Anda di halaman 1dari 25

ORGANISME PENGGANGGU TANAMAN JAGUNG

LAPORAN PRAKTIKUM

Diajukan Guna Memenuhi Laporan Praktikum Mata Praktikum


Budidaya Tanaman Pangan

Oleh
NAMA : MUDHOFAR MUSTOFA
NIM : 131510501040
GOLONGAN : D
KELOMPOK : 1 (Satu)

LABORATORIUM AGROTEKNOLOGI
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS JEMBER
2015
BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Wilayah indonesia merupakan daerah tropis yang memiliki dua musim yakni
musim penghujan dan musim kemarau. Produksi palawija khususnya
jagung,menunjukkan peningkatan peningkatan dari tahun ke tahun. Jagung
merupakan salah satu bahan makanan pokok kedua setelah beras. Jagung
mempunyai arti penting dalam pengembangan industri di Indonesia karena jagung
merupakan bahan baku untuk industri pangan dan industri pakan. Selain komoditi
jagung sebagai bahan baku industri dalam negeri semakin meningkat dengan
banyaknya industri makanan ternak, industri minyak jagung dan produk ethanol,
dimana varietas jagung hibrida mempunyai kelebihan dari jagung komposit yaitu
produksinya 25-30% lebih tinggi, tahan rebah, penyakit dan kekeringan serta
berumur pendek. Tanaman jagung merupakan tanaman pokok kedua setelah padi
sehingga memiliki peranan yang hampir sama dengan tanaman padi.
Jagung merupakan salah satu komuditas utama yang banyak dibudidayakan
oleh masyarakat terutama di Indonesia. Jumlah jagung yang diproduksi oleh
masyarakat belum cukup untuk memenuhi permintaan pasar karena masih banyak
masyarakat yang belum mengetahui tentang bagaimana cara membudidayakan
tanaman jagung yang benar dan baik. Hasil tanaman jagung juga dapat
dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu masih belum optimalnya penyebaran
varietas unggul dimasyarakat, pemakaian pupuk yang belum tepat, penerapan
teknologi dan cara bercocok tanam yang beum diperbaiki. Usaha untuk
meningkatkan produksi tanaman jagung yang memenuhi standard baik kualitas
dan kuantitas jagung yang dihasilkan tetapi dalam melakukan hal tersebut perlu
mengetahui atau memahami karakteristik tanaman jagung yang akan ditanam
seperti morfologi, fisiologi dan agroekologi yang diperlukan oleh tanaman jagung
sehingga dapat meningkatkan produksi jagung terutama di Indonesia.Faktor yang
dapat mempengaruhi produksi tanaman jagung dapat dari berbagai hal, salah satu
contohnya yaitu faktor iklim. Iklim merupakan keadaan yang sangat menentukan
sehingga tidak semua tanaman dapat tumbuh pada setiap iklim.
Hama adalah organisme perusak tanaman pada akar, batang, daun atau
bagian tanaman lainnya sehingga tanaman tidak dapat tumbuh dengan sempurna
atau mati. Gangguan terhadap tumbuhan yang disebabkan oleh virus, bakteri, dan
jamur disebut penyakit. Tidak seperti hama, penyakit tidak memakan tumbuhan,
tetapi mereka merusak tumbuhan dengan mengganggu proses proses dalam
tubuh tumbuhan sehingga mematikan tumbuhan. Oleh karena itu, tumbuhan yang
terserang penyakit, umumnya, bagian tubuhnya utuh. Akan tetapi, aktivitas
hidupnya terganggu dan dapat menyebabkan kematian. Organisme pengganggu
tanaman pada tanaman jagung dibagi menjadi hama penting pengganggu tanaman
padi dan penyakit penting pada tanaman jagung. Organisme pengganggu tanaman
(OPT) yang mengganggu tanaman jagung cukup menonjol sejak awal masa
pertumbuhan sampai dengan menjelang panen bahkan pasca panen. Gangguan
atau serangan pada setiap tahap pertumbuhan tanaman jagung akan berpengaruh
pada tingkat yang berbeda-beda mulai dari penurunan hasil. Organisme
penganggu tanaman jagung misalnya Penggerek Batang Jagung (Ostrinia
furnacalis Guen ), tungau, ulat grayak, belalang, capung, kepik, dan walang
sangit. Penyakit tanaman yang ada adalah terjadinya klorosis pada daun tanaman
jagung dan terjadinya karat pad daun kacang panjang. Dan nematode yang
terdapat pada perakaran juga menghambat pertumbuhan tanaman. Selain serangan
hama dan penyakit adanya aham juga dapat mengganggu budidaya tanaman
jagung. Gulma ini menyerang tanaman jagung, kacang panjang, bayam, dan
kemangi.

1.2 Tujuan
1. Mahasiswa dapat memahami dan mempelajari teknik budidaya tanaman
jagung.
2. Melatih keterampilan mahasiswa dalam menentukan komponen-komponen
budidaya yang baik bagi tanaman jagung.
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

Jagung ditanam untuk dipetik hasilnya yang berupa biji jagung. Biji-biji ini
berbentuk dalam satu kesatuan yang melekat pada tongkol atau janggel. Petani
selalu berupaya agar tanaman jagung yang dikelola dapat berproduksi tinggi.
daerah tropik cocok untuk tanaman seperti jagung dan sorgum yang
memanfaatkan energi matahari untuk diubah menjadi energi kimia. Budidaya
tanaman jagung yang dilakukan di daerah tropik mempunyai potensi produksi
tanaman jagung yang lebih baik bila air, hara, tenaga kerja dan sebagainya cukup
tersedia (Aak, 1993). Kegunaan jagung dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu
bahan pangan, bahan ternak dan bahan baku industri. Jagung diperbanyak dengan
biji (benih). Tanaman jagung mudah menyerbuk silang dan benih yang digunakan
harus memiliki sifat yang benar (true seed). Tanaman jagung ditanam didaerah
yang kering atau lahan sawah setelah padi musim hujan. Tanaman jagung sangat
tidak tahan terhadap genangan air sehingga dalam penyiapan lahan harus
diperhatikan saluran drainasenya (Purwono dan Heni, 2007).
Jagung (Zea mays L.) yang dapat didefinisikan sebagai tanaman
angiosperma dikotil milik keluarga rumput. Jagung menempati urutan kedua
setelah padi di daerah penanaman dan luas tanam tahunan rata-rata 24 juta ha
dengan hasil total dari 125 juta ton. Hilangnya produktivitas jagung karena
penyakit adalah fenomena di seluruh dunia. Ada sebagian dari laporan yang
melaporkan penyakit jagung yang mempengaruhi akar, batang, telinga, dan kernel
yang disebabkan oleh jamur. Di antara penyakit-penyakit ini, telinga busuk adalah
salah satu yang paling penting di semua negara di mana sereal ini tumbuh
(Gxasheka et al., 2015). Jagung merupakan sumber bahan pangan penting setelah
beras di Indonesia. Tahun 2012 produksi jagung diperkirakan mengalami
peningkatan sebesar 7,38% namun, hingga tahun 2013 impor jagung masih tetap
dilakukan. Salah satu penyakit utama yang dapat mengakibatkan kehilangan hasil
hingga 70% yaitu hawar daun yang disebabkan oleh jamur Exserohilum turcicum
(Pass. Penanaman varietas tahan merupakan cara pengendalian yang paling efektif
dan dianjurkan karena aman bagi lingkungan (Latifahani dkk, 2014). Dalam
peningkatan produksi, serangan OPT merupakan faktor penghambat dan
menyebabkan kehilangan hasil serta kerugian ekonomi, sehingga perlu diatasi
dengan program dan kebijakan yang komprehensif. Serangan hama utama di areal
pertanaman jagung antara lain : Ostrinia furnacalis, Heliothis armigera,
Spodoptera litura, Agrothis ipsilon dan Valanga nigricornis. Kerugian yang
ditimbulkan oleh hama O. furnacalis sangat serius apabila tidak dikendalikan
dengan baik. Teknik pengendalian hama penggerek batang tanaman jagung (O.
furnacalis) pada tanaman jagung manis dapat dilakukan dengan melakukan
pengendalian hama terpadi (PHT) (Patty, 2012).
Pengendalian OPT (Organisme Pengganggu Tumbuhan) secara
hayati/biologis merupakan salah satu cara pengendalian yang cukup menjanjikan,
karena pengendalian hayati berdasarkan ekologi, terutama tentang pengaturan
populasi oleh pengendali alami dan keseimbangan ekosistem. Bioinsektisida
adalah mikroorganisme yang dapat digunakan sebagai agen pengendalian
serangga hama. Pemanfaatan bioinsektisida sebagai agen hayati pada
pengendalian hama merupakan salah satu komponen pengendalian hama terpadu
(PHT). Terdapat enam kelompok mikroorganisme yang dapat dimanfaatkan
sebagai bioinsektisida, yaitu cendawan, bakteri, virus, nematoda, protozoa, dan
ricketsia. Epizootiknya di alam sangat dipengaruhi oleh kondisi iklim, terutama
membutuhkan lingkungan yang lembab dan hangat (Herdatiarni dkk, 2014).
Penurunan produksi jagung selain karena penurunan luas tanam, teknik
budidaya tanaman jagung dan juga karena adanya penyakit jagung, sehingga
timbulnya berbagai gangguan pertumbuhan seperti terjadinya kegagalan panen
yang merupakan kerugian bagi mereka itu sendiri. Ada beberapa penyebab
penyakityang timbul pada tanaman jagung dikarenakan oleh adanya bakteri jamur
dan virus. Pertumbuhan tanaman yang terserang penyakit bisa terganggu,
misalnya daun terlihat runcing dan kecil, tongkol menjadi cacat/kerdil dan daun
terlihat menjadi mengering. Salah satu solusi atau metode yang bisa digunakan
untuk mendiagnosa penyakit tanaman jagung adalah sistem pakar. Sistem pakar
berguna untuk membantu masyarakat dalam mengetahui jenis-jenis penyakit
tanaman dan cara penanggulangan masalah penyakit tanaman jagung sehingga
dapat mengurangi kesalahan petani maka resiko gagal panen dapat berkurang
(Munanda dan Nanag, 2013).
Jagung merupakan tanaman pangan dan pakan penting di dunia, melayani
sebagai sumber karbohidrat, protein dan mineral. Penyimpanan pascapanen hama
serangga menyebabkan kerugian serius untuk sereal dalam kualitas dan kuantitas
dan dalam kebanyakan kasus biji-bijian yang disimpan terhadap serangan
sekunder dengan penyakit yang menyebabkan patogen. Penurunan berat badan
butir 20-30% rata-rata telah dilaporkan dan hingga 80% kerugian dapat terjadi
untuk jagung gandum yang tidak diobati disimpan dalam struktur tradisional
tergantung pada periode penyimpanan. Kerusakan yang ditimbulkan oleh hama
pascapanen pada butir jagung tidak dapat diubah dan ini mempengaruhi semua
dalam rantai nilai jagung termasuk petani, pedagang dan konsumen (Mwololo et
al., 2013). Menurut Okweche et al., (2012). Jagung (Zea mays L.) merupakan
tanaman sereal dalam keluarga Poaceae. Jagung adalah tanaman dominan dan
tanaman sereal didistribusikan secara luas diikuti oleh sorgum (Sorghum bicolor)
dan millet (Pennisetum glaucum). Produksi jagung terancam oleh hama dan
penyakit. Spesies utama penggerek batang yang terkait dengan jagung adalah
penggerek jagung tangkai, Busseola fusca Fuller (Noctuidae), tangkai penggerek
pink, Sesamia calamistis Hampson (Noctuidae), batang millet penggerek, Acigona
ignefusalis Hampson (Pyralidae).
Perbaikan genetik jagung telah memberikan kontribusi signifikan terhadap
peningkatan produktivitas. Kontribusi perbaikan genetik dalam meningkatkan
produktivitas tanaman adalah tanpa diragukan lagi salah satu yang paling
signifikan sejak pengembangan dan penggunaan jagung hibrida menghasilkan,
dalam waktu singkat, peningkatan produktivitas lebih dari 150%. program
pemuliaan untuk memperkenalkan fitur baru untuk jagung, seperti ketahanan
terhadap penyakit dan hama, perlindungan yang lebih besar dari biji-bijian melalui
casing yang lebih baik, peningkatan respon terhadap praktek manajemen.
Sitophilus zeamais (Motschulsky) (Coleoptera: Curculionidade), dikenal sebagai
kumbang jagung yang merupakan salah satu hama penyimpanan yang paling
penting di daerah tropis (Nascimento et al., 2014).
BAB 3 METODE PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat


Praktikum mata kuliah Budidaya Tanaman Pangan acara Organsme
Pengganggu Tanaman Jagung dilaksanakan pada tangga 24 Oktober 2015 pada
pukul 12.00 WIB sampai selesai di areal budidaya jagung Kecamatan Antrogo
Kabupaten Jember.

3.2 Bahan dan Alat


3.2.1 Alat
1. Lahan pertanaman jagung
2. Tanaman jagung

3.2.2 Alat
1. Kamera
2. Lembar pengamatan
3. Ajir
4. Tali raffia
5. Plastik
6. Alat tulis
7. Jaring serangga
8. Kantung plastik
9. Meteran

3.3 Cara Kerja


1. Membagi setiap kelas menjadi beberapa kelompok.
2. Menentukan petak contoh (sampel) dengan ukuran 1 x 1 m, sehingga ada 2
plot.
3. Mengamati OPT (hama, gulma dan penyakit) pada plot dengan dengan
mengamati secra langsung (penyakit dan gulma) dan menggunakan jaring
(hama).
4. Mendokumentasikan dengan kamera hasil dari pengamatan yang diperoleh.
5. Menghitung jumlah OPT yang didapatkan dan menentukan skala serangan
yang terjadi dari plot yang diamati.
6. Memasukkan hasil hitungan skala dan nilai serangan pada rumus yang telah
ditentukan.
7. Memasukkannya pada worksheet yang telah tersedia.
8. Membuat laporan dari hasil praktikum yang telah didapatkan.
4.1 Hasil
Tabel 4.1.1 Hasil pengamatan hama pada tanaman jagung
Tingkat
Jenis OPT
Kel Plot Gejala Serangan Kerusak Dokumentasi
(Hama)
-an
Penggerek Imago betina TK=
Tongkol meletakkan telur 4/5x100%
Jagung pada rambut jagung, = 80%
(Helicovera setelah menetas larva
armigera) akan menginvansi
1
masuk ke dalam
benih tongkol dan
akan memakan biji
yang sedang
berkembang.
1
Penggerek Imago betina TK=
Tongkol meletakkan telur 3/5x100%
Jagung pada rambut jagung, = 60%
(Helicovera setelah menetas larva
armigera) akan menginvansi
2
masuk ke dalam
benih tongkol dan
akan memakan biji
yang sedang
berkembang.
2 1 Penggerek Imago betina TK=40%
Tongkol meletakkan telur
Jagung pada rambut jagung,
(Helicovera setelah menetas larva
armigera) akan menginvansi
masuk ke dalam
benih tongkol dan
akan memakan biji
yang sedang
berkembang.
Penggerek Imago betina TK=44%
Tongkol meletakkan telur
Jagung pada rambut jagung,
(Helicovera setelah menetas larva
armigera) akan menginvansi
2
masuk ke dalam
benih tongkol dan
akan memakan biji
yang sedang
berkembang.
Penggerek Imago betina TK=80%
Tongkol meletakkan telur
Jagung pada rambut jagung,
(Helicovera setelah menetas larva
armigera) akan menginvansi
1
masuk ke dalam
benih tongkol dan
akan memakan biji
yang sedang
berkembang.
3
Penggerek Imago betina TK=40%
Tongkol meletakkan telur
Jagung pada rambut jagung,
(Helicovera setelah menetas larva
armigera) akan menginvansi
2
masuk ke dalam
benih tongkol dan
akan memakan biji
yang sedang
berkembang.
4 1 Penggerek Imago betina TK=44%
Tongkol meletakkan telur
Jagung pada rambut jagung,
(Helicovera setelah menetas larva
armigera) akan menginvansi
masuk ke dalam
benih tongkol dan
akan memakan biji
yang sedang
berkembang.
Penggerek Imago betina TK=66%
Tongkol meletakkan telur
Jagung pada rambut jagung,
(Helicovera setelah menetas larva
armigera) akan menginvansi
2
masuk ke dalam
benih tongkol dan
akan memakan biji
yang sedang
berkembang.
Penggerek Imago betina TK=20%
Tongkol meletakkan telur
Jagung pada rambut jagung,
(Helicovera setelah menetas larva
armigera) akan menginvansi
1
masuk ke dalam
benih tongkol dan
akan memakan biji
yang sedang
berkembang.
5
Penggerek Imago betina TK=40%
Tongkol meletakkan telur
Jagung pada rambut jagung,
(Helicovera setelah menetas larva
armigera) akan menginvansi
2
masuk ke dalam
benih tongkol dan
akan memakan biji
yang sedang
berkembang.

Tabel 4.1.2 Hasil Pengamatan Gulma pada Tanaman Jagung


Karakteristik Populasi
Kel Plot Jenis Gulma Dokumentasi
Gulma /m2
Babandotan Tinggi tanaman 50- 26/m2
60 cm dan
bertangkai 1-60, l=
0,5-6 cm.

1 1 Krokot Batang bulat warna 15/m2


(Portulaca coklat keunguan
oleracea) panjang 10-50 cm.
Daun tunggal, lebar,
datar letaknya
berhadapan.
2 Rumput teki Tinggi 10-95 cm 10/m2
(Cyperus batang membentuk
rotundus) segitiga dan jumlah
daun 4-10.

Rumput- Batang bulat agak 39/m2


rumputan pipih tegak
Krokot Batang bulat warna 2/m2
(Portulaca coklat keunguan
oleracea) panjang 10-50 cm.
Daun tunggal, lebar,
datar letaknya
berhadapan.
1 2/m2
Bayam duri Batang tegak
berwarna hijau
2 kemerahan degan
tinggi 30-100 cm,
bentuk daun bulat
telur.
Bayam duri Batang tegak 5/m2
berwarna hijau
kemerahan degan
2 tinggi 30-100 cm,
bentuk daun bulat
telur.
Bayam duri Batang tegak 5/m2
berwarna hijau
kemerahan degan
1 tinggi 30-100 cm,
bentuk daun bulat
telur.
3
Bayam duri Batang tegak 10/m2
berwarna hijau
kemerahan degan
2 tinggi 30-100 cm,
bentuk daun bulat
telur.
Bayam duri Batang tegak 7/m2
berwarna hijau
kemerahan degan
tinggi 30-100 cm,
bentuk daun bulat
1 telur.

Rumput teki Tinggi 10-95 cm 30/m2


(Cyperus batang membentuk
rotundus) segitiga dan jumlah
daun 4-10.
4
Bayam duri Batang tegak 10/m2
berwarna hijau
kemerahan degan
tinggi 30-100 cm,
bentuk daun bulat
2 telur.

Rumput teki Tinggi 10-95 cm 23/m2


(Cyperus batang membentuk
rotundus) segitiga dan jumlah
daun 4-10.
Bayam duri Batang tegak 12/m2
berwarna hijau
kemerahan degan
1 tinggi 30-100 cm,
bentuk daun bulat
telur.
5
Bayam duri Batang tegak 10/m2
berwarna hijau
kemerahan degan
2 tinggi 30-100 cm,
bentuk daun bulat
telur.

4.2 Pembahasan
Organisme pengganggu tanaman (OPT) terdiri dari hama, gulma maupun
penyakit. Dalam budidaya tanaman padi, hama yang banyak menyerang adalah
seperti penggerek batang, wereng, kepik serta kutu putih. Serangan yang di
timbulkan oleh OPT banyak faktor yang dapat mempengaruhinya, seperti keadaan
lingkungan yang ada di sekitar budidaya di antaranya adalah keadaan air,
kemasaman tanah, suhu, kelembapan udara, pengggunaan bibit unggul serta cara
pembudidayaan atau bertanaman. Penggunaan varitetas juga merupakan faktor
yang mempengaruhi dalam bercocok tanam karena dengan menggunakan varietas
yang unggul akan mengurangi jumlah serangan yang di timbulkan OPT.
Pemupukan yang berimbang juga merupakan kebutuhan yang harus di penuhi
agar menghasilkan budidaya tanaman yang baik. Selain itu iklim dan musim juga
ikut serta dalam faktor yang mempengaruhi pekembangan OPT serta tingkat
serangan yang terjadi.
Dari hasil data praktikum yang didapatkan yaitu area pertanaman jagung
terserang oleh beberapa organisme pengganggu tanaman baik berupa hama,
penyakit, dan gulma. Opt yang menyerang pada tanaman jagung yang diamati
yaitu sebagai berikut :
1. Penggerek Tongkol (Helicoverpa Armigera)
Penggerek Tongkol (Helicoverpa armigera Hbn. Noctuidae: Lepidotera.
Imago betina H. armigera meletakkan telur pada pucuk tanaman dan apabila
tongkol sudah mulai keluar maka telur diletakkan pada rambut jagung. Imago
betina mampu bertelur rata-rata 730 butir dengan masa oviposisi 10-23 hari. Telur
menetas dalam tempo tiga hari setelah diletakkan pada suhu 22,5oC dan dalam
tempo sembilan hari pada suhu 17oC. Larva terdiri atas 5-7 instar, tetapi umumnya
enam instar dengan pergantian kulit (moulting) setiap instar 2-4 hari. Periode
perkembangan larva sangat bergantung pada suhu dan kualitas makanannya.
Khususnya pada jagung, masa perkembangan larva pada suhu 24-27,2 oC adalah
12,8-21,3 hari. Larva serangga ini bersifat kanibalisme sehingga 284 Jagung:
Teknik Produksi dan Pengembangan merupakan salah satu faktor yang menekan
perkembangan populasinya. Spesies ini mengalami masa prapupa selama 1-4 hari.
Selama periode ini, larva menjadi pendek dan lebih seragam warnanya dan
kemudian berganti kulit menjadi pupa. Masa prapupa dan pupa biasanya terjadi
dalam tanah dan kedalamannya bergantung pada kekerasan tanah. Pada umumnya
pupa terbentuk pada kedalaman 2,5-17,5 cm. Serangga ini kadang-kadang
berpupa pada permukaan tumpukan limbah tanaman atau pada kotorannya yang
terdapat pada tanaman. Pada kondisi yang tidak memungkinkan seperti panjang
hari 11-14 jam/ hari dan suhu yang rendah (15-23oC), H. armigera mengalami
diapauses atau sering disebut diapause pupa fakultatif. Diapause pupa dapat
berlangsung beberapa bulan bahkan dapat lebih dari satu tahun. Pada kondisi
lingkungan yang mendukung, fase pupa bervariasi dari enam hari pada suhu 35 oC
sampai 30 hari pada suhu 15oC.
Serangan yang terjadi adalah pada saat imago betina akan meletakkan telur
pada silk jagung dan sesaat setelah menetas larva akan menginvasi masuk ke
dalam tongkol dan akan memakan biji yang sedang mengalami perkembangan.
Infestasi serangga ini akan menurunkan kualitas dan kuantitas tongkol jagung.
Pengendalian yang dapat dilakukan adalah satu satunya menggunakan
pengendalian hayati dan pengendalian kimiawi. Pengendalian hayati
menggunakan agen pengendali hayati yaitu musuh alami. Musuh alami yang
digunakan sebagai pengendali hayati dan cukup efektif untuk mengendalikan
penggerek tongkol adalah Trichogramma spp. yang merupakan parasitoid telur, di
mana tingkat parasitasi pada hampir semua tanaman inang H. armigera sangat
bervariasi dengan angka maksimum 49% (Mustea 1999). Eriborus argentiopilosa
(Ichneumonidae) juga merupakan parasitoid pada larva muda. Dalam kondisi
kelembaban yang cukup, larva juga dapat diinfeksi oleh M.anisopliae. Agen
pengendali lain yang juga berpotensi untuk mengendalikan serangga ini adalah
bakteri B. bassiana dan virus Helicoverpa armigera Nuclear Polyhedrosis Virus
(HaNPV). Selain itu pengendalian juga bisa dilakukan menggunakan kultur
teknik. Kultur Teknis Pengolahan tanah secara sempurna akan merusak pupa yang
terbentuk dalam tanah dan dapat mengurangi populasi H. armigera berikutnya.
Pengendalian kimiawi dapat dilakukan namun harus memenuhi keadaan
ketika hama sudah menyerang melebihi batas ambang ekonomi. Pengnedalian ini
agak sulit karena larva segera masuk ke tongkol sesudah menetas. Untuk
mengendalikan larva H. armigera pada jagung, penyemprotan harus dilakukan
setelah terbentuknya silk dan diteruskan (1-2 hari) hingga jambul berwarna coklat.
Untuk itu dibutuhkan biaya yang cukup cukup mahal .
2. Karat (Puccinia sorghi)
Penyakit ini disebabkan oleh Pucinia sorghi. Gejala pada tanaman jagung
yang terinfeksi penyakit karat adalah adanya bisul, terutama pada daun. Bisul
terbentuk pada kedua permukaan daun bagian atas dan bawah. Tanda Bisul
dengan warna coklat kemerahan tersebar pada permukaan daun dan berubah
warna menjadi hitam kecoklatan setelah teliospora berkembang. Bisul ini dapat
terlihat jelas dan bila dipegang akan terasa kasar pada saat terjadi penularan berat,
daun menjadi kering di lapang terkadang epidermis tetap menutupi urediosorus
sampai matang. Tetapi adakalanya epidermis pecah dan massa spora dalam jumlah
besar menjadi tampak. Faktor yang mempengaruhi perkembangan penyakit yaitu
daerah tropik basah dan pegunungan, uredospora banyak dipencarkan di tengah
hari, menginfeksi tanaman melalui stomata, jenis tanaman seperti kulinga, urguna,
wiyasa, pioneer merupakan varietas yang rentan, Pengendalian dapat dilakukan
dengan penggunaan jenis tanah yang baik penggunaan fungisida.
3. Gulma bayam duri.
Tanaman bayam digolongkan ke dalam keluarga Amaranthaceae, marga
Amaranthus. Sebagai keluarga Amaranthaceae, bayam termasuk tanaman gulma
yang tumbuh liar. Amaranthus spinosus L. Perawakan tanaman bayam ini
bervariasi dari yang tumbuh merangkak sampai tegak. dapat tumbuh sepanjang
tahun dan ditemukan pada ketinggian 5-2.000 m dpl, tumbuh di daerah panas dan
dingin, tetapi tumbuh lebih subur di. dataran rendah pada lahan terbuka yang
udaranya agak panas. Herba setahun, tegak atau agak condong, tinggi 0,4-1 m,
dan bercabang, berbatang basah, bulat, daun berselang-seling,tepi helai rata, daun
tunggal dan pertulangan daunnya menyirip, bunga majemuk bentuk bulir, muncul
dari ketiak daun atau ujung batang, kelopak bunga nya berbentuk corong, ujung
bertaju, warna hijau, biji bulat kecil warna hitam, akarnya ketika masih segar
berwarna kuning abu-abu. Berikut adalah klasifikasi tanaman bayam duri yaitu :
Kingdom : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Sub division : Angiospermae
Class : Dicotyledonae
Ordo : Amaranthales
Family : Amaranthaceae
Genus : Amaranthus
Species : Amaranthus spinosus L.
4. Babadotan
Babadotan oleh masyarakat adalah jenis tanaman gulma (pengganggu).
Tanaman Babadotan yang merupakan salah satu Bioinsektisida yang terdapat di
alam Indonesia yang memiliki nama ilmiah Ageratum conyzoides. Tinggi tanaman
maksimal 50 - 60 cm. Daun bertangkai, letaknya saling nerhadapan dan bersilang
(composite), helaian daun bulat telur dengan pangkal membulat dan ujung runcing
dengan tulang daun menyirip dan tepi daun bergerigi, panjang daun 1 - 10
cm,lebar 0,5 - 6 cm, memiliki bunga majemuk dengan ukuran kecil yang tumbuh
di ketiak batang dengan warna benang sari putih dan kepala putik kuning, panjang
bonggol bunga 6 8 mm, dengan tangkai yang berambut, diameter batang
tanaman 0,5 - 1,2 cm, berakar serabut, kebanyakan cabang tumbuh ke samping
atau pertumbuhan lebih condong mendatar (tidak menyilang), tumbuh di
ketinggian 1 sampai 2100 meter dari permukaan laut, dapat tumbuh di sawah-
sawah, ladang, semak belukar, halaman kebun, tepi jalan, tanggul, dan tepi sungai
Klasifikasi tanaman babadotan adalah :
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Class : Magnoliopsida
Orde : Asterales
Family : Asteraceae/Compositae
Trive : Eupatorieae
Genus : Ageratum
Spesies : Ageratum Conyzoides
5. Gulma krokot (Portulaca oleracia L)
Gulma Krokot/ Portulaca oleracia L disebut juga dengan nama Gelang
atau Jalu-Jalu Tiki. Krokot merupakan gulma semak, yang batangnya beruas
berwarna merah kecoklatan, bercabang mulai dari ruas bawah, berdaun tunggal
berwarna hijau berbentuk bulat telur dengan bagian ujung dan pangkalnya tumpul.
Daun berdaging, tepi daun rata-rata berukuran panjang 1-3 cm dab lebar 1 2 cm.
Bunga majemuk yang terletak pada ujung cabang. Kelopak bunga berwarna hijau,
bertajuk dan bersayap. Mahkota bunga berbentuk seperti jantung, memiliki 3 5
kepala putik berwarna putih dan kuning. Buah berbentuk kotak, berwarna hijau
dan memiliki biji yang banyak. Berkembang biak dengan biji dan bagian
vegetative tanaman (batang). Krokot tumbuh di dataran rendah sampai dataran
tinggi (1600 m dpl). Pengendalian yang dapat dilakukan adalah pengendalian
secara mekanik, yaitu dilakukan dengan cara di cabut dengan tangan, dikoret
dengan sabit dan pengendalian secara kimiawi, yaitu dengan penyemprotan
herbisida atrazine 2,4 3,2 kg/ha, ametryn 2,4 3,2 kg/ha, paraquat, glyphosat,
6. Gulma teki
Teki ladang atau Cyperus rotundus adalah gulma pertanian yang biasa
dijumpai di lahan terbuka. Apabila orang menyebut "teki", biasanya yang
dimaksud adalah jenis ini, walaupun ada banyak jenis Cyperus lainnya yang
berpenampilan mirip. Teki sangat adaptif dan karena itu menjadi gulma yang
sangat sulit dikendalikan. Ia membentuk umbi (sebenarnya adalah tuber,
modifikasi dari batang) dan geragih (stolon) yang mampu mencapai kedalaman
satu meter, sehingga mampu menghindar dari kedalaman olah tanah (30 cm). Teki
menyebar di seluruh penjuru dunia, tumbuh baik bila tersedia air cukup, toleran
terhadap genangan, mampu bertahan pada kondisi kekeringan. Berikut adalah
klasifikasi ilmiah gulma teki :
Kingdom : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas : Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
Sub Kelas : Commelinidae
Ordo : Cyperales
Famili : Cyperaceae
Genus : Cyperus
Spesies : Cyperus rotundus L.
7. Sembung rambat
Gulma sembung rambat (Mikania micrantha H.B.K) memiliki senyawa
alelokimia berupa fenol, terpenoid dan flavonoid yang dapat menghambat
pertumbuhan tumbuhan lain.
Dari hasil data yang didapatkan dari plot yag diamati kelompok 1 pada area
lahan yang di bagi menjadi 2 plot didapatkan bahwa pada plot 1 menghasilkan
Tingkat kerusakan (TK) sebesar 80 % artinya tingkat kerusakan sangat banyak
hampir seluruh tongkol jagung terserang oleh hama penggerek tongkol. Hal itu
menunjukkan bahwa pada daerah tersebut hama penggerek tongkol sudah
berkembang biak dengan luas dimana hal itu harus segera dilakukan
pengendalian. Berdasarkan tingkat kerusakan hama, pengendalian yang bisa
dilakukan adalah menggunakan pengendalian kimia karena kerusakan sudah
hampir ke semua tanaman. Tingkat kerusakan pada plot 2 mencapai 60 % yaitu
kerusakan terbilang juga tinggi karena lebih dari setengah terinfeksi oleh hama
penggerek tongkol tersebut. Pengendalian harus segera dilakukan agar tanaman
dapat panen dengan hasil yang tidak buruk. Gulma yang ditemukan pada area
yang dilakukan praktikum adalah gulma rumput tekin, gulma babadotan dan
gulma krokot. Pada plot pertama populasi gulma yang di temukan yaitu rumput
teki sebanyak 15 tanaman/m2 dan babadotan sebanyak 26 populasi tanaman/m2.
Pada plot yang kedua gulma yang menyerang adalah krokot yang jumlahnya 10
tanaman/m2 dan rumput teki dengan jumlah 39 tanaman/m 2. Dilihat dari jumlah
gulma yang ditemukan, menunjukkan bahwa gulma yang berada pada daerah
lahan tersebut sangat banyak. Hal itu di sebabkan karena kurangnya perawatan
dan pengendalian yang dilakukan pada daerah tersebut. Gulma yang semakin
banyak akan membuat tanaman tidak dapat tumbuh dengan optimal karena adanya
persaingan dalam merebutkan kandungan unsur hara pada tanaman. Oleh karena
itu gulma tersebut seharusnya segera di kendalikan.
Cara mengendalikan serangan hama penggerek tongkol jagung dapat
dengan cara kultur teknis (perbaikan cara bercocok tanam/budiddaya), secara
hayati, dan secara kimiawi.
1. Kultur teknis
Cara kultur teknis dapat dilakukan dengan memilih waktu tanam yang tepat,
melakukan system tanam tumpang sari dengan kedelai atau kacang tanah, serta
memotong sebagian bunga jantan (empat dari enam baris tanaman).
2. Hayati
Cara hayati dilakukan dengan memanfaatkan musuh alami, diantaranya
dengan parasit trichogramma spp, predator Euborella annulata yang memangsa
larva dan pupa penggerek batang, serta dengan menggunakan cendawan
Beauveria bassiana dan Metarhizium anispliae yang mengendalikan larva
penggerek batang.
3. Kimiawi
Pengendalian secara kimiawi merupakan pilihan terakhir untuk
mengendalikan serangan hama penggerek batang ini. Dianjurkan untuk
menggunakan insektisida berbahan aktif mono-krotofos, triazofos, diklorofos dan
karbofuran.
Pengendalian yang dapat dilakukan untuk mengendalikan penyakit karat
daun pada tanaman jagung adalah dengan penggunaan jenis tanah yang baik, serta
melakukan penggunaan fungisida. Gulma memiliki ciri khas diantaranya adalah
pertumbuhannya cepat, mempunyai daya saing yang kuat dalam memperebutkan
faktor-faktor kebutuhan hidupnya, mempunyai toleransi yang besar terhadap
kondisi lingkungan yang ekstrem, mempunyai daya berkembang biak yang besar
secara vegetatif atau generatif, alat perkembangbiakannya mudah tersebar melalui
angin, air, maupun binatang, dan bijinya mempunyai sifat dormansi yang
memungkinkannya untuk bertahan hidup dalam kondisi yang kurang
menguntungkan.
Kerugian akibat gulma dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya adalah
jenis gulma, lamanya terjadi persaingan, sifat dan umur tanaman pokok, serta
faktor lingkungan khususnya kesuburan tanah dan curah hujan. Secara umum
pengendalian gulma dapat ditempuh melalui beberapa cara yaitu pengendalian
secara mekanis, pengendalian secara kultur teknis, pengendalian secara biologi,
maupun pengendalian secara kimiawi. Pengendalian dapat berbentuk pencegahan
dan pemberantasan. Mencegah biasanya lebih murah tetapi tidak selalu lebih
mudah. Di negara-negara yang sedang membangun kegiatan pengendalian yang
banyak dilakukan orang adalah pemberantasan. Pengendalian gulma dapat
dilakukan dengan cara-cara:
1. Preventif (Pencegahan)
Pengendalian gulma secara preventif adalah pengendalian dengan cara
mencegahterjadinya infeksi dari pada mengobati.
2. Pengendalian Gulma Secara Fisik
Pengendalian gulma secara fisik ini dapat dilakukan dengan jalan:
a. Manual
b. Pengolahan tanah
c. Pembabatan (pemangkasan, mowing)
d. Penggenangan
e. Pembakaran
f. Mulsa
Pengendalian gulma secara kimiawi yaitu adalah pengendalian gulma
denganmenggunakan herbisida. Maksud dengan herbisida adalah senyawa kimia
yang dapat digunakan untuk mematikan atau menekan pertumbuhan gulma, baik
secara selektif maupun non selektif. Pengendalian secara kimiawi dapat dilakukan
ketika organisme pengganggu tanaman sudah lebih dari batang ambang ekonomi
yang di tentukan sehingga pengendalian secara kimiawi dilakukan untuk
memberantas dan mengendalian opt yang menyerang.
BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dan hasil dari pembahasan
dapat disimpulkan bahwa :
1. Dari hasil opt yang didapatkan di lapanng terdiri dari hama penggerek
tongkol jagung, penyakit karat daun, dan gulma bayam duri, teki, sembung
rambat, dan babadotan.
2. Pengendalian hama, penyakit dan gulma bisa dilakukan dengan cara kultur
teknis dan kimiawi.
3. Hasil data yang didapatkan dapat disimpulkan bahwa tingkat kerusakan yang
terserang oleh hama hampir setenngah dari masing-masing plot, dann
penyakit separuh dari plot, serta gulma hampir menyamai tanaman jumlah
populasinya.

5.2 Saran
Sebaiknya penentuan lahan yang akan digunakan sebagai pengamatan di
tentukan secara tepat dan benar, agar praktikan tidak mondar-mandir ke tempat
atau lahan pertanaman jagunng yang tidak pasti.
DAFTAR PUSTAKA

Aak. 1993. Jagung. Kanisius: Yogyakarta.

Gxasheka, M., J. Wang., T. L. Tyasi, and J. Gao. 2015. Scientific understanding


and effects on ear rot diseases in maize production: a review. Soil and
Crop Sciences, 3(4): 077-084.

Herdatiarni, F., T. Himawan, dan R. Rachmawat. 2014. Eksplorasi Cendawan


Entomopatogen Beauveria Sp. Menggunakan Serangga Umpan Pada
Komoditas Jagung, Tomat Dan Wortel Organik Di Batu, Malang. HPT,
1(2): 1-5.

Latifahani, N., A. Cholil., dan S. Djauhari. 2014. Ketahanan Beberapa Varietas


Jagung (Zea Mays L.) Terhadap Serangan Penyakit Hawar Daun
(Exserohilum turcicum Pass. Leonard et Sugss.). HPT, 2(1)-1-5.

Munanda. Edi, dan N. Prihatin. 2013. Perancangan Sistem Pakar Untuk


Mendiagnosa Penyakit Tanaman Jagung Menggunakan Fuzzy Mcdm
Berbasis Web. Litek, 10(2): 113-117.

Mwololo. J. K., Mugo. S., Tefera. T, and Munyiri. S. W. 2013. Evaluation of traits
of resistance to postharvest insect pests in tropical maize. Agriculture
and Crop Sciences, 6(13): 926-933.

Nascimento, R. T. D., B. E. Pavan., L. B. Silva., G. D. S. Carvalho., A. F. D.


Silva., and K. Maggioni. 2014. Resistance of Two Maize Landraces in
Breeding Stage to the Attack of Sitophilus Zeamais. Plant Sciences, 5:
2929-2934.

Okweche, Simon Idoko and Umoetok, Sylvia B. A. 2012. The Distribution Of


Maize Stem Borers In Cross River State, Nigeria. Plant, Animal and
Environmental Sciences, 2(1): 1-5.

Patty. J. Alfred. 2012. Teknik Pengendalian Hama Ostrinia Furnacalis Pada


Tanaman Jagung Manis. Agroforestri, 7(1): 1-5.

Purwono dan H. Purnamawati. 2007. Budidaya 8 Jenis Tanaman pangan Unggul.


Penebar Swadaya: Jakarta.