Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM BIOFARMASETIKA

PERCOBAAN 7
MODEL IN VITRO FARMAKOKINETIK OBAT SETELAH PEMBERIAN
SECARA INFUS

Rabu, 10 Mei 2017


Kelompok 1
Rabu, Pukul 10.00-13.00 WIB

Nama NPM Tugas


Ayu Apriliani 260110140078 Data Pengamatan
Putri Raraswati 260110140079 Teori Dasar
Ummi Habibah 260110140080 Teori Dasar
Ayyu Widayzmara 260110140081 Teori Dasar
Anggia Diani Amaliah 260110140082 Tujuan, Prinsip, Editor
Siti Nurohmah 260110140083 Data Pengamatan
Ai Siti Rika F 260110140084 Data Pengamatan
Nisa Maulani N 260110140085 Pembahasan
Tiffany Sabilla R 260110140086 Pembahasan
Nurmalia Saraswati 260110140087 Data Pengamatan
Mila Tri Cahyani 260110140088 Pembahasan
Siti Rositah 260110140089 Alat Bahan Prosedur
Adam Renaldi 260110140090 Pembahasan

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2017
I. Tujuan
1.1 Memahami proses in vivo dan perkembangan kadar obat dalam darah
setelah pemberian obat secara infus
1.2 Mampu memplot data kadar obar dalam fungsi waktu pada skala
semilogaritmik
1.3 Mampu menentukan berbagai parameter farmakokinetika obat yang
berkaitan dengan pemberian obat secara bolus intravena
II. Prinsip
2.1 Infus Intravena
Infus intravena adalah sediaan steril berupa larutan atau emulsi, bebas
pirogen dan sedapat mungkin dibuat isotonis terhadap darah, disuntikkan
langsung ke dalam vena dalam volume relatif banyak. Emulsi dibuat
dengan air sebagai fase luar. Diameter fase dalam tidak lebih dari 5 um.
Kecuali dinyatakan lain, infus intravena tidak diperbolehkan mengandung
bakterisida dan zat dapar. Larutan untuk infus intravena harus jernih dan
praktis bebas partikel. Emulsi untuk infus intravena setelah dikocok harus
homogen dan tidak menunjukkan pemisahan fase (Depkes RI, 1979).
2.2 Kondisi Tunak atau Steady State (SS)
Steady state (SS) atau kondisi tunak adalah suatu keadaan yang mana
tidak terjadi perubahan jumlah atau konsentrasi obat di dalam tubuh
dengan bertambahnya waktu. Bila kecepatan masuknya (input rate) obat
ke dalam tubuh adalah konstan (order nol) sedangkan kecepatan eliminasi
(output rate) adalah eksponensial, maka obat akan terakumulasi sampai
kondisi tunak dicapai. Dengan demikian steady state dapat dipertahankan
apabila kecepatan infus dipertahankan (Nasution, 2015).
2.3 Cairan Intraseluler dan Ekstraseluler
Cairan intraseluler adalah cairan yang berda di dalam sel di seluruh tubuh,
sedangkan cairan akstraseluler adalah cairan yang berada di luar sel dan
terdiri dari tiga kelompok yaitu : cairan intravaskuler (plasma), cairan
interstitial dan cairan transeluler. Cairan intravaskuler (plasma) adalah
cairan di dalam sistem vaskuler, cairan intersitial adalah cairan yang
terletak diantara sel, sedangkan cairan traseluler adalah cairan sekresi
khusus seperti cairan serebrospinal, cairan intraokuler, dan sekresi saluran
cerna (Neal, 2006).
III. Teori Dasar
Infus adalah pemberian sejumlah cairan ke dalam tubuh melalui
sebuah jarum ke dalam pembuluh vena (pembuluh balik) untuk menggantikan
kehilangan cairan atau zat-zat makanan dari tubuh (Perry & Potter, 2005).
Terapi Intravenaa (IV) adalah menempatkan cairan steril melalui
jarum, langsung ke vena pasien. Biasanya cairan steril mengandung
elektrolit (natrium, kalsium, kalium), nutrient (biasanya glukosa), vitamin
atau obat (Brunner & Sudarth, 2002).
Terapi intravena adalah pemberian sejumlah cairan ke dalam
tubuh, melalui sebuah jarum, ke dalam pembuluh vena (pembuluh balik)
untuk menggantikan kehilangan cairan atau zat-zat makanan dari tubuh
(Darmadi,2010).
Terapi intravena (IV) digunakan untuk memberikan cairan ketika
pasien tidak dapat menelan, tidak sadar, dehidrasi atau syok, untuk
memberikan garam yang dirperlukan untuk mempertahankan
keseimbangan elektrolit, atau glukosa yang diperlukan untuk metabolisme
dan memberikan medikasi (Perry & Potter, 2005).
Tujuan pemerian secara intravena adalah untuk memberikan atau
menggantikan cairan tubuh yang mengandung air, elektrolit, vitamin,
protein, lemak, dan kalori, yang tidak dapat dipertahankan secara adekuat
melalui oral, memperbaiki keseimbangan asam-basa, memperbaiki volume
komponen-komponen darah, memberikan jalan masuk untuk pemberian
obat-obatan kedalam tubuh, memonitor tekanan vena sentral (CVP),
memberikan nutrisi pada saat sistem pencernaan mengalami gangguan
(Perry & Potter, 2005).
Model kompartemen yang sering digunakan adalah model
kompartemen satu terbuka, model ini menganggap bahwa berbagai perubahan
kadar obat dalam plasma mencerminkan perubahan yang sebanding dengan
kadar obat dalam jaringan. Tetapi model ini tidak menganggap bahwa
konsentrasi obat dalam tiap jaringan tersebut adalah sama dengan berbagai
waktu. Di samping itu, obat di dalam tubuh juga tidak ditentukan secara
langsung, tetapi dapat ditentukan konsentrasi obatnya dengan menggunakan
cuplikan cairan tubuh (Shargel, 1988).
Untuk mengetahui mekanisme farmakokinetik suatu obat dapat
dilakukan simulasi metode in vivo atau in vitro. Metode In vivo
merupakan metode penentuan suatu efek obat menggunakan hewan
percobaan dengan analisis terhadap organ, urin maupun darah. Sedangkan
Metode in vitro adalah proses metabolisme yang terjadi di luar tubuh hewan
uji (Admin, 2014).
Parameter Farmakokinetik Infus
Pada rute infus, obat akan masuk ke dalam system peredaran darah
dengan kecepatan yang konstan (orde nol), sehingga kadar obat dalam darah
akan naik secara perlahan sampai mencapai suatu kadar yang konstan (jika
infus diberikan cukup lama) atau sampai pemberian infus dihentikan. Setelah
infus dihentikan kadar obat akan menurun akibat adanya proses eliminasi
tanpa ada lagi obat yang masuk.
Selama infuse pada laju konstan, konsentrasi obat pada setiap waktu t
dapat dihitung jika laju infuse (R), volume distribusi (Vd) dan tetapan
eliminasi (K) diketahui :

Cp =

Sedangkan bila infus telah dihentikan obat dapat dihitung berdasarkan


persamaan :

Cp =

Keterangan :
K = slope kurva eliminasi (tetapan kecepatan eliminasi)
Cp = konsentrasi obat dalam darah, plasma / serum
R = Kecepatan infus orde nol
t1= waktu infusi
t = total waktu infuse
Parameter-parameter farmakokinetik dapat dihitung dengan rumus :
Vd = Cl = Vd . K T1/2 =

Keterangan :
Vd = Volume distribusi
Cl = Klirens
T1/2 = Waktu paruh
(Shargel et al., 2012).

IV. Alat dan Bahan

Alat

1. Alat Infusan 8. Pipet Tetes


2. Beaker Glass 9. Spektro
3. Buret 10. Statif
4. Gelas Ukur 11. Stopwatch
5. Kertas Perkamen 12. Syringe
6. Kuvet 13. Vial
7. Labu Ukur

Bahan

1. Aquades
2. CTM

V. Prosedur
Pembuatan Kurva Baku CTM
Dibuat larutan baku CTM dengan konsentrasi 20 ppm, 25 ppm, 30 ppm, 35
ppm, dan 40 ppm, kemudian diukur absorbansinya pada spektrofotometer UV
dengan panjang 260 nm. Kemudian dibuat kurva baku hubungan antara
konsentrasi dalam ppm dengan absorbansi dan dibuat persamaan linearitasnya.
Pengujian Model In Vitro Farmakokinetik Obat Setelah Pemberian
Secara Infus
Disiapkan alat beaker glass berkeran dengan buret dipasang pada statif, isi
beaker glass tersebut dengan 250 ml aquades serta dimasukkan pula aquades
ke dalam buret. Aquades yang digunakan bersuhu 37OC. Kemudian dibuat
sejumlah volum larutan obat CTM dengan kadar 20 mg/ml dengan cara
melarutkan 2 gram CTM kedalam 200 ml aquades aduk hingga larut,
masukkan ke dalam wadah infus menggunakan syringe. Pasang infusan dan
pastikan akhir alirannya masuk ke dalam beaker glass berkeran. Hitung
terlebih dahulu kecepatan tetesan obat per menit. Setelah itu keran pada buret
dan beaker glass dibuka , pastikan tetesan yang terjadi secara bersamaan. Pada
saat tetesan pertama dihitung waktunya menggunakan stopwatch. Ambil
cuplikan pada beaker glass sebanyak 5 ml pada waktu 15, 30, 45, 60, 90 dan
120 menit. Setiap kali pengambilan cuplikan tambahkan sejumlah aquades
dengan volume 5 ml pula. Hentikan infus pada menit ke 60 dan tetesan pada
buret serta beaker glass masih tetap berlanjut. Tentukan kadar obat dalam
cuplikan (secara spektrofotometri). Plot data kadar obat terhadap waktu pada
kertas semilogaritmik. Hitung harga Vd dan serta harga Cl dan T1/2 .

VI. Data Pengamatan

Pembuatan Kurva Baku CTM


a. Pembuatan larutan stok CTM 100 ppm (100 g/mL) V = 100 mL

C (ppm) =

100 =

Massa CTM = 10.000 g = 10 mg dalam 100 mL aquades


b. Pembuatan larutan CTM 40 ppm (40 g/mL)

V1 . N1 = V2 . N2

V1 x 100 ppm = 20 mL x 40 ppm

V1 = 8 mL

Jadi, sebanyak 8 mL CTM 100 ppm dipipet dan ditambahkan aquades


hingga 20 mL.

c. Pembuatan larutan CTM 35 ppm (35 g/mL)


V1 . N1 = V2 . N2

V1 x 100 ppm = 20 mL x 35 ppm

V1 = 7 mL
Jadi, sebanyak 7 mL CTM 100 ppm dipipet dan ditambahkan aquades
hingga 20 mL.

d. Pembuatan larutan CTM 30 ppm (30 g/mL)

V1 . N1 = V2 . N2

V1 x 100 ppm = 20 mL x 30 ppm

V1 = 6 mL

Jadi, sebanyak 6 mL CTM 100 ppm dipipet dan ditambahkan aquades


hingga 20 mL.

e. Pembuatan larutan CTM 25 ppm (25 g/mL)


V1 . N1 = V2 . N2

V1 x 100 ppm = 20 mL x 25 ppm

V1 = 5 mL

Jadi, sebanyak 5 mL CTM 100 ppm dipipet dan ditambahkan aquades


hingga 20 mL.

f. Pembuatan larutan CTM 20 ppm (20 g/mL)

V1 . N1 = V2 . N2
V1 x 100 ppm = 20 mL x 20 ppm
V1 = 4 mL
Jadi, sebanyak 4 mL CTM 100 ppm dipipet dan ditambahkan aquades
hingga 20 ml

Absorbansi
Konsentrasi Rata- rata
1 2 3
20 0,2795 0,2793 0,2781 0,278967
25 0,3487 0,3485 0,3475 0,348233
30 0,4256 0,4256 0,4241 0,4251
35 0,4856 0,4855 0,4838 0,484967
40 0,5534 0,555 0,5522 0,553707
Sampel
Data absorbansi sampel

t (menit) Absorbansi Rata- Faktor Kadar Kadar


1 2 3 rata pengenceran (g/ml) (%)
15 0,8529 0,8456 0,8501 0,8495 10
614,4526 0,031
30 0,7593 0,7425 0,7458 0,7492 15
811,8613 0,041
45 0,8282 0,8265 0,7959 0,8169 20
1181,314 0,06
60 0,8272 0,8404 0,8191 0,8289 35
2097,956 0,105
90 0,7708 0,7870 0,7938 0,7839 10
566,5693 0,028
105 0,2521 0,2387 0,2612 0,2507 30
532,1168 0,027
120 0,7894 0,7790 0,7882 0,7855 15
851,6058 0,043

Perhitungan kadar sampel

Persamaan y = 0,0137x+0,00770

A=y

Kadar obat = 2000 mg = 2000000 g

- Menit ke 15
A = 0,8495
0,8495 = 0,0137x+0,00770
X = (0,8495 0,00770)/0,0137
X = 61,4477 g/ml x faktor pengenceran
X = 61,4477 g/ml x 10
X = 614,4526 g/ml

% kadar ctm

%kadar =

% kadar =

kadar = 0,031%

- Menit ke 30
A = 0,7492
0,7492 = 0,0137x+0,00770
X = (0,7492 0,00770)/0,0137
X = 54,1240 g/ml x faktor pengenceran
X = 54,1240 g/ml x 15
X = 811,8613 g/ml

% kadar ctm

%kadar =

% kadar =

kadar = 0,041%

- Menit ke 45
A = 0,8169
0,8169= 0,0137x+0,00770
X = (0,8169 0,00770)/0,0137
X = 59, 0657 g/ml x faktor pengenceran
X = 59, 0657 g/ml x 20
X = 1181,314 g/ml
% kadar ctm

%kadar =

% kadar =

kadar = 0,06%

- Menit ke 60
A = 0,8289
0,8289 = 0,0137x+0,00770
X = (0,8289 0,00770)/0,0137
X = 59, 9416 g/ml x faktor pengenceran
X = 59, 9416 g/ml x 35
X = 2097,956 g/ml

% kadar ctm

%kadar =

% kadar =

kadar = 0,105%

- Menit ke 90
A = 0,7839
0,7839 = 0,0137x+0,00770
X = (0,7839 0,00770)/0,0137
X = 56,6567 g/ml x faktor pengenceran
X = 56,6567 g/ml x 10
X = 566,5693 g/ml

% kadar ctm

%kadar =

% kadar =

kadar = 0,028%
- Menit ke 105
A = 0,2507
0,2507 = 0,0137x+0,00770
X = (0,2507 0,00770)/0,0137
X = 17,7372 g/ml x faktor pengenceran
X = 17,7372 g/ml x 30
X = 532,1168 g/ml

% kadar ctm

%kadar =

% kadar =

kadar = 0,027%

- Menit ke 120
A = 0,7855
0,7855 = 0,0137x+0,00770
X = (0,7855 0,00770)/0,0137
X = 56,7737 g/ml x faktor pengenceran
X = 56,7737 g/ml x 15
X = 815,6058 g/ml

% kadar ctm

%kadar =

% kadar =

kadar = 0,043%

grafik kadar sampel


grafik kadar sampel
2500

2000
kadar (g/ml)

1500

1000 kadar sampel

500

0
15 30 45 60 90 105 120
waktu (menit)

Parameter farmakokinetik
Menit Kadar
ke- (ug/ml)

15 614.4526

30 811.8613

45 1181.314

60 2097.956

90 566.5693

105 532.1168

120 851.6058
Chart Title
2500

2000

1500
Axis Title

Series1
1000
y = -2,1815x + 1095,8
Linear (Series1)
R = 0,0244
500

0
0 20 40 60 80 100 120 140
Axis Title

Persamaan:

Y = 2,1815x + 1095,8

- Slope = 2,1815
- B = 1095,8

Perhitungan:

a. Volume distribusi

Vd = = = 0,005 ml

b. Konstanta eliminasi
Slope =

K = 2,1815 x 2,303
= 5,024
c. Clearance
Cl = Vd x K
= 0,005 ml x 5,024
= 0,025 ml/menit
d. Waktu paruh
T1/2 = 0,693/k
= 0,693/5,024
= 0,138 jam
e. AUC = 113.435,033 ug/ml (hasil pk solver)

VII. Pembahasan
Telah dilakukan praktikum model in vitro farmakokinetik obat
setelah pemberian infus. Pertama-tama dilakukan pengisian wadah
sebanyak 250 ml aquades. Ini bertujuan untuk memberi pemodelan cairan
yang tersedia dalam tubuh. Suhu harus disesuaikan dengan suhu tubuh,
yaitu 370C agar pemodelan sesuai dengan keadaan yang seharusnya dalam
tubuh. Selanjutnya, dilakukan pelarutan obat CTM dalam aquades.
Kemudian obat dimasukkan dalam alat infus. Kemudian dilakukan
pemasangan klem dan statif kemudian tabungnya diisi dengan aquades. Ini
merupakan pemodelan yang disesuaikan dengan cairan yang masuk ke
dalam tubuh, seperti minum yang dilakukan secara berkala. Lalu dilakukan
pemasangan dan pompa peristaltic antara infus, tabung dan cairan tubuh
harus mempunyai kecepatan tetesan yang sama agar kadar obat yang
tersedia dalam interval waktu tertentu memiliki nilai yang akurat dan
presisi. Selanjutnya dilakukan pengambilan cuplikan sebanyak 5 ml pada
interval waktu 15, 30, 45, 60, 90, 105, dan 120 menit setelah rangkaian
tersebut dijalankan dengan semestinya. Setiap kali pengambilan cuplikan
harus dilakukan penambahan air dengan volume yang sama dengan
pengambilan cuplikan. Ini dilakukan untuk menyesuaikan volume yang
tetap sama dalam sistem agar tidak mengalami devisit cairan dalam
pemodelan ini. Kemudian pada menit ke 60 sampai selesai harus dilakukan
penghenian aliran infus. Ini dilakukan untuk menghitung kadar obat yang
masih tersisa dalam darah tanpa asupan obat dikarenakan infus
memberikan kadar obat yang konstan dalam darah. Selanjutnya dilakukan
pengukuran kadar pada interval waktu yang telah ditetapkan terhadap
kurva baku yang tersedia.

Pemberian obat secara melalui imfus intravena merupakan


pemberian yang cukup umum dilakukan untuk memberikan efek terapi
yang dipertahankan dalam jangka waktu tertentu. Pada umumnya, kondisi
pasien yang membutuhkan pemberian cairan infus intrvena adalah pasien
yang mengalami kehilangan banyak darah dan cairan tubuh biasanya
terjadi pada pasien yang mengalami pendarahan, dehidrasi (demam), diare
dan lain sebagainya. Pada praktikum pemodelan farmakokinetik infus
intravena digunakan larutan obat CTM dengan dosis 2 gram diberikan
selama 1 jam. Setelah 1 jam pemberian infus dihentikan. Selama proses
pemberian infus berlangsung cuplikan kadar obat diambil dalam seri waktu
tertentu yakni menit ke 15 sampai menit ke 120. Pada farmakokinetik,
obat yang diberikan secara infus intravena akan menunjukkan kurva dari
kadar nol kemudian meningkat sering waktu kemudian stagnan setelah
waktu tertentu dan mengalami penurunan saat infus dihentikan.

Gambar 1 Grafik Perubahan Kadar obat terhadap Waktu

Sebelum dilakukan pengujian laju infus obat obat, dilakukan


terlebih dahulu pembuatan kurva kalibrasi dari CTM. Kurva kalibrasi
adalah grafik yang menunjukkan suatu hubungan antara kadar dari suatu
larutan sampel dengan suatu respon proporsional dari instrument dengan
membentuk garis lurus (linear). Kurva kalibrasi ini penting karena dengan
dibentuknya kurva ini, akan didapatkan suatu persamaan garis lurus yang
mana nantinya persamaan ini bisa digunakan untuk mencari konsentrasi
dari suatu sampel. Larutan sampel dengan konsentrasi tertentu akan
mengakibatkan respon instrument (spektrofotometer), sehingga jika
diberikan suatu larutan dengan konsentrasi yang berbeda akan
mengakibatkan respon instrument secara proporsional. Dan titik-titik
dimana respon tersebut, jika ditarik garis akan menghasilkan suatu garis
lurus dengan persamaan y=bx + a.

Panjang gelombang yang digunakan saat melihat absorbansi pada


spektrofotometer adalah 260 nm. Hal ini dikarenakan pada panjang
gelombang 260 nm, absorbansi yang dihasilkan adalah maksimum. Artinya
ketika ditembakkan suatu energy dengan panjang gelombang 260 nm,
molekul-molekul pada larutan CTM bisa menyerap energy tersebut hampir
semuanya diserap sehingga dihasilkan absorbansi yang maksimum.

Absorbansi yang dihasilkan saat pengujian haruslah dalam renatang


0,2 0,8. Hal ini dikarenakan sesuai dengan Hukum Lambert-Beer bahwa
absorbansi dengan rentang 0,2 0,8 hubungan antara konsentrasi dengan
absorbansi akan linear sehingga akan dihasilkan regresi linear (r) yang
mendekati satu. Sebaliknya jika kurang atau lebih dari rentang 0,2 0,8
hubungan antara konsentrasi dengan absorbansi tidak linear lagi artinya
data yang diperoleh kurang akurat. Dilihat dari hasil pengamatan ada
beberapa hasil absorbansi yang menunjukkan kurang dari 0,2. Hal ini
berarti konsentrasi yang dibuat terlalu rendah dan seharusnya tidak bisa
dijadikan sebagai perbandingan dalam pembuatan kurva kalibrasi. Dilihat
dari hasil pengujian, didapatkan persamaan kurva kalibrasi y = 0.0137x +
0.0077 dengan r2 = 0.9987. Dengan nilai r yang mendekati 1 (satu) hal ini
menjadikan bahwa kurva kalibrasi akurat dalam menentukan konsentrasi
sampel nantinya.
Selanjutnya pengujian laju infus pada obat CTM. Dalam
pengujiannya, digunakan pula panjang maksimum 260 nm dan dihasilkan
absorbansi antara 0.2 0.8. setelah dihitung dengan menggunakan bantuan
dari persamaan kurva kalibrasi, didapatkan kadar 0.031%, 0.041%, 0.06%,
0.105%, 0.028%, 0.027%, dan 0.043%. Jika dilihat dari hasil, hal ini
sangat jauh sekali dengan konsentrasi CTM yang diharapkan. Kadar awal
obat CTM yang dibuat adalah 2 gram dan hasil dai pengujian selama
selang waktu 120 menit tidak mencapai 2 gram, artinya dibutuhkan waktu
yang sangat lama untuk mendistribusikan obat agar kadar atau konsentrasi
obat CTM dalam tubuh mencapai dosisnya. Seharusnya jika suatu obat
diberikan dengan pemberian secara infus intravena, obat tidak mengalami
proses absorpsi sehingga waktu yang dibutuhkan untuk
mendistribusikannya lebih cepat.

Dilihat dari profil farmakokinetiknya, didapatkan laju infus sebesar


5.024/menit, volume distribusinya 0.005 mL, clearancenya 0.025
mL/menit, waktu paruhnya 0.138 menit dan AUC nya sebesar 113.435
mg/mL. Hasil ini bisa dikatakan tidak akurat, dikarenakan dilihat dari
grafiknya tidak menunjukkan bahwa pengujian ini merupakan pengujian
laju infus. Dalam pengujian laju infus, terdapat keadaan dimana
konsentrasi obat yang ada mengalami eliminasi yang konstan. Artinya
konsentrasi obat akan terjadi keadaan steady state (SS) hal ini dikarenakan
pada pemberian infus tidak terjadi proses absorpsi. Artinya konsentrasi
obat yang dimasukan dan yang dikeluarkan akan sama karena akan
didistribusikan seluruhnya. Dalam hasil percobaan ini, tidak terjadi
keadaan steady state (SS) dan konsentrasi yang dihasilkan berbeda-beda.
Hal ini mungkin dikarenakan saat praktikan mencoba untuk menyamakan
tetesan pada wadah keran dan pada buret tidak sama. Akibatnya akan
terjadi perubahan volume pada wadah keran yang berisi obat. Hal ini
mengakibatkan konsentrasi obat akan mengalami perubahan dan
menjadikan absorbansi pada alat menjadi beragam.
VIII. Simpulan
1. Obat yang diberikan secara infus intravena, tidak mengalami proses
absorpsi sehingga waktu yang dibutuhkan untuk mendistribusikannya
lebih cepat.
2. Berdasarkan profil farmakokinetik obat dalam pengujian, laju infus
sebesar 5.024/menit, volume distribusinya 0.005 mL, clearancenya
0.025 mL/menit, waktu paruhnya 0.138 menit dan AUC nya sebesar
113.435 mg/mL. Hasil ini bisa dikatakan tidak akurat, dikarenakan
dilihat dari grafiknya tidak menunjukkan bahwa pengujian ini
merupakan pengujian laju infus.
DAFTAR PUSTAKA

Admin. 2014. Uji In Vitro dan In Vivo. Diakses : http://elearning.unsri.ac.id.


Diakses pada16 mei 2017.
Brunner and Suddarth. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah edisi 8
volume 2. Jakarta : EGC.
Darmadi. 2010. Infeksi Nosokomial .Jakarta : salemba
Depkes RI. 1979. Farmakope Indonesia. Edisi III. Jakarta: Depkes RI.

Nasution, Azizah. 2010. Farmakokinetika Klinis. Medan: USU Press.

Neal, M. J. 2006. At a glance of farmakologi medis. Edisi V. Jakarta: Penerbit


Erlangga.

Potter, P.A, Perry, A.G. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan :


Konsep, Proses, dan Praktik Edisi 4 Volume 2. Alih Bahasa : Renat
Komalasari,dkk. Jakarta:EGC.
Shargel, L., Wu-pong, S., Yu, A.B.C. 1988. Biofarmasetika dan Farmakokinetika
Terapan Edisi kedua. Surabaya : Pusat Penerbitan dan Percetakan
Universitas Airlangga.
Shargel, L., Wu-pong, S., Yu, A.B.C. 2012. Biofarmasetika dan Farmakokinetika
Terapan Edisi Lima. Surabaya : Pusat Penerbitan dan Percetakan
Universitas Airlangga.
Shargel, L and Yu, ABC (Ed). 2016. Applied Biopharmaceutics &
Pharmacokinetics Seventh Edition. New York: McGraw-Hill Education.