Anda di halaman 1dari 8

9

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tanaman Ubi kayu

Ubi kayu berasal dari Brazilia. Ilmuwan yang pertama kali melaporkan hal ini

adalah Johann Baptist Emanuel Pohl, seorang ahli botani asal Austria pada tahun

1827 (Allem, 2002).

Klasifikasi ilmiah Tanaman Ubi kayu

Kerajaan : Plantae

Divisi : Magnoliophyta

Kelas : Magnoliopsida

Ordo : Malpighiales

Famili : Euphorbiaceae

Subfamili : Crotonoideae

Bangsa : Manihoteae

Genus : Manihot

Spesies : Manihot esculenta Crantz

Berdasarkan morfologinya batang tanaman ubi kayu berkayu, beruas-ruas, dan

panjang, yang ketinggiannya dapat mencapai 3 m atau lebih. Warna batang

bervariasi, tergantung kulit luar tetapi batang yang masih muda pada umumnya

berwarna hijau dan setelah tua berubah menjadi keputih-putihan, kelabu, hijau
10

kelabu, atau coklat kelabu. Empulur berwarna putih, lunak, dan strukturnya lunak

seperti gabus. Daun ubi kayu mempunyai susunan berurat menjari dengan cangap

5 - 9 helai. Tanaman ubi kayu bunganya berumah satu dan proses

penyerbukannya bersifat silang. Penyerbukan menghasilkan buah yang

bentuknya agak bulat, di dalamnya berisi 3 butir biji. Pada dataran rendah

tanaman ubi kayu jarang berbuah.

Bunga jantan mempunyai 10 benang sari yang tersusun dalam 2 lingkaran,

masing-masing berisi 5 benang sari. Penyerbukan sendiri secara alamiah terjadi

jika bunga jantan dan betina dari tangkai bunga berbeda (dalam satu tanaman)

membuka bersamaan (Jennings dan Iglesias, 2002).

Ubi yang terbentuk merupakan akar yang berubah bentuk dan fungsinya sebagai

tempat penyimpanan makanan cadangan. Bentuk ubi biasanya bulat memanjang,

daging ubi mengandung zat pati, berwarna putih gelap atau kuning gelap. Proses

pengisian pati di dalam ubi meliputi dua tahap penting yaitu, tahap inisiasi dan

tahap pertumbuhan.

Faktor-faktor yang berhubungan dengan proses pembentukan dan pertumbuhan

ubi antara lain: (a) cahaya berhubungan dengan proses fotosintesis pada tanaman;

(b) aerasi tanah yang mendukung respirasi akar; (c) ketersediaan unsur hara; (d)

aktivitas hormon IAA oksidase di dalam akar; (e) kandungan air tanah; (f)

kepadatan tanah yang berhubungan dengan struktur tanah bagi pertumbuhan dan

perkembangan akar (Kamal, 2005).


11

2.2 Syarat tumbuh

Ubi kayu merupakan tanaman tropis. Wilayah pengembangan ubi kayu berada

pada 300 LU dan 300 LS. Namun demikian, untuk dapat tumbuh, berkembang dan

berproduksi, tanaman ubi kayu menghendaki persyaratan iklim tertentu. Tanaman

ubi kayu menghendaki suhu antara 180 C - 350 C. Pada suhu di bawah 100 C

pertumbuhan tanaman ub ikayu akan terhambat. Kelembaban udara yang

dibutuhkan ubi kayu adalah 65% (Suharno et al., 1999 dalam Prihandana et al.,

2007). Namun demikian, untuk berproduksi secara maksimum tanaman ubi kayu

membutuhkan kondisi tertentu, yaitu pada dataran rendah tropis, dengan

ketinggian 150 m di atas permukaan laut (dpl), dengan suhu rata-rata antara

250 C - 270 C, tetapi beberapa varietas dapat tumbuh pada ketinggian di atas

1.500 m dpl (Anonim, 2003 dalam Prihandana et al., 2007).

Tanaman ubi kayu dapat tumbuh dengan baik apabila curah hujan cukup, tetapi

tanaman ini juga dapat tumbuh pada curah hujan rendah (< 500 mm), ataupun

tinggi (5.000 mm). Curah hujan optimum untuk ubi kayu berkisar antara

760 mm 1.015 mm per tahun. Curah hujan terlalu tinggi mengakibatkan

terjadinya serangan jamur dan bakteri pada batang, daun dan umbi apabila

drainase kurang baik (Anonim, 2003 dalam Prihandana et al., 2007).

Ubi kayu dapat tumbuh di berbagai jenis tanah dan masih dapat tumbuh dengan

baik dan mampu berproduksi tinggi apabila ditanam dan dipupuk tepat pada

waktunya. Sebagian besar pertanaman ubi kayu terdapat di daerah dengan jenis

tanah Aluvial, Latosol, Podsolik dan sebagian kecil terdapat di daerah dengan

jenis tanah Mediteran, Grumusol dan Andosol. Tingkat kemasaman tanah (pH)
12

untuk tanaman ubi kayu minimum 5. Tanaman ubi kayu memerlukan struktur

tanah yang gembur untuk pembentukan dan perkembangan umbi. Pada tanah

yang berat, perlu ditambahkan pupuk organik (Wargiono, 1979 dalam Prihandana

et al., 2007)

2.3. Masalah dan Tujuan Pemuliaan Ubikayu

Di Indonesia, pemanfaatan ubi kayu berbeda, terutama untuk bahan makanan dan

industri. Hal ini membedakan pula macam varietas yang diperlukan. Untuk

bahan makanan dibutuhkan ubi kayu yang manis, sedangkan untuk industri lebih

disukai yang pahit. Sifat manis dan pahit ini dikendalikan oleh faktor genetik,

sehingga dalam program pemuliaan dimungkinkan untuk perbaikan sifat tersebut.

Seleksi klon (clonal evaluation trial) dilakukan terhadap populasi F1 hasil

persilangan, dilanjutkan uji daya hasil pendahuluan, uji daya hasil lanjutan, dan

uji multi lokasi (regional trial) (CIAT, 2005; Ojulong et al., 2008). Upaya

meningkatkan produktivitas tanaman ubi kayu memerlukan masukan teknologi

yang dapat meningkatkan hasil per tanaman. Penggunaan klon-klon ubi kayu

dengan kombinasi antar klon yang mempunyai sumber besar yang dapat

meningkatkan produktivitas tanaman merupakan teknologi yang memungkinkan

untuk diintroduksi dalam rangka meningkatkan hasil, salah satunya adalah

dengan menggunakan seleksi klon unggul dan perakitan varietas. Cara yang lain

adalah seperti pemilihan tetua yang unggul, seleksi, dan pengujian daya hasil.

Akan tetapi dalam melakukan proses kegiatan tersebut terdapat banyak kendala

yang menjadi masalah. Dengan kondisi demikian, perlu adanya masukan

teknologi baru untuk mengatasi masalah tersebut (Simatupang, 2012).


13

Petani sering mengalami kendala dalam peningkatan produksi ubi kayu, karena:

(a) petani menggunakan varietas lokal dengan produktivitas yang masih rendah,

(b) penggunaan bibit yang kurang baik, (c) kondisi lahan yang kurang subur, dan

(d) pengelolaan tanaman yang tergolong sederhana (Kawano, 2003).

Penelitian ini telah mencapai tahap evaluasi dan seleksi klon. Seleksi dilakukan

dengan baik untuk mendapatkan klon unggul yang memiliki karakter vegetatif

yang baik dan diharapkan memiliki potensi hasil yang baik. Oleh karena itu,

perlu dilakukan evaluasi antar karakter vegetatif dan generatif untuk mengetahui

karakter vegetatif apakah yang berpengaruh terhadap hasil tanaman. Dengan

evaluasi antar karakter vegetatif dan generatif kekeliruan seleksi dapat diperkecil,

sehingga seleksi dapat dilakukan dengan baik dan benar.

2.4 Tahap-tahap perakitan varietas/klon unggul ubi kayu

Pada umumnya varietas unggul ubi kayu ialah berupa klon yang diperbanyak

secara vegetatif menggunakan stek. Klon-klon ubi kayu secara genetik bersifat

heterozigot, karena sebagian besar tanaman menyerbuk silang dan seleksi

dilakukan pada generasi F1.

Pada dasarnya, pemuliaan tanaman dapat dilakukan dengan :

1) melakukan pemilihan terhadap suatu populasi tanaman yang sudah ada,

2) melakukan kombinasi sifat-sifat yang diinginkan (secara generatif dan

vegetatif), dan

3) melalui rekayasa genetika (Mangoendidjojo, 2003).


14

Tahap-tahap perakitan varietas ubi kayu meliputi penciptaan atau perluasan

keragaman genetik populasi awal, evaluasi karakter agronomi dan seleksi

kecambah dan tanaman yang tumbuh dari biji botani, evaluasi dan seleksi klon, uji

daya hasil pendahuluan, dan uji daya hasil lanjutan (CIAT,2005; Perez et al.,

tanpa tahun).

Penciptaan atau perluasan keragaman genetik populasi awal dapat dilakukan

dengan cara introduksi, persilangan, dan ras lokal. Cara introduksi dilakukan

dengan mendatangkan klon-klon ubi kayu dari negara atau daerah lain. Dengan

cara introduksi, perluasan keragaman genetik dapat dengan mudah dilakukan dan

dalam jangka waktu yang cepat.

Seleksi dapat dilakukan secara langsung maupun tidak langsung (Aina et al.,

2007). Indikator utama keunggulan varietas ubi kayu adalah daya hasil berupa

bobot ubi per tanaman atau per hektar. Karena pengukuran indikator utama tidak

selalu mudah dilakukan dalam seleksi, pengukuran dilakukan berdasarkan

pengamatan variabel lain yang berkorelasi positif dengan bobot ubi per hektar.

Korelasi genetik dapat dimanfaatkan untuk seleksi tidak langsung apabila karakter

utama yang diseleksi mempunyai heritabilitas tinggi. Seleksi tidak langsung telah

dilaporkan pada kedelai dan cabai. Pada tanaman kedelai polong isi dan jumlah

biji dapat digunakan untuk seleksi tidak langsung untuk mendapatkan genotipe

dengan produksi tinggi (Suharsono et al., 2006).


15

Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam merakit suatu varietas atau

klon adalah :

a. Varietas atau klon harus mempunyai tingkat efisiensi produksi yang baik.

Artinya, unit pemasukan (input) harus memberikan pertambahan bagi

keluarannya (output).

b. Kebiasaan pola tanam di wilayah yang akan menggunakan varietas yang akan

dihasilkan perlu diperhatikan.

c. Varietas unggul terkait dengan sarana produksi yang diperlukan.

d. Hasil yang diberikan tidak dapat lepas dari peluang pemasarannya

(Mangoendidjojo, 2003).

Berkaitan dengan hal tersebut, saat ini upaya perbaikan varietas masih terus

dilakukan. Untuk memperoleh varietas ubi kayu unggul dilakukan serangkaian

penelitian yang bertujuan untuk mendapatkan varietas dengan sifat-sifat yang

diinginkan, seperti umur genjah, potensi hasil tinggi, tahan terhadap tekanan

biotik dan abiotik tertentu, sesuai dengan selera konsumen dan lain-lain

(Balitbangtan, 2008). Sebagai contoh, Badan Penelitian Tanaman Ubi dan

Kacang-kacangan (Balitkabi) telah mengeluarkan varietas ubi kayu dalam upaya

merespon kebutuhan petani. Akan tetapi klon-klon yang belum dilepas perlu

dilakukan pengujian terlebih dahulu untuk mendapatkan klon yang unggul

(Balitkabi, 2000). Hanya sedikit varietas ubi kayu yang berasal dari peneliti lain

dari pada peneliti di Balitkabi tersebut. Dari jumlah yang sedikit tersebut, varietas

ubi kayu yang dihasilkan di luar Balitkabi antara lain UJ 3, UJ 5, dan terakhir

Mulyo yang belum dilepas secara resmi oleh pemerintah (Sudjadi, 2008).
16

Penelitian ini juga merupakan lanjutan dari penelitian sebelumnya yang sudah

dilakukan oleh Suminar (2012) terhadap 3 klon (UJ 3, CMM 25-27, dan Malang

6) memiliki keunggulan sifat agronomi yang perlu dilakukan seleksi lanjutan

sehingga dapat dihasilkan klon unggul baru yang lebih baik daripada klon ubikayu

yang telah ada. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk melanjutkan dan

menjawab masalah yang dirumuskan dalam pertanyaan apakah terdapat

keragaman yang luas pada ubi kayu (Manihot esculenta Crantz) klon F1 tetua

betina UJ 3.