan dan Pengolahan Lahan


Tanah yang akan ditanami digemburkan dengan cara dicangkul sebaik-baiknya.
Tanah yang telah dicangkul akan menjadi remah sehingga aerasinya berjalan baik
dan zat-zat beracun pun akan hilang. Rumput-rumputan (gulma) dihilangkan,
terutama akar alang-alang. Pembuatan bedeng dilakukan dengan cara
pencangkulan akan mempengaruhi sifat fisik tanah yang berfungsi memperbaiki
ruang pori-pori tanah yang terbentuk diantara partikel-partikel tanah (tekstur dan
stuktur).

2) Persemaian
Syarat umum yang dibutuhkan untuk pertumbuhan benih adalah; 1) adanya air
yang cukup untuk melembabkan biji, 2) suhu yang sesuai, 3) cukup oksigen, dan
4) adanya cahaya. Media semai itu berupa campuran tanah dan pupuk kandang
dengan perbandingan 7:3. Sebagai tempat media dapat menggunakan polybag
atau plastik transparan dengan dilubangi untuk drainase air.

3) Penanaman
Penanaman benih dapat dilakukan jika benih telah memiliki daun 2-3 daun utama
dan benih mentimun yang sudah dikecambahkan ditanam langsung dilubang
tanam yang dibuat dengan cara penugalan sedalam 5 cm. Benih ditanam sebanyak
1 tanaman perlubang tugal dan selanjutnya lubang tanam ditutup tanah setinggi 1
cm jarak lubang tanam 30 cm x 60 cm.

4) Pemeliharaan

a. Penyiraman
Penyiraman adalah komponen terpenting untuk makhkluk hidup. Tanpa air, semua
makhluk hidup di bumi tidak akan bertahan hidup.
b. Penyulaman
Penyulaman dilakukan dengan segera minimal seminggu setelah tanaman
dipindahkan ke pot permanen agar diperoleh pertumbuhan yang serempak

c. Pemupukan
Jenis pupuk yang dapat digunakan pupuk organik berupa pupuk kandang ayam 10
ton/ha, dan pupuk anorganik berupa Urea 225 kg/ha TSP 120 kg/ha, KCL 100
kg/ha dan curater. Pemupukan dilakukan 2 kali yakni pemberian awal dan
pemberian susulan.

d. Penyiangan
Membersihkan tanaman dari rumput dan tanaman liar yang mungkin menjadi
tempat hidup dan bertelur ataupun makanan serangga sangat diperlukan, dalam
usaha mengurangi populasi serangga.

e. Pemangkasan
Pemangkasan merupakan upaya menciptakan keadaan tanaman menjadi lebih
baik, sehingga sinar matahari dapat masuk keseluruh bagian tanaman
meningkatnya intersepsi cahaya yang masuk ke tajuk tanaman serta meningkatnya
sirkulasi udara dan ketersediaan CO2 dalam tajuk.

f. Pengendalian Hama dan Penyakit


Hama yang sering mengganggu yakni Thrips dan Imagothripis yang merusak
tanaman dengan cara menghisap cairan sel. Tanda awal dari kerusakan ini bila
daun dihadapkan ke sinar matahari akan kelihatan bintik berwarna putih.

5) Panen dan Pasca Panen


Buah mentimun dapat dipanen pada umur 30-50 hst, ciri-ciri buah yang dapat
dipanen, yaitu buah masih berduri, panjang buah antara 10-30 cm atau tergantung
jenis yang diusahakan jarak panen dilakukan antara 1-2 hari sekali. Buah dipanen
pada pagi hari sebelum pukul 09.00 dengan cara memotong tangkai buah dengan
pisau tajam. Mentimun sayur dipanen 5-10 hari sekali tergantung dari varietas dan
ukuran/umur buah yang dikehendaki.
2.3 Pakcoy

2.3.1 Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Pakcoy

Kingdom : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Rhoeadales
Famili : Brassicaceae
Genus : Brassica
Spesies : Brassica rapa L

Pakcoy adalah jenis tanaman sayur-sayuran termasuk keluarga Brassicaceae.


Daun pakcoy bertangkai, berbentuk oval, berwarna hijau tua, dan mengkilat, tidak
membentuk kepala, tumbuh agak tegak atau setengah mendatar, tersusun dalam
spiral rapat, melekat pada batang yang tertekan. Tangkai daun berwarna putih atau
hijau muda, gemuk dan berdaging, tanaman mencapai tinggi 1530 cm. Bentuk
daun berwarna hijau pudar dan ungu. Bunga berwarna kuning pucat. Masa panen
pakcoy cukup singkat, hanya sekitar 45 hari.

2.3.2 Syarat Tumbuh Tanaman Pakcoy

Daerah penanaman yang cocok adalah mulai dari ketinggian 5 meter sampai
dengan 1.200 meter di atas permukaan laut. Namun biasanya dibudidayakan pada
daerah yang mempunyai ketinggian 100 meter sampai 500 meter dpl. Tanaman
pakcoy dapat tumbuh baik di tempat yang berhawa panas maupun berhawa
dingin, sehingga dapat diusahakan dari dataran rendah maupun dataran tinggi.
Meskipun demikian pada kenyataannya hasil yang diperoleh lebih baik di dataran
tinggi. Tanaman pakcoy tahan terhadap air hujan, sehingga dapat di tanam
sepanjang tahun.

2.3.3 Teknik Budidaya Tanaman Pakcoy

1) Pengolahan Lahan
Dalam tahapan pengolahan, terlebih dahulu dilakukan pembersihan lahan atau
persiapan lahan tempat budidaya, yaitu dengan membuang semua jenis tanaman
yang tidak diinginkan dan jenis tanaman yang sulit terurai, seperti sisa-sisa
perakaran rumput, sampah plastik, batu, disekitar lahan yang akan diolah.
Pengolahan tanah dilakukan dengan cara dicangkul sedalam 2030 cm,
selanjutnya bongkaran tanah dihaluskan, dibiarkan selama 1-2 hari. Pembuatan
bedengan dengan panjang 15 m, lebar100 cm dan tinggi 30 cm.

2) Pemupukan
a) Pupuk dasar
Pupuk dasar diberikan 7 hari sebelum penanaman atau penaburan benih tanaman
pakcoy. Adapun pemberian pupuk kandang sebanyak 100 kg perbedengan dan
pupuk dasar NPK Phonska 5 kg perbedengan. Dan timbahakan kapur dolomite 50
kg perbedengan sebagai penyeimbang tanah yang asam dan basa.

b) Pupuk susulan
Pemupukan susulan dilakukan pada sore hari, yaitu pada umur tanaman 10-15 hari
setelah tanam. Dengan pupuk urea 10 kg dengan cara pupuk urea di larutkan
terlebih dahulu menggunakan air dengan konsentrasi 1kg/10 liter air kemudian
pupuk yang di campur dengan air tersebut di campur kembali dengan air 5 liter
dengan konsentrasi 200 ml per 5 liter air dan dilakukan pemupukan susulan
dengan menggunakan gembor, selanjutnya tanaman yang sudah dipupuk disiram
kembali air 2-3 gembor air agar sayur di dipupuk tidak mati atau terbakar.

3) Persemian (Penaburan Benih)


Persemaian atau pembibitan dilakukan dengan menggunakan bedengan kemudian
langsung disiram dengan air secara merata dengan menggunakan gembor.
Selanjutnya meletakkan sekam padi atau jerami untuk menutup permukaan
bedengan. Setelah benih berumur 1012 hari sejak biji disemaikan atau bibit
berdaun 35 helai daun, bibit pakcoy siap dipindahkan atau ditanam pada lahan
budidaya telah disiapkan.

4) Penanaman
Sebelum penanaman bibit yang dipindahkan terlebih dahulu dilakukan
penyiraman bedengan dengan gembur supaya tanah menjadi lembab dan bibit
tidak layu supaya tanaman cepat tumbuh, kemudian tanah di tugal dengan kayu
atau jari tangan dengan jarak 20 x 20 cm sesuai dengan jarak tanam. Setelah
selesai penanaman dilakukan penyiraman tanaman dengan menggunakan gembor
yang semburan airnya halus sehingga bibit tanaman tidak rebah.

5) Penyingan (Perawatan)
Penyiangan biasanya dilakukan 1-2 kali selama masa pertumbuhan pakcoy,
disesuaikan dengan kondisi keberadaan gulma pada bedeng penanaman. Biasanya
penyiangan dilakukan 1 atau 2 minggu setelah penanaman.

6) Pengendalian Hama
Untuk serangan hama karat daun dan kutu anjing dapat disemprot dengan
menggunakan insektisida metindo dengan dosis 5 gram per 15 liter air. Sedangkan
untuk serangan hama kutu anjing dan kutu kebul disemprot dengan menggunakan
insektisida konfidor dengan dosis 10 gram atau satu sendok makan per 15 liter air
penyemperotan.

7) Panen
Tanaman pakcoy dapat dipanen pada saat berumur 3545 hari setelah tanam.
Tanaman yang telah layak panen memiliki daun yang tumbuh subur dan berwarna
hijau segar, pangkal daun tampak sehat, serta ketinggian tanaman seragam dan
merata.

2.4 Bayam (Amaranthus sp.)

2.4.1 Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Bayam

Kingdom : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Class : Angiospermae
SubClass : Dicotyledoneae
Ordo : Amaranthales
Family : Amaranthaceae
Genus : Amaranthus
Spesies : Amaranthus sp.

Bentuk tanaman bayam adalah terma (perdu), tinggi tanaman dapat mencapai 1,5
sampai 2 m, berumur semusim atau lebih. Sistem perakaran menyebar dangkal
pada kedalaman antara 20-40 cm dan berakar tunggang. Batang tumbuh tegak,
tebal, berdaging dan banyak mengandung air, tumbuh tinggi diatas permukaan
tanah. Bayam tahunan mempunyai batang yang keras berkayu dan bercabang
banyak. Warna daun bervariasi, mulai dari hijau muda, hijau tua, hijau keputih-
putihan, sampai berwarna merah. Bunga bayam berukuran kecil, berjumlah
banyak terdiri dari daun bunga 4-5 buah, benang sari 1-5, dan bakal buah 2-3
buah. Bunga keluar dari ujung-ujung tanaman atau ketiak daun yang tersusun
seperti malai yang tumbuh tegak. Perkawinannya bersifat uniseksual, yaitu dapat
menyerbuk sendiri maupun menyerbuk silang. Penyerbukan berlangsung dengan
bantuan angin dan serangga. Biji berukuran sangat kecil dan halus, berbentuk
bulat, dan berwarna coklat tua sampai mengkilap sampai hitam kelam.

2.4.2 Syarat Tumbuh Tanaman Bayam

Tanaman bayam biasanya tumbuh di daerah tropis. Bayam mempunyai daya


adaptasi yang baik terhadap lingkungan tumbuh, sehingga dapat ditanam di
dataran rendah sampai dataran tinggi. Lokasi penanaman harus memperhatikan
persyaratan tumbuh bayam, yaitu: keadaan lahan harus terbuka dan mendapat
mendapat sinar matahari serta memiliki tanah yang subur, gembur, banyak
mengandung bahan organik, memiliki pH 6-7 dan tidak tergenang air. Ketinggian
tempat yang optimum untuk pertumbuhan bayam yaitu kurang dari 1400 m dpl.
Kondisi iklim yang dibutuhkan untuk pertumbuhan bayam adalah curah hujan
yang mencapai lebih dari 1500 mm/tahun, cahaya matahari penuh, suhu udara
berkisar 17-28C, serta kelembaban udara 50-60%.

2.4.3 Teknik Budidaya Tanaman Bayam


1) Pembibitan
Benih/biji yang baik untuk bertanam bayam adalah dapat memenuhi persyaratan
sebagai berikut: a) berasal dari induk yang sehat, b) bebas dari hama/penyakit, c)
daya kecambah 80 prosen, dan d) memiliki kemurnian benih yang tinggi.
Keperluan benih untuk lahan 1 hektar berkisar antara 5-10 kg, atau 0,5-1,0 gram
per m2 luas lahan. Pembibitan diberi atap plastik atau atap jerami padi. Benih
bayam disebar merata atau berbaris-baris pada tanah persemaian dan ditutup
dengan selapis tanah tipis. Setelah bibit tumbuh berumur sekitar 7-14 hari, bibit
dipindah-tanam ke dalam pot-pot a telah diisi dengan medium tumbuh campuran
tanah dan pupuk organik yang halus (1:1). Bibit dalam pot disiram teratur dan
setelah berumur sekitar 7-14 hari setelah dipotkan, bibit tersebut telah siap untuk
dipindah-tanam ke lapangan.

2) Pengolahan Media Tanam


Lahan yang akan ditanami dicangkul/dibajak sedalam 30-40 cm, bongkah tanah
dipecah gulma dan seluruh sisa tanaman diangkat dan disingkirkan lalu diratakan.
Setelah tahap pencangkulan kemudian dibuat bedengan dengan lebar sekitar 120
cm atau 160 cm. Dibuat parit antar bedengan selebar 20-30 cm, kedalaman 30 cm
untuk drainase. Pada bedengan dibuat lubang-lubang tanam, jarak antar barisan
60-80 cm, jarak antar lubang (dalam barisan) 40-50 cm.

Pemupukan awal menggunakan pupuk kandang yang telah masak. Waktu


pemupukan dilakukan satu minggu atau dua minggu sebelum tanam. Cara
pemupukan adalah dengan disebarkan merata diatas bedengan kemudian diaduk
dengan tanah lapisan atas. Untuk pemupukan yang diberikan per lubanng tanam,
cara pemberiannya dilakukan dengan memasukkan pupuk ke dalam lubang tanam.
Dosis untuk pupuk kandang sekitar 10 ton per hektar. Pemupukan per lubang
tanam biasanya diperlukan sekitar 1-2 kg per lubang tanam.

3) Teknik Penanaman
Jarak tanam untuk tanaman bayam adalah antara 60 cm x 50 cm atau 80 cm x 40
cm. Lubang tanam dapat dibuat dengan menggunakan alat kayu dengan cara di
pukul-pukul sehingga membentuk lubang. Jarak antara barisan adalah 60-80 cm
dan jarak antar lubang (antar barisan) 40-50 cm. Penanaman dapat langsung di
lapangan tanpa penyemaian atau dengan penyemaian terlebih dahulu. Apabila
tanpa penyemaian maka biji bayam dicampur abu disebarkan langsung di atas
bedengan menurut barisan pada jarak antar barisan 20 cm dan arahnya membujur
dari Barat ke Timur. Setelah disebarkan benih segera ditutup dengan tanah halus
dan disiram hingga cukup basah.

4) Pemeliharaan
Penyiangan dilakukan bersamaan dengan penggemburan tanah. Alat yang digunakan
dalam penyiangan dapat berupa cangkul kecil atau sabit. Caranya dengan dicangkul
untuk mencabut gulma atau langsung dicabut dengan tangan. Proses pembubunan
dilakukan bersamaan dengan penyiangan. Pemupukan dilakukan dengan
menggunakan pupuk organik, untuk tiap lubang calon tanaman sekitar 0,4-0,8 kg.
Dengan demikian kuantum pupuk organik akan berkisar 15-30 ton. Pupuk organik
yang diberikan adalah pupuk N (Urea sekitar 250 kg/ha atau ZA 500 kg/ha) cara
dilarutkan dalam air 25 gram/10 liter air, TSP 300 kg/ha dan KCl 200 kg/ha. N
diberikan dua kali, setengah takaran pada waktu tanam dan yang setengahnya lagi
pada umur 30 hari setelah tanam. Pupuk P diberikan sekali pada waktu tanam,
sedangkan pupuk K diberikan dua kali, setengah takaran pada waktu tanam dan
setengah lagi pada umur 30 hari setelah tanam. Fase awal pertumbuhan, sebaiknya
penyiraman dilakukan rutin dan intensif 1-2 kali sehari, terutama di musim kemarau.

5) Panen
Ciri-ciri bayam cabut siap panen adalah umur tanaman antara 25-35 hari setelah
tanam. Tinggi tanaman antara 15-20 cm dan belum berbunga. Waktu panen yang
paling baik adalah pagi atau sore hari, saat suhu udara tidak terlalu tinggi. Cara
panennya adalah dengan mencabut seluruh bagian tanaman dengan memilih tanaman
yang sudah optimal. Panen pertama dilakukan mulai umur 25-30 hari setelah tanam,
kemudian panen berikutnya adalah 3-5 hari sekali.

6) Pascapanen
Pengumpulan bayam dilakukan setelah panen dengan cara meletakkan di suatu
tempat yang teduh agar tidak terkena sinar matahari langsung, karena dapat
membuat daun layu.